3 – Hell Pursuit


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Jakarta, 10.03
Beberapa jam setelah Denis Sumargana terbunuh

Subject 09 membuka matanya perlahan. Hal yang pertama kali ia lihat adalah dinding kamarnya yang retak dan lembab. Tentu saja, ia sedang berada di kamarnya sendiri, di sebuah paviliun kucal di daerah Jakarta Timur. Ia baru bangun tidur, baru saja mengisi energi setelah beberapa jam lalu ia bertarung dengan puluhan anggota Detasemen Khusus Sandi Negara (DSN) milik PIN.

Rumah yang sedang ia tempati tersebut merupakan salah satu safe house yang biasa ia singgahi setelah menjalani operasi rahasia di Jakarta. Lokasinya sangat tertutup, kumuh, dan identik dengan penghuni-penghuni berpenghasilan sangat rendah. Bahkan Google Maps dan GPS mendeskripsikan lokasi tersebut sebagai daerah pembuangan sampah atau jalan buntu. Diskriminatif.

Subject 09 sudah kembali bugar walaupun tubuhnya penuh dengan tambal sulam akibat tembakan para personel DSN, ia lantas mendudukkan tubuhnya seraya melenguh pelan. Ia ambil kaos oblong yang tergeletak di atas kasurnya, lalu ia kenakan pakaian tersebut untuk menutupi luka-lukanya. Sekarang ia tampak lebih baik, tanpa perban di mana-mana.

BZZZT.

Tak lama, ponsel lipat Subject 09 bergetar, tanda seseorang menelepon. Tanpa keraguan, ia segera menyambar ponselnya dan mengangkat telepon tersebut. Ia tahu bahwa hanya orang-orang terpilih yang dapat menghubungi ponsel lipatnya. “Halo,” tuturnya membuka percakapan.

Halo, Adam,” rupanya Verani yang menelepon. Ia tak terdengar ceria seperti biasanya. “Kau sedang di mana?

“Ah, Ve. Aku sedang di Jakarta, seperti kataku waktu itu,” ujar Subject 09 seraya mengucek mata.

Oh, hmm, kapan kau akan pulang kemari?

Subject 09 terdiam sejenak, ia masih berupaya mengumpulkan nyawa yang terserak di lautan mimpi. “Mungkin hari ini.”

Hari ini? Wah …

Terheran dengan respon Verani, Subject 09 pun memberanikan diri untuk bertanya. “Ada apa, Ve? Kau terdengar ingin menyampaikan sesuatu.”

E-eh, haha, kau peka juga, ya?” kilah Verani salah tingkah. “Hmm … anu … aku hanya ingin bertanya apakah kau bisa mengantarkan Patih untuk mencari sekolah baru? Kau tahulah, ia tidak mungkin pergi ke sekolahnya yang lama dengan jarak sejauh ini. Lembang ke Bandung bukan jarak yang dekat, bukan begitu?

“Oh … ”

Selain itu … ” Verani memotong tanggapan mantan tetangganya. “Uhm, aku juga penasaran apakah kau mau menemani kami berjalan-jalan di sekitar Kota Bandung. Kami, uhm, kau tahulah, tidak ada televisi di sini dan letak rumah kita jauh dari peradaban. Haha.

Subject 09 kembali terdiam, tetapi kali ini bukan untuk mengumpulkan kepingan nyawa yang terpencar, ia tersadar bahwa Verani sedang berada di puncak kejemuan. Memang benar, di rumah barunya tersebut tidak ada alat hiburan modern yang bisa Verani nikmati selain sebuah komputer tablet. Itu pun terbatas hanya untuk bermain sejumlah permainan yang membosankan dan untuk mengeksplorasi situs-situs tertentu. Pantas jika Verani terdengar tertekan, pikirnya.

“Aku akan pulang. Aku akan ajak kalian ke mana pun kalian mau,” jawab Subject 09 lugas. Timbul sedikit perasaan bersalah dalam hatinya.

Wah, asik! Kira-kira kau akan tiba jam berapa di sini?

Mendengar pertanyaan Verani, Subject 09 pun terenyak. Benaknya meronta, ia teringat sesuatu yang amat krusial. Biasanya, ia segera memfokuskan konsentrasinya pada televisi, radio, atau internet sesaat setelah ia membuat kekacauan; hanya untuk memastikan pergerakan aparat. Hari ini ia lupa.

Ia lantas bergegas mengambil ponsel cerdas dari dalam ranselnya dan menjelajahi internet hanya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain tetap menghimpitkan speaker ponsel pada telinganya.

Sial seribu sial.

Subject 09 pun terdiam mematung selama beberapa saat. Ia telah berhasil mengelompokkan semua situs berita nasional dan hampir seluruh berita menayangkan berita yang amat mencengangkan baginya. Wajahnya kini menghiasi seluruh laman berita dengan judul “Teroris Pembunuh Delapan Pejabat Indonesia Akhirnya Terungkap.

Jati dirinya ketahuan. Subject 09 sadar bahwa wajahnya terekam oleh kamera yang dibawa oleh salah seorang personel DSN pada malam ia menyandera Denis Sumargana; bisa jadi dengan chest-cam, bisa jadi dengan helmet-cam. Ia kurang teliti. Semestinya ia memeriksa satu persatu mayat personel DSN lalu menghancurkan segala bukti yang bisa menguak jati dirinya.

Tetapi, sesal tak ada arti. Lagipula kalau ia tak segera melarikan diri malam itu, ia mungkin akan menjadi bulan-bulanan pasukan bantuan intelijen.

Adam?” Verani menanti jawaban. Ia terheran mengapa Subject 09 tak menanggapi pertanyaannya.

“Uhm … oke. Malam ini aku berangkat dari Jakarta. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Maaf, aku baru saja mendapatkan e-mail, jadi hilang fokus, hehe,” jawab Subject 09 mengarang cerita.

Fuuuh, kupikir kau pingsan sehingga tak menjawab pertanyaanku, haha. Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu di sini,” tutur Verani lega. “Kau sehat-sehat saja ‘kan di sana?

“Ya, tentu saja, alhamdulillaah,” jawab Subject 09 tersenyum. Ia pun lega mengetahui bahwa seseorang yang paling ia khawatirkan saat ini belum menonton, mendengar, maupun membaca berita. Sebaiknya harus tetap begitu, tuturnya membatin. “Bagaimana denganmu? Kau dan Patih sehat selama tiga hari kutinggalkan?”

Tentu! Kami baik-baik saja. Udara di sini sangat bagus, benar katamu.

“Baguslah. Kalian tidak menjadi es batu karena kedinginan ‘kan?”

Hahaha, tentu saja tidak. Tetapi kami sudah tiga hari tidak mandi. Kami masih belum kuat mandi di sini. Untungnya sekarang sedang masa liburan. Hihihi.

“Oh … luarbiasa. Kalau demikian, jangan berkunjung ke rumah tetangga atau kau akan dilaporkan ke polisi.”

Hah? Memangnya kenapa? Bau badan ‘kan bukan kriminalitas,” tanya Verani seraya tertawa.

“Memang bukan. Tetapi membunuh orang tak bersalah itu kriminalitas,” papar Subject 09 santai. Ia pun tertawa mendengus.

Haha! Gila kamu!” Verani tertawa puas. Gelaknya sekejap menghempas pelik. Dadanya terasa lebih lapang, setidaknya ia mampu mengusir jemu yang meradang dalam jiwa. Seakan cerah menyeruak dari celah awan mendung yang bertumpuk.

Subject 09 dan Verani lantas terdiam, hanya tersisa dengus-dengus tawa yang tak berarti. Sampai kemudian Verani memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan singkat tersebut. Ia menutupnya dengan ucapan “daaah” dengan nada yang begitu manja.

Subject 09 hanya tersenyum tipis, ada banyak hal yang harus ia pikirkan selain suara manis Verani. Salah satunya adalah bagaimana caranya ia pulang tanpa terdeteksi oleh aparat?

***

Markas Besar Pusat Intelijen Negara (PIN)
Jakarta, 23.45

Beberapa staf PIN bekerja sangat serius malam itu. Mereka masih mencari petunjuk mengenai keberadaan buronan nomor satu Indonesia saat itu, yakni Subject 09. Tentu saja, mereka tidak mengenal nama Subject 09, mereka lebih mengenalnya dengan nama Adam Sulaiman. Nama alias tersebut mereka dapatkan dari data kependudukan di wilayah Kabupaten Bandung, lebih tepatnya dari pernyataan seorang ketua RT yang terkejut karena salah seorang penghuni flatnya merupakan seorang teroris.

Puluhan pasang mata terfokus pada layar komputer hanya untuk mencari kemungkinan posisi Subject 09; mereka memanfaatkan setiap CCTV yang terpasang di beberapa titik hingga memanfaatkan citra satelit. Mereka melakukan apapun demi menemukan pria yang diduga telah membunuh Denis Sumargana, ketua PIN.

PIN memang belum memilih ketua baru pasca kematian Denis, namun mereka masih aktif bekerja untuk menemukan Subject 09. Operasi perburuan tersebut dipimpin oleh Hana Yuriska, seorang wanita berambut pendek yang cukup berpengaruh dan berpengalaman pada berbagai jenis black ops PIN. Dia bukan wanita yang ramah, meskipun secara penampilan ia tampak jelita.

Hebatnya, operasi perburuan yang dipimpinnya membuahkan hasil. Salah seorang anak buah Hana menemukan keberadaan Subject 09 setelah beberapa jam hanya menemui jalan buntu.

“Bu, kami menemukan subjek,” seorang pria berkacamata dengan earphone yang menjuntai di telinganya melapor kepada Hana.

“Mana dia?” Hana segera menghampiri sang pria dengan mimik tegang. Kedua matanya pun langsung terfokus pada layar komputer.

“Ia baru saja memasuki gerbang tol Cikarang lima menit yang lalu. Wajahnya tertangkap oleh kamera pada gardu tol; gambarnya memang tidak begitu jelas, namun mesin kami berhasil merekonstruksi gambar yang ditangkap oleh kamera. Hasilnya … mesin pencarian PIN mengonfirmasi bahwa sosok ini sama dengan sosok yang direkam oleh helmet-cam personel DSN.”

Hana tak segera merespon, wajahnya justru semakin intens. Ia mencoba memastikan bahwa sosok yang terpotret di gardu tol Cikarang tersebut memang Subject 09 alias Adam. “Tampilkan gambar ini di layar nomor satu dan tampilkan foto Adam di layar nomor dua, Randi. Sekarang.”

“Baik, Bu,” jawab sang pria lugas. Ia kembali terfokus kepada komputernya. Jari-jemarinya menari gemulai di atas keyboard untuk mengetikkan beberapa baris kode.

Tak lama, permintaan Hana pun terpenuhi. Kini semua orang dapat melihat dua gambar saling berdampingan di layar yang masing-masing berukuran sama dengan slide presentasi perkantoran. Seluruh staf PIN yang bekerja di ruangan itu pun berhenti melakukan aktivitas, mereka terpaku menatapi dua gambar yang menampilkan dua sosok identik.

Hana berjalan mendekati dua layar besar tersebut. Ia mengamati dua gambar di hadapannya seraya bercekak pinggang. “Brengsek, jadi sedari pagi ia berada di sekitar Jakarta dan kita sama sekali tidak tahu,” tuturnya.

Suasana di dalam ruangan seketika menjadi hening. Tersisa tatap-tatap penuh rasa waswas.

BRAAAK!

Hana geram. Ia sontak memukul meja kerja salah seorang anak buahnya hingga seluruh staf PIN di ruangan operasi terperanjat. Ia merasa telah dibodohi. “Kenapa tak ada yang mencarinya di sekitar Jabodetabek, hah!? Ke mana agen-agen kita!? Pantas saja kita sering kecolongan!”

Sunyi. Tak ada yang berani angkat bicara.

“Koordinasi dengan Polri! Kirimkan foto yang ada di layar satu kepada Polri, kejar Adam SEKARANG JUGA!”

“T-tapi, Bu. Bukankah mengirim polisi sama saja dengan bunuh diri mengingat kemampuan Adam–”

“Vira! Kerjakan saja apa yang kuperintahkan! Kau mau kehilangan si pembunuh itu lagi dan membiarkannya membantai lebih banyak orang!?” Hana menyela argumetasi bawahannya dengan gusar. Mendengar kemarahan sang pimpinan, para staf operasi pun langsung bergerak ke meja masing-masing, mengerjakan apa yang bisa mereka kerjakan.

“Aku tahu polisi takkan sanggup untuk membekuk Adam, apalagi kalau yang datang hanya kawanan Polantas, tetapi setidaknya itu akan menahan Adam selama beberapa saat. Polisi akan mengulur waktu untuk kita, sementara kita persiapkan agen yang berpengalaman di beberapa titik … ” imbuh Hana. “Coba kalian cek, ada berapa intel Kopassus yang standby di dekat rute pelarian Adam?”

***

Perhatian kepada seluruh unit, PIN menghubungi bahwa tersangka pembunuh Jenderal Yusuf Tarigan baru saja memasuki tol Cikarang Utama sepuluh menit yang lalu. Tersangka mengendarai mobil Avanz hitam bernomor B 1384 GTG pada kecepatan sekitar 90-100 km/jam. Perhatian kepada unit yang terdekat untuk segera merespon. Sekali lagi–

Radio CB yang terpasang pada mobil patroli kepolisian di KM 40 tol Jakarta-Cikampek berderak lantang, mengalihkan fokus dua anggota Polantas yang sedang bersantai di dalam mobil. Keduanya lantas saling tatap dengan kening berkerut. Mereka sadar bahwa mereka sangat dekat dengan tersangka. Jika tersangka masuk tol Cikarang (KM 29) sepuluh menit lalu pada kecepatan rata-rata 100 km/jam, itu artinya tersangka berada sekitar enam kilometer di depan kedua Polantas tersebut.

Polisi bernama Danu itu pun segera menyalakan mesin, sementara rekannya, Zuhairi, segera menutup pintu dan memasang sabuk pengaman di jok penumpang. “Anjir! Kalau kita bisa mendapatkan tersangka, kita berdua pasti naik pangkat!” seru Danu percaya diri seraya menancap gas.

“Aku sepakat denganmu. Beruntung kita bawa pistol hari ini. Aku heran, bagaimana mungkin tak ada orang yang bisa membekuk si bangsat tersebut? Memangnya dia semacam James Bond? Ini dunia nyata, tinggal tembak di tempat, urusan selesai!” imbuh Zuhairi.

“Aku juga berpikir sama,” timpal Danu. “By the way, lapor dulu, bro. Katakan kita sedang dalam pengejaran.”

“Siap, Dan.”

Zuhairi segera menyambar mikropon radio CB dan melaporkan bahwa ia dan rekannya sedang melakukan pengejaran terhadap tersangka. Ia juga meminta unit bantuan untuk melapisi pengejaran tersebut. Seandainya terjadi hal yang tak diinginkan, setidaknya ada yang menolong mereka.

Beberapa menit kemudian, Danu melambatkan laju kendaraannya. Semestinya ia sudah menyusul tersangka, tetapi ia belum juga menemukan mobil tersangka. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, sekedar untuk memastikan bahwa ia tak mendahului target yang dimaksud.

Zuhairi pun melakukan hal yang sama, ia mencari keberadaan tersangka, tetapi nihil. Sampai kemudian ia berinisiatif untuk membuka petunjuk lebih detil. Ia mengambil ponsel cerdas dari sakunya dan menghubungi atasannya. Ia minta agar dikirimkan gambar mobil, plat nomor, dan wajah tersangka.

“He, Zuhairi … ” tiba-tiba Danu memanggil, ia mendapatkan sesuatu. “Kurasa kita menemukannya. Mobil depan kita, Avanz hitam, 100 km/jam.”

“Mana?” Zuhairi segera menghentikan aktivitas pada ponselnya. Ia beralih fokus ke arah mobil hitam yang melaju cepat di hadapannya.

“Sepuluh meter di depan kita. Tetapi plat nomornya berbeda.”

“Berarti bukan. Jangan menuduh orang sembarangan.”

“He, tersangka kita itu licik, bisa jadi ia sudah mengubah plat nomornya sebelum PIN memberikan pengumuman kepada Polri.”

“Sebentar, jangan langsung eksekusi. Aku akan memastikan terlebih dahulu. Pak Sudarmo katanya mau mengirimkan gambar mobil tersangka.”

“Lha, terus bagaimana sekarang?”

“Buntuti sajalah! Begitu aku mendapatkan foto-foto dari Pak Sudarmo dan aku sudah yakin bahwa mobil di depan adalah mobil tersangka, barulah kita eksekusi. Jangan nyalakan sirine, kita ikuti saja, kalau kita nyalakan bisa-bisa dia kabur secepat kilat dan kita kehilangan mangsa besar.”

Tak lama, beberapa foto terkait dengan tersangka pun masuk ke dalam ponsel Zuhairi, yakni foto wajahnya, mobilnya, dan plat nomornya. Zuhairi lantas mengamati foto-foto tersebut begitu serius, keningnya pun sampai menggulung-gulung.

“Dan, coba kamu agak mendekat. Ada ciri-ciri khusus. Sepertinya di kaca belakang mobil tersangka ada beberapa stiker,” ucap Zuhairi.

“Benar? Mobil di depan ada stikernya lho,” tegas Danu.

“Pokoknya mendekat dulu sajalah! Aku ingin mencocokkan posisi dan judul stikernya.”

Danu menginjak gasnya sedikit lebih kencang. Mobil yang berwarna putih-biru itu pun mendekati mobil tersangka. Zuhairi segera mencocokkan foto-foto yang diberikan atasannya dengan mobil yang melaju beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia menengadah, sesekali ia menunduk; sesekali menatap mobil target, sesekali menatap layar ponsel.

Sampai kemudian ia menepuk bahu Danu. “Dan, benar kamu, ini mobilnya. Berhentikan, berhentikan dia,” ujar Zuhairi kalap.

“Siap!” Danu segera menancap gas. Ia juga menyalakan sirine agar mobil lain segera menyingkir.

Mobil Avanz hitam diharapkan untuk menyingkir. Mobil Avanz hitam diharapkan untuk menyingkir, sekarang!” Zuhairi berbicara melalui megaphone yang terpasang di hidung mobil. Ia meneriaki pengemudi mobil Avanz hitam di hadapannya dengan penuh percaya diri.

Kemunculan mendadak kedua polisi segera mendapatkan respon positif dari tersangka. Ia segera menurunkan kecepatannya dan meminggirkan mobilnya ke bahu jalan. Sampai saat itu, semuanya terasa normal, si pengemudi Avanz tidak terlihat melakukan perlawanan, bahkan sangat patuh terhadap perintah polisi yang mengejarnya. Semuanya menjadi terasa ganjil.

Danu dan Zuhairi pun menjadi cemas, jangan-jangan mereka menangkap orang yang salah. Tetapi tak apalah. Kalau pun salah tangkap, mereka bisa membuat alibi macam-macam lalu melepaskan si pengemudi Avanz. Yang penting periksa terlebih dahulu.

Si pengemudi Avanz yang diduga sebagai tersangka pembunuh Kapolnas itu pun keluar dari mobil bersamaan dengan keluarnya Danu dan Zuhairi. Kedua polisi itu langsung tercengang, karena target sama sekali tak tampak seperti tersangka, sama sekali tidak. Rambutnya ditata rapi, berkacamata, bajunya dimasukkan ke dalam celana, dan jalannya kemayu. Ia benar-benar tak memiliki perawakan sebagai seorang pembunuh.

“Bapak-bapak, ada apa ini?” tanya si banci pengemudi Avanz tersebut.

“Uhm, bisa lihat SIM dan KTP-nya?” Danu bersikap profesional, ia tetap melakukan prosedur pemeriksaan sebagaimana biasanya. Bedanya, kali ini tangan kanannya tak bisa lepas dari gagang pistol yang menjuntai di pinggulnya. Kalau benar si banci tersebut adalah pembunuh Jenderal Yusuf Tarigan, ia harus waspada.

Sementara Danu memeriksa identitas si banci, Zuhairi sibuk memperhatikan ciri-ciri fisik mobil Avanz hitam yang dikemudikan oleh si banci, khususnya di bagian plat nomor. Mencari, mencari, dan terus mencari. Sampai akhirnya ia pun menemukan sebuah anomali. Ia mendapati bekas lem atau double tape pada plat nomor mobil si banci, karena permukaan platnya terasa lengket di beberapa titik. “Ini masih baru,” ujarnya berbisik.

Zuhairi lantas bangkit dan menghampiri si banci dengan langkah tegas. Awalnya ia hendak menginterogasi soal plat nomor, tetapi ia terhenti begitu melihat Danu terpaku menatapi SIM dan KTP si banci. “Dan, ada apa?” tanyanya kepada sang kerabat.

Danu tak menjawab, ia hanya menatapi Zuhairi dengan kedua alis menyeringai. Tak lama, ia pun memberikan dua identitas resmi sang pengemudi kepada Zuhairi.

Seketika itu situasi menjadi hening. Ganjil. Si banci yang semula banyak tanya itu pun terdiam. Gerak tubuh gemulainya sirna, ia berdiri mematung diantara dua polisi yang mencurigainya. Tubuhnya tegap bak tentara, tak seperti sebelumnya. Apakah ia merasa waswas?

Sama sekali tidak.

Kedua polisi saling memicingkan mata. Mereka lantas menarik pistol yang menjuntai di pinggul masing-masing.

Akan tetapi, tindakan kedua polisi berhasil terbaca oleh si banci. Tak sempat kedua polisi membidik dengan benar, si banci tiba-tiba melempar dompetnya ke wajah Danu dan menendang kemaluan Zuhairi. Serangan itu langsung membuat konsentrasi kedua polisi buyar.

Si banci lantas menarik kepala Danu dan membenturkannya ke pintu mobil. BANG! Benturannya sampai menimbulkan suara yang cukup lantang. Danu pun terhuyung akibat tumbukan yang berhasil mengguncang isi kepalanya. Sesaat kemudian, ia tersungkur luruh.

Si banci segera beralih kepada Zuhairi. Ia menghajar Zuhairi beberapa kali dengan beberapa pukulan ke arah kepala dan torso. Pukulannya begitu cepat, Zuhairi bahkan tak mampu berkutik. Si banci lantas menendang kaki Zuhairi, membuat Zuhairi terjatuh melutut.

Hampir tanpa jeda, si banci segera membenturkan kepala Zuhairi hingga membentur kap mobil. Kepala Zuhairi memantul keras layaknya bola basket, lalu tersungkur lemas. Pingsan. Sama seperti kawannya.

Perkelahian pun berakhir dalam waktu yang sangat singkat.Si banci tak hendak berlama-lama. Ia segera menyingkirkan dua Polantas yang mencurigainya ke pinggir jalan agar tak ditabrak kendaraan-kendaraan yang tengah melaju kencang. Ia ambil dompet dan kartu identitasnya kembali, lalu merenggut dua pistol yang tergeletak di atas jalan dan memasukkannya ke dalam mobil. Ia pun masuk ke dalam kokpit mobil, menyalakan mesin, dan menancap gas. Kabur.

Di tengah perjalanan, pria yang sempat diduga sebagai banci itu pun melepaskan kacamata dan mengacak-acak rambutnya. Kini wajah aslinya tampak, rupanya ia adalah sosok yang sedang populer selama beberapa jam terakhir di seluruh media nasional. Dialah Subject 09, buronan nomor satu di Indonesia, atau lebih populer dengan nama Adam Sulaiman.

***

Memasuki wilayah Purwakarta, kekacauan pun melanda. Subject 09 sempat mengira bahwa ia telah lepas dari cengkraman aparat keamanan, rupanya tidak. Sekitar lima belas menit setelah ia menumbangkan dua Polantas di tol Cikampek, datang beberapa unit bantuan membangunkan Danu dan Zuhairi yang pingsan di pinggir jalan. Dari sanalah didapati informasi bahwa Subject 09 telah mengganti plat nomor mobilnya. Kini target seluruh aparat malam itu bukan lagi mobil Avanz hitam bernomor B 1384 GTG, namun berubah menjadi D 2316 BWT. Mobil yang sama dengan plat yang berbeda.

Subject 09 memacu kendaraannya seperti kesetanan, ia dikejar oleh polisi-polisi yang lebih profesional. Tetapi ia tak panik. Ia memang telah menyiapkan diri apabila posisinya ketahuan oleh aparat, itulah sebabnya ia memilih lewat Purwakarta daripada tol Cipularang, sebab akan lebih banyak rintangan yang memberikan keuntungan untuknya.

Walaupun unit bantuan kali ini lebih profesional daripada Danu dan Zuhairi, namun mereka saja tak cukup untuk melumpuhkan Subject 09.

KA-BLAM! KA-BLAM!

Beberapa kali mereka melepaskan tembakan ke mobil target, namun tak jua memberikan hasil yang optimal. Mereka hanya sanggup melubangi kaca dan bodi mobil, namun tak berhasil melukai sang pengemudi.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Sampai kemudian datang dua unit khusus intelijen membantu para polisi yang kewalahan. Kedua personel intelijen yang berkostum serba hitam tersebut melaju kencang dengan motor superbike yang mampu melampaui kecepatan mobil mana pun. Hebatnya, keberadaan mereka tak sekedar untuk formalitas, namun keduanya juga memberikan ancaman yang cukup berarti bagi pria yang kerap dipanggil Adam tersebut. Mereka menembaki Subject 09 dengan pistol otomatis hingga beberapa peluru berhasil melesat ke dasbor mobil.

Subject 09 terkejut oleh tembakan kedua personel intelijen tersebut, ia sempat hilang fokus dan membuat mobilnya oleng.

DRRRT! Belum sempat Subject 09 mengembalikan fokusnya secara utuh, tiba-tiba datang tembakan susulan. Subject 09 tak sempat menghindar, salah satu timah panas berhasil melubangi pundaknya. Ia pun melenguh lembut dan sekali lagi membuat mobilnya oleng.

Subject 09 kembali menoleh ke kaca depan. Matanya langsung terbelalak. TOOOT! TOOOT! Sebuah truk kontainer tiba-tiba muncul sekitar sepuluh meter di hadapannya. Dan gilanya, truk tersebut sama sekali tidak mengurangi kecepatannya, mungkin sudah tanggung.

Lima meter.

Tiga meter.

CKIIIT! Subject 09 bergegas menginjak rem dan membanting stir ke arah kiri, berusaha kembali ke lajur yang benar. SRAAAK! Tindakannya tepat waktu. Ia berhasil menghindari maut, hanya bodi mobilnya yang menjadi korban karena tergores oleh bumper truk. Hampir saja ia mampus.

Merasa telah dipecundangi lawan, Subject 09 meradang. Ia berpikir keras bagaimana cara untuk mengalahkan dua pengemudi motor yang sangat agresif tersebut. Berpikir dan berpikir, sampai kemudian ia mendapatkan ilham. Tak lama, ia menancap gasnya lebih kencang dan mengemudikan mobilnya secara zigzag.

Dua intel pengemudi motor itu pun keheranan melihat keganjilan pada pola menyetir Subject 09. Tak ingin tertipu oleh taktik sang target, keduanya kembali melepaskan tembakan. Timah panas melesat menghancurkan dasbor mobil, namun kali ini tak membuat Subject 09 panik. Ia tampak lebih tenang, seakan sudah tahu bahwa tembakan kedua personel intelijen tersebut pasti meleset.

Momen yang ditunggu pun datang, Subject 09 tersenyum kecut. CKIIIT! Ia menginjak rem begitu kencang hingga laju kendaraannya berkurang drastis. Kedua personel intelijen di belakangnya pun terhenyak bukan main, mereka tak siap dengan permainan Subject 09. Salah satu pemotor lantas melipir ke lajur kanan, lajur di mana kendaraan melaju dari arah yang berlawanan. Sayangnya, si pemotor tak sadar bahwa ia sedang dipermainkan.

Bodoh.

TOOOOOOT! Muncul sebuah truk gandeng sekitar tiga meter di hadapan sang pemotor ganas. Ia tak sempat menghentikan laju motornya, tak sempat pula menghindar. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membuka kedua matanya lebih lebar. BRAAAK! Tumbukan pun terjadi. Pada kecepatan sekitar 80 km/jam si personel intelijen menanduk hidung truk, tubuhnya terpental keras dan menghantam kaca depan truk. Saking dahsyatnya, hidung truk pun ringsek dan tubuh si pemotor remuk seketika. Lalu terlindas.

Satu musuh tumbang, sisa satu lagi.

Subject 09 membanting setirnya ke kiri, ke arah di mana si anggota intel kedua melipir. Sayangnya, serangan Subject 09 gagal, si pemotor tanggap dengan trik targetnya. Pemotor ganas tersebut segera mengerem motornya dan mencoba menyusul Subject 09 dari lajur kanan. Ia menyiapkan pistol otomatisnya. Begitu mendekat ke ruang kemudi, ia akan langsung memberondong Subject 09 hingga tewas.

Namun, kenyataan tak seindah impian. Begitu ia menancap gas dan menyejajarkan posisi motornya dengan ruang kemudi mobil Subject 09, ia malah mendapati Subject 09 telah membuka jendela dan membidikkan pistol khas kepolisian ke kepalanya. KA-BLAM! KA-BLAM! KA-BLAM! Tiga tembakan pun dilepaskan oleh Subject 09 tanpa keraguan. Timah panas langsung menembus visor helm dan menghancurkan tengkorak penggunanya.

Si pemotor kedua melipir ke tepi jalan. Ia lantas menabrak tiang listrik dan tubuhnya terpental jauh ke atas trotoar. Tak lama, darah segar pun mengalir dari kepalanya. Ia memang sudah mampus sebelum menabrak tiang listrik. Kalah.

Subject 09 berhasil lolos dari kejaran dua pemotor personel intelijen tersebut, ia bisa sedikit bernapas lega. Lawannya kini hanya beberapa anggota kepolisian yang semakin jauh tertinggal di belakangnya. Ia pun mematikan lampu mobilnya dan berbelok melalui jalan-jalan yang sulit untuk diterka.

Para polisi semakin kehilangan jejak, namun lawan baru justru datang dari arah yang tak terduga. Dari persimpangan jalan, tiba-tiba muncul dua mobil jip tahun 80-an melesat kencang ke arah Subject 09 dari arah yang berlawanan.

Tidak, bukan dua. Tiga. Satu jip lagi muncul dari arah belakang untuk mengunci posisi Subject 09 agar tidak bisa balik arah.

Subject 09 sadar bahwa ketiga jip tersebut berniat untuk mencelakainya. Ketiganya pasti ditumpangi oleh beberapa personel khusus intelijen, pikirnya. Karena tidak mungkin mereka dapat menerka lokasinya begitu tepat, padahal polisi pun telah kehilangan jejaknya.

Tetapi bagaimana cara mereka mengetahui posisi Subject 09? Jawabannya sederhana, puluhan peluru yang bersarang di dasbor mobil Subject 09 rupanya dipasangi nanochip yang dapat memancarkan sinyal ke alat komunikasi personel intelijen yang lain. Itulah sebabnya posisi Subject 09 tersingkap. Selama ia mengemudikan mobil tersebut, ia akan terus dibayang-bayangi oleh “penglihatan” PIN.

Secara teori, Subject 09 tak bisa mundur dan tak bisa maju. Ia sudah skakmat, apalagi harus berhadapan dengan tiga jip yang terkenal sangat tahan terhadap benturan. Mobilnya akan remuk dalam sekejap mata.

Tetapi, ia tak kehilangan nyali. Ditantangnya dua jip yang melesat dari arah depan. Ia malah menancap gas dan berusaha untuk menambah kecepatan mobilnya sampai batas maksimal. Gila, pikir para penumpang jip. Subject 09 malah tampak bersemangat menyambut maut.

Tiba-tiba, Subject 09 melakukan hal yang tak terduga. Ia segera membuka jendela mobilnya, menyembulkan tangannya keluar, dan membidikkan pistol yang ia renggut dari dua polisi di tol Cikampek. KA-BLAM! KA-BLAM! Ia melepaskan tembakan rendah beberapa kali ke arah dua jip di hadapannya. Entah apa yang ia lakukan, tetapi tembakannya mampu membuat formasi pagar betis di hadapannya buyar.

DUASSSH! Rupanya tembakan Subject 09 bukan sekedar serangan acak tanpa makna. Sebuah timah panas yang melesat dari pistolnya berhasil memecahkan ban salah satu jip di hadapannya. Jip yang tertembak itu pun oleng dan melaju tak terkendali, sementara jip yang berada di sampingnya segera mengerem dan berpindah posisi.

Subject 09 tetap melaju kencang. Ia kemudian membanting setir untuk menghindari jip oleng di hadapannya. Mengejutkan, sesaat kemudian, jip oleng itu pun menghantam kawannya sendiri di belakang mobil Subject 09. Kedua jip tersebut remuk seketika, para penumpangnya pun kritis dalam sekejap mata. Bagaimana tidak? Keduanya tengah melaju pada kecepatan di atas 70 km/jam.

Sementara itu, Subject 09 tetap menantang musuh terakhirnya untuk adu banteng. Kali ini tak ada trik khusus, jaraknya sudah terlalu dekat untuk melakukan taktik-taktik tak terduga.

BRUAAAK! Tak lama, tabrakan head-to-head pun terjadi. Kedua mobil langsung remuk tak karuan, meskipun kerusakan pada mobil Subject 09 tampak jauh lebih parah. Avanz berwarna hitam tersebut juga terlempar keluar jalur menuju hutan kecil di tepi jalan; berguling-guling menuruni jurang nan gelap. Terus saja berguling hingga menimbulkan suara ribut akibat benturan bodi mobil pada permukaan tanah. Sampai akhirnya mobil Subject 09 pun menabrak sebuah pohon besar. Tak lagi berguling.

Suasana lantas menyepi. Tersisa suara mesin mobil menghembuskan asap putih ke langit malam. Rusak.

Mengejutkannya, para penumpang jip yang melakukan aksi adu banteng dengan mobil Subject 09 selamat. Empat orang pria bersenjata keluar dari jip dengan gagah. Mereka sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda cedera atau syok, malah langsung bergerak ke arah terlemparnya mobil Subject 09 seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Ganti pembidik kalian ke modus thermal vision [1]. Temukan Adam. Dia pasti belum jauh,” perintah salah seorang pria kepada ketiga temannya yang lain, tampaknya ia adalah pimpinan perburuan. Tak seperti temannya yang lain, ia tak menjinjing senapan otomatis berkaliber 5,56 mm, namun menjinjing sesuatu yang lebih mematikan: senapan runduk berkaliber 7,62 mm.

NB: [1] Teknologi visual untuk mencari titik panas dengan teropong atau kamera. Biasanya titik panas ditandai dengan warna kuning atau merah

Ketiga bawahan sang pria segera bergerak menuruni jurang kecil tempat jatuhnya mobil Subject 09. Mereka menggunakan thermal vision sebagaimana yang diperintahkan sebelumnya, namun tak menemukan tanda-tanda keberadaan target. Selain itu, mesin mobil yang berakhir nahas di bawah pohon tersebut masih terlihat panas, sehingga sedikit menyulitkan penyelidikan ketiga pria bersenjata tersebut.

“Bos, kita belum mendapatkan visual–”

Tak sempat sang personel menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba muncul Subject 09 dari balik kap mobil. Rupanya ia memanfaatkan mesin mobil yang masih panas untuk mengecoh lawan. Ia lantas menebarkan segenggam tanah ke wajah sang personel. Personel itu pun kelilipan. Hilang fokus.

Terjadilah perkelahian yang amat sengit antara Subject 09 dan tiga personel aparat di sebuah jurang kecil nan gelap tersebut. Sudah dikeroyok seperti itu pun Subject 09 masih mampu mendominasi pertarungan. Ia meninju, menendang, membanting, dan melakukan kuncian dengan kuat dan cepat.

Setelah bertukar serangan selama beberapa saat, Subject 09 akhirnya berhasil melucuti senapan salah seorang personel dan bergegas memberondong seluruh personel yang berkelahi dengannya. Seluruh musuhnya mati mengenaskan.

KA-BLAAAM!

Tiba-tiba, muncul tembakan dari arah yang tak terduga. Si pemimpin perburuan yang sedari tadi merunduk di tepi jalan rupanya mengamati gerak-gerik Subject 09 secara seksama. Ia tak peduli teman-temannya hilang nyawa, yang ia pedulikan hanyalah menangkap Subject 09, hidup atau mati. Ia pun melepaskan tembakan saat Subject 09 berpikir bahwa dirinya telah aman. Peluru dari senapan runduk khas Rusianya itu pun melesat melubangi pundak Subject 09 tanpa kepayahan.

“AAAKH!” untuk sekali ini Subject 09 menjerit cukup kencang. Ia langsung rubuh begitu timah panas mengoyak dagingnya.

Namun Subject 09 tak gentar. Ia segera mengambil senapan otomatis yang tergeletak di sampingnya dan memberondong ke tempat datangnya tembakan. RATATATA! Senapan pun menyalak lantang, membalas tembakan culas sang penembak misterius.

ZZZIIING! Mendengar desingan peluru berlalu begitu dekat di samping kepalanya, sang pimpinan perburuan pun segera merunduk lebih rendah di balik pembatas jalan. Ia terheran, bagaimana mungkin orang yang sudah rubuh dan lengah oleh entakan peluru masih bisa menembak dengan keakuratan yang luarbiasa? Ia pun memutuskan untuk bersembunyi sampai tembakan berhenti.

Namun, serangan brutal Subject 09 hanya terjadi selama beberapa saat. Tak lama kemudian, suasana kembali menyepi. Sang pimpinan pun melongok dari tempat persembunyiannya dan membidik ke tempat terakhir Subject 09 tersungkur. Sayangnya, target sudah kabur.

“Bangsaaat!” Sang pimpinan geram. Ia segera melompati pembatas jalan dan berlari mengejar Subject 09, si pembunuh brutal tersebut pasti belum jauh, pikirnya. Seraya berlari, ia sesekali memandang teropong senapannya untuk mengikuti jejak Subject 09 yang ditandai dengan warna biru kekuningan pada modus thermal vision. Artinya, jejak tersebut masih hangat.

Namun, pengejaran tersebut tak berjalan dengan lancar. Subject 09 tiba-tiba muncul dari balik pohon besar dan dengan sengaja menabrak lengan sang pimpinan. Ia lantas melepaskan beberapa tinju ke arah wajah dan torso, kemudian dilanjutkan dengan memukul kedua bisep sang personel pimpinan. Entakan tajam pada kedua bisep tersebut sontak membuat sang pimpinan merasa seperti tersengat listrik, ia pun kehilangan genggaman pada senapannya.

Sang pimpinan tak gentar. Walau senjatanya dilucuti, tetapi ia tetap melakukan perlawanan. Perkelahian sengit pun menjadi tak terhindarkan. Bahkan, tak jarang kedua petarung harus saling tindih dan bertarung pada posisi berbaring. Benar-benar tampak berantakan.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Pertarungan berlangsung alot. Sang pimpinan rupanya mampu mengimbangi kemampuan bertarung Subject 09, walaupun staminanya semakin terkuras dan pandangannya semakin tak jelas. Ia mungkin merupakan orang pertama yang mampu melawan Subject 09 lebih dari lima menit. Rekor baru.

Sementara itu, Subject 09 tetap bertarung seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya, padahal bahunya telah dilubangi oleh peluru dari senapan legendaris lawannya.

Pertarungan yang sangat panjang tersebut akhirnya membuat sang pimpinan kelelahan. Ia tak bisa mengimbangi stamina Subject 09. Akhirnya, ia memutuskan untuk menendang perut Subject 09 dan mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya. Begitu Subject 09 terentak menjauh, ia lekas-lekas melemparkan pisaunya kepada Subject 09.

Pisau melesat cepat ke tubuh Subject 09 dari jarak yang sangat dekat, mungkin hanya sekitar tiga meter. Subject 09 tak bisa menghindari serangan yang sedemikian cepat, pisau pun akhirnya berhenti di tempat yang tak terduga.

Lebih tepatnya, sangat tak terduga.

Begitu Subject 09 terentak oleh pisau yang mendarat di sekitar dadanya, sang pimpinan menyangka bahwa ia telah mengalahkan musuhnya. Terkaannya meleset. Adam rupanya berhasil menangkap pisau tersebut dengan tangan kosong! Tidak ada luka parah dari serangan tersebut, hanya ada sedikit luka sayatan pada telapak tangan Subject 09.

Tak diduga-duga, Subject 09 segera melemparkan pisau tersebut kembali kepada pemiliknya. Aksi lontar pisau tersebut terjadi begitu cepat, sehingga tak sempat diantisipasi oleh sang pimpinan yang baru saja menarik napas pasca melemparkan pisaunya kepada Subject 09. Pisau yang semula ditujukan untuk Subject 09 itu pun menancap dahsyat di dada kanan sang pimpinan. Senjata makan tuan.

Seraya menjerit, sang pimpinan tersungkur dramatis di atas tanah. Ia sudah pasrah. Tubuhnya terlalu lemah untuk kembali bangkit dan melawan, ditambah lagi rasa sakit yang merajang di sekitar dadanya.

Subject 09 menghampiri sang pimpinan perlahan-lahan, ia tampak santai. Napasnya hanya tersengal sedikit, tak seperti sang pimpinan yang sudah tak sanggup menarik napas lebih panjang. Agaknya ia berniat untuk menghabisi nyawa sang pimpinan dengan cara menginjak tenggorokannya atau mematahkan lehernya atau menusuknya lagi. Entah.

Akan tetapi, tak lama kemudian, terdengar segerombolan orang berlari ke tempat Subject 09 dan sang pimpinan bertarung. Subject 09 sadar bahwa aparat bantuan datang untuk melapisi pengejaran terhadapnya, tetapi kali ini jumlahnya sangat besar, ia takkan sanggup melawan seluruhnya. Ia pun berdiri mematung seraya memandangi sang pimpinan dengan wajah kecut. Tak lama, ia bertolak dari tempatnya berdiri dan bergegas pergi. Kabur dari tempat kejadian perkara.

Sang pimpinan dapat bernapas lega, namun ia tak puas. Sebagai seorang petarung, kekalahan seperti demikian sangat tak bisa ditoleransi. Lebih baik pulang nama daripada gagal di medan laga, renungnya. Namun, Tuhan mungkin punya rencana lain. Ia pun berbaring luruh di atas tanah. Gusar.

***

Sang pimpinan yang kemudian diketahui bernama Johan Burhanuddin tersebut duduk merenung di bangku belakang mobil ambulan tempat ia dirawat. Dadanya telah diperban, keadaannya semakin membaik. Beruntung pisau yang menancap di dadanya tidak mengenai organ vital, sekadar melukai otot. Ia benar-benar pria yang sangat tangguh.

Sementara itu, pasukan bantuan yang berjumlah hampir seratus personel itu rupanya tak mampu menemukan Subject 09. Mereka kehilangan jejak. Hal tersebut tentu saja membuat Johan semakin jengkel. Sudah datang keroyokan, masih saja tak bisa membekuk si pembunuh tersebut.

Tak lama kemudian, kegundahan pun mencair. Muncul seorang pria bermantel hitam menghampiri Johan. Tampaknya ia juga merupakan anggota intelijen, entah divisi apa. “Letnan Satu Johan Burhanuddin?” tanya sang pria.

“Ya, benar. Siapa kau?” Johan merespon dengan dingin.

“PIN. Bosku ingin berbicara denganmu. Terimalah teleponnya,” sang pria menyodorkan ponselnya.

“Tentang apa? Kalau tak jelas, aku tak mau angkat. Apalagi jika hanya untuk ngomel-ngomel.”

“Tidak. Ia tertarik karena kau masih hidup setelah baku hantam dengan Adam. Terimalah,” sekali lagi sang pria bermantel menyodorkan ponselnya.

Johan menatapi sang pria dengan tatapan dingin. Tak lama, ia pun mengenakan pakaiannya dan berjalan keluar dari ruang perawatan di mobil ambulan. Ia lantas menyambar ponsel sang pria dan memberanikan diri untuk merespon panggilan seorang penelepon misterius. “Johan,” ujarnya memulai percakapan seraya berjalan menjauhi ambulan.

Apakah aku berbicara dengan Letnan Satu Johan Burhanuddin dari Grup 3/Sandi Yudha Kopassus?” tanya sang penelepon.

“Ya, Bu. Siapa ini? Apakah kau yang mengirim pesan untuk membekuk Adam Sulaiman kepadaku malam ini?”

Benar, Letnan. Namaku adalah Hana Yuriska, pimpinan pengejaran terhadap Adam Sulaiman di PIN. Aku mendengar pernyataan dari salah seorang anak buahku bahwa kau adalah satu-satunya anggota kelompok yang selamat setelah baku hantam dengan Adam. Benar demikian?” Rupanya Hana.

“Ya, Bu. Benar.”


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Hana terdiam sejenak. Ia menghela napas lega. “Bisakah kau menemuiku malam ini? Aku ingin berbicara empat mata denganmu terkait perburuan terhadap Adam.

“Tunggu dulu, Bu,” Johan tak ingin tergesa-gesa. Ia pun menarik napas panjang seraya mengusap-usap tengkuknya dengan jengkel. “Sebelum kita bertemu, ngopi, makan kue, dan lain-lain, aku ingin bertanya kepadamu mengenai pria yang kalian panggil dengan nama Adam tersebut. Dia itu apa!? Maksudku, manusia jenis apa dia sebenarnya? Jangan bilang bahwa ia adalah manusia eksperimen yang lepas dari tangan kalian. Ia tidak normal; terlalu kuat, terlalu cepat, dan terlalu keras untuk dilumpuhkan!” protesnya.

Hana terdiam sejenak. Ia mungkin sedang memikirkan jawaban yang tepat. “Dia bukan agen kami, Johan. Dia agen Soeharto, dilatih sejak bayi. Semacam versi upgrade dari Petrus, namun seratus kali lebih superior.

Johan mengernyitkan keningnya. Pantas saja Adam terlalu sulit untuk diringkus, pikirnya. Ia tak menyangka bahwa almarhum Soeharto memiliki investasi sedahsyat Adam, satu orang itu tentu bisa menjadi masalah untuk personel aparat modern yang terlalu bergantung pada senjata dan teknologi. Ia jadi penasaran, lantas mengapa Adam memberontak?

“Dan kalian ingin merekrutku untuk membekuk Adam, begitu ‘kan? Dalam perspektifku, itu sama saja dengan bunuh diri. Orang itu bukan manusia, ia monster. Sebaiknya kau berkoordinasi dengan seluruh unit pasukan khusus di Indonesia. Mengandalkan satu orang sepertiku tidak akan membuahkan hasil apa-apa.”

Johan, ayolah. Aku tak percaya kata-kata itu keluar dari salah satu unit terbaik pemerintah. Kau adalah anggota pasukan elit terbaik yang pernah Indonesia miliki sampai detik ini. Buktinya kau selamat, itu artinya kau mampu mengatasi Adam. Kau tahu, menemukan personel yang mampu selamat dari serangan Adam itu sangat sulit, apalagi sampai terlibat baku hantam dengannya. Bagiku kau spesial, karena kau mampu bertahan hidup darinya,” rayu Hana. “Kita tak punya banyak waktu, Johan. Kumohon. Kami memohon.

Lagi-lagi Johan menghela napas panjang. Bagaimana pun ia adalah prajurit yang memiliki jiwa patriotik tinggi, ia tak bisa meninggalkan panggilan tugas negara jika dibutuhkan. “Baiklah, baiklah. Di mana aku harus menemuimu?”

Bagus! Aku senang kau berada di pihak kami. Ikuti saja pria yang memberikan telepon ini kepadamu. Ia akan mengantarkanmu ke kantorku.

Johan menatapi pria bermantel hitam yang menunggunya di belakang ambulan. “Baiklah. Aku mengerti.”

“Oke, Letnan. Kutunggu kau di kantorku.”

***

Bandung, 08.03
Beberapa jam sebelum perburuan terhadap Subject 09 di Tol Cikampek

Seorang wanita berhijab dan berkacamata yang dikenal dengan nama Felicia itu terlihat sedang menikmati semangkuk ramen di sebuah kios makanan Jepang nan halal. Ia baru saja pulang dari pengajian pagi yang diadakan di masjid milik cendekiawan terkenal, lalu mendatangi kios makanan itu sendirian, tak seperti akhwat-akhwat [2] lain yang lebih suka berkelana secara berkelompok. Entah mengapa, mungkin ia adalah tipe wanita yang sangat introvert dan hanya berkumpul pada momen-momen tertentu.

Karena ia duduk sendirian, ia pun terus-menerus dipandangi oleh beberapa ikhwan [3] yang kebetulan juga sedang makan di warung tersebut. Tak heran, selain namanya yang anggun, fisiknya juga sangat ideal; kulitnya putih langsat, pipinya kemerahan, tubuhnya tidak langsing dan tidak gemuk, dan yang paling penting adalah wajahnya yang sangat cantik. Ia kini bahkan menjadi wanita berhijab paling populer di lingkungan tersebut. Khumaira, begitu nama julukan yang disematkan kepadanya.

NB: [2] Sebutan untuk kaum hawa di lingkungan pengajian
[3] Sebutan untuk kaum adam di lingkungan pengajian

Saking populernya, Felicia bahkan sempat dicari-cari oleh pasangan cendekiawan terkenal pemilik masjid dan pondok pesantren yang mengelola lingkungan madani tersebut. Tetapi Felicia tetap low-profile, ia bersikap seakan-akan tak tahu dengan kehebohan yang terjadi di sekitarnya. Beberapa tawaran menikah pun bahkan ia tolak mentah-mentah dengan alibi bahwa ia masih ingin fokus menuntut ilmu. Hebatnya, tak ada barisan sakit hati, tolakannya yang begitu anggun dan elegan malah membuat para lelaki semakin klepek-klepek. Felicia tetap tak peduli.

Kembali ke kios makanan Jepang, para ikhwan yang sudah selesai makan itu tampaknya memang sengaja berlama-lama di kursi masing-masing untuk tebar pesona kepada Felicia. Sayangnya, Felicia tak menanggapi. Ia malah terfokus pada televisi yang berada di hadapannya.

Sebuah saluran televisi swasta menyiarkan berita mengenai teroris pembunuh delapan pejabat pemerintah yang selama beberapa waktu terakhir menjadi headline. Hanya saja, kali ini ada yang berbeda, berita tersebut menampilkan foto sang teroris yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh seluruh aparat keamanan Indonesia. Felicia agaknya lebih tertarik dengan berita semacam itu daripada mengurusi soal hati yang berbunga-bunga di sekitarnya.

Tak lama, ia pun tertunduk. Kembali fokus ke mangkuk ramennya. “Jadi, selama ini kamu yang mengacau,” bisiknya sembari menyumpit ramen.

“Nine … ”

TO BE CONTINUED


 

<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *