0 – Goddamned Interrogation


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Tak ada yang merasa lebih bangga daripada Kepolisian Republik Indonesia malam ini. Bagaimana tidak? Mereka baru saja mendapatkan buruan paling berbahaya sejagat Nusantara sejak enam bulan terakhir: seorang pria tanpa nama, tanpa identitas, dan tanpa foto yang disinyalir sebagai dalang dibalik kematian enam anggota parlemen Indonesia, termasuk seorang menteri pertahanan, Rahmat Sukoco.

Pihak kepolisian yang diwakili oleh Densus AT-13 menangkap sang pria ketika akan meninggalkan flat-nya. Pria tersebut dipukuli di depan flat-nya sendiri, kemudian diborgol dan digiring ke dalam mobil van kepolisian untuk dikirim ke sebuah safehouse [1] di tepian ibukota, seorang pejabat kepolisian kabarnya hendak menginterogasinya habis-habisan.

NB: [1] Rumah atau apartemen atau flat yang berfungsi sebagai markas kecil aparat keamanan

Dan di sinilah sang pria, duduk manis di sebuah ruangan redup tanpa dekorasi berukuran 3 x 3 dengan wajah penuh lebam. Tangannya diborgol di kursi aluminium tempat ia duduk, sebagai antisipasi agar ia tak melakukan perlawanan. Selain itu, ia juga didampingi oleh tiga orang polisi berpakaian sipil yang siap menghajarnya hingga menjadi bubur kayu. Tetapi ia sama sekali tak tampak tegang, ekspresinya begitu damai dan napasnya terdengar sangat teratur. Sungguh berbeda dengan para teroris yang biasa diringkus oleh Densus AT-13, baru digiring masuk ke dalam safehouse saja sudah kencing di celana.

Si kepala penyidik hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang pria. Seperti tanpa dosa, pikirnya. “Kau tampak begitu tenang. Apakah kau sadar bahwa dirimu telah melakukan kesalahan yang amat fatal dalam hidupmu?” tanyanya.

“Tentu, pak polisi … ” ujar sang pria seraya mengangguk pelan.

“Jadi kau tahu apa kesalahanmu? Kau tahu mengapa kami menghajarmu habis-habisan?” tanya sang penyidik seraya menunjuk-nunjuk wajah sang pria.

“Tentu saja. Karena aku membuang sampah permen sembarangan, bukan demikian?”

Suasana kembali senyap, ketiga polisi hanya bisa saling tatap sementara sang buronan tetap duduk manis dengan wajah cerahnya. Si kepala penyidik sejenak memijit-mijit batang hidungnya, lantas memberi isyarat kepada kedua temannya untuk melakukan sesuatu kepada sang pria. Entah apa.

Dua pria berbadan kekar lantas mendekati sang buronan dengan percaya diri. Tanpa aba-aba, mereka langsung menghujani sang pria dengan bogem mentah. Darah mencurat hebat dari kedua rongga hidung dan mulut sang pria, lalu mengecap di beberapa permukaan ruangan. Tak ada respon berarti dari sang pria, ia hanya bisa melenguh kecil setiap kali tinju mendarat di wajahnya.

Setelah dirasa cukup, si kepala penyidik akhirnya memerintahkan kedua temannya untuk berhenti memukuli sang pria. Ia tak bisa melukai sang pria lebih jauh karena berpotensi menyebabkan kematian, padahal tugas utamanya hari itu adalah untuk mengorek informasi.

“Oke, cukup bermain-main. Aku ingin kau mempermudah proses interogasi hari ini. Mengapa kau membunuh lima anggota dewan dan seorang menteri? Apa motifmu? Untuk siapa kau bekerja?” tanyanya geram.

UHUK! Heh, rupanya aku dibawa kemari karena masalah itu, kupikir karena membuang sampah sembarangan. Aku sedari tadi mengkhawatirkan sesuatu yang salah, kupikir kalian marah karena sebungkus permen–” papar sang pria.

“JANGAN BERCANDA!” si kepala penyidik menyela penjelasan sang buronan seraya mengentakkan kedua tangannya di atas meja, emosinya meluap-luap. “Katakan mengapa kau membunuh enam pejabat pemerintah atau kuremukkan setiap jengkal rangka tubuhmu!”

“Tenang, Pak Polisi. Alasanku simpel saja: aku hanya ingin kedamaian.”

“Kedamaian? Kedamaian macam apa yang bisa kau dapatkan dari membunuh pejabat negara!? Kau membunuh orang-orang yang memberimu makan dan tempat tinggal, tahu!?”

“Oh, begitukah? Mereka yang memberiku makan dan tempat tinggal?”

“Dasar tolol! Tentu saja!”

“Lantas mengapa mereka tak memberikan makan dan tempat tinggal untuk anak-anak jalanan di setiap sudut ibukota?”

Lagi-lagi keheningan berkuasa, ketiga polisi di ruangan interogasi seketika terjerat oleh kebisuan. Mereka menatapi sang pria dengan sorot penuh rasa jengkel, mereka tak bisa melawan argumentasi pahit sang pria. Kenyataannya memang demikian, pemerintah seakan mengabaikan eksistensi warga kelas bawah yang hidup di tempat-tempat kumuh.

***

Sementara itu, di balik kaca ruang interogasi, tampak seorang jenderal polisi bintang tiga sedang mengamati jalannya interogasi secara seksama. Di dada kanannya terdapat semacam bros bertuliskan Yusuf Tarigan. Tentu saja itu adalah namanya. Ia didampingi oleh seorang ajudan di sebelah kirinya yang tengah berjibaku dengan sebuah komputer tablet. Ajudan ini tampak tak terhibur dengan setiap adegan interogasi di ruangan sebelah, matanya begitu terpaku ke layar tablet.

“Pak, kita tidak bisa menemukan identitas apa-apa darinya. Orang ini seperti hantu,” ujar sang ajudan tak lama kemudian.

“Tetaplah mencari. Gali di database PIN [2],” jawab Yusuf santai. Rupanya ia memerintahkan ajudannya untuk mencari informasi mengenai pria yang sedang diinterogasi di ruangan sebelah.

“Baik, pak!”

NB: [2] Pusat Intelijen Negara. Badan intelijen resmi Republik Indonesia pada cerita ini.

***

Kembali kepada sang pria misterius yang membuat segenap anggota kepolisian mendesis penuh kebencian, ia terlihat mendominasi jalannya investigasi.

“… jawabannya jelas, kawan-kawan. Karena pemerintah, pejabat-pejabat yang kubunuh, pejabat-pejabat yang kalian puja, bukanlah semacam malaikat pembawa rezeki. Persetan dengan urusan rakyat, mereka sibuk dengan perut sendiri,” papar sang pria melanjutkan ucapan sebelumnya.

“Oh! Lebih mengerikan lagi, ternyata pemerintah ‘mengentaskan’ kemiskinan di pinggir kota dengan cara membantai orang-orang fakir, seperti yang terjadi di Kampung Rimbun. Mana buktinya bahwa mereka adalah ‘pemberi makan dan tempat tinggal’?” lanjut sang pria.

“Hah!?si kepala penyidik terperanjat. “Insiden Kampung Rimbun itu adalah perbuatan teroris!”

“Teroris? Dengarkan dirimu sendiri, pak polisi. Kau adalah seorang penyidik, tetapi kau dengan mudah ditelan oleh kebohongan yang disebar oleh pemerintah. Pantas saja negeri ini tidak pernah maju, aparatnya saja mudah ditipu oleh informasi kacangan.

“Kau tahu? Aku berada di TKP sesaat setelah kudengar rentetan tembakan di Kampung Rimbun. Aku mengenali suaranya, tembakan itu berasal dari senapan serbu SSX-1, senapan standar setiap aparat keamanan di Indonesia buatan PT. Pindad saat ini. Bukti semakin menguat ketika kutemukan banyak selongsong peluru berkaliber 5.56mm buatan perusahaan yang sama, amunisi standar untuk SSX-1.

“Kau tahu apa yang kulihat dari hasil tembakan tersebut? Aku melihat ratusan mayat berserakan di tengah jalan, bahkan tak jarang kutemukan mayat kucing di sana. Bayangkan saja, bahkan kucing pun dilibas! Aku bahkan masih ingat aroma darah yang sangat menyengat saat aku berada di TKP. Sangat sadis, bukan demikian?

“Tetapi kau tahu apa yang menarik dari kejadian ini? Sehari setelah Kampung Rimbun menjadi kolam darah, pemerintah segera meresponnya dengan pernyataan yang sangat mengejutkan. Mereka dengan serta-merta menuduh bahwa pembantaian dilakukan oleh kelompok ekstremis Laskar Pembebasan.

“Selama ini, Laskar Pembebasan memang membenci wilayah Kampung Rimbun karena dianggap sebagai sarang kemaksiatan. Kebencian itu lantas dimanfaatkan oleh pemerintah. Semua berita menayangkan hal yang sama, tanpa ada yang mau menglarifikasi kabar tersebut. Semua orang digiring untuk membenci Laskar Pembebasan tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya,” jelas sang pria begitu panjang.

“Kau! Kau adalah antek Laskar Pembebasan yang hendak membalas dendam kepada pemerintah, bukan begitu!?”

Heh, ini adalah bukti bahwa kau sama sekali tidak pantas menyandang gelar sebagai penyidik. Kalau kau jeli, seharusnya kau tahu bahwa aku pun pernah melibas beberapa orang dari mereka. Aku hanya ingin menunjukkan keanehan dari insiden di Kampung Rimbun yang menurutmu dilakukan oleh kelompok teroris tersebut.”

” … ”

“Begini, pemerintah mengatakan bahwa semua dilakukan oleh Laskar Pembebasan, bukan begitu? Ya, aku tak bisa menyangkal bahwa ada beberapa dari mereka yang mengikuti latihan paramiliter di Timur Tengah. Densus AT-13 pun menemukan beberapa pucuk senjata api di rumah para terduga teroris. Tetapi … apakah kalian pikir masyarakat Indonesia mudah dibodohi seperti yang kalian kira?

“Aku mengecek semua identitas para terduga teroris yang kalian tangkap dan catatan transaksi senjata api mereka di black market. Kalian tahu apa yang kutemukan? Mereka hanya membeli senjata api berkualitas rendah dengan kaliber yang lebih kecil daripada SSX-1. Aku membeli senjata-senjata ini dan mencobanya. Hasilnya? Baru kupakai sebentar sudah macet dan beberapa diantaranya rusak ketika kugunakan pada modus full-automatic. Sangat berbeda dengan suara rentetan tembakan yang terjadi di Kampung Rimbun, menyerupai suara SSX-1 pun tidak.

“Disamping itu, selain diameternya lebih kecil, amunisi yang mereka gunakan juga bukan diproduksi oleh PT. Pindad sebagaimana yang telah kusebutkan tadi. Dan di sinilah pertanyaanku: kita semua tahu bahwa para pembunuh itu menggunakan senjata dan amunisi buatan PT. Pindad, lalu mengapa kelompok teroris yang kalian tuduh tidak memiliki barang bukti tersebut? Jadi siapa sebenarnya orang-orang yang telah melakukan pembantaian? Hanya ada satu kemungkinan: institusi pemerintah. Entah polisi, entah TNI, entah intelijen.

“Kau pikir siapa lagi yang bisa memegang senjata buatan PT. Pindad? Kau tahu bahwa regulasi kepemilikan senjata semakin diperketat, dan PT. Pindad telah mendedikasikan dirinya khusus untuk pemerintah, artinya tidak sembarang orang bisa memegang produk-produknya,” jelas sang pria tersenyum kecut.

Keadaan menjadi sangat hening. Si kepala penyidik pun terduduk lemas di kursinya. Kehabisan kata-kata. “Diamlah kau, bajingan … ” itu adalah rangkaian kata terbaiknya pasca diskakmat oleh sang pria.

“Orang awam mungkin takkan melihat keganjilan tersebut. Tetapi untuk orang-orang sepertiku, semuanya mampu kuterawang dengan jelas. Kalian–orang-orang pemerintah–benar-benar sambil menyelam minum air. Kalian tahu bahwa warga Kampung Rimbun hanya mengotori ibukota, jadi kalian membantai mereka, kemudian menuduh serta menghabisi Laskar Pembebasan dengan judul war on terror. Konyol sekali,” ujar sang pria ketus.

Keadaan semakin senyap setelah percakapan benar-benar didominasi oleh sang pria. Kedua tukang pukul pun kembali ke tempat mereka masing-masing. Tak ada pertukaran kata sesaat setelahnya, setiap sosok aparat di sana saling memutar otak.

Heh, menurutmu kau hebat dengan semua analisismu itu?” Si kepala penyidik kembali angkat suara. “Memangnya kenapa jika kami membantai orang-orang di Kampung Rimbun? Mereka hanya memenuhi ibukota dan hampir semuanya terlibat dalam aksi kriminal. Orang-orang seperti itu sama saja dengan sampah, tak ada artinya, hanya menjadi pengganggu untuk masyarakat yang ingin hidup tenteram,” ucapnya.

“Oh, jadi sebenarnya sedari tadi kau hanya berpura-pura tidak tahu? Baguslah. Aku juga sedari tadi hanya berpura-pura tidak tahu jika kau sedang berpura-pura tidak tahu. Hehe. Aku senang kau mengakuinya, pak polisi … ”

“Persetan dengan semua ini, yang penting sekarang kau berada di sini, berada di bawah pengawasan kami. Kau takkan pernah bisa keluar dari sini dan mengisahkan cerita busukmu kepada semua orang. Kau akan mati sebelum kau bisa melepaskan diri dari sini. Tenang saja, kami akan mempercepat kematianmu di lapangan tembak kelak, sobat!”

***

Sementara situasi interogasi mulai menenang, Jenderal Yusuf dan ajudannya justru tampak gelisah di ruangan sebelah. Wajah sang jenderal tampak diliputi oleh peluh, padahal ia sedang berdiri di dalam ruangan nan dingin. Sedangkan sang ajudan sendiri baru saja menemukan titik terang atas identitas sang pria misterius di ruangan sebelah.

“P-Pak, tampaknya pemuda ini bukan pemuda biasa. K-kita harus berinteraksi dengan PIN untuk mengetahui identitasnya,” ujar sang ajudan gemetar.

“Lakukan kalau begitu! Hubungi kantor PIN sekarang!” tukas Jenderal Yusuf panik.

“T-tetapi, Pak … pemuda ini ada di dalam database level-0 PIN, itu artinya orang ini memiliki tingkat kerahasiaan di atas top secret. K-kalau kau ingin mengetahui identitasnya lebih jauh, kita harus menghadap pimpinan PIN yang menangani pemuda ini secara empat-mata, tidak bisa hanya dengan surel, telepon, atau pesan singkat.”

“Hah!?” Yusuf terperanjat. Ia menoleh kepada ajudannya dengan ekspresi penuh kekhawatiran. “Apa kau bilang tadi!? Level-0!?”

“B-benar, pak. Tampaknya kita baru saja mendapatkan jackpot. O-orang ini–”

“Bisakah kau meretasnya agar kita mengetahui identitas pemuda tersebut? Kita tidak punya waktu untuk bertemu dengan pejabat PIN sekarang, aku harus mengetahui siapa bocah ini secepatnya!”

U-ungg, bisa kucoba, tetapi aku tak jamin–”

“Lakukan! Kalau PIN memberi peringatan, aku yang akan turun tangan. Yang penting aku harus tahu identitas bocah bangsat ini dan harus sekarang!”

“B-baik, Pak … ”

***

“Sebelum kalian menggantungku atau menembakku atau membakarku, bolehkah aku membuat permintaan terakhir? Aku tahu bahwa hidupku takkan lama lagi di sini,” sang pria misterius kembali berujar kepada para polisi di hadapannya.

Heh, sebenarnya aku tak mau memberikannya, tetapi baiklah. Jika itu dapat membuatmu bahagia sebelum maut menjemput, mengapa tidak? Apa permintaan terakhirmu?” ucap si kepala penyidik santai.

“Aku hanya ingin tahu siapa yang memimpin eksekusi pada saat terjadi pembantaian di Kampung Rimbun. Kalian tahu, bukan demikian?”

Huh, mana kutahu? Aku tidak dilibatkan pada operasi di lapangan. Kalau kau bertanya kepada bosku mungkin ia tahu, tetapi bosku terlalu jijik untuk bertemu denganmu.”

“Ah, benarkah demikian?” sang pria duduk bersandar di kursinya seraya tersenyum kecut. “Aku tak begitu yakin bahwa bosmu jijik bertemu denganku.”

“Mengapa demikian?” tanya si polisi keheranan.

Sang pria menghela napas panjang, lalu mengembuskannya sembari tertawa kecil. “Karena bosmu terlibat pada pembantaian tersebut. Aku berasumsi ia berada di ruangan sebelah sedang mendengarkan kita bercakap-cakap karena ia ketakutan pasca melihat keenam kawannya di parlemen tewas di tanganku. Bukan demikian, Jenderal Yusuf Tarigan?” tutup sang pria seraya menoleh ke arah cermin besar di samping kirinya.

Semua orang yang mendengarkan percakapan tersebut seketika terdiam membatu. Beberapa pasang mata sontak menyorot tegang ke arah sang pria, tak percaya dengan beberapa baris kalimat yang diucapkan oleh buronan misterius tersebut. Sang jenderal dan ajudannya hanya bisa menelan ludah, seketika itu rasanya bagaikan diempas oleh badai dingin. Bulu kuduk berdiri, sukma pun gemetar.

Sang ajudan yang sudah hampir membobol keamanan sistem PIN pun kembali terfokus kepada komputer tabletnya. Ia penasaran, hasratnya kini serupa dengan apa yang dirasakan oleh atasannya. Segera ia masukkan beberapa baris kode dan KLIK! Ia tutup kegiatan peretasannya dengan menekan sebuah tombol eksekusi.

“Oke” lanjut sang pria. “Jika kalian tidak bisa memenuhi permintaan terakhirku, maka aku akan menanyakannya sendiri kepada bos kalian.”

“K-kau … kau tidak akan pernah bisa melakukannya karena kau berada di bawah pengawasan kami. Kau akan mati sebelum berhasil menemui Jenderal Yusuf.”

Lagi-lagi sang pria menghembuskan napas panjang. “Andai saja kalian sadar bahwa kalian tidak sedang menginterogasiku di ruangan ini … ” jawab sang pria seraya meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“HEI, BAGAIMANA CARA KEDUA TANGANMU–”

“… kalianlah yang kuinterogasi di ruangan ini.”

.

.

CKLAK!

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja hitam menyekat pandang. Safehouse yang semula terang-benderang kini berselimut kegelapan. Seluruh penghuni safehouse terperanjat. Setahu mereka, rumah rahasia itu memiliki daya cadangan sekalipun terjadi pemadaman bergilir.

Namun tampaknya keterkejutan tersebut tak berlaku untuk semua orang. Pria buronan yang sedari tadi duduk manis di ruangan interogasi sontak melompat ke atas meja dan mengentakkan kakinya ke wajah si kepala penyidik. Serangan tak berhasil diantisipasi, sang penyidik langsung tersungkur tak berdaya.

Sang pria lantas beralih kepada dua polisi berpakaian sipil yang sempat memukulinya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menghantam titik-titik vital kedua polisi tersebut secara bersamaan. Keduanya lengah tak berdaya, luruh dalam sekejap mata. Sang pria lantas menarik tengkuk salah seorang polisi hingga kepalanya menumbuk meja interogasi. Sang polisi rubuh. Entah pingsan, entah tewas.

Polisi kedua, nasibnya tak jauh berbeda dengan polisi pertama. Ia dihajar beberapa kali oleh sang pria hingga terhuyung dan hampir kehilangan kesadaran.

Kesempatan. Sang pria segera menendang tulang kering sang polisi. Polisi yang semula gagah berani memukuli sang pria itu pun terjatuh melutut begitu sebuah tendangan mengentak kakinya. Sang pria lantas meraih kepala si polisi dengan kedua tangannya dan bergegas mematahkan leher sang polisi.

Dua polisi tumbang, namun sang pria malah meraih kursi aluminium yang tergeletak di atas lantai dan menghampiri si kepala penyidik. Ia lantas meletakkan salah satu kaki kursi tersebut tepat di atas leher si kepala penyidik. JRAAAK! Satu entakan tangan pada dudukan kursi itu pun sukses menembus leher si kepala penyidik. Tewas seketika.

BIIIP! Tak lama kemudian, pintu masuk ruangan interogasi yang dikunci oleh kode-kode komputer pun terbuka, padahal sedang mati listrik.

Pantas saja, rupanya dua orang polisi taktis yang berjaga di depan pintu berhasil meretasnya dengan smartphone khusus. Itu adalah prosedur standar jika terjadi kegagalan pada sistem kelistrikan safehouse.

Dua polisi berpakaian serba hitam yang disinyalir sebagai anggota Densus AT-13 itu pun merangsek masuk seraya menodongkan senapan kecil mereka ke dalam ruangan interogasi. Akan tetapi, belum sempat keduanya mengecek ke sudut ruangan, sang buronan tiba-tiba muncul dari arah samping dan menggenggam senapan salah seorang polisi. Sang pria lantas mengentak leher sang polisi dengan telapak tangannya dan menendang kemaluan sang polisi dengan lututnya. Sang polisi lengah, pria buronan tersebut segera membantingnya hingga tersungkur dramatis ke atas ubin.

Polisi taktis kedua tampaknya juga tak mampu berbuat banyak. Ia diperlakukan sama seperti temannya, hanya saja akhirnya lebih fatal. Sang buronan menutup serangannya dengan merenggut pisau komando dari pinggul sang polisi, lalu menghujamkannya tepat di jantung sang polisi. Kesadaran sang polisi pun berangsur-angsur hilang.

Setelah sukses melumpuhkan polisi taktis kedua, sang pria segera menarik pisaunya kembali, kemudian melemparkannya kepada polisi taktis pertama yang masih berbaring luruh di atas ubin. Pisau tersebut melesat hebat dan menancap tepat di wajah sang polisi. Tewas.

Dua lapis pertahanan ruang interogasi berhasil dijebol oleh sang pria misterius tanpa sedikit pun kepayahan. Ia kemudian mengambil pistol mitraliur milik salah satu polisi taktis yang sudah tewas tak berdaya dan memunculkan setengah badannya di depan pintu. Ia merunduk dan membidik ke arah kiri, ke arah dimana ruang pengamatan interogasi berada.

Dari tempat sang pria merunduk, tampak jelas beberapa orang berlari tunggang-langgang menjauhi ruangan interogasi. Tubuh mereka tersorot cahaya lampu darurat yang menggantung setiap beberapa meter di permukaan dinding, sehingga wujud mereka pun dapat terindera dengan baik.

RATATATA!

Tak lama berselang, sang pria segera memuntahkan tembakan kepada setiap orang yang terlihat oleh kedua matanya. Lima hingga tujuh orang langsung rubuh tak berdaya, menggelepar luruh di atas ubin dengan badan penuh lubang. Sementara itu, tiga orang lainnya berhasil melarikan diri, diantaranya adalah Jenderal Yusuf dan ajudannya serta seorang polisi berpakaian sipil.

Sang pria tak lantas mengejar targetnya. Ia membuang pistol mitraliurnya dan kembali menghampiri jasad salah satu polisi taktis yang tewas. Kali ini ia merampas sebuah pistol semi-otomatis. Sesaat setelahnya ia langsung berjalan keluar ruangan, ke arah yang berlawanan dengan rute pelarian Jenderal Yusuf. Langkahnya begitu santai, ia sama sekali tak tampak tegang.

***

“Ini gila! Ia benar-benar pembunuh rahasia pemerintah, bukan begitu? Tetapi, mengapa ia memburu kita? Mengapa ia tidak mau bekerjasama dengan rencana kita? Apakah kita sengaja dijebak pemerintah untuk membantai orang-orang di Kampung Rimbun?” tanya sang jenderal seraya melangkah dengan tergesa-gesa, ia begitu terheran dengan eksistensi sang buronan pembunuh.

“A-aku juga tak paham, pak. Kurasa ia adalah agen yang lepas dari tali kekang pemerintah,” jawab sang ajudan sekenanya. Kepalanya sibuk menoleh ke sana-kemari memperhatikan keadaan sekitar. Tangannya pun terlihat bersiaga dengan pistol semi-otomatisnya. Panik.

Rogue agent [3]?

NB: [3] Agen yang memberontak

“T-tampaknya demikian, pak … ”

“Brengsek! Kenapa momen-momen seperti ini harus muncul disaat terakhir!? Kuharap Densus AT-13 mampu melumatkannya. Ada satu peleton Densus AT-13 di dalam safehouse ini ‘kan?”

“Kabarnya demikian, pak. Tetapi aku tak begitu yakin–”

Tak sempat sang ajudan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba situasi kembali menegang. Seorang pria sontak muncul dari persimpangan lorong dan menendang pergelangan tangan sang ajudan. Pistol pun terlepas dari genggaman sang ajudan. Kini para polisi yang berencana kabur tersebut bisa melihat dengan jelas siapa yang mereka hadapi di depan mata, termasuk Jenderal Yusuf.

Ia adalah sang buronan yang semula diborgol di ruangan interogasi.

Setelah sang ajudan lengah, pria dengan wajah penuh lebam tersebut lantas menghampiri polisi berpakaian sipil yang berdiri di sisi kiri Jenderal Yusuf. Pengawal darurat, tampaknya. Pengawal dadakan tersebut berupaya melakukan perlawanan, ia  mencoba mengarahkan moncong pistolnya kepada sang buronan.

Namun sayang, ia kalah cepat.

Sang pria buronan segera menggenggam tangan sang pengawal dan menyikut wajah Jenderal Yusuf hingga tersungkur di atas ubin. Sesaat kemudian, ia segera memelintir tangan sang pengawal ke arah sang ajudan. KA-BLAM! Sembari melakukan kuncian, sang pria segera menekan pelatuk pistol yang masih ada pada genggaman sang pengawal. Peluru pun melesat dan bersarang tepat di dada kiri sang ajudan.

Orang kepercayaan Jenderal Yusuf itu pun rubuh, sementara sang pria segera melanjutkan serangannya kepada si pengawal dadakan. Ia menyikut sang pengawal, melucuti pistolnya, dan menghantam kemaluannya dengan sebuah tendangan. Terakhir, ia mengunci kepala sang pengawal di bawah ketiaknya dan KRAK! Lagi-lagi ia mematahkan leher lawannya hingga tewas.

Pertarungan belum usai. Sang ajudan menolak kalah, ia bangkit untuk melawan. Dengan dada berlubang dan napas yang terengah-engah, ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan langsung menghujamkannya kepada sang pria. Sayangnya luput. Sang pria mampu menghindari serangan dengan gesit, kemudian meraih pergelangan tangan sang ajudan.

SYAAASH! Sang pria segera memelintir tangan sang ajudan dan tanpa diduga-duga, kunciannya malah membuat mata pisau menyayat leher pemiliknya sendiri. Senjata makan tuan.

Sang ajudan pun akhirnya tewas dengan dada dan leher berlumur darah. Ia tersungkur luruh dan membanjiri ubin dengan cairan kental berwarna merah pekat.

Sementara kedua pengawalnya berusaha untuk menghentikan langkah sang buronan, Jenderal Yusuf malah kabur terbirit-birit seraya memegangi hidungnya yang remuk. Sang pria yang melihat kejadian tersebut lantas mengambil pisau milik sang ajudan, kemudian melemparkannya ke arah kaki Jenderal Yusuf. Pisau pun melesat, berputar-putar di udara, sebelum akhirnya bersarang tepat di paha sang jenderal.

“AAAAK!” Jenderal bintang tiga itu pun mengerang kesakitan begitu mata pisau mengoyak pahanya. Ia pun tersungkur di atas ubin, tak berdaya lagi untuk bangkit.

Sang pria segera mengambil salah satu pistol yang tergeletak dekat dua mayat pengawal Jenderal Yusuf. Ia kemudian berjalan santai ke arah sang pejabat Polri seraya tersenyum kecut, ekspresinya menampakkan sebuah kengerian yang berbeda dari ekspresi keji para pembunuh. Sesekali ia terdengar mendengus menahan tawa. Hal tersebut semakin membuat bulu roma sang jenderal menegak.

“Hmm. Kau benar-benar masuk ke dalam perangkapku, bukan demikian, Jenderal?” Ujar sang pria seraya berjalan pelan.

“P-perangkap?”

“Kau baru saja mengakses database PIN dengan harapan akan menemukan identitasku, bukan begitu? Biar kuberitahu kau sesuatu … database PIN malam ini sedang down, kalian tidak akan bisa mengakses database-nya kecuali kalian mendatangi kantor PIN secara langsung.

SPONSOR
just-juice

“Oh, tentu saja itu adalah perbuatanku. Aku sengaja membuat situs dummy yang desain antarmukanya kusamakan dengan aplikasi database PIN. Kemudian, aku memasang semacam kode pengalihan otomatis: ketika kalian memasukkan alamat aplikasi orisinil milik PIN, kalian justru dialihkan ke situs dummy buatanku. Dan inilah akibatnya … kau telah menekan satu tombol yang akhirnya membuat teman-temanmu mampus,” jelas sang pria.

“K-keparat. J-jadi itulah sebabnya mengapa safehouse ini tiba-tiba mati listrik … ”

“Tepat. Situs dummy-ku itu ‘memompa’ daya seluruh objek elektronik yang terhubung pada transformator utama di safehouse ini hingga mengalami overload. Trafonya juga kubuat overload agar kerusakan benar-benar total. Konsepnya sama saja seperti kau memompa ban tanpa henti sampai ban tersebut pecah. Kalau sudah pecah, ya sama saja dengan rusak.”

“S-sial … ” Jenderal Yusuf merasa sangat menyesal. Ia pun memukul-mukul ubin begitu keras, tak percaya bahwa ia telah dimanfaatkan oleh sang pria untuk menjadi sumber bencana.

“Oke. Kau sudah tahu pertanyaanku, silakan jawab, Jenderal … ” ujar sang pria seraya mengarahkan moncong pistolnya ke kepala Jenderal Yusuf.

“T-tolong, j-jangan bunuh aku … ”

“Aku tidak begitu tertarik untuk membunuhmu, Jenderal. Aku punya rencana yang lebih unik,” sang pria lantas mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Kau tahu ini apa? Ah, tentu saja kau tahu, ini adalah smartphone khusus yang dirancang untuk aparat keamanan agar bisa mengakses banyak hal, termasuk peluru kendali jarak jauh. Aku merenggutnya dari salah satu anak buahmu yang tewas beberapa malam lalu. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi jika aku menekan tombol berwarna merah ini?” lanjut sang pria sembari menyodorkan layar smartphone-nya kepada sang jenderal.

” … ” Jenderal Yusuf menatapi layar ponsel dengan kerut-kerut penuh tanda tanya, ia tak memahami arah pembicaraan sang pria.

“Jika aku menekan tombol ini, maka Kurniasih Hernawati, Umar Kurniawan Tarigan, dan Tantri Andrissa Tarigan akan hancur berkeping-keping oleh ledakan bom C4 yang kupasang di sekitar rumahmu. Mereka sedang menunggumu pulang untuk makan malam bersama, bukan begitu?”

“Brengsek. BRENGSEEEK! Jangan kau sentuh mereka! Jangan kau sentuh merekaaa!”

“Atau apa? Kau akan membunuhku? Kau akan mengirimkan satu peleton Densus AT-13 lagi untuk memburuku? Bekerjasama dengan Kopassus? Silakan pilih investasi apa lagi yang akan kuhancurkan berikutnya.”

“Ugh … b-bajingan! T-tolong jangan sakiti keluargaku, aku mohon.”

“Kalau begitu jawab pertanyaanku! Simpel saja.”

“B-baiklah! Baiklah! Orang yang memimpin operasi pembantaian di Kampung Rimbun pada waktu itu adalah seorang pria gundul berwajah datar. Ia tidak memiliki identitas apa pun, sama sepertimu, seperti hantu. Tetapi aku masih ingat callsign-nya, ia dipanggil Jurig oleh operator lapangan yang lain.”

Sang pria sontak berdiri mematung selama beberapa saat, tatapannya pun mengunci ke wajah Jenderal Yusuf. Ia tercenung mendengar pengakuan pria berseragam tersebut. “Botak? Jurig?”

“Ya. S-sumpah. Hanya itu yang kutahu. A-aku mohon, jangan sakiti keluarga–”

“Heh. Jadi begitu. Jurig, ya?” gumam sang pria seraya mengalihkan pandangannya.

” … ”

Sang pria kembali menatap Jenderal Yusuf. Tersenyum. “Aku ingin bercerita tentang sesuatu. Kuharap kau mau mendengarkannya.”

“C-cerita?”

Sang pria menghela napasnya. “Pada tahun 1998, pernah terjadi kasus pencaplokan sebuah pulau oleh Singapura di daerah barat laut Indonesia. Kasus ini heboh di kalangan orang-orang Istana Negara, tetapi tidak terdengar ke telinga publik. Presiden Soeharto sengaja menutup-nutupinya karena ia sudah tidak dipercayai lagi oleh rakyat, ia tidak mau namanya semakin ternoda dengan kasus memalukan tersebut. Setiap kali ada wartawan yang berhasil mengendus kasus pencaplokan tersebut, mereka pasti diculik dan dibunuh secara misterius. Kematian mereka lantas dibuat menyerupai kecelakaan. Ini adalah cerita populer di kalangan pemerintah, kau pasti pernah mendengarnya ‘kan?” jelas sang pria.

“K-kasus Pulau Nagatari. U-untuk apa kau menceritakan kisah tersebut kepadaku?”

“Benar. Tetapi bukan kasus itu yang ingin kubahas. Peristiwa setelah kasus pencaplokan tersebut yang tidak diketahui oleh banyak orang,” ujar sang pria seraya berjalan mondar-mandir di hadapan sang jenderal.

“Setelah Pulau Nagatari dicaplok, pemerintah Indonesia segera menjawab tindakan Singapura dengan membentuk sebuah badan rahasia yang awalnya didesain untuk mengeliminasi oknum-oknum NATO di Indonesia [4]. Jika kau penasaran mengapa NATO yang menjadi sasaran utama pemerintah, tentu saja karena NATO punya peran besar pada pencaplokan tersebut. NATO yang didominasi oleh Amerika Serikat menginginkan pulau itu untuk menjadi pangkalan mereka dan memanfaatkan Singapura sebagai topeng. Kacau kan? Asia Tenggara seharusnya bukan daerah operasi NATO, tetapi begitulah … bos-bos yang menguasai NATO memang rakus.

“Oke, kembali ke topik. Jadi, badan rahasia ini dikabarkan terdiri dari pembunuh-pembunuh elit yang telah dilatih sejak mereka masih belia. Mereka jauh lebih berbahaya daripada pembunuh rahasia Kopassus. Anak-anak ini tumbuh tanpa nama, tanpa identitas, tanpa sertifikat, tanpa akta, tanpa dokumen-dokumen yang dapat menunjukkan keberadaan mereka di bumi Nusantara. Sekalipun ada, semuanya palsu, bahkan sidik jari dan retina mereka dipalsukan,” jelas sang pria lagi.

NB: [4] Pada dunia nyata, NATO (semestinya) tidak beroperasi di regional Asia Tenggara. Meski demikian, ada beberapa kondisi dan momen di mana NATO menyatakan siap untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara Asia Timur.

” … ”

“Itulah mengapa kau tak dapat menemukan identitas Jurig, sekalipun kau berusaha menggali informasi dari database CIA. Ia tak punya nama. Satu-satunya nama resmi yang disematkan pemerintah kepadanya adalah Subject 01.”

Jenderal Yusuf pun terbelalak mendengar penjelasan sang pria. Ia kini sadar bahwa ia telah beroperasi dengan sesosok monster yang jauh lebih berbahaya daripada pembunuh rahasia pasukan khusus. Kini, tersisalah sebuah pertanyaan krusial: untuk apa sang pria membeberkan informasi tersebut kepadanya? “J-jadi, Jurig adalah agen pemerintah dari tahun 1998 tersebut. T-tetapi, mengapa kau menceritakan hal ini kepadaku?”

Sang pria kembali terdiam. Ia menatapi Jenderal Yusuf selama beberapa saat, lalu tersenyum lebar, lantas menutupnya dengan tawa nan mengolok.

“Tidak ada apa-apa. Aku pikir kau sudah menangkap maksudku. Apakah kau tidak terpikir mengapa kau dan teman-temanmu tidak mampu menemukan identitas asliku?”

Sekali lagi Jenderal Yusuf terbelalak hebat, ia pun menahan napasnya selama beberapa saat, syok dengan kenyataan yang berdiri di hadapannya. Pembunuh dari tahun 1998. Legenda tanpa nama yang siap melenyapkan manusia dari bumi maupun buku sejarah. “K-kau … ”

“Ya. Aku adalah adiknya. Subject 09,” papar sang pria seraya mengarahkan moncong pistol ke kepala Jenderal Yusuf.

“T-TUNGGU–”

KA-BLAM! KA-BLAM! KA-BLAM!

Sang pria yang ternyata bernama Subject 09 itu pun menarik pelatuk sebanyak tiga kali. Kepala sang jenderal sontak hancur dihantam oleh timah panas berdiameter 11,43 mm. Otaknya pecah menjadi kepingan daging berselimut darah, kemudian menodai permukaan dinding dan ubin. Beberapa juga menempel di pakaian Subject 09. Benar-benar kematian yang brutal.

“Aku memang tidak tertarik membunuhmu, Jenderal. Tetapi kau tetap harus mati,” imbuh Subject 09. Ia lantas terdiam, menghela napas panjang di lorong penuh darah tersebut. Ia membuang pistolnya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Aku tidak percaya kau melakukan ini, One. Apa yang sebenarnya terjadi? Kita tidak diciptakan untuk membantai orang tak berdosa, One! Kau semestinya tahu itu!” sang pria berujar pada ketiadaan, lantas terdiam menatapi langit-langit. “Project SAKTI tidak diciptakan untuk itu. Apa yang sebenarnya terjadi pasca huru-hara lima tahun yang lalu? Fuck.

TO BE CONTINUED

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *