Subject 09 ft. Iwa – Pertemuan


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

Cerita ini merupakan kiriman dari penggemar Subject 09. Apabila kamu tertarik untuk mengirimkan cerita seperti ini, silakan kirimkan ke subject09.adam@gmail.com

Sama seperti cerita Subject 09 lainnya, cerita ini HANYA FIKSI belaka. Baca pengumuman ini untuk lebih jelasnya: bit.ly/s09-disclaimer


PENULIS CERITA INI: Rakai Asaju


Iwa suka berjalan kaki.

Kemanapun ia pergi, kalau masih dalam satu kota, ia berusaha memilih berjalan kaki saja. Ia bisa mengendarai motor dan menyetir mobil dengan baik, namun bukan karena ia tak memiliki SIM Iwa lalu memilih berjalan kaki. Juga bukan karena kekurangan duit, meski sebenarnya ia bisa memanggil taksi atau naik bis. Kalau terpaksa, Iwa baru memilih naik sepeda atau ojek. Juga bukan ojek online.

Pola kerja Iwa tak mengenal waktu dan ritme. Bahkan, pekerjaannya tak memiliki bentuk. Ia mengaturnya sesuka hari. Pagi buta, siang bolong, malam hari yang gelap, kapan saja ia berencana melakukan. Mau cepat atau lambat, berantakan atau rapi, fleksibel saja asal sesuai pesanan. Karena alasan itulah, Iwa menyukai berjalan kaki. Mengandalkan kedua bagian tubuh pemberian Tuhan itu membuatnya lebih percaya diri daripada mengandalkan mesin yang setiap saat harus diisi bensin atau beresiko terhadang kemacetan. Toh, Iwa bisa bergerak cepat, hanya dengan kedua kaki dan tangannya.

Dan siang ini juga, Iwa menunggu penghubung klien-nya, yang kali ini meminta untuk bertemu di sebuah warung kopi di pinggiran kota, saat tengah hari. Iwa lebih suka bertemu di warung kaki lima di pinggiran jalan, bukan kafe.

“Mas Su,”

Iwa baru saja duduk di atas bangku kayu, belum sempat memesan kopi, tetiba seseorang sudah memanggil namanya. Seorang lelaki berusia pertengahan 30-an, berkacamata dan kucel, tampangnya seperti pekerja kantoran yang selalu dipaksa lembur tiap malam. Kemeja putih dan celana hitamnya membuat ia tampak seperti sales mesin cuci, hanya wajahnya yang suram dan lesu tak mendukung penampilannya.

“Kamu…?” Iwa membalas sapaan itu, merasa agak asing.

“Itu lho, yang kemarin di DTC, yang nawarin beli HP,”

“HP yang mana ya, mas?” Iwa mengambil tempat duduk, nada suaranya masih datar-datar saja.

“Smartphone ori buatan luar, yang tipe S,”

“Oh,” Iwa tampak tak terkesan, lalu ia memesan segelas kopi hitam dengan gula lebih.

“Tumben-tubenan ketemu, seperti orang mau nagih utang aja,”

“Duit ‘kan harus dikejar,” pemuda berkacamata itu mengekeh.

“HP punya siapa yang kamu jual?”

“Pengacara, mas. Oke punya. Masih gres.” Saat mengatakannya, mata pria itu mengerling, sambil mengacungkan jempol. Lagaknya perlahan mulai berubah menjadi seorang makelar yang menjajakan barang.

Iwa menepuk pelan bangku kayu di sebelahnya. “Duduk sini ajalah, sambil ngopi.” Ia menerima secangkir kopi dari mbah penjaga warung yang sudah berumur. Iwa meletakkan cawannya di atas gelas, lalu membaliknya dengan gerakan cekatan. Lalu ia mulai meminum kopinya lewat cawan itu.

Lalu keduanya mulai mengobrol tanpa arah, mulai dari membicarakan berita terkini, HP, dan juga kucing peliharaan si kacamata yang tiba-tiba meninggal karena kecelakaan. Selang beberapa menit, setelah kopi masing-masing habis, keduanya pergi bersamaan dengan saling berdampingan.

“Smartphone ori, tipe S pula.” Iwa menggaruk tengkuknya ketika berjalan, seperti menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya, yang tersembunyi dalam geraka-geriknya yang lamban dan samar.

Targetnya WNA, orang kaya, dan punya kemampuan militer.

“Dimana?”

“Apartemen Twin Tower di Teluk, kamar 1615. Harus deal sebelum Selasa depan.” pemuda berkacamata itu menyalakan rokoknya.

“Hm,” Iwa hanya menggumam sedikit. Mudah. Sistem keamanan apartemen model begitu tidak terlalu ketat. Hanya saja ada yang harus lebih diperhitungkan…

“Bakalan banyak gosip, kalau aku beli smartphone ori tipe S,” Iwa berkata pelan. Seperti setengah mengeluh.

Media bakalan ramai kalau seorang anggota intelijen luar negeri dibunuh di sini.

“Wajarlah. Makanya, harus dibungkus rapi pakai kotak. Tapi, bukan cuma si Pengacara sih, yang pingin jual. Banyak nama di kontak si Smartphone. Foto model, preman, sampai petani, juga ada.” Si Pemuda berkacamata menyesap rokoknya.

Yang ingin dia mati bukan cuma pacar gelapnya. Tapi juga ada orang-orang lain. Politikus, konglomerat, dan militer. 

“Numpang hidup di negara orang, jadi lintah. Mahal banget pulsanya. Wajar kalau HP-nya akhirnya dijual.”

Dia sampah, yang memeras banyak orang. Banyak orang menginginkan dia mati.

Iwa menatap jalanan kota Surabaya. Ia menghela nafas samar.

“Pakai kotak?”

Dibunuh diam-diam, dengan rapi?

“Iya. Rapi pakai kotak. Tanpa bon.” Pemuda itu berkata sedikit menekan.

Ya. Rapi. Dan hilangkan mayatnya tanpa jejak.

Iwa melirik sebentar ke arah lelaki berkacamata itu.

“Itu mahal.”

Si pemuda tergelak pelan.

“Namanya smartphone orisinil ya mahal lah, tipe S pula. Tapi iya, bakalan dibayar kok. Harga bisa diatur,” Lelaki itu menyerahkan amplop murah, yang sepertinya juga bekas nota surat dinas. Segepok uang tunai dengan nomor seri yang diacak tertata rapi di dalamnya, diantara berisi beberapa catatan tentang detail korban yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

“Sisanya menyusul,”

Iwa hanya mengangkat alis, dan berlalu meninggalkan pemuda berkacamata itu, yang kini merokok santai, menunggu bus yang lewat.

Kenneth Fredericks. Alias entahlah.

Mantan agen CIA.  

***

Kadang-kadang, Subject 09 melakukannya juga untuk menyampaikan ancaman.

Bukan pembunuhan acak untuk membela diri atau meloloskan diri, tapi juga yang terencana dengan baik. Yang bertujuan untuk memberikan peringatan, sekaligus mengejek. Seolah memberikan pesan implisit, kalau 09 selalu selangkah di depan, dan bertindak lebih cepat dari mereka.

Subject 17 banyak membantu, meskipun menghadapi gadis yang tampak manis di permukaan itu, membuat 09 harus selalu bersabar. Felicia bukan partner yang suportif, kalimatnya sarkas dan ia mudah tersinggung, ditambah lagi kemampuannya sama mematikannya seperti ia. Tapi untunglah 09 memiliki persona yang cukup terkendali, satu sisi kepribadiannya yang dinamakan ‘Adam’. Adam membutuhkan Felicia, dan Adam juga menduga-duga kalau Felicia, Subject 17, juga diam-diam membutuhkannya. 17 handal dalam meretas data, namun kemampuan itu membuat ia harus banyak diam di depan laptop. Berhari-hari meretas data tanpa tidur jelas menurunkan kemampuannya. Jam terbangnya dalam close-contact-combat juga masih jauh di bawah jam terbang 09. Belum lagi kalau bicara kemampuan menyetir dan yang lain, 09 masih menang pengalaman.

Tapi, yang jelas, ia membutuhkan sedikit bantuan kali ini.

“Herbert Lamarr, alias Kenneth Fredericks,” 17 menghela nafas, wajahnya terlihat jutek saat ia duduk di atas sofa dengan laptop kecil terletas di atas pahanya.

“… alias Kenneth Rothbart, alias Yuri Solensav, alias Kenneth Herbert Sanderson.”

Subject 09 menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Dia ahli menyamar, dan sudah berkeliling di banyak negara sebagai intel. Pengalamannya tinggi. Aku sudah tahu itu,” Subject 09 mendengus. “Aku hanya butuh dimana dia tinggal sekarang, dan memastikan informasi itu tepat.”

“Kau meragukan kemampuanku mencari informasi?” 17 mendelik ke arah Subject 09, yang spontan disambut 09 dengan decakan.

“Duh, aku salah ngomong lagi, ya.” 09 mendesah. Kenapa perempuan begitu rumit?

“Bukan itu yang mau kuberitahukan, idiot.” 17 mendelik ke arah Subject 09. “Herbert Lamarr itu masuk daftar MIA sejak setahun lalu.”

Subject 09 langsung bangkit dari sofa, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke meja.

Missing in Action?

“Kau yakin? Bukannya dia masih berkeliaran di Surabaya?”

“Secara teknis. Tapi dia sudah lama tidak melapor. Informasi yang kudapatkan seperti itu.”

“Jadi… kita berhadapan dengan intel yang mungkin juga berkhianat,”

“Mungkin juga. Atau mungkin dia hanya terlalu enak hidup di Indonesia. Bebas melenggang kemana-mana dapat kekayaan, mungkin juga memeras beberapa konglomerat. Dia punya hubungan gelap dengan seorang artis juga, sepertinya.”

“Intinya, dia sudah berubah jadi bajingan?”

“Kau yakin mau membunuhnya? Ini akan memancing perhatian. Foreigners, lho. Media bakal ramai, meskipun bakal bagus buat isu pengalihan.”

“Aku harus menarik perhatian mereka, untuk memberitahu kalau kita memegang semua informasi, 17.” Subject 09 berkata dengan wajah serius. “Aku harus membuat mereka pusing dan bingung dengan langkah-langkah yang kita ambil. Antara membantu dan menekan. Kita menghilangkan satu mata-mata lawan dari lawan kita. Itu akan menyampakan pesan yang cukup membingungkan untuk PIN. Bahwa langkah kita tidak bisa ditebak dengan mudah.”

Subject 17 terdiam sejenak.

“Aku tak ikut.”

“Aku tak mengajakmu.”

“Aku menonton saja, kalau hasilnya memang bagus, baru aku putuskan akan bekerja sama denganmu atau tidak.”

“Jadi, alamat terkini Tuan Herbert Lamarr?” Subject 09 menuntut.

17 kembali melirik laptopnya, mengetik ebberapa saat. Lalu ia menjawab sambil emmperbaiki kacamatanya.

“Apartemen Twin Tower di Teluk Surabaya, nomor 1615,”

“Apartemen mewah biasa, ya? Berikan aku denahnya.”

***

Apartemen Twin Tower, nomor 1615.

Seminggu kemudian

Subject 09 menempelkan laras pistolnya ke arah target. Lelaki berpakaian pantai itu sudah babak belur dengan dua lubang peluru di lututnya.

“Tu-tunggu! A-aku bisa mengatur agar kau…”

“Keberadaanmu sudah sebuah kesalahan, Lieuteunant. Tidak ada tawar menawar untukmu.” Dingin, Subject 09 menarik picu pistol berperedam miliknya. Satu decitan halus terdengar, dan lelaki itu terjerembab dengan tubuh tak benyawa, sebagian isi otaknya yang berwarna kelabu mengotori karpet dan tembok putih kamar hotel itu.

Subject 09 menghela nafas, kemudian membereskan pistolnya, memasukkannnya kembali ke dalam ransel perjalanannya. Ia masuk ke kamar mandi, mencuci muka, dan menyeka semua bekas kehadirannya di apartemen itu dengan tisu, yang disentor langsung ke lubang kloset.

“Ternyata, hanya mata-mata tua yang berkarat,” Ia menggumam pelan. Sungguh bukan tandingannya. Bahkan Subject 09 tak mengira bakalan segampang itu.

Sekonyong-konyong, terdengar suara ceklikan di lubang kunci pintu depan, diikuti suara pintu berderit terbuka, diikuti geredekan roda dan suara pintu yang menutup kembali.  Spontan, Subject 09 langsung dengan gesit menyembunyikan diri di pintu kamar mandi, waspada.

Bukankah aku sudah mengunci pintu dari dalam?

“… birunya cinta …” terdengar siulan pelan mengikuti alunan lagu dangdut yang sumbang.

Petugas cleaning service, berseragam biru dan bertopi, melenggang masuk di koridor di depan pintu masuk, sedang membungkuk mengambil tempat sampah plastik di sebelah pintu masuk. Lalu ia mulai mengeluarkan sapunya dan mulai menyapu bawah rak sepatu, bersiul-siul pelan, sesekali mulutnya mendendangkan lagu dangdut murahan yang populer di kalangan bawah.

Ah, sial. Orang sipil. Subject 09 menggigit bibir. Ia sama sekali tak mengharapkan ini terjadi. Keterlibatan orang sipil tak bersalah dalam situasi semacam ini bisa membuat repot. Pertama, karena ia tidak menginginkan saksi mata; Kedua, karena ia bukan psikopat yang asal membunuh orang tanpa pandang bulu.

“… tak sepantasnya kau merasakan…” si petugas cleaning service masih berdendang dengan suara penyedot debu bergeser-geser di permukaan lantai. Subject 09 hanya beberapa meter tak jauh darinya, diam mengintai tanpa suara.

Mayat Herbert ada di dapur. Sebentar lagi mungkin ia akan memasuki dapur. 09 harus mengambil keputusan cepat. Petugas itu sudah mulai melewati pintu

“Berhenti,” dengan suara sedatar mungkin, Subject 09 keluar dari persembunyian, menempelkan pistolnya di tengkuk si petugas kebersihan.

Si petugas menoleh ke belakang tanpa curiga, dan langsung ia gelagapan panik melihat sepucuk pistol hitam mengarah ke kepalanya. Gagang sapunya berkelontangan jatuh dan ia mundur dengan serampangan. Lalu tersandung gagang sapunya sendiri dan jatuh terduduk dengan memalukan.

“Ma-maling…” Gagap, tangannya yang masih bersarung lateks menunjuk ke arah Subject 09.

“Diam, atau kutembak kamu.” Subject 09 melempar ancaman segarang mungkin.

“A-ah…” si petugas membeku sesaat. Wajahnya terlihat pucat pasi di bawah topinya.

“Namamu?” Subject 09 bertanya.

“Su-su…”

“Jangan main-main!” 09 mengancam dengan mengacungkan pistolnya lebih dekat.

“Ampun! Saya Suwito, barusan kerja disini! Ja-jangan bunuh saya, tolong!” masih terduduk, si petugas cleaning service itu mengatupkan kedua tangannya, memohon belas kasihan.

“Tanda pengenal?”

“Do-dompet saya tinggal di loker..”

“Kartumu,”

Petugas kebersihan bernama Suwito itu melepas kartu tanda pengenalnya dengan tangan gemetar.

“Letakkan di lantai, geserkan pelan-pelan ke sini,”

Masih dengan tangan gemetar, Suwito meletakkan tanda pengenalnya di lantai, dan menggeser pelan-pelan kartunya ke arah Subject 09.

Subject 09 mengambil kartu itu dengan gerakan waspada, satu tangannya dan matanya tak lepas dari perhatian terhadap si petugas cleaning service. Tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan matanya, 09 mencocokkan kartu tanda pengenal itu dengan si pemilik. Wajah lelaki di fotonya sama persis, berambut gondong dengan kunciran rapi di belakang kepala.

“Suwito, kamu tidak bertemu saya. Dan juga tidak dengar atau melihat apapun. Mengerti?” Ancam Subject 09.

Suwito menunjukkan wajah bimbang sejenak, dan Subject 09 langsung mengancam lagi. “Saya akan bunuh kamu kalau kamu cerita!”

“Ja-jangan! Me-mengerti pak!” Ia mengangguk-angguk panik.

“Kamu punya keluarga?!”

“Pu-punya..”

“Masih sayang sama keluargamu?”

“Ma-masih, masih,”

“Kalau kamu mengadu pada polisi, saya akan cari kamu, bunuh kamu, juga keluarga kamu!” Subject 09 melanjutkan ancamannya, dengan nada segarang mungkin, memastikan saksi mata itu tutup mulut.

“I-iya, iya, saya janji!”

“Sekarang, pergi! Kalau kamu ceritakan peristiwa ini pada siapapun, saya akan langsung tembak kamu di bawah,”

“Janji, mas… eh pak. Janji.” Petugas itu menganggukangguk ketakutan, lalu dengan langkah gemetar, ia menggeredek peralatannya dan keluar dengan terburu-buru dari pintu depan.

Subject 09 menghela nafas.

Bagaimanpun, ia berusaha untuk sesedikit mungkin mengurangi membunuh korban tak bersalah…

Tanpa ia tahu, sang petugas yang lari terbirik-birit keluar itu juga berhenti di ujung lorong, dan menghela nafas dalam nada yang sama.

Waduh. Smartphone-nya laku duluan.

***

Di luar, Subject 09 menelepon rekannya. “Aku masih ada urusan sebentar di Surabaya. Melacak sebagian jejak sasaran kita.”

“Hu-uh. Baiklah.” Subject 17 membalas dengan nada jengkel, karena kepergian sementara waktu Subject 09 berarti membuat Subject 17 juga harus betanggungjawab atas keselamatan Verani dan anaknya. Sementara, ia paling malas kalau diserahi tugas menjaga diam-diam seperti itu.

“Bilang pada Verani, aku pulang lusa.”

“Lalu, bagaimana dengan Lamarr?”

Subject 09 tergelak pelan. “Katamu kau tak tertarik,”

“Hei, apa salahnya aku ikut tahu,” kilah Subject 17. “… atau kau mau membuat ini fully one-man show?”

“Lamarr tidak sehebat resume-nya.” Sahut Subject 09. “Sudah kueksekusi dengan mudah. Paling cepat, besok apartemen itu bakalan geger karena ditemukan mayat. Atau, kalau dia berani…” Teringat janitor berpakaian biru yang tak sengaja memergokinya

Apakah dia akan langsung lapor polisi atau tutup mulut? Subject 09 bertanya-tanya.

“Siapa?”

Kalau ia langsung melapor, mayat Lamarr akan lebih cepat ditemukan. Subject 09 mengeluarkan tanda pengenal Suwito dari saku. Menimbang-nimbang langkah selanjutnya.

Dia tak tahu aku sudah membunuh Lamarr. Dia hanya tahu aku masuk ke apartemen orang lain lalu menodongkan pistol ke kepalanya.   

“…”

“Nine?”

Tapi, sepertinya ia benar-benar ketakutan. Subject 09 teringat wajah pucat dan gerakan ceroboh si janitor yang bernama Suwito itu.

“… tidak. Bukan siapa-siapa.”

Subject 09 menutup telepon, menghela nafas.

Mungkin terlalu beresiko kalau ia tetap berada di TKP, sementara sekitar dua jam lalu, ia baru saja menembak kepala seorang WNA di apartemennya. Dengan satu saksi mata yang mengetahui keberadaannya di apartemen tersebut.

Tapi firasatnya tak bisa dibohongi.  Ada sesuatu yang menganggu. Meskipun semuanya tampak wajar.

Pelan-pelan, Subject 09 mencoba untuk menempatkan diri dalam posisi si janitor. Suwito, sekilas dia seperti pekerja kelas menengah biasa. Dia seharusnya menyayangi pekerjaannya dan tak mau ikut campur lebih jauh. Apalagi berurusan dengan polisi atau hukum, orang-orang kecil semacam Suwito akan lebih mengkhawatirkan bagaimana menjaga sumber nafkahnya daripada bertindak heroik. Kalaupun ia takut, paling-paling Suwito hanya akan bercerita pada rekan kerjanya kalau ada orang asing di apartemen nomor 1615. Sampai mayat itu ditemukan…. Baru ia akan naik menjadi berstatus saksi. Itupun kalau Suwito berani melapor.

Akhirnya, Adam mengambil resiko itu. Sedikit bodoh, memang. Ia hanya akan mengancam Suwito sekali lagi, bila bertemu dengan orangnya. Kalaupun Suwito histeris minta tolong, paling banter, Subject 09 hanya akan menghadapi sekumpulan petugas sekuriti yang kemampuannya jauh di bawah pasukan khusus yang selama ini biasa dihadapinya. Melumpuhkan mereka tanpa membunuh masih bisa dilakukannya.

Ia kembali ke apartemen Twin Tower, mengambil jalan belakang. Menurut denah yang sebelumnya diberikan oleh Subject 19, ada sebuah kantin kecil di dekat parkiran mobil dimana para janitor, karyawan dan staf apartemen biasa berkumpul. Ia akan menemui Suwito lagi di sana, pura-pura mengembalikan kartu identitasnya.

Tak sulit menemukan kumpulan petugas bersama para janitor berseragam biru yang makan siang bersama-sama di kantin itu, meskipun Suwito, si janitor berambut panjang berkuncir tak ada di antara mereka. Mereka sama sekali tak curiga saat Subject 09 menyapa dan bertanya.

“Pak, Mas, maaf, apakah tahu petugas cleaning service bernama Suwito?”

“Pak Suwito?” Salah satu janitor muda menimpali.

Mendengar nama “pak” disebut, Subject 09 langsung tak merasa nyaman. Janitor itu kelihatan masih muda. Seharusnya dia belum menyandang sebutan “pak”.

“Mungkin.” Subject 09 merespon sejenak. “… yang namanya Suwito cuma satu saja, kan?”

“Iya, kalau yang kerja di apartemen ini cuma satu mas. Pak Suwito. Tapi dia nggak masuk hari ini.” Lanjut si janitor muda itu.

Jantung Subject 09 langsung mencelos.

“Pak Suwito sedang cuti mas. Anaknya ‘kan lamaran hari ini. Mungkin baru lusa dia masuk. Ada apa, mas?” Salah satu dari mereka ikut menjawab.

“Kalau begitu, apakah kalian mengenal orang ini?” Subject 09 langsung mengeluarkan kartu identitas milik janitor bernama Suwito itu, dengan jarinya menutupi nama dan lambang perusahaan outsorcing yang persis dikenakan oleh mereka.

Para janitor itu mengerubungi Subject 09, mengamati foto lelaki muda berambut gondrong yang dikuncir rapi di belakang kepala.

“Tidak pernah…” mereka berbisik-bisik sendiri.

Subject 09 langsung berpamitan dengan sopan, membayar makanan, dan cepat-cepat angkat kaki dari tepat itu. Di luar, ia kembali menelepon rekannya.

“Seventeen, rencanaku dengan Lamarr ini, hanya kau yang mengetahuinya bukan?”

“Ya. Apa maksudmu, kau mencurigaiku?”

“Tidak. Aku ketahuan.”

“Apa?!” Suara Subject 17 meninggi.

“Ini tidak sepeti yang kau duga, Seventeen. Aku bertemu seseorang, seorang petugas cleaning service. Kukira dia warga sipil biasa, jadi kubiarkan pergi. Tapi ternyata dia juga mencurigakan. Aku tak bisa memastikan dia bekerja untuk siapa. Semoga saja bukan dari pihak lawan kita.”

“Astaga Nine. Apa kalian sempat kontak?”

“Tidak. Dia hanya terlihat ketakutan saat kuancam dengan pistol, dan aku mengambil kartu identitasnya. Tapi setelah kucek silang, dia tak bekerja di situ. Aku benar-benar tertipu.”

“Sial. Kalau dia bisa menipumu, artinya dia profesional.”

“Bisa jadi, dia sudah tahu sebelumnya kalau aku menembak Lamarr di dalam.”

“Tapi dia tidak berusaha menghentikanmu?”

“Itulah yang kuherankan. Kalau memang dia orang PIN, TNI, atau Polri yang bertugas memata-matai Lamarr, dia pasti melawan, dan tempat ini sudah dikepung sejak tadi…” Subject 09 tiba-tiba menghentikan suaranya.

Sekitar limapuluh meter di depannya, di bibir jalan, ia menyaksikan seorang petugas catering memasukkan sebuah kotak plastik kontainer makanan ukuran besar ke dalam sebuah van bercat warna-warni, dengan tulisan “Vanda Catering” di depannya. Lelaki itu berkacamata hitam, mengenakan masker kain hijau dan topi kets biru, bercelana jeans dan kemeja kasual. Hanya apron bertuliskan “Vanda Catering” warna merah muda dan sarung tangan plastik warna kuning, yang menandakan ia adalah salah satu karyawan catering.

Dia lelaki, tapi rambutnya yang panjang digelung kecil rapi di belakang kepala.

IWA2

Lelaki itu memasuki van katering-nya dan pergi dalam hitungan detik.

Subject 09 melihat keramaian kendaraan di jalan depan apartemen dan memutuskan untuk tak mengejar. Terlalu menarik perhatian.

“.. Nine?!” suara Subject 09 berteriak di telepon genggamnya.

“Dengar, aku akan mengirimkan sebuah foto. Tolong kau cari identitas aslinya. Di database PIN, Kepolisian, atau apa saja yang bisa kau temukan.”

“Baiklah.”

Setelah menjadi janitor, menjadi petugas catering? Huh. Subject 09 mendecih dalam hati. Meskipun sebagian hatinya lega karena pria yang mengaku bernama Suwito itu bukan dari militer yang mengejar-ngejarnya. Meski demikian, ia masih dilanda rasa penasaran.

Tapi, siapa ‘Suwito’ ini? Mengapa ia ada di sana?

***

Pernah, Iwa  membeli sebuah perahu boat yang biasa ia parkir di pelabuhan Kenjeran. Perahu motor itu ia hibahkan kepada seorang nelayan tua, yang digunakan oleh nelayan itu untuk mencari nafkah di sepanjang pantai Kenjeran. Ia hanya minta agar sesekali bisa menggunakan perahu motor itu kalau ingin mancing.

Dan dalam dua hari ini, ia sudah minta nelayan itu tak menggunakannya di sore hari. Si nelayan tua tak keberatan, apalagi karena Iwa sudah hampir dianggapnya sebagai anak sendiri. Iwa sesekali datang mengunjungi mereka dengan membawa sembako yang selalu disambut penuh syukur oleh nelayan tua dan istrinya.

Iwa memarkir mobil sewaannya di tepi pelabuhan saat petang. Memanggul sebuah ransel besar dan peralatan mancing, ia berbasa-basi sejenak dengan si nelayan tua. Bertukar kabar, curhat sejenak tentang pekerjaannya yang sebenarnya dikarang spontan, dan akhirnya, ia menaiki perahu motor itu sendirian.

Iwa menjalankan perahu motor itu menuju tengah lautan, menikmati senja di selat yang sepi.

Setelah memasang peralatan memancing, Iwa menyalakan rokok, menghabiskan satu batang  lambat-lambat, membiarkan nikotin naik ke otaknya pelan-pelan. Teringat lelaki muda tampan yang ditemuinya di Twin Tower, apartemen nomor 1615.

Iwa sudah mengetahui pria muda itu  masuk beberapa menit di apartemen 1615 beberapa menit sebelumnya, saat ia mengintai sambil pura-pura membersihkan lift. Pada awalnya, Iwa menduga ia hanya tamu Kenneth Fredericks, ekspatriat mantan CIA yang menjadi targetnya kali ini. Kalau  tamu ini hanya sebentar, Iwa akan melakukan pembunuhan itu sesuai jadwal. Yang jadi masalah adalah, kalau si pria muda itu bertamu dalam waktu lama. Artinya Iwa harus dalam penyamaran menjadi janitor lebih lama lagi. Artinya, van dengan tempelan stiker “Vanda Catering” dan plat nomor palsu yang dicurinya di bawah harus diparkir lebih lama lagi, dan akan mengundang kecurigaan satpam yang sudah hapal sirkulasi kendaraan niaga yang harus parkir di bibir jalan.

Iwa memutuskan untuk menunggu sejenak. Ia melangkah pelan ke depan pintu apartemen itu. Pura-pura membersihkan koridor, padahal telinganya menguping tajam.

Saat itu, Iwa hanya memicingkan mata saat mendengar suara beberapa kali decit pelan dari balik dinding.

Pistol berperedam.

Pra muda itu datang untuk ‘melakukan sesuatu’ pada targetnya.

Melaksanakan rencana dadakan, Iwa merangsek masuk dengan kunci palsu dan berakting sebagai petugas janitor yang pura-pura membersihkan apartemen. Dengan resiko, ia juga akan dibunuh sebagai salah satu saksi. Tapi tentu saja, kalau harus terjadi pergumulan, Iwa sudah siap.

Aktingnya sukses menipu pria muda itu, yang ternyata hanya mengancamnya, tidak membunuhnya. Tapi, setidaknya di bawah todongan pistol, Iwa bisa mengingat wajah pria muda itu.

Muda, pertengahan duapuluh. Gerak-geriknya sigap dan efisien. Kelihatan berbahaya.

Masih dengan rokok di bibir, Iwa mengambil kertas dan pensil dari ranselnya, lalu pelan-pelan ia menggambar sebuah sketsa. Wajah si pengeksekusi. Ingatannya cukup kuat, dan di masa lalu, ia pernah punya bakat seni yang tak tersalurkan dengan baik.

Siapa dia?

Iwa bertanya-tanya.

Kenneth Fredericks dilumpuhkan dengan mudah, mayatnya ditembak di kedua lutut dan kepala, dan beberapa rona lebam di leher, pinggang, seperti bekas perkelahian spontan yang langsung mematikan. Pria muda itu melumpuhkan si pria militer dengan mudah. Jelas bukan orang sembarangan.

Apa ia pembunuh bayaran juga?Atau seseorang dari militer, yang memang ditugaskan mengeksekusi Fredericks?

Untuk sementara, Iwa membiarkan pikirannya mengelana.

Senja mulai menggelap.

Iwa mengeluarkan ponselnya, dan memejet nomor yang diingatnya di luar kepala. Kontaknya yang setia, si pemuda berkacamata.

“Niya,”

“Tumben telepon, Mas Su.”

“Aku lagi ngotakin pesananmu, nih.”

“Ya ampun, ngapain telepon kalau gitu?”

“Smartphone-nya keburu laku dibeli orang.”

“Eh?” lawan bicaranya tak dapat menyembunyikan kekagetannya. “Gagal?”

“Nggak juga. Aku dapat kotaknya aja. Yang beli pertama pintar juga. Kayaknya buruh tani ulet, lama garap sawah,”

Tidak juga. Aku dapat mayatnya. Yang membunuh dia hebat juga. Sepertinya dari militer. Lama di lapangan.

“Waduh, terus?”

“Jangan kuatir, dia nggak tahu aku sales HP.”

Dia tidak tahu kalau aku juga pembunuh bayaran, yang ditugaskan untuk membunuh target yang sama.

“Jadi…“

“Kotaknya tetap kubawa, katamu nggak pakai bon. Diskon saja deh,”

Mayatnya tetap kubersihkan. Kamu bilang, harus kutuntaskan tanpa jejak. Potong saja bayaranku.

“…”

Untuk sementara keduanya tak saling berkata apapun.

“Aku pro, Niya. Kalau bukan aku yang melakukan, ya aku bakalan bilang jujur. Nggak usah seratus persen, atau kamu mau diam-diam aja nggak usah bilang ke si pengacara juga silahkan. Sisa bayarannya mau kamu ambil juga silahkan. Terserah kamulah.”

“Okelah, Mas Su. Akan kuatur.”

Pembicaraan berhenti di sana.

Iwa berdiri dan membuang beberapa bungkusan plastik dari dalam ranselnya. Sebelumnya, bungkusan-bungkusan itu pernah bernama Kenneth Fredericks, alias Yuri Solesav, alias Herbert Lamarr. Beberapa bagian tubuhnya yang lain sudah dilarung di beberapa sungai secara terpisah. Yang dibuang Iwa kali ini adalah beberapa potongan terakhir.

“Oke, bye-bye, smartphone.”

Sujiwa merokok lagi, dan di tengah asap violet rokoknya yang membubung di langit senja biru gelap, ia masih memikirkan si pria muda itu.

Ada rasa penasaran juga.

Dan ketertarikan yang aneh, ingin mengetahui lebih jauh siapa dia.

Beberapa kilometer jauhnya dari tempat itu, Subject 09, alias Adam, juga memikirkan hal yang sama. Polisi tak pernah datang ke apartemen 1615, tak penah ditemukan mayat Kenneth Fredericks yang dieksekusi oleh Subject 09.

Kenneth Frederick baru dinyatakan hilang dua minggu kemudian, ketika staf apartemen mencoba menagih uang sewa dan tak bisa menghubunginya. Polisi memeriksa apartemen yang ditempati Kenneth Fredericks dan hanya menemukan jejak disinfektan kuat di atas lantai dapur, yang dicurigai bekas menghapus darah. Namun terlalu awal untuk menyatakan ia telah dibunuh, karena ternyata, Kenneth Fredericks sendiri adalah seorang agen CIA yang membelot, yag memiliki berbagai identitas.

Suwito?

Subject 17 masih menemui jalan buntu.

Wajah itu belum ditemukan di manapun.

END


Belum pernah mengikuti cerita Subject 09 yang asli? Mulai baca di bit.ly/s09-00 deh!


SHARE EPISODE INI!