22 – Internal Chaos [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Jakarta, 1998

Project SAKTI. Special Abolishers to Kill Tyrants of Ideology, kepanjangannya. Waktu itu, Project SAKTI belum benar-benar disahkan oleh Presiden Soeharto, baru sekadar menjadi perbincangan di kalangan elit militer maupun sipil. Proyek itu bertujuan untuk melibas para provokator asing yang mulai banyak beroperasi di Indonesia setelah berhasil mencaplok Pulau Nagatari melalui perantaraan Singapura. Soeharto kesal setengah mati atas pencaplokan tersebut, para jenderal nasionalis pun merasakan hal yang sama. Itulah kenapa mereka mendiskusikan eksperimen tentara super seperti Project SAKTI.

Meskipun baru berupa draf, Project SAKTI sebenarnya telah beroperasi secara penuh sejak pertama kali Soeharto mendengar kabar pencaplokan Pulau Nagatari. Para pencetusnya telah merekrut subjek eksperimen pertama mereka, yakni seorang anak jalanan yang tinggal di sekitar pasar becek. Anak itu diperkirakan berusia sekitar 10-12 tahun, tinggal sendirian di antara tumpukan sampah, dengan wajah dan badan penuh luka. Menurut penuturan warga sekitar, anak laki-laki berambut tipis itu sering dipukuli oleh para preman akibat mencuri makanan atau sekadar mengemis kepada para pedagang. Hebatnya, ia masih hidup setelah melalui berbagai macam jenis kekerasan.

Sewaktu ditemukan menggigil di antara tumpukan kotoran, para pencetus Project SAKTI bisa melihat bahwa anak berambut tipis itu adalah aset yang ideal untuk dijadikan subjek eksperimen. Anak itu sangat tangguh, mereka tahu bahwa anak itu bisa menjadi aset yang amat berharga bagi negara dan kelancaran proyek.

Akhirnya, setelah berhasil menggali informasi dari beberapa warga di sekitar pasar, para pencetus Project SAKTI pun membawa sang anak. Tak ada proses tawar-menawar, anak itu langsung dibawa pergi. Warga di sekitar pasar tak peduli, mereka malah merasa bahagia, seakan telah bebas dari parasit yang amat mengganggu.

Hari itu pun menjadi hari terakhir sang anak tinggal di atas tumpukan sampah.

***

Tahun 2008
10 tahun kemudian …

Anak malang yang diangkut oleh para pencetus Project SAKTI telah bertransformasi menjadi sesosok pria yang amat tangguh. Setiap helai rambutnya telah menghilang, kepala pelontosnya tersingkap. Badannya pun menjadi sangat kekar dan keras setelah menjalani latihan berat selama bertahun-tahun dengan para perwira muda di Project SAKTI. Sejauh ini, dialah agen Project SAKTI yang paling banyak mencetak korban di pihak lawan, jauh melampaui jumlah korban yang dicetak oleh subjek eksperimen yang lain. Agensi legendaris seperti CIA dan Mossad pun sampai berpikir seribu kali untuk beroperasi di tanah Nusantara.

Dan di sinilah dirinya, duduk terdiam di luar instalasi rahasia Project SAKTI, seraya bersandar pada dinding semen yang kusam, merokok, dan menikmati ketiadaan. Ia biarkan malam menyelimutinya dalam gelap, ia biarkan ilalang mengerumuni raganya. Malam itu memang tak ada operasi, tak ada perintah dari atasan, ia pun melamun untuk mengusir sepi.

Akan tetapi, kesepian itu seketika lenyap ketika seorang bocah menemukan si subjek pelontos duduk di antara sesemakan. Anak laki-laki yang berusia sekitar sepuluh tahun dan berpakaian lusuh tersebut menghampiri si subjek pelontos tanpa keragu-raguan, tanpa permisi, seakan sudah terbiasa dengan keberadaan si kepala pelontos. Tentu saja, anak itu juga sebenarnya merupakan subjek Project SAKTI. Terlihat dari badannya yang kekar bahkan pada usia yang sangat muda.

“Nine … ” si subjek pelontos berujar tanpa menoleh. Anak kecil itu ternyata dipanggil dengan nama Nine, seperti nomor sembilan dalam Bahasa Inggris. “Kenapa ke sini? Mau dihajar?”

Anak misterius bernama Nine itu pun duduk di samping si subjek pelontos. Ia sama sekali tak mengindahkan intimidasi ‘kakak’ seperjuangannya. “Hajar saja, One. Kita lihat siapa yang akan menang.”

One, itulah nama panggilan si subjek pelontos. One, seperti nomor satu dalam Bahasa Inggris. “Pergi!”

Masih sambil duduk bersandar, One tiba-tiba mengayunkan tinju martilnya ke arah samping, ke kepala Nine. Sayang, pukulannya malah mendarat di dinding, gagal mengenai target. Nine sudah lebih dulu membelokkan kepalanya sebelum tinju menghantam wajahnya. Meski demikian, pukulan One yang cepat dan keras mampu membuat dinding di samping kepala Nine rompal, serpihannya bahkan beterbangan beberapa saat setelah One mendaratkan serangan.

Dua orang dengan kemampuan di atas normal saling unjuk gigi malam itu. Nine menunjukkan kecepatan dan kecekatannya, One menunjukkan kekuatannya. Akan tetapi, serangan mendadak itu tak diteruskan. One sepertinya sedang tidak ingin bertukar serangan dengan siapa pun. Ia lantas kembali pada posisi duduknya, seraya menarik napas panjang.

“Kau beruntung … ” kata One. “Aku sedang tidak mood untuk berkelahi.”

“Aku juga tidak datang ke sini untuk berkelahi.”

Sesaat itu, kedua subjek eksperimen terdiam. Mereka menengadah menatapi langit malam. Sesekali serangga kecil menyapa, berputar-putar di sekitar wajah kedua subjek. Namun keduanya acuh tak acuh.

“Aku ke sini untuk bertanya … ” kata Nine. “Kau adalah subjek yang paling berpengalaman di antara kita semua.”

One tak memberikan tanggapan. Ia sekadar mengisap batang tembakaunya dan mengembuskan polusi kecil dari rongga mulut dan hidungnya.

“Aku ingin tahu apa pendapatmu tentang perang? Kenapa kita harus berperang?”

One tercenung sejenak sebelum menjawab pertanyaan adiknya. “Kau ingin damai selama-lamanya? Pergilah ke planet lain.”

“Maksudku kenapa manusia selalu ingin berperang? Kata Kapten Sukardi, dari dulu sampai sekarang, manusia selalu memperlakukan perang seperti makan dan minum. Perang adalah kebutuhan, katanya. Kenapa?”

“Kenapa kau tak tanyakan itu kepadanya?”

“Ia tak mau memberitahuku.”

“Kapten brengsek itu, selalu sok filosofis ya … ” tukas One. “Perang itu adalah keadaan natural untuk melepaskan diri dari perbedaan. Mengerti?”

Nine menggelengkan kepalanya.

“Tolol sekali dirimu, Nine … ” ujar One gusar. Ia lantas terdiam sejenak seraya menghela napas panjang. “Manusia itu berbeda-beda kan?”

“Iya.”

“Ada Islam, ada Kristen. Ada hitam, ada putih. Ada Jawa, ada Sumatera. Ada Asia, ada Eropa. Berbeda-beda kan?”

Nine menganggukkan kepalanya.

“Sekarang bayangkan apa yang terjadi jika masing-masing orang yang berbeda itu ingin hidup tanpa perbedaan.”

” … ”

“Di setiap komunitas manusia, selalu ada segelintir orang yang muncul sebagai pengaruh. Dan setiap pengaruh akan punya kecenderungan untuk menghapuskan pengaruh yang lain. Di saat itulah perang menjadi tak terhindarkan … ” jelas One. “Perang itu natural, akan terus terjadi selama manusia hidup di muka bumi.”

“Apakah itu berarti kedamaian tidak natural?”

“Ya. Damai itu kondisi yang perlu diupayakan, butuh energi yang tak sedikit untuk mempertahankan kedamaian. Tak seperti perkelahian yang bisa terjadi setiap saat.”

“Hmm … begitu, ya?”

“Pikirkan saja begini: bayangkan ada negara tanpa presiden, tanpa ada orang yang mau mengatur massa, kau pikir negara tersebut bisa damai begitu saja?”

Nine menggelengkan kepalanya.

“Bisakah menjadi kacau?”

“Pasti.”

“Sekarang kau sudah mengerti kan? Perang dan damai selalu sesimpel itu, Nine. Tak pernah berubah sejak manusia pertama kali menginjakkan kaki di muka bumi.”

Nine terdiam membisu. Ia pun menatapi bintang-bintang yang menggantung di atas langit, menghayati keindahannya. Nine tercenung. Bintang-bintang itu akan hilang saat mentari meninggi, keindahannya seketika mati. Ia kini memahami bahwa tiada keindahan yang abadi di dunia tempatnya tinggal. Sama seperti kedamaian yang selalu ia damba-dambakan.

“Jadi kita berada di pihak yang mana? Pihak yang berperang atau berdamai?” tanya Nine lagi.

“Keduanya,” One mengembuskan asap dari kedua rongga hidungnya. “Kita membunuh puluhan untuk menyelamatkan ratusan, membunuh ratusan untuk menyelamatkan jutaan, dan seterusnya. Itu yang selama ini kita kerjakan.”

” … ”

One mengusap-usap kepala pelontosnya. Ia tampak tak nyaman. “Entah bagaimana kau melihatnya, tetapi apa yang kita lakukan terasa sangat bodoh.”

Nine menatapi wajah saudaranya selama beberapa saat. Terheran. “Mengapa kau berkata seperti itu?”

“Manusia itu tak pernah sepadan untuk diselamatkan. Seharusnya justru dimusnahkan dari muka bumi.”

” … ”

“Aku didesain untuk membenci manusia sejak lahir. Manusia telah melakukan banyak hal buruk padaku. Orangtuaku, orangtua angkatku, para preman, hingga Project SAKTI, mereka tak pernah memperlakukanku sebagaimana mereka memperlakukan manusia. Menurut mereka … aku ini binatang jalang,” jelas One seraya tertunduk. “Aku sempat berpikir untuk bunuh diri, tetapi … ”

Nine mendengarkan dengan seksama. Ia mengerti bahwa One memiliki masa lalu yang jauh lebih kelam darinya. Ia tak mau menghakimi.

“Aku takkan puas jika hanya aku saja yang mati. Aku ingin semua orang ikut mati dalam keputusasaan.”

Kali ini Nine terenyak. Ia langsung menatapi One dengan kedua mata membelalak. Pernyataan One seketika membuat dadanya membuncah. Ia tahu One tak bercanda, ia tak pernah mendapati One bercanda.

“Suatu hari nanti, Nine … aku akan membuat hidup ini tak lebih dari sebuah rasa sakit. Setiap orang harus merasakan apa yang kurasakan. Dan ketika itu telah terjadi … aku baru akan mempersilakan diriku sendiri untuk mati.”

Nine terdiam sejenak. “Kenapa kau tak melakukannya dari sekarang?”

“Aku butuh membangun kekuatan. Tragedi sebesar itu perlu perencanaan yang matang. Pokoknya lihat saja … kelak aku akan muncul lagi dan kita mungkin akan menjadi musuh bebuyutan,” ujar One seraya menatapi adik seperjuangannya.

“Kapten Sukardi dan perwira yang lain pasti akan melakukan sesuatu, One.”

“Tentu saja … ” One menolehkan wajahnya ke depan. “Aku akan mengoyak mereka jika saatnya tiba.”

Nine pun terdiam. Ia tak ingin menanggapi pengakuan One lebih jauh. Tak lama kemudian, ia segera membangkitkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan One sendirian. Percakapannya malam itu mengantarkannya kepada renungan yang amat dalam. One membiarkannya pergi.

Akan tetapi, sebelum berjalan terlalu jauh, Nine menghentikan langkahnya. Ia pun mengepalkan kedua tangannya seraya terus merenungkan kata-kata saudaranya. One tak memedulikan keberadaan Nine, pria berkepala pelontos itu malah mengisap rokoknya hingga tak ada lagi tembakau yang tersisa.

Sama seperti keindahan yang fana, sama seperti kedamaian yang sesaat, kesunyian pun bertransformasi menjadi ketegangan. Nine sontak berbalik arah dan berlari menghampiri tempat di mana One berjongkok. Ia lantas melompat seraya mengepalkan salah satu tinjunya setinggi kepala, bersiap menerjang saudaranya sendiri dengan sebuah serangan tunggal.

One sadar akan ancaman yang datang, tetapi ia tetap santai. Ia bangkit perlahan seraya menyentil rokoknya ke atas tanah. Posisinya berubah, pijakannya menjadi lebih tegas, dan ia bersiap menghadapi serangan Nine dengan serangan yang lain. Ia tak berpindah sedikit pun dari tempatnya berdiri, hanya mengubah kuda-kuda.

Kedua subjek Project SAKTI mendekat, memburu napas. Nine meluncurkan tinjunya ke wajah One, sementara One mengentakkan telapak tangannya ke arah Nine. Kedua serangan hampir beradu. Hampir.

Pukulan melesat cepat dan keras ke wajah One, namun meleset beberapa sentimeter di samping kepalanya. One menghindari pukulan Nine dengan cekatan. Ia hanya menggerakkan kepalanya sedikit dan serangan Nine pun luput.

Sementara itu, Nine justru bernasib sebaliknya. Entakan telapak tangan One berhasil mendarat tepat di lehernya, membuatnya hampir kehilangan fokus dan kesadaran. Sesaat setelahnya, One segera mencengkram leher Nine dan menarik tubuh bocah kecil tersebut ke arah dinding.

BRAAAK!

Tanpa sedikit pun keraguan, One menumbukkan tubuh kecil Nine ke dinding di sampingnya. Tumbukan tersebut sampai membuat retakan dinding beterbangan. One benar-benar melakukannya dengan serius, ia tak peduli pada usia Nine yang masih amat belia.

“Kau berkelahi seperti cecunguk. Kau melupakan latihanmu,” ujar One santai.

“One … ” Nine kesulitan bernapas. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Serangan One mampu membuat ketangguhannya lumpuh seketika waktu. “K-kalau kau benar mau menghacurkan dunia seperti yang kau katakan, aku akan menghajarmu.”

One menyeringai sinis. Ia mengagumi kepercayaan diri bocah tangguh di hadapannya. “Aku tidak tertarik untuk menghancurkan dunia. Aku hanya tertarik untuk membuat manusia sengsara.”

” … ” Nine tak bisa menjawab argumentasi One. Ia hanya sanggup mengeraskan lehernya yang semakin tertekan oleh cekikan One.

“Jika kau ingin menghajarku, sebaiknya kau berlatih dengan benar dan jangan menyerang seperti bocah jalanan!” One meneriaki Nine hingga terdengar gelegar suaranya ke segala arah. Lantas ia terdiam, meninggalkan kesunyian. “Kalau kau sudah melakukannya, kau baru boleh mati di tanganku … ”

“Hei, apa yang kalian lakukan di sana!?”

Tak lama kemudian, muncul seorang pria beberapa belas meter dari tempat di mana One dan Nine berseteru. Pria tersebut menggunakan kaus lapangan berwarna biru tua bertuliskan ‘Paskhas’ di bagian dada dan punggungnya. Sepertinya ia adalah salah satu pelatih Project SAKTI yang bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan fisik para anggotanya.

“Hei! HEI!”

***

Tuban, Jawa Timur
Beberapa jam sebelum DSN menerima terusan pesan misterius di dalam LARAS

Nadia masih duduk di depan komputer jinjingnya, tanpa lelah ia memerhatikan setiap objek maupun subjek yang lewat pada pencitraan kamera CCTV di seluruh Kota Tuban. Akan tetapi, sudah sekian hari berlalu sejak kepergian Subject 17, ia tak juga menemukan anomali. Ia mulai berpikir bahwa rumah yang ia tempati saat ini memang belum ditandai oleh pemerintah. Namun ia tak ingin lengah, tugas adalah tugas, ia tak boleh mengkhianati ekspektasi Felicia untuk menjadi penanggung jawab keamanan rumah.

Di tengah kesibukan Nadia menatapi layar laptop, Verani muncul, datang dari arah kamar untuk menghampiri tempat di mana Nadia duduk. Wanita berambut ikal tersebut tampak berantakan, sepertinya baru saja terjaga dari tidurnya dan belum bisa kembali ke lautan mimpi. Tanpa keraguan, ia pun langsung mengambil posisi di samping Nadia dan duduk di sebelah ilmuwan cantik tersebut.

“Hei, Nadia … ” sapa Verani.

“O-oh, halo, Mbak Verani … ” Nadia agak terenyak, tetapi ia bisa mengendalikan keterkejutannya. “Ti-tidak bisa tidur?”

“Bisa kok. Aku hanya ingin melihat apa yang sedang kau kerjakan. Kau sering bergadang hanya untuk memerhatikan video-video ini. Apakah kau tidak eneg?”

“A-ah, ahaha. Unggg, eneg sih sebenarnya. Tetapi, Mbak Felicia mengharapkanku menjadi penanggung jawab keamanan di rumah ini. Aku harus melakukannya.”

Verani tertawa kecil. “Kau ini memang anak yang rajin ya? Tak heran jika kau bisa lulus S2 di Tokyo.”

“A-aduh, jadi malu … ” Nadia pun tertunduk, lalu terdiam sesaat. “Aku hanya tidak ingin keberadaanku malah menjadi beban di sini, jadi aku mau membantu Mbak Verani dan teman-teman.”

“Kau tidak menjadi beban, Nadia. Walaupun awalnya aku sempat ketus terhadapmu, tetapi pendirianku sudah berubah … aku percaya kau adalah wanita yang baik. Patih juga suka denganmu.”

“I-iya, Mbak Verani waktu awal-awal galak sekali … terutama waktu pertama kali bertemu di Jombang.”

Verani tersenyum tipis, ia mengenang pertemuannya dengan Nadia beberapa malam silam. “Mungkin itu karena aku sudah terlanjur mencitrakan PIN sebagai kumpulan orang-orang berperingai buruk. Mereka memperlakukanku dan Patih seperti kriminal. Terlepas dari keahlian mereka mencari latar belakang orang lain, mereka sama sekali tak peduli pada status kami sebagai warga sipil yang kebetulan hanya satu atap dengan … buronan.”

Nadia menatapi wajah Verani. Ia bisa mengerti perasaan ibu muda tersebut. “Aku sudah lima tahun bekerja untuk PIN. Aku bisa mengonfirmasi bahwa di tubuh PIN sendiri sangat heterogen. Ada orang yang niatnya mulia, tetapi ada juga orang yang korup. Dua jenis manusia ini selalu ada di tubuh PIN, bahkan kutu buku seperti aku pun ada yang begitu.”

“Ya, aku tahu itu, Nadia. Tak semua anggota PIN buruk. Aku hanya terlanjur mencitrakan mereka sebagai institusi yang buruk, itulah kenapa aku sangat ketus sewaktu pertama kali melihat dirimu.”

Nadia sekadar tersenyum, lalu mengembalikan fokusnya ke layar komputer.

“Nadia … ” ujar Verani lagi. “Kau telah bekerja untuk PIN selama lima tahun, itu bukan waktu yang sebentar, apa saja yang telah kau lakukan di sana?”

“O-oh, soal itu … sebenarnya … aku adalah anggota Divisi Riset dan Pengembangan PIN. Aku banyak melakukan penelitian terhadap alat-alat penunjang PIN, yakni alat-alat yang dapat berguna bagi agen PIN di lapangan.”

“Hmm, hanya itu? Kata Felicia, kau juga bertanggung jawab atas eksperimen cuci otak terhadap saudara-saudara Adam.”

“E-eh, kalau itu … anu … aku tidak bertanggung jawab atas itu. A-aku hanya dipaksa bergabung dan mencatat hasil penelitian. S-sumpah, demi Tuhan. A-aku awalnya menolak, tetapi PIN mendesak,” papar Nadia gelagapan. “Kalau aku tidak menuruti mereka, aku mati … ”

Verani terdiam sejenak, merenungi kata demi kata yang diucapkan Nadia. “Jadi kau sudah melihat semua yang terjadi di laboratorium eksperimen … ”

Nadia tertunduk, lantas memangku kedua tangannya dengan gugup. Ia terdiam, seakan tengah menerawang masa lalu yang kelam. Sayup-sayup suara jeritan seketika berdengung di dalam kepalanya. Subjek Project SAKTI, betapa pun kuatnya, mereka tetaplah manusia yang bisa menjerit kesetanan saat merasa kesakitan.

“I-itu bukan sesuatu yang ingin kulihat dan kudengar lagi untuk selama-lamanya,” tutur Nadia lirih.

” … ”

“M-mereka kejam, Mbak. A-aku kejam! Meskipun aku hanya mencatat hasil penelitian, tetapi aku ikut menjadi saksi atas penyiksaan dan penganiayaan terhadap subjek-subjek Project SAKTI—saudara-saudara Mas Adam,” jelas Nadia. Matanya mulai berkaca-kaca. Napasnya mulai sesunggukan.

“A-aku merasa berdosa atas tertangkapnya Mas Adam, karena aku tahu persis apa yang akan dilakukan oleh PIN kepadanya,” lanjut Nadia menangis.

Verani pun tertunduk dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Ia berusaha untuk bersikap tegar dan tak memikirkan hal-hal yang dapat membuat mentalnya remuk. Ia mengatur napas yang mulai gemetar tak karuan. “Felicia pasti berhasil. Ia selalu berhasil,” ia terus-menerus menyugestikan kata-kata tersebut untuk membentengi diri dari ketakutan.

“Hei, Nadia … bagaimana jika seandainya Adam kembali dalam keadaan tidak mengingat apa-apa lagi tentang diriku? Bisakah ingatannya dipulihkan?”

Pada akhirnya, Verani pun tetap memuntahkan kekhawatirannya.

“A-aku tak begitu yakin, Mbak … ” Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Se-secara teori, memori lama manusia memang bisa dikembalikan ke dalam otak yang telah ‘dikosongkan’. Tetapi, itu berarti kita perlu menyimpan seluruh memori lama Mas Adam di suatu server yang sangat besar. Ma-masalahnya kan PIN tidak mau repot-repot melakukan itu. Yang mereka inginkan hanyalah memformat isi otak masing-masing subjek, kemudian mengisinya dengan memori baru.”

Verani terguncang. Ia tak sanggup lagi membendung kepiluannya. Kini ia telah mendengar kasus terburuk yang akan terjadi pada pujaan hatinya. Airmatanya langsung tumpah, membanjiri kedua pipinya begitu deras, namun ia bertahan sekuat tenaga agar tak terlarut dalam kesedihan. Ia masih berharap Adam akan pulang dalam kondisi yang sama saat terakhir kali mereka bertemu.

“Nadia … katakan padaku, apakah ada subjek yang bisa bertahan dari upaya pencucian otak sebelumnya? Adam baru beberapa hari ditangkap, aku berpikir ia masih bisa bertahan dari setiap penganiayaan yang diaplikasikan kepadanya,” tanya Verani sesunggukan.

“A-ada, Mbak. Jurig, namanya. Ia saudara Mas Adam yang paling tua dan yang paling merepotkan. Ilmuwan di laboratorium bahkan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas terakhir penelitian, karena sangat susah untuk dikendalikan, padahal sudah ditangkap sejak tahun 2018. Jadi, kami hanya membiusnya dan membiarkan ia ‘tidur’ sampai atasan menyuruh kami memfokuskan diri padanya.”

Verani bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya ia kini tahu bahwa ada peluang bertahan dari upaya pencucian otak.

“A-aku tak tahu bagaimana Mas Adam akan bertahan dari setiap aplikasi pencucian otak, tetapi aku berharap agar Mbak Felicia bisa membawa Mas Adam dan Mbak Ara pulang … ” ujar Nadia seraya mengusap kedua matanya yang sembab. “Eh, Mas Ara, maksudnya.”

“Aku juga mengharapkan hal yang sama, Nadia … ” Verani menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan ujarannya. “Sebelum itu terjadi, aku hanya berharap Adam bisa bertahan seperti saudaranya yang kau sebut-sebut tadi.”

“Jurig.”

***

LARAS: Laboratorium Rahasia PIN
Jakarta
02.01

“Hei! Nine, bangun! HEI!”

Subject 09 mampu mendengar sayup-sayup seruan di dalam kepalanya. Tetapi tidak, ia tidak sedang bermimpi. Teriakan itu nyata. Ia pun berusaha keras untuk membebaskan diri dari kegelapan, mengais-ngais realitas yang tersamarkan oleh mimpi. Kedua matanya pun terbuka perlahan. Hal pertama yang ia dapati di hadapannya adalah warna putih tanpa batas.

“Nine! Terkutuk! Bangunlah!”

Sekali lagi, seruan-seruan untuk membangkitkannya menggema di dalam kepala, tetapi ia kini sangat yakin bahwa suara itu bukanlah mimpi. Subject 09 pun terentak, ia mengedipkan matanya berulang kali untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi kepadanya. Warna putih tanpa batas pun menampakkan wujud aslinya, ternyata berasal dari cahaya lampu yang menggantung di atas kepalanya.

“Nine, keparat. Kupikir kau sudah kehilangan ingatanmu. Aku sudah hampir putus asa membangunkanmu!” rupanya orang yang sedari tadi berteriak-teriak adalah Ara. Subject 03.

“Astaga, Ara, apa yang terjadi padaku? Ke mana para ilmuwan pergi?” tanya Subject 09 waswas. Ia melirik Subject 03 yang terbaring di sampingnya.

Subject 09 dan Subject 03 memang masih ditahan di dalam LARAS untuk dijadikan bahan eksperimen seperti subjek yang lain. Mereka dibaringkan di atas bidang datar dengan beberapa cincin logam melilit sebagian anggota tubuh mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima segala perlakuan yang diberikan oleh para ilmuwan.

“Para ilmuwan ramai-ramai keluar dari ruangan saat mendengar keributan di luar. Sepertinya ada perseteruan antar penjaga. Kau tidur saja sih! Apa yang terjadi padamu!?” seru Ara.

“Aku tak tahu, sepertinya dosis obat yang disuntikkan ke dalam tubuhku terlalu banyak. Aku kehilangan kesadaran dan berhalusinasi tentang masa lalu … ” papar Subject 09.

“Ilmuwan gila. Sepertinya mereka melakukannya karena kau dianggap terlalu berbahaya. Beruntung mereka belum sempat menjalani tahapan penghapusan memori lanjutan.”

“Ya, aku beruntung. Tetapi, apa yang sebenarnya terjadi di luar? Mengapa para ilmuwan tiba-tiba keluar dari ruangan dan tidak meneruskan penelitian?”

“Aku tak tahu pasti, Nine. Ketika para ilmuwan akan menyuntikkan obat-obatan ke dalam tubuhku tadi, tiba-tiba terdengar suara keributan dan tembakan dari luar ruangan. Para ilmuwan langsung menghentikan aktivitas dan menghubungi bagian administrasi. Tak ada jawaban, sayangnya. Setelah itu mereka pun panik dan ramai-ramai keluar dari ruangan ini.”

“Dan meninggalkan kita seperti hewan jagal. Brengsek. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku menduga ada perseteruan antar aparat. Tetapi apa yang menjadi pemicunya, aku tak tahu.”

“Kacau sekali kalau sampai ada perseteruan antar aparat, Three. Di sini banyak aset penting penelitian. Proyek ini terlalu besar bagi Indonesia dan Amerika. Kalau diganggu bisa memicu hubungan yang tidak baik antara Indonesia dan Amerika.”

“Itu juga yang aku khawatirkan. Tetapi, semestinya, dengan meletusnya perseteruan antar aparat seperti ini, kita bisa melarikan diri dan mencuri informasi apa pun yang bisa kita curi dari sini.”

“Melarikan diri?” tanya Subject 09 skeptis. “Lihatlah leher, badan, tangan, dan kakimu. Kita terkunci, tak bisa bergerak sama sekali.”

“Iya sih … pantatku juga sudah gatal, tapi tak bisa garuk-garuk,” timpal Subject 03.

Kedua subjek Project SAKTI itu pun mencari-cari akal untuk keluar dari kuncian yang melilit tubuh mereka. Mereka harus melepaskan diri sebelum kekacauan merembet ke tempat mereka dijadikan kelinci percobaan.

Tak ada ide yang berarti, sayangnya. Akan tetapi, mereka tak sendirian. Tiba-tiba terdengar suara sekelompok orang berdebat di luar ruangan. Meski sayup-sayup, namun Subject 09 dan Subject 03 dapat mendengar suara orang berteriak-teriak menyeruak ke dalam ruangan. Ada sekelompok orang yang mau memaksa masuk ke dalam ruang penelitian.

“Nine, kau dengar itu? Ada orang yang memaksa mau masuk kemari,” ujar Subject 03.

“Aku dengar. Apa yang harus kita lakukan?”

“Hmm … ” Ara berpikir sejenak. Ia menatapi langit-langit. “Pura-pura tak sadarkan diri, Nine. Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan.”

“Dan jika mereka masuk untuk memberondong kita?”

“Itu artinya kita memang sudah digariskan untuk mati, Nine.”

Subject 09 terdiam. Ia menghela napas panjang. Pasrah. “Pada akhirnya aku tak bisa menepati janjiku pada Verani. Aku tak bisa pulang.”

“Kita belum tahu pasti. Kemungkinannya fifty-fifty. Sudahlah, cepat berpura-pura tak sadarkan diri. Sepertinya mereka sudah hampir masuk.”

Tak sepatah kata pun terucap dari lidah Subject 09. Ia langsung memejamkan matanya dan berpura-pura kembali pada kondisi hibernasinya. Subject 03 segera menyusul inisiatifnya.

Benar saja, tak lama kemudian, sekelompok orang berpakaian taktis dan bersenjata lengkap masuk ke dalam ruangan seraya mendorong-dorong tubuh seorang ilmuwan dengan kasar. Ilmuwan pria yang berusia sekitar 25 tahun itu hanya bisa menangis dan merengek-rengek agar nyawanya tak dicabut. Tetapi, para prajurit taktis tak peduli, mereka tetap mendesak dan menganiaya sang ilmuwan, baik secara verbal maupun fisik.

Sang ilmuwan lantas diperintahkan untuk membuka kunci pengaman pada tubuh kedua subjek Project SAKTI di sana. Awalnya sang ilmuwan sempat menolak, karena takut kedua subjek akan terbangun, tetapi ia tak punya pilihan lain. Ia malah dipukul, dipiting, dan ditendang agar mau mematuhi perintah para prajurit. Melawan atau ia akan babak belur.

“Buka kuncinya, cepetan. Saya hajar kepalamu pakai popor senapan kalau tidak mau,” ancam salah satu personel taktis. Jelas bahwa para prajurit ingin membebaskan Subject 09 dan Subject 03, tetapi tak jelas apa motifnya.

Ilmuwan malang yang sudah penuh lebam dan darah tersebut segera mematuhi permintaan para personel taktis. Ia mengetikkan beberapa baris kode pada komputer khusus di sana dan memutar sebuah kenop yang menyembul di atas meja kontrol. Beberapa saat kemudian, cincin logam yang mengekang tubuh kedua subjek eksperimen pun terlepas. Kini Subject 09 dan Subject 03 bebas.

Namun, kebebasan tak ditujukan untuk semua orang. Sang ilmuwan didatangi oleh salah seorang personel taktis. Ia pun melutut di hadapan sang personel, meminta agar sang personel mengampuninya. Ia sangat takut pada kematian, ia tak ingin mati di laboratorium terkutuk tersebut dengan membawa segudang dosa.

Si personel taktis tertawa sinis saat melihat sang ilmuwan merengek-rengek seperti bocah ingusan. “Heh, dasar kutu buku, kalian bekerja mempertaruhkan nyawa orang, tapi kalian sendiri takut mati.”

Sang ilmuwan menangis sejadi-jadinya, masih meminta agar dirinya tetap dibiarkan hidup. Ia tak peduli pada hal lain selain nyawanya. Ucapannya diulang-ulang, pertanda bahwa ia benar-benar ketakutan. Harapannya begitu besar untuk tetap bernapas dan menikmati keindahan alam semesta.

Apakah ilmuwan tersebut lantas diampuni?

Dibiarkan hidup?

Mungkin saja.

Dan benar, permintaan sang ilmuwan dikabulkan, namun hal itu tak lantas membuatnya diperlakukan baik oleh para personel taktis di sana. Sang ilmuwan dianggap sebagai pengkhianat karena telah menjadi babu orang-orang Amerika di laboratorium tersebut. Personel taktis yang berdiri di hadapan sang ilmuwan bahkan langsung mencabut pistol dan mementung kepala sang ilmuwan dengan gagang pistol. Kutu buku muda itu pun tersungkur dengan kepala berlumur darah, sebelum pada akhirnya dituntun oleh para personel taktis keluar dari ruangan.

Pintu ruangan kembali ditutup, dikunci, meninggalkan dua subjek Project SAKTI yang berpura-pura tak sadarkan diri. Situasi kembali menyepi, tersisa sayup-sayup keriuhan di luar ruangan yang tak mampu terinderakan dengan jelas. Subject 09 dan Subject 03 pun terduduk di tempat mereka semula dibaringkan, merenungkan apa yang baru saja terjadi.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti,” tanya Subject 09 heran.

“Kau dengar mereka bicara kan tadi? Mereka menyindir Amerika. Aku sih menduga ada sentimen anti-Amerika di sini.”

“Aku dengar, Three … ” ujar Subject 09 seraya agak menoleh ke belakang. “Hanya saja, kenapa sentimen itu muncul secara tiba-tiba? Sebelum hari ini, semuanya baik-baik saja. Saat kita diarak masuk ke dalam sini, aku melihat beberapa prajurit Indonesia dan Amerika sedang bertukar kata dan canda. Mereka tak terlihat seperti menyimpan dendam.”

“Mungkin memang terlihat seperti itu, tetapi siapa yang tahu isi hati manusia? Kita berdua tahu bahwa dunia kita, dunia hankam, penuh dengan para pengkhianat.”

Subject 09 terdiam, ia sekadar memijit-mijit tengkuknya yang masih linu akibat terlalu banyak menerima dosis obat. “Kau lihat orang-orang tadi, itu DSN kan?”

“Ya, gear yang mereka kenakan dan formasi yang mereka bentuk terlihat sangat khas. Kau mencurigai mereka ya?”

“Tidak. Tidak tahu,” ujar Subject 09 singkat. Ia lantas membangkitkan tubuhnya dengan langkah goyah, masih terpengaruh oleh efek samping obat. “Brengsek. Efek obat membuatku pusing.”

“Jangan buru-buru, Nine. Pulihkan kondisimu terlebih dahulu, baru keluar dari sini. Kita dibiarkan hidup saja sudah merupakan keajaiban, jangan sia-siakan keajaiban itu demi buru-buru pulang.”

“Aku tahu, Three. Lagipula … ” Subject 09 menyandarkan dirinya di permukaan dinding seraya mengatur napas. “Bagaimana caranya kita keluar dari sini? Pintunya dikunci dari luar menggunakan sistem khusus.”

“Ah, benar juga. Sialan. Itu masalah baru,” Subject 03 menumbukkan tinju kanannya pada telapak tangan kirinya. Ia baru sadar bahwa terbangun dari mimpi saja tidak cukup untuk melakukan pelarian.

***

Jakarta Pusat
Perjalanan menuju LARAS

Laboratorium Rahasia PIN sama sekali tak bisa dihubungi dan hal tersebut membuat Presiden Darsono khawatir. Laboratorium itu adalah parameter hubungan baik antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kalau sampai terjadi masalah, apalagi memakan korban jiwa dari kedua belah pihak, kepercayaan kedua negara bisa merenggang. Darsono tak ingin membayangkan ekses buruk yang akan terjadi jika proyek di dalam LARAS hancur berantakan.

Oleh karena itu, Darsono pun memutuskan untuk mendatangi LARAS bersama dengan pasukan pengamanannya. Sekitar dua puluh orang anggota Paspampres bersenjata lengkap membayang-bayangi presiden, sebagai antisipasi apabila terjadi hal yang tak diinginkan di dalam LARAS. Konvoi kepresidenan pun menebah jalan raya pada kecepatan tinggi, tak ingin terlambat hadir dan membuat segalanya menjadi runyam.

Akan tetapi, sebelum berhasil menginjakkan kaki di halaman LARAS, konvoi presiden dijegal oleh empat mobil bertubuh kekar. Mobil-mobil tersebut lantas menyembulkan semacam meriam dari bagian atap mobil dan membidikkannya ke arah konvoi kepresidenan. Shapeshifter, itulah nama yang disematkan oleh Pindad pada kendaraan khusus tersebut.

Mendapati empat mobil Shapeshifter mengepung konvoi, presiden pun memerintahkan Paspampres untuk berhenti dan melakukan negosiasi. Darsono sadar bahwa pasukannya takkan sanggup menghadapi kekuatan Shapeshifter secara frontal. Seberapa pun kuatnya material antipeluru mobil presiden, Shapeshifter akan menghancurkannya dengan sekali serangan.

Presiden dan Paspampresnya langsung menghentikan laju kendaraan. Mereka memenuhi keinginan lawan. Beberapa saat setelahnya, lapisan terluar tim Paspampres bergegas turun dari kendaraan dan mengeluarkan senapan lipat yang mereka sembunyikan di balik masing-masing jaket. Mereka membentuk formasi untuk melindungi mobil presiden dan membidikkan senapan ke arah kerumunan mobil Shapeshifter.

Para pemilik mobil Shapeshifter tak ingin kalah, mereka pun turun dan membidikkan senapan ke arah gerombolan Paspampres yang panik. Dari kostum yang mereka kenakan, jelas terlihat bahwa mereka adalah pasukan Detasemen Sandi Negara. Posisi mereka jauh lebih kuat dibandingkan Paspampres, apalagi dibantu oleh keberadaan Shapeshifter. Entah apa yang mereka pikirkan, tetapi mereka tampak tak senang dengan keberadaan kru kepresidenan di sana.

Seorang perwira menengah pasukan DSN lantas turun dari mobil dan menghadapi para anggota Paspampres dengan gagah berani. Tak seperti teman-temannya yang mempersenjatai diri dengan senapan serbu model terbaru, ia hanya mempersenjatai diri dengan pistol berkapasitas 13 peluru.

“Presiden Darsono! Kami tahu Anda akan memasuki kawasan LARAS! Kami takkan membiarkannya! Sebuah operasi besar sedang berlangsung di sana, kami takkan membiarkan Anda mencemplungkan diri ke dalam bahaya!” seru sang perwira DSN.

“Hei!” seorang letnan Paspampres menyela seruan sang perwira DSN. “Kau tidak diizinkan untuk berbicara kepada presiden! Kau berbicara denganku! Aku tidak peduli dari unit mana kau berasal, tetapi penjegalan terhadap presiden seperti ini adalah sebuah kejahatan besar! Kau telah bersikap kurang ajar terhadap otoritas negara!”

“Aku di sini mencoba untuk menyelamatkan nyawa presiden, keparat! LARAS sedang berada dalam bahaya. Siapa pun yang berusaha masuk ke dalamnya akan diperlakukan secara tidak ramah oleh sistem keamanan di sana! Kau mau membuat presiden mati sia-sia!?”

Para anggota Paspampres pun terdiam seribu bahasa. Mereka saling tatap, berupaya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Kami tak bisa membiarkan proyek di sana luluh lantak! Itu prioritas presiden!” seru sang letnan Paspampres.

“Amerika mau mengambil alih proyek. Brigjen Dharma katanya diculik agar para loyalisnya di DSN bisa dipulangkan dan diganti dengan anak-anak baru yang belum berpengalaman. Setelah itu, semua pasukan Indonesia akan disapu dan aset-aset di dalam LARAS dicuri! Kami takkan membiarkan itu terjadi, apalagi mereka telah melakukan penculikan terhadap Brigjen Dharma! Kami akan balas dendam!” papar sang perwira DSN berapi-api.

“Kau … kau dan teman-temanmu bertempur melawan pasukan Amerika di LARAS!?”

“Kita harus menyerang duluan atau mereka yang akan menyerang kita suatu hari nanti. Kami akan melumpuhkan kekuatan pasukan Amerika di sana dan mengklaim apa yang semestinya sudah menjadi milik kita, lihat saja!”

“TOLOL!” sang letnan Paspampres bergegas menghampiri sang perwira DSN. Akan tetapi, ia tak bisa mendekat. Personel DSN yang lain menahan langkahnya dengan moncong senapan. “Semua aset yang ada di dalam LARAS adalah jantung hubungan Indonesia dan Amerika! Kalau kalian gegabah seperti itu, semuanya akan runyam! Kau dengar itu? RUNYAM, KEPARAT!”

“Kami tak peduli! Salah kalian juga! Salah presiden juga! Kenapa presiden mengesahkan proyek ini sebelumnya, hah!? Kalian semua tahu bahwa Amerika tak bisa dipercaya dan kalian tetap bekerjasama dengan mereka! Kami percaya pada intel kami, kami percaya pada Brigjen Dharma! Amerika harus disingkirkan atau mereka akan memakai Project SAKTI untuk melumatkan kita! Mati kita semua kalau mereka sampai menguasai Project SAKTI secara absolut! PIKIR!”

“Kalian semua ditipu mentah-mentah! GOBLOOOK! Intel yang kalian dengar tidak valid! Kalian semua, cecunguk-cecunguk sok elit, dimanipulasi oleh subjek terakhir Project SAKTI yang lolos dari tangkapan pemerintah! Kalian ditipu! DITIPU!”

Kemarahan sang letnan memicu salah seorang personel DSN untuk bertindak. Si personel mendorong tubuh sang letnan dengan senapannya, menjaga agar sang letnan berhenti mendekati atasannya dan melakukan tindakan yang sewenang-wenang. Pukulannya sontak membuat sang letnan Paspampres terentak beberapa langkah ke belakang, juga membuat seluruh anggota Paspampres geram.

Aksi si personel DSN mengundang kemarahan para anggota Paspampres yang berdiri mengerumuni mobil presiden. Bentrokan pun menjadi tak terhindarkan. Dua pasukan elit negara saling pukul akibat perbedaan pandangan. Tak ada tembakan yang meletus, memang, tetapi kedua pasukan elit itu berkelahi seperti dua kelompok tawuran. Kacau.

Satu persatu, personel dari kedua belah pun pihak tumbang. Paspampres adalah pasukan yang paling banyak menerima kekalahan, apalagi peralatan mereka tak sekomplit DSN. Selain itu, kemampuan DSN memang terbilang lebih mumpuni, karena rata-rata anggotanya merupakan alumni agen operasi hitam yang biasa ditempatkan di daerah-daerah konflik, sudah biasa menghajar orang sampai menjadi bubur kayu.

Tak ingin kekisruhan meluas, Presiden Darsono pun menampakkan batang hidungnya. Ia buru-buru keluar dari mobil dan berusaha melerai perkelahian. Tiga pengawal terbaiknya langsung mengikuti dari belakang, mereka akan menjadi lapisan terakhir penjagaan presiden jika terjadi sesuatu yang tak menyenangkan.

“Berhenti semua! BERHENTI!” seru Darsono seraya membentangkan kedua tangan ke atas. Seruannya tak diindahkan. Kedua pasukan elit tetap berseteru. Tiga pengawalnya tetap mewaspadai gerak-gerik yang bisa membahayakan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Tak kehabisan akal, Darsono pun mengumpulkan energi yang tersisa untuk kembali menegur dua pasukan yang tengah berseteru. “BERHENTIII!” jeritnya seraya memukul kap mobil begitu keras.

Kali ini upaya Darsono membuahkan hasil. Paspampres dan DSN langsung berhenti berkelahi begitu mendengar benturan logam yang sangat keras. Seluruh pihak aparat yang berada di sana segera mengalihkan fokus kepada presiden, menanti wejangan Darsono sebelum kembali memutuskan untuk meneruskan perseteruan.

“Bajingan, kalian semua! Kalian semua yang pakai kostum taktis … kalian DSN kan!?” tanya Darsono berapi-api.

Tak ada ucap, tak ada jawab. Para personel DSN hanya berdiri mematung, memerhatikan sang presiden memuntahkan seluruh kemarahannya pada mereka. DSN tak peduli, sebenarnya.

“Kalian … kalian sebagai pasukan paling elit negara ini, bagaimana mungkin kalian bisa dikelabui oleh intel palsu yang jelas dibuat-buat oleh subjek Project SAKTI!? Kalian tidak menyelamatkan negara ini dari apa-apa! Kalian justru sedang membahayakan negara dan mempercepat kematian 250 juta orang!” lanjut Darsono mengungkapkan kemarahannya.

“Kami tidak percaya bahwa intel tersebut palsu karena intel tersebut datang langsung dari Brigjen Dharma dan ahli forensik kami telah mengonfirmasi bahwa itu adalah suara aslinya! Kami takkan mengkhianati perintah Brigjen Dharma, karena Amerika jelas-jelas merencanakan hal yang tidak baik ketika proyek ini selesai. Kalau kami tak melakukan apa-apa, Anda dan 250 juta penduduk yang Anda cintai akan mati diburu oleh saudara-saudara kita sendiri yang berasal dari Project SAKTI! Project SAKTI tidak boleh jatuh ke tangan Amerika secuil pun!”

“Tidak ada bukti bahwa ucapan Brigjen Dharma itu benar!”

“Dan tidak ada bukti pula bahwa perkataan Anda benar!” bentak sang perwira DSN. “Saya dan teman-teman takkan mundur. Kami melakukan apa yang benar untuk negara ini! Project SAKTI adalah proyek hebat warisan tahun 1998, kalau pun kita harus memanfaatkan proyek ini, seharusnya tidak boleh melibatkan Amerika yang picik! Itu sama saja seperti memberikan resep nuklir pada pengkhianat!”

Darsono mengerat gigi-giginya. Ia tak memiliki kekuatan untuk melawan argumentasi lawan bicaranya, tidak pula punya kekuatan untuk menantang DSN secara fisik. Jiwanya tenggelam dalam gejolak kemarahan.

“Presiden, jika Anda tidak mundur dan kembali ke istana sekarang, saya akan melakukan tindakan keras kepada pasukan Anda. Jadi, sekali lagi saya peringatkan: MUNDUR!”

Perintah sang perwira DSN memicu para personel DSN yang lain untuk mengangkat senjata. Kali ini DSN serius, mereka benar-benar akan menembak jika presiden dan pasukannya melawan. Jari mereka sudah bersiaga di atas pelatuk. Satu kesalahan dari pihak kepresidenan, maka mereka akan melepaskan tembakan.

Darsono tak ingin ambil risiko. Ia tak ingin ada pertumpahan darah di sana. Jika itu terjadi, citranya akan terkoyak dan kekacauan akan merajalela. Ia pun menghela napas panjang dan memerintahkan seluruh pasukannya untuk pulang. Berat, namun ia tak punya banyak pilihan. Untuk kepentingan yang lebih besar, ia harus mundur.

Prioritas Darsono sekarang adalah menghubungi pihak Washington agar tak terjadi kesalahpahaman.

Kru kepresidenan pun akhirnya masuk ke dalam kendaraan mereka masing-masing. Tak ada perlawanan yang berarti. Paspampres sendiri tak menyiapkan kekuatan yang sepadan untuk melawan DSN. Pilihan mereka hanya pulang dan memikirkan cara alternatif untuk mengatasi kekacauan di dalam LARAS. Mereka pun menyalakan mesin dan berputar arah, meninggalkan lokasi dengan berat hati.

Di dalam mobilnya, Presiden Darsono gelisah. Ia masih bersikukuh ingin masuk ke dalam LARAS dan menghentikan pertumpahan darah antar pasukan di sana. Ia pun berpikir. Mungkin ada jalan lain untuk masuk ke dalam LARAS tanpa harus bertemu dengan DSN.

Berpikir dan berpikir …

Darsono lantas teringat sesuatu. Teman-temannya di PIN mungkin bisa diandalkan. Nama pertama yang terbesit di dalam kepalanya adalah Mayjen Riyadi, tetapi Riyadi takkan bisa dihubungi sehubungan dengan adanya insiden penculikan terhadap seluruh jenderal strategis negara. Itu artinya Darsono harus memanfaatkan orang penting lain di dalam PIN yang efektif dan mau bekerja untuknya. Kapten Johan.

“Aku harus menelepon bawahan Riyadi yang bisa kupercaya. Harus,” ujar Darsono seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Maaf, Pak … apakah PIN bisa dipercaya di saat seperti ini? DSN sendiri bagian dari PIN kan?” ujar salah seorang anggota Paspampres.

“Tidak, tidak. Bukan PIN secara keseluruhan, aku hanya mau menghubungi bawahannya Riyadi. Aku percaya Riyadi, jadi aku percaya pada bawahannya.”

“Siapa, Pak?”

“Aku tak ingat namanya, tetapi ia adalah koordinator lapangan di Operasi Antisakti versi 2.0. Kapten Kopassus yang katanya sudah berkali-kali selamat dari serangan Adam itu lho, sepertinya ia adalah anak yang jujur.”

“Kapten Johan … kau butuh menghubunginya?”

“Ya, adakah dari kalian yang punya nomornya?”

Tak ada satu pun anggota Paspampres di dalam mobil yang mampu merespon pertanyaan Darsono, mereka malah saling tatap, mengais-ngais jawaban dengan bahasa isyarat.

“Aku kenal dengannya, tetapi aku tak punya nomornya. Agen seperti Johan tak pernah punya nomor yang tetap,” ujar sang anggota Paspampres.

“Heh, tak apalah, aku akan menghubungi atasan langsungnya, kalau begitu. Bukan Riyadi, atasannya yang satu lagi.”

***

Istana Negara, Jakarta
02.34

Pintu ruangan kerja presiden dibuka lebar-lebar. Kapten Johan dan ketiga kerabatnya lantas masuk ke dalam ruangan secara tergesa-gesa. Serka Citra, Tenma, dan Blade mengiringi langkahnya. Keempat anak buah Mayjen Riyadi tersebut dikawal oleh seorang anggota Paspampres untuk menghadap presiden. Ada persoalan genting yang perlu mereka selesaikan dan presiden hanya percaya kepada mereka.

“Adakah seseorang di dalam ruangan ini yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?” tanya Johan waswas. “Hana meneleponku. Ia mengatakan bahwa Mayjen Riyadi diculik bersama dengan jenderal-jenderal yang lain dan presiden membutuhkan bantuanku secara langsung. Apa yang sesungguhnya terjadi!?”

“Kapten, mohon maaf jika panggilanku terasa mendadak. Aku yang memerintahkan Bu Hana untuk mengirimmu kemari … ” ujar Darsono. “Akan kujelaskan secara singkat apa yang terjadi, Kapten.”

“Sebaiknya begitu, Pak Presiden.”

“Jadi, Kapten, aku mendapatkan laporan bahwa Brigjen Dharma, kepala DSN, diculik oleh subjek terakhir Project SAKTI yang lolos dari tangkapan pemerintah. Tujuan diculiknya Dharma adalah untuk mengendalikan DSN dan memanfaatkan DSN sebagai pengacau di dalam LARAS. Aku tak perlu mengatakan apa eksesnya jika sampai terjadi kekacauan pada proyek kerjasama Indonesia dan Amerika di dalam LARAS, Kapten.”

“Hubungan Indonesia dan Amerika akan dipertaruhkan … brengsek … ” keluh Johan gelisah. Ia pun berjalan mondar-mandir di ruangan presiden. “Dan biar kutebak, jenderal-jenderal strategis lain juga ikut diculik karena sang penculik tidak mau ada orang yang menggantikan posisi Brigjen Dharma sebagai kepala DSN.”

“Hipotesismu sama seperti hipotesis kami, Kapten.”

“Oke, oke. Aku sudah bisa membayangkan apa yang terjadi. Lantas apa yang harus kami lakukan, Pak Presiden? Mencari penculiknya?”

“Tidak, Kapten. Ada prioritas lain. Aku dan Paspampres tidak diberikan izin untuk datang ke dalam LARAS oleh DSN. Siapa pun yang datang ke LARAS sekarang akan diperlakukan seperti musuh, termasuk aku. Tak ada yang berani melawan DSN saat ini, karena mereka punya kekuatan yang sama sekali tak remeh. Dalam kata lain, DSN sudah mulai mengacau akibat tipu daya yang diorkestrakan oleh si bajingan Project SAKTI,” papar Darsono. “Oleh karenanya, aku butuh kalian melakukan infiltrasi ke dalam LARAS dan menghentikan kegilaan yang dilakukan oleh DSN.”

Johan sontak terdiam. Ia menatapi ketiga kerabatnya dengan seksama, lantas kembali menatapi wajah presiden dengan heran. “Dan bagaimana cara kami merealisasikannya, Pak? Aku tahu kau butuh kami mengendap-endap masuk ke dalam LARAS, tetapi apa yang harus kami lakukan ketika sudah tiba di lokasi? Menghabisi DSN? Menangkap pimpinannya?”

Darsono menggeleng-gelengkan kepalanya seraya bercekak pinggang. Ia sendiri tak punya ide untuk menyelesaikan masalah di dalam LARAS. Akan tetapi, ia masih ingin mencoba berkomunikasi dengan DSN dan membuat pasukan elit itu kembali berada pada jalan yang benar. Ia tak ingin membubarkan DSN, sebab DSN adalah salah satu lapisan pertahanan negara yang amat penting.

“Kapten … ” Darsono kembali berucap. “Temukan ruang kontrol. Jika kau telah berhasil menemukannya dan mampu menguasainya, mohon hubungkan aku ke sana. Aku ingin mencoba bernegosiasi dengan DSN lewat saluran broadcast di laboratorium tersebut.”

“Oke … oke. Itu lebih baik daripada aku harus mengambil keputusan acak yang mungkin bisa membuat kondisi lebih runyam,” ujar Johan. “Hanya itu saja, Pak Presiden?”

“Ya. Hanya itu saja, Kapten. Aku minta tolong padamu. Permasalahan ini harus segera diselesaikan atau negara kita akan menjadi bulan-bulanan operasi hitam CIA sebagai pembalasan.”

“Baik, Pak Presiden. Aku mengerti. Aku akan melaksanakan tugas yang kau berikan,” Johan pun menghormat, begitu pula dengan ketiga asistennya. Sesaat setelahnya, mereka segera berbalik arah dan berjalan menuju pintu keluar.

“Sersan Januar, Kopral Alamsyah … temani Kapten Johan. Ikutlah beroperasi dengannya. Kalian akan menjadi perwakilanku.”

“Siap, Pak.” Dua orang anggota Paspampres yang berdiri di sudut ruangan kerja presiden ikut menghormat dan akhirnya berjalan cepat mengikuti langkah Kapten Johan keluar ruangan. Keduanya akan ikut menembus pertahanan DSN dan melakukan infiltrasi ke dalam LARAS.

Darsono pun menghela napas panjang sesaat setelah harapan terakhirnya keluar dari ruangan. Para pegawainya terdiam, tak berani berbicara, sekadar saling tatap dalam kebisuan. Darsono lantas menatapi ruang kerjanya dengan tatapan hampa. Pesimis. Bahkan orang terbaik pun belum tentu sanggup menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di dalam LARAS, renungnya.

***

LARAS: Laboratorium Rahasia PIN
Jakarta
02.40

Ara masih berjibaku dengan pusat kontrol yang berada pada ruangan penelitian. Ia berupaya untuk meretas pintu elektrik yang membuat mereka terkurung di dalam ruangan tersebut hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Ia dan saudaranya, Subject 09, harus mampu keluar dari ruangan tersebut sebelum laboratorium benar-benar kehilangan daya.

Sementara Subject 03 berusaha melakukan peretasan, Subject 09 justru berusaha mencari solusi yang lebih instan. Buronan republik tersebut sedang mencari-cari celah untuk ‘mendobrak’ pintu ruangan dan keluar dari laboratorium tersebut selama-lamanya. Ia khawatir laboratorium akan kehilangan seluruh daya untuk menjalankan sistem kelistrikan, apalagi sedang ada kekacauan di luar ruangan. Oleh karenanya, ia pun mencari cara untuk merusak pintu secara fisik.

“Kita harus segera keluar dari sini, Nine. Aku khawatir kelistrikan laboratorium akan mati sebelum aku berhasil merampungkan peretasan. Ini jauh lebih susah daripada dugaanku,” keluh Ara panik. “Kalau saja Seventeen ada di sini. Ia kan sangat ahli melakukan peretasan.”

“Itulah kenapa aku sedang mencari-cari celah untuk menghancurkan pintu ini secara paksa. Biasanya setiap pintu elektrik diciptakan sepaket dengan metode ‘pembukaan’ darurat,” jawab Subject 09 seraya meraba-raba dinding.

Subject 03 pun terdiam. Matanya tetap terpaku ke layar komputer yang hanya mengeluarkan warna hitam dan hijau. Keningnya berkerut. Pusing. Ia mengerjakan peretasan seakan-akan waktu tengah memburunya. Lantas, ia terpikir sesuatu untuk menenangkan diri.

“Hei, Nine … ” ucapnya santai. “Tadi kau berkata bahwa efek obat membuatmu terkenang oleh masa lalu. Masa lalu macam apa yang teringat oleh dirimu tadi?”

“One. Subject One,” pungkas Subject 09 spontan, masih sambil mencari-cari cara untuk membobol pintu secara paksa.

“Jurig, maksudmu? Mimpi macam apa yang kau ingat dengannya, Nine?”

“Ambisinya untuk membuat manusia sengsara. Pada saat aku masih berusia 10 tahun, aku pernah mengobrol dengannya soal idealisme. Ia bilang ia benci pada dunia, ingin meninggalkan dunia, tetapi dengan cara mengajak semua orang meninggalkan dunia. Dalam kata lain, ia ingin agar semua orang merasakan penderitaan yang sama seperti saat ia menderita seumur hidupnya.”

“Waw … ” Ara terkagum. “Itu terdengar seperti seorang One sungguhan. Jadi, apa yang kau lihat itu memang bukan mimpi belaka. Pantas saja kau susah dibangunkan.”

Subject 09 terdiam sejenak, lantas berbalik dan menghampiri tempat Subject 03 berdiri. “Kau juga pernah mendengar soal idealisme yang dibawa oleh One?”

“Oh, tentu saja, semua orang di Project SAKTI sudah tahu bahwa ia memiliki tabiat yang sangat buruk. Para perwira dan pelatih bahkan sudah tahu bahwa One akan menjadi ‘kiamat’ untuk semua orang. Mereka sudah menyiapkan rencana-rencana penangkal, tetapi tampaknya tak sempat untuk direalisasikan. Operasi Antisakti sudah keburu mengacak-acak kita.”

“Jadi ia memang berbeda dengan kita,” Subject 09 kini membantu saudara cantiknya untuk meretas pintu.

“Berbeda dari segala sisi, Nine. Fisiknya, pemikirannya, determinasinya … ia berbeda beberapa level dari kita semua. Yang juga membuatnya berbahaya adalah kita tidak pernah tahu kapan ia akan merealisasikan rencananya.”

“Hmm, mengapa para pelatih tak pernah menyingkirkannya sebelum ia menjadi masalah besar?”

“Mereka sudah melakukannya, Nine. Tetapi selalu terdeteksi oleh One. One sudah terlanjur menjadi terlalu kuat untuk dihancurkan,” papar Subject 03. “Ingat Sersan Damar kan? Pelatih dari Taifib?”

“Ya. Dia adalah pelatih pertama yang mengundurkan diri dari Project SAKTI. Ada apa dengannya?”

“Apa yang kau pikir terjadi dengannya?”

“Kekasihnya sakit keras, kalau tidak salah. Ia ingin fokus merawat kekasihnya dan melanjutkan rencananya untuk menikah.”

“Kau pikir siapa yang membuat kondisi kekasihnya memburuk?”

Subject 09 terdiam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan saudaranya. Sesekali ia juga memberikan instruksi kepada Ara untuk menyisipkan beberapa baris kode peretasan.

“Jadi … One yang melakukannya?” lanjut Subject 09 mengonfirmasi.

“Yep. Dia meracun kekasih Sersan Damar sebelum Sersan Damar dapat mengeliminasinya. Waktu itu, Sersan Damar adalah orang pertama yang bersedia menjalankan proyek eliminasi terhadap One berdasarkan surat perintah rahasia yang dikeluarkan oleh para perwira dan penggagas Project SAKTI.”

” … sayangnya Damar ketahuan dan gagal.”

“Gagal dan harus menanggung akibat yang besar. Kekasihnya menderita, lantas meninggal dalam kondisi kesakitan. Pernikahannya otomatis gagal dilaksanakan. Derita pun berpindah kepadanya. Beberapa tahun kemudian, ia bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke truk. Setelah insiden itu, orangtuanya yang menderita, merasa kehilangan sosok yang begitu dibangga-banggakan … ”

“Oh … sepertinya aku mulai mengerti apa yang One maksud ketika ia berkata ‘aku akan membuat dunia ini tak lebih dari sekadar rasa sakit’. Bayangkan apa yang terjadi jika ia sampai mampu melakukannya dalam skala besar.”

“Dia akan melakukannya, Nine. Akan. Dan ketika momen itu tiba, takkan ada satu orang pun yang dapat menahannya. Tidak dengan kau, tidak dengan aku, tidak pula dengan Seventeen.”

Subject 09 tak merespon. Ia sekadar memerintahkan Subject 03 untuk menyisipkan baris kode pamungkas yang diharapkan akan mampu membuka pintu ruangan. Sebuah upaya terakhir.

Ara pun menekan tombol ENTER keras-keras, berharap kode pamungkas Subject 09 bekerja sebagaimana mestinya. Harapannya berbuah kenyataan. Pintu elektrik yang membatasi ruangan itu pun terbuka, memunculkan bunyi desis yang lantang. “Voila … ” ucap Subject 09 sesaat setelah mendapati kebebasan di hadapannya.

“Wah, ternyata kau jago meretas juga, Nine!” puji Ara seraya agak berlari menuju pintu keluar.

Subject 09 dan Subject 03 lantas berjongkok menghimpit dinding, mengecek keamanan di luar ruangan. Mereka mengintip ke kanan dan ke kiri, namun tiada sesuatu pun yang mereka dapatkan selain kegelapan dan lorong yang berantakan. Suara-suara tembakan juga sesekali menyeruak, namun terdengar jauh dari tempat mereka berpijak. Aman.

“Oke, Three. Keadaan aman, tetapi kita harus tetap berhati-hati. Tetap dekat,” ujar Subject 09 memberi instruksi.

“Sip. Kau pimpin jalan, Nine.”

Kedua subjek Project SAKTI yang lepas itu pun berjalan mengendap-endap menyusuri laboratorium yang gelap dan sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan, para pegawai tampaknya telah meninggalkan laboratorium sesaat setelah mendengar suara tembakan dari segala arah. Subject 09 pun mengajak saudaranya untuk mempercepat langkah, ia tak ingin mengulur-ulur waktu. Di tengah kegelapan seperti itu, mereka bisa saja berpapasan dengan berbagai macam jebakan.

Akan tetapi, LARAS bukanlah laboratorium kecil. Setelah menyusuri lorong demi lorong, Subject 09 tak juga menemukan jalan keluar. Ia dan Subject 03 terjebak di laboratorium raksasa tersebut. Untuk menemukan jalan keluar dengan mudah, satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah dengan bertanya. Itu artinya mereka harus menemukan salah seorang pegawai yang bekerja di dalam laboratorium tersebut.

Meski demikian, Subject 03 tetap menyarankan untuk menyusuri setiap sudut laboratorium dengan teliti. Tujuan mereka melepaskan diri dari meja penelitian bukan hanya untuk kabur dari laboratorium, tetapi juga untuk mencuri informasi. Tanpa berpikir dua kali, Subject 09 pun menyepakati gagasan saudaranya seraya tetap berjalan menembus kegelapan.

Penyisiran itu memakan waktu yang cukup lama bagi kedua subjek Project SAKTI sebelum akhirnya mereka menemukan tanda-tanda kehidupan. Bekas tanda-tanda kehidupan, lebih tepatnya. Mereka mendapati sejumlah jasad aparat dan ilmuwan tergeletak tak berdaya dengan badan penuh lubang dan darah. Sebelum melanjutkan perjalanan, Subject 09 dan Subject 03 berjongkok untuk mengecek kondisi setiap jenazah.

“Apa yang sesungguhnya terjadi?” bisik Subject 09 terheran seraya memegangi dog tag milik salah satu jasad aparat. “Ini anggota Kopassus. Keparat … ”

“Tidak semuanya Kopassus, Nine,” sergah Ara seraya menunjuk jasad aparat di hadapannya. “Lihat mayat ini. Orang bule. Menurut kartu identitasnya, ia adalah anggota 75th Rangers Regiment.”

“JSOC … ”

NB: JSOC (baca: jey-sok) merupakan singkatan dari Joint Special Operations Command, adalah sebuah komando khusus yang terdiri dari unit-unit terbaik Amerika Serikat.

“Kalau tidak salah, laboratorium ini memang didanai oleh Amerika Serikat kan? Aku sih tak heran jika laboratorium dengan tingkat eksperimen sehebat ini dijaga oleh anak-anak JSOC. Itu sudah tugas mereka.”

“Pertanyaannya adalah apa yang terjadi antara mayat Kopassus dan mayat Rangers ini? Perseteruan apa yang terjadi di antara mereka?”

“Mari kita cari tahu, Nine. Sepertinya kita sudah semakin dekat dengan sumber kekacauan,” ujar Ara seraya berjalan melangkahi para mayat. Kini ia yang memimpin jalan.

Subject 09 pun mengambil pistol milik salah satu jasad aparat, kemudian mengantonginya di balik celana. Ia lantas berjalan mengikuti saudaranya. Semakin penasaran.

Setiap langkah yang ditempuh kini menghadirkan misteri bagi kedua subjek Project SAKTI. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Darah mengecap hampir di setiap permukaan laboratorium. Profesi para korban pun sangat bervariasi; kadang ilmuwan, kadang laboran, kadang anggota JSOC, kadang anggota pasukan khusus Indonesia, kadang DSN, kadang Densus AT-13. Kematian massal itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Subject 09 dan Subject 03, mereka sama sekali tak punya ide mengapa tragedi semacam itu bisa terjadi secara tiba-tiba.

Sampai pada akhirnya, langkah kedua subjek bersaudara itu pun berakhir di sebuah ruangan yang amat besar. Besar dan kokoh. Dindingnya bahkan sangat tebal, seperti logam yang berlapis-lapis, mirip seperti ruangan tempat menyimpan peluru nuklir. Subject 09 dan Subject 03 akhirnya menyadari bahwa mereka sedang berada di dalam jantung laboratorium. Ada beberapa tabung seukuran keranda mayat di sana dan tabung-tabung itu diisi oleh sejumlah aset penting milik pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat.

The Creation. Project SAKTI.

“Bajingaaan … ” bisik Subject 03 seraya menatapi isi tabung satu-persatu. “Ini adalah saudara-saudara kita, Nine. Ini adalah teman-teman The Creation yang ditangkap beberapa tahun lalu!”

Subject 09 terdiam. Ia sekadar menatapi wajah para subjek yang tertidur di balik tabung. Ia tengah bernostalgia. Sesekali ia mengusap kaca tabung, berupaya menggapai tubuh para pejuang Project SAKTI yang tak sadarkan diri.

“Ini Subject 20, ini Subject 08, ini Subject 11 … ” sementara Subject 09 menatapi para aset dengan penuh renungan, Ara malah melakukan sensus terhadap setiap aset yang ia lihat. “Ini Subject 06. Errr … Six, wajahmu kok masih jelek saja ya?”

“Three … ” panggil Subject 09. “Kita sudah datang sejauh ini, menurutmu apa yang harus kita lakukan pada keparat-keparat ini?”

Subject 03 menoleh ke belakang, menatapi saudaranya selama beberapa saat. Ia lantas meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya, merenung dengan ekspresi imutnya. “Hmm, kalau kita bisa mengeluarkan mereka dari peti mati ini, bagaimana?”

“Bagaimana cara mengangkut mereka, lebih tepatnya.”

“Hmm, aku tak yakin sih. Coba pikir baik-baik deh. Bagaimana jika ternyata mereka sudah tercuci otak saat kita keluarkan dari sini? Bagaimana jika mereka belum stabil dan akhirnya mengamuk? Aku tak tahu lho ya, tetapi tabung-tabung ini kelihatannya berfungsi untuk menjaga mereka agar tak menggila.”

Subject 09 kembali terjerat oleh kebisuan. Ia pun menghela napas panjang seraya menatapi saudara-saudaranya di dalam tabung. Ada risiko yang tak ingin ia ambil jika ia berhasil mengeluarkan para subjek Project SAKTI dari dalam tabung. Membayangkannya saja sudah cukup untuk membuat bulu romanya bergidik.

Sayangnya, kedua subjek yang lolos tak sempat mengambil kesimpulan. Beberapa saat kemudian, Subject 09 mendengar langkah kaki yang amat intens bergerak ke arah ruangan tempat ia berpijak. Ia langsung mencari-cari akal. Datangnya segerombolan orang ke dalam ruangan tersebut bisa menjadi pedang bermata dua baginya; bisa menjadi ancaman, bisa pula menjadi sumber informasi. Tanpa berpikir panjang, Subject 09 pun menyuruh saudara berwajah cantiknya untuk bersembunyi. Kedua subjek itu lantas melesat tanpa suara mencari tempat perlindungan.

Tak begitu lama setelah kedua subjek bersembunyi, muncul sekitar dua puluh orang berpakaian taktis masuk ke dalam ruangan seraya menodong-nodongkan senapan ke segala arah. Dilihat dari jenis perlengkapan yang mereka kenakan, mereka adalah anggota DSN. Para personel elit itu lantas bergerak menyebar ke seluruh sudut ruangan untuk mengecek keberadaan musuh serta menjadi penguasa tunggal di dalam ruangan tersebut.

Penyisiran selesai, dua puluh personel DSN lantas bersiaga di pos mereka masing-masing. Mereka masih tak menyadari adanya pihak lain di dalam ruangan tersebut, yakni dua subjek Project SAKTI yang lepas dari kurungan. Yang mereka pedulikan saat itu hanyalah menjaga ruangan tersebut agar tak dirasuki oleh pasukan selain DSN.

“Kemajuan kita cukup bagus, teman-teman … ” ujar salah seorang anggota DSN. Tampaknya ia merupakan seorang pimpinan grup. Mungkin bintara, mungkin perwira. “Sayap barat telah kita kuasai, sementara sayap timur dan utara sedang dalam proses. Siapa pun dari kita yang mati hari ini akan menjadi sebuah pengorbanan yang sepadan untuk mengusir penjajah.”

Dari balik kegelapan, Subject 09 dan Subject 03 saling tatap. Mereka tak ingin buru-buru mengacaukan formasi dan membuyarkan informasi.

“Aku tak tahu mengapa Ketua menginginkan kita melepaskan para subjek Project SAKTI di sini, akan tetapi, perintah adalah perintah. Para subjek tidak boleh jatuh seutuhnya ke tangan para penjajah! Subjek-subjek ini adalah saudara-saudara kita, jadi mereka harus bekerja untuk kita, bukan untuk Amerika!” seru sang pimpinan grup berapi-api.

“HOOAH!” sahut belasan personel DSN yang lain.

Sang pimpinan grup lantas memerintahkan salah seorang anggotanya untuk membuka tabung-tabung tempat para subjek Project SAKTI dikurung.

Di saat ‘ritual’ pembukaan tabung sudah akan dilaksanakan, salah seorang personel DSN yang berjaga di sudut ruangan mendapati sesuatu yang mencurigakan di atas rak server. Sepertinya ada gundukan mirip manusia, pikirnya. Dengan sedikit keragu-raguan ia pun memberanikan diri untuk mengangkat senapannya, lalu memerhatikan lingkungan sekitar melalui teropong pencari panasnya. Seketika, kedua matanya membelalak.

“KONTAAAK—”

Tak sempat sang personel bertindak, tiba-tiba terdengar letusan tembakan dari sudut ruangan. Peluru pun melesat, langsung menerjang kepala sang personel secepat kilat menyambar. Sang personel tumbang, kepalanya pecah, darah dan serpihan otaknya mencurat ke beberapa permukaan ruangan.

Tembakan itu sontak membuat seluruh personel DSN yang berada di sana terperanjat, namun tak membuat mereka tanggap akan ancaman. Seseorang kemudian melompat turun dari atas rak server. Dialah yang melepaskan tembakan dan membuat satu personel DSN tergeletak tak berdaya. Subject 03.

Begitu mendarat di atas lantai, Ara segera membidikkan pistolnya dan mulai memuntahkan tembakan kepada beberapa personel DSN yang tersisa. Tembakannya akurat. Dua hingga tiga personel langsung tewas dibuatnya. Sebagian besar timah panas berhasil mengoyak leher dan kepala, membuat korbannya tewas dalam sekejap mata.

Di saat yang hampir bersamaan, Subject 09 juga turun dari tempat persembunyiannya dan ikut memberondong para personel DSN yang tersisa. Tembakannya berhasil menumbangkan dua orang dan melukai lima orang lainnya.

Aksi dadakan yang diluncurkan oleh Subject 09 dan saudaranya langsung membuat formasi DSN buyar. DSN sama sekali tak menyangka akan mendapati gangguan tepat di tengah lingkaran formasi. Mereka pun harus bersusah payah untuk mengatur kembali taktik yang sudah terlanjur berantakan.

Di saat itulah Subject 03 membuat segalanya menjadi semakin tak terkendali. Ia merenggut sejumlah granat asap dari jasad personel DSN di hadapannya, lantas melemparkannya ke lokasi pergerakan para personel DSN. Asap pun mengepul tebal. Pandangan sontak tersekat hebat. DSN tak punya pilihan selain mengganti modus teropong ke thermal vision.

Dilanda kepanikan, beberapa personel DSN pun melepaskan tembakan ke sembarang arah. Pasalnya, mereka tak bisa melihat dengan jelas. Ada banyak sumber panas di ruangan tersebut, teropong pencari panas menjadi tak begitu relevan untuk digunakan. Peluru berdesing ke mana-mana, namun tak menghasilkan apa-apa selain keributan.

Di tengah kepulan asap yang menebal, Subject 09 dan Subject 03 justru mampu bergerak lebih leluasa dan menyerang dari sudut-sudut yang tak terduga.

Subject 09 muncul secara tiba-tiba di belakang salah seorang personel DSN. Ia lantas menyekap wajah sang personel dan mencabut pisau sang personel dari sarungnya. Sejurus kemudian, ia segera menghujamkan pisau yang baru saja ia renggut ke dada sang personel. Pisau pun sukses mengoyak jantung. Serangan mendadaknya langsung membuat sang personel mengejan. Mati lemas.

Masih ada tiga ancaman di hadapan Subject 09. Tanpa berpikir dua kali, ia segera mencabut pistol sang personel dan membidikkannya ke arah tiga personel yang berdiri panik di hadapannya. Ia harus menyerang lebih cepat atau justru ia yang akan menjadi bulan-bulanan. Ketiga personel DSN sendiri tetap berupaya keras untuk menyerang walau dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Jari-jemari pun bersiap di atas pelatuk. Kedua belah pihak yang berseteru saling berhadapan. Moncong-moncong senjata telah diarahkan. Timah panas siap meluncur, menjanjikan kematian bagi siapa pun yang bersentuhan dengannya.

Subject 09 melepaskan beberapa tembakan seraya bergerak menyamping untuk menghindari tembakan-tembakan yang juga mengarah kepadanya. Ia tetap menggondol tubuh jasad personel DSN sebagai tameng. Beberapa tembakan yang diarahkan kepadanya memang tertahan oleh rompi antipeluru si jasad personel, sehingga ia tetap selamat walau dihujani oleh timah kematian.

Suasana di dalam ruangan sontak menjadi riuh akibat pertukaran tembakan yang begitu intens. Akan tetapi, Subject 09 tetap menjadi pihak yang memenangkan pertempuran. Ia berguling menyamping, menghindari semburan peluru yang mengarah kepadanya seraya berlindung di balik objek keras. Sesaat setelahnya, ia merubuhkan dirinya sendiri di atas ubin dan membidikkan senjatanya dalam posisi berbaring. BLAM, BLAM, BLAM! Tiga peluru dilepaskan, langsung melubangi kepala tiga personel elit yang mengeroyoknya. Ketiganya tewas sekelebat.

Di sudut lain, Subject 03 juga menggila. Setelah mematahkan leher salah seorang personel DSN, ia beralih kepada personel lain yang berdiri sekitar tiga kaki di sampingnya, personel kedua. Ia segera mengaplikasikan beberapa rangkaian serangan jarak dekat kepada sang personel. Pukulan dan tendangan cepat meluncur, membuat sang personel terhuyung luruh dan gagal membidik. Ara lantas menggenggam senapan sang personel dan memutarnya hingga sang personel terpelanting dari tempatnya berpijak. Terbanting. Suara berdebum pun menggetarkan seisi ruangan sesaat setelah sang personel menghantam ubin dengan punggungnya.

Namun, Ara tak melanjutkan serangannya. Ia malah beralih kepada personel DSN lain yang telah berdiri di hadapannya, personel ketiga. Ia lekas-lekas mengayunkan popor senapan ke arah sang personel. KRAK! Serangannya masuk sebelum sang personel sempat membidik dengan benar. Sang personel lengah, Ara langsung melompat dan menggelantungkan tubuhnya pada tubuh sang personel. Beban tubuh Ara tentu membuat sang personel tak punya pilihan lain selain tersungkur. Di saat itulah Ara mengentakkan kedua tangannya pada kepala sang personel, langsung membuat leher sang personel patah. Mati.

DSN belum usai berurusan dengan Ara. Seorang personel tiba-tiba muncul dari kepulan asap dan menyemburkan tembakan secara acak. Tembakan itu bahkan sampai melukai personel DSN yang lain. Beberapa peluru berhasil mengoyak anggota tubuh Ara, namun tak fatal. Ara hanya tergores pada kaki dan rusuknya. Pria cantik pemilik sandi Subject 03 itu langsung berguling menjauh dan mengambil senapan yang tergeletak di sekitar sana. Ia pun menyemburkan peluru secara acak, membuat sang personel tersudut dan kabur ke titik yang lebih aman.

Pertarungan belum usai, Subject 03 memutuskan untuk meninggalkan senjatanya dan menghampiri personel yang baru saja memberondongnya. Ia merangsek maju, menerka-nerka posisi lawannya hanya berdasarkan pantulan suara di sekitarnya. Asap tebal tak membuat instingnya luput. Ia benar-benar mendekati musuhnya dengan akurat. Sang personel sampai terkejut begitu mendapati Ara tiba-tiba muncul beberapa kaki di depan matanya.

Si personel penembak sempat berpikir bahwa dirinya jenius, bisa menghindari serangan subjek Project SAKTI dengan memanfaatkan tabir asap. Namun, pikiran itu hanya bertahan selama beberapa saat. Ia tahu bahwa dirinya tak punya peluang untuk menang begitu mendapati subjek yang baru saja ia lawan seketika hadir di hadapannya. Upaya terbaiknya untuk menangkal serangan hanyalah dengan mengayunkan popor senapan. Sayangnya, serangan penangkalnya pun luput.

Subject 03 mampu menghindari serangan lawannya dengan cekatan. Ia merunduk sebelum popor senapan menghantam pelipisnya. Di saat yang hampir bersamaan, ia pun meluncurkan tinju kerasnya ke kepala sang personel. Sangat keras. Benar-benar pukulan khas subjek Project SAKTI. Pukulannya mendarat dengan gemilang dan menimbulkan suara gemertak lembut di bagian tengkorak sang personel, langsung membuat sang personel terpelanting, berguling-guling, dan akhirnya tersungkur tak berdaya di atas ubin. Sekarat.

Pertarungan Subject 03 mungkin telah usai, namun belum bagi Subject 09. Buronan nomor satu republik itu masih bertarung melawan pimpinan grup DSN. Ia berusaha keras untuk tidak membuat sang pimpinan meregang nyawa, karena sang pimpinan memiliki banyak informasi yang sangat berharga.

Pimpinan grup DSN adalah seorang pejuang tangguh. Meski ia tahu lawannya adalah salah satu individu paling berbahaya di Indonesia, namun ia tetap melakukan perlawanan. Ia sempat membidikkan senapannya, namun tak sempat menarik pelatuk dengan benar. Subject 09 sudah lebih dulu menepis moncong senapan sang pimpinan, lalu membumbui aksinya dengan beberapa serangan jarak dekat. Sang pimpinan dihantam dengan tinju dan moncong pistol.

Sudah berkali-kali dihajar, sang pimpinan masih mampu berdiri di atas kedua kakinya. Rongga-rongga di kepalanya bahkan mulai mengeluarkan darah, namun ia tetap tak goyah. Setiap upayanya digagalkan. Pukulan demi pukulan melayang, namun tak ada satu pun yang mengenai target. Serangannya ditepis. Diblokir. Diantisipasi. Lantas serangannya dibalas beberapa kali lipat dengan serangan yang lebih menyakitkan.

Subject 09 akhirnya memutuskan untuk mengakhiri permainan. Ia melepaskan beberapa pukulan cepat ke arah torso dan menyodok dagu sang pimpinan dengan moncong pistolnya. Sang pimpinan hampir kehilangan kesadaran, namun tetap tak goyah. Subject 09 lantas mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan, BLAM! Ia mendaratkan timah panas tepat ke atas kaki sang pimpinan.

Rintihan keras sang pimpinan mampu terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan, namun Subject 09 membuat teriakan itu menjadi lebih singkat. Sang buronan republik segera meraih tengkuk dan menarik kepala sang pimpinan ke atas lututnya. Serangannya tak sempat diantisipasi. Kepala sang pimpinan sukses menghantam lutut Subject 09. Pimpinan tangguh itu pun tersungkur lemas, sekujur tubuhnya menolak untuk bangkit dan melawan lagi. Ia kini hanya bisa pasrah pada perlakuan musuhnya.

“Lakukan … lakukan dengan cepat. Aku mohon … ” ujar sang pimpinan terengah-engah. Ia tak setegar sebelumnya.

“Aku menghajarmu bertubi-tubi bukan untuk membunuhmu,” tegas Subject 09 seraya mengacungkan moncong pistolnya ke kepala sang pimpinan. “Aku butuh informasi: apa yang terjadi di laboratorium ini? Mengapa terjadi tembak-menembak? Siapa lawan siapa?”

“DSN … melawan … semuanya.”

Subject 09 terdiam. Keningnya berkerut. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian melawan semuanya? Kalian DSN kan?”

Sang pimpinan tak merespon. Ia tampak seperti orang yang mabuk. Pupil matanya kadang timbul, kadang tenggelam. Ia hampir kehilangan kesadaran akibat terlalu banyak luka yang diderita oleh tubuhnya. Terlalu luruh untuk melawan rasa sakit.

Subject 09 pun menginjak kaki sang pimpinan yang terluka. “Hei, aku butuh informasi! Apa yang terjadi!?”

“Aaaa … sakit! Sakit!” seru sang pimpinan seraya merogoh-rogoh kakinya. Ia kesakitan, namun ia bisa tetap sadar. “DSN … DSN melawan semuanya karena semuanya melindungi Amerika! Amerika … Amerika mau menguasai proyek eksperimen di laboratorium ini sendirian! Kami tak bisa membiarkan hal itu terjadi! Mereka … yang melindungi Amerika … harus ikut mati!”

“Amerika mau menguasai proyek? Kau dapat intel dari siapa?”

“Aaa … Brigjen Dharma … ”

“Dharma?” tanya Subject 09 heran. “Bagaimana dan kapan ia memberitahu kalian sehingga kalian bisa merencanakan kekacauan ini begitu kompak?”

“Lewat rekaman … tetapi rekamannya sudah kami musnahkan. Dharma akan diculik oleh orang Amerika. Ia mencoba memperingatkan kami soal penjajahan di dalam LARAS … lewat rekaman … ”

“Hah … ?” Subject 09 merasa percaya tak percaya mendengar pemaparan sang pimpinan. Tetapi, ia tahu bahwa lawan bicaranya sama sekali tak berdusta.

Tak lama kemudian, Subject 03 pun datang menghampiri lokasi interogasi.

“Hei, hei … aku terlambat nih,” ujar Ara santai. Ia baru saja selesai menghajar seorang personel DSN.

“Kau dengar dia, Three? Katanya, Dharma sedang dikejar-kejar oleh sebuah kekuatan. Amerika, katanya. Amerika ingin menculik Dharma.” jelas Subject 09 singkat.

“Dan … ? Apa yang membuat Amerika ingin menculik Dharma?”

“Tak tahu, tanya saja padanya … ” ujar Subject 09. “Oi, pimpinan grup. Jawab pertanyaan saudaraku. Apa yang membuat Dharma menarik untuk dijadikan target penculikan?”

Uhuk, uhuk!” Sang pimpinan tersedak oleh darahnya sendiri. Sesekali ia juga meringis menahan rasa sakit yang merajang sekujur tubuhnya. “Amerika … mereka mau menculik Dharma karena mereka tahu bahwa kita adalah pasukan Indonesia yang paling berpengalaman di laboratorium ini. Lebih berpengalaman daripada Kopassus. Amerika mau menyingkirkan kami dan mengganti keberadaan kami dengan pasukan yang lebih buruk. Sehingga … suatu hari nanti … ketika saatnya tiba … Amerika bisa membersihkan orang-orang Indonesia di sini tanpa harus merasa kesulitan.”

Subject 09 dan Subject 03 terdiam. Mereka hanya saling pandang tanpa mau mengambil kesimpulan. Pemaparan sang pimpinan memang terdengar seperti karangan, tetapi kedua subjek tahu bahwa sang pimpinan tak sedang berdusta. Personel DSN lain yang berada pada laboratorium itu juga kemungkinan besar meyakini hal yang sama.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara pertukaran tembakan yang begitu intens. Lokasinya dekat dengan ruangan tempat dikurungnya para subjek Project SAKTI. Sesekali juga terdengar seruan-seruan; kadang dalam Bahasa Indonesia, kadang dalam Bahasa Inggris. Subject 09 dan Subject 03 pun menatap ke arah sumber suara selama beberapa saat. Tegang. Mereka sadar bahwa sudah saatnya mereka pergi dari ruangan itu, tak ingin terjebak dalam aksi saling serang antara DSN dan pasukan-pasukan lain.

Akhirnya, kedua subjek Project SAKTI yang lolos itu pun beranjak pergi meninggalkan kekacauan yang baru saja mereka buat. Mereka juga merenggut peralatan para personel DSN untuk membentengi diri dari kekacauan yang mungkin akan mereka temui sepanjang rute menuju gerbang keluar laboratorium. Mereka meninggalkan ruangan melalui pintu darurat.

***

LARAS menjelang fajar …

Kekacauan masih berlangsung. Kondisi LARAS menjadi amat tak terkendali. Mayat dan darah bergelimpangan di mana-mana. Kadang orang Indonesia yang ditemukan tewas, kadang orang Amerika. Perseteruan antaraparat yang terjadi secara mendadak itu tentu saja membuat seluruh pihak non-DSN kebingungan, terutama para ilmuwan. Sebelumnya, mereka tak mendapati tanda-tanda konflik antara DSN dan kesatuan lain. Seluruh aparat benar-benar bersinergi menjaga kelancaran proyek. Namun, mengapa malam itu berubah?

Di sayap timur laboratorium, misalnya, terjadi pertarungan sengit antara personel JSOC dan DSN. Keduanya adalah pasukan elit yang sama-sama memiliki akses terhadap teknologi tempur tercanggih. Tak pelak, sayap timur laboratorium menjadi salah satu zona yang paling berantakan. Tak hanya hujan tembakan, ledakan juga beberapa kali terjadi dan membuat lingkungan sekitar laboratorium ikut hancur. Korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak pun terbilang sangat signifikan. Pasukan elit Amerika bahkan tak bisa membendung determinasi DSN yang amat kuat.

Akan tetapi …

Pertempuran sengit di sayap timur laboratorium harus tertunda. Kedua belah pihak yang semula berseteru seketika saling bahu-membahu melawan satu entitas misterius yang muncul secara mendadak dan membunuh semua personel aparat tanpa pilih kasih. Entitas itu merupakan seorang prajurit taktis yang menutup wajahnya dengan topeng gas. Ia seperti tak punya pendirian, semua pihak dilibas tanpa ampun. Yang lebih mengerikan adalah ia membunuh hanya dengan pukulan dan tendangan. Ia memegang pistol, namun tak digunakan untuk menembak, melainkan untuk meremukkan tulang lawan.

Perburuan terhadap si personel misterius pun ditingkatkan, CIA bahkan harus turun tangan membantu teman-teman JSOC, namun tak juga membuahkan hasil yang positif. Jumlah aparat yang terlibat dalam perburuan itu malah menyusut drastis. Si personel misterius mampu bergerak lincah, melompat dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghindari terjangan peluru, lalu menghajar para personel resmi dengan serangan-serangan superkerasnya, seperti bukan manusia. Gabungan JSOC, CIA, dan DSN sama sekali tak sanggup mengantisipasi keberadaannya. Pasukan elit dari dua negara yang semula berjumlah puluhan kini hanya tinggal lima orang.

Meski lawannya tinggal sedikit, si personel misterius tetap tak ingin berhenti mengacau. Ia hanya beristirahat sejenak, lalu kembali menghampiri para korbannya.

Kelima personel resmi yang tersisa pun panik, mereka menyemburkan peluru ke segala arah. Sayangnya, dari semua tembakan yang dimuntahkan, tak ada satu pun peluru yang berhasil bersarang di tubuh si personel misterius. Monster gila itu terlalu lincah.

Korban pertama dari lima personel yang tersisa: kepalanya ditinju oleh si personel misterius hingga terdengar gemertak yang cukup jelas bagi orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya terpental setelah menerima pukulan. Mati.

Korban kedua dari lima personel yang tersisa: ia sempat memuntahkan timah panas dari senapannya, namun tak ada satu pun yang berhasil mengenai target. Si personel misterius malah mendekatinya, lantas menghantam kepalanya dengan tendangan kait berputar. Tengkoraknya pecah. Mati.

Korban ketiga dari lima personel yang tersisa: ia berupaya menghujamkan pisau komando pada tubuh si personel misterius. Sayangnya, gagal. Si personel misterius malah memelintir tangan sang korban hingga pisau yang berada pada genggaman sang korban berayun ke leher pemiliknya sendiri. Mati.

Korban keempat dari lima personel yang tersisa: ia meluncurkan tinju, namun luput. Si personel misterius tiba-tiba merunduk seraya berdiri menyamping. Sesaat setelahnya, si personel misterius mengentakkan sikutnya begitu keras ke tubuh sang korban. Pelat antipeluru sang korban bahkan tak sanggup menahan dampak dari pukulan si personel misterius, tulang torso dan jantungnya sampai remuk. Tewas.

Korban terakhir dari lima personel yang tersisa: ia dicekik oleh si personel misterius. Badannya lebih besar dan kekar, namun ia merasa seperti sedang dicekik oleh beruang. Urat-urat kepalanya sampai menyembul akibat cekikan yang begitu keras.

You … who the fuck … ?” tanya sang korban terakhir. Ia menanyakan identitas si personel misterius.

Demon … ” jawab si personel misterius. Iblis, katanya. Sejurus kemudian, ia mengentakkan jari-jemarinya pada leher sang korban terakhir.

KREK! Terdengar bunyi gemertak tulang yang cukup keras sesaat setelah si personel misterius mengeraskan cekikannya. Sang korban terakhir hanya sanggup mengejan singkat, lalu kehilangan kesadaran untuk selama-lamanya. Tulang leher sang korban remuk dan urat nadinya putus. Si personel misterius pun melepaskan genggamannya, membiarkan jasad musuhnya tergeletak tanpa makna.

Tak ada yang benar-benar tahu siapa sosok di balik topeng gas tersebut. Yang pasti, kemampuannya sangat mengerikan. Ia datang tak diundang dan langsung membantai semua personel resmi tanpa pilih kasih. Kini ia berdiri sendirian di sayap timur laboratorium, tercenung di antara mayat-mayat yang hancur berantakan akibat pukulan dan tendangannya.

Sang iblis merasa kesepian, namun tak bertahan lama. Terdengar lagi sayup-sayup tembakan dari kejauhan. Ia pun menoleh ke belakang, menerka-nerka sumber keributan. Ia kembali bergairah, siap menumpahkan darah.

“Bunuh mereka semua, kata si jenderal keparat… ”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!