9 – Needles in a Haystack


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang
16.42

Tiga hari pasca hingar-bingar yang terjadi di kantor NetCaptain, Subject 17 mengusulkan untuk kembali bergerak menyingkap kebenaran di balik Operasi Antisakti dan pembantaian Kampung Rimbun. Siang itu ia membuka obrolan dengan saudaranya, Subject 09, mengenai rencana kepergiannya ke Papua. Ia mengatakan bahwa ia akan pergi sendiri, apalagi urusannya kali ini adalah untuk menemui koordinator lapangan Operasi Antisakti, yakni Hanif Wahyudin. Wanita berwajah manis itu memang sangat membenci Operasi Antisakti, bukan hanya karena operasi tersebut berhasil memporak-porandakan Project SAKTI, tetapi juga karena mereka menyiksa dan membunuh pelatih kesayangannya.

Dan di sinilah dua orang paling berbahaya seantero Nusantara, duduk santai di teras rumah seraya menikmati teh hangat. Subject 09 dan Subject 17 mengadakan rapat kecil mengenai rencana mereka menguak misteri konspirasi pemerintah Republik Indonesia.

“Kau tinggal saja di sini, Nine. Jaga ‘keluarga kecilmu’ baik-baik. Lagipula, kondisimu belum seratus persen pulih. Kau terluka sangat parah malam itu,” ujar Subject 17 sembari menyeruput teh hangat yang sedari tadi telah dihidangkan di atas meja.

“Kau yakin tak butuh bantuanku? Orang-orang Han’s Security mungkin sudah dilatih layaknya pasukan khusus oleh Hanif. Aku menduga mereka bisa mencium keberadaan operator-operator seperti kita,” jawab Subject 09.

“Jangan khawatirkan aku. Kau ini seperti baru pertama kali melihatku beraksi, Nine. Kita sudah banyak mengalami kejadian yang jauh lebih gila daripada berkelahi dengan anak-anak jebolan Pusdikpassus.”

“Ya, kau juga berkata seakan-akan baru pertama kali melihatku dihujani tembakan.”

Subject 17 tertawa kecil, bibirnya tersungging.

“Mengapa kau begitu benci terhadap Operasi Antisakti, Seventeen? Maksudku, ya, aku juga membenci Operasi Antisakti, tetapi tingkat kebencianmu tampak berbeda denganku. Seakan ada dendam pribadi,” lanjut Subject 09 bertanya.

“Sama seperti kau membenci operasi pembantaian Kampung Rimbun. Ada dendam pribadi, kau benar,” jawab Subject 17. “Kau ingat Kapten Silvia? Satu-satunya anggota The Creator dari kalangan Kowad?”

“Hmm, aku ingat,” Subject 09 mengangguk. “Kalau tidak salah ia adalah anggota Kopassus. Aku tak pernah dimentor langsung olehnya, tetapi aku ingat wajahnya. Ada apa dengannya?”

“Dia adalah alasan mengapa aku begitu marah terhadap Operasi Antisakti. Silvia sudah seperti ibuku sendiri; ia mengadopsiku ketika aku hampir mati, merawatku, lalu menjadi mentor utamaku hingga aku beranjak dewasa. Aku punya hubungan istimewa dengannya sampai hari itu tiba—ia diculik dan disiksa oleh orang-orang Antisakti. Ia adalah salah satu anggota The Creator pertama yang diculik.”

Subject 09 terdiam sejenak. “Apa yang terjadi padanya?”

“Aku tak bisa mendeskripsikannya secara detil, tetapi aku menemukan tubuhnya dalam keadaan mengenaskan. Gigi-giginya dicabut, kuku-kukunya patah, dan matanya dicongkel. Ia juga diperkosa sampai kemaluannya rusak. Bangsat! Kau bisa bayangkan betapa geramnya aku melihat orang yang paling kusayang diperlakukan seperti demikian. Anjing-anjing itu … Hanif … ”

“Kau pernah mencoba membalas dendam setelahnya?”

“Tentu. Tetapi, Operasi Antisakti tidak sendirian. Untuk melindungi diri, mereka bekerjasama dengan pemerintah luar. Tiga kali aku mencoba menghancurkan spot-spot penting Antisakti dan semuanya gagal. Tentu saja, aku juga gagal mendapatkan informasi tentang siapa-siapa saja yang tergabung dalam Operasi Antisakti. Mungkin kejadiannya persis seperti di NetCaptain tiga hari yang lalu—markas mereka luluh lantak, tetapi mereka mampu mengambil alih situasi di menit-menit terakhir.”

“Dalam kata lain, kau hampir mati tiga kali.”

“Ya, situasinya kurang lebih seperti dirimu saat ini,” Subject 17 lantas menyeruput tehnya. “So, sejak saat itu aku berpikir, kalau serangan frontal tak bisa menggoyahkan mereka, mungkin mereka memang harus diserang dari belakang. Pelan-pelan, tetapi pasti. Sebenarnya aku benci bermain lambat seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi?”

Subject 09 mendengus seraya tersenyum kecut. “Sampai tiba saatnya kau melihatku di televisi. Kau merasa peluang untuk memenangkan pertarungan akan lebih besar jika terbentuk semacam aliansi.”

“Yep. Tetapi, ternyata kau punya tujuan yang berbeda.”

“Hmm, bukannya aku tak ingin melawan Operasi Antisakti, tetapi mengalahkan mereka memang bukan perkara mudah. Bagaimana pun, kita tetap manusia biasa. Mengambil tindakan yang terlalu konyol bisa mengantarkan kita kepada kematian.”

“Jadi, kau masih punya niat untuk menumbangkan mereka?”

“Setelah melihat adanya benang merah antara Operasi Antisakti dan Kampung Rimbun, tentu saja aku berniat.”

“Kau dan aku tahu bahwa hipotesis tersebut belum tentu valid. Bagaimana jika ternyata pembantaian Kampung Rimbun tak punya koneksi apa-apa dengan Operasi Antisakti?”

Subject 09 tertawa mendengus. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Well, setelah lima tahun aku menghilang dan memfokuskan diri mengabdi kepada Tuhan, tampaknya tak ada salahnya jika aku kembali ke jalur yang semestinya. Lagipula, kita masih memiliki hutang darah dengan Operasi Antisakti, mereka membunuh orangtua angkat yang telah membesarkan kita sampai hari ini.”

“Heh, kuharap kau tidak merasa bersalah lagi atas kematian teman kostmu [1].”

NB: [1] Baca episode 6

Subject 09 sekadar tersenyum, ia lantas mengalihkan pandangannya ke arah teras, menatapi serangga-serangga yang beterbangan. “Ngomong-ngomong, Seventeen … kau mengatakan bahwa kau akan pergi sendiri ke Papua. Strategi macam apa yang telah kau rancang?”

“Penyamaran, tentu saja. Aku akan berpura-pura menjadi jurnalis media pertahanan, lalu melakukan wawancara dengan humas di Han’s Security. Dari sana aku akan melakukan pemotretan hingga menggali informasi mengenai orang-orang penting di Han’s Security. Oh tentu saja, orang-orang seperti ini pasti punya hubungan dekat dengan bos perusahaan—mereka akan mengantarkan kita kepada Hanif.”

“Kau tidak berpikir bahwa semuanya akan semudah membalikkan telapak tangan ‘kan? Han’s Security sudah menjadi garda terdepan untuk melindungi aset hingga operasi asing di Papua selama dua tahun terakhir, termasuk memberikan pelatihan dan logistik kepada OPM. Cara berpikir mereka tentu berbeda dengan perusahaan keamanan swasta tingkat kota.”

“Tentu saja aku menyadarinya, Nine. Hanif adalah salah satu anak emas TNI, orang ini punya bakat menjadi anggota The Creator, anak buahnya sudah pasti tak berbeda jauh dengannya. Tetapi, tak perlu khawatir, aku sudah punya beberapa rencana untuk menangkal kepintaran mereka di lapangan kelak—kita lihat saja siapa yang lebih pintar.”

“Dugaanku, mereka akan mengecek keotentikan perusahaan tempat kau bekerja. Kuharap kau sudah menyiapkan dummy website atau semacamnya.”

“Tentu saja, tetapi itu urusan teknis lah, tak perlu dijelaskan secara detil. Basic.”

Subject 09 tak merespon lagi, ia mengangkat cangkirnya dari atas meja lalu menyeruput kopi yang telah dingin. Percakapan pun terhenti selama beberapa saat, kedua pembunuh paling berbahaya sejagat Nusantara tersebut lantas bersandar di kursi masing-masing dan menatapi cahaya senja yang mulai memudar.

“Hei Nine, bagaimana hubunganmu dengan Verani setelah kau menceritakan segalanya?” Subject 17 kembali membuka percakapan—temanya diluar politik.

Subject 09 tak segera menjawab, ia merenung sebentar. “Baik-baik saja. Ia tetap tak ingin berpisah dariku, tampaknya,” jawabnya penuh keraguan. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.

Subject 17 memperhatikan ekspresi saudaranya dengan seksama. “Kau tahu? Setelah kupikir-pikir lagi, ada baiknya kau tetap membawa Verani dan Patih. Keduanya pasti sudah masuk ke dalam watchlist pemerintah pasca penangkapan tiga hari yang lalu. Kalau kita tidak melindungi mereka, maka pemerintah akan menculik mereka lagi dan mengorek keduanya habis-habisan demi mendapatkan informasi berharga tentangmu.”

Subject 09 tak merespon, ia sekadar menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan penuh kekecewaan.

“Dilema memang, tetapi nama Verani dan Patih sudah tak lagi bersih. Kita tidak tahu apa yang akan pemerintah lakukan jika mereka berhasil menangkap keduanya untuk yang kedua kalinya. So, keep your bride safe, Nine.

Bride?” Subject 09 terkejut, ia sontak menatapi Subject 17 dengan kening berkerut. Seakan seluruh keraguan yang baru saja bertengger di dalam hatinya hilang tergerus emosi. “Aku tak pernah mengatakan bahwa ia adalah calon istriku. Verani adalah mantan tetanggaku—”

“Dan ia jatuh cinta kepadamu, Nine. Aku berani bertaruh kau juga punya perasaan yang serupa dengannya, tetapi kau tak mampu mendeskripsikan perasaan macam apa yang sedang merekah di dalam hatimu saat ini,” sela Subject 17 seraya menunjuk-nunjuk dada saudaranya. “Tinggal serumah dengan wanita secantik Verani dan kau tidak merasakan apa-apa? Omong kosong.”

” … ” tak ada tanggapan dari Subject 09, ia sekadar bersandar seraya mengangkat dagunya. Wajahnya tampak angkuh. Suasana pun menyepi sejenak waktu—tak ada gestur, tak ada kata. “Sebaiknya kita tak membicarakan ini, ia ada di dalam rumah,” ujarnya agak berbisik, lantas menyeruput kopinya sampai habis.

Felicia tersenyum sinis, ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali—masih berusaha menyangkal kenyataan yang dihadapi oleh saudaranya.

“Bagaimana dengan Patih? Aku melihat bakat petarung di dalam dirinya.”

“Ha! Kau berusaha mengalihkan pembicaraan, Nine!” seru Subject 17 menunjuk wajah saudaranya.

“Wow, menyebalkan sekali dirmu. Sayang kopiku sudah habis, seharusnya sedari tadi kusiram saja wajahmu itu.”

Subject 17 tertawa kecil, sementara Subject 09 memalingkan pandangannya seraya berdecak jengkel. Situasi sempat menyepi selama beberapa saat, seakan-akan keduanya telah kehabisan topik pembicaraan. Akan tetapi, tak lama sebelum matahari terbenam, Subject 09 kembali bertanya soal Patih. Ia memaksa saudarinya untuk memuntahkan informasi mengenai kemampuan anak lelaki bertubuh pendek tersebut. Penasaran.

Selagi Subject 09 dan Subject 17 bertukar kata, Verani dan Patih justru duduk diam tak berkutik di ruang tengah. Tidak, mereka tidak sedang melamun, mereka juga tidak sedang menguping pembicaraan di luar. Mereka sedang dilenakan oleh Playstation terbaru milik Subject 17 di ruang tengah. Berbeda dengan tempat tinggal milik Subject 09 sebelumnya, mereka kini dimanjakan oleh berbagai macam fasilitas yang menggiurkan. Internet tetap dibatasi untuk memperkecil resiko dilacak oleh pemerintah, tetapi Subject 17 memiliki segudang hiburan yang bisa menjawab dahaga sang ibu muda dan sang petarung cilik.

Paling tidak, Verani dan Patih bisa kembali merasakan kebahagiaan. Entah sampai kapan.

***

Safehouse PIN, Jakarta
20.10

Kapten Johan akhirnya mendengarkan saran Hana untuk menemui saudari Adam Sulaiman yang telah berhasil di-brainwash oleh para ilmuwan PIN. Tenma. Wanita berambut panjang yang memiliki codet di pipi kanannya itu memang tampak bersahabat dengan orang-orang PIN, ia bahkan tak pernah berpikir dua kali untuk mematuhi perintah dari Hana maupun Johan. Keberadaannya tentu akan menjadi keuntungan bagi PIN, apalagi ia memiliki gestur dan muscle memory yang serupa dengan Adam.

Pada awalnya, Johan sempat meragukan keotentikan program modifikasi pikiran yang diaplikasikan pihak Research and Development PIN kepada Tenma. Ia bahkan sempat menjaga jarak dari wanita berwajah picik tersebut, apalagi kondisinya belum benar-benar pulih pasca perkelahiannya dengan Adam tiga hari yang lalu. Akan tetapi, rasa takut takkan mengubah apapun. Johan menyadari bahwa dirinya dilatih untuk menerjang segala macam marabahaya, ia lantas mendatangi Tenma dan mengajak wanita tersebut melakukan latih tanding. Ia ingin menguasai perasaan gentarnya dan mempelajari seluruh gerak-gerik Tenma.

Mendengar ajakan ini, Tenma tentu saja mengiyakan permintaan sang perwira muda. Ia bahkan terlihat sangat bahagia.

Menurut Hana, selain modifikasi pikiran, ilmuwan PIN juga berhasil mengubah jati diri Tenma. Modifikasi alam bawah sadar. Tenma kini percaya bahwa dirinya adalah mantan anak buah Johan yang jatuh cinta kepada Johan—ia sudah tak ingat lagi tentang Project SAKTI dan segala atributnya. Mengetahui hal ini, Johan sempat marah, karena itu akan membuat Tenma menjadi agresif dan posesif. Akan tetapi, Hana justru memiliki pendapat yang berbeda, ia mengatakan bahwa dengan memunculkan perasaan istimewa di dalam diri Tenma, Tenma akan melakukan apapun demi melindungi Johan.

Hana dan Johan memang sering berbeda pendapat, tetapi pada akhirnya mereka selalu menerima keadaan dan mengabaikan argumentasi yang sempat memanas.

Dan di sinilah Johan, berdiri memasang kuda-kuda di atas ring tinju bersama dengan rekan barunya, Tenma. Keduanya mengenakan pelindung kepala dan pelindung tangan untuk memperkecil gaya impulsif yang dihasilkan dari setiap serangan yang mendarat. Mereka benar-benar melakukan latih tanding sebagaimana yang diminta oleh Johan.

Pertandingan telah berlangsung sekitar dua menit, belum ada satu pun dari mereka yang tumbang. Johan kembali mengambil inisiatif, ia menyerang sebelum Tenma menyerang. Pukulan demi pukulan ia lepaskan, namun tak ada yang benar-benar berhasil mengenai titik vital.

Tenma mengantisipasi gerakan Johan seperti orang yang mampu memprediksi masa depan, begitu mudah. Sampai pada akhirnya, Tenma menyerang balik—ia menangkis pukulan Johan dan melepaskan tinjunya ke wajah Johan.

Serangan Tenma hampir saja berakibat fatal, beruntung Johan segera menarik mundur kepalanya sesaat sebelum tinju mendarat di pelipisnya. Akan tetapi, Johan tak menyadari adanya serangan susulan. Tiba-tiba saja sebuah pukulan uppercut merangsak masuk menghantam rusuknya. Serangan tersebut sontak membuat Johan hilang fokus. Tenma segera memanfaatkan situasi tersebut, ia kembali melepaskan tinjunya ke arah pelipis Johan.

Johan bukan petarung ingusan yang bisa ditumbangkan dengan mudah. Begitu menyadari sebuah pukulan kembali melesat ke arahnya, ia segera mengangkat tangannya setinggi kepala. BAM! Serangan digagalkan, Johan berhasil memblokir pukulan Tenma pada momen yang tepat. Johan tak bisa terus-menerus dalam modus defensif, ia lantas menendang tubuh Tenma untuk memperbesar jarak serang di antara keduanya.

“Tidak semudah itu, Tenma!”

Johan kembali menyerang, ia berlari dan menyeruduk Tenma yang tampak belum siap menerima serangan. BRUGH! Keduanya lantas tersungkur, Johan rupanya ingin menyelesaikan pertarungan dengan melakukan groundfighting.

Posisi Tenma menjadi tak menguntungkan, ia diduduki oleh Johan yang sudah siap menyerangnya bertubi-tubi. Johan pun tak berpikir dua kali untuk melepaskan serangan, ia benar-benar menghujani Tenma dengan pukulan.

Meskipun demikian, Tenma bisa memastikan bahwa tak ada satu pun serangan Johan yang masuk ke titik vital. Dalam posisi yang sedemikian sulit, ia masih bisa memblokir pukulan Johan dan sesekali menghindar.

” … ”

Tenma melihat celah untuk menyerang balik. Ia bergegas menggenggam tengkuk Johan sekuat tenaga. BRAK! Tenma segera menarik kepala Johan dan membenturkannya ke lantai arena. Serangan terjadi begitu cepat, Johan bahkan tak sempat menyadarinya.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Pertarungan kembali didominasi oleh Tenma, ia lantas bergerak keluar dari zona serang Johan dan mendekap leher Johan dari belakang. Triangle choke. Serangan tersebut menjadi sangat fatal karena dilakukan pada posisi berbaring, Johan akan sangat sulit untuk melepaskan dirinya dari cekikan tersebut.

“A-AAGH! B-BANGSAT!”

Benar saja, Johan meronta seperti kesetanan. Ia berusaha mengingat-ingat latihan militernya jika terjebak dalam situasi seperti demikian. Akan tetapi, ia sedang berada di atas ring, tidak ada objek yang bisa membantunya untuk melepaskan diri, ia sedang melakukan pertarungan bersih. Sialan, keluhnya dalam hati. Apakah sudah saatnya ia menyerah?

Tidak, Johan tak ingin menyerah. Kehormatannya sebagai kapten pasukan khusus bisa dipertanyakan. Masak menyerah hanya karena dicekik dari belakang? Ia pun meronta lebih keras, sampai pada akhirnya ia bisa berbaring miring ke arah kiri. Pada posisi yang tidak menguntungkan tersebut, ia melepaskan tinjunya berkali-kali ke belakang kepala—ke tempat di mana Tenma menghimpitkan kepalanya.

BUK, BUK, BUK! Berkali-kali terdengar benturan antara tinju Johan dan pelindung kepala Tenma, hingga kemudian Tenma memutuskan untuk melepaskan cekikannya.

Begitu lehernya bebas, Johan segera berguling menjauh. Ia lantas bangkit seraya memegangi batang lehernya—sesekali terbatuk akibat dekapan Tenma yang terlalu keras. Sementara itu, Tenma tetap berdiri tenang di sisi seberang. Ia sedikit pusing, tetapi langsung kembali normal begitu ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kedua petarung hanya beristirahat selama beberapa detik. Tak lama kemudian, keduanya kembali merangsek dan saling bertukar serangan.

Pertarungan terasa lebih alot daripada sebelumnya, kini kedua petarung mampu berdiri lebih lama dengan rangkaian serangan yang lebih brutal.

Johan berniat mengakhiri pertarungan tersebut, ia percaya bahwa serangan terakhirnya akan membuat Tenma rubuh. Akan tetapi, terlalu percaya diri seringkali menimbulkan masalah. Bagaimanapun, Tenma adalah veteran pertarungan jarak dekat—sama seperti Adam. Akibatnya, pukulan Johan diblokir tanpa kepayahan dan wajahnya disikut oleh Tenma.

episode_9

Seketika itu darah mencurat dari hidung Johan, namun Tenma tak lantas berhenti. Tenma segera menyodok tenggorokan Johan dengan ujung-ujung jarinya, disusul dengan meninju rahang Johan dari arah samping, kemudian ditutup dengan melepaskan pukulan uppercut ke dagu Johan.

BAM!

Pukulan terakhir tersebut sontak membuat Johan terpelanting dari tempatnya berdiri, lalu tersungkur tak berdaya dengan wajah berhias darah. Tenma segera menghentikan aksinya, ia menghampiri rekannya yang mengerang lemah.

“Kapten, kau baik-baik saja?” tanya Tenma seraya berjongkok di samping Johan.

“Apakah aku terlihat seperti baik-baik saja, Tenma?” ujar Johan seraya memegangi hidungnya yang berlumur darah. Ia terdengar sangat sinis. “Lebih baik kau ambilkan kotak medis. Kita akhiri latih tanding ini sampai di sini.”

“Baik, Kapten.” Tenma bangkit dari tempatnya dan bergegas mengambil kotak P3K di luar arena. Sementara itu, Johan perlahan-lahan mendudukkan dirinya seraya menanggalkan seluruh pelindung yang membungkus kepala dan kedua tangannya.

Tak lama kemudian, Tenma kembali masuk ke dalam arena membawa tas selempang berwarna hitam—isinya adalah obat-obatan dan peralatan medis. Ia lantas berjongkok di samping Johan dan menyerahkan gulungan tisu kepada sang perwira muda.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Tanpa berkata-kata, Johan segera merobek beberapa lembar tisu yang disodorkan kepadanya dan ia usapkan di sekitar wajahnya yang penuh dengan bercak darah. Sembari membersihkan lukanya, ia menatapi Tenma yang tak henti-hentinya memancang pandangan kepadanya. “Kau lihat apa, Tenma? Baru kali ini melihat hidung orang lain berdarah?”

“Uhm, tidak, Kapten. Aku hanya senang melihatmu,” jawab Tenma tersenyum.

Johan menghembuskan napasnya dengan jengkel. “Kau benar-benar tidak ingat siapa dirimu, ya?”

Tenma mengernyitkan keningnya selama beberapa saat. Ia tampak heran, tetapi masih tetap tersenyum seperti sedia kala. “Apa maksudmu, Kapten? Tentu saja aku ingat siapa diriku.”

“Bukan, maksudku—ah, sudahlah. Tampaknya program modifikasi pikiran PIN memang berjalan dengan baik,” gumam Johan.

“Maaf, Kapten?”

“Tidak, tidak. Lupakan saja. Kau hanya membuatku teringat dengan Adam. Kekuatanmu, refleksmu, kecepatanmu, kau benar-benar mirip dengannya. Kalau kau bertemu dengannya, kau tentu akan membuatnya kerepotan,” Johan mengalihkan pembicaraan.

“Oh, tenang saja, Kapten. Aku akan membereskan cecunguk tersebut suatu saat kelak. Kau tidak perlu khawatir, ia tidak mungkin sehebat yang orang-orang katakan.”

“Kuharap demikian,” tutur Johan seraya membuang tisunya sembarangan. “Kalau ia tidak hebat, kita tentu sudah menemukan keberadaannya, Tenma. Sejak peristiwa tiga hari yang lalu, tidak ada satu pun orang PIN yang dapat menemukan jejaknya. Mobil yang Adam tumpangi untuk kabur dari kantor NetCaptain berhenti di pinggiran kota, tetapi tak ada tanda-tanda tentang dirinya. Sialan. Ia pasti mengganti kendaraan untuk mempersulit pelacakan.

“Kita sudah begitu dekat dengannya. Verani dan Patih, dua orang yang disinyalir memiliki relasi istimewa dengan Adam bahkan telah berada di tangan PIN malam itu. Dan semuanya hilang hanya dalam waktu yang relatif singkat—Adam datang dan mengamuk seperti kesetanan. Puluhan anak buahku mati mengenaskan. Kantor NetCaptain hancur berantakan. Mungkin itu pula yang dirasakan oleh Operasi Antisakti generasi awal,” lanjut sang kapten mengemukakan unek-uneknya.

“Hmm, jika kau menjadi dirinya, ke mana kau akan pergi, Kapten?”

Johan menatapi Tenma sejenak, ia mencoba berpikir jernih. “Ke tempat yang sepi dan jauh dari akses pemerintah, tentunya. Hutan, gurun, pegunungan, atau semacamnya.”

“Benar, mengapa tidak memfokuskan pencarian di tempat-tempat seperti itu, Kapten?”

“Kita sudah melakukannya, kita bahkan harus membayar mahal untuk citra satelit dan hasilnya nihil. Ini sudah tiga hari, melihat hasil yang tak signifikan seperti ini, ada kemungkinan kita harus memulai pencarian dari awal lagi. Bah! Buang-buang uang negara saja!”

“Sudahkah kau mencoba melacak sinyal perangkat komunikasi Adam?”

“Apakah kau pikir PIN belum melakukan hal tersebut? Perangkat komunikasinya pasti dienkripsi. Sinyalnya sudah pasti diisolasi agar tak ada orang yang bisa melacaknya. Kecuali jika Verani atau Patih ceroboh menggunakan perangkat komunikasi umum, masalahnya Adam pasti sudah mewanti-wanti mereka tentang itu. Peluangnya hampir nol untuk menemukan Adam lewat sinyal-sinyal komunikasi, kecuali keajaiban berpihak kepada kita.”

“Hmm, mikropon kalo begitu … ”

“Mikropon?” Giliran Johan yang dibuat heran. “Apa maksudmu mikropon?”

“Mikropon. Kau bisa menginjeksi spyware di setiap perangkat personal yang terhubung langsung dengan internet. Dengan spyware tersebut, kau memiliki peluang yang sangat besar untuk menangkap suara Verani atau Patih di suatu tempat—suara mereka akan terekam oleh mikropon yang terpasang di smartphone atau laptop atau tablet milik orang lain. Data yang kalian tangkap ini kelak tinggal dicocokkan dengan rekaman suara Verani dan Patih pada malam kalian memboyong keduanya ke safehouse. Mengerti maksudku, Kapten?”

Anjrit, maksudmu kita perlu menginfiltrasi setiap perangkat personal seluruh penduduk Indonesia demi menemukan Verani dan Patih?”

“Aku tidak bilang bahwa itu perlu, Kapten. Itu bisa menjadi alternatif jika sudah tak ada cara lain untuk menemukan Adam.”

“Itu yang dilakukan USSA [1] hingga hari ini ‘kan? Memasang penyadap di setiap ponsel warga Amerika Serikat untuk memata-matai setiap orang di tanah Amerika,” ujar Johan. “Sebenarnya penyadapan ini merupakan ide yang bagus, tetapi metode ini akan memaksa kita untuk memasuki ranah privasi orang lain tanpa izin—sama halnya dengan mengintip. Ini tidak sesuai dengan etos kerja intelijen. Akan terjadi pro-kontra di internal PIN juga kurasa.”

NB: [1] United States Security Agency. Versi upgrade dari NSA pada cerita Subject 09.

“Kita tidak perlu melakukan sampai sejauh itu, Kapten. Tugas kita hanya untuk menemukan Verani dan Patih. Data suara yang lain jangan dianggap serius—sekalipun ada ancaman terorisme, abaikan saja. Dengan demikian kau tidak bisa disebut mengorek-ngorek informasi di ranah privasi orang lain.”

Johan menghela napas panjang seraya menengadahkan kepalanya ke langit-langit. “Seperti yang kubilang, ini akan menjadi pro-kontra dan waktu kita akan habis untuk bertengkar sesama agen PIN. Tetapi tampaknya Hana akan dengan senang hati mendengar saranmu. Ia merupakan tipe agen yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Jadi … kalau ia menerima saranmu … ” Johan menoleh kepada Tenma dengan wajah serius. “Bisakah kau melakukan hal tersebut? Aku ingin penyadapan ini dilakukan secara tertutup.”

“Bukan perkara yang sulit, Kapten,” jawab Tenma percaya diri.

“Baik kalau begitu,” tukas Johan seraya menepuk kedua pahanya. “Kita akan melakukan ini tanpa tim inti, paling tidak untuk sekali ini.”

Tenma hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena pendarahanku sudah berhenti, bagaimana jika kita segera mandi dan bertamu ke tempat tinggal Hana? Kita perlu membicarakan ini dengannya selaku koordinator internal Operasi Antisakti.”

“M-mandi bersama, K-Kapten?”

Johan menoleh dengan terkejut. “Kau gila!? Mandi di kamar mandi masing-masing lah! Aku tidak mengajakmu mandi di satu ruangan yang sama denganku, Tenma!”

“O-oh … ” Tenma tertunduk seraya tertawa kecil. Malu.

“Sialan, modifikasi perilaku ini membuatku ingin menonjok wajah Hana … ” bisik sang perwira muda seraya bangkit dari tempatnya duduk. Ia lantas melangkah keluar arena.

“Kapten, maukah kau makan malam bersamaku setelah ini?” tanya Tenma—masih di tempatnya semula.

“Uhhh. Kita berdua ‘kan memang belum makan, dasar pelupa. Tanpa perlu mengajakku, aku sudah pasti akan mengajakmu makan. Nanti makan nasi goreng saja di depan safehouse,” seru Johan dengan nada suara yang agak tinggi, ia berjalan menjauh menuju kamar mandi.

Mendengar jawaban Johan, Tenma pun tersenyum. Hatinya berbunga-bunga. Ia benar-benar sudah tak ingat lagi tentang jati dirinya di masa lampau.

***


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Bandara Sentani, Papua
15.42

Felicia akhirnya tiba di Papua setelah menempuh perjalanan sekitar delapan setengah jam—lebih sedikit. Ia berangkat dari Malang ke Jakarta menggunakan moda transportasi udara, kemudian berlanjut dari Jakarta ke Papua menggunakan moda transportasi yang sama. Tanpa banyak basa-basi, ia segera menelepon humas Han’s Security begitu menginjak tanah Papua. Ia benar-benar tak ingin membuang waktu, tangannya sudah gatal ingin bertemu dengan Hanif dan memukulinya hingga menjadi bubur.

Tak lama, seorang pria mengangkat telepon Subject 17. “Selamat sore,” ujarnya dengan suara nan tegas. Karakter suaranya persis seperti orang militer.

“Selamat sore, Bapak Chairuddin. Saya Felicia, dari majalah online Indonesia Defense, saya adalah orang yang menelepon Anda dua hari yang lalu. Sekadar mau memberitahu bahwasanya saya sudah tiba di Bandara Sentani. Apakah kira-kira masih memungkinkan untuk melakukan wawancara hari ini?” tanya Subject 17. Ia terdengar seperti jurnalis profesional.

“Oh, Ibu Felicia. Sebentar … kalau melihat dari waktunya tampak masih memungkinkan untuk melakukan wawancara. Sekarang baru jam 15.43, masih ada waktu sekitar dua jam sebelum kantor kami tutup.”

“Baik, pak. Terima kasih. Kalau naik taksi kira-kira membutuhkan waktu berapa jam untuk sampai ke kantor?”

“Ah, dari Bandara Sentani paling hanya lima belas menit. Tidak terlalu jauh kok.”

“Baik, pak. Terima kasih atas informasinya. Nanti saya hubungi kembali jika sudah tiba di depan kantor,” ujar Subject 17 menutup percakapannya dengan Chairuddin—kepala humas Han’s Security. Ia lantas menumpangi taksi yang sedari tadi bertengger di depan pintu masuk bandara.

Di saat yang sama, Chairuddin tampak skeptis dengan identitas Felicia. Setelah komunikasinya terputus, ia lantas menatapi seorang pria berkulit legam yang berdiri di belakangnya. Ia ingin mencurahkan kekhawatirannya.

“Apa yang kau dapatkan soal Felicia, Alex?” tanya Chairuddin.

“Aku sudah mengatakannya kepadamu, Pak. Menurut data intelijen, ia tidak punya sepak terjang sebagai operator khusus. Orang ini bersih.”

Chairuddin menghembuskan napasnya, ia merasa tak puas. “Benar, kau sudah mengatakannya kepadaku. Ia bersih. Tetapi naluriku mengatakan sebaliknya, orang ini berbahaya. Bagaimana jika ternyata data intelijen yang kau dapatkan hanya fabrikasi?”

“Maksudmu datanya dipalsukan?”

“Ya, bisa saja ‘kan? Kolonel Hanif pernah melakukannya satu atau dua kali, tujuannya adalah agar ia bisa masuk ke belakang garis musuh dan melakukan operasi di dalam sarang lawan.”

“Hmm … ”

“Bagaimana dengan website-nya? Apakah kau sudah mengecek website Indonesia Defense?”

“Sudah. Website-nya baru dibuat tiga hari yang lalu, persis seperti pernyataan Bu Felicia saat ia meneleponmu dua hari yang lalu. Ia tidak berdusta. Media ini memang benar-benar baru.”

“Nah, itu. Itu dia masalahnya! Mereka adalah media baru, majalah online yang baru muncul kemarin sore. Lantas bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan informasi tentang Han’s Security? Kita selalu bermain underground, tidak pernah go public, orang-orang yang mengetahui keberadaan Han’s Security hanyalah intelijen dan para klien Han’s Security. Jika benar mereka adalah media baru, dari mana mereka mendapatkan informasi tentang kita?”

“Mungkin … mereka mendapatkannya dari klien kita, Pak?”

“Oh, ya? Dari mana mereka tahu tentang klien kita? Hampir semua klien kita berstatus ilegal. Kalau mereka benar-benar perusahaan baru, mereka takkan mau mengambil resiko dengan menanya-nanyai klien ilegal seperti OPM, bukan begitu?”

” … ”

“Aku bukan paranoid. Aku waspada, Alex. Felicia ini punya informasi yang solid tentang keberadaan Han’s Security, aku khawatir ia adalah orang kiriman PIN.”

“Jika benar ia adalah orang PIN, lantas apa tujuannya mendatangi Han’s Security? Kau tahu situasinya, Pak. PIN tak berani berbuat apa-apa begitu mereka menyadari bahwa Amerika dan Australia berada di belakang kita, orang PIN sendiri yang dulu mengatakannya kepada kita. Mereka sudah mengibarkan bendera putih sebelum bertempur. Adalah sebuah keputusan yang sangat tolol apabila PIN tiba-tiba berusaha untuk mengambil tindakan sekarang, apalagi hanya dengan mengirim perempuan berjilbab seperti Felicia.”

“Jika ia bukan orang PIN, aku jadi lebih waswas. Siapa anjing ini sebenarnya? Perasaanku jadi tidak enak.”

” … ” Alex sekadar terdiam. Ia berdiri tegap menatapi atasannya yang tampak gelisah. “Apa yang akan kau lakukan, Pak? Haruskah kita menyingkirkannya sebelum ia tiba di sini?”

“Tidak, biarkan ia bermain. Walaupun ini membuatku gelisah, tetapi aku penasaran apa yang akan wanita ini lakukan,” ujar Chairuddin seraya menatap keluar jendela. “Tidak, tidak. Lebih dari itu, aku juga penasaran untuk siapa ia bekerja?”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *