44s – Demon of Kampung Rimbun


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Jakarta, Indonesia
2020

Berubah itu bukan soal bisa atau tak bisa, tetapi soal mau atau tidak mau …

Begitulah petuah seorang pemuda berambut pendek dan jabrik tersebut. Di masjid kecil itu, ia duduk bersila sembari memberikan ceramah tentang kehidupan kepada para remaja yang haus akan kebenaran. Gaya bicaranya memang bak cendekiawan, tetapi penampilannya lebih mirip anggota geng motor; dengan jaket kulit hitam menyelimuti tubuhnya.

“Kak Adam!” seru salah seorang remaja seraya mengangkat tangannya. “Kalau kita tidak punya kekuatan atau uang untuk mengubah keadaan, bagaimana? Berarti kita tidak akan pernah bisa berubah, dong!”

Pertanyaan itu langsung mengundang respon dari remaja lainnya, masjid pun riuh. Mereka juga penasaran. Tema tentang ‘mengubah nasib’ sore itu memang menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum remaja yang sedang mencari jati diri.

“Heheh … ” Adam, pemuda jabrik yang menjadi penceramah sore itu, sekadar tertawa kecil. Gigi-gigi depannya sampai tampak jelas. “Teman-teman, tidak ada yang menyuruh kalian berubah sekarang. Apakah aku menyuruh kalian untuk berubah hari ini? Detik ini?”

Para remaja yang mengenakan kaos kucal itu pun saling tatap. Mereka yang semula ribut, sontak terdiam.

“Tetapi … ” sambung si remaja penanya. “Barusan kau mengatakan bahwa kami harus berani mengubah keadaan agar tidak terus-menerus terjebak dalam kondisi sulit.”

“Betul, aku mengatakan itu, tetapi apakah aku menyuruhmu berubah sekarang, Umar?”

Seketika, remaja laki-laki bernama Umar itu pun terjerat dalam kebisuan. Ia mengembuskan napas panjang seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dengar, teman-teman. Apa yang kukatakan tentang mengubah nasib adalah soal tekad, soal kemauan. Bukan soal seberapa cepat kalian bisa melakukannya. Kalau kalian belum punya kekuatan, kalian kumpulkan dulu kekuatan itu sampai kalian yakin. Itu poinku. Yang paling penting, untuk keluar dari kondisi kesulitan, kalian juga harus punya tekad dan mencari cara untuk mengubahnya. Bukan dengan berdiam diri dan menunggu keajaiban!” papar Adam.

Para remaja menganggukkan kepala, tidak hanya Umar. Kini perasaan mereka menjadi lebih lapang, tidak lagi diselimuti keraguan. Pemaparan Adam soal tekad menggerakkan hati mereka untuk mencari solusi. Entah masalah apa, yang jelas berkaitan dengan keluarga.

“Tidak ada yang bisa mengubah hidup kalian kecuali diri kalian sendiri. Berbuat atau berdiam, itu semua adalah pilihan. Kalian yang menentukan,” jelas Adam tersenyum.

Sesi ceramah itu pun berakhir dengan sukacita. Para remaja lantas membubarkan diri dengan mencium tangan Adam dan mengucapkan salam. Seusainya, mereka langsung berlari keluar masjid, menyebar ke segala penjuru dengan penuh semangat.

Tetapi tidak untuk Umar.

Remaja laki-laki yang mengenakan peci kusam itu tetap bertahan di dalam masjid, lalu duduk mendekat kepada Adam. Ia masih menyimpan banyak tanya, tidak seperti teman-temannya. Mungkin masalahnya sedikit lebih sulit, sehingga memerlukan petuah khusus.

“Kak Adam … bersediakah kau mengobrol denganku lebih lama?” tanya Umar ragu-ragu.

“Tentu saja, Umar,” Adam tersenyum. “Kau masih kepikiran dengan isi ceramahku sore ini?”

“A-ahaha!” Umar jadi merasa canggung. Ia mengusap-usap tengkuknya. “Sepertinya begitu, Kak. Kau tahulah apa masalahku. Walaupun kata-katamu terdengar masuk akal, tetapi masalahku jauh lebih rumit daripada yang kau pikirkan. Orangtuaku tidak akan mengizinkan perubahan itu terjadi, terutama ayahku. Ia adalah ekstremis.”

“Hei, Umar … ” untuk menghibur rekan bicaranya, Adam pun mengusap-usap pundak Umar. Ia juga tersenyum. “Kampung Rimbun ini punya sejarah yang panjang dengan pemerintah Indonesia. Mereka terbentuk pasca kesulitan ekonomi tahun 1998. Banyak penduduknya yang dibunuh secara diam-diam hanya karena sering mengritik pemerintah pada masa itu. Sejak saat itu, penduduk Kampung Rimbun ini mendendam pada pemerintah. Ayahmu adalah salah satu saksi sejarah buruk tersebut.”

“Ya, aku tahu itu, Kak. Kampung kami ini sudah hidup bertahun-tahun dengan dendam, aku dan teman-teman ingin mengubah itu … ” ujar Umar luruh. “Permasalahannya adalah … sulit untuk meyakinkan generasi-generasi sebelum kami untuk berhenti mendendam. Mereka tetap berbisnis dengan orang-orang jahat, mafia, gembong narkoba, hanya untuk balas dendam kepada pemerintah. Kapan ini semua berhenti? Aku tidak tahu.”

Adam pun terdiam. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan, lantas merenungkan perhelatan batin rekan bicaranya.

Kampung Rimbun, tempat di mana Adam dan Umar tinggal, adalah sebuah perkampungan kecil di daerah utara Jakarta. Lokasinya berbatasan langsung dengan laut, tetapi sangat kumuh, seperti tidak terjamah oleh pemerintah. Faktanya, kampung ini memang punya sejarah yang tidak mengenakkan dengan pemerintah.

Komunitas politis Kampung Rimbun sendiri terbentuk pada tahun 1998 pasca terjadi krisis ekonomi besar di Indonesia. Mereka adalah orang-orang miskin dan mantan pengusaha yang melarikan diri dari kekacauan di jantung kota. Awalnya, mereka bukanlah komunitas yang bermasalah, hanya warga yang ikut merasakan dampak krisis moneter.

Namun, setelah Presiden Soeharto turun, segalanya berubah.

Penduduk Kampung Rimbun melihat peluang untuk bangkit setelah turunnya Presiden Soeharto. Lantas, mereka mulai meminta bantuan pada pemerintah, secara moral maupun materi. Sayangnya, upaya ini tidak ditanggapi dengan serius. Akibatnya, sejumlah penduduk Kampung Rimbun yang tak sabaran mulai sering mengritik pemerintah dengan cara-cara yang tidak mengenakkan.

Sejumlah oknum pemerintah bekas komplotan rezim Soeharto merasa terganggu, kemudian terjadilah pembunuhan massal terhadap beberapa warga Kampung Rimbun yang terlalu vokal. Mereka yang mati mayatnya dibuang di sembarang tempat, dipertontonkan di lahan publik, agar menjadi pelajaran bagi warga Kampung Rimbun lainnya.

Sayangnya, cara itu malah membuat warga Kampung Rimbun antipati terhadap pergerakan pemerintah.

Sangat antipati.

Dendam kepada pemerintah pun bergejolak. Dari sinilah awal mula masalah Kampung Rimbun membesar. Sampai hari ini.

“Kau tahu, Kak?” ujar Umar lagi. Ia ingin mencurahkan isi hatinya. “Ayah memintaku untuk ikut berjualan narkoba agar ada pemasukan tambahan bagi keluarga Kampung Rimbun. Aku ingin menolaknya … karena aku tahu persis uangnya akan digunakan untuk membentuk semacam pemberontakan kepada pemerintah.”

Hening setelahnya. Adam sampai membelalakkan kedua matanya.

“Dan?” tanya Adam penasaran. “Apa yang kau lakukan? Kau menolaknya?”

“Aku ingin sekali, tetapi … ” Umar tertunduk lesu. “Kau tahulah bagaimana ayahku. Kalau aku menolak permintaannya, aku pasti dimarahi habis-habisan olehnya. Mungkin sampai dipukul lagi olehnya. Ahhhh! Aku benar-benar pengecut!”

“Hei, hei, jangan bilang begitu,” Adam menepuk-nepuk pundak Umar dengan lembut. Ia ingin menghibur sang remaja. “Umar, kau bukan pengecut. Aku mengerti keadaanmu. Kau hanya perlu waktu yang tepat untuk mengubah keadaan. Menjadi lebih baik di posisimu itu perlu proses, tidak bisa terburu-buru. Untuk membersihkan kolam yang berlumpur, kadang kau perlu rela untuk ikut terkena lumpurnya.”

“Hmm,” Umar tercenung. Ia pun mengangguk pelan. Tatapannya masih terpaku ke atas lantai masjid. Diam menyelimutinya selama beberapa saat. “Jadi, intinya, aku harus mengikuti keinginan ayahku?”

“Jika itu memang bisa mendatangkan kebaikan dan membuka celah untuk berubah, kenapa tidak?” ujar Adam. “Dengar, Umar … aku tidak menyuruhmu untuk berkontribusi pada hal buruk, aku hanya berharap kau bisa mendapatkan celah untuk berubah dari kau bermain kotor. Tekad, itu yang penting. Prosesnya bisa jadi tidak sesuci yang kau bayangkan.”

Umar menatapi guru mudanya secara seksama. Dahinya berkerut. Ekspresinya tampak waswas. “Kak Adam … kenapa kau tidak membantuku? Kau kan punya kekuatan untuk mengubah keadaan.”

Adam terdiam. Ia pun mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. “Umar, aku mau melakukannya. Aku mau berbicara dengan ayahmu. Akan tetapi, bagaimana akibatnya setelah aku pergi? Itu yang aku khawatirkan. Semua orang sudah tahu peringai ayahmu, ia bukan tipe orang yang ragu-ragu melukai keluarganya sendiri. Aku mengkhawatirkanmu, bukan mengkhawatirkan keselamatanku. Kita harus berhati-hati soal ini.”

” … ” Umar membuang muka. Ia merasa terjebak dalam pilihan yang buruk. Perasaannya tak enak. “Bagaimana jika aku menolaknya dengan caraku sendiri?”

“Kau punya ide?”

Tak lekas merespon, Umar menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal.

“Malam ini ayahku pasti akan berbicara soal bisnis narkoba lagi denganku,” ujar Umar.

“Oke, lalu? Apa yang akan kau lakukan?”

Umar sontak memandangi guru mudanya dengan penuh iba. Ia menghela napas yang cukup panjang sebelum menjawab pertanyaan terakhir Adam. “Kak Adam, biarkan aku menginap di rumahmu. Aku mohon.”

***

19.05

“Oh, kamu Umar anaknya Pak Sapri yang dekat kali itu?”

Fatimah, seorang ibu paruh baya yang rambutnya telah memutih dan berjalan dengan langkah yang pincang itu, bertanya kepada remaja laki-laki yang mendatangi rumah reyotnya. Ia adalah orang tertua di rumah itu, tidak punya suami.

“I-iya, Bu. Benar. Saya anaknya Pak Sapri,” jawab Umar.

“Tinggal di dekat kali, berarti dekat dengan tempat las besi itu, Kak?”

Adinda, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMP itu, ikut menanggapi kedatangan Umar ke rumahnya. Ia adalah putri semata wayang Ibu Fatimah. Meskipun tubuhnya kurus dan tampak ringkih, tetapi ia tetap antusias mengajukan pertanyaan.

“B-benar,” Umar menjawab Adinda. “Tempat las itu dikelola oleh ayahku juga.”


INI CUMA IKLAN

Jangan larang anak-anak berkreasi. Industri kreatif bakal mati kalo semua anak dilarang. :")

Oh, iya. Biar ngerti Subject 09 tentang apa, plis baca dari episode 44s dan episode 00 juga, ya! Cheers.


“Ohhhhhh, ayahnya hebat!” Adinda terkagum.

“A-ahaha, biasa saja, kok. Dia hanya jadi semacam manajer di tempat las tersebut,” cetus Umar menolak kebesaran ayahnya sendiri.

“Maaf, Mah. Aku bawa Umar ke rumah ini, jadinya … ”

Adam, sang penceramah, ternyata ia juga tinggal di rumah reyot tersebut. Keberadaannya sudah dianggap seperti keluarga angkat. Sambil menggantungkan jaket kulitnya, ia mencoba menjelaskan keadaan kepada ibu angkatnya.

“Umar sedang butuh menenangkan dirinya dari tekanan keluarga. Kita sudah tahulah bagaimana keseharian Pak Sapri, bukan tipe orang yang mudah untuk diajak bicara, sepertinya kau juga tahu soal itu,” imbuh Adam.

“Oh, ya, ya, ya … ” Fatimah mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menyuguhkan teh hangat kepada Umar. “Namanya memang sudah tersohor di kampung sini, sudah dianggap sebagai salah satu penguasa berpengaruh di Kampung Rimbun. Bukan dalam hal baik, sayangnya. Maaf, Umar … aku tidak bermaksud menghina ayahmu.”

“E-eh, tidak apa-apa, Bu. Aku setuju, kok. Ayah memang bukan orang yang baik. Aku tahu semua bisnisnya,” jawab Umar seraya tetap duduk bersila di atas tikar.

Fatimah tertawa kecil. Ia kemudian duduk di hadapan sang remaja. “Aku tidak kenal Sapri dengan akrab, tetapi dia sama sepertiku, sudah menghuni Kampung Rimbun sedari kecil.”

“Wah, Mamah kenal sama Pak Sapri!?” tanya Adinda, ikut duduk di atas tikar. “Kukira Mamah nggak pernah main ke daerah kali!”

“Hehe, tidak akrab, sayang … ” ujar Fatimah kepada putrinya. “Yang aku tahu, Pak Sapri dulunya bukan sosok yang seperti itu. Dia mulai berubah sejak ayahnya dibunuh oleh oknum aparat, dia menyaksikannya sendiri.”

“Aduh, kok seram ya ceritanya … ” Adinda meringis.

“Iya, benar. Kakekku memang dibunuh oleh oknum aparat. Itulah kenapa ayahku menjadi sangat brutal. Uang dari bisnis haramnya lantas dipakai untuk membalas dendam.”

Adam ikut duduk di atas tikar seraya memakan ikan asin yang baru saja diambilnya dari meja makan.

“Suatu saat, Umar. Suatu saat … ” kata Adam sambil mengunyah makanan. “Semua orang di kampung ini akan berubah. Hanya waktunya saja yang masih menjadi misteri. Dendam memang tidak akan bisa selesai dengan cepat, tidak akan bisa.”

“I-iya, Kak. Semoga saja,” Umar tersenyum tipis, lalu meminum teh hangatnya dengan gugup. “Aku ingin generasiku yang menghentikan kejahatan warga Kampung Rimbun. Itulah kenapa aku dan teman-temanku sangat senang begitu kau tiba di sini, kami seolah-olah punya kekuatan untuk memulai kembali kehidupan Kampung Rimbun yang baik.”

“Aku juga senang ada Kak Adam!” seru Adinda menimpali ujaran Umar. “Kalau tak ada dia, nasibku akan berakhir buruk di tangan para preman yang waktu itu hampir memperkosaku.”

Sssh! Dinda, nggak usah diingat-ingat lagi masalah itu,” sergah Fatimah mendiamkan anaknya.

” … maaf, Bu. Terbawa suasana,” Adinda pun tertunduk malu.

Adam tersenyum kecut seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lantas kembali menoleh kepada Umar. “Tidak perlu terburu-buru ingin berubah. Semua ada momennya. Kau hanya perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk mulai berbicara dengan ayahmu soal masa depanmu dan Kampung Rimbun.”

Umar menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Ia setuju, tidak ada hal baik yang bisa didapat dari bersikap tergesa-gesa.

“Aku tidak ingin ikut campur langsung pada masalahmu agar kau menjadi anak yang mandiri, Umar. Begitu pula dengan teman-temanmu. Aku tidak hanya ingin melihat kalian bisa hidup tenang, tetapi juga terlatih untuk mencari solusi. Itu yang penting. Pengalamannya,” ujar Adam. “Sembari kalian mencoba, aku akan tetap melaksanakan tugasku sebagai cendekiawan, tetap ceramah untuk orang-orang kampung.”

“Jika pada akhirnya kami tidak bisa juga, bagaimana?” tanya Umar lagi.

Adam langsung mengusap-usap kepalanya dengan canggung. Ia menarik napas panjang dan menatap kosong ke sudut ruangan.

“Dia akan membantu kalian juga, pada akhirnya,” timpal Fatimah menyela pembicaraan Umar dan Adam. Ia mengatakannya sambil tersenyum lebar. “Adam selalu begitu. Dia kelihatannya ingin membiarkan kalian bersikap mandiri, tetapi sebenarnya dia ingin membantu kalian secara langsung.”

“A-ah, Mamah!” seru Adam. Ia merasa malu. Jati dirinya ketahuan.

Umar pun tersenyum cerah. Kedua matanya lantas membelalak, berbinar-binar. Ia merasa pintu kesempatan terbuka lebar, harapannya berkobar. “Benar begitu, Kak!?”

Adam tak lekas merespon. Ia menatapi Umar sejenak. Sesaat setelahnya, ia pun mengembuskan napas panjang seraya kembali duduk rapi di atas tikarnya.

“Umar,” kata Adam. “Apa yang dikatakan ibuku mungkin benar, tetapi bukan berarti kau bisa menunggu sampai keajaiban itu muncul. Kampung Rimbun adalah masa depanmu dan teman-temanmu, bukan masa depanku. Aku tidak datang dari tempat ini, suatu hari mungkin aku akan berkelana lagi ke tempat lain. Kalau kau terbiasa bergantung kepada orang lain, Kampung Rimbun tidak akan pernah jadi lebih baik. Kau perlu kekuatanmu sendiri jika aku pergi.”

Umar tetap tersenyum cerah, tetapi kali ini diiringi oleh sikap yang lebih dewasa. Apa yang dikatakan Adam adalah kebenaran, ia tidak bisa bergantung kepada Adam untuk selama-lamanya. Ia harus mencoba menyelesaikan permasalahannya sendiri.

“Aku akan membantumu jika kau sudah sangat terpojok,” cetus Adam penuh keyakinan. “Akan tetapi, selama masih banyak peluang untuk mengubah keadaan, kau perlu berusaha untuk mencari jalannya. Aku yakin kau bisa, hanya soal ‘kapan’ yang kita tidak tahu.”

“Intinya, Nak Umar … ” Fatimah menimpali. “Berusahalah dulu sebisa mungkin. Adam akan datang pada waktunya, jika kau memerlukannya.”

Umar langsung mengangguk penuh keyakinan. Senyumannya terlihat lebih tegar. Hatinya telah mantap. Ia tak ingin terus-menerus terseret dalam arus kejahatan ayahnya, apa pun akan ia lakukan untuk mengubah kondisi tersebut.

Berani.

“Kalian ngomongin apa, sih?” sambar Adinda secara tiba-tiba. Ekspresinya dipenuhi oleh kerut-kerut penuh tanya. “Sumpah, aku nggak ngerti sama sekali!”

“Heh, Dinda!” seloroh Adam seraya menepuk paha adik angkatnya. “Nanti aja kamu dengerin lagi kalau kamu udah gede. Pusing, kamu masih kecil!”

“HEI! SEENAKNYA ANGGAP AKU ANAK KECIL!”

Percakapan malam itu pun diakhiri dengan canda-tawa. Umar pun ikut tergelak akibat tingkah polah Adam dan adik angkatnya. Sesungguhnya, Umar sedikit iri dengan kondisi keluarga Adam yang sangat baik, seperti melihat penduduk dari kampung lain.

Sebagian besar penduduk Kampung Rimbun memang telah didoktrin untuk mendendam pada pemerintah. Mereka tidak akan berhenti sampai bisa menumbangkan presiden dan memberitahukan kepada dunia bahwa Indonesia telah berutang banyak darah kepada Kampung Rimbun.

Umar tidak menginginkan itu. Di dalam kepalanya, selalu terpikir untuk membuat Kampung Rimbun diakui tanpa kekerasan. Malam itu, ia melihat secercah harapan.

Harapan dari keluarga kecil di sebuah rumah reyot.

***

01.11

Malam telah menunjukkan jati diri terbaiknya.

Gelap dan sepi beresonansi, bersatu menemani kematian petang.

Namun, tidak sesunyi itu. Seseorang tiba-tiba datang dan menggedor pintu rumah kediaman Fatimah. Amat keras. Tak hanya itu, seorang pria juga terdengar berteriak-teriak dari luar rumah. Gedoran brutal itu sampai membuat pintu rumah yang sudah lapuk hampir patah. Sudah semalam itu, ada saja yang membuat keributan.

Tak pelak, keriuhan membuat seluruh penghuni rumah terbangun. Orang pertama yang terjaga adalah Fatimah dan Adam. Mereka terbelalak menatapi pintu depan yang sudah bergoyang-goyang akibat entakan dari luar. Sambil memegangi punggungnya yang nyeri, Fatimah pun berusaha berjalan mendekati keributan.

Akan tetapi, Adam tak membiarkan ibu angkatnya pergi.

“Mah, diam saja di sini, aku saja yang keluar,” tegas Adam. “Jaga Adinda dan Umar.”

“Aduh, kenapa masalah harus selalu datang di jam-jam seperti ini?” keluh Fatimah seraya meringis memegangi tulang belakangnya.

“Sudah, Mamah balik saja ke belakang. Aku saja yang keluar.”

Tanpa merespon ucapan Adam, Fatimah pun bertolak dari tempatnya berpijak. Langkahnya amat pelan, kakinya yang pincang tidak bisa membuatnya bergerak lebih lincah. Ia segera menghampiri Adinda dan tamu remaja yang menginap di sana.

Begitu ibunya pergi, Adam pun menghampiri pintu depan rumah dan membuka kunci. Akan tetapi, belum sempat Adam membukakan pintu untuk tamu-tamu kasarnya, pintu sudah lebih dulu didobrak. Adam pun terentak dari tempatnya berdiri. Tidak terluka, untungnya.

Tampaklah seorang pria berbadan kekar dan besar berdiri di depan kediaman Fatimah. Pria dengan brewok lebat itu dikawal oleh kelima orang temannya yang juga berpenampilan seram. Kehadirannya begitu intimidatif, seperti sudah siap berkelahi.

“Hei, belatung! Mana anak saya!?” tanya si pria brewok sambil menaikkan kepalanya dengan pongah.

“Ada di dalam, Pak Sapri. Tenanglah,” Adam menjawab santai. Ia tidak tampak terprovokasi oleh kehadiran orang-orang berbadan besar di hadapannya.

Sapri, ternyata. Ayah biologis Umar.

“Tenang, tenang … JANGAN BANYAK LAGAK KAU!” teriak Sapri menggelegar. “Teman-teman saya melihat kau membawa Umar kemari. Maksudnya apa!? Mau menculik anak saya, hah!?”

“Tidak,” Adam tetap tenang, ia malah mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Umar sendiri yang mau menginap di sini. Ia sedang stres. Jadi ia butuh tempat untuk menenangkan pikiran. Biarkan saja, ia sudah dewasa, lagipula kita semua adalah keluarga di Kampung Rimbun.”

“Oh, ya!? STRES!? DIA STRES KARENA DICULIK OLEH ORANG SEPERTIMU!” Sapri maju. Ia lantas menggenggam kerah baju Adam dengan keras. Mengancam. “Jangan kau samakan dirimu dengan keluarga Kampung Rimbun yang lain! Kau cuma pendatang kotor yang kebetulan kami biarkan sementara untuk mengajari anak-anak kami mengaji!”

“Heh,” diancam sedemikian rupa, Adam tak juga merasa ketakutan. Ia malah tertawa sinis. “Lebih baik kau bertanya kepada dirimu sendiri sebelum menyalahkanku: apa yang sudah kau lakukan di rumah sampai membuat Umar stres?”

“Eh, ANJING! MELAWAN, YA!” Sapri pun menarik tinjunya setentang kepala. Tak pikir panjang. Ia sudah siap mendaratkan bogemnya di wajah pemuda yang tampak polos tersebut.

Siap melumat.

“AYAH!”

Tetapi, tidak. Sapri tidak jadi menghantam wajah Adam degan bogem besarnya. Ia langsung berhenti dan membelalakkan matanya ke sumber suara. Ia mengenali suara anaknya sendiri.

“Ayah! Aku yang memutuskan untuk menginap di rumah ini, bukan dipaksa! Kak Adam dan keluarganya hanya menerimaku, menghormatiku sebagai anak Ayah! Jangan kau sebut mereka penculik, aku tak sudi! Aku yang meminta mereka untuk memahami kondisi pikiranku, TIDAK USAH MEMBUAT KERIBUTAN!” papar Umar geram. Ia memuntahkan seluruh keberaniannya yang tersisa.

“Anak anjing … !” Sapri menahan kemarahannya. Ia mengeratkan gigi-giginya. Tak rela dipermalukan di depan orang asing.

“Pak Sapri,” Adam sontak menggenggam pergelangan tangan Sapri. “Dengan segala hormat, mohon jangan pakai kekerasan. Ini hanya masalah komunikasi, jadi sebaiknya selesaikan secara kekeluargaan. Saya dan keluarga sudah berbicara dengan Umar. Dia hanya sedang tertekan, jangan ditambah bebannya. Jika Anda merupakan ayah yang baik, berbicaralah baik-baik dengannya.”

” … ” Sapri kehilangan kata-kata. Para pengawalnya juga tak berbuat apa pun selain saling tatap. Ia merasa kalah, padahal membawa kekuatan yang lebih besar.

Fatimah dan Adinda juga terlihat beberapa meter di belakang tubuh Adam, mereka hanya bisa mengamati debat yang sedang terjadi di depan rumah.

Tch! Terserahlah!” Sapri melepaskan genggaman dari kerah baju Adam dengan kasar. “Umar, kau kulahirkan agar menjadi orang besar dan kuat, bukan cengeng seperti ini! Kalau kau mau berbicara denganku, pulang sekarang! Aku akan memberikanmu waktu untuk berbicara!”

Tak ada tanggapan. Umar sekadar tertunduk, pijakan kakinya meragu. Adam sendiri tetap berdiri di depan pintu seraya menatapi Sapri dan Umar secara bergantian.

“UMAR!”

Kali ini, gelegar teriakan Sapri sampai membuat seluruh penghuni rumah terperanjat, kecuali Adam. Pemuda penceramah itu tak gentar menatapi kedua mata Sapri begitu dalam.

“Tidak usah berteriak, Pak Sapri,” sergah Adam. “Ini rumahku. Santai saja. Biarkan ia mengumpulkan keberanian terlebih dahulu.”

“BACOT! MAU KAU APA, SIH!?” tantang Sapri geram. Ia memandangi Adam dengan tajam.

“Hei, hei! Jangan berkelahi di sini!” Umar pun buru-buru berlari menghampiri ayah dan kakak penceramahnya. Ia langsung pasang badan, berdiri di antara Adam dan Sapri. “Sudahlah! Ayo, kita pulang, Yah! Tidak usah mencari keributan! Aku sudah cukup pusing. Kalau kau memang mau memberikanku waktu untuk berbicara, ayo kita bicara.”

Sapri menggertakkan gigi-giginya seraya mengembuskan napas panjang. Kegusarannya telah mencapai klimaks. Ia hampir saja berkelahi dengan pemuda yang berbadan lebih kecil darinya. Lantas, ia pun bertolak, tak menjawab ujaran putranya.

Umar merasa bersalah pada penghuni rumah. Ia pun menoleh ke arah Adam dengan kerut-kerut penuh kekecewaan. Batinnya terbebani oleh sikap kasar yang dibawa oleh ayahnya. “Kak Adam, aku minta maaf–”

“Umar, kau tidak salah. Tidak perlu meminta maaf,” sela Adam memotong ucapan Umar. “Ini adalah kesempatanmu untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kau inginkan dari ayahmu. Ia sudah memberimu waktu untuk berbicara. Bicaralah baik-baik.”

Umar tersenyum tipis seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan. Ia lantas menatapi Fatimah dan Adinda sejenak dengan senyuman yang lebih lebar, lalu menundukkan kepala sebagai tanda salam. Tanpa ucap dan jawab, kakinya langsung melangkah keluar mengikuti jejak ayahnya. Umar seakan telah siap untuk menghadapi ‘medan perang’ yang sesungguhnya.

Adam tak menahan kepergian muridnya.

Ayah yang tempramental itu berjalan tanpa mendampingi putranya. Justru kelima pengawal yang menemani Umar berjalan. Mereka seperti menjaga seorang buronan berbahaya, Umar tidak diperlakukan layaknya keluarga.

Di saat itulah Fatimah berjalan mendekati tempat Adam berdiri. Ia terlihat cemas. Ekspresinya seakan menyiratkan bahwa ia tak setuju membiarkan Umar diambil paksa. “Adam, kau seharusnya berbuat sesuatu. Ayahnya sudah ada di depan wajahmu dan menantangmu terang-terangan. Seharusnya kau melakukan sesuatu seperti saat menyelamatkan Adinda!”

“Tidak perlu, Mah. Aku yakin Umar akan menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya sendiri. Ia sudah diberikan kesempatan untuk berbicara–”

“Dan kau percaya pada gembong narkoba sepertinya? Kau terlalu naif, Nak!” omel Fatimah memotong ujaran anak angkatnya. “Meskipun aku tidak kenal dekat dengannya, tetapi aku tahu apa yang dilakukan Sapri sehari-hari. Dalam keadaan marah seperti tadi, ia bisa melakukan hal-hal yang tak terduga. Kau naif melepaskan Umar begitu saja.”

” … ” Adam terdiam. Ia hanya bisa mendengarkan kata-kata ibu angkatnya seraya memasukkan tangan ke dalam saku celana.

“Aku menghuni Kampung Rimbun sedari lahir, Adam … ” ujar Fatimah seraya membalikkan badan. Ia hendak kembali ke kamarnya. “Percayalah, Umar akan membutuhkan bantuanmu. Kau salah besar telah percaya bahwa ia akan bisa mencari jalan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.”

“Tetapi dia memang harus bisa mencarinya sendiri, kau juga yang mengajarkanku dan Adinda untuk selalu mandiri.”

“Iya, kalau ada waktu dan kesempatan untuk berpikir, kan?” tanya Fatimah lagi, masih agak mengomel. “Apakah Umar terlihat seperti punya waktu dan kesempatan saat dibawa oleh ayahnya tadi? Ia bahkan belum menemukan solusi yang pas untuk menyelesaikan masalahnya, Adam!”

Adam tak merespon. Ia sekadar tertunduk dan menarik napasnya dalam-dalam. Tak ada keputusan apa pun setelahnya, Adam tetap berdiri di depan pintu, ditiup semilir angin malam. Benaknya meronta, mengais-ngais jawaban yang terserak di lautan kebingungan.

Fatimah juga terlihat tak peduli. Wanita yang sudah sakit-sakitan itu langsung berjalan ke belakang dan mengajak Adinda untuk kembali tidur. Sesekali juga terbatuk untuk melegakan tenggorokan dan dadanya yang beriak.

Malam itu, Adam tenggelam dalam renungan.

Dilema.

***

Pagi berikutnya
08.42

Pagi telah menjelang. Warga Kampung Rimbun kembali pada rutinitasnya masing-masing. Ada yang kembali bekerja, ada pula yang kembali merencanakan pemberontakan. Seperti biasa, tidak ada yang ganjil.

Tidak bagi Adam. Semalaman, Adam hampir tidak tidur akibat memikirkan nasib Umar. Akan tetapi, sampai menjelang fajar, ia tidak melakukan apa pun selain tercenung di kamarnya. Ia masih percaya bahwa Umar akan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik. Antara percaya atau naif.

Fatimah tidak memiliki keyakinan yang sama dengan Adam. Pagi itu, ia merasa jengkel menatapi Adam masih ada di rumah. Itu artinya Adam memang tidak ke mana-mana semalam lalu. Sampai Adam keluar rumah, ia tidak berujar apa pun, sekadar menyediakan kebutuhan harian Adam. Memang, sampai saat itu belum ada kabar-kabar buruk yang beredar, tetapi Fatimah tetap merasa waswas.

Adam tetap yakin bahwa keputusannya tidak salah. Ia pun berangkat bekerja paruh waktu tanpa merasa berdosa. Kebetulan ia mendapatkan shift pagi untuk membantu menjaga warnet.

Keyakinan Adam benar, tampaknya.

“Kak Adam!” sejumlah anak remaja yang ikut mendengarkan ceramah Adam di masjid siang kemarin tiba-tiba datang dari kejauhan. Mereka menghampiri Adam dengan antusias.

“Oh, halo, teman-teman. Kalian tidak sekolah?” tanya Adam sumringah.

“Kak Adam! KENAPA!?”

Ada yang aneh. Salah satu dari gerombolan anak-anak itu tiba-tiba saja menarik baju Adam dengan gusar. Seperti protes. Padahal, sebelumnya tampak riang gembira.

“Tono kenapa? Kok marah-marah?” sambil agak membungkukkan badannya, Adam bertanya kepada remaja berkulit keling di hadapannya. “Kamu dikerjai lagi?”

“Bukan, BUKAN ITU!” anak yang bernama Tono itu tiba-tiba tertunduk seraya tetap menarik-narik kaos milik Adam. Tak lama, tangisnya pun pecah. Ia mengharu biru, terisak seperti baru saja mendapatkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Sejurus kemudian, anak-anak remaja yang lain ikut menangis. Mereka tak kuasa menahan kepiluan yang sedari tadi tertahan. Di hadapan seorang pemuda berusia 22 tahun, mereka menangis beramai-ramai.

Ada apa!?

Adam tak sanggup merangkai jawab, jiwanya tersesat. Dahinya menggulung-gulung, setumpuk tanya menghantui benaknya. Barusan ia melihat anak-anak itu datang padanya dengan ekspresi yang cerah, tetapi tiba-tiba saja segalanya berubah drastis. Apakah senyuman anak-anak itu hanya imajinasi?

Keyakinan Adam benar … atau tidak?

Sambil terus menangis, anak SMP yang bernama Tono itu bergegas menarik baju dan tubuh Adam ke sebuah tempat. Anak-anak lain mendukung upaya Tono, mereka juga menyentak tubuh Adam.

Adam tidak menolak. Ia juga penasaran. Anak-anak itu sedang berusaha menunjukkannya sesuatu, ia pun mengikuti petunjuk. Sepanjang perjalanan, ia bahkan sama sekali tidak berkomentar atau mendebat anak-anak yang mengajaknya. Yang ia pahami adalah suasana yang terlihat semakin ramai.

Terlalu ramai.

Akhirnya, tibalah Adam di lokasi yang ditunjukkan oleh para remaja masjid. Tepatnya di pinggir kali. Tangis anak-anak itu pun semakin menggila. Beberapa dari mereka bahkan memukul-mukul tubuh Adam dengan keras, seolah menyalahkan Adam.

Naif.

Adam terlalu naif, benar kata Fatimah.

Di hadapan sang penceramah muda, tampak seorang remaja laki-laki yang sudah sangat ia kenal. Umar. Sang remaja tergeletak tak berdaya di antara tumpukan sampah pada kondisi tanpa busana. Tubuhnya penuh lebam dan darah, bahkan ada sejumlah lubang berwarna kehitaman di daerah perut dan kaki, seperti ditusuk benda panas. Kepalanya juga retak, otaknya berhamburan. Nahas.

Seketika, Adam terdiam mematung. Kedua matanya membelalak. Umar, salah satu junior terbaiknya, mati dalam keadaan mengenaskan di depan matanya. Mayatnya masih terlihat cukup segar, mungkin baru saja dibunuh beberapa jam lalu. Adam begitu syok, seluruh ruas tubuhnya sama sekali tak mampu bereaksi.

NAIF!

Meledaklah jiwanya. Tak ada yang bisa Adam lakukan saat itu selain menyalahkan dirinya sendiri. Napasnya menjadi tak beraturan. Ekspresinya berhias dosa. Ia semestinya mendengarkan kata-kata ibu angkatnya. Akan tetapi, ia terlalu optimis Umar akan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Adam dan orang sekampung sudah tahu peringai Sapri, tetapi ia justru menunggu keajaiban. Ironis.

Pemuda penceramah itu pun bertolak dari tempatnya berpijak. Ia menembus kerumunan massa secara tergesa-gesa, bahkan tak lagi memedulikan anak-anak yang menangis tersedu-sedu. Adam menjambak-jambak rambutnya sendiri. Giginya sampai mengerat keras. Emosinya bergejolak, tak terkendali.

“Anjing … ” sorot mata Adam kosong, menerawang ke segala arah. Ia lantas berjalan mendekati tembok, bersandar untuk mengendalikan guncangan batinnya. “Anjing!”

Sekali saja ludah ditelan.

Adam tiba-tiba saja mengangkat kepalan tangannya. Ia melepaskan emosi yang tertahan dalam dadanya. Tinju meluncur deras, siap menghantam dinding yang ada di hadapannya. Kecepatannya tak terinderakan mata, kekuatannya tak terukur logika.

Terlalu kuat.

BRAAAAAK!

Pemuda yang sehari-hari duduk manis menjadi penceramah muda di masjid itu berubah bengis. Pukulannya sama sekali tak terduga. Dinding rumah yang ia tinju pun hancur menjadi serpihan, meninggalkan lubang yang besar. Warga yang menyaksikan langsung terkesiap, tak ada yang berani bergerak.

Tanpa ucap, tanpa jawab, Adam pun berjalan pergi meninggalkan tempatnya. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, entah ke mana. Seketika, Adam kembali menjadi pembicaraan warga Kampung Rimbun. Sampai detik itu, tak ada satu pun dari warga yang tahu kalau pemuda berusia 22 tahun itu bisa merontokkan dinding hanya dengan tinjunya.

Siapa Adam?

Yang jelas, beban Umar telah berpindah.

Batin Adam tercabik.

***

23.43

Toko Las Mahmudin. Itu adalah salah satu toko las paling favorit di Kampung Rimbun. Mereka biasa menerima orderan perbaikan pagar atau kusen rumah warga. Toko itu dibangun oleh warga yang bernama Mahmudin, tetapi saat ini dikelola oleh seorang preman brewok bernama Sapri. Mahmudin sendiri berada di luar kota.

Malam itu, seperti biasanya, para pegawai menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang. Ada enam orang pegawai, termasuk Sapri, yang berkumpul di tempat pengerjaan las. Mereka berbagi canda-tawa, seolah lupa bahwa pagi ini baru saja terjadi kejadian yang mencengangkan warga Kampung Rimbun.

Seorang remaja baru saja tewas mengenaskan.

Ada yang perlu mengingatkan Sapri dan kawanannya. Tidak semestinya suasana berduka itu diselimuti oleh tawa dan canda. Tidak senonoh.

Benar saja.

Seorang pemuda yang sudah sangat dikenal oleh warga kampung tiba-tiba saja masuk ke tempat Sapri dan teman-temannya berbagi gelak tawa. Ia adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang ditemui oleh Sapri semalam lalu. Adam. Ia masuk begitu saja, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa takut, lalu meletakkan dua jerigen besar di sudut ruangan.

Terang saja, Sapri dan kawanannya terkejut. Mereka tak sadar akan kedatangan Adam yang begitu mendadak. Sontak, sikap mereka menegang.

“HEI! NGAPAIN KAMU–”

“Akhirnya sampai juga. Saya titip jerigennya di sini, ya.”

Seolah tak peduli pada seruan pria-pria di hadapannya, Adam memotong pembicaraan dengan sumringah. Ia benar-benar tak sedikit pun merasa gentar.

Tanpa pikir panjang, salah seorang rekan Sapri bergegas mendekati Adam. Langkahnya tegas, seolah mewakili kegusaran atasannya. Badan kekar dan tegapnya memancarkan aura yang mengerikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Mungkin hanya tampilannya saja.

Belum sempat berbuat sesuatu, sang pria pemberani terentak keras di tempatnya berdiri. Ia langsung berhenti melangkah. Sesuatu menyodok tenggorokannya dengan keras. Batang leher dan biji jakunnya seolah remuk dalam sekejap mata.

Tak ada yang menyangka, Adam sudah mendaratkan ujung jari-jemarinya tepat di leher sang pria. Sangat cepat, tak ada yang mampu menerawang gerakannya dengan jelas. Ia menggunakan jari-jarinya menjadi tombak yang mematikan.

“OHOKKKKKK!”

Sejurus setelahnya, pria yang mendatangi Adam batuk darah. Deras. Kegilaan itu sontak membuat para pegawai las yang lain heboh, ketakutan. Pria berbadan kekar itu lantas terjatuh melutut, tepat di hadapan seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya. Kesadarannya sendiri telah mengawang ke segala tempat.

Tanpa keraguan, Adam menopang kepala sang pria. Ia lantas menatapi lima pegawai yang tersisa di ruangan las tersebut, termasuk Sapri. Senyum kecut menghiasi wajahnya, mempermalukan para pria berbadan kekar di ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian, ia menyentak kepala pria di hadapannya dengan kedua tangannya.

Bunyi gemertak keras memecah sepi. Leher sang pria patah. Urat nadinya putus. Tewas.

Sejenak itu, seluruh pegawai las yang tersisa hanya bisa membelalak tak percaya. Teman mereka yang berbadan lebih besar mati dengan cara yang mengerikan.

“Tai … ” bisik Sapri syok.

“Baru satu orang. Sini, lima lagi saya habisi,” ujar Adam sembari berjalan santai mendekati para pria yang tersisa.

“ANJIIIIIING!”

Kemarahan memuncak. Lima pegawai las yang tersisa segera menyerang Adam secara bersamaan. Mereka mengeroyok pemuda berusia 22 tahun dengan beringas, tak tahu malu. Ruangan pun menjadi riuh oleh suara teriakan.

Akan tetapi, pengeroyokan itu seolah menjadi bumerang. Adam mengantisipasi kelima penyerang dengan mudah. Tangan, kaki, dan tubuhnya bergerak lincah untuk menahan dan menghindari seluruh serangan yang datang. Ia juga sesekali mendaratkan pukulan dan tendangan untuk menciptakan jarak.

Perkelahian alot terjadi. Pertukaran serangan menjadi tak terhindarkan. Namun, perkelahian itu tetap berat sebelah.

Jarak kembali tercipta.

Lima pegawai las yang berbadan lebih besar itu seperti tak sanggup menyentuh Adam. Mereka sudah memukul dan menendang sekuat tenaga, tetapi tak ada hasil yang memuaskan. Napas mereka terengah-engah, wajah mereka lebam. Tak ada satu pun yang menduga pemuda 22 tahun di hadapan mereka punya energi yang sebesar itu.

“Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian jawara?” tanya Adam menyeringai. “Sudah selesai bermain-main, belum?”

“BABIII!” Sapri sampai pada puncak amarahnya. Suaranya menggelegar, sama seperti pada malam ia menggedor rumah Adam. “KAU BAKAL MATI DI SINI! KUPECAHKAN KEPALA KAU ITU!”

“Maju sini,” Adam tak terprovokasi. Ia justru memprovokasi. “Saya tunjukkan cara memecahkan kepala yang benar.”

Tak menunggu lebih lama, kelima pegawai las kembali merangsek maju dan mengeroyok Adam. Pertarungan sengit kembali terjadi. Akan tetapi, kali ini Adam tidak hanya mengantisipasi, tetapi juga bertindak balik.

Pembantaian.

Adam menghajar pria pertama dengan pukulan cepat ke seluruh titik vital. Tinju tertutup, tinju terbuka, semuanya meluncur hampir bersamaan, tak terantisipasi. Begitu lawannya terhuyung, Adam segera menyentak kerah baju sang pria sekuat yang ia bisa.

Kepala sang pria langsung mendarat di atas meja.

BRAAAAAK!

Pria pertama langsung tersungkur tak berdaya begitu kepalanya berhasil menghantam dan mematahkan meja kayu di sampingnya menjadi serpihan. Kesadarannya lenyap dalam sekejap. Mungkin mati, mungkin pingsan. Yang jelas, kepalanya bocor.

Adam segera beralih kepada pria kedua. Ia menangkis pukulan sang pria, lalu meninju tulang rusuk sang pria hingga patah. Belum sempat lawannya menjerit pilu, Adam lekas-lekas meraih tengkuk sang pria dan mendorongnya sekeras mungkin ke kaca yang berada di sampingnya.

PRAAAAAK!

Lagi, Adam membuat kepala lawannya retak dan terkoyak. Ia mengempaskan kepala pria kedua ke sebuah dinding kaca sampai pecah berkeping-keping, padahal itu bukan dinding yang tipis. Pria kedua pun tersungkur luruh di atas tanah dengan kepala bercucuran darah.

Pria ketiga dan keempat tak gentar. Serangan beruntun pun mereka gencarkan secara bersamaan. Keduanya menyerang Adam seperti tanpa ampun. Tanpa rem.

Sayang seribu sayang, serangan kedua pria hanya upaya untuk menghabiskan tenaga. Adam dapat mengantisipasi serangan keduanya seperti hampir tanpa kesulitan.

Lantas, Adam mengambil palu yang tergeletak di atas meja. Sejurus kemudian, ia melihat celah. Palu pun ia ayunkan dengan keras, sembari ia tetap menghindari pukulan. Masuk. Serangannya menghantam keras ke kening pria ketiga. Langsung membuat tengkorak sang pria mencekung ke dalam. Retak dan patah.

Pria ketiga tersungkur dramatis di atas ubin. Mata dan hidungnya sontak mencuratkan darah segar. Sekarat.

Panik, pria keempat langsung meluncurkan pukulan acak dengan cepat. Terlalu acak, sayangnya. Adam mampu menghindari dan menepis semua serangannya dengan mudah. Ia hanya membuang-buang tenaga tanpa hasil.

Celah pertahanan pun terbuka lebar. Adam segera merunduk, lantas menghajar rusuk pria keempat dengan entakan palunya. Tubuh sang pria langsung meliuk tajam, menahan rasa sakit yang seketika merajang hampir di sekujur torsonya.

Lekas-lekas Adam menarik kepala sang pria dan membenturkannya di atas meja. Suara tumbukannya lantang, sampai menggema ke seluruh sudut ruangan. Kepala si pria keempat pun terkunci, tak bisa bergerak. Tanpa keragu-raguan, Adam segera mengangkat palunya setinggi kepala, lalu mengayunkannya ke telinga sang pria.

Terhantam.

Serangan Adam tak terantisipasi. Gendang telinga pria keempat pecah dalam sekejap mata. Tak hanya itu, tengkorak sang pria pun retak dihantam palu yang berat tersebut. Bawahan terakhir Sapri itu pun tersungkur luruh, telinga dan matanya sampai mengucurkan cairan merah pekat.

Tinggal satu lawan lagi.

Adam menatapi musuh terakhirnya; pria yang ia pikir paling perkasa. Sapri. Akan tetapi, Sapri tampak gemetar dan berkeringat ketakutan. Tak pelak, Adam pun menggodanya dengan sebuah senyuman sinis.

demon of Kampung Rimbun

“Ini dia … orang yang semalam lalu tampak seperti jagoan,” ujar Adam. Ia menghapus senyum seraya membuang palunya. “Ke mana lagak hebatmu yang semalam itu? Hilang ditelan badai?”

“Nggak usah banyak bacot kau!” Sapri tersengal-sengal. Tak hanya kelelahan, tetapi moralnya pun runtuh. “KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGURUSI SOAL RUMAH TANGGAKU!”

Sapri pun merangsek maju seraya mengayun-ayunkan bogem besarnya kepada Adam. Ia pikir kecepatan serangannya sudah memadai, tetapi Adam justru terlihat mudah menghindarinya.

“Tidak punya hak?” tanya Adam seraya meninju batang hidung Sapri, dua kali. “Apakah itu berarti kau punya hak untuk membunuh anakmu sendiri dan membuangnya seperti binatang jalang!? Karena dia anakmu, jadi kau berhak melakukan apa pun kepadanya!? BAHKAN DENGAN MENYIKSA DAN MEMBUNUHNYA!?”

“DIAM!”

Sapri putus asa. Ia pun mengayunkan tinjunya sembarangan. Namun, tak ada dampak yang signifikan selain melukai angin. Hidungnya sudah berdarah, padahal baru terkena dua pukulan.

Adam segera memblokir pukulan Sapri, lalu memelintirnya dengan keras. Cepat dan kuat. Sapri sendiri tak bisa berbuat banyak, preman berbadan besar itu hanya bisa mengikuti momentum. Lantas, Adam mengakhiri kunciannya dengan mengentakkan pukulan ke sendi sikut Sapri. Sekuat tenaga.

Patah.

Bunyi retakan yang amat keras itu menjadi tanda bahwa sendi siku Sapri tidak hanya mengalami dislokasi, tetapi juga patah tulang. Parah. Sapri pun menjerit sekeras yang ia bisa, suaranya yang menggegelar berhasil menggemparkan malam.

Adam seolah tak peduli, ia langsung menghujani Sapri dengan serangan-serangan yang tak terinderakan mata awam. Sangat cepat. Perpindahan dari tinju ke tendangan maupun sebaliknya terjadi dalam waktu yang amat singkat. Semuanya masuk ke titik-titik vital.

Sapri babak belur. Wajahnya menjadi penuh lebam dan darah. Kesadarannya berangsur-angsur hilang.

“JAWAB, SETAN! JAWAB!” Adam terus-menerus meneriaki Sapri yang sudah setengah sadar. Sembari menunggu jawaban, ia tetap menghajar si pria brewok bertubi-tubi. “JAWAAAAB! APA HAKMU! APA HAKMUUUU!?”

Tak ada tanggapan. Sapri sudah tak kuasa menjawab pertanyaan-pertanyaan Adam. Matanya hanya bisa menyorot warna hitam dan putih secara bergantian, hampir beranjak dari kenyataan.

Lantas, Adam mengakhiri serbuannya. Ia menendang sisi lutut Sapri hingga remuk, dilanjutkan dengan menyikut batang tenggorokan Sapri, ditutup dengan meluncurkan tinju superkeras ke rusuk Sapri. Semuanya terjadi hampir secara bersamaan. Secepat kilat. Sapri bahkan tak sempat untuk menjerit, padahal sangat kesakitan.

Tubuh Sapri dibuat hancur sehancur-hancurnya.

Adam pun menendang tubuh Sapri kuat-kuat, kakinya menyodok dada Sapri dengan keras. Pria brewok itu pun terpental dari tempatnya berpijak, mengawang-awang di udara, sebelum akhirnya menabrak dinding hingga retak menjadi serpihan. Ribut tak terkira.

Sapri berakhir di sudut ruangan, sekarat. Pria itu kini terduduk luruh dengan darah menetes dari hidung dan mulutnya.

Perseteruan pun usai. Adam lantas mengembuskan napas panjang seraya menatapi korban-korbannya. Kepalan tangan ia lemaskan, membiarkan buku-buku jarinya yang lecet beristirahat. Ia pun berjalan mendekati musuh terakhirnya.

Auranya menggeram.

“Kau tahu apa yang kukatakan kepada anakmu sepanjang ia mengaji denganku, Sapri?” Adam bertanya pada pria brewok yang telah sekarat di hadapannya.

” … ” tak ada jawab. Sapri hanya bisa bergerak luruh seraya melenguh pelan. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya bahkan tak bisa lagi mendorongnya untuk menjerit.

“Kukatakan kepadanya, jika kita mau mengubah suatu keadaan, maka kita harus berbuat sesuatu,” jelas Adam. “Tampaknya ia menyukai konsep itu, ia tidak suka menyerah pada takdir dan keajaiban. Sampai pada akhirnya, ia pun terdorong untuk mengubah kondisi Kampung Rimbun menjadi lebih baik.”

Sapri masih tak bisa merespon. Tenggorokannya remuk.

“Sebenarnya, cita-cita Umar sama sepertimu dan teman-temanmu: ia ingin mengubah persepsi dunia tentang Kampung Rimbun. Ia ingin pandangan orang lain berubah tentang Kampung Rimbun. Sama persis seperti cita-citamu.”

Adam menghampiri Sapri dengan tergesa-gesa. Ia lantas menginjak lutut Sapri yang dislokasi. Tak tanggung-tanggung, seperti menginjak cecunguk. Siksaan Adam membuat Sapri kembali pada puncak kesadarannya, tetapi tak lagi sanggup menjerit.

“Permasalahannya adalah caramu dan caranya sama sekali berbeda,” ujar Adam bengis. “Aku mengapresiasi keteguhan hati kalian untuk mengubah persepsi buruk masyarakat tentang Kampung Rimbun. Secara prinsip, kalian memang perlu memperjuangkan itu, TETAPI IRONISNYA KALIAN MELAKUKANNYA DENGAN CARA YANG SALAH!”

Adam berteriak sampai menyemburkan air liurnya di wajah Sapri.

Sapri tak bisa menjerit. Ia hanya sanggup menganga, menahan sakit, seraya memuntahkan darah dari tenggorokannya berulang kali.

“Kalau kau ingin mengubah keadaan di sini, lakukan dengan benar! Bukan dengan cara membunuh orang-orang yang tak ada urusannya dengan masa lalumu! Bukan dengan cara bekerjasama dengan mafia! BUKAN PULA DENGAN CARA MEMBUNUH ANAKMU SENDIRI, OTAK UDANG!” seru Adam seraya menampar wajah Sapri dengan keras.

Adam melepaskan pijakannya. Ia pun berjalan menjauhi lokasi Sapri tergeletak, tepatnya ke tempat di mana ia menyimpan jerigen sebelumnya.

“Negara ini semakin antipati dengan Kampung Rimbun akibat ulah orang-orang seperti kalian; orang-orang tolol yang tidak tahu ke mana harus menyalurkan dendam!” Adam mengangkat salah satu jerigennya dan membuka tutupnya. “Aku tidak bilang kalian harus move on dari dendam masa lalu. Kalau kalian ingin balas dendam, paling tidak lakukanlah ke orang yang tepat!”

Pemuda penceramah itu menumpahkan seluruh isi jerigennya ke segala tempat, juga ke tubuh para korbannya. Bau bensin. Ia tak lagi bertindak sebagai penceramah malam itu, tetapi sebagai iblis. Dari kejauhan, Sapri hanya bisa menatapi sosok sang pemuda dengan tatapan sayu, penuh rasa takut.

Isi jerigen pertama telah habis, Adam segera mengangkat jerigen yang kedua dan mendekatkan jerigen itu kepada Sapri. Ia membuka tutupnya dengan tergesa-gesa.

“Aku selalu berharap warga Kampung Rimbun punya tekad dan keberanian untuk mengubah keadaan dengan cara yang lebih baik, tetapi tampaknya aku terlalu naif. Benar kata ibuku, aku naif,” ujar Adam.

Sapri bernapas lebih intens. Gecar menyelimuti jiwa dan raganya. Gemetar seluruh ruas tubuhnya. Ia pun mengangkat tangannya dan mulai menarik-narik celana Adam dengan luruh. Ia sedang memohon. Mengiba.

“Sepertinya memang benar. Kalau mau mengubah suatu keadaan, kita tidak bisa menunggu keajaiban,” imbuh Adam.

Pemuda yang menumbangkan enam pria berbadan kekar itu lantas membungkukkan tubuhnya sejenak. Ia menatapi Sapri dari jarak yang amat dekat. Dirinya bahkan bisa menyaksikan airmata membasahi kedua pipi Sapri.

“Aku baru sadar, Sapri … ” Adam tersenyum kecut. “Selama ini aku menceramahi anakmu, tetapi aku gagal menceramahi diriku sendiri soal mengubah keadaan. Jadi, malam ini, aku akan tunjukkan apa itu perubahan.”

Puas memuntahkan segala amarah, Adam pun menyiram sekujur tubuh Sapri dengan bensin yang ada di tangannya. Seluruh isi jerigen ia persembahkan secara istimewa hanya untuk Sapri. Ia membiarkan Sapri menggelinjang ketakutan, kesakitan, tak ada sedikit pun rasa kasihan pada pria brewok tersebut.

Setelah Sapri basah kuyup oleh bensin dan tersungkur luruh, Adam pun berjalan mundur beberapa langkah ke belakang. Ia tak langsung meninggalkan lokasi. Adam tersenyum picik, menertawai tangisan Sapri, dan merayakan kondisi lumpuh yang dialami oleh musuhnya. Tak lama, memang. Sejurus kemudian, ia bertolak dari tempatnya berdiri, bergegas meninggalkan toko las tersebut.

Sebelum Adam melangkahkan kakinya keluar dari toko, ia tiba-tiba berhenti dan tertawa licik. Terdengar jahat. Dari kantong jaketnya, ia mengeluarkan sekotak korek api dan menyalakan salah satu korek dengan pemantiknya.

Di saat itu, Sapri semakin intens untuk meminta pertolongan. Ia bahkan sanggup merayap walau hanya beberapa kaki dari tempatnya tergeletak. Tangannya membentang ke depan, menjadi isyarat menyerah. Ia tak ingin mati.

Adam tak peduli, ia lempar korek apinya ke atas genangan bensin.

Api pun berkobar.

Melalap, menjilat segala.

Tersisa jeritan dari dalam toko.

***

Keesokan paginya
08.11

Komar, namanya. Ia adalah salah satu dari segelintir warga Kampung Rimbun yang punya pekerjaan tetap di wilayah Jakarta. Akan tetapi, pagi itu ia harus tertahan di komplek rumahnya, memerhatikan kejadian ganjil yang terjadi di pinggir kali Kampung Rimbun.

Pria berkumis dan berkepala botak itu menengadah, menatapi enam jasad manusia gosong menggelantung di bawah pohon. Mati akibat terbakar, tampaknya. Warnanya sampai hitam pekat. Keenam mayat itu dijerat di bagian leher, seperti digantung di era perbudakan.

Tak hanya Komar, sejumlah warga Kampung Rimbun pun berkerumun menatapi kematian tak wajar enam manusia malang tersebut. Riuh. Keributannya jauh melampaui respon terhadap kematian Umar.

Di antara kerumunan itu, Komar berdiri paling depan. Pria polos itu masih terkesiap memandangi mayat-mayat di hadapannya.

Namun, sesuatu sontak terjadi. Sebuah ponsel berbunyi tepat di bawah sekumpulan mayat gosong tersebut. Hal itu membuat Komar terperanjat, tubuhnya sampai tersentak kaget mendengar suara panggilan telepon yang begitu kencang.

Mendengar telepon tersebut, para warga semakin ribut. Mereka berdebat tentang siapa yang harus menjawab panggilan misterius tersebut. Walau demikian, Komar tak ikut dalam perdebatan. Dengan polosnya ia malah mendekati ponsel yang tergeletak di bawah pohon dan mengangkat panggilan. Keberaniannya langsung mengundang komentar dari semua warga yang berkerumun.

“H-halo?” Komar benar-benar tak kenal takut. Lebih tepatnya, ia tidak tahu apa yang harus ditakuti.

Pak Kumis, bisakah kau membantuku?” tanya seorang pria di balik telepon tersebut. “Nyalakan loudspeaker agar semua orang bisa mendengarkan isi percakapan kita.

“E-eh? B-bagaimana kau tahu–”

Lakukan saja. Tidak penting bagaimana aku bisa tahu kenapa kau berkumis.

Komar menelan ludah. Tangannya mulai gemetar. Ia pun menyalakan pengeras suara pada ponsel yang ia pegang, lalu menyodorkan ponsel ke arah warga.

Warga Kampung Rimbun yang saya hormati, dengarkan saya baik-baik kalau kalian tidak mau berakhir seperti enam bajingan yang saya bakar dan gantung di sini!

Seketika, keributan pun lenyap. Para warga langsung menatapi Komar. Terenyak. Bulu roma mereka tiba-tiba berdiri.

Dengarkan saya, kecoak-kecoak tengil! Enam orang ini adalah Sapri dan teman-temannya. Kalian sudah mengenalnya dengan baik. Ia adalah pengelola Toko Las Mahmudin, gembong narkoba, dan salah satu pembunuh polisi paling banyak di Kampung Rimbun. Kalian sudah tahu Sapri, aku tidak perlu mengingatkan kalian betapa berbahayanya orang ini,” jelas si penelepon. “Akan tetapi, ia mati hari ini. Tulangnya patah, tenggorokannya hancur, kepalanya pecah, dan badannya dibakar. Silakan turunkan dia kalau kalian tidak percaya dan lihat sendiri. Pertanyaannya adalah … kalian tahu kenapa?

Warga saling tatap. Mereka menelan ludah dalam-dalam. Beberapa dari mereka bahkan memisahkan diri. Ketakutan setengah mati.

Itu karena saya ingin memberi pelajaran kepada warga yang lain agar menahan diri menjadi bajingan seperti Sapri!” seru sang penelepon. “Saya tahu kalian semua ingin mengubah persepsi orang lain tentang Kampung Rimbun, tetapi kalian tidak harus terjebak pada kisah-kisah masa lalu dan melampiaskan kemarahan kalian kepada orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan sejarah kelam tempat ini! KALAU KALIAN MAU MENGUBAH SESUATU, LAKUKAN DENGAN CARA YANG BENAR, GEROMBOLAN KECOAK!

Hening. Sebagian warga langsung tertunduk gemetar. Mereka masih bertahan di tempat yang sama untuk memuaskan rasa penasaran terhadap misteri kematian enam jenazah yang menggelantung di bawah pohon.

Sapri telah membunuh anaknya sendiri. Mayat Umar yang kalian temukan di pinggir kali kemarin adalah hasil perbuatan Sapri dan teman-temannya. Sapri hanya merasa tidak sudi kalau Umar punya jalan yang berbeda dengannya, jadi ia bunuh anaknya sendiri. BISAKAH KALIAN BAYANGKAN BETAPA GILANYA PERBUATAN SAPRI, HAH!?

Jadi, agar tidak ada lagi Umar-Umar berikutnya yang mati sia-sia, saya ingin memberi pelajaran tambahan agar kalian berhenti jadi orang tolol. Pak Kumis, bisa tolong bantu saya sekali lagi?

Komar, pria berkumis yang memegangi ponsel misterius, kembali tersentak kaget. Badannya gemetar, dari ujung kepala sampai ujung kaki. “I-iya, Pak? B-bagaimana?”

Kau lihat tombol hijau pada ponsel ini? Tekan itu.

“H-hijau?” Komar gelagapan. Ia menatapi tombol-tombol pada ponsel misteriusnya. Benar, ada tombol hijau. “Y-ya, saya lihat, dekat tanda bintang. Saya tekan sekarang?”

Ya, tekan sekarang. Beri pemandangan yang indah pada warga.

Komar menelan ludah. Ia tak memberikan tanggapan, tetapi menuruti seluruh ucapan si penelepon misterius. Tombol hijau pun ditekan.

Meriah.

Tepat setelah Komar menekan tombol, beberapa rumah tiba-tiba saja meledak dan hancur berkeping-keping. Ada yang lokasinya jauh, ada pula yang dekat. Genteng, kayu, dan bebatuan sampai terempas tinggi ke atas langit. Bising tak terkira. Seketika, langit yang menaungi Kampung Rimbun penuh dengan serpihan debu.

Mendengar ledakan keras dari segala arah, warga pun bertiarap. Semuanya. Preman kelas teri, preman kelas kakap, pencopet, bahkan pengedar narkoba pun ikut merunduk. Semuanya menjerit. Ketakutan.

Meriah, bukan?” tanya si penelepon. “Rumah-rumah yang saya ledakkan adalah rumah-rumah bajingan yang mengikuti jalan Sapri. Mereka berprofesi sebagai pencuri, perampok, bahkan pembunuh. Kalian akan bisa melihat potongan mayat mereka di segala tempat nanti siang.

Warga masih menjerit-jerit. Bahkan pria paling sangar di sekitar sana pun menjerit ketakutan. Menangis. Terkencing-kencing.

Agar apa? Agar kalian semua ingat: Kampung Rimbun ini telah dijaga oleh iblis yang takkan bisa kalian kalahkan walaupun kalian bersatu dengan gerombolan mafia sekalipun,” jelas si penelepon picik. “Bertaubatlah, berdiplomasilah dengan baik, selesaikan masalah Kampung Rimbun dengan benar. Jika kalian masih melawan … lihat saja …

Riuh. Sejumlah warga sudah tak peduli. Mereka berlari tunggang-langgang ke segala arah.

… aku yang akan menghabisi kalian semuanya. SEMUANYA.

***

08.34

Adam berdiri di sebuah bangunan yang berlokasi jauh dari titik keramaian. Ia mengamati kerumunan warga dengan menggunakan teropong militernya. Sejumlah orang awalnya berkerumun di bawah pohon tempat kematian enam jasad, tetapi tiba-tiba saja berpencar ketakutan begitu mendengar ledakan dari segala arah.

Pemuda penceramah itu menepati kata-katanya. Ia memang telah berubah menjadi iblis yang menjaga Kampung Rimbun. Setelah menyisir gerombolan Sapri semalam lalu dengan tangannya sendiri, kini ia meledakkan sejumlah rumah yang disinyalir ditempati oleh para kriminal Kampung Rimbun. Para penghuni rumah itu langsung hancur berantakan.

Sadis.

Namun, Adam tidak iba. Sama sekali tidak merasa kasihan.

Setelah sukses membuat warga Kampung Rimbun ketakutan, Adam pun menurunkan teropong dan telepon genggamnya. Ia mengembuskan napas panjang, merenungkan ketakutan warga dari kejauhan, meresapi kemenangan tanpa perlawanan.

Akan tetapi, seseorang masih penasaran. Dari balik telepon, seseorang masih mencoba untuk mencari tahu siapa sosok yang telah membuat Kampung Rimbun geger hanya dalam hitungan jam.

P-Pak? Kau masih di sana?” tanya seseorang di balik telepon.


INI CUMA IKLAN

Jangan larang anak-anak berkreasi. Industri kreatif bakal mati kalo semua anak dilarang. :")

Oh, iya. Biar ngerti Subject 09 tentang apa, plis baca dari episode 44s dan episode 00 juga, ya! Cheers.


Adam mendengarnya. Ia pun merespon panggilan yang ditujukan kepadanya. “Ya, saya masih di sini. Bagaimana, Pak Kumis? Masih punya niat untuk meniti jalan yang sama dengan Sapri?”

E-eh, tidak, kok! Tidak!” Pak Kumis panik. Ia menjawab pertanyaan Adam dengan spontan. “S-sebenarnya saya hanya penasaran, siapa dirimu?

Adam tak lekas menjawab. Ia malah tertawa sinis mendengar pertanyaan tak penting dari seorang warga. Akan tetapi, ia tak ingin mengecewakan penanyanya. “Tidak penting siapa diriku, Pak Kumis. Aku juga tidak menganggap kau penting. Yang jelas, aku dan kau telah melakukan sesuatu yang akan mengubah sikap warga Kampung Rimbun terhadap kehidupan untuk selama-lamanya.”

… a-aku tak mengerti. Kau begitu ahli. Apakah kau agen pemerintah? S-siapa dirimu sebenarnya?

Senyum kecut menghiasi wajah Adam. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau sangat keras kepala, Pak Kumis! Tetapi, aku suka keteguhanmu. Salurkanlah keteguhan itu untuk mengubah Kampung Rimbun menjadi tempat yang baik,” ujar Adam santai. Ia terdiam sejenak. Tak langsung melanjutkan pembicaraan.

” … ”

“Subject Nine, kau bisa panggil aku dengan nama itu. Akulah iblis yang akan terus membayang-bayangi kalian mulai dari hari ini.”

END


<<< BACA SUBJECT 09 DARI AWAL

<<< Loncat ke episode 43

BACA SUBJECT 09 DARI AWAL >>>

Loncat ke episode 44 >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *