7 – Rampage


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Subject 09 tampak murung di ruang kemudi mobilnya. Ia masih terngiang dengan kata-kata saudarinya beberapa jam lalu saat melakukan pertemuan rahasia di sebuah kantin. Menyupirnya bahkan menjadi lambat, tak seperti biasanya. Benaknya benar-benar diselimuti oleh fakta yang sulit untuk dipercaya. Bukan tentang politik, bukan tentang pembunuhan, tetapi tentang perasaan.

Subject 09 mengingat-ingat percakapannya dengan Subject 17.

***

“Kita akan memburu Hanif Wahyudin, itu sudah pasti. Kita akan ke Papua, sambangi Han’s Security, culik orang-orang terbaik di perusahaan keamanan swasta tersebut, lalu kita pukuli mereka sampai memuntahkan semua informasi berharga tentang Hanif. Itu bukan perkara sulit. Masalahnya adalah bagaimana kau akan menjelaskan segalanya ke … UGH … pacarmu itu?” tanya Subject 17. Masih dengan bahasa Jepang.

“Pacar?” Subject 09 terdiam sejenak. “Dia bukan pacarku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan operasi ini,” ujarnya seraya mengalihkan pandangan.

“Bukan pacarmu? Benarkah? Lalu, dia itu apa? Adikmu? Kakakmu? Dia tinggal serumah denganmu, bagaimana kau akan menjelaskan hal itu kepadaku? Lagipula, kau tetap harus mengatakan bahwa kau akan pergi ke Papua ‘kan? Kau rela meninggalkannya sendirian selama berhari-hari? Tidak ada yang tahu harus berapa lama kita mencari jejak Hanif di Papua,”

” … “ Subject 09 kembali terdiam, ia tak segera memberikan respon terbaiknya kepada Subject 17. “Sulit untuk dijelaskan.”

Felicia menepuk wajahnya sendiri. “Sulit untuk dijelaskan, ya? Astaga, seseorang yang tak pernah kesulitan menghadapi aliansi politik sebesar NATO justru kesulitan menjelaskan hubungannya dengan seorang wanita sipil,” ujarnya sinis.

“Situasinya berbeda, Seventeen. Politik bukan soal perasaan. Lagipula kita bukan menghadapi NATO waktu itu, tetapi menghadapi oknum-oknum NATO yang berusaha mengacaukan situasi politik di sini. Kau tahu ada beberapa dari mereka yang bergerak independen.”

“Kau mulai senang berkelit,” Subject 17 melipat kedua tangannya di depan dada. Ia merasa tak puas. “Kuberitahu kau sesuatu, Nine. Wanita yang kau bawa ke rumahmu itu jatuh cinta kepadamu. Aku bisa melihat dari mata dan sikapnya. Jadi, saranku kau harus menceritakan segalanya tentang dirimu dan menjauhlah dari kehidupannya! Kau tentu tak mau ia semakin sakit hati oleh kebohongan-kebohongan yang kau buat, bukan begitu? Apalagi jika ia sampai meregang nyawa akibat konflikmu dengan pemerintah.”

” … “ Subject 09 enggan merespon. Ia sempat menatapi Subject 17 selama beberapa saat, namun kembali tertunduk setelahnya. “Mengapa kau begitu peduli, Seventeen?”

“Karena kau akan membahayakan nyawanya, Nine! Cepat atau lambat ia akan tertimpa masalah, itu pasti. Ditambah lagi ia jatuh cinta kepadamu; sekali saja kau melukai hatinya, ia mungkin akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri dan anak semata wayangnya. Bisa saja suatu hari ia ngambek, lantas kabur dari rumah dan mendatangi kantor polisi. Mampuslah kalian.”

“Aku akan berupaya untuk tidak melukai perasaannya, kalau begitu.”

“Ugh … “ Subject 17 mulai merasa jengkel terhadap sikap saudaranya. Sedikit demi sedikit, kerut-kerut kejengahan mulai menguasai tiap sudut wajah manisnya. Ekspresi yang tak pernah ia singkap kepada publik kini dapat dilihat oleh semua orang, walaupun faktanya tak ada orang yang benar-benar memperhatikannya. “Kau benar-benar melupakan prinsip agar tidak menjalin hubungan intim dengan siapapun kecuali terhadap sesama anggota Project SAKTI.”

“Aku bukan anggota Project SAKTI lagi, Felicia,” Subject 09 sontak bangkit dari tempat duduknya. Ia membisu sejenak, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. “Aku bukan alat siapa-siapa lagi. Setelah semua ini selesai, aku akan pensiun dari dunia hankam. Jadi, jangan menghakimi soal hubunganku dengan Verani. Dia adalah bagianku dan aku adalah bagiannya. Titik,” lanjutnya seraya bertolak.

Subject 17 menatap Subject 09 dengan kedua mata terbelalak. Kedua tangannya mengepal, ia tak percaya saudaranya telah banyak berubah. Monster yang diciptakan oleh pemerintah RI untuk menangkal segala gangguan asing di tanah air tersebut telah bertranformasi menjadi manusia penuh kasih sayang. Ia tak menyangka perasaan manusiawi itu bisa kembali tumbuh setelah puluhan tahun diluluhlantakkan oleh The Creator.

Merasa terkalahkan oleh argumentasi saudaranya, Felicia pun tertunduk. “Terserah bagaimana maumu, Nine. Tetapi ingatlah, kau takkan mampu menghindari jati dirimu yang sesungguhnya. Sejak awal kau diadopsi, kau sudah didesain untuk menjadi penghancur–“

“Dan menjadi pelindung. Jangan lupakan hal itu, Felicia. Aku tidak lari dari siapa diriku yang sebenarnya. Aku akan selalu menjadi aku,” sela Subject 09. Ia lantas berjalan menjauhi meja makan tempat ia dan Subject 17 berbincang.

Percakapan antara kedua pembunuh paling berbahaya di tanah air itu pun berakhir tanpa ucapan selamat tinggal. Tak ada tanggapan apa pun dari Subject 17 pasca mendengar kata-kata menohok dari pria yang kerap dipanggil Adam tersebut, wanita berjilbab nan anggun tersebut lantas menikmati makan siangnya tanpa teman. Kembali kepada rutinitas yang membosankan.

***

Subject 09 kembali terfokus mengemudikan mobilnya. Wajahnya berselimut gundah, seakan kata-kata Subject 17 menjadi teka-teki untuknya. Menyupirnya tetap lambat, sama seperti sebelumnya. Meskipun ia tampak begitu membela eksistensi Verani, namun hatinya memberontak. Bagaimana jika perkataan Subject 17 menjadi kenyataan? Bagaimana jika Verani dan Patih disiksa oleh aparat karena ketahuan berhubungan dengan buronan nomor satu di Indonesia? Bagaimana jika keduanya bernasib sama seperti Adinda dan ibunya di Kampung Rimbun?

Subject 09 sadar bahwa perkataan Subject 17 mengandung kebenaran yang tak mampu ia elak. Ia paham betul konsekuensi yang harus ia terima jika tetap nekat menjalin hubungan dengan warga sipil seperti Verani dan Patih. Akan tetapi, ada perasaan di dalam hatinya yang menolak untuk menihilkan kehadiran kedua sosok tersebut dalam hidupnya.

Perasaan apa? Subject 09 mulai mempertanyakan motifnya sendiri. “Pacar?” tutupnya mengakhiri kerisauan senja itu.

***

Senja semakin menguning. Subject 09 akhirnya tiba di rumah tercinta. Ia keluar dari ruang kemudi mobilnya dan berjalan tenang ke teras rumah. Nuraninya begitu menggebu, ia berniat mengungkapkan kebenaran kepada orang yang ia lindungi selama beberapa waktu terakhir.

Akan tetapi, ada sesuatu yang tak beres. Subject 09 mendapati pintu rumahnya sedikit terbuka. Tanpa berpikir dua kali, ia segera mencabut pistol dari balik celananya. Kedua alisnya menyeringai tajam, perasaannya mulai bercampur aduk. Brak! Subject 09 pun menghantam pintu dengan bahunya seraya membidikkan pistol ke sudut ruangan. Tak ada siapa-siapa.

Ruang tamu aman. Subject 09 lantas bergerak cepat menyisir setiap ruangan di dalam rumahnya. “Ve! Patih!” Ia juga berusaha memanggil kedua mantan tetangganya, namun tetap tak ada jawaban. Rumahnya benar-benar kosong, tak ada siapa-siapa.

Perasaan Subject 09 semakin tak menentu, napasnya bahkan mulai terdengar tak beraturan. Selain kedua mantan tetangganya hilang, rumahnya juga tampak berantakan; kertas-kertas berserakan, album foto berjatuhan, vas bunga pecah, dan lain-lain. Tak salah lagi, Verani dan Patih pasti diculik.

Subject 09 menjatuhkan pistolnya. Ia lantas menggenggam wajahnya begitu keras, gigi-giginya pun saling menggertak. Amarahnya menjadi-jadi. BRAAAK! Tak lama kemudian, ia melepaskan tinjunya ke dinding rumah. Pukulannya sontak membuat tembok rumahnya remuk, paling tidak beberapa tumpuk batu bata hancur diterjang tinjunya.

Tak ingin tenggelam di dalam lautan amarah, Subject 09 pun menghela napas panjang. Ia mencoba meredakan kemarahan dengan mengatur napas dan menenangkan pikiran. Begitu jiwa dan raganya terkendali, ia bergegas ke arah kamarnya. Ia lantas mencabut salah satu petak ubin di dalam kamarnya dan mengambil laptop yang ia sembunyikan di baliknya. Laptop pun dinyalakan, ia segera membuka aplikasi camera recorder yang tersambung dengan kamera yang ia pasang di depan rumah. Ya, selama ini ia memang memasang micro-cam di teras rumah.

Subject 09 memutar rekaman yang terjadi selama dua belas jam terakhir. Ketemu! Para penculik tolol tersebut tampaknya tak menyadari kamera mini yang Subject 09 pasang di depan rumahnya. Di dalam rekaman tersebut, tampak tiga orang laki-laki berbadan besar memasuki rumahnya secara paksa. Beberapa menit kemudian, mereka menarik Verani dan Patih keluar dari rumah, lalu memaksa keduanya masuk ke dalam mobil.

Melihat rekaman tersebut, Subject 09 kembali disengat oleh perasaan gusar. Ia mengepalkan kedua tangannya, namun tak sampai menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Ia berusaha menahan diri.

Tak bisa tinggal diam, Subject 09 pun melacak keberadaan sang penculik. Ia meretas semua kamera keamanan di wilayah Kota Bandung, termasuk kamera CCTV milik pemerintah yang dipasang mendampingi lampu lalu lintas di setiap persimpangan jalan. Ratusan kamera menampilkan gambar secara bersamaan di layar laptop-nya. Subject 09 tidak kebingungan, ia segera mengaktifkan program khusus untuk melacak mobil target secara real-time.

Subject 09 mengunggah beberapa gambar Mercedes Benz G-Class ke dalam aplikasi tersebut. Tujuannya adalah agar aplikasinya dapat segera mengenali visualisasi objek yang dimaksud oleh Subject 09 dan mencocokkannya dengan gambar yang muncul dari ratusan kamera saat ini.

Pencarian membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setelah sekitar lima belas menit menanti, laptop Subject 09 akhirnya memberikan tanda bahwa aplikasinya berhasil menemukan objek yang diminta. Ada lima mobil serupa yang dicitrakan oleh aplikasi, salah satunya sangat mirip dengan mobil penculik Verani dan Patih. Subject 09 segera mengecek plat nomor mobil tersebut. Cocok.

Subject 09 berhasil menemukan pelaku. Dugaanya benar, si penculik masih berada di sekitar Kota Bandung. Ia lantas mempersempit pencarian. Dari ratusan kamera yang ia retas, kini tinggal beberapa puluh saja yang diaktifkan di laptop-nya. Matanya berusaha mengikuti ke mana para penculik pergi, sampai pada akhirnya, pengamatan pun berakhir di sebuah kantor yang cukup besar. Kantor konsultan keamanan IT. Target masuk ke lahan parkir bawah tanah dan menghilang.

Subject 09 tak hendak mengulur waktu, ia segera mencari informasi mengenai kantor keamanan IT tersebut. Ia mencari informasi dasar di internet, berupaya mencari tahu siapa yang membangun dan mengelola perusahaan tersebut. Ketik, ketik, ketik. Semuanya tampak normal, ia tidak menemukan tanda-tanda relasi dengan pemerintah. Kini tersisa sebuah pertanyaan: mengapa para penculik yang notabene agen pemerintah bersembunyi di kantor swasta tersebut?

Tak puas dengan penggaliannya, Subject 09 lantas berusaha meretas komputer server di kantor tersebut. Jika ia bisa masuk ke dalam server, ia akan dengan mudah masuk ke dalam setiap komputer klien yang terhubung dengan server terkait. Akan tetapi, seperti yang ia duga, kantor keamanan IT seperti itu tentu memiliki sistem keamanan yang tangguh. Subject 09 berhasil masuk ke dalam server, namun ia tak bisa melakukan apa-apa kecuali melihat tampilan log-in server. Jika ia memaksa membobol username dan passphrase yang diminta, sistem akan segera memberikan peringatan kepada pemilik server. Hal itu akan beresiko membuat para penculik kabur sebelum ia sempat beraksi ke dalam kantor tersebut.

Tujuan ia meretas server di kantor tersebut adalah untuk mengenali layout bangunan melalui CCTV yang pastinya terpasang di setiap sudut ruangan. Jika ia dapat mengenali layout bangunan, ia akan dengan mudah merangsek masuk ke dalam kantor tersebut dan mengetahui di mana saja spot-spot yang cocok untuk bersembunyi.

Tak ada waktu untuk merenung, Subject 09 pun bergegas mengambil ponselnya. Dalam situasi seperti itu, ia tak benar-benar bisa merasa tenang. Ia harus meminta bantuan kepada seseorang. Seseorang yang sudah sangat ia kenal, tentunya. Speaker pun ia himpitkan di telinganya, menunggu seseorang mengangkat teleponnya.

Siapa ini? Bagaimana kau bisa menemukan nomorku?” Seseorang mengangkat telepon Subject 09. Seorang wanita, lebih tepatnya.

“Seventeen, aku butuh bantuanmu,” keputusan yang ironis, Subject 09 justru menghubungi Subject 17 untuk meminta bantuan. “Aku butuh informasi mengenai kantor konsultan keamanan IT yang bernama NetCaptain di daerah utara Bandung. Apakah kau punya sedikit bocoran mengenai kantor tersebut?”

Nine? Apa yang terjadi? Mengapa pula tiba-tiba kau tertarik dengan NetCaptain? Kau terdengar stres.

“Aku tak punya waktu untuk curhat, Seveteen. Aku membutuhkan informasi mengenai NetCaptain sekarang.”

” … ” Subject 17 tak segera merespon, ia membisu sejenak. “NetCaptain punya kesepakatan rahasia dengan pemerintah. Kudengar database PIN dibobol oleh seseorang dan itu membuat pemerintah harus mencari sistem keamanan baru yang lebih canggih. Mereka mendatangi NetCaptain, membeli sistem keamanan NetCaptain, lalu meminta agar kantor NetCaptain dapat dijadikan safehouse teraman dan tecanggih di Bandung. Dalam kata lain, itu sebenarnya markas cabang PIN.

Database PIN dibobol … hmm, terasa seperti deja vu.”

Sudah kuduga itu ulahmu. Sekarang katakan kepadaku mengapa kau begitu tertarik dengan NetCaptain? Kau mau mengacau? Tidak akan ada sesuatu yang menarik di sana, Nine. Hanya ada orang-orang PIN yang masih bau kencur dan terjebak rutinitas. Paling tidak, begitu yang kutahu untuk saat ini.

“Kau salah. Justru malam ini sedang ada sesuatu yang menarik. Para cleaning service dari kasus Kampung Rimbun kemungkinan besar berkumpul di sana.”

Ha!? Memangnya ada apa?

“Verani dan Patih … mereka diculik oleh orang-orang pemerintah di kantor NetCaptain.”

Hah!? Serius!?” Subject 17 begitu terkejut mendengar pengakuan saudaranya. Ia pun menghembuskan napas panjang nan berat, tak percaya Subject 09 akhirnya kecolongan. “Bajingan! Kapan peristiwa itu terjadi?

“Saat aku menemuimu.”

Aku tak punya informasi lebih banyak, Nine. Sistem keamanan di kantor tersebut sangat canggih, aku bahkan tak mampu mengetahui layout internal bangunannya. Jika kau mau ‘meretas’ kantor tersebut, kau harus melakukannya secara langsung dan banyak interogasi yang harus kau lalui.

“Aku tahu itu, Seventeen. Aku hanya mau bertanya apakah kau punya beberapa C4?”

Ya, sisa operasiku dulu. Kau mau meledakkan bangunan tersebut? Bagaimana pun itu milik sipil, Nine. Jangan gila.

“Tidak, targetku adalah power supply, bukan bangunan utama. Aku tidak bisa meng-overload transformator di kantor tersebut, jadi satu-satunya cara adalah menghancurkan sumber tenaganya.”

Hmm, begitu … ” Subject 17 kemudian terdiam. “Nine, jika kau hendak mengacau di NetCaptain, tampaknya aku harus ikut denganmu,” lanjutnya.

“Hmm? Beberapa saat lalu kau tampak begitu menolak keberadaan Verani–“

Bukan soal Verani, tetapi soal Kampung Rimbun. Aku ingin tahu apakah kasus itu punya koneksi dengan Operasi Antisakti. Lagipula, ada yang ingin kusampaikan terkait dengan kasus Kampung Rimbun, aku lupa memberitahumu tadi,” ujar Subject 17 memotong.

Subject 09 menghela napas panjang, ia menunda jawabannya. “Hmm, jika kau berkata demikian, aku ‘sih senang-senang saja ada yang mau membantu.”

Kapan kau berangkat?

“Sekarang. Aku tak punya banyak waktu. Para penculik masih di dalam gedung, aku tak bisa membiarkan mereka pergi dari sana.”

Oke. Temui aku di ordinat 68.9, 105.7 sekarang.

“Diterima. Bawa semua peralatan yang kau punya. Aku akan melakukan sesuatu malam ini.”

Apa yang akan kau lakukan dengan mereka?

“Apa lagi?” Subject 09 menunda ucapannya. “Bantai mereka semua.”

***

Kantor NetCaptain, Bandung
18.09

Terjadi aktivitas besar di sebuah bangunan paling aman seantero Kota Bandung. Bangunan itu merupakan kantor dari perusahaan konsultan keamanan IT yang sedang naik daun, yakni NetCaptain. Tak hanya digunakan sebagai tempat bekerja bagi para ahli network security, gedung itu juga digunakan sebagai safehouse untuk para anggota intelijen pemerintah. NetCaptain memang dikabarkan menjalin kerjasama rahasia dengan pemerintah pasca pemerintah membeli jasa NetCaptain untuk melindungi database PIN. Terang saja keamanan gedung tersebut tampak posesif; lapisan pertama untuk melindungi data perusahaan, lapisan kedua untuk melindungi informasi intelijen.

Sebagaimana dugaan Subject 09 sebelumnya, Verani dan Patih benar-benar ada di dalam bangunan canggih tersebut. Dengan ekspresi penuh kekhawatiran, keduanya digiring oleh beberapa orang pria bertubuh kekar dan berwajah sangar. Para pria tersebut merupakan aset PIN yang diperintah untuk menemukan jejak Adam Sulaiman di sekitar Bandung. Sayangnya, mereka tak bisa menemukan sang buronan, sama seperti anggota PIN yang lain. Sisi positifnya, mereka justru berhasil mendapatkan Verani dan Patih, dua orang yang disinyalir memiliki ikatan istimewa dengan Adam.

Informasi tersebut sangat membahagiakan PIN. Kapten Johan Burhanuddin selaku pimpinan lapangan Operasi Antisakti 2.0 lantas memerintahkan para anggotanya untuk membawa Verani dan Patih ke kantor NetCaptain. Dialah alasan mengapa kedua orang terdekat Adam itu berada di NetCaptain.

Rekan Johan, Hana Yuriska, tak tampak malam itu. Kabarnya ia sedang mengawasi pergerakan Adam di luar Kota Bandung.

Belum jauh berjalan, tiba-tiba para anggota PIN yang mengawal Verani dan Patih terhenti. Salah satu dari mereka menghadap Verani. “Nona, mohon maaf, Anda dan putra Anda harus berpisah untuk sementara waktu. Putra Anda akan berada di ruangan sebelah, ia akan dijaga oleh salah seorang pegawai kami dengan berbagai macam permainan yang tentunya akan menenangkan hati putra Anda,” ujarnya sembari menunjuk ruangan di samping tempatnya berdiri.

“E-eh? B-berpisah? Jangan. A-aku tak bisa berpisah dari Patih,” ujar Verani gelagapan.

“Nona, kami mengerti Anda begitu menyayangi buah hati Anda. Tetapi ini harus dilakukan karena pimpinan kami ingin berbicara dengan Anda secara empat mata.”

“M-memangnya tak bisa kalau Patih ikut denganku? A-aku tak bisa meninggalkannya … “

“Nona, mohon pahami situasinya–“

“T-tidak! Tidak. A-apa pun yang terjadi, jangan pisahkan aku dengan putraku!” Verani mulai terdengar gelisah, benaknya mulai memikirkan hal-hal yang ekstrem.

“Nona! Ini perintah dari atasan kami!” Tak mau kalah suara, sang pria pun membentak Verani. Suaranya nan gahar membuat seisi ruangan geger.

Verani segera memeluk putra semata wayangnya. Dengan ekspresi sedikit mengancam, ia berupaya membuat sang pria mundur dari pendiriannya. “Aku takkan berpisah dari anakku.”

“Cukup!” Sang pria geram, ia lantas menggenggam pergelangan tangan Verani dengan kasar dan berusaha memisahkan sang ibu muda dari putra semata wayangnya. Terjadi keributan kecil antara Verani dan sang pria, namun semua tak butuh waktu lama. Seseorang datang melerai perseteruan hanya dengan suaranya nan lantang.

“Ruslan! Lepaskan dia!” seru sang pelerai. Ia tampak seperti pimpinan dari gerombolan penculik tersebut. “Jangan kasar! Kau mau kutinju, hah!?” lanjutnya marah. Suasana menjadi sunyi seketika waktu.

“K-Kapten!” Pria bernama Ruslan itu pun menghormat kepada atasannya. Ia langsung gemetar ketakutan. “T-tetapi, nona ini–“

“Tidak ada tapi-tapi! Kau adalah aset PIN dan kau direkrut untuk menjadi pelindung rakyat. Bersikaplah seperti sosok demikian, Ruslan!”

“S-siap, Kapten!” Ruslan tak lagi peduli pada Verani. Ia sekadar berdiri tegap di hadapan atasannya dengan tubuh gemetar, begitu takutnya ia dengan sang pimpinan berparas tampan tersebut.

“Kalian siapkan ruangan. Aku saja yang bicara dengan Nona Verani.”

“Siap, Pak!” Beberapa pria yang berdiri di sekitar sana lantas menghormat kepada sang pimpinan, lalu bergegas menuju ruangan tujuan masing-masing.

Kini tinggal sang kapten, Verani, dan Patih di sana.

“Maafkan aku, nona. Beberapa dari mereka adalah anak buahku di militer, jadi masih suka membawa-bawa sikap militer ke setiap aspek kehidupan,” sang pimpinan merasa bersalah atas perlakuan anak buahnya, ia lantas membungkukkan tubuhnya. “Sekali lagi, aku minta maaf.”

“E-eh, tidak apa-apa. A-aku hanya syok mengetahui harus berpisah dari Patih dalam keadaan yang asing seperti ini,” jawab Verani.

“Kau tidak perlu khawatir, nona. Kami dari aparat justru hendak melindungimu dari ancaman yang dapat membahayakan nyawamu dan anak semata wayangmu,” tutur sang perwira muda tersenyum. “Oh iya, sebelumnya aku mau memperkenalkan diri. Namaku Johan Burhanuddin. Aku berada di sini untuk membantu teman-teman intelijen mendapatkan informasi teror yang belakangan sedang menjadi pembicaraan hangat rakyat Indonesia,” lanjutnya ramah.

“B-bahaya? T-teror? Apa yang sedang kau–“

“Kudengar paman dipanggil ‘kapten’ beberapa kali oleh beberapa pria tadi. Apakah paman seorang prajurit?” tiba-tiba saja Patih menyela percakapan antara Johan dan ibunya. Ia sama sekali tak tampak takut, setidaknya tak terguncang seperti ibunya.

“Oh, rupanya kau memperhatikan,” Johan menghampiri Patih dan berjongkok di depan anak bertubuh pendek tersebut. “Kau tampak cerdas. Apakah kau menyukai dunia militer?”

“Tentu! Militer, intelijen … pokoknya hal-hal semacam itu. Apakah paman merupakan anggota Kopassus? Menurut internet, Kopassus sering bekerjasama dengan PIN.”

Whoa! Nalurimu tajam sekali, nak! Benar, aku adalah anggota Kopassus. Tak kusangka jati diriku ketahuan oleh anak kecil sepertimu. Kau berpotensi menjadi sehebat James Bond,” ujar Johan seraya mengusap-usap kepala Patih. “Kau hanya perlu bersekolah dengan benar dan tidak mengikuti jalan hidup yang ditempuh oleh Paman Adam.”

“A-adam … ” Verani segera mengenggam pundak Patih begitu mendengar nama Adam disebut oleh Johan. Ia memberikan isyarat kepada Patih untuk diam. “Mengapa semua orang memburunya? Mengapa kalian membencinya? Apa yang sesungguhnya telah ia lakukan? Apakah dia orang yang kau sebut ‘bahaya’ dan ‘teror’? A-aku sungguh tak mengerti! Dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawaku ketika orang-orang seperti kalian tak ada!”

“Nona Verani … ” Johan mengangkat tubuhnya, ia menghadap sang ibu muda. “Itulah mengapa kami meminta Anda untuk membicarakan hal ini secara tertutup. Ada hal-hal yang tidak bisa kami beberkan kepada putra Anda. Patih akan berada di ruangan sebelah, bermain games sepuasnya, dan dijaga oleh salah satu petugas kami. Jangan sampai ia syok melihat dan mendengar siapa Paman Adam yang sebenarnya. Anda tidak mau putra Anda syok, bukan?”

“U-ugh … “

“Lagipula, kami punya seri Metal Gear terbaru yang belum dicicipi oleh Patih. Bukankah kau penggemar berat game Metal Gear, Patih?” ujar Johan melirik kepada Patih.

Whoaaa! Benarkah!? Aku sudah lama ingin mencoba game tersebut!” Patih tampak berbinar-binar. Ia terpengaruh oleh kata-kata Johan. “Ibu, izinkan aku bermain di sebelah, ya ya ya?” lanjutnya memohon kepada Verani.

“P-Patih … “

“Ayolah, Bu. Lagipula tidak ada televisi dan internet di rumah Paman Adam, padahal aku butuh hiburan.”

Verani tak segera menjawab. Ia mendelik kepada Johan, sementara Johan sekadar mengangkat kedua pundaknya. Perwira muda itu tampak pintar mempengaruhi orang. “B-baiklah … tetapi, berhati-hatilah,” ujar Verani mengalah.

“Horeee!” Patih berteriak kegirangan. Ia pun menghampiri Johan dan menepuk lengan sang perwira muda. “Cepat, Kapten! Antarkan aku ke tempat di mana kau menyimpan Metal Gear terbaru!”

“Hahaha, kau tampak girang, Patih. Baiklah kalau begitu … ” ujar Johan. “Lukas!” seraya menoleh ke samping, ia memanggil nama seseorang.

Seorang pria bernama Lukas lantas keluar dari ruangan sebelah, ia menampilkan setengah badannya di depan pintu. “Ya, Pak?”

“Temani anak ini bermain di ruanganmu. Metal Gear seri terbaru yang baru saja kau unduh beberapa waktu lalu,” imbuh Johan seraya menunjuk kepala Patih

“Siap, laksanakan!” Lukas mengangguk penuh percaya diri. Tak lama kemudian, ia pun mengibas-ngibaskan tangannya, memberikan isyarat kepada Patih untuk masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tampak ramah, tak seperti beberapa anak buah Johan yang “menculik” Verani dan Patih.

Tanpa banyak tanda tanya, Patih segera melangkah menuju tempat di mana ia bisa menikmati permainan barunya. Ia tak peduli pada Verani, tak peduli pada Johan. Dahaganya tak mampu tertahankan lagi.

Verani tak mampu berbuat apa-apa, ia sekadar menatapi Patih dari tempatnya berpijak. Wajahnya masih waswas, jantungnya masih berdegup tak karuan.

“Nona Verani, jika Anda tak keberatan, ikuti aku sekarang … ” ujar Johan.

“E-eh? Uh … oke … “

Verani pun berjalan mengikuti Johan. Ia begitu takut sehingga kedua tangannya gemetar. Rasanya sangat berbeda dibandingkan dengan saat ia duduk di samping Adam. Ia terheran; mengapa seorang teroris mampu menghadirkan perasaan tenang, sedangkan gerombolan aparat justru menghadirkan perasaan getir? Siapa yang sebenarnya disebut teroris? Benaknya tak mampu berhenti meronta.

“Hmm … ” Johan ingin memulai percakapan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Tanpa internet dan televisi. Pantas saja kalian tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Adam selama ini. Kau akan melihat semua hal yang kau lewatkan, Nona Verani. Semuanya. Dan kau akan sangat terkejut begitu mengetahuinya.”

Verani terhenyak. Kedua matanya terbelalak, langkahnya pun terhenti sejenak. Ia merasa takut untuk mengetahui realitas yang sesungguhnya. Ia merasa tak siap.

“Kita sudah sampai, Nona Verani. Silakan masuk,” ujar Johan tersenyum. Ia berdiri di depan sebuah ruangan yang dijaga oleh beberapa pria berbadan besar.

Verani tak punya pilihan, ia pun menuruti apa kata Johan. Langkahnya lebih lambat, tetapi ia tetap berjalan ke tempat tujuan.

***

18.21

Sekitar satu kilometer di seberang kantor NetCaptain, bertengger sebuah mobil van kucal berwarna silver. Mobil tersebut baru saja tiba dan hanya berdiam di bawah bayang-bayang malam, penumpangnya bahkan tak turun maupun menampakkan diri. Tentu saja, mobil tersebut parkir di pinggir jalan untuk mengamati situasi keamanan di kantor NetCaptain. Dua orang penumpangnya, Subject 09 dan Subject 17, tampak sedang merencanakan sesuatu sebelum mengobrak-abrik kantor paling aman sekota Bandung tersebut.

“Oke, Nine … kau sudah siap?” tanya Subject 17 seraya mengetikkan beberapa baris kode pada komputernya.

“Ya. Jadi, apa rencana kita selain menyelamatkan Verani dan Patih?” ujar Subject 09 sembari mengencangkan ikatan rompi antipelurunya.

“Operasi Antisakti, Nine. Kau harus menginterogasi salah satu personel yang punya wewenang di dalam untuk menyingkap koneksi antara kasus Kampung Rimbun dan Operasi Antisakti. Jika Jurig berada di tengah pembantaian tersebut, kurasa akan ada petunjuk yang mengarah ke Operasi Antisakti.”

“Oke. Pembantaian Kampung Rimbun dan Operasi Antisakti.”

“Dan tanyakan apa alasan pemerintah menyapu penduduk Kampung Rimbun. Aku curiga pembantaian tersebut bukan karena persoalan kriminalitas dan kebejatan para penduduknya, tetapi lebih besar dari itu.”

“Hmm … tampaknya ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku, Seventeen.”

“Benar. Aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa tujuh pejabat yang tewas di tanganmu tersebut mendapatkan dana dari pihak ketiga. Mereka bukan mastermind dari pembantaian Kampung Rimbun, tetapi lebih pantas disebut sebagai koordinator lapangan.”

“Hmm, menarik. Denis mengatakan hal yang serupa kepadaku. Ada pihak ketiga yang bermain di balik pembantaian tersebut.”

“Ya. Akan tetapi, aku menemukan sesuatu yang menarik. Aku tidak dapat mengungkap identitas pihak ketiga yang telah menggelontorkan dana kepada ketujuh pejabat karena akunnya diproteksi oleh sesuatu yang hanya dimiliki oleh beberapa orang di seluruh dunia: QCE.”

Subject 09 mengernyitkan keningnya. Ia memperbaiki posisi duduknya dan menatapi Subject 17 dengan intens. “QCE?”

“Quantum Cube Encryption. Itu adalah sistem paling mutakhir–“

“Aku tahu apa itu QCE, Seventeen. Itu sistem keamanan terbaru, tercanggih, dan termahal yang hanya dipakai oleh beberapa negara dan beberapa instansi.” Subject 09 merenung sejenak, ia lantas mengenggam dagunya. “Jika benar demikian, itu artinya pembantaian Kampung Rimbun direncanakan oleh orang asing … ” ungkapnya.

Old enemies, Nine.”

“Apakah kau pikir ini dilakukan oleh sebuah negara?”

“Tidak, jarang terjadi seperti itu, Nine. Kita sudah banyak melalui konflik dengan para cecunguk asing tersebut. Mereka adalah orang-orang sinting yang mengendalikan negara, badan intelijen, dan aliansi militer untuk kepentingan pribadi. So, jika semisal kau ditugaskan untuk mengeliminasi agen CIA–“

“Kau sebenarnya sedang ditugaskan untuk mengeliminasi orang yang berlindung dibalik nama CIA. Heh, kata-kata Kapten Sukardi,” imbuh Subject 09 melanjutkan kata-kata saudarinya.

“Yep, dunia kita banyak menggunakan motif pars pro toto, Nine. Jangan lupakan itu.”

“Baiklah. Tampaknya aku akan menggali lebih jauh tentang pembantaian Kampung Rimbun malam ini. Semoga kita mendapatkan informasi yang berharga.”

“Bagaimana dengan Verani?”

“Aku akan meledakkan power supply bangunan ini. Aku yakin perbuatanku akan membuat para personel di dalam merasa panik. Kemungkinan besar, mereka akan mengeluarkan Verani sebelum aku sempat mencapai tempat di mana Verani diculik. Dan ketika kau melihat mereka keluar … do me a favor, Seventeen. Lakukan apa yang harus kau lakukan untukku.”

“Heh … ” Subject 17 tertawa kecil. Ia lantas menggelengkan kepalanya. “Sudah mulai mempercayaiku, anak muda?”

Subject 09 terdiam sejenak. Ia enggan mengakui pernyataan Subject 17. “Anggaplah hal ini sebagai barter karena kau telah memberikan informasi berharga soal Kampung Rimbun.”

“Ya, ya, ya, terserah dirimulah. Murahan sekali tugasku. Menyelamatkan kekasih yang begitu dicintai oleh saudara seperjuanganku sendiri. Tch!”

“Kau ikhlas, tidak?”

“Iya, iya! Aku akan menyelamatkan Verani jika ia keluar dari gedung. Sesimpel itu.”

Subject 09 tak merespon. Ia lantas beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu belakang mobil.

“Hei, Nine. Bawa barang ini. Aku akan memonitor wilayah di sekelilingmu lewat alat ini,” Subject 17 menahan langkah saudaranya. Ia menyodorkan sebuah alat menyerupai USB drive.

“Hmm, apa ini?” ujar Subject 09 seraya mengambil alat yang disodorkan oleh Subject 17. “Flashdisk, ya?”

“Itu sonar portabel. Dengan alat itu, aku akan dapat mengetahui keberadaan musuh di sekitarmu.”

“Hmm, menarik. Berapa jarak efektifnya?”

“Pendek. Sekitar dua puluh meter. Oleh karena bergeraklah secara hati-hati.”

“Heh, aku tak punya waktu untuk berhati-hati. Aku ke sini untuk menghancurkan para bajingan itu sampai mereka berhenti,” ujar Subject 09 seraya memasukkan alat sonarnya ke dalam saku. “Tetapi, terimakasih sudah mau repot-repot membantuku.”

“Sudah, jangan banyak bicara lagi, cepatlah beraksi sebelum semua rencana kita buyar. Situasi di parkiran bawah tanah sudah kondusif, kalau kau masuk sekarang, hasilnya akan sangat ideal,” tukas Subject 17 seraya mengamati lingkungan depan kantor NetCaptain melalui kamera mikro yang ia pasang pada kaca spion mobilnya.

“Laksanakan,” ujar Subject 09. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat parkir basement kantor NetCaptain.

“Hajar mereka, Nine …

***

18.16
Lima menit sebelum Subject 09 dan Subject 17 memulai pergerakan

Verani akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran 3 x 3 ditemani oleh Kapten Johan dan seorang pria berbadan besar. Ruangan tersebut tampak begitu  membosankan sekaligus menakutkan; tak ada hiasan, tak ada jendela, tak ada hiburan. Pada salah satu sisi dindingnya terdapat cermin berukuran besar yang menghubungkan ruangan tersebut dengan ruangan tempat para analis berkumpul. Benar, Verani kini berada di sebuah ruangan interogasi. Ia diminta untuk mengungkapkan hubungannya lebih jauh dengan Adam Sulaiman.

“Baik, Nona Verani. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk Anda. Mohon jawab dengan jujur, ini berhubungan dengan keselamatan Anda dan putra semata wayang Anda,” ujar Johan sembari memperbaiki posisi duduknya di hadapan Verani.

” … ” Verani tak merespon, matanya malah melirik ke arah lain. Wajahnya pun tampak murung.

“Sudah berapa lama Anda berhubungan dengan Adam Sulaiman?”

Verani menghela napas panjang. Ia tampak tak nyaman berada di ruangan berwarna dominan abu-abu tersebut. Perasaannya meronta-ronta, ingin kabur. “Seminggu, dua minggu. Aku tak yakin,” jawabnya luruh.

“Hmm. Apakah Anda pernah merasa terancam ketika hidup dengannya?”

“Tidak. Tidak sedikit pun.”

Johan sedikit terkejut mendengar jawaban Verani. Ia pun berhenti menatapi kertas interogasinya dan mengalihkan fokusnya kepada Verani. “Ia tidak pernah berbuat kekerasan kepadamu?”

“Tidak. Aku justru merasa nyaman berada di dekatnya,” ujar Verani percaya diri. “Kapten, bisakah kau menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi kepada Adam? Mengapa aku dibawa ke sini? Mengapa kalian merasa bahwa Adam adalah ancaman besar?” Perasaan Verani mulai bergejolak, ia menantang sang perwira muda.

Lagi-lagi Johan terdiam. Ia menatapi bawahan yang berdiri sigap di belakangnya, lalu kembali menatapi Verani. Ia sadar bahwa wanita yang sedang duduk di hadapannya sama sekali tak mengetahui huru-hara yang sedang terjadi beberapa waktu terakhir. Verani tak bercanda.

Johan tak menjawab pertanyaan Verani dengan kata-kata. Ia sekadar mengeluarkan ponsel cerdasnya dan menunjukkan beberapa video kepada Verani. Video-video tersebut merupakan rekaman berita dari berbagai saluran televisi nasional maupun internasional. Johan meletakkan ponselnya di atas meja dan mempersilakan Verani untuk menonton video yang ia putar.

Semenit, dua menit, tiga menit. Verani mulai merasakan gejolak di dalam dadanya. Ia merasa tak percaya atas apa yang dilihatnya. Hatinya luluh lantak. Ia melihat wajah Adam berulang kali, akan tetapi video tersebut justru membuatnya merasa asing pada sosok Adam.

Darah, mayat, dan potongan tubuh berserakan di segala tempat. Beberapa diantaranya bahkan terdapat jenazah para pejabat negara, seperti Rahmat Sukoco. Menurut para pembaca berita yang terekam, kekacauan tersebut disebabkan oleh satu orang. Adam Sulaiman. Mereka bahkan menunjukkan bukti foto Adam sedang beraksi membantai puluhan anggota Densus Sandi Negara (DSN).

Verani benar-benar tercengang. Ia sama sekali tak bisa berkata-kata. Matanya sampai berkaca-kaca. Sulit untuk mempercayai bahwa orang yang membuat kekacauan sedahsyat itu adalah orang yang selama ini ia puja-puja.

Dengan kedua mata nan sembab, Verani pun menatapi Johan. Napasnya terdengar tak beraturan, emosinya mulai tak stabil.

“Bagaimana dengan kalian? Bukankah kalian juga menebarkan ketakutan terhadap orang-orang lemah sepertiku dan melakukan pembantaian atas nama hukum? Sama saja, bukan?” Verani terbakar amarah. Ia tak hanya menantang Johan, tetapi seluruh jajaran aparat. “Adam yang kukenal adalah orang yang lemah lembut dan bijaksana. Ia telah menyelamatkanku dari kegilaan yang bahkan polisi dan tentara seperti kalian tak mampu menghadapinya! Jadi, aku tak percaya jika ia menumpahkan darah tanpa sebab! Beri aku alasan mengapa ia menggila, baru aku pertimbangkan untuk mempercayai kalian!”

Mendengar jawaban tegas Verani, Johan pun bersandar luruh di kursinya. Ia tampak tersesat dalam lautan pertanyaan yang dihempaskan oleh Verani. Sebagai pimpinan lapangan yang bertanggungjawab atas penangkapan Adam, ia sendiri masih bingung mengapa Adam menggila. Apakah karena Project SAKTI dibubarkan secara paksa? Apakah karena saudara-saudara Adam ditangkap? Apakah ada alasan lain? Entah.

***

Pintu masuk parkir basement kantor NetCaptain, 18.30

Subject 09 menyambangi pos polisi yang berdiri kokoh di depan lahan parkir bawah tanah kantor NetCaptain. Tanpa sedikit pun keraguan ia segera mengetuk pintu, membuat tiga orang polisi yang singgah di dalam pos menatapinya dengan curiga. Namun, ia tak peduli pada kecurigaan ketiganya, malah tersenyum lebar seperti tanpa rasa bersalah.

“Selamat malam, pak polisi. Aku ingin bertanya apakah ada tamu yang bernama Verani di gedung ini? Kudengar ia dibawa oleh beberapa orang pria ke parkiran bawah tanah,” ujar Subject 09 mengarang.

“Hmm? Kau siapa? Ada urusan apa datang kemari?” salah seorang polisi bertanya dengan nada bicara yang tak ramah.

Subject 09 melangkahkan kakinya ke dalam pos, ia benar-benar mendekati para polisi tersebut. “Aku? Bukankah kalian sudah mengenalku sebelumnya?”

Para polisi saling pandang selama beberapa saat, sampai pada akhirnya salah seorang dari mereka menyadari eksistensi seorang Adam di depan matanya. Matanya terbelalak dan ia siap untuk meneriakkan nama buronan nomor satu di Republik Indonesia tersebut di hadapan semua orang.

Akan tetapi, Subject 09 sudah membaca niat sang polisi. Ia segera mengetakkan kakinya tepat di wajah sang polisi. Tendangan keras tersebut sontak membuat sang polisi terhempas dari tempat duduknya dan tersungkur tanpa sempat mengetahui apa yang terjadi padanya. Polisi tersebut langsung tak sadarkan diri.

Subject 09 melanjutkan serangan mendadaknya. Ia menghajar polisi yang berdiri di sampingnya dengan beberapa tinju terbuka. Pukulan melesat secepat kilat, sehingga tak ada serangan yang sempat diantisipasi oleh sang polisi. Sang aparat berseragam coklat itu pun terhuyung, namun masih sadarkan diri.

Polisi ketiga. Ia mencoba menyerang Subject 09 dengan “pukulan panik.” Ia melepaskan tinju acaknya ke wajah Subject 09; tenaganya lumayan besar, namun tak menghasilkan efek apa-apa karena dapat dihindari oleh Subject 09 dengan mudah. Subject 09 lantas menggenggam pergelangan tangan sang polisi dan mengentakkan hastanya tepat di sikut sang polisi.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“AAAAKH!” Polisi ketiga menjerit hebat saat persendian sikutnya mengalami dislokasi. Namun, jeritan tersebut hanya berlangsung singkat. Subject 09 segera memukul tenggorokan sang polisi dengan sisi tangannya, membuat sang polisi kesulitan untuk memuntahkan suara. Ia lantas menendang kemaluan sang polisi dengan lututnya, lalu menutup serangannya dengan membanting tubuh sang polisi ke atas ubin. Polisi ketiga pun lengah, ia terbujur luruh tanpa sempat melakukan perlawanan.

Subject 09 belum selesai, ia beralih kepada polisi kedua yang masih terhuyung-huyung tak karuan. Ia segera meraih kepala sang polisi dan menghantamkannya ke meja kayu yang menjuntai di antara dinding pos. KRAAAK! Meja pun patah, sang polisi langsung kehilangan kesadarannya begitu menerima guncangan yang sangat keras pada tempurung kepalanya.

Dua polisi pingsan, tinggal satu lagi. Subject 09 tak mau ambil resiko. Ia segera mencabut pistolnya dan membidikkannya ke kemaluan polisi ketiga–satu-satunya polisi yang masih sadarkan diri. “Jawab pertanyaanku atau kau takkan bisa melihat ‘burungmu’ lagi untuk selama-lamanya,” ujar Subject 09 dingin.

“A-akh … t-tolong, jangan bunuh aku. A-aku akan jawab,” sang polisi gemetar ketakutan, ia sekadar mengangkat kedua belah tangannya dan memohon agar sang buronan nomor satu tak mencabut nyawanya.

“Pertama, di mana wanita yang dibawa oleh teman-temanmu? Ia diculik di dalam mobil Mercedes Benz G-Class berwarna hitam beberapa saat lalu.”

“I-itu mobil orang PIN. A-aku tidak tahu pasti, t-tetapi kemungkinan besar ia dibawa ke lantai lima, k-ke ruangan interogasi.”

“Oke. Pertanyaan kedua, di mana letak power supply bangunan ini? Ada di satu tempat atau terpisah?”

“T-terpisah. M-main power bangunan ini dibagi menjadi tiga; m-masing-masing ada di tiap tingkatan basement. B1, B2, dan B3.”

“Bagus. Pertanyaan terakhir, siapa bos besar yang punya wewenang paling tinggi di dalam? Bukan dari pihak NetCaptain, tapi dari pihak aparat.”

“A-aku tak tahu pasti–“

“Jawab dengan serius atau kuledakkan bijimu!”

“A-aku tak kenal! S-sumpah! J-Johan kalau tidak salah namanya, yang pasti dia dari TNI-AD, kemungkinan orang Kopassus. A-aku tak tahu lebih! S-sumpah! A-aku baru melihat orang itu!”

“Baiklah. Informasimu cukup membantu. Kalau begitu, tidurlah seperti kawan-kawanmu,” Subject 09 mengakhiri interogasinya. Ia pun menampar pelipis sang polisi dengan pistolnya hingga sang polisi hilang sadar. Ia memenangkan pertarungan kecil tersebut tanpa kepayahan sama sekali.

Subject 09 lantas mematikan lampu dan bergegas keluar dari pos penjagaan. Ia menutup pintu dan menguncinya dari luar, sehingga takkan ada orang yang bisa melihat tiga polisi terbujur lemas di dalam pos, paling tidak dari jarak jauh.

“Interogasi sambil mengancam akan meledakkan ‘biji’, klasik namun efektif. Apakah kau benar-benar pernah melakukannya, Nine?” Subject 17 berujar melalui earphone yang terpasang pada telinganya.

“Meledakkan ‘biji’? Sekali-dua kali pernah, sewaktu aku diterjunkan operasi pertama kali oleh Project SAKTI.”

“Hahaha! Kau gila, tetapi metode interogasi semacam itu tampak sangat efektif untuk kaum adam. Aku perlu mencobanya sesekali.”

“Pastikan itu bukan punyaku,” ujar Subject 09 sembari mengendap-endap di balik mobil. Ia melihat beberapa kamera CCTV.

Haha! Bodoh!” Subject 17 tergelak heboh. “Ngomong-ngomong … tampaknya polisi yang kau interogasi tak salah soal Johan.

“Hmm, ada apa dengan Johan?”

Namanya Johan Burhanuddin. Pangkat Kapten. Ia adalah salah satu anak emas di Grup 3/Kopassus. Combat proficient, ahli dalam berbagai jenis pertempuran. Ia juga jenius; database Kopassus mengatakan bahwa ia menguasai berbagai hal teknis dan bahasa, aku tak bisa menyebutkannya satu persatu. Dan statusnya saat ini adalah sebagai orang penting di PIN, tak disebutkan sebagai apa. Aku akan mengirimkan gambar wajahnya ke ponselmu.

Subject 09 berhenti sejenak, ia mengeluarkan ponselnya dan menunggu gambar yang dikirim oleh Subject 17 terunggah sepenuhnya. Hanya butuh beberapa detik untuk loading, gambar pun muncul pada layar ponsel. Subject 09 menatapi gambar tersebut selama beberapa saat, ia berusaha mengingat-ingat sosok yang terpampang di layar ponselnya tersebut. Dan ia ingat.

“Aku pernah berhadapan dengannya beberapa malam yang lalu,” ujar Subject 09 seraya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. “Hmm, jadi ia punya posisi penting di PIN, ini akan menjadi konfrontasi yang menarik,” lanjutnya.

“Dia pernah berhadapan denganmu dan masih hidup? Wow!” tukas Subject 17 terkejut.

“Yep, orang ini memang tangguh. Ia sanggup menahan beberapa seranganku walaupun posisinya sama sekali tak menguntungkan. Ia benar-benar sosok prajurit ideal. Tampaknya kita punya teman baru, Seventeen,” imbuh Subject 09 sembari berpindah-pindah tempat mengendap.

“Well, ini akan sangat menarik, Nine. Aku menduga ia akan menjadi rivalmu pada kasus ini.”

“Heh, jika ia memang harus menjadi pesaingku … aku akan beri dia pelajaran sampai ia mengundurkan diri menjadi rival, terutama karena ia bertanggungjawab atas penculikan Verani.”

***

18.19

“Nona Verani, kami mengerti perasaan Anda,” ujar Johan berusaha mengelak dari rentetan pertanyaan yang diajukan Verani. “Akan tetapi, apa yang kami tunjukkan kepada Anda adalah fakta yang tak terbantahkan. Adam Sulaiman adalah pelaku pembunuhan delapan pejabat Republik Indonesia,” lanjutnya.

“Lantas mengapa? Jika ia memang seorang pembunuh, lalu mengapa? Aku tak peduli pada penilaian orang lain, aku akan tetap memuliakannya sebagaimana ia tetap memuliakanku dalam keadaan paling kelam sekalipun,” tukas Verani berlinang airmata.

Johan memijit-mijit batang hidungnya seraya menghembuskan napas panjang. Ia merasa waktunya terbuang hanya untuk memperdebatkan identitas Adam dengan Verani. Akhirnya, ia pun berniat untuk beralih ke pertanyaan utama. “Baiklah, Nona Verani. Aku pun tak peduli terhadap pandanganmu. Tampaknya aku akan langsung ke pertanyaan inti: di mana Adam?”

Mendengar pertanyaan Johan, Verani pun terdiam. Kedua matanya terbelalak, namun jiwanya tersesat dalam tanda tanya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan, pertanda ia tak memiliki petunjuk atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. “A-aku tak tahu … “

“Nona Verani, kumohon kerjasamanya–“

“A-aku tak tahu! Aku tak tahu! A-aku bertengkar dengannya kemarin malam dan tak bertemu dengannya sejak pagi tadi. Ia pergi dari rumah, entah ke mana.”

“Hmm, pergi dari rumah? Adakah tempat yang biasa ia kunjungi?”

“T-tidak. Sepengetahuanku, tidak ada. S-sumpah, aku tak tahu ke mana ia pergi.”

“Hmm, begitu,” tutur Johan seraya mengusap-usap dagunya. “Lantas apa yang memicu pertengkaranmu dengan Adam?”

“A-aku melihatnya berkelahi dengan seorang wanita berjilbab. Perkelahian tersebut sangat intens, mereka bahkan saling bertukar pukulan. S-setelah melihat peristiwa mencengangkan tersebut, aku merasa Adam telah menyembunyikan jati diri yang sebenarnya, apalagi melihat si wanita berjilbab tetap berdiri kokoh setelah menerima pukulan di wajahnya. I-itulah penyebab pertengkaranku dengannya, aku merasa ia telah membohongiku.”

“Tunggu, tunggu. Wanita berjilbab?”

“I-iya. A-aku tak tahu namanya. Ia berjilbab dan mengenakan kacamata. Wajahnya sangat cantik,” tutur Verani. “Uhm, sebenarnya karena kecantikannya juga aku bertengkar dengan Adam … ” imbuhnya lirih.

“Itu pasti salah satu anggota Project SAKTI yang tersisa,” bisik Johan.

“H-hah? A-apa katamu?”

“Oh, tidak, Nona Verani. Aku hanya menduga wanita itu datang dari tempat yang sama dengan tempat Adam dilatih,” kilah Johan seraya tersenyum tipis. “Katakan kepadaku, Nona Verani. Apakah kau sama sekali tak tahu ke mana Adam–“

CKLAK!

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Johan dikejutkan dengan pemadaman listrik mendadak. Terangnya ruangan pun segera tergantikan oleh redupnya cahaya lampu darurat di sudut ruangan. Johan sontak bangkit dari tempat duduknya, ia mencabut pistolnya dan menatapi wilayah sekitar. Aman. Ia lantas menatapi bawahannya yang juga tengah bersiaga.

“Bajingan! Ini pasti dia!” ujar Johan geram.

“Adam, pak?” tanya sang bawahan.

“Siapa lagi!? Sukma, bawa Nona Verani dan Patih keluar lewat pintu rahasia. Bawa ia ke safehouse di Purwakarta, pastikan kau menghubungi Bu Hana sebelum mencapai safehouse.

“Siap, pak. Laksanakan.”

“A-Adam? A-apakah Adam ada di sini?” tanya Verani seraya bangkit dari tempat duduknya. Sang bawahan yang bernama Sukma itu pun merangkul tangan Verani untuk keluar dari ruangan.

” … ” Johan tak merespon. Ia tetap bersiaga sampai pada saat Verani diseret keluar ruangan. “Sialan. Dia pasti datang kemari untuk Verani. Matilah kita kalau dia mengamuk,” bisiknya.

***

18.37

Subject 09 berdiri di depan pintu darurat lantai lima kantor NetCaptain. Ia telah berhasil memasang bom C4 pada masing-masing power supply yang berada di parkir bawah tanah. Mengendap-endap diantara mobil bukanlah perkara yang sulit, tugas selanjutnya akan jauh lebih berat daripada sekadar mencekik petugas keamanan parkir secara diam-diam.

Subject 09 berdiri sejenak di balik pintu besi untuk memastikan tanda-tanda kehidupan sebelum ia merangsek masuk dan membuat kekacauan. Ia menunggu Subject 17 membeberkan laporan dari pantulan sonar yang berasal dari alat di saku celananya.

“Aman. Tak ada orang dibalik pintu. Ini akan menjadi awal yang baik bagimu untuk mengacau di tengah kegelapan,” ujar Subject 17.

“Diterima. Fire in the hole,” jawab Subject 09 seraya menekan tombol detonator yang berada di genggamannya.

KA-BLAAAM!


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Bersamaan dengan meledaknya bom yang dipasang pada tiga titik vital kantor, Subject 09 segera membuka pintu darurat di hadapannya dan mengaktifkan one-eyed nightvision yang sedari tadi bertengger di atas kepalanya. Kantor menjadi gelap gulita dalam sekejap waktu, Subject 09 segera memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan serangan mendadak sebelum pandangan para personel intelijen di dalam mulai beradaptasi dengan kegelapan.

Tak lama kemudian, terjadi baku tembak nan sengit antara Adam Sulaiman dengan segerombolan pria terbaik dari seluruh pelosok Nusantara. Subject 09 beberapa kali harus menerima tembakan di torsonya, namun ia tak lengah. Ia tetap membalas tembakan dan memecahkan batok kepala para anggota intelijen yang dihadapinya hanya dengan bermodal pistol kaliber .45. Rompi antipelurunya berhasil menahan beberapa tembakan, sehingga ia selamat dari maut. Ia tampak berantakan, namun tak ada luka yang berarti dari serangan para personel intelijen tersebut.

Meski beberapa kali terkena tembakan, namun sesungguhnya ia sukses menghindari ratusan peluru lainnya dengan gerakan yang amat gesit. Ia melompat, merunduk, dan menembaki para personel dengan cepat dan tepat. Tentu saja, para personel PIN kewalahan. Terlalu lincah.

Pertahanan PIN porak-poranda.

Pertempuran sengit itu akhirnya menyisakan seorang penempur. Personel PIN yang tersisa itu pun babak belur setelah sempat bertukar pukulan dengan Subject 09. Ia merupakan garis pertahanan terakhir PIN di gedung tersebut, namun keberadaannya pun tak membuat perubahan yang signifikan. Subject 09 bergegas menghampirinya dan mendorong tubuh sang personel hingga menabrak dinding.

“AAAK–” sang personel hendak menjerit, namun tertahan seketika oleh cekikan Subject 09. Jangankan untuk bersuara, untuk bernapas pun sulit.

“Di mana bosmu? Di mana Kapten Johan?” tanya Subject 09 tanpa sedikit pun terdengar kelelahan.

“Aku ada di sini, bajingan … ” belum sempat sang personel terakhir menjawab pertanyaan Subject 09, tiba-tiba seorang pria muncul dari balik kegelapan. Dialah orang yang dicari-cari oleh Subject 09. Johan Burhanuddin.

Subject 09 terhenyak. Ia segera menarik tubuh personel keempat ke arah samping, menjadikan sang personel tameng apabila terjadi sesuatu yang tak terduga.

BLAM! BLAM! BLAM!

Dugaannya benar, Johan melepaskan tembakan ke arahnya. Beruntung ia berlindung dibalik tubuh sang personel. Tembakan Johan malah membuat anak buahnya sendiri tewas.

Dari balik jasad sang personel, Subject 09 membidikkan pistolnya ke tempat di mana Johan berpijak.

BLAM! BLAM! BLAM!

Subject 09 membalas tembakan. Hasilnya? Nihil. Tembakan tersebut luput, Johan berhasil berlindung sebelum menjadi bulan-bulanan. Subject 09 pun menyingkirkan jasad yang menjuntai luruh di atas pundaknya dan bergegas mencari tempat perlindungan.

BLAM! BLAM! BLAM! Lagi-lagi Johan melepaskan tembakan. Ia menembak dari tempat berlindungnya.

“Aaakh … ” Subject 09 melenguh pelan. Peluru Johan berhasil menggores betisnya cukup dalam. Namun ia bersyukur tak ada serangan yang berakibat fatal. Ia lantas mengecek magasin pistolnya. Kosong. Ia kehabisan peluru, sehingga tak mampu membalas serangan terakhir Johan.

Tak sempat berpikir untuk melakukan perlawanan, tiba-tiba Subject 09 dikejutkan dengan sebuah objek yang menggelinding tepat di sampingnya. Matanya terbelalak, ia tahu benda apa yang mendarat di sampingnya tersebut. Flashbang. Sontak ia pun melontarkan tubuhnya menjauhi benda sebesar kaleng minuman tersebut. Jika tidak, telinganya bisa tuli dan otaknya bisa mengalami kerusakan permanen.

KA-BLAAAM!

***

19.30
Beberapa menit sebelum Subject 09 berhadapan dengan Kapten Johan

Subject 17 masih terus mengamati layar komputernya. Ia memperhatikan pergerakan Subject 09, namun tampaknya lelaki yang kerap dipanggil Adam tersebut tak membutuhkan bantuannya lagi. Ia pun beralih ke komputernya yang lain, berusaha untuk meretas sistem keamanan NetCaptain yang legendaris dan mencuri informasi dari kantor yang juga berfungsi sebagai safehouse PIN tersebut.

Akan tetapi, belum lama ia berjibaku dengan kode-kode peretasan, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh gambar di layar komputernya yang lain. Kamera mikronya mencitrakan mobil sedan berwarna hitam melesat keluar dari parkir bawah tanah NetCaptain secara tergesa-gesa. Hanya satu mobil itu yang keluar, Subject 17 langsung menduga bahwa mobil tersebut tengah membawa Verani dan Patih.

“Nine, aku melihat mobil keluar dari parkiran bawah tanah. Kurasa mereka membawa Verani dan Patih,” ujar Subject 17 sembari berjalan menuju pintu belakang mobilnya.

“Kuserahkan mereka kepadamu. Bukan masalah besar ‘kan?” Terdengar suara tembak-menembak dari balik earphone Subject 17. Tampaknya Subject 09 benar-benar sedang sibuk.

“Tidak sama sekali. Jangan lupa misimu di dalam, korek informasi dari Johan.”

“Diterima.”

Subject 17 pun keluar dari pintu belakang mobilnya. Ia bergegas menuju ruang kemudi. Mesin mobil dinyalakan, Subject 17 lantas memasukkan gigi dan menancap gas. Mobil van berwarna silver itu pun menggerung, menebah jalanan dengan liar.

Hanya butuh beberapa menit bagi Subject 17 untuk menyusul mobil penculik Verani. Setelah cukup dekat, ia segera menghantamkan hidung mobilnya ke ekor mobil para penculik. Mobil sedan berwarna hitam itu pun berputar-putar tak karuan. Subject 17 lantas membumbui serangannya dengan menyenggol mobil tersebut dari samping.

BRAAAK! Mobil sedan malang itu pun akhirnya menabrak pohon di pinggir jalan. Tak ada drama kebut-kebutan, semua berakhir begitu cepat. Para anggota PIN di dalam mobil sedan bahkan tak menyadari kehadiran Subject 17.

Subject 17 bergegas keluar dari ruang kemudinya. Ia menjinjing shotgun laras ganda seraya berlari menghampiri mobil para penculik.

KA-BLAM! KA-BLAM!

Dua tembakan dilepaskan ke kaca depan mobil para penculik, tak ada peringatan, tak ada pemberitahuan. Daya dorong senapan yang kuat berhasil membuat peluru menembus kaca dengan mudah, membuat sang pengemudi langsung meregang nyawa.

Personel PIN yang duduk di samping pengemudi pun terkejut bukan main, ia tak menyangka rekannya akan mati dengan nahas. Sontak, ia pun keluar dari mobil dan berupaya memberikan perlawanan.

Akan tetapi, Subject 17 sudah lebih dulu membaca niatan sang pria. Wanita berjilbab tersebut tiba-tiba saja muncul di hadapan sang personel dan menghajar wajah sang personel dengan popor senapan. Tak ada perlawanan sama sekali. Subject 17 lantas membuang senapannya yang telah kosong, lalu merenggut pistol sang personel.

Tak lama kemudian, personel PIN yang terakhir keluar dari pintu belakang mobil. Di saat yang sama, Subject 17 sudah membidikkan pistolnya tepat ke kepala sang personel terakhir. Belum sempat sang personel bertindak, kepalanya sudah lebih dulu diterjang oleh peluru. Mati.

Subject 17 melanjutkan serangannya kepada personel PIN yang berdiri di depan batang hidungnya. Ia buru-buru meraih tengkuk sang personel dan PRAAAK! Ia benturkan kepala sang personel ke kaca mobil. Pria malang itu pun tersungkur di atas aspal. Sekarat.

1a

Pertarungan berakhir begitu cepat. Subject 17 bergegas menuju kursi belakang mobil para anggota PIN. Ia membuka pintu dan mendapati seorang wanita muda tengah memeluk putranya begitu erat. Verani dan Patih.

Verani tampak begitu ketakutan, ia menggenggam buah hatinya dengan kedua tangan gemetar. Ia bahkan tak berani menatap Subject 17. Berkali-kali ia meminta ampun saat wanita dengan nama samaran Felicia tersebut membuka pintu belakang mobil. Suaranya sangat lirih, sebuah tanda bahwa ia telah berlumur kengerian, raganya tak cukup kuat untuk menjerit.

Melihat situasi tersebut, Subject 17 pun mengulurkan tangannya. “Verani, aku dikirim Adam untuk menjemputmu. Ia sangat khawatir,” ujarnya seraya tersenyum cerah.

Verani terbelalak. Ia masih gemetar tak karuan, namun sedikit lega ketika mendengar nama Adam merasuk ke dalam telinganya. Ia lantas menoleh ke arah Subject 17 sedikit demi sedikit, mencoba memastikan bahwa ini bukan tipuan belaka. Patih juga menatapi Subject 17 dari balik tubuh ibunya, ia tak tampak ketakutan. Ia justru tampak kagum dengan sosok berjilbab di depan matanya.

Hela napas panjang pun menjadi satu-satunya jawab yang tersisa.

***

Kapten Johan merasa bahwa serangan terakhirnya berhasil mengenai Subject 09. Ia pun bangkit dan keluar dari tempat persembunyiannya seraya membidikkan pistol ke arah depan. Ia berjalan begitu pelan, menembus asap yang menyeruak pasca ledakan flashbang. Langkah kakinya hampir tak terdengar, ia benar-benar telah melatih kemampuannya sampai pada titik dimana ia mampu berjalan hampir tanpa bersuara.

Johan akhirnya tiba di persimpangan lorong, tempat di mana Subject 09 terakhir bersembunyi. Ia pun berbelok mendadak ke arah lorong seraya membidikkan pistolnya sejajar dengan arah pandang. Tak ada orang, Subject 09 tak berada di titik persembunyian tersebut. Brengsek, batinnya. Flashbang yang ia lemparkan ke arah Subject 09 ternyata tak berarti apa-apa.

!!!

Johan merasakan bahaya. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang datang dari atas kepalanya. Ia segera melompat mundur sebelum akhirnya “sesuatu” tersebut jatuh menimpa kepalanya.

JRAAAK! Bukan sesuatu, tetapi seseorang dengan pisau komando. Subject 09. Rupanya buronan paling berbahaya seantero Nusantara tersebut bersembunyi di atas lorong sedari tadi, ia membentangkan kedua kakinya agar tubuhnya tertahan di bawah langit-langit.

Mendapati lawannya di depan mata, Johan langsung membidikkan pistolnya. BLAM! Peluru dilepaskan, namun meleset. Betapa gilanya, tembakan dari jarak sedekat itu masih sanggup dihindari oleh Subject 09.

Subject 09 merangsek maju, ia menepis tangan Johan dan berusaha menghujamkan pisaunya ke kepala Johan. Sayang seribu sayang, serangannya juga gagal. Johan sukses menepis pergelangan Subject 09, membuat pisau sang buronan meluncur beberapa sentimeter di samping kepalanya.

Keduanya bergegas saling melucuti. Pistol dan pisau pun berkelotak di atas ubin.

Pertukaran serangan pun menjadi tak terhindarkan. Johan dan Subject 09 saling bertukar serangan dengan tangan kosong. Persis seperti yang terjadi Purwakarta, kedua petarung tersebut kembali terjebak dalam adegan baku hantam yang amat alot. Pukulan, tendangan, bantingan, segalanya dikerahkan demi menguasai satu sama lain.

Johan adalah lawan yang sepadan. Subject 09 mengakuinya.

Meski demikian, Johan punya celah fatal. Sama pula seperti yang terjadi di Purwakarta, stamina Johan terkuras dengan cepat. Ia menjadi cepat lengah. Tak pelak, begitu sang kapten terhuyung lemas, Subject 09 segera menendang dada Johan hingga sekujur tubuhnya terpelanting.

BRUAAAK!

Johan pun menghantam pintu ruangan interogasi hingga terlepas dari porosnya. Johan sudah kelelahan, ia tak bisa bangkit dengan cepat begitu tubuhnya menghantam lantai.

Subject 09 perlahan mendekati Johan. Wajahnya dingin dan napasnya tetap teratur. Ia bergegas merayakan kemenangannya dengan menindih leher Johan menggunakan lututnya.

“Kapten Johan Burhanuddin … ” ujar Subject 09 sedikit tersengal. “Kau benar-benar prajurit tangguh. Aku salut kau bisa membawaku bertarung sedemikian lama. Rupanya pasukan khusus Indonesia masih menyisakan orang-orang berkemampuan di atas normal sepertimu. Puh!” lanjutnya ditutup dengan meludah ke lantai, ia membuang darah yang menggenang di dalam mulutnya.

“Urrrgh … urrrgh … ” Johan tak bisa menjawab. Saluran pernapasannya tertekan oleh lutut Subject 09. Ia meronta-ronta, tetapi tak berbuah apa-apa.

“Sekarang … jika kau mau kembali menghirup oksigen dengan lega, jawab pertanyaanku. Kudengar kasus pembunuhan Kampung Rimbun punya koneksi dengan luar negeri. Apa tanggapanmu soal ini?”

“Urrrgh … ” Johan enggan menjawab.

“Hoo, mau mencoba bermain menjadi prajurit tangguh, Kapten? Mari kita lihat seberapa tangguh dirimu,” Subject 09 merespon santai. Ia lantas memegang earphone yang terpasang di balik daun telinganya. “Seventeen, kau ada di sana?”

“Yep. Kau sedang menginterogasi Johan?” jawab Subject 17.

“Benar. Berikan aku informasi menarik mengenai Kapten Johan. Ia tak mau bicara, tampaknya.”

“Diterima. Aku tahu kau akan membutuhkannya, Nine. Aku sudah menyiapkannya untukmu. Orangtuanya hidup di Semarang; ibunya bernama Sakinah, ayahnya bernama Hariswan. In case you need it, mereka tinggal di komplek perumahan Sukacita, Semarang.”

“Bagus. Terima kasih, Seventeen. Bagaimana dengan Verani?”

“Sudah berada di tangan yang aman. Sekarang cepat buat si kapten keparat itu memuntahkan informasi mengenai Kampung Rimbun dan Operasi Antisakti.”

“Oke Seventeen. Terima kasih,” tutup Subject 09. Ia lantas kembali menoleh kepada Johan dengan senyuman nan picik. “Kapten. Jawab pertanyaanku atau temanku akan membuat dua orang kesayanganmu tersiksa dan terpotong-potong menjadi dua belas bagian. Mereka tinggal di Komplek Sukacita ‘kan?”

“Anjing … ANJIIING! Urrrgh! Tinggalkan mereka! URRRGH! T-tinggalkan mereka atau aku bersumpah akan–” Johan mengamuk. Ia meronta seperti kesetanan. Ia tak percaya bahwa Subject 09 akan mengetahui informasi mengenai kedua orangtuanya.

“Jawab pertanyaanku. Peraturannya simpel.”

“Urrrgh! B-bajingan! Setan!” Johan begitu geram. Ia terus-menerus mengutuk Subject 09 sampai pada akhirnya ia pun menyerah oleh keadaan. “Kampung Rimbun? Urrrgh. A-aku tak tahu soal itu. M-mengapa kau … urrrgh … bertanya soal Kampung Rimbun?”

“Mencoba berkelit?” tanya Subject 09 seraya menambah beban tubuhnya pada leher Johan.

“Urrrgh! S-sumpah! D-demi Allah! Adam! A-aku tak tahu apa yang kau bicarakan! Urrrgh! Kampung Rimbun … urrrgh … bukan subjek investigasiku!”

“Begitu … ” Subject 09 sedikit mengangkat lututnya untuk memberikan ruang napas bagi Johan. “Lalu, apa yang kau tahu? Bagaimana dengan Operasi Antisakti? Jangan bilang kau tak tahu, karena aku adalah subjek yang diincar Operasi Antisakti. Kau pasti diberi data intelijen dasar tentangku ‘kan?”

“O-Operasi Antisakti. Urrrgh. Operasi tersebut bertujuan untuk menangkap para anggota Project SAKTI. C-cuma itu yang kutahu.”

“Cuma itu yang kau tahu? Kau tak pandai berbohong, bukan begitu, Kapten?” Subject 09 kembali menambah beban pada leher Johan.

“Arrrkh! O-operasi tersebut diawali dari pembunuhan acak yang … UHUK … kalian lakukan terhadap aset penting luar negeri!”

“Hmm, dasar tolol. Mau-maunya kau dibohongi oleh atasanmu. Kau tidak mencari tahu identitas para aset yang kami bunuh, bukan? Sebagai anggota Sandi Yudha, kau masih perlu mengerjakan PR lebih giat, Kapten,” tukas Subject 09. “Ngomong-ngomong, apa yang kau maksud dengan ‘menangkap’? Apakah saudara-saudaraku dibunuh atau dipenjara atau diperlakukan seperti binatang?”

“D-ditangkap ya ditangkap! Urrrgh! M-mereka dijadikan subjek eksperimen oleh pemerintah. A-aku … urrrgh … tak tahu secara detil apa yang pemerintah lakukan terhadap mereka, tetapi menurut kabar angin, ilmuwan PIN sedang melakukan penelitian terhadap kekuatan fisik anggota Project SAKTI.”

Subject 09 tak lagi merespon. Ia melonggarkan himpitan lututnya dari leher Johan. Keningnya mengernyit, ia mulai bisa melihat benang merah antara kasus Kampung Rimbun dan Operasi Antisakti.

“Jadi, saudara-saudara kita memang masih hidup,” ujar Subject 17 mengambil kesimpulan.

“Tampaknya pertanyaan kita berdua sudah terjawab, Seventeen. Jika One turut serta dalam pembantaian Kampung Rimbun, itu artinya Operasi Antisakti memang punya andil dalam kasus ini. Mereka sedari awal tidak mengincar The Creation untuk dibunuh, tetapi untuk dimanfaatkan. One adalah tikus percobaan pertama yang mereka lepas di Kampung Rimbun,” imbuh Subject 09.

“Bagaimana kau bisa yakin bahwa One ditangkap oleh Operasi Antisakti? Bagaimana jika ia seperti kita berdua; independen dan terlepas dari kekangan semua orang?”

“Lantas? Apakah kau berpikir ia akan berpihak kepada pemerintah yang korup? Dia takkan melakukannya, apalagi jika ia harus membantai orang sipil. Kau tahu itu, Seventeen. Tangan kita tidak kotor oleh permainan semacam itu. Kalaupun benar, pasti telah terjadi sesuatu kepadanya dan aku positif kegilaannya punya hubungan dengan Operasi Antisakti. Hanya mereka satu-satunya yang ditugaskan untuk menangkap Project SAKTI.”

“Hmm, kuanggap jawabanmu sebagai hipotesis. Jika Kampung Rimbun dan Operasi Antisakti saling terkoneksi, kita hanya memiliki satu pertanyaan yang belum terjawab–“

“Siapa pihak asing yang merencanakan semua konspirasi ini?”

“Tepat. Itulah mengapa kita harus menemui Hanif secepatnya. Sebagai ujung tombak Operasi Antisakti, ia pasti tahu semua hal terkait Operasi Antisakti, termasuk kasus Kampung Rimbun–jika hipotesismu benar.”

“Baiklah. Tampaknya informasi dari Johan sudah cukup membantu. Aku akan menyelesaikan beberapa urusan dengannya sebelum keluar dari gedung ini.”

Subject 09 kembali menatapi sang perwira muda. Ia tak lagi menindih leher Johan dengan lututnya, akan tetapi ia memutuskan untuk mencekik Johan dengan tangannya. “Kerjakan PR-mu dengan baik, Kapten. Sebagai prajurit berkemampuan khusus, kau begitu menyedihkan. Kau bahkan tak tahu kasus yang memotori kemarahanku terhadap delapan pejabat beberapa waktu ke belakang.”

“Aaak … a-apa maksudmu!?”

“Kampung Rimbun. Kau sama sekali tak mencari tahu tentang kasus itu, bukan?” tanya Subject 09 dengan ekspresi dan intonasi suara yang bengis.

“Urrrk … ” Johan kehabisan kata-kata. Seraya menahan rasa sakit di sekitar lehernya, ia merenungkan kata-kata Subject 09. Ia tak pernah mendapatkan informasi mengenai kasus Kampung Rimbun sebelumnya. Mayjen Riyadi dan Hana Yuriska hanya membahas soal masa lalu Project SAKTI dan Operasi Antisakti sebelum ia diterjunkan ke lapangan. Pertanyaannya mengapa? Mengapa pembantaian Kampung Rimbun tak disingkap kepadanya?

“Kapten, kau tampak seperti orang baik-baik. Tetapi sayang, kau lebih memilih berada di tengah para pengkhianat negara demi kata ‘tugas’. Maaf, aku harus membunuhmu. Ini juga merupakan jawaban atas penculikan Verani dan Patih!” Subject 09 mengambil pecahan kaca yang terserak di atas ubin dan mengangkatnya setentang kepala. Ia benar-benar berniat untuk menghabisi nyawa Johan.

Johan pasrah, ia sekadar menatapi pecahan kaca yang siap menembus kulit dan ototnya kapan saja. Ia berupaya menyambut kematian dengan ikhlas, namun kedua sudut bibirnya enggan tersenyum. Raganya tak hendak menuruti nurani, seakan ada hutang yang belum ia bereskan. Akan tetapi, apa dayanya? Maut adalah maut. Waktu takkan setuju menghentikan langkahnya demi menghadang maut.

.

.

Drap, drap, drap!

“KAPTEN!” Belum sempat Subject 09 mengoyak kepala Johan, tiba-tiba muncul beberapa orang berpakaian taktis di depan ruangan interogasi. Salah satu dari mereka lantas membidikkan senapannya ke arah Subject 09 tanpa keraguan. Ia juga menjadi orang pertama yang mengangkat senjata.

KA-BLAM!

Tembakan dilepaskan oleh sang prajurit taktis. Peluru melesat cepat dan menembus dada kiri Subject 09 tanpa kesulitan. Vest-penetrating projectile, peluru berdiameter kecil yang dapat mengoyak rompi antipeluru tersebut berhasil melukai Subject 09 tanpa sempat diantisipasi. Subject 09 pun tersungkur di samping Johan. Ia melenguh singkat sebelum punggungnya menyentuh lantai.

Mendengar suara tembakan menyalak, para prajurit taktis yang lain pun ikut melepaskan tembakan dengan brutal. Mereka menghujani posisi terakhir Subject 09 dengan timah panas. Akan tetapi, Subject 09 menolak mati. Ia segera bangkit dan mengangkat sisi meja interogasi ke hadapannya. Ia mencoba membuat perisai sementara untuk menahan rentetan tembakan yang menggila.

Beberapa peluru memantul sesaat setelah menghantam permukaan meja, beberapa berhasil tembus. Subject 09 sendiri telah menerima dua hingga tiga peluru pada torsonya. Keadaannya semakin tak menguntungkan. Pada akhirnya, ia pun mengangkat meja interogasi dan berlari menuju gerombolan prajurit taktis yang mengamuk tersebut.

Formasi CQB yang kokoh seketika buyar. Lebih buruk lagi, para prajurit taktis sama sekali tak sempat untuk berpencar. Subject 09 melempar meja interogasi ke arah gerombolan orang berkostum serba hitam tersebut dan menimpa mereka. Situasi kembali menguntungkan, tetapi mungkin tak lama. Para prajurit taktis sedang kehilangan fokus, ini saat yang baik bagi Subject 09 untuk menyerang balik dan kabur.

Nine! Aku melihat truk DSN dari sini! Ada belasan truk! Keluar dari sana, lupakan Johan! Kau takkan sanggup melawan mereka sekaligus!” Subject 17 menyerukan peringatan kepada saudaranya, sayangnya Subject 09 sudah lebih dulu terjebak dalam situasi tak terduga tersebut.

Subject 09 tak menjawab peringatan saudarinya. Ia lekas-lekas kabur seraya memegangi tubuhnya yang terluka. Ia harus kabur sebelum personel DSN yang lain menemukannya. Johan bukan urusannya lagi, ia bisa menemukannya di lain waktu.

***

Setelah sekitar lima belas menit menanti, Subject 17 pun akhirnya melihat saudaranya keluar dari parkir bawah tanah NetCaptain. Subject 09 tampak terluka parah. Melihat kondisi tersebut, Ia segera menancap gas dan melesat menuju tempat di mana Subject 09 berpijak. “Verani! Patih! Pegangan!” serunya kepada dua orang yang menumpang di belakang.

Subject 17 mengemudikan mobilnya seperti kesetanan. Ia menyebrangi trotoar pembatas jalan sebelum akhirnya tiba di titik jemput. Hanya butuh beberapa detik untuk mencapai tempat di mana Subject 09 berdiri. Setibanya, ia langsung membuka jendela mobil. “Masuk! Cepat masuk, sebelum para keparat itu menyusul kita!” serunya kepada Subject 09.

Subject 09 tak menjawab. Ia segera membuka pintu belakang dan merebahkan dirinya di lantai mobil. Ia sudah tak sanggup berdiri maupun duduk, sekujur tubuhnya terasa seperti terbakar. Subject 17 lantas menancap gas dan berusaha untuk “menghilang” dari tempat kejadian perkara.

Mendapati kondisi mantan tetangganya yang parah, Verani sempat syok. Darah di mana-mana, lebam di mana-mana, ia seperti melihat korban perang. Akan tetapi, ia akhirnya memberanikan dirinya untuk mendekati Subject 09. Ia memegangi wajah Subject 09 sambil menangis, dipikirnya Adam akan mati malam itu. “Adam … Adam … ” gumamnya berkali-kali.

“Hai, Ve. Aku baik-baik saja. Urrrgh. Itu, ambilkan kotak P3K di bawah kursi,” ujar Subject 09 seraya menunjuk kotak berukuran cukup besar di bawah kursi penumpang.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Verani panik, tentu saja. Ia belum pernah melihat kondisi separah itu sebelumnya. Tanpa banyak menunda-nunda, ia segera mengambil kotak yang dimaksud oleh Subject 09. Patih pun turun dari tempat duduknya, ia ingin membantu ibunya.

Subject 09 mendudukkan tubuhnya secara perlahan-lahan. Ia lantas melepaskan rompi antipeluru dan pakaiannya. Verani sekali lagi terhenyak oleh pemandangan yang muncul di depan matanya, begitu pun Patih. Mereka tak pernah melihat luka tembak secara langsung sebelumnya. Pemandangan itu sontak membuat keduanya gemetar dan lemas. Napas mereka pun menjadi tak beraturan.

Subject 09 sendiri terkejut mendapati empat lubang di torsonya. Ia lantas menatapi Verani dan Patih, tak tega melihat keduanya syok. “Verani, Patih. Dengarkan aku. Kalian jangan panik. Aku baik-baik saja. Ini tak seberapa,” ujarnya seraya membuka kotak P3K.

“Adam … ” gumam Verani lirih. “Apakah kau benar-benar seorang pembunuh? Semua orang membicarakanmu tadi.”

Subject 09 sekadar menatapi sosok wanita cantik di sampingnya. Kedua matanya terbelalak. Ia enggan memuntahkan jawaban walaupun Verani telah mengetahui kebenaran identitasnya. Ia pun menaburkan bubuk anti pendarahan di sekitar lukanya untuk mengalihkan pembicaraan. Raganya sontak bagai tertusuk duri, ia melenguh cukup keras sebelum akhirnya Verani menggenggam tangannya.

Subject 09 tak bisa menghindar dari kenyataan, ia sekali lagi menatapi Verani, lalu menghela napas panjang. “Kau tahu mengapa tak ada televisi, radio, internet, koran, dan sebagainya di rumah?” tanyanya.

Verani melepaskan genggamannya dari tangan Adam. Ia menatapi buah hatinya, lalu kembali memperhatikan Adam dengan kedua mata nan sembab. Ia terjerat oleh kebisuan.

“Itu karena aku tak ingin mengecewakan kalian. Aku tak ingin menghancurkan harapan kalian untuk hidup tenteram. Aku telah melakukan sesuatu yang sangat buruk sepanjang hidupku. Dunia membicarakanku dan aku tak ingin kalian hidup dalam dukacita karena melihat jati diriku yang sebenarnya,” jelas Subject 09 tertunduk. “Maafkan aku … ” imbuhnya lirih.

Verani mengusap pipi Subject 09. Ia tak tahu mengapa tangannya bergerak begitu spontan. Satu-satunya hal yang ia pahami saat itu adalah Adam terjerat dalam situasi yang serupa dengan dirinya di masa lalu. Ia hanya ingin menenangkan pujaan hatinya. “Kau telah menerima jati diriku seutuhnya. Mengapa kau harus takut aku takkan menerima jati dirimu?”

Subject 09 terdiam. Matanya terpaku menatapi wajah Verani selama beberapa saat. Ia lantas meminta Verani untuk membalutkan perban di sekitar lukanya. Tampaknya ia belum siap untuk membicarakan kenyataan hidupnya lebih jauh. Ia hanya ingin pulih dari luka-lukanya untuk saat ini.

Dan berada di dekat Verani, tentu saja.

***

Kantor NetCaptain, 23.13

Johan duduk bersandar di dinding ruangan interogasi seraya menempelkan sekantong es batu di atas keningnya. Ia masih dalam tahap pemulihan. Wajahnya penuh dengan lebam, salah satu pipinya bahkan terlihat bengkak. Luka-lukanya telah dibersihkan oleh tim medis, akan tetapi ia masih belum bisa beraktivitas setelah melewati pertarungan sengit dengan Subject 09.

Puluhan personel aparat tampak mondar-mandir di sekitar kantor untuk melakukan investigasi dan pengangkatan jenazah para anggota PIN yang tewas. Diantaranya juga tampak Hana Yuriska tengah memberikan pernyataan kepada pihak kepolisian tentang apa yang terjadi di kantor tersebut. Ia hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Johan, sebenarnya.

Investigasi tak berjalan lama, Hana lantas berjalan menghampiri teman barunya. Ia bercekak pinggang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Rupanya formula yang dibuat dari sampel darah anggota Project SAKTI tak cukup untuk mengalahkan Adam,” ucapnya.

“Setidaknya kau benar akan satu hal: ramuan yang kau suntikkan ke tubuhku meningkatkan refleks gerakanku,” jawab Johan. “Tetapi refleks saja tak cukup untuk mengalahkan Adam,” lanjutnya tertunduk.

Hana mengambil kursi interogasi, lalu duduk seraya melipat kaki. “Tenanglah, Kapten. Yang penting kau selamat. Aku bersyukur kau tetap hidup setelah berhadapan dengan Adam untuk yang kedua kalinya.”

“Ya, ya, ya. Kau juga mungkin akan menganggapku tidak kompeten jika aku mati.”

Hana tertawa kecil mendengar keluhan Johan. “Tidak begitu, Kapten. PIN membutuhkan orang sepertimu. Sebelum masalah dengan Adam selesai, kami berharap kau tetap berada di sisi kami.”

Johan tak merespon. Ia malah menekukkan kedua lututnya dan menyandarkan kepala di atas kedua pahanya. Agaknya ia terlalu lelah untuk berbincang-bincang dan membutuhkan istirahat panjang.

“Ngomong-ngomong, aku punya berita bagus untukmu.”

Johan terdiam sejenak, tetapi ia penasaran. “Berita bagus? Seperti apa contohnya?”

“Ilmuwan PIN berhasil memodifikasi pikiran salah satu anggota Project SAKTI. Seorang wanita. Aku sudah berbicara dengan Mayjen Riyadi dan ia begitu kagum mendengar kabar ini. Kau tahu apa yang beliau katakan kepadaku?”

Johan menengadahkan kepalanya. Keningnya berkerut, ia terheran dengan arah pembicaraan Hana.

“Beliau memerintahkan agar wanita tersebut  menjadi partner-mu untuk menangkap Adam. Kau akan punya peluang keberhasilan yang lebih besar untuk menangkap bajingan tersebut.”

“W-wanita? Saudari Adam di Project SAKTI?” Johan masih sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan Hana. Terdengar seperti sains fiksi baginya.

“Yep, itu dia ada di belakangmu. Perkenalkan, namanya Tenma.”

2

Johan terperanjat, ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita berparas bengis berdiri di belakangnya. Wanita ini sama berbahayanya dengan Adam. Johan bahkan tak bisa merasakan hawa keberadaannya sampai Hana memperkenalkannya beberapa saat lalu.

“Entah kenapa, hanya namanya yang tidak mampu kita hilangkan dari memorinya. Ia terus-menerus menyebut namanya saat para ilmuwan berusaha menghapus ingatannya. Tetapi itu tak menjadi masalah. Memori lainnya justru dapat kita hapus, lalu kita masukkan memori baru ke dalam kepalanya. Ia takkan bersikap ramah jika bertemu dengan Adam,” jelas Hana.

Johan bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri di samping Hana dan menatapi Tenma dengan kedua mata terbelalak. Ia masih tak percaya dan agak sedikit takut dengan wanita yang disinyalir sama kuatnya dengan Adam tersebut. Ia menelan ludah, tak berkata apa-apa setelahnya.

“Halo, Kapten. Salam kenal,” ujar Tenma seraya menunduk elegan.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *