The Watcher – [1] – The Forsaken Soul


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

Cerita ini merupakan CERITA AFILIASI yang dipromosikan oleh Subject 09 melalui Toko 09. Info lebih lanjut di toko.subject09.web.id


Penulis: Sieg Aegis
Rating: Dewasa


“Dia telah dinubuatkan sebagai Roh Kudus bagi penganut Nasrani. Dia disebut ‘An Ancient of Days’ dalam Kitab Taurat. Dia dipanggil Vywamus oleh pengikut New Age. Dia adalah Karttikeya dalam ajaran Hindu. Dia, Semar Badranaya bagi orang Jawa. Kagutsuchi dalam keyakinan Shinto. Khried sang Phalon untuk kaum Lemuria. Nabi Khidr dalam kepercayaan Islam. Dialah Heimdall, Sang Pengawas Sembilan Dunia bagi bangsa Nordik.”

***

Pipi merah merona wanita itu, kini membekas biru oleh libasan telapak tangan pria berparas beringas. Derai berai air mata sang wanita yang bercucuran, tak mengurungkan niat sang pria untuk melancarkan tamparan kedua.

“Argh ….”

Meski teriakan sang wanita sangat mengganggu kenyamanan penghuni apartemen lain, namun tiada satu orang pun yang marah apalagi terusik. Seolah, tidak terjadi apa-apa atau mungkin masa bodoh dengan kericuhan di kamar pengap itu. Semua terkesan lumrah dan pantas dimaklumi. Pekik sang wanita yang tak jua berhenti, seakan menjadi candu di telinga pria tambun yang tetap menganiaya wajah jelita sang wanita. Tiada ampun bagi sang wanita beriris merah tersebut.

Pipi mulus sang wanita, kini penuh lebam dan air mata. Matanya kian sembab, sedangkan suara tak lagi lantang. Berkali-kali sang wanita menyuarakan kata ‘ampun’. Akan tetapi, enggan digubris oleh lawan bicara. Wanita itu tersendu-sendu di bawah shower dengan kedua tangan dan kaki terikat borgol pada ujung antar dinding keramik putih. Air mata sang wanita tak mampu diusap oleh tangannya sendiri. Jangankan air mata, rambut merah panjang sang wanita pun tak kuasa diseka dari paras yang tak lagi menawan. Jambakkan tangan pria berdagu rimbun, sanggup merontokkan helai demi helai rambut sang wanita. Sang wanita yang terkulai tak berdaya, hanya dapat menahan luka yang berkecamuk di raga. Lantai keramik putih yang tergenang air, menjadi saksi bisu peristiwa dini hari itu.

Gaun merah ketat yang dikenakan sang wanita, tak lagi rapi. Meski, gairah sang pria masih tersulut oleh lekuk tubuhnya yang bak gitar Spanyol. Bahkan, gaun satin nan anggun itu tak kuasa membungkus bongkahan payudara besar sang wanita. Bibir wanita yang bergincu merah merekah, selalu menjadi pusat perhatian pria berkemeja putih tersebut.

“Lihatlah dirimu yang menawan ini. Membuatku ingin menjamah tiap jengkal tubuhmu.”

Sang pria berambut putih undercut, mulai meregangkan sabuk celana hitam yang sudah lama membengkak.

“A-ampun ….”

Seperti enggan memberi kesempatan bagi sang wanita untuk mengambil nafas sejenak, sang pria bertato naga membentangkan kedua kaki sang wanita seraya melucuti pakaian dalamnya. Ia menghempaskan pakaian dalam itu ke dalam bathtub, sembari menyeringai tanpa dosa. Nasib sang wanita, kini berada dalam genggaman lelaki hidung belang.

“Ughhh ….”

Keluh sang wanita yang mampu memecahkan kesunyian di bulan purnama. Bertubi-tubi, tubuh sang wanita dihantam oleh lelaki gempal itu, hingga terhimpit oleh tembok kamar mandi. Sang pria sedemikian menikmati permainan, sekalipun sang wanita bukanlah isteri sahnya. Rupa sang pria laksana anjing yang mendapatkan tulang dari majikan. Lidah menjulur dengan air liur membasahi kemeja dan mata terbelalak oleh keranuman fisik sang wanita. Rintihan sang wanita berharmonisasi apik dengan deru nafas sang pria yang memburu.

Sang wanita bergaun merah itu hanya mampu berpasrah diri di bawah kehendak sang pria. Ia tak kuasa menolak, apalagi memberontak. Bila mencoba melawan, ia justru akan merasakan sakit dua kali lipat. Maka, jalan satu-satunya adalah menikmati permainan sang pria. Mau bagaimana lagi? Di benak sang wanita, permainan lawannya ini cukup enak juga. Meski kasar, sang pria ternyata piawai membuat sang wanita bergelora. Perlahan namun pasti, sang wanita mulai mampu mengimbangi keinginan sang pria. Sang wanita memainkan lidah di hadapan sang pria, tanda ia meminta lebih. Sesekali, sang pria berpagutan dengan bibir merah sang wanita hingga turun ke leher. Nafas yang tersengal-sengal serta kecupan manis sang pria, meningkatkan hasrat sang wanita.

“Lagi … lagi … dan lagi.”

Wajah sang wanita yang semula tampak teraniaya, kini malah terlihat sumringah. Kesenangan mereka melampaui ubun-ubun. Mereka dikendalikan oleh nafsu semata. Mereka dimabuk kepayang. Mereka dicumbu asmara sesaat. Persetan dengan akidah, bahkan sang wanita tuna susila pun memiliki jatah di surga. Mungkin, demikian yang mereka pikirkan.

Sang wanita tak lagi memikirkan tentang kehormatannya sendiri yang telah lama direnggut oleh pria-pria kesepian maupun suami orang. Mahkota kewanitaannya tak lagi berarti di kota yang megah ini. Asal ada uang untuk sesuap nasi dan memenuhi kebutuhan hidup, ia rela digilir oleh para pria hidung belang. Tinggal bermodal penampilan tubuh yang membuat para lelaki gelisah, ia mampu mematok tarif yang amat menguras kantong. Selama menguntungkan bagi para lelaki dan sang wanita pun menikmati, kanapa tidak?

“Asal Om senang.” Begitulah prinsip hidup sang wanita kupu-kupu malam. Tak peduli, ia diperlakukan lebih rendah dari binatang. Semua dilayani sang wanita hanya untuk bertahan hidup di kerasnya dunia saat ini.

##

Wanita bergaun merah berjalan terhuyung-huyung di bawah payung teduh merah yang menghalau derai hujan malam itu. Lantaran stamina sudah tak lagi prima, ia memutuskan pulang ke apartemennya. Ia berjalan dengan kaki yang sedikit terbuka akibat perlakuan kasar sang pelanggan tadi. Wajahnya sesekali meringis kala menahan sakit yang masih terasa. Namun, sang wanita menepis laranya sembari menghitung pendapatan tebal dari kantong sang pria hidung belang.

“Rasanya benar-benar mau mati, untunglah om itu menepati janjinya. Tapi, tidak untuk lain kali, masih banyak titit yang lebih beradab,” keluh kesal sang wanita di sela-sela deras hujan. Walau menyakitkan, jerih payahnya terbayarkan. Baginya bukan masalah besar, asal mentahan lancar.

Sang wanita melangkahkan kaki melewati bulevar kota di bawah lampu kota yang remang-remang nan redup. Selain hujan, perjalanan sang wanita ditemani pula oleh semilir angin malam yang menerpa, mengibaskan rambut merahnya yang panjang. Kabut turut hadir mendampingi sang wanita. Mereka siap menemani kesendirian sang wanita kemanapun ia menapakkan kaki. Meski, perhatian sang wanita masih terfokus pada jumlah uang yang diterima seraya mulut bergumam.

Yes, uang ini cukup untuk menyambung hidup dua bulan kedepan. Sisanya untuk kesenangan pribadi, heheum.”

Sang wanita tampak sumringah atas hasil jerih payahnya. Gajinya malam itu, tebal dan bernominal jutaan. Ia tak lagi memikirkan haram atau halal. Di benak sang wanita, hanya terbayang berbagai hal guna menunaikan uang tersebut. Sampai-sampai, ia tak sadar bahwa hanya dirinya saja yang melalangbuana di kota megah itu.

Kota yang biasanya terlihat ramai oleh hiruk pikuk warga, kini bagaikan kota mati. Padahal, hujan seringkali tidak menjadi penghalang untuk tidak beraktivitas atau mencari penghasilan. Sang wanita tak satupun bertegur sapa apalagi berpapasan dengan warga sekitar yang biasa menghidupkan kota di malam hari. Cukuplah lampu kota yang redup, hujan, semilir angin, serta kabut yang tetap setia mengawal sang wanita pulang. Untuk ukuran kota metropolitan, suasana saat ini sangat sepi.

Hujan semakin lama, kian seperti guyuran air bah. Seakan enggan untuk reda, sementara kilat berkecambuk. Payung merah yang semula mampu melindungi sang wanita, kini tak kuasa membendung. Perlahan namun pasti, warna pakaian kerja sang wanita berubah menjadi lebih gelap. Bulir-bulir air pun mengarungi tiap inci paha sang wanita. Tak jarang sang wanita memekik lirih, “Jancok,” pada keadaan. Walau kesal, ia tetap melanjutkan perjalanan.

Namun, malam itu tak seperti yang telah lalu. Di balik gemuruh guntur, seketika terdengar suara lolongan serigala yang saling beriringan. Padahal tak pernah ada suara lolongan serigala di kota ini sebelumnya. Bahkan, kegaduhan malam pun disertai pula oleh suara jeritan.

“Tolooong … tolooong akuuu!”

place your ad

Sontak pekikkan itu mengagetkan sang wanita. Tanpa sadar bulu rimanya berdiri, tatkala tubuh mendadak bergetar. Keringat dingin keluar membasahi kening. Jantung berdegub cepat. Semakin lama, tubuh sang wanita kian berguncang. Dingin yang menusuk tulang, kini bercampur dengan paranoid.

“Su-suara apa itu?!”

Sesegera mungkin sang wanita melihat keadaan sekitar, namun kabut kian menebal dan mengaburkan pandangan. Hanyalah kepulan asap warna abu-abu yang menghiasi sekeliling sang wanita. Tiada seorangpun yang patut untuk dicurigai.

“Tch, mungkin karena aku kelelahan saja.”

Sang wanita mencoba menepis segala kegundahan yang sempat menyerang psikisnya. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa apa yang didengar hanyalah delusi dari alam bawah sadarnya saja. Bukan hal penting yang perlu dikhawatirkan. Baginya wajar bila dalam kondisi anemia, ia mendengar suara-suara aneh. Sang wanita melanjutkan perjalanan pulang kembali.

Baru beberapa langkah dari tempat semula, persepsi sang wanita terkikis seketika.

“Si-siapa di situ?!”

Dari belakang sang wanita terdengar suara langkah kaki. Semakin lama, kian mendekat. Dalam kondisi kejiwaan yang tidak stabil, sang wanita sesegera mungkin menoleh ke belakang untuk memastikan. Lagi-lagi, ia tak mendapati seseorangpun. Sedangkan, suara langkah kaki masih tetap terdengar.

“Tu-tunjukkan dirimu! Ja-jangan mempermainkanku!”

Tapi, surauan sang wanita nihil adanya.

Belum selesai sang wanita bergelut dengan kecemasannya, tahu-tahu terdengar suara desisan ular dari arah lain.

“U-ular?! A-ada apa sebenarnya?!”

Sang wanita membeku beberapa saat. Dalam diam, sang wanita mencoba menghubungkan segala kemungkinan yang ada. Ia meracau dalam hati dan pikirannya. Ia berusaha menterjemahkan sesuai akal sehat. Namun seberapa gigih ia menerka, sang wanita tetap tidak mendapatkan jawaban. Sang wanita tetap tidak menemukan sumber suara-suara itu berasal.

“Tolooong akuuu … Scarlett Grey.”

Wanita itu tersentak untuk kedua kali, kala seseorang memanggil namanya. Mata terbelalak dan jantung berdegub kencang. Mentalnya sudah berada di ambang batas. Persetan dengan apa yang sedang terjadi. Sang wanita tidak membutuhkan kebenaran lagi.

“Aaahhh ….”

Sang wanita memekik lantang seraya berlari demi meninggalkan segala keributan itu. Dengan luka yang masih membekas di raga, ia tetap memaksakan diri meski tertatih-tatih. Ia menerjang badai yang menghadang kala itu. Yang terpenting saat ini, ia kembali ke apartemennya dengan selamat.

“Hah … hah … hah.”

place your ad

Walau sang wanita berusaha lari dari kenyataan yang ada, namun suara-suara itu tetap mengikuti kemanapun ia pergi.

“Tolooong … tolong aku, Scarlett.”

“Diaaam!!!”

Sang wanita sudah tak dapat membendung kegelisahannya. Semua tampak asing dan mengganggu. Sang wanita sudah tak mampu berpikir jernih. Pikirannya kacau balau, ia mengira sedang diintai oleh seseorang. Ia seakan sedang dikejar-kejar. Bahkan, ia berspekulasi bahwa ada seseorang yang ingin membunuhnya. Ia menyangka akan mati malam ini.

“Tolong aku, Scarlett.”

“Berisiiik … jangan ganggu aku!”

Sang wanita tetap berlari sekuat tenaga demi keluar dari kegilaan ini. Meski tanpa sadar, ia telah melewati seorang manusia yang bergelantung tak bernyawa di atas tiang sebuah rumah.

##

Sang wanita bergegas membuka pintu apartemen. Ia ingin segera berlindung dari kegaduhan dunia luar.

“Akan aku akhiri segala kegilaan ini!”

Sang wanita masuk ke dalam ruangan apartemen dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menghela nafas sejenak meski, deru nafasnya masih memburu. Keringat dingin yang keluar sudah tak dapat dibedakan dengan tetesan air hujan. Mata sang wanita terpejam dengan tubuh bersandar di badan pintu. Tubuhnya bergetar hebat akibat kedinginan yang bercampur ketakuan. Sang wanita mengutuk kejadian yang baru saja dialami dalam hati. Mental sang wanita benar-benar sedang diuji kali ini.

“Huft … akhirnyaaa … semua telah berakhir.”

Sang wanita mencoba bangkit dari keterpurukan. Ia berpikir bahwa badai telah berlalu. Ia telah selamat dan sekarang saatnya merelaksasikan tubuh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semuanya aman. Sang wanita mencoba memikirkan kembali, apa yang hendak dikerjakan esok hari. Malam sudah semakin larut, waktunya sang wanita mengistirahatkan diri.

Good night everybody and sweet dreams.”

Saat lampu kamar dinyalakan, bukannya kedamaian yang didapatkan sang wanita. Melainkan sebuah ruangan baru yang amat asing baginya. Sebuah ruangan yang lebih pantas disebut kafe ketimbang kamar. Sementara di ujung, tampak seorang lelaki sedang membaca buku di sebuah sofa merah marun.

Abandon all hopes, you who enter here. Sebuah kalimat sambutan yang pernah dituturkan oleh Dante Alghieri, Ah … selamat datang di kafe Bifrost, Magdalena.”

Sembari menutup buku yang sedang dibaca, Lelaki itu menyambut sang wanita dengan penggalan kalimat dari novel legendaris. Wajah yang menggetarkan hati, lagi senyum kepada sang wanita. Kedua bola mata yang berwarna toska, membekukan langkah sang wanita. Bulu rima bergoyang, kala mendengar senandung musik klasik yang seolah menyambut sang wanita di depan pintu. Musik itu seperti mengetahui dengan apa yang sedang sang wanita rasakan. Entah darimana datangnya alunan indah tersebut. Padahal, hanya ada sang pria berambut kuncir perak yang mendiami kafe megah bergaya eropa nan klasik tersebut. Tanpa ada pengiring musik ataupun instrumen musik.

What the fuck?!

Kebingungan sang wanita menjadi-jadi kala sang pria menyapa dengan nama, Magdalena. Sebuah nama yang tak seorangpun mengetahui. Bagaimana mungkin orang yang pertama kali bertemu, bisa langsung mengetahui nama seseorang sebelum mengenalkan diri? Bukankah, di kota ini sang wanita lebih termahsyur dengan nama panggung, Scarlett Grey? Wanita tuna susila paling tersohor di Kota Swiss.

“Siapa kamu?! Bagaimana kamu bisa mengetahui nama asliku?!”

Sang pria hanya tersenyum manis kepada sang wanita yang sedang kebingungan akan kehadirannya. Ia tampak tenang menghadapi sang wanita, sembari melangkah mendekat. Seakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Hei, jawab pertanyaanku! Bukan senyummu yang aku inginkan!”

Sang wanita amat mudah tersulut emosi hanya dengan ekspresi sang pria. Ia tak tahu-menahu dengan siapa yang sedang ditemui. Apakah dia seseorang yang hendak berbuat jahat kepadanya? Bagaimana mungkin dia bisa muncul di apartemen sang wanita? Terlebih lagi, bagaimana caranya sebuah kamar berubah menjadi kafe dalam waktu semalam tanpa seizin sang pemilik kamar? Belum selesai ia berkompromi dengan kejadian barusan, lagi-lagi dihadapkan oleh kejadian di luar nalar. Keanehan apa lagi yang sedang menimpa sang wanita?

“Tolong jawab pertanyaanku, dasar pelayan kafe murahan!”

Emosi sang wanita kembali bergejolak. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi demi menenangkan diri. Ia meninggikan nada bicara sebagai proteksi dan bentuk perlawanan. Walau sebenarnya, ia sendiri sedang dirundung ketakutan. Semua akibat kejadian tadi. Semua akibat kegilaan ini. Yang amat diinginkan sang wanita saat ini, hanyalah jawaban dan rasa aman. Ia sudah jengah dengan segala yang menimpanya.

Namun tampaknya, sang pria mengerti akan kondisi yang baru saja dialami sang wanita melalui mata beriris merah sang wanita. Dalam senyum, ia sebenarnya enggan mempermainkan sang wanita. Cukuplah ia terkejut akan kehadirannya. Kini giliran sang pria mengutarakan apa yang sempat tersimpan dalam lisan. Seraya menaikkan kacamata, sang pria pun menjawab, “Namaku Heimdall, Pengawas Sembilan Dunia, Nona Magdalena.”

Misteri apa lagi yang akan dihadapi sang wanita?

BERSAMBUNG

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

place your ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *