25 – Fear [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Jakarta, 13.10

Siang nan benderang.

Teriknya matahari dan pekatnya polusi tak menyurutkan semangat para penunggu ibukota untuk mengais rezeki. Kalangan atas, kalangan bawah, seluruhnya berlomba-lomba mencari keuntungan, hanya caranya saja yang berbeda-beda. Jakarta memang tak pernah tidur. Siang dan malamnya setara, seakan geliatnya terus berpacu dengan waktu.

Ibukota selalu menjadi idaman para pencari kerja. Mahasiswa-mahasiswa bau kencur yang baru saja lulus dari universitas hampir selalu menempatkan Jakarta pada prioritas pertama ladang pencarian profesi. Sayangnya, tak semua orang bernasib sama. Sekadar tergiur gaji besar saja tak cukup. Jakarta sudah penuh sesak. Sebagian besar yang datang dan menghirup hiruk-pikuknya harus terlantar dalam kebingungan.

Sama seperti pemuda kucal yang kini tengah keluyuran di sekitar ibukota tersebut.

Tak ada yang kenal siapa dirinya, ia terlihat seperti orang yang baru saja menginjakkan kaki di Jakarta. Sorot pandangnya penuh kelinglungan, seakan terperangah oleh kemegahan ibukota. Setelannya pun tidak tampak metropolis sebagaimana orang Jakarta pada umumnya. Selain ransel besar di punggungnya, ia juga mengenakan topi, kaos oblong berkerah, celana jins, dan sepatu kets. Masalahnya, semua yang ia pakai tampak lusuh, seperti pengembara yang datang dari kejauhan.

Pemuda bingung itu akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada kawanan polisi yang sedang beristirahat di sebuah pos. Ia memberanikan dirinya untuk masuk dan menyapa sekumpulan aparat berompi hijau muda tersebut. “Selamat siang, Pak … ” sapanya dengan senyuman yang merekah.

Sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang paling dituakan, polisi pun menyambut maksud baik sang pemuda. Mereka memersilakan sang pemuda untuk masuk dan mengutarakan maksud kedatangannya. Pria dengan pakaian serba lusuh itu pun duduk di atas sofa yang telah disediakan. Tak hanya itu, ia bahkan disuguhkan cemilan dan air putih. Polisi ingin membantu, apalagi sang pemuda terlihat seperti perantau yang tak tahu arah.

Setelah polisi bertanya niat sang pemuda, sang pemuda pun menceritakan keinginannya untuk bekerja di ibukota. Ia mengisahkan kampung halamannya, keluarganya yang miskin, dan bagaimana ia harus menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dunia. Banyak kesulitan yang dihadapinya.

Sampai saat itu, tak ada yang terlalu aneh. Pria itu bertutur seperti orang-orang baru di ibukota pada umumnya; datang ke Jakarta untuk mengais rezeki, jadi tulang punggung keluarga, dan sebagainya … alasan yang klasik. Akan tetapi, semuanya berubah ketika sang pemuda mulai bertanya alamat kepada kawanan polisi.

Pemuda lusuh itu bertanya tentang “Jalan Naru”, sebab katanya, di jalan tersebut ada kantor yang sangat megah dan selalu menerima pegawai baru. Polisi tak memermasalahkan kantornya, tetapi justru memertanyakan nama jalan yang disebutkan oleh sang pemuda. Mereka kebingungan, sejujurnya, seakan baru pertama kali mendengarnya. Mencari di Google Maps pun tak membuahkan hasil. Mereka mulai menerka-nerka di mana jalan itu berada. Menteng? Kebayoran? Permata Indah? Sayangnya, sang pemuda juga tak bisa membantu banyak, sebab ia tak kenal Jakarta.

Akhirnya, polisi dengan pangkat tertinggi di sana memanggil sejumlah temannya yang berada di luar pos melalui walkie-talkie.

Tak lama, tiga polisi baru tambahan masuk ke dalam pos peristirahatan. Kini, paling tidak ada 10 personel Polri di dalam pos, dan mereka semua memertanyakan hal yang sama dengan bintara yang menjadi konsultan utama sang pemuda. Hipotesis pun mengerucut pada kesalahan informasi yang diterima oleh sang pemuda. “Mungkin bukan Jalan Naru, Mas. Tapi mungkin Jalan Baru,” kata salah seorang personel Polri di sana.

Pemuda bertopi menyangkal. Ia kukuh pada pendiriannya bahwa kantor yang ia tuju berada di Jalan Naru. Akhirnya, polisi pun mulai mengalihkan fokus mereka pada kantor yang dimaksud oleh sang pemuda. Kantor macam apa yang ada di Jalan Naru dan mengapa selalu membuka lowongan?

Sampai di titik ini, sang pemuda pun tersenyum. Ia membuka topinya dan menggaruk-garuk kepalanya. Para anggota polisi pun kebingungan, mereka menanti jawaban yang kongkret dari pria misterius di hadapan mereka. Lantas, sang pemuda menjawab, “Katanya itu kantor untuk orang-orang seperti Anda, bapak-bapak … ”

Mendengar pernyataan ini, para personel polisi mengerutkan dahi. Mereka tidak pernah mendengar Jalan Naru, apalagi mendengar kantor polisi di sekitar sana. Tanda tanya menjadi semakin besar, akan tetapi pertanyaan menjadi semakin mustahil untuk dikeluarkan. Kebingungan meliputi orang-orang dari korps baret coklat tersebut.

“Orang-orang seperti Anda lebih cocok di Naru,” ujar sang pemuda.

Sebelum sempat para personel polisi menanyakan maksud sang pemuda lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara berdecit yang amat lantang dari dalam tas sang pemuda. Mata para anggota polisi membelalak, namun mereka pun tak sempat bertindak lebih banyak. Sesaat itu, mereka sudah tahu maksud sang pria misterius, tetapi mereka sudah terlambat.

Naru adalah bahasa Arab yang berarti neraka.

KA-BLAAAAM!

Kontan, pos polisi yang semula berdiri kokoh hancur berantakan oleh ledakan bom yang cukup besar. Pos yang cukup untuk menampung puluhan anggota polisi tersebut langsung berubah menjadi bubur bebatuan, abstrak tak berbentuk. Orang-orang yang sempat singgah di dalamnya bahkan hancur tak karuan, tak bisa dikenali sebagai jasad manusia lagi.

Bom di tepi jalan tersebut sontak membuat siapa pun yang berada pada radius seratus meter paranoid setengah mati. Jeritan demi jeritan pun terdengar di sejumlah titik. Kepanikan melanda masyarakat tak bersalah yang ada di sekitar sana. Beberapa mobil lumpuh terkena fragmentasi ledakan. Para pejalan kaki yang kebetulan berlalu di sekitar sana pun tak pelak menjadi korban. Tidak sampai tewas, namun terluka parah.

Hari itu, Nusantara berduka.

Washington membuka pintu neraka.

***

Malang, Jawa Timur
Di hari yang lain
10.11

Pawai pembangunan Kota Malang tengah dilaksanakan.

Ada banyak pihak yang hadir pada pawai tersebut, bahkan wali kota pun ikut meramaikan acara tersebut seraya mengendarai mobil baja militer milik TNI. Berbicara soal militer, TNI termasuk salah satu partisipan pawai yang paling menarik perhatian masyarakat. Pasalnya, TNI banyak memamerkan alutista yang necis, sehingga mampu meningkatkan rasa patriotisme warga Malang.

Pawai tersebut merupakan agenda tahunan yang dilakukan oleh pemerintah Kota Malang untuk menunjukkan kemajuan pembangunan di kota pelajar tersebut. Penampilan-penampilan menarik dari berbagai pihak dipertontonkan di depan publik, mulai dari tarian tradisional, cosplay, pertunjukkan silat, hingga pameran alutista dan kostum TNI. Dari semua pertunjukkan yang dipertontonkan, performa TNI merupakan yang paling ramai mendapatkan apresiasi.

Untuk merekam rangkaian aktivitas pawai, panitia menggunakan sejumlah drone agar dapat mengambil sudut-sudut yang sulit dijangkau. Karena menjadi sorotan publik, pawai yang dilakukan oleh TNI pun diterawang oleh lebih banyak drone. Pesawat berukuran kecil yang dilengkapi dengan kamera 360 derajat itu pun mengepung langit dan memosisikan diri di sejumlah titik.

Semuanya tampak baik-baik saja …

Wali kota Malang pun menyampaikan satu hingga dua kalimat patriotis untuk meyakinkan bahwa TNI akan selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi warga Malang.

Akan tetapi, pidato patriotis sang wali kota harus terganggu oleh kesalahan teknis yang terjadi di langit luas. Dua drone mengalami tabrakan dan kehilangan kendali. Keduanya bergoyang ke kanan dan ke kiri, lantas jatuh perlahan. Mesin kedua drone masih terus menyala, namun tak stabil, bahkan salah satunya sempat mengeluarkan asap berwarna keabuan.

Mendengar suara tumbukan yang cukup keras beberapa belas meter di atas kepala mereka, wali kota Malang dan sejumlah personel TNI pun menengadah. Hal pertama yang mereka lihat adalah dua drone meliuk-liuk tak terkendali dan terbang semakin rendah ke arah mereka. Kontan, seorang bintara yang berdiri berdampingan dengan sang pimpinan kota langsung menarik tubuh wali kota turun dari kendaraan tempur.

Tepat setelah sang wali menapaki tanah, dua drone terjatuh tepat di atas kendaraan yang baru saja dijadikan tempat berpidato. Tak ada yang terluka pada kejadian tersebut, namun suara tumbukan sempat membuat seluruh penonton terperanjat. Para prajurit yang tampil pada parade itu pun kehilangan koordinasi. Fokus mereka teralihkan pada kejadian, lupa bahwa mereka sedang berada di depan orang banyak; unjuk kekuatan dan kebolehan.

Beberapa meter dari sana, terjadi hingar-bingar di antara sesama tim panitia. Dua pengendali drone dimarahi habis-habisan akibat hampir mencelakakan seorang pejabat pemerintah. Tak hanya ketua panitia, tiga orang anggota BAIS [1] berpakaian preman pun menegur kedua pengendali drone yang ceroboh. Anehnya, dua orang yang hampir membuat bencana itu kukuh menyatakan bahwa drone tidak digerakkan ke mana-mana, tetapi bergerak dengan sendirinya.

[1] NB: Badan Intelijen Strategis. Badan intelijen milik TNI.

Perdebatan pun terjadi. Ketua panitia dan pihak keamanan sempat tak memercayai penuturan kedua pengendali drone. Akan tetapi, kedua pengendali drone memerlihatkan bukti kongkret bahwa tidak ada drone yang benar-benar bergerak, melainkan terbang statis di posnya masing-masing. Mereka menunjuk seluruh drone yang pada saat itu masih berfungsi normal, memang tidak ada yang bergerak.

“Lihat, kan? Sedari awal, kami diperintahkan oleh ketua tim dokumentasi untuk mengambil pos tertentu dan membiarkan drone terbang statis, tetapi tiba-tiba drone kami bergerak sendiri!” tukas salah seorang pengendali drone.

Orang-orang yang menyalahkan kedua pengendali drone pun terdiam. Mereka saling tatap selama beberapa saat. Cerita kedua pengendali drone terdengar tak masuk akal, namun keteguhan keduanya membuat semua orang-khususnya anggota BAIS—berpikir ulang tentang siapa yang harus mereka salahkan dari kejadian tersebut.

BAIS mencium sabotase, tetapi di mana?

Tak jauh dari lokasi perhelatan tim panitia dan keamanan, tampak seorang pemuda menyeruak ke dalam kerumunan penonton. Saat itu, situasi belum benar-benar terkendali. Semua orang masih kehilangan fokus, termasuk para prajurit di jalur parade. Tentu saja, tak ada yang memerhatikan gerak-gerik sang pemuda.

Di saat itulah terjadi peristiwa yang lebih besar dan lebih tak terduga.

Pemuda misterius yang baru saja bergabung dengan barisan penonton tiba-tiba saja melemparkan ranselnya tepat ke tengah-tengah kerumunan prajurit yang menjadi partisipan pawai. Para prajurit pun terenyak. Saking kagetnya, mereka tak sempat bereaksi selain terentak dari tempat mereka berpijak. Sorot mata mereka terfokus pada suara benturan ransel dan aspal yang cukup keras.

Apa yang terjadi?

Benak para prajurit berusaha memahami situasi. Jauh dari sana terdengar sayup-sayup teriakan peringatan. BAIS. Pihak intelijen TNI berusaha mengingatkan teman-teman pawainya agar segera menyingkir, tetapi suara mereka tertelan oleh ributnya suasana. Lagipula, mereka juga sudah terlambat.

Syok, para prajurit akhirnya memahami situasi. Sayangnya, mereka pun kalah berpacu dengan waktu.

KA-BLAAAM!

Kontan, sebuah ledakan yang cukup besar terjadi tepat di tengah kerumunan pawai. Ransel yang baru saja dilemparkan ke dalam jalur parade rupanya berisi bom yang cukup kuat untuk menghancurkan apa pun yang berada pada radius sepuluh hingga dua puluh meter. Para prajurit yang berada di dekat titik ledakan pun terkoyak-koyak dan hancur tak karuan, begitu pula dengan sejumlah warga sipil di sekitar sana. Tak hanya itu, ledakan juga sanggup merontokkan kendaraan tempur yang sempat menjadi tempat berpidato wali kota.

Kepanikan pun melanda. Warga sipil yang mendengar letusan keras dan selamat dari kejadian tersebut langsung kabur terbirit-birit meninggalkan lokasi. Jeritan demi jeritan merebak, menggantikan sorak-sorai yang sempat merajai suasana. Saking paniknya, beberapa orang saling tabrak dan terjatuh, bahkan nenek-nenek pun terinjak oleh satu sama lain. Kacau-balau.

Beruntung, wali kota telah menjauh dari titik ledakan. Ia hanya mengalami luka ringan. Kalau saja ia tak segera dipindahkan oleh bintara Denjaka yang ada di sampingnya, ia pasti sudah terkoyak menjadi beberapa bagian sekarang.

Tak jauh dari sana, terlihat beberapa orang anggota BAIS dan Brimob, dibantu oleh segelintir warga, membekuk seorang pemuda yang diduga menjadi aktor pelempar ransel ke dalam wilayah parade. Pemuda berambut keriting dan berwajah klimis tersebut dibaringkan di atas aspal setelah sebelumnya dihakimi oleh para pembekuk. Wajahnya babak belur tak karuan, namun ekspresinya tetap datar, seakan tak berdosa. Mungkin baginya, yang penting tugas telah selesai.

Sekali lagi, Nusantara harus merintih. Peristiwa itu menelan korban yang cukup banyak, apalagi berada di tengah kerumunan orang. Hanya berbeda beberapa hari dari ledakan di Jakarta, ledakan di hari itu kembali menggegerkan seisi tanah air.

Baru dua kali, masih ada lebih banyak orang yang akan dikorbankan. Dark state tak main-main.

***

Indonesian Scientist Summit 2021
Samarinda, Kalimantan Timur
Di hari yang berbeda
21.02

Sejak beberapa tahun terakhir, para ilmuwan Indonesia memang tak pernah absen mengadakan pertemuan secara rutin untuk membahas persoalan-persoalan terbaru, dimulai dari persoalan lingkungan, sosial, hingga politik. Pertemuan ini kemudian dinamai Indonesian Scientist Summit.

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan ajang silaturahmi ini bermula, tetapi nama ISS sendiri secara resmi ditetapkan pada tahun 2009 pasca pengeboman yang terjadi di Bali [2].

NB: [2] Baca episode 12

Tahun ini, para ilmuwan yang bergabung di bawah payung ISS menyelenggarakan pertemuan di Kalimantan. Mereka ingin mengubah suasana, sebab selama beberapa tahun ke belakang mereka selalu mengadakan acara di Pulau Jawa dan Sumatera. Selain itu, mereka juga ingin melihat kondisi hutan di Kalimantan yang dianggap sebagai salah satu paru-paru dunia. Keberadaan mereka di sana adalah untuk mencari solusi tata kota yang dapat bersinergi dengan ruang hijau.

Pertemuan hari pertama telah selesai. Para ilmuwan pun merayakan kesuksesan acara di hari pertama dengan pesta makan malam di restoran hotel. Tidak ada yang aneh dari aktivitas tersebut, seluruh ilmuwan tetap bisa bertukar kata sekaligus bertukar canda. Acara makan malam pun berjalan dengan damai.

Tidak sedamai itu …

Setelah sekitar tiga puluh menit acara makan malam berlangsung, muncullah kejadian yang tak dapat dijelaskan oleh akal sehat. Sejumlah ilmuwan tiba-tiba merasa pusing. Mereka bergegas meninggalkan meja makan secara bersamaan, berniat menyambangi toilet. Teman-teman mereka kebingungan, terjerat dalam tanda tanya, namun para ilmuwan yang sakit ini tak sanggup menjawab pertanyaan. Sampai pada akhirnya, mereka pun terjatuh melutut dan muntah. Sesekali, muntah diselingi dengan darah.

Para pegawai restoran yang menyaksikan peristiwa ini kebingungan, panik. Mereka takut akan menjadi kambing hitam rangkaian kejadian tak mengenakkan tersebut. Pasalnya, orang-orang yang sakit tersebut adalah para ilmuwan terbaik di Indonesia. Jika para ilmuwan itu mengalami keracunan, hotel yang berdiri megah di Kota Samarinda itu bisa dibubarkan oleh pemerintah.

Belum sempat pertolongan pertama dilakukan, gejala aneh tersebut menular kepada ilmuwan yang tersisa. Puluhan anak terbaik Nusantara muntah darah di atas lantai hotel bintang lima, membuat semua orang yang tak ‘terinfeksi’ panik tak terkira, termasuk para pengunjung non-ilmuwan yang kebetulan sedang makan malam di sana. Sejumlah pegawai dan pihak manajemen hotel yang lebih reaktif segera menghubungi rumah sakit terdekat untuk pertolongan pertama, namun sayang …

… upaya mereka pun tak membuahkan hasil yang maksimal.

Para ilmuwan menggelepar di atas lantai. Mulut mereka berbusa, sesekali mengalirkan darah. Bola mata mereka berputar ke atas, menyisakan sklera berwarna putih kemerahan, tak ada pupil maupun iris. Pihak manajemen hotel yang punya keberanian ekstra berusaha untuk menenangkan kondisi para ilmuwan, namun hanya sia-sia belaka. Belum sempat pihak medis datang dan menolong, para ilmuwan itu pun tewas dalam kondisi yang amat mengenaskan.

Singkatnya: mereka diracun.

Semua orang yang menyaksikan kematian massal tersebut merasa gelisah. Segelintir di antaranya bahkan menjerit histeris; umumnya dari kaum hawa. Tak ada yang menyangka bahwa agenda makan malam anak-anak terbaik bangsa akan berakhir nista. Pihak hotel tentu saja akan menjadi kambing hitam pada tragedi malam itu.

Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Sekali serang, dua pihak sekaligus dirugikan. Tidak, tidak hanya dua, tetapi empat: dunia akademik Indonesia, hotel tempat diselenggarakannya pertemuan, pemerintah, dan pengunjung yang syok.

Pemerintah bayangan di Washington lagi-lagi menepati janjinya.

***

Dan kejadian-kejadian lainnya …

Kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan penyerangan besar-besaran ke beberapa pos TNI dan Brimob. Belum jelas apa yang melatarbelakangi serangan tersebut, namun tindakan OPM berhasil membuat puluhan aparat meregang nyawa. OPM juga dikabarkan menggunakan senjata-senjata yang lebih mutakhir, seperti pelontar granat dan mortar.
—harian Kompas

Sejumlah investor asing menarik investasi mereka terhadap Indonesia terkait maraknya aksi teror yang terjadi selama beberapa waktu terakhir. Belum jelas sampai kapan para investor menahan investasinya, namun Menteri Keuangan mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur akan menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Sejumlah upaya negosiasi sedang dilakukan dengan pihak investor, namun tampaknya tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
—majalah Bisnis Nusa

Pengeboman kembali terjadi di ibukota. Kali ini, jembatan dan sejumlah infrastruktur di Tanjung Priok New Port diledakkan oleh pihak teroris. Tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut, namun negara diperkirakan akan merugi triliunan rupiah akibat mandeknya aktivitas impor dan ekspor. Tanjung Priok New Port telah menjadi salah satu pelabuhan hub yang paling utama di Indonesia. Dengan adanya pengeboman ini, salah satu urat nadi negara telah dirusak.
—Jurnal Siang, Nusa TV

Selain Tanjung Priok, Pelabuhan Patimban di Subang dan Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara juga dirusak oleh orang-orang tak dikenal. Polisi masih melakukan penyelidikan. Meski begitu, Irjen Raka Tambunan selaku Kepala Divisi Humas Polri menyampaikan bahwa aktornya kemungkinan besar sama dengan pelaku pengeboman di Tanjung Priok. Tiga pelabuhan internasional Indonesia dilumpuhkan, itu artinya kegiatan jual-beli via laut akan terhambat selama beberapa waktu mendatang.
—harian Pos Kita

Demonstrasi terjadi di sejumlah tempat menuntut mundurnya Presiden Darsono dari jabatan sebagai kepala negara. Masyarakat menganggap kepemimpinan Darsono sebagai kegagalan paling besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Pasalnya, hanya di pemerintahan Darsonolah intelijen gagal mendeteksi pengeboman, aksi teror, dan aksi separatisme secara beruntun. Imbasnya, kondisi sosial dan ekonomi Indonesia pun terpuruk hanya dalam waktu yang sangat singkat. Darsono dianggap sebagai bom waktu yang akan menghancurkan Indonesia berkeping-keping.
—Waktu.com

Tak ada seorang pun yang menduga Indonesia akan berhasil diporak-porandakan oleh sekelompok teroris. Yang bisa masyarakat lakukan hanyalah berharap agar tragedi berikutnya tidak terjadi di dekat mereka. Kali ini, mereka memiliki alasan yang kuat untuk takut. Tagar #KamiTidakTakut yang dulu sempat berkibar saat terjadi terorisme di wilayah Jakarta tak terlihat lagi. Media sosial sepi dari tagar-tagar penguat semacamnya.

Sebab … kali ini semua orang benar-benar takut.

***

Tuban, Jawa Timur
18.11

Subject 09 dan seluruh anggota pelariannya bertengger di ruang tengah seraya menatapi layar televisi dengan cemas. Mereka sedang mengamati perkembangan kondisi negara setelah beberapa waktu lalu lolos dari kekacauan yang terjadi di dalam Laboratorium Rahasia PIN (LARAS) milik Amerika Serikat dan Indonesia. Kesimpulannya, tak ada satu pun berita yang bisa mereka nikmati sejauh itu.

Kekisruhan yang terjadi belakangan ternyata memiliki daya rusak yang tak terduga. Tak hanya personel aparat, para teroris yang digerakkan serta didanai oleh politisi dark state di Washington juga berhasil menghancurkan titik-titik vital Indonesia. Warga sipil pun tak luput menjadi korban keganasan aksi teror. Hingga hari itu, sudah tercatat sekitar 50 orang lebih warga sipil murni yang menjadi korban aksi balas dendam Washington.

God damn … ” kutuk Ara. “Sudah mulai, ya? Sudah berapa hari sejak pertama kali Amerika mengacau di sini?”

“Entahlah,” Adam bercekak pinggang. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mungkin sudah seminggu? Aku tak yakin.”

“Lebih buruk lagi, bukankah seharusnya tidak ada korban dari pihak sipil?”

Subject 09 menoleh ke belakang, menatapi saudara berwajah cantiknya. “Kau sudah tahu tabiat Washington, Three. Mereka selalu ‘meminta’ lebih dari apa yang seharunya mereka sepakati, kan?”

“Aku setuju dengan Nine,” ujar Subject 17, Felicia. “Aku yakin politisi di Washington awalnya hanya menargetkan aparat dan ilmuwan, tetapi pengalaman kita berkata bahwa apa yang dilakukan oleh Amerika selalu menghasilkan kerusakan yang lebih parah.”

“S-sebentar … apakah intelijen tidak melakukan deteksi dini atas semua yang terjadi?” timpal Nadia bertanya.

“Nadia benar!” Verani ikut berkomentar. “Aku juga heran, apakah intelijen kita tidak melakukan apa-apa sampai menjadi separah ini?”

Subject 09 mengembuskan napas panjang. Ia mengusap-usap tengkuknya. “Intelijen pasti bekerja keras, tetapi bayangkan jika semua aksi teror terjadi dalam waktu yang sangat dekat. Mereka takkan sempat menahannya sekalipun berhasil mendeteksinya,” jelasnya.

“Lagipula … ” Subject 17 menambahkan penjelasan saudaranya. “Lawan kita adalah Amerika Serikat. Mereka sudah berpengalaman mengacau di negara orang tanpa terdeteksi. Intelijen kita mungkin akan merasakan ‘getaran’, tetapi akan sulit menerka di mana aksi teror akan berlangsung. Ini keahlian negara adidaya.”

Verani dan Nadia pun tertunduk. Mereka tak bisa berargumen lebih jauh. Yang mereka tahu adalah intelijen bekerja sebagai penangkal bencana sebelum terjadi. Akan tetapi, penjelasan kedua subject Project SAKTI membuka cakrawala baru bagi mereka; bahwa intelijen pun tak luput dari ketidaksempurnaan.

“Kalau dipikir-pikir, Seventeen … ” Subject 03 kembali angkat suara. “Bukankah semua ini ada hubungannya denganmu? Kau yang pertama kali membuat orang-orang di dalam LARAS saling bunuh, kan?”

“Three!” mendengar tudingan saudaranya, Subject 09 langsung melayangkan teguran.

” … ” sementara itu, Subject 17 terdiam. Ia malah menjauhkan pandangannya dari semua orang di ruang tengah.

“Aku tidak mengarang, Nine. Ninja yang menyebarkan pesan palsu kepada seluruh anggota DSN di dalam LARAS, sehingga terjadi konfrontasi berdarah di dalam laboratorium tersebut,” kata Subject 03.

“Aku tidak berpikir bahwa itu adalah kesalahan Seventeen, Ara.” sergah Subject 09. “Washington marah karena SEMUA anggota terbaiknya mampus. Dan yang membuat SEMUA orang itu mati adalah Jurig!”

“Jangan kau bawa sentimen Kampung Rimbun dalam permasalahan ini, Nine,” ujar Ara seraya mengibas-ngibaskan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Jurig boleh saja melibas semua orang di dalam laboratorium, tetapi hal itu tak mengubah fakta bahwa Seventeen yang memulai kekacauan ini. Bahkan presiden pun tak boleh menembus perimeter DSN di sekitar LARAS, kan? Kau pikir siapa yang memulainya?”

“A-aku tidak setuju kalau kau menyalahkan Felicia, Ara!” seru Verani seraya bangkit dari sofanya. “Dia telah menyelamatkan Adam dan dirimu! Ia telah melakukan hal yang benar! Felicia hanya menjalankan tugasnya sebagai keluarga!” lanjutnya.

Heh, kau bisa berkata seperti itu karena kau punya kepentingan ingin melihat kekasihmu lagi, kan, Verani?”

“T-t-tidak! Bukan itu!” sangkal Verani. “Ya, di sisi lain aku memang ingin melihat Adam lagi, tetapi bukan itu tujuan utamanya! Tujuan utamanya adalah untuk membuat keluarga ini kembali utuh! Itu yang lebih penting!”

“A-aku … ” Nadia ikut berseloroh. Ia tak ingin abstain pada perdebatan tersebut. “A-aku berpendapat kalau ini adalah murni kesalahan Washington dan teroris yang mereka biayai. Yang membunuh orang sipil itu adalah mereka, bukan Mbak Felicia.”

“Heh, kalian ini … berbicara seakan-akan kita semua adalah keluarg—”

“DIAMLAH, KALIAN!” sebelum Ara sempat menyelesaikan kata-kata sinisnya, Subject 17 merangsak masuk ke dalam perdebatan. Semua orang yang berada di ruang tengah pun terdiam. “Aku memang berkontribusi pada kekacauan ini. Shemale—maksudku Ara—tidak salah. Kalau aku tidak menyebarkan kabar hoax di dalam LARAS, tidak akan seperti ini ujungnya.”

Hening, tak ada yang berkomentar.

Subject 17 pun duduk di atas sofa, lantas menyandarkan dirinya dengan luruh. Sebelum kembali memberikan pemaparan, ia menghela napas panjang.

“Akan tetapi, aku menculik Brigjen Dharma dan membuat DSN menggila bukanlah tanpa alasan. Aku masih membutuhkan Adam dan Ara untuk menyelesaikan persoalan yang belum selesai,” jelas Felicia. “Kampung Rimbun. Apa, kenapa, dan siapa yang ada di baliknya masih belum terkuak jelas. Dan aku tak rela pencarian ini harus berakhir sia-sia hanya karena dua babon di depanku ini tidak ikut ke dalam permainan! Aku sudah terlanjur membantu Adam sampai sejauh ini, memangnya aku bisa diam saja!?”

“Tetap saja … ” ujar Subject 03. “Itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau berkontribusi pada kematian warga sip—”

“Diam, Three! Aku sudah tahu!” sergah Subject 17. Ia pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri saudara cantiknya.

” … ”

“Aku tahu kau marah karena ada warga sipil yang dilibatkan pada serangan teror. Kita semua marah, Three. Aku juga marah, BUKAN KAU SAJA!” Subject 17 geram. “Mari kita perbaiki hal ini, kalau begitu. Pasti masih ada anggota organik CIA di sini, kita hanya perlu memenggal leher mereka. Berani?”

“Cukup!” Subject 09 mengintervensi jalannya perdebatan. Ia lantas mendekati kedua saudara seperjuangannya. “Tidak akan ada habisnya jika kita terus-menerus memerdebatkan hal seperti ini. Nasi telah menjadi bubur, sebaiknya kita terima kenyataan dan membahas hal yang lebih berguna.”

Subject 03 dan Subject 17 langsung menjaga jarak. Keduanya memerhatikan Adam berbicara.

“Lagipula, Three … ” kata Adam. “Felicia sudah mengambil keputusan, ia memutuskan untuk menyelamatkan kita berdua dan semuanya telah terjadi. Terima saja kenyataan tersebut. Tak pernah ada keputusan yang benar-benar sempurna. Kau tahu itu, Three.”

” … ” Ara terdiam. Ia melengos.

“Aku tidak tahu mengapa kau begitu marah, padahal kita sudah beberapa kali melalui peristiwa yang mirip seperti ini di berbagai belahan dunia. Orang-orang mati akibat bom, teroris, separatis, senjata biologis, dan sebagainya. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”

Subject 03 mengembuskan napas panjang seraya mengusap-usap lehernya. “Baiklah, baiklah. Tak ada yang mau mendukungku, ya?” tanyanya sambil tersenyum kecut. Ia masih bisa memasang ekspresi canda pada momen intens seperti demikian.

Kali ini Subject 09 dan Subject 17 yang membisu.

“Aku … ” Ara berupaya menjelaskan situasinya. “Aku hanya merasa bertanggungjawab atas apa yang menimpa 50 lebih korban dari pihak sipil tersebut. Bagaimana pun semua kematian itu bermula dari kekacauan di dalam LARAS dan kita punya kontribusi terhadap hal tersebut.”

“Makanya aku mengajakmu meluruskan kekacauan ini, Three!” sergah Subject 17.

“Baiklah, baiklah … ” Subject 09 kembali meredakan suasana. “Kita perlu meluruskan hal ini, tetapi … aku tak yakin bisa ikut jika harus dilakukan secepatnya.”

“Aku tahu itu, Nine,” sambar Ara. “Kau punya janji dengan Verani dan Patih untuk tetap di sini sampai kekacauan mereda. Aku tahu itu. Untuk itu, aku juga tidak memaksamu untuk ikut. Tetapi aku … aku tidak punya janji dengan siapa-siapa. Aku merasa harus menyelesaikan ini sesegera mungkin.”

Subject 09 terdiam sejenak. Ia lantas berpaling kepada saudari berjilbabnya. “Seventeen?”

“Aku setuju dengan Three dan aku akan ikut dengannya,” cetus Subject 17. “Aku yakin Amerika mengirimkan bocah-bocah CIA kemari dan mereka masih ada di sini. Buktinya bisa terlihat dari rapinya operasi teror selama beberapa hari belakangan.”

Diam. Subject 09 tak lekas merespon pernyataan kedua saudaranya. Ia menghela napas panjang, memertimbangkan risiko-risiko yang akan muncul.

“Oke. Kalian hajar para bajingan itu di lapangan dan aku akan membantu kalian sebagai pengamat serta penyedia informasi dari sini. Deal?” Subject 09 menyetujui rencana kedua saudaranya.

Tanpa berpikir panjang, Subject 03 dan Subject 17 langsung menyetujui persyaratan singkat yang disebutkan oleh sang buronan nomor satu republik.

Damai telah tercapai. Ketiga subjek yang semula berseteru langsung bergegas mengambil peralatan masing-masing. Sementara itu, Verani dan Nadia hanya bisa terdiam menatapi ketiga subjek Project SAKTI berlalu di hadapan keduanya.

“Kita mulai dari mana, Nine?” tanya Subject 17 seraya memersiapkan laptopnya di ruang tengah.

“Tentu saja, dari kota ini,” kata Subject 09. “Tuban. Sepengalamanku kota ini cukup banyak ditinggali sel tidur teroris.”

“Mereka bisa saja tinggal di dekat kita saat ini,” timpal Subject 03 seraya tertawa kecut.

Perburuan terhadap provokator asing akan dimulai malam itu. Mimpi indah para pengacau mungkin akan buyar dalam hitungan hari. Mungkin.

***

Poso, Sulawesi Tengah
Di hari yang berbeda
10.11

Teroris makin tangguh.

Entah mengapa, tiba-tiba saja pihak antiteror Republik Indonesia merasa kewalahan menghadapai sekelompok teroris yang sebenarnya hanya memiliki daya rusak menengah. Mereka seakan-akan sedang berhadapan dengan sekelompok gerilyawan profesional yang akurat dan mematikan. Sejumlah tragedi pengeboman dan penembakan terhadap arapat di beberapa tempat menjadi saksi bahwa TNI, Polri, dan PIN tidak sedang berhadapan dengan amatiran.

Kekacauan yang terjadi selama beberapa waktu terakhir diperparah dengan kenyataan hilangnya para jenderal strategis dari berbagai kesatuan. Sehingga, Indonesia sedang mengalami dua krisis saat ini, yakni krisis keamanan dan krisis komando. Presiden Darsono, meskipun saat ini statusnya sebagai panglima tertinggi—sebagaimana aturan yang tertera pada UUD 1945 pasal 10, tidak bisa berbuat banyak. Ia pun mau tidak mau harus menunjuk jenderal-jenderal cadangan yang belum berpengalaman di bidang pertempuran.

Tak ayal, formasi aparat menjadi sedikit berantakan dan kebingungan.

Namun, tak semua terjebak dalam kegagapan berpikir. Salah satu perwira menengah yang sudah berpengalaman di medan konfrontasi mencoba meluruskan keadaan. Ia berinisiatif untuk membumihanguskan sarang teroris yang kabarnya berpusat di Poso. Kesal melihat sejumlah anak buahnya dilibas secara mendadak oleh kawanan teroris, ia berniat untuk membalas dendam dan mencari biang kerok dari kekisruhan terkait.

Kolonel Abdul Muthalib, namanya. Ia merupakan komandan resor militer (Danrem) 132/Tadulako, Sulawesi Tengah. Ia dianggap sebagai perwira yang cemerlang dan karismatik. Pengalamannya memimpin pertempuran tak bisa diremehkan, ia sudah terbiasa memimpin anak buahnya melumpuhkan sel teror, rampok, dan begal di wilayah Sulawesi Tengah. Tak ayal, di lingkungan Polda Sulteng pun namanya sangat tersohor.

Setelah mendapatkan info keberadaan para teroris dari jaringan intelijen Korem, Abdul segera menghubungi teman-temannya, termasuk dari jajaran Polri dan PIN, untuk menyikat kroco-kroco teror di hutan Poso. Akhirnya, ia pun mendapatkan bantuan yang sangat besar dari berbagai macam kesatuan, termasuk orang-orang yang kini menjadi anggota special ops PIN.

Dan orang-orang rahasia itu adalah kawanan Kapten Johan Burhanuddin.

Kabarnya, Johan dan teman-teman berada di sana atas perintah langsung dari Presiden Darsono. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Johan berada di sana atas perintah Kepala Divisi Antiteror PIN, yakni Hana Yuriska. Tak tahulah.

Tak penting siapa yang menyuruh Johan, yang penting Abdul mendapatkan bantuan istimewa.

Mengetahui keberadaan Johan, Abdul ingin memanfaatkan momen untuk bertukar pikiran. Pasukan Abdul sendiri telah bersiap untuk merangsak masuk ke dalam hutan, hanya tinggal menunggu komando. Akan tetapi, Abdul tak ingin serangannya prematur, untuk itulah ia ingin meminta pendapat kepada Johan.

Di dalam sebuah pos, Kolonel Abdul memantik cerutunya dan duduk santai di hadapan Johan. Mereka hanya berdua, prajurit lainnya berjaga di luar. Selepas mengembuskan asap pertamanya, Kolonel Abdul langsung berseloroh.

“Saya kalo nggak kedatangan kamu, nggak tahu, deh. Bisa digulung pasukan saya sama kampret-kampret gunung itu.”

“Tenang saja, Pak. Pasukan sudah siap siaga. Perlengkapan juga sudah diperiksa semua. Intinya, semua sudah siap,” kata Johan.

“Yeah, saya harap juga begitu,” Abdul kembali mengisap cerutunya. “Bagaimana dengan taktik? Menurutmu bagus begitu, nggak, Jo?” lanjutnya seraya menunjuk peta di dinding.

Johan terdiam. Ia menoleh ke arah peta selama beberapa saat. “Harusnya nggak ada masalah. Pasukan Bapak nyikat dari depan buat pengalihan konsentrasi para teroris, saya dan teman-teman berputar dan mengambil jalur belakang buat sabotase markas teroris. Itu bagus.”

“Iya. Setelah kamu rusak markasnya, kamu langsung sisir mereka dari belakang. Jadi posisi mereka kedempet kayak tikus got.”

“Nggak masalah, Pak,” kata Johan yakin. “Tapi, kayaknya kita perlu pasukan buat melapisi sisi kanan dan kiri penyerang utama.”

“Gimana, gimana? Coba kamu coret-coret di situ,” ujar Abdul seraya menyodorkan spidol kepada Johan.

Johan langsung bangkit dari kursinya dan mengambil spidol yang telah disodorkan kepadanya. Dengan penuh keyakinan, ia melangkah ke arah peta yang bertengger di dinding dan mulai menggambar dua buah garis lengkung membujur di antara simbol pergerakan pasukan utama.

“Jadi, pasukan pemukul utama dan pasukan sabotase perlu dilapisi oleh pasukan penunjang di sebelah kanan dan kiri. Soalnya, saya khawatir teroris-teroris itu ingin memberikan kita elemen kejut dari segala arah,” jelas Johan.

“Ahhh, saya mengerti. Jadi kita tidak hanya memfokuskan diri untuk menghancurkan titik perkumpulan mereka, tetapi juga bertahan jika ternyata mereka menyerang dari arah yang berbeda. Begitu, Kapten?”

“Benar, Pak.”

“Kalau kekhawatiranmu seperti itu … ” Abdul ikut berdiri. Ia lantas menghampiri Johan dan merenggut spidolnya kembali. “Kalau begitu, kita juga perlu pasukan bertahan yang cukup mumpuni di sekitar desa tempat kita memulai, karena posisi kita dikelilingi oleh pegunungan. Kalau kamu khawatir, saya juga khawatir mereka bakal menyerang kita dari sudut-sudut yang tak terduga.”

“Ya, saya rasa itu ide yang bagus, Pak,” Johan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Taktik telah ditetapkan. Abdul dan Johan pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Sebelum memulai serangan, Abdul masih ingin mengajukan beberapa pertanyaan krusial kepada anggota PIN di hadapannya.

“Jo, ini saya dengar isu dari intel Korem. Saya mau nanya sama kamu, nih,” cetus Abdul antusias. “Serangan beberapa waktu terakhir kan aneh. Teroris kayak Pejuang Sirat ini kan sebenernya nggak punya kemampuan yang terlalu mumpuni kalo menurut intelijen, tapi mereka tiba-tiba muncul sebagai aktor utama dari kekacauan beberapa waktu belakangan. Mereka ini … beneran dibantu Amerika?” tanyanya.

Johan mengembuskan napas panjang seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, PIN sudah mengonfirmasi bahwa ada beberapa agen CIA dan sejumlah personel spec ops yang disuntik di Indonesia untuk menggerakkan Pejuang Sirat dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya.”

Abdul mendecak keras. Ia menahan kekesalannya. “Setan. Cari perkara mereka ini. Jadi, informasi dari intel Korem itu benar.”

“Yaaa, soalnya mereka marah juga, sih.”

“Siapa yang marah? Amerika?” Abdul mengernyitkan dahi. “Wong gendeng! Mereka yang nyikat orang-orang kita, kok malah mereka yang marah!?” kutuknya.

” … ” Johan diam saja, ia tak ingin mengenang kegagalannya di dalam LARAS.

Sesaat itu, tak ada pertukaran kata antara Abdul dan Johan. Sekadar kepulan-kepulan asap merebak memenuhi ruangan.

“Kalo saya ingat-ingat ada benarnya juga sih … ” Abdul mengingat-ingat sesuatu. “Kata intelnya saya ini gara-gara kasus di Jakarta. Saya nggak mendengar terlalu jelas waktu itu kenapanya. Tapi katanya ada orang-orang Amerika yang mati. Jangan-jangan itu maksud kamu, ya?”

“Ya … begitulah,” Johan menjawab dengan penuh keraguan. Pada akhirnya, ia harus tetap mengakui bahwa ada sejumlah warga Amerika Serikat yang tewas di ibukota dan semuanya adalah anak-anak terbaik negara adidaya tersebut.

Abdul terdiam. Ia menatapi langit-langit seraya mengembuskan polusi kecil dari rongga mulut dan hidungnya. “Tetap saja tidak bisa menjadi pembenaran untuk membunuh orang-orang yang tak bersalah, kan?”

Johan tak ingin berkomentar.

“Di sini, Pejuang Sirat sudah menculik dan membunuh beberapa warga lokal. Kalau benar Amerika punya andil pada pergerakan anjing-anjing tersebut, Amerika juga harus bertanggung jawab atas kematian warga-warga yang tak bersalah!”

“Amerika hanya akan menganggap kematian warga sebagai collateral damage, bahkan tidak dihitung sebagai manusia,” ujar Johan. “Tetapi, tenang saja, Pak. Saya yakin ada beberapa orang asing yang ikut bersembunyi di hutan untuk memberikan arahan. Bapak hanya perlu menyikat orang-orang Pejuang Sirat, saya dan teman-teman bakal meringkus bosnya.”

“Harus, Jo … ” Abdul menjawab spontan. Ia pun mengetuk-ngetukkan cerutunya di atas asbak. “Pokoknya kamu bawa pulang provokator-provokator Amerika itu kemari, setelah itu kita bakar mereka.”

“Siap, Pak—”

Sebelum cerutu Abdul habis dan sebelum Johan sempat menyelesaikan percakapannya dengan orang nomor satu Korem Sulawesi Tengah, tiba-tiba saja terdengar suara letusan dari kejauhan. Mata kedua perwira membelalak, terperanjat. Sesaat itu, keduanya sama sekali tak bergerak.

“Bukankah itu—”

Lagi-lagi Johan tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan yang amat keras beberapa puluh meter dari posnya. Tak ayal, serangan keras tersebut sampai membuat dinding dan jendela bergetar hebat. Kaca pun pecah berkeping-keping, serpihannya melayang ke segala penjuru.

Beruntung, Abdul dan Johan sempat merunduk sebelum mereka terkoyak-koyak oleh kaca yang bertebaran di dalam pos.

Sementara itu, beberapa orang terdengar panik di luar pos. Tidak ada yang terluka, tampaknya, tetapi situasi menjadi tak kondusif. Alarm mobil pun saling menyahut akibat getaran yang amat kuat. Seruan demi seruan menggema, meminta para prajurit mendeteksi titik serangan dan menyerang balik.

“Bajingan … ” Johan merutuk. Ia mengangkat kepalanya sesaat setelah terjadi ledakan dan memastikan Abdul tak mengalami luka berat. “Kolonel, Anda tak apa-apa?” tanyanya seraya menghampiri sang atasan.

“Tidak, tidak. Saya tidak apa-apa,” ucap Abdul. Ia menolak dibangkitkan oleh Johan. “Brengsek. Kita malah diserang duluan. Angkat senjata sekarang! Serang balik!”

Tak lama, masuklah seorang prajurit perempuan ke dalam pos, ia mendobrak pintu dengan panik. “Kapten!? Kau tidak apa-apa!?” Serka Citra, rupanya.

“Nggak, nggak kenapa-kenapa,” tukas Johan. Ia lantas berjalan mendekati rekannya seraya mengokang senapan. “Itu tadi suara artileri, lho. Kamu lihat di mana sumbernya, Cit?”

“Tidak, Kapten … tapi suaranya dari arah utara. Teman-teman infanteri dan pasukan khusus sedang mencoba mendeteksi titik letusan.”

“Ada korban, Sersan?” Abdul ikut bertanya. Ia hanya mempersenjatai diri dengan sebuah pistol.

“Tidak ada, Pak. Mereka meleset,” jawab Citra.

“Bajingan tengik!” keluh Johan. “Sejak kapan mereka punya artiler—”

Lagi-lagi terdengar suara letusan dari kejauhan. Semua orang terentak. Kaget. Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.

“Bajing! Serangan lagi! Runduk, semua! RUNDUUUK!” seru Johan.

Kontan, seluruh personel aparat yang berada di sekitar sana segera merebahkan diri di tempat mereka masing-masing. Tak ada sahut-menyahut sesaat setelahnya. Hening. Semua orang berharap.

Tak segala harapan berujung kenyataan, sayangnya.

Lantas, peluru berdaya ledak besar mendarat. Sejumlah personel terpental keras. Tubuh mereka hancur berantakan. Kali ini, serangan musuh tak lagi luput. Tak hanya personel aparat, sejumlah perlengkapan logistik dan kendaraan tempur ringan juga ikut hancur berantakan.

Jeritan demi jeritan menyeruak memecah kesepian. Asap hitam pun membumbung ke awang-awang. Terjadi kepanikan yang cukup masif di desa tempat aparat memulai perburuan. Sejumlah prajurit bahkan mulai memuntahkan tembakan acak ke arah yang tak jelas. Segelintir di antaranya tetap mencoba mencari titik serangan walau masih terhuyung-huyung oleh getaran ledakan yang kuat.

Akan tetapi, pencarian sumber serangan lagi-lagi harus terhenti oleh sebuah kejadian. Sejumlah pria bersenjata tiba-tiba muncul dari semak-semak dan menyerang para personel dan kendaraan aparat secara mendadak. Tak hanya itu, hujan peluru juga datang dari arah pegunungan di sekitar desa.

Singkatnya, aparat sudah dikepung.

“BANGSAT! KITA DIKEPUNG!” seru Johan seraya berlindung di balik dinding, menunggu hingga punya kesempatan untuk menyerang balik. Serpihan kaca kembali beterbangan ke dalam pos, tetapi kali ini disebabkan oleh hantaman timah panas.

Citra tak banyak berkomentar, seraya merunduk di balik dinding, ia membalas tembakan. Beruntung, senapannya dilengkapi dengan teropong jarak jauh, sehingga ia bisa melihat keberadaan musuh-musuhnya.

Kolonel Abdul, walaupun kondisinya terpojok, namun ia tak gentar menghadapi serangan para teroris. Ia menyembulkan tangannya dari balik jendela dan membalas tembakan ke arah yang acak, berharap ada pelurunya yang mengenai posisi para teroris. Ia hanya mengira-ngira lokasi musuh dari suara tembakan.

“Citra, ada berapa banyak orang di hutan!?” tanya Johan.

“Banyak, Kapten! Banyak banget!” jawab Citra seraya tetap membalas tembakan musuh, membantu para personel aparat yang juga sedang bertempur di luar pos.

“Bangsat, kita perlu persenjataan berat!” Johan lantas mengintip dari balik pintu dan mulai menimpali tembakan teman-temannya.

Pertempuran semakin panas. Puluhan aparat tewas dan korban dari pihak teroris terus bertambah. Situasi semakin sulit akibat semua kendaraan tempur ringan milik TNI telah dilumpuhkan. TNI dan aparat mau tak mau harus bertahan dengan senjata yang mereka pegang.

“Brengseeek, sama sekali nggak ada info kalau mereka punya kekuatan sebesar ini!” rutuk Johan. Ia masih terus mencoba menumbangkan musuh di hutan.

“Jo, Jo! Dua prajurit supermu itu di mana!? Mereka perlu membantu kita!” tukas Abdul. Ia menyebut Tenma dan Blade.

“Sebentar, saya pastikan dulu … ” Johan kembali berlindung. Ia lantas memijit alat di telinganya. “Tenma, Blade … kalian ada di mana!?”

Derak statis. Tenma dan Blade tidak menjawab.

“Tenma!? Blade!? Jawab aku!”

Kapten, maaf … kami dibanjiri teroris di sini!” seru Tenma. Ia akhirnya menjawab. Terdengar suara-suara tembakan yang amat intens dari balik alat komunikasinya.

Johan mengembuskan napas lega, setidaknya asistennya tetap hidup. “Kalian di mana!?”

Wilayah selatan, Kapten! Kami membantu pasukan Brimob!

“Oke, tetap di situ, kalau begitu. Bertahan. Jangan gegabah, aku akan memanggil bantuan!”

“Siap, Kapt—”

Serangan lagi. Johan langsung melepaskan pijitan dari alat komunikasinya, membuat percakapannya dengan Tenma seketika terputus. Kali ini, rentetan tembakan beringas tiba-tiba saja merontokkan tembok dan sejumlah permukaan solid lainnya. Johan, Citra, dan Abdul segera membaringkan tubuh. Mereka tahu bahwa mereka sedang dihujani oleh peluru berkaliber besar. Mungkin berasal dari senapan mesin.

Tiarap dan menunggu adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari serangan ganas tersebut.

Johan, Abdul, dan Citra beruntung bisa menyembunyikan diri di balik tembok. Di luar pos, belasan prajurit tewas dalam sekejap mata, tak menyangka akan keberadaan senapan mesin di dalam hutan. Formasi para prajurit pun buyar, mereka segera mencari tempat yang aman untuk berlindung, seperti cekungan atau selokan.

Di bagian selatan, Tenma dan Blade pun kerepotan. Mereka harus menghadapi gelombang teroris yang terstruktur dan tak ada habisnya. Sesekali, mereka juga dihantam oleh senjata-senjata besar, seperti senapan mesin dan pelontar granat. Tak ayal, banyak anggota Brimob, Densus AT-13, dan TNI yang tewas di sana. Apalagi, tempat bertahan di bagian selatan termasuk yang paling tidak menguntungkan. Penahan di sana seperti sedang menghadapi laju pasukan Viet Cong.

Tenma dan Blade mau tak mau harus berimprovisasi untuk menahan kemajuan kawanan teroris. Mereka akhirnya meninggalkan pos pertahanan dan beralih kepada insting bertarung mereka yang mematikan. Upaya mereka membuahkan hasil yang cukup baik untuk membantu aparat mengatur serangan. Mereka melesat, merunduk, dan berlari berkelok-kelok untuk mendekati para penjahat. Sejumlah teroris pun dipenggal dan dicincang oleh Blade, sementara yang lainnya ditembak di bagian kepala oleh Tenma.

Duet Tenma dan Blade sempat membuat kedua belah pihak yang berseteru tercengang. Pihak teroris pun sedikit demi sedikit harus mundur dari posisi mereka.

Akan tetapi, kedua subjek Project SAKTI tersebut tidak bisa selamanya menyerang secara frontal. Mereka berada di alam terbuka, sehingga pertahanan mereka juga sangat terekspos. Beberapa serangan balik para teroris pun berhasil melukai keduanya. Tenma, terutama. Ia tertembak di bagian lambung, sehingga ia harus sedikit demi sedikit mundur ke pos pertahanannya. Blade mengikutinya seraya tetap memenggal kepala-kepala teroris.

Meski demikian, aksi Tenma dan Blade berhasil membuat pihak aparat mampu mendominasi situasi.

Sedari awal diserang, posisi aparat memang tidak menguntungkan. Mereka dihajar oleh senjata-senjata canggih para teroris, diserang secara mendadak dari berbagai arah, dan kehilangan kendaraan tempur yang seharusnya menjadi penyelamat. Teroris-teroris kelas menengah itu tiba-tiba saja lihai dalam menggunakan roket dan peledak, entah mengapa.

Yang lebih mengerikan, berondongan senapan mesin di beberapa titik diperparah dengan keberadaan mortar dan artileri yang tak ada habisnya. Mortar, artileri, dan senapan mesin adalah kombinasi yang sempurna dalam kemiliteran. Pihak aparat benar-benar perlu persenjataan berat untuk mengembalikan kontrol situasi.

Kali ini, pos tempat Johan berlindung terkena tembakan mortar dan wilayah di sekitarnya dihantam oleh peluru artileri. Tak ayal, atapnya pun rompal. Pertahanan Johan dan teman-temannya semakin terekspos.

“Bangsaaat! Kita nggak bisa ngapa-ngapain di sini! Orang-orang di luar juga dihantam habis-habisan!” seru Johan seraya tetap merunduk. “Kolonel, panggil bantuan udara! Ini udah saatnya panggil bantuan! Kalo nggak, kita semua digulung jadi perkedel di sini!”

“Iya, iya!” Abdul tak banyak berkomentar. Ia langsung bergerak menuju meja kerjanya dan mengambil telepon militernya. Seraya tetap berbaring, ia melakukan prosedur pemanggilan bantuan.

“0013-00, di sini 132-01! Kami butuh bantuan! Kami dihajar habis-habisan oleh musuh di Desa Sumber Jeruk! Kami nggak bisa bergerak sama sekali dan banyak pasukan yang mati!” Abdul memanggil markas bantuan.

Derak statis. Tak ada jawaban.

“0013-00, tolong respon! KAMI SAMA SEKALI TAK BISA BERGERAK DI SINI!” Abdul meninggikan suaranya. Kepanikan semakin menjadi-jadi, apalagi ia dan kelompoknya masih terus diberondong senapan mesin.

Masih tak ada jawaban. Hanya ada suara kresek-kresek dari telepon militernya.

“0013-00, BAJINGAAAN! RESPON! RESPON! KAMI DIHANTAM TEROR—”

Abdul tak sempat menyelesaikan panggilannya. Bahu kirinya tiba-tiba terkoyak oleh peluru berkaliber besar. Darah pun mencurat ke berbagai permukaan. Ia lantas tersungkur seraya menjerit keras.

Melihat nasib kelam atasannya, Johan segera merayap mendekati Kolonel Abdul. Ia tak ingin membiarkan atasannya tersungkur tanpa daya dengan luka yang cukup besar. Lekas-lekas ia menyobek pakaiannya dan menutup luka yang merajang bahu Abdul. Paling tidak, upaya itu akan memperlambat pendarahan sementara waktu.

“Pak, saya saja yang coba panggil bantuan! Bapak harus merapat ke dinding!” seru Johan seraya menarik tubuh Abdul ke sudut ruangan.

“Anjing … mati kita. Mati! Markas nggak mau jawab … ” protes Abdul seraya melenguh menahan perih.

“Tidak, tidak. Kita harus coba terus. Saya akan coba panggil bantuan,” kata Johan menenangkan atasannya. Ia pun bergerak ke tempat telepon militer tergeletak. “Citra, coba kau cari di mana si anjing pemilik senapan mesin. Kalau dia nggak dihabisi, mati kita semua!” serunya sebelum memanggil bantuan.

“Baik, Kapten!” Citra pun bergerak perlahan, berusaha untuk mengintip dan mencari titik serangan.

“0013-00, tolong respon! 132-01 tertembak! Tolong, kami butuh bantuan udara atau apa pun untuk meredam serangan musuh! Di sini sudah seperti medan perang, kami tak bisa menahan musuh terlalu lama!” Johan memulai panggilannya.

Derak statis.

“0013-00, tolong jawab—”

0013-00 di sini. Mohon identifikasi diri Anda.” Akhirnya ada jawaban.

“Oh, Tuhan, akhirnya … ” Johan bisa bernapas lega sekarang. Panggilannya direspon. “Saya perwakilan 132-01. 132-01 tertembak, terluka parah. Di sini telah terjadi pertempuran besar. Peralatan kami dirusak, semuanya. Banyak anggota yang tewas.”

Sekali lagi, mohon identifikasi diri. Siapa kamu?

“AAAGH! SAYA SUDAH BILANG SAYA PERWAKILAN 132-01—”

Johan tak dibiarkan menyelesaikan laporannya. Abdul tiba-tiba saja mendekat dan merenggut telepon militer dari tangan Johan. Kesal. Seakan rasa sakit yang merajang bahunya hilang sekelebat waktu.

“Di sini 132-01, Kolonel Abdul Muthalib, cucu dari Letkol Arsyad Muhamad, Danrem 132/Tadulako! Dengarkan saya, kalian semua kutu busuk, kalau besok ada berita pasukan Tadulako mampus dan dibantai di Desa Sumber Jeruk, saya bakal gentayangi kalian semua! SEMUA!” seru Abdul geram.

Markas bantuan terdiam sejenak. Tak ada pertukaran kata beberapa saat setelahnya.

Kolonel?” suara penerima telepon pun berubah. “Saya Mayor Santosa. Maafkan anak buah saya. Kami sudah menerima laporan baku tembak dari intel Korem dan baru saja mengonfirmasi adanya serangan besar-besaran di Desa Sumber Jeruk. Kami sudah mengirimkan bantuan. Bisakah Anda bertahan 7 menit lagi!?

“Bajingan tengik, baru nyambung sama omongan saya … ” gumam Abdul. “Saya sudah sekarat di sini! Anak-anak saya mati banyak, nggak bisa ngitung saya ada berapa banyak yang mati! Artileri, mortar, senapan mesin, RPG, pelontar granat, semuanya dimiliki sama anjing-anjing teroris ini! Kalau bisa lebih cepat, cepatlah!”

Diterima. Tunggu, Kolonel. Bantuan segera datang!

Abdul tak merespon balik. Ia langsung menjatuhkan teleponnya dan bersandar luruh di depan tembok. Gigi-giginya mengerat keras, ia tengah melawan rasa sakit yang menjadi-jadi.

“Tujuh menit, Kolonel?” tanya Johan.

“Ya … bisakah kamu menahan mereka selama itu?” ujar Abdul lirih.

“Bisa, Pak. Saya pastikan itu,”

Johan bergegas mendekati Citra dan berencana melakukan perlawanan balik. Seraya tetap berbaring di balik dinding, ia mengintip keluar, mencoba mengamati keadaan. Kacau, hanya itu yang bisa ia lihat. Mayat bergelimpangan di luar pos, baik dari pihak aparat maupun teroris. Sementara yang mampu bertahan tetap mencoba melawan dari balik parit.

“Citra, kau sudah menemukan si pemegang senapan mesin?” tanya Johan.

“Sudah, Kapten … tetapi aku masih mencari momen untuk menembak—” kata Citra.

Peluru kembali berdesing ke segala arah. Bahkan sempat berlalu beberapa sentimeter di samping kepala Johan dan Citra. Jika senapan mesin tak segera dilumpuhkan, sulit untuk melakukan perlawanan balik.

“Setan alas! Mereka bisa menembak seakurat itu! Aku jadi sangsi orang-orang ini anggota Pejuang Sirat!” tukas Johan.

“Amerika, Kapten. Mereka dilatih Amerika, kan?”

“Iya, tetapi apakah mungkin mereka bisa jadi sejago ini hanya dengan waktu pelatihan yang relatif singkat? Pejuang Sirat ini hanya teroris kelas menengah, lho! Seharusnya ditangani Den AT-13 pun beres!”

” … ” Citra tak merespon. Ia masih mencoba mengintip dari balik tempat persembunyiannya. “Oh! Senapan mesin kehabisan peluru!”

“Oh, kesempatan! Hajar, Cit! Di mana posisinya!? Biar ku-backup!” Johan ikut mengintip dan meneropong ke arah musuh.

“Jam 12 tinggi, Kapten! Dekat pohon yang agak miring! Pohon yang doyong seperti mau jatuh—”

“Aku melihatnya!” Tanpa keraguan, Johan langsung menarik pelatuk, menghujani posisi senapan mesin dengan tembakan. “MATI AJA LU SEMUA, ANJIIING!”

Di saat yang bersamaan, Citra menggunakan kemampuan tembak akuratnya untuk melumpuhkan sang pemegang senapan mesin.

Kena.

“Kapten, pemegang senapan mesin sudah dilumpuhk—”

Baru saja Citra hendak merayakan prestasinya, tiba-tiba saja tembakan mortar dan artileri kembali menyasar ke titik perlawanan para aparat. Sejumlah orang kembali terpental dan tewas, namun tak sebanyak sebelumnya.

Johan dan Citra sendiri terentak oleh bebatuan yang terpental akibat ledakan. Tak fatal, memang, namun kepala mereka terluka akibat tebaran bebatuan tersebut. Khususnya Johan, ia terluka cukup parah di bagian wajah sebelah dan pundaknya terkoyak cukup lebar. Sementara Citra, ia mengalami luka ringan di bagian pundak, leher, dan tangan.

“Aaaagh! Anjing … ” Johan menggeram. Sembari menahan rasa sakit yang merajang sejumlah anggota tubuhnya, ia bangkit. Ia lantas menampakkan dirinya di balik jendela. “SERANG BALIK, SEMUANYA! SERANG BALIK! SENAPAN MESIN DI BAGIAN BARAT SUDAH LUMPUH!”

Mendengar perintah yang berkobar-kobar tersebut, para prajurit yang tersisa di luar pos pun keluar dari persembunyian dan menghujani titik kedatangan teroris dengan tembakan. Beberapa dari mereka bahkan mulai berani maju dan menghadapi teroris dari jarak yang lebih masuk akal. Serangan balik pun terjadi di wilayah pertahanan bagian barat.

Dari dalam pos, Johan dan Citra mencoba memastikan agar tak ada lagi teroris yang memegang senapan mesin. Mereka membantu pasukan utama menembaki para teroris dengan senapan berteropong yang mereka miliki.

Perlawanan sengit para anggota aparat sesekali diselingi dengan tembakan mortar dan artileri portabel yang masih tak diketahui keberadaannya. Seakan semuanya tengah menari di bawah hujan, tetapi menyakitkan. Menerkam jiwa. Mengoyak nyawa.

Kegilaan.

Kematian.

Jeritan.

Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keadaan penuh harap dan keputusasaan hari itu. Diserang, menyerang balik. Menyengat, disengat balik. Pertukaran itu tak pernah mereda. Indonesia seakan sedang berhadapan dengan kekuatan besar, padahal mereka hanya berhadapan dengan pekerjaan rumah pasukan antiteror kepolisian.

Tak gentar.

Tak terasa, tujuh menit pun berlalu. Dari kejauhan, terdengarlah suara baling-baling helikopter mendekati titik terkepungnya pasukan aparat. Tak hanya satu, tetapi belasan. Di sinilah permainan berbalik 180 derajat.

Helikopter tempur TNI memasuki lokasi pertempuran. Mereka pun memberondong para teroris tanpa ampun, menghajar mereka sampai hancur berantakan. Tentu saja, kedatangan mereka langsung disoraki oleh pihak aparat. Para prajurit bersukacita.

Teroris digulung habis-habisan. Mereka lari kocar-kacir. Formasi mereka sontak berantakan. Senjata-senjata berat mereka pun dilumpuhkan. Mereka kehilangan daya dan upaya.

Tetapi, selalu ada orang nekat di tengah badai yang berkecamuk.

Di tengah sorak-sorai para prajurit, tiba-tiba muncul seorang teroris dari balik semak-semak dan membidikkan roketnya ke arah kerumunan pasukan aparat. Aparat terperanjat, tetapi mereka tak sempat bertindak. Si teroris sudah lebih dulu menarik pelatuk dan membiarkan roketnya meluncur, entah ke mana.

“RPG!” salah seorang prajurit sempat memberi peringatan sebelum akhirnya ia dan teman-temannya melompat; menyingkir dari jalur peluncuran roket.

Sayangnya, peluru berdaya ledak tinggi itu malah meluncur ke arah pos tempat Johan, Abdul, dan Citra berlindung. Johan dan Citra tahu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah memberondong si penembak roket sampai kepalanya pecah tak berbentuk. Sedangkan peluru roket tetap melesat.

Tetap melesat.

Peluru berdaya ledak besar itu pun masuk lewat pintu depan pos. Tak ada yang bisa menghentikannya. Lantas, sekujur tubuhnya menghantam dinding tempat bertenggernya peta pengaturan strategi.

Mati.

KA-BLAAAM!

Tentu saja, pos tempat pertemuan dua perwira itu pun meledak. Hancur berkeping-keping. Pos yang semula berdiri kokoh kini rontok menjadi tumpukan bebatuan. Dinding-dindingnya bahkan terpental ke segala arah, membuat para prajurit panik mencari perlindungan.

Tak ada yang tahu nasib orang-orangnya di dalam pos. Sekadar kepulan asap dan debu yang membumbung tinggi yang dapat terlihat oleh mata telanjang saat itu. Para prajurit pun terenyak, tak sanggup bergerak dari tempat mereka berpijak. Syok.

Mungkin … tak ada yang selamat dari ledakan tersebut. Pos sudah hancur-lebur, apa yang bisa diharapkan? Kemenangan pihak aparat harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi. Bantuan udara diganti dengan nyawa Komandan Korem.

Dan dua personel khusus PIN, tampaknya.

Kemenangan yang mahal.

***

Tuban, Jawa Timur
19.07

Terjadi pergerakan Densus AT-13 besar-besaran ke desa tempat Subject 09 dan kawanannya bersembunyi.

Melalui layar komputer jinjingnya, Subject 17 mencoba mencari tahu mengapa pasukan antiteror kepolisian bergerak mendekat. Kedua saudara Subject 17 pun penasaran, mereka menatapi layar laptop dengan intens. Awalnya, mereka hanya ingin mencari informasi tentang keberadaan teroris di Tuban, tetapi perhatian mereka harus teralihkan oleh notifikasi aktivitas dari pihak kepolisian.

“Apa yang terjadi, Seventeen?” tanya Subject 09. “Kita diincar? Posisi kita ketahuan?”

“Aku tidak tahu, Nine … ” Subject 17 tetap mengetikkan beberapa baris kode pada komputer jinjingnya. “Katanya ada operasi di Tuban, tetapi aku belum bisa memastikan siapa targetnya. Tunggu sebentar lagi.”

“Wedew … belum juga ngapa-ngapain udah diincar sama polisi,” kata Subject 03.

“Kita belum tahu pasti, Three. Jangan membuat teman-teman cantik kita di ruang tengah panik, deh,” sergah Felicia sinis.

Subject 09 dan Subject 03 segera memindahkan sorotan ke arah Verani dan Nadia di ruang tengah. Tak ada respon yang berarti dari kedua wanita cantik tersebut, mereka memang tak mendengar percakapan ketiga subjek Project SAKTI di belakang. Untung saja.

Patih? Bocah itu sedang tidur di kamar sebelah, ia takkan memerhatikan.

“Seventeen, kita harus mengonfirmasi secepatnya sebelum Den AT-13 menginjakkan kaki mereka di sini—”

“Dapat!” sergah Subject 17, ia tak memberi kesempatan kepada Subject 09 untuk menyelesaikan ucapan. “Mereka bukan mengincar kita, Nine. Ada seorang terduga teroris di desa ini.”

“Seperti biasa, ratu backdoor ini meretas komputer dengan cepat,” timpal Subject 03.

“Teroris?” Subject 09 lantas terdiam. Ia memijit-mijit dagunya. “Bukankah kau sudah mengonfirmasi bahwa tak ada teroris yang tinggal di sekitar sini?”

“Aku juga heran, Nine … ” Felicia tetap terfokus pada layar laptop-nya. “Densus AT-13 … mengarah ke rumah nomor E-9. Bukankah itu—”

“E-9?” Subject 03 terheran. Ia mengerutkan dahi, lantas ikut menatap layar laptop dengan intens. “Bukankah rumah itu dihuni sama nenek-nenek yang kelihatannya sudah mau meninggal?”

“Tidak … ” Subject 09 masih memijit-mijit dagunya. “Aku melihat ada pemuda yang ikut tinggal di sana kemarin.”

“Anak kos?” tanya Ara.

“Sepertinya bukan. Rumah sekecil itu, mau ngekos di mana?”

“Anggota keluarganya, kalau begitu.”

“Sepertinya … ” Subject 17 mengintervensi percakapan kedua saudaranya. Ia memercepat ketikannya. “Sepertinya hipotesis Shemale benar. Itu cucunya.”

Subject 09 dan Subject 03 pun terdiam. Mereka berkonsentrasi penuh memproses semua informasi yang tertera pada layar komputer.

Ridwan, namanya. Ia adalah seorang mahasiswa, seharusnya. Akan tetapi, menurut informasi yang ditampilkan oleh Subject 17, ia sudah beberapa waktu tak pergi ke kampus sejak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran kelompok radikal untuk melakukan pemberontakan terhadap negara. Sejak saat ia terpengaruh, ia sering merendahkan teman-temannya, bahkan sampai melakukan kontak fisik dengan orang-orang yang tak setuju dengan ideologinya.

“Ini orangnya, aku yakin betul … ” ujar Subject 09.

“Semudah itukah menghipnotis pemuda di zaman sekarang dengan ideologi utopis?” tanya Subject 03 sinis. “Lihat ini, dia mulai menjadi ekstrem sejak sebulan yang lalu. Lantas, selama seminggu terakhir, ia menghilang dari peredaran kampus dengan alasan sakit. Gila anak ini, gampang sekali dipengaruhi, hanya dalam waktu satu bulan!”

“CIA bisa melakukannya hanya dalam waktu satu hari, Three.”

“Tetapi yang memengaruhi dia kan bukan CIA. Hanya kelompok radikal abal-abal yang bahkan tidak punya kekuatan argumentasi.”

Guys, guys, diam dulu … ” Subject 17 merangsak masuk ke dalam percakapan kedua saudaranya lagi. “Aku baru saja mengecek apa yang dilakukan si Ridwan seminggu terakhir di sini. Ini sama sekali tidak terlihat bagus bagiku. Menurut laporan Baintelkam, ia menyuruh orang untuk membeli bahan-bahan di toko yang terpisah.”

“Bahan-bahan? Apa yang dia beli?” tanya Subject 09 spontan.

“Panci, paku, sekrup, mur, nitropenta, kau bisa menebak apa yang dia lakukan.”

“Bajingan … ” Subject 09 berbisik seraya mengernyitkan kening. “Bom panci.”

“Ya. Menurut perkiraanku, jarak mematikannya bisa sampai 50-70 meter. Jarak pecahan fragmennya bisa sampai 100 meter. Pancinya besar, lho. Ridwan juga membeli bahan peledak dan biji logam dalam jumlah yang sangat besar, kalau meledak kuperkirakan bisa sampai menjebol tembok—melubanginya seperti daun yang dimakan ulat.”

“Waduh, jarak kita hanya berbeda lima rumah, lho.” kata Subject 03 seraya mengangkat kedua bahunya.

Subject 09 terdiam sejenak, napasnya terdengar resah. “Anak itu membahayakan banyak orang, bahkan neneknya sendiri,” ujarnya seraya mengerat gigi-giginya.

“Dan dia masih ada di rumah neneknya, kan?” tanya Ara. “Kalau tidak, Densus AT-13 tak mungkin bergerak ke rumahnya sekarang.”

“Ya,” jawab Felicia spontan. “Densus AT-13 sudah berada di sini, ngomong-ngomong.”

Densus AT-13 memang sudah tiba di lokasi. Mereka sudah mengepung rumah nomor E-9, menurut laporan pergerakan yang tertera pada layar laptop Subject 17.

“Kita harus memperbaiki prioritas, yang paling penting sekarang adalah melindungi Verani, Nadia, dan Patih!” seru Subject 09, ia bergegas meninggalkan tempatnya berdiri. “Aku khawatir si bajingan tengik itu nekat meledakkan dirinya!”

Subject 17 pun bangkit dari tempat duduknya. “Aku akan ke kamar Pat—”

KA-BLAAAM!

.

.

Terkaan Adam berubah menjadi kenyataan. Felicia bahkan belum sempat masuk ke kamar tidur Patih, skenario terburuk sudah lebih dahulu tereksekusi.

Ledakan keras terjadi di rumah nomor E-9 yang berjarak beberapa meter dari tempat persembunyian Subject 09 dan kawan-kawan. Tepat seperti dugaan Subject 17 sebelumnya, daya hancur bom panci yang dirakit oleh Ridwan sangat besar dan efeknya sangat mematikan bagi orang-orang di sekitarnya. Paku, sekrup, dan sejumlah biji logam pun melayang, menembus kokohnya dinding laksana peluru berkaliber besar. Tak hanya puluhan anggota aparat yang tewas secara mengenaskan, tetangga-tetangga penghuni E-9 pun harus merasakan dampaknya.

Sejumlah warga sipil tewas. Mereka terkoyak-koyak tak karuan, sama seperti anggota Densus AT-13 yang telah mengerumuni rumah sang terduga teroris. Darah, daging, bahkan serpihan otak berceceran di mana-mana, membuktikan kesadisan sang empunya rencana.

Gelap.

Selain ledakan, warga sekitar juga dikejutkan dengan pemadaman listrik mendadak, membuat segalanya terasa lebih kelam. Tetapi tidak, pemadaman itu bukan kesalahan teknis dari penyedia listrik resmi, tetapi ada yang melakukan sabotase. Terbukti bahwa semua alat elektronik mati, bahkan yang ditopang oleh baterai sekalipun.

EMP.

Teroris pasti menggunakan semacam bom Electromagnetic Pulse untuk menewaskan seluruh instrumen kelistrikan di desa tersebut.

Gelap.

Gelap.

Gelap.

Hampir semua anggota Densus AT-13 yang dikirim ke rumah terduga tewas. Hampir semuanya. Tinggal lima orang yang benar-benar masih hidup, itu pun terluka cukup parah. Sisanya hanya tim dukungan, bukan kombatan. Jadi, memang itu tujuan si empunya rencana …

Hajar semua anggota aparat yang melakukan “kunjungan”.

Ini pun belum selesai. Tak lama setelah terjadinya ledakan, terdengar keributan dari kejauhan, seperti ada kerumunan orang yang hendak melakukan unjuk rasa. Sorakan penuh semangat sesekali memecah kesepian, seakan muncul sekumpulan orang yang hendak berperang.

Para personel Densus AT-13 yang tersisa dan ketakutan setengah mati itu segera menyadari bahwa mereka dikepung. Dijebak. Anjing-anjing teroris itu sengaja memancing Densus AT-13 agar mendatangi Ridwan, kemudian menjalankan operasi balas dendam atas penangkapan teroris yang selama ini dilakukan oleh Densus AT-13.

Balas dendam.

Sementara, Subject 09 dan kawanannya? Hening. Tak ada suara. Rumah mereka diliputi kesunyian yang tiada tara. Tak ada yang tahu bagaimana nasib mereka, sekadar hitam mewarnai malam kelam tersebut.

Gelap. Mungkin selamanya.

***

Safehouse rahasia Mayjen Riyadi
20.11

“Bagaimana? Ini yang kau inginkan dari dulu, kan?” Mayjen Riyadi duduk santai di kursinya, menikmati kudapan, seraya menunjuk-nunjuk layar televisi di hadapannya. Ia duduk di samping rekan barunya, Jurig, yang merupakan subjek eksperimen Project SAKTI paling pertama. “Ketakutan, kesedihan, kemarahan, kematian … bukankah itu yang paling kau inginkan, Jurig?”

Jurig terdiam. Ia fokus menyaksikan kekacauan demi kekacauan dari balik layar televisi, meresapi setiap dampaknya dengan hikmat. Ledakan di mana-mana, serangan di mana-mana, dan kematian di mana-mana. Seluruh kanal berita menampilkan hal yang serupa, dari Sabang sampai Merauke. Peristiwa di LARAS berhasil membuka pintu neraka bagi Nusantara.

Bukan hal yang buruk bagi Jurig.

“Tak bisa bilang bahwa aku sudah puas,” kata Jurig. “Tetapi aku merasa lebih hidup.”

Mayjen Riyadi tersenyum kecut. Ia lantas menepuk-nepuk pundak rekannya. “Sudah seharusnya begitu. Tak perlu terburu-buru. Kita masih punya banyaaak sekali agenda yang dapat memuaskan hati.”

Jurig bersandar pada kursinya. “Aku ingin merasakan kepuasan itu; kepuasan saat membuat orang lain menderita, sebagaimana yang dilakukan semua orang kepadaku sedari aku kecil.”

“Semua ada momennya, One. Kau hanya perlu bermain cantik … ” kata Riyadi tersenyum. “Kau juga sadar bahwa kau tidak kebal, kau hanyalah manusia biasa yang diberi anugerah lebih oleh Tuhan. Kau sendiri menyerang LARAS ketika sudah kacau. Kalau keadaan pertahanan LARAS masih prima waktu itu, mungkin akan berbeda cerita.”

” … ”

“Aku tidak bilang kau akan kalah, tetapi peluang kau menang jadi mengecil ketika kau dikeroyok meriam plasma, peluru berkaliber besar, mortar, bom, dan lain-lain dari segala arah. Kemungkinannya jadi fifty-fifty,” papar Riyadi santai. Ia kembali mengambil kudapan dari toples di sampingnya. “Nah, keberadaanku adalah untuk memastikan bahwa kondisi menangmu bisa selalu 100%—”

“Aku tahu itu, Jenderal,” sergah pria yang dinamai Subject 01 tersebut. “Aku tidak bodoh.”

“Bagus, kalau begitu!” Riyadi menepuk pahanya dengan ambisius. “Tenang saja, kau takkan kukecewakan, Jurig.”

Jurig tak segera merespon. Ia masih menatapi layar televisi dan menikmati setiap ekspresi ketakutan para penduduk Nusantara. “Aku ingin merasakan ketakutan mereka secara langsung.”

“Hmm,” Riyadi mendeham, lantas mengangguk-anggukkan kepala. “Kau tahu? Ini sebenarnya momen yang tepat bagi Amerika untuk melaksanakan proyek mereka di Kampung Rimbun.”

Tak ada jawaban dari Jurig, ia sekadar menoleh menatapi sang jenderal picik.

“Jika itu telah terjadi … oooh … ” Riyadi menggeleng-gelengkan kepalanya, lantas tertawa. Tak ada yang lucu, tetapi ia mampu tergelak hingga seluruh ruas tubuhnya berguncang. “Pestanya bakalan lebih meriah daripada ini.”

Kampung Rimbun …

… tempat di mana segala rahasia terkubur.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *