The Watcher – [2] – The Forsaken Soul (Bagian 2)


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

Cerita ini merupakan CERITA AFILIASI yang dipromosikan oleh Subject 09 melalui Toko 09. Info lebih lanjut di toko.subject09.web.id


Penulis: Sieg Aegis
Rating: Dewasa


What?! Heimdall? Pengawas sembilan dunia? Apa kamu gila?! Sekarang sudah bukan zaman pagan! Orang-orang sudah lama melupakan para dewa beribu-ribu tahun yang lalu, sejak kehadiran agama samawi. Jangan mempermainkanku!”

Wanita bernama Magdalena, tetap menyangkal identitas sang pria. Dalih Magdalena, mustahil bila masih ada dewa-dewi di zaman sekarang. Apalagi, seketika muncul seorang pria bergaya ala bartender yang mengaku dewa tanpa alasan yang jelas.

“Sudah banyak orang yang menyakini diri sebagai titisan dewa. Masyarakat jengah dengan kepentingan pribadi mereka yang dibalut dengan ayat suci! Toh, mereka semua berakhir dikremasi hidup-hidup! Terlebih, Kota Swiss sendiri memiliki catatan kelam tentang kasus werewolf dan penyihir!”

“Anda terlalu prejudice namun, tak cukup cermat untuk seorang tuna susila,” senyum sang pria seolah enggan berpaling dari hadapannya.

Magdalena meracau dalam hati dan pikiran, sembari mengawasi gerak-gerik sang pria yang mengaku, Heimdall. Ia masih menaruh curiga kepada sang pria yang kini berdiri tepat di hadapannya. Tak semudah itu, mempercayai lisan orang yang baru bertemu. Ia kukuh pada argumen bahwa sang pria adalah seseorang yang hendak berbuat jahat. Bisa jadi pembunuh, perampok, mata-mata, ataupun hal lain. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Penampilan bisa saja menipu. Sekalipun, getaran tubuh Magdalena tak dapat disembunyikan.

“Nona memang berhak menyangkal dengan berbagai macam teori. Tapi, bisakah nona menjelaskan keberadaanku berserta ruangan ini dengan kecerdasan nona?”

Magdalena membisu seribu bahasa. Hati seakan ditancap sebilah pedang. Memang mustahil bila harus menjelaskan perubahan kamar apartemen menjadi kafe elit nan klasik secara rinci. Banyak elemen dari perubahan drastis tersebut yang tak selaras dengan logika. Disamping, kondisi mental Magdalena yang belum pulih pasca kejadian tadi. Seberapa kuat dan dalam, Magdalena mencari kebenaran atas kejanggalan ini. Hanya akan membuat kepalanya sakit.

Oh Tuhan, tolong hentikan segala kegilaan ini!

Seketika pandangan Magdalena menjadi kabur dan gelap. Pendengaran kian menuli, kala lisan membisu. Mata pun terpejam, sejalan detak jantung mulai melambat. Getaran tubuh melemah, seiring nafas mulai menghilang. Perlahan namun pasti, Magdalena ambruk di lantai emas kafe. Ia tak sanggup merasakan apapun. Tubuhnya tak kuasa digerakkan. Seakan panca inderanya mendadak lumpuh.

Segala keanehan yang melanda amat membebani pikiran dan hatinya. Membuat kapasitas otak melampaui batas kewajaran, kala nurani lelah memaklumi. Tubuh pun rapuh terlebih dahulu akibat amukan badai, sedangkan jiwa terus mempertanyakan jawaban atas semua ini. Magdalena tak berdaya lagi menahan kemelut anomali yang menyerang dirinya terus-menerus.

Mengetahui lawan bicaranya jatuh tersungkur, sang pria membopongnya menuju ke sebuah pintu di dekat meja emas bar. Tak sedikitpun raut kesedihan atau penyesalan yang terbias dari paras sang pria akan kondisi Magdalena. Hanya senyum yang tersimpul indah di mimiknya. Tak berlebih, namun juga tak kurang.

“Hmm … manusia selalu menanyakan dan memperjuangkan kebenaran di atas segala-galanya. Tanpa mereka sadari, bahwa kebenaran yang mereka inginkan adalah kepalsuan yang dibungkus oleh doktrin agama dan ilmu pengetahuan.”

***

“Magdalena anakkuuu … dimana dirimu nak? Ibu dan ayah sangat merindukanmu … cepatlah kembali dan berkumpulah bersama kami. Ibu sudah menyiapkan sup keju kesukaanmu ….”

“Ibuuu … Magdalena ada di sini buuu … Ibu tidak usah khawatir ….”

“Nak dimanakah dirimu … ibu kangen sekali padamu ….”

“Ibuuu … lihatlah ke sini ibu … ibuuu … ini aku ibuuu … Magdalena.”

“Bukan, kamu bukan anakku … kamu bukan seperti Magdalena yang kukenal. Siapa kamu?!”

“Ibu berbicara apa? Ini aku ibu … Magdalena. Kenapa ibu menghindar?”

“Tidak. Kamu bukan anakku, anakku tidak berpenampilan seperti itu. Pergi kamu dari hadapanku!”

“Ibuuu … ibu mau kemana?! Ibuuu … ini aku ibu, Magdalena … ibuuu jangan pergiii … jangan tinggalkan Magdalena sendiriii … ibuuu … kembalilah … ibuuu … ibuuu!”

“Ibuuu!”

Magdalena terbangun dengan keringat membasahi dahi sementara jantung berdegub kencang. Tak sadar, rona pipi Magdalena telah terbasahi oleh air mata. Wajah yang semula tampak menawan nan memikat, kini malah terlihat menyedihkan. Telapak tangan kanan Magdalena ditempelkan ke dahi seraya menyeka rambut yang tak lagi rapi. Nafasnya masih tersengal-sengal, sedangkan pikiran mulai mencerna ingatan sebelumnya.

“Tch … rupanya mimpi itu lagi.”

Ingatan Magdalena seakan ditarik kembali saat ia masih berinteraksi dengan sang ibu. Mungkin Magdalena berusaha menepis, namun nurani tak dapat dibohongi. Lubuk hatinya terpecik rasa kangen akan sang ibu. Ingin rasa, ia mengulangi masa-masa penuh manja kepada sang ibu. Berbagi kasih kepada perempuan yang pertama kali ditemui di dunia ini. Akan tetapi,

“Ibuuu … maafkan aku, maafkan aku.”

Alih-alih mencoba tegar, tapi air mata Magdalena berkata jujur. Ia kembali terbuai akan gejolak rindu kepada sang mamah. Emosi Magdalena tak dapat dibendung. Namun, fakta membungkam mulut. Ia sadar, rasa kangen terbentur realitas yang sulit diceritakan kepada sosok yang amat dicintai. Ia tak ingin mengecewakan seorang ibu yang sudah membesarkannya. Magdalena perlu waktu untuk menyusun momen dan hati.

Berjam-jam Magdalena hanyut dalam kesedihan, tapi ia sadar bahwa tangisan tak akan mampu mengubah apapun. Ia harus kembali bangkit untuk sebuah impian yang telah dibulatkan setahun yang lalu.

IbuuuMungkin suatu saat nanti …,” sepercik tekad dalam hati.


Pengen dapet update-update tentang cerita Subject 09 lewat status WhatsApp? Klik link ini: http://bit.ly/s09-GabungWA

Magdalena mengusap air mata yang hampir kering di kedua pipinya. Meski sadar persentase bertemu kembali dengan sang ibu kecil, ia tetap menyimpan impian tersebut dalam hati. Ia berharap dapat berjumpa lagi dengan sang mamah.

“Tuhan, jikalau engkau memang ada … tolong kabulkan permintaanku. Aku janji, … aku akan membahagiakan ibu dan menjadi pribadi yang lebih baik.”

Sepotong do’a, ia panjatkan pada junjungan yang telah lama ditinggalkan. Tapi, Tuhan Maha Adil. Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya. Pintu kembali akan selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali dan memaafkan diri sendiri.

“Amin.”

Di balik ruangan tempat Magdalena memanjatkan do’a, Heimdall tersenyum seraya tangan kanan berhenti bertasbih. Entah apa yang sedang dipikirkan pria misterius itu. Tapi sepertinya, ia bahagia akan sikap Magdalena. Sebuah determinasi datang dari sosok yang dianggap tidak memiliki tempat di surga. Namun, Tuhan memiliki hak prerogatif atas semua makhluk ciptaan-Nya yang tidak dapat diganggu gugat.

“Tuhanku Maha Cinta dan Maha Pengampun, nona.”

***

Selesai Magdalena bergelut dengan emosi, ia lalu menyalakan lampu yang ada di dekatnya. Dalam sekejap, Magdalena menyadari bahwa dirinya sudah berbalutkan selimut satin warna merah. Pikiran Magdalena mulai mencerna tentang segala sesuatu yang janggal di depan mata.

“A-aku ada dimana?!”

Kepanikan Magdalena mulai mengisi ruangan. Ia terbangun di sebuah ruangan berkelas ratu bangsawan eropa. Bahkan perabotan seperti ranjang kasur, lemari pakaian, vas bunga, lampu, serta meja kaca rias, semua terbuat dari emas lengkap dengan ukiran maupun lukisan Yesus yang turun dari surga. Kecuali karpet, gorden, dan selimut yang berwarna merah. Meski pemandangan tersebut mewah di mata Magdalena, namun ia sangat merasa asing nan aneh. Ruangan itu tak seperti apartemennya yang lawas.

“A-apa aku sedang bermimpi?! Aduh, sakit bego,” umpat Magdalena kala mencubit pipinya sendiri.


Pengen dapet update-update tentang cerita Subject 09 lewat status WhatsApp? Klik link ini: http://bit.ly/s09-GabungWA

Tiba-tiba dari balik pintu kamar, muncul sosok wanita berambut biru.

“Ternyata, menjadikanmu cantik tak sebanding dengan tingkat kecerdasanmu. Selamat pagi putri tidurku, selamat datang kembali di Kafe Bifrost.”

Wanita itu menyambut Magdalena dengan centil namun menusuk hati. Ia datang menemui Magdalena bukan dengan tangan kosong. Melainkan, sambil membawakan sebuah tudung makan untuk Magdalena.

Tapi sepertinya, bukan itu yang diinginkan Magdalena.

What?! A-aku masih di kafe sialan itu?! Dan siapa kamu?! Datang-datang udah sok-sokan manggil “Putri Tidur”.”

Wanita berambut biru panjang dan berpakaian seksi itu hanya tersenyum menggoda. Walaupun Magdalena dirundung kepanikan, wanita berkemeja top tied tersebut tetap santai meladeninya. Perlahan ia mendekati Magdalena seraya meletakkan tudung makan di meja kaca sebelah kasur.

“Namaku, Velvet Blue, Siren nomor 5. Kamu boleh memanggilku Velvet ataupun Blues. Just like your favourite song,” goda wanita berperut indah itu seraya mengedipkan mata kanan.

“Velvet? Siren? Screw it! Apa-apaan kamu?! Aku masih straight bego,” balas Magdalena yang berusaha menghindari Velvet.

“Oh, kamu masih baru rupanya? I’ll give you a little service then. Gapapa kok, aku gak gigit.”

Velvet mulai menjamahi kasur dan mendekati Magdalena. Bibir terbasahi oleh lidah sedangkan mata biru safirnya terfokus pada Magdalena. Bongkahan kedua dadanya seirama dengan gerak langkah tangan dan kaki. Nafas bagai hendak menerkam mangsa. Velvet kian beberapa jengkal dari Magdalena.

“Sialan! Hush-hush … sana pergi. Aku masih suka titit.”

Dengan cekatan, Magdalena beranjak dari kasur dan menyibakkan selimut ke arah Velvet. Sementara Velvet mengerang di dalam timbunan selimut, Magdalena bergegas menuju pintu kamar yang sedikit terbuka.

Namun, belum sempat Magdalena meraih gagang pintu,

“Minggir!”

Magdalena terjengkal ke belakang dan terjatuh membentur lantai. Ia tak siap untuk sebuah kejadian spontan, meski ngilu tak tertahankan. Sementara di depannya sudah berdiri sesosok wanita berambut jingga dan berkacamata bundar berlensa jingga sedang menyilangkan kedua tangan di bawah dada sambil merokok.

“Heh bocah baru, mau kemana kamu, hah? Kamu tak akan bisa lari dari sini.”

Wanita berkemeja jeans biru muda dengan kancing yang tak mampu menutupi volume dada itu, membentak sembari membungkukkan kepala ke wajah Magdalena. Ia menatap tajam Magdalena hanya dengan satu mata. Magdalena terbujur kaku akan aura wanita bermata jingga tersebut, sekalipun ngilu masih menusuk kalbu.

“Nyaaan … kamu mengganggu waktuku bersamanya, Smash,” keluh Velvet yang berhasil keluar dari selimut.

Just cut it out, bitch. Kamu ditugaskan Master untuk mengantarkan makanan, Blues. Bukan untuk menjamahnya.”

“Hmmm … kamu cemburu ya? Apa kamu pingin juga?” goda Velvet semakin liar.

“Eh, si goblok! Kamu berani macam-macam denganku, akanku buat kedua matamu berlubang!” bentak wanita bernama Smash sembari menodongkan revolver.


Pengen dapet update-update tentang cerita Subject 09 lewat status WhatsApp? Klik link ini: http://bit.ly/s09-GabungWA

“Ih … galak banget. Dasar tante labu.”

Sementara Magdalena yang mulai pulih dari ngilunya, mencoba menerjemahkan keanehan situasi yang ada di depan mata. Belum terjawab daftar pertanyaan sebelumnya, segudang pertanyaan baru bermunculan di kepala Magdalena.

Siapa sebenarnya wanita bernama Smash dan Velvet ini? Apa tujuan mereka kepadaku? SiapaMasteryang dimaksud Smash? Bagaimana mungkin, aku masih berada di Kafe Bifrost?” gumam Magdalena dalam hati.

“Stoooppp … Aku tak tau masalah kalian apa? Tapi bisakah kalian memberitahuku, bagaimana mungkin aku masih berada di Kafe-Whatever-Bifrost? Sudah berapa lama aku tertidur di sini?”

Serentak Smash dan Velvet menjawab, “300 tahun.”

Wait, … What the fuck?! Tertidur selama 300 tahun? Apa kalian gila?! Tapi bagima-,” kalimat Magdalena terpotong.

“Hoi wanita jalang, kamu tak perlu banyak bertanya. Cepat habiskan makananmu dan segera temui Master di ruang utama. Bila kamu menolak, maka bukan hanya peluruku yang melubangi kedua matamu, tapi juga seluruh bagian tubuh indahmu. Paham?”

Smash mengancam dengan selongsong revolver yang siap memelatukkan peluru ke mata Magdalena. Seketika, Magdalena terdiam dan tertegun. Ia membeku oleh ancaman Smash seraya terbesit untuk melakukan saja apa yang diperintahkan Smash. Ia merasa sangat tertekan dengan aura Smash yang begitu kuat nan mematikkan. Seakan iblis yang siap menghukum para pendosa.

“Ba-baik.”

***

Magdalena tetap tidak memakan sajian dari Velvet. Ia takut, bila makanan yang diberikan untuknya mengandung racun. Ia tetap tak akan mudah percaya dan mengikuti perintah orang lain sekalipun takut menghadapi Smash. Kecuali, untuk sesuatu yang menguntungkan. Jiwa raganya akan direlakan.

“Sungguh memuakkan. God, i want to bargain.”

Akan tetapi, pikirannya seketika teralihkan oleh hal lain. Ia cukup penasaran dengan ucapan Smash dan Velvet yang sepintas teringat.

Namaku, Velvet Blue, Siren nomor 5.”

300 tahun.”

Cepat habiskan makananmu dan segera temui Master di ruang utama.”

Siapa mereka sebenarnya? Apa itu Siren? Bagaimana bisa, aku terjebak di tempat yang sama dalam kurun waktu yang sangat lama? Apa sesungguhnya Kafe Bifrost ini? Terlebih, siapakahMasteryang mereka maksud? Ada urusan apa Master denganku?

Misteri ini sama sekali tidak menemukan titik terang. Magdalena yang sebelumnya dihadapkan oleh situasi yang mencekam, kini dibebani oleh teka-teki baru.  

“Aaargh … semakin lama aku memikirkannya hanya membuatku semakin gila. Aku cukup keluar dari kamar ini, dan semoga semua akan berakhir. Ya, tidak akan ada yang mengganguku lagi. Aku yakin.”

Magdalena bergegas membuka pintu kamar dan berharap segala kejanggalan ini akan segera usai. Lelah hayati Magdalena menghadapi keanehan yang menumpuk di depan mata. Ia tak dapat menoleransi lagi.

Namun, kala Magdalena menutup pintu kamar,

“A-apa-apan ini?!”

Sesosok pria berambut kuncir perak yang pernah ditemui beberapa waktu lalu, telah berdiri di ujung pintu kamar. Ia tampak tersenyum sembari menghidangkan sebuah sup keju di meja bartender. Ia sedemikian santai menghadapi Magdalena yang sedang meledak-ledak.

“Ah selamat pagi Nona Magdalena, apakah nyenyak tidurmu malam tadi? Saya yakin anda pasti belum makan sajian dari Blues. Saya sudah siapkan lagi makanan kesukaan anda, sup keju khas buatan ibu anda. Silahkan dinikmati selagi hangat.”

Mata Magdalena terbelalak dengan mulut sedikit menganga. Magdalena mendadak sulit merangkai kata-kata. Ia terpaku dan membatu kala bertemu lagi dengan sosok yang sudah tidak asing itu.

Ba-bagaimana mungkin?! Kenapa dia mengetahui makanan kesukaanku waktu kecil? Padahal, aku tidak pernah bercerita kepada siapapun,” gerutu Magdalena dalam hati.  

“Ka-kamu lagi?! Ba-bagaimana kamu-… Arrrgh, apa maksud semua ini?! Si-siapa kamu sebenarnya?! You really freaking me out, dumbass!”

Magdalena terbata-bata dan mengumpat kepada pria yang bernama, Heimdall, tersebut. Magdalena sudah kehilangan akal sehat. Amarahnya sudah melampaui ubun-ubun. Ia ingin membuat perhitungan kepada Heimdall. Ia ingin segera mengakhiri.

Magdalena memberanikan diri untuk menghampiri Heimdall. Tiap langkahnya begitu terasa bagai getaran gempa. Kepala tertunduk sedangkan kedua tangan mengepal keras.

“Anda sebaiknya menenangkan diri dulu nona. Kalau-,”

“Kalau tidak apa bajingan?!”

Magdalena menyiramkan sup keju itu ke wajah Heimdall tanpa basa-basi.

“Sudah cukup semua kegilaan ini! Aku sudah tak tahan! Tolong kembalikan aku ke kehidupanku yang sebelumnya! Kamu … kamu … kamu sudah melewati batas privasiku wahai bajingan yang mengaku diri Dewa Heimdall ….”

Air mata Magdalena tak tertahankan. Volume bicara Magdalena berubah menjadi lebih halus. Meski demikian, Heimdall tidak membalas Magdalena dengan sikap maupun jawaban sepatah katapun. Bahkan, ia membiarkan sup keju itu tetap membasahi wajahnya.

“Setidaknya … setidaknya … katakan yang sejujurnya padaku. Apa arti semua ini? Kenapa aku mengalami segala keanehan ini? Kenapa aku bisa masuk ke kafe ini? Kenapa aku bisa tertidur selama 300 tahun di kafe ini? Apa maumu sebenarnya?! Kenapa kamu bisa mengetahui nama asliku dan makanan kesukaanku waktu kecil?! Padahal aku baru bertemu denganmu. Siapa kamu, hah?! Tolong … tolong jawab aku … tolong jawab aku wahai Heimdall.”

Magdalena menumpahkan segala yang membebani pikiran dengan tersendu-sendu. Ia hanya mencari sebuah kebenaran atas peristiwa ini. Kedua tangan dan kepalanya tertunduk di atas meja bartender. Nafas tersengal-sengal sementara tubuh berguncang hebat.

“Tolong … tolong jawab aku.”

Heimdall yang sedari tadi hanya memilih untuk diam, akhirnya terpaksa menghentikan jemari tangan kirinya bertasbih. Ia lalu mengelap wajahnya sambil berkata,

“Jika nona benar-benar menginginkan sebuah kebenaran, maka akanku sampaikan sekalipun ini menyakitkan.”

“Katakan saja … tolong katakan saja. Aku tidak akan marah ….”

“Baiklah, jika nona memaksa.”

“Hanya satu jawaban atas semua pertanyaan nona ….”

“Bahwasanya …”

“Nona Magdalena sudah meninggal.”

“Kematian nona terhitung sejak bercinta malam itu.”

“Ap-.”

Jantung berhenti berdetak dan segalanya terasa sunyi. Air mata yang semula tumpah ruah kini mendadak tersumbat. Penglihatan mulai kabur sementara mata merah merona berubah gelap. Tubuh tak dapat digerakkan seiring nafas pun perlahan hilang. Magdalena bagaikan tersambar petir di siang bolong, kala mendengar jawaban Heimdall.

Perlahan ia ambruk ke lantai kafe. Ia jatuh tersungkur dengan mata, hidung, mulut, telinga, dan sekucur tubuh mengeluarkan darah. Magdalena tak memiliki kendali lagi atas tubuhnya. Jiwa Magdalena seolah ditarik ke dimensi lain. Sepintas, ia terbayang akan sosok yang ingin ditemui.

“Ibu.”

Namun tak dapat bersuara, seakan semua panca indra telah lumpuh.

Sebuah simfoni kematian mengiringi jasad Magdalena yang bersimbah darah di lantai kafe.

Heimdall hanya mampu menatap Magdalena sembari tersenyum kecil. Dengan tatapan datar, jemari tangan kirinya mulai bertasbih kembali.

Hari itu, Magdalena diingatkan akan segala tindak-tanduknya selama di muka bumi. Baik segala kebaikan yang pernah dikerjakan, maupun dosa yang belum terampuni. Bahwasanya kematian itu begitu dekat dengan setiap makhluk Sang Pencipta. Bila waktu telah tiba, maka tidak akan ada satupun yang mampu menghalangi. Tidak ada toleransi untuk bertaubat. Pada akhirnya, Magdalena hanya meninggalkan penyesalan yang tak tertebus. Waktu adalah pembunuh paling kejam.

“Sesosok manusia yang bergelantung tak bernyawa di atas tiang sebuah rumah, adalah dirimu … Nona Magdalena atau … Nona Scarlett Grey,” ujar Heimdall sambil membuka sebuah buku bertuliskan “Absolution: The Sirens”.

Bagaimana nasib sang wanita selanjutnya?

Selengkapnya di Chapter 1-3 The Forsaken Soul (Bagian 3 (Final))

To be continued …


Webnovel Subject 09 hidup dari donasi para pembaca.
Tanpanya, kita akan sulit bertahan.
Donasi yuk, silakan kirim pulsa ke: bit.ly/s09-donateme


SHARE EPISODE INI!