39.1 – Prince’s Throne: Motherland


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

BACA CERITA PRINCE’S THRONE YANG LAIN DI SINI!

BARU PERTAMA KALI BACA SUBJECT 09? BACA DARI AWAL DULU!


Aoyama Private High School, Nishinari, Osaka
16.05

Ini adalah kisah sebelum Prince bertemu dengan Megumi Adachi …

Tak ada yang istimewa dari sore hari itu. Jadwal sekolah telah usai, seluruh murid SMA Aoyama pun lekas-lekas bersiap untuk aktivitas pascasekolah. Ada yang langsung bergegas pulang, ada pula yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sampai menjelang malam hari. Tak ada yang aneh. Semua berjalan seperti biasa.

Prince, siswa kelas 2 SMA yang berparas campuran Melayu oriental tersebut menjadi salah satu murid yang tidak mengikuti kegiatan apa pun selepas aktivitas belajar-mengajar. Ia begitu terfokus kepada ponsel sentuh yang sedari tadi ada dalam genggamannya. Bahkan, ia terus bergerak ke gerbang sekolah tanpa menoleh ke depan sama sekali.

Sesekali Prince menggeser layar ponselnya dengan cepat, tetapi ia lebih banyak terpaku pada tumpukan teks yang tiba-tiba saja mengebom tampilan ponselnya. Dahinya sampai berkerut menatapi rentetan informasi yang saling tumpang tindih.

Lokasi ‘mereka’ dekat?

“Hei, Prince … ”

Belum sempat Prince memproses rangkaian data yang berderet di atas layar ponselnya, seseorang tiba-tiba memanggilnya tepat di samping gerbang sekolah. Seperti suara seorang gadis remaja, lebih tepatnya.

Terang saja, Prince segera mengangkat kepalanya, menghapus segala kerutan pada keningnya. Ia bergegas menoleh ke arah sumber suara.

Oh.

Prince bisa melihat lawan bicaranya dengan jelas. Ia berhadapan dengan gadis remaja SMP sedang bersandar di balik dinding. Gadis itu berambut pendek, hampir seperti gaya rambut laki-laki, tetapi memiliki paras yang feminin.

“Hanazawa-san … ” ujar Prince agak terkejut. “Koko de, nani o shite iru?” ia bertanya apa yang dilakukan sang gadis di sana.

“Sudah kubilang jangan bersikap formal,” ujar sang gadis remaja. “Panggil Hazuki saja. Tidak usah pakai panggil nama keluargaku.”

Rupanya, gadis itu adalah Hazuki Hanazawa, ia adalah putri pengusaha sayur sukses di Jepang, Takeshi Hanazawa. Prince dan Hazuki memiliki sejarah hubungan yang unik, mereka sudah dekat bahkan sebelum para gadis di SMA Aoyama mengungkapkan perasaan kepada Prince [1].

NB: [1] Kamu lupa? Baca episode 12.5

“Oh, Hazuki … ” Prince memandangi wajah Hazuki dengan heran. “Apakah kau semakin pendek?”

“J-JANGAN MELEDEK, DEH!” omel Hazuki meneriaki rekan bicaranya. “A-aku tahu aku pendek, tapi suatu hari aku akan tinggi, mite miyo ne!” Lihat saja nanti, ancam Hazuki.

Prince pun menepuk pundak Hazuki seraya mengembuskan napas lega. “Shinjiteru yo! Ganbare!” Prince percaya dan ia menyemangati Hazuki.

“AAAAAA, K-KAU MASIH TERDENGAR SEPERTI MELEDEK!” Hazuki melompat-lompat di tempatnya dengan kesal.

Prince pun mengusap-usap tengkuknya seraya tersenyum jahil. “Sudahlah. Ada yang lebih penting daripada tinggi badanmu. Sebenarnya, apa yang kau lakukan di sini?”

Hazuki mengembuskan napas panjang. Pasrah dengan sikap Prince yang terlalu acuh. “Aku … bosan! Ayah dan ibu mungkin tidak pulang malam ini, mereka ada bisnis di luar kota. Jadi … aku datang ke sini untuk mengajakmu makan es krim di Nishi Square. Di sana ada es krim enak, aku traktir deh!”

“Oh, Nishi Square?” Prince buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar ponsel. Keningnya menggulung, tetapi tak seintens sebelumnya. Ia membiarkan percakapan itu berbalut kebisuan selama beberapa saat.

Ada apa?

“Oi. Kau dengar aku tidak?” tanya Hazuki seraya menatapi wajah Prince cukup dekat.

“Dengar, kok … ” Prince pun menyingkirkan ponselnya; memasukkannya kembali ke dalam saku. “Aku hanya sedikit heran. Kenapa kau tiba-tiba ingin makan es krim denganku?”

“H-hei, tidak bolehkah aku mengunjungi orang yang telah menyelamatkanku!?” protes Hazuki. “B-bagaimanapun, aku sudah berutang nyawa padamu, biarkanlah aku sesekali membayar utang tersebut,” lanjutnya malu-malu seraya membuang muka.

“Insiden penculikan itu sudah berlalu sebulan lebih, kupikir kau sudah lupa.”

“B-bagaimana aku bisa lupa!? Kau yang menggendongku keluar dari markas para mantan polisi tersebut … ” ujar Hazuki. “KEMUDIAN KAU KENTUT! U-uggggh, itu sangat merusak suasana!”

Prince pun tertawa hingga tersingkap gigi-giginya. Ia tampak senang mencandai gadis SMP di hadapannya. Sama sekali tak seelegan seperti saat berhadapan dengan gadis-gadis yang belum ia kenal dekat.

Yosh,” Prince membulatkan keputusannya. “Aku luang sore ini. Mari kita makan es krim.”

Hazuki pun tersenyum benderang. Ia tersipu. “Baiklah! Ayo kita berangkat!”

Dua murid yang terpagut usia beberapa tahun itu pun berjalan berdampingan. Sejuk, tetapi tidak ada kesan romantis. Keduanya lebih tampak seperti pasangan adik dan kakak. Mereka meninggalkan area sekolah, disambut oleh dedaunan yang berguguran tertiup angin.

“Serius, Hazuki … aku merasa kau bertambah pendek.”

U-URUSAI!

***

Nishi Square
16.35

Hazuki menjilati es krim cokelatnya dengan beringas. Ia lebih tampak seperti orang yang kelaparan ketimbang ingin menikmati suasana. Di saat yang sama, Prince hanya bisa menatapi rekan pulang sekolahnya dengan sorotan penuh tanda tanya, sementara ia menjilati es krimnya dengan cara yang lebih manusiawi.

Pasangan kakak beradik yang tak resmi itu duduk berdampingan di sebuah bangku taman. Tidak ada rasa malu apalagi gugup di antara keduanya, mereka tampak begitu natural.

“Hei, Hazuki … kau belum makan dari lahir?” tanya Prince menggoda Hazuki.

“Mmmmh! Mmmmh!” Hazuki seolah tak peduli pada cemoohan lawan bicaranya. “Es krim ini … memang paling enak … kalau dinikmati seperti ini!”

“Hmm, aku jadi teringat acara di televisi National WILDLIFE.”

Hazuki berhenti menjilati es krimnya. Ia menatapi Prince dengan kedua mata menyipit.

“Aku teringat hewan Vermilingua–”

“J-JANGAN KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU! Aku tahu Vermilingua pemakan semut! Lidahnya brutal, iya, aku tahu kau mau mengejekku!”

“Wah, kau tahu? Sasuga!” Prince menepukkan kedua tangannya dengan tidak meriah. “Ternyata kau memang anak yang pintar.”

“Oi, kau berpikir aku sebodoh apa, sih!?” pungkas Hazuki seraya kembali menjilati es krimnya. “Aku suka menonton acara satwa. Aku ingin menjadi ahli satwa suatu hari nanti!”

“Heee, sughoi! Ganbare!” Prince lagi-lagi menepuk pundak Hazuki.

Tak ada pertukaran kata sesaat setelahnya. Prince dan Hazuki kembali menikmati es krim dengan hikmat. Suara keramaian manusia dan gemerisik dedaunan adalah lantunan irama yang menemani kedamaian sore itu.

“Hei, Prince. Aku ingin bertanya sesuatu,” Hazuki kembali memulai pembicaraan.

“Hmm?” Prince melahap es krimnya.

“A-aku ingin mengetahui negara asalmu lebih jauh. Maksudku, Indonesia sebelum perang,” cetus Hazuki. “Eh, benar, kan? In-do-ne-sia?”

Sono toori desu. Indonesia. Pengucapanmu sempurna,” jawab Prince tersenyum. “Kenapa tiba-tiba ingin tahu soal Indonesia? Nilai geografimu jelek?”

Hazuki tak lekas menanggapi pertanyaan sarkas lawan bicaranya. Ia malah menepak pundak Prince, tetapi tidak keras. “J-jangan membicarakan nilai geografiku. Aku serius, nih.”

“Hmm, sokka … ” Prince mulai menggigiti cone yang menopang es krimnya. “Apa yang ingin kau tahu dari Indonesia?”

“K-kau tahu, tak banyak temanku yang tahu di mana Indonesia berada,” papar Hazuki malu-malu. “Aku juga sebenarnya tidak tahu, sih … ” gumamnya tak jelas.

“Jadi, ini benar-benar karena nilai geografi. Sokka–

“B-BERISIK! AKU CUMA INGIN TAHU!”

“Kau mungkin jarang mendengar nama Indonesia, tetapi kau mungkin sering mendengar nama Jakarta. Bukan begitu?”

Hazuki menatapi lawan bicaranya dengan seksama. Ia mengangguk-angguk. “Ayah sering berbisnis ke Jakarta. Apakah Jakarta itu adalah Indonesia?”

“Jakarta itu ibarat Tokyo bagi orang Jepang,” ucap Prince tersenyum. “Jadi, silakan simpulkan sendiri, apa artinya Jakarta bagi orang Indonesia.”

“E-eh? Anooo, a-apakah itu berarti Jakarta adalah ibu kota Indonesia?”

Hai, so desu!” Prince membenarkan jawaban Hazuki.

“Heee, sou desu ka? Aku sama sekali tidak belajar soal itu di sekolah,” Hazuki melahap bagian terakhir dari es krimnya. Ia mengunyahnya perlahan-lahan.

“Jepang dan Indonesia punya hubungan yang sangat unik pada masa perang dunia kedua. Kau tidak pernah tahu soal itu?”

Iie. Atau jangan-jangan aku lupa? Entahlah,” Hazuki menggaruk-garuk kepalanya. “Lanjut, deh! Menurutmu … apa yang paling indah dari negaramu, Prince?”

“Hmm … ” Prince termenung. Ia tertunduk sambil mengurut-urut dagunya. “Kalau pertanyaannya tentang siapa yang paling indah, kurasa jawabannya adalah ibuku.”

“Heeee!?” gadis berambut pendek di samping Prince itu segera memandangi lawan bicaranya dengan drastis. Terenyak. “Ibumu!?”

Haii,” pemuda berdarah Indonesia itu lantas mengeluarkan selembar foto dari saku seragamnya. Ia menunjuk wanita berparas supercantik yang terpampang pada foto tersebut. Wanita itu tampak seperti memiliki darah campuran dengan artis Jepang atau Korea. “Ini dia. Namanya Verani Anindita Mentari. Coba ucapkan namanya, kau bisa merasa dia lebih cantik daripada sebelumnya.”

“E-eh? V-V-Verani Angditta–”

“Ah, hanya bercanda, aku hanya ingin mendengar kau berbicara terbata-bata.”

Hazuki lagi-lagi menepak punggung pemuda yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya tersebut. Kali ini sedikit lebih keras. “B-BAKAAAA!” Bodoh, katanya.

Prince tak peduli pada tepukan di belakang pundaknya, ia malah tertawa dan memasukkan kembali foto ke dalam saku seragamnya.

” … d-demo, ibumu benar-benar cantik. A-aku pun sampai tersipu melihatnya, cantik sekali. Baru kali ini aku melihatnya,” gumam Hazuki.

“Benar, kan?” tanya Prince berbasa-basi. “Kalau ada wanita yang cocok dikatakan sebagai cinta pertamaku, aku akan memilih ibuku. Tentu saja, aku jatuh cinta padanya sebagai seorang anak. Ia tak hanya indah dipandang mata, tetapi juga indah untuk dikenang.”

Hazuki lantas mengalihkan pandangannya. Ia tercenung sejenak. “Gomen, Prince. Sebenarnya aku sudah sempat mendengar kisah tentang ibumu dari ayah, sih.”

” … ” Lidah Prince kelu. Ia pun mengembuskan napas panjang sembari merajut senyum yang tercecer sejenak waktu. “Daijobu. Itu bukan sebuah kesalahan, semua orang boleh penasaran, kan?” tidak apa-apa, katanya.

Hening. Canggung.

Hazuki sontak tertunduk, ia tak ingin merespon ucapan kakak tak resminya. Prince pun menengadah dalam diam. Keduanya tak berujar. Benak mereka terhujam oleh memori-memori tentang peperangan besar yang memporak-porandakan tanah Nusantara sejak lima tahun lalu.

Perang mengacaukan segalanya.

Akan tetapi, renungan hanyalah renungan. Sekadar singgah sejenak waktu.

Di tengah pikiran yang berkecamuk itu, Prince mendapati seorang wanita sedang berjalan ke arahnya. Matanya mendelik, memerhatikan situasi dengan seksama. Wanita itu tampak gugup. Tidak, wanita tersebut justru tampak tak sehat.

Wanita bule?

Tak salah lagi, Prince sadar ada wanita bule yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu membawa setumpuk barang di tangannya, seperti petugas sales. Prince lekas-lekas mengembalikan posisi kepalanya secara normal dan bersiap-siap menyambut kedatangan sang wanita dengan sopan.

H-Hello, guys … ” sang wanita menghampiri tempat Prince dan Hazuki duduk dengan gugup. Ia berbicara dalam bahasa Inggris. “Maaf mengganggu kalian. Aku hanya ingin bertanya–”

Belum sempat sang wanita menyudahi ucapannya, Prince bangkit dari tempat duduknya. Anehnya, ia malah ditabrak oleh si wanita bule. Benar-benar ditabrak, amat keras. “H-hey, madam! What’s wrong!?” Prince terheran-heran. Ia bertanya apa yang terjadi.

N-NAZE!?” Hazuki pun terperanjat. Gadis itu juga langsung meninggalkan tempat duduknya.

Rupanya si wanita bule tidak sengaja menabrak Prince, tetapi kehilangan kesadaran di tengah perjalanannya! Wanita misterius itu memang terlihat gugup sedari awal, lantas tiba-tiba saja terkulai luruh pada pelukan Prince.

Apa yang sesungguhnya terjadi!?

Tanpa pikir panjang, Prince pun menyandarkan sang wanita di bangku tempat ia duduk sebelumnya. Ia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik, menatapi orang-orang yang juga kebingungan di sekitar sana. “P-panggil polisi! Panggil polisi! Ada orang pingsan!” serunya, kembali dalam bahasa Jepang.

Tak butuh waktu lama, sejumlah personel kepolisian tiba di lokasi kejadian. Mereka datang dengan langkah yang agak tergesa-gesa. Para polisi tersebut adalah petugas yang kebetulan memang bertugas di sekitar Nishi Square. Tak pelak, orang-orang di sekitar sana pun berkerumun memerhatikan wanita bule yang pingsan di bangku taman.

Prince menjauhkan Hazuki dari titik kejadian. Mereka keluar dari kerumunan yang semakin ramai. Prince tahu Hazuki bisa syok.

“Hazuki, kita tinggalkan saja gaijin tersebut. Polisi sudah datang, kok,” Prince memberi saran.

H-hai. S-soda ne!” Hazuki menyetujui usulan lawan bicaranya.

Prince dan Hazuki pun berjalan meninggalkan lokasi terjadinya peristiwa yang tak diduga-duga tersebut. Sebelum polisi bisa menanyai keduanya, mereka sudah lebih dulu menghilang. Pasangan pelajar itu membiarkan situasi menjadi lebih ramai, tetapi mereka sama sekali tak tertarik untuk ikut campur.

***

Nishi Fun Market
17.09

“Mengejutkan sekali kejadian tadi,” seloroh Hazuki seraya berjalan santai dan menyandarkan kepala di atas kedua tangannya. “Kupikir akan ada masalah besar lagi, aku sudah tegang.”

Setelah mendapati insiden orang pingsan di Nishi Square, Hazuki dan Prince malah berakhir di sebuah pasar yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari lapangan publik tempat mereka makan es krim. Pasar itu penuh dengan lapak makanan dan mainan. Tidak seperti Nishi Square yang amat luas, pasar itu terlihat lebih sempit dan penuh sesak.

“Bersyukurlah karena tidak ada apa-apa, Hazuki,” ujar Prince seraya memerhatikan situasi di sekitarnya.

“A-apa yang sebenarnya terjadi pada wanita tadi? Mengagetkan sekali! Apakah ia mengalami gagal jantung?”

” … ” Prince tak tahu-menahu. Ia sekadar memindai situasi di sekitarnya. Sesekali menatapi lapak-lapak dagang, sesekali memerhatikan para pengunjung pasar yang tak ia kenal.

“Semoga kunjungan kita ke sini bisa mengganti keanehan di Nishi Square tadi, deh! Untung saja pasar ini tidak terlalu jauh.”

“Ya, kuharap juga begitu. Kau sudah jauh-jauh datang ke sekolahku, kasihan sekali kalau hanya bertemu masalah.”

“Jauh-jauh bagaimana? Sekolahmu dan sekolahku bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki, tahu!” ujar Hazuki. “K-kau saja yang tak pernah datang mengunjungiku,” gerutunya.

“Bukankah kau yang bilang untuk tidak mengunjungimu di sekolah?” Prince bertanya balik. “Katamu kau takut aku akan dianggap sebagai pacarmu atau apalah oleh teman-temanmu.”

“O-OIIII, J-J-JANGAN MENGARANG CERITA, YA!” Hazuki menunjuk-nunjuk wajah rekan pulang sekolahnya. “A-aku bilang aku mau pulang cepat, naik kereta, ke arah yang berbeda denganmu! Itu alasannya!”

Okashii na,” Prince menggaruk-garuk pipinya seraya menerawang ke langit luas. Ia merasa aneh. “Rasanya aku pernah mendengar kau mengatakan hal yang berbeda.”

M-moi yoo!” Hazuki bertolak. Ia meminta Prince melupakan kata-katanya. “D-daripada membicarakan soal sekolahmu dan sekolahku, lebih baik kita membahas tentang negaramu lagi. Aku belum selesai, lho!”

“Kau penasaran sekali dengan negaraku. Ada apa, sih?”

N-nande monai!” tidak ada apa-apa, cetus Hazuki. “A-aku mau bertanya saja, kok! Masa tidak boleh?”

Prince mengembuskan napas panjang. “Hmm. Apa lagi sih yang ingin kau ketahui?”

“Hmm, mumpung sedang di pasar penuh jajanan seperti ini, aku jadi ingin tahu jajanan apa yang sangat khas di Indonesia?”

“Jajanan khas?” tanya Prince kebingungan. “Ada banyak jajanan khas di Indonesia, Hazuki. Aku tak tahu jajanan mana yang kau tanyakan.”

“Eh? Maksudnya bagaimana?”

Prince menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Indonesia itu hampir mirip seperti Jepang. Itu adalah negara yang terdiri atas beberapa pulau, hanya saja berukuran lebih besar. Setiap pulau, memiliki karakteristiknya masing-masing. Bahasa, budaya, bahkan makanan khasnya pun berbeda-beda,” papar Prince. “Jadi, kalau kau bertanya tentang makanan khas Indonesia, kau perlu menyebutkan dulu, dari daerah mana? Setiap daerah punya ciri kulinernya masing-masing. Kalau ditotal mungkin bisa ratusan, bahkan ribuan!”

“E-eeeh?” Hazuki tampak kebingungan. Ia tak tahu Indonesia punya banyak jenis makanan khas. “K-kalau begitu sebutkan makanan favoritmu saja, deh!”

“Makanan favoritku adalah ‘ketoprak’.”

D-dou yatte … ?” Hazuki kebingungan, ia bertanya bagaimana cara mengucapkan nama makanan yang baru saja disebutkan oleh Prince. “K-k-ket … purakku?”

“Percuma. Kau takkan bisa menyebutkannya.”

“PRINCE, AKU INJAK KAKIMU, YA!” omel Hazuki. “M-mana mungkin aku bisa menyebutkan nama makanan sedemikian susah!?”

“Menyebutkannya mungkin susah,” ujar Prince sumringah. “Akan tetapi, meraciknya akan lebih mudah bagimu.”

” … oh, jenis jajanan murah yang bisa kau buat di mana saja, ya?”

“Sebenarnya dibilang mudah juga tidak, tetapi siapa pun bisa membuatnya jika mau mempelajarinya. Tidak butuh waktu seminggu untuk menjadi ahli membuat jajanan tersebut.”

“Heee, menarik juga,” Hazuki mengusap-usap dagunya. “Kau perlu menunjukkan resepnya kepadaku, Prince!”

“Memangnya kau bisa masak?”

“B-BISA, LAH! KAU MAU KUHAJAR, YA?”

Prince sontak menutup mulutnya untuk membendung seringai yang begitu lebar pada wajahnya. Ia berusaha menahan tawa akibat kehebohan gadis SMP di sampingnya.

Akan tetapi, bincang-bincang santai itu tak berlangsung selamanya.

OH MY GOD!” Hazuki tiba-tiba saja berseru dalam bahasa Inggris. Dialeknya terdengar tak sempurnaMatanya juga terpaku ke satu lokasi tertentu.

“Hmm? Nani, Hazuki?” Prince jadi terheran-heran.

“BONEKA BERUANG BERUKURAN JUMBO! AKU INGIN!”

Hazuki menunjuk ke sebuah lapak permainan tembak-menembak yang berdiri tepat beberapa meter di hadapannya. Ada boneka beruang berukuran besar menggelantung di depan lapak tersebut. Sepertinya hadiah utama. Untuk mendapatkannya, pemain hanya perlu mengumpulkan sejumlah poin dari menembak target dengan tepat. Poin dari tembakan itu nantinya akan dikumpulkan untuk mendapatkan hadiah.

“Hmm, harus kita apakan boneka beruangnya?” tanya Prince seraya mengusap-usap dagunya.

“B-BUKAN BERUANGNYA!” seru Hazuki seraya menepuk lengan Prince dengan keras. “Kita main tembak-tembakan, kumpulkan poin, lalu poinnya kita tukarkan dengan beruang besar tersebut!”

“Hoo, sokka … ” Prince mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tersenyum puas. “Baiklah, semangat, Hazuki! Kau pasti bisa!”

” … ” Hazuki menatapi rekan bicaranya dalam diam. Matanya lagi-lagi menyipit tajam. “Prince, a-aku justru mau minta bantuanmu untuk mendapatkan beruang besar itu.”

“Heee, nanda?” Kenapa, Prince bertanya. “Kenapa harus aku? Bukankah kau yang ingin mendapatkan beruang besar tersebut?”

“I-IYA, AKU, TETAPI TEMBAKANKU PASTI MELESET!”

“Hmmm … ” pemuda berparas tampan itu mengusap-usap kepalanya, kemudian mengajak Hazuki berjalan mendekati lapak permainan yang diinginkan. “Yosh, iku … ” ujarnya luruh.

“Yeeeey! Arigatou, Prince!” saking bahagianya, Hazuki pun mendekap lengan Prince dengan kuat. “Tolong menangkan beruang besar itu untuk putri yang cantik ini!”

” … ” Kali ini, Prince yang menatapi Hazuki dengan jengkel. “Aku tidak pernah melihat putri bau sepertimu.”

HI-HIDOI!” Jahat sekali, seru Hazuki.

Prince pun tertawa kecil. Ia hanya bercanda.

Pemuda kelahiran Indonesia itu pun menepati janjinya. Ia benar-benar menjadi tim sukses Hazuki untuk mendapatkan sebuah boneka beruang berukuran besar. Setelah Hazuki membayar lapak bermain tersebut, Prince bergegas memegang senapan mainan dan mulai membidik ke arah target akan bermunculan.

Benar-benar serius, Prince membidik di atas meja laksana penembak profesional.

“P-Prince, posenya harus seperti itu, ya?” tanya Hazuki.

Mochiron desu.” Tentu saja, kata Prince.

“Biar apa, sih!?”

“Tunggu saja.”

“Prince–”

DING! Target tembakan pun bermunculan di papan yang telah tersedia. Ada yang berbentuk penjahat, ada pula yang berbentuk benda mati. Masing-masing punya poin. Target-target tersebut muncul secara bergantian, bahkan ada yang bergerak-gerak untuk mempersulit pemain. Semakin lama, gerakannya semakin sulit diterka. Akan tetapi, Prince dengan mudah mengenai semua target yang ada dengan senapan berpeluru plastik yang ada dalam genggamannya.

Ia sudah terbiasa menembak orang, menembak target mainan tentu bukan tantangan baru baginya.

Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Prince menyelesaikan permainannya. Poinnya, hampir sempurna. Tak pelak, upayanya membuat Hazuki dan sang penjaga lapak terbelalak tak percaya. Bahkan, beberapa orang yang berlalu di sekitar sana sampai tercengang oleh kemampuan Prince yang berada di atas normal.

Begitu usai, Prince langsung membalikkan badannya. Ia tersenyum pada Hazuki, tetapi langsung luntur begitu melihat sejumlah orang telah berkerumun di sekitarnya. Ia tak tahu bahwa aksinya memancing perhatian banyak orang.

SUGHOI! SUGHOI!” Kerumunan orang yang terkesima itu pun bersorak-sorai. Beberapa dari mereka langsung bertepuk tangan.

Tak ada respon yang berarti dari Prince. Ia sekadar tersenyum seraya mengusap-usap kepalanya. Matanya tampak tak fokus, seperti sedang melakukan pengamatan cepat terhadap semua orang yang mengerumuninya. Mungkin ia canggung akibat dikerumuni orang banyak. Tetapi tidak, bukan itu!

Kanan?

Kiri?

Berapa orang?

“Hei, Nak!” di tengah keriuhan tersebut, sang penjaga lapak tiba-tiba saja memanggil Prince.

Prince lekas-lekas menoleh. Ia tampak terkejut.

“Jangan lupa hadiahnya!” si penjaga lapak pun menyodorkan boneka beruang berukuran besar kepada Prince. Sumringah.

“WAAAAA! URESHII!” bukannya Prince yang mengambil boneka tersebut, malah Hazuki yang menyambarnya. Ia bahagia. Gadis berambut pendek itu langsung memeluk boneka barunya dengan sepenuh hati. “Prince, arigatouuu!

“Hazuki, kau sudah puas?” tanya Prince, masih dengan tatapannya yang kosong dan tak fokus.

Hai, haiii!” Hazuki membuktikan kepuasannya dengan senyuman yang begitu merekah.

Akan tetapi, Hazuki juga memerhatikan ekspresi Prince yang berubah. Prince tampak tegang.

“Prince … ? Ada apa? Kau terlihat tidak baik,” ujar Hazuki.

Tabun … ” Mungkin, kata Prince. Ia pun mengusap-usap tengkuknya. “Mungkin aku hanya tak nyaman diperhatikan kerumunan orang seperti ini.”

“Heeee!? Kok tiba-tiba begitu, sih!?” Hazuki mengiba. Ia pun menarik tangan Prince untuk pindah tempat. “K-kalau begitu, kita perlu mencari tempat duduk! Mungkin kau perlu makan sesuatu atau minum!”

“Aku tidak tahu,” ujar Prince. “Sebaiknya, kita pergi saja dari sini.”

***

17.34

Bukannya berhenti sebentar untuk makan dan minum, Prince malah berjalan ke sebuah gang yang sepi. Langkahnya sempoyongan, seperti orang mabuk. Terang saja, Hazuki sangat khawatir dan memarahi Prince berkali-kali, sebab Prince tak mengikuti instruksinya.

“P-PRINCE, NANI SHITERU NO!?” Hazuki bertanya apa yang sedang Prince lakukan. “K-kenapa kau malah membawaku ke sini, sih!? Kau kelihatan panik dan tidak sehat! Kau perlu beristirahat terlebih dahulu!”

“Wanita tadi … ”

“W-wanita?”

“Wanita di Nishi Square. Aku tahu dia … ”

Seketika, jantung Hazuki berdegup tak karuan. Ia ingat apa yang terjadi pada wanita bule di Nishi Square. Wanita itu tiba-tiba menabrak Prince dan terseok, kemudian tak sadarkan diri. Apakah itu berarti Prince juga akan mengalami hal yang sama?

Prince diracun!? Oleh siapa!?

“P-Prince! Kita harus ke rumah sakit sekarang! A-aku tak mau kau tiba-tiba tak sadarkan diri!” seru Hazuki.

Tak ada respon apa pun dari Prince. Pemuda itu sekadar bersandar di dinding dan mencoba mengatur napasnya dengan teratur.

“P-PRINCE!”

Senyap. Hazuki panik.

Posisi telah terkunci, sayangnya.

Muncul sejumlah pria dari belakang. Tubuh mereka tinggi, besar, dan atletis. Tak pelak, bayangan mereka langsung menyelimuti Prince dan Hazuki dengan kegelapan.

Hazuki sadar akan kedatangan orang-orang yang tak ia kenal. Instingnya begitu peka. Kontan, ia membalikkan badan dan menahan napasnya selama beberapa saat. Terenyak. Ada lima orang pria berkulit putih dan berbadan kekar berdiri menghalangi jalur pelarian Prince dan Hazuki.

D-dare?” Hazuki sedikit gemetar, ia menanyai identitas kelima pria bule di hadapannya.

Nihil tanggapan. Kelima pria bule di hadapan Hazuki sama sekali tak berkutik, justru tampak semakin dingin.

Salah seorang bule sangar tersebut berjalan mendekati posisi Prince dan Hazuki. Ia adalah pria yang berbadan paling besar jika dibandingkan dengan empat orang lainnya. Tubuhnya memberikan kesan intimidasi yang begitu kuat, apalagi jika disandingkan dengan Hazuki yang imut dan berpostur pendek.

“H-hei! J-jangan mendekat!” Hazuki panik. “P-P-PRINCE! PRIIIINCE! K-KITA HARUS PERGI!”

Pria bule itu tak gentar. Ia tetap berjalan mendekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Hazuki tak lagi bisa menjerit. Syok setengah mati. Lututnya sampai gemetar hebat.

Si pria berbadan besar tak peduli. Ia tetap mendekat. Matanya sempat mendelik kepada Hazuki, tetapi sepertinya ia punya prioritas. Ia lebih memilih untuk menggenggam pundak Prince dengan keras.

Masuk jebakan.

Prince bereaksi. Ia lekas-lekas memutar badannya dan meluncurkan tinju superkerasnya tepat ke wajah sang pria berbadan besar. Pukulannya masuk dengan gemilang, langsung merontokkan tengkorak yang melindungi organ dalam kepala sang pria. Paling tidak, batang hidung dan gigi-gigi depan sang pria remuk tak berbentuk.

Pria yang berbadan jauh lebih besar daripada Prince dan Hazuki itu pun terpental dari tempatnya berpijak. Ia hanya bisa mengikuti momentum bogem raksasa yang mendarat tepat di wajahnya. Tubuh besarnya lantas terseret cukup jauh, berguling-guling tak karuan, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan posisi keempat pria yang lain.

Hazuki, ia hanya bisa menganga tak percaya.

Motherfuck–

Keempat begundal bule yang tersisa terperanjat. Tak ada yang menyangka bahwa rekan mereka yang berbadan paling besar tumbang begitu saja. Tiga dari keempat preman berkulit putih itu pun berusaha melepaskan emosi mereka yang meluap-luap.

No, let me do the talking.

Akan tetapi, bule yang memimpin gerombolan itu bersikap lebih bijak. Ia segera menahan langkah teman-temannya. Jangan terburu-buru, biarkan ia yang berbicara, katanya.

Prince segera membalikkan badannya, ia tersenyum kecut menyambut para begundal bule yang mencari masalah dengannya. Kepalanya ia entakkan ke kanan dan ke kiri, menantang musuh-musuhnya.

” … hah? P-Prince? A-ada apa ini, sebenarnya? N-n-nani? N-nande!?” Hazuki tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Ia membombardir Prince dengan tanya.

Hello, fellas! Bagaimana aktingku? Sudah cukup meyakinkan?” Prince mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Hazuki, ia malah menyapa keempat pria bule di hadapannya dalam bahasa Inggris. “I’m sorry. Where were we?” lanjutnya menanyakan sampai di mana percakapannya terakhir kali.

Tak ada yang menjawab. Keempat pria bule saling tatap.

“Ahhh, yes, tadi kita berbicara mengenai wanita yang pingsan di Nishi Square,” Prince mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu kenapa kalian mengirim wanita yang lemah dan bodoh seperti itu untuk menumbangkanku. Aku sudah tahu ia adalah agen kalian.”

Enough,” akhirnya salah seorang dari keempat pria gahar tersebut angkat bicara. Cukup, ia bilang. “Prince, kita bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Kau hanya perlu menyerahkan dirimu kepada kami, setelah itu kami takkan mengganggu orang-orang dalam hidupmu lagi.”

Prince tertawa sinis. “Kalian berharap aku percaya pada omong kosong tersebut?” tanya Prince. “Suruh bosmu di Washington datang ke sini dan mengatakan hal itu langsung di depan wajahku.”

” … ” sang pimpinan begundal menatapi teman-temannya dalam kebisuan. Ia perlu waktu untuk bernegosiasi dengan orang seperti Prince. “Kami tidak pernah berniat merugikan siapa pun. Semua ini adalah untuk kebaikan dunia kita yang kacau.”


ngemisware

Really?” Prince bertanya sinis. “Tidak ada yang dirugikan? Kau lihat negaraku: karena siapa Indonesia porak-poranda? Karena kalian. Dan omongan tentang kebaikan dunia itu untuk siapa? Hanya untuk begundal-begundal yang mengendalikan dunia dari balik tirai Gedung Putih, yang bahkan ditakuti oleh POTUS! Mulut kalian terdengar manis, tetapi sebenarnya bau busuk, tidak ada yang bisa dipercaya. Jadi, dengarkan pesanku ini: fuck you all.

“Kau dan aku sudah tahu, Prince!” akhirnya si pimpinan begundal naik pitam juga. “Apa yang kami timpakan kepada negaramu adalah sebuah hukuman yang setimpal. Kami harus menegakkan keadilan yang telah kau renggut secara paksa! Kami harus melakukan apa yang perlu kami lakukan! Serangan balasan! JUTAAN DARAH HARUS DIBALAS DENGAN JUTAAN DARAH LAINNYA!”

Who was starting it, huh?” Prince bertanya, siapa yang memulai. “Siapa yang memulai? Jangan pura-pura lupa ingatan! KALIAN YANG LEBIH DULU MENDUDUKI TANAH KAMI! Kalian, anjing-anjing suruhan birokrat gila, yang memulai semua bencana ini! Kalian juga yang selalu menggadang-gadang kata kebebasan, tapi mana buktinya!? KALIANLAH YANG MERENGGUT KEMERDEKAAN DARI KAMI!”

” … ”

“Tidak cuma kemerdekaan negaraku yang kalian cabut, tetapi juga berusaha mencabut kemerdekaanku dan kemerdekaan orang-orang Jepang! Lihat apa yang kalian lakukan sekarang! Kalian ramai-ramai memburuku demi membuat Jepang tunduk pada bisnis busuk kalian! Bom dan proxy, untuk apa? Hanya untuk membuat bos kalian senang!”

Hazuki kebingungan. Kepalanya sesekali menoleh ke arah si pria bule, sesekali menoleh ke arah Prince. Ia benar-benar tak mengerti arah pembicaraan intens sore itu, apalagi dalam bahasa Inggris. Yang ia tahu adalah ada banyak emosi yang terlibat.

Pria berkulit putih yang memimpin perdebatan itu pun menghela napas panjang. Pasrah. “Tak ada artinya kita berdebat seperti ini. Sudah jelas bahwa kau memang tidak mau masalah ini selesai dengan cara yang damai. Itu artinya, kami terpaksa berbuat sedikit lebih keras.”

“Heh,” Prince tertawa kecil. “Memangnya pernah ada sejarah kalian menyelesaikan masalah dengan cara yang manusiawi? Kita akan selalu bertumpah darah sampai dark state mengakui bahwa hegemoni mereka sudah saatnya masuk tong sampah!”

“Kau sudah kalah. Kami akhirnya mendapatkanmu, Prince.”

Ketiga rekan sang pria lantas bergerak mendekati posisi Prince dan Hazuki. Tak ada keragu-raguan. Masalah besar akan segera terjadi.

Are you sure?” Prince mencoba menggoyahkan keyakinan pria di hadapannya. Ia terlihat sangat santai bahkan di saat keadaan telah mencapai puncak ketegangannya. “Kau yang mendapatkanku?”

Sepi. Saling tatap.

“Atau aku yang mendapatkanmu?” Prince tersenyum kecut. “Michael?”

Pertanyaan retoris Prince menjadi gong dimulainya perkelahian sengit antara dirinya dan empat pria bule yang disinyalir sebagai suruhan para birokrat picik di Washington DC.

Seorang pesuruh berkepala pelontos menjadi sosok pertama yang meluncurkan tinju ke arah Prince. Sayangnya, luput. Prince sudah lebih dulu membelokkan kepalanya sebelum bogem besar mendarat di wajahnya. Di saat yang bersamaan, Prince segera merangsek maju seraya meluncurkan tinju kerasnya ke wajah si begundal berkepala botak.

Pukulan Prince masuk dengan gemilang. Batang hidung si pesuruh gundul itu pun ringsek. Tubuh sang pesuruh lantas terpelanting deras mengikuti momentum pukulan, meluncur, lantas menghantam dinding begitu keras.

HOLY FUCKING SHIT!

Terkejut melihat rekannya terpental, pesuruh lain yang berpenampilan layaknya marinir segera bereaksi. Ia lekas-lekas mencabut sangkur dan menebaskannya berulang kali ke arah Prince. Tanpa ampun. Seribu sayang, serangannya tak juga ada yang kena. Ia hanya membuang-buang tenaga.

Prince mendapatkan celah untuk menyerang balik. Ia segera mengunci lengan si marinir, melucuti sangkur, kemudian membumbui dengan beberapa serangan jarak dekat yang keras dan cepat. Agresinya sama sekali tak terantisipasi. Ia juga sesekali menendang tubuh kedua pesuruh lainnya agar menjauh darinya dan Hazuki.

Tiga orang mengeroyok Prince, belum juga cukup.

Menolak dipecundangi, si marinir meluncurkan tinju besarnya secara acak. Namun, nasibnya sama sekali tak mujur. Serangannya luput. Prince lantas meluncurkan serangan balasan. Sebuah pukulan uppercut sontak masuk di bawah dagu si marinir. Tak hanya tinju itu masuk ke titik yang fatal, tetapi juga menghasilkan bunyi gemertak yang cukup keras.

Prince mungkin baru saja meremukkan gigi dan rahang bawah si marinir. Tubuh sang marinir pun mengawang-awang sekelebat, sebelum akhirnya tersungkur tak berdaya di atas tanah.

Fucking bullshit!” protes pria yang sebelumnya dipanggil Michael oleh Prince. “KEPADA SEMUA CALLSIGN! KAMI BUTUH BANTUAN MELAWAN PRINCE!” lanjutnya berseru seraya memijit alat kecil di telinganya.

Selagi Michael sibuk dengan radionya, Prince justru sibuk menghajar pesuruh lain yang berparas tampan. Pukulan, tendangan, dan sikutan ia luncurkan, segalanya terjadi begitu cepat. Si pesuruh tampan pun sempoyongan, tak bisa melawan balik. Tak pelak, Prince segera mengakhiri serangannya dengan mendorong kepala si pesuruh tampan sekeras mungkin ke arah tembok.

KRAAAK!

Pelapis dinding yang kokoh itu pun retak. Pecahan semen kontan bertaburan di atas tanah. Sementara itu, si pesuruh tampan kehilangan kesadaran. Matanya memutih dan mulutnya menganga. Tubuhnya terseok dan akhirnya tergeletak tak berdaya di atas tanah.

Lawan Prince tinggal seorang. Michael. Namun, kali ini Prince tidak ingin cepat-cepat bersikap agresif. Ia malah berdiri dengan tenang, seolah memberikan peluang kepada Michael untuk menyerah.

CALLING TO ALL CALLSIGNS–” Michael masih terus memanggil bantuan.

Nobody’s coming, Mike … ” seloroh Prince memotong seruan Michael. Tidak akan ada yang datang, katanya. “Kau seharusnya tahu diri. Kau bukan orang penting di CIA, hanya kebetulan direkrut sebagai otot tambahan.”

Shut the fuck up … ” Michael menggeram dongkol. Ia menyuruh Prince untuk diam.

“Aku beri kau dua opsi, Mike,” ujar Prince. Ia sama sekali tak merasa terintimidasi. “Opsi pertama, pulang ke markasmu dan beritahu teman-temanmu untuk meninggalkan Jepang. Opsi kedua, kau kuhajar. Pilih mana?”

America … will never lose! WE WILL ALWAYS WIN!

YEAH, KEEP DREAMING, ASSHAT!” Tetaplah bermimpi, seru Prince.

Prince sudah tahu Michael akan memilih untuk menyudahi persoalan dengan cara yang keras. Ia pun meladeni si pria bule dengan sepenuh hati. Keduanya saling merangsek, saling berhadapan, saling bertukar serangan, untuk menentukan siapa yang pantas untuk bertahan dan melanjutkan operasi.

Baku hantam sengit menjadi tak terelakkan. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, meluncur deras bagai sapuan angin. Michael tampak lebih banyak memuntahkan serangan, tetapi tak ada yang kena, semuanya ditangkis. Kontras, Prince justru lebih sedikit mengerahkan energinya, tetapi lebih banyak mengenai target.

Tak hanya akurat, serangan Prince juga berdaya rusak tinggi.

Tak ayal, Michael langsung babak belur hanya dengan beberapa serangan. Pria bule yang semula beringas itu kehilangan wibawanya. Michael hampir bertekuk lutut.

What … the … fuck … ” keluh Michael. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Ia pun tertunduk luruh, tak percaya dipecundangi oleh bocah SMA.

“Michael, kau masih punya kesempatan untuk segera pulang dan memberitahu teman-temanmu untuk angkat kaki dari Jepang.”

Fuck … you … ” Michael menolak untuk kalah. Ia pun membangkitkan tubuhnya perlahan-lahan, lalu memasang kuda-kuda bertarung seperti sedia kala. “Aku … akan … melibasmu!”

“Kau benar-benar perlu belajar kapan harus berhenti, Mike–”

SON OF A BITCH!

Michael kembali merangsek maju. Akan tetapi, kali ini ia mencoba strategi yang sedikit berbeda. Ia mengangkat kepalan tangannya setinggi kepala, memusatkan seluruh energi di ujung tinjunya. Ia percaya diri.

Upayanya sontak membuat Prince bereaksi. Pemuda SMA itu segera memasang kuda-kuda. Akan tetapi, sesuatu tak terduga terjadi. Saat Prince akan menangkis pukulan, rupanya Michael malah menunduk dan menyeruduk tubuh Prince. Kepalan tangan Michael hanya pengalihan, Michael berencana mengakhiri perseteruan dengan tarung lantai.

Prince sempat terentak dari tempatnya berpijak, tetapi ia tak terkejut.

Ia membuat situasi lebih tak terduga.

Belum sempat Michael merobohkan tubuh pemuda yang baru saja ia seruduk, Prince sudah lebih dulu mengambil sedikit jarak dan menyodokkan lututnya sekuat tenaga tepat di wajah Michael. Serangan Prince langsung membuat kepala Michael terentak hebat. Bule berbadan kekar itu hampir saja bertemu dengan kegelapan sesaat waktu.

Michael akhirnya tersentak mundur. Ia gagal menumbangkan lawannya, harus kembali merancang strategi dari nol. Akan tetapi, lawannya takkan menunggu. Belum sempat kesadarannya benar-benar pulih, sikut Prince tiba-tiba saja menghantam telinganya dengan keras. Terlalu keras. Kupingnya sontak berdengung, keseimbangannya pun goyah bukan main. Bumi seolah berguncang hebat.

Terakhir, Prince lekas-lekas menyepak kaki kiri Michael. Sapuannya membuat Michael benar-benar kehilangan pijakan. Akan tetapi, Prince tak berniat membuat Michael cepat-cepat tersungkur, tangannya segera mencaplok leher Michael. Ia mencekik si pria bule sekuat tenaga.

“HU–UUUGH!” Michael terentak dan terenyak. Ia benar-benar dibuat tak berdaya oleh seorang bocah SMA yang abnormal. Wajahnya penuh lebam dan darah, bahkan telinganya pun mengucurkan cairan merah pekat akibat hantaman yang baru saja terjadi.

“Aku masih memberimu kesempatan,” ujar Prince dingin. Ia mengeraskan cekikannya sedikit demi sedikit hingga lawannya terbatuk-batuk tak karuan. “Pulang ke markasmu dan beritahu teman-temanmu untuk angkat kaki dari Jepang.”

F … uck …

You’re so stubborn.” Kau sangat keras kepala, kata Prince. Ia lantas mengangkat tangannya setinggi kepala dan mengeraskan ujung-ujung jarinya. “Mungkin sebaiknya aku juga mengambil matamu agar kau tahu bagaimana rasanya keindahan direnggut dari dirimu dan bagaimana rasanya terkekang dalam kegelapan! Jika kau sudah merasakan itu, barulah kau bicara soal kebebasan dan kemerdekaan orang lain!”

“P-PRINCE! Y-YAMERO!” Hazuki tiba-tiba saja angkat suara, meminta rekan pulang sekolahnya untuk berhenti menghajar Michael. “A-aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi mereka sudah kalah. Kau tidak perlu menyakiti lawanmu terlalu jauh.”

Sejenak, Prince menoleh ke belakang, menatapi Hazuki dalam diam. Ia lantas mengembalikan pandangannya ke depan, menyorot kedua mata Michael dengan tajam. “You hear that?” Kau dengar itu, tanyanya. “Gadis Jepang di belakangku ini memintaku untuk memaafkanmu, padahal ia tahu belakangan ini negaranya dibom berkali-kali oleh orang-orang seperti kalian.”

“U-uurrrgh … ” Michael tak sanggup merespon. Jalur pernapasannya tercekik.

Tak lama berselang, tiba-tiba terdengar sejumlah orang berderap ke arah gang tempat terjadi perkelahian. Suaranya amat mengintimidasi, seperti kerumunan polisi atau tentara berlari menuju lokasi terjadinya kriminalitas. Hazuki bahkan sampai tersentak dari tempatnya berpijak, napasnya tertahan selama beberapa saat.

“ANGKAT TANGAN! SEMUANYA, ANGKAT TANGAN!”

Benar saja. Sejumlah personel polisi antiteror datang ke gang tempat Prince berseteru dan lekas-lekas membidikkan senapan. Para polisi itu mengenakan setelan serba hitam, betul-betul mengintimidasi orang awam yang melihat mereka. SAT, tampaknya. Satuan polisi paling berpengalaman di Jepang.

Meskipun mengerikan, Prince sama sekali tidak berpindah dari tempatnya. Ia hanya melepaskan cekikannya dari leher Michael dan membiarkan pria bule tersebut tergeletak tak berdaya di atas tanah. Malah, ia terkesan menantang para polisi dengan memasukkan kedua tangan ke dalam sakunya.

“ANGKAT TANGAN–”

Matte!” salah seorang personel kepolisian tiba-tiba meminta teman-temannya untuk menurunkan bidikan. Tampilannya berbeda dari yang lain. Ia mengenakan kaos oblong yang dilapisi oleh rompi antipeluru. “Para ‘petani’ sudah dilumpuhkan. Anak di depan kalian adalah ‘pangeran’ yang kita bicarakan.”

“H-he?” sambil menurunkan bidikan senapannya, salah seorang personel SAT terheran-heran. Ia percaya tidak percaya.

“Maaf terlambat, Oujisama!” personel SAT misterius yang mengenakan pakaian oblong tersebut lantas membuka masker gasnya. Ia menampakkan wajah aslinya. “Kupikir kau akan kerepotan.”

Prince tertawa sinis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau pikir aku anak kemarin sore, Wahyu?”

Wahyu rupanya, rekan Prince dari Indonesia yang turut beroperasi di Jepang. Ia juga mampu berbahasa Jepang dengan mantap, tak heran mampu berbaur dengan pasukan SAT.

“Hehe, aku hanya memastikan,” imbuh Wahyu.

“Aku menghubungimu hanya untuk menyisir kelompok yang menguntitku sejak di Nishi Square,” ujar Prince. “Michael dan teman-temannya, semuanya mantan tentara. Sepertinya mereka juga bukan pemain utama teror di Jepang, ya?”

“Bukan, mereka hanya tim pemukul yang dikirim untuk melibas kita berdua,” jelas Wahyu seraya mengembuskan napas panjang. Ia pun membiarkan rekan-rekan polisinya untuk memeriksa keadaan para pesuruh Amerika yang tak sadarkan diri. “Mantan US Army, mantan Marinir, mantan Rangers, kau bisa menyebutkannya.”

Prince tak lekas merespon. “Apakah tindakanku ini akan membuat pemain utama merasa jengkel?”

“Masih jauh dari jengkel, Prince … ” cetus Wahyu agak berbisik. “Perdana Menteri Tooru Suzuki masih galau soal dukungannya ke Amerika atau ke Indonesia, keyakinannya masih 50:50. Kalau kita bisa membuatnya berpihak pada kita sampai 80:20, barulah para pemain utama akan menunjukkan batang hidung mereka yang sebenarnya. Untuk sekarang, kita masih banyak berurusan dengan proxy.”

“Hmm, jadi begitu … ”

“Untuk sekarang,” lanjut Wahyu. Ia pun mengenakan masker gasnya kembali. “Sebaiknya kita perlu memikirkan cara untuk lebih berhati-hati.”

“Hei, kita sudah dilatih dan bersiap untuk itu, Wahyu–”

“Aku tidak membicarakan soal kita berdua,” pungkas Wahyu menyela. “Aku berbicara soal orang-orang di sekitar kita, dimulai dari keluarga Hanazawa,” lanjutnya seraya berlalu.

” … ” Prince langsung terdiam seribu kata. Kedua matanya membelalak. Kini ia memahami maksud Wahyu. Ia bergegas mengalihkan pandangannya kepada Hazuki. Hatinya sontak merasa waswas. Hanazawa, itu adalah nama keluarga Hazuki.

“Lingkaran setan, ya?”

***

Tsumori Park, Nishinari, Osaka
18.09

Prince dan Hazuki akhirnya bisa lolos dari kekacauan. Setelah mendapati dua kejadian tidak mengenakkan di dua tempat yang berbeda, mereka akhirnya pindah ke Taman Tsumori untuk menikmati waktu sore yang tersisa. Keduanya duduk di atas ayunan seraya merenungkan apa yang baru saja terjadi.

“Hazuki … ” ujar Prince membuka percakapan. “Aku … sejujurnya khawatir denganmu. Apakah kau benar-benar tidak apa-apa? Katakan saja jika masih syok, jangan memaksakan diri.”

“Mmmh,” Hazuki menggeleng-gelengkan kepala. “Aku hanya deg-degan, tidak sampai mengalami trauma.”

Prince tersenyum tipis. Ia mengembuskan napasnya dengan berat. “Kalau benar begitu, sepertinya kau memang tipe gadis yang cepat melupakan sesuatu, ya? Bahkan setelah insiden penculikan yang terjadi berbulan-bulan waktu itu, kau hanya butuh waktu seminggu untuk benar-benar pulih.”

Tabun … ” Mungkin, kata Hazuki. Ia berujar seraya mengayun-ayunkan tubuhnya.

Prince dan Hazuki lantas terdiam selama beberapa saat.

“Prince … ” lanjut Hazuki seraya tetap mengayun-ayunkan tubuhnya. “Apa yang telah terjadi tak bisa diulang lagi untuk diperbaiki atau disesali. Yang bisa kita lakukan adalah melangkah maju dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran.”

Tatapan Prince membesar. Sesaat itu, ia benar-benar tertawan oleh pesona seorang Hazuki. Ia bahkan tak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang gadis SMP. Seringai tipis menghiasi wajahnya selagi ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau benar-benar dididik dengan baik oleh ayah dan ibumu.”

“Yang lebih penting … !” tukas Hazuki sejurus kemudian, mengacuhkan ujaran terakhir Prince kepadanya. “Maukah kau menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi di Nishi Square dan pasar tadi!? Aku sama sekali tidak mengerti,” lanjutnya seraya mengayun-ayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang.

“Kau tidak mengerti karena aku berbicara menggunakan bahasa Inggris,” jawab Prince spontan.

“I-ihhh, iya aku juga tahu kalo soal itu!” tukas Hazuki. “Maksudku, kalian sebenarnya membicarakan hal apa? Apakah soal terorisme yang belakangan melanda negaraku?”

Prince terdiam sejenak. Ia hanya mengayun-ayunkan badannya sedikit. “Ya, bisa dikatakan demikian.”

“Hmm, jadi … wanita yang tadi pingsan di Nishi Square … dia adalah penjahat?”

Sono toori,” Prince membenarkan hipotesis Hazuki. “Baiklah, biar kuberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sore hari ini,” lanjutnya seraya menepuk kedua pahanya.

“Nah, begitu, dong!” Hazuki langsung menghentikan ayunannya. Ia menatapi Prince dengan antusias. “Kenapa tidak dari tadi, sih!?”

“Agar aku terkesan seperti laki-laki yang misterius,” ujar Prince dengan tatapan dan wajah yang berbinar-binar.

“J-J-JANGAN BERIKAN AKU WAJAH ITU! HIDOI!

“Baiklah, kita mulai dari sekolahku. Apakah kau melihatku sedang memegang ponsel saat keluar dari sekolah tadi?”

Hazuki mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terus, terus?”

“Aku sebenarnya mendapatkan pesan dari Wahyu untuk segera melakukan investigasi di Nishi Square. Katanya, di sana ada beberapa gaijin yang terlibat jaringan teroris di Jepang. Kalau aku menemukan tanda-tandanya, aku perlu melapor,” jelas Prince. “Tak kusangka, kau datang ke sekolah dan mengajakku makan es krim di tempat yang sama. Aku tak bisa menolakmu, karena kau pasti akan menangis–”

“H-hei, tidak usah mengarang aku akan menangis, deh!”

“Ya, intinya, karena tujuan kita sama, jadi aku sedikit berimprovisasi,” jelas Prince. “Daripada aku menjalankan investigasi secara diam-diam, lebih baik aku menampakkan wajahku sekalian agar para penjahat keluar dari tempat persembunyian mereka. Itu lebih efektif, menurutku. Para penjahat itu sudah mengenali wajahku, bagaimanapun juga.”

“Dan wanita yang pingsan tadi?”

“Dia adalah salah satu penjahat yang aku maksud,” Prince tersenyum kecut. “Begitu para penjahat tahu aku ada di Nishi Square, mereka langsung muncul secara bersamaan. Wanita yang pingsan tadi ditugaskan untuk melumpuhkanku dengan sebuah suntikan kimia, tetapi aku memblokir serangannya dan menusuknya balik. Jadi, aku yang membuatnya pingsan dan membuat keributan untuk memecah konsentrasi penjahat yang lain.”

” … wow, aku sama sekali tidak menyangka soal itu.”

Hora,” Prince mengeluarkan sebuah alat suntikan dari tas selempangnya dan menunjukkannya kepada Hazuki. “Ini adalah alat yang tadinya mau digunakan untuk membuatku tak sadarkan diri. Kalau aku pingsan, mereka bisa membawaku ke tempat yang mengerikan.”

“Heeee!?” Hazuki memperhatikan alat suntikan di hadapannya dengan seksama. Keningnya sampai mengernyit. “Suntikan ini terlihat sangat modern.”

” … siapa pun yang menatapinya dengan serius juga akan sakit mata.”

N-NANI!?” Hazuki lekas-lekas menjauhkan wajahnya dari suntikan tersebut. Ia menutup hidungnya sekelebat waktu.

“Aku hanya bercanda,” Prince sama sekali terdengar datar, seolah tak berdosa. Ia pun memasukkan alat suntikannya kembali ke dalam tas. “Kan aku bilang mata, kenapa kau menutup hidung?”

Hazuki tak segera menanggapi ujaran rekan pulangnya. Ia malah menampar pundak Prince dengan keras. “P-P-PRINCEEEE! B-BAKAAAAA! Sudah seharian ini aku harus melihat kejadian-kejadian aneh dan harus dikerjai pula oleh makhluk langka sepertimu!”

Prince tergelak, ia sama sekali tak peduli pada pukulan di punggungnya. Tak terasa seperti pukulan, baginya. “Dari kejadian wanita pingsan itulah para penjahat mulai membuntuti kita sampai ke Nishi Fun Market. Sebenarnya jumlah mereka ada banyak, tetapi sisanya sudah dibereskan oleh Wahyu dan teman-teman barunya di kepolisian Jepang.”

“Wahyu-san … ” Hazuki mengingat-ingat perkenalannya dengan Wahyu. Ia tak tahu banyak soal ‘kakak’ Prince tersebut. “Bagaimana ia bisa tahu kalau kita ada di Nishi Fun Market?”

“Aku mengirim pesan kepadanya, tentu saja,” ujar Prince diselingi tawa kecil. “Aku sudah mengirim pesan kepadanya sebelum kita tiba di Nishi Square. Kuminta ia dan teman-temannya untuk mengikutiku.”

“Heee, sokka … jadi sedari tadi kita sudah diikuti oleh penjahat dan polisi,” Hazuki mengangguk seraya tetap menunduk. Bibir bawahnya ia majukan ke depan, sok imut. “Oh, iya! Aku teringat jadi sesuatu soal pasar! Setelah mainan tembak-tembakan, apa yang terjadi padamu? Kau tampak tidak sehat.”

“Oh, itu … ” Prince seolah tak ingin menguak rahasianya. Ia pun tersenyum tipis seraya mengembuskan napas panjang. Tatapannya terlihat kosong, lalu ia menengadah ke langit.

“Prince … ?” Hazuki penasaran. Ia pun memandangi wajah Prince dengan serius.

“Aku hanya ingin membuatmu panik saja, sih. Tidak ada alasan khusus,” Prince menutup ujarannya dengan seringai yang amat lebar, hingga tampak gigi-gigi putihnya.

Hazuki terenyak. Sudah seserius itu, ternyata Prince hanya mencandainya. Ia pun turun dari ayunannya, lantas buru-buru menebarkan pasir yang ada di bawah kakinya ke arah Prince. “P-P-PRINCE, AHOOOOOOO!” idiot, serunya. “K-kondisi tadi sedang sangat serius dan kau masih sempat mengerjaiku!? Apa kau gila!?”

“Sebenarnya tidak seserius yang kau bayangkan. Lawanku hanya bawahan yang tak berbahaya, sama seperti gerombolan alien berwajah jelek di film sentai Jepang,” imbuh Prince. “Sebenarnya aku melakukan itu juga untuk mengecoh mereka, sih. Tetapi itu prioritas kedua setelah mengerjaimu.”

“AAAAAAA! DO DEMO II!” Bodo amat, kata Hazuki. “Kalau kau tidur akan kutempelkan upil yang banyak! AAAAAAA!”

Prince tak bisa berhenti tertawa. Suaranya sama sekali tak menggelegar, tetapi seluruh badannya bergetar akibat menahan gelak yang tak tertahankan. Dalam satu sore yang sama, ia sudah berkali-kali mengerjai Hazuki, seolah telah menjadi kebiasaan.

Hazuki pun duduk kembali di atas ayunannya. Ia bersedekap seraya membuang pandangannya dari Prince, jengkel.

Senja kembali kepada kesunyiannya. Sekadar cericip burung menemani jiwa-jiwa yang dimanjakan oleh jelangnya petang. Mentari pun sudah hampir terbenam, sudah saatnya Prince dan Hazuki beranjak kembali ke rumah masing-masing.

Horison yang telah menguning kemerahan itu mendorong Prince untuk bangkit dari tempat duduknya. Ia mengangkat tasnya dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang menegang. “Hazuki, sepertinya sudah saatnya kita pulang–”

Belum sempat Prince menyudahi ucapannya, Hazuki buru-buru bangkit dan menarik lengan baju Prince dengan erat. Wajahnya masih berpaling ke arah yang lain, tetapi sikapnya tidak. “Prince, arigatou, kau sudah membuat jantungku menggila hari ini. Mulai dari es krim, boneka, sampai perkelahian, aku tak tahu kau bisa membuat hidupku bisa terasa seperti petualangan hanya dalam hitungan jam. Kau ini penyihir atau bagaimana?”

” … ” Prince memandangi rekan pulang sekolahnya dalam diam.

“Izinkan aku untuk membalas kebaikanmu hari ini,” pungkas Hazuki sambil menatapi lawan bicaranya begitu dalam, begitu serius.

“Ah, ini sudah sore. Kau tidak perlu–”

“Kau tahu kenapa aku sedari tadi bertanya-tanya soal negaramu?”

Prince terdiam. Ia menanti jawaban, berhenti bersikap konyol. Sekali itu saja ia ingin mendengarkan Hazuki dengan seksama.

“Ayahku sebenarnya telah menceritakan banyak hal tentang negaramu. Katanya, negaramu itu sangat indah, punya banyak kekayaan alam yang tidak dimiliki oleh Jepang. Tak hanya alamnya, bahkan budayanya sangat beragam, persis seperti yang kau bilang saat makan es krim tadi. Oleh karenanya, aku sedikit mengerti mengapa tatapan matamu itu sering terlihat seperti kosong dan kesepian … ”

Tak ada ucap. Prince sekadar tertunduk, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Ia ingin menyangkal ucapan Hazuki, tetapi tak ada yang perlu ia sangkal. Realitas menusuk lubuk hatinya yang terdalam.

“Ini hanya tebakanku saja, tetapi sepertinya kau rindu banyak hal tentang negaramu, khususnya orang-orang yang sangat kau cintai di sana.”

Napas panjang berembus perlahan. Prince kembali menatapi Hazuki dengan senyuman tipis. “Apa poinmu, Hazuki?”

Hazuki tak menjawab ucapan dengan ucapan. Ia malah berdiri tegap dan menghormat ke arah Prince, seperti tentara.

“Sebenarnya, aku mengajakmu jalan-jalan bukan karena aku kebosanan. Aku justru ingin menghiburmu dan mengajakmu untuk bersikap lebih positif tentang masa depan negaramu!” jelas Hazuki. “Tetapi kok jadi aku yang dihibur, ya?” gumamnya menggerutu.

” … ”

“Prince, aku berharap negaramu akan pulih dari peperangan dan kembali kepada keindahannya. Selamat hari kemerdekaan Indonesia, Prince!”

Prince langsung menatapi Hazuki dengan kedua mata membelalak. Ia terkesima.

Tak pernah terbesit dalam pikiran Prince jika Hazuki akan menghapalkan hari kemerdekaan Indonesia. Benar, hari itu memang tepat menunjukkan tanggal 17 Agustus. Hari itu adalah hari yang istimewa bagi semua orang yang dibesarkan di tanah Indonesia.

Senyuman tulus pun terlukis pada wajah Prince.

Hatinya berterima kasih.

“Ternyata nilai sejarahmu tidak seburuk nilai geografimu.”

“H-HEI! J-JANGAN BAHAS GEOGRAFI LAGI, DONG!” seru Hazuki. “A-aku sudah berpidato keren seperti tadi, jangan kau rusak suasananya!”

Prince pun tertawa kecil. Pelan-pelan, ia ikut berdiri tegap, mengikuti pose lawan bicaranya. Sesaat kemudian, ia segera menghormat dengan tegas, membalas sikap hormat yang ditawarkan oleh Hazuki.

motherland

“Terima kasih, Komandan Hazuki! Mari terus berharap agar kedua negara kita bisa tetap damai sampai akhir hayat!” seru Prince.

Ganbatte kudasai, Komandan Prince!” Hazuki menyemangati kakak tak resminya.

Angin sejuk sontak bertiup kencang, mengibarkan senyuman tulus dua sosok pelajar di sana. Dua tanah air, satu hati. Keindahan sore itu terpancar sampai ke sudut terkecil taman, membujuk dedaunan untuk menari-nari dengan gemerisiknya yang lembut.

Prince dan Hazuki pun tertawa. Keduanya lantas berdiri mendekat. Masih dengan senyuman yang merekah.

“Kau ini mikir apa, sih? Memangnya hal seperti itu bisa langsung menghiburku?” tanya Prince sarkas.

Iie,” jawab Hazuki pongah. “Mungkin saja tidak. Tetapi yang ini mungkin bisa menghiburmu.”

“Yang mana–”

Tak sempat Prince menyelesaikan pertanyaannya, pipinya tiba-tiba saja dikecup oleh Hazuki. Prince langsung terdiam mematung, matanya menyorot kehampaan yang terhampar di hadapannya, seolah menjadi taman-taman yang penuh keindahan. Syok. Prince tak pernah terbiasa dengan kecupan kecil, ia lebih terbiasa makan peluru.

“H-Hazuki … ” Prince memegangi pipinya. Masih tak menyangka pipinya ‘dihajar’ oleh sebuah ciuman. “N-naze?” Kenapa, tanyanya.

Hazuki tak segera merespon. Ia malah berlari meninggalkan tempatnya sambil menggendong boneka beruangnya dengan tergesa-gesa. “Nande monai!” Tidak kenapa-kenapa, katanya.

Gadis SMP berambut pendek itu pun kabur sambil tertawa terbahak-bahak, ia juga melompat-lompat seperti baru saja mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira.

Di saat yang sama, Prince hanya bisa tersenyum kecut seraya terus-menerus memegangi pipinya, seakan menahan lilin yang hampir meleleh. Pemuda itu lantas menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berjalan meninggalkan taman. Pijakannya terasa luruh.

“Anak itu benar-benar tahu caranya membuatku bernostalgia dengan Indonesia dan segala huru-haranya. Gayanya … benar-benar mengingatkanku pada Ibu,” gumam Prince bermonolog.

Bocah SMA berparas tampan itu pun tersenyum. Pipinya masih sedikit memerah akibat kecupan seorang gadis SMP yang sama sekali tak bisa ia terka. Prince lantas menengadahkan kepalanya ke arah langit yang telah menguning, lalu menghirup kesegarannya selama beberapa saat.

“Selamat memperjuangkan hari kemerdekaan, semuanya.”

END EPISODE 39-1

*Special thanks to Faiza Arifa (@faiza.arifa) for the illustration!


SAMBUTAN PENULIS:

Halo, teman-teman. Mungkin banyak yang baru bergabung atau baru tahu tentang Subject 09, ya. Atau mungkin ada yang bingung ini sebenernya cerita apaan. Hehehe. Tak apa, kami akan menjelaskannya secara singkat, padat, dan jelas.

Intinya sih, Subject 09 berkisah tentang petualangan politik sekelompok orang melawan hegemoni adidaya. Nah, salah satu karakternya ada yang bernama Patih, kelak lebih dikenal dengan nama sandi Prince. Perjalanan kisah Prince atau Prince’s Throne berlatar sekitar lima tahun setelah plot utama Subject 09 berakhir (2026), sedangkan plot asli Subject 09 berlangsung pada tahun 2021. Jadi, semua cerita yang berhubungan dengan Prince ini ada di masa depan.

Cerita-cerita pada Prince’s Throne memang rencananya mau dibuat lebih “ringan” agar bisa menjaring pembaca-pembaca yang tidak terlalu menyukai cerita terlalu kompleks. Kami juga menambahkan elemen drama yang lebih kental untuk para pembaca yang menyukai cerita romance-action. Kebetulan, karakter Prince ini memang masih remaja, sehingga cocok dengan persoalan-persoalan terkait asmara dan pencarian jati diri.

Kami berharap bisa menghibur teman-teman hari ini. Terima kasih sudah mau membaca cerita kami.  Dirgahayu Republik Indonesia!


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *