6 – Behind the Anger


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Lembang, 23.48

“A-Adam … apa yang kau lakukan? S-siapa wanita yang kau pukuli?”

Angin malam pun berhembus kencang, seakan menjadi satu-satunya jawaban atas tanda tanya yang meliputi benak Verani. Subject 09 dan Subject 17 hanya sanggup terdiam, merenungkan jawaban demi jawaban yang tak kunjung terucap. Keduanya benar-benar berhenti bertukar pukulan, fokus terhadap kedatangan wanita bernama Verani tersebut.

“Perlukah kukatakan segalanya, Nine?” tanya Subject 17 dingin.

“Tidak! Kau justru akan merusak segalanya!” tukas Subject 09.

“K-katakan saja apa yang terjadi di sini, Adam! Ada banyak keganjilan yang tak bisa terjawab olehku,” nada bicara Verani mulai meninggi. “Pertama, k-kau telah membohongiku. Kau bilang kau mau merokok di teras, nyatanya kau malah pergi dari rumah. Kedua, kau datang ke daerah antah-berantah hanya untuk baku hantam dengan seorang wanita. Ajaibnya, ia menerima pukulanmu dan selamat tanpa luka serius! Tiga lelaki begundal di flatku saja hancur berantakan oleh tinjumu, lantas mengapa … teman berhijabmu … tetap berdiri tegap seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya? Apa yang sesungguhnya terjadi? S-siapa kalian sebenarnya?”

Mendengar rentetan pertanyaan Verani, Subject 09 pun tertunduk seraya menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan. Ia merasa tak sanggup untuk memuntahkan fakta pahit yang mungkin akan memudarkan kebahagiaan Verani dalam sekejap mata. Seakan pelangi membentang diantara awan hitam yang berarak, tinggal menunggu waktu hingga seluruh warnanya tersekat oleh kegelapan.

“Seperti yang pernah kukatakan kepadamu, Ve: selalu ada bagian dari kehidupan yang tak bisa kita ceritakan kepada orang lain. Apa yang kau lihat saat ini adalah salah satunya.”

“A-aku tak butuh nasihat itu. Aku butuh kejujuran! Aku perlu tahu kebenaran tentang dirimu! A-aku … aku … aku hanya tak mau hidup dengan seseorang yang berpura-pura memberikanku kebahagiaan!”

Subject 09 terhenyak, kedua matanya terbelalak menatapi Verani selama beberapa saat. Ia lantas kembali tertunduk. “Aku tak berpura-pura, Ve. Aku hanya tak bisa mengatakan siapa diriku yang sebenarnya. Lagipula, jika kau memandangku sebagai seseorang yang berpura-pura memberimu kebahagiaan, mengapa pada waktu itu kau memohon untuk tinggal bersamaku padahal kau belum mengenalku?”

Kali ini Verani yang terhenyak. Ia tak lagi bisa berkelit. Kemarahannya tetap berkobar, namun ia tak punya argumen untuk melawan. Ia memang salah, tak semestinya ia mengatakan hal yang begitu menyakitkan kepada pujaan hatinya sendiri, tetapi semuanya sudah terlanjur. “Karena kau adalah harapanku satu-satunya … ” ujarnya melengos.

“M-maafkan aku, Adam. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku hanya kesal kau membohongiku dan datang ke tempat seperti ini untuk menemui seorang … wanita. Aku tahu, aku tahu, kau datang kemari bukan untuk berkencan. Tetapi aku … aku sempat berpikir … ” Verani gelagapan. Ia tampak begitu gugup untuk menyelesaikan kata-katanya. “Ugh, sulit untuk dijelaskan.”

Situasi kembali menyepi. Seakan alam pun ikut termenung. Tak ada angin berhembus, tak ada jangkrik mengerik. Sesaat itu benar-benar damai. Rembulan pun sekadar sanggup meminjamkan terangnya kepada tiga orang yang berdiri di tengah para ilalang yang meninggi.

“Verani–“

“Mungkin sebaiknya aku pulang. Aku harus menenangkan pikiran. M-maafkan aku, Adam. Tak semestinya aku ikut campur dalam masalah pribadimu,” sela Verani. Ia lantas bertolak dan bergegas meninggalkan lokasi perkelahian Subject 09 dan Subject 17. Kepalanya tertunduk, ia berupaya menyembunyikan kesedihan yang menyelimuti jiwa dan raganya.

“Verani!” Adam berupaya menghentikan langkah Verani dengan seruannya. Namun, usahanya tak digubris.

“Biarkan ia pergi, Nine. Aku juga wanita, aku tahu bagaimana perasaannya. Tunggulah hingga esok hari,” ucap Subject 17.

“Mengapa aku harus mendengarkan dirimu?” Subject 09 tertunduk jengkel.

“Sudah kubilang aku ke sini bukan untuk bertengkar denganmu!” Wanita yang akrab disapa Felicia itu pun meninggikan suaranya. Ia sudah tak tahan dengan sikap saudaranya. “Kalau aku mau bertengkar, aku pasti sudah memanfaatkan agen pemerintah untuk menghantam rumahmu dengan roket dan membuat Veranimu hancur berantakan, PAHAM!?”

Subject 09 terjerat dalam kebisuan. Ia rasa sudah cukup beradu argumen dengan saudarinya sendiri. Kedua tangannya lantas menyelinap ke dalam kantong jaket, menandakan bahwa ia sudah tak tertarik melakukan konfrontasi dengan Subject 17.

“Hhh … ” Subject 17 menghela napas panjang. “Aku sudah tak mood meneruskan perdebatan ini, kau mungkin merasakan hal yang sama. Aku akan kembali menemuimu di waktu yang berbeda dengan tujuan yang sama: aku harus tahu apa yang memotori kemarahanmu terhadap delapan pejabat yang kau bantai beberapa waktu lalu,” lanjutnya.

Tak lama kemudian, Subject 17 pun berjalan meninggalkan Subject 09 tanpa mengucapkan salam perpisahan atau semacamnya. Ia merasa jengah.

“Jurig.” Belum jauh saudarinya berjalan, Subject 09 tiba-tiba menyebutkan sebuah nama; nama yang sama sekali tak terdengar asing bagi kedua mantan pembunuh rahasia pemerintah tersebut.

Subject 17 sontak menghentikan langkahnya, namun ia enggan menoleh ke belakang. Ia mendengarkan.

“Jurig. Ia adalah alasan mengapa aku tak percaya padamu,” ulang Subject 09.

“One?”

“Ya, Subject 01.”

Tak ada respon lagi. Subject 17 membiarkan syair-syair malam melantun lirih menanggapi penjelasan singkat Subject 09. Ia pun kembali melangkah menjauhi tempatnya bertarung. “Temukan aku atau aku yang akan menemukanmu. Kita akan bicara lagi soal ini.

” … “

“Pastikan kau tidak melayangkan tinjumu lagi saat bertemu denganku untuk kedua kalinya atau … kau akan tahu akibatnya, Nine.”

***

Ruang visum PIN
09.21

Johan dan Hana berdiri mematung menatapi sembilan orang jenazah anggota PIN yang dikabarkan tewas akibat konfrontasi melawan Adam semalam lalu. Keduanya tak melakukan apa pun selain mendelik wajah para jenazah selama beberapa saat, Johan bahkan menatapi beberapa diantaranya begitu lama. “Mereka anggota Sandi Yudha. Aku kenal mereka,” ujar Johan seraya menunjuk korban-korban yang ia kenali.

Hana pun menghela napas panjang. Ia merasa putus asa. “Kita benar-benar harus mencoba kemampuanmu di lapangan, Kapten. PIN sudah kehilangan banyak korban, ini tak bisa dibiarkan,” jawab Hana.

“Mereka bukan orang PIN. Mereka adalah gabungan TNI dan Polri.”

“Aku tahu. Akan tetapi mereka sedang bekerja di bawah yurisdiksi PIN. Itu artinya PIN kembali kehilangan aset berharga, walaupun faktanya kita sama sekali tak kehilangan orang.”

Johan terdiam sejenak, lalu melangkah mendekati salah satu jasad temannya. “Kita harus mengubah taktik. Batasi peran tim surveillance hanya sebagai pengamat dan pemberi informasi, bukan sebagai pembekuk. Serahkan urusan ofensif kepada tim kita.”

“Saran yang bagus,” tutur Hana ragu-ragu. “Aku setuju dengan saran tersebut … tetapi kau perlu tahu satu hal.”

“Hmm, apa itu?”

“Aku mendapatkan informasi dari beberapa agen yang selamat dari insiden semalam bahwa mereka kedatangan penyerang tak dikenal yang gayanya hampir mirip dengan Adam. Aku juga mendengar pernyataan serupa dari dua agen yang sempat mengunci posisi Adam di toilet Mal Cihampelas; sesaat sebelum mereka membekuk Adam, tiba-tiba terdengar kegaduhan pada handsfree yang mereka kenakan. Tak lama kemudian, muncul kabar bahwa tiga orang agen tewas akibat baku hantam dengan sosok misterius.”

“Brengsek … ” ekspresi Johan seketika berubah, kedua alisnya menyeringai penuh kekhawatiran. “Salah satu dari tiga anggota Project SAKTI yang tersisa.”

“Benar, Kapten. Aku juga berpikir hal yang sama. Aku semakin yakin saat melihat hasil visum kesembilan korban ini; mereka semua mati karena patah leher dan putus urat nadi. Dokter menduga kepala mereka dipelintir. Sebagai petarung, kau pasti tahu, Kapten … serangan selihai itu hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Pelakunya tak ditemukan pula.”

“Tak ada bukti apa pun yang bisa mengantarkan kita kepada pelaku? CCTV? Rekaman citra satelit? Chest-cam?

“Sejauh ini tak ada. Ia sepertinya lihai berbaur dengan keramaian, lalu memanfaatkan momen-momen serta sudut-sudut tertentu untuk menyerang. Dan pertanyaanmu soal citra satelit, itu adalah barang mahal, Kapten. Lagipula situasinya malam dan ia berbaur dengan warga sipil, satelit pun takkan begitu membantu. Buang-buang uang saja nantinya.”

Johan melengos, ia membuang napasnya perlahan-lahan. “Tetapi Adam ada di mal malam itu ‘kan?”

“Menurut pengakuan dua agen yang mencegatnya di toilet … ya, Adam ada di lokasi.”

“Jika pelaku merupakan anggota Project SAKTI, kupikir kedatangannya malam itu ada hubungannya dengan Adam. Bagaimana pun mereka adalah tikus terakhir, mungkin pelaku hendak memancing perhatian Adam. Aku tak punya bukti atas teori ini, tetapi firasatku mengatakan demikian. Mungkin kita memang harus memfokuskan pencarian ke arah Adam. Kita temukan Adam, kita temukan si bangsat tersebut.

“Sayangnya kita juga kehilangan jejak Adam, Kapten. Seluruh kekuatan PIN di mal malam itu dialihkan untuk menemukan pelaku, karena keadaannya sangat gawat. Akan tetapi, informasi terakhir menyebutkan bahwa ada sosok mirip Adam sedang bersantai di restoran pizza.”

“Restoran pizza? Kau melacaknya?”

“Ya, tetapi hanya ada satu CCTV yang berhasil merekamnya. Itu pun tak jelas karena si terduga membelakangi kamera.”

“Hmm … ” Johan mengelus-elus dagunya. Ia memikirkan keganjilan fakta yang dibeberkan oleh Hana. “Jika hanya ada satu kamera CCTV yang berhasil merekamnya, itu artinya ia memang berniat menghindari kamera. Akan tetapi, di sisi lain ia juga tampak begitu santai—makan pizza dan sebagainya. Apakah ia benar-benar Adam?”

“Aku mempertanyakan hal yang sama denganmu. Tidak mungkin ada orang yang mampu menghindari kamera CCTV di Mal Cihampelas, kecuali orang itu tahu di mana posisi kamera berada. Well, kalau pun ada yang mampu mengetahui posisi kamera, bisa dipastikan ia bukan orang sembarangan.”

“Kurasa kita harus memeriksa sosok misterius tersebut, Hana. Jika benar ia adalah Adam dan kedatangannya ke Mal Cihampelas sekadar untuk bersantai—padahal ia tahu nyawanya terancam, dugaanku ia berada tak jauh dari Kota Bandung.”

“Belum tentu. Ini sudah berlalu selama beberapa jam. Bagaimana jika ia sudah pergi ke luar kota?”

“Tak masalah. Tetap konsolidasikan kekuatan tim surveillance untuk mendeteksi kehadiran Adam. Aku sepertinya akan pergi ke suatu tempat yang cukup dekat dengan Kota Bandung. Jika aku berada di posisi Adam, aku tentu akan mempertimbangkan daerah tersebut sebagai salah satu tempat persembunyian karena takkan mudah dideteksi oleh orang-orang perkotaan seperti kita.”

“Daerah pegunungan? Ciwidey? Lembang?”

“Salah satu dari keduanya, semestinya.”

***

Komplek Pesantren Daar At-Tauhid, 10.00
Bandung

Seorang pria dengan peci putih dan masker flu abu-abu itu tampak sabar berdiri menunggu di seberang masjid kecil nan elegan. Masjid tersebut merupakan bagian dari Yayasan Pesantren Daar At-Tauhid yang telah tersohor hingga ke seluruh penjuru Bandung. Entah siapa yang ia tunggu, akan tetapi matanya terus-menerus menyorot ke arah pintu masuk masjid. Kabarnya memang sedang ada pengajian pagi yang dibawakan langsung oleh sang pemilik yayasan, mungkin orang yang ditunggu oleh sang pria sedang mengikuti acara tersebut dengan khusyuk.

Tak lama kemudian, kerumunan orang pun keluar dari masjid. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa pengajian pagi yang dibawakan oleh pemilik yayasan telah usai. Melihat situasi tersebut, sang pria tetap tak berkutik. Ia tetap berdiri seraya mengunci pandangannya ke pintu masjid. Kedua tangannya tetap bersarang di saku jaket yang dikenakannya, ekspresinya pun sama sekali tak berubah.

Semuanya lantas berubah saat sang pria mendapati seorang wanita berjilbab panjang keluar dari pintu masjid ditemani oleh istri sang pemilik yayasan. Felicia Riska Nirmala, wanita yang digila-gilai oleh seantero penghuni komplek Daar At-Tauhid tersebut rupanya adalah target sang pria. Akan tetapi, mengetahui Felicia sedang asik mengobrol dengan istri sang pemilik yayasan, sang pria pun tak beranjak dari tempatnya berpijak. Ia tetap berdiri mematung di seberang masjid.

Satu menit, tiga menit, lima menit, percakapan dua wanita berjilbab tersebut akhirnya usai. Istri sang pemilik yayasan lantas pergi meninggalkan Felicia, entah apa yang baru saja mereka diskusikan.

Begitu istri sang pemilik yayasan jauh, Felicia segera mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Ia mendapati seorang pria berpeci putih sedang menatapinya. Ia menatap, sang pria menatap. Tak lama kemudian, ia pun tertawa mendengus dan bergegas meninggalkan lingkungan masjid.

Sang pria berjalan mengikuti Felicia dari seberang jalan. Langkahnya begitu santai, seakan tak mengetahui bahwa Felicia telah memergokinya. Felicia sendiri tak merasa terancam dengan keberadaan sang pria, ia tetap berjalan seakan tak ada yang membuntutinya.

Alih-alih merasa terancam, Felicia malah memasuki sebuah kantin di pinggir jalan dan mulai memilih-milih makanan. Sang pria sempat terheran, ia menghentikan langkahnya sejenak dan menatapi Felicia dengan kening berkerut. Wanita ini terlalu santai, pikirnya. Namun, pada akhirnya ia pun memasuki kantin yang sama dan duduk di belakang meja tempat Felicia menunggu hidangannya. Felicia duduk di hadapannya.

“Mengejutkan sekali kau datang tanpa melayangkan tinjumu sama sekali,” ujar Felicia seraya menopang dagunya. Ia tampak lucu.

“Anggaplah aku sedang malas baku hantam denganmu,” ujar sang pria.

“Heh, hipokrit. Kau takkan datang kemari jika kau tak percaya padaku.”

“Aku masih tidak mempercayaimu, Felicia. Jika kau melakukan sesuatu yang mencurigakan, aku takkan ragu untuk melumatkanmu.”

“Kita berdua tahu bahwa hal tersebut bukanlah hal yang mudah, Nine. Bisa jadi kaulah yang meregang nyawa.”

Kedua sosok misterius itu pun tertawa mendengus, seakan sudah terbiasa mendengar nyawa mereka terancam. Tentu saja, keduanya bukanlah sosok yang sejak kecil ditimang oleh kedamaian. Mereka sudah terbiasa membunuh dan diburu pembunuh. Ancaman pembunuhan hanyalah kelakar bagi mereka; Subject 09 dan Subject 17 sudah tak mengenal rasa takut.

“Jadi, kau memutuskan untuk membeberkan rahasiamu kepadaku?” tanya Felicia seraya bersandar di kursinya.

“Mungkin. Jika kau bisa memastikan bahwa tak ada spion di sekitar kita.”

Huh, spion di sini tak seagresif di pusat kota. Mereka hanya mengamati aktivitas penjahat-penjahat kelas teri, jadi kau tak perlu khawatir. Lagipula, kostummu sangat sempurna, takkan ada yang menyadari keberadaanmu di sini.”

“Tetap saja tak membuatku nyaman. Apalagi banyak fans-mu yang melirik kemari,” goda Subject 09.

Felicia terdiam sejenak menatapi Subject 09 tanpa ekspresi, lalu tertunduk dan tertawa. “Kau memperhatikan juga, ya. Tak perlu khawatir. Aku akan mengatakan bahwa kau adalah kakakku. Simpel, bukan?”

“Aku lebih nyaman jika kita mengganti bahasa. Nihongo, Felica-chan?” Subject 09 mengubah bahasa percakapannya. Ia kini berbicara dalam Bahasa Jepang.

“Ah, sokka. Baiklah, aku turuti kemauanmu,” jawab Subject 17 menggunakan bahasa yang sama.

“Kau bisa mengatakan bahwa kau sedang mempelajari Sastra Jepang jika ada yang bertanya. Kampus sebelah memang ada jurusan Sastra Jepang ‘kan?”

“Benar. Kalau begitu, bagaimana jika kita langsung ke inti pembicaraan? Aku tak punya banyak waktu untuk mengobrol santai denganmu. Kau tahu apa yang kuinginkan, Nine. Mengapa kau mengeliminasi delapan–“

“Tujuh, bukan delapan.”

“Uhh, baiklah, tujuh. Satu orang lagi dieliminasi oleh pemerintah. Apa alasannya? Apakah semua pertumpahan darah tersebut terkait dengan Operasi Antisakti?”

“Kau sama sekali tak tertarik pada skandal politik selain Operasi Antisakti, ya? Kalau saja kau peduli pada berbagai kasus terorisme yang terjadi belakangan, kau akan tahu mengapa aku menghabisi mereka,” ujar Subject 09 menyeringai. “Kasusku tak terkait langsung pada Operasi Antisakti, akan tetapi ada petunjuk ke arah sana.”

“Jadi, kau menghabisi tujuh pejabat BUKAN karena kau ingin membalas dendam perbuatan Operasi Antisakti?”

“Sama sekali bukan.”

“Huh! Membosankan sekali, tampaknya kaulah orang yang menjadi lembek terhadap pemerintah setelah Operasi Antisakti membantai para pengasuh Project SAKTI! Kau yang tampak tak bisa dipercaya, bukan aku!”

Ngawur. Kita berdua tahu bahwa Operasi Antisakti bukan operasi sembarangan. Mereka sadar kita ini senjata rahasia rezim 1998, sehingga mereka tak ragu menguras trilyunan rupiah demi menangkap setiap jiwa yang terkait dengan Project SAKTI; tak peduli siapapun yang mereka bayar—entah itu pembunuh bayaran, Blackwater, Delta Force, Spetsnaz, bahkan mafia sekalipun. Mereka datang keroyokan, seperti kelompok tawuran yang diisi oleh para profesional. Kau tahu itu, Seventeen. Kalau kau tidak tahu, kau takkan menghilang diantara akhwat-akhwat pengajian seperti ini, bukan begitu?”

“Ugh … ” Felicia tak mampu melawan argumentasi saudaranya. Ia pun bersandar di kursinya dengan perasaan jengkel. Ia lantas menyedekapkan kedua tangannya, menatapi Subject 09 dengan geram. “Lalu, apa alasan dibalik pembantaian delapan pejabat tersebut?”

“Kampung Rimbun.”

“Kampung Rimbun!?” Ekspresi Felicia seketika berubah. Kedua matanya terbelalak penuh rasa heran. “Pembantaian yang dituduhkan kepada Laskar Pembebasan itu ‘kan?”

“Yep.”

“Aku tahu pembantaian itu dilakukan oleh pemerintah, bisa terlihat jelas dari hasilnya yang begitu sempurna. Hanya saja aku tak tahu jika kasus tersebut memiliki posisi istimewa di matamu. Apa latar belakangnya? Kau tak mungkin bertindak jika tak ada sesuatu yang spesial di sana.”

“Ya, memang ada sesuatu yang istimewa di sana. Seseorang.”

” … ” Felicia terdiam, ia menarik kepalanya perlahan ke belakang. Ia bersiap mendengar cerita sang buronan nomor satu di Indonesia.

“Semua berawal dari tahun 2016—lima tahun yang lalu—saat Operasi Antisakti sedang gencar-gencarnya mencari metode yang tepat untuk membekuk anggota The Creation Project SAKTI … “

***

Jakarta, 01.40
2016

Petang telah menghilang. Hadirnya tergantikan oleh malam. Jalanan ibukota sudah tak lagi gersang, paling tidak untuk beberapa jam ke depan. Sesekali suara klakson menyalak, namun benar-benar hanya sesekali. Ibukota sedang beristirahat, menyelimuti para insan yang bernaung di balik kemegahannya.

Akan tetapi, tak semua hendak terpejam. Enam orang berbadan besar tampak sedang mengecek senapan otomatis di dalam mobil van hitam di tepi jalan. Mereka dilengkapi dengan perlengkapan taktis yang biasa dikenakan oleh pasukan antiteror; rompi antipeluru, night-vision goggles, pelindung sikut dan lutut, serta berbagai macam printilan taktis lainnya. Badan keenam sosok misterius tersebut pun tampak sangat besar, seperti pelatih fitness yang baru saja pindah profesi menjadi tentara bayaran. Entah siapa yang hendak mereka serang malam itu, namun mereka tampak sangat serius.

“Oke, tampaknya semua orang sudah tidur. Saatnya beraksi, kawan-kawan,” salah seorang anggota di dalam van memberikan sinyal kepada keenam kawannya untuk keluar dari mobil dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Ia memasang mikropon parabolik pada rumah kost yang berdiri kokoh beberapa puluh kaki dari tempat mobilnya terparkir, itulah sebabnya ia tahu kapan seluruh penghuninya terlelap.

Dan, ya, rumah kost tersebut merupakan tempat tujuan para penyerang. Entah siapa yang tinggal di dalamnya.

Keenam penyerang nan sangar itu pun keluar dari mobil dan bergerak menuju rumah kost terkait. Keamanan rumah yang lemah benar-benar mempermudah mereka untuk masuk tanpa kendala; tak ada satpam, tak ada CCTV, tak ada anjing penjaga, keenamnya masuk dengan mulus. Mereka lantas menuju tempat paling krusial untuk mempermudah jalannya operasi: tempat terpasangnya MCB (Miniature Circuit Breaker) utama.

Salah satu dari keenam penyerang tersebut bergegas memasang benda seukuran sabun mandi tepat di atas MCB rumah kost tersebut. Bukan bom, tetapi EMP (Electromagnetic Pulse). Benda berukuran kecil tersebut cukup untuk membuat benda apapun yang dialiri listrik menjadi tak berfungsi selama beberapa jam.

“EMP siap,” si pemasang EMP berujar.

“Eksekusi,” sahut salah satu penyerang.

Klep! Tanpa mengucapkan sepatah kata, si pemasang EMP segera memutar kenop pada alat menyerupai detonator di tangannya. Listrik pun seketika padam. Rumah kost tersebut sudah bisa dipastikan akan diselimuti oleh kegelapan selama beberapa jam ke depan. Para penyerang itu pun lantas mengenakan night-vision goggles yang sedari tadi bersiaga di atas kepala mereka. Wuuung! Night-vision aktif, kini mereka takkan sulit beraksi dalam gelap.

“Siap untuk menyerang. Elang, pasang mata, pasang telinga. Bisa jadi target kabur dari tempat-tempat yang terduga,” ujar salah seorang penyerang.

“Diterima, Macan Satu. Segera eksekusi,” sahut si pengamat yang mengawasi daerah luar kost melalui komputernya di dalam mobil.

Keenam penyerang pun bergegas menyisir rumah tempat target mereka tinggal. Rumah tersebut cukup luas untuk dijelajahi, sehingga para penyerang butuh waktu untuk mencapai titik tuju. Mereka bergerak perlahan seraya membentuk formasi CQB [1] nan kokoh. Formasi tersebut tak hanya menguntungkan mereka untuk melakukan tindakan ofensif, tetapi juga defensif. Setiap orang ditugaskan untuk mengawasi titik lokasi yang berbeda-beda, seperti mata majemuk pada lalat dan capung.

NB: [1] Close Quarter Battle. Istilah untuk pertempuran jarak dekat pada dunia militer dan kepolisian.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Macan Satu!” seru Elang secara tiba-tiba. Ia memanggil kawanannya melalui handsfree yang terpasang pada masing-masing telinga. “Aku mendengar seseorang bergerak dari persimpangan lorong di depan kalian!” ia bisa mengetahuinya dari mikropon parabolik mini yang dibawa oleh masing-masing personel bersenjata.

Mendengar seruan dari Elang, para penyerang pun bergegas mencari tempat persembunyian; ada yang bersembunyi di bawah tangga, ada yang bersembunyi di balik dinding, ada yang bersembunyi di balik sepeda motor, dan lain-lain. Mereka menunggu hingga subjek yang ditunggu berlalu.

Benar apa yang dikatakan oleh Elang. Seorang mahasiswa tiba-tiba muncul sembari menyorotkan lampu senter ke hadapannya. Ia tampaknya hendak mengecek apa yang terjadi pada MCB utama di teras rumah. Sampai detik itu, ia tak menyadari keberadaan enam penyerang berpakaian taktis di sekitarnya.

“Macan Satu, jika kau khawatir sang kancil akan melihatmu, kau bisa membuatnya ‘tertidur’. Kau juga bisa mengabaikannya dan meneruskan perjalanan ke kamar target secara senyap. Jangan dibunuh. Pilihan ada di tanganmu,” ujar Elang. Sang kancil adalah sandi untuk mahasiswa yang baru saja berlalu.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Diterima,” jawab Macan Satu.

Salah satu penyerang lantas keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri si mahasiswa dari belakang. Langkahnya begitu senyap, bahkan tak mampu terinderakan oleh si mahasiswa.

Ngek! Sebelum sempat disadari oleh si mahasiswa, sang penyerang segera mendekap leher mahasiswa malang tersebut dari belakang dan menarik tubuhnya ke bawah tangga. Dekapan sang penyerang sontak membuat si mahasiswa kesulitan bernapas dan pingsan hanya dalam hitungan detik, ia bahkan tak sempat meronta apalagi melawan. Benar-benar dekapan yang sangat kuat.

Rintangan pertama pun tumbang. Keenam penyerang tersebut lantas kembali bergerak menuju kamar target. Mereka kembali membentuk formasi CQB standar dan mengawasi keadaan sekitar.

Tak ada rintangan yang berarti sejauh itu, sampai pada akhirnya mereka pun tiba di depan kamar tempat target mereka bernaung. Mereka lantas berbaris menghimpit tembok, bersiap melancarkan serangan kejut. Tugas mereka tinggal sedikit lagi; mereka hanya perlu mendobrak kamar target dan menghujani target dengan timah panas. Semudah itu.

Macan Satu mengecek pintu kamar dengan semacam detektor logam. Detektor tersebut didesain untuk mendeteksi bom atau granat atau benda apa pun yang berfungsi sebagai perangkap di balik pintu. Tujuannya adalah agar para pelaku CQB tidak terluka saat mereka mendobrak pintu.

Tak ada tanda-tanda mencurigakan pada alat yang digunakan oleh Macan Satu. Ia pun menoleh kepada kelima kawannya dan mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa pintu siap didobrak. Ia lantas kembali berdiri menghimpit dinding, sementara salah seorang kawannya keluar dari barisan dan berdiri tepat di depan pintu.

BRAAAK!

Tak lama kemudian, pintu kamar pun didobrak. Sang penyerang mengentakkan kakinya tepat di atas gagang pintu dan langsung membuat kuncinya rusak. Pintu pun terbelalak, tiga penyerang lantas masuk, sementara tiga penyerang lainnya berjaga di depan kamar.

DRRRT!

Tanpa keragu-raguan, ketiga penyerang yang masuk ke dalam kamar segera memuntahkan tembakan ke tempat tidur target. Suaranya tak lantang, mereka menggunakan peredam suara.

Setelah dirasa cukup, Macan Satu segera mengepalkan tangannya ke atas. “Tahan tembakan!” serunya. Hujan timah panas pun berhenti, kedua penyerang yang mendampinginya benar-benar menyetop serangan secara total. Ia kemudian berjalan pelan menghampiri tempat tidur target. Ia hendak menyingkap selimut yang menutupi gundukan mirip manusia. Curiga, tentu saja. Sudah diberondong peluru, tetapi tak ada darah.

Macan Satu menarik selimut seraya membidikkan senapannya ke arah yang sama. Seribu sial. Gundukan tersebut rupanya hanya bantal dan guling. “Decoy [2], brengsek!” serunya jengkel. Bisa-bisanya ia tertipu oleh tumpukan bantal dan guling.

NB: [2] Pengalihan. Tipuan.

“Elang, apakah kau melihat target—”

KRAAAK!

Belum sempat Macan Satu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ia dan kawanannya dikejutkan oleh kemunculan seseorang dari langit-langit; seorang remaja pria, lebih tepatnya. Remaja tersebut sama sekali tak tampak terkejut atau ketakutan mengetahui dirinya terperosok ke tengah-tengah gerombolan pembunuh berbadan besar. Mengejutkan, sang pemuda justru menghampiri salah satu penyerang dan merenggut pisau sang penyerang.

Sepersekian detik kemudian, terjadi sesuatu yang tak terduga. Sang remaja menebaskan pisaunya ke jantung dan leher para penyerang dengan gerakan yang hampir sulit untuk diinderakan. Serangan seperti itu tentu saja tak mampu diantisipasi, keras dan mendadak. Kegilaan sang remaja langsung menumbangkan daya para penyerang ke titik terendah.

Mati dalam sekejap mata.

“BANGSAT!” Macan Satu, sang pimpinan penyerangan, terlambat bereaksi. Ia adalah satu-satunya orang yang selamat dari subjek muda Project SAKTI tersebut. Menyedihkan, ia bahkan tak sempat menyelamatkan nyawa rekan-rekannya.

Subject 09 pun bergegas mendekati Macan Satu dan langsung bertukar serangan dengan sengit. Walaupun Macan Satu berbadan jauh lebih besar, namun Subject 09 sanggup mengimbangi keadaan. Macan Satu tak mau kalah, ia sendiri berupaya menumbangkan Subject 09 dengan amarah yang telah menggerogoti kewarasannya.

Pukulan, tendangan, tebasan pisau, hingga tembakan mendadak dari jarak dekat silih berganti menghiasi pertempuran, menimbulkan keributan yang tiada tara. Hal itu tentu saja membuat para penghuni rumah kost berbondong-bondong keluar dan bergerak mendekati sumber keriuhan.

Namun, penghuni kost yang mayoritas terdiri dari pelajar itu tak berani mendekat, karena mereka tahu ada yang sedang berkelahi.

Macan Satu tak terima dipecundangi oleh seorang remaja. Ia pun merangsek maju dan mendekap tubuh kecil Subject 09. Macan Satu lantas mengangkat tubuh sang remaja brutal tersebut tanpa perlawanan.

PRAAAK!

Tak butuh usaha yang besar untuk melempar tubuh kecil Subject 09 ke jendela kamar. Kaca jendela kamar pun pecah berkeping-keping dan sang remaja pun terjatuh berguling-guling. Kegilaan itu langsung membuat para penghuni ngacir ketakutan.

“Bajingan tengik … ” Macan Satu belum puas.

Pimpinan pasukan elit itu pun segera mengerahkan seluruh energi yang tersisa untuk menyeruduk Subject 09. Ia berlari kencang dan menepati tekadnya. Serudukannya masuk, tak sempat diantisipasi oleh Subject 09, malah membuat sang remaja terentak keras dari tempatnya berpijak.

BRAAAK!

Serudukan Macan Satu yang sangat kuat berhasil membuat Subject 09 menumbuk pintu kamar salah seorang penghuni kost hingga hancur berkeping-keping. Subject 09 langsung tersungkur di dalam kamar yang sama sekali ia tak kenal. Lengah. Penghuni kost yang merupakan seorang wanita terperanjat begitu mendengar suara patahan kayu yang dramatis; ia lantas meringkuk di pojok kamarnya seraya menjerit-jerit histeris.

Macan Satu sudah tak peduli dengan para penghuni kost dan berbagai kerusakan yang ia sebabkan, tujuannya hanya satu malam itu: membunuh Subject 09.

Personel PIN berbadan besar itu segera menghampiri targetnya. Mengamuk. Ia melepaskan beberapa pukulan brutal ke wajah dan tubuh Subject 09. Beberapa serangan masuk, beberapa serangan lainnya berhasil diantisipasi. Serangan brutalnya berhasil membuat Subject 09 berkali-kali melenguh kesakitan dan memaksa Subject 09 tetap pada modus defensif.

Tak gentar, Subject 09 melihat celah. Disaat yang sama Macan Satu melepaskan tinjunya, Subject 09 segera merunduk dan keluar dari zona serang Macan Satu. Subject 09 juga mengambil pecahan cermin yang tergeletak di sekitar sana.

1

Subject 09 akhirnya mampu memposisikan diri tepat di belakang badan Macan Satu. Ia langsung menendang bagian belakang lutut Macan Satu hingga pria berbadan besar tersebut terjatuh melutut. Subject 09 berniat mengakhiri perkelahiannya, ia segera mendekap kepala Macan Satu.

Macan Satu tak gentar. Dalam posisi yang tak menguntungkan itu ia masih berusaha melawan. Ia melepaskan tinjunya ke belakang.

Sayang, Subject 09 berhasil membaca serangan. Ia memblokir pukulan Macan Satu dan bergegas menghujam serta mengoyak bisep Macan Satu dengan potongan cermin yang berada di tangannya.

“AAARGH!” Macan Satu pun menjerit histeris, menggelegar hingga ke seluruh sudut rumah kost.

Melihat celah pertahanan yang terbuka lebar, Subject 09 lekas-lekas mengakhiri pertarungannya. Ia menghujamkan pecahan cerminnya ke tenggorokan Macan Satu.

Fatal.

Macan Satu kalah telak. Ia kehilangan seluruh energinya. Yang tersisa adalah rasa sakit; rasa sakit yang bahkan tak mampu terekspresikan dengan sikap dan kata. Ia hanya sanggup memegangi lehernya yang banjir darah, lalu mengenang semua memori-memori indah yang pernah ia lalui.

Sang penyerang terakhir akhirnya tewas, tersungkur dan menggenangi ubin dengan darah segar.

Subject 09 muda menang. Ia benar-benar menghancurkan para penyerang yang bertubuh jauh lebih besar darinya tanpa berbekal peralatan canggih. Kegesitan dan kemampuan bertarungnya yang tak normal berhasil membawanya ke panggung juara. Wajah dan tubuhnya boleh saja penuh luka dan memar, tetapi pada akhirnya ia tetap menjadi pemenangnya. Dialah yang bertahan.

Akan tetapi, dengan berakhirnya perkelahian tak lantas berakhir persoalan. Subject 09 menoleh ke sudut kamar, mendapati sang penghuni kost telah terkapar luruh di atas ubin. Ia bergegas menghampiri sang gadis, lalu memeriksa urat nadi sang gadis.

Nihil, tak ada denyutan.

Subject 09 mendekatkan telinganya ke dada sang gadis untuk mengonfirmasi.

Nihil pula, tak ada denyut jantung.

Subject 09 panik. Tak seharusnya ada korban dari pihak sipil. Tanpa pikir panjang, ia segera melakukan CPR untuk mengembalikan kesadaran sang gadis. Ia memompa dada sang gadis berkali-kali, namun tak ada respon. Begitu saja yang ia lakukan selama beberapa saat.

Subject 09 mulai merasa putus asa, ekspresinya berubah drastis.

Tak semestinya ada korban dari pihak sipil, tak semestinya demikian!

Penasaran, para penghuni kost yang lain pun mulai berdatangan, namun tak berani mendekat. Mereka menyalakan senter ponsel, lalu menyorot ke tempat kejadian perkara. Darah di mana-mana, selongsong peluru di mana-mana, dan mayat di mana-mana. Beberapa bahkan pingsan begitu melihat mayat bergelimpangan. Ekspresi mereka penuh dengan ketakutan, jiwa pun dihantui oleh perasaan tak nyaman.

Subject 09 dapat melihat kengerian yang tak biasa terlukis di mata para penghuni kost, ditambah lagi para penghuni tersebut harus menyaksikan dirinya duduk di samping orang mati. Mereka mungkin telah menganggapnya sebagai pembunuh. Sekalipun Subject 09 menjelaskan bahwa ia bukan pembunuh, mereka mungkin akan tetap melaporkan Subject 09 sebagai psikopat.

Subject 09 menghembuskan napas panjang. Perasaannya menjadi tak menentu. Ia kecewa. Ia marah. Ia bingung. Ia bahkan tak bisa mengungkapkannya dengan satu ekspresi tertentu. Semuanya terpendam di dalam hati, seperti panas yang bersemayam di dalam bumi.

Tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada para penghuni kost yang mendapatinya berjongkok di samping jenazah seorang gadis, Subject 09 pun berjalan tenang keluar dari rumah kost. Ia tak peduli pada siapa pun yang berada di dalam, tak peduli pada darah yang menggenang, tak peduli pada mayat yang membujur. Ia keluar dan menghilang, entah ke mana.

***

“Jadi, kau pergi karena merasa berdosa?”  tanya Felicia pasca mendengar kisah panjang Subject 09.

“Katakanlah demikian, Felicia. Aku merasa telah menghilangkan nyawa orang yang seharusnya kulindungi. Ditambah lagi para penghuni kost tampaknya telah menduga aku sebagai pembunuh, aku semakin hilang arah.”

“Bagaimana dengan pengamat yang bersembunyi di dalam mobil?”

“Aku bunuh, tentu saja. Kalau tidak, bagaimana aku tahu ada spotter di dalam mobil? Ia keluar dari mobil dan menodongkan senjatanya kepadaku sesaat setelah aku melewati gerbang kost. Aku sedang sangat marah saat itu, jadi … kau bisa membayangkan apa yang terjadi padanya,”

“Hmm,” Subject 17 tak segera merespon. Ia masih membayangkan rentetan peristiwa yang terjadi lima tahun lalu tersebut. “Lantas apa yang kau lakukan setelahnya?”

“Menghilang. Aku hinggap dari satu kampung ke kampung yang lain; berharap dapat menghapus perasaan bersalahku dengan menjadi manusia biasa. Aku mencoba berbaur dengan masyarakat sekitar dan menikmati hari-hari tanpa pertumpahan darah.”

“Menghapus perasaan bersalah dengan pergi ke perkampungan?”

“Di kampung-kampung seperti itu jauh dari upaya pencucian otak. Para penghuninya tak mengerti dan tak peduli pada huru-hara politik yang setiap hari meramaikan televisi dan radio. Mereka lebih tertarik pada hal-hal relijius seperti pengajian dan dzikir bersama.”

“Dalam kata lain, kau sebenarnya mencari ketenangan dengan bertuhan.”

“Benar. Kita tak pernah diajarkan untuk bertuhan sejak kecil. Project SAKTI benar-benar mengadopsi kita sebagai alat untuk menghilangkan nyawa manusia. Mereka hanya peduli pada pembentukan mental dan fisik, bukan spirit. Efeknya, jiwaku tersesat pada saat membutuhkan penyegaran. Itulah mengapa aku mendatangi kampung-kampung yang relijius dan jauh dari kehidupan kota.”

“Tampaknya kau punya pengalaman yang sama denganku mengenai konflik batin. Aku tak heran dengan keputusanmu. Tetapi aku masih mempertanyakan ceritamu … apa hubungannya dengan Kampung Rimbun?”

“Begini. Setelah empat tahun belajar mengenal sosok Tuhan, aku pun terdorong untuk menyebarkan kebaikan ke seluruh pelosok Nusantara. Lagi-lagi aku hidup nomaden, tetapi kali ini khusus untuk membantu orang lain. Aku ingin merasakan ketenangan dengan meringankan pekerjaan orang lain,” tutur Subject 09 seraya mengakhiri kisahnya dengan kepala tertunduk. “Sampai pada akhirnya aku berakhir di Kampung Rimbun,” lanjutnya.

“Hooo. Dan kau bertemu dengan seseorang di sana.”

Subject 09 mengangguk pelan. “Aku bertemu dengan seorang gadis berusia 15 tahun. Namanya Adinda, biasa kupanggil Dinda. Ia tak bersekolah dan bekerja sebagai buruh cuci demi membiayai ibunya yang sakit-sakitan.”

“Apa yang terjadi padanya hingga kau rela membantai delapan—maksudku tujuh—pejabat negara?”


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Hubunganku dan Dinda sangat dekat. Aku bertemu dengannya di sebuah gang, saat ia akan diperkosa oleh tiga orang begundal. Tanpa pikir panjang, aku segera menolongnya; kupukuli ketiga begundal tersebut hingga babak belur, lalu mengantarnya pulang ke rumah. Kugendong dirinya di belakang punggungku.

“Sepanjang perjalanan pulang, ia tak bisa berhenti mengoceh dan mengucapkan terimakasih; ia menceritakan kehidupannya, lalu berterimakasih; ia mengisahkan penyakit ibunya, lalu berterimakasih; ia mencurahkan kesedihannya, lalu berterimakasih. Aku tak bisa begitu intens menanggapi kisah-kisahnya, namun dari percakapan tersebut aku merasa begitu dekat dengannya. Dari sanalah terbentuk semacam ikatan batin antara aku dengan Dinda,” jelas Subject 09 panjang.

“Kau jadi sering mengunjunginya, ya?”

“Ya, tetapi bukan khusus untuk bertemu dengannya, melainkan untuk menjenguk ibunya pula. Aku sudah dianggap sebagai keluarga di rumah kecilnya, jadi aku merasa berkewajiban untuk datang secara rutin. Selain itu, aku mungkin satu-satunya orang yang berupaya untuk ‘memperbaiki’ pola kehidupan masyarakat Kampung Rimbun yang dikenal sebagai pabrik kriminal nomor wahid di Jakarta. Tak mudah memang, aku harus melewati banyak pertarungan demi membuat mereka sadar—”

“Ah, penjahat kelas teri. Bukan tandinganmu, Nine,” sela Subject 17 memotong.

“Tentu, aku pun tak sampai hati membunuh mereka. Kuanggap mereka sebagai investasi di kehidupan kedua. Pada intinya, aku ingin mencoba menyampaikan kepadamu bahwa Kampung Rimbun telah menjadi sesuatu yang begitu berarti di dalam kehidupanku.”

“Terutama dengan keberadaan seorang Dinda, bukan begitu?”

Subject 09 mengunci pandangannya sejenak ke wajah Subject 17, seakan tak bisa mengelak dari terkaan saudarinya. “Bisa dikatakan demikian,” ujarnya seraya menghembuskan napas panjang. “Aku banyak bertukar pikiran, bercerita, dan bertukar motivasi dengannya selama setahun tinggal di Kampung Rimbun. Jadi kau bisa membayangkan betapa ia dan Kampung Rimbun begitu membekas di dalam benakku.”

“Sampai pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk meluluhlantakkan Kampung Rimbun.”

“Ya, pada saat peristiwa itu terjadi, aku sedang tak berada di tempat. Aku sedang bekerja. Saat itu aku sedang berjaga di warnet 24 jam yang berlokasi beberapa kilometer dari Kampung Rimbun. Tiba-tiba, aku mendengar suara tembakan dari arah Kampung Rimbun pada pukul dua malam. Suaranya sayup-sayup, orang awam takkan menyadari bahwa suara tersebut adalah suara tembakan. Curiga, aku pun bergegas meninggalkan warnet dan mengayuh sepedaku ke arah Kampung Rimbun.

“Saat aku tiba, Kampung Rimbun telah berubah menjadi kolam darah. Semua orang mati, tubuh mereka penuh lubang seperti daun yang digerogoti ulat. Beberapa bahkan hancur, termasuk Dinda dan ibunya. Saat kutemukan, keduanya sudah hampir tak berbentuk layaknya manusia; hancur berantakan. Mereka tampaknya diberondong oleh senapan mesin berkaliber besar. Aku lantas memeluk keduanya tanpa airmata, tanpa kesedihan, tanpa rasa pilu. Namun disaat yang sama aku merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam jiwa. Kau tahu kisah selanjutnya, kubunuh tujuh orang pejabat yang ternyata merupakan otak dibalik pembantaian tersebut,

“Hmm, siapa yang bisa menyalahkanmu? Aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu. Hanya saja aku tak menyangka kau berani membuat kekacauan demi sebuah perkampungan, namun di saat yang sama kau tak berbuat apapun pada Operasi Antisakti.”

“Situasinya berbeda, Felicia. Selain fokusku dialihkan oleh konflik batin, aku juga sadar bahwa Operasi Antisakti bukanlah lawan yang enteng. Kau bisa mengetahuinya dari betapa parahnya lukaku saat para gorila tersebut menyerang rumah kost tempatku tinggal. Lagipula, Felicia … ” Subject 09 menghela napas panjang. “Sudah kukatakan kepadamu bahwa pembantaian Kampung Rimbun tampaknya juga memiliki koneksi dengan Operasi Antisakti. Jurig adalah buktinya. Mengapa sekarang ia berada di pihak pemerintah? Hanya para pejabat Operasi Antisakti yang dapat menjawabnya, karena mereka adalah satu-satunya operasi yang didesain untuk berinteraksi dengan Project SAKTI.”

“Jadi … ?”

“Jadi, niat yang sebelumnya pernah kuurungkan jauh di dalam lubuk hati, kini kembali merekah. Aku akan menyambangi orang yang bertanggungjawab atas kesuksesan Operasi Antisakti dan memeras jawaban darinya.”

Subject 17 menyeringai tajam. Ia tampak bahagia mendengar jawaban saudaranya. “Jika kau hendak membuat para anggota Operasi Antisakti meringis kesakitan dan mati dalam keadaan paling hina, pertimbangkan aku untuk masuk ke dalam permainanmu.”

“Terserah kau saja. Anggaplah ini sebagai common interest. Lagipula, sulit untuk melawan Operasi Antisakti sendirian. Tetapi ingat, aku belum seutuhnya percaya padamu. Jika kau melakukan sesuatu yang tak terduga, aku takkan ragu memenggal kepalamu.”

“Heh, menarik,” ujar Subject 17 tersenyum. Ia tak keberatan dengan ancaman saudaranya. “Jadi, siapa target kita, Nine?”

“Hanif Wahyudin. Dialah otak dibalik tertangkapnya para anggota The Creator.”

“Ah … ” wajah Subject 17 pun menjadi berseri-seri. Ia begitu bernafsu mendengar nama pesiunan kolonel tersebut. “Kau membaca pikiranku, Nine.

***

Lembang, 15.15

Sebuah Mercedes Benz G-Class berwarna hitam berhenti tepat di halaman rumah yang terletak jauh dari keramaian kota. Rumah kecil tersebut berdiri kokoh di daerah pegunungan; untuk mencapainya pun bukan persoalan mudah, apalagi lokasinya tak terpetakan oleh peta-peta umum di seluruh dunia. Hanya mata satelit yang bisa mencitrakan lokasi terpencil tersebut.

Tiga orang laki-laki berbadan besar lantas keluar dari mobil dengan penampilan yang begitu mencolok. Mereka mengenakan jaket kulit, kacamata hitam, dan handsfree yang menjuntai pada masing-masing telinga. Dandanan mereka mirip dengan intelijen polisi yang sering berkeliaran di ibukota. Tetapi, apakah benar mereka adalah anggota intelijen?

Ketiga pria berbadan besar tersebut menyambangi rumah yang dimaksud secara bersama-sama. Salah satu dari mereka kemudian mengetuk pintu dan mengucapkan salam dengan sopan. Tanpa harus menunggu lama, seseorang dari dalam rumah langsung membukakan gerendel pintu dan menyambut kehadiran ketiganya. Akan tetapi, si penghuni enggan membuka pintunya lebih lebar, hanya kepalanya yang melongok keluar. Ia adalah wanita yang sudah sangat dekat dengan buronan nomor satu di Indonesia: Verani.

Keraguan Verani sama sekali tak dipersoalkan oleh ketiga pria berpenampilan sangar tersebut. Tanpa banyak basa-basi, mereka segera mengeluarkan selembar kertas dan menunjukkannya kepada Verani. “Apakah kau mengenal pria ini, nona?” tanya salah satu diantara ketiganya.

Verani menatapi selembar kertas yang disodorkan kepadanya dengan kedua mata terbelalak. Ia mengenali sosok yang diilustrasikan di atas kertas tersebut. Adam Sulaiman. Ia tahu betul bahwa gambar yang dimaksud adalah pria yang selama ini ia puja-puja. Anehnya, mengapa tertulis kata “DICARI” pada selembar kertas tersebut? Apa yang sebenarnya Adam lakukan? Benak Verani meronta-ronta, berupaya mencari jawaban yang terpendam.

Verani enggan untuk membuka mulut. Ia malah menatapi ketiga pria di hadapannya dengan dahi berkerut, wajahnya tampak begitu waswas.

Pada akhirnya, ketiga pria yang diduga sebagai anggota intelijen itu pun saling tatap tanpa ucap. Mereka menyadari sesuatu; mereka dapat melihat jawaban tersirat dari kerut-kerut kekhawatiran yang terlukis pada wajah Verani. Tatapan kini mengarah tajam pada sosok Verani yang masih terguncang di depan pintu rumahnya. Situasi menegang. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Verani, namun ekspresi ketiganya sama sekali tak tampak menyenangkan.

Wanita cantik nan lirih itu pun kembali dirundung ketakutan, sama takutnya seperti saat ia disambangi oleh gerombolan begundal yang hendak memperkosanya di Bandung. Tidak, rasanya lebih menakutkan daripada saat itu.

Rasanya seperti akan mati dan nista dalam satu waktu yang sama.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *