5 – Black Secret


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Purwakarta, 01.57

Sesaat setelah berakhirnya konfrontasi antara Subject 09 dan beberapa anggota PIN di sebuah hutan kecil di Purwakarta, Subject 09 melarikan diri ke arah kota. Ia berlari secepat mungkin, meninggalkan pasukan bantuan PIN yang datang untuk melapisi serangan terhadapnya. Lagipula, mereka memang sudah terlambat. Saat mereka datang dan menemukan Johan Burhanuddin, agen Kopassus yang selamat dari kebrutalan Subject 09 malam itu, mereka langsung menghentikan langkah dan hilang fokus. Malah sibuk menginterogasi Johan. Tentu saja mereka semakin tertinggal dengan Subject 09.

Tidak ada yang menang malam itu, walaupun faktanya PIN kehilangan banyak aset berharga. Subject 09 sendiri akhirnya berhasil mencapai kota dan membuat PIN kehilangan jejak, ia lantas memasuki sebuah gang kecil nan gelap. Ia melangkah lebih santai sekarang, tak tergesa-gesa seperti saat meninggalkan hutan kecil tempat ia bertarung. Gang tersebut tampak sangat sepi, meskipun dikelilingi oleh paviliun yang berukuran lebih kecil daripada rumah tipe 21. Tentu saja, jam dua malam, keramaian macam yang mau diharapkan? Ketika siang saja sepi, apalagi malam hari.

Belum jauh berjalan, Subject 09 mulai merasakan panas di sekitar bahunya. Ia hampir lupa bahwa pundaknya baru saja diterjang oleh peluru berkaliber besar. Timah panas dengan mudah menembus bahunya, membuat lubang sebesar diameter ibu jari orang dewasa hingga ke punggung. Ajaibnya, ia selamat dari tembakan tersebut. Ia bahkan mampu menggunakan tangannya untuk meninju wajah Johan dengan kekuatan yang tak terduga.

Subject 09 berhenti sejenak, ia menoleh ke sana-kemari untuk mencari sesuatu yang dapat menambal lukanya sementara waktu. Tak lama kemudian, ia pun mendapati sebuah jemuran besi berdiri kokoh di teras paviliun; ada banyak pakaian menjuntai di sana. Ia bergegas menuju tempat berdirinya jemuran tersebut, lalu merenggut dua helai pakaian secara acak. Ia melakukan pencurian.

Atau mungkin bukan. Sesaat sebelum ia pergi, ia menyelipkan dua lembar uang seratus ribuan di bawah salah satu kaki jemuran. “Maaf, kuambil bajunya, kawan. Semoga kalian melihat uang gantinya di sini,” ujar Subject 09 berbisik. Sesaat kemudian ia pun meninggalkan lokasi.

Dua helai baju telah ia dapatkan, kini saatnya ia mencari tempat untuk menambal luka yang semakin lama semakin terasa perih. Ia kembali berjalan cepat, menelusuri tiap tikungan gang yang kompleks. Sayup-sayup pengajian malam pun terdengar semakin jelas. Tampaknya ia mendekati mushola atau masjid di gang tersebut.

Benar saja, setelah berputar-putar tak karuan mencari jalan keluar, Subject 09 akhirnya menemukan sebuah masjid. Tanpa pikir panjang, ia segera melepas alas kakinya dan memasuki masjid kecil tersebut. Ada seorang cendekia yang sedang mengaji, tetapi cendekia tersebut tampaknya tak memperhatikan kedatangan Subject 09. Subject 09 pun bergegas menuju toilet yang terletak berdampingan dengan tempat wudhu. Ia masuk tanpa mencuri perhatian. Mungkin karena tertelan oleh suara speaker masjid.

Setibanya di dalam toilet yang diterangi oleh lampu kuning berdaya 5 watt, Subject 09 langsung melepas baju yang dikenakannya. Ia sedikit melenguh karena kesakitan, namun tak sampai membuatnya harus meringkuk tak berdaya. Ia kini bisa melihat lubang dan darah segar mengalir pelan di pundak kanannya.

Tak mau berlama-lama menatapi darah yang terus mengalir, ia lantas mengambil beberapa sauk air dari keran, lalu membilaskannya di sekitar area luka untuk membersihkan bagian tubuh terkait dari serpihan tanah dan darah yang mengering. Sesaat setelahnya, ia segera mengoyak salah satu baju yang ia ambil tanpa ijin, lalu membalutkannya tepat di bahu yang terluka. Ia kencangkan ikatannya dan selesai. Setidaknya ia takkan mengalami pendarahan untuk sementara waktu.

Subject 09 akhirnya bisa bernapas lega. Ia bersandar di dinding toilet selama beberapa saat, lalu mengenakan baju yang juga ia ambil dari jemuran orang lain. Kini takkan ada yang bisa melihat lukanya. Baju yang semula dikenakannya pun sudah pasti akan ia buang, ia tak ingin orang-orang di rumahnya–Verani dan Patih–mencurigainya ketika ia pulang.

Tak lama kemudian, Subject 09 pun membasuh wajah dan kepalanya dengan beberapa sauk air, lalu beranjak pergi. Ia memutuskan untuk meninggalkan masjid dan bergegas pulang. Ada hutang yang belum terbayar; ia berjanji kepada Verani akan pulang malam ini. Pakaian bekasnya yang penuh darah tak lupa ia bawa agar tak meninggalkan jejak. Dan ia pun pergi tanpa sempat diketahui oleh penghuni masjid; suara speaker nan lantang dan khusyuknya sang cendekia benar-benar membuat kedatangannya sama sekali tak diperhatikan.

Malam yang kelam kembali menjadi tempat damai bersemayam. Subject 09 berhasil lolos dari kejaran aparat, kembali menyatu dengan kegelapan. Lagi-lagi keberadaan pria yang dikenal dengan nama Adam tersebut diliputi oleh teka-teki. Tak ada aparat yang bisa menemukannya, paling tidak untuk malam ini.

***

Lembang, 04.08

Verani terbangun dari tidurnya. Udara Lembang yang begitu dingin membuat kandung kemihnya lebih cepat penuh daripada saat ia tinggal di Bandung dulu. Semenjak tinggal di kota kecil tersebut, ia menjadi sering terbangun di waktu-waktu yang seharusnya ia masih tertidur pulas. Tubuhnya masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan pegunungan tersebut.

Tetapi ia tak protes. Ia tampak nyaman tinggal di rumah sederhana tersebut; hatinya jauh dari gundah gulana dan ia bisa menghabiskan waktu dengan putra tercintanya, Patih. Verani merasa hidupnya jauh lebih baik daripada saat ia menjadi pelayan bagi para lelaki hidung belang.

Verani mengusap kedua matanya. Ia lantas mengecek jam pada layar ponselnya dengan menekan tombol on/off secara singkat. Ia merenung sejenak, matanya terfokus pada angka 04.08 pada layar ponselnya, lalu menghela napas panjang. Jam empat, pikirnya, ia sudah mampu tidur lebih lama daripada saat pertama kali menginjakkan kaki di Lembang. Biasanya ia terbangun jam dua atau jam setengah tiga malam untuk keperluan yang sama: buang air kecil. Malam ini ia mampu tertidur lebih lama.

Tak ingin berlama-lama menahan kencing, Verani segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia melilitkan selimut di sekitar tubuhnya, lantas berjalan cepat menuju toilet. Jika tak segera dikeluarkan, air seninya mungkin akan membanjiri ubin. “Dingin, dingin. Dimandiin. Nanti masuk angin,” tuturnya melantunkan lagu kanak-kanak yang sempat populer di tahun 90-an seraya masuk ke dalam toilet. Ia masih terngiang dengan lagu tersebut setelah menontonnya di komputer tablet pemberian Adam.

Verani tak butuh waktu lama untuk memenuhi kebutuhannya di kamar kecil. Lima menit kemudian, ia keluar dan langsung berjalan ke arah kamarnya dengan langkah gontai. Terlihat sekali jika dirinya masih mengantuk. Matanya bahkan tak bisa terbuka lebih lebar.

Akan tetapi, rasa kantuk itu pun sirna sesaat setelah ia mendengar bunyi ketukan pintu depan rumahnya. Tok, tok, tok. Verani terkejut setengah mati. Seluruh aliran darahnya lantas mengalir cepat ke arah otak, membuatnya lebih awas terhadap lingkungan sekitar. Bulu romanya pun berdiri, menandakan bahwa ketakutan berhasil merajang jiwa dan raganya hanya dalam sekejap mata. Ia masih trauma dengan insiden penggerebekan di flatnya dulu, itulah sebabnya ia bereaksi lebih cepat. Napasnya tertahan, jantungnya kerasukan. Tegang.

“Verani, kau di sana?” Namun semua ketengangan tersebut seketika mereda saat Verani mengetahui bahwa suara ketukan pintu berasal dari Adam di luar rumah. Ia malah tersenyum riang. Lega. Pujaan hatinya akhirnya pulang.

Verani bergegas menuju pintu depan rumahnya dan membukakan pintu untuk Adam. Ia menyambut Adam dengan wajah yang berseri-seri. Ia tampak sangat bahagia, ketegangan yang sempat ia kecap selama beberapa detik pun hilang dari ingatannya begitu saja. “Adaaam~” sambutnya manja.

Subjek berbahaya nomor sembilan rezim Soeharto yang kerap dipanggil Adam itu hanya tersenyum tipis menanggapi sambutan Verani yang begitu meriah. “Assalaamu’alaykum, nona. Mau menawarkan produk sabun colek ‘nih,” canda Adam. Ekspresinya datar, tak seperti orang yang sedang berkelakar.

Wa’alaykumsalaam. Hahaha, apa-apaan ‘sih kamu. Lagipula, di tahun 2021 siapa yang masih menggunakan sabun colek?”

“Perusahaan sabun colek, tentu saja.”

“Haha, baru saja tersambar petir ya? Ayo masuk, masuk. Jangan terlalu lama di luar, nanti masuk angin,” lanjut Verani.

Adam pun berjalan santai memasuki rumahnya.

“Kau baru saja merokok, ya?” tanya Verani lagi. Ia mencium aroma tembakau di teras rumah.

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Ah, kau ini. Kalau mau merokok ajak aku donk,” pungkas Verani seraya menutup pintu

“Kupikir kau masih tidur, Ve. Mana kutahu jika kau sudah berdiri di depan pintu?”

“Hihi, iya. Aku kebelet pipis, jadi aku terbangun. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan tahu jika kau sudah berada di depan rumah, lalu membiarkanmu membeku di luar. Kebetulan sekali, memang.”

“Heh, begitu ya?” Adam tertawa kecil. Ia lantas duduk setengah berbaring di sofa ruang tengah. Melepas penat dan keletihan. “Dalam kata lain, kalau kau tidak kebelet pipis, kau biasa tidur seperti mumi. Tidak bisa dibangunkan kecuali dengan mantra-mantra khusus.”

“Haha, tidak begitu lah! Lagipula tidak ada mumi cantik sepertiku, Adam,” Verani pun duduk menemani lelaki yang dipujanya.

“Benar juga. Dan tidak ada mumi yang kebelet pipis sepertimu.”

“Hahaha, Adaaam!” seru Verani seraya menampar pundak Adam. Beruntung ia tidak memukul pundak Adam yang terluka, sehingga tak ada refleks yang mencurigakan dari pria tersebut. “Mengapa kau tiba-tiba menjadi pelawak? Baru saja direkrut menjadi anggota lenong di Jakarta?”

Adam tak segera merespon. Ia hanya tersenyum tipis. “Itu adalah hadiah untuk seseorang yang telah kutinggalkan sendirian tiga hari tanpa televisi, internet, koran, maupun radio. Aku tahu bagaimana jenuhnya dirimu. Anggaplah itu sebagai bentuk permintaan maafku, Ve,” lanjutnya.

“Ah … ” Ve mendesah panjang. “Kau tak perlu melakukannya sampai sejauh itu, Adam. Kepulanganmu saja sudah membuatku senang,” lanjutnya lirih.

Adam tak merespon. Lagi-lagi ia hanya melayangkan senyumannya.

“Bagaimana pekerjaanmu di Jakarta? Lancar?”

“Lancar. Tidak ada masalah,” jawab Adam singkat. “Bagaimana dengan kalian? Apa saja yang kau dan Patih lakukan selama aku tidak ada?” imbuhnya.

“Gaje [1], tentu saja. Haha. Tetapi kami bisa meluangkan waktu lebih banyak; main game bersama, makan bersama, dan menikmati pemandangan bersama. Begitulah. Walaupun tak ada kegiatan yang meriah, namun bisa meluangkan waktu berdua dengan putraku sendiri merupakan hal yang tak ternilai harganya.”

NB: [1] Gak jelas

Adam mengangguk pelan. Ia bisa memahami rasa cinta Verani terhadap putra semata wayangnya. Wanita itu lebih dewasa daripada yang orang sangkakan selama ini. “Kau suka tinggal di sini?”

“Mm-hm!” angguk Verani penuh keyakinan. “Walaupun dingin dan tidak banyak yang bisa kulakukan seperti saat di Bandung, namun suasana di sini sangat damai. Jauh dari huru-hara perkotaan. Jauh dari kepenatan. Dan satu lagi … harga bahan-bahan pokok di sini lebih murah. Biasalah, bagaimana pun aku juga ibu-ibu yang selektif soal harga, haha.”

“Heh,” Adam tertawa kecil. Ia lantas tertunduk, terdiam selama beberapa saat. “Ve, bagaimana jika seandainya … kita harus pindah dari sini?”

“Oh … ” mendengar pertanyaan Adam, Verani pun termenung. Ia kehabisan kata-kata. Lidahnya kelu. Baru saja ia mengungkapkan kebahagiaannya hidup di kota kecil tersebut, tiba-tiba Adam sudah mengajaknya pindah. “Uhm, apakah ada sesuatu yang mengharuskan kita pindah dari sini, Adam?” lanjutnya.

Adam menoleh, ia menghujam kedua bola mata Verani dengan tatapannya. Sesaat itu, situasi pun menyepi. Terasa ganjil, khususnya bagi Verani.

“Uhm, Adam … ?” Verani menjadi salah tingkah. Pipinya merona. Ia tertawa-tawa kecil mencari petunjuk.

“Kau memang sangat menyukai tempat ini, bukan begitu, Ve?” Sesaat kemudian, Adam kembali tertunduk lurus menatapi kedua kakinya.

“Uhm … bagaimana ya? Tentu saja. Apakah … ada sesuatu, Adam?”

“Tidak ada apa-apa, Ve. Aku hanya bertanya,” ungkap Adam. Ia kemudian terdiam. Seperti orang yang sedang berusaha mencari alasan. “Barangkali suatu hari nanti aku harus dinas ke tempat yang sangat jauh dalam waktu yang sangat lama, aku tak mau membuatmu kembali jenuh,” lanjutnya.

“Oh,” Verani menyibak rambutnya ke belakang kuping. Masih sedikit salah tingkah. “Aku tak masalah kau mau dinas ke mana pun, asalkan jangan tinggalkan aku tanpa hiburan. Kalau tak ada dirimu, aku tentu butuh menonton televisi, berselancar internet, dan mendengarkan musik.”

Adam tersenyum. Ia kembali menatap Verani, kali ini dengan ekspresi yang semakin membuat Verani salah tingkah. “Tentu saja, nona. Kalau begitu, aku akan membuatmu nyaman di tempat ini.”

Verani tak merespon. Ia hanya menahan napas selama beberapa detik. Tersipu, sepertinya. “Mmm,” angguknya beberapa saat kemudian. Senyumannya begitu merekah.

“Baiklah kalau begitu,” ucap Adam seraya menepuk paha Verani. “Kau mau menunggu waktu subuh denganku? Lima belas menit lagi adzan berkumandang.”

“Ah, haha, tampaknya … aku akan kembali tidur. Uhm, itu pun kalau kau tidak keberatan–”

“Oh, silakan. Tentu saja kau boleh melanjutkan tidurmu, Ve.”

“Uhm … oke … uhm, sampai jumpa nanti siang kalau begitu,” tutur Verani gugup. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dengan kedua tangan terlipat ke depan.

Adam hanya mengangguk pelan. Ia merasa tak perlu mengulangi persetujuannya atas kehendak Verani.

Merasa tak ada lagi yang harus disampaikan, Verani pun tersenyum dan berjalan meninggalkan Adam duduk sendirian di sofa; ia bergegas kembali menuju kamarnya. Namun demikian, langkahnya terasa ragu. Ia seakan tak ingin meninggalkan Adam menanti fajar sendirian. Hatinya bimbang. Ada sesuatu yang memancing jiwa dan raganya untuk pergi meninggalkan Adam.

Benar, Verani masih ragu tentang eksistensi Tuhan. Ia tahu bahwa Adam mengajaknya beribadah subuh bersama, tetapi hatinya merasa belum siap menerima keberadaan Tuhan yang menurutnya abstrak. Langkahnya pun tertahan di depan pintu, ia merenung sejenak.

“Adam.”

“Hmm?”

“Sampai detik ini aku masih belum tahu caranya meyakini keberadaan Tuhan. Bagaimana caramu terus-menerus meyakinkan dirimu sendiri bahwa Tuhan itu ada dan merupakan sesuatu yang pantas kau sembah? Bukankah sedari awal Tuhan itu adalah konsep yang abstrak?”

“Hmm … ” Adam mendesah lembut. Ia berpikir. “Apakah kau percaya manusia memiliki perasaan dan pikiran?”

“Mmm, tentu.”

“Bukankah dua hal tersebut juga abstrak?”

Verani terhenyak, tak mampu merespon. Ia terdiam, sejenak berpikir, lalu berusaha merangkai kata yang mudah dipahami oleh lawan bicaranya. “Jika aku jatuh cinta pada seseorang, bukankah itu wujud kongkrit dari sesuatu yang bernama ‘perasaan?’ Itu artinya perasaan dan pikiran tidak abstrak.”

“Jatuh cinta itu hasil. Bukan wujud. Bisakah kau mendeskripsikan bentuk dari sesuatu yang bernama cinta? Apakah bentuknya kotak? Bulat? Segitiga?” tanya Adam seraya menoleh ke belakang; ke arah Verani. Wajahnya tampak ramah. “Jika kau tidak bisa menjelaskan bentuknya, berarti perasaan dan pikiran juga abstrak. Kau bahkan tak paham bagaimana dua hal tersebut bisa tiba-tiba muncul di dalam hati dan benakmu. Tetapi, kau percaya ‘kan?”

Verani dibuat tersudut oleh argumentasi Adam. Ia benar-benar terdiam kali ini, sama sekali tak berusaha melawan. “Masalahnya mempercayai keberadaan Tuhan tak semudah mempercayai keberadaan perasaan dan pikiran,” ujarnya beberapa saat setelah dihujam oleh kebisuan.

“Percaya terhadap sesuatu itu tak harus mendadak, Ve. Tak usah terburu-buru,” Adam kembali membalikkan badannya. “Sebagai awalan, kau bisa memikirkan banyak hal kompleks yang teratur, seperti sistem tubuh, kejadian-kejadian alam, planet-planet, blackhole, teori kuantum, dan lain-lain. Apakah kau percaya jika semua itu muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang menciptakan?”

Verani terdiam mematung di tempatnya berdiri. Ia menatapi Adam dari belakang, tersentak oleh pertanyaan pria yang dipujanya tersebut. “Aku percaya ada sesuatu yang menciptakan semua itu, karena semuanya tampak teratur. Dan keteraturan tak mungkin muncul tanpa adanya sesuatu atau seseorang yang mengatur.”

Adam menghela napas. Ia tak lagi menoleh seperti sebelumnya. “Jika kau percaya demikian, maka peganglah kepercayaan itu. Bahkan jika kau tidak percaya sekalipun, tetap pegang kepercayaanmu erat-erat. Tak ada yang boleh memaksamu soal keyakinan. Bertukar pikiran, boleh. Tetapi tidak ada yang boleh memaksamu. Seperti kataku waktu itu, mati dengan sebuah keyakinan itu lebih baik daripada hidup hanya mengekor pada sesuatu yang tak sepenuhnya kau pahami.

“Pelan-pelan saja, Ve. Kalau kau mau mengenal Tuhan dan mempercayaiNya, tak perlu tergesa-gesa. Bahkan Nabi Ibrahim pun sempat menduga bulan dan matahari sebagai Tuhan. Itu artinya tak ada yang instan dalam proses menuju kepercayaan yang hakiki,” ungkap Adam panjang.

Mendengar penjelasan Adam, Verani pun menjadi berseri-seri. Dadanya menjadi terasa lapang. Sekali lagi, lelaki yang sangat dipujanya itu berhasil membuatnya terkagum-kagum. Rasanya ingin menangis haru, tetapi ia menahannya. Ia pun menutup percakapan tersebut dengan senyuman, lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia terlalu bahagia hidup bersama lelaki yang kerap dipanggil Adam tersebut.

Sementara itu, Adam tetap menunggu adzan subuh. Ia tertunduk. Bukan berpikir soal Tuhan, ia memikirkan hal lain. Jika Verani ingin tetap tinggal di rumah tersebut, maka ia harus sangat berhati-hati saat pergi keluar rumah. Seluruh aparat sedang mencarinya saat ini. Salah-salah ia bisa memancing para budak pemerintah tersebut datang ke tempat tinggalnya dan melakukan penyerbuan tanpa ampun. Seribu sial, renungnya.

***

Markas Besar Pusat Intelijen Negara, 04.23
Jakarta

Pria bermantel coklat tersebut menghentikan laju mobilnya di depan gerbang utama markas besar PIN. Ia ditahan oleh dua orang penjaga gerbang berseragam taktis dan bersenjata lengkap. Pria tersebut segera menurunkan jendela mobilnya tanpa keraguan dan berniat menghadapi investigasi yang akan berlangsung selama beberapa detik. Ia sama sekali tak tampak gentar oleh penampilan dua penjaga gerbang tersebut.

Tentu saja, ia adalah anggota PIN yang cukup terhormat. Untuk apa ia harus merasa takut?

“Selamat pagi, Pak,” sapa salah seorang penjaga gerbang bernama Darul. Ia menghormat kepada sang pria selama beberapa saat.

“Pagi. Tolong beritahukan Ibu Hana bahwa aku sudah tiba,” ujar sang pria seraya menunjukkan kartu identitasnya.

“Baik, Pak Ringga,” jawab Darul. Ia lantas memberikan isyarat kepada kawannya untuk memenuhi permintaan pria bernama Ringga tersebut. “Tamu spesial Bu Hana, Pak?” lanjut Darul bertanya seraya menatapi pria tampan dengan wajah penuh lebam yang duduk di samping ruang kemudi.

“Bukan, sobat,” tegas Ringga. “Ia adalah tamu spesial PIN dan Republik Indonesia,” lanjutnya tersenyum.

“O-oh … ” Darul terhenyak mendengar jawaban Ringga. Ia tak menyangka bahwa pria dengan wajah penuh lebam tersebut merupakan sosok yang istimewa. Dan ia tahu Ringga tidak berbohong.

Tak lama kemudian, gerbang depan pun terbuka. Darul segera berdiri tegap dan menghormat sekali lagi kepada Ringga. “Silakan masuk, Pak. Mohon maaf telah menahan Anda di sini,” ujarnya.

Ringga tak merespon. Ia sekadar tersenyum dan menutup jendela mobilnya. Kemudian, ia menginjak pedal gasnya secara perlahan-lahan, meninggalkan lokasi pemeriksaan pada kecepatan lambat. Perlahan-lahan, kedua penjaga gerbang pun hilang dari pandangan; tak lagi terlihat di depan mata maupun di kaca spion.

“Semestinya kau tak perlu melebih-lebihkan cerita seperti itu,” tutur sang tamu istimewa menanggapi sikap Ringga pada saat diperiksa di gerbang utama.

“Melebih-lebihkan bagaimana, Letnan?”

“Mengatakan bahwa aku adalah tamu istimewa Republik Indonesia bukanlah hal yang baik. Aku bukan tamu istimewa RI, bukan pula pahlawan nasional. Aku hanya pria yang kebetulan selamat dari keganasan buronan nomor satu Indonesia saat ini.”

Benar, tamu istimewa tersebut adalah pria yang berhadapan langsung dengan Adam Sulaiman. Begitu PIN mendengar kabar bahwa ia selamat, PIN yang diwakili oleh Hana Yuriska segera mengundangnya untuk datang ke markas. Ia adalah Letnan Satu (Lettu) Johan Burhanuddin, anggota Kopassus yang “dipinjamkan” kepada PIN untuk melakukan berbagai operasi klandestin tingkat tinggi.

“Tetapi kau memang istimewa. Kau adalah orang pertama yang selamat dari kebrutalan Adam, dengan pertarungan jarak dekat pula,” ujar Ringga tenang.

“Ya, itu karena pasukan bantuan PIN sempat datang sebelum Adam membunuhku. Jangan lupakan fakta itu, Mas Ringga. Aku mungkin orang pertama yang bisa mengimbangi kemampuan bertarungnya di abad ini, tetapi tetap saja pada akhirnya aku mati kalau pasukan bantuan tak datang.”

Ringga hanya tersenyum tipis mendengar tanggapan sang letnan. “Mengimbangi kemampuan bertarungnya itu sudah cukup menggembirakan bagi kami, Letnan. Itulah mengapa kami tetap menganggapmu spesial.”

Johan tak lagi merespon. Ia asik memperhatikan lingkungan sekitar markas besar PIN dari balik jendela mobilnya. Sunyi dan tampak berbinar-binar. Suasana markas besar PIN memang tampak lebih menakjubkan disaat gelap menyeruak. Terlihat seperti kantor-kantor besar di Amerika Serikat.

Tak lama, mobil pun berhenti. Ringga memilih zona parkir yang dekat dengan pintu masuk. Ia lantas mematikan mesin mobilnya dan menoleh kepada Johan. “Mari, Letnan” ujarnya ramah.

Tanpa menjawab, Johan segera membuka pintu mobil dan menginjakkan kakinya di tanah sakral milik PIN. Ia berdiri tegap seraya menghela napas panjang, menikmati udara pagi yang masih segar. Tidak dingin, namun tetap menyegarkan. Setidaknya tak seperti saat ia berdiri tepat di tengah keramaian kota.

“Markas ini tak semegah markas kerabat kita di Langley. Tetapi soal kemampuan, kami tak kalah dari mereka,” imbuh Ringga seraya berjalan keluar dari mobilnya.

Tch,” Johan tertawa sinis. Ia pun menatapi Ringga dengan sinis. “Narsis, Mas?”

“Tidak juga. Pernyataan itu datang dari agen MI6 yang kami temui di London. Off the record, tetapi pernyataan itu memang bukan untuk memuji,” ujar Ringga santai. “Jika tak ada yang mau ditanyakan lagi, bagaimana jika kita segera menemui Ibu Hana?”

“Baiklah,” Johan akhirnya berjalan mengikuti Ringga. Langkahnya tampak begitu tegas, sangat berbeda dengan langkah Ringga yang jauh lebih tenang dan santai. Bagaimanapun, keduanya merupakan sosok dengan spesialisasi dan latarbelakang yang berbeda, tak heran jika gaya berjalannya pun berbeda.

Johan akhirnya memasuki markas besar PIN tanpa kepayahan. Tak ada interogasi, tak ada intervensi. Ringga seakan menjadi tanda pengenal berjalan baginya, tak ada orang yang berani menahannya atau menanyainya selama Ringga mengawal setiap langkahnya. Johan pun tersenyum kecut seraya mengikuti ke manapun Ringga membimbingnya.

Lorong demi lorong dan agen demi agen mereka lalui sepanjang perjalanan menuju ruangan Hana Yuriska. Sampai pada akhirnya, keduanya pun berhenti tepat di depan sebuah ruangan berukuran 6×6 meter yang dibatasi oleh dinding kaca antipeluru. Tak ada orang yang bisa melihat ke dalam ruangan, karena tiap dindingnya disekat oleh teralis khusus. Pada pintunya, terdapat sebuah nama yang secara jelas menunjukkan tujuan Johan pagi itu: Hana Yuriska, kepala divisi antiteror.

“Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai di sini, Letnan. Selebihnya adalah urusanmu dengan para pejabat PIN di dalam,” ujar Ringga.

“Para pejabat? Jadi aku tidak hanya mengobrol dengan Hana?”

“Benar, Letnan. Oleh karenanya, aku mohon undur diri. Bukan kapasitasku untuk mengobrol langsung dengan pejabat yang ada di dalam ruangan, kecuali muncul perintah dari Ibu Hana. Aku hanya akan mengetukkan pintu untukmu, lalu aku akan pergi.”

“Uhh, baiklah. Terserah kau saja.”

Tok … tok, tok.

Ringga menepati janjinya. Ia mengetukkan pintu sebanyak tiga kali. Terdapat jeda antara ketukan pertama dan kedua sebagai kode kepada para penghuni ruangan bahwa “tamu istimewa” telah datang. Tak lama kemudian, terdengar sahutan, “Masuk!” dari dalam ruangan yang menandakan bahwa para penghuni ruangan telah menerima kode dari luar.

Ringga kembali menoleh kepada Johan. Ia melayangkan senyuman terakhir kepada sang prajurit, lalu pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Perpisahan yang ganjil, pikir Johan.

Akan tetapi, Johan tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak penting. Ia punya urusan yang lebih krusial saat itu: menemui seorang pejabat PIN bernama Hana Yuriska. Ia pun masuk tanpa keragu-raguan.

Namun, tiba-tiba saja langkah Johan tertahan. Ia berdiri mematung di depan pintu, menatapi salah seorang pejabat PIN yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Bukan, bukan Hana. Tetapi seorang pria. Keningnya lantas mengerut, ia terjerat dalam tanda tanya.

“Halo, Letnan. Kau tampak terkejut melihatku,” ujar sang pria yang diperkirakan berusia 50-60 tahun tersebut. Suaranya yang gahar juga membuatnya tampak sangat berwibawa.

“Mayjen Riyadi? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Johan terheran-heran. Ia terkejut, rupanya pejabat yang dimaksud oleh Ringga adalah atasannya sendiri.

Mayjen Riyadi. Pria berdarah Riau tersebut pernah menjadi salah satu pejabat militer paling populer di kalangan korps baret merah. Selain pandai membuat strategi, Riyadi juga termasuk salah satu jenderal paling supel di kalangan militer. Ia jarang marah. Jika ia jengkel terhadap sesuatu, ia lebih senang merancang skenario untuk membuat para pelakunya kapok. Tanpa harus menjadi galak, ia mampu membuat siapapun segan terhadapnya.

Riyadi juga terkenal senang berkelakar dengan orang-orang yang bahkan bukan perwira. Sangat ramah. Beberapa prajurit bahkan mengidolakan dirinya agar ditunjuk menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Akan tetapi, Panglima TNI belum bisa mengabulkan impian tersebut, sehingga Mayjen Riyadi tetap malang melintang menjabat posisi-posisi strategis militer. Mungkin tahun depan, mungkin dua tahun lagi, atau mungkin tidak.

“Maaf jika aku belum mengatakannya kepadamu, tetapi beliau direkomendasikan oleh Panglima TNI untuk menjadi ketua PIN yang baru. Presiden menyetujuinya,” Hana akhirnya angkat suara. Rupanya Panglima TNI memberikan kepercayaan kepada Riyadi lebih dari sekadar seorang Danjen Kopassus.

“Hah? Serius?” Johan masih setengah tak percaya.

“Kau bisa melihatku di sini, Letnan. Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti bahwa aku memang ditunjuk menjadi seorang pejabat PIN?” tutur Riyadi tersenyum.

“Uhh, baiklah. Aku hanya tak menyangka jika aku harus berbincang-bincang denganmu juga, Jenderal.”

“Hoo, apakah kau berharap bahwa pertemuan pagi ini hanya akan melibatkan dirimu dan Hana? Kau naksir kepadanya, Letnan? Katakan saja, dia memang masih muda dan cantik.”

Seketika itu Hana dan Johan pun terbelalak. “J-Jenderal!” Hana tak bisa menyembunyikan ekspresi malunya, pipinya seketika memerah. Kebengisan wanita paling galak sejagat PIN tersebut pun tumbang oleh beberapa untai kalimat. Ia menjadi salah tingkah karenanya.

“Hahaha, aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius.”

“Urgh, kau tak pernah berubah, Jenderal. Selalu bercanda di saat-saat yang tak tepat,” imbuh Johan.

“Tetapi justru karena itu aku pernah punya task force terbaik yang dipimpin olehmu, Letnan.” Sang jenderal tersenyum lebar, mengisyaratkan bahwa ia sangat mengagumi prajurit yang berada di hadapannya.

” … ” Johan tak merespon. Ia lantas membuang muka karena malu.

“Oke, Johan, jadi bagaimana rasanya bertukar pukulan dengan salah satu orang paling kuat sejagat Nusantara?” tanya sang jenderal.

Johan kembali menoleh kepada Riyadi, tetapi tak segera menjawab pertanyaan sang jenderal. Ia menghela napas panjang sebelum mengeluarkan opininya soal Adam. “Tidak masuk akal, tentu saja. Aku belum pernah melihat orang sekuat itu sebelumnya. Ia sudah tertembak, namun masih memiliki cadangan tenaga yang sangat besar. Staminanya bahkan sama sekali tak berkurang. Kalau aku berada di posisinya, mungkin pandanganku sudah kabur dan kecepatanku akan berkurang drastis. Dia tidak demikian. Ia bertarung seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya, bahkan refleks gerakannya melampaui diriku.”

“Mungkin kau kurang berlatih, Letnan?”

“Kau meragukanku, Jenderal. Aku mengelilingi dunia untuk baku hantam dengan berbagai jenis pembunuh dari seluruh dunia dan mereka adalah orang-orang yang secara khusus diciptakan untuk mengeliminasi nyawa manusia dengan cara apapun, bahkan dengan tangan kosong. Dan aku tak pernah merasa … exhausted … seperti saat aku berhadapan dengan Adam. Ini pertama kalinya aku menghadapi monster seperti Adam.

“Itulah mengapa aku curiga. Kalian, PIN, tampaknya menyembunyikan sesuatu yang tak diketahui oleh para aparat. Kalian membiarkan teman-teman bersenjata kalian mampus tanpa memberitahu apapun tentang siapa Adam sebenarnya. Ia bukan manusia biasa. Terkaanku ia adalah manusia eksperimen PIN, tetapi kalian tak mau mengaku. Kalian ‘kan banyak bekerjasama dengan CIA, semestinya cara berpikir kalian pun tak berbeda jauh, termasuk pada persoalan super-soldier.

“Karena aku sudah berada di sini, aku akan bertanya sekali lagi: siapa Adam sebenarnya? Ia adalah orang PIN, bukan begitu?” papar Adam panjang. Ia pun menutup penjelasannya dengan mengunci pandangannya ke arah Hana.

“Letnan, seperti yang kukatakan kepadamu, bahwa ia merupakan dosa Presiden Soeharto di masa lampau,” Hana menjawab tanpa keraguan.

Tch, masih menggunakan karangan yang sama, Bu?”

“Itu bukan karangan belaka, Johan. Itu fakta,” ujar Riyadi menimpali. “Adam merupakan anggota Project SAKTI yang diciptakan pada tahun 1998.”

Johan menoleh kepada atasannya. Ia masih sulit mempercayai mitos mengenai Adam dan Soeharto, tetapi ia penasaran. Pandangannya sesekali terfokus pada Hana, lalu kembali menyorot Riyadi. Begitu saja yang ia lakukan selama beberapa saat.

“Kami telah melakukan penyelidikan tentang hal ini sejak lima tahun terakhir, Letnan. Jika kau ragu dengan semua yang kukatakan, kau bisa melihat ringkasan dokumen Project SAKTI milikku,” Hana merogoh-rogoh tas kerjanya. Ia lantas mengambil beberapa lembar kertas dan menyodorkannya kepada Johan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Johan segera merenggut dokumen Project SAKTI dari tangan Hana. Ia lantas membacanya dengan serius. Keningnya mengerut, alisnya menyeringai, dan lidahnya tak berkutik. Ia bisa melihat beberapa bukti keberadaan Project SAKTI, seperti potongan telegram yang terbakar, sobekan kertas dari buku harian anggota Project SAKTI, memo, dan berbagai macam bukti fisik yang hampir hancur.

“Bukti-bukti tersebut berusaha dihancurkan oleh para anggota Project SAKTI untuk menutupi jejak keberadaan mereka di muka bumi. Beruntung kami dapat menyelamatkan beberapa diantaranya,” imbuh Hana.

Tak lama kemudian, Johan pun menjatuhkan tumpukan dokumen yang ia baca ke atas meja. Ia sudah kenyang mencerna seluruh bukti tentang keberadaan Project SAKTI. Matanya lantas menatap tajam ke arah Riyadi. Ia tampak tersesat, membutuhkan jawaban yang lebih jelas.

“Baiklah, Jenderal. Kau perlu menjelaskan semuanya. Aku berhak tahu soal proyek ini. Namanya terdengar seperti proyek santet tingkat tinggi,” ujar Johan.

“Baiklah, Letnan,” jawab Riyadi tersenyum. Ia kemudian berjalan memutari meja kerjanya. “Project SAKTI merupakan singkatan dari Special Abolishers to Kill Tyrants of Ideology. Intinya, proyek ini merupakan operasi hitam paling berbahaya pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto untuk mengeliminasi segala elemen asing yang berusaha mengacaukan situasi politik di Indonesia. Project SAKTI sendiri diciptakan pasca pencaplokan Pulau Nagatari oleh Singapura pada tahun 1998 yang ternyata disponsori oleh NATO. Kau tahu kisah itu, bukan?”

“Mmm,” Johan mengangguk. “Singapura dimanfaatkan sebagai topeng untuk memuluskan rencana NATO mencaplok Pulau Nagatari. Padahal, NATO yang menginginkan pulau tersebut untuk membangun pangkalan militer di daerah Asia Tenggara.”

“Benar. NATO yang didominasi oleh Amerika Serikat itu takut pengaruhnya hilang di Asia Tenggara, itulah sebabnya mereka bekerjasama dengan Singapura untuk membangun markas di Pulau Nagatari. Beruntung, PIN yang pada waktu itu masih bernama BAKIN mencium rencana busuk NATO, mereka lantas melaporkannya kepada Soeharto.

“Mendapatkan laporan tersebut, Soeharto geram bukan main. Ia makin muak dengan Amerika dan mainannya–NATO, padahal sebelumnya ia sangat pro terhadap kebijakan-kebijakan Barat. Sudah tak dipercaya rakyat, dilecehkan Barat, muncul kasus Pulau Nagatari pula. Bayangkan kalau kasus itu sampai ketahuan rakyat, kekuasaannya akan hancur dalam sekejap mata. Ia tak mau hal itu terjadi.

“Oleh karenanya, sebelum rakyat mendengar soal kasus Pulau Nagatari, ia segera bertindak. Setiap kali ada wartawan yang berhasil mengendus kasus tersebut, wartawan tersebut pasti dibunuh secara misterius lalu kematiannya dibuat menyerupai kecelakaan.

“Selain itu, ia juga mendirikan sebuah unit khusus yang dikendalikan oleh para perwira pasukan khusus terbaik di Nusantara. Unit khusus inilah yang kemudian dinamakan Project SAKTI. Mereka didirikan untuk menghajar agen-agen asing di Indonesia, khususnya agen-agen NATO yang dihipnotis oleh Amerika untuk mengerjakan proyek-proyek kotor. Tujuan dari Project SAKTI hanya satu: agar Indonesia bersih dari semua pengaruh asing, agar tak ada lagi intervensi-intervensi asing di tanah air. Proyek inilah yang melahirkan Adam, salah satunya.

“Dan seluruh rangkaian kejadian dimulai dari kasus Pulau Nagatari hingga lahirnya Project SAKTI sama sekali tak pernah terendus oleh rakyat. Tak ada buku sejarah yang membicarakannya. Hanya orang-orang terpilih saja yang mengetahui segalanya, bahkan di PIN pun tidak semuanya tahu,” jelas Riyadi panjang.

“Jadi pada dasarnya Project SAKTI itu baik, menjaga kemurnian kedaulatan Indonesia. Lantas untuk apa aku memburu Adam?”

“Benar, Project SAKTI memang baik, pada awalnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, mereka malah bertindak di luar batas. Mereka banyak membunuh aset penting luar negeri yang mana bisa berakibat fatal untuk hubungan bilateral antarnegara. Jika didiamkan, bukan hanya ekonomi, kehidupan sosial pun akan terpuruk. Tak berhenti sampai di sana, perbuatan para anggota Project SAKTI juga berpotensi menimbulkan perang.”

“Oke, pertanyaannya adalah mengapa itu tak terjadi?”

“Apanya yang tak terjadi, Letnan?”

“Perang. Kalau Project SAKTI secara konsisten menghabisi orang-orang penting dari luar negeri, mengapa tak pernah terjadi perang sejak aku masih menjadi tentara ingusan?”

“Itu karena mereka tidak selalu menghabisi orang yang salah, Letnan. Ya, mereka memang menjadi brutal pasca turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, tetapi mereka tak selalu membunuh orang-orang penting,” timpal Hana. “Mereka hanya beberapa kali membunuh orang yang tak seharusnya mereka bunuh.”

“Meskipun hanya beberapa kali, perbuatan mereka tetap tak bisa ditoleransi. Mereka sudah mempertaruhkan nyawa jutaan penduduk Indonesia dengan membunuh beberapa orang asing tersebut,” Riyadi menambahkan. Ia dan Hana tak memberikan kesempatan bagi Johan untuk berbicara.

Johan mendelik kepada Riyadi dan Hana tanpa berucap. Suasana pun menyepi selama beberapa saat. Ia lantas menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali menghanturkan segudang pertanyaannya. “Baiklah. Lalu apa yang terjadi pada Project SAKTI setelahnya?”

“Yaa, pada akhirnya, karena PIN melihat Project SAKTI sebagai ancaman besar, mereka lantas mendesain sebuah operasi yang bertujuan untuk membubarkan Project SAKTI sampai ke akarnya, yakni Operasi Antisakti. Operasi ini melibatkan seluruh aparat keamanan di tanah air mengingat betapa berbahayanya Project SAKTI,” jelas Riyadi.

“Itu pun hampir tak cukup. Hampir. Tetapi pada akhirnya kami berhasil menangkap mereka,” ujar Hana menambahkan.

“Hmm, aku jadi ingin tahu lebih banyak soal ‘mereka.’ Katakan kepadaku siapa saja yang kau sebut dengan ‘mereka’?” tanya Johan lagi.

“Oke. Menurut sobekan telegram Project SAKTI, mereka terbagi menjadi dua: ada yang disebut dengan The Creator dan ada yang disebut dengan The Creation. The Creator sendiri adalah motor dibalik terciptanya The Creation; mereka adalah para perwira terbaik dari Marinir, Kopassus, Paskhas, dan Kopaska. Merekalah yang bertanggungjawab atas pelatihan tarung jarak dekat, intelijen, sabotase, strategi perang, peretasan, penggunaan senjata api, pembunuhan, survival, dan berbagai macam pelatihan ala militer lainnya kepada The Creation. Uniknya, mereka tak seberapa berbahaya jika dibandingkan The Creation. Kami dapat meringkus mereka tanpa masalah dan mendapatkan jawaban tentang The Creation tanpa masalah. Akan tetapi, ketika kami berhadapan dengan The Creation … kita dihajar habis-habisan,” papar Hana berapi-api.

“Anak buah jauh lebih kuat daripada atasan? Terdengar seperti video game bagiku. Mungkin The Creator sudah terlalu tua?”

“Tidak, bukan karena itu. Mereka memang bukan manusia biasa. Entah bagaimana caranya, The Creator tampaknya berhasil menemukan formula untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental manusia menjadi lebih superior daripada manusia biasa. Itulah alasan dibalik sifat ‘monster’ Adam dan saudara-saudaranya.”

“Huh, jadi mereka memang eksperimen biologis pemerintah. Setidaknya terkaanku tidak seluruhnya salah. Lantas bagaimana cara kalian menangkap mereka?”

“Kami memanggil bala bantuan dari negara-negara kerabat, seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris, dan Australia. Kami melakukan apapun yang kami bisa untuk menangkap The Creation. Dan setelah ratusan orang mati dalam perang rahasia melawan The Creation, baik dari pihak Indonesia maupun luar negeri, kami akhirnya berhasil menangkap monster-monster tersebut. Butuh tiga tahun untuk merealisasikan segalanya. Masalahnya adalah … ” Hana menghela napas, memberikan jeda pada penjelasannya. “Kita hanya berhasil menangkap tujuh belas orang dari mereka.”

“HANYA tujuh belas? Memangya ada berapa jumlah mereka yang sebenarnya?”

“Dua puluh. Kita kehilangan tiga orang,” imbuh Riyadi menambahkan.

“Hanya dua puluh? Sesedikit itu, Jenderal?”

“Benar. Dua puluh orang saja sudah cukup membuat satu negara hancur-lebur, Letnan. Ingatkah dirimu saat kawan-kawanmu dari Sat-81 Gultor tewas di sebuah gedung kucal di pinggiran kota?”

“Tentu.”

“Mereka mati untuk menghadapi satu orang dari The Creation. Satu orang, bayangkan. Kawan-kawanmu itu adalah anak-anak terbaik Kopassus dan mereka hancur berantakan oleh satu orang yang sama sekali bukan berasal dari lingkungan militer. Sekarang kau paham alasan mengapa Soeharto hanya butuh dua puluh anggota The Creation, karena satu orang saja cukup untuk membuat teman-teman terbaikmu meregang nyawa.”

“Mmh, seribu sial. Dan kalian tidak bisa menemukan tiga orang anggota The Creation yang hilang tersebut?”

“Sebenarnya kami sudah menemukan jejaknya, Letnan. Lima tahun yang lalu,” ujar Hana lagi. “Tetapi tiga orang ini memang yang paling sulit dilacak. Tidak ada CCTV yang merekam keberadaan mereka, sama sekali tidak ada, jadi kami hanya bisa menggunakan informasi yang sangat terbatas tentang ciri-ciri mereka,” lanjutnya.

“Informasi yang terbatas?” Johan terheran.

“Benar. Sebelumnya kau perlu tahu bahwa tidak ada catatan identitas apapun tentang The Creation. Mereka tak punya akta kelahiran, tak punya nama, tak ada catatan sidik jari, tak ada rekaman retinal scan, tak ada rekaman suara, tak ada apapun yang bisa mengantarkan kami kepada mereka. Sampai pada akhirnya kami menangkap seorang kolonel Marinir yang merupakan anggota The Creator terakhir. Dialah orang yang mencatat ciri-ciri fisik dan lokasi operasi seluruh anggota The Creation. Dari sanalah kami dapat melacak keberadaan tujuh belas anggota The Creation; kami memutar rekaman CCTV pada setiap lokasi operasi dan menemukan mereka berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan di buku catatan sang kolonel.”

“Dan kalian kehilangan tiga anggota The Creation lainnya.”

“Sebenarnya tak bisa dikatakan sebagai kehilangan juga ‘sih. Sedari awal kami memang tak berhasil menemukan identitas ketiganya; tak ada CCTV yang berhasil merekam keberadaan mereka di tempat mereka beroperasi. Agen-agen kami lantas melakukan pencarian secara tradisional, mereka menyusuri tempat-tempat yang berpotensi didatangi oleh ketiga subjek The Creation dan bertanya kepada warga sekitar. Upaya mereka membuahkan hasil, tetapi tak bisa dikatakan sebagai keberhasilan.”

“Dalam kata lain, agen-agen kalian tak sempat mengambil gambar ketiga subjek bermasalah tersebut. Malah tewas. Sehingga kalian tak punya petunjuk ke mana ketiganya bergerak,” sela Johan.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Tepat sekali, Letnan. Kami sudah sempat menyerah, karena kami tak bisa melacak keberadaan ketiganya. Operasi Antisakti pun kami bekukan untuk sementara waktu karena sudah tak ada lagi ancaman dari ketiga anggota The Creation yang tersisa. Kedamaian pun berlangsung selama dua tahun terakhir. Sampai pada akhirnya, muncullah pembunuhan terhadap delapan pejabat negara beberapa waktu ke belakang. Kami seketika sadar bahwa semuanya merupakan perbuatan anggota The Creation yang dulu kami cari-cari, bisa terlihat dari bagaimana pertahanan terbaik kedelapan pejabat tersebut porak-poranda. Benar-benar porak-poranda tanpa sisa.”

“Adam Sulaiman.”

“Benar. Masalahnya adalah bukan hanya Adam. Kami baru saja mendapatkan informasi bahwa Brigjen Purnomo, yang merupakan sahabat dekat Rahmat Sukoco, dihajar oleh orang tak dikenal kemarin malam. Orang-orang terbaiknya tewas mengenaskan, dua diantaranya bahkan mati dengan tangan kosong.”

“Hah!? Brigjen Purnomo? Waaster Kasad TNI-AD ‘kan? Orang itu punya beberapa ajudan profesional, mereka pernah turun satu operasi denganku. Benarkah informasi ini, Jenderal?” tanya Johan kepada atasannya.

“Hana benar. Bahkan, siang sebelum Purnomo dibuat babak belur, ada empat orang anggota Inspeksi Umum PIN mati mengenaskan dengan diagnosis yang sama: dihajar dengan tangan kosong,” ujar Riyadi.

“Artinya jelas, Letnan … The Creation kembali muncul ke permukaan. Tak ada yang bisa melakukan itu kecuali orang-orang yang memang didesain khusus untuk menghajar musuh hanya dengan berbekal dua buah tinju. Bahkan, pasukan Raider pun akan berpikir seribu kali untuk melakukan serangan seperti demikian,” imbuh Hana.

Seketika itu suasana pun menyepi. Johan, Hana, dan Riyadi hanya bisa saling pandang dengan wajah menegang. Jika memang demikian, segala daya dan upaya pemerintah harus kembali difokuskan untuk melacak anggota The Creation yang tersisa. Operasi Antisakti harus diaktifkan kembali, paling tidak harus ada sesuatu yang bisa menjadi pengganti operasi tersebut.

“Jadi, apa rencana kalian?” tanya Johan mencari petunjuk.

“Kami akan kembali mengaktifkan Operasi Antisakti,” ujar Riyadi. Tepat seperti dugaan Johan. “Tetapi kali ini berbeda, operasi tidak akan lagi dipimpin oleh Kolonel Hanif Wahyudin, tetapi langsung olehku dan Hana.”

“Lantas apa yang kalian inginkan dariku?”

“Kau akan menjadi kepala operasi di lapangan, Letnan.”

“Jenderal, bukannya aku ingin menolak permintaanmu, tetapi bagaimana caranya agar operasi ini lebih masuk akal? Sekalipun aku menjadi kepala eksekutor dan mampu selamat dari serangan Adam, tetapi itu tak cukup membuat kita menang. Kalian sendiri yang memegang fakta tentang Adam dan The Creation, satu orang saja mampu menumbangkan orang-orang terbaik negara tanpa kepayahan. Lantas apa yang kalian harapkan dari operasi ini jika kita hanya menambah daftar korban?”

Hana dan Riyadi terdiam. Mereka saling pandang, namun tak saling berucap. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari Johan, terlihat dari bagaimana Mayjen Riyadi memberikan isyarat kepada Hana untuk buka mulut beberapa saat setelahnya.

“Eksperimen biologis, Letnan,” Hana pun angkat bicara, ia merasa berat hati. Mau bagaimana lagi? Johan harus tahu.

Johan tak segera merespon. Ia menatap Hana dengan tajam. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan. Ia lantas bercekak pinggang dan menatap atasannya. Lidahnya kelu, speechless.

“Kami berupaya merekayasa bahan-bahan asing yang mengalir di dalam tubuh para anggota The Creation selama beberapa tahun terakhir, karena bahan-bahan asing tersebut disinyalir sebagai sumber kekuatan terselubung The Creation. Tahun demi tahun, percobaan demi percobaan telah kami lalui, sampai pada akhirnya kami mampu membuat formula yang serupa. Tidak sempurna, namun formula ini mampu meningkatkan refleks seseorang hingga beberapa kali lipat,” Hana menjelaskan.

“Kalian mau mengubahku menjadi alien?” Johan skeptis. Ia memang tipe orang yang tak terlalu percaya pada obat-obatan modern, khususnya yang bersifat seperti doping.

“Percayalah, Letnan. Kami telah mencobanya pada prajurit reguler beberapa hari lalu dan mereka menjadi jauh lebih tangguh daripada sebelumnya. Itu baru prajurit reguler, bukan prajurit pasukan khusus sepertimu,” lanjut Hana berupaya meyakinkan lawan bicaranya. “Tanpa formula ini, kau sudah memiliki refleks yang superior, bahkan setara dengan Adam. Itu artinya kau akan memiliki refleks yang lebih baik daripada Adam jika kami berikan formula terkait.”

“Kesempatanmu menang akan jauh lebih besar, Letnan,” sela Riyadi menimpali pemaparan Hana. “Tenang saja, takkan ada efek samping dari penggunaan formula tersebut.”

Tch, kalian sudah mulai berpikir seperti CIA, ya? Berusaha keras menciptakan manusia super demi menguasai dunia,” tukas Johan sinis.

“Kita tidak menciptakannya untuk menguasai dunia, Johan. Kita menciptakannya sekadar untuk mengimbangi kekuatan yang melampaui batas. Kita tidak punya hasrat untuk menguasai dunia. Setelah The Creation tumbang, kita semua akan kembali hidup normal,” sang jenderal mencoba menetralisir perasaan Johan.

Johan akhirnya terdiam. Ia tak punya kata untuk berkelit lagi. Kedua tangannya pun kembali masuk ke dalam saku celana, sikapnya kembali santai. Sinis, ia memang selalu sinis. Tetapi ia tak pernah bisa meninggalkan loyalitasnya sebagai prajurit. Ketika negara memanggil, maka ia harus berdiri dan segera bertindak, sekalipun ia tak suka.

“Kami membutuhkanmu, Johan. Kaulah satu-satunya orang yang terbukti selamat saat berhadapan langsung dengan Adam. Kami bisa mencari orang lain, tapi butuh waktu yang tidak sebentar, negara sudah keburu hancur berantakan. The Creation harus segera kita hentikan atau negara akan porak-poranda.”

Johan menatapi atasannya, ekspresinya datar. Ia lantas menghembuskan napasnya sekali, lalu berkata, “Apa lagi yang bisa kukatakan? Aku hanya seorang prajurit yang loyal terhadap tugas negara.”

1

Riyadi dan Hana tersenyum lebar. Mereka menyambut kedatangan Johan sebagai kepala eksekutor Operasi Antisakti versi 2.0. Fajar pun menyingsing, seakan menjadi tanda bahwa situasi akan menjadi cerah perlahan demi perlahan. Semoga.

“Selamat datang … Kapten Johan.”

***

Lembang, 13.22

Subject 09 berdiri tegap menghadap cermin di kamarnya. Ia merapikan penampilannya yang tampak kasual. Kemeja kotak-kotak berwarna biru dominan dan celana panjang hitam membalut perawakan ala militernya dengan indah, ia sama sekali tampak berbeda dengan Subject 09 di hari-hari yang lain. Benar, ada janji yang harus ia tepati siang itu: mengajak Verani dan Patih berkeliling Kota Bandung. Itulah sebabnya ia berdandan layaknya pemuda perkotaan.

Setelah merapikan pakaiannya, Subject 09 pun menghela napas panjang. Ia menatapi wajahnya selama beberapa saat dan terdiam mematung. Berbagai macam pertanyaan tengah berkecamuk di dalam kepalanya dan ia tak mampu mengabaikannya begitu saja. Ia terus-menerus mempertanyakan tentang keselamatan Verani dan Patih. Ia memang terlahir sebagai sesosok monster yang mampu menumbangkan ratusan aparat terbaik pemerintah dalam sekejap mata, namun fakta tersebut tak lantas membuatnya hebat dalam persoalan “melindungi orang terdekat.”

Subject 09 tampak depresi. Ia tiba-tiba teringat sesuatu dan ingatan tersebut sontak membuatnya menjadi terlalu khawatir soal keselamatan Verani. Namun, ia tak bisa memupuskan harapan wanita yang telah ia tinggalkan berhari-hari di rumahnya tanpa hiburan. Ia tak boleh merusak ekspektasi orang yang telah berharap kepadanya. Ya, ia tak semestinya merasa khawatir di detik-detik terakhir menghampiri kawanan singa lapar. Ia sudah bertahun-tahun menghadapi kenyataan tersebut, mengapa ia harus khawatir?

Tak lama kemudian, Subject 09 pun bergegas mengambil jaket dan topi memancingnya. Ia mengenakan keduanya, lalu kembali bercermin. Sekarang wajahnya akan lebih sulit dikenali oleh orang luar, paling tidak ia bisa kabur lebih mulus apabila ada agen pemerintah yang menyadari eksistensinya. Ia pun tersenyum sinis, lalu berjalan keluar kamar.

Setibanya di ruang tengah, Subject 09 mendapati Patih sedang memeragakan adegan bertarung. Ia tahu Patih sedang berimajinasi, mungkin sedang berperan menjadi menjadi karakter utama di sebuah film atau game. Tentu saja, anak itu hanya sendirian, kalau ada ibunya ia pasti malu.

“Patih, di mana ibumu?” Subject 09 menghampiri Patih dari belakang, lalu bertanya sebelum Patih menyadari keberadaannya.

Patih terperanjat, ia lantas bertolak seraya menahan napas selama beberapa detik. Anak itu sangat terkejut, kedua matanya pun membesar. Ia tak menyangka Subject 09 telah berdiri beberapa meter di belakangnya. Malu setengah mati.

“Kau kenapa?” goda Subject 09. Ia tertawa mendengus melihat tingkah Patih.

“E-eh, anu … aku t-tidak kenapa-kenapa kok. I-ibu ada di kamar, masih dandan tampaknya,” jawab Patih salah tingkah. Gelagapan.

“Oh, begitu. Lalu, apa yang sedang kau lakukan? Berperan menjadi Kamen Rider?”

“Huaaa! J-jangan bilang begitu donk, Paman! A-aku sudah terlalu besar untuk menonton Kamen Rider.”

“Begitukah? Orang-orang seusiaku masih banyak yang suka menonton Kamen Rider, lho. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang mengoleksi figur-figur Kamen Rider dengan harga yang tidak bisa dibilang murah.”

“M-mereka ‘kan otaku tingkat tinggi. Aku tak seperti mereka,” ujar Patih mencari-cari alasan. “Memangnya berapa usiamu, Paman?”

“23 tahun. delapan tahun lebih muda daripada ibumu,” tutur Subject 09 tersenyum.

“Haaa!? Serius!? Kupikir usiamu sama dengan ibuku! Pantas saja kau tahu soal penggemar Kamen Rider di kalangan orang dewasa. Kata teman-temanku, otaku justru banyak berasal dari kalangan orang-orang seusiamu.”

“Ya, begitulah. Jangan beritahu ibumu soal umurku, nanti dia syok,” ujar Subject 09 tersenyum. “Jadi, kau sedang berperan sebagai apa?”

“Err … m-mengapa kau harus mempertanyakannya lagi?” Patih kembali salah tingkah.

“Aku hanya ingin tahu. Karena kau tampak serius dan intens.”

“Arrrgh! Kau menggodaku, Paman!” seru Patih seraya menjambak rambutnya sendiri. “A-aku … berperan menjadi … Solid Snake [2]. B-begitulah. Ugh … ”

NB: [2] Tokoh utama dari serial game berjudul Metal Gear Solid

Subject 09 tertawa singkat mendengar pengakuan Patih. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aaak! Jangan menertawakanku! M-malu, tahu!”

“Aku tidak menertawakan peranmu, sobat. Solid Snake adalah pilihan yang bagus, jarang ada anak seusiamu yang berkhayal menjadi dirinya. Hanya saja gerakanmu tidak merepresentasikan karakternya.”

“J-jadi, aku harus bagaimana?”

“Mau kuajari gerakannya?”

“Uhm … ya, boleh saja … ” Patih tampak ragu, padahal di dalam hatinya ia bersorak.

“Oke, coba kau pukul badanku dengan gerakan yang baru saja kau peragakan tadi. Tak usah ragu-ragu, kerahkan seluruh kecepatan dan tenagamu. Aku tidak akan terluka oleh pukulan anak seusiamu,” olok Subject 09. Ia ingin seluruh energi Patih dapat tercurahkan secara maksimal.

“Huh, baiklah jika demikian. Aku akan melakukannya secara serius,” Patih mulai melompat-lompat kecil layaknya atlit Taekwondo. Ia bersiap menyerang mantan tetangganya sendiri. Ekspresinya menjadi begitu serius, ia berharap Adam akan menyesali kata-katanya sendiri.

Sementara itu, pria yang kerap dipanggil Adam tersebut hanya merespon kuda-kuda Patih dengan berdiri tenang. Ia sama sekali tak merasa terancam.

“Heaaa!” Tak lama kemudian, Patih pun merangsek maju seraya mengerang. Ia menarik tinjunya di belakang kuping, lalu melepaskannya ke arah perut Subject 09.

Tep! Serangan tersebut mampu terbaca jelas oleh Subject 09; ia membelokkan tubuhnya seraya menangkis pukulan Patih dengan hastanya. Pukulan pun meleset. Tanpa menunggu serangan susulan, Subject 09 segera mencengkram kedua pipi Patih dan menjegal kaki Patih dengan kakinya. Keseimbangan Patih pun goyah. Momen tersebut segera dimanfaatkan Subject 09 untuk menarik seluruh tubuh Patih ke atas ubin. Dan ia berhasil.

Pertarungan pun usai hanya dalam waktu singkat. Patih berbaring di atas ubin dengan kedua mata terbelalak. Syok. Napasnya tersengal-sengal tak beraturan. Adrenalinnya memuncak. Tetapi ia sadar bahwa Adam sama sekali tak berusaha melukainya. Ia hanya dibaringkan secara perlahan oleh Adam, bukan dibanting. Itu saja sudah membuatnya sangat tegang, bagaimana seandainya jika Adam serius membantingnya? Bisa jadi pingsan.

“Benar ‘kan? Jangan melepaskan pukulan seperti itu; menariknya terlebih dahulu di samping kepala, kemudian melepaskannya sesaat kemudian. Gerakan seperti itu akan sangat mudah diterka oleh musuh, sehingga musuh bisa melakukan apapun sebelum kau menyadari apa yang terjadi pada dirimu,” ujar Subject 09 tersenyum. “Bertarung itu sama halnya seperti main catur; kau harus berpikir sebelum melepaskan serangan. Bedanya, waktu untuk berpikir di dalam pertarungan itu ratusan kali lebih singkat daripada main catur,” lanjutnya seraya menarik lengan Patih untuk berdiri.

“W-wow. P-paman Adam. Serangan tadi sangat keren. B-bisakah kau ajari aku gerakan itu?”

“Jika kau mau mempelajari gerakan sekompleks itu, pelajari terlebih dahulu bagaimana caranya meninju dengan benar.”

“Harus, ya?”

“Tentu. Dasar menyerang itu berasal dari pukulan, apapun bentuk serangannya. Karena dengan berlatih memukul, kau akan berlatih menggerakkan pinggangmu, memposisikan kakimu, mendistribusikan bobot tubuhmu, dan menjaga keseimbanganmu. Semua itu diperlukan untuk mempelajari serangan-serangan yang lain. Paling tidak, begitulah caraku memahami banyak gerakan tarung yang kompleks.”


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Hoaaa, benar juga. Kau ‘kan tukang berkelahi. Tidak semestinya aku meragukanmu!”

Subject 09 kembali tertawa. Ia tak lagi memiliki kata untuk merespon pernyataan Patih.

Tak lama kemudian, Verani keluar dari kamarnya. Penampilannya tampak sederhana, namun kecantikannya terpancar lebih cerah dari hari-hari biasanya. Ia mengenakan kemeja pink lengan panjang dibalut dengan terusan putih sepanjang mata kaki. Ia lebih tampak seperti mahasiswi primadona, bukan seperti ibu-ibu. Kuncir kuda pada rambutnya yang agak bergelombang pun membuatnya tampak lebih menawan. Lucu.

Subject 09 dan Patih berpaling kepada wanita yang berusia 31 tahun tersebut. Bagi Patih, apa yang ia lihat merupakan makanan sehari-hari. Namun bagi Subject 09, apa yang ia lihat adalah pemandangan baru. Ia sempat terpana walau sesaat, pandangannya sempat membeku selama beberapa detik. Bagaimanapun, ia adalah laki-laki dewasa, wajar saja.

“Sudah siap, guys?” tanya Verani dengan wajah merekah. Ia lantas terdiam menatapi Adam dan Patih saling berhadapan. Heran. “Hei, apa yang kulewatkan? Kalian sedang membicarakan apa tadi?”

“Uhm, ini masalah laki-laki, Bu. Ibu tak perlu tahu,” jawab Patih spontan. Wajahnya terlihat menjengkelkan.

“Kamu ini ya … ” Verani menghampiri Patih dengan tergesa-gesa, lalu mendekap kepalanya cukup erat. “Mau Ibu jitak sampai kepalamu pipih seperti batu obsidian, ya?” tanyanya.

Patih tak merespon dengan kata. Ia hanya mampu tertawa mendapatkan “hukuman” dari ibunya. Sementara itu, Subject 09 pun tersenyum lebar melihat kebahagiaan di depan matanya. Namun, sesaat kemudian senyuman itu luntur. Entah mengapa.

“Mau pergi sekarang?” tanya Subject 09.

“Oh iya, benar,” Verani melepaskan dekapannya dari Patih. “Ini sudah siang. Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum hari mulai gelap.”

“Oke! Mari berangkat!” seru Patih menimpali.

Subject 09 tak lagi berujar, ia sekadar tersenyum tipis. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia pun berjalan keluar rumah. Dua mantan tetangganya segera mengikuti tanpa banyak tanda tanya. Perjalanan penuh ketegangan baru akan dimulai, Subject 09 masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa lolos dari pengamatan agen pemerintah.

***

Rencana pertama Subject 09 berjalan dengan mulus. Dengan mobil yang ia sewa dari jasa rental di sekitar rumahnya, ia pun dapat mengelilingi Kota Lembang dengan tenteram. Ia mengunjungi sekolah-sekolah yang berdiri di kota kecil tersebut, memperlihatkannya kepada Verani untuk kelanjutan pendidikan Patih. Sepanjang pencarian sekolah baru, Verani hanya mencatat alamat sekolah-sekolah tersebut, ia belum bisa memutuskan sekolah mana yang terbaik untuk Patih. Paling tidak, rencana mereka untuk melakukan survei tidak buyar.

Selepas mencari sekolah baru untuk Patih, barulah Subject 09 merasa tak nyaman. Ia turun gunung menuju Kota Bandung, salah satu tempat yang kemungkinan besar paling diawasi oleh pemerintah saat ini. Tidak hanya pemerintah, dengan tersebarnya foto “Adam Sulaiman” di seluruh media nasional, penduduk Kota Bandung yang terbilang hi-tech seharusnya akan lebih mudah mendeteksi wajah Subject 09. Subject 09 waswas, namun ia tak berucap apapun. Janji tetap janji, ia harus membahagiakan kedua mantan tetangganya di hari itu.

Untuk mempersulit pencarian, Subject 09 akhirnya mengulur waktu. Ia menempuh jalan yang lebih jauh, sehingga ia tiba di Bandung pada saat hari sudah mulai gelap. Dan taktiknya membuahkan hasil yang serupa dengan dugaannya. Ia tiba di Bandung pada pukul 17.36. Pada jam tersebut, Kota Bandung sudah hampir mengucapkan selamat tinggal pada cahaya mentari.

Tempat pertama yang ia kunjungi adalah mal di daerah Bandung Utara. Dan saat ia tiba, waktu telah menunjukkan pukul 17.51, jauh lebih gelap dari sebelumnya. Subject 09 lantas menyuruh kedua mantan tetangganya untuk menunggu di sebuah restoran pizza, sementara ia pergi untuk beribadah sore. Sembari berjalan menuju mushola terdekat, ia tetap mengamati situasi sekitar dengan penuh kehati-hatian.

Tepat seperti dugaannya, agen pemerintah bahkan telah menyebar di mal tersebut. Mereka adalah tim surveillance; bisa jadi dari PIN, bisa jadi dari TNI, bisa jadi dari Polri. Banyak pria berbadan tegap dan berwajah sangar berputar-putar di sekitar mal. Mereka mengenakan handsfree untuk bisa saling terhubung satu sama lain dan mata mereka tampak sangat awas. Seribu sial, pikir Subject 09. Kalau begini, bagaimana cara ia dapat menyenangkan hati Verani dan Patih tanpa gangguan?


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Akan tetapi, Subject 09 tak gentar. Ia tetap berjalan tenang menyusuri lorong demi lorong untuk menghindari pengamatan para agen. Sampai pada akhirnya ia berhasil menginjakkan kakinya di mushola untuk bersembahyang. Pada saat bersembahyang pun ia menyamarkan identitasnya dengan mengenakan masker flu, kacamata plastik, dan peci bundar berwarna putih. Ia juga menanggalkan jaket dan menitipkannya di loker penitipan barang, sehingga perbedaannya akan lebih kontras. Ia benar-benar telah menyiapkan segalanya untuk menghindari konfrontasi dengan agen pemerintah.

Namun demikian, mendatangi sumber masalah akan selalu memunculkan masalah. Turun ke Kota Bandung dan bermain ke wilayah publik adalah kesalahan fatal yang harus Subject 09 buat demi menepati janjinya terhadap Verani. Kalau saja tak ada Verani, ia takkan turun gunung dan menampakkan batang hidungnya di hadapan publik.

Masalah yang tengah Subject 09 hadapi cukup krusial. Disaat imam telah mengumandangkan panggilan bersembahyang, ia tiba-tiba sadar bahwa ia sedang dihimpit oleh dua orang agen pemerintah. Tidak, ada beberapa agen pemerintah di tempat yang sama. Pertanyaannya adalah apakah mereka menyadari keberadaan Adam Sulaiman di sana?

Subject 09 berupaya untuk tetap bersikap normal. Ia percaya diri dengan taktik penyamaran cadangannya. Wajahnya memang tampak berbeda dengan penyamaran barunya, semoga saja para agen tersebut tidak menyadarinya. Agar lebih meyakinkan, ia juga berpura-pura pilek mengingat mulut dan hidungnya ditutupi oleh masker berwarna hijau muda tersebut.

Peribadatan berlangsung khidmat. Tidak ada gangguan apapun yang datang kepada Subject 09 hingga memasuki sesi akhir ibadah. Seusainya, Subject 09 tetap duduk bersila di tempatnya, ia mencoba mengamati apakah para agen tersebut tetap duduk atau langsung bangkit. Jika mereka langsung bangkit, itu berarti mereka tak menyadari keberadaannya. Namun, jika mereka tetap duduk, Adam harus bersiap-siap untuk hasil yang terburuk.

Satu menit, tiga menit, lima menit, sepuluh menit. Beberapa agen akhirnya bangkit dari tempat mereka bersimpuh. Akan tetapi, dua agen yang menghimpit Subject 09 tetap duduk bersila di tempatnya masing-masing. Mereka tampaknya mencurigai penampilan Subject 09, entahlah.

Merasa tak nyaman, Subject 09 akhirnya memutuskan untuk bangkit. Ia lantas berjalan santai menuruni tangga mushola. Bagaimana dengan kedua agen yang duduk menghimpitnya? Mereka ikut bangkit dan berjalan pelan di belakang Subject 09. Tak salah lagi, mereka menyadari keberadaan Adam!

Subject 09 tak panik, ia berjalan santai ke arah toilet, tempat yang sama di mana ia mengubah penyamarannya. Setibanya, ia segera membuka masker dan berpura-pura membuang ingus di atas wastafel. Kedua agen tetap mengikuti, mereka ikut masuk ke dalam toilet; agen pertama langsung berjalan menuju kakus, sementara agen kedua segera mencuci tangannya di wastafel sebelah Subject 09.

Tak ada kata, tak ada tindak. Mereka berdiam diri di toilet tersebut, melakukan aktingnya masing-masing, sampai pada akhirnya tinggal mereka bertiga yang tersisa di sana. Agen kedua lantas menyudahi aktivitasnya di toilet tersebut dan berjalan menuju pintu keluar. Subject 09 melirik, ia hendak memastikan bahwa si agen kedua memang ingin keluar dari toilet.

Agen kedua terdiam mematung di depan pintu, begitu pula dengan agen pertama. Ada sesuatu yang tak beres. Subject 09 lantas berdiri menegang, bersiap-siap melepaskan serangan kepada dua orang mencurigakan tersebut. Matanya menyeringai tajam, ia mewaspadai tiap gerakan kedua agen.

Suara demi suara pun lenyap, tersisa suara detak jantung dan hembusan napas. Subject 09 masih menunggu momen yang tepat untuk meluncurkan pukulan pertama.

Menunggu dan menunggu.

Ckrek! Namun, entah mengapa, agen kedua tiba-tiba membuka pintu dengan tergesa-gesa. Agen pertama pun bergegas meninggalkan toilet dan melewati Subject 09 tanpa keraguan. Keduanya lantas menghilang dengan cepat. Mereka berlari entah ke mana.

Subject 09 pun menghembuskan napas panjang begitu kedua agen yang mencurigainya menghilang dari pandangan. Ia bisa kembali bernapas lega. Namun, ia sendiri tak paham mengapa kedua agen tersebut tiba-tiba berlari meninggalkannya. Ada sesuatu yang terjadi dan ia tak tahu. Kemungkinan besar ada masalah yang terjadi karena ia sedang berada di sana.

Subject 09 tak punya waktu untuk berlama-lama merenung di toilet. Ia pun bergegas keluar dan mengambil jaket serta topi memancingnya kembali dari loker penitipan barang. Ia kembali pada penyamaran awalnya. Lagipula, hari sudah gelap, wajahnya akan semakin sulit dikenali.

Dengan langkah yang tergesa-gesa, ia pun berjalan menemui kedua mantan tetangga yang ia tinggal di sebuah restoran pizza. Ia menemukan mereka sedang asik menyantap hidangan di sudut ruangan, tempat yang memang sengaja ia pilihkan untuk keduanya. Beruntung keduanya tak pindah, karena sudut ruangan tersebut pasti luput dari pandangan agen-agen yang mengintai.

Tanpa ragu-ragu, Subject 09 segera menghampiri Verani dan Patih, lalu duduk di belakang meja tempat keduanya menikmati hidangan. Akhirnya ia bisa berkumpul bersama lagi. “Maaf, aku jadi membuat kalian menunggu. Aku tadi ke toilet terlebih dahulu,” ujar Subject 09 membuka percakapan.

“Hahaha, kau sakit perut?” tanya Verani dengan mulut yang masih penuh dengan pizza.

“Bisa dikatakan demikian,” jawab Subject 09 berdusta. “Kalian sudah menghabiskan berapa loyang besar semenjak aku pergi?”

“Sepuluh!” jawab Patih spontan. Ekspresi Subject 09 pun berubah, ia terhenyak. “Dikurang tujuh ‘sih. Hehehe,” lanjut Patih.

“Tiga maksudmu?”

“Benar!”

“Tetap saja banyak, ya. Kalian tampaknya sengaja ingin menguras dompetku,” ujar Subject 09 nyengir.

“Tenang saja, aku akan ikut patungan kalau uangmu kur–”

“Tidak, tidak. Aku hanya bercanda, Ve. Hari ini adalah hari istimewa untuk kalian setelah kutinggalkan berhari-hari tanpa hiburan. Jadi, nikmati yang kalian ingin nikmati,” sergah Subject 09 memotong ucapan Verani. Ia pun tersenyum lebar.

“Asiiik! Terima kasih, Paman! Kau baik sekali!” seru Patih.

“Mau menjadi gentleman, ya? Hihihi,” timpal Verani.

Subject 09 tak merespon kedua mantan tetangganya dengan ucapan. Ia sekadar melayangkan senyuman nan tulus, lalu melahap salah satu potongan pizza yang bertengger indah di atas mejanya. Ia yang punya rencana makan bersama, sudah semestinya ia ikut menikmati rencananya sendiri.

Tak lama kemudian, Subject 09 menoleh keluar jendela. Ia mendapati beberapa pria berbadan tegap tampak panik, entah masalah apa yang terjadi pada mereka. Para agen pemerintah tersebut seperti kehilangan pedoman. Benak Subject 09 mulai meronta, ada sesuatu yang tak beres di luar sana dan kemungkinan berkaitan erat dengan kedatangannya ke mal tersebut.

Setidaknya, Subject 09 bersyukur bisa lepas dari perburuan pemerintah saat itu. Ia pun melanjutkan aktivitasnya dengan Verani dan Patih tanpa gangguan. Mereka makan hingga kenyang, bermain permainan arcade hingga letih, bernyanyi di ruangan karaoke hingga suara parau, dan melakukan berbagai aktivitas hiburan lainnya. Semua dilakukan dengan damai, Adam benar-benar sukses menghindari puluhan agen yang memburunya malam itu. Verani dan Patih bahkan tak sempat mengetahui bahwa pria yang mereka anggap gentleman tersebut merupakan seorang pembunuh paling berbahaya sejagat Nusantara.

Tidak untuk hari ini.

***

Lembang, 23.02

Waktu terasa begitu cepat. Verani bahkan tak percaya jika waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia tenggelam dalam sukacita, terhipnotis oleh senyum dan tawa selama hampir seharian. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Adam, pada akhirnya ia bisa lepas dari bayang-bayang kehidupan nistanya di masa lalu.

Subject 09 dan kedua mantan tetangganya akhirnya tiba di rumah tercinta. Patih sudah tertidur, Subject 09 pun menggendongnya seperti bayi. Anak itu memang penidur, sehingga pada waktu-waktu tertentu ia harus digendong dan itu tampak memalukan mengingat ia telah menjadi pelajar SMP. Tetapi, Subject 09 tak keberatan, ia menggendong Patih seperti anaknya sendiri, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Anak itu sama sekali tak bergeming, malah mendengkur halus.

Subject 09 pun tertawa mendengus melihat kelakuan putra semata wayang Verani. Ia lantas menepuk-nepuk pipi Patih dan mengatakan, “Sudah sebesar ini masih suka merepotkan orang. Bagaimana mau menjadi Solid Snake?” Patih tetap juga tak bergeming. Ia asik tidur.

Sesaat setelahnya, Subject 09 pun keluar dari kamar Patih. Ia menutup pintu rapat-rapat dan mendapati Verani berdiri di hadapannya. “Hmm? Ada apa, Ve?” tanyanya heran.

“Uhm … anu … uhm … ” Verani salah tingkah. “A-aku mau berterimakasih atas semua yang kau berikan hari ini. Tidak, tidak. Aku mau berterimakasih karena kau telah datang di dalam kehidupanku,” lanjutnya gugup.

Bibir Adam tersungging. Ia terheran dengan sikap Verani. “Mengapa tiba-tiba kau mengatakan itu? Aku hanya melakukan tugasku sebagai kerabat yang merawat kalian di sini.”

“Sejujurnya, Adam … ” ujar Verani tertunduk. “Aku tak pernah sebahagia seperti saat bertemu denganmu, khususnya hari ini. Sejak kecil, keluargaku sudah dirundung banyak masalah, terutama karena ayahku adalah seorang playboy. Dan kau … kau datang mengubah segalanya. Membuatku terenyuh, tersentuh, menangis, hingga tertawa. Seluruh ekspresi itu tak pernah kurasakan saat aku masih bersama keluargaku maupun bersama mantan-mantan pacarku. Kau berbeda dari mereka, kau datang seperti separuh hati yang telah hilang dari ragaku.”

Subject 09 tak merespon. Ia bingung. Kedua tangannya lantas masuk ke dalam saku celana dan wajahnya berpaling dari Verani. Ia merasa bersalah karena telah memberikan kebahagiaan untuk wanita cantik di hadapannya, sementara ia hidup di bawah bayang-bayang kemarahan pemerintah. Di sisi lain, Verani butuh lepas dari kekangan kehidupannya yang kelam, ia mau menjadi ibu yang baik. Subject 09 jadi merasa serba salah. Ia terjebak dalam kegilaan yang tak bisa ia kisahkan kepada Verani. Tidak untuk sekarang.

Verani tiba-tiba merangsek maju mendekati Subject 09. Cup! Tanpa sempat disadari oleh pria yang akrab disapa Adam tersebut, Verani memberanikan diri untuk mencium pipi sang pria pujaannya. Subject 09 terkejut, tetapi ia tak berbuat apa-apa selain kedua matanya terbelalak. Tak ada komentar terucap, Subject 09 pasrah menerima kecupan di pipinya.

2

Verani lantas berjalan mundur beberapa langkah dari Subject 09. Ia tersenyum lebar, wajahnya menjadi kemerahan seperti buah delima. “Kau mungkin tak suka pada kecupan tersebut. Aku mungkin telah melanggar perjanjian untuk tidak melakukan hubungan layaknya suami-istri. Tetapi, aku … aku hanya ingin mengekspresikan rasa terimakasihku lebih dari sekadar melayangkan ucapan terimakasih.”

Subject 09 mengusap pipinya, lalu tersenyum tipis. “Jangan lakukan itu lagi, Ve. Kau membuatku terhenyak.”

Verani mendesah malu. Ia pun tertunduk seraya memilin-milin terusannya. “Bagaimana jika aku memang ingin menciummu setiap kali aku merasa sangat bahagia?”

Subject 09 mendengus seraya tersenyum hingga gigi-gigi depannya tampak jelas. “Kau tahu jawabanku, Ve. Itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya, kecuali–”

“Kau nikahi aku … ” sela Verani.

Situasi pun menjadi hening selama beberapa saat. Semuanya menjadi terasa ganjil. Subject 09 menatap Verani dengan datar, sementara Verani tetap tertunduk dengan wajah waswas. Tak ada ucap, tak ada jawab. Keduanya saling bertukar kesunyian.

Sampai kemudian Subject 09 pun menghembuskan napas panjang. “Aku belum–”

“Aaah, tidak, tidak! Tidak perlu dijawab. Pernyataanku tadi hanya bercanda ‘kok, sekadar untuk menggodamu. Ahahaha. Tidak perlu terlalu serius menanggapinya, kenapa pula kita sampai terdiam membisu selama beberapa saat?”

Subject 09 tak merespon, ia tetap menatapi Verani dengan wajah datarnya.

“Ah, mungkin sudah saatnya kita beristirahat setelah seharian beraktivitas,” imbuh Verani seraya meregangkan tubuhnya. “Sebaiknya aku tidur. Tidak apa-apa ‘kan kutinggal sendiri di sini?”

“Hmm, tentu saja. Aku mau merokok dulu di luar.”

“Oh, baiklah,” lanjut Verani seraya berjalan perlahan-lahan meninggalkan Adam. “Selamat malam, Adam. Terima kasih untuk semuanya.” Tak lama kemudian, Verani pun masuk ke dalam kamarnya, menghilang dari pandangan.

Sekali lagi Subject 09 menghembuskan napas panjang. Sampai detik itu ia masih tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa kepada Verani. Ia takkan bisa menjawab soal “pernikahan” jika permasalahannya dengan negara belum beres. Dan masalahnya sangat besar, soal darah berbalut politik. Bukan masalah kecil yang biasa dihadapi di rumah-rumah. Ia sadar bahwa ia telah terkungkung di dalam sebuah keadaan yang bisa merugikannya suatu hari kelak.

Tetapi ia tak mau berlarut-larut tenggelam dalam renungan. Ada masalah krusial yang harus ia selesaikan saat itu juga. Tampaknya, masalah yang menimpa para agen pemerintah di mal membuntutinya hingga ke rumahnya sendiri. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi, tak ada yang boleh tahu tempat persembunyiannya kecuali dirinya dan kedua mantan tetangganya.

Akhirnya, alasan untuk merokok di luar rumah pun direalisasikan oleh Subject 09. Ia keluar dan memastikan seluruh akses masuk ke dalam rumah sudah tertutup serta terkunci dengan rapat. Akan tetapi, ia keluar bukan untuk benar-benar merokok, melainkan berjalan kaki menuju tempat yang cukup jauh dari rumahnya.

***

Subject 09 akhirnya tiba di tempat yang sama sekali tak disinggahi oleh manusia. Jaraknya terbilang cukup jauh dari rumahnya, mungkin sekitar lima ratus meter. Masalahnya bukanlah jarak, tetapi alasannya. Untuk apa ia datang ke tempat yang hanya ditumbuhi oleh ilalang dan pepohonan seperti demikian? Seakan ingin menghilang di dalam kegelapan.

Ia lantas berdiri tegap merasakan hembusan angin menepuk-nepuk pipinya. Cahaya rembulan merasuk ke dalam setiap celah ranting pepohonan, mencampurkan eksistensinya dengan pekatnya malam.

“Jadi, kau yang membuat para agen PIN panik di mal tadi,” ujarnya. Entah kepada siapa.

“Bukan PIN, mereka dipinjam PIN untuk menemukanmu. Mereka adalah anggota TNI dan Polri. Ngomong-ngomong, tempat yang bagus untuk bertemu, Nine,” sahut seorang wanita dari arah belakang. Entah siapa.

“Nine!?” Subject 09 segera bertolak dan mencabut pistol dari balik celananya. Ia pun membidikkannya kepada wanita misterius yang mengikutinya. “Hanya ada sekelompok orang yang mengetahui nama asliku. Project SAKTI.”

Wanita misterius tersebut melakukan hal yang serupa dengan Subject 09. Ia mencabut pistol dari sarungnya dan membidikkannya kepada Subject 09. “Benar. Project SAKTI, tempat di mana kita dibesarkan.”

3

“Seventeen … ” kedua mata Subject 09 pun terbelalak. Ia terhenyak mendapati sosok dari masa lalunya berdiri beberapa meter di hadapannya. Wanita berjilbab serta berkacamata tersebut merupakan salah satu anggota Project SAKTI yang tak berhasil ditumbangkan oleh Operasi Antisakti, Subject 17.

“Kau masih mengenaliku, Nine. Aku terkesima. Tetapi, aku punya nama sekarang. Felicia Riska Nirmala. Nama yang bagus, bukan?”

Felicia. Itu adalah nama yang diambil Subject 17 untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Ia juga merupakan sosok yang sama dengan wanita pembunuh empat anggota Inspeksi Umum PIN dan empat ajudan seorang pejabat TNI semalam lalu.

“Nama itu akan kau buang juga pada akhirnya,” tukas Subject 09 sinis.

“Tidak juga. Aku menyukai namaku yang sekarang. Bagaimana denganmu, Adam Sulaiman? Namamu kini tersohor mengalahkan artis-artis papan atas.”

Tch, katakan saja apa keperluanmu datang kemari.”

“Aku mendengar kabar bahwa kau adalah dalang dibalik pembunuhan delapan pejabat pemerintah–”

“Tujuh. Satu orang lagi mati dibunuh oleh pemerintah sendiri, bukan olehku.”

“Begitukah? Hmm, bukan masalah lah. Yang pasti, aku cukup senang mendengar kau selamat dari kebrutalan Operasi Antisakti dan kembali beraksi.”

“Tak usah bertele-tele, Seventeen. Katakan saja apa inti dari pertemuan ini dan bagaimana cara kau menemukanku?”

“Intinya, karena kasusmu sangat ramai diperbincangkan orang, aku pun tertarik untuk mencari informasi mengenai keberadaanmu. Aku menyadap saluran telekomunikasi PIN dan mereka tampak menemukan ‘orang mencurigakan’ di Mal Cihampelas. Jadi, aku langsung berangkat tanpa banyak tanda tanya, lokasiku kebetulan cukup dekat dari mal. Dan … boom! Aku pun berhasil menemukanmu, saudara lama. Cukup mudah, kau tahu?

“Lantas apa? Kau akan membunuhku seperti yang diperintahkan oleh atasanmu?”

Kening Felicia mengernyit. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Subject 09. “Atasan? Bicaramu sama sekali tak masuk akal. Atasan kita sudah mampus. Kau tahu itu, Nine.”

“Tak usah berkelit, Seventeen. Kau datang kemari atas suruhan dari pemerintah ‘kan? Siapa majikanmu sekarang? Presiden? Pejabat PIN? Panglima TNI?”

“Hah? Logikamu kacau, Nine! Kalau aku disuruh pemerintah untuk membunuhmu, lebih baik aku mobilisasi kekuatan di Mal Cihampelas untuk menangkapmu ramai-ramai, tidak perlu repot-repot memelintir leher mereka satu persatu dan mengikutimu sampai ke antah-berantah seperti ini.”

Well, kita berdua tahu bahwa para pejabat pemerintah saling sikut demi sebuah pengakuan. Bisa saja atasanmu ingin dianggap sebagai pahlawan tunggal oleh rakyat, sehingga ia menyuruhmu menyingkirkan agen-agen pemerintah yang tak ada hubungan dengan dirinya.”

Subject 17 mendengus sinis, tak bergegas merespon. Ia tak menduga Subject 09 akan mengambil sikap permusuhan dengannya. “Kau tampak paranoid, Nine. Ada sesuatu yang membuatmu tak percaya padaku. Aku sesungguhnya tak mengharapkan kau terus-menerus membidikkan pistol ke kepalaku.”

“Tentu saja aku tak percaya. Pasca Operasi Antisakti memporak-porandakan segalanya, sudah tak ada alasan bagiku untuk mempercayai anggota The Creation Project SAKTI.”

“Aku yakin bukan itu alasannya.”

Subject 09 dan Subject 17 pun terdiam. Mereka hanya saling bertukar tatap nan dingin. Pistol tetap terbidik ke arah kepala, namun pelatuk tak juga ditarik. Angin malam pun berhembus, seakan berupaya menjadi juru damai bagi dua insan paling berbahaya sejagat Nusantara tersebut.

Tak lama kemudian, Subject 17 pun menjatuhkan pistolnya. Perhatian Subject 09 menjadi teralihkan karenanya, ekspresinya agak terkejut melihat Subject 17 justru tampak seperti menyerahkan nyawa di tangannya. Subject 09 lengah. Momen tersebut segera dimanfaatkan oleh Subject 17 untuk merangsek maju dan menyerang saudaranya sendiri.

Drak!

Rencana Subject 17 tak sempat terbaca oleh Subject 09. Ia berhasil memukul pergelangan tangan Subject 09 dan membuat pistol yang berada pada genggaman Subject 09 terlempar cukup jauh.

Subject 09 melakukan perlawanan. Ia melepaskan tinjunya ke wajah Subject 17, namun serangannya luput. Subject 17 sempat merunduk sesaat sebelum bogem mentah mendarat di wajahnya. Ia lantas menahan laju tangan Subject 09 dan menendang bagian belakang lutut Subject 09 hingga pria yang kerap dipanggil Adam tersebut hilang keseimbangan. Sesaat kemudian, Subject 17 segera menjegal leher Subject 09 dan menjatuhkannya ke atas tanah dengan keras.

Subject 17 lantas mundur beberapa langkah dari saudaranya seraya memasang kuda-kuda bertarung. “Aku kemari untuk berbicara baik-baik, Nine. Ada hal yang ingin kuklarifikasi mengenai pembunuhan terhadap delapan pejabat yang kau lakukan beberapa waktu lalu,” ujarnya.

“Huh!” Subject 09 melantingkan tubuhnya dan kembali pada posisi siap tarung. Ia langsung memasang kuda-kuda nan kokoh. “Salah satu orang paling berbahaya di Indonesia datang kepadaku hanya untuk berbicara baik-baik. Sulit dipercaya!”

“Kau gila, Nine. Apa yang telah merasuk ke dalam pikiranmu? Aku telah membuang pistolku, memilih untuk melakukan pertarungan jarak dekat denganmu, melepaskan serangan yang sama sekali tak menyakitkan apalagi mematikan, mundur beberapa langkah setelah melihat kau rubuh, dan kau tetap tak percaya. Kacau! Pasti ada sesuatu yang mempengaruhimu.”

“Aku takkan berhenti menyerangmu sampai kau mengatakan apa sesungguhnya tujuanmu kemari.”

“Aku sudah mengatakan tujuanku, kau saja yang tak mempercayainya. Kalau kau memang mengambil sikap demikian, aku juga takkan sungkan-sungkan menghajarmu sampai kau mengatakan mengapa kau bisa melayangkan hipotesis yang tak masuk akal terhadap kedatanganku.”

Kedua subjek berbahaya rezim Soeharto tersebut kembali saling tatap. Aura membunuh pun terasa semakin kuat. Tak ada senjata api kali ini, mereka hanya akan mengandalkan seluruh anggota tubuh untuk saling membunuh. Dan mereka serius.

Subject 09 dan Subject 17 saling mendekat. Mereka lantas bertukar serangan dengan massa dan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia normal. Akan tetapi, belum ada serangan yang berhasil merangsak masuk ke titik-titik vital, keduanya mampu mengantisipasi tiap serangan yang datang dengan cekatan. Subject 09 meninju, Subject 17 menghindar. Subject 17 menendang, Subject 09 memblokir. Dan begitu seterusnya.

Sampai pada akhirnya, langkah mereka menjadi semakin tak terkendali, emosi pun semakin tak terbendung. Subject 09 menyerang, ia melepaskan tendangan roundhouse ke arah perut Subject 17. Sayang, tendangannya berhasil diblokir oleh Subject 17. Keduanya lantas saling mengepalkan tangan. Dengan wajah geram, mereka pun melepaskan pukulan yang sama ke arah target yang sama: wajah.

Tinju mendekat, melesat cepat seperti peluru kendali. Subject 09 dapat melihat kepalan tangan Subject 17 beberapa sentimeter di depan wajahnya, begitu pula dengan Subject 17. Keduanya sama sekali tak gentar, pandangan mereka tetap lurus ke arah depan. Mengedip pun tidak.

“Adam!!!”

BUK!

Bersamaan dengan menyeruaknya teriakan seorang wanita dari kejauhan, pukulan kedua subjek berbahaya rezim Soeharto itu pun mendarat tepat pada target yang dituju. Keduanya lantas berjalan mundur beberapa langkah, hidung mereka tampak sama-sama mengeluarkan darah. Subject 09 segera menoleh ke arah datangnya suara teriakan. Ia dapat mengenali suara tersebut walaupun sayup-sayup tertiup angin.

Verani.

“V-Ve, apa yang kau lakukan di sini!?” tanya Subject 09 seraya menatapi mantan tetangganya dengan kedua mata terbelalak.

Subject 17 terdiam. Ia sekadar membuang ludahnya yang penuh darah, lalu berdiri tegap menatapi Subject 09 dan Verani saling menatap heran. Ia tak lagi merasa terancam seperti sebelumnya, pijakannya terasa lebih santai saat ini.

“A-Adam … apa yang kau lakukan? S-siapa wanita yang kau pukuli?”

Angin malam pun berhembus kencang, seakan menjadi satu-satunya jawaban atas tanda tanya yang meliputi benak Verani. Semua orang terdiam, tak berani berucap. Alam pun segan memberi jawaban, sekadar menyaksikan. Saksi bisu.

TO BE CONTINUED


 

<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *