8 – Day Off


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang
13.42

Kedamaian sekali lagi berkuasa, menentramkan napas para insan yang diburu oleh penguasa. Setelah puas memporak-porandakan kantor konsultan keamanan IT ternama di Kota Bandung, Subject 09 dan kedua mantan tetangganya lantas kabur ke tempat yang cukup jauh dari pengamatan aparat—lebih tepatnya mereka dibantu untuk kabur oleh Subject 17. Mereka dibawa ke daerah dataran tinggi yang sama dinginnya—kadang bahkan lebih dingin—dan sama sepinya dengan tempat tinggal Subject 09 di Lembang. Benar, Subject 17 membawa mereka ke tempat persembunyiannya. Sebuah safehouse.

Subject 09 tidak memprotes keputusan saudarinya, begitu pula dengan Verani dan Patih. Setidaknya, rumah yang terletak beberapa puluh kilometer dari Kota Malang tersebut akan memberikan waktu bagi mereka untuk berdamai dengan kehidupan. Belum lagi jika harus membicarakan luka-luka yang diderita oleh Subject 09 akibat konfrontasinya semalam lalu, rasanya hampir tidak mungkin untuk meneruskan perburuan.

Subject 09 dan Subject 17 akhirnya sepakat untuk menenangkan pikiran selama beberapa hari sebelum kembali turun ke lapangan. Verani dan Patih? Tentu saja mereka sepakat, mereka justru berharap takkan ada kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya. Mereka masih trauma, khususnya Verani. Menghadapi gerombolan pemerkosa saja sanggup membuat bulu kuduknya merinding, apalagi menghadapi gerombolan “preman” berlencana.

Siang itu pun akhirnya menjadi momen keakraban. Seraya bersanding dengan cericip burung dan suara tonggeret, mereka saling bercengkrama dan mengakrabkan diri. Sementara Subject 09 duduk berdua dengan Verani di bangku teras, Subject 17 mengajari Patih beladiri di halaman rumah. Mereka saling berinteraksi, saling bertukar tawa dan pengalaman. Subject 09 sendiri memilih untuk tetap duduk seraya menikmati rokoknya karena ia merasa harus menjelaskan kebenaran tentang dirinya kepada Verani. Ia sadar bahwa ia tak bisa terus-menerus hidup dibalik kepura-puraan.

“Patih tampak akrab dengan Felicia,” ujar Verani membuka percakapan.

“Hmm,” Subject 09 mendehem setuju. “Bagaimana tidak? Ia diajari beladiri oleh wanita cantik. Kalau Felicia jadi kakaknya, sudah tentu ia akan pamer kepada teman-teman sekolahnya,” lanjutnya menyeringai.

Verani menatapi Subject 09 selama beberapa saat, lalu tertawa kecil hingga tampak gigi-gigi depannya. “Ngomong-ngomong soal Felicia, aku sempat mengira ia adalah pacarmu. Pokoknya aku berpikir bahwa ia adalah seseorang yang sangat istimewa di dalam hidupmu, wajahnya saja cantik begitu. Rupanya ia adalah saudarimu.”

“Hmm, jadi itulah sebabnya kau marah dan melarikan diri dariku pada malam dimana aku bertikai dengannya.”

“Eh … hahaha. Uhm, iya … ” Verani menjadi gugup. Ia menundukkan kepala seraya memilin-milin bajunya. Percakapan pun terhenti sesaat. Ia dan Subject 09 lantas memandangi Patih yang begitu bersemangat mempelajari gerakan-gerakan bertarung. Sampai pada akhirnya, Verani memberanikan diri untuk mengutarakan rasa penasarannya.

“Uhm, Adam … ” sahut Verani lirih. Suaranya terdengar begitu manis, mungkin sesedikitnya berhasil membuat perasaan Subject 09 berdebur. “Kau berjanji akan mengatakan segalanya kepadaku—tentang hidupmu, tentang identitasmu, dan tentang duniamu.”

Subject 09 tak segera merespon. Ia melipat kakinya dan menghisap batang tembakaunya begitu dalam. Sesaat setelahnya, ia buang puntung rokok yang sudah menjuntai pada asbak di hadapannya, sembari menghembuskan polusi kecil dari mulutnya. “Kau yakin sudah siap untuk mendengar semuanya, Ve?” tanya Adam mengonfirmasi.

“Tentu, Adam. Aku tak ingin kita terus-menerus menjalin hubungan dalam kepura-puraan.”

“Baiklah jika demikian. Kurasa memang sudah saatnya kau mengetahui kebenaran tentang diriku. Aku hanya tak menyangka semuanya akan terungkap begitu cepat. Kita baru beberapa minggu hidup bersama, bukan begitu?”

“Mmm … ” Verani menganggukkan kepalanya.

“Sebelumnya, aku minta maaf jika selama ini kau merasa dibohongi olehku. Aku tak bermaksud demikian, aku hanya tak ingin membuatmu takut, gelisah, dan sedih. Kau berkata kepadaku bahwa kau ingin hidup tenang dan bahagia sebagaimana ibu-ibu muda yang lain, itulah alasan utama mengapa aku tak mengungkapkan jati diriku kepadamu.

“Tetapi, hari-hari itu sudah berlalu. Kini saatnya aku memberitahu apa yang telah kulakukan selama ini. Sejujurnya, aku bukan orang baik, Ve. Aku tak sebijaksana yang kau bayangkan—obrolanku tentang Tuhan dan kehidupan, semuanya hanya seperti topeng untuk menutupi kejahatanku. Aku melakukan hal yang sangat buruk sepanjang hidupku. Aku melakukan sesuatu yang bahkan tukang maksiat paling bengal sekalipun akan berpikir seribu kali untuk melakukan apa yang kulakukan,” jelas sang buronan panjang.

Ve menatapi pujaan hatinya dalam diam.

“Aku … aku membunuh orang untuk hidup, Ve … ”

Penuturan Subject 09 berhasil membuat Verani terhenyak, tetapi ia tak ingin terlihat syok di hadapan pujaan hatinya. Ia menyekat mulut dengan kedua tangannya dan menatapi Subject 09 tanpa berkedip. “M-maksudmu seperti pembunuh-pembunuh yang sering diberitakan di televisi?” tanyanya.

“Tidak, lebih mengerikan daripada itu, Ve. Bagaimana menjelaskannya? Aku ini … semacam mantan pembunuh rahasia pemerintah. Aku dilatih untuk mampu membunuh anak kecil sampai pejabat internasional. Hidupku sedemikian menjijikkan, kau tahu? Aku … aku bahkan tak tahu sudah berapa orang yang mati di tanganku.”

“M-mengapa kau melakukannya, Adam? Untuk apa?”

Adam terdiam sejenak, ia kembali menghisap rokoknya lalu menghembuskannya perlahan-lahan—seperti orang yang enggan bercerita. “Aku tidak begitu yakin, tetapi kurasa semuanya adalah soal menyelamatkan nyawa orang lain, Ve. Para pelatihku tak pernah berbicara soal tujuan, yang mereka tekankan adalah bagaimana agar hidup kalian—rakyat kecil—tetap tentram sekalipun kami harus membunuh jutaan orang sebagai upahnya. Dan aku tidak pernah bangga dengan perintah tersebut, walaupun pada kenyataannya jiwaku terpanggil untuk mengisi ‘lowongan’ tersebut.”

“Huh? A-aku tak mengerti. Jika kau tidak bangga, mengapa kau harus melakukannya? Kau bisa saja mengabaikan panggilan hatimu, tetapi mengapa kau menuruti nuranimu untuk menghilangkan nyawa orang lain?”

Subject 09 menghembuskan napas asapnya ke langit-langit. “Kau tahu? Aku sudah disodorkan dengan visualisasi kematian yang tak wajar sejak aku masih balita; aku melihat ibu-ibu hamil dibunuh, wanita muda diperkosa dan digorok, anak kecil hancur berantakan dihantam bom, kakek-kakek mati diberondong senapan mesin, dan sebagainya. Semuanya nyata. Aku bahkan beberapa kali diajak para pelatihku melihat langsung keadaan para korban.

“Orang-orang tersebut mati di tangan para penjahat, mulai dari penjahat kelas teri sampai penjahat kelas kakap. Para pelatihku ingin menyampaikan sebuah pesan lewat pengalaman mengerikan tersebut—bahwa sesungguhnya ada orang-orang di luar sana yang siap untuk mencabut nyawa demi tujuan yang tak jelas. Psikopat. Sejak saat itu, terbentuklah sebuah pemahaman: kalau orang-orang waras sepertiku tak bertindak, esok hari mungkin takkan ada lagi warga sipil yang ingin hidup tenang seperti kalian—punah. Itulah sebabnya aku merasa terpanggil,” papar Subject 09.

” … ” Verani kehabisan kata-kata. Ada semacam getir yang merajang dadanya, menghasilkan sebuah perasaan tak nyaman tanpa batas. Takut, tetapi bukan takut biasa, lebih dari sekadar takut. Entah apa.

“Sulit untuk menjelaskan semuanya. Kau baru akan paham jika kau melihat orang-orang di sekelilingmu mati dalam keadaan paling mengenaskan. Perasaanmu akan bercampur aduk sampai pada satu titik dimana kau takkan berpikir dua kali untuk menghentikan semua kegilaan yang kau lihat. Atau … kasus terburuknya adalah kau justru mencari cara untuk segera mati. Percayalah, Ve … di saat itu, semuanya akan terasa salah. Tak ada yang benar-benar bisa kau sebut sebagai kebenaran.

Verani masih terdiam. Ia kemudian menghela napas panjang seraya menopang kepala di atas kedua telapak tangannya. “Sejujurnya, aku bisa sedikit memahami perasaanmu. Kau tahu bagaimana masa laluku, aku pernah merasa bahwa semua pilihan yang kuambil adalah salah. Aku hanya tak bisa membayangkan kasus itu pada skenario pembunuhan seperti yang kau jalani.”

“Jangan dibayangkan, Ve. Aku tidak mau kau melihat apa yang kulihat. Kau tahu? Dulu aku memiliki 99 saudara seperjuangan. Dari total seratus orang kini tinggal dua puluh. Kau tahu apa yang terjadi pada delapan puluh orang sisanya?”

Verani menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mereka mati bunuh diri. Delapan puluh orang tersebut mengalami trauma berat akibat over-training dan menyaksikan kematian yang tak wajar hampir setiap hari. Mereka juga harus menyaksikan para penjahat dieksekusi dari jarak lima meter—agar terbiasa melihat kematian, kata para pelatih kami. Kau bisa membayangkan betapa depresinya mereka sehingga mereka memilih untuk mencabut nyawa sendiri.”

Verani menelan ludah. Ia seakan mendengar kisah fiksi, tetapi ia tahu Adam tidak sedang berbohong kepadanya. Ia memperhatikan setiap luka dan lebam yang diderita oleh pujaan hatinya, itu saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Adam memang hidup bersanding dengan kekerasan. “Lalu, b-bagaimana dengan nasib dua puluh orang lainnya?” tanyanya gelagapan.

Subject 09 menunjuk dirinya sendiri dan Subject 17. “Kami tetap hidup karena pada akhirnya kami mampu beradaptasi dengan rasa sakit, rasa takut, rasa sedih, dan rasa kehilangan. Kami mengubah kegelisahan menjadi kekuatan—menjadi keberanian tanpa batas.”

Verani mengatupkan kedua kelopak matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “O-oh, aku sempat skeptis orang-orang seperti itu ada di muka bumi, tetapi ternyata aku justru mengagumi salah satunya.”

Bibir Subject 09 tersungging. Ia mendehem, lalu kembali menghisap rokoknya.

“Bagaimana dengan identitasmu? Apakah namamu benar-benar Adam? Apakah nama Felicia benar-benar Felicia?”

Subject 09 melirik sejenak, lalu mematikan rokoknya di dalam asbak. Asap terakhir ia hembuskan dari mulutnya sebelum memulai percakapan. “Pertanyaan cerdas, Ve. Tampaknya kau tak jauh berbeda dengan anakmu; kau juga suka menonton film-film bertema intelijen, bukan begitu?”

“A-ahaha, tidak juga. Aku hanya menonton film semacam itu sekali-dua kali karena pemerannya ganteng.”

Subject 09 tersenyum dan tertawa mendengus. “Menjawab pertanyaanmu … tentu saja tidak, kami sebenarnya tak memiliki nama. Kami bahkan tak pernah punya akta lahir, aku sendiri tak tahu siapa orang yang telah melahirkanku. Sebagai gantinya, kami memiliki semacam variabel untuk membedakan antara satu anggota dengan anggota yang lain.”

“Variabel?”

“Ya. Aku misalnya dipanggil Subject 09 (Subject Nine) atau Subjek Sembilan oleh para pelatihku dan Felicia dipanggil Subject 17 (Subject Seventeen). Kami juga punya julukan, tetapi julukan bukanlah panggilan resmi, melainkan panggilan yang disematkan secara spontan. Misalnya seperti Subject 01 yang dijuluki Jurig, aku dijuluki Pitung, Felicia dijuluki Ninja, Subject 03 dijuluki Shemale, dan lain-lain.”

“O-oh … jadi nama aslimu hanya berupa angka, ya? Seperti sapi kurban.”

Subject 09 terkekeh mendengar pernyataan Verani, ia tidak protes. “Benar, kami memang seperti sapi kurban. Tetapi jika kau tetap ingin memanggilku Adam, aku tak masalah dengan hal tersebut. Lagipula, KTP Adam Sulaiman memang benar-benar kubuat beberapa tahun lalu.”

Verani mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum. Ia kemudian memutar-mutar jari telunjuknya di atas meja—seperti menggambar lingkaran. “Sebenarnya, ada satu hal lagi yang mengganjal, Adam. Sewaktu aku ditangkap, mereka—para aparat—mengatakan bahwa kau adalah penjahat. Mereka menyebutkan bahwa kau telah membunuh para pejabat negara, mereka lantas menunjukkan beberapa foto dan video tentang kekacauan yang kau buat. A-aku mau menyangkal hal tersebut, tetapi semua tampak begitu nyata. Dan … aku masih bingung, jika tujuan ultimate-mu adalah untuk menyelamatkan nyawa orang banyak, mengapa mereka memburumu? Mereka dan kau sama-sama orang pemerintah.”

Subject 09 mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lantas memajukan posisi duduknya. “Kau tahu insiden pembantaian Kampung Rimbun?”

“Uhh, ya … tak banyak, tetapi aku tahu. Itu sempat jadi breaking news di mana-mana.”

“Apa yang media katakan kepadamu? Siapa pelakunya?”

“Waduh, siapa ya? Aku tak ingat betul, tetapi kurasa kelompok teroris.”

“Benar, Laskar Pembebasan. Media mengatakan bahwa insiden itu dimotori oleh Laskar Pembebasan.”

“Oh, ya. Jadi, ada apa dengan Laskar Pembebasan?”

“Mereka tidak melakukannya,” ujar Subject 09 seraya menyandarkan punggungnya kembali.

“He? Jadi, siapa yang melakukan pembantaian tersebut?”

“Oknum pemerintah.”

Verani terbelalak. Tak ada kata terucap.

“Para pejabat yang kubunuh adalah koordinator lapangan insiden tersebut. Dan secara kebetulan, aku adalah warga Kampung Rimbun—satu-satunya yang selamat dari pembantaian. Terkejut?”


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Verani menahan napas selama beberapa saat. Lagi-lagi ia dibuat syok oleh pengakuan Adam. Matanya berkedip lebih cepat. Bulu romanya bergidik.

“Kampung Rimbun memang sarang kriminal, aku tak bisa memungkiri hal tersebut, tetapi bukan berarti tempat itu tak bisa berubah. Tujuanku di sana adalah untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat yang sedari kecil sudah diajarkan untuk melawan hukum. Singkatnya, aku sempat menjadi cendekiawan—momen itu terjadi setelah organisasi tempat aku bekerja dibubarkan oleh pemerintah. Aku juga punya keluarga angkat di sana yang terdiri dari seorang wanita tua dan seorang gadis SMP, mereka yang membantu proses perubahan perilaku masyarakat Kampung Rimbun. Dan semua itu hilang dalam sekejap mata ketika pasukan pemerintah datang dan menembaki semua orang. Aku kebetulan sedang tidak berada di sana, sehingga hanya aku yang selamat.”

” … ”

“Kini kau tahu mengapa aku membunuh para pejabat setelah hampir sekitar empat atau lima tahun hidup damai. Aku tak bisa memungkiri siapa diriku, aku tetap pembunuh rahasia pemerintah—walaupun sekadar mantan. Gigi dibalas gigi dan mata dibalas mata adalah prinsip yang tak bisa hilang dari kepalaku. Mereka bantai tetanggaku, kubantai balik. Sebagai pacifist, kau tentu sulit untuk memahami jalan pikiran ini, tetapi inilah kami. Kalau mereka tak dihukum, mereka akan membuat perkara yang sama di lain waktu. Korbannya bisa jadi orang-orang tersayang di sekitarmu.”

“T-tetapi mereka bisa menjadi dendam karena hal tersebut dan pembunuhan akan terus berlanjut.”

“Saat kebenaran terungkap, mereka akan berhenti. Aku juga akan berhenti. Manusia selalu punya titik jenuh.”

“Mengapa tak menggunakan kemampuan persuasimu sebagaimana saat kau mengubah pendirianku?”

“Ve, kalau kau hidup di duniaku, kau akan tahu bahwa tak semua orang bisa disentuh dengan kata-kata. Seringkali, kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang bisa dipahami oleh lawan. Idealisme itu damai, kenyataan itu keras. Manusia itu pada dasarnya memang primitif. Tak semua orang mau melihat kenyataan pahit ini.”

“Hmm … ” Verani menghela napas panjang. “Jadi, selama ini kau hidup seperti agen-agen CIA pengkhianat yang ditampilkan oleh Hollywood, ya?” Ia tampak kecewa—mungkin karena selama ini ia selalu membayangkan Adam sebagai seorang gentleman, bukan sebagai sosok yang melampaui gelar tersebut. Sebagai pembunuh rahasia pemerintah, siapa yang sangka?

“Bahkan lebih buruk, Ve. ”

“Sebenarnya … ” Verani menunda ucapannya. “Sebenarnya tujuanmu baik, kau berupaya untuk menyelamatkan nyawa orang banyak dan menghukum perbuatan menjijikkan para begundal berdasi tersebut, tetapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dari semua penjelasanmu. Mungkin aku kecewa karena aku masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa kau … jauh melampaui imajinasiku.”

Subject 09 tertegun. Ia kemudian mengembalikan pandangannya kepada Subject 17 dan Patih. Anak yang penuh semangat tersebut tampaknya memiliki talenta yang tak disadari oleh ibunya sendiri. Ia adalah seorang prodigy—seseorang yang mampu memahami dan mengaplikasikan pelajaran baru hanya dalam waktu yang sangat singkat. Bisa terlihat dari bagaimana ia mampu menyerap semua penjelasan Subject 17 begitu cepat. Subject 09 mengagumi Patih, sama seperti ia mengagumi Verani.

“Adam … kau adalah laki-laki yang baik. Aku … aku tak ingin berpisah darimu,” ujar Verani seraya menyandarkan kepalanya di atas meja. Ia terdengar manja.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Bahkan setelah kau mendengar segalanya?” Subject 09 berucap tanpa menoleh.

” … ” Verani diliputi oleh keraguan. Ia lantas memalingkan pandangannya. “Ini membingungkan bagiku. Di satu sisi aku takut, tetapi di sisi lain aku tak ingin berpisah darimu. Kau telah banyak menjawab keraguanku soal harapan, soal hidup, dan soal Tuhan. Terlepas dari apa yang kau lakukan untuk hidupmu, bagiku kau adalah sosok yang pantas untuk menjadi suami—kau benar-benar bertanggungjawab atas hidup kami. Tetapi … ugh—” lanjutnya seraya menyekat wajahnya di atas meja. Malu setengah mati.

Subject 09 tak merespon, ia sekadar menatapi Verani menyandarkan wajah di atas meja. Ia juga malu, sepertinya. Wajahnya menjadi kemerahan selama beberapa saat, tetapi kemudian kembali normal. Sesaat sebelumnya ia sempat berpikir tentang nasihat Subject 17 untuk meninggalkan Verani dan Patih, tetapi ia lantas tertohok dengan panggilan “suami bertanggungjawab” yang disematkan oleh Verani. Ia tak tahu apakah meninggalkan Verani dan Patih adalah jalan terbaik untuk membuat keduanya jauh dari ancaman?

Sementara itu, Subject 17 memperhatikan ekspresi Subject 09 dari kejauhan. Ia tahu saudaranya sedang terjerat dalam teka-teki. Ia sendiri kebingungan; harus di kemanakan Verani dan Patih? Keduanya sudah terlanjur dianggap sebagai pintu yang akan mengantarkan pemerintah kepada Adam. Kasus terburuknyakeduanya bisa jadi sudah masuk ke dalam daftar hitam pemerintah karena dianggap bekerjasama dengan teroris nomor satu di Indonesia. Seribu sial.

[nextpage title=”Next Page”]

Kafe Starbrooks
Jakarta, 15.12

Kapten Johan Burhanuddin tampak sedang menikmati kopi bersama koleganya, Hana Yuriska, di sebuah kafe ternama di kawasan Jakarta Pusat. Karena wajahnya penuh lebam, Johan pun mengenakan topi untuk menyamarkan luka-lukanya. Keduanya berada di sana bukan untuk berkencan atau mengobrol santai, tetapi untuk membicarakan beberapa hal yang tak Johan pahami.

Sambil menyeruput kopinya, Johan membuka percakapan dengan Hana, “Jadi, apakah kau mau memberitahuku tentang insiden Kampung Rimbun, Hana? Jangan bilang kau tidak tahu soal itu.”

Hana menatapi Johan dengan ekspresi terkejut, kedua matanya terbelalak. Wanita berkacamata itu pun menghela napas seraya tertunduk. Ia mencoba untuk tak salah tingkah. “Tampaknya Adam telah berbicara banyak soal itu, ya?”

Johan mematung. Ia menahan cangkir di depan mulutnya. “Ah. Gila kalian semua, jadi pembantaian itu memang dilakukan oleh kalian. Pantas saja aku merasa ganjil, mana mungkin kelompok kroco seperti Laskar Pembebasan mampu membersihkan satu kampung tanpa sisa?” Johan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia begitu kecewa.

“Kapten, Kampung Rimbun adalah sarang kriminal, beberapa bahkan sudah hampir menjadi bandar narkoba berbahaya sekelas Pablo Escobar. Mereka sudah diberi ultimatum dan nasihat oleh pemerintah selama bertahun-tahun, bayangkan, bertahun-tahun. Tetapi apa jawaban mereka? Mereka malah membunuh polisi, membunuh tentara, bergabung dengan mafia-mafia narkoba, mendirikan jaringan perbudakan, dan sebagainya. Kau tahu itu, Kapten. Kurasa sudah jelas mengapa kita harus membersihkan mereka, ini sebagai pelajaran untuk masyarakat yang lain.”


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Tetapi mereka berada di sana juga karena pemerintah. Kampung Rimbun terbentuk pasca krisis ekonomi 1998, pada waktu itu muncullah pengangguran-pengangguran yang kecewa terhadap sikap pemerintah. Mereka kecewa karena sudah berkali-kali memohon bantuan secara damai, tetapi diabaikan oleh pemerintah, beberapa diantaranya bahkan dibunuh karena terlalu vokal. Sejak saat itulah mereka mengajarkan anak dan cucu mereka untuk melawan hukum. Masak kau tidak tahu sejarah ini?”

“Itu dosa pemerintah tahun 1998, semuanya sudah berlalu, pemerintah sekarang sudah berubah. Masyarakat Kampung Rimbun sudah kami berikan bantuan moril dan materi. Mereka tetap melunjak. Aku tetap berkeyakinan bahwa black op yang kami jalankan adalah keputusan yang benar. Itu adalah hukuman yang setimpal.”

“Kurasa tak semua masyarakat Kampung Rimbun seperti yang kau kira. Tak mungkin kalau satu kampung yang dihuni ribuan orang itu semuanya kriminal. Lagipula, kriminalitas yang berasal dari Kampung Rimbun adalah masalah prinsip, kau tidak bisa mengubahnya secara tiba-tiba. Itu sudah doktrin dari ayah dan ibu mereka yang hidup di tahun 1998,” ujar Johan seraya menyandarkan punggungnya. “Aku punya teori yang lebih menarik. Bagaimana jika seandainya alasan pembantaian Kampung Rimbun bukan karena kriminalitas penduduknya, tetapi karena ada yang membayar kalian untuk membersihkan tempat tersebut?”

Ekspresi Hana sontak berubah. Keningnya berkerut, amarah dan rasa heran seketika menyelimuti jiwanya yang semula damai. “Kapten, kami tidak mungkin melakukan itu! Itu sama saja kami membantu penjajah untuk merongrong Nusantara!”

“Benarkah? Adam sempat menyebut ‘orang asing dibalik Kampung Rimbun’ saat ia menginterogasiku.”

“Dan kau percaya kepada ANJING tersebut!?”

Well, ia tak berbicara kepadaku, ia berbicara kepada temannya. Kurasa tak ada alasan ia berbohong.”

“Kau ditipu mentah-mentah, Kapten! Entah kepada siapa ia berbicara semalam lalu, tetapi ia adalah musuh nomor satu Republik Indonesia saat ini, ia sudah pasti berbohong untuk mencari keuntungan! Bangsat.”

“Mencari keuntungan?” Johan memajukan posisi duduknya dan menatapi Hana dengan sorotan tajam. “Adam tahu persis seberapa jauh kemampuanku, ia tidak mungkin mengharapkan aku membelot dari kalian. Ia agen brilian. Lalu, keuntungan macam apa yang bisa ia dapatkan dari membohongiku? Nihil!”

“Kapten, dengan segala hormat, kau harus sadar bahwa kecoak tersebut adalah musuhmu! Ingatlah bahwa perang adalah tipuan dan ia sedang berupaya menipumu. Memangnya kau bisa membuktikan bahwa ia tidak berbohong? Apakah kau semacam Tuhan yang mengetahui segala rencana manusia? Dan jika kau benar-benar meyakini bahwa kami membantu pihak asing menyapu bersih Kampung Rimbun, bisakah kau tunjukkan buktinya? Kau telah menuduh Pusat Intelijen Negara melakukan konspirasi, hukumannya bisa sangat berat, Kapten.”

Johan kembali bersandar. Ia menyeruput kopinya, lalu meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Ia sama sekali tak merasa terancam oleh intimidasi rekannya. “Aku tak bilang bahwa ia adalah temanku. Tetapi baiklah, aku takkan meneruskan perdebatan ini. Walaupun demikian, aku perlu memberimu peringatan, Hana … aku juga aparat, sama sepertimu, sama seperti Mayjen Riyadi. Jika aku mendapati kalian bersekongkol dengan pihak asing suatu saat kelak … ” Johan memotong ucapannya, ia mendekati wajah Hana.  “Aku juga punya hak untuk melibas kalian. Kopassus diciptakan sebagai penghancur, kau tahu?”

Hana terdiam sejenak, ia menatapi rekannya dengan perasaan waswas. Begitu saja yang terjadi selama beberapa saat. Tak ada ucap, tak ada jawab. Sampai pada akhirnya, Hana pun menghembuskan napas panjang seraya menepuk pundak Johan. “Takkan sampai terjadi seperti itulah, Johan! Kepalamu itu terlalu banyak mengalami benturan, sampai-sampai kau menjadi sedikit gila. Sudahlah, tak ada untungnya meneruskan perdebatan ini! Daripada memikirkan soal Kampung Rimbun, mengapa kau tidak mulai memikirkan waktu berlatih dengan Tenma?”

Johan tak segera merespon. Ia menatapi Hana dengan kening berkerut, wajahnya tampak gusar. Tetapi, ia tak ingin terhanyut oleh perasaan. Bagaimanapun, Hana adalah rekan kerjanya dan wanita itu telah berjuang keras untuk menangkap Adam. Ia sendiri masih menginginkan hal yang sama dengan Hana—tangkap Adam hidup atau mati, paling tidak begitulah yang ia inginkan sampai detik ini. Tak ada untungnya berkelahi dengan Hana sekarang.

Tch, aku masih belum percaya kalian mampu mengendalikan wanita itu. Bagaimana pun, ia adalah saudari Adam di Project SAKTI, ia bisa saja lepas kendali dan membunuhku dengan pukulan mautnya itu. Aku tidak berniat untuk bunuh diri sekarang,” ujar Johan.

“Tenang saja, Kapten. Dia sudah 100% di bawah kendali PIN. Kau bisa melihat hasil tesnya di laboratorium PIN. Kau bahkan bisa berkencan dengannya tanpa kekhawatiran, jika kau mau. Lie detector kami pun tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sedang berpura-pura atau berakting.”

“Kau percaya pada lie detector?”

“Alat yang kami gunakan bukan lie detector biasa, Kapten. Alat ini diciptakan secara khusus oleh Israel untuk instansi-instansi tertentu di seluruh dunia, termasuk PIN. Kami akhirnya memesan satu unit untuk menginterogasi bibit-bibit teroris di sini. Hasilnya ratusan kali lebih akurat daripada lie detector biasa.”

“Hhh … ” desah Johan seraya bersandar luruh di kursinya. Sejenak ia menjernihkan pikirannya dengan menatap keluar jendela, lalu mengembalikan fokusnya kepada Hana. “Tak tahulah, aku belum mood untuk menemui Tenma. Aku perlu waktu untuk memulihkan fisikku hingga kembali prima. Sekalipun yang kau katakan benar, tetap saja akibatnya akan fatal jika ia sampai tak sengaja meninju wajahku. Lihat wajahku sekarang, begini kurang lebih hasilnya,” ujar Johan menunjukkan wajahnya kepada Hana.

Hana tersenyum lebar, ia akhirnya berdamai dengan rekan utamanya. Tanpa menjawab lagi, ia pun menyeruput kopinya sembari menikmati langit sore yang menguning dari balik jendela. Sesekali ia mencuri pandangannya kepada Johan, seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan dari perwira muda korps baret merah tersebut. Jantungnya berdegup seperti menggila, perasaannya menjadi tak menentu. Ia memang menyembunyikan sesuatu dari Johan, entah apa.

TO BE CONTINUED

<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!