4 – Sweet Seventeen


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Bandung, 08.17
Beberapa jam sebelum pengejaran terhadap Subject 09 di Tol Cikampek

Primadona berjilbab bernama Felicia itu tampaknya telah usai menikmati semangkuk ramen di mejanya. Ia lantas duduk bersandar di kursinya seraya meletakkan kedua sumpitnya dengan anggun. Mangkuknya pun tampak bersih, hanya tersisa beberapa butir rempah-rempah yang tak bisa ia keruk lagi dengan alat makannya. Sarapan yang memuaskan, pikirnya.

Sementara itu, keempat lelaki berjanggut yang sedari tadi memperhatikan Felicia di meja seberang tampak panik. Mereka sadar bahwa bidadari yang duduk di hadapan mereka sebentar lagi akan beranjak pergi. Salah satu diantara mereka segera mengeluarkan ponsel dan mengetik beberapa baris pesan secara tergesa-gesa. Entah apa yang ia lakukan, namun teman-temannya tampak mendukung. “Ayo, cepat. Keburu pergi!” seru ketiganya saling bersahutan.

Felicia tak peduli dengan kasak-kusuk di depan matanya. Usai menghabiskan segelas air putih di samping mangkuknya, ia segera bangkit dan berjalan menuju meja kasir. Keempat pria berjanggut semakin panik, mereka menggeliat gelisah menatapi Felicia berjalan melalui meja tempat mereka makan. Tanpa langkah dan aksi yang tergesa-gesa, Felicia pun membayar ramennya dan melangkah pergi dengan senyuman yang merekah. Ia tampak tenang, tak merasa seperti sedang diamati.

Namun, ada kejadian yang tak terduga. Sesaat sebelum Felicia melangkahkan kedua kakinya keluar dari kedai ramen, seorang perempuan berjilbab tiba-tiba muncul di hadapannya. Akhwat tersebut tampaknya baru saja datang dari tempat yang agak jauh, ia berdiri mematung dengan napas yang sedikit terengah-engah.

Terkejut dengan pertemuan tersebut, ia dan Felicia lantas terjebak dalam baku pandang selama beberapa detik. Sampai kemudian, ia pun berinisiatif untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. “Assalaamu’alaykum, ukhti … ” ujarnya seraya menempelkan kedua pipinya pada kedua pipi Felicia.

Wa’laykumsalaam, ukhti. Apa kabar?” sambut Felicia ramah.

Alhamdulillaah, baik. Bagaimana kabarmu, ukhti Felicia?”

“Baik, alhamdulillaah,” Felicia menjawab singkat, ia pikir ini hanya akan berlangsung sebentar.

“Ukhti, uhm, aku ingin mengobrol denganmu sebentar di luar, boleh? Tetapi kalau kau sedang sibuk, kita bisa menunda percakapan ini sampai kau memiliki waktu luang,” ujar sang akhwat gugup.

“Oh, boleh, tentu saja. Aku tidak keberatan.”

Si akhwat yang tak dikenal itu pun menatap Felicia dengan riang, ia kemudian mengajak sang primadona berjalan menjauhi tempat makan ala Jepang tersebut. Namun, sesaat sebelum mereka benar-benar pergi, sang akhwat sempat mencuri pandangan kepada lelaki berjanggut yang panik melihat kepergian Felicia. Ia mengacungkan jempolnya di balik punggung Felicia, baru kemudian menghilang dari pandangan para pengunjung kedai ramen.

Tak lama, kedua wanita berjilbab itu pun berhenti di sebuah gang yang cukup ramai dilalui oleh mahasiswa. Lokasinya tak jauh dari kedai ramen tempat Felicia sarapan, hanya beberapa blok dari sana. Di sanalah sang akhwat menyampaikan maksud yang sebenarnya.

“Ukhti Felicia, sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Tari, aku juga santri di masjid Daar At-Tauhid, sama sepertimu. Salam kenal sebelumnya,” ujar Tari seraya tertawa kecil.

“Oh, ya. Salam kenal juga, Tari. Sebegitu populerkah namaku sampai-sampai kau sudah mengetahuinya sebelum aku mengetahui tentang dirimu?” tanya Felicia seraya tersenyum lebar.

“Tentu saja, ukhti! Semua orang di sekitar sini membicarakanmu. Eh … tidak semua, sih. Tetapi sebagian besar warga Daar At-Tauhid memang membicarakanmu. Namamu sama santernya dengan nama presiden. Haha. Kau pasti tahu bahwa dirimu menjadi buah bibir, bukan?”

“Hehe. Aku tak mau mengomentari pertanyaanmu, nanti bisa salah paham. Lalu, adakah yang bisa kubantu dari pertemuan ini, ukhti Tari? Karena kau tampak ingin membicarakan sesuatu.”

“Oh, iya. Begini. Uhm, maksud hatiku mengajakmu ke sini sebenarnya atas permintaan kerabatku di warung ramen tadi. Kau pasti melihat empat orang ikhwan di sana, bukan?”

“Benar. Mereka duduk di hadapanku. Ada apa dengan mereka?”

“Uhm, bagaimana mengatakannya ya? Jadi, uhm, salah satu dari mereka, Kang Rudy, memintaku untuk menemuimu dan menyampaikan bahwa ia ingin meminangmu.”

“Oh … ” jawab Felicia singkat diikuti dengan tawa kecil yang begitu anggun. Ekspresinya cerah merekah, bahkan dengan kedua mata tertutup pun ia tetap tampak menawan.

Tari bahkan tercengang melihat mimik sang primadona dari dekat. Pantas saja Felicia digilai para ikhwan, renungnya. Dengan wajah secantik itu dan akhlak seanggun itu, siapa yang tak jatuh cinta?

“Kang Rudy itu memiliki bisnis yang sudah stabil, ukhti. Ia memiliki toko pakaian muslim dan sudah menggaji sekitar lima pegawai di tokonya tersebut. Itu belum termasuk bisnis kuenya yang baru saja ia mulai di daerah selatan Bandung. Kau benar-benar perlu mempertimbangkan tawarannya, ia tampak sudah sangat siap untuk maju ke jenjang pernikahan,” ujar Tari mempromosikan kerabatnya dengan percaya diri.

1“Tari … aku percaya dengan semua hal yang kau paparkan,” jawab Felicia tenang. “Tetapi, kau mungkin juga sudah tahu apa jawabanku. Beberapa pebisnis juga pernah mencoba meminangku, tetapi aku tetap memberikan jawaban yang sama.”

Tari terdiam. Mimik cerahnya seketika luntur. Ia tahu bahwa upayanya hanya sia-sia belaka. “Kau tidak bisa karena kau mau fokus berkuliah?”

“Benar, Tari.” Felicia mengangguk pelan.

“Begitu, ya?” Tari pun tertunduk. Ia lantas menggerak-gerakkan kakinya seperti anak kecil. “Kurasa … bukan itu alasan yang sebenarnya. Bukan begitu, ukhti?”

Felicia terpaku mendengar respon Tari. Ia menatapi wajah Tari selama beberapa saat, tatapannya penuh dengan rasa heran. “Mengapa kau bisa berpikir begitu?”

“Aku juga wanita, Felicia. Aku bisa merasakan bahwa kata-katamu itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Ya, mungkin kau memang masih berkuliah, tetapi mengabaikan perasaan laki-laki yang sudah siap menikah karena kuliah kurasa itu bukan sesuatu yang semestinya dikatakan oleh orang majelis sepertimu.”

“Hmm, jadi aku tak boleh memilih untuk tidak menikah sebelum lulus kuliah?”

“Bukan. Bukan seperti itu maksudku. Diantara yang mengungkapkan perasaannya kepadamu terdapat ikhwan-ikhwan tampan dan soleh yang diidam-idamkan oleh para perempuan majelis. Tetapi, kau dengan datarnya menolak mereka tanpa ada pertimbangan sedikit pun. Kurasa itu aneh, Felicia. Kau menyembunyikan sesuatu, bukan demikian?”

Felicia terdiam. Ia mendengarkan hipotesis Tari dengan seksama, lalu menutupnya dengan senyuman. “Kau mahasiswi psikologi, ya?”

“Mm-hm … ” Tari mengangguk.

“Kau tak hanya menganalisis caraku menolak para ikhwan, tetapi juga menganalisis raut wajahku,” jawab Felicia tenang. Ia sama sekali tak merasa seperti diintimidasi. “Jawaban singkatku untuk pertanyaanmu: ya. Aku memang memiliki alasan khusus untuk menolak para ikhwan yang datang.”

“Hoo, jadi aku benar,” ucap Tari sembari menjentikkan jarinya. “Jadi, apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Jujur, aku terkadang iri dengan orang sepertimu; tanpa harus banyak berusaha, kau sudah pasti dihampiri oleh banyak laki-laki favorit.”

“Ukhti, jangan berkata demikian. Tiap orang sudah diberi jatah rezekinya masing-masing.”

“Haha, iya. Tak seharusnya aku berkata seperti itu. Aku baru saja mengeluh. Astaghfirullaah.

“Ukhti, ada banyak hal yang tidak bisa kita ceritakan dalam hidup, termasuk mengapa aku menolak lamaran para ikhwan semenjak aku menjadi warga di sini.”

Tari mendengarkan Felicia dengan seksama. Wajahnya sedikit menegang.

“Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kau tak perlu berangan-angan menjadi orang lain, karena kau adalah angan-angan bagi dirimu sendiri. Lagipula … seandainya kau tahu siapa diriku yang sebenarnya, percayalah, kau takkan mau menjadi sepertiku. Kau akan merasa jauh lebih nyaman menjadi dirimu sendiri dan mencari makna di dalam lubukmu sendiri.”

Tari terkesima. Ia seakan baru saja mendengar pelangi bernyanyi. Aroma keindahannya bahkan terasa dalam hati. Namun, masih tersisa tanya pada untaian kata sang primadona.

“Kau pernah melakukan hal buruk di masa lalu? Tetapi, masa lalu hanyalah masa lalu, itu tidak bisa menjadi alasan kau menjauh dari dunia pernikahan. Bukankah Umar bin Khattab pun merupakan seorang pembunuh sebelum datang Nabi Muhammad?” imbuh Tari.

“Benar … ” Felicia merespon singkat. Kepalanya mengangguk pelan menyetujui pernyataan Tari. “Tetapi aku bukan Umar dan belum menjadi Umar.”

“Maksudnya, ukhti?”

“Itu artinya aku masih Umar sebelum Muhammad,” lanjut Felicia tersenyum. Ada sekian makna tersirat dalam senyumannya, seakan ada kelam dan cahaya pada satu waktu yang sama. Bukan merekah, namun menakutkan.

***

Setelah berpamitan dengan Tari, Felicia pun kembali ke kamar kostnya yang juga tak jauh dari kedai ramen tempat ia menikmati sarapan. Ia meninggalkan Tari yang polos dalam jeratan teka-teki. Hingga akhir percakapannya, Felicia memang sama sekali tak memberikan petunjuk yang jelas tentang siapa dirinya. Terlalu murah jika ia memberikan kunci kepada orang lain untuk membuka kotak rahasianya, biarkan semuanya menjadi misteri. Lagipula, ia tak peduli pada rasa penasaran orang lain.

Felicia duduk di belakang meja belajarnya, membuka laptop yang besarnya hampir sama dengan briefcase kantoran. Di era serba mikro tersebut, sudah tak ada lagi perusahaan yang memproduksi laptop sebesar itu, mengapa ia masih menggunakan laptop yang sudah tak layak pakai? Bahkan untuk mengeksekusi aplikasi perkantoran saja performanya diragukan.

Tetapi tidak, laptop tersebut tak seperti yang orang bayangkan. Sistem operasinya bukan sistem operasi yang dikenal oleh publik. Tampilan antarmukanya pun tak dikenal kecuali oleh pemiliknya sendiri. Lebih mencengangkan lagi, laptop sebesar itu rupanya memiliki performa yang jauh lebih tangguh daripada laptop-laptop pasaran. Benda apa yang sebenarnya Felicia gunakan?

Felicia membuka aplikasi browser yang juga tak dijual di pasaran. Ia lantas menuliskan kueri yang sedari tadi telah bertengger di dalam benaknya ke dalam kotak pencarian: pembunuhan delapan pejabat pemerintah Indonesia.

Proses.

Tanpa harus menunggu lama, hasil pemrosesan di kotak pencarian pun langsung muncul tanpa melewati proses loading. Internetnya bahkan memiliki kecepatan yang tak biasa.

Felicia kini bisa melihat seluruh berita nasional mengenai kematian delapan pejabat pemerintah Indonesia. Beberapa media bahkan menggambarkan tragedi ini sebagai momen nasional terburuk setelah meletusnya G-30-S PKI. Namun, tak berhenti sampai di sana, berita-berita tersebut kini didampingi oleh fakta yang tak kalah menarik; beberapa bahkan mengategorikannya sebagai breaking news. Berita tersebut adalah ditemukannya pelaku pembunuhan delapan pejabat yang dikenal dengan nama Adam Sulaiman, seorang pemuda berusia sekitar 23 tahun yang memberontak tanpa alasan.

Felicia mendengus sinis. Ia menggelengkan kepala seraya tersenyum kecut. Ia tampaknya mengetahui sesuatu tentang Adam yang tak diketahui oleh para aparat. Benaknya kini bisa membayangkan betapa remuknya hati pemerintah; menghambur-hamburkan uang hanya untuk memburu seorang pemuda dan gagal.

Tersisalah sebuah pertanyaan yang tak bisa Felicia pahami: apa yang telah pemerintah lakukan sehingga Adam lepas kendali?

Hal pertama yang terbesit dalam benak Felicia adalah Operasi Antisakti. Operasi intelijen yang hanya diketahui oleh segelintir pihak tersebut merupakan jawaban pemerintah untuk membubarkan Project SAKTI, proyek rahasia rezim Soeharto yang tetap aktif hingga tahun 2016 silam–entah proyek apa. Felicia menduga bahwa Operasi Antisaktilah yang menjadi biang kemarahan Adam, karena ia tahu bahwa Adam merupakan bagian dari Project SAKTI. Jika hipotesisnya benar, berarti pembantaian delapan pejabat pemerintah tersebut memang dimotori oleh dendam lama.

Felicia segera melakukan pencarian mengenai Operasi Antisakti. Ia mengalihkan alamat IP dan menyembunyikan proxy komputernya, lalu meretas database PIN tanpa kepayahan. Hanya sekitar tiga menit ia berjibaku dengan beberapa baris kode, tak lama kemudian ia pun tiba di tampilan antarmuka database PIN.

Beberapa ahli IT memang mengatakan bahwa aplikasi PIN sudah tak relevan digunakan di tahun 2021 karena sekuritasnya yang lemah, namun tampaknya saran tersebut tak digubris oleh pemerintah. Tidak ada dana, kata mereka. Apalagi aplikasi terbaru yang disarankan oleh para ahli IT tersebut harus dibeli dengan harga yang sangat mahal dan biaya maintenance perbulannya sama sekali tak murah. Aplikasi tersebut dikembangkan oleh Inggris dan digunakan oleh badan intelijen sekaliber MI6, tentu saja mahal.

Pada akhirnya, pemerintah lebih suka “memancing” para peretas untuk menjebol keamanan PIN, melacak lokasi peretas, kemudian menangkap para peretas tersebut untuk dihukum. Dengan demikian, walaupun sekuritas aplikasinya lemah, namun efek jera yang akan dirasakan oleh para peretas maupun calon peretas benar-benar luarbiasa. Sisanya, sama halnya seperti CIA, MI5, MI6, Mossad, dan badan intelijen lainnya, PIN menyimpan berkas-berkas top secret di loker yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.

Kembali ke Felicia, ia sudah berhasil membobol keamanan database PIN. Ia mencoba mencari segala hal mengenai Operasi Antisakti. Hasilnya? Nihil. Ia tak mendapatkan apapun tentang Operasi Antisakti. Pasti dokumentasinya disimpan secara fisik di loker teraman PIN, pikirnya.

Felicia tak ingin menyerah. Ia lantas mencari data mengenai delapan pejabat pemerintah yang mati di tangan Adam. Berhasil. Ia menemukannya, tetapi data-datanya tak memuaskan. Felicia mengusap-usap dagunya, keningnya pun mengernyit tak puas. Tak ada data yang mengantarkan delapan pejabat itu kepada Operasi Antisakti.

Merasa dihadapkan dengan jalan buntu, Felicia pun bersandar di kursinya. Sesekali ia memutar kursi kerjanya seraya terus berpikir. Mengapa Adam memilih delapan pejabat tersebut sebagai korbannya? Ia menghela napas panjang, tak ada petunjuk.

Sampai akhirnya ilham pun bertengger di kepalanya. Jika delapan pejabat tersebut terlibat pada sebuah operasi hitam, mereka pasti akan mendapatkan sejumlah dana dari seseorang. Itu adalah sebuah pola yang pasti. Dari sana akan ketahuan siapa yang mencairkan dana ke rekening mereka dan untuk keperluan apa dana itu digunakan.

Felicia kembali beraksi dengan komputer jinjingnya. Ia meretas rekening delapan pejabat tersebut dengan mudah. Terlalu mudah. Kini ia bisa melihat beberapa catatan transaksi online senilai milyaran hingga trilyunan rupiah di layar laptop-nya. 

Scroll, scroll.

Terlalu banyak informasi pribadi yang tak penting untuknya. Lewati, lewati.

Sampai pada akhirnya, Felicia berhenti menggulirkan roda tetikusnya. Ia mendapati sebuah nama yang tak bisa dibaca; huruf-hurufnya bahkan tak dikenal dalam bahasa dunia. Abstrak. Nama misterius tersebut muncul di akun Denis Sumargana sebagai pengirim dana, entah siapa.

Penasaran, Felicia mencoba mengecek apakah nama misterius tersebut juga tercatat di rekening tujuh pejabat lainnya. Ya, tercatat. Felicia lantas mengecek tanggal transfernya; apakah terjadi secara bersamaan atau terpisah. Mengejutkan, transfer dana pada kedelapan rekening tersebut terjadi secara bersamaan, yakni pada tahun 2016 atau tepatnya lima tahun yang lalu.

Semakin penasaran, Felicia bertekad untuk menelusuri informasi lebih jauh; apalagi tak ada kejelasan untuk keperluan apa dana tersebut digelontorkan. Ia berupaya mencari tahu identitas si pengirim misterius yang tak bernama tersebut. Ketik, ketik, ketik. Setelah sekitar lima belas menit ia beraksi dengan papan ketiknya, ia pun menemukan sesuatu yang sangat mencengangkan. Akun si pengirim misterius tersebut diproteksi oleh sistem keamanan yang tak bisa dibobol kecuali oleh si pemilik sistem.

Kedua mata Felicia terbelalak. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sejauh pengetahuannya, sistem keamanan seperti yang ia lihat saat ini hanya digunakan oleh segelintir anggota NATO dan sekutunya. Sistem keamanan tersebut dikenal dengan nama Quantum Cube Encryption atau disingkat QCE, hasil jerih payah para ilmuwan Yahudi di Israel. Dikatakan sebagai Quantum Cube karena gembok pada sistem keamanan tersebut berbentuk kubus raksasa yang terdiri dari milyaran kubus kecil. Setiap kubus pada sistem keamanan tersebut–baik yang besar maupun yang kecil–memiliki kode enkripsi sendiri-sendiri dan dapat berubah setiap lima detik sekali. Posesif. Selain itu, sebagaimana sistem keamanan kuantum pada umumnya, sistem QCE ini dapat mendeteksi siapapun yang mencoba meretasnya tanpa kesulitan (third-party detection).

Melihat sistem keamanan kuantum di depan matanya, Felicia pun melepas kacamatanya, lalu menopang keningnya dengan luruh. Ia merasa bersalah karena sedari tadi ia mengalihkan alamat IP-nya kepada black hat hacker [1] yang kebetulan juga sedang online. Dalam hitungan menit, Densus AT-13 Polri mungkin akan menggerebek rumah sang peretas, menangkapnya seperti babi hutan, lalu menyerahkannya kepada agen asing untuk segera “dihilangkan” dari muka bumi.

NB: [1] Peretas yang menggunakan kemampuannya untuk melakukan kejahatan

“Ah, maafkan aku,” ucap Felicia berbisik.

Felicia tak punya waktu untuk menyelamatkan sang peretas. Ia masih punya teka-teki yang belum terjawab. Ia tak bisa menyimpulkan persoalan apa yang mengaitkan antara Adam dan delapan pejabat yang mati tersebut. Itu artinya, ia harus menemukan jawabannya secara offline. Tak ada cara lain, cara lama memang hal yang paling ampuh jika kondisinya sudah seperti ini.

Meski demikian, Felicia kini memahami bahwa kedelapan pejabat yang tewas tersebut telah membuat kesepakatan dengan orang asing yang punya kepentingan politik di Indonesia, buktinya bisa terlihat dari sistem keamanan QCE pada rekening si pengirim dana misterius. Pertanyaannya adalah apakah kesepakatan tersebut berkaitan erat dengan Operasi Antisakti? Atau jangan-jangan ada operasi hitam yang tak Felicia ketahui? Dan hal apa yang mengaitkan Adam dengan kematian delapan pejabat tersebut?

Felicia membulatkan tekadnya. Ia harus mencari tahu segalanya secara offline. Bila perlu, lakukan interogasi terhadap kerabat delapan pejabat.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa Felicia? Bagaimana ia bisa mengetahui segala hal yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu di seluruh dunia? Terlalu banyak pertanyaan yang tak bisa terjawab. Atau mungkin sebaiknya teka-teki tetap menjadi teka-teki.

***

Kediaman Denis Sumargana, 12.47
Jakarta

Ding, dong!

Seorang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit berwarna coklat itu menekan tombol bel rumah di sebuah komplek real estate di daerah Jakarta. Ia ditemani oleh dua pria lain yang berpostur lebih besar darinya dengan penampilan serupa. Dilihat dari dandanan mereka yang gahar, mereka tampaknya merupakan anggota intel; entah intel Polri, entah intel TNI, entah intel PIN.

Ckrek.

Tak lama setelah bel berbunyi, sang penghuni rumah pun membuka pintu depan rumahnya. Kepalanya lantas melongok keluar, ia enggan membuka pintu lebih lebar. Sekarang semua orang di luar dapat melihat wajahnya. Seorang wanita. Ia adalah istri dari almarhum Denis Sumargana–ketua PIN yang kabarnya dibunuh oleh Adam Sulaiman. Erika Hastari.

“Siapa kalian?” Erika bertanya dengan sinis. Kedua matanya tampak lebam akibat menangis. Ia pasti telah menerima kabar mengenai kematian suaminya.

“Ibu Erika, mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu kenyamanan Anda. Kami dari PIN, rekan kerja suami Anda. Saya Abdullah … ” ujar si pemijit bel. “Pria di sebelah kiri saya adalah Ben dan di sebelah kanan saya adalah Jaka.”

Erika mengenyit. Ia masih enggan membukakan pintu untuk ketiga pria berbadan besar tersebut. “Mau apa kalian kemari?”

“Ibu Erika, Anda pasti sudah mendengar kabar tentang … kematian suami Anda. Seperti yang Anda ketahui bahwa beliau tidak meninggal secara natural, namun ada pihak-pihak yang sengaja membuat beliau meregang nyawa. Oleh karenanya, kami dari kantor Inspeksi Umum PIN hendak menginvestigasi mengenai siapa yang bertanggungjawab atas kematian beliau. Kami meyakini bahwa beliau menyimpan beberapa catatan di ruang kerjanya. Jika Anda tidak keberatan … “

“Inspeksi Umum. Kalian yang biasa melakukan investigasi internal, ya?”

“Benar, Bu.”

“Bisakah kalian menunjukkan surat izin investigasi dan kartu keanggotaan sebelum aku mengizinkan kalian masuk? Aku tak bermaksud lancang kepada kalian, namun ini sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami.”

Abdullah, si pemijit bel, lantas menoleh kepada kedua kerabatnya. Ben dan Jaka hanya bisa mengangkat bahu, tak tahu harus berbuat apa. Tak lama, Abdullah pun mengembalikan tatapannya kepada Erika. “Tentu saja, Bu,” ujar Abdullah seraya mengambil dompet di saku belakang. Ia lantas menyerahkan kartu keanggotaannya.

Erika segera mengambil kartu keanggotaan Abdullah dan menatapinya selama beberapa saat. Ia langsung tahu bahwa kartu milik pria di hadapannya memang otentik. Ia sudah bertahun-tahun hidup dengan suami yang berprofesi sebagai anggota intelijen, ia bisa membedakan mana kartu identitas yang palsu dan mana yang asli.

“Dan ini surat izin investigasinya, Bu … ” imbuh Abdullah.

Erika mengangkat kepalanya, ia kembali menatap tiga orang pria yang berdiri di depan pintu rumahnya. Wanita yang hampir berkepala lima itu pun menarik napas panjang. Tegang. Matanya langsung terfokus pada benda berwarna hitam yang sedang Abdullah genggam di samping pinggulnya. Sebuah pistol. Lebih mengerikan lagi, pistol tersebut mengarah tepat ke badan Erika. Sekalipun tubuhnya tersekat oleh pintu, namun ia tahu bahwa pintu kayu tersebut takkan cukup kuat menahan hantaman peluru.

“Bu Erika, kami tidak mau ada kekerasan. Pistol ini adalah satu-satunya bukti investigasi yang bisa kami bawa, karena kami diperintahkan untuk langsung menuju ke sini. Kami mohon maaf. Mohon kerjasamanya, ini semua untuk kebaikan Anda juga. Pembunuh suami Anda tersembunyi di balik catatan-catatan suami Anda.”

“O-oke. Baiklah, baiklah! For God’s sake! K-kalian benar-benar tidak punya etika, menodongkan senjata di saat berkabung seperti ini. Kalian kuizinkan untuk masuk, namun kumohon agar kalian melakukannya dengan cepat. Keadaan di sini sedang tidak kondusif,” ujar Erika menahan tangis.

“Tentu, Bu.” Abdullah kembali menyarungkan pistolnya. “Kami hanya butuh sekitar 10 menit untuk melakukan investigasi.”

Suasana di kediaman almarhum Denis memang sedang kurang kondusif untuk dijadikan tempat investigasi. Seluruh anggota keluarga tengah berkabung siang itu, mereka menanti kedatangan jenazah Denis yang masih divisum di rumah sakit.

Namun, Abdullah dan kawan-kawannya tak punya pilihan lain. Mereka harus menjalankan perintah atasan sesegera mungkin. Jika tidak, informasi yang mereka butuhkan mungkin akan diambil oleh Polri di kemudian hari. Atasan Abdullah menduga ada keterkaitan antara kematian Denis dengan skandal di internal PIN, itulah sebabnya ia memerintahkan Abdullah untuk bergerak; ia tak ingin ada bukti skandal yang jatuh ke tangan Polri.

Abdullah dan kedua temannya pun bergerak ke ruang kerja Denis, sementara Erika berusaha mengomunikasikan niat ketiga anggota PIN tersebut di rumahnya. Ketiganya menggeledah seluruh tempat penyimpanan dokumen di ruang kerja Denis. Mereka berharap bisa menemukan satu hal yang mereka cari-cari saat itu: Operasi Antisakti.

Atasan Abdullah mengatakan bahwa Operasi Antisakti bisa jadi merupakan alasan utama mengapa Denis dibunuh. Hipotesisnya didasarkan kepada latarbelakang sang pembunuh, Adam Sulaiman, yang merupakan anggota Project SAKTI. Dan ia tahu bahwa Operasi Antisaktilah yang dulu membubarkan Project SAKTI dengan kekerasan; bisa jadi Adam masih dendam terhadap pembubaran kelompoknya tersebut.

Belum sampai sepuluh menit, ketiganya telah berhasil mengumpulkan semua catatan tertulis mengenai Operasi Antisakti; yang mana semuanya hanya berupa coret-coretan Denis. Semacam diary yang sangat amburadul. Catatan-catatan tersebut memang tak seberapa lengkap, namun sudah cukup untuk menguak tentang keberadaan Operasi Antisakti.

Abdullah segera mengabari atasannya melalui pesan singkat yang dienkripsi, kemudian menanti jawaban. Ia mondar-mandir di ruangan kerja Denis, sementara kedua temannya tetap menanti dengan tenang.

Bzzzt! Ponsel Abdullah bergetar, atasannya telah memberi jawaban. Tak sampai semenit. Ia membuka pesan atasannya. Jawabannya adalah sebuah lokasi. Ia dan kedua kerabatnya diminta untuk datang ke lokasi misterius yang hanya berupa angka-angka koordinat peta. Tak masalah baginya. Ia segera mengantongi ponselnya dan mengajak kedua temannya pergi.

Tak ada salam perpisahan resmi dengan Erika. Abdullah hanya meminta Erika untuk diam, jangan memberitahukan apapun kepada Polri jika Polri datang untuk melakukan investigasi. Ia juga memberikan Erika sejumlah uang di sebuah amplop berwarna coklat; sebagai santunan untuk meninggalnya Denis, katanya. Padahal itu adalah uang tutup mulut.

“Denis adalah pahlawan di PIN dan kematiannya merupakan hal yang memilukan bagi kami. Ia dibunuh dan sang pembunuh disinyalir berasal dari tempat yang sama dengan Denis bekerja, itulah sebabnya kami memaksa untuk melakukan investigasi siang ini. Kami mohon maaf jika perbuatan kami mungkin membuatmu merasa tak nyaman,” ujar Abdullah sesaat sebelum ia memasuki ruang kemudi mobilnya.

“Hmm … ” respon Erika singkat. Ia hanya mengangguk pelan.

Abdullah tak ingin berlama-lama merenungkan kepedihan hati Erika. Sudah ditinggal suami, ditodong senjata pula. Abdullah akhirnya mengucapkan terimakasih kepada Erika karena telah mengizinkannya menginvestigasi ruang kerja Denis, lalu melipir pergi bersama dua orang kawannya dengan mobil sedannya. Mereka hilang dengan cepat, meninggalkan luka untuk Erika.

***

Setelah sekitar satu jam menembus kemacetan ibukota, Abdullah dan kedua kerabatnya akhirnya tiba di lokasi tempat ia diperintahkan bertemu dengan atasannya. Mengherankan, mereka berhenti di sebuah lokasi yang tak terurus. Terabaikan, lebih tepatnya. Di depan mereka terdapat sebuah bangunan lima lantai yang sangat kucal dan belum selesai dibangun. Tampaknya memang ditinggalkan oleh developer-nya, entah mengapa. Di daerah pinggiran Jakarta memang cukup banyak banyak bangunan setengah jadi seperti demikian. Pertanyaannya adalah mengapa harus bertemu di tempat seperti itu?

Abdullah dan kedua kerabatnya sempat heran, namun akhirnya mereka pun turun dari mobil. Mereka lantas berjalan menuju bangunan di hadapan mereka sembari berusaha menembus rerumputan yang meninggi. GPS mereka menunjukkan bahwa lokasi pertemuan memang berada di bangunan setengah jadi tersebut. Mereka tak perlu tahu mengapa sang atasan menyuruh mereka bertemu di sana. Bagi mereka, loyalitas adalah segalanya. Mereka rela menjalankan seluruh perintah atasan tanpa perlu tahu alasan di balik perintah tersebut.

Setelah bersusah payah melangkahi rumput-rumput tinggi nan gatal, Abdullah dan kawan-kawannya pun tiba di bangunan tempat mereka dan atasan semestinya bertemu. Mereka mengecek setiap lantai untuk menemukan keberadaan sang atasan, namun belum ada tanda-tanda darinya. Lantai satu, tak ada. Lantai dua, tak ada. Lantai tiga, tak ada. Sampai pada akhirnya mereka tiba di lantai empat, mereka mendengar langkah seseorang di lantai lima. Sontak ketiganya segera bergerak menuju lantai teratas bangunan tersebut.

Benar saja, rupanya sang atasan memang berada di lantai lima. Abdullah dan kedua kerabatnya kini bisa melihat seorang pria dengan jas hitam sedang duduk di sebuah kursi kayu seraya melipat kaki. Pria tersebut duduk di tepi bangunan, membelakangi ketiga anak buahnya. Abdullah tak bisa melihat wajah bosnya, ia dan kedua kawannya hanya bisa memandangi tengkuk dan kedua pundak sang atasan.

“Bos, kami berhasil mendapatkan informasi mengenai Operasi Antisakti. Namun, kami tak menemukan nama-nama penting pada seluruh catatan pribadi Denis. Kami hanya menemukan nama Hanif Wahyudin selaku kepala Operasi Antisakti. Tak ada pejabat lain selain dirinya. Kita harus ke gudang penyimpanan arsip untuk melihat nama-nama pejabat yang terkait Operasi Antisakti. Masalahnya, hanya segelintir anggota PIN yang boleh masuk ke gudang dengan penjagaan superketat tersebut.”

Sang atasan terdiam. Ia tak merespon. Tetap duduk tegak seperti sebelumnya.

“Bos?” Abdullah menunggu jawaban. Ia pun berjalan mendekati atasannya secara perlahan.

“Ia sudah mati,” entah dari mana datangnya, seorang wanita berjilbab tiba-tiba muncul dan menyahut dari arah belakang.

Abdullah dan kedua kerabatnya pun terperanjat. Mereka tak menduga akan ada pengunjung lain selain mereka dan sang atasan. Refleks, mereka segera bertolak dan mencabut pistol yang tersimpan di balik celana.

Akan tetapi, tak sempat mereka membidikkan pistol dengan benar, sang wanita sudah lebih dulu menghampiri dan mengintervensi rencana ketiganya. Wanita bertudung putih tersebut melesat cepat, meluncurkan beberapa serangan yang membuat ketiga personel PIN lengah, dan melucuti senjata para personel PIN.

Tak ada satu pun serangan sang wanita yang sanggup diantisipasi oleh ketiga personel PIN. Ben dan Jaka lantas menjadi korban keganasan sang wanita. Sendi-sendi mereka dikunci, tubuh mereka dibanting, wajah mereka dihantam, dan napas mereka diputus dengan sebuah sentakan mematikan. Sang wanita mematahkan leher Ben dan Jaka tanpa kesulitan. Tak hanya leher mereka yang patah, namun urat nadi mereka pun putus.

Dua tewas. Sisa satu lagi. Sang wanita tak hendak mengulur waktu, ia segera menghampiri Abdullah yang masing terhuyung-huyung.

Sebagai laki-laki, Abdullah merasa harga dirinya telah direndahkan oleh seorang wanita. Berjilbab pula. Ia pun bangkit dan melawan keganasan sang wanita misterius. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, ia melepaskan beberapa serangan yang pernah ia pelajari saat mendapatkan materi self-defense di PIN. Akan tetapi, serangannya sama sekali tak ada yang mengenai target. Wanita berjilbab itu tampaknya bukan wanita biasa; ia mampu menghindari dan menepis seluruh serangan Abdullah tanpa kesulitan.

Serangan balik, sang wanita memukuli Abdullah bertubi-tubi. Ia menyerangnya dengan bengis. Tinju mengepal, tinju terbuka, tendangan pendek, sikutan, semua serangan ia keluarkan pada kecepatan yang sulit untuk diantisipasi. Sampai pada puncaknya, ia menangkap kepala Abdullah dan mendorongnya sekuat tenaga ke arah pondasi bangunan. BRRRK! Kepala Abdullah pun membentur pondasi hingga semen yang meliputinya rompal. Benar-benar dorongan yang sangat kuat.

Abdullah sudah tak sanggup untuk melawan. Ia hanya bisa berbaring luruh di atas lantai dengan kepala bersimbah darah. Pasrah. Matanya mencoba memperhatikan sosok sang wanita lebih cermat, namun pandangannya kabur. Lagipula, sekalipun pandangannya jelas, ia mungkin takkan mengenali monster bertudung tersebut. “K-kau … siapa?” tanyanya dengan susah payah.

“Kau, kedua temanmu, dan atasanmu … kalian pernah membunuh seorang pegawai PIN dan keluarganya hanya karena ia mengetahui kasus suap yang terjadi di kantor Inspeksi Umum. Kalian membunuhnya karena skandal itu melibatkan kalian, bukan begitu? Catatan bahwa kalian membunuh keluarga si anggota PIN bahkan masih ada di database PIN.”

” … “


Harga telur tidak akan naik jika tidak ada telur.

--Quote Yaiyalah, Papa Husky


“Heh, baru ingat dengan dosa lama, kawan?” tanya sang wanita seraya tertawa sinis. “Anggap saja kematian kalian hari ini adalah harga yang harus kalian terima karena telah membantai keluarga yang tak bersalah sampai punah tak tersisa. Aku sungguh tak menyangka kantor Inspeksi Umum juga punya skandal pembunuhan, tugas kalian seharusnya hanya seperti polisi militer ‘kan? Menjaga ‘anak-anak’ kalian agar tidak melakukan kejahatan.”

Urrrk … “

“Aku di sini bukan mewakili PIN atau si anggota PIN yang pada akhirnya juga kalian bunuh, aku hanya wanita random yang berhasil meretas database PIN dan kebetulan menemukan latarbelakang kelam kalian,” imbuh sang wanita seraya berjongkok di samping Abdullah.

“Oh, dan aku berterimakasih karena kalian telah mengumpulkan buku harian Denis untukku. Aku sebenarnya hanya memanfaatkan kalian untuk mencari tahu soal Operasi Antisakti.” sang wanita tersenyum. “Kalian tidak tahu bahwa aku yang mengirim pesan kepada kalian untuk mencuri informasi di rumah Denis ‘kan? Atasan kalian kubunuh, kemudian kugunakan ponselnya untuk menghubungi kalian,” lanjut sang wanita.

“K-k-k … siapa?” Abdullah tetap berupaya untuk mengetahui identitas sang wanita.

Sang wanita hanya tersenyum. Ia lantas mengambil beberapa carik kertas dan buku kecil berwarna coklat dari saku jaket Abdullah. Semua benda tersebut merupakan bukti investigasi yang Abdullah dan teman-temannya kumpulkan dari rumah almarhum Denis. Isinya berkaitan erat dengan Operasi Antisakti yang legendaris tersebut. Sampai detik itu, sang wanita tak juga menjawab pertanyaan Abdullah.

Tak lama kemudian, Abdullah pun menghembuskan napas terakhirnya. Ia kehilangan banyak darah dari kepalanya. Ia mati dengan kedua mata terbuka. Mengenaskan.

Melihat kematian perlahan di depan matanya, sang wanita sontak terdiam. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatapi Abdullah dengan iba. Terus saja mematung seperti demikian, sampai akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepala seraya memijit-mijit batang hidungnya. Felicia menghela napas panjang, ia kemudian menutup kedua kelopak mata Abdullah secara perlahan, mengakhiri hidup sang agen dengan penampakan yang lebih baik.

“Maafkan aku. Rest in peace, brother,” ujar sang wanita berbisik. “Namaku Felicia. Maaf, aku tak bisa memberitahukannya saat kau masih bernapas,” lanjutnya.

Felicia. Benar, ia adalah wanita yang sarapan di kedai ramen pagi tadi; wanita yang ditawari menikah oleh seorang akhwat bernama Tari; wanita yang digilai oleh para lelaki pecinta surga. Sungguh tak terkira. Kecantikan dan keanggunannya seakan hanya topeng untuk menutupi jati diri yang sebenarnya. Ia bahkan menumbangkan empat anggota intel profesional hanya dengan tangan kosong.

Mendapati catatan Denis di tangannya, Felicia berusaha membuktikan kebenaran penyataan Abdullah sebelumnya. Benarkah bahwa informasi mengenai Operasi Antisakti yang dipegang Denis begitu terbatas? Satu persatu catatan Denis ia baca, namun tak ada yang benar-benar berarti. Semua hanya berupa hipotesis dan teori belaka, tak ada yang benar-benar didukung oleh data yang otentik.

Kecuali satu: Hanif Wahyudin.

Sama seperti yang dikatakan oleh Abdullah, bahwa ia dan kedua kawannya tak bisa menemukan tokoh-tokoh penting Operasi Antisakti pada catatan Denis. Hanif Wahyudin adalah satu-satunya pejabat yang disebut-sebut pada seluruh catatan Denis.

Felicia tahu siapa itu Hanif. Pria yang disebut-sebut menjadi kepala Operasi Antisakti tersebut adalah pensiunan kolonel Marinir yang tangguh. Pengalamannya bertempur dan memimpin pertempuran pada berbagai operasi klandestin membuatnya tak hanya efektif sebagai perwira di belakang meja, namun juga sebagai prajurit lapangan. Permasalahannya adalah Hanif bukan orang yang mudah untuk ditemukan.

Menurut catatan Denis, Felicia harus mengawali pencarian di Han’s Security untuk menemukan Hanif. Masalahnya adalah perusahaan keamanan swasta yang didirikan oleh Hanif tersebut berlokasi di Papua. Selain jauh, Felicia juga pasti perlu waktu dan tenaga ekstra untuk mengetahui keberadaan Hanif. Ketangguhan sang owner tentu akan diturunkan kepada anak buahnya.

Itu baru persoalan “menemukan Hanif”, belum ditambah dengan persoalan “menguak para pejabat yang terkait pada Operasi Antisakti” dan “kenapa Adam membunuh delapan pejabat”. Oleh karenanya, Felicia mengurungkan niatnya untuk pergi ke Papua. Ia masih punya satu alternatif untuk mengetahui mengapa Adam membantai delapan pejabat pemerintah; dan alternatif tersebut bisa ia tempuh malam ini.

Felicia lantas mengeluarkan ponsel lipatnya. Ia membuka daftar kontak dan menggulirkan nama-nama yang tercatat pada ponselnya sampai berhenti pada nama Purnomo. Entah siapa. Ia segera menekan tombol call dan ponsel pun loading selama beberapa saat. Tidak, bukan kesalahan teknis, ponselnya memang bekerja seperti demikian. Tujuannya adalah untuk membangun sekuritas pada jaringan teleponnya, sehingga akan sangat sulit untuk dilacak.

Telepon sudah tersambung. Felicia segera menempelkan speaker ponsel pada telinganya.

Halo, siapa ini?” Seorang pria membuka percapakan.

“Brigjen Purnomo, Wakil Asisten Teritorial Kepala Satuan Angkatan Darat, Anda sedang berbicara dengan PIN. Kami butuh bertemu dengan Anda malam ini di restoran Karnivoria. Ada yang harus kami bicarakan dengan Anda.”

Siapa ini? Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor pribadiku?

“Seperti yang kami katakan: kami adalah PIN. Kami bisa menemukan siapapun yang kami mau. Datanglah ke Karnivoria malam ini, jam 7 malam, sendirian, tanpa atribut militer–“

Kau jangan main-main–

“Jika tidak, istri dan ketiga putrimu akan dibunuh malam ini. Jika Anda tidak percaya, silakan tutup teleponnya dan tunggu orang-orang tersayang Anda berakhir di kantung mayat.”

Bajingan, ini siap–

“Patuhi saja perintahnya. Kau adalah teman dekat Mayjen Rahmat Sukoco, salah satu korban keganasan Adam Sulaiman. Kami hanya ingin mengobrol santai soal kematian sahabat Anda. Mohon permudah pekerjaan kami.”

Tak sempat dijawab lagi oleh Brigjen Purnomo, Felicia segera menutup teleponnya. Ia yakin bahwa sang jenderal akan memenuhi permintaannya. Jika tidak, ia mungkin harus melakukan sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang tak ia inginkan.

***

Restoran Karnivoria, 19.21
Jakarta

Brigjen Purnomo mau tak mau harus menuruti kemauan si penelepon misterius untuk bertemu di restoran Karnivoria. Ia datang dengan kemeja kotak-kotak dan celana kain berwarna hitam. Perwira berkumis dan berambut belah pinggir ini telah menunggu selama hampir setengah jam di restoran tersebut. Dan ia tampak sangat gelisah; selain keselamatan keluarganya berada di ujung tanduk, ia juga duduk di tengah-tengah keramaian.

Ya, restoran Karnivoria memang dikenal sebagai salah satu restoran paling ramai di Jakarta, banyak anak muda yang nongkrong di tempat tersebut sekedar untuk melepas penat; dan hal tersebut berlangsung setiap hari. Di tengah situasi tersebut, Purnomo tidak akan tahu dari mana musuh akan datang. Bisa jadi pertemuan itu sekedar jebakan untuk mengeliminasinya. Itulah yang membuatnya cemas.

Meski demikian, Purnomo tidak datang sendirian. Ia ditemani oleh empat orang anggota TNI berpakaian sipil yang duduk beberapa belas meter dari mejanya. Mereka adalah prajurit bawahan Purnomo yang sengaja dipanggil untuk mengatasi situasi-situasi yang tak terduga. Saat ini, mereka hanya bertugas sebagai scout atau pengamat. Itu artinya mereka juga bertanggungjawab untuk mendeteksi bahaya yang mengincar Brigjen Purnomo.

Tak lama berselang, seorang wanita berjilbab dan berkacamata sontak muncul di hadapan Purnomo. Felicia, tentu saja. Jenderal bintang satu itu pun terperanjat. Pasalnya ia sedang fokus memperhatikan situasi di belakangnya, tiba-tiba saja ia sudah mendapati seseorang duduk di hadapannya ketika ia menoleh kembali. Dadanya seketika berdegup lebih kencang, rasanya seperti mau mati.

“K-kau? Y-yang meneleponku tadi siang?” tanya Purnomo gelagapan.

“Benar, Jenderal. Ada apa? Apakah kedatanganku mengejutkanmu?” Felicia menjawab santai.

“T-tidak juga. Aku hanya tak menyangka kau adalah orangnya. Berjilbab, berkacamata, dan tampak anggun … jadi beginilah gambaran anggota PIN di era modern saat ini. Kalian termakan stereotipe Hollywood, tampaknya.”

“Huh … ” Felicia mendengus sinis seraya merogoh-rogoh tasnya. “Aku tidak tahu Hollywood pernah menggambarkan wanita berjilbab sebagai agen CIA. Justru Hollywood tak pernah melihat yang seperti kami,” lanjutnya seraya meletakkan sebuah ponsel cerdas dan sebuah kotak kecil dengan tombol di atas meja.

Purnomo menatapi dua benda yang bertengger di atas meja dengan heran. Ia tak lagi peduli pada obrolan soal penampilan agen PIN. Ia paranoid. “Unggg, u-untuk apa ponsel dan tombol tersebut?”

“Perhatikan gambar pada ponsel ini, kau mengenali sesuatu?” tanya Felicia seraya menunjukkan gambar dot berkedip pada layar ponselnya.

Purnomo mengamati gambar dengan seksama. Awalnya ia tidak mengenali apapun dari gambar tersebut. Namun, sedikit demi sedikit keningnya mengenyit. Lalu jantungnya berdegup kencang. Pada akhirnya ia pun melihat keganjilan yang begitu jelas. Gambar tersebut merupakan peta tempat ia menyembunyikan anak dan istrinya jauh dari jangkauan Felicia. Dan dot berkedip pada layar ponsel tersebut merupakan representasi dari eksistensi istrinya.

“K-kau! Itu–“

“Benar, ini adalah peta tempat Anda menyembunyikan istri dan anak-anak Anda. Sekarang kau tahu mengapa aku datang terlambat, bukan demikian? Anda tidak bisa menghindari PIN, Jenderal. Kami diciptakan untuk melacak apapun yang kami mau.”

“B-brengsek. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan mereka? Aku mohon jangan libatkan mereka ke dalam permainan kotormu ini!”

“Anda lihat tombol ini, Jenderal?” tanya Felicia seraya mengangkat kotak kecil bertombol yang sebelumnya ia letakkan di atas meja. “Kutekan tombol merah ini dan … kaboom … lalu dot berkedip di peta ini akan menghilang. Anda tahu artinya ‘kan?”

“Sialaaan!” Purnomo merasa semakin terintimidasi. Namun ia tak bisa melakukan apapun terhadap keselamatan keluarganya. Ia terkungkung dalam situasi yang tak terduga. “Baiklah, baiklah! Terkutuk! Apa maumu?”

Felicia tersenyum. Ia pun kembali mengantongi ponsel serta tombol mikronya ke dalam tas. “Pertanyaanku sangat sederhana, Jenderal. Anda adalah sahabat Mayjen Rahmat Sukoco, menteri pertahanan yang dibunuh oleh Adam Sulaiman. Apakah sebelum kematiannya Rahmat sempat mencurahkan sesuatu kepadamu? Gelisah terhadap sesuatu atau semacamnya? Karena ada lima pejabat pemerintah lainnya yang dibunuh sebelum ia dibunuh.”

“K-keparat. Demi mendapatkan informasi tersebut kau harus repot-repot mengancam keluargaku, padahal kau tinggal datang dan bertanya–“

“Jawab saja, Jenderal.”

“O-oke. Rahmat memang mencurahkan sesuatu. Tentang sebuah operasi yang diprakarsai olehnya dan beberapa pejabat lain. Melihat kelima teman operasinya tiba-tiba mati misterius, ia pun datang padaku dan mencurahkan segalanya.”

“Operasi Antisakti?”

“Bukan. Kampung Rimbun. Kau tahu peristiwa itu ‘kan?”

Mendengar jawaban yang begitu jelas dan tanpa keraguan dari Purnomo, Felicia pun bersandar luruh di kursinya. Keningnya mengerut, ia kembali diliputi oleh teka-teki. Heran. Ia tahu peristiwa Kampung Rimbun, pembantaian yang memakan ribuan nyawa tak bersalah itu memang sedang menjadi sorotan publik. Ia hanya tak menyangka bahwa peristiwa tersebut yang memotori kemarahan Adam. Pertanyaannya adalah apakah pembantaian di Kampung Rimbun memiliki koneksi dengan Operasi Antisakti? Atau sama sekali berbeda dengan Operasi Antisakti?

“Biar kujelaskan situasinya, Jenderal. Adam adalah mantan agen rahasia Project SAKTI dan kami menduga bahwa ia membantai delapan pejabat karena mereka diduga memiliki keterkaitan dengan Operasi Antisakti–operasi hitam yang diciptakan untuk membubarkan Project SAKTI secara paksa. Kami menduga Adam masih dendam atas pembubaran tersebut dan kini memburu orang-orang Operasi Antisakti. Jadi pertanyaanku adalah apakah pembantaian delapan pejabat tersebut ada hubungannya dengan Operasi Antisakti?” Felicia berusaha mengonfirmasi.

“A-apa yang kau katakan? Versimu sama sekali berbeda dengan Rahmat. Ia tidak pernah menyinggung Operasi Antisakti, bahkan aku pun tak tahu apa itu Antisakti. Oke, aku memang pernah mendengar nama operasi tersebut dari intel TNI, tetapi aku sama sekali tak tahu apa itu Operasi Antisakti. Rahmat tidak pernah bilang. Ia hanya mengatakan bahwa ia yang bertanggungjawab atas operasi di Kampung Rimbun.

“Selain itu … Rahmat tidak mengatakan bahwa operasi Kampung Rimbun diprakarsasi oleh delapan orang. Setahuku hanya tujuh pejabat yang benar-benar terkait pada pembantaian tersebut. Aku tak tahu mengapa Adam membunuh delapan orang, mungkin satu korban lainnya merupakan pembunuhan dengan motif yang berbeda?”

Felicia kembali terdiam. Ia semakin kebingungan. Tak ada kesimpulan yang bisa ia ambil, benang malah semakin kusut. Mendengar penjelasan Purnomo, ia justru tersesat di dalam labirin misteri tanpa batas. Apa motif Adam sebenarnya? Mengapa ia membunuh delapan pejabat, bukan tujuh? Apakah Adam sudah mengikhlaskan kebrutalan Operasi Antisakti dan melampiaskan amarahnya pada orang lain?

Pertanyaan demi pertanyaan muncul hanya untuk menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Tak ada jawaban yang berarti. Felicia tak menyangka bahwa situasinya sedemikian kompleks. Oh well, renungnya, pemikiran para anggota Project SAKTI memang tak pernah simpel. Semestinya ia tak heran. Jika sudah demikian keadaannya, maka Felicia hanya punya satu opsi untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Datangi Adam.

Ya, itu adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk menguak kebenaran yang tersembunyi di balik bayang-bayang misteri. Akan tetapi, Felicia menyadari bahwa hal tersebut mungkin takkan mudah untuk ia lakukan. Buronan seperti Adam pasti takkan mempercayai siapapun, khususnya pada masa-masa perburuan seperti sekarang. Berbicara dengannya secara empat mata bukan hal yang mudah, kemungkinan besar akan terjadi baku hantam sebagai pembuka.

Felicia membulatkan tekadnya. Tak apa jika memang harus bertukar tinju dengan buronan nomor satu Indonesia tersebut, yang penting ia harus menemui Adam untuk mengetahui motif yang sesungguhnya. Semua yang dilakukan Adam tampak penting baginya, entah mengapa. Ia pun bangkit dari kursinya dan menatapi Purnomo dengan sinis. “Terima kasih atas informasinya, Jenderal. Semoga makan malammu menyenangkan.”

Tak lama kemudian, Felicia pun melipir pergi. Brigjen Purnomo sendiri belum sempat mengucapkan salam perpisahan dengannya. Keberadaannya sama sekali tak dihormati. Perwira, namun diperlakukan layaknya petugas sekuriti.

Kesal, Purnomo pun melayangkan pandangan kepada empat anggota TNI berpakaian sipil yang sedari tadi bersiaga di meja seberang. Entah apa arti dari pandangannya, tetapi tampaknya bukan sesuatu yang baik.

***

Felicia berjalan santai menyusuri sebuah gang kecil beberapa blok dari restoran Karnivoria. Ia menenteng tas coklatnya dengan feminin, gaya berjalannya bahkan tidak menyerupai seorang pembunuh sedikit pun. Padahal, sebelum ia menemui Brigjen Purnomo malam itu, ia telah menumbangkan empat agen profesional PIN dengan tangan kosong. Bukan main.

Entah apa alasannya memilih rute yang minim penerangan seperti itu, namun ia sama sekali tak tampak khawatir. Padahal, gang segelap itu bisa menjadi lokasi terjadinya kejahatan yang ideal; jauh dari pengamatan publik dan jarang dilalui oleh warga sekitar. Mungkin gang tersebut merupakan jalan pintas menuju suatu tempat? Entahlah.

Dan benar saja, begitu Felicia menginjakkan kaki di lokasi yang agak luas, muncul empat pria berbadan tegap dari berbagai arah. Mereka mengunci posisi Felicia, mengepungnya seperti babi hutan. Empat pria yang wajahnya tersamarkan oleh kegelapan itu pun mencabut pistol dari sarungnya masing-masing. Pistol yang mereka genggam dilengkapi dengan supressor untuk meredam suara tembakan.

Melihat situasi tersebut, Felicia segera menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sana-kemari dengan panik, wajahnya terlihat tegang. Ia sama sekali berbeda dengan Felicia yang menumbangkan anggota Inspeksi Umum PIN.

“Kau tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi, bukan demikian, wanita sok suci?” Dari balik tirai kegelapan, terdengar suara seorang pria membuka percakapan dengan Felicia. “Inilah yang kau dapatkan karena mengancam keselamatan keluargaku. Kau mendapatkan karma, nak.” Brigjen Purnomo, ia muncul perlahan dari sudut gang nan gelap.

“A-apa-apaan ini!? Pertemuan kita sudah selesai, ancaman pembunuhan terhadap keluargamu juga sudah tak berlaku. A-aku mengancammu agar kau mau berbicara, cuma untuk itu!”

“Tai kucing! Tanpa perlu mengancam keluargaku, kau bisa menemuiku dan berbicara baik-baik. Semua pertanyaanmu akan kujawab dengan lengkap!”

“U-ugh … ” Felicia pun mengangkat kedua belah tangannya sebagai tanda menyerah.

“Sudah terlanjur untuk meminta maaf. Karena kau telah mengancam keluargaku, hukuman bagimu adalah mati. Seandainya saja kita bisa berbicara baik-baik, tentu takkan berakhir nista seperti ini,” ujar Purnomo. “Baiklah, teman-teman, bidik wanita ini dan lubangi badannya sepuas hati,” lanjutnya kepada empat pria bersenjata yang berdiri mengelilingi Felicia.

“Jenderal, ini sama sekali bukan–ah, keparat!” Felicia tak sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang muncul beberapa meter di belakang Brigjen Purnomo.

“Hmm?” Purnomo dan keempat anak buahnya pun menoleh ke tempat yang sama. Mereka hilang fokus.

Tak lama kemudian, Felicia merangsek maju. Ia meninju rahang Purnomo dua kali secara berkesinambungan. Pukulan tersebut sontak membuat kepala Purnomo terguncang hebat, jenderal bintang satu itu pun lengah. Felicia segera mencengkram kedua rahang Purnomo dari belakang dan menghimpitkan sebuah pisau kecil di leher Purnomo. Ia menyandera seorang jenderal tanpa sempat diantisipasi oleh keempat anak buah sang jenderal, gerakannya begitu gesit.

“AAAAK–“

“Brigjen Purnomo … kau benar-benar mencari mati. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau membawa anak buah ke restoran? Kau pikir aku tidak tahu jika kalian mengikutiku? Itulah mengapa aku masuk ke gang gelap ini, Jenderal. Kalian mengikutiku, jadi kulayani kalian berkelahi di sini. Kau sama sekali tidak cerdas, pantas saja TNI sering dipecundangi militer luar negeri,” Felicia berhasil menipu seluruh anggota TNI yang berdiri di sana. Sebenarnya ia tidak melihat apapun sebelumnya, hal tersebut hanya merupakan trik untuk membuat musuh penasaran dan hilang fokus.

Keempat anggota TNI anak buah Purnomo pun panik. Mereka mengacungkan senjata ke arah Felicia, namun tak ada yang berani melepaskan tembakan. Resikonya terlalu besar. Jika mereka menembak dan mengenai Purnomo, mereka bisa dianggap kriminal besar–sama besarnya dengan Adam. Selain itu, posisi Felicia juga sangat sulit untuk dilumpuhkan, ia berdiri di belakang tubuh Purnomo dan posisi kepalanya sejajar dengan kepala Purnomo. Tidak ada celah bagi para anggota TNI untuk menembak.

“Jatuhkan senjata kalian, kawan-kawan. Kalian tahu bahwa yang berada di genggamanku adalah pejabat TNI. Kalau ia terbunuh, kalian akan dimasukkan ke dalam blacklist PIN sama seperti Adam Sulaiman. Tidak ada saksi di sini. Setelah kugorok leher Brigjen Purnomo, aku akan kabur dan membuat konspirasi agar dosaku menjadi tanggungan kalian berempat. Dan kalian takkan pernah lagi bisa makan, tidur, berak, dan melakukan seks dengan tenang. Bagaimana? Masih tidak mau meletakkan senjata?” pungkas Felicia kepada empat anak buah Purnomo.

“H-hei! K-kalian! Dengarkan kata-katanya! Letakkan senjata kalian! Aku tidak mau mati konyol karena kebodohan kalian. Ini bukan film action-drama, letakkan senjata kalian dan menyerahlah!” sang jenderal menimpali. Perintahnya tentu akan lebih didengar oleh keempat anak buahnya.

Keempat anggota TNI berpakaian sipil tersebut saling pandang selama beberapa saat. Dilema. Tak ada kata terucap, lidah mereka kelu. Namun, pada akhirnya, mereka pun menuruti kemauan Felicia. Pistol mereka diletakkan di atas tanah secara perlahan-lahan, kemudian mereka mengangkat kedua belah tangan sama seperti yang Felicia lakukan sebelumnya. Menyerah oleh keadaan.

“Bagus!” Felicia tersenyum lebar.

Melihat peluang yang begitu besar, Felicia segera beraksi. Ia menyodok sisi leher Purnomo dengan gagang pisaunya, lalu melemparkan pisau kecil tersebut kepada prajurit TNI yang berdiri cukup jauh darinya. Sang prajurit tak sempat mengantisipasi serangan. Pisau menerjang dada sang prajurit, membuat sang prajurit tersungkur luruh, namun tak mati.

Sementara itu, Brigjen Purnomo langsung tersungkur begitu menerima hantaman keras di lehernya. Pukulan Felicia tampaknya berhasil mengenai syaraf tertentu di lehernya.

Serangan berlanjut. Felicia menghampiri prajurit kedua yang berdiri tepat di samping korban pertama. Ia datang dengan langkah yang sangat cepat.

Sang prajurit sadar bahaya menghampiri dirinya. Ia pun mencabut pistol cadangan dari balik celananya. Pistol tanpa peredam model Walther. Senjatanya lebih kecil kali ini, namun akibatnya akan tetap fatal.

Namun, antisipasi tak sempat dilaksanakan. Felicia sudah lebih dulu berdiri di hadapan sang prajurit.

DRAK! Felicia mengentakkan kakinya di pergelangan sang prajurit. Bidikan sang prajurit pun meleset. Felicia lantas mendekap leher sang prajurit dari belakang dan memaksa tangan sang prajurit untuk membidik ke arah dua prajurit lain yang masih berdiri kokoh di hadapannya.

KA-BLAM! KA-BLAM! Tembakan pun dilepaskan. Felicia berhasil melubangi dada prajurit ketiga dan keempat melalui pistol yang masih berada pada genggaman prajurit kedua. Dua prajurit yang tak sempat bertindak itu pun jatuh melutut, terentak oleh timah panah yang menembus dada keduanya.

Felicia lantas melanjutkan aksinya pada prajurit yang tengah ia sandera. Ia segera mendekap kepala sang prajurit seraya berjongkok. Posisi tersebut membuat sang prajurit kehilangan daya dan upayanya untuk melawan. Napas sang prajurit pun hilang perlahan. Sedikit demi sedikit, akhirnya sang prajurit pun tak sadarkan diri. Pingsan akibat tidak cukup oksigen yang tersuplai ke otaknya.

Dua prajurit tumbang, sementara dua prajurit lainnya hanya mengalami cidera ringan. Prajurit ketiga dan keempat bangkit setelah sebelumnya terjatuh melutut. Rupanya, kedua prajurit tersebut mengenakan rompi antipeluru di balik jaket kulit yang mereka kenakan, sehingga tak mempan oleh tembakan Felicia sebelumnya. Mereka hanya sedikit terentak, namun efeknya tak fatal.

“Bah, merepotkan … ” keluh Felicia.

Kedua pejuang terakhir tak gentar melawan Felicia. Berbekal pengalaman bertarung di atas arena beladiri, mereka menghadapi Felicia dengan gagah berani. Keduanya saling melepaskan pukulan secara berkesinambungan, namun Felicia berhasil menepis kedua pukulan pembuka tersebut.

Keadaan pun berbalik. Felicia segera mengguyur kedua lawannya dengan serangan yang serba keras dan cepat. Wanita berjilbab tersebut menghancurkan mental dan fisik kedua prajurit dalam hitungan detik. Kedua prajurit beberapa kali mencoba menyerang balik, namun semua serangan berhasil diantisipasi oleh Felicia.

Sampai pada akhirnya, pertarungan yang tak berimbang itu pun mencapai klimaksnya.

2

Felicia segera menendang kemaluan prajurit ketiga, lalu melanjutkan serangannya dengan menumbukkan kepala prajurit keempat ke dinding. Kedua prajurit itu pun tersungkur, lengah tak berdaya. Lantas, Felicia menutup serangannya dengan menyepak wajah kedua prajurit. Keras, namun tak mematikan.

Pingsan.

Pertarungan pun usai hanya dalam hitungan detik. Felicia lantas berdiri mematung menatapi empat orang pria yang terbujur luruh ditambah dengan seorang pejabat TNI yang masih pening akibat pukulannya. Ia sama sekali tak tampak kelelahan setelah bergerak seperti kesetanan, napasnya bahkan terdengar sangat teratur.

Puas mendapati kemenangan telak di depan matanya, Felicia menghampiri Purnomo yang masih berbaring luruh di atas tanah. Ia mengambil tasnya kembali, lalu berdiri mematung menatapi jenderal bintang satu tersebut. Begitu saja yang ia lakukan selama beberapa saat, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk merogoh tas keibuannya. Ia mengeluarkan sebuah smartphone dan sebuah kubus bertombol sebesar penghapus pensil. Tentu saja, kedua benda itu merupakan dua benda yang dipamerkan di restoran Karnivoria sebelumnya.

“Jenderal, kau tahu apa yang akan terjadi jika kau berniat membunuh agen lapangan PIN, kan?” tanya Felicia santai.

“T-tolong. Ja-jangan sakiti keluargaku. Mereka sama sekali tak terkait pada permasalahanku di TNI. A-aku mohon, tinggalkan mereka dengan damai,” jawab sang jenderal memelas.

“Sama seperti yang kau bilang, Jenderal … sudah terlambat untuk minta maaf,” Felicia menunjukkan layar ponselnya kepada Purnomo. Tak lama kemudian, ia pun menekan tombol kecil yang ia genggam di tangan kirinya. “Kaboom … ” lanjut Felicia menirukan suara ledakan seraya berbisik. Dot yang sedari tadi berkedip di layar ponselnya pun lenyap.

“TIDAAAK! TIDAAAAAAK!” Purnomo geram. Ia tak bisa menyembunyikan kepiluannya. Napasnya menjadi sangat tak teratur, bahkan jantungnya berdegup tak karuan. Ia lantas mengangkat tubuhnya secara perlahan, bangkit dari posisinya dengan langkah nan goyah, lalu berupaya menyeruduk Felicia sekuat tenaga. “ANJING KAU! ANJING! ANJIIING!” teriaknya seraya merangsek seperti beruang.

Namun, serangan Purnomo tak memberikan ancaman yang berarti bagi Felicia. Wanita sadis berparas cantik tersebut hanya menggeser tubuhnya sedikit, lantas menyepak kaki Purnomo hingga tersungkur dramatis ke atas tanah. Jatuh terlungkup.

Purnomo bangkit lagi, ia mencoba serangan yang sama, namun hasil akhirnya pun tetap sama. Ia terus-menerus mencoba serangan tersebut selama beberapa kali, namun tetap gagal. Ia tertekan. Depresi berat.

Sampai pada akhirnya Felicia memutuskan untuk menjegal kaki Purnomo dan menyambungnya dengan sebuah tinju keras ke arah pundak. KRRRK! Pundak Purnomo mengalami dislokasi, jenderal bintang satu itu pun meringis kesakitan di atas tanah. Ia tak bisa bangkit lagi, hanya bisa menggelepar, menjerit … dan menangis. Sebagai seorang tentara yang seharusnya bisa menjamin keselamatan keluarganya, Purnomo justru merasa tak berguna.

Felicia menghela napas panjang. Ia membiarkan sang jenderal meronta-ronta seperti anak kecil selama beberapa saat. Tatapannya sama sekali tak menggambarkan perasaan iba. Ia tampak santai.

Tak lama berselang, Felicia akhirnya berjongkok di samping Purnomo. Ia menunjukkan layar ponselnya kepada sang jenderal dan menekan tombol yang sama sekali lagi. Tak lama kemudian, dot berkedip yang sempat menghilang itu pun kembali muncul. Ajaib!

Melihat fenomena mencengangkan di depan matanya, kening Purnomo pun mengerut. Ia kebingungan. Tidak, lebih tepatnya: MALU. Sudah berlinang airmata, ternyata hanya dipermainkan.

Felicia melempar tombol kecilnya ke atas tanah, tepat di depan wajah Purnomo. Ia tampak sudah tak peduli lagi pada benda kecil tersebut. “Itu hanya tombol untuk menyalakan dan mematikan internet di ponselku. Dot berkedip yang berada di layar ponselku muncul dari sinyal GPS yang di-broadcast oleh ponsel istrimu. Dan tentu saja … untuk bisa melihat dot tersebut tetap berkedip, kau butuh internet.”

Purnomo terhenyak selama beberapa saat. Ia menghembus-hembuskan napasnya secara tak beraturan. Ia benar-benar ditipu. “J-jadi … tidak ada … bom?”

“Heh, pada akhirnya kau yang terlalu banyak menonton film Hollywood, Jenderal. Hanya dengan melihat dot berkedip pada ponselku, kau langsung berpikiran bahwa aku memasang bom di sekitar rumahmu,” ujar Felicia bangkit dari posisinya. “Aku mungkin pembunuh, tetapi aku tidak sesadis itu.”

“L-lalu, bagaimana caranya … kau bisa mendapatkan sinyal GPS dari ponsel istriku?”

“Mudah saja, aku mengikutimu saat kau memindahkan istri dan anak-anakmu ke tempat persembunyian. Aku tahu kau pasti akan melakukan hal tersebut untuk menjauhkan mereka dari ancaman. Lalu, setelah kau pergi bersama dengan keempat anak buahmu, aku mencoba untuk melacak sinyal ponsel istrimu dengan semacam alat penangkap sinyal yang kubuat sendiri. Alat tersebut hanya mampu menangkap sinyal dari jarak sekitar 100 meter, itulah sebabnya aku harus berada sangat dekat dengan tempat persembunyian rahasiamu. Dan voila! Aku mendapatkan sinyal ponsel istrimu walaupun harus bersusah payah. Itulah mengapa aku datang terlambat malam ini.”

“U-ugh … ” Purnomo merasa dipermainkan. Malu setengah mati. Ia pun menghadapkan wajahnya ke atas tanah, seakan enggan menunjukkannya lagi kepada dunia. “S-siapa kau sebenarnya?”

Felicia terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan Purnomo. “Kau tahu siapa nama asli Adam Sulaiman? Aku yakin kau tidak tahu. Ia tak punya nama, ia adalah subjek eksperimen pemerintah yang kemudian dilabeli dengan kode Subject 09 atau Subjek Sembilan. Kalau kau bertemu dengannya dan terlibat baku hantam dengannya, kau pasti melihat kemiripan antara gaya bertarungku dengan gaya bertarungnya … “

Purnomo tak menjawab, ia hanya melirik Felicia dengan heran. Ia merasa pertanyaannya belum terjawab.

” … itu karena aku datang dari tempat yang sama dengannya. Aku adalah Subject 17,” pungkas Felicia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman.

Purnomo tetap terdiam, ia tak berkomentar sepatah kata pun. Hanya saja kali ini berbeda. Wajahnya tak lagi menunjukkan kerut-kerut penuh tanda tanya, justru malah terlihat ketakutan. Napasnya kembali terdengar tak beraturan. Ia hanya sanggup menelan ludah. Ia sadar bahwa ia tengah berhadapan dengan salah satu orang paling tangguh seantero Nusantara, bahkan mungkin setara dengan Adam.

Tak lama kemudian, Felicia kembali berjongkok. Ia menahan kepala sang jenderal agar tetap menghimpit tanah.

“Jenderal, aku tidak akan membunuhmu. Akan tetapi, kau tak seharusnya mengetahui tentang diriku. Jadi, maaf, aku akan menyuntikmu dengan sebuah obat yang akan membuatmu amnesia secara parsial; kau akan pingsan dan ketika terbangun kau akan lupa dengan semua hal yang telah kau lalui hari ini. Ini adalah obat yang digunakan oleh CIA pada proyek MKULTRA. Jadi, kau tak perlu takut mati, obat ini hanya akan membuatmu lupa,” ujar Felicia seraya menggenggam suntikan dari tasnya.

“Urrk–jangan–“

Felicia pun menyuntikkan obatnya ke leher Purnomo. Ia tak mempedulikan permintaan terakhir sang jenderal. Purnomo lantas melemas, lidahnya kelu, dan akhirnya tak sadarkan diri. Masih bernapas, namun tak sadarkan diri.

Perseteruan malam itu pun resmi usai. Felicia bangkit dari posisinya, memasukkan suntikannya kembali ke dalam tas, lalu menatapi setiap orang yang terbujur kaku di gang tersebut. Perasaan bersalah pun perlahan-lahan merajang hatinya ketika malam telah kembali menjadi tempat bersemayamnya kedamaian. Ia menggeleng-gelengkan kepala seraya memijit-mijit batang hidungnya, sama seperti saat ia menumbangkan tiga anggota Inspeksi Umum PIN sebelumnya. “Tuhan, maafkan aku … “

Felicia pun berjalan santai meninggalkan tempat kejadian perkara. Ia tak bisa berdiam di gang tersebut lebih lama lagi, orang-orang pasti akan memenuhi gang tersebut dalam waktu dekat. Wanita anggun tersebut lantas menghilang di balik tirai kegelapan. Identitasnya kembali tersamar di balik bayang-bayang misteri.

Beberapa jam kemudian, terdengar kabar bahwa Subject 09 alias Adam terlibat kejar-kejaran dengan aparat keamanan di tol Cikampek.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *