25.1 – Prince’s Throne: Dried Tears


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

PRINCE’S THRONE ADALAH KISAH PERJALANAN ANAK ASUH SUBJECT 09.

BACA CERITA PRINCE’S THRONE YANG LAIN DI SINI!

BARU PERTAMA KALI BACA SUBJECT 09? BACA DARI AWAL DULU!


Aoyama High School
Osaka, Jepang
Tahun 2026
12.03

Perang menghancurkan segalanya.

Prince, namanya. Pemuda asal Nusantara yang kini ‘kabur’ ke Jepang telah kehilangan banyak hal akibat peperangan yang meletus di negaranya. Ia bahkan harus menanggalkan identitasnya demi beradaptasi dengan kehidupan di negeri sakura. Sulit untuk menghitung sudah berapa banyak yang sirna darinya, tetapi ia bersyukur masih diberikan kesempatan kedua untuk merangkai hidup.

Pemuda tampan berwajah Melayu tersebut berada di atap sekolahnya saat ini. Ia memandangi sebuah foto berukuran A6 yang menggambarkan kebersamaan keluarganya. Pada foto itu terdapat dirinya sewaktu masih kecil, ibunya yang supercantik, seorang pemuda gagah, dan seorang wanita berjilbab berwajah sangar. Ia pun tersenyum menatapi semua orang yang terpampang pada foto tersebut, terkenang oleh masa lalu.

Dua sosok terakhir yang berdiri di samping ibu kandung Prince bukanlah sosok tanpa nama yang tak berarti, tetapi merupakan paman dan bibi angkat Prince yang juga menyelamatkan Prince dari bencana di negara asalnya. Keduanya merupakan jebolan kesatuan militer paling elit di Indonesia.

Prince menyebut keduanya sebagai Komandan Pertama dan Komandan Kedua, namun Komandan Pertama juga punya nama lain di kesatuannya, yakni “Subject Nine”.

“Ibu, baik-baik ya di sana … ”

Angin pun bertiup kencang, mengembuskan aroma kenangan yang mati ditelan waktu. Senyuman Prince memudar. Ia tahu ia takkan pernah bisa mengembalikan kebahagiaan yang pernah ada. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah mengikuti kata hatinya. Ia ingin sisa hidupnya berguna untuk orang lain.

Prince tak ingin anak-anak lain bernasib sama seperti dirinya.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu berderak beberapa belas meter dari tempat Prince berpijak. Prince pun bergegas memasukkan fotonya kembali ke dalam saku dan menoleh sedikit ke belakang. Ia mendapati seorang gadis dengan seragam pelaut khas Jepang sedang berdiri di depan pintu. Gadis berambut panjang bergelombang itu tampak malu, ragu, sekaligus ketakutan.

Prince tak ingin membuat sang gadis serba salah dengan keberadaannya. Ia pun kembali menghadapkan wajahnya ke depan, membiarkan sang gadis mengambil keputusan tanpa harus merasa terganggu oleh tatapannya. Benar saja, tak lama kemudian, sang gadis pun berjalan mendekat.

A-anoo … ” gadis yang tingginya hampir sama dengan Prince tersebut berusaha untuk membuka percakapan.

Mendengar suara sang gadis beberapa meter di sampingnya, Prince pun bertolak. “Oh … ” ia pura-pura terkejut. “Apakah kau yang mengirimkan surat kepadaku?” tanya Prince dalam bahasa Jepang.

“A-a-aaaa … a-anooo … e-ettooo … ” sang gadis malu setengah mati. Wajahnya memerah bagai delima. “Ha-hai! S-so desu!” serunya. Ia membenarkan terkaan Prince.

Prince tersenyum tipis. Ia terdiam sejenak, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Ano sa … aku tidak terbiasa dengan surat cinta seperti ini, jadi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan di saat seperti ini.”

” … ” Prince tidak membuat sang gadis merasa nyaman, malah membuatnya semakin tertunduk malu.

“Ah, mungkin kita bisa memulai dengan saling berkenalan. Siapa namamu?”

“O-oh, iya … benar,” kata sang gadis. Ia kembali menengadahkan wajahnya. “Na-namaku Megumi Adachi.”

Megumi Adachi, gadis dengan rambut ikal tersebut memang biasa-biasa saja, tak seberapa cantik, tetapi bisa terlihat manis di saat-saat tertentu. Ada segelintir pemuda yang menyukainya, tetapi tak sebanding dengan banyaknya pemuda yang menyukai siswi tercantik di sekolah tersebut. Ia hanyalah gadis biasa yang tak terkenal.

Douzo yoroshiku, Adachi-san,” Prince menyapa Megumi seraya agak menundukkan kepalanya. Ia berusaha untuk mencairkan suasana. “Jadi, apakah ada yang ingin kau sampaikan, Adachi?”

“A-aku … ” Megumi kembali menundukkan kepalanya. Tubuh dan kakinya gemetar. Ia hampir kehilangan keberaniannya untuk berkata. Akan tetapi, ia segera menarik napas panjang dan memutuskan untuk memuntahkan apa yang sedari tadi telah tertahan. “A-aku sudah lama memerhatikanmu! A-aku juga sudah lama tertarik padamu! Prince-san, suki desu! Tsukiatte kudasai!

Ilustrasi: Tati Nuari (Tati N. Damantine)

Dengan satu tarikan napas, Megumi mengungkapkan perasaannya kepada Prince. Di akhir ungkapan cintanya, ia mengajak Prince untuk pergi berkencan. Sejenak itu, tak ada ucap maupun jawab. Sekadar angin berembus kencang, seakan menertawai keadaan.

Prince sempat tak berkutik, tetapi pada akhirnya ia tersenyum. Tipis, tetapi tersenyum. “Adachi, kita tak pernah kenal sebelumnya.”

Megumi terenyak. Kedua matanya membelalak.

“Kita juga tak pernah mengobrol sebelumnya. Aku sangat menghargai perasaanmu, tetapi aku tak bisa tiba-tiba kencan dengan orang yang sama sekali belum kukenal. Paling tidak, begitulah budaya di tempat tinggalku dulu,” lanjut Prince

Mendengar pernyataan tersebut, Megumi sontak menengadahkan wajahnya. Resah menghiasi ekspresinya. Jantungnya seakan tertohok benda tajam. Perih. Ia tahu apa makna dari perkataan pemuda di hadapannya.

Penolakan.

Megumi terguncang. Seraya tertunduk, ia pun meminta maaf kepada Prince. Suaranya menjadi lirih. Sesekali bahkan terdengar getaran pada ucapannya. Megumi tak bisa membendung kesedihannya. Ia hanya ingin lekas-lekas pergi dari tempat itu dan melupakan pujaan hati di hadapannya. Tak pelak, ia pun bertolak.

“Adachi … ” sebelum Megumi beranjak meninggalkan atap sekolah, Prince menahannya dengan sebuah panggilan. “Jangan salah artikan perkataanku.”

Dengan kedua mata berkaca-kaca, Megumi menoleh ke belakang. Ia kembali menatapi pujaan hatinya dengan penuh tanda tanya. “D-dou yu imi?” ia menanyakan maksud dari perkataan Prince.

“Kita masih bisa berteman, makan siang bersama, bertukar pesan singkat, menonton film, atau … bermain di Nipponbashi. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai teman satu sekolah.”

D-demo … kau sudah menolakku. Kau tidak suka denganku.”

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak suka padamu. Aku hanya bilang bahwa rasanya aneh untuk kencan dengan orang yang tak kukenal, paling tidak bagiku. Lebih baik diawali dengan saling mengenal terlebih dahulu, bukan begitu?” jelas Prince.

“B-b-benarkah? A-aku bisa melakukan semua itu? Ma-makan malam, misalnya?”

“Kalau aku punya waktu, kenapa tidak?” jawab Prince spontan. Ia pun mengembuskan napasnya. “Jangan menyerah hanya karena berhadapan dengan kata ‘tidak’ dalam hidupmu. Kau hanya perlu mencoba jalan lain dan menunggu waktu yang tepat. Jika takdir berada di pihakmu, kau mungkin akan mendapatkan apa yang kau inginkan suatu hari kelak.”

Megumi terdiam. Eskpresinya berubah drastis. Ia mengusap kedua matanya, menghapus airmata yang sudah hampir membasahi kedua pipinya. Tak lama, senyumannya kembali. Wajahnya menjadi lebih cerah.

“Ka-kalau begitu, maukah kau … ” Megumi memejamkan kedua matanya seraya mengepalkan tangan. “MA-MAUKAH KAU PULANG BERSAMAKU HARI INI!?”

Prince terdiam. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Hai, mochiron desu,” jawabnya singkat. Ia menyetujui permintaan Megumi.

***

16.04

Prince menepati kata-katanya. Ia berjalan pulang dengan gadis yang baru saja mengungkapkan cinta kepadanya, Megumi. Keduanya memang tak berkencan, tetapi hal itu lebih baik bagi Megumi daripada pulang dengan membawa segudang kepiluan. Senja pun menguning, seakan merestui keduanya dengan bahagia.

Megumi hampir tak sanggup menumpahkan kata-kata sepanjang perjalanan pulang. Ia terlalu gugup. Yang bisa ia lakukan adalah menyamakan irama langkah dengan Prince dan menundukkan kepala. Malu.

“P-Prince … t-terima kasih sudah mau menungguku pulang hari ini,” ucap Megumi gelagapan.

“Hmm?” Prince menatapi Megumi sejenak, lalu mengembalikan sorotannya ke arah depan. “Kau sudah mengatakan itu tadi dan aku juga sudah bilang bahwa janji adalah janji,” lanjutnya tersenyum.

“A-ah, benar juga … ” Megumi membuang tatapannya. Salah tingkah.

Hening kembali berkuasa. Sekadar riuhnya perkotaan dari kejauhan yang sanggup meramaikan suasana. Itu pun tak sanggup mengusir sepi.

Ano sa … ” kali ini, Prince yang mengambil inisiatif untuk membuka percakapan. “Di negaraku, jarang sekali bisa berjalan dengan tenang ditemani langit sore seperti ini, apalagi jika kau tinggal di perkotaan.”

“E-eh?” Megumi penasaran. Ia pun menatapi pujaan hatinya. “A-apakah di sana sangat ramai?”

“Ya, begitulah. Di kota-kota besar yang setara dengan Osaka, sulit untuk bisa menikmati sore seperti ini.”

“Tapi … beberapa orang di sini mengatakan bahwa Indonesia sangat indah, punya panorama yang keren.”

“Di daerah pedesaan dan pegunungan, ya, kau bisa menemukan hal seperti itu. Tetapi, kalau di perkotaan, sulit untuk bisa menemukan tempat dan momen indah seperti itu, Adachi.”

“Oh … ” Megumi menganggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, lalu kembali tertunduk. “Sayang sekali Indonesia harus dilanda peperangan besar, padahal aku ingin melihat keindahan alamnya.”

Prince mendengus seraya tersenyum lebar. “Politik, mau bagaimana lagi?”

Percakapan singkat berhasil mencairkan suasana. Megumi pun merasa lebih siap untuk bertukar kata dengan idolanya. Senyuman Megumi merekah, jiwanya lebih tenang.

“Prince … ” panggil Megumi. “Apakah kau sering pulang bersama dengan siswi-siswi lain seperti ini?”

Prince tak lekas menjawab. Ia berpikir sejenak. “Tidak juga. Jarang ada yang mengajakku pulang bersama seperti ini,” ujarnya.

“E-eeeh? Benarkah? T-tetapi, kau sangat tampan–ah, maksudku, kau banyak diidolakan oleh gadis-gadis di sekolah kita!” Megumi merasa tak percaya dengan pernyataan Prince.

“Tak berarti mereka mau mengajakku pulang, kan?” Prince menatapi Megumi dengan senyuman. “Mereka lebih memilih kabur dan tak mau melihatku setelah pernyataan cinta mereka kutolak.”

“U-UHUK!” Megumi merasa tertohok oleh pengakuan Prince. Ia langsung teringat bahwa dirinya juga termasuk gadis yang ditolak oleh Prince. Hanya saja, ia sempat mendengarkan penjelasan sang pujaan hati sebelum lari dan membawa kesedihan.

Prince tertawa kecil. “Padahal, aku menolak mereka bukan karena aku tak suka. Aku hanya ingin mengenal mereka lebih dalam. Siapa tahu aku berubah pikiran, kan?”

Kali ini Megumi terdiam, ia menatapi Prince dengan kedua mata berbinar. Ia semakin luluh oleh aura dan kebijaksanaan pemuda kelahiran Indonesia tersebut. Jiwanya telah terperosok ke dalam lubang perasaan yang amat dalam. Tak berkutik.

Perjalanan pulang yang indah.

Sayangnya, keabadian hanyalah utopia. Keindahan pun renyuk seketika waktu. Saat Prince dan Megumi telah memasuki sebuah komplek yang sepi, langkah pun terhenti. Prince juga meminta Megumi untuk berhenti. Ekspresinya berubah. Senja yang semula menghadirkan senyuman, kini menawarkan persoalan.

Tch, salah jalan … ” bisik Prince.

Megumi terheran, tentu saja. Apa yang telah terjadi? Mengapa Prince berhenti mendadak? Ia menyoroti pujaan hatinya sejenak sebelum memindahkan pandangannya ke arah depan. Begitu ia mendapati dua begundal berwajah menyeramkan di hadapannya, barulah ia sadar mengapa Prince berhenti melangkah.

HE-HEEEE!? DARE DA … OMAE WA!?” Megumi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia langsung menanyakan identitas para begundal.

“Kami tak punya urusan denganmu, nona muda. Kami ada urusan dengan pacarmu!” seru salah seorang begundal seraya memainkan pisau kupu-kupunya.

“EH!? D-DIA BUKAN PACARKU!”

“Menyingkirlah, gadis! Pulanglah atau kau juga akan menerima akibatnya!” ujar begundal yang lain.

“A-a-aaa … ”

Belum sempat Prince dan Megumi mengambil keputusan, tiba-tiba datang lagi dua orang begundal dari arah belakang. Kini, posisi Prince dan Megumi terkunci, mereka takkan bisa berlalu tanpa persetujuan dari keempat preman berwajah seram tersebut.

“P-P-Prince … apa yang terjadi? K-kenapa orang-orang ini mengepung kita?” tanya Megumi.

“Mereka bukan mengepung kita,” ujar Prince santai, namun waspada. Ia menyoroti para begundal satu-persatu. “Mereka mengepungku.”

E-eh? Nande!?

“Aku menghajar mereka beberapa waktu lalu.”

Megumi terdiam sejenak. Ia terperanjat, namun tak mampu menyimpulkannya ke dalam kata-kata. “K-KAU SERIUS!? ORANG-ORANG INI TERLIHAT MENGERIKAN BAGIKU!”

Keempat begundal mendekat seraya mengayun-ayunkan senjata yang mereka pegang. Megumi ketakutan setengah mati. Ia pun bersembunyi di balik punggung Prince, lantas menggenggam jas sekolah Prince sekuat tenaga. Sesekali ia menjerit singkat, meminta agar para begundal itu pergi. Sementara itu, Prince tetap berdiri di tempatnya, tak bergeming.

Mendekat dan mendekat. Situasi semakin genting. Tak ada polisi di sekitar sana.

“HEI, KALIAN!” tiba-tiba terdengar sahutan seorang pria dari kejauhan. Dari gelegar suaranya, usianya diperkirakan antara 30-40 tahun. Sontak, para begundal pun berhenti melangkah. “Sudah kubilang jangan beraksi sebelum aku datang! Aku kan sudah bilang kalau aku mau ke mini market sebentar!”

“E-eh, Bos. Maafkan kami! K-kami hanya menahannya agar tidak pergi ke mana-mana!” jawab salah seorang begundal.

“Sudah kubilang tak ada yang boleh berkelahi di tengah jalan seperti ini,” ujar sang bos begundal. Ia pun menampakkan dirinya tepat di hadapan Prince. Mantelnya yang berwarna hitam dan tubuhnya yang kekar membuatnya terlihat jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan gabungan keempat begundal di sekitar Prince dan Megumi.

“Maafkan kelakuan anak-anakku. Kami tidak berniat mau menakut-nakutimu, anak muda,” lanjut sang bos begundal.

“Sejujurnya, aku tidak takut,” ucap Prince datar. “Tetapi kau baru saja menakuti temanku. Ia tak seharusnya diikutsertakan dalam permasalahan ini.”

Ilustrasi: Tati Nuari (Tati N. Damantine)

“Ah, ya. Maafkan kami,” si bos begundal mengusap-usap tengkuknya. “Sebenarnya, kedatanganku kemari adalah untuk menanyakan masalah yang terjadi antara dirimu dan keempat anggotaku.”

“Harus sekarang?”

“Ya, begitulah. Kami mencoba melacakmu selama berhari-hari dan kami baru menemukanmu hari ini. Jadi, maafkan jika kami terkesan memaksa. Anggaplah hal ini sebagai harga dari sebuah pencarian yang sulit.”

Prince mengembuskan napasnya. Ia tak punya banyak pilihan. “Mereka mabuk dan hampir memerkosa wanita di sebuah gang. Aku hanya berusaha menyelamatkan wanita itu dari kejahatan anggotamu–”

“T-TIDAK! TIDAK BEGITU! DIA BERBOHONG, BOS!” salah seorang begundal menyangkal pernyataan Prince dengan keras dan memengaruhi anggota begundal lain untuk protes.

URUSAI!” seru sang bos begundal, ia menyuruh seluruh anak buahnya untuk diam. Sontak, pertukaran seruan dari keempat kroconya hilang bagai ditelan bumi.

Sang bos begundal kembali menatapi Prince, kali ini sampai terlihat kerut-kerut kekesalan pada wajahnya. “Teruskan ceritamu, nak.”

“Ya, ceritanya seperti tadi. Anggotamu mabuk, lalu menarik seorang wanita ke sebuah gang, dan berusaha memerkosa wanita tersebut secara bergiliran,” papar Prince. “Aku punya saksi dan bukti jika kau merasa tak puas. Restoran di seberang gang bahkan punya rekamannya lewat CCTV.”

” … ” sang bos begundal terdiam. Walau pahit, namun ia memercayai kata-kata Prince. Tak pelak, ia pun memandangi anak-anaknya dengan bengis. Tatapan seramnya membuat keempat begundal gemetar ketakutan dan mundur perlahan-lahan dari tempat mereka berpijak.

“B-Bos … kau lebih percaya dia daripada kami?” tanya begundal yang paling vokal.

“Aku percaya pada realitas, Nishimura,” ujar bos begundal dingin. “Pulanglah kalian semua ke markas. Sekarang. Kita akan membicarakan ini nanti.”

“Hiii!” empat orang begundal yang sempat mengancam Prince dan Megumi langsung kabur terbirit-birit meninggalkan lokasi pertemuan. Mereka ketakutan begitu mendapati sorotan tajam dari sang atasan. Saking paniknya, mereka bahkan menabrak tempat sampah yang bertengger di sekitar komplek. Ribut tak terkira.

Semenit, dua menit, lantas menyepi.

Senja kembali pada keheningannya. Berbeda dengan keempat begundal yang baru saja lari tunggang-langgang, sang bos begundal justru memiliki aura yang menenangkan. Dari segi penampilan, ia memang terlihat menyeramkan, tetapi dari cara bicaranya yang sopan menunjukkan bahwa ia memang tidak hadir untuk mengancam orang lain.

“Maafkan kelakuan anak-anakku, anak muda. Boleh kutahu siapa namamu?” tanya bos begundal.

Prince terdiam sejenak. Ia menatapi Megumi yang masih menyembunyikan wajah di balik pundaknya. Tak lama, ia kembali terfokus pada pria kekar di hadapannya. “Namaku Prince.”

“Prince? Nama julukan?”

“Bukan. Aku memang bukan orang Jepang. Aku pengungsi dari Indonesia.”

“Oh, orang Indonesia! Maafkan aku. Aku tak tahu. Kau pasti korban perang di sana,” secara mengejutkan, sang bos begundal menundukkan kepalanya.

“Tak perlu meminta maaf. Bukan salahmu.”

“Ah, ya … ” sang bos begundal kembali menengadahkan wajahnya. “Tetapi … bahasa Jepangmu sangat bagus. Apakah anak-anak sekolah di Indonesia belajar bahasa Jepang juga?”

“Tidak. Aku belajar bahasa Jepang untuk keperluan pribadi,” papar Prince. “Aku suka bermain game dan menonton anime sewaktu di Indonesia.”

“Oh, pantas saja,” si bos begundal menanggapi seraya agak tertawa. “Namaku Hanzo Kimura, ngomong-ngomong. Hajimemashite.”

Prince dan Megumi tertunduk secara bersamaan, menanggapi perkenalan Hanzo dengan baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari sebuah perkenalan, pikir mereka. Keduanya lantas berdiri normal dan membisu. Tak ada topik yang bisa mencairkan suasana lebih jauh dengan sang pimpinan geng, sudah saatnya mereka pergi dari komplek tersebut.

“Jika tak ada yang ingin kau bicarakan lagi, kami pulang dulu,” Prince memberanikan dirinya untuk pamit.

Akan tetapi, Hanzo tak bisa membiarkan ‘buruannya’ pergi begitu saja. Ia pun menyatakan maksud sejati dari kedatangannya.

“Prince, sejujurnya, aku tidak memermasalahkan apa yang kau lakukan pada anak-anakku. Mereka memang pantas mendapatkannya; bajingan-bajingan tengik itu sudah kuperingatkan untuk tidak berbuat jahat kepada masyarakat. Mereka pantas babak belur seperti itu,” jelas Hanzo. “Akan tetapi, ada satu hal yang membuatku hampir mati penasaran. Bagaimana ceritanya anak SMA sepertimu mampu menghajar empat begundal dewasa sekaligus? Aku tahu mereka mabuk, tetapi mereka bukan kroco yang tak punya kemampuan, mereka adalah salah satu grup di gengku yang paling berpengalaman baku hantam di lapangan.”

” … ” Prince membuang tatapannya. Ia tak ingin terjebak baku pandang dengan lawan bicaranya.

Mendengar pertanyaan dan pernyataan Hanzo, Megumi pun terenyak setengah mati. Ia pun memaku pandangannya ke wajah Prince dalam diam. Antara percaya dan tak percaya. Ia bisa melihat betapa bengisnya empat begundal tadi, lantas bagaimana mungkin seorang Prince bisa menang melawan keempatnya?

“Aku adalah mantan atlet Karate, sabuk hitam, Dan 2. Aku mengajarkan anak-anakku bertarung dengan benar, rasanya tidak mungkin jika kau sanggup lolos tanpa segores luka sedikit pun,” kata Hanzo. “Serius, kemampuanmu membuatku penasaran, anak muda.”

Pemaparan Hanzo langsung membuat Megumi gemetar ketakutan. Ia langsung membisikkan beberapa baris kata ke telinga Prince, menyarankan Prince untuk segera meninggalkan lokasi. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana caranya kabur dari bos berwajah seram tersebut, apalagi Hanzo merupakan mantan atlet Karate yang ambisius, pasti akan terjadi kejar-kejaran jika Prince kabur begitu saja. Megumi panik.

“Tenanglah, Adachi,” kata Prince menenangkan rekan pulangnya. “Aku tahu apa yang ia inginkan, tenang saja.”

“B-b-benar, ya?” tanya Megumi mengonfirmasi.

“Iya, tenang saja.”

“Prince … ” Hanzo kembali angkat bicara. “Bisakah kau datang ke sebuah gudang tua di tepi kota hari ini? Aku penasaran dengan kemampuanmu. Tolong jangan sampai buat aku memohon.”

“HE-HEEEE!?” Megumi terperanjat. Ia tak menduga bahwa sang bos begundal akan mengajak Prince duel. “K-k-kau mau mengajak Prince berduel!? T-tidak mungkin! Dia pasti kalah! Kau juara Karate, dia … bukan juara Karate! T-tidakkah ada cara lain untuk memuaskan rasa penasaranmu!?”

“Adachi–” Prince sampai tak bisa menanggapi interupsi dari rekan wanitanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menoleh ke belakang dan menyaksikan kerut-kerut keresahan pada wajah Megumi.

“Ini bukan duel, nona muda. Kami hanya akan berlatih tanding. Sparring, bukan duel. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh Prince menguasai beladiri, sebab ia mampu menumbangkan empat anggotaku sendirian. Yang lebih mengesankan: ia melakukannya dengan tangan kosong. Tidakkah kau penasaran bagaimana pacarmu bisa melakukan itu?”

“Kami tidak berpacaran,” sahutan itu muncul secara bersamaan dari Prince maupun Megumi; Prince dengan nada datarnya, Megumi dengan intonasi paniknya.

“Ah, terserahlah. Yang lebih penting adalah apakah kau menerima tantanganku, Prince? Tolong, jangan sampai buat aku memohon dan mendatangi sekolahmu.”

Mendengar permintaan tersebut, Prince dan Megumi terdiam. Tak ada pilihan yang benar-benar bisa mereka ambil saat itu. Hanzo memaksa Prince untuk berhadapan dengannya. Yang bisa Prince lakukan adalah menuruti kemauan Hanzo atau ia akan mengorbankan nama baik sekolahnya.

“Baiklah,” gumam Prince. “Satu syarat, Hanzo.”

“E-EEEH!? PRINCE, KAMU TIDAK SERIUS–” Megumi kembali panik, tetapi ia tak sempat menyelesaikan keluhannya.

“Tenang saja, Adachi. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya aku berhadapan dengan juara beladiri.”

D-demo …

“Adachi,” Prince membalikkan badannya. Ia menyoroti wajah Megumi dari jarak yang cukup dekat. “Kita tak punya banyak pilihan, kan? Aku yang maju atau sekolah kita yang jadi taruhan. Jangan khawatir. Aku tidak berbohong saat aku mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya aku berhadapan dengan juara beladiri.”

” … ” Megumi tertunduk malu sesaat setelah tatapan sang pujaan hati membuat pipinya merona. Ia tak menyangka Prince akan berdiri sedekat itu dengannya. Benaknya sempat berharap agar Prince tak mengindahkan kemauan Hanzo, tetapi pikiran itu telah memudar. Ia sendiri tak punya solusi lain. Turuti atau sekolahnya yang menjadi taruhan.

“Bagus sekali, Prince! Aku semakin bersemangat!” seru Hanzo seraya menggoyang-goyangkan pundaknya laksana petinju profesional. “Jadi, apa syaratnya?”

“Syaratnya mudah: aku mau mengantar Megumi pulang sampai ke rumahnya, tolong jangan ganggu kami. Pastikan tidak ada anak buahmu yang berusaha mencegat kami.”

“Mudah sekali, sobat! Temui aku di gudang tua dekat Sungai Yamato, setelah kau mengantarkan pacarmu pulang!”

***

Rumah Keluarga Adachi
19.11

Cemas.

Megumi tak bisa menyembunyikan kecemasannya terhadap peristiwa hari ini. Meskipun Prince sudah berulang kali memintanya untuk tenang dan percaya, namun ia tak tetap tak bisa berhenti memikirkan keadaan sang pujaan hati. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang Prince yang berpostur lebih kecil daripada Hanzo berani menerima tantangan duel tanpa sedikit pun keraguan? Hanzo adalah mantan atlet Karate tingkat tinggi, Prince bisa terluka parah.

Lebih buruk lagi, Prince bisa mati.

Megumi mulai berpikir bahwa Prince sengaja menerima tantangan Hanzo hanya untuk menyelamatkan nama baik Aoyama High School. Prince mungkin tidak peduli pada nyawanya, tetapi benarkah demikian? Megumi pun berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia menggigit kuku-kuku tangannya untuk meredakan ketegangan.

Sesaat setelah Prince mengantarkan Megumi sampai ke depan rumah, ia sempat berjanji akan menghubungi Megumi jika pertemuan dengan Hanzo telah berakhir. Akan tetapi, ini sudah jam 7 malam dan Prince belum juga mengirimkan kabar. Hal ini membuat Megumi panik setengah mati. Benaknya mulai memikirkan sejumlah kemungkinan terburuk yang menimpa Prince.

Jangan-jangan Prince mati dan dibuang ke sungai?

Jangan-jangan Prince dijebak dan disiksa oleh anggota geng motor?

Jangan-jangan Prince dikeroyok oleh para anggota Hanzo?

Jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan …

Skenario-skenario tak masuk akal mulai merasuki pikiran Megumi, merajut kekhawatiran yang berlebih dalam hatinya. Megumi menggila oleh permainan akalnya sendiri. Tak kuat menahan kegelisahan, Megumi pun melemparkan tubuhnya ke atas kasur dan membenamkan wajahnya di atas bantal. “WAAA!” ia berteriak dalam bekapan bantalnya, memunculkan suara jeritan yang teredam.

Sesaat setelahnya, Megumi membalikkan badan. Ia berbaring terlentang dan menatapi langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca. Padahal, hari ini ia merasa telah menemukan cinta sejati, tetapi apakah harus secepat itu pujaan hatinya pergi? Ia tak sanggup menahan getir dalam lubuknya.

Megumi termangu.

Dalam renungannya, Megumi teringat bahwa ia telah bertukar akun ponsel dengan Prince. Lekas-lekas ia mengambil ponsel yang bertengger di samping bantalnya. Ia buka daftar buku telepon pada ponselnya dan mencari nama Prince. Ketemu. “My Prince”, begitulah ia menulis nama Prince pada ponselnya. Ibu jarinya meragu, apakah ia perlu menghubungi Prince saat itu?

Ilustrasi: Tati Nuari (Tati N. Damantine)

Tercenung, tercenung, dan tercenung.

BIIIP!

Belum sempat Megumi mengambil keputusan, ponselnya sudah lebih dulu berdering. Ia sampai kaget dan menjerit begitu menerima getaran pada ponselnya. Tak pelak, anggota keluarga Adachi yang lain pun langsung menanyakan apa yang baru saja terjadi di kamar Megumi.

“Megumi!? Daijobu ka!?” terdengar sayup-sayup kecemasan dari luar kamar Megumi. Mereka terenyak oleh suara jeritan yang baru saja merebak hingga keluar ruangan.

D-daijobu!” seru Megumi seraya tetap berbaring di kasurnya. Ia meyakinkan seluruh keluarganya bahwa tidak ada kejadian yang perlu dikhawatirkan. “A-aku hanya kaget mendengar suara ponselku berdering!”

Ibu kandung Megumi sempat menyampaikan satu hingga dua pesan serius kepada buah hatinya, akan tetapi Megumi malah terfokus pada layar ponselnya dan membaca pesan singkat yang baru saja masuk.

“Adachi, kau sudah tidur? Gomen, aku baru sempat mengabarimu. Aku baik-baik saja dan sudah pulang ke rumah. Sudah kubilang, jangan khawatir. ;)”

Pesan singkat itu sontak membuat Megumi salah tingkah. Ia bergegas mengambil gulingnya dan membenamkan wajahnya di sana. Sekali lagi ia meredamkan jeritan dengan alat tidurnya. Ada dua hal yang membuatnya merasa lebih dari bahagia malam itu. Pertama, Prince baik-baik saja. Kedua, Prince sangat perhatian padanya.

Sesaat setelahnya, airmata Megumi pun tertumpah. Ia terlalu bahagia dan pertama kalinya bisa merasakan kebahagiaan yang amat dalam dengan lawan jenis. Seraya mengusap kedua matanya yang sembab, ia pun merayakan perasaannya dengan sebuah senyuman. “Prince, daisuki … ”

Pesan singkat Prince menjadi ucapan selamat malam terindah bagi Megumi.

***

Keesokan harinya
07.01

Hari yang cerah, secerah hati para pemuja rasa.

Dengan jiwa yang berbunga-bunga, Megumi menyusuri langkah demi langkah seraya bersenandung. Sesekali ia melompat kecil untuk merayakan keelokan yang menggelora di dalam dadanya. Ia sedang berbahagia hari ini, seperti baru saja berpacaran dengan sosok idolanya. Padahal, Prince sama sekali belum mengatakan apa pun tentang hubungannya dengan Megumi.

Hari ini bertemu Prince lagi, betapa senangnya.

Akan tetapi, keceriaan itu harus tertunda sejenak waktu. Megumi tidak mengantisipasi bahwa Hanzo bisa menemukannya di tempat seperti itu. Dan ia benar-benar bertemu Hanzo di sebuah persimpangan, tersekat oleh bayangan. Sontak, ia pun menahan napasnya. Terenyak setengah mati. Ia hendak menjerit, tetapi tak sanggup, seakan seluruh suaranya tertahan di dalam dada.

“Ah, Adachi-san, kumohon jangan berteriak. Aku sudah mengalami hari yang cukup buruk kemarin,” ujar Hanzo seraya menutup percakapannya dengan tawa.

“K-k-kau! P-Paman Kimura! Bos geng motor yang kemarin! K-k-kenapa kau ada di sini!? K-kau mau mengambil uangku!?” tanya Megumi spontan.

“Tidak, tidak. Mohon jangan salah artikan keberadaanku di sini. Aku bukan penjahat, kumohon,” kata Hanzo. “Aku hanya ingin mengobrol denganmu dan bertukar pikiran soal Prince, sebenarnya.”

Hanzo pun menampakkan dirinya dari balik bayang-bayang. Ia tampak berantakan, terutama karena tangannya harus disangga dengan sebuah kain khusus patah lengan. Pemandangan tersebut tentu membuat Megumi semakin terperangah. Apakah tangan Hanzo patah akibat duel dengan Prince? Yang benar saja! Megumi tak bisa membiarkan dirinya percaya dengan imajinasi yang terlalu mustahil untuk dicerna.

D-daijobu ka? D-dou shita no, Kimura-san?” Megumi jadi penasaran, ia pun menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi pada lengan Hanzo.

“Ah, jangan pikirkan lenganku. Ini hanya suvenir dari latih tanding kemarin, hahaha.”

“E-eeeh!? Apa yang terjadi!? K-kau kalah!?”

“Bisa dibilang begitu,” Hanzo tersenyum. “Telak, lebih tepatnya.”

” … ”

“Prince … ” Hanzo mengingat-ingat pertandingannya dengan Prince semalam lalu. Ia bahkan tak malu untuk mengakui kekalahannya. “Ia benar-benar melewati pertandingan dengan baik.”

***

Sehari sebelumnya
17.32

Gudang tua di tepian kota itu menjadi tempat berkumpulnya anak-anak geng motor. Mereka menjadikan tempat itu sebagai markas untuk bercengkrama. Selain karena tempatnya yang luas, gudang tersebut juga masih sangat layak untuk ditinggali. Pondasi, dinding, dan atapnya masih terlihat sangat kokoh. Entah apa alasan pemiliknya meninggalkan gudang tersebut, namun bangunan itu dianggap seperti hadiah natal bagi anak-anak geng motor.

Sore itu, gudang tua dipenuhi oleh kerumunan orang, jauh lebih ramai daripada biasanya. Anak-anak geng motor yang dipimpin oleh Hanzo Kimura berdesak-desakan di dalam ruangan, demi menonton pimpinan mereka melakukan latih tanding dengan seorang anak SMA. Sorak-sorai pun menggema hingga ke seluruh sudut ruangan, beberapa orang bahkan begitu bersemangat meminta agar Hanzo segera menumbangkan lawannya.

Sayangnya, Hanzo tidak bisa melakukan apa yang diminta oleh anak-anaknya. Ia sudah beberapa kali bertukar serangan mematikan dengan pemuda di hadapannya, namun sang pemuda tetap berdiri di atas kedua kakinya seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Hanzo mulai kehilangan tenaga untuk melawan balik, napasnya sudah terengah-engah. Ia pun berlutut sejenak untuk mengambil napas dan memikirkan siasat yang lebih baik untuk melawan bocah tangguh di depannya.

“Prince … ” Hanzo memanggil lawannya. “Kau sama sekali tidak terlihat sempoyongan. Siapa yang melatihmu?”

Prince, bocah SMA yang menjadi lawan Hanzo sore itu, terdiam. Ia menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan sang mantan atlet Karate. “Seseorang yang terbiasa mengorbankan nyawanya untuk orang lain, pastinya.”

Hanzo menatapi rekan tandingnya dengan heran. Keningnya menggulung-gulung. Ia tak mengerti arah pembicaraan Prince. “Dare? Aku tak mengerti,” tanya Hanzo seraya membangkitkan tubuhnya dan memasang kuda-kuda.

“Kau tidak perlu mengerti,” ujar Prince santai. Ia pun memasang kuda-kuda. “Kau hanya perlu membayangkan.”

Mata Hanzo menyipit, namun tak memikirkan kata-kata Prince lebih jauh. Ia kembali merangsak maju untuk menyerang Prince. Sorak-sorai kembali merebak, kali ini suaranya sampai menggema keluar bangunan.

Hanzo memutuskan untuk memulai pertarungan dengan sebuah tendangan rendah. Sayangnya, serangannya terbaca. Kontan, Prince mengangkat kakinya dan menggagalkan tendangan Hanzo dengan tulang keringnya. Di saat yang hampir bersamaan, ia juga meluncurkan tinjunya ke wajah Hanzo.

Serangan Prince masuk dengan gemilang. Hanzo tak berkutik, ia bahkan tak sempat menyaksikan sebuah pukulan datang ke arahnya. Batang hidung Hanzo pun menjadi korban dari serangan Prince yang cepat dan tak terduga.

Tak berniat mengalah, Hanzo pun mengerahkan seluruh energi dan kemampuan yang tersisa demi menumbangkan bocah di hadapannya. Pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan meluncur deras. Hanzo tak main-main, ia benar-benar menyerang dengan kekuatan penuh.

Meski demikian, Prince juga tak berniat menjadi bulan-bulanan mantan juara Karate tersebut. Ia mengimbangi pertarungan. Pertukaran serangan yang sengit pun kembali terjadi antara kedua petarung yang terpagut usia belasan tahun tersebut. Situasi memanas, para penonton menggila mendapati intensnya pergantian agresi antara Hanzo dan Prince.

Akan tetapi, Hanzo tak bisa memertahankan ambisinya. Ia kelelahan. Pertandingan sudah berjalan selama beberapa belas menit tanpa istirahat, membuatnya kehabisan stamina untuk menyerang Prince yang gesit. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memusatkan seluruh tenaganya pada kepalan tangannya. Seluruh napas yang tersisa ia salurkan ke tinjunya, berharap akan mengenai Prince dan mengakhiri pertarungan panjang sore itu.

Hanzo melepaskan pukulannya sekuat tenaga.

Sayang seribu sayang, Prince berhasil membaca serangan Hanzo. Ia bergerak menyamping, menghindari bencana hampir seperti meledek. Selisihnya hanya sepersekian milidetik, serangan Hanzo tak lebih dari sekadar pemukulan terhadap angin. Sejurus kemudian, Prince pun menangkap lengan Hanzo dan mengentakkan pukulan telapaknya pada siku Hanzo yang tengah terbentang lurus.

Meskipun terlihat tak menyakitkan, namun pada kenyataannya Prince mengerahkan energi yang jauh lebih besar daripada kelihatannya. Tak ayal, Hanzo pun menjerit kesakitan. Prince berhasil membuat lengan Hanzo mengalami dislokasi. Sendi siku Hanzo mencuat ke arah yang tak seharusnya, menimbulkan rasa nyeri yang menjadi-jadi.

Sesaat itu, anak-anak geng yang menonton pertandingan langsung berhenti bersorak. Sahut-sahut pekikan yang sempat menggemparkan seisi gudang seketika hilang, seakan mati. Seluruh penonton terperanjat, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mantan atlet Karate sabuk hitam kalah begitu saja oleh seorang murid SMA.

Perlahan-lahan, syok berubah menjadi amarah. Sejumlah anggota geng sontak bangkit dari tempat mereka duduk dan berniat mengeroyok Prince.

Sambil berlutut dan menahan pilu, Hanzo berteriak sekuat tenaga, “URUSAI! JIKA ADA YANG BERANI MENYENTUH PRINCE, KALIAN SEMUA AKAN KUHAJAR! SEMUANYA!” Seruannya kontan membuat anak-anak gengnya terdiam. Di geng tersebut, Hanzo memang orang yang paling dituakan dan paling tangguh. Terang saja tak ada yang berani dengannya.

“Ini adalah ajang latih tanding, bukan duel. Kalau kalian bersikap tidak sopan dengan tamu kita, kita akan selamanya dikenal sebagai geng motor yang tak tahu aturan! Mengerti!?” seru Hanzo dengan intonasi yang lebih rendah.

“Kimura-san … ” Prince tak mengindahkan permasalahan internal yang terjadi antara Hanzo dan anak-anaknya. Ia hanya khawatir pada kondisi lengan Hanzo yang bengkok tak karuan akibat serangannya. “Biar kuperbaiki tanganmu. Ini hanya dislokasi.”

“E-eh? Kau bisa memerbaikinya?”

“Hmm,” Prince mengangguk seraya menggenggam lengan rekan tandingnya. Tanpa aba-aba maupun peringatan, ia segera mengentakkan lengan Hanzo. Entakan itu tentu saja membuat Hanzo mengerang sekuat tenaga. Akan tetapi, Hanzo bisa bernapas lega setelahnya, sebab sendi sikunya kembali ke posisi semula.

“K-kau … bisa melakukan semua ini. Siapa sebenarnya yang melatihmu? Aku penasaran setengah mati,” ujar Hanzo menerima kekalahannya.

Prince sekadar tersenyum. Ia tak ingin membocorkan rahasianya. Satu-satunya yang bisa ia singkap adalah sebuah isyarat. “Pelatihku adalah orang-orang yang tak sekadar menghajar individu, tetapi juga negara. Kau hanya perlu membayangkannya.”

***

Hanzo menceritakan segala detail kejadian yang telah ia lalui kepada Megumi. Ia tertunduk seraya mengusap-usap lengannya yang harus menjalani pemulihan selama beberapa hari. Hanzo tak bisa berhenti mengenang telaknya kekalahan yang harus ia terima akibat meremehkan seorang bocah SMA.

“D-dia? Sehebat itu? Apa aku tidak salah dengar?” Megumi jadi penasaran. Ia tak percaya bahwa Prince bisa mengalahkan seorang juara Karate.

“Benar, aku tak sedang berbohong, Adachi,” pungkas Hanzo meyakinkan lawan bicaranya. “Kami lantas bertukar serangan selama beberapa menit. Pukulan, tendangan, bantingan, semuanya kami lakukan sepenuh hati. Kadang aku yang berhasil mengenainya, kadang ia yang mengenaiku.”

“B-berarti … ia pun babak belur sepertimu!”

“Tidak separah diriku. Aku memang berhasil mengenainya beberapa kali, tetapi tak pernah fatal. Yang lebih mengesankan adalah ia mampu membuat diriku mengeluarkan seluruh energi yang tersisa. Aku, sabuk hitam Karate, tak sanggup menumbangkannya. Pantas jika anak-anakku babak belur dibuatnya. Sasuga, Prince,” kenang Hanzo.

Megumi terdiam, seraya mengecek ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tak ada orang yang menyaksikan pertemuannya dengan pimpinan geng motor. Benaknya mencoba memroses cerita yang disampaikan Hanzo kepadanya. Semuanya terdengar tak masuk akal, paling tidak baginya. Apakah Hanzo hanya mengarang cerita untuk menenangkan dirinya? Tidak, tidak mungkin.

“A-aku … ” Megumi ingin merespon, tapi ragu-ragu. “A-aku tidak mengerti bagaimana cara ia bisa melakukan semua itu. Ia sama sekali tak terlihat seperti orang yang suka berkelahi. Wajahnya polos dan terlihat seperti sosok pendiam. Ia bahkan tak punya kesan menyukai olahraga atau beladiri, hanya anak tampan dari negeri seberang.”

“Adachi-san … ” ujar Hanzo seraya berjalan mendekat. “Aku juga berpikir seperti itu, awalnya. Tetapi, bumi ini memang luas, selalu ada sesuatu yang tak terduga dari tempat-tempat yang tak kita kenal. Prince adalah salah satunya. Ia datang dari negeri yang tak kita ketahui. Ia mungkin telah mengalami hal yang jauh lebih keras daripada apa yang aku dan anak-anakku alami di sini.”

” … ”

“Aku tahu sulit bagimu untuk menerima sisi lain Prince yang tak tampak di hadapanmu. Akan tetapi, ia sama sekali bukan orang jahat. Jangan kau perlakukan ia dengan buruk hanya karena ia terdengar ‘menyeramkan’,” ujar Hanzo memberi nasihat.

“A-aku penasaran dengan masa lalunya. Bagaimana mungkin ia bisa sehebat itu, Paman Kimura?”

“Ah, aku juga tak tahu pasti. Tetapi, ia bukan petarung jalanan. Gerakannya rapi dan profesional. Ia benar-benar memelajari beladiri dari seseorang,” imbuh Hanzo. “Ia sendiri tak pernah mau menceritakannya secara detail. Tetapi, dari cerita-ceritanya mengisyaratkan bahwa ia dilatih oleh semacam … militer atau polisi, entahlah. Sebaiknya jangan kau tanyakan ini kepadanya, sebab aku khawatir ia punya trauma masa lalu berkaitan dengan ini.”

“O-oh … ” Megumi menggangguk-anggukkan kepalanya dengan waswas. Setidaknya, ia kini bisa melihat gambaran besar mengapa Prince mampu membuat Hanzo kalah telak. “P-Paman, apa yang harus kulakukan padanya? Aku merasa tak nyaman setelah mengetahui semua ini.”

“Inilah yang ingin kusampaikan kepadamu hari ini,” kata Hanzo spontan.

Megumi terdiam. Ia siap menelan segalanya.

“Kau harus sadar bahwa setiap orang punya masa lalu, Adachi. Kau harus belajar menghargainya. Yang paling penting adalah apa yang ia lakukan hari ini dan esok hari. Ia menjagamu dan menjaga perasaanmu, itu adalah bukti bahwa ia ingin memberikan perubahan baik untuk orang-orang di sekitarnya, bahkan untukku.” pungkas Hanzo memberi saran. “Aku juga melihat kesedihan di matanya, entah apa penyebabnya. Kurasa ada hubungannya dengan perang yang terjadi di negaranya. Jangan kau buat dia lebih sedih daripada sebelumnya. Temanilah dirinya sebagaimana teman yang baik.”

Megumi menengadahkan wajahnya. Matanya berbinar. Ia menatapi Hanzo dengan senyuman nan cerah. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk dengan penuh keyakinan.

Jika pimpinan geng sekaliber Hanzo pun memberikan penilaian yang sangat baik untuk Prince, mengapa Megumi harus meragukannya?

***

Aoyama High School
12.03

Jam istirahat telah tiba. Anak-anak sekolah pun berhamburan keluar kelas untuk menyegarkan pikiran. Tidak semua, memang. Beberapa di antaranya tetap bertahan di kelas untuk makan siang.

Prince sendiri tak berpindah dari tempat duduknya. Ia ingin menikmati makan siang yang dibawanya dari rumah. Wajahnya terlihat sedikit berantakan akibat terlibat baku hantam dengan seorang juara Karate sore kemarin. Ada sejumlah plester menempel di wajah dan tangannya, namun tak ada luka yang benar-benar parah.

Beberapa murid lelaki yang sekelas dengan Prince sempat terheran dengan kondisi Prince, tetapi pemuda berdarah Indonesia itu enggan mengungkapkan penyebab dari luka-lukanya. “Aku jatuh dari tangga,” ujarnya berbohong setiap kali ada temannya yang bertanya. Itu lebih baik daripada ia harus menyingkap konfrontasinya dengan kepala geng motor.

Prince melanjutkan makan siangnya. Sejauh itu, ia tetap menjalani jam istirahatnya sendirian, meskipun terdengar desas-desus di kalangan murid wanita untuk bisa berdekatan dengannya. Prince tak ingin memedulikan urusan orang lain. Selama tak ada yang mengajaknya makan siang bersama, ia takkan menawarkan ruang kosong di mejanya.

Akan tetapi, seseorang rupanya punya tekad yang berbeda. Belum lama Prince melahap sajiannya, seorang gadis tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan berdiri tepat di samping meja belajar Prince. Kontan, Prince menghentikan aktivitasnya, lantas menengadah untuk menyaksikan sosok yang hadir di sampingnya.

Megumi Adachi, dialah gadis dari kelas 2-C yang secara tiba-tiba membayang-bayangi Prince. Ia tak berniat untuk masuk sekasar itu, awalnya. Rupanya ketua kelas 2-A, Ami Ayatsuji, sengaja mendorong tubuh Megumi hingga berhenti tepat di samping meja Prince. “B-b-bukan aku yang mau masuk seperti ini, Prince! P-p-percayalah!” ujar Megumi gelagapan.

“Ah, shinjinai!” sergah Ami seraya menyikut pinggang temannya. Ia tak percaya pada pernyataan Megumi. “Kalau kau tidak mau masuk dan menemui Prince, untuk apa kau mondar-mandir di depan kelasku sambil membawa kotak makan seperti itu?”

Prince tersenyum tipis. “Siapa tahu ia tidak ingin makan di sini, Ayatsuji.”

Iie, iie … ” Ami mengibas-ngibaskan jari telunjuk di depan wajahnya. Ia menyangkal hipotesis Prince. “Aku melihat kalian berdua pulang bersama kemarin. Jadi, kedatangan Megumi kemari sangat jelas, ia pasti ingin makan bersama denganmu, Prince!”

“A-AMI–” Megumi salah tingkah. Ia sampai merasa tak enak karena beberapa pasang mata langsung tersorot padanya.

“Hahaha! Nikmati makan siang kalian, teman-teman! Aku makan di luar saja, ya!” Ami, ketua kelas periang itu pun bergegas keluar dari ruangan kelas dan meninggalkan Megumi berdua dengan Prince.

Megumi kehabisan kata-kata. Pertahanannya terbuka lebar. Seketika, ia bisa merasakan tatapan sinis dari gadis-gadis yang makan siang di kelas 2-A. Ia bukan tipe orang yang luwes, sejujurnya. Di kelas itu, ia hanya mengenal Ami dan Prince. Perlahan-lahan ia menelan ludahnya, masih mencari celah untuk menghindari tindakan yang dapat memicu keriuhan.

Prince takkan membiarkan keadaan menjadi kacau hanya karena ada orang asing masuk ke dalam kelas 2-A. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan murid dari kelas lain masuk ke dalam kelasnya, tetapi ada orang lain yang terlihat iri dengan keberadaan Megumi. “Adachi-san, santailah, jangan tegang begitu,” kata Prince mencoba menenangkan Megumi.

“E-eh?” Megumi menatapi pujaan hatinya. Ia tak bisa memfokuskan pikirannya. “A-aku … aku harus bagaimana?”

“Duduk saja. Tidak usah tegang begitu. Kau belum makan siang, kan?”

“B-baiklah … ” Megumi pun menarik kursi yang ada di depan meja Prince. Ia lantas duduk dan meletakkan tempat makannya di atas meja. Setelah itu, ia terdiam. Saking tegangnya, ia sampai lupa bahwa perutnya sudah keroncongan sedari tadi.

Prince berhenti menyumpit makanan pada kotak makannya. Ia lantas tersenyum menatapi gadis di hadapannya. “Kau tahu? Keberuntungan itu ada dua jenis, Adachi … ”

“E-eh?” Megumi tak bisa menahan diri untuk menengadah dan memandangi wajah Prince dalam kepelikan. Ia tak bertanya, sekadar menunggu Prince melanjutkan kata-katanya.

“Ada yang disebut dengan keberuntungan alami. Hal ini tidak bisa kita kendalikan, kau bahkan tak bisa menerka kapan keberuntungan ini akan datang padamu. Sebab, hanya kekuatan asing saja yang bisa menentukan kapan kita akan mendapatkannya. Kau bisa menyebutnya takdir, tangan Tuhan, atau semacamnya,” papar Prince tersenyum. “Contohnya seperti mendapatkan hujan ketika sedang terjadi kebakaran besar di suatu kota.”

Kerut-kerut pada kening Megumi berkurang, tetapi ia masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan Prince.

“Keberuntungan kedua adalah keberuntungan buatan. Keberuntungan jenis ini sepenuhnya menjadi kuasamu. Tuhan atau takdir hanya menyediakan jalannya, sedangkan pilihannya terletak padamu,” jelas Prince lagi. “Contoh sederhananya seperti mengobrol dengan orang yang kau sukai. Apakah menurutmu Tuhan akan menolongmu jika kau hanya berdiam diri dan menunggu keajaiban? Dia hanya menyediakan peluangnya, tidak menggerakkanmu mendekati peluangnya.”

Sekali lagi Megumi dibuat terbelalak oleh untaian kata yang terlontar dari bibir sang tambatan hati. Ia kehilangan setengah kemampuannya untuk merespon. Matanya berbinar-binar, tertawan oleh pesona yang terpancar deras dari seorang Prince.

Sementara itu, beberapa gadis yang duduk di meja seberang lekas-lekas mengambil buku catatan untuk menulis, entah apa yang mereka goreskan.

“Sekarang, makanlah. Jangan sampai kau kehabisan waktu istirahatmu,” ujar Prince. Ia lantas kembali mengangkat sumpitnya dan melahap sajian pada kotak makannya.

“Hmm!” Megumi mengangguk dengan penuh keyakinan. Ia pun membuka kotak makannya dan ikut makan siang.

Tak butuh waktu lama untuk membuat Megumi melebur dengan suasana. Ia pun menjadi lebih percaya diri untuk bertukar kata dengan Prince. Sekali lagi, Prince berhasil membuat dirinya menjadi lebih berani mengambil keputusan. Canda dan tawa tak pelak menjadi penghias momen. Megumi bersuka cita siang itu.

Ilustrasi: Tati Nuari (Tati N. Damantine)

Ia berharap … Tuhan akan mengabulkan keinginannya. Ia ingin menjadi lebih dari sekadar teman dengan Prince.

***

BIIIP!

.

.

Patih, 1630 ord 34.66, 135.470, 3a, 75y. Farm is coming.

END 25.1


SAMBUTAN PENULIS:

Halo, teman-teman. Mungkin banyak yang baru bergabung atau baru tahu tentang Subject 09, ya. Atau mungkin ada yang bingung ini sebenernya cerita apaan. Hehehe. Tak apa, kami akan menjelaskannya secara singkat, padat, dan jelas.

Intinya sih, Subject 09 yang asli itu berkisah tentang petualangan politik sekelompok orang untuk melawan hegemoni adidaya. Nah, salah satu karakternya ada yang bernama Patih, kelak lebih dikenal dengan nama sandi Prince. Perjalanan kisah Prince atau Prince’s Throne berlatar sekitar lima tahun setelah plot utama Subject 09 berakhir (2026), sedangkan plot asli Subject 09 berlangsung pada tahun 2021. Jadi, semua cerita yang berhubungan dengan Prince ini ada di masa depan.

Cerita-cerita pada Prince’s Arc memang rencananya mau dibuat lebih “ringan” agar bisa menjaring pembaca-pembaca yang tidak terlalu menyukai cerita terlalu kompleks. Kami juga menambahkan elemen drama yang lebih kental untuk para pembaca yang menyukai cerita romance-action. Kebetulan, karakter Prince ini memang masih remaja, sehingga cocok dengan persoalan-persoalan terkait asmara dan pencarian jati diri.

Kami berharap bisa menghibur teman-teman hari ini. Terima kasih sudah mau membaca cerita kami. orz


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!