23 – Trust No One [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Safehouse Rahasia PIN, Jakarta
Beberapa hari sebelumnya
(Referensi: baca episode 19)

Di dalam ruangan berukuran 5 x 4 meter itu, Kapten Johan dan Mayjen Riyadi saling berhadap-hadapan. Keduanya tampak sedang membicarakan persoalan yang amat serius. Johan terlihat begitu emosional, ia bahkan sesekali menunjuk-nunjuk wajah atasannya dan menggebrak meja. Ada sesuatu yang membuatnya naik pitam.

“Aku ingin tahu, Jenderal! AKU INGIN TAHU! Pembantaian yang terjadi di Kampung Rimbun itu tidak normal, tidak mungkin dilakukan oleh kelompok amatir seperti Laskar Pembebasan! Mustahil, hasilnya terlalu bersih! Ribuan orang mati dalam waktu yang sangat singkat, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya kuasa. Pasti pemerintah yang melakukannya!” amuk Johan.

Riyadi mengusap-usap dagunya dengan santai. Ia tak merasa terintimidasi. “Bagaimana jika memang pemerintah yang melakukannya?”

Johan menggebrak meja. “Itu artinya kalian membunuh orang-orang yang tak bersalah!”

“Dan dari mana kau tahu kalau mereka tak bersalah?”

Kali ini Johan tak bisa mengembalikan argumentasi atasannya. Ia terjerat dalam kebisuan. Ia hanya bisa mengerat gigi-giginya dengan keras dan menampakkan kebencian yang begitu mendalam di hadapan Riyadi.

“Biar kuperjelas, Johan: aku memang tidak ikut dalam operasi pembantaian waktu itu, tetapi pemerintah punya alasan yang jelas mengapa mereka membersihkan Kampung Rimbun. Hargailah keputusan mereka.”

“Alasan apa, Jenderal!? ALASAN APA!? Meskipun aku tahu bahwa warga Kampung Rimbun adalah warga pinggiran yang banyak melakukan kriminalitas, tetapi itu tak berarti bahwa mereka harus dibantai begitu saja!”

“Tidak dibantai begitu saja kok, mereka sudah diperingatkan berkali-kali, sudah diajak diskusi berkali-kali, tetapi mereka tetap melawan, membuka koneksi dengan mafia-mafia lokal, dan pada akhirnya merencanakan pemberontakan terhadap negara.”

“Tak ada buktinya kalau mereka akan melakukan pemberontakan!”

“Dan tak ada buktinya bahwa mereka TAK akan melakukan pemberontakan.”

Johan terdiam. Ia mengepalkan tinjunya begitu keras, seakan hendak menghancurkan batang leher atasannya sendiri.

“Kenapa kau menyembunyikan soal Kampung Rimbun ini dariku, Jenderal? Seharusnya kau memberitahuku sejak awal!” ujar Johan menahan amarah.

“Kau ditugaskan untuk menangkap Adam, bukan untuk menggali informasi tentang Kampung Rimbun. Kau tidak pernah memertanyakan soal tugasmu sebelumnya. Kau juga tak pernah memertanyakan siapa-siapa saja orang yang sudah kau bunuh sejak pertama kali kau ditugaskan di Sandi Yudha. Kau selalu seloyal itu, Kapten. Tetapi, kenapa sekarang kau begitu terganggu dengan detail kecil seperti Kampung Rimbun?”

“Kampung Rimbun adalah saudara kita sendiri, Jenderal. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak puas terhadap pemerintah, masih terngiang oleh ketidakadilan pasca krisis ekonomi. Pasti ada cara yang lebih baik untuk membuat mereka tunduk kepada republik, bukan dengan menghabisi mereka.”

“Oh, ya? Bagaimana caranya, Kapten?”

” … ”

Riyadi tertawa kecil mendapati Johan mendesis penuh kebencian di hadapannya. “Kampung Rimbun adalah tempat berkumpulnya para mafia dan kriminal kelas menengah sejak tahun 1998, berarti sudah berjalan selama 23 tahun. Kini mereka sudah berkembang ke arah yang lebih berbahaya. Pemerintah sudah bertahun-tahun mencoba memberikan bantuan dan santunan, tetapi mereka tetap menganggap pemerintah sebagai musuh. Siapa pun yang naik ke tampuk kekuasaan, akan mereka lawan. Mereka sudah berubah menjadi agent of chaos. Belakangan, mereka sudah sampai membuat blueprint pemberontakan. Kalau kita tak segera bertindak, mereka yang bertindak. Jika dibiarkan, kekacauan akan meluas. Ingat, warga Kampung Rimbun punya pengalaman yang begitu ekstensif untuk menjalankan kejahatan.”

“Ini sama sekali tidak masuk akal, Jenderal. Tidak masuk akal. Dari seribu penduduk Kampung Rimbun, tak mungkin jika tidak ada seorang pun yang baik. Dunia kita tidak pernah sesimpel itu, Jenderal. TIDAK PERNAH SESIMPEL ITU!”

“Tetapi situasinya lebih simpel seperti sekarang. Tak ada yang protes. Satu sumber kejahatan menghilang. Kelompok teror dilibas. Adam juga sudah tertangkap. Lantas, kenapa kau protes? Indonesia mendambakan kondisi ini.”

Johan kembali naik pitam. Ia pun menghampiri Riyadi dan menggenggam kerah baju atasannya sendiri. Ia mendurhakai pemimpinnya. “KAU MERENGGUT RASA KEMANUSIAANMU, JENDERAL! KAU MEMATIKAN ARTI KEADILAN DENGAN MEMPERLAKUKAN MEREKA SEPERTI HEWAN JAGAL! ITULAH MASALAHNYA!”

“Kapten … sejak kau terpilih menjadi Sandi Yudha, kau semestinya sadar bahwa terkadang kita perlu bermain kotor untuk membuat orang lain bersih. Itulah yang kulakukan,” ujar Riyadi tersenyum. Ia tetap tenang. “Tidak ada yang namanya keadilan absolut di dunia ini, Johan. Kita semua adalah kriminal. Semua. Yang membedakan kita dengan mereka hanyalah bagaimana cara kita tetap mempertahankan topeng kebaikan kita di hadapan orang lain.”

“Bangsat!” Johan melepaskan genggamannya dari kerah baju Riyadi. Ia lantas berjalan menjauhi meja kerja bosnya dan bergegas menuju pintu keluar. Langkahnya begitu tegas, jelas terlihat bahwa ia sangat gusar.

“Hei, Johan … jadinya kau mau tahu tentang Kampung Rimbun atau tidak? Padahal aku sudah menyiapkan berkasnya untukmu lho,” ujar Riyadi sesaat sebelum Johan keluar dari ruangannya.

Johan langsung menghentikan langkahnya. Tangannya terhenti di gagang pintu. Beberapa saat setelahnya, ia kembali menoleh ke belakang, menatapi Riyadi dengan kerut-kerut kekecewaan.

“Aku kan tidak bilang kalau aku tidak mau memberitahumu,” ujar Riyadi tertawa. “Kemarilah, aku punya berkas yang menjadi sumber pengambilan keputusan pemerintah terhadap Kampung Rimbun,” lanjutnya seraya membuka loker besinya.

Johan tak merespon. Ia sekadar berjalan mendekati meja kerja Riyadi. Tak lama kemudian, sebuah tumpukan dokumen dilempar ke atas meja. Sampulnya berwarna coklat, bahannya seperti karton, dan terdapat tulisan RAHASIA di permukaannya. Johan tahu bahwa itu adalah dokumen asli intelijen.

“Bukalah, Kapten. Baca sendiri. Itu dokumen rahasia yang dikumpulkan oleh PIN, BAIS, dan Baintelkam. Kampung Rimbun itu memang bisnis yang buruk, aku sih tak heran jika Darsono memutuskan untuk menyapu semuanya tanpa terkecuali. Dia kan memang tipe orang yang tidak mau ambil pusing,” papar Riyadi.

Tanpa keraguan, Johan langsung membuka-buka dokumen yang disodorkan kepadanya. Kini ia bisa melihat semua fakta terkait Kampung Rimbun yang sama sekali tak pernah ia ketahui sebelumnya.

Kampung Rimbun telah bertransformasi menjadi perkampungan para mafia. Beberapa di antaranya bahkan berhasil menjalin koneksi dengan mafia-mafia kelas kakap di kota-kota besar. Sambil membawa dendam lama, mereka punya cita-cita menjadi antitesis pemerintah dan mencoba menyebarkan pesan bahwa pemerintah adalah penjahat terbesar dalam hidup semua orang.

Belakangan, Kampung Rimbun berusaha membuat gerakan pemberontakan yang lebih terstruktur dan masif. Mereka ingin mencoba melakukan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh negara. Rencana mereka ketahuan. Pemerintah berusaha melakukan negosiasi dengan mereka, namun direspon dengan cara yang tidak baik. Akhirnya, pemerintah memutuskan untuk menghabisi mereka.

Johan tak sanggup membaca detail pembantaiannya. Ia langsung menutup dokumen rahasia yang disodorkan kepadanya dan melemparnya ke atas meja. “Aku tak tahu harus percaya kepada siapa lagi, Jenderal. Pada akhirnya, aku juga bekerja untuk orang yang sama tak manusiawinya dengan Adam.”

“Heh,” Riyadi tertawa mendengus. “Bukankah memang ada istilah trust no one pada profesi kita, kita, Kapten?”

Johan menatapi Riyadi dengan tatapan yang luntur. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Gejolak di hatinya mulai mereda. Ia berupaya menerima segalanya. Riyadi berhasil menyadarkannya. Tak ada hitam dan putih pada kehidupan manusia, semuanya abu-abu, tergantung pada perspektif setiap individu.

Tanpa salam perpisahan, Johan pun meninggalkan ruangan Riyadi. Langkahnya tak setegas sebelumnya. Ia berusaha menelan rasa pahit dari kenyataan yang baru saja terkuak. Fakta memang begitu mengerikan, tak pernah pilih kasih saat menumbangkan perasaan seseorang.

Sementara itu, Riyadi hanya tersenyum tipis di ruangannya. Sesekali ia menutup mulutnya, berusaha menahan tawa yang siap mengocok perutnya. Ia gila. Senyumannya seakan menyimpan rahasia.

Bukankah memang ada istilah trust no one pada profesi kita, kita, Kapten?” Kata-kata Riyadi seakan mengisyaratkan Johan untuk tidak memercayainya.

Jangan memercayai (kata-kata) Riyadi.

***

“Kapten … ” terdengar sayup-sayup suara di tengah ingatan percakapan antara Riyadi dan Johan. Suaranya tidak begitu jelas, seperti menggema di dalam kepala.

“Kapten!” sekali lagi panggilan itu terdengar, kali ini lebih berupa seruan. Johan juga merasakan tepukan keras pada bahunya. Sesaat itu, Johan tersadar bahwa dirinya baru saja terjebak di dalam lautan kenangan.

Johan bergegas menoleh ke belakang, ia mendapati Serka Citra tengah menggenggam bahunya. Ia juga mendapati Tenma, Blade, dan dua orang anggota Paspampres sedang mengamati situasi dari balik jendela. Tiada kata terucap darinya, kepalanya masih berusaha memproses rangkaian adegan yang ada di hadapannya.

Tak butuh waktu lama bagi Johan untuk menyadari segalanya. Ia dan teman-temannya memang berada di sebuah gedung untuk mengamati rute perjalanan menuju LARAS. Detasemen Sandi Negara (DSN) ada di mana-mana, Johan dan tim tak bisa melakukan infiltrasi ke dalam LARAS begitu saja, harus ada perencanaan yang sangat matang.

“Kapten, apa yang terjadi padamu? Kau masih mengkhawatirkan kondisi Riyadi?” tanya Citra.

“Ah, Citra … tidak. Aku tidak sedang memikirkan itu,” ujar Johan singkat.

Citra tak lekas merespon, ia pun mengembuskan napas panjang. “Kau masih memikirkan penjelasan Riyadi soal Kampung Rimbun beberapa hari lalu, ya?”

Johan tak menanggapi ucapan rekannya. Ia segera mengalihkan fokusnya ke arah jendela, mengamati perimeter DSN beberapa ratus meter di sekitar LARAS. Sesekali ia juga menggunakan teropongnya untuk melihat-lihat kondisi lebih jelas. Ia masih tak tahu bagaimana caranya menembus pertahanan DSN yang solid.

“Bagaimana menurutmu, Cit?” tanya Johan. Masih belum jelas apa yang menjadi subjek pertanyaannya.

“Apanya yang bagaimana, Kapten?”

“Omongan Riyadi beberapa waktu lalu … apakah kau pikir ia berkata jujur? Apakah Kampung Rimbun memang disapu karena kriminalitasnya yang merajalela?”

“Hmm … ” Citra menengok ke belakang sejenak waktu, memastikan bahwa tiada orang lain yang mendengar percakapannya dengan Johan. “Aku tak tahu, Kapten. Sulit untuk mengatakan apakah ia benar atau tidak. Ditambah, ia juga memiliki bukti kongkret berupa dokumen rahasia yang dikumpulkan oleh PIN, BAIS, dan Baintelkam.”

“Bagaimana jika dokumen itu ternyata dipalsukan?” tanya Johan lagi. Kali ini ia sampai menatapi kedua mata rekannya.

Citra menatapi atasannya dengan kedua mata membelalak. Ia tak memiliki argumentasi yang lebih baik untuk menanggapi hipotesis Johan. Ia pun mengusap-usap tengkuknya dengan sikap yang ganjil. Salah tingkah, takut salah bicara.

“A-aku … sama sekali tak tahu, Kapten. Tak pernah berpikir sampai ke sana. Sejak diminta oleh Mayjen Riyadi untuk bergabung dengan Satgas Gagak Hitam, aku selalu percaya pada dirinya. Dia benar-benar jenderal yang sangat bisa diandalkan.”

“Untuk persoalan perang, ya, dia sangat bisa diandalkan,” tanggap Johan spontan. “Tapi pada persoalan politik … aku jadi ragu apakah aku bisa memercayainya.”

Citra mengembuskan napas panjang. “Sebaiknya kita fokus untuk menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu dan mencari Mayjen Riyadi setelahnya. Ia diculik juga kan?”

“Heh, benar … kita tidak punya banyak waktu untuk memikirkan kata-kata Riyadi sekarang,” Johan mengembalikan fokus pandangannya ke arah jendela, masih sambil memerhatikan setiap detail yang bisa ia dapatkan di sekitar perimeter buatan DSN.

“Teman-teman!” seru Johan beberapa saat setelahnya. Ia lantas menghadapkan wajah kepada rekan-rekannya. “DSN membuat perimeter yang sangat serius, ini setingkat dengan perimeter perang kota. Kita tak bisa mendekati LARAS dengan mudah. Adakah rute yang bisa kita lewati tanpa harus bertemu dengan orang-orang ini?” Johan meminta saran.

“Januar, Alamsyah … kalian anggota Paspampres semestinya lebih tahu daerah di sekitar sini,” lanjut Johan kepada dua orang utusan Presiden Darsono.

“Mungkin kita bisa lewat gorong-gorong, Pak. Ada saluran air yang bisa kita lewati, berputarnya cukup jauh, tetapi kita bisa tiba di LARAS tanpa harus bertemu dengan pasukan DSN,” ujar Januar.

“Hmm … ” Johan mengusap-usap dagunya.

“Yang aku khawatirkan sebenarnya bukan rutenya, Pak. Kita semua tahu bahwa LARAS memiliki sistem keamanan yang canggih. Bangunan itu akan menghancurkan kita dengan laser, meriam plasma, dan senapan mesin sebelum kita berhasil menginjakkan kaki di pintu masuk. Di saat-saat seperti ini, DSN pasti mengatur sistem keamanan sampai ke tingkatan paling tinggi, bahkan kucing dan laron pun akan dimatikan secara otomatis.”

“Dalam kata lain, andaikan kita berhasil mencapai LARAS, kita belum tentu bisa masuk ke dalam LARAS. Begitu, maksudmu?”

“Betul, Pak.”

“Jadi, bagaimana cara kita masuk ke dalam LARAS tanpa harus menjadi sosis goreng?”

Rekan-rekan Johan terdiam, tiada ucap kecuali saling tatap. Januar dan Alamsyah adalah dua orang yang paling terlihat waswas pada kebisuan tersebut.

“Kita harus punya kartu khusus agar dianggap pengecualian oleh sistem keamanan LARAS,” papar Januar. “Kartu itu memiliki pelat yang bisa terpindai secara otomatis oleh sistem keamanan LARAS. Siapa pun yang punya kartu itu akan dianggap bersih, karena sistem keamanan LARAS semuanya berbasis komputer, tidak dikendalikan oleh manusia.”

“Singkatnya,” Alamsyah menambahkan penjelasan rekan Pasmpampresnya. “Kita harus mencuri kartu khusus tersebut. Dan satu-satunya entitas yang punya kartu tersebut di sekitar sini adalah—”

“DSN … ” terka Johan.

“Betul, Pak … ” Januar mengiyakan. Ia tampak khawatir, namun Johan harus tahu kenyataannya. “Jadi, mau tidak mau kita harus berhadapan dengan DSN. Kita bisa menghindari mereka, tetapi kita tidak bisa menghindari LARAS.”

Johan berjalan mondar-mandir seraya menundukkan kepala. Ia berpikir. Sesekali ia melihat ke arah jendela untuk merenungkan perimeter yang dibuat oleh DSN. Lewat jalan depan, tidak mungkin. Selain ia harus berhadapan dengan penembak jitu, ia juga harus berhadapan dengan Shapeshifter. Ia harus mencari jalan belakang yang cukup sering dilalui oleh patroli DSN.

“Baiklah, kita akan mengendap-endap. Hindari berjalan di depan atau di belakang bangunan-bangunan tinggi. Kita bergerak lewat gang-gang kecil, agar tak terlihat oleh penembak jitu. Jika harus melumpuhkan personel DSN, kita lakukan dengan cepat, lalu sembunyikan mereka di gang. Ambil kartu mereka, ambil kostum mereka. Kita menyamar. Cukup jelas?” ujar Johan memberi instruksi.

“SIAP, JELAS, PAK!” kedua anggota Paspampres menjawab tegas, sementara rekan-rekan Johan yang lain hanya menganggukkan kepala.

“Siapa pun yang punya peta atau siapa pun yang bisa menggambarkan denah di sekitar sini, tolong tunjukkan padaku. Kita harus mengatur rute perjalanan. Hindari kontak besar. Tak ada yang mau jadi daging giling akibat dihajar oleh mobil aneh berkemampuan tank tersebut kan?”

Rekan-rekan Johan menggeleng. Januar dan Alamsyah lantas berusaha menggambarkan denah di sekitar tempat mereka beroperasi. Mereka hanya mengira-ngira, tetapi itu lebih baik daripada tidak ada persiapan sama sekali. Lagipula, kedua utusan presiden itu adalah satu-satunya entitas yang paling hapal dengan wilayah di sekitar LARAS.

Kegilaan DSN harus dihentikan, cepat atau lambat.

***

03.01

Di sebuah gang yang kecil dan redup, terjadi perkelahian yang cukup sengit antara kru Johan dan sejumlah personel DSN yang tengah berpatroli. Sebagian besar telah berhasil dilumpuhkan, tinggal satu orang lagi yang tak gentar melakukan perlawanan. Ia berhadapan dengan Johan secara empat mata, namun tak lebih unggul walaupun lebih canggih dari segi perlengkapan.

BUGH!

Si personel DSN tiba-tiba saja terpental ke arah tembok. Dadanya ditendang oleh Johan, punggungnya pun membentur dinding dengan keras. Akan tetapi, ia menolak untuk menyerah. Seraya agak merunduk, ia mencabut pistol kecil dari sarungnya. Pistol cadangan.

Namun, belum sempat si personel membidik, Johan sudah lebih dulu melakukan aksi pelucutan. Johan memelintir tangan si personel, lalu menghantam batang hidung si personel dengan pistol yang kini berada pada kunciannya. Si personel kehilangan konsentrasi, ia pun melepaskan pistolnya dan beralih memegangi hidungnya yang remuk.

Johan membuang pistol musuhnya ke atas tanah, memberikan kesempatan pada lawannya untuk menyerah. Akan tetapi, si personel malah kembali menyerang. Anggota elit intelijen itu mencabut sangkur dari rompi antipelurunya dan menebas-nebaskannya ke arah Johan dengan pola gerakan yang sulit untuk diterka.

Tidak sulit bagi Johan, sayangnya.

Setelah beberapa kali Johan menghindari serangan yang melintas di dekat kepala dan torsonya, ia bergegas menggenggam pergelangan tangan dan menendang ulu hati sang personel dengan kecepatan yang sulit untuk diantisipasi. Sejurus kemudian, Johan melayangkan tinjunya ke wajah sang personel, lalu melucuti sangkur yang sedari tadi hampir melukai dirinya.

Si personel DSN melenguh lembut sesaat setelah pergelangan tangannya dipelintir dengan keras. Pisaunya pun jatuh berkelotak di atas tanah. Belum selesai sampai di sana, Johan juga tiba-tiba membanting tubuhnya. Ia pun tersungkur, terlentang tanpa makna. Lengannya masih tetap dikuasai Johan, sampai pada akhirnya … KRAK! Johan memutuskan untuk mendislokasikan persendian sikutnya.

Jeritan keras seketika menggema di seluruh sudut gang, untungnya hanya berlangsung sesaat. Johan segera berjongkok dan menyekap mulut sang personel hingga tak bisa terdengar suara teriakan di luar dari radius tiga meter. Begitu suasana kembali tenang, Johan pun melepaskan sekapannya dan mulai melucuti perlengkapan si personel DSN satu-persatu.

“K-kau … mau apa?” tanya sang personel seraya menahan sakit.

“Kartumu. Mana?” Johan merespon singkat.

“Kartu apa!? Kartu BPJS!? Kartu gaplek—”

Tak sempat si personel menyudahi ejekannya, Johan sudah lebih dulu meluncurkan tinju ke wajah sang personel. Tidak keras, namun pukulan itu mendarat tepat di hidung sang personel yang remuk, membuatnya kembali melenguh kesakitan.

“Serius, di mana kartumu? Kartu akses masuk LARAS,” ujar Johan santai, nadanya agak meninggi.

“Heh … ” si personel tertawa kecil. “Aku tak tahu dari unit mana kau berasal, tetapi upayamu akan sia-sia. Kau akan dihajar oleh pasukan DSN yang lain sebelum sampai ke LARAS!”

“Aku tak peduli. Di mana kartumu?”

“Tidak ada kartu. Tidak pernah ada kartu—”

Johan naik pitam. Ia kembali meninju wajah sang personel, lantas mencabut pisau dari balik celananya. Sesaat setelahnya, ia menghujamkan pisau tersebut ke paha sang personel seraya menyekap mulut lawan bicaranya untuk sekali lagi. Personel tangguh itu pun menjerit, lagi, namun takkan ada yang bisa mendengar teriakannya selain kru Johan di sana.

“Di mana kartumu … ” pungkas Johan seraya mengerat gigi-giginya dengan keras. Gusar.

“Aaa … tidak semua … aaa … ” si personel mengejan menahan pilu. “Tidak semua anggota DSN memiliki kartu itu.”

“Tidak semua … berarti ada yang punya. Siapa? Di mana?”

Sang personel mengejan, kemudian meronta menahan sakit yang merajang di sekitar kakinya. “Yang memiliki kartu itu … hanya personel DSN yang diposting di dalam LARAS dan personel backup yang berada di luar perimeter LARAS.”

“Personel backup. Hmm. Di mana mereka?”

“Bangsat … ” bisik sang personel kesal. Ia tak ingin membeberkan posisi teman-teman seperjuangannya, ingin memberontak. “Bagaimana jika kau makan taimu sendiri?”

“Oh, begitukah?” Johan memutar gagang pisaunya dengan tegas. Tentu saja sang personel langsung memekik, luka pada kakinya menjadi semakin parah. “Aku tidak masalah memakan taiku sendiri, bagaimana denganmu? Mau memakan tulang pahamu sendiri?”

“Aaa … Wisma 46 … ”

“Hah? Di mana? Kurang keras,” Johan mendekatkan telinganya ke wajah si personel DSN yang terus-menerus mengejan menahan nyeri.

“Wisma 46! Wisma 46! Aaaa!”

Mendengar jawaban lantang nan jelas dari si personel DSN, Johan pun menyudahi teknik interogasinya. Ia mencabut pisau dari paha musuhnya, lalu menyarungkannya kembali di balik celana. Salah satu sudut bibirnya tersungging. Ia puas.

“Wisma 46 tidak jauh dari sini, Kapten. Hanya dua blok dari gang ini,” Januar tiba-tiba saja menimpali. “Tetapi untuk mendekatinya kita harus berjalan di ruang terbuka. Itu akan sangat berbahaya, mengingat penembak jitu ada di mana-mana.”

“Hmm … itu bisa diatur. Kita mendapatkan buruan yang cukup banyak malam ini, Sersan. Kita bisa memanfaatkan cecunguk-cecunguk ini,” tandas Johan. Ia lantas mengembalikan tatapannya kepada si personel DSN yang masih berada dalam kuasanya.

“Masalahnya, aku masih tidak mengerti mengapa hanya personel backup yang memiliki kartu akses selain personel utama di dalam LARAS,” pungkas Johan. “Hei, setan alas, jelaskan kenapa kau tidak punya kartu sedangkan pasukan backup punya?”

“Aaagh … i-itu karena … para personel backup memang ditugaskan untuk menyerbu LARAS apabila pasukan yang berada di dalam LARAS membutuhkan bantuan.”

“Hmm, baiklah … kurasa informasi itu cukup membantu. Terima kasih banyak dan selamat tidur,” Johan lantas menarik kepala si personel DSN dan membenturkannya ke atas tanah dengan sangat keras. Anggota pasukan elit intelijen itu pun kehilangan kesadarannya.

Satu tarikan napas panjang, lantas sang kapten menoleh ke belakang, menatapi krunya satu-persatu. “Baiklah, teman-teman, kita sudah mendapatkan bocah-bocah pingsan ini. Tugas kita berikutnya adalah mengambil kostum mereka, menyamar, dan masuk ke dalam Wisma 46. Tujuan kita jelas: curi kartu akses masuk LARAS.”

“Detailnya bagaimana, Kapten?” tanya Citra.

Johan mengurut-urut dagunya, tertunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali memberikan instruksi. “Kita jalan menyebar, jangan berbarengan. Jalan berbarengan akan dicurigai oleh pasukan DSN. Masuklah ke Wisma 46 lewat jalur belakang. Kalau sudah sampai di gedung, kalian cari personel DSN yang sedang menyendiri, pancing ke tempat sepi, hajar, ambil kartunya.”

Kru Johan terdiam. Mereka tak banyak bertanya. Bagi mereka, pemaparan Johan sudah cukup jelas.

“Kita tak punya banyak waktu. Kita harus bisa menyelesaikan tugas ini sebelum fajar. Aku hanya akan memberikan kalian waktu 20 menit untuk mencuri kartu dan berkumpul di LARAS. Mohon samakan jam kalian semua. Sekarang jam 03.10, samakan semuanya, sekarang … ”

Tanpa pikir panjang, setiap anggota tim segera mengatur arloji menjadi pukul 03.10 pagi.

“Baiklah, kita masuk ke Wisma 46 dengan cepat, ambil kartu, lalu berkumpul di lobi LARAS pada 03.30, oke? Toleransi keterlambatan hanya tiga menit. Jika kalian belum datang setelah waktu yang ditentukan, aku akan meninggalkan kalian. Kuanggap kalian KIA [1], mengerti?”

NB: [1] Killed In Action. Terbunuh saat bertugas.

“Mengerti, Kapten … ” jawab seluruh anggota tim secara bersamaan.

“Oke, mari kita beraksi. Ganti baju kalian sekarang.”

***

Safehouse Temporer Satgas Gagak Hitam
03.04

Di saat semua jenderal strategis negara ditahan di sebuah ruangan dengan mata tertutup, Mayjen Riyadi justru duduk santai di ruang tengah seraya menikmati secangkir kopi hangat. Sambil melipat kaki, sesekali ia menatapi layar tabletnya untuk menyaksikan kondisi terkini di Laboratorium Rahasia PIN.

Riyadi tersenyum kecut, ia terlihat begitu puas menatapi ‘anak buahnya’ mengacak-acak LARAS. Entah siapa yang ia kirim ke LARAS untuk menambah kekacauan, namun hasil kerjanya membuat Riyadi sumringah. Satu-persatu sayap LARAS dibersihkan, korban pun berjatuhan. Riyadi tak peduli efeknya terhadap hubungan diplomatik Indonesia dan Amerika Serikat.

Tak lama kemudian, seorang personel Satgas Gagak Hitam datang menghampiri Riyadi. Ia masih mengenakan kostum serba hitam, lengkap dengan senapan serbu yang ditentengnya. “Pak, kami mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari jaringan di dalam Istana Negara,” ujar sang personel.

“Oh, Fahmi … ” Riyadi menengadah, menatapi wajah bawahannya dengan senyuman yang cerah. “Kabar buruk apa yang kau punya?”

“Uhhh, Kapten Johan dan tim diperintahkan oleh Presiden Darsono untuk datang ke LARAS. Mereka diperintahkan untuk menghentikan kekacauan yang DSN buat dengan mem-broadcast sambungan presiden lewat ruang kontrol.”

“Johan?” Riyadi sedikit terenyak. Ia lantas mengangguk-anggukkan kepalanya. “Darsono yang menghubunginya, ya?”

“Iya, Pak.”

“Ah, si tua bangka itu pasti panik setengah mati karena tidak bisa menembus perimeter DSN di sekitar LARAS,” Riyadi tertawa kecil, ia seakan tak peduli pada derita rekannya di istana. “Dia sudah tahu hanya Johan yang bisa diandalkan pada saat-saat seperti ini, karena Johan yang membuat Adam tertangkap.”

Personel bernama Fahmi itu pun terdiam. Ia menatapi atasannya. “Jadi … kita harus bagaimana, Pak?”

“Bukan masalah besar, seharusnya. Katakan kepada Jurig untuk membuat Johan dan teman-temannya ‘tertidur’ selama beberapa saat. Jurig akan melakukannya, ia membutuhkan kita bagaimana pun juga.”

“Bagaimana dengan dua anggota Paspampres yang diperbantukan presiden kepada Johan?”

“Oh, ada Paspampres juga, ternyata … ” sekali lagi Riyadi dibuat sedikit terkejut oleh pernyataan anak buahnya. Ia pun terdiam sejenak waktu. “Hajar sajalah kalau Paspampres. Aku tidak butuh pasukan Darsono. Kalau Johan dan teman-temannya, jangan dibunuh, mereka telah menunjukkan tekadnya untuk menangkap Adam. Setidaknya berterimakasihlah kepada mereka. Lagipula, tujuan Jurig di sana adalah untuk menghabisi semua pegawai LARAS, tidak termasuk dengan orang-orang di luar LARAS,” Riyadi pun menyeruput kopinya.

“Baik, Pak … ” Fahmi bertolak dari tempatnya berpijak.

“Bawakan teleponnya ke sini, aku saja yang bicara pada Jurig deh,” ujar Riyadi seraya melambai-lambaikan tangannya.

Fahmi kembali berdiri menghadap Riyadi. Keningnya berkerut. Ia sejujurnya agak bingung dengan sikap atasannya. “Jenderal, mengapa kau tampak begitu tenang di saat-saat seperti ini? Bukannya aku lancang, tetapi bagaimana jika rencanamu digagalkan oleh Johan?”

Riyadi memandangi Fahmi sejenak. Ekspresinya datar, tak tersenyum, tak pula marah. Hingga beberapa saat setelahnya, ia tertawa. “Kau tahu mengapa Jurig yang kutugaskan ke sana?”

Fahmi menggelengkan kepalanya.

“Tinggal dua sayap LARAS lagi yang perlu dibersihkan. Informasinya, di dua sayap itu juga terjadi baku tembak yang sangat sengit antara JSOC dan DSN. Mereka akan mati dan Jurig tinggal membersihkan sisanya. Johan takkan sempat menahannya. Dugaanku, ia masih dalam perjalanan menuju LARAS sekarang. Begitu ia tiba di sana … poofbroadcast sambungan presiden takkan ada artinya lagi.”

” … ”

“Di saat itulah Darsono akan menyadari bahwa ia tak pernah memiliki kuasa atas dirinya sendiri,” Riyadi tersenyum begitu lebar. Menahan tawa. “Oh, ini akan sangat menyenangkan. Bukan begitu, Fahmi?”

***

LARAS – Laboratorium Rahasia PIN
03.21

Subject 09 dan Subject 03 berjalan mengendap-endap, menyusuri lorong demi lorong untuk menemukan ruang kontrol utama LARAS. Mereka harus menemukannya agar bisa melarikan diri dari laboratorium terkutuk tersebut. Pasalnya, siapa pun yang keluar dan masuk LARAS tanpa kartu akses, akan dianggap sebagai ancaman. Laser, meriam plasma, senapan mesin, hingga peluru kendali sudah menunggu di luar. Siapa pun yang dianggap ancaman akan langsung dihajar hingga tak bersisa.

Kedua subjek Project SAKTI tak mau ambil risiko. Selain karena mereka tidak tahu bahwa kartu akses adalah penyelamat mereka keluar dari LARAS, mereka juga menganggap bahwa jalan yang paling aman untuk keluar dari LARAS adalah dengan mematikan seluruh sistem keamanan di luar. Kartu akses takkan bisa menjadi jaminan jika terjadi kesalahan pada sistem keamanan LARAS.

Setelah melalui baku hantam dengan pasukan penjaga LARAS dan berjalan mengendap-endap dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian yang lain, Subject 09 dan Subject 03 akhirnya tiba di perhentian terakhir sebelum mencapai ruang kontrol utama. Mereka merunduk di balik dinding, seraya menenteng senapan yang diambil dari jasad para penjaga, dan melihat-lihat situasi sekitar.

Sayangnya, kedua subjek tidak bisa maju akibat terjadi perseteruan sengit antara pasukan DSN dan pasukan penjaga yang lain. Untuk sementara, mereka hanya bisa mengawasi berlangsungnya baku tembak seraya mencari-cari celah untuk bisa menembus kekacauan.

“Pertempuran terlalu sengit, kita harus menunggu sampai mereka semua mati?” tanya Subject 03.

“Tidak,” jawab Subject 09. “Kita tunggu sampai kekuatan mereka melemah, kemudian kita hajar sisanya. Setelah itu, barulah kita lewat.”

Hmph … ” Ara merasa tidak puas. Ia ingin bisa keluar dari LARAS lebih cepat. “Mau menunggu sampai kapan? Ini yang bertempur DSN, JSOC, dan alumni-alumni Pusdikpassus … semuanya pasukan elit, bakalan lama banget nungguin mereka selesai tembak-menembak!”

Adam tak merespon, ia tetap memerhatikan kondisi medan tempur yang semakin memanas. Sesekali ledakan kecil juga terdengar di seberang ruangan, menandakan bahwa seluruh pihak yang terlibat perseteruan ingin mematikan lawan secepat yang mereka bisa.

“Oh … ” entah siapa, namun tiba-tiba saja seseorang menyapa dari belakang Subject 09 dan Subject 03. “Lihat siapa yang datang di sini.”

Kedua subjek Project SAKTI yang lepas dari penjagaan sontak terperanjat mendengar suara berat seorang pria tepat beberapa kaki di belakang mereka. Keduanya segera bertolak dan membidikkan senapan ke arah sang pria. Akan tetapi, belum sempat mereka menarik pelatuk, sang pria tiba-tiba saja melucuti senapan dan menyerang mereka dengan kekuatan yang tak terkira. Subject 09 ditendang hingga terpental dari tempatnya berdiri, sementara Subject 03 dilempar hingga menabrak dan merontokkan permukaan dinding.

Seraya melenguh menahan sakit, Subject 09 berjongkok dan mencoba memerhatikan lawan yang tengah ia hadapi. Yang ia lihat hanyalah sesosok pria dengan mantel hitam dan topeng gas berwarna hitam pula. Pria itu mengingatkannya pada seseorang, tetapi benaknya tak bisa berpikir jernih. Ia terfokus pada rasa sakit yang merajang di sekitar perut dan dadanya.

Tak sempat Subject 09 memulihkan kondisinya, si topeng gas kontan merangsak maju dan mengayunkan tendangannya dengan keras. Subject 09 tanggap. Meskipun masih kesakitan, namun ia sempat menyilangkan kedua tangannya di depan kepala. Tulang kering si topeng gas tak berhasil menghantam wajah Subject 09, namun sanggup membuat buronan nomor satu republik itu kembali terpelanting dari tempatnya berjongkok.

Subject 03 berniat membantu. Ia datang dari belakang dan mencekik leher si topeng gas dengan seutas tali. Sempat terjadi keributan yang tiada tara, sebab kedua pihak yang berseteru harus terlempar ke sana-kemari dan menabrak berbagai jenis objek di sekitar sana. Akan tetapi, tak butuh waktu lama bagi si topeng gas untuk melepaskan diri. Hanya dengan sedikit memberontak, ia bisa mengangkat tubuh Subject 03 di atas punggungnya dan membuat pria berwajah cantik itu terbanting ke depan.

Dalam keadaan berbaring, Subject 03 mengentakkan kakinya sebelum si topeng gas sempat meluncurkan serangan balasan. Sayang, si topeng gas sangat cekatan. Tendangan Subject 03 berhasil diblokir oleh si topeng gas. Subject 03 hanya sanggup membuat si topeng gas terseret mundur beberapa langkah ke belakang.

Subject 03 masih bersikukuh menumbangkan lawannya. Ia pun merangsak maju dan melepaskan beberapa serangan acak. Pertukaran pukulan dan tendangan pun menjadi tak terelakkan. Ia lantas mencoba untuk menjatuhkan si topeng gas dengan cara menyeruduk. Sayang, serangannya lagi-lagi digagalkan. Si topeng gas dengan cekatan menahan laju serudukannya. “Masih menyukai gulat dan jiujitsu, Three?” tanya si topeng gas menyindir.

Keadaan pun berbalik. Seraya tetap menahan laju serudukan Subject 03, si topeng gas tiba-tiba mengentakkan kakinya ke rusuk Ara dan membanting pria berwajah cantik itu ke belakang. Subject 03 terpelanting keras hingga menumbuk meja semen berlapis keramik yang berdiri kokoh di sekitar sana.

Ara tumbang, kini giliran Adam yang mengambil alih situasi. Meski masih kesakitan akibat serangan sebelumnya, namun ia memberanikan diri untuk menghadapi si topeng gas sendirian. Adam meluncurkan variasi tinjunya, seperti biasa. Si topeng gas berusaha mengimbangi keadaan, dan ia berhasil.

Pertukaran serangan yang amat sengit antara Subject 09 dan si topeng gas berlangsung selama beberapa menit. Keduanya mampu menyetarakan diri. Tidak ada yang lebih unggul, tidak ada yang lebih lemah. Sampai pada akhirnya Subject 09 melihat celah yang amat besar pada pertahanan si topeng gas. Dagu si topeng gas tak terproteksi. Subject 09 bergegas mengayunkan kakinya ke selangkangan si topeng gas, lalu melepaskan pukulan uppercut sekuat tenaga tepat ke dagu si topeng gas.

Serangan buronan nomor satu republik tersebut berhasil mendarat di titik yang semestinya. Kepala si topeng gas sampai terpelanting keras begitu menerima pukulan di dagunya, ia pun mundur beberapa langkah dari tempatnya berpijak. Akan tetapi, pukulan Subject 09 seperti tak berefek apa-apa kepadanya. Ia kembali menghadapi Subject 09 sebagaimana sebelumnya. “Bagus sekali, Nine. Kau mengalami peningkatan yang amat pesat.”

Giliran si topeng gas yang melihat terbukanya celah pertahanan Subject 09. Ia langsung merangsak maju dan meluncurkan beberapa serangan ke titik-titik vital; dengan pukulan maupun tendangan. Subject 09 tak berkutik. Meskipun ia sudah mencoba mengokohkan pertahanan, namun benturan dari seluruh rangkaian serangan si topeng gas masih sangat terasa.

“Kau bagus, tetapi sayang … ” kata si topeng gas seraya tetap melanjutkan serangan. “Pukulanmu tidak ada tenaganya sama sekali!”

Bersamaan dengan seruan terakhirnya, si topeng gas melepaskan tinju yang amat keras tepat ke rahang Subject 09. Pukulan mendarat dengan gemilang, Subject 09 tak sempat mengangkat tangannya untuk bertahan. Yang bisa Adam lakukan hanyalah mengeraskan otot rahangnya agar tak terlepas dari porosnya. Namun demikian, ia tetap saja terpental dari tempatnya berdiri. Ia menabrak dinding kaca, memecahkannya, dan terjatuh berguling-guling di tempat JSOC dan DSN sempat berseteru.

Subject 09 lengah. Ia berusaha keras untuk membangkitkan dirinya dan menghadapi si topeng gas yang perlahan-lahan menghampirinya. Ia tampak berantakan. Wajahnya menjadi penuh lebam dan darah. Beberapa serpihan kaca juga menancap di permukaan kulitnya. Tak ada luka yang fatal, memang, namun semua serangan si topeng gas sanggup membuatnya bertekuk lutut. Satu pria misterius itu memiliki kemampuan yang setara dengan rombongan pasukan yang dibawa oleh Kapten Johan di Jombang, bahkan lebih.

BLAM!

Belum sempat si topeng gas mendekati Subject 09, tiba-tiba saja sebuah tembakan mendarat tepat beberapa sentimeter di depan kaki pria dengan kostum serba hitam tersebut. Si topeng gas menengadah. Ia mendapati sejumlah anggota DSN sedang membidiknya dari lantai dua. Kontan, si topeng gas pun mencabut pistolnya dan membalas tembakan dengan keakuratan yang tak terkira. Tiga orang yang membidiknya langsung tewas diterjang peluru, semuanya tertembak di bagian kepala.

“Orang-orang ini merusak kesenanganku!” seru si topeng gas seraya tetap membalas tembakan.

Perseteruan antara kedua subjek Project SAKTI dan si topeng gas pun sontak berubah menjadi pertukaran tembakan dengan seluruh personel penjaga LARAS. Selagi si topeng gas sibuk mengurusi para penjaga LARAS, Subject 09 diam-diam merangkak menjauhi medan tempur. Ia juga mengambil granat gas dari salah satu jasad personel DSN yang tergeletak di sekitar sana dan mencabut pinnya. Gas pun menyeruak tebal, memenuhi hampir seisi ruangan.

Si topeng gas langsung menoleh ke belakang begitu menyadari ada gas berwarna putih keabuan tengah menyelimuti raganya. Ia terdiam sejenak, merenungkan skenario yang tengah menjeratnya. Sesaat itu ia tersadar bahwa ia sudah tak merasakan keberadaan kedua subjek Project SAKTI yang baru saja ia tumbangkan. Subject 09 dan Subject 03 sudah melarikan diri, entah ke mana.

Si topeng gas seakan tak peduli. Ia mengembalikan fokusnya ke arah depan dan mencari sisa-sisa penjaga LARAS yang bisa ia habisi akibat merusak kesenangannya.

***

03.21

“Kau tahu itu siapa kan?” tanya Subject 09 seraya berlari dan menopang tubuh saudara cantiknya yang cedera.

“Tentu saja! Itu saudara kita! ONE! Kita baru saja membicarakannya tadi!” seru Subject 03 terengah-tengah.

“Setan memang selalu muncul ketika disebut-sebut … ”

“Dia itu memang setan! Kau tahu artinya Jurig kan!?”

“Iya, aku tahu,” tukas Subject 09. “Pertanyaan paling krusialnya adalah apa yang sedang ia lakukan di sini? Kenapa ia ada di sini?”

“Selain itu, aaagh … ” Subject 03 menahan rasa sakit yang merajang di sekitar rusuknya. “Selain itu, ia juga mengenali kita dengan baik, Nine. Ia tak seperti Ten atau Four, dua saudari kita itu malah hilang ingatan. One tidak begitu. Ia mengenali kita, itu artinya ia tak dicuci otak oleh pemerintah!”

Subject 09 dan Subject 03 lantas berbelok ke sebuah ruangan yang gelap dan sempit. Mereka beristirahat sejenak setelah dirasa cukup jauh dari jangkauan si topeng gas. Ara sempat melenguh kencang ketika didudukkan di sudut ruangan akibat merasakan nyeri yang luar biasa di sekujur torsonya. Sementara itu, Subject 09 sendiri duduk bersandar seraya memegangi rahangnya yang berkedut-kedut.

“Brengsek, Nine … si botak gila itu masih mempunyai kekuatan yang tak terukur. Aku meremehkannya,” ujar Subject 03 seraya memiringkan badannya. “Hanya dengan sedikit entakan kaki darinya, tulang rusukku langsung patah, sepertinya.”

“Ya … aku pun lebih baik ditembak daripada harus menerima pukulannya. Sakitnya luarbiasa dan rasa sakit ini takkan bisa sembuh begitu saja,” pungkas Subject 09 menyetujui pernyataan saudaranya. Ia pun terdiam, masih terus memijit-mijit rahangnya yang nyeri. “Jadi … ia benar-benar bekerja untuk pemerintah, bukan begitu, Three?”

“Tidak, jangan terlalu yakin, Nine … ” Ara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jika ia bekerja untuk pemerintah, mengapa ia menembaki semua penjaga LARAS tadi? Kalau ia bekerja untuk pemerintah, ia takkan melakukan hal sebodoh itu, karena ia pasti sadar bahwa perbuatannya hanya akan membuat hubungan Indonesia dan Amerika Serikat semakin runyam.”

“Hmm, jadi? Kau punya teori yang lebih baik?”

“Ya, aku berteori bahwa ia punya skenario sendiri berada di sini. Ia memanfaatkan situasi kacau untuk memenuhi agenda pribadinya. Aku tak tahu mengapa ia ikut dalam operasi pembantaian di Kampung Rimbun, aku juga tak tahu ke mana dirinya lima tahun yang lalu, namun instingku mengatakan bahwa keberadaannya di sini bukan untuk pemerintah. Dia punya agenda sendiri.”

Subject 09 terdiam sejenak. “Apakah ia tak pernah tertangkap oleh Operasi Antisakti, lantas merangkai konspirasi sendiri?”

“Bisa jadi, Nine. Bagaimana pun dia adalah anggota yang terkuat.”

“Tetapi … pembantaian Kampung Rimbun itu jelas diorkestrakan oleh pemerintah dan didanai oleh politisi gelap di luar negeri. Apakah ia hanya menunggangi kepentingan para politisi ini? Tetapi, untuk apa? Entah kenapa, keyakinanku sedikit berbeda denganmu: aku merasa yakin ia punya tuan baru, Three. Tetapi, siapa?”

Kali ini Ara yang terdiam, ia menatapi wajah saudaranya selama beberapa saat. “Kalau ia punya tuan baru, tuannya sudah pasti orang yang setipe dengan dirinya. One bukan tipe orang yang mau menjadi babu, Nine. Kita berdua tahu itu.”

Subject 09 menatapi saudara cantiknya. Keningnya menggulung-gulung. Ia kebingungan, benaknya berupaya mengais-ngais jawaban. “Setipe dengan dirinya, ya?”

“Mungkin—aku tak tahu pasti—tuannya adalah orang yang juga benci pada kehidupan, tetapi punya pengaruh yang besar di lingkungan politik. Kita berpikir realistis saja. One mungkin kuat dalam pertarungan berskala pendek, tetapi tidak untuk menjalankan agendanya menundukkan dunia. Ia butuh seseorang yang punya pengaruh dan kekuatan untuk membantunya. Kalau hipotesismu benar, maka carilah orang yang punya karakteristik seperti ini.”

Tak bisa menjawab, Subject 09 pun menyadarkan kepalanya dengan luruh. Ia menghela napas panjang seraya tetap merenungkan kata-kata saudaranya.

“Sudahlah, Nine. Tak perlu dipikirkan terlalu jauh dulu. Itu hanya hipotesis. Lagipula, sejak kita dibebaskan dari meja penyiksaan tadi, semuanya terasa tak masuk akal kan? Kenapa tiba-tiba muncul sentimen anti-Amerika dari DSN? Kenapa semua orang di sini seakan-akan tak peduli pada hubungan baik Indonesia dan Amerika? Kenapa kita dilepaskan? Kenapa ada Jurig? Semua tak terasa masuk akal bagiku, tak ada jawaban yang benar-benar pas. Tugas kita sekarang hanya satu: keluar dari gedung terkutuk ini.”

“Sepertinya kita memang harus fokus mencari cara keluar dari tempat ini … ” imbuh Subject 09 luruh. “Tetapi itu tak mengubah fakta bahwa Subject 01 ada di sini, mengacak-acak semua orang yang berhadapan dengannya, dan menutupi satu-satunya jalan kita menuju ruang kontrol.”

” … ” Subject 03 memelototi saudaranya dalam diam. Baru saja ia tersadar bahwa Subject 01 merintangi satu-satunya rute menuju ruang kontrol. “Fuck, man. Benar juga ya.”

***

Wisma 46
03.12

Terdengar sayup-sayup keributan dari toilet di pojok gedung. Meskipun ada beberapa lusin personel DSN yang berjaga di dalam Wisma 46, namun keberadaan mereka jauh dari sumber huru-hara. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam toilet tersebut.

Tidak ada yang tahu, kecuali siapa saja yang berada di dalam toilet. Sesama anggota DSN, rupanya. Dua orang. Mereka berkelahi dengan sengit. Salah satu dari mereka tampak kepayahan, sementara yang lainnya mendominasi pertarungan. Singkat saja, sang pemenang lantas mengakhiri konfrontasi dengan menghantamkan wajah sang pencundang ke atas lututnya, kemudian menumbukkannya ke cermin toilet.

PRAAAK!

Cermin pecah berkeping-keping, tumbukan itu pun langsung membuat sang pecundang hilang sadar. Sang pecundang tersungkur lemas, tergeletak tak berdaya di atas ubin. Perseteruan pun berakhir. Situasi langsung sepi seketika waktu.

Tak lama kemudian, sang pemenang pun merunduk di samping tubuh sang pencundang. Ia lantas mencabut kartu yang menggelantung di rompi antipeluru sang pecundang. Kartu itu tak memiliki ‘wajah’ yang menarik, hanya berwarna putih polos. Akan tetapi, tampaknya kartu tersebut memiliki makna yang lebih dari sekadar potongan plastik.

Sang pemenang menekan earpiece yang menempel di belakang telinganya. “Tim, aku sudah mendapatkan kartu akses LARAS. Bagaimana dengan kalian? Kita cuma punya waktu sekitar sepuluh menit lagi untuk berkumpul di lobi LARAS,” rupanya Johan. Ia berhasil menyamar menjadi anggota DSN dan merenggut kartu akses LARAS dari personel cadangan di Wisma 46.

Citra di sini, aku sudah mendapatkannya,” ujar Serka Citra dari balik earpiece-nya. Agak berbisik.

“Tenma, Blade, bagaimana dengan kalian?”

Aku sudah mendapatkannya, Kapten,” Tenma yang merespon. Sementara itu, Blade hanya mendeham.

“Januar, Alamsyah … bagaimana dengan kalian?”

Tak ada respon. Statis. Johan menunggu selama beberapa saat, namun tak ada jawaban apa pun dari kedua utusan presiden tersebut.

“Januar, Alamsyah? Kalian di sana?”

Masih tak ada respon.

“Hei, ada yang tahu di mana dua orang Paspampres itu?” tanya Johan gelisah.

Tak tahu, Kapten. Mungkin alat komunikasi mereka mati?” Citra berhipotesis.

Johan menggeleng-gelengkan kepalanya. Perasaannya mulai tidak enak.

“Januar, Alamsyah … aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian, tetapi aku dan tim akan segera bergerak. Kami tetap akan menunggu kalian di lobi LARAS pada 03.30. Jika kalian tak muncul, kalian akan kuanggap KIA, sesuai dengan kesepakatan,” papar Johan tegas. “Baiklah … Citra, Tenma, Blade, segeralah bergerak ke arah LARAS. Kita tak punya banyak waktu. Hindari konfrontasi.”

Baik, Kapten …

Johan tak ingin mengulur waktu. Ia pun bergegas bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Pintu toilet lantas dibuka perlahan-lahan, Johan pun melongokkan kepala untuk melihat-lihat situasi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada ancaman. Tanpa keraguan, ia segera bergerak keluar dari toilet, menutup pintu secara perlahan, dan mematahkan gagang pintu agar tak ada orang yang bisa masuk secara sembarangan.

Sejurus kemudian, Johan menghilang di balik kegelapan. Ia berusaha meninggalkan Wisma 46 bersama rekan-rekannya. Waktunya tinggal sepuluh menit lagi untuk tiba di lobi LARAS. Jaraknya tak jauh memang, namun ia harus menghindari pengamatan para personel DSN yang berada di dalam gedung komersial tersebut.

Johan berhasil melewati sejumlah rintangan, namun ia harus terhenti begitu melihat sekumpulan orang mengerubungi dua orang personel DSN berlutut di sebuah ruangan yang luas. Kedua personel malang itu sengaja ditekuk oleh rekan-rekan mereka sendiri, lalu diikat seperti sandera perang.

“Tunggu … ” sambil bersembunyi di balik kegelapan, Johan memijit earpiece-nya. Ia mencoba memperingatkan teman-temannya. “Ada yang salah di sini.”

Ada apa, Kapten?” Citra terheran.

“Jangan bergerak dulu. Carilah tempat yang aman. Ada sesuatu yang tak benar.”

Tak lama setelah Johan mengabari rekan-rekan seperjuangannya, tiba-tiba saja kerumunan personel DSN membuka topeng kedua sandera yang berlutut tak berdaya. Kedua mata Johan membelalak. Ia tak menyangka bahwa kedua personel DSN yang disandera tersebut merupakan Januar dan Alamsyah. Dua utusan presiden tersebut tertangkap basah. Johan pun mengerat gigi-giginya dengan keras; ia hendak menolong, tetapi ia punya tugas yang lebih prioritas.

“Kamu tidak dapat broadcast dari Ketua, kan?” tanya salah seorang personel DSN kepada Januar dan Alamsyah. Ketua yang ia maksud adalah Brigjen Dharma.

Januar dan Alamsyah tak merespon. Keduanya hanya sanggup menatapi kerumunan personel DSN di sekeliling mereka dalam kebisuan. Mereka tidak mengiyakan pertanyaan sang penanya, tidak pula menyangkal. Mereka tak tahu apa-apa.

Sementara itu, Johan malah mengerutkan dahi. Ia terheran dengan pertanyaan si personel DSN. “Broadcast dari Ketua? Brigjen Dharma ya, maksudnya? Broadcast apa lagi?” tanyanya dalam bisikan.

Belum sempat Johan mendapatkan jawaban yang jelas, sang penyidik sontak mencabut pistolnya dan melepaskan tembakan ke kepala Januar dan Alamsyah. Suara tembakan menggema hingga ke seluruh sudut ruangan. Darah pun mencurat ke segala arah, begitu pula dengan isi kepala kedua utusan presiden. Lantas, kedua pahlawan itu tersungkur menyentuh ubin. Para personel DSN pun tertawa-tawa. “Pengkhianat,” kata mereka.

Gejolak amarah sontak menyelimuti jiwa dan raga Johan, namun ia tak bisa berbuat banyak. Kedua rekan barunya mati begitu saja. Ia merasa bersalah kepada Januar dan Alamsyah. Sebagai perwira lapangan senior, ia tak mampu menyelamatkan anggota timnya. Gigi-giginya mengerat, tangannya mengepal, dan napasnya menggila. Ia gelisah.

Namun, bukan hanya amarah yang membuat Johan gelisah. Ia juga merasakan keanehan pada DSN. “Pengkhianat?” tanyanya seraya bertolak dari tempatnya bersembunyi. Ia pikir Januar dan Alamsyah ditembak karena ketahuan menyamar, tetapi tidak, keduanya tidak ditembak karena penyamaran. Januar dan Alamsyah ditembak karena sebab yang lain, tetapi apa? Dari umpatan singkat para pembunuh, jelas terlihat bahwa para personel DSN menganggap Januar dan Alamsyah sebagai anggota DSN.

Apakah Januar dan Alamsyah adalah agen ganda? Ataukah ada alasan lain yang mendasari pembunuhan terhadap kedua utusan presiden tersebut?

Lagi-lagi pertanyaan Johan tak sempat terjawab. Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari arah yang tak dapat ditentukan. Tembakannya tidak sering, hanya terdengar sekali-sekali. Tetapi dari suara itu membuat Johan sadar bahwa Januar dan Alamsyah bukanlah satu-satunya pihak yang dieksekusi oleh para personel DSN. Ada sesuatu yang tidak beres di sana. Johan pun bergegas meninggalkan tempatnya berpijak.

Kapten, apa yang terjadi? Aku melihat ada anggota DSN yang dieksekusi oleh teman-temannya sendiri,” ujar Citra.

“Aku tidak tahu, Citra. Lebih baik kita pergi dari sini secepatnya. Situasi makin tak masuk akal,” jawab Johan gelisah.

Bagaimana dengan Januar dan Alamsyah?

“Mereka tewas. Ditembak oleh para personel DSN.”

Astaga … mereka ketahuan?

“Tidak, tidak. Mereka ditembak bukan karena menyamar. Mereka ditembak karena dianggap berkhianat.”

Berkhianat? Anggota DSN yang kulihat tadi juga dibunuh karena berkhianat, katanya.

” … ”

Aku juga mendapati hal yang sama, Kapten. Sudah lima orang anggota DSN dibunuh karena dianggap berkhianat,” Tenma tiba-tiba menimpali percakapan.

Blade tetap tak bersuara, sekadar mendeham.

“Brengsek! Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku juga tak tahu. Pokoknya keluar saja dari sini. Pastikan kalian tidak bertemu dengan anggota DSN. Kita harus mencapai LARAS tanpa bertemu dengan siapa pun.”

Siap, Kapten.

***

03.25

Kekacauan merajalela. Entah apa yang terjadi, para personel DSN yang berada di luar perimeter LARAS tiba-tiba saja bertempur dengan satu sama lain. Berawal dari eksekusi-eksekusi berskala kecil, kini berubah menjadi pertempuran tingkat kota antarsesama personel DSN. Beberapa ledakan kecil juga terjadi di beberapa titik; tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh tembakan Shapeshifter.

Johan dan ketiga bidadari pembunuhnya pun kebingungan. Mereka terjebak di tengah kekacauan tanpa mengetahui penyebab dari perseteruan internal tersebut. Kini mereka harus berlindung di balik dinding dan menunggu celah masuk ke dalam LARAS tanpa ketahuan oleh sejumlah personel yang tengah berseteru.

“Gila! Mereka benar-benar berniat membunuh sesama anggota DSN!” seru Johan kepada rekan-rekannya. Suasana memang sangat berisik, sehingga ia harus sedikit berteriak.

“Kapten, kita harus bergerak!” tukas Citra.

“Tunggu! Tunggu!” Johan mengentak-entakkan tangannya, memberikan isyarat bagi timnya agar tidak gegabah. “Tunggu sampai kita benar-benar punya celah untuk bergerak. Kita akan terekspos selama beberapa saat, itu artinya kita harus menunggu sampai perhatian mereka benar-benar teralihkan.”

“Sekarang belum tepat, Kapten!?”

“Belum, belum! Tunggu sebentar lagi!” seru Johan. “Kalau mereka melihat ke arah kita, matilah kita semua! Kita akan berhadapan dengan satu peleton orang sinting paling terlatih sejagat Nusantara!”

“Oke, Kapten! Kami menunggu perintah!”

Johan masih melakukan observasi. Ia menunggu sampai situasi benar-benar aman untuk bergerak ke gang seberang. Penantian pun membuahkan hasil. Ia melihat para personel DSN mulai menjauh dari tempatnya bersembunyi. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung memerintahkan krunya untuk bergerak.

Lari!

***

LARAS menjelang fajar
03.53

Pria bermantel hitam dan bertopeng gas yang sebelumnya sempat disinyalir sebagai subjek terkuat Project SAKTI itu duduk di tepi ruangan. Ia menatapi ponsel cerdasnya tanpa rasa bersalah. Padahal, di sekelilingnya, terdapat puluhan jasad manusia tak bernyawa yang mati akibat ditembak maupun dihajar olehnya. Darah juga mengalir di sekitar kakinya, namun ia sama sekali tak merasa gelisah.

Jurig tidak sedang duduk dan melakukan hal yang penting bagi operasinya. Ia justru sedang memutar cuplikan film animasi di ponselnya. Melalui Youtube, ia menikmati film animasi favoritnya seperti di rumah sendiri. Ia tak peduli pada mayat-mayat yang tergeletak di sekitarnya, seakan-akan kematian hanya berupa properti tanpa makna baginya. Jurig juga sesekali tertawa, terhibur oleh tontonannya, seakan lupa bahwa ia sedang berada di gedung paling berbahaya sejagat Nusantara.

Bahkan sosok paling mematikan di Project SAKTI butuh hiburan.

Sayangnya, Jurig tak bisa berlama-lama menonton pertunjukkan digital favoritnya. Ia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Kontan, ia pun mematikan layar ponselnya dan mengalihkan fokus ke sumber suara. Jurig bangkit dari posisinya, perlahan-lahan, lantas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. Sesekali ia meregangkan tubuh setelah cukup lama duduk menunggu kedatangan musuh baru.

Baru saja Jurig berdiri, tiba-tiba muncul empat orang berpakaian taktis dan bersenjata lengkap masuk ke dalam ruangan. Kostum mereka mirip seperti kostum DSN, namun tanpa penutup kepala. Tentu saja, mereka adalah tim yang dipimpin oleh Kapten Johan. Mereka berhasil menginfiltrasi LARAS tanpa ketahuan.

Keempat utusan dadakan presiden itu terenyak setengah mati mendapati sosok bermantel hitam di hadapan mereka, satu-satunya yang masih hidup dan berdiri kokoh di antara para mayat. Tanpa berpikir dua kali, mereka langsung menodongkan senapan ke arah Jurig. “ANGKAT TANGANMU!” seru Johan.

Jurig mengikuti permainan lawannya. Ia mengangkat kedua belah tangannya. Tenma dan Blade lantas berjalan mengelilinginya. “Selamat datang … kalian terlambat,” ujar Jurig dengan nada bicara yang sama sekali tak menarik.

“Siapa kau!? Apa kau yang membuat orang-orang ini mati!? Siapa atasanmu!?” Johan menginterogasi Jurig. Ia tak mengenali siapa lawannya. Yang ia tahu hanyalah banyak mayat bergelimpangan di dalam LARAS, termasuk puluhan tubuh yang tergeletak di hadapannya saat ini.

“Hmm … ” Jurig mendeham. Ia tak bergegas merespon, menunggu Tenma dan Blade mendekat. “Terlalu banyak pertanyaan. Ringkaskan pertanyaanmu, amatir.”

Johan masih tak percaya dengan pemandangan di depan matanya, terlihat seperti pembantaian. Apakah benar sosok bermantel hitam di hadapannya yang melakukan pembersihan? Ia tak yakin. “Apakah tak ada lagi ilmuwan atau pasukan penjaga yang tersisa di sini?”

“Ada. Kurasa tinggal dua orang, tetapi tak tahu di mana.”

“Hah? Dua orang?”

“Ya.”

Entah siapa yang Jurig maksud dengan ‘dua orang’, tetapi seluruh pihak yang berada di sana sontak terdiam. Tak ada tanya, tak ada jawab. Tak lama kemudian, Jurig kembali mengejutkan semua orang. Ia tiba-tiba saja melucuti senapan Tenma dan menendang perut Blade dengan keras. Gerakannya terlalu gesit, sampai-sampai Tenma dan Blade tak menyadari serangannya. Padahal, kedua rekan Kapten Johan itu memiliki kemampuan yang setara dengan Adam Sulaiman. Jurig mendominasi situasi walau hanya seorang diri.

Pertarungan jarak dekat pun menjadi tak terhindarkan. Tenma menghadapi Jurig dengan tangan kosong, sementara Blade mencabut golok khususnya untuk melumpuhkan musuh. Jurig sama sekali tak keberatan. Tenma dan Blade meluncurkan berbagai macam serangan secara bersamaan, namun seluruhnya dapat diantisipasi oleh Jurig.

23

Johan dan Citra tak bisa berbuat banyak. Mereka sekadar sanggup membidik dari kejauhan, namun tak bisa menarik pelatuk. Pertarungan antara Jurig dan Tenma dan Blade terlihat sangat kompleks. Johan tak ingin mengambil risiko dengan menembak teman sendiri. Citra, walaupun lebih yakin dengan bidikannya sebagai penembak jitu, namun Johan melarangnya. Johan memercayakan pertarungan kepada Tenma dan Blade.

Perkelahian yang sangat sengit itu pun berakhir buruk. Setelah Jurig berhasil menciptakan jarak dengan Blade, ia berhadapan satu lawan satu dengan Tenma. Awalnya, Jurig dan Tenma sempat bertukar serangan. Seimbang. Akan tetapi, semuanya berubah ketika Tenma memutuskan untuk melakukan tendangan berputar. Di saat Tenma memutar tubuh dan mengayunkan kakinya secepat kilat, Jurig merunduk dan melakukan hal yang sama. Dua tendangan berputar berayun secara bersamaan, namun menelurkan hasil yang sangat berbeda. Tendangan Tenma hanya berhasil mengentak angin, sementara tendangan Jurig mendarat tepat di bawah telinga Tenma.

Serangan Jurig tak sempat diantisipasi. Tendangan kerasnya langsung membuat Tenma terpental dari tempatnya berpijak dan berguling-guling cukup jauh, bahkan menabrak beberapa objek solid di sana. Tak ada yang bisa membayangkan betapa kerasnya tendangan Jurig. Tenma pun tergeletak tanpa daya. Kehilangan kesadaran.

Johan dan Citra terperanjat. Ini adalah pertama kalinya ada orang yang dapat menumbangkan subjek Project SAKTI hanya dengan sekali tendangan, bahkan sampai membuat Tenma terpental. Bahkan petarung paling berbahaya di militer dan intelijen saja tak dapat melakukannya. Siapa orang ini? Johan dan Citra mulai memertanyakan identitas pria bermantel di hadapan mereka. Keraguan dan ketakutan perlahan mulai merayapi segenap jiwa dan raga kedua prajurit elit tersebut.

Jurig meneruskan pertarungannya. Kali ini Blade yang menghadapinya. Dengan golok supernya, Blade mencoba mencincang Jurig dengan gerakan yang amat gesit. Entakan angin dari golok Blade bahkan sanggup membuat benda-benda di sekitar sana terjatuh atau bahkan terpotong. Hal ini juga berhasil membuat Jurig beberapa kali tergores, namun tak fatal. Jurig tetap santai, masih menunggu celah untuk menyerang balik.

Mendapati angin yang berbahaya dari serangan Blade, Johan dan Citra pun buru-buru berlindung di balik dinding untuk menghindari luka yang tak perlu. Mereka tetap membidik ke arah Jurig, namun tak berani menampakkan diri.

Lantas terjadi lagi sesuatu yang amat buruk pada kru Johan. Blade mengayunkan goloknya sekuat tenaga dari atas ke bawah, sampai meretakkan ubin di bawah kakinya. Serangannya luput, sayangnya. Jurig sudah lebih dulu membelokkan tubuhnya, membiarkan angin serangan Blade berlalu di sampingnya. Di saat itulah Jurig menendang pergelangan tangan Blade dengan kekuatan yang tak terkira. Tendangan tersebut tak hanya membuat lengan Blade terpelanting, namun juga membuat golok Blade terlepas dari genggaman.

Blade lengah, pertahanannya terbuka lebar. Tanpa keraguan, Jurig menarik tinjunya setentang kepala, lalu meluncurkannya tepat ke rahang Blade. Pukulan sekuat tenaga tersebut mendarat dengan gemilang, tak sempat diantisipasi oleh Blade. Lagi-lagi Johan harus menyaksikan anggota timnya terpental oleh serangan mematikan lawannya. Blade tersungkur berguling-guling, menabrak sejumlah properti, dan akhirnya tergeletak tanpa daya.

Johan dan Citra panik. Melihat kedua subjek Project SAKTI tumbang tanpa makna, mereka segera menarik pelatuk dan berusaha melumpuhkan Jurig dengan timah panas. Citra merunduk, sementara Johan berdiri di belakangnya. Kedua prajurit elit itu memuntahkan tembakan tanpa keragu-raguan. Mereka tak peduli pada jumlah peluru yang mereka buang, yang mereka pedulikan hanyalah keselamatan diri mereka sendiri.

“ANJING! NGGAK ADA YANG KENA!” protes Johan seraya tetap melepaskan tembakan kesia-siaan. Jurig bergerak terlalu gesit, ia tak bisa mengenai musuhnya.

“KAPTEN, KITA HARUS MUNDUR! ORANG INI GIL—”

Citra menyarankan atasannya untuk mundur dan mengatur taktik, akan tetapi ia dikejutkan oleh dua buah tembakan dari arah yang tak terduga. Terdengar suara retakan yang amat keras pada senapan yang ia dan Johan pegang. Keduanya terdiam selama beberapa saat, mencoba menyadari apa yang baru saja terjadi. Ada asap mengepul dari senapan mereka. Lantas, mereka pun tersadar bahwa senapan mereka sengaja dirusak oleh musuh yang sedari tadi mereka coba tumbangkan. Dalam kata lain, Jurig menghancurkan senapan mereka dengan dua tembakan tunggal, dari jarak yang sangat jauh.

Orang ini gila! Siapa yang bisa menembak akurat sambil berlari seperti dirinya!? Ia lebih dari sekadar Adam Sulaiman, terlalu surealis untuk menjadi kenyataan!

Pertanyaan demi pertanyaan menggema di dalam kepala Johan maupun Citra. Mereka menganggap Jurig seperti bagian dari mimpi, apalagi kemampuannya yang tak masuk akal.

Johan dan Citra sudah tak punya waktu untuk mundur. Jurig pun sudah teramat dekat. Akhirnya, kedua prajurit elit tersebut berupaya untuk melancarkan serangan terakhir. Mereka mencabut pistol yang menjuntai di bagian pinggul dan membidikkannya ke arah datangnya musuh.

Sayangnya, upaya ini pun hanya berakhir dengan sia-sia.

Citra sempat melepaskan tembakan, namun tangannya sudah lebih dulu ditepak oleh Jurig. Bidikannya meleset jauh, peluru pun melayang ke ruang kosong tak bermakna. Pertahanannya terbuka lebar, jadi sasaran empuk bagi musuhnya. Benar saja, Jurig langsung mengayunkan tendangan keras ke perutnya. Tulang kering Jurig masuk dan menghantam ulu hati Citra. Pelat antipeluru bahkan tak sanggup menahan derasnya energi serangan Jurig.

Citra sampai terangkat dari tempatnya berdiri, meninggalkan pijakannya. Kedua matanya terbelalak, namun pandangannya kabur. Kesadarannya pun berangsur-angsur hilang. Ia sempat mengawang-awang, namun pada akhirnya tersungkur tanpa daya di hadapan atasannya.

Tinggal Johan satu-satunya petarung yang tersisa di sana. Ia pun tak bisa berbuat banyak. Pistolnya dilucuti oleh Jurig; slider-nya dicopot dan magasinnya dicabut secepat kilat. Johan lantas ditendang menjauh, pistolnya direnggut dan dibuang. Perwira muda itu sengaja dibuat melawan tanpa senjata api sama sekali.

Johan tak ingin menyerah. Walaupun ragu-ragu, namun ia masih memiliki keberanian untuk melawan. Ia mencabut pisau kecil dari balik rompi antipelurunya dan memasang kuda-kuda. Di saat yang sama, Jurig tetap berdiri santai seakan sedang berhadapan dengan anak kecil yang sama sekali takkan menimbulkan celaka untuknya.

Johan merangsak maju dan memulai pertarungan dengan Jurig. Tebasan demi tebasan ia luncurkan, sesekali juga menyelingi serangan dengan pukulan dan tendangan. Perkelahian terlihat sengit, memang. Namun upayanya sama sekali tak membuahkan hasil yang maksimal. Serangannya beberapa kali sanggup mengenai titik-titik vital Jurig, namun itu saja tak cukup.

Akhirnya, Jurig mulai merasa bosan dengan pertarungan yang kian monoton. Ia pun menyeruduk maju bersamaan dengan serangan yang meluncur ke arahnya, lalu mengunci lengan Johan. Ia juga memelintir pergelangan tangan Johan hingga Johan kehilangan genggaman atas pisaunya. Sejurus kemudian, Jurig melepaskan sejumlah serangan cepat pada kepala dan torso Johan. Begitu Johan terhuyung layaknya pemabuk, Jurig bergegas menyepak kaki Johan hingga terjatuh melutut, lalu mengentakkan pangkal telapak tangannya ke pelipis Johan.

Pukulan Jurig tak sempat diblokir, mengguncangkan kepala sang perwira muda yang sudah berada dalam kondisi setengah sadar. Entakan keras itu pun langsung membuat Johan tersungkur jatuh dan blackout. Perwira yang digadang-gadang sebagai perwira baret merah terbaik di bidang intelijen itu pun pingsan. Padahal, Johan termasuk salah satu orang yang sanggup bertahan dari serangan Adam Sulaiman. Kali ini, lawannya lebih gila daripada Adam.

Jurig memenangkan pertarungan terakhirnya dengan mudah. Situasi pun kembali menyepi. Ia lantas menghela napas panjang seraya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tiada lagi ancaman yang berarti.

Tak ada sisa ancaman, memang. Namun, ada sesuatu yang sedikit membuat Jurig penasaran. Ia agak heran dengan sayup-sayup keributan yang terjadi di luar LARAS. Ada campuran suara ledakan, tembakan, dan juga jeritan. Ia tahu sumber suara tidak berasal dari dalam LARAS, tetapi apa yang terjadi? Seingatnya, atasannya tidak pernah mengirim pasukan tambahan atau memberikan informasi tentang kehadiran pasukan lawan.

Jurig tak ingin peduli, tetapi ia merasakan ada banyak orang yang berusaha menembus sistem pertahanan LARAS. Apa pun yang akan terjadi, Jurig akan tetap di sana dan menghadapi semuanya. Sendirian. Sama seperti sebelumnya.

***

04.04

Subject 09 dan Subject 03 telah berada di ruang kontrol LARAS. Setelah menunggu cukup lama, mereka akhirnya bisa mengendap-endap dan melewati pagar betis yang dibuat oleh Jurig. Beberapa saat lalu, konsentrasi Jurig sempat teralihkan oleh keberadaan sebuah tim penyerang yang nekat datang dan menghadapi Jurig secara empat mata. Subject 09 tahu siapa orang-orang yang tergabung dalam tim tersebut, ia tahu persis.

“Kau sadar kan siapa yang mengalihkan konsentrasi One tadi?” tanya Subject 09 seraya menekan tombol-tombol pada meja kontrol.

“Ya, kapten sialan yang membuat kita tertangkap di Jombang,” ujar Subject 03 membantu saudaranya.

“Johan … mau apa dia kemari? Mau menghentikan peperangan? Sudah terlambat, benar kata Jurig tadi. Semua orang sudah tewas.”

“Siapa yang tahu? Ia pasti punya misi khusus datang kemari. Lihat saja kostumnya. Mereka menyamar menjadi anggota DSN. Itu berarti mereka tidak ingin ketahuan oleh DSN sebagai pihak lain, mereka tidak benar-benar berada pada pihak DSN, mereka punya tuan sendiri.”

“Heh … ” Subject 09 tertawa kecil. “Aku jadi merasa kasihan padanya. Lawannya Jurig. Mampuslah. Dia pikir Ten dan Four akan cukup untuk melawan si botak keparat?”

“Kurasa kita harus mengucapkan selamat tinggal pada Johan untuk selama-lamanya. Ten dan Four mungkin selamat, tetapi tidak untuk Johan dan temannya yang jago tembak itu. One akan melumatkan mereka seperti perkedel.”

“Ya … rusukmu saja patah, apalagi mereka.”

“Ah, biarkanlah One bersenang-senang. Yang penting kita berhasil lepas dari meja penyiksaan dan punya peluang untuk kabur dari sini. Itu saja sudah cukup bagiku, Nine.”

“Kurasa kau benar … ” Subject 09 menekan tombol besar pada meja kontrolnya. Tak lama setelahnya, muncul beberapa baris tulisan pada layar komputer yang pada intinya menyatakan bahwa sistem keamanan LARAS telah dinonaktifkan.

“Ayo, kita pergi dari sini, Three!” tukas Subject 09 seraya menenteng senapannya.

“Ayo!” Ara mengikuti langkah saudaranya. Ia sempat bersemangat setelah berhasil menonaktifkan sistem keamanan LARAS, namun ia teringat sesuatu. Langkahnya pun melambat. “Errr … tapi, kita harus melewati pagar betis si kampret botak itu lagi kan? Bagaimana caranya, Nine?”

Subject 09 pun menghentikan langkahnya. Ia lantas menoleh ke belakang dan menatapi saudara cantiknya selama beberapa saat. “Kau punya ide yang lebih baik untuk keluar dari sini tanpa harus berkonfrontasi dengannya?”

Ara mengusap-usap keningnya. Ia berupaya mencari gagasan yang menarik agar tak harus berkelahi dengan Subject 01. “Nggg … kalau negosiasi, bagaimana?”

Subject 09 melirikkan matanya ke atas, sedang mengingat-ingat pribadi saudara tertuanya. “Kau pikir ia mau mendengarkan?”

“Aku tak tahu sih … tetapi—”

Tak sempat Subject 03 menjelaskan proposisinya, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang cukup dekat dari tempat Subject 09 dan Subject 03 berdiri. Mereka tahu bahwa ledakan tersebut berasal dari dalam LARAS. Suara tersebut disusul oleh rentetan tembakan dan teriakan, tanda bahwa kembali terjadi baku tembak yang sangat sengit di suatu tempat. Tetapi, siapa lawan siapa? Bukankah seluruh penjaga di dalam LARAS telah dihabisi?

Kontan, kedua subjek Project SAKTI langsung bergerak mengendap-endap, mencari tempat berlindung, seraya tetap bergerak maju menuju kebebasan yang hakiki. Mereka bergerak dan bergerak sampai akhirnya tiba di tempat terakhir Subject 01 menginjakkan kakinya. Herannya, Jurig sudah tak berada di sana. Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk bergerak menuju pintu keluar. Walaupun masih terdengar rentetan tembakan yang amat intens di suatu lokasi, namun mereka tak khawatir. Mereka jauh lebih khawatir jika Subject 01 ada di sana.

Subject 09 dan Subject 03 berlari meninggalkan lokasi persembunyian tanpa keragu-raguan. Mereka sudah hampir mencapai pintu keluar. Akan tetapi, lagi-lagi mereka dikejutkan oleh sesuatu. Sebuah tembakan plasma sontak menghancurkan pintu dan dinding depan LARAS. Bebatuan dan serpihan metal pun beterbangan ke dalam ruangan, langsung membuat kedua subjek Project SAKTI panik. Refleks, Subject 09 dan Subject 03 langsung melompat menyamping, berlindung di balik dinding.

Rupanya, sebuah mobil Shapeshifter baru saja membuat lubang besar pada dinding depan LARAS. Seraya berlindung di balik dinding, Subject 09 dan Subject 03 membidikkan senapan ke arah datangnya mobil. Tak lama setelahnya, sejumlah orang turun dari Shapeshifter. Para personel DSN. Mereka turun dan bersiaga dengan senapan pada genggaman masing-masing, lalu bergerak maju di antara kepulan asap.

Merasakan ancaman datang di depan mata, Subject 09 dan Subject 03 langsung melepaskan tembakan ke arah para personel DSN yang bergerak mendekat. Enam personel DSN langsung tumbang diterjang tembakan dan tak sempat melawan balik.

Akan tetapi, ada satu personel yang mampu menghindari tembakan dengan gesit. Ia bergerak seperti bukan personel DSN pada umumnya. Subject 09 dan Subject 03 pun kerepotan melawannya, sebab tak ada satu pun tembakan dari keduanya yang mampu mengenai sang target.

Siapa!?

Semburan tembakan yang dilakukan oleh kedua subjek Project SAKTI tak membuahkan hasil. Mereka malah kehabisan peluru. Pada akhirnya, mereka pun bangkit dari tempat mereka berlindung dan memutuskan untuk menghadapi sang personel misterius dengan tangan kosong. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghadapi orang yang lincah seperti monyet lepas.

Namun, belum sempat Subject 09 dan Subject 03 bergerak, sang personel sudah berdiri di antara keduanya dan membidikkan pistol ke kepala Subject 09 serta membidikkan senapan ke kepala Subject 03. Skakmat. Subject 09 dan Subject 03 tak berani bergerak, mereka hanya sanggup berdiri mematung. Personel lincah tersebut sontak mengingatkan mereka pada seseorang.

Boys, ini aku. Seventeen. Beruntung sekali aku menemukan kalian di sini,” katanya. Rupanya sosok di balik topeng DSN tersebut adalah Felicia.

“Ninja! Sialan, pantas saja aku merasa kenal … ” tukas Ara.

“Kau di sini untuk menjemput kami? Atau kau punya tuan baru dan tugas lain di sini?” tanya Subject 09 sinis.

Subject 17 mengembuskan napas panjang. Ia pun menurunkan bidikannya dan sesekali melihat ke belakang untuk memastikan bahwa tak ada yang melihatnya berbincang-bincang dengan dua sosok subjek Project SAKTI. “Masuklah ke dalam mobil. Jangan berbicara di sini!”

“Asyik, kita diselamatkan oleh tuan putri!” ujar Ara bahagia. “Ayo, Nine! Kita pergi dari sini!”

” … ” Subject 09 tak merespon. Ia langsung berlari kecil menuju mobil Shapeshifter yang terparkir beberapa puluh meter dari tempatnya semula berpijak.

Tanpa berkata-kata, Subject 17 pun menyusul langkah kedua saudaranya. Ia berlari kecil menuju tempat terparkirnya Shapeshifter, masuk ke dalam ruang kemudi, lantas menyalakan mesin mobilnya. Sejurus kemudian, ia langsung menancap gas meninggalkan gedung paling berbahaya sejagat Nusantara tersebut.

Beberapa personel DSN yang berada di sekitar sana sempat memertanyakan mengapa ada Shapeshifter yang berbalik arah? Akan tetapi, mereka tidak peduli. Mereka lebih peduli pada perintah Brigjen Dharma. LARAS sudah terbuka lebar, itu adalah kesempatan mereka satu-satunya untuk masuk tanpa mengkhawatirkan sistem keamanan yang sudah lumpuh.

Pertanyaan pentingnya adalah: perintah apa lagi yang datang dari Brigjen Dharma? Bukankah perintah palsu hanya disebar untuk anggota DSN di dalam LARAS?

***

Beberapa saat sebelumnya …

Jurig ada di sekitar sana, bersembunyi di balik kegelapan seraya menatapi mobil Shapeshifter berbalik arah dan meninggalkan lokasi LARAS. Ia tahu apa yang terjadi, sebenarnya. Hanya saja, ia merasa tak penting untuk mengejar para pelarian. Bukan prioritasnya. Ia berada di sana untuk menyapu bersih para cecunguk dari berbagai macam satuan yang mencoba menguasai LARAS.

Meski demikian, ia merasa terkesima dengan upaya penyelamatan yang baru saja terjadi tepat beberapa puluh meter di depan matanya. Ada sesosok ‘pahlawan’ yang rela datang jauh-jauh ke LARAS, menyamar menjadi anggota DSN, sekadar untuk menjemput dua subjek Project SAKTI. Kini ia jadi mengerti mengapa muncul kekacauan di luar LARAS.

“Seventeen, ya?” tanyanya dalam bisikan. “Propagandamu masih selalu yang terbaik.”

Belum lama berselang, Jurig mendengar keributan beberapa ratus kaki di belakangnya. Sepertinya banyak anggota DSN yang memasuki LARAS lewat pintu belakang. Ia pun menoleh sejenak dan berusaha memerkirakan jumlah personel DSN yang masuk ke dalam LARAS.

“Seventeen, Nine, dan Three … ” Jurig melompat turun dari tempatnya bersembunyi. Ia lantas berjalan menuju tempat terdengarnya keriuhan seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel.

“Menarik.”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!