27.1 – Prince’s Throne: Big Bad Brothers


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

PRINCE’S THRONE ADALAH KISAH PERJALANAN ANAK ASUH SUBJECT 09.

BACA CERITA PRINCE’S THRONE YANG LAIN DI SINI!

BARU PERTAMA KALI BACA SUBJECT 09? BACA DARI AWAL DULU!


Sejak saat peperangan pecah di tanah Nusantara, Jepang seakan tak pernah tidur. Negeri di bagian timur Asia itu ikut merasakan kengerian yang terjadi di tanah saudara jauhnya, Indonesia …

… khususnya sesaat setelah Jepang meneguhkan pendiriannya untuk tetap menjadi negara pasifis. Tampaknya, tidak semua orang menyukai keputusan tersebut.

***

Aoyama High School
Osaka, Jepang
Tahun 2026
12.07

Sore jaa … kapan kamu pertama kali baku hantam dengan seseorang?”

Megumi Adachi, wanita berambut panjang bergelombang itu bertanya kepada sosok siswa berparas Melayu oriental di sampingnya. Keduanya tengah menikmati waktu istirahat di atap sekolah, sambil menikmati embusan angin sepoi di siang hari. Momen makan siang pun jadi terasa lebih mewah, meski tak ada menu yang meriah.

Hai, hai!” Ryu Takahashi, siswa botak yang berdiri di hadapan Megumi dan siswa tampan itu merespon antusias saat Megumi melontarkan pertanyaan. “Katakan kapan pertama kali kau berkelahi dengan orang lain, Prince?”

“Hmm … ” siswa yang bernama Prince tersebut tercenung sejenak. Ia mengusap-usap dagunya. “Sepertinya sewaktu aku masih kecil. Umur 13 tahun, kalau tidak salah,” jelasnya dalam bahasa Jepang.

Heeee!? Dou shite!?” Megumi dan Ryu terperanjat. Mereka tak percaya seseorang dengan wajah polos seperti Prince pertama kali baku hantam di usia yang relatif muda. “Siapa lawanmu? Teman sekolah?”

“Teroris, kalau tidak salah … ” ujar Prince spontan. “Ah, ya. Benar. Teroris.”

“TERORIS!?” Ryu dan Megumi makin terkejut. Bagaimana mungkin di usia yang masih sangat muda berkelahi dengan teroris? “Bagaimana ceritanya kau bisa berakhir melawan teroris!?”

Etto, anokoro … ” Prince menengadahkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada waktu itu. “Waktu itu, negaraku sedang kacau. Banyak teroris dan bom di mana-mana. Ibuku adalah salah satu korbannya.”

“Heeee!?” kening Megumi berkerut, ia tak tega mendengar kisah pujaan hatinya. Suaranya melirih. “Apakah ibumu baik-baik saja?”

Prince terdiam sejenak. Ia menatapi Megumi dan Ryu secara berkesinambungan, lalu mengembuskan napasnya dengan berat. Seraya tertunduk, ia mengumpulkan keberaniannya untuk berkisah.

“Ia baik-baik saja, waktu itu. Sempat koma, tetapi kondisinya stabil,” jelas Prince. “Aku tak ingin mengenang momen itu, sebenarnya. Tetapi karena kalian penasaran, jadi kujawab.”

“Ah, gomen, gomen! Aku tidak bermaksud mau membuatmu terkenang dengan masa-masa itu!” ujar Megumi seraya menundukkan kepalanya berulang kali.

Daijobu, Adachi-san … ” Prince tersenyum lebar. Ia menolerir rasa penasaran kedua sahabatnya. “Salahku juga sampai menyebut ibuku sebagai korban.”

Sono go, kau menyerang teroris gara-gara kejadian tersebut?” Ryu menimpali rasa herannya. “Semua terdengar seperti bohongan, kau tahu!?”

Shitteru yo, Takahashi,” ujar Prince tersenyum. Ia sadar bahwa ceritanya terdengar seperti karangan belaka. “Aku tahu ceritaku terdengar tidak masuk akal, tetapi memang itu yang terjadi. Bibiku yang membawaku ke sebuah tempat untuk melawan seorang teroris yang baru saja ia tangkap, jadi aku tidak menemukan teroris itu sendirian.”

“Heeee, apa sih pekerjaan bibimu? Kok terdengar menyeramkan, ya?” tanya Ryu lagi.

“Unggg … bagaimana menjelaskannya, ya?” Prince menggaruk-garuk tengkuknya. “Ia semacam tentara, tetapi lebih istimewa. Kau bisa menyebutnya pasukan khusus. Kalau di Jepang, mungkin kau bisa membandingkannya dengan pasukan SAT.”

“Ah! Aku tahu pasukan itu! Pasukan polisi Jepang yang bajunya hitam-hitam!” seru Ryu antusias. “Kalau bibimu seperti SAT, berarti bibimu keren sekali, ya!”

“Heee … jadi benar apa yang dikatakan oleh Paman Kimura [1] beberapa waktu lalu,” Megumi menutup mulut dengan tangannya. Intonasinya merendah. Percaya tidak percaya.

NB: [1] Baca episode 25.1

“Oh? Kau tahu sesuatu, Adachi?” Ryu menatapi teman perempuannya seraya mengernyitkan dahi. Ia memang selalu ingin tahu.

“I-iya, Paman Kimura pernah mengatakan bahwa Prince dilatih oleh militer atau semacamnya,” kata Megumi.

“Kimura-san, dare?” Ryu bertanya-tanya. Ia tak mengerti siapa Paman Kimura yang disebut-sebut oleh Megumi.

“Paman Kimura adalah seorang kepala geng yang pernah bertemu denganku dulu, Takahashi,” jelas Prince, menggantikan posisi Megumi untuk menjawab. “Ia adalah orang yang ramah. Kau tidak perlu khawatir. Kami memang pernah mengobrol satu-dua hal soal beladiri,” lanjutnya berbohong.

Prince tak ingin Ryu mengetahui sejarahnya dengan Paman Kimura.

“Ah, baiklah,” kata Ryu sembari mengangkat bahu. “Jadi, bagaimana cara bibimu menemukan seorang teroris, Prince?”

“Bibiku sudah berpengalaman melakukan operasi-operasi berbahaya. Ia sudah sering berhadapan dengan teroris, jadi cukup mudah baginya untuk menangkap seorang teroris,” papar Prince.

“Jadi, kau berkelahi dengan teroris yang ditangkap oleh bibimu itu?” tanya Ryu. Ia pun berjongkok, semakin antusias.

“Ya, begitulah. Itu adalah pertama kalinya aku baku hantam dengan orang asing yang umurnya jauh lebih tua dariku,” Prince mengakhiri ceritanya dengan senyuman.

Megumi menundukkan kepalanya. Ia lantas menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal. “S-sekarang aku paham kenapa kau tidak pernah terlihat takut saat berdekatan dengan preman atau anggota geng motor,” katanya.

“Dan itu juga alasan kenapa Prince bisa mengalahkan teman kita yang jago karate itu,” timpal Ryu seraya mengentak-entakkan kepalanya ke samping, seakan tak ingin pembicaraanya ketahuan oleh orang lain. “Aku benci dengan orang sombong seperti Mamoru, rasanya puas sekali melihat ia dikalahkan oleh Prince di dojo minggu lalu.”

“Sudahlah, jangan bahas itu … ” Prince memerbaiki posisi duduknya. Ia tak ingin mengenang perseteruannya dengan seorang atlet Karate di sekolah tersebut, entah siapa. “Mamoru adalah seorang atlet, ia hanya ingin mengukur kemampuannya.”

“Aku sepemikiran dengan Prince. Kurasa Mamoru hanya ingin mengetes sejauh mana kemampuannya,” Megumi berpendapat. “Walaupun aku juga tidak suka caranya berbicara sih, terdengar arogan.”

“Sudahlah, kejadian dengan Mamoru itu hanya sparring, kami tidak benar-benar berkelahi. Ia hanya ingin mengonfirmasi isu yang beredar. Orang-orang di sini sering mengatakan bahwa aku adalah gaijin yang jago silat, jadi ia merasa tertantang.”

“Ha, sepertinya isu itu memang membuatmu dalam masal–”

BRAAAK!

Belum sempat Ryu menyudahi kata-katanya, tiba-tiba muncul dua orang membuka pintu atap sekolah dengan kasar. Satu pria, satu wanita. Keduanya tampak seperti sepasang kekasih yang sedang berkelahi. Atap sekolah Aoyama memang tampak seperti tempat yang ideal bagi siapa pun untuk “menghilang” dari sorotan publik.

Tiga sahabat yang sedang menikmati makan siang di sana pun terenyak. Mereka langsung mengalihkan fokus ke tempat terjadinya perseteruan. Situasi sempat menegang, tetapi ketiganya lebih memilih untuk diam dan memerhatikan keadaan.

Belum lama berselang, kedua sorot mata Ryu menajam. Siswa dengan rambut tipis hampir botak itu ternyata mengenali sosok wanita yang sedang terlibat perkelahian. Napasnya pun tertahan selama beberapa saat. “I-itu … Ayako-chan!” katanya.

“Ayako? Ayako-chan, dare, Takahashi?” Megumi menanyakan identitas Ayako kepada Ryu. Ia tak kenal siapa Ayako.

“Ayako! Itu Ayako anggota girlband Pinky Pandora!” seru Ryu dengan penuh keyakinan. “Masa kalian tidak tahu girlband itu!?”

Iie. Wakarimasen,” Megumi dan Prince kompak menyatakan ketidaktahuan mereka terhadap Ayako maupun grup idola Pinky Pandora. Ekspresi mereka tampak datar.

“KENAPA KALIAN HARUS SEKOMPAK ITU!?” protes Ryu memelototi kedua sahabatnya. “MALU BANGET AKU! SUMPAH! SEKARANG KALIAN JADI TAHU KALAU AKU INI OTAKU.”

Megumi dan Prince tertawa kecil, tetapi tak lama.

Tiga sahabat yang semula hanya ingin melepas penat di atap sekolah itu kembali memerhatikan perseteruan yang mulai memanas. Prince, terutama. Sorot matanya menajam, seakan telah membaca ke mana arah perkelahian tersebut akan bermuara.

“Sebaiknya kita awasi dua orang itu,” kata Prince. “Perkelahiannya mulai kasar.”

***

12.17

“Yamato, aku sudah bilang berulang kali bahwa aku ada jadwal latihan dengan Pinky Pandora! Aku tidak selingkuh!” Ayako Yoshitani, salah seorang anggota girlband Pinky Pandora, mencoba menjelaskan keadaannya kepada seorang siswa di hadapannya.

Usotsuki da!” Yamato Rikugi, pria keren bergaya kekinian itu menolak penjelasan kekasihnya. Ia menuduh Ayako berbohong. “Tidak mungkin kau latihan setiap hari dan tidak bisa membalas pesanku setiap saat! Kau sudah pasti selingkuh! Siapa selingkuhanmu, kuso!?

“Yamato, kumohon, jangan kasar … ” sambil mundur perlahan-lahan, Ayako mengatupkan tangannya, hampir seperti berdoa. “Aku tidak selingkuh. Jadwal latihanku memang ketat, itulah kenapa aku jarang membalas pesanmu. Lagipula aku selalu berusaha membalas pesan pada malam hari, tetapi kau … sudah tidur.”

Nada bicara Ayako melirih, menandakan bahwa ia sedang berusaha keras menahan tangis.

“BANYAK ALASAN!” Yamato sampai kepada emosi tertingginya. Tanpa keragu-raguan, ia pun mengayunkan tangannya tepat ke wajah manis Ayako.

Satu tamparan melayang. Ayako tak bisa mengantisipasi serangan yang datang, ia pun pasrah menerima entakan keras pada pipi putihnya. Pijakannya sempat goyah, tetapi tak sampai membuatnya tersungkur. Airmata yang sedari tadi telah tertahan pun tak lagi dapat terbendung.

Yariman!” Yamato masih belum puas memarahi kekasihnya. Ia bahkan menyebut Ayako sebagai pelacur. Kasar sekali. “Kau benar-benar membuatku kesal! Kau bilang kau ingin membuatku bahagia, tetapi mana buktinya!? Di akhir pekan pun kau hanya bergumul dengan teman-teman jogetmu itu! KAU MEMANG PANTAS DIBERI HUKUM–”

“HEI!”

Siswa bergaya preman itu tak sempat menyelesaikan kata-katanya maupun aksi kekerasan yang dilakukannya. Yamato terperanjat, ia tak menyangka ada orang yang mendapatinya melakukan perbuatan tidak senonoh di sana. Segera ia turunkan tangannya dan menoleh ke arah sumber suara.

“Kalau kau tidak bisa menghargai pekerjaannya sebagai idol, kau tidak perlu memukulnya!” Ryu, pria berambut superpendek itu mendatangi Yamato dengan berapi-api. “Cari wanita lain saja! Jangan mengganggunya!”

D-dare ja ne, kimi wa!?” tanya Yamato. Siswa bergaya preman itu menanyakan identitas Ryu dengan kasar. “Ini urusanku! Kau tidak perlu ikut campur!”

Setelah menantang balik siswa misterius di hadapannya, Yamato mengalihkan fokusnya kepada dua murid yang mengikuti di belakang tubuh sang siswa. Satu laki-laki, satu perempuan. Ia pun menelan ludah. Seakan hendak dikeroyok.

“Bukan urusanku, bagaimana?” tanya Ryu memberanikan diri. “Kami sedang makan siang dengan damai, lalu melihatmu menampar seorang wanita. Kau pikir kami bisa diam saja? Itu kekerasan! Kami takkan tinggal diam melihat ketidakadilan seperti itu!”

Sore wa … ” Prince menyela dalam bisikan. “Pidato yang bagus, Takahashi.”

U-URUSAI, PRINCE!” Ryu memarahi Prince seraya berbisik, ia tak ingin sikap sok kerennya ketahuan oleh lawan bicara di hadapannya. “K-KAU TIDAK LIHAT KAKIKU? SUDAH GEMETAR SEDARI TADI!”

Prince dan Megumi pun mendengus, menahan tawa.

“Jangan bercanda kalian!” Yamato geram. Suaranya menggelegar. “Kalau kalian mau selamat sebaiknya kalian pergi dari hadapanku, chikusou!

Mendengar seruan kasar dari lawan bicaranya, Ryu naik pitam. Ia pun mengerat gigi-giginya dengan keras dan merangsek maju untuk memukul Yamato. Sayangnya, luput.

Hampir semua orang di Aoyama High School tahu bahwa Yamato adalah anggota bosozoku alias geng motor. Ia sudah terbiasa berkelahi dengan orang lain. Sehingga, pukulan Ryu tak berarti apa-apa baginya. Ia dapat menghindar dengan mudah.

Omae, dame dana!” seraya bergerak menyamping, Yamato meluncurkan tinjunya tepat ke rahang Ryu. Pukulannya masuk.

Ryu tak bisa menahan serangan yang datang ke wajahnya. Ia bahkan tak tahu apa yang baru saja terjadi kepadanya. Yang ia tahu, kepalanya terguncang keras. Pijakannya rontok, ia pun terpelanting dari tempatnya berdiri dan tersungkur di atas lantai semen.

Melihat kejadian tersebut, Megumi merasa iba. Ia pun berlari menghampiri sahabatnya yang baru saja tergeletak tak berdaya. Sementara itu, Prince tetap di tempatnya, menatapi keadaan seraya mengerutkan dahi.

“Hahaha! Itulah akibatnya kalau kalian bergalak sok jagoan!” kata Yamato menyombongkan diri.

“Yamato, onegai … jangan kasar, jangan menyakiti orang lain!” Ayako masih berusaha menenangkan kekasihnya. Ia menarik-narik baju seragam Yamato.

“Berhenti bersikap seakan-akan kau peduli pada orang lain, Ayako!” tukas Yamato seraya mendorong tubuh Ayako dengan kasar. “Kau bahkan tidak peduli padaku!”

Yamero,” Prince merespon singkat. Ia menghentikan keributan yang tak terkendali hanya dengan satu kata: berhenti. “Yamato, kau sudah membuat kericuhan. Pertama, kau pukul pacarmu. Kedua, kau pukul temanku. Mungkin sebaiknya kau pergi dan menenangkan emosimu.”

“Apa pedulimu!?” Geram, Yamato membentak Prince. “Kau tidak tahu apa-apa soal hubunganku dengan Ayako! Tidak ada yang boleh menghakimiku! Ini adalah hidupku, INI ADALAH URUSAN PRIBADIKU!”

Iie,” Prince menolak egoisme Yamato secara spontan. “Ini bukan urusan pribadimu lagi. Kau melakukan kekerasan di sekolah, di tempat publik, dan kami menyaksikannya. Ini sudah menjadi urusan bersama.”

U-urusai … ” Yamato kehabisan kata-kata, malah menyuruh Prince untuk diam. Ia mengerat gigi-giginya dengan keras. Gusar, tak bisa mengembalikan argumentasi lawan bicaranya. “MATI SAJA KAU!”

Bersamaan dengan teriakannya yang menggelegar, Yamato meluncurkan tinjunya tepat ke wajah Prince. Tak ada keraguan terbesit dalam benaknya, Yamato hanya ingin memuaskan egonya.

Sayangnya, pukulan keras Yamato tak berhasil mengenai target yang dituju. Malah, Prince dapat mengantisipasi pukulan tersebut dengan mudah. Siswa berwajah Melayu oriental itu menghentikan dan menangkap pukulan hanya dengan telapak tangannya.

Peristiwa ajaib itu tentu saja membuat seluruh pasang mata terbelalak. Semua pihak tercengang. Tak ada yang menyangka bahwa pukulan keras yang diluncurkan Yamato dapat dihentikan begitu mudah, hanya dengan satu tangan.

Shitsurei ne … ” ujar Prince santai. Ia mengatakan bahwa Yamato telah bersikap kasar kepadanya. “Orang Jepang seharusnya sopan dan beretika, tidak sepertimu.”

“L-lepaskan tanganku,” Yamato berusaha untuk mengintimidasi, namun justru ia yang terdengar terintimidasi. “Aku akan menghajarmu, kau tahu!?”

Honto?” Benarkah?

Yamato tak menjawab pertanyaan Prince. Ia langsung meluncurkan pukulan keduanya. Lebih kuat, lebih cepat.

Sayangnya, pukulan Yamato lagi-lagi dapat diantisipasi dengan mudah. Prince memundurkan kepalanya sebelum kepalan tangan mendarat di wajahnya. Seraya menghindar, ia juga melepaskan genggamannya terhadap kepalan Yamato.

Tak ada yang berani berkomentar saat itu, semua orang di luar arena perkelahian melangkah mundur untuk menjauh.

Yamato pun kembali pada posisi tarungnya yang sempurna. Ia siap berkelahi dengan kedua tangannya lagi. Dan benar saja, ia segera merangsek maju dan menyiapkan pukulan yang lebih keras. Tinjunya ia angkat setinggi kepala, menunggu momen yang tepat untuk melepaskan serangan.

Namun demikian, Prince tak gentar. Ia menghadapi Yamato dengan elegan, tentu saja. Bersamaan dengan merangseknya Yamato, ia juga bergerak maju. Bedanya, ia tidak menyiapkan serangan yang mengerikan seperti lawannya. Ia hanya membuka kedua telapak tangannya setinggi kepala.

Benturan pun tak terhindarkan. Suara pukulan menyeruak memecah sunyi. Keras dan cepatnya serangan bahkan membuat dua wanita di atap sekolah siang itu menjerit singkat, tak berani menatap.

Sayangnya, pertarungan itu tetap dimenangkan oleh Prince betapa pun untungnya posisi Yamato. Pria berparas Melayu oriental itu menepis pukulan Yamato, lantas menyodok wajah Yamato dengan pangkal telapak tangannya. Serangannya masuk dengan cepat dan keras, sehingga Yamato hanya bisa mengikuti arah pergerakan momentum.

Entakan itu berhasil membuat Yamato terpelating dari tempatnya berdiri. Anggota geng motor itu pun tersungkur, berguling-guling, lalu melenguh tak berdaya. Sesaat itu, tak ada suara yang tersisa kecuali cericip burung di kejauhan dan Yamato yang mengejan akibat menahan sakit.

“Kau memukul seorang wanita, kemudian memukul temanku, kemudian memukulku berkali-kali. Jangan protes kalau aku kembalikan pukulanmu,” kata Prince santai. “Aku hanya memukul sekali, ngomong-ngomong.”

Konoyarou … ” Yamato bersusah-payah membangkitkan tubuhnya seraya memegangi hidungnya yang kesakitan. “K-kau akan menyesal, gaijin!

“Hei, aku hanya membela diri dari apa yang kau lakukan–”

“Aku tahu kau adalah gaijin yang dibilang oleh orang-orang itu! Kau akan menyesal! Pegang janjiku … ” Yamato bergerak menuju pintu keluar. Ia menjauhi lokasi pertarungannya. “KAU AKAN MENYESAL, GAIJIN!

Tanpa mengindahkan keadaan fisiknya, Yamato langsung berlari menuju pintu keluar. Ia pun meninggalkan atap sekolah dengan kemarahan yang meluap-luap, lantas menghilang dari pandangan Prince dan kawan-kawan.

Sepi merebak. Diam menyeruak.

Anoo … ” Prince menetapkan pandangannya kepada gadis berambut pendek di hadapannya, Ayako. Gadis manis itu tampak syok, tak bisa berkata-kata bahkan setelah pacarnya pergi. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“A-ah, gomen, gomen! GOMEN NASAI!” mendengar pertanyaan Prince, Ayako tiba-tiba saja menundukkan kepalanya beberapa kali, meminta maaf seperti baru saja melakukan kesalahan besar. Ia masih tak bisa mengendalikan perasaannya yang bercampur aduk.

Chotto, kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Jangan meminta maaf seperti itu,” Prince menolak permintaan maaf Ayako seraya mengibas-ngibaskan tangannya. “Aku hanya ingin bertanya.”

Ayako mengangkat kepalanya. Ekspresinya masih tak menentu. Kerut-kerut di keningnya menyatakan segala tentang keadaan hatinya. “N-nani?” apa, tanyanya.

Prince terdiam sejenak seraya menatapi kedua sahabatnya yang masih berusaha memulihkan keadaan. Ia lantas mengembalikan tatapannya ke depan. “Gomen, bukan maksudku ingin ikut campur masalahmu, tetapi adakah alasan khusus mengapa kau bertahan dengan pacarmu?”

” … ” Ayako sempat terenyak, lantas menundukkan kepalanya. Ia tak lekas merespon pertanyaan lawan bicaranya. Malah, sesekali ia membuang tatapan ke arah lain, seakan ingin menghindar. “A-aku … hanya takut.”

Hening. Tak ada komentar.

Naze?” Prince pun menyambung pertanyaannya beberapa saat setelah membiarkan suasana menyepi. Ia menanyakan alasan ketakutan Ayako.

“K-kau sudah melihat peringainya. Bagaimana aku tidak takut? A-aku tidak mungkin bisa mengakhiri hubungan dengannya.”

Prince membiarkan angin sepoi menyela percakapannya. “Jadi, kau tidak bisa berpisah dengannya karena kau takut akan mendapatkan dampak yang buruk.”

“U-un, sonna kanji … ” Ayako mengonfirmasi pertanyaan Prince. Meski tidak mengakui secara langsung, tetapi ia mengiyakan hipotesis Prince.

Pemuda yang baru saja menumbangkan salah satu murid ternakal itu pun menarik napas panjang, lantas mengembuskannya secara perlahan-lahan. Ia tak ingin terburu-buru merespon ujaran gadis yang masih syok di depannya.

“Ada sebuah ungkapan tua,” lanjut Prince. Ayako langsung terdiam memerhatikannya. “Ungkapan itu berbunyi: kalau kau tidak mengubah dirimu, maka tak akan ada yang mengubahnya.”

Sekali lagi Ayako menatapi Prince dengan sorotan penuh teka-teki. Kecemasannya terusir, paling tidak untuk sementara waktu. Ia menunggu penjelasan.

“Kadang, jawaban dari masalah-masalah kita hanya ada di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu peka untuk melihatnya,” senyuman Prince menutup ungkapan bijak siang itu. Ia lantas berjalan menghampiri kedua sahabatnya.

Ayako terpaku di tempatnya berdiri. Tatapannya masih menyorot lurus ke depan. Perasaannya bergejolak, kecemasannya seakan memberontak keluar. Kata-kata Prince sanggup meruntuhkan keyakinannya soal hidup yang berhias jeruji besi. Seakan jiwanya tengah menyeruak dari balik penjara yang selama ini mengekangnya.

Sementara Ayako tercenung, Prince telah membopong Ryu yang masih kesakitan akibat pukulan di bagian rahang. Di saat yang sama, Megumi bersikap seakan tak peduli pada Ayako, ia terfokus pada kedua sahabatnya.

C-c-chotto!” Ayako menahan kepergian Prince.

Tanpa berpikir dua kali, Prince langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, tepat ke arah Ayako.

“S-setidaknya beritahu aku namamu!” seru Ayako malu-malu. Ia agak berteriak, hampir sama seperti saat Megumi menyatakan cinta kepada Prince. [2]

NB: [2] Baca episode 25.1

Prince tersenyum tipis. “Kupikir kau sudah tahu sejak pacarmu meneriakiku gaijin.”

I-iie! A-aku tidak tahu! K-k-kumohon!” badan Ayako membungkuk, seakan memohon.

“Prince,” jawab Prince spontan, sambil menahan bobot temannya yang tak mau diam.

“N-NAMAKU RYU TAKAHASHI!” sambar Ryu secara tiba-tiba. Ia juga menoleh ke belakang dengan wajah yang memerah.

Megumi terdiam. Ia menatapi Ayako dengan ekspresi yang kruang ramah. Sinis. Sesaat kemudian ia pun membuang tatapannya. “Megumi A-Adachi.”

Ayako tersenyum cerah, seakan kekhawatirannya sirna seketika waktu. Sekali lagi ia membungkukkan tubuhnya seraya mengumpulkan energi di dalam dadanya.

A-ARIGATOU GOZAIMASU, PRINCE-SAN, TAKAHASHI-SAN, ADACHI-SAN!”

***

Kediaman Keluarga Rikugi
Osaka, Jepang
16.32

Tadaima … ” Yamato menggeser pintu rumahnya dengan luruh, lalu mengucapkan salam. Ia tampak tak bersemangat hari itu. Sepatunya pun dilepas di sembarang tempat, tak dirapikan setelahnya.

Rumahnya tampak sepi. Tak ada suara apa pun kecuali detak jam di sudut ruangan. Yamato tak peduli pada kesunyian tersebut. Ia tetap masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan kepenatannya hari itu.

“Kei-nii?” seraya berjalan menyusuri lorong kecil di rumahnya, Yamato memanggil-manggil kakaknya. Sama seperti saat ia meletakkan sepatunya, ia juga menjatuhkan tasnya dengan sewenang-wenang.

Meski tak ada jawaban, Yamato tak merasa curiga, ia tetap menyusuri lorong rumahnya yang sempit sampai kemudian berhenti di depan pintu kamar kakaknya.

Setibanya, Yamato terdiam. Ia menatapi papan tulisan yang sudah kucal di depan pintu. Keisuke Rikugi, begitulah bacaan pada papan berdebu yang menggelantung di hadapannya. Entah mengapa Yamato memandanginya, tetapi Yamato tak memerhatikannya terlalu lama. Ia melanjutkan niatnya mengunjungi sang kakak.

“Kei-nii?” ujar Yamato sembari mengetuk pintu kamar kakaknya, Keisuke.

Ada apa, Yamato?” tanya seorang pria dengan suara yang agak berat dari dalam kamar.

“A-aku … butuh berbicara denganmu,” kata Yamato seraya meninggikan suaranya agar terdengar sampai ke dalam kamar.

Tak ada respon apa pun dari Keisuke. Ada suara gemerisik dari dalam kamar, tetapi hanya sesaat. Ia membiarkan adiknya menunggu di depan kamar, seperti tanpa harap. “Masuklah.

Mendapatkan izin dari kakaknya, ekspresinya merekah. Ia lantas membuka kenop pintu dan masuk ke dalam kamar kakaknya. “Shitsurei shimasu … ” ucapnya sopan.

“Heh,” Keisuke, masih sambil duduk di kursinya, tertawa kecil sesaat setelah Yamato mengucapkan salam. “Kau ini siapa? Tamu? Masuk kamarku saja harus salam seperti itu.”

Yamato tak merespon, ia sekadar menatapi kakaknya dalam diam. Pintu segera ditutup olehnya, lalu ia berdiri diam di tempatnya. Ada perasaan segan berhadapan dengan saudara kandungnya sendiri. Ia bisa melihat aura yang berbeda dari Keisuke, walaupun hanya dari belakang.

Ruangan yang redup dan penuh dengan komponen elektronik itu memang terasa agak mengerikan. Seakan penghuninya merupakan seorang maniak. Tetapi, tidak. Keisuke hanyalah seorang pria yang hobi memodifikasi barang-barang elektronik, sama seperti apa yang sedang ia lakukan saat ini.

Omae … ” Yamato menatapi koleksi Keisuke di sudut-sudut kamar. Terheran. “Apa sih tujuanmu mengoleksi komponen-komponen ini? Kamarmu seperti gudang, Kei-nii!”

“Kau sudah tahu pekerjaanku, jadi jangan banyak tanya,” kata Keisuke dingin. “Lebih penting lagi, apa yang mau kau bicarakan denganku? Aku tidak punya waktu seharian meladenimu.”

” … ” kebisuan menjerat lidah Yamato. Pria yang digadang-gadang sebagai anggota geng motor itu bahkan tak seberapa berani dengan kakaknya sendiri. “A-aku … aku baru saja berkelahi dengan seseorang.”

Keisuke menghela napas panjang, tetapi ia tetap terfokus pada pekerjaannya. “Sudah kubilang, menjauhlah dari masalah. Tidak ada yang bisa diuntungkan dari bergabung menjadi anggota bosozoku.”

“Masalahku kali ini tidak melibatkan geng motor, Kei-nii. Masalahnya benar-benar personal dengan seseorang, tidak terlibat pada kelompok atau institusi tertentu.”

Keisuke mengambil solder di tepian mejanya. “Lantas? Apakah itu menjadi alasanmu untuk membuat masalah?”

“D-dengarkan aku dulu, Kei-nii!” Yamato meninggikan suaranya. Ia agak terganggu dengan sikap kakaknya yang cuek. “Aku tidak memulai masalah, dia yang memukulku!”

Honto ni?” tanya Keisuke spontan. Ia ingin tahu apakah adiknya benar-benar dipukul duluan.

H-hai … ” Yamato mengiyakan, tetapi dengan volume suara yang lirih. “T-tak pedulilah siapa yang memulai, yang paling penting adalah ia bisa menumbangkan aku dengan sekali pukulan! Anak ini berbeda dengan yang lain, ia tidak seperti murid normal … ”

Setelah mendengar penjelasan adiknya, Keisuke pun memutar kursinya. Kini wajahnya tersingkap. Ia tampak seperti pemuda di akhir usia 20-an dengan kumis dan janggut tipis di sekitar wajahnya. Ekspresinya datar. Tak marah, juga tak bahagia.

“Apakah aku harus khawatir dengan hal itu, Yamato? Maaf, ya … aku banyak pekerjaan. Keluhanmu ini sama sekali tidak membantuku untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat,” jelas Keisuke. “Aku tahu kau masih terpukul akibat berpisahnya Ayah dan Ibu, tetapi kumohon jangan membuat masalah–”

“S-sesekali dengarkan aku berbicara, Kei-nii!” seru Yamato menyela pembicaraan kakaknya. “Semenjak Ayah dan Ibu berpisah, hanya kaulah tempatku mengadu! Kau tidak semestinya mengacuhkan aku seperti pajangan rumah! BILANG SAJA KALAU KAU TAK SIAP MERAWATKU!”

“Oi, OI!” Keisuke segera mengguncang-guncangkan tubuh adiknya. Ia meminta adiknya untuk tenang. “Berhenti berkata seperti itu! Aku tidak pernah berkata demikian!”

Situasi kontan menyepi. Pasangan adik dan kakak tersebut saling tatap tanpa jawab. Kerut-kerut pada dahi mereka mengisyaratkan gejolak emosi yang tak terkendali. Napas mereka pun terdengar tak beraturan.

Namun demikian, Keisuke berusaha mengendalikan keadaan. Ia menghela napas panjang dan melembutkan genggaman pada pundak adiknya.

Gomen, Yama-chan,” kata Keisuke meminta maaf. “Aku hanya sedang tertekan oleh pekerjaan dan belakangan ini kau terlalu sering membuat masalah. Aku hanya tidak ingin masalahmu menjadi besar dan tak terkendali. Aku merawatmu untuk menjadikanmu anak yang lebih baik, bukan untuk mengacau. Kau dulu anak yang pintar, tidak seperti ini. Gomen.

Yamato pun tertunduk. Ujaran saudara kandungnya berhasil membuatnya berpikir ulang tentang pilihannya menjadi anggota geng motor. “G-gomen nasai, Kei-nii. Gomen.

Hai, hai. Aku juga minta maaf. Mari kita bicara baik-baik. Kita perlu memperbaiki hubungan sebagai saudara kandung, aku tak ingin kisah kita berakhir seperti Ayah dan Ibu.”

H-hai, Kei-nii … ”

Sejenak, keduanya terdiam, mengambil napas untuk membangun situasi percakapan yang lebih terkendali.

“Kita kembali dulu pada keluhanmu tadi. Katamu kau kalah berkelahi? Jujur, aku sedikit terkejut mendengarnya,” kata Keisuke. “Dou shita no? Aku tak pernah mendengarmu kalah berkelahi sejak kuajari beladiri sewaktu SD.”

“I-itulah yang mau kuceritakan padamu,” ujar Yamato. “Seorang murid asing menghajarku dengan satu pukulan. Ia bahkan tak mengepalkan tangannya, hanya menggunakan telapak tangannya.”

Keisuke terdiam sejenak. Ia menatapi adiknya dengan ekspresi penuh tanya. “Gaijin?

H-hai, Kei-nii. Menurut gosip, ia mengungsi dari Indonesia,” jelas Yamato. “Yang membuatku heran adalah ia mampu menumbangkanku dengan mudah. Pukulannya … pukulannya terasa seperti pukulanmu, seperti pukulan orang dewasa. Keras sekali.”

Kabut misteri semakin menyelimuti benak Keisuke. Ia lantas memerhatikan wajah adiknya dengan seksama seraya mengambil senter kecil di atas mejanya. “Di mana kau mendapatkan pukulan?”

“Di sini,” Yamato menunjuk dagunya. Ia agak menengadah.

Keisuke langsung menyalakan lampu senternya dan menyorotkan cahayanya tepat ke titik mendaratnya pukulan. Ia bisa melihat memar pada dagu Yamato, bahkan sedikit bengkak. Kini ia percaya bahwa adiknya tak bercanda. Kontan, dirinya menjadi penasaran.

Sesaat setelahnya, Keisuke mematikan senternya. “Sono gaijin … apakah kau tahu tentang latar belakangnya?”

I-iie, Kei-nii. Aku tidak kenal dengannya, tetapi sejumlah murid di sekolahku memang sering membicarakannya karena ia berasal dari Indonesia,” ujar Yamato menjawab pertanyaan kakaknya. “Kita berdua tahu negara itu sedang dilanda peperangan besar. Oleh karenanya ia menjadi gosip.”

Namae wa?” Keisuke menanyakan nama murid asing tersebut. Ia mengacuhkan kondisi negara di bagian selatan Jepang yang baru saja disebutkan oleh Yamato.

“A-aku tak yakin. Prick? Prenz? Prince? Semacam itulah, aku tak terlalu ingat.”

Lidah Keisuke kelu. Seakan kenyataan pahit baru saja mengempas jiwanya. Sejenak ia melontarkan tatapannya ke sudut ruangan, menyorot kosong ke arah ketiadaan, baru kemudian mengembalikan fokusnya pada lawan bicara. “Kenapa kalian berkelahi, pada mulanya?”

E-ettoo … dia menggangguku.”

“Tidak ada asap kalau tidak ada api, kenapa kalian berkelahi dan kenapa dia mengganggumu?”

” … ” Yamato enggan menjawab. Ia malah tertunduk. “A-aku berseteru dengan Yoshitani.”

“Ah, wakatta, kau berkelahi dengan Yoshitani dan gaijin tersebut melihatmu. Kau mungkin melakukan sesuatu yang kasar terhadap Yoshitani, lantas gaijin itu menegurmu. Itu yang terjadi, bukan?”

Yamato terdiam. Kepalanya tertunduk semakin rendah. Ia tak ingin merespon lebih jauh, atau dirinya akan berada dalam masalah.

“Hei, aku tak marah padamu, Yama-chan,” Keisuke menggenggam pundak adiknya dengan lembut. “Aku hanya ingin mengingatkan bahwa semakin banyak masalah yang kau buat, maka akan semakin besar pula kemungkinan keluarga ini juga terkena masalah. Kau mau usahaku untuk membesarkanmu menjadi sia-sia?”

Yamato sontak menengadahkan wajahnya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

“Ayako Yoshitani adalah anggota girlband, aku tahu itu. Walaupun timnya tidak sebesar AKB48, tetapi tim manajemennya punya cukup kekuatan untuk membuat kita kerepotan. Berhati-hatilah saat berseteru dengannya.”

H-hai, Kei-nii … ”

“Sudahlah, aku sudah mendengar banyak darimu. Sebaiknya kau beristirahat. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu di dapur. Makanlah dulu,” kata Keisuke tenang. “Jika sudah lebih tenang, sebaiknya kau meminta maaf pada Yoshitani. Kau tidak semestinya berlaku kasar pada wanita, Yama.”

Anggukan kecil dari Yamato menunjukkan bahwa ia menyetujui prasyarat yang diajukan oleh kakaknya. Ia pun membalikkan badannya dan memutar kenop pintu. Akan tetapi, sebuah pemikiran menahan langkahnya sejenak. “Kei-nii, bagaimana dengan gaijin itu?”

Keisuke sudah tahu adiknya akan mengangkat topik itu lagi. Ia pun menghela napasnya seraya menepuk kedua pahanya dengan lembut. “Aku akan mengecek orang itu, tenang saja. Tapi kau harus berjanji jangan membuat masalah lagi, itu saja.”

Senyum tipis menghiasi wajah gahar Yamato. Ia pun memutar kenop pintu kamar dan berjalan keluar, meninggalkan kakaknya sendiri.

Sesaat setelah adiknya keluar, Keisuke mengembuskan napas panjang dan berat. Ia lantas memutar kursinya kembali menuju meja kerja. Pandangannya kembali dihadapkan pada sejumlah komponen elektronik dan sekantong bubuk misterius berwarna putih, seperti bubuk kimia. Entah apa yang sedang ia buat.

“Prince … ” katanya seraya berbisik. “Kalau benar ia adalah orang yang dimaksud, berarti ‘kembang api’ di kota harus ditunda.”

Keisuke kembali berjibaku dengan alat-alat di atas mejanya. Solder, obeng, dan sekrup ia ambil secara bergantian untuk menggabungkan setiap komponen yang telah disusun sebelumnya.

“Prince … ” bisiknya lagi. “Bocah itu jadi buruan CIA, kan?”

***

17.21

Kelas 2-A telah rapi dan bersih, kini saatnya para petugas piket pulang ke rumah masing-masing. Prince adalah salah satu orang yang bertanggung jawab untuk membersihkan kelas sore itu, sehingga ia pulang agak terlambat.

Aoyama High School sendiri sudah sepi. Sekolah swasta yang berdiri di tepi kota itu terlihat indah tersorot sinar senja mentari. Prince berjalan pulang seraya menikmati keindahan tersebut, ia tak ingin terburu-buru meninggalkan sekolah.

Akan tetapi, seseorang menunggu Prince tepat di depan gerbang, menghadap ke arah yang berlawanan dari arah datangnya Prince.

Dari kejauhan, Prince bisa melihat sesosok gadis berambut panjang dan ikal sedang bersandar di sisi tembok. Prince pun tersenyum. Ia tahu Megumi tengah menunggunya di depan gerbang sekolah. Tanpa keraguan, ia pun bergegas menghampiri penunggunya.

Nani shiteru no?” ujar Prince seraya menepuk pundak Megumi dari belakang. Ia bertanya, apa yang sedang Megumi lakukan di sana.

“WAAAAH!” Megumi terperanjat menerima tepukan lembut pada pundaknya. Ia tidak tahu Prince sudah berada di belakangnya. “Yamero!” serunya sambil memukul lengan Prince.

“Kau terkejut?” tanya Prince santai. Ia tak mengindahkan pukulan pada lengannya, tak terasa sakit lebih tepatnya.

“T-tentu saja aku terkejut! Kupikir siapa … ” jawab Megumi seraya menyisir beberapa helai rambut ke belakang telinganya, dengan jari-jemari tangannya.

Gomen, Adachi-san,” Prince tetap tersenyum, ia pun mengikuti Megumi berjalan. “Apakah kau memang sengaja menungguku?”

C-C-CHIGAU!” Megumi menolak hipotesis lawan bicaranya. Ia pun menggembungkan kedua pipinya dan menoleh ke arah lain.

“Oh, baiklah. Aku akan berlari ke rumah sendirian, kalau begitu,” ujar Prince. Ia lantas mengambil ancang-ancang berlari. “Kutinggal, ya?”

“H-HEEEE!? JANGAN BEGITU, DONG!” protes gadis berambut ikal tersebut.

Nani? Katanya kau tidak menungguku?”

“I-i-iya, tapi kan … tapi kan … ” Megumi terhuyung. Ia bingung mencari-cari alasan. “Aaaaa! A-aku bingung!”

Prince tertawa kecil. Ia kembali berjalan dengan normal. “Aku hanya bercanda.”

“U-ugh … menyebalkan … ”

Prince menghela napasnya sembari menikmati senja yang menguning di atas langit. Tak ada pertukaran kata yang berarti setelahnya, ia hanya menemani Megumi berjalan pulang. “Mengapa kau menungguku pulang, Adachi?”

” … ” Megumi masih tak sanggup melontarkan jawaban yang kongkret untuk pertanyaan tersebut, benaknya sedang menggali untaian kata yang tepat agar tak terkesan frontal. “K-kita kan memang pulang searah.”

Lagi-lagi Prince tertawa mendengus, tersenyum hingga gigi-gigi depannya tampak. “Itu tidak menjawab pertanyaanku. Kau bisa pulang lebih dulu, padahal.”

“A-aku hanya tak ingin pulang sendirian, begitu saja pokoknya!” ungkap Megumi penuh keyakinan.

“Oke, oke. Aku menghargai keputusanmu,” jawab Prince. “Terima kasih telah menungguku, Adachi.”

“I-i-iya, tak usah dibahas lagi … ” wajah Megumi memerah bagai delima. Suara Prince yang kalem membuat tubuhnya seakan tersentak oleh sesuatu.

Perjalanan pulang kembali berselimut kedamaian. Prince dan Megumi berjalan berdampingan, diguyur hangatnya cahaya mentari senja, direngkuh gema riuhnya perkotaan. Sesekali mereka bertukar kata tentang sekolah dan pelajaran, tetapi tak ada yang terasa penting.

Bagi Megumi, ada sesuatu yang penting, tentang perasaannya. Sayangnya, ia masih menunggu momen. Ia tak berani mengungkapkannya, sekadar merenungi degup jantungnya yang menggila.

Akan tetapi, momen berdua Megumi dan Prince tampaknya harus terganggu. Begitu mereka tiba di dekat taman, seorang gadis memanggil dari arah ayunan taman. Bukan memanggil Megumi, pastinya, tetapi memanggil Prince.

Sontak, Prince dan Megumi pun menghentikan langkah. Keduanya menoleh ke arah taman.

“Prince-san … ” sahut gadis yang baru saja turun dari ayunan taman tersebut. Rupanya ia adalah Ayako, gadis yang siang tadi berkelahi dengan pacarnya di atap sekolah. “Oh, ada Adachi juga. Konnichiwa,” lanjutnya seraya membungkuk kepada Megumi.

“E-eh … Yoshitani-san … konnichiwa,” Megumi salah tingkah. Ia pun membungkuk seraya berusaha menyembunyikan ekspresi sinisnya.

Konnichiwa, Yoshitani-san,” sapa Prince ramah. “Sedang menunggu seseorang?”

“Hehe, haii.” Ayako mengiyakan hipotesis Prince. Ekspresinya merekah. “Sebenarnya, aku menunggumu–”

“HEEEE!? N-N-NAZE!?” Megumi langsung terperanjat mendengar pernyataan frontal gadis berambut pendek di hadapannya. Instingnya sontak memerintahkannya untuk menjadi agresif. “K-kenapa kau menunggunya? Kau kan baru kenal!?”

Anooo, Adachi-san … ” Ayako mengusap-usap tengkuknya. Ia sama sekali tak tampak gugup. “Maksudku, aku menunggu kalian, bukan hanya menunggu Prince seorang. Hehehe.”

“A-a-aaa … ” Megumi kehabisan kata-kata, lidahnya kelu. Ia baru saja memermalukan dirinya sendiri di hadapan orang yang baru dikenalnya. Wajahnya pun memerah, amat merah.

“Mengapa kau menunggu kami, Yoshitani?” tanya Prince.

Anoo, menurut teman-temanku, kalian sering pulang bersama,” jelas Ayako. “Aku hanya merasa ingin berkenalan dengan orang-orang yang sudah menyelamatkanku. Sayangnya, Takahashi tidak ikutan, ya?”

“Oh, iya. Takahashi pulang ke arah yang berbeda, jadi ia tidak ikut dengan kami.”

Ettoo, kalian selalu pulang berdua, kan?” tanya Ayako penasaran.

Megumi terenyak. Ia menahan napasnya selama beberapa saat, lalu tertunduk malu secara perlahan. Rasanya sulit untuk melontarkan ekspresi yang lebih positif di saat seperti itu. Seakan tertekan, jiwanya.

“Tidak selalu, sih,” jawab Prince santai. “Tetapi, kami memang sering pulang bersama.”

“Oh, apakah kalian berkencan?” tanya Ayako seperti tanpa dosa.

“W-W-W-WAAAA! KAMU BICARA APA!?” Megumi meledak. Ia meneriaki kawan barunya, seakan tak ingin dunia mendengar pertanyaan spontan Ayako. “K-KAMI TIDAK BERKENCAN!”

Prince sekadar tersenyum tipis mendengar teriakan Megumi. “Kau sudah mendengarnya,” ujarnya kepada Ayako.

Mendapati respon yang jauh berbeda antara Megumi dan Prince, Ayako pun tak kuasa menahan tawa. Ia menutupi mulutnya seraya tergelak dengan suara yang anggun. Malah, ia terlihat lebih manis. Benar-benar cocok menjadi anggota girlband.

“K-kenapa kau tertawa?” tanya Megumi salah tingkah. Ia semakin kebingungan menanggapi pertanyaan-pertanyaan aneh lawan bicaranya.

“Tidak apa-apa, hahaha … ” ujar Ayako. Ia pun menghentikan tawanya. “Aku hanya melihat ada sesuatu di antara kalian.”

N-N-NANI!?

Iie, iie. Jangan pikirkan kata-kataku, Adachi-san,” Ayako berusaha menenangkan Megumi.

“Kau mau pulang ke arah utara?” Prince mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin melihat Megumi terus-menerus salah tingkah. Lagipula, mereka sudah cukup lama berdiri terdiam di sana.

Hai, hai!” Ayako langsung menoleh ke arah Prince. Ia tersenyum lebar dan mengonfirmasi terkaan Prince. “Jalan pulangku searah dengan kalian. Jadi, izinkan aku pulang bersama, jika aku tidak mengganggu kalian.”

“Aku tidak masalah,” jawab Prince. “Bagaimana denganmu, Adachi?”

Megumi terdiam sejenak. Napasnya memburu. Benaknya meronta sekuat tenaga demi merengkuh jawab. “A-a-aku juga tidak apa-apa.”

Ayako sekadar tersenyum lebar, ia lantas menggendong tasnya lebih erat dan mulai berjalan ke arah Prince dan Megumi semula berjalan. “Baiklah, mari kita pulang.”

Prince juga tersenyum tipis, seperti biasanya. Namun, ia tak banyak berkomentar, justru tetap mengajak rekan pulangnya berjalan bersama. Megumi tetap dibuat nyaman bersama dengannya.

Semburan kehangatan sore itu pun menyapa ketiga murid yang pulang bersama dalam diam. Tak ada pertukaran kata setelah Ayako memutuskan untuk pulang bersama dengan Prince dan Megumi. Meski demikian, sepoinya angin seakan bergumam, menjadi ucapan yang tak tersurat.

“Prince,” ujar Ayako berusaha membuka percakapan. “Kau tahu? Manajemen Pinky Pandora sedang mencari orang yang bisa berperan sebagai security, lho.”

“Oh, ya? Banyak penjahat yang mengincar grup idol kalian?” tanya Prince spontan.

“Tidak juga,” cetus Ayako. “Tetapi … kau tahulah, Jepang sedang tak aman selama beberapa waktu terakhir. Banyak kekerasan dan serangan mendadak. Jadi, tim manajemen kami harus mengantisipasi hal-hal terburuk. Itulah kenapa Pinky Pandora butuh staf keamanan.”

“K-kenapa kau harus menceritakan itu pada Prince?” sergah Megumi ketus.

“Tidak apa-apa,” jawab Ayako tenang. Ia tak terintimidasi pada nada bicara Megumi. “Aku hanya berpikir, dengan kemampuan Prince yang seperti tadi sebenarnya cocok jadi staf keamanan Pinky Pandora.”

“Tidak bisa begitu, dong!” Megumi melayangkan protes. Keningnya sampai berkerut. “Dia masih berstatus sebagai pelajar, masa harus menjadi petugas keamanan?”

“Hanya pikiran selintas, Adachi,” Ayako tersenyum cerah.

Prince hanya tertawa kecil. Ia tak ingin lekas-lekas merespon. “Daripada menjadi seorang petugas keamanan, aku lebih baik menjadi juru masak.”

Honto?” tanya Ayako antusias. Ekspresinya berubah. “Kau bisa masak?”

“A-aku juga baru tahu kau bisa masak, Prince!” Megumi juga ikut terkejut, ia tak pernah mendengar hobi Prince pada bidang kuliner.

“Hanya hobi,” ujar Prince singkat.

Demo … ” Ayako masih tak puas. Ia masih tetap ingin mengalihkan pembicaraan kepada apa yang telah dilihatnya siang tadi. “Melihat dari perkelahianmu tadi, sepertinya kau sudah bertahun-tahun melakukan latihan beladiri. Tidak ada yang bisa menjatuhkan Yamato dengan sekali pukulan seperti tadi, kau tahu?”

Prince terdiam, Megumi terdiam. Mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya, membiarkan Ayako menunggu jawaban.

“Beladiri itu hanya untuk melindungi diri, bukan hobi,” papar Prince, lantas tersenyum. “Aku tidak berniat bekerja sebagai staf keamanan, Yoshitani.”

“Nah, Prince sudah memutuskan, Yoshitani!” Megumi mendukung keputusan Prince.

“Ah, sokka … ” Ayako tertunduk. Ia tetap tersenyum, tetapi nada suaranya melirih. “Sepertinya memang tidak mungkin seorang pelajar menjadi staf keamanan, sih. Hahaha,” lanjutnya seraya mengusap-usap tengkuknya.

Megumi melayangkan tatapannya selintas kepada pemuda di sampingnya. Ia mendapati Prince tengah tercenung; tak murung, tak pula tersenyum. Hatinya waswas, merasa tak nyaman, entah karena apa.

“Yoshitani-san,” Prince memanggil gadis yang berjalan di hadapannya. “Aku mungkin tak bisa menjadi staf keamanan grupmu, tetapi bukan berarti aku tak bisa menjadi temanmu.”

Seketika itu, Ayako terdiam. Ia berdiri mematung di tempatnya berpijak. Tak pelak, Prince dan Megumi pun langsung berhenti melangkah.

“Y-Yoshitani-san?” Megumi terheran.

Hening. Tak ada aksi maupun reaksi.

“Apakah kau benar-benar ingin menjadi temanku, Prince?” tanya Ayako tanpa menoleh ke belakang.

Hai, nande damena no?” Prince menjawab sigap. Ia berkata, kenapa tidak?

“J-jika benar begitu, bolehkah aku meminta akun e-mail ponselmu?”

“A-A-AAAAA … !” Megumi terenyak seketika waktu. Ia tak menyangka Ayako akan sefrontal itu menanyakan akun e-mail kepada Prince. Ia bahkan tak seberani itu sewaktu bertukar e-mail dengan Prince.

“Oh, boleh saja,” Prince mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya. “Mengapa kau terdengar seperti orang cemas, Yoshitani? Apakah ada sesuatu yang ingin kau tanyakan lewat e-mail?”

“A-aku … ” Ayako tertunduk semakin rendah, berupaya meredam perasaan cemasnya. “Y-Yamato bukan orang yang ramah, Prince. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan kepadaku, kepada teman-temanku, kepada orang-orang di sekitarku, setelah kejadian tadi siang. Aku … hanya merasa khawatir.”

” … ” Prince membungkam.

“Y-Yoshitani-san … ” Megumi mengiba. Ia jadi tak tega mendengar keresahan gadis di hadapannya.

“Yamato pasti merasa sangat kesal setelah dipukul olehmu, Prince. Aku bisa saja mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan dengannya sebagaimana saranmu, tetapi apa yang akan terjadi setelahnya–”

“Aku akan bertanggung jawab, Yoshitani,” Prince menyela perkataan Ayako bahkan sebelum Ayako selesai berujar. Tegas. “Kemarahannya adalah bagian dari konsekuensi tindakanku. Kalau kau butuh bantuan, hubungi aku.”

Ayako pun menengadahkan wajahnya, lantas memandangi wajah Prince dengan ekspresi yang merekah. Kedua matanya berbinar, seakan disuguhkan keindahan. Mendapatkan izin dari Prince untuk bertukar kabar laksana anugerah langit baginya.

Di saat yang bersamaan, Megumi tampak syok. Ia tak menyangka Prince akan menanggapi kesedihan Ayako begitu cepat. Ada perasaan tersalip, tetapi tak sedang berkompetisi. Gejolak dalam dadanya terasa asing, terasa tak natural.

” … hubungi Megumi juga. Ia siap membantumu,” timpal Prince tersenyum. Ia tak ingin Megumi hanya menjadi pajangan yang mengekor di sampingnya.

Megumi mengangguk-angguk penuh ambisi. Bersemangat. Tak ingin merasa tersaingi. “I-iya, iya! Hubungi aku juga! P-pokoknya hubungi aku dulu, Yoshitani!”

Sekali lagi Ayako menyeringai lebar hingga kedua matanya terkatup. Ia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. “Arigatou, minna-san!” ia berterima kasih kepada kedua teman barunya.

***

Aoyama High School
Keesokan harinya
12.11

Jam istirahat telah tiba. Bukannya berhias kedamaian, malah hadir keributan.

Ryu Takahashi yang memulainya. Ia menggebrak meja sahabatnya, tak kuasa menahan rasa jengkel yang bergejolak dalam hati dan benaknya. Emosinya membuncah, lantas memarahi Prince yang sedang duduk santai menikmati makan siang.

N-NAZE, PRINCE!?” tanya Ryu berapi-api. Wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca. “K-kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau pulang dengan Ayako-chan kemarin!?”

“Ayako-chan?” Prince menanggapi kerisauan sahabatnya dengan santai, sambil menyumpit beberapa potong sayuran yang terdapat pada kotak bentonya.

Ha-hai, sou desu! Kau jangan berlagak tidak tahu, deh! Kau kan pulang bersamanya kemarin!”

“Aku tidak tahu kau memanggilnya dengan imbuhan -chan. Kalian sudah akrab?” sindir Prince tersenyum.

“Aaaah! T-tidak pentinglah! Pokoknya kau jahat dan curang, Prince! Kau tahu bahwa aku sangat mengidolakan dirinya, tetapi kau tidak memberitahuku! CURAAAANG!” protes Ryu. “Lagipula, kau sudah berkencan dengan Megumi, kenapa pula harus pulang bersama dengan Ayako!? UGH!”

“Aku tidak mengajaknya pulang, kok. Kami bertemu di jalan, lalu pulang ke arah yang sama. Begitu saja,” jelas Prince seraya melahap sepotong sosis dari kotak makannya. “Dan jangan mengada-ada soal hubunganku dengan Megumi. Aku tidak berpacaran dengannya.”

Ryu terdiam sejenak, menatapi kawannya dengan kedua mata menyipit. “Ngomong-ngomong, mengapa kau tidak makan siang dengan Adachi-san?”

“Oh, tadi dia mengirimkan pesan, katanya ia ingin makan siang dengan teman-temannya.”

“Jangan bilang kau putus dengannya gara-gara Aya-chan!”

“Sudah kubilang, aku tidak pacaran dengan Megumi, Takahashi,” tegas Prince, namun dengan nada bicara yang tenang. “Kenapa pula kau memanggil Ayako dengan sebutan Aya-chan?”

“P-Prince, kau memang bajingan paling beruntung sedunia. Aku iri padamu. Sudah punya Megumi, Ayako didekati juga. Aku iriiiii,” ungkap Ryu menahan kejengkelannya. “AAAAAH! K-KENAPA PULA HARUS KAU YANG MENYELAMATKANNYA KEMARIN! HARUSNYA AKU!”

“Hei, jangan ngawur, ah. Kau juga sudah membelanya, kok,” Prince sekadar tersenyum. “Kurasa ia juga ingin berjalan pulang denganmu.”

“H-hah! Kau hanya ingin menghiburku! Apa buktinya kau bicara begitu?”

“Ayako kemarin mencarimu, Takahashi,” sorotan Prince menajam ke arah sahabatnya. “Tanya saja pada Megumi kalau kau tak percaya.”

” … ” kali ini Ryu tak berkutik. Ia dibuat membeku oleh pernyataan pemuda berdarah Indonesia di hadapannya. Tatapannya membesar, napasnya menggebu.

“Takahashi, sebaiknya kau makan–”

ARIGATOU, PRINCE-SAN!” seru Ryu seraya menyambar kedua tangan sahabatnya. Ia mendekap kedua tangan Prince dengan erat. “K-kau tak tahu betapa bahagianya aku mendengar hal tersebut! Ternyata ia benar-benar menyukaiku!”

“Haha,” Prince tertawa lirih, merasa tak yakin. “Aku tak begitu yakin soal dia menyukaimu, tetapi baguslah kalau kau senang.”

“Itu adalah bukti bahwa aku adalah orang yang tepat untuknya!”

Prince menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa. “Sudahlah, lepaskan tanganku. Kau ingin berkencan dengan Ayako atau denganku, sebenarnya?”

“A-AAAAK!” Ryu langsung melepaskan genggamannya dan melangkah mundur dengan tergesa-gesa. “Tolong jangan rusak kesucianku, Prince.”

Prince sekadar tertawa, ia tak menanggapi candaan rekannya dengan serius. Malah, sesaat setelahnya ia kembali menyantap makanan dari kotak bentonya.

Akan tetapi, momen makan siang itu tampaknya harus terganggu sejenak. Adalah Mamoru Kawasaki, atlet karate yang sempat melakukan latih tanding dengan Prince, tiba-tiba saja muncul di depan kelas 2-A. Badannya yang tegap dan ekspresinya yang menyeramkan membuat orang lain segan kepadanya.

“PRINCE!” seru Mamoru di depan pintu kelas 2-A.

Semua orang yang berada di dalam kelas pun menoleh ke arah sumber suara, tak terkecuali Prince dan Ryu. Mereka terdiam, seketika diliputi gecar.

N-n-nande?” Ryu menanyakan alasan keberadaan Mamoru. “Kenapa Mamoru ada di sini–”

“Kawasaki-san, masuklah,” belum sempat Ryu selesai memertanyakan misteri keberadaan Mamoru, Prince malah mengajak pemuda berbadan kekar di depan kelasnya masuk.

“KAU MENGAJAKNYA MASUK!?” Ryu terheran-heran. Ia menatapi Prince dengan sorotan tajam. Tak menyangka Prince akan membiarkan atlet Karate paling menyeramkan di sekolah itu masuk ke dalam kelas.

Mamoru pun berjalan masuk tanpa keraguan. Ia mendekati tempat Prince dan Ryu berkumpul. Sejumlah siswa di dalam kelas 2-A pun menyingkir, mereka ketakutan mendapati aura Mamoru yang mengerikan.

“Prince!” sahut Mamoru ketika telah berdiri tepat di samping meja Prince.

Dou shita no, Kawasaki-san?” tanya Prince santai. Ia bertanya, ada masalah apa.

Omae … ” ujar Mamoru. “Sebaiknya berhati-hatilah saat pulang ke rumah.”

“P-Prince, sepertinya ia mau memukulmu … ” bisik Ryu menyela.

“Tenanglah, Ryu,” ujar Prince seraya menepuk lengan sahabatnya. Ia lantas mengembalikan fokusnya pada Mamoru. “Apakah ada alasan khusus mengapa aku harus berhati-hati, Kawasaki?”

“Aku melihat seseorang memerhatikanmu tadi pagi,” jelas Mamoru. “Tetapi, secara diam-diam.”

Prince dan Ryu terdiam sejenak. Prince sekadar menggaruk-garuk sisi kepalanya, sementara Ryu memandangi wajah Prince dengan gugup.

“Laki-laki atau perempuan?” tanya Prince. “Mungkin Yoshitani-san?”

“Yoshitani dari Pinky Pandora?” Mamoru balik bertanya, ekspresinya tetap dingin. “Sepertinya bukan, karena yang memandangimu adalah laki-laki.”

D-DOU SHITE?” Ryu menyela percakapan dua orang di hadapannya. Ia penasaran, bertanya pada Mamoru. “Bagaimana kau bisa tahu kalau Yoshitani berasal dari Pinky Pandora, Kawasaki!?” tanyanya antusias.

“Dia adalah anggota grup idol, apakah perlu alasan khusus untuk tahu siapa dirinya?” Mamoru sejenak meninggalkan fokusnya dari Prince, malah terfokus memerhatikan Ryu.

M-mochiron desu!” tentu saja, seru Ryu. “Pinky Pandora itu jauh berbeda dengan AKB, mereka bukan grup idol besar. Seharusnya tidak setenar itu!”

” … ” Mamoru merasa gugup, tatapan tegasnya pun meluntur. “P-Pinky Pandora itu grup bagus, jangan kau hina mereka.”

Kali ini, Ryu yang terdiam membisu. Hening. Sepi mengoyak segala.

Tersisa tatapan liar dari ketiga orang yang terlibat percakapan.

Ryu tiba-tiba saja merasa berani. Ia sontak menepuk dan menggenggam pundak Mamoru dengan tegas. “Sokka, jadi kau adalah fans besar Pinky Pandora juga. Kau benar-benar lelaki yang berbudaya luhur!” lanjutnya agak berteriak.

“SSSST!” Mamoru salah tingkah, ia langsung menyuruh Ryu untuk diam selagi anak-anak kelas 2-A menatap tegas ke meja Prince.

Sejumlah murid yang berada di dalam kelas pun berusaha menahan tawa. Mereka masih segan terhadap sosok Mamoru, tetapi rasa takut telah tiada. Hilang, seakan diterpa badai.

“Betapa mudahnya menyatukan kalian menjadi sahabat, ya. Dengan Pinky Pandora, segala kegundahan pun lenyap,” ujar Prince tersenyum lebar.

“S-s-sudahlah, aku kemari bukan untuk berbicara soal Pinky Pandora!” Mamoru berseru, masih salah tingkah. “A-aku hanya ingin memperingatkan Prince akan sosok mencurigakan yang kulihat tadi pagi.”

“Hmm,” Prince mengusap-usap dagunya. “Apakah kau ingat ciri-cirinya, Kawasaki?”

Mamoru mencoba mengingat-ingat, ia tak lekas merespon pertanyaan rivalnya. “Rambut panjang seleher dan agak bergelombang, seperti tak terurus. Jenggot dan kumis tipis. Ekspresinya datar, matanya agak sayu. Seingatku begitu.”

“Usianya?”

“Ahhh … berapa, ya?” Mamoru mengusap-usap tengkuknya, berusaha menerka-nerka. “Mungkin sekitar 30 tahun, tetapi aku tak yakin.”

Sokka,” sahut Prince. “Jadi orang itu bukan Yamato. Kupikir itu Yamato.”

“Entah kenapa aku merinding mendengarnya, Prince,” sergah Ryu. “Sebaiknya kau berhati-hati, deh.”

“Kau yakin ia memerhatikanku, Kawasaki?” Prince masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia dikuntit oleh seseorang.

“Tentu saja, aku yakin ia memandangimu, karena aku yang memergokinya,” ujar Mamoru penuh keyakinan. “Begitu kupelototi dirinya, ia langsung pergi meninggalkan tempatnya.”

Prince mengangguk-anggukkan kepalanya. Paling tidak, informasi dari Mamoru sudah cukup membantu baginya untuk lebih mewaspadai sosok-sosok serupa di sekitarnya. Ia tahu lawan bicaranya tak sedang berdusta.

“Baiklah, informasimu sangat berguna. Terima kasih telah memeringatkanku, Kawasaki-san,” lanjut Prince seraya tersenyum cerah.

“Prince,” Mamoru berdiri mendekat. Ia lantas menyandarkan kedua tangannya di atas meja tempat Prince belajar. “Jika kau butuh bantuan, jangan ragu untuk menghubungiku. Ini adalah tawaran baik sebagai sesama pejuang.”

” … pejuang apa pula?” sergah Ryu. “Kau berbicara seperti masih di zaman samurai, Kawasaki.”

Mamoru berdiri tegap, lantas menoleh ke arah Ryu. “Takahashi, Prince berhasil mengalahkanku dalam latih tanding beberapa waktu lalu. Dia mengalahkanku dengan kemampuannya sendiri, jadi aku sangat menghormatinya. Itulah yang dilakukan oleh para pejuang di zaman dulu.”

” … ini orang ngoceh apa?” bisik Ryu hampir tak bersuara.

“Akan tetapi, aku tak bisa memastikan Prince akan menang di lain waktu. Ia tidak pernah berlatih, sementara aku terus berlatih karate. Itu artinya aku semakin baik, sementara ia tidak punya peningkatan apa-apa,” ujar Mamoru menyombong.

Prince tergelak, ia tak terintimidasi oleh kata-kata Mamoru. “Tentu saja, Kawasaki. Aku takkan meragukan kata-katamu. Terima kasih atas peringatanmu sebelumnya, kau memang teman yang baik,” lanjutnya tersenyum begitu lebar.

“Ingatlah bahwa aku melakukan ini agar kau tidak mati di tangan orang lain!” Mamoru mendekatkan wajahnya. Tatapannya menajam. “Aku adalah orang yang ditakdirkan untuk mengalahkanmu dan menghancurkanmu, Prince!”

Prince terdiam, sekadar mengangkat kedua bahunya dengan tenang. Ryu juga terdiam, ekspresinya seakan jijik.

Mamoru tak ingin berlama-lama. Ia pun berjalan menjauh dari meja Prince dan melangkah mundur sedikit demi sedikit menuju pintu keluar. Ia mengangkat tangannya setentang dengan pelipisnya, lalu membentuk pose hormat militer. “ADOIS!” serunya seraya membalikkan badan dan pergi.

Hening. Dua pasang mata di meja belakang itu menyorot beku ke arah pintu keluar. Prince dan Ryu seakan terenyak oleh ‘kebengisan’ Mamoru.

“I-itu tadi apa?” tanya Ryu. “ITU TADI APA!? DIA NGOMONG APAAN!? ADOIS ITU APA PULA!?” protesnya.

“Maksudnya adios. Itu adalah ucapan selamat tinggal dalam bahasa Spanyol,” ujar Prince seraya menahan tawa.

“Anak itu, ya … ” Ryu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Perasaanku jadi bercampur aduk. Ia kadang mengerikan, kadang sombong, tetapi kadang-kadang juga sedikit idiot.”

“Hahaha, jangan terlalu serius menanggapinya. Mamoru memang begitu, kan? Ia memang sombong, tetapi ia sebenarnya orang yang baik,” ujar Prince. “Lagipula, ia juga menyukai Pinky Pandora. Kau harus lebih banyak mengobrol dengannya tentang grup idol favoritmu itu.”

“Ya, ya … ” Ryu pun akhirnya duduk di kursi depan meja Prince. Ia sudah lelah berdiri. “Ngomong-ngomong, aku agak ngeri mendengar cerita Mamoru tadi. Kau harus berhati-hati, deh. Jepang memang sedang tak aman. Aku khawatir teroris-teroris yang sering dibicarakan di televisi itu mulai menyasar orang asing juga.”

“Kita belum tahu pasti,” Prince tersenyum tipis, agak meluntur. “Tetapi, kau benar. Aku memang harus lebih berhati-hati.”

***

16.21

Waktu pulang telah tiba.

Prince membuka loker untuk mengambil sepatu pribadinya. Ia memang tidak mengikuti klub tertentu di sekolahnya, itulah sebabnya ia bisa langsung pulang dan menikmati rayuan senja.

Akan tetapi, sesuatu menahannya. Usai mengenakan kedua sepatunya, tiba-tiba saja Prince mendengar seseorang berbisik dari samping loker. Penasaran, ia pun menghampiri sumber suara. Rencana pulang pun tertunda.

“Oh … ” Prince mendapati sosok yang ia kenal tengah bersandar di samping loker. “Yoshitani-san? Dou shita no? Kenapa kau bersembunyi di sini?”

Ayako Yoshitani, rupanya. Gadis yang baru saja berkenalan dengan Prince sejak insiden di atap sekolah itu tertunduk malu. Pipinya memerah. “A-aku … ingin bicara denganmu,” ujar Ayako lirih.

Mendengar ujaran Ayako yang terkesan penuh rahasia, Prince pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang sedang mengawasinya. Ia lantas mengembuskan napas panjang dan tersenyum singkat. “Baiklah, kita duduk di halaman belakang saja.”

Ide Prince disetujui oleh Ayako. Keduanya pun berjalan ke halaman belakang sekolah dalam diam. Tak ada kata, tak ada jawab, sebelum mereka benar-benar duduk di bangku belakang sekolah.

Dou shita no, Yoshitani-san?” Prince bertanya apa yang terjadi pada Ayako. “Kau tampak cemas.”

Anooo … ” Ayako mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Ia ragu-ragu. “I-ini soal Rikugi.”

“Rikugi?”

“Yamato, maksudnya. Yamato Rikugi.”

“Oh, jadi itu nama keluarganya,” Prince mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ada apa dengannya?”

“Dia meneleponku kemarin malam,” ujar Ayako luruh. “Ia berusaha meminta maaf.”

Prince agak mengerutkan dahi. “Bukankah itu bagus? Ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan–”

“Aku putus dengannya,” sergah Ayako memotong pembicaraan lawan bicaranya.

Mendengar pengakuan tersebut, Prince tak lekas merespon. Ia sekadar duduk terdiam menatapi wajah manis gadis di sampingnya. Tak ada yang bisa ia lakukan sesaat itu, hanya merenungi kesedihan yang terlukis pada tiap sudut wajah Ayako.

“Aku mengikuti saranmu, Prince. Benar-benar hampir tanpa keraguan,” ujar Ayako seraya memandangi wajah Prince. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis. “Aku memberanikan diriku tanpa memikirkan pengaruhnya pada kehidupanku, kehidupan keluargaku, maupun kehidupan teman-temanku.”

“Yoshitani, tenanglah … ” Prince berusaha menenangkan Ayako. Ia mengusap-usap pundak Ayako dengan lembut. “Yamato tidak mungkin seberbahaya itu, kan?”

“Kau benar-benar perlu tahu tentang dirinya, Prince,” Ayako hampir gagal menahan tangisnya. Ia pun memangku kening di atas kedua telapak tangannya. “Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa ia adalah anggota bosozoku. Jabatannya di geng motor lumayan berpengaruh. Ia sudah terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan, bahkan saat berhadapan dengan orang-orang yang lebih tua. Ia semacam tukang pukul andalan di gengnya.”

” … ”

“Aku tahu betapa berbahaya dirinya, tetapi aku nekat memutuskan hubungan dengannya. Semua ini … ” Ayako menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semua keberanian ini muncul secara tiba-tiba, seolah aku telah menjadi … b-bagianmu, Prince.”

“Yoshitani … gomen nasai,” Prince agak membungkuk. “Tidak seharusnya aku memengaruhimu untuk memutuskan hubunganmu dengan Yamato. Aku minta maaf.”

“E-eh, itu bukan salahmu, Prince,” Ayako menegakkan duduknya, salah tingkah. Ia tak ingin Prince merasa menanggung bebannya. “Itu sama sekali bukan kesalahanmu. Apa yang kau bilang itu benar adanya, bahwa takkan ada yang bisa mengubah nasibku kalau aku tidak mengubahnya sendiri.”

Prince tertunduk, memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk Ayako. Sesekali ia menggaruk kepalanya, berusaha menggasak jawaban yang terserak dalam benaknya. “Apa yang Yamato katakan setelah kau memutuskan hubunganmu dengannya?”

“S-soal itu … ” Ayako meragu. “Ia marah besar.”

Kebisuan kembali meradang. Prince resah, merasa bersalah.

“Yang kutakutkan adalah ia mulai menerka-nerka bahwa kau adalah sumber masalahnya,” jelas Ayako. “Ia menduga kau yang memengaruhiku. Ia menduga aku telah jatuh hati padamu dan selingkuh darinya.”

“Dan?”

“Kami berkelahi lewat telepon selama hampir sejam. Aku sampai tak ingat kata-kata kasar apa saja yang keluar dari mulutnya maupun mulutku. Kami saling cerca.”

Prince memerhatikan dengan seksama. Ekspresinya tak lagi sesantai seperti saat ia bersama dengan Ryu maupun Mamoru.

“Karena lelah dan ingin menangis, aku pun memutuskan untuk menutup telepon. Tetapi, sebelum aku berhasil melakukannya, aku mendengar ia berteriak: kau dan gaijin itu akan mati dalam lubang yang sama!

Tsumari?” Prince menanyakan arti perkataan Yamato.

Ayako tak lekas menjawab, ia malah memandangi wajah Prince dengan setumpuk pilu. “Ia akan membuat masalah. Entah denganmu, entah denganku.”

” … ”

“Prince-san, gomen! Gomen! GOMEEEN!” seketika, Ayako membungkuk-bungkukkan badannya dengan cepat. Ia merasa bersalah akibat menjadi duri bagi kehidupan teman barunya. Padahal, ia baru saja kenal dengan Prince, tetapi langsung membuat pemuda itu berada dalam masalah.

“Yoshitani, kau tidak perlu–”

“Prince, aku takut, aku hanya takut … ” Ayako tak bisa membendung airmatanya lebih lama. Tangis pun pecah. “Aku tidak berniat membuat segalanya jadi seperti ini. Aku takut. Aku tak tahu harus berbuat apa.”

“Yoshitani, tenanglah,” tanpa berpikir panjang, Prince segera mengusap-usap pundak Ayako. Ia ingin menghibur gadis malang tersebut. “Sudahkah kau menceritakan ini pada teman-temanmu di Pinky Pandora? Manajemenmu pasti punya solusi untuk hal seperti ini.”

“Sudah. Mereka berniat membantuku, tetapi tak pernah yakin bisa menang melawan Yamato dan teman-teman brutalnya, baik dengan cara diplomatis maupun kekerasan,” kata Ayako sembari menangis tersedu-sedu. “Grup kami tidak sebesar yang kau kira, Prince. Mereka tidak punya cukup uang untuk membayar staf keamanan yang mampu mengalahkan geng motor Yamato.”

Prince terdiam. Ayako pun bersandar dalam pelukannya. Ia tak punya pilihan lain selain membiarkan gadis yang tengah meratap itu membasahi seragam sekolahnya dengan airmata. Sesekali ia mengusap punggung Ayako, walau agak terkesan gugup. Ia tak ingin menjadi kekecewaan lain bagi Ayako.

Meski demikian, Ayako tak berniat lama-lama jatuh dalam rengkuhan kedua tangan Prince. Ia pun kembali mendudukkan tubuhnya seraya menghapus airmata yang masih tertumpah. “Gomen, Prince. Tidak seharusnya aku bersandar seperti itu. Gomen nasai.

“T-tidak apa-apa.”

“Sebaiknya kau pulang. A-aku tak bermaksud mau menahamu. Adachi pasti sudah menunggumu,” Ayako agak salah tingkah, merasa bersalah.

“Oh, benar juga … ” Prince mengambil ponsel dari saku celananya, mengecek jam digital di atas layar ponselnya. “Adachi pasti sudah menungguku dari tadi.”

“Iya, sebaiknya kau pulang sekarang.”

“Ayo, kita pulang bersama,” Prince bangkit dari tempat duduknya, seraya mengajak Ayako untuk pulang bersamanya. “Kau pulang searah, kan?”

I-iie, iie!” tolak Ayako. Ia sampai menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak bisa ikut, Prince. Aku tak mau Megumi sedih, kumohon.”

“Hah? Memangnya kenapa? Kau tidak membuatnya sedih, Yoshitani. Tidak ada yang salah dari pulang bersama, kan?”

“Tidak, Prince,” Ayako terdiam, lantas menatapi wajah lawan bicaranya selama beberapa saat. “Kau perlu memahami perasaannya. Kumohon.”

Tak ada jawab tersurat dari lidah Prince. Pemuda itu terdiam, tercenung selama beberapa waktu. Kepekaannya memang rendah, tetapi setidaknya ia tahu ke mana arah pembicaraan Ayako.

“Baiklah,” Prince menjawab luruh. “Akan tetapi, jika terjadi sesuatu, kau perlu memberitahuku. Kau hanya perlu mengirim pesan kosong ke ponselku, sebagai isyarat bahwa kau ada masalah dengan pacar–maksudku, mantan pacarmu.”

Ayako mengangguk pelan. Sudut bibirnya tersungging, tersenyum tipis.

“Baiklah, kalau begitu. Aku pulang duluan, ya?”

H-hai, Prince-san. Hati-hati di jalan.”

Tanpa untaian kata, Prince pun bertolak dan berjalan menjauhi tempat bercengkramanya. Ia meninggalkan Ayako sendirian di halaman belakang sekolah, dengan serpihan senyum yang bertahan selama sesaat. Senja memang telah memerah, tanda bahwa Prince harus bergegas pulang ke rumah.

Sementara Ayako … ia tak punya daya untuk menahan kepergian Prince. Ia bertahan dengan airmatanya.

***

Nishinari-ku, Osaka
19.43

Prince berjibaku dengan komputer jinjingnya, sendirian. Di kamarnya yang rapi dan penuh dengan buku-buku politik tersebut ia terduduk manis menatapi layar komputer. Ia sedang menggali data lengkap tentang identitas seseorang di sekolahnya. Seseorang yang berseteru dengannya kemarin siang, tepatnya.

Yamato Rikugi. Persis seperti isu yang diembuskan oleh Ayako, Yamato memang seorang pemuda yang bermasalah. Pemuda berparas tampan dengan gaya berpakaian yang berantakan itu memang tergabung dalam sebuah geng motor di Osaka. Ia sudah terbiasa mencuri, memalak, mengintimidasi, hingga berkelahi.

Akan tetapi, Prince tidak heran. Menurut catatan kependudukan Jepang, orangtua Yamato bercerai setelah melalui seri pertengkaran hebat. Data menunjukkan bahwa Yamato bergabung dengan bosozoku beberapa waktu setelah perpisahan kedua orangtuanya. Prince menduga Yamato memang menjadi liar akibat tertekan oleh kondisi psikologisnya.

Pihak kepolisian sendiri tidak pernah memenjarakan Yamato, hanya memberikannya rehabilitasi singkat. Kakaknya, Keisuke Rikugi, adalah orang yang selalu berjasa ‘menyelamatkan’ adiknya dari kekangan sel rehabilitasi. Singkatnya, Yamato tidak pernah benar-benar menyelesaikan waktunya di panti rehabilitasi.

Prince pun menyandarkan punggung di kursi kerjanya, lalu mengusap-usap bibir atasnya. Ia merasa ada yang salah.

“Keisuke … ” bisik Prince. “Ia tampak seperti kakak yang sabar dan … punya pengaruh kuat,” lanjutnya seraya mengetikkan beberapa baris kode pada komputernya.

Tak butuh waktu lama bagi Prince untuk melakukan pencarian. Hanya dengan mengetikan sebaris kode, lantas muncul sejumlah informasi mengenai kehidupan pribadi Keisuke pada layar komputer jinjingnya.

Keisuke Rikugi, pria berambut gondrong dan berkumis tipis tersebut adalah kakak biologis Yamato. Ia bekerja sebagai tukang reparasi alat-alat elektronik, tak punya kantor tetap selain rumahnya sendiri. Pekerjaannya tidak istimewa, begitu pula penghasilan bulanannya, tetapi hebatnya Keisuke selalu bisa menebus kenakalan adiknya dengan mudah.

Prince menyipitkan kedua matanya, lalu kembali bersandar pada kursi kerjanya. Ia menghela napas dan sesekali memandangi langit-langit untuk menemukan petunjuk. Ia masih merasa ada yang salah.

Lantas, Prince teringat percakapannya dengan Mamoru. Mamoru memang sempat mengungkapkan ciri-ciri orang yang melakukan penguntitan.

Rambut panjang seleher dan agak bergelombang, seperti tak terurus. Jenggot dan kumis tipis. Ekspresinya datar, matanya agak sayu.

Seketika, Prince langsung menegakkan posisi duduknya dan kembali terfokus pada layar komputernya. Ia mengetikkan beberapa baris kode yang sulit dipahami oleh manusia awam. Jari-jemarinya tampak tergesa-gesa. Ekspresinya pun berubah, kerut-kerut pada keningnya menunjukkan rasa penasaran yang tak tertahankan.

Setelah beberapa saat melakukan pencarian menggunakan metode yang tak biasa, Prince pun menemukan titik terang. Rupanya, data-data yang baru saja ia lihat di database kependudukan Jepang adalah data-data yang telah dipalsukan!

Prince langsung terbelalak, setengah tak percaya.

Pada pencarian lanjutan tersebut, Prince menemukan fakta yang mencengangkan. Keisuke ternyata merupakan mantan anggota angkatan bersenjata Jepang, JSDF. Menurut data-data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, Keisuke adalah ahli bahan peledak dan kemampuannya sering digunakan oleh institusi-institusi bayangan, termasuk untuk melakukan terorisme di negaranya sendiri.

Kontan, Prince menggulir layar komputernya ke bawah, semakin penasaran …

Prince segera berhenti pada catatan cashflow rekening pribadi Keisuke. Ia memelototi semua sumber keuangan Keisuke; dari siapa, untuk apa, dan dari mana saja asalnya. Dari sanalah Prince menemukan beberapa nama yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Ada puluhan nama misterius yang terdiri dari nama orang Amerika dan kode-kode yang tak bisa terbaca.

Salah satu nama yang menarik perhatian Prince adalah R. Brand. Orang itu mengirimkan uang dalam jumlah besar kepada Keisuke dari Los Angeles, berdasarkan IP address yang dilacak oleh Prince.

Prince tahu siapa sosok R. Brand yang sebenarnya. Nama lengkapnya adalah Robert Brand, ia adalah mantan direktur CIA yang kebetulan juga tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat. Walaupun sudah tak menjadi direktur, tetapi Brand masih bekerja untuk CIA dan membantu para pejabat intel di agensi superpower tersebut. Sejumlah nama yang muncul pada rekening Keisuke juga termasuk rekan Brand yang masih aktif di CIA.

Di saat itulah Prince menghentikan pencariannya. Ia kini sudah tahu siapa yang menguntitnya. “Orang ini masuk payroll CIA … ” bisik Prince seraya bersandar luruh di kursinya.

Begitu rahasia terkuak, telepon genggam Prince langsung berbunyi, seakan kebetulan. Sontak, Prince menyambar ponselnya dan mengangkat telepon yang tertuju kepadanya. “Moshi, moshi … ” sapanya sebagaimana orang Jepang mengangkat telepon.

Tak ada suara pada dua detik awal, hanya terdengar suara gadis menahan tangis. “P-Prince …

Seketika kedua mata Prince membelalak. Ia mengenali suara di seberang telepon. Megumi Adachi.

“Adachi, nani goto!?” Prince cemas, ia langsung mencari tahu apa yang sedang terjadi. Saking paniknya, ia sampai terentak dari tempat duduknya dan bangkit menegap.

Waktumu habis, Adachi,” seorang pria tiba-tiba merenggut ponsel Megumi dan mengambil alih percakapan. “Halo, Prince,” sapanya.

“Anjing … ” bisik Prince kasar dalam bahasa aslinya. Kedua matanya masih membelalak, tetapi kecemasannya bertransformasi menjadi amarah.

Tanpa pikir panjang, Prince bergegas menyambungkan ponsel dengan komputer jinjingnya lewat kabel data. Ia lantas membuka sebuah aplikasi yang tak dikenali oleh orang awam dan mengetikkan beberapa baris kode unik di sana. Komputernya pun memproses seluruh kode yang dimasukkan oleh Prince.

Triangulating, begitulah teks berkedip yang muncul pada layar komputer Prince. Singkatnya, Prince sedang berupaya melakukan pelacakan.

“Ini Keisuke Rikugi, kan!?” tanya Prince geram.

Ahhh, kau mengerjakan PR-mu. Menarik,” jawab Keisuke seraya agak tertawa.

“Keisuke, Adachi bukan bagian dari urusan kita! Ia tidak seharusnya disertakan dalam masalah ini, bajingan! Lepaskan dia!”

Tenanglah, aku akan melepaskannya … ” jawab Keisuke santai. “Tetapi, untuk sekarang, aku masih membutuhkannya. Untuk memancingmu, tentu saja.

Kuso. KUSO KURAE!” kutuk Prince geram. “Aku akan menemukanmu dan menghajarmu, Keisuke! Kau melakukan ini untuk adikmu!? Aku akan menghajar adikmu juga, kalau begitu!”

Wow, kasar sekali, bahasa Jepangmu lebih baik daripada dugaanku,” Keisuke tertawa kecil, terdengar picik. “Aku tidak melakukan ini untuk adikku, Prince. Aku berasumsi kau sudah tahu siapa aku, jadi semestinya kau juga sudah tahu mengapa aku rela melakukan ini untuk memancingmu.

CHIKUSOU!” kutuk Prince sekali lagi. “Aku akan menemukanmu, Keisuke. AKAN!”

Oh, tentu saja. Dan aku tidak berniat untuk menyembunyikan diriku darimu,” ujar Keisuke santai. “Aku berasumsi bahwa kau sedang melakukan triangulasi terhadap posisiku, kan? Hehehe.

Prince berusaha mengendalikan amarahnya. Gigi-giginya mengerat keras dan tinjunya mengepal. Yang bisa terdengar darinya hanyalah napas yang berat dan tak beraturan.

Oh, satu hal lagi … ” sambung Keisuke. “Belakangan ini, kau terlihat akrab dengan mantan pacar adikku. Kau tahu? Anak itu juga belum pulang ke rumahnya sejak sore tadi, lho.

Nani!?” Prince sekali lagi dibuat terperangah. Ia tak menyangka Keisuke akan melakukan sampai sejauh itu. “Kau … kau benar-benar bajingan tengik, Keisuke! Dia dan Megumi sama sekali tidak melakukan apa-apa padamu!”

Benar! Yoshitani tidak melakukan apa-apa kepadaku, akan tetapi … ” Keisuke menjeda ujarannya. “Ia memutuskan hubungannya dengan adikku kemarin. Di situlah letak masalahnya.

“Masalah bagaimana!? Itu pilihan pribadi Ayako! Kau tidak berhak menghakiminya dengan melakukan penculikan terhadapnya, bangsat!”

Hei, aku tak bilang bahwa aku yang menculiknya, hehehe,” Keisuke terdengar sangat santai. Ia tak merasa bersalah. “Aku berasumsi bahwa kau sudah tahu sifat adikku. Anak itu suka membuat masalah, jadi kau simpulkan sendiri saja.

“Tidak masuk akal!” sergah Prince. “Kalau Yamato mencintai Ayako, mengapa anak brengsek itu harus menculiknya!?”

Hmm, kau sepertinya terlalu lama berperang bersama legenda yang bernama Subject 09 itu, ya. Hahaha,” goda Keisuke. “Aku tak menyangka bahwa pemuda sehebat dirimu sama sekali tidak peka soal cinta-cintaan.

” … ” Prince sekadar mengerat gigi-giginya, tak memahami arah pembicaraan Keisuke.

Aku akan menjelaskannya, sobat kecil,” tutur Keisuke. “Coba pikir, siapa yang menyelamatkan Ayako saat sedang berkelahi dengan adikku? Kau. Siapa yang nekat berseteru dengan adikku? Kau. Siapa yang pulang bersama dengan Ayako kemarin? Kau juga, hahaha.

Prince terdiam. Ia mendengarkan dengan seksama. Ia tak menyangkal fakta yang dibeberkan oleh lawan bicaranya, bahkan saat Keisuke menggodanya dengan tawa.

Nah, sekarang bayangkan apa yang ada di pikiran Yamato saat Ayako memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan adikku?

” … dia akan menyalahkanku.”

Sono toori desu,” Keisuke membenarkan jawaban Prince. Benar sekali, katanya. “Jadi, dia mau melakukan sesuatu pada Ayako dan menyalahkanmu. Gawat, bukan?

“Di mana dia?”

Aku tak tahu, ia tidak memberitahuku,” ujar Keisuke. “Tetapi kalau melihat dari pergerakannya, sepertinya ia bergerak menuju selatan Osaka. Entah ke mana.

Prince menggeleng-gelengkan kepalanya. Dahinya menggulung. Menurut laporan triangulasi di komputernya, Keisuke bergerak ke arah utara Osaka. Sementara itu, menurut Keisuke, Yamato bergerak ke selatan Osaka. Ia tidak mungkin bisa menyelamatkan keduanya dalam waktu yang sama, jaraknya terlalu jauh.

“Kalian berdua benar-benar bajingan tengik. Kakak dan adik sama saja!”

Tidak, kami tidak sama,” tolak Keisuke seraya tertawa picik. “Aku dan dia punya kepentingan yang berbeda. Aku ingin bertemu denganmu karena sesuatu, sedangkan Yamato hanya ingin melukai Ayako dan menyalahkanmu. Perbedaannya mencolok, sobat kecil.

“Dan jika aku tidak mau menemuimu atau terlambat menemuimu?”

Simpel. Megumi akan bernasib sama seperti Ayako. Kau akan jadi kambing hitam. NPA akan memburumu, PPIA [3] akan memburumu, CIA akan memburumu,” ujar Keisuke. “Itu artinya … kau harus memilih.

NB: [3] Public Protection Intelligence Agency, badan intelijen Jepang pada universe Subject 09

Sambungan telepon pun terputus. Keisuke mengakhiri percakapannya dengan petunjuk yang besar, tetapi tidak akan mudah untuk dikerjakan. Ia benar-benar meninggalkan Prince dalam kegamangan.

Prince terenyak mendapati tugas yang sedemikian sulit. Biasanya, ia hanya harus mengalahkan musuh di satu tempat tertentu, tetapi kali ini lawannya jauh lebih cerdik daripada dugaannya. Apalagi, mentor lapangannya sedang tidak ada di rumah. Ia tak punya bantuan sama sekali.

Shit, Wahyu sedang tidak ada, apa yang bisa kulakukan?” Prince panik. Ia pun terduduk di atas kasurnya dengan napas yang tak beraturan. Tangannya agak gemetar, ini adalah pertama kalinya ia dihadapkan dengan persoalan yang sulit.

Belum usai memikirkan strategi, ponsel Prince kembali bergetar.

Lekas-lekas Prince mengambil ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Tak ada teks apa pun pada pesan yang dikirimkan kepadanya, hanya pesan kosong. Seketika itu Prince langsung mengecek nama pengirimnya.

Ayako Yoshitani, tentu saja.

Prince teringat dengan kata-katanya tadi sore. Ia berkata kepada Ayako untuk segera mengirimkan pesan kosong jika ada masalah. Sarannya menjadi kenyataan. Prince tahu bahwa Ayako sedang berada dalam masalah, persis seperti apa yang dibeberkan oleh Keisuke lewat telepon.

Mendapati kenyataan runyam tersebut, Prince langsung bergerak. Ia tak ingin berdiam diri. Ia langsung mengambil kabel data dan menyambungkan ponselnya kembali dengan komputer jinjingnya. Aplikasi triangulasi yang sama ia gunakan untuk melacak posisi Ayako selaku pengirim pesan.

Kali ini, upaya pelacakannya agak lebih lama dibandingkan dengan saat ia melacak posisi Keisuke, tetapi ia yakin akan berhasil.

Mencari, mencari, dan mencari.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk menemukan posisi Ayako, tetapi Prince benar-benar menemukan di mana lokasi terakhir Ayako mengirimkan pesan. Setidaknya, ia punya informasi yang sangat berharga mengenai keberadaan Ayako. Keisuke tidak berbohong, Ayako memang dibawa ke arah selatan Osaka.

Langkah berikutnya, Prince perlu memikirkan cara menyelamatkan Megumi dan Ayako secara bersamaan. Ia pun berjalan mondar-mandir di kamarnya. Informasi sudah tersedia, sekarang harus bagaimana?

Benaknya lantas merengkuh sebuah ide. Ia teringat percakapannya dengan Mamoru Kawasaki di kelas. “Jika kau butuh bantuan, jangan ragu untuk menghubungiku … ” begitu kata Mamoru.

Kedua mata Prince kembali membelalak, tetapi kali ini berhias senyuman.

Tanpa berpikir dua kali, Prince langsung membuka ponselnya dan mencari kontak Mamoru. Ia menemukannya sekelebat waktu. Tak ada waktu untuk meragu, Prince lekas-lekas menghubungi rival palsunya tersebut.

Moshi-moshi … ” sapa Mamoru dari seberang saluran.

“Kawasaki-san!” seru Prince antusias. “Syukurlah kau belum tidur.”

Oh, tentu saja belum. Ada PR yang harus kukerjakan,” jawab Mamoru. “Ada apa, Prince? Tumben kau menelepon. Kau terdengar cemas.

“Ya, tentu saja aku terdengar cemas!” tukas Prince. “Idolamu, Ayako Yoshitani, dia berada dalam masalah.”

NANI!?” Mamoru terperanjat. Beberapa objek di rumahnya terdengar berjatuhan. “M-masalah apa!?

“Dia diculik–”

NANIII!?” sergah Mamoru spontan. “Di mana dia sekarang!? Siapa yang menculiknya!?

“Dia ada di daerah selatan Osaka, sedang bergerak meninggalkan wilayah Nishinari. Ia diculik oleh siswa di sekolah kita, Yamato Rikugi,” jelas Prince.

Ugh, berandalan itu! Aku tahu Yamato! Anggota geng motor itu, kan!?

“Yeah, aku ingin menolong Ayako, tetapi sepertinya takkan sempat,” ujar Prince terengah-engah. “Kau bilang bahwa aku bisa menghubungimu kalau ada masalah. Ini adalah momennya. Kuharap kau mau membantuku menolongnya, Kawasaki.”

Shinpainaide, Prince!” seru Mamoru. Tak apa, katanya. “Sebagai sesama pejuang, harus saling menolong! Lagipula, ini adalah idol–a-ah, tidak. Tidak perlu dipikirkan kata-kata terakhirku.

Prince tersenyum. “Baiklah, kau bisa mencoba mencarinya di sekitar Shin-Naniwa-suji, dekat Taman Suminoe. Posisi terakhir Ayako ada di sana. Kau bisa bertanya pada orang-orang di sana apakah melihat geng motor Kuroi Akuma lewat sana. Setahuku, memang ada beberapa spot perkumpulan geng motor di sekitar sana, kau bisa minta bantuan polisi Suminoe, jika mau.”

Yokai!” Mamoru mengonfirmasi kesediaannya menyelamatkan Ayako.

“Jangan lupa bawa teman-teman karatemu, Kawasaki. Yamato bukan berandalan amatir, jangan remehkan kemampuannya.”

***

Yodogawa, Osaka
21.11

Angin malam berembus kencang.

Tepat di tepi sungai Yodogawa, berdiri sebuah bangunan tua yang tak terpakai. Di sanalah Megumi disekap oleh Keisuke dan kawanannya. Mereka semua, termasuk Megumi, tengah menanti kedatangan Prince yang digadang-gadang sebagai agen berbahaya dari Indonesia. Entah, berbahaya untuk siapa.

“Keisuke, kau yakin anak itu akan datang?” tanya salah seorang rekan Keisuke yang terlihat sedang menenteng senapan serbu.

“Tentu saja, Asao … ” ujar Keisuke santai sembari mengusap-usap rambut Megumi yang duduk terikat di sampingnya.

Megumi sekadar terdiam. Ia tak banyak berbicara. Yang bisa ia lakukan hanyalah tertunduk dan sesunggukan menahan tangis. Ada garis berwarna keputihan di sekitar pipinya, menjadi jalur airmata yang tertumpah.

“Dari mana keyakinanmu berasal!? Aku tak mengerti,” rekan Keisuke yang bernama Asao itu dilanda kebingungan, wajah penuh kerutannya mengisyaratkan ketersesatan.

“Intuisi,” jawab Keisuke singkat.

“Intuisi bagaimana? Kau hanya menerka-nerka berdasarkan perasaan–”

Belum sempat Asao menyudahi protesnya, tiba-tiba pria yang duduk di ruangan seberang berteriak, memberikan kabar. “Hei! Anak itu datang! Dia sudah di depan perimeter!” seru pria berwajah kotak tersebut.

Seketika itu, Asao terdiam. Ia pun tertunduk malu.

Di saat yang bersamaan, Megumi sontak menengadahkan wajahnya. Ia terlihat sumringah. Pemuda pujaannya akhirnya datang untuk menjemputnya.

“Benar, kan?” Keisuke menggoda rekannya. Ia bahkan menepuk-nepuk pundak Asao. “Sudah kubilang ia akan datang.”

“Oke, oke … ” Asao menjawab luruh, ia tak ingin berdebat dengan rekannya. “Tetapi, serius, Keisuke … aku masih merasa ini bukan ide yang baik. Kalau ia benar-benar buronan agensi internasional, kita seharusnya membawa pasukan yang lebih besar untuk melakukan penyergapan!”

“Tenanglah, Asao,” cetus Keisuke tenang. “Yang kita butuhkan dari anak ini adalah informasinya mengenai jaringan militer bayangan yang dipimpin oleh Subject 09. Kalau kita punya info itu, agensi mana pun akan melelang kita dengan harga yang tinggi. Itu lebih menguntungkan daripada menyerahkan bocah ini langsung kepada CIA dan kroco-kroconya!”

” … kau hanya berpikir tentang keuntungan material, ya?”

“Itu yang pertama,” kata Keisuke seraya agak tertawa. “Motif kedua adalah agar kita tidak melulu dianggap babu, kan? Selama ini kita hanya pesuruh. Dengan informasi yang dimiliki oleh bocah ini, kita bisa punya daya tawar yang lebih baik. Artinya, Jepang juga punya peluang yang lebih baik untuk bertahan.”

Asao terdiam. Ia pun turun dari tempatnya berpijak dan berjalan menuju pintu masuk. “Terserah kau sajalah, Keisuke. Pokoknya kalau anak ini macam-macam, akan kutembak kepalanya,” kata Asao.

Keisuke tersenyum kecut. Ia pun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Hiroki! Bantu Asao menjaga pintu masuk!” serunya kepada pria berwajah kotak di dalam ruangan kontrol.

Yokai!” dari kejauhan, Hiroki mengonfirmasi perintah atasannya. Ia langsung mengambil senapan serbu dari sudut ruangannya dan bergegas keluar. Tugasnya adalah menemani Asao berjaga di depan pintu masuk bangunan.

Seluruh pihak menanti. Harap-harap cemas. Asao dan Hiroki bersiaga di depan pintu dengan bidikan dan kuda-kuda yang kokoh. Keisuke menegang, namun tetap terlihat santai. Megumi? Ia masih sesunggukan, tetapi ekspresinya terlihat lebih cerah.

BUK, BUK, BUK!

Pintu besi yang membatasi bangunan dengan dunia luar itu pun berbunyi nyaring. Seseorang menggedornya dengan keras. Tak ayal, keheningan di dalam ruangan pun pecah. Entakan suaranya sampai membuat semua orang terperanjat singkat.

“Buka pintunya, kawan-kawan … ” perintah Keisuke.

Asao menatapi rekannya sejenak, lalu mengangguk perlahan. Ia lantas membukakan pintu untuk tamu yang telah menanti di depan. Begitu pintu terbuka, tampaklah seorang pemuda berjaket tengah menyorot pandangannya ke depan, penuh amarah.

Prince. Ia sudah tiba.

“ANGKAT TANGAN!” seraya bergerak menjauh, Asao meneriakkan perintah kepada pemuda yang tampak di depan matanya. Ia tak ingin Prince berbuat macam-macam, sehingga ia harus mengatur jarak aman.

“Angkat tanganmu, sobat!” timpal Hiroki, menambah kesan intimidasi.

Prince melangkah maju seraya mengangkat kedua belah tangannya. Meski demikian, ia tak terlihat gentar dengan seruan kedua pria bersenjata di sampingnya. Tatapannya tetap menyorot lurus ke depan, terfokus pada Keisuke yang berdiri di atas semacam panggung kecil.

“Keisuke, kau mau melakukan penyergapan atau bagaimana?” tanya Prince sinis. “Sebab, kalau mau melakukan penyergapan, tidak mungkin kau hanya mengandalkan dua cecurut ini!” tunjuknya ke arah Asao dan Hiroki.

Keisuke tertawa kecil. “Kau tahu dari mana bahwa hanya dua orang ini yang menjadi pengawalku?”

“Karena memang tidak ada siapa-siapa di sekitar sini selain kalian,” jawab Prince spontan. “Kau pikir aku akan berjalan masuk ke sini tanpa memeriksa lingkungan sekitar terlebih dahulu? Aku tidak setolol itu, Keisuke.”

“Hahaha,” kali ini Keisuke tertawa lantang. Ia terkesima mendengar respon Prince yang tak gentar. “Mendekatlah, Prince. Aku memang tidak berniat mau menyergapmu.”

Prince sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Ia masih mengangkat kedua belah tangannya, tetapi tak sedikit pun melangkahkan kakinya. Ia sekadar menganggapi ajakan Keisuke dengan seutas kebisuan.

Melihat bocah tangguh di hadapannya tak merespon, Asao pun bergerak mendekati posisi Prince. Ia berniat mendorong Prince dengan moncong senapannya. Seakan tanpa keraguan, ia segera merealisasikan niatnya. “HEI, MAJU–”

Sebelum Asao selesai menyerukan perintahnya, Prince tiba-tiba berputar haluan dan menghajar Asao di beberapa titik. Sejumlah pukulan dan tendangan pendek pun merangsek ke beberapa organ vital. Pendek, tapi keras. Prince juga melucuti senapan Asao dan menyodok wajah Asao dengan popor senapan.

Melihat rangkaian serangan supercepat di depan matanya, Hiroki hanya bisa terdiam. Ia tetap membidikkan senapannya, tetapi tak bisa menarik pelatuk. Khawatir serangannya akan mengenai Asao. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah berjalan menjauh dan meresapi kejengkelannya.

Di akhir serangan, Prince tak hanya sukses meninju rahang Asao begitu keras, tetapi juga sukses mendekap leher Asao dari belakang dan mencabut pistol yang menjuntai di dekat pinggul Asao. Upayanya berhasil. Ia lekas-lekas membidikkan pistol yang berada dalam genggamannya ke arah depan, tepat ke arah Hiroki.

BLAM! BLAM!

Prince menarik pelatuk dua kali tanpa keraguan. Dua butir peluru pun melesat dan melubangi kaki Hiroki yang masih berusaha mencari celah untuk melawan balik. Seketika, Hiroki pun tersungkur dan kehilangan fokus. Senapannya juga tergeletak tak berdaya di atas ubin, meruntuhkan keperkasaannya.

Menutup rangkaian serangannya, Prince segera menggetok kepala Asao dengan gagang pistolnya. Pukulannya mendarat keras di bawah telinga Asao, langsung membuat pria yang seumuran dengan Keisuke itu kehilangan kesadaran. Asao rubuh, tergeletak tak berdaya.

Sesaat setelah Asao tersungkur, Prince langsung berlari menghampiri Hiroki yang masih meringis-ringis menahan sakit di sekujur kakinya. Sebelum Hiroki sempat mencabut pistolnya untuk membela diri, Prince sudah lebih dulu menyepak wajah Hiroki sekuat tenaga hingga pria berwajah kotak itu pun pingsan.

Pertarungan dengan dua pengawal Keisuke resmi berakhir dalam hitungan detik. Prince lantas bertolak dan menghadapi lawan terakhirnya. Ia mengunci kepala Keisuke di dalam bidikannya, tetapi belum berani menarik pelatuk.

“Tarik pelatuk kalau berani,” Keisuke tersenyum. Ia tak gentar dengan ancaman Prince, sebab pistolnya sendiri telah menempel di batok kepala Megumi. “Kau mau nyawa pacarmu melayang? Silakan.”

Tak ada respon apa pun dari Prince. Ia tetap membidikkan pistolnya tepat ke arah Keisuke. Matanya sesekali mendelik ke arah Megumi, yang ia dapatkan hanyalah segumpal kesedihan. Megumi menangis lagi, ketakutan setengah mati.

Kesunyian menyeruak.

Benak Prince meronta.

Akhirnya, Prince menurunkan bidikannya. Ia tak tega melihat kondisi Megumi yang berurai airmata. Selain itu, ia juga tak ingin bertaruh dengan nyawa gadis yang selalu menemaninya pulang.

“Aku tidak membunuh dua temanmu, hanya membuat mereka tertidur, jadi sebaiknya kau juga turunkan senjatamu,” ujar Prince menahan gusar. Ia lantas membuang pistolnya ke atas lantai. “Kau tidak butuh teman-temanmu, jadi kuhajar mereka.”

“Kau benar-benar dibesarkan dari lingkungan peperangan, ya … ” Keisuke tersenyum kecut. Ia pun membuang pistolnya, bersikap adil. “Sama sekali tak terlihat gentar atau ragu saat mengambil keputusan.”

Keisuke segera melompat dari panggung kecilnya. Ia turun dan berjalan mendekati Prince. Kepalanya menengadah sombong. Dadanya membusung, menampakkan dominasinya terhadap Prince.

Bakayarou, chikusou,” ejek Prince kasar. “Apa yang dijanjikan Amerika padamu, Keisuke? Membantu agensi luar negeri tidak akan membuat Jepang lebih baik!”

Sore wa seikai desuka?” Benarkah demikian, tanya Keisuke meragu. “Amerika hanya memberi kita dua pilihan: ikuti perintah mereka atau rasakan kemarahan mereka. Perdana Menteri Tooru menolak pilihan yang pertama, jadi Amerika memaksa kami untuk menelan pilihan yang kedua. Kau merasa itu lebih baik?”

“Dan kau malah menambah kerusakan di negaramu? Bukan membantu masyarakat dan pemerintah Jepang untuk memperbaiki keadaan?” Prince berseloroh. “Aku sudah membaca semua catatanmu, Keisuke. Kau adalah salah satu orang yang melakukan pengeboman di Jepang. Kau bukannya membantu Jepang membaik, tetapi malah membantu Amerika menghancurkan negaramu sendiri!”

“Justru orang-orang sepertiku yang akan memastikan keselamatan negara ini,” tukas Keisuke. “Amerika membayar orang-orang sepertiku untuk membuat perdana menteri berubah pikiran. Mereka, Amerika, memberikan kami waktu untuk mengubah keputusan perdana menteri untuk ikut berperang. Jika kami gagal, barulah pasukan Amerika yang turun tangan dan meluluhlantakkan segalanya. Kami, orang Jepang, tak bisa membiarkan hal itu terjadi!”

“Dan kau percaya terhadap omong kosong itu, konoyarou?” tanya Prince ketus. “Amerika SUDAH meluluhlantakkan negaramu lewat tangan orang-orang Jepang yang linglung sepertimu! Mereka tak punya cukup resource untuk menyerang negaramu dengan kekuatan penuh, kekuatan mereka sudah terpakai untuk perseteruan di Pulau X dan di negaraku! Itulah sebabnya mereka membayar orang-orang yang mudah dipengaruhi sepertimu!”

” … ”

“Mereka hanya memanfaatkan orang-orang sepertimu untuk merusak Jepang. Jika kalian berhasil memengaruhi perdana menteri, itu bagus, sebab mereka akan punya sedikit pasukan bantuan untuk berperang. Tetapi jika kalian gagal … mereka juga tidak rugi apa-apa! Toh, negara kalian sudah hancur duluan,” papar Prince. “Jangan berpikir dengan dengkul, pikir dengan kepalamu!”

Urusai … ” Keisuke menggeram, menyuruh Prince untuk diam. Ia pun mengepalkan kedua tinjunya. “Kau tidak perlu menghakimiku, gaijin!

Keisuke gusar. Ia tiba-tiba saja merangsek maju dan mengayunkan kepalan tangannya ke wajah Prince. Akan tetapi, pukulan kerasnya meleset. Gagal mendarat pada target yang dituju. Serangannya diblokir Prince dengan mudah. Ada entakan angin yang begitu kuat saat tinjunya mendarat, namun tak sedikit pun membuat pemuda di hadapannya gentar.

Perkelahian menjadi tak terelakkan.

Dengan segala daya dan upayanya, Keisuke mengerahkan berbagai macam serangan, namun tak berbuah manis. Prince berulang kali harus menepis, menangkis, hingga memblokir serangan yang datang. Seakan terpojok, tetapi sebenarnya tidak. Prince lebih terlihat seperti mempermainkan lawannya.

Meski demikian, Prince tak tinggal diam. Ia juga sesekali menyerang saat mendapatkan sejumlah celah. Meskipun Keisuke tampak mendominasi pertarungan, tetapi serangan Prince jauh lebih banyak masuk mengenai titik-titik vital.

Sampai pada akhirnya, Prince merasa bosan dan berniat mengakhiri perseteruannya. Ia pun menerapkan empat sampai lima serangan yang fatal. Semuanya menghantam kepala Keisuke. Kepala Keisuke hampir seperti bola basket, memantul ke sana-kemari begitu terentak oleh pukulan dan tendangan yang gesit lagi keras.

“Ugh … ” Keisuke merasa pusing. Ia pun melangkah mundur seraya menggeleng-gelengkan kepala untuk meraih keseimbangannya kembali. “Kuso kurae!

Meski dalam kondisi terhuyung, Keisuke pantang menyerah. Ia berlari menghampiri Prince dan lagi-lagi meluncurkan tinju mautnya ke arah Prince.

Sayangnya, keseimbangan Keisuke yang goyah membuat pukulannya menjadi tak terarah. Tinjunya keras, namun tak benar-benar meluncur ke arah target. Prince malah merunduk dengan mudah dan melepaskan pukulan yang sama kerasnya dengan pukulan Keisuke.

Pukulan masuk dengan gemilang.

Kepalan tangan Prince mendarat tepat di batang hidung Keisuke, langsung membuat pria berambut gondrong itu tersentak dari tempatnya berdiri. Sekali lagi Keisuke bergerak mundur, menjauh dari zona tarungnya, tetapi kali ini ia sampai tersungkur tak berdaya di atas ubin.

Tak ada reaksi yang berarti dari Keisuke. Pria yang bertubuh lebih kekar daripada Prince itu hanya berbaring luruh di tempatnya seraya menatapi langit-langit dengan tatapan kosong. Hidung dan mulutnya berdarah, napasnya pun tersengal-sengal. Menandakan bahwa ia telah kalah.

Begitu cepat, begitu singkat.

Tak pernah sekali pun Keisuke membayangkan ia akan dipecundangi oleh seorang bocah SMA. Hari itu adalah pertama kalinya. “Benar kata Yamato … pukulanmu sama sekali tidak terasa seperti pukulan bocah SMA. Keras sekali,” ujarnya.

Prince berjalan mendekat. Ia menarik napas panjang seraya mengusap-usap keringatnya. “Masih bersikeras mau mengebom Jepang untuk membuat perdana menteri berubah pikiran?”

“Sekarang aku percaya bahwa legenda yang bernama Subject 09 itu benar-benar ada,” jawab Keisuke. Ia tak ingin membahas soal keputusannya menjadi babu asing. “Kalau kau saja punya daya rusak separah ini, apalagi dirinya?”

“Dia belum seberapa … ” kata Prince sembari mengusap-usap buku jarinya yang lecet. “Kau bilang Subject 09 punya daya rusak yang besar? Berdoalah agar kau tidak pernah ‘berkenalan’ dengan tinju saudara tertuanya.”

Keisuke terdiam. Ia masih tersengal-sengal, tetapi matanya fokus menatapi Prince. “Aku tidak pernah tahu ada yang lebih menyeramkan dibandingkan Subject 09.”

“Kau pikir siapa yang memulai peperangan dan kegilaan selama beberapa tahun terakhir ini, hah!?” Prince geram. Ia meneriaki lawan bicaranya. “Dia … dia sudah merenggut banyak nyawa! BANYAK! SEMUANYA KARENA DIA! Dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang sanggup menumbangkannya maupun kekuasaannya! Ia adalah perwujudan kejahatan absolut paling sempurna!” serunya gemetar.

Prince hampir tak kuasa menahan tangisnya. Ia terkenang oleh masa lalunya yang pahit. Ia tak ingin mengingatnya, tetapi Keisuke membawanya ke zona ingatan tersebut.

” … dan lihat apa yang kau lakukan, Keisuke,” ujar Prince luruh. “Pengeboman yang kau lakukan selama ini hanya memuluskan rencananya menghancurkan kehidupan manusia! Kau secara tidak langsung menjadi babunya!”

Seketika itu Keisuke terdiam, kedua matanya membelalak. Apa yang diceritakan Prince adalah sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Cerita emosional dari bocah yang besar di medan perang, seolah dongeng tapi terasa nyata. Benak dan jiwanya sontak meronta, berusaha menemukan jati dirinya yang terserak.

Tak lama kemudian, Keisuke pun mendudukkan tubuhnya. Tenaganya sudah pulih, tetapi kepalanya masih terlampau pening. Ia lantas merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu untuk diserahkan kepada Prince.

“Prince-san, ambillah kunci ini. Bebaskan Adachi. Aku tak pernah sampai hati mau melukainya,” katanya seraya menyodorkan sebuah kunci borgol kepada Prince.

Prince tak lekas merespon. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil kunci yang disodorkan kepadanya. Tak ada ujaran apa pun kepada Keisuke setelahnya, ia sudah merasa jijik dengan pria gondrong di hadapannya. Akan tetapi, ia tak merasa perlu menambahkan kekalahan Keisuke ke tingkatan yang lebih tinggi.

“Prince, jika aku membeberkan semua rahasia yang kutahu, apakah kau akan membiarkan aku bergabung dengan kawananmu?”

Pertanyaan Keisuke langsung membuat kening Prince mengernyit. Petarung muda itu tak ingin lekas-lekas memberikan jawaban. Hatinya sendiri sulit untuk menerima keberadaan orang yang telah melakukan penculikan terhadap sahabatnya.

“Bukan aku yang memutuskan,” begitu saja jawaban Prince. Menggantung. Ia lantas berjalan mendekati tempat disekapnya Megumi. “Kau sebaiknya bicara dengan mentorku di Jepang. Biar dia yang memutuskan apakah sebaiknya kau dibuang ke Samudera Pasifik atau bergabung dengan kami.”

Keisuke menghela napasnya. Ia memaklumi sikap dingin Prince. “Boleh kutahu siapa namanya?”

Prince lagi-lagi menunda jawabannya. Ia fokus membukakan borgol yang mengikat kedua tangan Megumi. “Untuk apa kau bekerja untuk Amerika selama bertahun-tahun jika kau tak bisa menemukannya?”

Keisuke tertawa mendengus. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum kecut. Benar juga, pikirnya. Prince tak mungkin mempermudahnya setelah apa yang ia lakukan terhadap Megumi.

Belum sempat percakapan belanjut, borgol yang membelenggu kedua pergelangan tangan Megumi pun terlepas. Kontan, Megumi langsung meloncat dari tempat duduknya dan menghampiri Prince dengan antusias. Tanpa pikir panjang, Megumi langsung memeluk pujaan hatinya dengan erat. “Prince, Prince, Prince! Huaaaa!” serunya seraya menangis dalam pelukan Prince.

Tak ada yang bisa Prince yang lakukan selain membiarkan Megumi menggelayuti badannya. Pemuda berparas Melayu oriental itu hanya bisa menutupi rasa malunya dengan senyuman setengah hati. “Sudah, tak apa-apa, Adachi. Aku sudah di sini. Jangan menangis lagi,” hiburnya seraya mengusap-usap punggung Megumi dengan kaku.

“Prince-san, sebaiknya kau selamatkan teman-temanmu yang lain,” kata Keisuke memberi petunjuk. “Kau meminta teman-temanmu untuk menyelamatkan Ayako, kan? Percayalah, kondisinya pasti kacau. Yamato itu brutal dan tak bisa diatur. Pasukannya pasti mengeroyok teman-temanmu.”

Prince dan Megumi memelototi Keisuke yang masih terduduk di tempatnya. Keduanya terenyak begitu mendengar kata ‘keroyok’. “Di mana tepatnya adikmu menyekap Ayako!?” tanya Prince.

“Aku tak diberitahu olehnya, tetapi pola pergerakan Yamato sangat mudah untuk diterka. Ia sudah pasti ada di tempat persembunyiannya di bagian selatan Nishinari.”

DOKODE, KONOYAROU!?” di mana, tanya Prince gusar.

“Di lapangan tempat ia berkumpul dengan teman-temannya. Barat daya Taman Suminoe.”

***

Tempat Perkumpulan Geng Kuroi Akuma
Shin-Naniwa-suji, Osaka
22.21

Kacau.

Persis seperti prediksi Keisuke, lapangan tempat berkumpulnya geng Kuroi Akuma akan diselimuti oleh kekacauan. Banyak pemuda yang tergeletak tak berdaya akibat tawuran. Meski tak ada yang tewas dalam perseteruan tersebut, namun banyak pihak yang terluka dan kesulitan untuk bangkit.

Dua pihak yang terlibat baku hantam adalah geng motor Kuroi Akuma dan anggota ekskul Karate SMA Aoyama. Keduanya punya kepentingan terhadap satu subjek yang sama, yakni Ayako Yoshitani, gadis anggota grup idol Pinky Pandora.

Geng motor Kuroi Akuma punya niat melukai Ayako, sementara anggota ekskul Karate SMA Aoyama berniat menyelamatkannya. Tak pelak, terjadilah konfrontasi.

Masing-masing pihak menyisakan satu jawara untuk menyelesaikan persoalan. Kuroi Akuma menyisakan Yamato Rikugi, sedangkan ekskul Karate menyisakan Mamoru Kawasaki. Dua jawara itu sudah penuh lecet dan luka, tetapi masih punya sedikit energi untuk membereskan perkelahian.

Sementara Ayako? Ia tetap bertiarap di antara kerumunan pemuda yang tumbang tak berdaya, tak berani berpindah tempat. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis seraya memegangi kepalanya, takut terinjak-injak. Sejak terjadi tawuran, ia memang terjebak di tengah lautan manusia. Beberapa orang mencoba menyelamatkannya, tetapi gagal.

“Yamato, sebaiknya kau menyerah! Kau tak punya kesempatan sama sekali untuk menang melawanku!” seru Mamoru menyombong.

“Heh, biasanya orang yang berbicara begitu yang kalah!” seru Yamato.

Dua jawara dari kedua pihak yang berseteru itu pun saling merangsek, menawarkan pukulan. Keduanya mengerahkan kemampuan yang terbaik. Baku hantam semakin tak terelakkan. Ini adalah pertarungan penentuan untuk menentukan nasib Ayako.

Mamoru dengan jurus-jurus karatenya mampu membuat Yamato kerepotan, bahkan sanggup membuat ketua geng motor itu beberapa kali melenguh kesakitan. Akan tetapi, Yamato bukan anak kemarin sore yang bisa ditumbangkan dengan mudah. Di tengah dominasi Mamoru, Yamato masih sanggup beberapa kali menghajar wajah Mamoru dengan tinjuan keras.

Semakin lama perkelahian menjadi semakin tak beraturan, brutal dan acak-acakan. Energi terkuras deras, sehingga kedua petarung akan melakukan apa saja untuk saling menjatuhkan. Darah dan lebam pun mau tak mau menghiasi tiap sudut wajah keduanya.

Sampai pada akhirnya, Yamato mendapati celah pertahanan Mamoru terbuka lebar. Ia langsung melayangkan tinjunya tepat ke lambung kiri Mamoru. Ia meliuk bagai petinju, lantas mendaratkan pukulannya.

Serangan Yamato masuk tanpa sempat diantisipasi, sontak membuat sang juara karate mengejan pilu.

Teknik pukulan Yamato yang sempurna menghasilkan daya rusak yang cukup besar. Tak ayal, sang juara karate pun bertekuk lutut di hadapan berandalan sepertinya, mengejan kesakitan. Mamoru terlalu meremehkan Yamato, itulah kenapa ia kalah.

“Hahaha! Sudah kubilang … pasti kau … yang kalah!” seru Yamato terengah-engah. Ia menertawai Mamoru yang melutut di hadapannya.

” … ” Tak ada kata terucap dari lidah seorang jawara karate. Mamoru terdiam, sesekali meringis, menahan rasa sakit yang merajang di sekitar lambung kirinya.

“Aku … bertahun-tahun … berlatih tinju dan mempraktekkannya kepada orang lain,” kata Yamato menyombong. “Aku tidak mungkin kalah … darimu … yang cuma jadi juara karate di arena dojo.”

“Kebenaran … takkan pernah kalah!” tukas Mamoru merespon keangkuhan lawannya.

“Hahaha! Tak usah bicara kebenaran–”

Tak sampai Yamato berhasil menyempurnakan ejekannya, sebuah helm berwarna hitam tiba-tiba saja melayang dan menyambar wajahnya dengan keras. Hidungnya remuk seketika waktu. Kesombongannya sekelebat runtuh, begitu pula dengan keseimbangan tubuhnya. Ia terjatuh melutut seraya memegangi batang hidungnya, persis seperti lawan di depan matanya.

Di saat yang hampir bersamaan, Mamoru bergegas menoleh ke belakang. Ia sendiri terkejut mendapati helm melayang dari arah belakang. Matanya sontak terbelalak, ekspresinya sumringah. “PRINCE!” seakan melihat juru selamat, ia menyambut Prince dalam bahagia.

“P-Prince?” Ayako mengintip dari tempatnya bertiarap. Ia pun tampak berseri-seri, walau masih berlinang airmata. Tak ada yang memerhatikannya, tetapi ia terlihat lebih bahagia sekarang.

“Prince … kau lagi!” seraya tetap melutut, Yamato menatapi Prince dengan amarah yang berkobar-kobar. Suaranya menggeram. “KAU LAGI, BAJINGAN!” serunya menggelegar.

Tak lama, Prince masuk ke dalam area perkelahian. Ia muncul dari balik tirai malam, seakan orang yang tengah dinanti-nantikan. Sementara itu, Megumi berpisah darinya, mencari tempat yang lebih aman.

“Kau … benar-benar membuatku kesal!” Yamato bangkit secara perlahan-lahan, seraya tetap memegangi hidungnya yang berdarah. Ia masih tak ingin menyerah pada keadaan, masih ingin melawan. “SETELAH BERHASIL MEMENGARUHI AYAKO SI GADIS BRENGSEK, SEKARANG BERANI-BERANINYA KAU DATANG KEMARI!”

“Bersikaplah lebih ksatria terhadap perempuan, Yamato,” jawab Prince singkat.

Yamato mengerat gigi-giginya dengan keras. Ia pun memasang kuda-kuda bertarung, memersiapkan tinjunya. Tanpa berpikir terlalu lama, ia pun merangsek maju, melesat ke tempat Prince berpijak dengan seluruh keberanian yang tersisa.

Tinju melesat, lalu mendarat dahsyat. Terdengar bunyi entakan yang cukup keras akibat pukulan Yamato. Sayangnya, pukulan keras itu seakan tak berarti apa-apa. Hanya menghantam keras, lalu apa?

Prince berhasil mengantisipasi serangan Yamato dengan mudah. Ia menangkap kepalan tangan Yamato, sama seperti apa yang ia lakukan di atap sekolah. “Terlalu mudah ditebak,” ujarnya santai.

Sejurus kemudian, Prince melepaskan serangan balasan. Ia meluncurkan pukulan uppercut tepat ke ulu hati Yamato. Pukulan itu masuk dengan sempurna, bahkan sampai menyodok perut Yamato begitu dalam. Sontak, tinjunya berhasil membuat Yamato terempas dan meliuk tajam, kesakitan.

Yamato akhirnya tersungkur, wajahnya sampai mencium tanah. Ia tak peduli lagi pada kehormatannya, yang ia pedulikan saat itu adalah bagaimana menghilangkan rasa nyeri yang merajang di sekitar perut dan torsonya. Tubuhnya meringkuk, kesakitan, tetapi ia tak sanggup menjerit. Pukulan Prince terlalu keras baginya.

“Yamato, aku bersimpati atas perceraian kedua orangtuamu. Aku tahu kau cukup tertekan akibat kejadian tersebut. Demo … ” Prince menunda ucapannya seraya mengusap-usap buku jarinya. “Apa yang terjadi pada keluargamu tidak bisa dijadikan alasan untuk melampiaskannya kepada orang lain.”

” … ” Yamato masih kesakitan. Ia terdengar membisikkan seuntai kalimat, namun terlampau pelan. “Kau tak tahu hidupku … ” begitu kalimat yang bisa terdengar.

Shitteru yo, Yamato. SHITTERU!” Prince sudah tahu kehidupan Yamato, ia sudah membaca seluruh catatan begundal kecil tersebut. “Masa lalumu, keluargamu, perceraian ibu dan ayahmu, pekerjaan kakakmu, aku sudah tahu semuanya. Kau pikir aku tak pernah merasakan kepedihan yang sama sepertimu!?”

Tak ada respon. Yamato hanya menggelinjang lembut, lalu meringkuk demi menahan rasa sakit di ulu hatinya.

Prince lantas berjongkok di hadapan Yamato. Ekspresinya dingin, seakan tak merasa iba pada kondisi sang berandal muda.

“Aku merasakan apa yang kau rasakan, Yamato. Bahkan lebih parah, aku bahkan tak pernah tahu siapa ayahku sejak aku lahir! Perang di negaraku juga menghancurkan segalanya! Tetapi tak pernah sedikit pun aku terpikir untuk melampiaskan kejengkelanku pada orang yang salah, apalagi terhadap seseorang yang seharusnya kusayang!” seru Prince seraya menunjuk-nunjuk wajah lawan bicaranya.

Sesaat itu, tak ada suara yang berani mengintervensi kemarahan Prince. Selain angin yang membisikkan sajak malam, tak ada yang berani berujar. Mamoru terperangah, Ayako terkesima, Megumi terkagum, Yamato terdiam. Gemerisik pohon seakan bersorak, merayakan kemenangan telak seorang Prince.

Prince membiarkan segalanya membisu. Ia lantas berdiri dan berjalan meninggalkan Yamato sendirian. Ia menghampiri tempat di mana Ayako terduduk; gadis berambut pendek itu rupanya sudah diselamatkan oleh Megumi beberapa saat lalu.

“P-Prince … ” sapa Ayako sesunggukan. Wajahnya terlihat berantakan. Banyak serpihan debu dan bekas jalur airmata. “Arigatou,” ucapnya berterima kasih.

Prince tak lekas merespon. Ia sekadar tersenyum, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu menghela napasnya.

“Berterima kasihlah kepada Kawasaki … ” ujar Prince seraya menunjuk Mamoru yang masih berusaha memulihkan tenaganya. “Dan juga berterima kasihlah kepada Adachi yang telah menjauhkanmu dari zona bahaya,” lanjut Prince tersenyum.

Ayako lagi-lagi tak sanggup membendung airmatanya. Ia pun memeluk gadis berambut ikal di sampingnya dan menangis sekuat tenaga. Megumi tak protes, ia justru mengusap-usap punggung Ayako dengan lembut.

A-ARIGATOU, MINNA-SAN! ARIGATOU GOZAIMASUUU!” sesaat kemudian, Ayako berterima kasih dalam tangisan, membiarkan dirinya larut dalam rengkuhan Megumi. Setidaknya, ia sudah lega bisa terlepas dari teror yang dilakukan oleh mantan pacarnya.

Setidaknya, masalah malam itu sudah teratasi.

***

Kantin Aoyama High School
Keesokan harinya
12.10

Waktunya makan siang.

Semua pihak yang sempat terlibat perseteruan malam tadi sudah kembali ke sekolah dan mengikuti aktivitas belajar-mengajar. Kecuali anak-anak ekskul karate yang terluka, ada segelintir di antara mereka yang harus dirawat selama beberapa hari akibat mengalami patah tulang.

Meski demikian, kejadian tadi malam tak begitu bergaung di SMA Aoyama.

Tak ada respon yang signifikan dari pihak sekolah. Pihak kepolisian sempat datang ke Aoyama, tetapi tidak ditanggapi secara besar-besaran oleh para pengelola sekolah. Sejumlah anak yang terlibat perkelahian memang dipanggil ke ruang guru untuk dimintai keterangan, tetapi tampaknya tidak ada yang bermasalah.

Aksi heroik anak-anak dari ekskul karate justru membuat kepala sekolah sumringah. Kabarnya, kepala sekolah memang sudah jengah dengan tingkah laku Yamato yang seringkali menimbulkan masalah.

Singkatnya, masalah sudah terselesaikan.

Kini, di siang bolong yang panas, Prince duduk berdua dengan Ayako di kantin sekolah. Mereka saling berhadap-hadapan di meja yang berlokasi dekat jendela. Angin sepoi di bawah rindangnya pepohonan tentu akan melengkapi momen makan siang itu, tentunya.

“Jadi … apa yang terjadi pada Keisuke dan Yamato setelah kejadian kemarin?” tanya Ayako membuka percakapan.

“Keisuke menghilang, entah ke mana … ” jawab Prince, lantas menyeruput susu kotaknya. “Yamato? Ia diamankan oleh aparat dan diserahkan ke panti rehabilitasi untuk yang kesekian kalinya.”

“Anak itu, ya … ” Ayako menanggapi seraya agak tertawa mendengus. “Ia memang tidak pernah kapok dengan perbuatannya. Kakaknya sampai berkali-kali ‘menyelamatkannya’ dari panti rehabilitasi.”

“Aku tak bisa menyalahkannya secara penuh,” kata Prince. “Dia menjadi nakal akibat kehilangan jati dirinya. Orangtuanya bercerai, ia jadi hilang arah. Kurasa kau juga sudah tahu.”

Hai, shitte iru, Prince … ” Ayako tersenyum tipis, lantas menyisir rambutnya ke belakang telinga.

Prince terdiam sejenak, ia tengah menggali topik sembari menyedot susu kotaknya secara perlahan-lahan. “Kau kenal dekat dengan kakaknya, Yoshitani?”

Iie, aku hanya bertemu dengannya beberapa kali. Keisuke tampak seperti orang yang baik dan perhatian,” jelas Ayako. “Aku tak menyangka bahwa ia merupakan salah satu penjahat yang membuat Jepang kacau selama beberapa waktu terakhir.”

“Oh? Kau sudah tahu?”

Hai, Megumi meneleponku tadi malam. Katanya, sebelum kau dan Keisuke berkelahi, kalian berbicara soal politik. Megumi tak terlalu mengerti isi pembicaraan kalian, tetapi Megumi mengerti bahwa Keisuke adalah penjahat.”

“Ah, sokka … ” ujar Prince mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau dan Megumi sering berkomunikasi lewat telepon, ya?”

“A-ahaha … ” Ayako salah tingkah, ia sampai mengusap-usap tengkuknya. “Baru dua hari belakangan ini, kok.”

“Hmm, begitu,” susu kotak dalam genggaman Prince telah habis. Ia pun meletakkan kotak kardus tanpa makna itu di atas meja makannya.

Tak ada pertukaran kata apa pun setelahnya. Ayako terdiam, Prince terdiam. Seolah, keduanya telah kehabisan topik pembicaraan. Ayako sekadar tertunduk, lalu memilin-milin seragam sekolahnya.

“Prince … ” sahut Ayako, berusaha membuka percakapan lagi. “Mengapa kau begitu peduli pada Jepang?”

Prince tak lekas menjawab, ia malah memandangi wajah manis Ayako selama beberapa saat. Sejurus kemudian, ia pun menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Aku akan berasumsi bahwa kau tahu hal itu dari Megumi.”

Ayako mengangguk-anggukkan kepalanya. “Katanya, kau terdengar amat peduli pada negara ini, padahal kau adalah orang asing.”

Prince menoleh ke arah jendela, menatapi daun-daun yang berguguran. Seakan hendak meminta izin kepada alam untuk menjawab. “Cinta tak pernah mengenal batas, Yoshitani. Bahkan batas negara takkan sanggup menghalanginya.”

Jawaban singkat itu langsung membuat Ayako menengadah dan membelalakkan mata. Ia tersesat dalam alunan kata yang penuh makna, tetapi tak kunjung merengkuh petunjuk. “M-maksudnya?”

“Kita semua hidup di bumi yang sama. Menjaga kelestariannya tidak perlu batas negara, itu tanggung jawab kita semua,” jelas Prince. “Aku tahu perang, aku besar di tengah-tengah pusarannya. Tidak ada orang waras yang mau mengalaminya. Aku hanya ingin mencegah hal itu terjadi di sini.”

Ayako terkesima. Ia sempat melongo sebelum akhirnya tersenyum lebar. Pipinya lantas memerah, jiwanya terjerembab pada perasaan yang berbunga-bunga. “Inilah kenapa kau disukai oleh banyak wanita, Prince … ” ujarnya agak berbisik.

“He?” Prince terheran. Kedua matanya menyipit. “Doushite? Rasanya itu sama sekali tak berhubungan dengan jawabanku.”

“Kau sangat bijak dan perhatian, Prince. Kau mungkin tidak setampan aktor Jepang atau Korea, tetapi sikapmu yang elegan membuatku mengerti mengapa banyak gadis di sekolah ini yang menginginkanmu.”

Prince mengernyitkan keningnya. “Banyak?”

“Kau sama sekali tidak peka, ya?” tawa kecil sontak menghiasi wajah Ayako. Ia menggoda lawan bicaranya.

“Aku … ” Prince kebingungan. Ia mengusap-usap tengkuknya seraya tersenyum kecut, bingung mengais reaksi. “Aku tidak tertarik pada hubungan asmara, Yoshitani. Belum tertarik–”

Entah apa yang terjadi, namun Prince tiba-tiba saja mendengar suara benturan di dinding seberang mejanya. Kepalanya sempat menoleh sejenak ke arah sumber suara, tetapi sorot pandangnya tak mendapati apa pun selain ketiadaan. Ia seperti baru saja mendengar kepala seseorang membentuk tembok.

“Adakah sesuatu yang membuatmu tidak tertarik pada hubungan asmara?” tanya Yoshitani, tak memedulikan suara benturan di seberang meja makannya.

“Uhhh … ” Prince masih linglung. Ia tampak keberatan untuk mengungkapkan alasan di balik ketidaktertarikannya terhadap dunia romansa.

“Kau gay?” tanya Ayako sembari tertawa.

C-chigau! Bukan begitu, maksudku!” Prince menolak hipotesis lawan bicaranya. Ia jadi salah tingkah. Ayako hanya bisa tertawa melihat sikap Prince yang tak biasa.

Namun, Prince tak ingin berlama-lama menggantungkan jawaban. Kepalanya lantas tertunduk, jiwanya bersiap memuntahkan kenyataan.

“A-aku … ” Prince melanjutkan ujarannya. “Aku hanya merasa belum menemukan sosok yang tepat, Yoshitani. Aku banyak kehilangan orang tercinta akibat peperangan. Terlalu banyak lubang di hatiku. Sehingga, aku masih sulit untuk melanjutkan hidup secara normal, termasuk mencintai lawan jenis.”

Ayako memerhatikan penjelasan Prince dengan seksama. Ia sama sekali tak ingin memotong pembicaraan pemuda karismatik di hadapannya. Pipinya tetap memerah, seakan malu memandangi wajah Prince terlalu lama.

“Prince … ” sahut Ayako lembut. Gadis itu bahkan tertunduk malu saat memanggil nama pemuda di hadapannya.

Tak lekas merespon, Prince malah mengernyit. “Hai?

“Bolehkah jika aku mengisi lubang di hatimu itu?”

Seketika, situasi menjadi canggung. Hening menyeruak dalam hitungan detik. Ada perasaan hangat, sejuk, dan dingin dalam satu waktu yang sama. Perasaan berbunga-bunga terpancar deras dari gadis berambut pendek yang duduk di hadapan Prince, membuat Prince tak punya pilihan untuk mengelak.

Dari balik dinding di seberang meja makan, muncul dua kepala yang sudah tak asing bagi Prince maupun Ayako. Megumi dan Ryu, kedua sahabat itu rupanya sudah sedari tadi menguping. Megumi tampak gusar, sementara Ryu tampak kaget. Mereka terperanjat mendengar pengakuan Ayako yang sangat frontal, tentunya.

Prince membiarkan situasi canggung itu menguasai dirinya selama beberapa saat. Ia lantas menopang dagunya dan memandang ke arah jendela. Ia memerhatikan pohon di halaman sekolah, mengamati gerak-gerik sang pohon saat bercumbu dengan sepoinya angin.

“Yoshitani-san … ” kali ini, Prince yang memanggil. Masih dengan tatapan yang tertuju ke arah pohon di halaman sekolah. “Cinta itu menyeramkan. Saat kau tak siap kehilangan, kau akan dihancurkan. Saat berjalan tak sesuai harapan, kau akan diremukkan. Paling tidak, begitulah cinta bagiku.”

Ayako mendengarkan dengan seksama.

“Butuh waktu bagiku untuk pulih dari luka-luka yang telah kualami akibat cinta, Yoshitani. Mungkin terdengar klise, tetapi kisah cintaku memang terlalu pahit untuk dikenang. Sehingga, deklarasi ‘ingin mengisi lubang’ saja takkan pernah cukup untuk menggantikan apa yang telah hilang.”

Kepala Ayako mengangguk perlahan. Gadis manis berambut pendek itu pun menoleh ke samping, tepat ke arah yang sama dengan arah sorotan sang pujaan hati.

” … aku tak mau kehilangan lagi. Itu terlalu menyakitkan. Ironisnya, setiap orang pasti hilang pada waktunya,” imbuh Prince. “Apakah aku terlalu egois? Entahlah, mungkin saja. Tetapi, pada kenyataannya, cinta itu memang ironis. Memiliki untuk merasa kehilangan.”

“Bukankah hidup memang penuh risiko?” tanya Ayako tersenyum. Ia ikut terlarut dalam lautan filosofi yang dilantunkan oleh Prince.

Prince mendelik lawan bicaranya, lalu tersenyum tipis. “Yeah, shitteru yo,” ia sudah tahu.

“Jadi … ?” tanya Ayako menggoda. “Apa jawabanmu?”

“Semua orang bisa mencoba, Yoshitani,” cetus Prince. “Aku hanya tidak tahu sampai berapa lama.”

“Aku akan mencoba selama yang aku bisa.”

Prince mendengus tegas, menertawakan sikap keras Ayako. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyengir. “Kau harus bersaing dengan Megumi, kalau begitu. Ia sudah mencobanya lebih lama darimu.”

Ayako tak lekas merespon. Keceriaannya sempat meluntur. Namun, ia tak ingin menunjukkan kelemahan di depan pujaan hatinya. “Aku akan mencoba lebih keras darinya.”

Lagi-lagi Prince mendelik ke arah Ayako, terkesima oleh keteguhan hati gadis di hadapannya. “Kau perlu mengecek kepalamu, Yoshitani. Mengapa kau sangat keras kepala? Mungkin kepalamu terbuat dari metal?” imbuh Prince berkelakar.

Tawa pun pecah. Ayako yang sempat khawatir akan tersaingi kini merasa lega. Setidaknya, Prince mau berbagi canda dengannya, itu sudah lebih dari cukup menunjukkan bahwa ia punya peluang untuk merengkuh hati pemuda berdarah Indonesia tersebut.

“Baiklah, aku akan mencobanya. Setidaknya, beri aku kesempatan untuk mencoba!” tukas Ayako bersemangat.

“Silakan,” Prince tersenyum tipis.

“AAAAAGH!” tiba-tiba saja gadis berambut ikal yang sedari tadi bersembunyi di balik dinding berteriak dan bangkit dari tempatnya. Megumi, ia membalikkan badannya dengan kesal. “A-AKU TIDAK BISA MENDENGAR INI LEBIH LAMA LAGI. AKU AKAN MENGALAHKANNYA!” serunya seraya berjalan menjauh dari tempatnya bersembunyi.

“Hei, Adachi! Kau mau ke mana!? Aku mendukungmu, lho!” Ryu, pemuda botak itu ikut bangkit dari tempat persembunyiannya dan berlari menyusul sahabat perempuannya.

URUSAI, TAKAHASHI!” tukas Megumi menyuruh Ryu untuk diam.

Mendengar keributan tak jauh dari tempat mereka duduk, Prince dan Megumi pun menoleh ke sumber suara. Ekspresi mereka berhias keterkejutan. Sesungguhnya, tak ada dari dua orang itu yang menyangka bahwa Megumi dan Ryu menguping di balik tembok sedari tadi.

” … serius, sejak kapan mereka di situ?” tanya Prince.

“Jangan tanya aku. Aku juga tak tahu,” jawab Ayako spontan.

Prince lantas tertawa kecil, ia menggaruk-garuk keningnya yang tak gatal. “Apa kubilang? Cinta itu menyakitkan, Yoshitani. Lagipula, kenapa kita tiba-tiba membicarakan soal cinta, sih?”

Ayako tak lekas menanggapi pernyataan rekan bicaranya. Ia malah bangkit dari tempat duduknya seraya tersenyum lebar. “Karena tak ada yang tak mungkin. Dan pahamilah bahwa hidup adalah kompetisi. Aku takkan kalah darinya, Prince! Lihat saja!”

Tak lama kemudian, Ayako pun bergegas pergi dari tempatnya bercengkerama. Entah ke mana dirinya, tetapi gadis itu pergi meninggalkan senyuman penuh teka-teki. Ia berlari ke arah Megumi pergi, mungkin hendak menjelaskan apa yang terjadi.

Prince menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lantas memijit-mijit batang hidungnya, seolah sakit kepala. Napasnya berembus berat, tak menyangka bahwa tindakan heroiknya akan mengantarkan pada kenyataan yang sedemikian tak terduga.

“Ini bakalan berakhir lebih buruk daripada politik … ” bisiknya.

END 27.1


SPECIAL CREDIT:

Tati Nuari (ilustrator)

SAMBUTAN PENULIS:

Halo, teman-teman. Mungkin banyak yang baru bergabung atau baru tahu tentang Subject 09, ya. Atau mungkin ada yang bingung ini sebenernya cerita apaan. Hehehe. Tak apa, kami akan menjelaskannya secara singkat, padat, dan jelas.

Intinya sih, Subject 09 yang asli itu berkisah tentang petualangan politik sekelompok orang untuk melawan hegemoni adidaya. Nah, salah satu karakternya ada yang bernama Patih, kelak lebih dikenal dengan nama sandi Prince. Perjalanan kisah Prince atau Prince’s Throne berlatar sekitar lima tahun setelah plot utama Subject 09 berakhir (2026), sedangkan plot asli Subject 09 berlangsung pada tahun 2021. Jadi, semua cerita yang berhubungan dengan Prince ini ada di masa depan.

Cerita-cerita pada Prince’s Arc memang rencananya mau dibuat lebih “ringan” agar bisa menjaring pembaca-pembaca yang tidak terlalu menyukai cerita terlalu kompleks. Kami juga menambahkan elemen drama yang lebih kental untuk para pembaca yang menyukai cerita romance-action. Kebetulan, karakter Prince ini memang masih remaja, sehingga cocok dengan persoalan-persoalan terkait asmara dan pencarian jati diri.

Kami berharap bisa menghibur teman-teman hari ini. Terima kasih sudah mau membaca cerita kami. orz


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>

 


SHARE EPISODE INI!