24 – Prepare for the Impact [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Tuban, Jawa Tengah
Sehari setelah pembebasan Subject 09 dan Subject 03

Di sini Brigjen Dharma Syafi’i. Sejauh ini saya berhasil menghindari kejaran para agen Amerika, tetapi keberadaan saya semakin terpojok. Kita punya masalah baru. Saya mendengar dari intel kepercayaan saya bahwa ada pengkhianat di antara kita. Pasukan DSN di dalam LARAS kabarnya sudah dihabisi oleh pasukan pro-Amerika, berkat para pengkhianat yang baru saja membocorkan taktik dan strategi kepada pihak oposisi.

Mohon dengarkan: jika kalian menerima pesan ini, berarti kalian bukan pengkhianat. Katakan FOX pada teman-teman di samping kalian. Jika mereka menerima pesan yang sama, mereka akan menjawab DIAMOND. Tetapi jika mereka tidak menjawab, berarti merekalah pengkhianatnya. Tangkap dan bunuh para pengkhianat, lalu kuasai LARAS! Balaskan dendam teman-teman kita—

Rekaman yang cukup intens itu pun dimatikan. Subject 17 menekan tombol berhenti pada alat perekamnya. Ia sudah jemu mendengar suara Dharma berulang kali. Kini ia duduk di hadapan Nadia—mantan ilmuwan PIN yang berada di bawah perlindungannya—seraya mengembuskan napas panjang.

“J-jadi … rekaman inilah yang membuat perimeter DSN di luar LARAS kacau-balau … ” ujar Nadia. Gelagapan, seperti biasanya.

“Ya, begitulah,” tutur Felicia mengiyakan. “Aku sadar bahwa Adam dan Ara tak mungkin bisa selamat dengan mudah jika masih ada cecunguk-cecunguk DSN berjaga di luar LARAS. Itulah kenapa kudatangi Brigjen Dharma sekali lagi, kupukuli dirinya, dan membuat rekaman sandiwara ini.”

“Lantas kau mengirimkan rekaman ini ke dalam alat komunikasi para pasukan DSN yang berjaga di luar LARAS, seperti menyebarkan virus. Namun, tak semua personel menerima rekaman ini, sehingga terjadilah perseteruan antarsesama personel DSN. Pemikiran yang cerdik … ” Nadia mengangguk-anggukkan kepalanya. “T-tetapi, apakah DSN akan baik-baik saja setelah saling bunuh seperti itu?”

“Ah, aku tak peduli pada nasib DSN. Dharma juga sudah mati kok. Yang penting adalah Adam dan Ara berhasil kuselamatkan tanpa harus terlibat baku tembak sengit dengan perimeter di luar LARAS.”

“I-iya sih … ” Nadia menggaruk-garuk kepalanya. “Tetapi … aku senang kalian semua pulang dengan selamat. Mbak Verani dan Patih juga bahagia setengah mati sesaat setelah bertemu dengan Mas Adam lagi. Mbak Verani itu … ia sudah sempat berpikir yang tidak-tidak tentang Mas Adam, soalnya.”

Heh … ” Subject 17 tertawa mendengus. “Ia berpikir Adam sudah dicuci otak seperti Tenma dan Blade?”

“I-iya, Mbak. Kasihan sih … ia terus-menerus menangis sebelum Mas Adam pulang.”

“Ah, cewek itu … lemah sekali. Jatuh cinta membuatnya selemah itu, padahal ia sudah ikut Adam sejak lama,” jelas Subject 17 seraya berdecak sinis.

Nadia tak merespon, ia sekadar tersenyum waswas. “Tetapi … aku cukup terkejut, pada akhirnya kau tetap bekerja keras untuk menyelamatkan mereka ya, Mbak. Walaupun kalian tak akur dan tak memercayai satu sama lain, tetapi kalian memang … keluarga. Kalian semua pulang dengan selamat.”

Subject 17 memelototi Nadia dengan sorotan yang tajam. “Aku melakukannya agar tak lebih banyak subjek Project SAKTI yang menjadi zombie seperti Tenma dan Blade!” serunya seraya mengentak meja.

Nadia sempat terperanjat oleh suara benturan pada meja di hadapannya, namun ia tak merasa terintimidasi. Ia tak berkomentar atas alasan yang dilemparkan Felicia kepadanya, sekadar tersenyum tipis mengetahui bahwa wanita sesadis Felicia pun ternyata memiliki sisi penyayang.

“Bicara soal keluarga, Nadia … ” ujar Subject 17 lagi. Intonasinya sudah kembali normal. “Bagaimana dengan keluargamu? Apakah kau tidak merindukan mereka?”

“E-eh!?” Nadia terkejut.Kali ini sampai membelalakkan kedua matanya. “A-aku … aku tak tahu.”

“Katakan saja apa yang kau pikirkan tentang mereka. Di rumah ini, hanya kau satu-satunya orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga kandung,” jelas Subject 17. “Coba kau pikirkan. Aku, Adam, dan Ara … kami bertiga sudah tak punya keluarga, kami hanya memiliki diri kami masing-masing. Verani dan Patih … mereka juga sudah disangkal oleh keluarga mereka yang sebenarnya. Jadi, tak ada orang di rumah ini yang benar-benar punya keluarga selain dirimu.”

Nadia terdiam. Ia pun menundukkan kepalanya seraya memangku kedua tangan. “Ri-rindu sih, tetapi apa yang bisa kulakukan? Mereka tahu bahwa aku bekerja untuk badan intelijen. Aku sudah pernah meminta mereka untuk tutup mulut tentang pekerjaanku dan merelakan kepergianku sepenuhnya, karena bisa jadi aku memang takkan kembali … ”

“Lantas? Apa respon mereka setelah kau bilang bahwa pekerjaanmu bersifat rahasia dan berbahaya?”

“Unggg … mereka bisa menerima itu sih, tetapi mereka juga kadang-kadang meneleponku. Su-sulit untuk menggambarkan situasinya, Mbak. Kalau dibilang rindu sih tentu saja rindu, tetapi ini adalah konsekuensi dari pekerjaan yang kupilih. Lagipula, ponselku ketinggalan di kamar sewaktu kau membawaku ke laboratorium rahasia untuk mengambil penetralisir micro-transmitter. Bisa dibilang, sejak saat itu aku telah putus hubungan dengan keluargaku.”

Kali ini Felicia yang terdiam. Ia kembali menghela napas panjang, lantas berpikir sejenak. “Hmm, aku jadi merasa bersalah membawamu sampai ke sini … ”

“E-eh, jangan begitu, Mbak! Kumohon, ini semua juga pilihanku! Aku yang memintamu untuk melindungiku dari PIN. Aku tak ingin berurusan dengan PIN lagi. Mereka juga kemungkinan akan membunuhku jika berhasil menemukanku di suatu tempat, itulah kenapa aku butuh perlindungan.”

“Kau terlindungi, tetapi bagaimana dengan keluargamu?” tanya Subject 17. Suasana seketika menegang. “Sejak kau tidak masuk bekerja di LARAS, kau mungkin sudah dicari-cari oleh PIN. Dan ketika PIN tidak bisa menemukanmu di kamar kostmu … ”

Kedua mata Nadia langsung membelalak.

“Oh, tidak … keluargaku. Mereka pasti mendatangi keluargaku!” Nadia panik. Ia pun bangkit dari tempat duduknya, mondar-mandir di hadapan Subject 17, lantas menggenggam lengan sosok pelindungnya begitu erat. “A-aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu! Mbak, bagaimana ini!? Apakah keluargaku sudah mati!? Apakah mereka dibunuh!? Bagaimana ini!?”

“Itulah kenapa aku merasa bersalah, Nadia … ” gumam wanita berjilbab itu pasrah. “Mungkin aku bisa meminta bantuan seseorang untuk mengamati bagaimana kondisi keluargamu.”

“Si-siapa, Mbak? Mas Adam?”

“Tidak, tidak. Bukan dia. Bukan dari pihak kita. Bukan dari rumah ini. Aku akan menyewa orang untuk melakukan hal ini untukmu.”

“Oh … ” Nadia kembali duduk di tempatnya semula. “Lalu … apa yang akan kau lakukan jika ternyata keluargaku dalam bahaya?”

Subject 17 mengusap-usap pipinya. Berpikir. “Dalam bahaya maupun tidak, kalau mereka masih hidup, sebaiknya kita harus memastikan bahwa mereka berada di tempat yang aman.”

“Ka-kau mau repot-repot melakukan itu untukku, Mbak? Kau mau menjemput mereka dan memindahkan mereka ke suatu tempat yang aman?”

“Aku belum tahu,” ujar Felicia spontan. “Tetapi … setelah pertumpahan darah di LARAS kemarin, kurasa kita semua memang harus mencari tempat yang aman.”

Nadia menelan ludah. Ia belum bisa mengikuti arah pembicaraan Felicia, namun ia merasakan sesuatu yang tidak enak dari nada bicara sang pelindungnya. Kerut-kerut pada keningnya pun seketika tampak. Waswas.

“Semua orang mati di sana, Nadia. Apa yang kau pikir akan terjadi?”

***

Subject 09 dan Verani duduk di teras belakang rumah. Sembari memersilakan semilir angin menepuk lembut setiap kulit wajah, mereka menikmati batang tembakau yang sedikit demi sedikit dilalap api.

Verani tampak berbeda dari biasanya. Ia sudah bisa tersenyum sekarang, tetapi kedua matanya masih terlihat sembab akibat berhari-hari menangis memikirkan kepulangan Adam. Sesungguhnya, hal yang paling ia takutkan adalah hilangnya memori sang pujaan hati.

Tetapi, tidak. Adam kini duduk di sampingnya, menikmati sore bersama dengannya. Verani telah salah menduga. Airmatanya telah tertumpah sia-sia.

“Kupikir aku takkan melihat Adam lagi untuk selama-lamanya,” ujar Verani seraya mengembuskan napas kebulnya. Ia lantas memajukan posisi duduknya dan menopang kepalanya dengan luruh. “Aku pikir kau takkan lagi mengingat semua yang telah kita lalui bersama.”

“Hei … ” Subject 09 langsung menoleh ke arah wanita yang berusia delapan tahun lebih tua darinya tersebut. Ia pun mengusap-usap pundak Verani selama beberapa saat. “Sudahlah.Tak perlu dipikirkan lagi. Aku sudah pulang. Aku sudah berada di sini, denganmu, dengan ingatan yang masih sama seperti sebelumnya.”

“I-iya … aku hanya merasa waswas dengan semua cerita Nadia tentang modifikasi ingatan. Itu terdengar … sangat mengerikan jika sampai terjadi padamu.”

“Tidaklah. Felicia datang tepat waktu.”

Verani mengangguk luruh. “Tetapi … memangnya kau benar-benar disiksa, ya? Kata Nadia, prosedur modifikasi ingatan itu dimulai dengan penyiksaan, seperti pemukulan, penyetruman, hingga penyiksaan psikologis … ”

“Iya, benar. Tetapi, aku baru sampai disetrum dan disuntik obat-obatan aneh.Belum ke tahapan selanjutnya, karena tahapan selanjutnya itu benar-benar bisa membuatku gila.”

“E-eh, mengapa?”

“Aku akan dipaksa mendengarkan lagu dan suara yang terdistorsi selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Itu menyiksa batin dan psikologis. Di saat itulah kewarasan dan kendali atas dirimu sendiri akan diuji. Percayalah, tak ada orang yang mau melakukan ini.”

“Uuu … ” Verani meringis menahan pilu. “I-itu tak sampai terjadi padamu kan? Benar-benar tak terjadi?”

“Hampir … ” Subject 09 tersenyum tipis. “Tetapi tidak sampai terjadi. Kita harus berterimakasih pada Felicia untuk itu.”

Verani bisa bernapas lega.

“I-iya, aku benar-benar merasa tak cukup hanya dengan mengucapkan terimakasih sekali saja kepada Felicia. Ia telah menyelamatkan apa yang sangat ingin aku selamatkan. Aku berutang padanya,” papar Verani.Ia lantas terdiam sejenak. “Kau harus belajar memercayainya, Adam. Ia adalah saudari terbaikmu.”

Subject 09 mendengus seraya tersenyum tipis. Ia lantas kembali mengisap rokoknya. “Aku percaya padanya, Ve. Kita semua percaya padanya … ”

Tatapan heran terlempar pada Adam. Kening Verani sampai berkerut. “Tetapi, aku pernah mendengar kau dan dia mengatakan hal semacam trust no one terhadap satu sama lain. Itu terdengar menyedihkan.”

Trust no one bukan berarti kita tak boleh percaya pada siapa pun,” Subject 09 menjeda pemaparannya. “Trust no one itu berarti kau tidak boleh memercayai adanya kepercayaan absolut terhadap sesama manusia. Tidak ada yang abadi pada istilah kepercayaan, selalu ada peluang untuk saling berkhianat, bahkan kau sendiri dikhianati oleh keluargamu sendiri, kan?”

“Jadi … maksudmu … semua orang selalu punya kemungkinan untuk berkhianat, ya?”

“Ya, begitulah.”

Verani menundukkan kepalanya. Ia tertegun. Kehidupan memang tak pernah terasa manis untuk didengar, paling tidak baginya. “Aku berharap kau, Felicia, Ara, dan Nadia tidak begitu. Semua hanya kemungkinan, kan? Itu artinya tidak pasti akan berujung seperti itu.”

“Ya. Kuharap juga demikian … ”

Keheningan pun bersabda, membisukan dua insan yang duduk menikmati sore di teras tersebut.Cericip burung sesekali terdengar, mengantar angin terbang melintasi ruang dan waktu.

“Adam … aku tahu aku harus menerimamu apa adanya dan menerima segala kenyataan tentangmu,” Verani melanjutkan.”Akan tetapi, bolehkah untuk sekali ini saja aku membuat permintaan?”

Subject 09 tak merespon. Ia sekadar menatapi wanita berambut ikal di sampingnya.

“Bisakah … ” wanita beranak satu itu ragu-ragu. Ia takut untuk mengungkapkan pertanyaannya. “Bisakah kau tinggal dengan kami untuk beberapa waktu mendatang? Tanpa tembak-tembakan, tanpa perkelahian, tanpa politik, tanpa aparat, dan sebagainya?”

Adam, buronan nomor satu republik itu pun menghela napas panjang seraya membuang puntung rokoknya di atas asbak. “Tentu saja. Lagipula, memang harus begitu. Selama beberapa waktu ke depan, aku akan tinggal di sini, tanpa perseteruan dan sebagainya, untuk menjagamu.”

“Oh, serius? Kau tidak akan mengejar-ngejar politikus lagi dan mencari tahu motif pembantaian tempat tinggalmu dulu?”

“Itu bisa diselesaikan nanti. Lagipula aku sudah tahu siapa yang menyimpan rahasia tentang itu … ” Subject 09 merespon santai. “Sesuatu akan terjadi, Ve. Dan aku tak mau kau melewati kekacauan itu tanpa penjagaanku.”

“E-eh … intinya tetap ada hubungannya dengan pertahanan dan keamanan, ya?”

“Ya … laboratorium tempatku disandera kacau-balau. Seluruh pegawainya tewas. Pasukan penjaga di sana saling bunuh. Korban pun berjatuhan, termasuk dari pihak Amerika. Mereka juga membunuh para ilmuwan, baik ilmuwan Indonesia maupun Amerika. Semua pegawai yang bekerja di sana adalah orang-orang terbaik dan semuanya hilang begitu saja. Kau bisa membayangkan betapa marahnya pemerintah Amerika jika sampai mendengar hal ini—dan aku yakin mereka sudah mendengarnya.”

“Oh … ” Verani tercengang. Ia pun menutup mulutnya, mengekspresikan rasa tak percayanya. “La-lalu, apa yang akan terjadi? Perang?”

“Tidak, tidak … tidak akan sampai sejauh itu … ” Adam menggeleng-gelengkan kepalanya. “Amerika takkan mengambil risiko itu. Mereka sudah punya banyak masalah dengan negara-negara lain. Paling banter, mereka akan menggunakan proxy untuk mengacaukan suasana di negara kita.”

Proxy?”

“Ya. Orang-orang suruhan.Orang-orang bayaran. Pasukan boneka,” jelas Subject 09. “Contohnya seperti teroris, separatis, atau bahkan penyebar berita hoax yang didanai oleh Amerika, baik secara langsung maupun tidak langsung.”

“Waduh … ” Verani terdengar waswas, tetapi tak seberapa. Adam berada di sisinya sekarang.”Dampaknya bagaimana? Apakah akan sampai ke sini?”

“Kuharap tidak. Tetapi, selama Amerika belum selesai beroperasi, sebaiknya kita jangan ke mana-mana. Pergerakan proxy akan jauh lebih tak terduga dibandingkan personel Amerika, karena proxy berasal dari kalangan kita, lebih susah terlacak.”

Verani terdiam. Ia menghela napas panjang seraya memberikan isapan terakhir pada batang tembakaunya. Tak ada ujaran apa pun setelahnya, ia tengah merenungkan kondisi-kondisi yang akan terjadi.

“Kalau pun ada proxy Amerika yang berani beraksi di sekitar ini, aku sendiri yang akan memastikan kematian mereka sebelum berhasil mencelakakan orang lain.”

***

Jakarta, 17.02

Bau obat.

Johan, perwira muda Kopassus itu membuka kedua matanya perlahan.Ia terjaga akibat mencium bau obat-obatan. Langit-langit polos berwarna putih adalah hal pertama yang ia lihat sesaat setelah membuka kedua matanya. Seketika itu ia tersadar bahwa dirinya sedang terbujur di rumah sakit.

Johan menarik napas panjang dan mencoba menggerakkan setiap ruas tubuhnya. Tak ada yang salah. Semuanya terasa normal. Satu-satunya yang terasa linu adalah lehernya. Bukan patah, ia sangat yakin akan hal itu, tetapi ototnya terasa sangat linu. Sepertinya itu adalah efek dari pukulan sosok kriminal misterius beberapa malam lalu. Tenaganya terlalu gila.

Sebuah pertanyaan lantas terbesit di dalam benak sang perwira muda. “Sudah berapa lama aku dirawat di sini?” Ia lantas mendudukkan tubuhnya dan berusaha memahami situasi yang tengah menjeratnya. Akan tetapi, belum sempat ia merogoh jawaban, ia malah dikejutkan dengan kehadiran orang nomor satu di Indonesia di hadapannya. Presiden Darsono.

“Halo, Johan … akhirnya kau sadar juga,” ujar sang presiden santai. Ia duduk sendiri, tanpa ditemani oleh para pengawalnya, bersama dengan Johan seorang diri.

“Pak Darsono … ” sapa Johan gugup. “Apa yang Anda lakukan di sini? Anda seharusnya bekerja sekarang.”

“Aku sedang bekerja, Kapten,” ujar Darsono santai. “Memastikan kau selamat adalah salah satu pekerjaanku.”

Johan mengusap-usap tengkuknya seraya menahan linu yang begitu mencengkeram di sekitar lehernya.”Ah … sudah berapa lama aku tergeletak di tempat ini?”

“Baru sehari. Kau ditemukan pingsan oleh tim gabungan Paspampres, TNI-AD, dan Polri di dalam LARAS. Kau dan dua utusanku tidak bisa kuhubungi, jadi kuputuskan untuk mengirim pasukan besar-besaran ke dalam LARAS.Tadinya aku tak mau melakukannya, karena terkesan seperti mau berperang, itu akan membuat media dan masyarakat heboh.”

Usapan Johan pada leher dan tengkuknya melambat. Ia lantas mengembuskan napas panjang. “Aku minta maaf telah membuat dua utusanmu tewas. Kau harus tahu—”

“Aku sudah tahu, Johan. Timku menemukan mereka di Wisma 46.”

Johan terdiam. Ia merasa bersalah. “Maaf, Pak. Aku sudah gagal melaksanakan tugas dan membuat dua utusanmu tewas.”

“Bukan salahmu,” Darsono tak setuju. Ia bersikukuh memertahankan kehormatan Johan. “Apa yang terjadi di LARAS semalam lalu memang sangat gila dan tak terkontrol. Timku bahkan menemukan fakta bahwa pasukan DSN saling bunuh tadi malam. Gila. Dengan situasi sekacau itu, aku takkan menyalahkanmu jika kau gagal. Lagipula, apa pun yang kau lakukan, hasilnya tetap sama. Tetap ada orang-orang yang mati di sana. Washington tetap tidak senang.”

“Hmm … ” kapten Kopassus itu mendeham. “Apa yang sebenarnya terjadi pada DSN? Mengapa mereka saling bunuh seperti itu?”

“Katanya, itu semua akibat perbuatan si subjek berjilbab Project SAKTI yang menyebarkan hoax ke sejumah personel DSN.”

“Subjek berjilbab?” tanya Johan. “Saudari Adam yang merepotkan itu?”

“Ya, benar. Jadi, menurut intelku, ada rekaman suara Brigjen Dharma yang isinya mengadu domba antarsesama personel DSN. Lantas, terjadilah pertempuran antarpersonel yang terprovokasi.”

“Si brengsek itu … jangan bilang kalau dia menyiksa Dharma untuk bersandiwara di depan sebuah alat perekam?”

“Tepat, Kapten. Kami menemukan Dharma di sebuah rumah kosong. Tewas. Terdapat tanda-tanda penganiayaan juga. Jadi, hipotesisku sama denganmu: ia disiksa, kemudian dipaksa untuk bersandiwara, lalu sandiwara itu direkam untuk disebar ke sejumlah personel DSN. Licik, tapi efektif membuat perpecahan.”

Johan terdiam sejenak.Ia tertunduk, mengerat gigi-giginya, lalu kembali menatapi sang pimpinan negara. “Bagaimana dengan subjek-subjek Project SAKTI yang dijadikan bahan eksperimen di sana?”

“Mereka tidak tersentuh sama sekali. Aman. Hanya Adam dan saudara berparas cantiknya yang kabur. Sisanya masih terkurung di tempat masing-masing.”

“Semua?” Johan menyangsikan pernyataan Darsono. “Aku dan timku dihajar oleh seseorang tak dikenal. Bahkan Tenma dan Blade yang merupakan mantan anggota Project SAKTI babak belur menghadapinya. Aku menduga sosok ini adalah Jurig, subjek yang dikontrol langsung oleh Mayjen Riyadi. Pertanyaannya adalah kenapa dia bisa ada di LARAS? Riyadi … kita tak bisa memercayai—”

“Tidak, Johan. Kita tak boleh mengambil kesimpulan secepat itu.Tim Paspampres sudah menemukan Jurig kemarin. Ia masih berada di safehouse rahasia Riyadi, aman di dalam tabung pembekuan … ” Darsono lantas bangkit dari tempat duduknya. “Di saat yang sama, Paspampres juga menemukan rekaman video penculikan terhadap Riyadi. Ia dihajar habis-habisan oleh seorang wanita berjilbab. Kurasa kau sudah tahu siapa dirinya.”

Lagi-lagi Johan terjerat dalam kebisuan. Keningnya berkerut. Ia sudah meragukan atasannya sendiri, tetapi Darsono justru menemukan bukti bahwa Riyadi sama sekali tak terkait dengan kejadian di dalam LARAS. Ia jadi bingung.

“Jadi … orang yang menghajar timku adalah orang yang sama dengan orang yang menculik Riyadi; saudari Adam yang berjilbab itu? Dia juga yang membuat semua konspirasi ini?” Johan sangat ragu, tetapi hanya itu satu-satunya jawaban yang bisa mengisi kegundahan dalam hatinya.”Tidak, tidak mungkin. Ia pernah bertarung dengan Tenma sewaktu di Pasuruan dan kelihatannya seimbang,” lanjutnya berbisik.

“Kau mengatakan sesuatu, Kapten?”

“Unggg, tidak. Tidak, Pak.”

“Intinya, aku tak mau kau meragukan atasanmu sendiri. Ia memang kelihatan tak terprediksi, tetapi sebenarnya ia adalah orang yang sangat loyal terhadap tugas negara. Aku memercayainya. Ia pun sering berbeda pandangan denganku, tetapi ia tak pernah gagal dalam menjalankan tugas,” papar Darsono. “Untuk saat ini, telanlah dulu kenyataan bahwa kau dikalahkan oleh subjek terakhir Project SAKTI yang belum tertangkap itu dan aku memakluminya.Apalagi situasinya sangat kacau semalam.”

” … ” Johan menuruti kata-kata sang presiden. Tak ada opsi lain yang bisa ia ambil saat itu. “Bagaimana dengan timku, Pak? Aku belum melihat mereka. Kita hanya berdua di sini.”

“Mereka ada di ruangan yang berbeda. Kondisi mereka stabil. Semuanya. Dua subjek Project SAKTI yang kau bawa bertugas malah sudah sadar sejak pagi tadi, kini mereka menunggu di luar bersama Paspampres dan beberapa personel aparat yang sengaja diundang kemari.”

“Heh, syukurlah … ” perwira muda Kopassus itu bisa bernapas lega sekarang. “Jadi, kau benar-benar ingin bertemu secara empat mata denganku, sampai repot-repot merawatku di ruangan yang terpisah seperti ini.”

“Benar. Permasalahannya semakin rumit, Johan. Aku butuh orang yang bisa diandalkan saat ini,” jelas Darsono.Ia duduk kembali di kursinya. “Aku memang punya Paspampres dan bisa mengendalikan pasukan lain saat ini, tetapi aku butuh sosok yang bisa diandalkan. Dan kau … kau sudah terbukti bisa diandalkan, bahkan pencapaianmu bisa masuk ke dalam LARAS saja sudah sangat luarbiasa.”

Johan menghela napas panjang. Entah kenapa, ia malah merasa jauh dari ekspektasi sang presiden. “Memangnya … apa yang harus kulakukan selanjutnya?”

“Kau sadar apa konsekuensi dari tragedi berdarah di LARAS semalam kan?”

Keheningan menyelimuti Johan selama beberapa saat. Kapten baret merah itu hanya bisa menatapi kedua bola mata sang pimpinan negara. Namun, ia ingin memastikan bahwa hipotesis dalam benaknya adalah benar. “Washington … marah?”

Darsono menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa mendengus. Ia sinis terhadap kondisi yang akan dihadapinya. “Kau tahu? Utusan rahasia Washington semalam datang ke istana. Dia bukan CIA, bukan USSA, pokoknya bukan dari institusi resmi Amerika, tetapi aku tahu ia punya posisi yang jauh lebih tinggi ketimbang Presiden Trent.”

Dark state… ” terka Johan spontan.

“Betul. Ia datang dan … mengancamku,” ujar presiden ragu.”Tidak. Ia mengancam kita. Indonesia.”

***

Istana Negara, 04.12
Semalam sebelumnya
Bersamaan dengan insiden LARAS

“Johan, brengsek! Kenapa anak ini tak bisa dihubungi!?” Darsono berjalan mondar-mandir di belakang meja kerjanya.Ia terlihat sangat panik. Bulir-bulir keringat bahkan tampak begitu jelas pada kulit wajahnya, menandakan bahwa emosinya mulai tak terkendali.

“Pa-Pak Darsono … ” salah seorang anggota Paspampres di sana berupaya untuk menawarkan solusi. “Tidakkah lebih baik Anda memerintahkan pasukan untuk bergerak ke sana? Kalau benar Johan tertangkap dan dibunuh, itu tandanya kita harus mengambil jalan yang terburuk. DSN sudah bertindak keterlaluan, kita harus melawan mereka dengan kekuatan penuh. Anda bisa mengambil alih—”

“Sebentar, Sersan … biarkan aku berpikir lebih jernih! Aku tahu soal posisiku sebagai pemegang kuasa atas angkatan perang Indonesia, tetapi biarkan aku berpikir!” Darsono memberikan isyarat dengan tangannya agar tak memotong aktivitasnya.

Selagi Darsono bergelut dengan pikirannya, seorang perwira Paspampres tiba-tiba saja merangsak masuk ke dalam ruang kerja presiden.Ia terdengar gelisah, seakan ada orang yang mendesaknya untuk melakukan perbuatan yang tak disukainya. “Pak Presiden, maaf jika saya mengganggu—” katanya terengah-engah.

Mister President … ” sesosok pria berpakaian formal tiba-tiba memotong pembicaraan sang perwira dan nyelonong masuk ke dalam ruang kerja presiden. Ia berbicara dalam Bahasa Inggris. “Kupikir Anda sudah tahu siapa saya dan mengapa saya ada di sini,” lanjutnya.

“Hei, kau! Jangan masuk sembarang—”

“Letnan, biarkan!” Darsono sontak memerintahkan perwira Paspampresnya untuk mundur. Ia mengibaskan tangannya dengan tegas, mengisyaratkan agar tak ada orang yang boleh menyentuh si pria misterius.

Paspampres pun menuruti perintah presiden, langsung berhenti di tempat mereka masing-masing berdiri.

“Aku butuh berbicara dengan situasi tenang, Mister President. Kau bisa menyuruh anak-anakmu keluar sebentar? It’s not gonna take long,” ujar sang pria misterius.Ia tak butuh waktu lama untuk bertukar kata.

Darsono menatapi para personel Paspampres yang berdiri di sekitar sana. Ia merasa kehilangan kuasa dan wibawa, namun ia tak punya pilihan lain. Pria misterius di hadapannya dianggap jauh lebih penting dari siapa pun yang berada di dalam ruangannya.Ia lantas memberikan isyarat kepada para pengawalnya untuk keluar ruangan sejenak.

Sekali lagi, Paspampres menuruti perintah Darsono tanpa banyak tanda tanya. Mereka pun keluar dari ruangan, meninggalkan orang nomor satu republik dengan sesosok pria asing tak dikenal.Waswas, tetapi itu adalah perintah langsung presiden, mereka tak punya pilihan.

Let me guess … ” ucap Darsono lirih. “Kau utusan Washington.”

You’re right, Mister President,” jawab sang pria menyeringai.

Official?” Darsono ingin meyakinkan dirinya, apakah pria di hadapannya merupakan utusan resmi pemerintah AS.

Of course, not … ” pria formal itu pun merogoh-rogoh tas jinjingnya. Ia tengah mencari sebuah dokumen penting di dalam tasnya. “Kami tidak pernah resmi.”

Kami?

“Yep,” pria misterius tersebut lantas menyodorkan sebuah dokumen tipis kepada Darsono. “Aku hanya salah satu perwakilan di Indonesia. Masih banyak orang sepertiku di seluruh dunia, mewakili bos-bos yang juga tidak resmi di Washington.”

So, you’re … ” Darsono menerka-nerka seraya menerima dokumen yang disodorkan kepadanya. “Kau jauh lebih tinggi daripada pemerintah mana pun, dugaanku. Bahkan jauh lebih tinggi dari Presiden Trent.”

Sang pria hanya tersenyum kecut, lalu berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung.

Darsono tak ingin mengindahkan diamnya sang pria, ia pun membuka-buka dokumen yang baru saja disodorkan kepadanya. Keningnya berkerut.Ia sedikit bingung dengan isi laporannya, sebab formatnya berbeda dengan laporan rahasia yang biasa ia terima.

What’s this?” tanya Darsono penasaran. Ia menanyakan arti dari dokumen yang diserahkan kepadanya. “Aku tak mengerti. Ini hanya kumpulan nama, seperti nama-nama kelompok atau organisasi. Aku tak bisa mengikuti maksud dari kedatanganmu maupun dokumen yang kau tunjukkan kepadaku ini.”

Sang pria tak merespon, senyumannya justru melebar. Ia lantas mengambil kembali dokumen rahasia yang sempat ia serahkan kepada orang nomor satu Republik Indonesia tersebut. Darsono tak melawan, ia membiarkan sang pria mengambil dokumennya kembali.

“Semua nama yang ada di dalam dokumen hitam ini adalah nama-nama individu atau organisasi atau kelompok atau perusahaan yang berpotensi akan menimbulkan kekacauan di Indonesia karena ketidakpuasan mereka terhadap negara,” papar sang pria misterius. “Pemicunya bermacam-macam, mulai dari faktor agama, faktor politik, faktor ekonomi, hingga faktor sosial. Mereka hanya butuh pendorong agar mampu melakukan kekacauan berskala nasional.”

Darsono menyipitkan kedua matanya. Kedua lututnya sampai melemas mendengar pemaparan singkat dari pria berjas hitam di hadapannya. Ia pun bersandar di depan meja kerjanya. “Meaning?” ia masih bertanya tentang maksud sang pria.

“Artinya adalah kau harus bersiap-siap menghadapi ‘ombak’ yang akan datang, Mister President,” sang pria berjalan mundur beberapa langkah. “Setelah kau melihat dokumen berisi nama-nama ‘penting’ ini, kau tentu berpikir: apa yang akan terjadi pada negara ini jika semuanya menggila dalam satu waktu yang sama?”

Darsono terenyak. Napasnya yang memburu menjadi satu-satunya bahasa yang bisa ia hanturkan kepada lawan bicaranya. Ia ingin merespon, tetapi apa?

Why?” Darsono menyempatkan diri untuk bertanya sebelum sang pria keluar dari ruangan. “Mengapa kau membeberkan hal ini kepadaku?”

“Oh, kami tidak sejahat yang kau bayangkan, Mister President. Kami memberitahukan hal ini agar kau bisa menyiapkan diri sebelum badai menerpa. Yang kami rahasiakan hanyalah kapan, dari mana, dan bagaimana cara kami melakukannya,” jelas sang pria lagi. “Bukankah kami selalu begitu? Memberikan petunjuk-petunjuk sebelum membedah suatu negara?”

Darsono terdiam sejenak, masih tak puas dengan penjelasan sang pria. “Dan jika aku gagal menahan ‘hukuman’ yang kalian berikan kepada kami?”

Then, step aside … ” kata sang pria dingin. Ia mengancam agar presiden menyingkir jika gagal menahan derasnya arus cobaan. “Kami akan memilih orang baru untuk meneruskan bisnis-bisnis Washington yang belum selesai di sini.”

Kali ini Darsono benar-benar dibuat bisu seribu bahasa, tak mampu berbicara sepatah kata pun.

Sang pria misterius bertolak, ia berjalan menuju pintu keluar ruangan. “Ingatlah, Mister President … malam ini, anak-anak terbaik kami mati di dalam laboratorium terkutukmu. They’re the best of the best. Dan mereka mati dibantai oleh anak-anakmu. Itu memang bukan bagian dari kesalahanmu. Kau sendiri memerlihatkan tekad untuk memerbaiki keadaan, tetapi, bayangkan … ”

Hening.Tak ada ucap, tak ada kata.Sang pria menahan genggamannya di atas gagang pintu.

“Apa yang akan kau rasakan jika kau menjadi kami; melihat anak-anak terbaik kami mati begitu saja di negeri orang lain?” tanya sang pria dingin.

” … ”

Akhirnya Darsono mengerti. Orang-orang yang berkuasa di Washington marah besar atas insiden yang terjadi di dalam LARAS. Meskipun aksi pembersihan yang diorkestrakan oleh DSN bukan merupakan perintahnya, tetapi kematian puluhan hingga ratusan pegawai asing di dalam LARAS akan terasa memilukan bagi negara yang memerkerjakan mereka.

Darsono berusaha menempatkan dirinya seperti orang-orang di Washington dan membayangkan jika anak-anaknya yang mati, dibunuh oleh institusi resmi negara asing … rasanya begitu menyayat hati. Selepas sang utusan Washington keluar dari ruangan kerja presiden, Darsono pun terduduk luruh di atas mejanya dan memijit-mijit keningnya dengan intens.

Pembicaraan di malam itu akan mengantarkan negara yang dipimpinnya ke dalam bencana.

***

Washington DC, Amerika Serikat
20.13

Ruangan bernuansa formal itu menjadi saksi berkumpulnya sejumlah politisi penting Amerika Serikat untuk membahas kondisi geopolitik terkini. Ukuran ruangan itu memang tidak terlalu besar, namun memiliki kesan superformal, ditambah dengan beberapa bendera Amerika Serikat berjejer di beberapa sudutnya. Orang-orang yang melakukan pembicaraan di dalamnya tidak pernah mengenal kata bercanda, segalanya terasa begitu intens.

Malam itu, ketegangan mencapai puncaknya. Seorang jenderal bintang tiga yang menghadiri rapat terlihat ngotot menyampaikan gagasan. Tak seperti anggota rapat lainnya, ia tak ingin duduk manis, malah berjalan mondar-mandir di sekitar ruangan seraya berteriak-teriak memaksakan pendapatnya.

General Eliott … please calm down,” sahut sang pimpinan rapat, ia berusaha menenangkan sosok jenderal bintang tiga yang mengamuk di hadapannya. Dari namanya, jelas bahwa perwira tinggi tersebut merupakan komandan tertinggi Joint Special Operations Command (JSOC)—pasukan gabungan yang ditugaskan di LARAS, Indonesia.

“Tenang?” tanya Eliott seraya berjalan mendekati mejanya. Ia lantas mengentakkan kedua tangannya di atas meja. “Tenang bagaimana!? Kau baru saja mengatakan bahwa kita tak perlu berperang dengan Indonesia, padahal mereka sudah jelas membantai anak-anak terbaik Amerika Serikat! Anak-anakku … mereka mati di sana hanya dalam waktu satu malam, Indonesia harus dihukum setimpal atas apa yang mereka lakukan kepada kita!”

General Eliott … ” sekali lagi sang pimpinan rapat memanggil. Nada bicaranya tetap tenang. “Kau sadar apa yang mereka lakukan di sana, kan? Anak-anak kita berada di Indonesia untuk menjalankan operasi hitam, artinya semua yang mereka lakukan tidak resmi. Ketika mereka meregang nyawa, itu risiko. Apakah kau marah akibat jumlah kematiannya sangat tinggi? Itu yang kau gusarkan?”

“Pak, dengan segala hormat … mereka dibunuh tanpa alasan yang bisa kuterima! Kita sama sekali tidak menyerang atau melakukan tindakan provokatif terhadap orang-orang Indonesia yang barbar itu, tidak sedikit pun, tetapi mereka tiba-tiba saja membantai pasukan kita! Bagaimana aku tidak gusar, hah!?”

“Duduklah, Jenderal … ” sang pimpinan rapat menyuruh Eliott untuk duduk, ia memberi isyarat dengan tangannya. “Kita luruskan masalah ini dengan tenang, sebab aku sendiri belum selesai membicarakan soal insiden di dalam LARAS.Kau tiba-tiba saja marah dan memotong penjelasanku, Jenderal.”

” … ” Eliott tak sanggup berargumen. Ia masih terlihat gusar, namun tak ingin membangkang perintah sang pimpinan rapat. Ia tahu pembangkangan hanya akan menjebak dirinya di dalam masalah. Akhirnya, ia pun kembali duduk di kursinya dengan napas yang memburu.

Seketika itu, ruangan terasa sepi.

“Baiklah, kita akan lanjut membicarakan insiden pembantaian yang terjadi kemarin,” sang pimpinan rapat melanjutkan jalannya dialog dengan tenang. “Aku ingin mendengar pernyataan dari direktur CIA terlebih dahulu: apa yang sebenarnya terjadi di dalam LARAS? Mengapa anak-anak terbaik kita dari Delta, DEVGRU, dan 24th STS [1] hancur berantakan hanya dalam waktu yang begitu singkat?”

NB: [1] Pasukan terelit US Air Force (Angkatan Udara Amerika Serikat)

“Sebenarnya masalah ini berawal dari keputusan salah satu detasemen elit di Indonesia untuk menyerang pasukan Amerika … ” papar sang direktur CIA, Robert Brand. “Detasemen Sandi Negara atau biasa disingkat DSN, namanya. Mereka merupakan pasukan paling elit di Indonesia yang berada di bawah kendali Pusat Intelijen Negara,” lanjut Brand.

“Masalah apa?”

“Mereka menyerang karena menganggap kita akan menguasai para subjek Project SAKTI sepenuhnya. Mereka menyamakan hal tersebut dengan penjajahan, sehingga mereka pun memberontak.”

Seluruh anggota rapat saling tatap, beberapa di antaranya bahkan saling bertukar bisikan.

“Mereka pernah punya rekam jejak melawan institusi pemerintah sebelumnya?” tanya sang pimpinan rapat lagi.

“Sejauh ini belum ada yang major, tetapi mereka memang punya kecenderungan bergerak secara independen. Loyalitas mereka lebih tinggi ke pimpinan sendiri dibandingkan ke pemerintah RI.”

So, that’s the problem … ” kata sang pimpinan rapat seraya mengusap dagu. Ia mengira bahwa sumber masalahnya adalah pasukan DSN lebih loyal terhadap pimpinan sendiri. “Aku menduga ini ada hubungannya dengan pimpinan DSN. Apa itu, Brand?”

“Errr, ini agak sedikit sulit untuk dijelaskan,” ujar Brand. “DSN memang diperintahkan oleh Brigadir Jenderal Dharma Syafi’i untuk melakukan penyerangan, akan tetapi, ini juga tidak bisa dibilang merupakan perintah dari Dharma secara langsung … ”

What’s your point?” sang pimpinan rapat menanyakan maksud dari penjelasan Brand yang berbelit-belit.

“Maksudku … Jenderal Dharma tidak benar-benar menginginkan perintah itu keluar,” kata Brand ragu-ragu. “Ia dipaksa oleh seseorang untuk memerintahkan personel DSN membantai orang-orang Amerika di dalam LARAS.”

“Dipaksa? Disiksa, maksudmu?”

“Benar, Pak.”

“Siapa yang menyiksanya?”

“Subjek terakhir Project SAKTI yang belum tertangkap oleh pemerintah RI. Ini merupakan data dari badan intelijen di Indonesia.”

“Hmm … ” sang pimpinan rapat pun memiringkan posisi duduknya seraya bersandar luruh di atas kursinya. Ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Tujuannya apa?”

Brand mulai waswas.Ia pun membuka-buka dokumen yang tersebar di atas mejanya. “Errr, menurut intelijen Indonesia, ia melakukannya untuk membuat kekacauan di dalam LARAS dan menyelamatkan dua saudaranya yang ditangkap di Jombang; Adam dan Ara.”

“Hasilnya?”

“Adam dan Ara hilang dari meja eksperimen LARAS.”

Sang pimpinan rapat mengusap-usap dagunya. “Cerdik. Satu orang itu sanggup membuat kerusuhan tiada tara dan membuat orang-orang terbaik meregang nyawa.”

But, sir … ” salah seorang jenderal yang juga mengikuti jalannya rapat menginterupsi. Dari suaranya, semua orang tahu siapa yang sedang berbicara, yakni Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, Jenderal Tom Yeager.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, aku merasa ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin semua orang yang bertugas di sana mati? Pasukan yang ditugaskan di sana punya kemampuan untuk menangkal tantangan paling mustahil sekalipun. Mereka adalah anak-anak paling eksepsional sedunia. Jika hanya beberapa orang yang mati, aku bisa memakluminya, tetapi kalau semua? Tidak masuk akal, Pak,” ungkap Yeager.

Letjen Eliott dan beberapa jenderal lain yang berada di bawah naungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyetujui pernyataan Yeager. Mereka juga tidak bisa menerima fakta bahwa pasukan mereka baru saja dikalahkan oleh pasukan negara dunia ketiga seperti Indonesia. Pasti ada hal lain yang membuat para personel LARAS tewas. Gas beracun, mungkin?

Sang pimpinan rapat terdiam sejenak.Ia pun memikirkan hal yang sama dengan sang jenderal. Tak pelak, matanya kembali tertuju kepada direktur CIA. “Brand, bisakah kau jelaskan segalanya kepada teman-teman militer kita? Aku juga merasa kematian massal ini tidak masuk akal. Gas beracun? Bahan kimia?”

“Soal itu … ” Robert Brand kembali angkat bicara. Ia mengembuskan napas panjang sebelum mulai kembali menguak fakta tentang kematian para personel JSOC di dalam LARAS. “Aku mendapatkan data transmisi terakhir dari anggota CIA yang bertugas di dalam LARAS, bahwa pembantaian dilakukan oleh sesosok pria misterius. Ia membunuh semua orang tanpa terkecuali, hanya dengan bermodal senjata ringan dan tangan kosong.”

BULLSHIT!” Eliott kembali naik pitam. Ia bilang, omong kosong. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung bangkit dari kursinya dan mengagetkan seisi ruangan dengan sebuah pukulan di atas meja. “Brand, kau jangan mengarang-ngarang cerita! Ini dunia nyata! Bukan komik! Bukan novel! Mana mungkin pasukan paling eksepsional sedunia mampu terkalahkan oleh satu orang saja!? Kau mengigau!? Bahkan Adam, subjek Project SAKTI yang sering kalian sebut-sebut itu, tidak bisa selamat dari serbuan tanpa persenjataan dan perlengkapan yang cukup mumpuni!”

“Eliott, aku tahu kau sulit memercayainya, tetapi ini benar-benar transmisi terakhir yang dikirim oleh anggotaku—” Brand berkilah, membela diri.

“Anggotamu pasti kena PTSD [1]! Dia hanya berhalusinasi!”

NB: [2] Post Traumatic Stress Disorder. Merupakan gangguan psikologis setelah mengalami atau melihat hal-hal yang sangat traumatis, seperti peperangan atau pembantaian.

“Dia? Yang melaporkan ini ada banyak, Eliott! Tidak hanya satu orang!”

“Kalian … ” sang pimpinan rapat pun berusaha mengendalikan forum yang mulai tak terkendali. “Jika kalian tidak bisa diam, aku akan membuat hari-hari kalian tak menyenangkan. Bagaimana? Mau duduk atau tidak?”

Semua peserta yang berseteru langsung berdiri mematung dan menatapi sang pimpinan rapat dengan intens. Begitu saja yang terjadi selama beberapa saat. Hening seketika waktu. Tak lama kemudian, mereka pun kembali duduk di tempat mereka masing-masing.

“Aku akan berasumsi bahwa pengakuan para anggota CIA di dalam LARAS benar. Pertanyaannya adalah siapa yang punya kemampuan semacam itu?” tanya sang pimpinan rapat.

“Subjek Project SAKTI adalah hipotesis paling kongkret yang kupunya, Pak.”

“Siapa? Subjek terakhir yang belum pernah tertangkap itu?”

“Bisa jadi.”

Sang pimpinan rapat kembali terdiam. Ia pun menghela napas panjang sebelum mulai kembali memuntahkan solusi untuk insiden berdarah di dalam LARAS. Beberapa saat setelahnya, ia kembali duduk pada posisi serius dan membuat semua orang memerhatikannya.

Allright, fellas … kita sudah mendengar sebab dan akibat dari insiden di LARAS kemarin. Semuanya memang terdengar ganjil dan tak masuk akal, tetapi kita tak punya pilihan lain selain menelan seluruh fakta yang saat ini terpampang di depan mata kita. Terima saja dulu, paling tidak untuk sementara waktu,” papar sang pimpinan rapat. “Meski demikian, aku takkan menyangkal bahwa anak-anak terbaik kita jelas-jelas dibunuh di Indonesia, secara mendadak, tanpa sedikit pun tercium oleh pihak intelijen. Aku tak ingin berdebat siapa pelakunya, aku hanya ingin membicarakan apa yang harus kita lakukan untuk merespon kejadian ini.”

Mendengar pemaparan yang tegas dari orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut, para jenderal pun bisa bernapas lega. Mereka merasa diberi tempat dan peluang untuk mengekspresikan diri. Eliott, Yeager, dan beberapa jenderal lainnya pun mulai bisa saling berbisik, ketegangan telah dianggap mencair.

“Meskipun aku tidak setuju dan tidak akan pernah setuju dengan opsi peperangan, tetapi aku setuju dengan poin yang dikatakan oleh Eliott tadi: Indonesia harus dihukum,” lanjut sang pimpinan rapat. “Ini memang bukan kesalahan Presiden Darsono secara langsung, tetapi ia punya andil atas kematian anak-anak terbaik kita di negaranya. Ia punya kuasa atas angkatan perangnya dan ia sama sekali tak menggunakan peluang tersebut untuk menahan konflik. Jadi, ia dan negaranya harus menerima hukuman yang setimpal.”

Para anggota rapat pun saling menganggukkan kepala.Tersenyum. Mereka merasa sangat puas mendengar ketegasan sang pimpinan. Kini, mereka hanya tinggal menunggu keputusan akhir sang pimpinan rapat untuk membalas insiden yang terjadi semalam lalu.

“Aku minta militer dan intelijen bekerjasama untuk mengaktifkan proxy-proxy yang punya potensi rusak cukup baik di Indonesia. Danai mereka, latih mereka, provokasi mereka, lakukan semua yang kalian bisa. Targetnya adalah aparat negara Indonesia dan ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang paling berpengaruh. Mata harus dibalas mata, gigi harus dibalas gigi,” kata sang pimpinan rapat memberikan keputusan.

“Tetapi ingat!” lanjutnya sebelum seluruh anggota rapat angkat kaki. “Jangan sampai kalian hancurkan negara itu. Kita masih punya urusan dengan indonesia DAN masih membutuhkan Indonesia untuk melawan keparat-keparat Rusia dan Tiongkok. Kita sudah kehilangan beberapa sekutu, jangan sampai Indonesia menjadi yang berikutnya!”

Para pejabat yang tergabung dalam rapat itu pun terdiam sejenak.

“Jika kalian membuat negara itu hancur seperti Irak, Afghanistan, dan Libya, kalianlah yang harus menanggung akibatnya. Tujuh turunan kalian takkan kubiarkan hidup tenang. Sekali lagi kuingatkan kepada kalian: ini bukan perang, tetapi hukuman. Mengerti?”

Takut, para peserta rapat langsung menganggukkan kepala sebelum akhirnya dipersilakan untuk meninggalkan ruangan. Tak hanya pejabat sipil, bahkan pejabat militer yang paling sangar pun ketakutan. Meski demikian, mereka cukup puas. Keputusan sang pimpinan dianggap sangat adil oleh para peserta rapat, mereka hanya tinggal melaksanakan permintaan sang raja.

Sementara itu, sang pimpinan rapat tetap duduk di tempatnya ditemani oleh segelintir pejabat Washington dan anggota Secret Service. Ia lantas menghadap pria yang duduk di sampingnya; pria yang hampir tak pernah berbicara selama rapat berlangsung.

“Trent, tugasmu seperti biasa,” pria yang berada di hadapan sang pimpinan ternyata merupakan presiden Amerika Serikat, Johann Trent. “Kau dan wapres hanya perlu menjadi garda terdepan apabila mulai muncul komentar-komentar miring dari pihak Indonesia yang mengarah ke Amerika Serikat. Awasi media sosial dan laman-laman berita internasional, khususnya jika media propaganda Rusia sampai mencium tindakan kita. Bekerjasamalah dengan departemen intelijen untuk mengamati segalanya.”

Yes, Sir.” Presiden Trent menjawab begitu lugas dan spontan.Ia tak banyak memertanyakan tugas yang diberikan oleh atasannya.

Sang pimpinan rapat ternyata merupakan sosok yang menduduki jabatan jauh lebih tinggi daripada presiden Amerika Serikat dan segenap pejabat negara Amerika Serikat. Entah siapa dirinya, namun pada jasnya terdapat sebuah bros yang begitu unik.Bentuknya seperti segitiga bertumpuk.

Lembaga rahasia?

***

Beberapa jam setelah insiden LARAS berakhir …

Riyadi rontok dihajar orang. Jenderal bintang dua Kopassus itu bertekuk lutut di hadapan sosok berjilbab yang hendak menculiknya. Wajahnya sudah penuh dengan lebam dan darah, namun tak menyurutkan semangat sang penculik untuk tetap memukulinya.

Sampai pada akhirnya, satu pukulan keras mendarat pada tempurung kepala Riyadi, langsung membuat jenderal baret merah itu tersungkur. Tak sadarkan diri. Ia lantas diseret keluar dari safehouse rahasianya yang terletak di tepian ibukota. Darah yang mengalir dari setiap rongga kepalanya pun mengecap di lantai, membentuk garis tebal seperti tumpahan cat dinding, dan menyisakan pemandangan pilu bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Tetapi, tidak.

Rangkaian adegan pemukulan tersebut tidak benar-benar terjadi. Semuanya hanya sandiwara yang disutradarakan oleh Riyadi untuk mengecoh lawan-lawannya.

“Kau membuat video ini agar tak ada yang mencurigaimu sebagai dalang dibalik pembantaian di LARAS malam ini … ” ujar pria gundul yang baru saja menghabisi semua orang di dalam LARAS sendirian. Jurig. Ia menonton rekaman sandiwara Riyadi lewat sebuah komputer tablet.

“Tentu saja, demi kelancaran proyek kita bersama,” jawab Riyadi seraya tertawa kecil. Ia tengah duduk santai di kursi kayunya seraya memangku kaki dan menikmati secangkir kopi pagi.

“Video ini akan kau pasang di server kamera pengawasmu?”

“Betul. Bagaimana menurutmu?”

Not bad,” tidak buruk, kata Jurig. Ia pun meletakkan komputer tabletnya di atas meja kecil dan duduk di samping Riyadi.

“Aku membutuhkan video itu karena aku tahu persis akan ada orang yang mencurigaiku sebagai dalang dibalik insiden LARAS. Sebab, pasti ada segelintir orang yang melaporkan keberadaanmu di LARAS. Satu orang membantai seisi gedung hanya dengan tangan kosong, siapa lagi yang bisa berbuat demikian? Adam pun tak semumpuni itu, ia tetap butuh perlengkapan logistik. Hipotesisnya akan mengerucut padamu dan mereka tahu kau berada di bawah administrasiku.”

Jurig terdiam sejenak. Ia memantik rokoknya. “Bicara soal Adam … aku bertemu dengannya di dalam LARAS,” lanjutnya setelah mengepulkan asap dari mulutnya.

“Oh, ya?” Riyadi memerbaiki posisi duduknya. Ia tergugah. “Bagaimana rasanya bertemu kembali dengan rivalmu?”

“Rival?” Jurig memandangi Riyadi dengan sinis, lantas tertawa dengan nada yang sinis pula. “Dia bukan rivalku. Bahkan tak pernah sebanding untuk jadi rival.”

“Menarik. Kau menghajarnya?”

“Sama seperti dulu,” Jurig kembali mengisap rokoknya. “Shemale, Blade, Tenma … mereka juga ada di sana. Masih sama seperti dulu.”

Riyadi tertawa kecil hingga tampak gigi-gigi depannya. “Sama seperti dulu berarti kau menghajar mereka.”

“Bahkan Blade dan Tenma pingsan,” Jurig mendengus sinis. “Lemah.”

“Jadi hipotesisku benar. Kekacauan memang sengaja dibuat untuk menyelamatkan Adam dan saudara bencongnya.”

“Ya, Ninja yang mengorkestrakan semuanya.”

“Ninja?”

“Saudariku yang belum kau tangkap. Seventeen, nama resminya. Ninja, nama julukannya.”

“Ah, subjek terakhir yang belum tertangkap. Jadi dia punya nama julukan juga.”

“Ia lumayan hebat dalam urusan provokasi dan teknologi,” lagi-lagi Jurig mengisap rokok kreteknya dan menunda pemaparannya. “Sayang, aku tak sempat baku hantam dengannya.”

“Kalau kau bertemu lagi dengannya, apakah kau bisa mengatasinya?”

“Seventeen?” tanya Jurig sinis. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. “Dia tak pernah jadi masalah besar buatku.”

“Bagus kalau, begitu … ” ujar Riyadi puas. Ia pun menyeruput kopi sebelum meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. “Jurig, aku menduga tim inspeksi—entah dari pihak siapa—akan datang ke sini beberapa jam mendatang, sebaiknya kau kembali ke dalam tabung pembekuan, paling tidak untuk sementara waktu. Kita harus membuat semua orang yakin bahwa aku diculik dan tidak pernah mengaktifkanmu,” lanjutnya.

“Hmm … ” Jurig mendeham panjang. “Tujuanku adalah merayakan kesengsaraan orang lain, Pak Tua. Aku tidak berniat lama-lama tinggal di dalam tabung hypersleep. Aku ingin melihat efek dari perbuatanku malam ini.”

“Aku tidak bilang kau perlu ‘tidur’ selamanya. Ini hanya perlu kau lakukan sampai inspeksi selesai. Setelah itu, kau bisa kembali bangun dari tidurmu dan menyaksikan kesengsaraan tingkat pertama yang kau damba-dambakan.”

Jurig menengadah ke atas seraya membuang asap yang berkumpul di dalam mulutnya. Ia membiarkan asap memenuhi ruangan tempat ia bercengkrama dengan Riyadi. “Semoga saja Amerika tidak mengecewakanku setelah apa yang kulakukan di dalam LARAS.”

“Tidak akan. Mereka sangat ahli membuat kekacauan.”

“Semoga saja … ” kata Jurig spontan. “Jika mengecewakan, aku sendiri yang akan turun tangan.”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!