22.5 – Popgun Asia: Sea’s Parade


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

EPISODE INI MERUPAKAN HASIL KOLABORASI DENGAN POPCON ASIA DAN JENDERAL PAVLICHENKO. JANGAN LUPA DATANG KE POPCON ASIA DI JAKARTA CONVENTION CENTER PADA 5 – 6 AGUSTUS 2017 INI YA!

SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI


ILUSTRATOR: AsKooz

BINTANG TAMU:
Jenderal Pavlichenko
Ibu Grace Kusnadi


Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang
15.23
Beberapa hari setelah Episode 8 (klik di sini)

Subject 09 dan kawanannya menganggur. Mereka sedang berupaya memulihkan keadaan pasca terjadi huru-hara di kantor NetCaptain di Kota Bandung. Subject 09 terluka parah pada insiden tersebut, ia masih harus memulihkan luka tembak di sekujur tubuhnya. Kedua mantan tetangga Subject 09, Verani dan Patih, juga masih perlu memulihkan kondisi psikologis pasca menyaksikan pendarahan sang mantan tetangga. Sementara itu, Subject 17 yang kini ikut bergabung dengan kawanan Subject 09 juga masih harus memulihkan hubungan baik dengan saudara lamanya. Tiada aksi, tiada reaksi. Semua tengah bercumbu dengan ketenangan.

Sore itu, seraya duduk beristirahat di atas sofa, Subject 09 mencoba memecah kesepian dengan membaca berita pada ponsel cerdasnya. Ia mencari kabar-kabar terbaru tentang remuknya kantor NetCaptain yang ‘disewa’ menjadi safehouse rahasia intelijen. Pemerintah tampaknya tak banyak berkomentar mengenai insiden di dalam kantor keamanan jaringan tersebut, malah berupaya menutup-nutupi agar tak menjadi sorotan publik. Karena tak banyak perkembangan baru tentang insiden terkait, Subject 09 pun beralih pada berita-berita politik kacangan; berita-berita yang sebenarnya hanya berfungsi untuk mengisi laman para korporasi media.

Subject 09, meskipun masih berusia 23 tahun, namun minatnya pada bidang politik memang sangat besar. Bukan minat yang biasa dimiliki oleh anak muda sepantarannya. Mungkin merupakan bawaan ketika ia masih menjadi bagian dari eksperimen Project SAKTI sejak bayi.

Jenuh membaca kisah-kisah politik yang terasa antiklimaks, tiba-tiba perhatian Subject 09 terhenti pada sebuah banner iklan di sudut tampilan ponselnya. Iklan tersebut tampak begitu memanjakan mata, ia sampai tak menghiraukan berita yang baru saja ia baca. Tiada salahnya mengakses iklan tersebut, lagipula ia juga sudah jemu berlama-lama membaca polah tingkah para politisi sempalan yang lebih banyak pamer gaya daripada pamer prestasi.

Klik. Iklan pun diakses.

Popcon Asia. Ia tahu apa itu Popcon Asia. Itu merupakan salah satu acara kultur pop terbesar di Indonesia, bahkan kabarnya sudah termasuk acara industri kreatif terbesar di Asia. Ia pernah hadir pada acara itu sebelumnya, namun hanya sekali atau dua kali. Subject 09 juga menyukai dunia kreatif, tak pelak jika ia merasa familiar dengan acara semacam Popcon Asia.

Subject 09 mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat beberapa hal menarik pada acara tersebut. Pada tahun ini, Popcon Asia banyak mengundang artis maupun kreator ternama, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Salah satu yang paling disinyalir akan menjadi pusat perhatian adalah JKT48, girlband lokal didikan Jepang yang sangat menghebohkan anak muda Nusantara. Tak hanya itu, tahun ini Popcon Asia kembali dikunjungi oleh Menteri Ekonomi Kreatif yang dipegang oleh Ibnu Ubaidillah, seorang menteri yang kabarnya sudah menjadi legenda di dunia komik dan animasi.

Subject 09 pun tercenung. Ia melihat keuntungan besar dari adanya acara sekaliber Popcon Asia. Kebetulan. Acara tersebut bisa menjadi kesempatan untuk menyegarkan pikiran Verani dan Patih. Benar, ia berencana mengajak kedua mantan tetangganya untuk mengunjungi acara tersebut dan membantu keduanya memulihkan kondisi psikologis pasca insiden NetCaptain.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Subject 09 pun bangkit dari sofanya. Ia berjalan menuju ruang tengah tempat Verani dan Patih bermain Playstation.

Pasangan ibu dan anak itu tampak tak peduli dengan kedatangan Subject 09. Mereka sedang sangat serius bertanding pada sebuah permainan sepakbola digital. Berisik. Kadang Verani yang berteriak, kadang Patih yang berteriak. Hampir gol! Awas! Bahaya! Jerit-jerit itu sanggup memecah keheningan yang berkuasa.

“Hei, Ve … ” panggil Subject 09 seraya tersenyum.

Panggilan itu sontak mengejutkan Verani dan membuat Verani buru-buru meninggalkan kontrolernya di atas karpet. “Adam! Uhhh, ada apa!?” sahutnya spontan.

“Hei, santai saja … aku tidak bermaksud untuk mengganggu permainan kalian kok,” ucap Adam, nama lain Subject 09.

“Oh … ah … astaga. Kupikir ada apa,” ujar Verani seraya mengusap-usap dadanya. “Aduh, maaf ya, sikapku sepertinya sangat berlebihan.”

“Tak apa-apa, kau mungkin masih syok dengan kejadian beberapa malam lalu … ” Subject 09 ikut duduk di sekitar Verani dan Patih.

“Kami sudah tidak kenapa-kenapa kok, Paman Adam. Lihat saja, Ibu dan aku sudah berisik seperti ini,” sanggah Patih percaya diri.

Adam tertawa kecil, ia lantas mengusap-usap kepala Patih dengan lembut. “Mudah-mudahan saja begitu. Tujuanku kemari juga untuk mengabari kalian tentang sesuatu kok; sesuatu yang mungkin akan membuat kalian lupa terhadap insiden di NetCaptain.”

“Oh ya? Apa itu, Paman!?”

“Tiga hari dari sekarang akan diadakan acara Popcon Asia di Jakarta. Itu acara yang sangat menyenangkan, kita bisa datang ke sana jika kalian mau.”

“Popcon Asia?” Verani terheran. “Acara apa itu, Adam?”

“Itu pameran industri kreatif, Ve. Ada novel, komik, animasi, game, pokoknya semua yang berkaitan dengan dunia hiburan cetak dan digital akan hadir di sana,” jelas Subject 09.

“Wah … kedengarannya menarik sekali. Kok aku baru tahu ya ada acara semacam itu?”

“Ibu nggak gaul, mungkin!” tukas Patih.

“Idih, kayak kamu tahu aja. Dasar, botol minyak telon … ” sindir Verani frontal. Kata-katanya sanggup membuat Subject 09 dan Patih tertawa.

Sesaat setelahnya, Patih pun menarik-narik lengan baju Adam. Ia ingin bertanya. “Paman, Paman! Apakah di sana juga ada superhero-superhero seperti di komik dan televisi!?”

“Tentu saja ada, Patih … ” jawab Subject 09 spontan. “Di sana kau bisa melihat orang mengenakan kostum superhero, monster, bahkan alien sekalipun.”

“Oh, cosplay, ya!”

“Yap, benar. Ternyata wawasanmu jauh lebih luas daripada dugaanku. Hebat,” Subject 09 kembali mengusap-usap kepala Patih.

“Heheh … siapa dulu donk! Namanya juga Patih!”

“Jangan puji dia lagi deh, Adam. Si pendek ini suka besar kepala kalau kebanyakan dipuji,” sela Verani menyindir.

“Ih, Ibu siriiik! Weeek!

Subject 09 pun tertawa menatapi ‘pertikaian’ antara ibu dan anak di hadapannya. Ia lantas menepuk-nepuk pundak Patih untuk mengembalikan fokus pembicaraan. “Sudah, sudah. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kepada kalian: apakah kalian mau pergi ke acara Popcon Asia pada hari Sabtu nanti?”

“MAU, MAU!” Tanpa berpikir panjang, Verani dan Patih langsung mengiyakan penawaran sang mantan tetangga. Dari yang semula bertikai, kini mereka kompak menyuarakan satu gagasan yang sama. Subject 09 pun tersenyum lebar.

Tak lama kemudian, muncullah seorang penghuni rumah yang lain. Seorang wanita berhijab, ia keluar dari kamarnya dengan gusar. Wajahnya kusut, jilbabnya kusut, dan bajunya pun kusut. Ia tampak seperti orang yang baru saja bangun tidur. Bukan tampak, tetapi memang baru saja bangun tidur.

“Bah! Aku tak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara dua corong ini berteriak-teriak sedari tadi!” ujar sang wanita ketus.

“Dua corong … maksudmu Verani dan Patih, Felicia?” tanya Subject 09 seraya tersenyum kecut.

Wanita berjilbab itu bernama Felicia Riska Nirmala. Ia adalah saudara seperjuangan Adam di Project SAKTI, lebih dikenal dengan sandi Subject 17.

“Siapa lagi!? Yang dari tadi berteriak-teriak kan cuma mereka!”

“Aduh, begitu ya? Maafkan kami, Felicia. Kami sering lupa diri kalau sedang bermain game,” ujar Verani memelas.

“Maafkan kami, Bi … besok-besok nggak begitu lagi deh,” timpal Patih.

Subject 17 menghela napas panjang seraya memperbaiki posisi kacamatanya. “Sudahlah, tak usah dipikirkan. Nanti aku pindah kamar saja. Masih banyak kamar yang bisa kusinggahi.”

“Hehehe, bukankah biasanya kita tidur seraya mendengar suara artileri, Seventeen?” tanya Subject 09 santai.

“Itu beda, ya. Jangan disamakan dengan situasi saat kita mengikuti pendidikan dasar,” Subject 17 menunjuk-nunjuk saudaranya dengan bengis. “Lagipula, kalian ini mau ngapain sih? Kedengarannya kok seperti merencanakan sesuatu?”

“Kami mau pergi ke Popcon Asia, Bi! Ayo ikut dengan kami, siapa tahu itu bisa meredakan kemarahan Bibi!” tukas Patih.

“Hah? Popcon Asia? Acara komik-komikan itu?”

“Benar, Bi! Itu akan sangat menyenangkan lho!”

“Ah, aku tidak tertarik menghadiri acara semacam itu. Aku tidak suka membaca komik, jangan samakan aku dengan Paman Adam,” Felicia menolak tawaran Patih. “Lagipula, bagaimana caranya kalian mengunjungi acara seperti itu di saat Adam tengah menjadi buronan pemerintah? Kalian justru mendatangi bahaya, tau!”

Seketika semua pihak terdiam, termasuk Adam. Verani dan Patih sontak menoleh gagap ke arah Subject 09, menanti jawaban yang berarti. Pertanyaan Subject 17 sangat menohok, tidak ada yang memikirkan hal tersebut sebelumnya.

“Hmm … ” Subject 09 hendak menawarkan sebuah solusi. Ia mengusap-usap dagunya sebelum mulai berbicara. “Cosplay, Felicia. Kau tahu, pihak keamanan takkan mungkin membuka topeng cosplayer satu-persatu di saat seperti itu.”

Lagi-lagi keheningan tercipta. Kali ini Subject 17 ikut terdiam merenungkan proposisi saudaranya. Sementara itu, Verani dan Patih malah berbinar-binar mendengar gagasan sang mantan tetangga. Buronan paling berbahaya sejagat Nusantara bermain kostum? Itu bukan sesuatu yang bisa orang lain lihat setiap hari.

“Lagipula, peluangnya kecil sekali agen pemerintah berkeliaran di acara penuh warna seperti itu … ” lanjut Subject 09.

“Argh! Terserah kau saja deh, Nine! Lakukan apa yang kau mau. Pokoknya, aku sudah mengingatkan kalian. Jadi, jangan salahkan aku jika sampai terjadi apa-apa pada kalian, terutama pada Verani dan Patih.”

Subject 09 pun tersenyum, sementara Verani dan Patih bersorak penuh kemenangan. Mereka akan berlibur ke satu tujuan yang sama laksana sebuah keluarga yang harmonis. Ini akan menjadi momen yang amat langka bagi mereka bertiga.

***

Rest Area JTN 07, Yogyakarta
01.01

Dua hari sebelum Popcon Asia dimulai, Subject 09 akhirnya membawa Verani dan Patih melesat ke arah Jakarta. Mereka memutuskan untuk pergi menggunakan mobil pribadi agar bisa menikmati pemandangan kota lebih banyak dan berwisata kuliner. Beruntung mereka tidak pergi pada saat libur nasional, sehingga tak ada kemacetan yang signifikan sepanjang perjalanan menuju ibukota.

Kini, Subject 09 dan kedua mantan tetangganya telah mencapai Kota Yogyakarta. Mereka tengah beristirahat di area peristirahatan yang cukup megah. Selagi Verani dan Patih tidur di dalam mobil, Adam justru keluar dan menikmati udara malam. Ia duduk di trotoar seraya mengisap batang tembakaunya, bersantai dengan kepulan asap. Ia juga sesekali menyeruput kopi panas yang terhidang di sampingnya. Benar-benar gaya hidup yang kurang sehat.

Tak lama kemudian, ponsel Adam berbunyi. Ada seseorang yang menelponnya. Ia pun mengambil ponsel dari sakunya dan menatapi layar secara seksama. Subject 17, ujarnya membatin. Jika Felicia menghubunginya, berarti ada sesuatu yang penting, apalagi dilakukan di pertengahan malam seperti demikian.

Telepon diangkat. Subject 09 menempelkan ponsel pada telinganya.

“Seventeen? Ada apa meneleponku malam-malam begini?” tanya Subject 09.

Nine, syukurlah, ternyata kau tidak tidur …

“Belum tidur, lebih tepatnya. Apa yang terjadi? Sepertinya penting.”

Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut penting, akan tetapi aku mendapatkan informasi yang kurang enak di acara komik-komikan yang akan kau datangi.

“Katakan saja … ada apa?”

Anaknya Bu Tuti katanya mau hadir di acara itu–

“Bu Tuti, Bu Tuti siapa?”

Menteri Kelautan dan Perikanan, Nine. Astaga, harus banget ya kujelaskan seperti itu!?

“Oh, kupikir Bu Tuti siapa. Kupikir itu tetanggamu atau kenalan kita di Project SAKTI dulu,” ujar Subject 09 seperti tanpa dosa. “Baiklah, baiklah … lanjutkan ceritamu.”

Subject 17 menghela napas panjang sebelum melanjutkan kembali percakapannya. “Ya, intinya, anaknya Bu Tuti yang paling besar mau datang ke acara tersebut. Si Bondan. Lantas, aku mendapatkan informasi bahwa ada beberapa orang yang mau menculik Bondan sebagai wujud balas dendam atas tindakan Bu Tuti kepada para pelaut ilegal di perairan Nusantara.

“Hmm, mereka marah karena Bu Tuti sudah terlalu banyak meledakkan kapal ilegal ya?”

Sepertinya begitu. Akan tetapi, aku telah mendapatkan identitas beberapa calon penculik, mereka adalah gerombolan perompak profesional yang pernah diburu oleh Kopaska di Somalia, namun gagal ditangkap. Mereka bukan perompak biasa, punya kemampuan yang unik. Aku hanya khawatir mereka akan menimbulkan kekacauan lebih dari yang kita bayangkan.

“Orang Somalia?”

Bukan. Mereka orang Indonesia. Mantan pelaut, dipecat secara tidak terhormat karena melakukan bisnis ilegal dengan para eksportir gelap. Mereka lantas bergabung dengan perompak Somalia untuk menjadi sosok kriminal yang hakiki, namun kabur pasca operasi pembebasan sandera oleh Kopaska pada tahun 2011 silam.

“Jadi … mereka marah karena apa?”

Dari mana ya aku harus bercerita? Intinya, setelah insiden tahun 2011 itu, mereka membuat kelompok perompak baru. Mereka punya satu kapal besar sebagai pusat komando dan dua kapal kecil untuk menangkap ikan secara ilegal di wilayah orang lain dan menjual hasil tangkapan lewat eksportir gelap. Nah, salah satu dari dua kapal itu kedapatan melakukan aktivitas ilegal oleh Bu Tuti. Kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya …

“Kapalnya diledakkan.”

Dan awaknya ditangkap.

“Ah, sepertinya pelaut kita yang satu ini sudah terlalu banyak menyimpan dendam dengan Indonesia. Pertama, ia dipecat dari dinas Angkatan Laut. Lantas, bisnis ilegalnya dimatikan dan anak buahnya ditangkap. Kurasa rencana penculikan terhadap Bondan hanya permulaan saja.”

Itulah kenapa aku khawatir … ” ujar Subject 17. “Bu Tuti adalah orang yang baik. Ia adalah pengecualian, tak seperti para konspirator di istana. Kalau kau punya waktu, mungkin kau bisa membantu melindungi anaknya dari penculikan.

“Tidak masalah. Hanya saja … ” Subject 09 mengusap-usap tengkuknya. “Dari mana kau bisa mengetahui semua informasi itu? Kau menyadap intelijen?”

Lagi-lagi Subject 17 menghela napasnya. “Ini semua adalah ‘efek samping’ dari pengamatanku terhadap kepergianmu, tahu! Kau pergi ke ibukota begitu saja tanpa memeriksa dahulu pergerakan musuhmu, tidak memeriksa dulu siapa-siapa saja yang akan datang ke Popcon, tidak memeriksa pergerakan aparat, dan sebagainya. Kalau Verani dan Patih dirugikan atas kecerobohanmu, bagaimana!? Kau mau tanggung jawab!?

Subject 09 tersenyum kecut. Ia merasa senang saudarinya memerhatikan keadaan Verani dan Patih seperti keluarga. “Aku sudah mengecek kok, tetapi tak sampai sedetail itu. Aku hanya melakukan pengecekan untuk keselamatanku dan kedua mantan tetanggaku, tidak sampai mengecek keamanan anak menteri. Kau begitu perhatian, Seventeen. Terima kasih.”

K-kalau sudah mengecek, ya sudah! A-aku melakukannya hanya karena aku khawatir dengan dua orang sipil yang kau bawa-bawa itu.

“Dan ternyata kau malah mengkhawatirkan orang lain selain Verani dan Patih,” ujar Subject 09 diselingi tawa.

Nggak usah ketawa-tawa deh!” seru Felicia ketus. “Pokoknya info tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Info tersebut kudapatkan dari hasil menyadap telepon anggota intel resmi dan kabarnya si mantan pelaut ini sudah mendarat di tanah air. Aku sudah melakukan kroscek dan hasilnya memang ada jejak keberadaan si mantan pelaut di Jakarta.

“Aparat mengintainya?”

Tidak. Prioritas rendah. Aparat langsung menyerahkan masalah ini kepada pengawal Bu Tuti. Hanya transfer informasi. Mereka menduga kemampuan si mantan pelaut ini juga tak seberapa.

“Hmm … ”

Sebenarnya penyelesaian masalah ini tidak tergantung pada kemampuan fisik, tetapi pada kemampuan deteksi. Si mantan pelaut itu pasti tahu kalau dia jadi buronan negara, jadi dia akan melakukan cara-cara pintar untuk menghindari deteksi aparat. Apalagi acara komik-komikan seperti Popcon terhitung sangat ramai, mereka bisa memanfaatkan keramaian untuk berbaur.

“Dalam kata lain … ”

Mereka mungkin akan mencoba melakukan hal yang sama denganmu: cosplay. Itu adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk menghindari deteksi aparat maupun petugas keamanan.

SPONSOR
just-juice

Subject 09 mengusap-usap tengkuknya seraya menghela napas panjang. “Berarti aku punya PR untuk mendeteksi mereka sebelum mereka bisa menyentuh Bondan.”

Jika kau ada waktu saja. Ini misi sampingan, sekadar misi ‘sedekah’. Kalau kau tidak mau menjalankannya dan akhirnya Bondan diculik, kau tidak rugi apa-apa. Prioritas pertamamu tetap Verani dan Patih.

Subject 09 mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan mencoba mencari waktu. Terima kasih atas infonya, Seventeen.”

Yep, stay safe.

Komunikasi pun terputus. Subject 09 mengakhiri percakapan dengan saudarinya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Ia pun mengisap batang tembakaunya yang masih cukup panjang, kembali menghayati malam yang sunyi dengan kepulan asap.

Tak lama kemudian, Verani muncul beberapa meter di samping Subject 09. Dengan mata yang masih sayu, ia pun duduk di samping Subject 09. Entah apa yang memicunya untuk terbangun dari tidur, tetapi ia tak terlihat ragu-ragu menghampiri mantan tetangganya.

“Hai, Ve. Kenapa terbangun?” tanya Subject 09.

“Tidak tahu juga ya. Kepanasan mungkin, jadi ingin ngadem di luar.”

“Iya sih, ini di Jawa Tengah, bukan di daerah pegunungan.”

“Hehehe, kebiasaan tinggal di daerah pegunungan, jadi lupa rasanya tinggal di daerah dataran rendah.”

Pria yang biasa dipanggil Adam itu pun tersenyum simpul, lantas menyodorkan box rokoknya kepada Verani. “Mau rokok?”

“Ahaha, kamu pengertian sekali sih. Sudah lama aku tidak merokok,” ujar Verani seraya mengambil sebatang rokok dari kotak yang disodorkan kepadanya. “Mudah-mudahan saja Patih tidak mencium bau asapnya. Dia kan hidungnya sensitif sekali dengan rokok.”

“Jauh kok jarak kita dari mobil. Aku kan sudah merokok sedari tadi, tapi dia tidak bangun kan?”

“Oh iya, ya. Hehehe.”

Subject 09 dan Verani pun terdiam, keduanya memandangi bintang-bintang seraya menikmati batang tembakau yang berkobar. Keduanya tak bertukar kata hingga beberapa saat ke depan.

“Adam … ” menit demi menit terlampaui, Verani akhirnya membuka percakapan dengan mantan tetangganya. “Aku tadi melihatmu menelepon. Kau menelepon siapa?”

“Oh, itu Seventeen. Dia yang menghubungiku.”

“Felicia, maksudmu?”

“Iya, Felicia.”

“Ada masalah apa sampai dia menghubungimu malam-malam seperti ini? Pasti penting sekali ya?”

“Ah, tidak juga. Dia hanya membeberkan informasi tentang masalah di Popcon.”

“Wah, masalah apa? Kenapa memberitahu ke kamu?”

“Ya karena dia berpikir aku bisa ikut menyelesaikan masalah yang terjadi di Popcon nanti.”

“Penasaran! Ceritakan apa yang terjadi!”

“Hmm, dari mana ya ceritanya?” Subject 09 tercenung sejenak. “Kau tahu Menteri Tuti kan?”

“Oh, Menteri Kelautan dan Perikanan yang suka meledak-ledakkan kapal itu, bukan?”

“Iya, benar, beliau orangnya. Jadi … anak sulung Bu Tuti mau datang ke Popcon Asia. Kabar buruknya, ada sejumlah orang yang mau melakukan penculikan terhadap anaknya.”

“Waduh, jadi ada rencana penculikan terhadap anaknya Bu Tuti. Serem banget sih. Terus, kamu diminta untuk melakukan penyelamatan, begitu?”

“Tidak prioritas. Kalau ada waktu saja. Lagipula, aku ke Popcon bukan untuk menghajar orang. Aku tak mau merusak kebahagiaanmu demi menjalankan tugas yang bahkan tak masuk prioritas.”

Sesaat itu, Subject 09 dan Verani pun terdiam. Keduanya menatapi langit malam seraya mengisap batang rokok begitu dalam. Setelah mengembuskan polusi kecilnya, Subject 09 menyeruput kopinya lagi.

“Bagaimana pandanganmu terhadap Bu Tuti? Apakah dia termasuk pejabat yang tak kau sukai?” tanya Verani.

“Tidak. Bu Tuti adalah salah satu pengecualian. Dia adalah orang baik, tidak segrup dengan para konspirator negara.”

“Jika demikian, maka lakukanlah apa yang harus kau lakukan, Adam. Selamatkan anaknya Bu Tuti.”

subject09-kongkow

“Entahlah. Itu bukan masalahku. Aku tak harus melakukan apa yang diminta Felicia. Itu semua masalah Paspampres yang mengawal anak Bu Tuti–”

“Tetapi kau sudah tahu itu akan terjadi dan punya kemampuan untuk menangkalnya dengan segala kelebihanmu. Kenapa tidak?”

“Karena aku tak merasa bertanggung jawab atas keamanan anaknya Bu Tuti. Aku hanya bertanggung jawab atas keamananmu dan Patih.”

“Jangan berprasangka begitulah, berpikir yang bagus-bagus saja. Kami nggak akan kenapa-kenapa kok, apalagi kau ada di dekat kami, keselamatan kami lebih terjamin. Lagipula, menurutku, kalau kau menyelamatkan anaknya Bu Tuti … siapa tahu Bu Tuti bisa menjadi sekutumu suatu saat nanti. Kurasa ini adalah saat yang tepat untuk mencari teman yang punya pengaruh.”

Subject 09 pun terdiam. Ia tertunduk memikirkan kata-kata sang mantan tetangga. Sesekali ia menggaruk-garuk kepalanya seraya tetap menjepit rokok di antara kedua jarinya. Bingung. “Ya, sudahlah, kita lihat nanti saja.”

“Aku tidak memaksa sih, aku hanya berpikir bahwa ini adalah peluang yang sangat bagus. Siapa tahu ia bisa membantu melepaskan status ‘buronan’-mu suatu saat nanti, hehe.”

“Oke, oke. Kita lihat saja, Verani. Tujuanku ke Popcon tetap tidak berubah, aku ingin mengajak kalian melepas penat dan melupakan kejadian traumatis beberapa waktu lalu. Itu adalah tujuan yang sebenarnya.”

Verani tersenyum lebar. Ia lantas mengembuskan napas berasapnya. “Aku masih percaya kau adalah orang baik, Adam. Pendirianku tak pernah berubah. Jika kau berhasil menyelamatkan anaknya Bu Tuti, apalagi sambil cosplay menjadi superhero, itu akan sangat keren dan semakin membuatku percaya bahwa kau adalah orang baik yang terjebak di dalam kehidupan kelam.”

” … ”

“Kurasa kita berdua memang mirip ya.”

Subject 09 menatapi lawan bicaranya selama beberapa saat. Menunggu jawaban. “Maksudnya, Ve?”

“Tersesat,” jawab Verani spontan. Ia pun tertunduk. “Kita berdua orang yang ingin berbuat baik, namun terhalang oleh dinding realitas.”

Subject 09 tak bergegas menanggapi ucapan Verani. Ia sekadar tersenyum kecut, lalu menghabiskan batang tembakaunya dalam sekali isapan. Rokok pun ia buang ke dalam gelas plastik tempat ia meminum kopi. “Aku tak tahu bahwa kau bisa merangkai kata-kata yang membingungkan seperti itu … ”

Verani tergelak. Ia pun memukul pundak Adam. “Nggak kompak ah! Tersentuh atau gimana gitu kek! Aku kan begini juga gara-gara kamu, kalo ceramah bahasanya tinggi banget.”

Senyum simpul menghiasi wajah Adam. Keberadaan Verani di sisinya sanggup untuk mengusir sepi. Ia bersyukur masih bisa menikmati malam bersama dengan ‘keluarga’ kecilnya setelah apa yang ia lalui beberapa waktu lalu. Dan ia ingin mengganti kekacauan yang sempat terjadi dengan kebahagiaan lewat acara Popcon Asia di ibukota.

Tetapi, bagaimana dengan rencana penculikan terhadap putra sulung Menteri Tuti? Apakah Adam tergerak untuk mendengarkan saran mantan tetangganya?

***

Jakarta Convention Center
09.11

Sehari setelah Adam dan rombongannya tiba di Jakarta, acara Popcon Asia pun resmi dibuka. Sebagaimana janji Adam sebelumnya, ia mau mengajak Verani dan Patih mengecap bahagia yang sempat tergerus oleh peristiwa di kantor NetCaptain. Acara yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) tersebut benar-benar tampak meriah dan menyenangkan. Bahkan, dimulai dari gerbang masuknya pun sudah memancar kebahagiaan yang tak terkira.

Patih langsung meluncur ke dalam lobi konvensi dan merasa heboh begitu melihat sejumlah orang melakukan permainan kostum. Ia menghampiri para pemain kostum itu tanpa memedulikan ibunya yang tertinggal di belakang. Verani sendiri tak ingin menahan putra semata wayangnya, ia membiarkan Patih mengais kebahagiaan yang tersebar di seluruh sudut konvensi.

Sesekali Patih mengajak ibunya untuk berfoto bersama para pemain kostum. Verani hanya bisa tertawa kecil dan menuruti kemauan putranya. Ia pun mengeluarkan ponsel cerdasnya untuk mengabadikan momen-momen langka Patih berbahagia. Tak masalah baginya, sebab ia jadi ikut berbahagia.

Namun demikian, pada saat-saat tertentu, keadaan justru berbalik. Beberapa pemuda metroseksual sesekali terlihat mendatangi Verani dan mengajak berkenalan. Verani sempat dianggap artis Asia Timur yang didatangkan oleh Popcon oleh sejumlah pemuda. Hal tersebut membuat Verani menjadi salah tingkah. Ia gelagapan, jadi mencari-cari alasan untuk menghindar.

Salah seorang pemuda yang sempat mendatangi Verani bahkan meminta nomor telepon Verani tanpa keraguan, ia berkata bahwa Verani bisa menjadi model yang sukses di hari kemudian. Verani kebingungan. Pemuda yang mendatanginya tak tampak seperti orang jahat, hanya ingin bekerjasama. Apakah ia perlu membagikan nomor teleponnya? Ia meragu.

Di tengah badai keraguan yang menerpa Verani, seorang pria bertopeng Kamen Rider tiba-tiba datang menghampiri Verani dengan langkah nan tegas. Tanpa berpikir dua kali, pria bertopeng itu langsung merangkul tangan Verani. Sambil berjalan menjauh, ia berkata kepada pemuda yang meminta nomor telepon Verani, “Istri saya bukan model, kami ke sini hanya untuk bersenang-senang.” Tegas.

Ujaran itu langsung membuat nyawa si pemuda metroseksual ciut. Ia tak berpikir bahwa Verani sudah memiliki suami. Intonasi si pria bertopeng sampai membuat bulu romanya bergidik. Ia tahu bahwa ‘suami’ Verani itu tak senang dengan keberadaannya. Dengan sekali gertakan, ia pun mundur dan menyerah.

“A-Adam … !” Verani tahu bahwa pria di balik topeng Kamen Rider adalah Adam. Wajahnya merona. “K-kau tak serius mau memanggilku sebagai istrimu kan? S-s-seriusan, jantungku rasanya mau copot begitu mendengarnya!”

Subject 09 terdiam. Ia tetap menarik tubuh Verani menjauhi beberapa pasang mata yang menyorot genit. “Aku melakukannya agar kau tak diganggu oleh orang-orang genit itu.”

Wajah Verani tambah merona. Ia tak menyangka Adam akan begitu perhatian terhadapnya. “A-Adam … aku speechless.”

“Jangan bicara kalau begitu. Ikuti saja permainanku.”

Verani pun terdiam, tak bisa berbicara sama sekali. Tulang-belulangnya gemetar, syok oleh panggilan mendadak yang disematkan oleh Adam. Malu.

Tak lama kemudian, Verani kembali bertemu dengan putranya yang sempat menghilang ditelan lautan manusia. Untuk mengalihkan pikirannya dari ekspekstasi-ekspektasi yang berlebihan, ia pun bergegas menghampiri Patih dan mencari topik obrolan baru. Mereka pun saling bertukar kata dan canda, heboh, bahkan melupakan keberadaan Adam yang berdiri beberapa kaki dari tempat mereka berbincang.

Namun demikian, kehebohan Verani dan Patih hanya berlangsung selama beberapa saat. Patih tiba-tiba memfokuskan pandangannya ke arah Adam. Kedua matanya membelalak, jiwa dan raganya terenyak. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menatapi Adam selama beberapa saat, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tahu bahwa sosok di balik topeng Kamen Rider di hadapannya adalah paman angkatnya. Ia tahu karena Adam tidak menggunakan kostum Kamen Rider secara utuh, hanya wajahnya saja yang tersekat oleh topeng.

Sejurus kemudian, Patih pun tertawa. Ia geli melihat penampilan Adam. Verani tak beda jauh, ia juga ikut tertawa sesaat setelah tersadar bahwa penampilan Adam terlihat sangat konyol. Ia tak memerhatikan lebih jelas sebelumnya.

Mendengar dan melihat kedua kerabat terdekatnya tergelak, Adam pun terdiam. Ia jadi malu. Namun, mau bagaimana lagi? Ia harus mengenakan topeng atau jati dirinya akan ketahuan. Tak ingin ambil pusing dengan sikap kedua kerabatnya, ia pun mengajak Verani dan Patih masuk ke lokasi acara yang sebenarnya. Ia anggap penampilannya hari itu adalah sebuah hiburan bagi siapa pun yang melihatnya.

Yang perlu ia khawatirkan saat ini adalah keberadaan musuh. Meskipun tak masuk prioritas, namun informasi rencana penculikan terhadap putra sulung Menteri Tuti tetap membuatnya waspada. Di tempat ramai seperti itu, sangat mungkin terjadi kekacauan dan timbul korban-korban yang tak perlu.

***

Aula utama Jakarta Convention Center
10.01

Memasuki aula utama acara Popcon Asia, suasana pun tampak semakin meriah. Ada banyak hiburan yang bisa dinikmati di seluruh sudut ruangan. Sebagai anak SMP yang menggemari dunia kreatif, Patih tentu saja heboh. Ia langsung mengajak rombongannya untuk melihat semua lapak pameran yang ada di dalam ruangan. Subject 09 dan Verani hanya bisa mengikuti langkah bocah tersebut tanpa banyak tanda tanya.

Iklan di internet tidak berdusta. Popcon Asia memang menghadirkan banyak inovasi baru yang sangat menyenangkan. Mereka bahkan berani menghadirkan artis-artis ngetop dari dalam maupun luar negeri demi mencuri hati para pengunjung yang hendak mengusir sepi. Komikus-komikus kawakan dari Negeri Sakura juga didatangkan untuk meramaikan acara, salah satunya bahkan sedang melakukan talkshow di panggung utama.

“Hei, Patih … ” ujar Adam seraya menepuk pundak bocah pendek di hadapannya. “Kamu kenal tidak siapa yang sedang diwawancarai di panggung utama?”

Patih menoleh; sesaat menatapi Subject 09, sesaat menatapi orang Jepang yang ada di atas panggung. “Aku tak tahu. Siapa dia, Paman?”

“Itu komikusnya Great Teacher Onizuka. Pernah baca, tidak?”

“HAH!? SERIUSAN!?” Patih heboh. Terenyak. “Aku belum pernah baca sampai habis, tetapi aku tahu karena temanku punya komiknya! Siapa namanya, Paman?”

“Bambang Hidayat.”

“Waaah, namanya kok seperti orang Indonesia!?”

“Kamu kok gampang banget dibohongi sih?” Verani berkomentar pedas. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bikin Ibu malu saja … ”

“I-idihhh! Aku dibohongi sama Paman Adam!”

“Kamu nyedot banyak ASI dari Ibu waktu masih bayi, apa manfaatnya kalau kamu masih gampang dibohongi?”

“Lupa diangetin kali ASI-nya sama Ibu … ”

“HEH!” Verani langsung memiting kepala Patih di bawah ketiaknya. Patih hanya bisa tertawa-tawa menerima perlakuan ibunya. “ELO PIKIR SAYUR ASEM PAKE DIANGETIN SEGALA.”

Subject 09 tergelak melihat ‘pertengkaran’ pasangan ibu dan anak di hadapannya. Ia lantas kembali mengajak Verani dan Patih berkeliling melihat-lihat hiburan di sekitar aula. Masih banyak karya yang belum tersorot oleh mata. Masih banyak kemeriahan yang belum terekam dalam memori.

Rombongan Subject 09 pun akhirnya melipir dari tempat mereka berpijak. Mereka kembali mengeksplorasi aula yang penuh dengan warna-warni.

Akan tetapi, aktivitas Subject 09 lagi-lagi harus terganggu oleh sebuah dering telepon. Selagi Verani dan Patih sibuk melihat-lihat lapak berjualan di sekitar aula Popcon, Subject 09 mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Ia menatapi layar ponselnya selama beberapa saat. Tepat seperti dugaannya, saudarinya menelepon. Tanpa keraguan, ia langsung mengangkat telepon tersebut.

“Seventeen … ” ujar Subject 09.

Nine, kau sudah berada di acara Popcon Asia?

“Yep … ” jawab Subject 09 seraya memerhatikan gerak langkah kedua mantan tetangganya. “Ada keperluan apa meneleponku? Pasti penting.”

Ya. Aku baru saja mendapatkan data terbaru mengenai para penculik Bondan.

“Oh ya? Semoga itu bisa memudahkan pekerjaanku.”

Tentu saja,” ujar Subject 17 yakin. “Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang melakukan pembelian kostum Bomberman di sebuah toko online. Jumlahnya cukup banyak, ada puluhan kostum. Setelah kulacak, ternyata identitas pembelinya masih berafiliasi kepada sang pimpinan penculikan. Jadi, kurasa–

“Mereka akan beraksi menggunakan kostum Bomberman.”

Tepat sekali. Aku tidak tahu ada berapa banyak orang yang mengenakan kostum Bomberman di Popcon, jadi kau perlu berhati-hati. Kalau kau salah tangkap, urusannya bisa runyam. Jadi kau hanya boleh menangkap Bomberman-Bomberman yang mencurigakan.

“Aku tahu itu … karena aku sudah menemukan satu orang yang mencurigakan,” ujar Subject 09 seraya mengunci tatapannya terhadap sosok Bomberman yang mondar-mandir tak jelas di sekitar aula. “Aku akan menghubungimu lagi kalau ada apa-apa.”

Subject 09 bergegas menutup jalur komunikasinya dengan Felicia dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Ia lantas berjalan menghampiri Verani dan Patih yang berdiri tak jauh dari sana, sekadar untuk meminta izin pergi ke toilet.

Permintaan izin diterima. Verani sama sekali tak merasa curiga dengan permintaan Adam, apalagi Patih. Mereka terlalu asyik dengan berbagai macam ‘jajanan mata’ yang dijajakan di setiap lapak.

Subject 09 mengukuhkan niatnya. Ia memutuskan untuk memberikan pertolongan bayangan terhadap putra sulung Menteri Tuti, meskipun ia sendiri belum mendapati keberadaan calon korban. Felicia juga sudah bersusah payah mendapatkan data intelijen tentang rencana penculikan, Adam tak ingin menyia-nyiakan upaya saudarinya. Ia pun berjalan cepat meninggalkan Verani dan Patih, lalu membuntuti seseorang dengan kostum Bomberman yang sedari tadi telah ia amati dari kejauhan.

Akan tetapi, ada sesuatu yang membuatnya curiga. Ia segera mengurungkan niatnya untuk beraksi. Langkahnya tertahan, melambat seiring dengan menjauhnya target.

Tepat beberapa meter di belakang sosok Bomberman, Subject 09 mendapati seseorang sedang melakukan pengintaian secara diam-diam. Ada orang lain yang membuntuti si Bomberman, tetapi siapa? Tim surveilans intelijen? TNI? Polri? Subject 09 tak mengenal sang pengintai. Yang ia tahu adalah pengintai tersebut mengenakan topi bulu khas Rusia, baju pelaut, dan rok pendek sepaha.

Siapa?

Subject 09 tak ingin mengambil risiko. Ia tak ingin jati dirinya terungkap begitu cepat dan membuat para penjahat berbuat nekat. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah membuntuti sang pengintai sekaligus si Bomberman dari kejauhan. Takkan ada ruginya. Ia malah mendapatkan dua target sekaligus. Kewaspadaan ditingkatkan, Subject 09 pun bergerak menembus kerumunan demi menyamarkan keberadaan.

Jalan perlahan. Kuntit. Buntuti target …

Pengintaian hampir berakhir. Semua pihak yang terlibat dalam proses pengintaian kini berada di lantai paling bawah gedung Jakarta Convention Center. Sepi. Tak ada yang menanti. Lokasi seperti itu akan sangat ideal dijadikan area perkelahian. Subject 09 pun semakin menjauhkan jaraknya dari kedua target, khawatir gerak-geriknya akan ketahuan. Ia hanya ingin melihat apa yang terjadi untuk saat ini.

Tak lama kemudian, kedua target Subject 09 tiba di sebuah toilet yang sepi pengunjung. Dua orang dengan kostum aneh itu masuk ke dalam toilet ditemani oleh dua orang berbadan kekar dan berpakaian sipil. Sehingga, totalnya ada empat orang yang masuk ke dalam toilet. Di luar toilet ada dua orang lagi, mereka berdiri saja di depan pintu, seakan-akan bertugas menjadi penjaga pintu.

Subject 09 merasakan keganjilan pada adegan tersebut. Ia langsung menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik dinding. Apakah pria berkostum pelaut itu merupakan komplotan penculik? Apakah ia hendak melakukan suatu transaksi secara rahasia di dalam toilet? Ada banyak pertanyaan menggulung-gulung di dalam benak Subject 09. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan mengonfirmasinya secara langsung.

Lagi, Subject 09 mengintip dari balik dinding, mencoba mengamati celah yang bisa ia gunakan untuk merangsek masuk ke dalam toilet. Akan tetapi, ia malah mendapati keanehan yang lain. Dua penjaga pintu sontak mencabut pistol dari balik jaket dan mengambil posisi siaga. Keduanya saling tatap, seakan-akan sedang menunggu sinyal untuk bergerak.

Apa yang sesungguhnya terjadi!? Subject 09 penasaran setengah mati.

***

Toilet lantai dasar

“Jenderal Pavlichenko … begitu kan panggilan konyol Anda?” tanya sosok berkostum Bomberman sambil membelakangi pria gagah berkostum aneh yang sedari tadi menbuntutinya.

Tak ada jawaban apa pun dari pria yang dijuluki Jenderal Pavlichenko tersebut. Ia malah menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa dua pria gahar di belakangnya tak sedang merencanakan kejahatan. Posisinya siaga, kedua tangan dan kakinya melebar, seakan sudah siap melakukan konfrontasi fisik.

“Saya tahu siapa Anda, Pavli … ” ujar Bomberman seraya membalikkan badannya. “Mantan penembak runduk kebanggaan Kopaska, seorang penggemar kultur Rusia, dan seorang … pria dengan selera berpakaian yang aneh. Itulah Anda.”

“Saya juga tahu siapa Anda … ” ujar Pavli santai. “Seorang pemain kostum banyak bacot. Itulah Anda.”

Bomberman tertawa sinis. Ia lantas berjalan mondar-mandir di hadapan Pavli untuk menunjukkan dominasinya. “Kau takkan bisa menghentikan rencana kami, Pavli. Kami juga mantan Angkatan Laut sepertimu, beberapa bahkan pernah berdinas di intelijen AL. Tak ada kegagalan dalam kamus kami. Mati? Mungkin. Tetapi gagal? Tidak mungkin.”

“Aku. Tidak. Peduli. Intelku berkata bahwa kalian mau mengacau, jadi aku akan menghajar kalian. Persetan dengan berhasil atau tidaknya misi kalian, pokoknya siapa pun dari kalian yang tertangkap, akan menjadi daging penyet di tanganku.”

“Heh, intelmu tidak valid, sobat … ” Bomberman mengusap hidung dengan telunjuknya. “HANTAM!”

Seruan Bomberman langsung membuat dua pria di belakang Pavli bereaksi. Mereka sontak mencabut sangkur dan menebaskannya ke arah Pavli. Beruntung, reflek Pavli yang luar biasa membuat serangan kedua pria luput. Pavli bertolak dan menarik kepalanya ke belakang, pisau pun melesat tanpa makna beberapa sentimeter di depan wajahnya.

Pavli meluncurkan serangan pertamanya: ia menendang salah seorang pria yang menyerangnya. Tendangannya masuk tanpa sempat diantisipasi. Penyerang pertama pun terpental dari tempatnya berpijak dan menabrak dinding. Lengah.

Pertukarangan serangan berlanjut. Melihat temannya terpental, penyerang kedua pun menebas-nebaskan sangkurnya lebih agresif. Akan tetapi, seluruh serangannya mampu dihindari oleh Pavli tanpa kesulitan. Ia tak menyangka pria berbadan besar seperti Pavli sanggup bergerak lincah.

Sebelum keadaan menjadi runyam, Pavli bertindak. Ia mengayunkan sikutnya ke kepala si penyerang kedua. Serangannya masuk, langsung membuat sang penyerang terhuyung. Ia lantas menggenggam pergelangan dan leher sang penyerang secara bersamaan. Tubuh sang penyerang diangkat dengan sekali cekikan dan ditumbukkan ke dinding.

BRAAAK!

Bersamaan dengan terbenturnya tubuh sang penyerang, pisau pun terlepas dari genggaman sang penyerang, berkelotak di atas ubin. Pavli mengeraskan cekikannya dan membenturkan tubuh sang penyerang sekali lagi hingga keramik dinding retak. Sang penyerang pun kehilangan kesadarannya secara berangsur-angur. Tumbukan tersebut membuat kepalanya terguncang cukup keras.

Mendapati dua temannya tumbang, Bomberman pun geram. Ia langsung menyerang di saat Pavli lengah. Tanpa keragu-raguan, ia merangsek maju dan mengayunkan beberapa tendangan cepat ke arah Pavli. Seluruh serangannya masuk, tak mampu diantisipasi oleh Pavli.

Beberapa kali Pavli mencoba memblokir serangan, namun perhitungannya tak tepat. Tendangan Bomberman malah masuk ke titik-titik vital. Pavli bertahan, namun ia terus-menerus tersudut, tak menemukan celah untuk melawan balik. Hingga pada akhirnya, sebuah tendangan belakang melesat tepat ke arah leher. Pavli tak menyangka, terlambat bereaksi.

BUK! Tendangan Bomberman masuk, langsung menghantam leher Pavli dengan keras. Tubuh Pavli pun terpelanting, mengawang-awang sejenak, lalu tersungkur di atas ubin. Beruntung, Pavli sempat mengeraskan lehernya sesaat sebelum tendangan mendarat di batang lehernya. Ia juga sedikit melompat untuk mengurangi gaya impulsif tendangan lawannya. Ia selamat, namun tak berarti apa-apa jika ia kalah.

Bomberman berniat menyelesaikan serangannya. Ia mengambil sebilah pisau yang tergeletak di atas ubin, lalu berlari menghampiri Pavli yang masih melutut lengah. Ia mendekat, merajut bahaya. Pisau telah ia hunuskan di samping kepalanya, bersiap untuk mengoyak lawannya.

Namun …

BRAAAK!

Pintu kamar mandi tiba-tiba jebol. Serpihan kayu beterbangan ke dalam toilet. Seorang pria bertubuh kekar tampak melayang bersamaan dengan hancurnya pintu menjadi kepingan. Tak lama setelahnya, sang pria tersungkur, terseret beberapa meter di atas ubin. Pria tersebut kehilangan kesadarannya, hanya sanggup terbujur luruh tanpa daya.

Bomberman terenyak. Langkahnya terhenti seketika waktu. Ia tahu bahwa pria yang baru saja terpental adalah salah satu temannya yang berjaga di luar toilet. Kedua matanya sampai terbelalak. Ada ancaman. Ia pun mengalihkan fokusnya ke arah akses masuk toilet.

Akan tetapi, Bomberman tak sempat mengantisipasi ancaman yang datang kepadanya. Seorang pria dengan topeng Kamen Rider tiba-tiba saja muncul tepat di depan matanya. Sangat dekat.

Panik, Bomberman pun menebaskan pisaunya ke arah Kamen Rider. Sayang, serangannya digagalkan. Laju tangannya diblokir dan lengannya dipelintir. Sejurus kemudian, pergelangan tangannya dientak dan perutnya dihantam dengan sebuah tendangan lutut. Pisau yang berada dalam genggaman Bomberman pun terlepas, berkelotak di atas ubin, sementara pemiliknya terseret mundur beberapa langkah ke belakang.

Bomberman sesaat itu tersadar bahwa sosok di balik topeng Kamen Rider adalah seorang penempur profesional. Masih sambil menahan rasa sakit yang merajang torsonya, ia pun bergegas melepaskan serangan untuk menyeimbangkan keadaan. Ia mengayunkan dua hingga tiga tendangan menyamping. Sialnya, semua serangannya mampu diantisipasi. Kamen Rider memblokir seluruh tendangan Bomberman tanpa kesulitan.

Keadaan pun kembali didominasi oleh Kamen Rider. Ia mengentakkan kakinya pada kemaluan Bomberman dan melepaskan pukulan cepat ke wajah Bomberman. Pria dengan kostum karakter pengebom itu pun terhuyung, hampir kehilangan kesadarannya. Di saat itulah Kamen Rider merangsek masuk ke dalam zona serang dan memikul seluruh tubuh Bomberman di atas kedua pundaknya. Tubuh Bomberman pun terangkat tanpa daya, lalu dilempar ke arah meja wastafel.

PRAAAK!

Bomberman melayang tanpa sanggup melakukan perlawanan, lalu menghantam cermin wastafel hingga retak. Tubuhnya lantas tersungkur di atas meja wastafel dan berguling luruh ke atas ubin. Bomberman pun kehilangan kesadarannya secara berangsur-angsur. Pingsan.

Pertarungan sengit di dalam toilet itu pun berakhir secara tak terduga, khususnya bagi Pavli yang masih melutut tak percaya. Ia merasa tak pernah memanggil bantuan apa-apa sebelumnya. Apakah Kamen Rider berjaket di hadapannya merupakan seorang musuh? Pavli tak yakin. Namun, setelah melihat atraksi sang pahlawan bertopeng, Pavli tahu ia akan kerepotan jika harus bersikap agresif dan melakukan konfrontasi. Ia pun memilih untuk bersikap tenang.

“Aku tak butuh pertolonganmu … ” ujar Pavli dingin.

Kamen Rider menoleh sejenak, lalu menatapi lagi tiga kriminal bersenjata yang telah terbujur lemah. “Siapa yang bicara soal pertolongan? Aku ke sini untuk menyelamatkan informasi dari orang-orang ini.”

“Informasi?” Pavli membangkitkan tubuhnya perlahan. Ia merenungkan kata-kata lawan bicaranya. “Apakah ini soal penculikan?”

Sekali lagi Kamen Rider menoleh ke belakang. Ia tampak tertarik dengan pertanyaan Pavli. Tak lama setelahnya, ia pun membalikkan badan. “Kau sepertinya tahu banyak soal ini. Sebaiknya kau mulai bicara, pria aneh.”

“Heh … ” Pavli tertawa sinis. “Lihat dirimu sendiri: kau memakai topeng Kamen Rider, tetapi tetap mengenakan pakaian normal yang lusuh. Aneh sekali. Siapa dirimu? Intelijen? TNI? Polri?”

“Tak penting siapa diriku. Tak penting pula dengan penampilanku. Yang lebih penting adalah pakaianku tidak aneh seperti dirimu: kau berbadan kekar, namun mirip seperti anggota Sailor Moon.”

“Ini bukan kostum Sailor Moon. Ini adalah kostum Jenderal Pavlichenko.”

Kamen Rider terdiam. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. “Menyedihkan. Jenderal, katamu? Jenderal macam apa yang tampak menyedihkan sepertimu?” ujarnya seraya berjongkok dan kembali melucuti targetnya.

Pavli berjalan mendekati Kamen Rider. “Aku tak ingin berdebat denganmu, Ksatria Biji Hitam. Ya, BIJI. Tetapi kurasa kita bisa bekerjasama mengingat kita punya tujuan yang sama di sini.”

“Kita tak tahu pasti soal ‘tujuan yang sama’ itu … ”

“Kau mengincar informasi dari orang-orang ini; aku pun demikian. Kau ingin mencegah penculikan terhadap putra Menteri Tuti; aku pun demikian. Jadi, mengapa kita harus berseberangan?”

Kamen Rider kembali bangkit dari tempatnya dan menghadapi Pavli tanpa keraguan. “Aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang putra Menteri Tuti, tetapi terkaanmu membuatku tertarik denganmu. Untuk orang yang berpakaian aneh sepertimu, kau punya intel yang solid. Sepertinya aku sedang berhadapan dengan entitas pemerintah ya?”

“Mantan.”

“Heh … ” kali ini Kamen Rider yang tertawa sinis. “Mantan atau pun bukan, aku tak bersedia bekerjasama denganmu. Di dalam pekerjaanku, ada istilah trust no one. Kurasa kau juga tahu soal itu. Aku tak percaya padamu, jadi untuk apa aku bekerjasama denganmu?”

“Aku juga tidak … ” tukas Pavli. “Tetapi apakah kita harus baku hantam hanya untuk mengincar informasi yang sama dari orang yang sama? Itu bodoh sekali, Biji.”

Kamen Rider terdiam, ia mendekati Pavli. Begitu dekat. Ia pun menghela napas panjang sebelum kembali berucap. “Panggil aku biji sekali lagi, maka aku akan pecahkan bijimu–”

“Kita berdua tahu bahwa tak hanya bijiku yang akan pecah di sini.”

Mendengar intimidasi yang serupa dari Pavli, Kamen Rider pun mundur satu langkah seraya tertawa kecil. Ia mengagumi keberanian Pavli. “Aku akui keberanianmu, jenderal gadungan. Kau lawan bicara yang menarik, tetapi sepertinya kurang menarik untuk dijadikan ‘teman’ baku hantam. Jadi … aku tak ingin buang-buang tenaga untuk berkelahi denganmu. Kupersilakan kau untuk melakukan tugasmu, tetapi HANYA untuk satu alasan: common interest.”

Pavli menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Tersenyum kecut. “Kepentingan yang sama. Baiklah.”

“Kalau bogem besarmu itu bisa membuat para kroco ini ‘bernyanyi’, aku akan sangat berterima kasih, sebab itu akan menghemat tenagaku.”

“Oh, tentu saja … ” Pavli menggertakkan kedua tinjunya secara bergantian, lalu berjalan mendekati Bomberman yang masih pingsan. “Kau pikir untuk apa aku kemari?”

***

Aula utama Jakarta Convention Center
10.45

“Paman Adam ke mana ya? Kok lama sekali dia pergi ke toilet.” Patih akhirnya menyadari bahwa Subject 09 telah pergi begitu lama. Ia mulai resah.

“Tak tahu juga ya. Apa mungkin dia berak?” ujar Verani memberikan hipotesis.

“Iiih, Ibu! Nggak keren banget sih? Masa laki-laki super seperti Paman Adam berak?”

“YA DIA KAN MANUSIA JUGA. Masa Paman Adam nggak boleh berak, kamu tuh gimana sih?” tanya Verani seraya menahan tawa.

“I-iya sih … tapi istilahnya nggak keren banget sih. Yang lain kek sebutannya.”

“Ya terus apa, dong? Ekskresi?”

“Hah?” Patih menatapi ibunya dengan kebingungan. “Apaan tuh?”

“Haduuuh, payah sekali kamu. Sini Ibu bisikin … ” Verani lantas menarik telinga putra semata wayangnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Patih. “BE-OL.”

“Iiih, Ibuuu!” Patih langsung mendorong tubuh ibunya menjauh seraya tertawa geli.

Verani pun tertawa melihat respon anaknya yang salah tingkah. Ia sendiri tak mengerti mengapa Patih menganggap Adam seperti sosok yang sempurna. Tak pelak, ia pun menggoda Patih.

Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya bertahan selama beberapa saat. Rangkaian senyum dan tawa harus segera tergantikan oleh kengerian.

Verani melihat kemunculan rombongan orang-orang berpenampilan mengerikan sedang berjalan ke arahnya. Mereka memang tak tampak seperti orang jahat, tetapi penampilan mereka sanggup membuat bulu roma Verani bergidik. Lebih tepatnya, mereka tampak seperti sekelompok aparat berpakaian sipil; tegap dan sigap.

Di tengah-tengah rombongan, terdapat seorang pemuda yang menjadi pusat perhatian banyak orang. Seketika itu Verani sadar bahwa pemuda itulah yang dibicarakan oleh Adam beberapa malam lalu. Anak menteri. Bondan, putra sulung Menteri Tuti.

Merasa terintimidasi oleh penampilan para pengawal yang berbadan kekar, Verani segera membuka jalan; ia dan anaknya langsung menyingkir. Padahal, rombongan itu tak secara khusus bermaksud untuk menghampiri Verani, namun auranya seakan-akan memberitahu Verani untuk minggir. Bondan dan para pengawalnya pun berlalu, melewati kedua remah roti yang tak berarti. Sesaat itu, Verani dan Patih merasa sangat kecil dan tak berdaya, persis seperti perasaan ketika mereka diboyong ke kantor NetCaptain.

Rombongan akhirnya berlalu dan menghilang di persimpangan. Verani bisa bernapas lega sekarang. Sebelumnya, ia bahkan tak berani mengembuskan napas. Syok.

“I-Ibu … orang-orang itu siapa sih? Seram sekali kelihatannya,” tanya Patih.

“Itu anak menteri, Sayang. Orang-orang yang ada di sekitarnya itu adalah pengawal profesional.”

“P-Paspampres, ya?”

“Ibu tak tahu apa namanya, tetapi ya … seharusnya masih segrup dengan Paspampres.”

“Seram sekali ya, Bu? Apakah kita tidak sebaiknya menghubungi Paman Adam?”

“Mereka bukan orang-orang jahat sih, sebenarnya … ” Verani merogoh-rogoh tasnya, lantas mengeluarkan ponsel yang diberikan Adam kepadanya. “Tetapi kita memang harus menghubungi Adam dan memberitahu bahwa anak menteri itu benar-benar datang kemari.”

“I-iya, Bu. Kasih tahu saja. Tubuhku gemetaran hanya dengan melihat orang-orang tadi,” ujar Patih gelagapan. “Aku tak mau dibawa ke kantor intelijen kayak waktu itu lagi. Bagus sih, ada game favoritku di sana, tapi setelah itu ada tembak-tembakan, aku jadi takut.”

“Iya, Sayang. Ibu tahu. Mari kita hubungi Paman Adam … ” tutup Verani seraya menempelkan ponsel pada telinganya.

***

Gudang lantai dasar

Sebuah pukulan keras mendarat di wajah seorang pria yang terduduk luruh menanti keberaniannya memudar. Pria itu diikat di sebuah ruangan yang redup dan penuh dengan perabotan, seperti di sebuah gudang. Rupanya, pria tersebut merupakan komplotan penjahat yang merencanakan kejahatan terhadap anak menteri di acara Popcon Asia. Ia dibekuk oleh Jenderal Pavlichenko dan seorang pria bertopeng Kamen Rider.

Interogasi belum membuahkan hasil. Meskipun Pavli sudah beberapa kali melayangkan pukulan, namun sosok Bomberman yang ditangkapnya masih segan angkat suara. Pavli tak kehabisan akal. Ia pun menurunkan kaus kakinya yang panjang hingga tampak bulu-bulu halus pada betisnya.

“Hei … apa yang akan kau lakukan?” tanya Kamen Rider terheran.

“Kau tahu … ?” Pavli bertanya balik. “Kadang kita perlu mencari metode interogasi yang unik untuk membuat orang mau berbicara.”

“Aku tahu itu, tetapi apa–”

Kamen Rider sontak terdiam sesaat setelah ia melihat Pavli menempelkan kaki pada wajah Bomberman. Ia sama sekali tak berkomentar, apalagi bertanya, seakan sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sejurus kemudian, Pavli menggesek-gesekkan kakinya pada wajah Bomberman hingga kriminal berkostum tersebut beberapa kali mengerang kesakitan. Terang saja, bulu-bulu halus pada kaki Pavli memang terasa begitu tajam. Wajah Bomberman terasa seperti digosok-gosok oleh sikat toilet. “Ini adalah kekuatan bulu yang baru saja dicukur, kau tahu itu!?” seru Pavli.

Kamen Rider masih terdiam. Ia segan berucap. Sedari tadi ia hanya berdiri menatapi Pavli mengerahkan tenaga untuk menginterogasi. Hanya saja, kali ini ia berusaha untuk mengalihkan pandangan ke arah yang berbeda. Mungkin jijik. Atau merasa konyol dengan metode interogasi baru di hadapannya.

“Aku akan bicara! Aku akan bicaraaa!” Bomberman buka suara, akhirnya. Ia sudah tak tahan dengan proses interogasi yang sedemikian brutal. Wajahnya sampai penuh dengan lebam dan darah.

Pavli segera menurunkan kakinya dan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Ia menaikkan kaus kakinya kembali seraya menatapi sang penjahat. Sementara itu, Kamen Rider yang semula enggan menatapi musuhnya langsung menengadahkan wajahnya. Ia menatapi Bomberman, lalu maju beberapa langkah untuk mendengarkan penuturan sang kriminal.

“Pertama … sumber daya listrik … akan dirusak, sehingga kami bisa beraksi di dalam gelap,” ujar Bomberman tertatih.

“Sumber daya listrik?” tanya Pavli. “Ada empat sumber yang menyediakan daya untuk gedung ini. Kalau kau berniat mematikan kelistrikan secara total di sini, berarti kau harus melakukannya secara berkesinambungan.”

“C4 atau EMP [1] bisa melakukan itu … ” timpal Kamen Rider.

NB: [1] Electromagnetic Pulse. Teknologi yang digunakan untuk mengganggu arus kelistrikan dengan gelombang elektromangnetik yang kuat.

“Benar … ” ujar Bomberman lagi. “Kami membawa bom EMP untuk melumpuhkan empat sumber daya utama selama beberapa puluh menit. EMP lebih ideal daripada C4 karena tak ada suara ledakan.”

“Brengsek!” Pavli bertolak dari tempatnya. “Kita harus menemukan bom EMP itu sekarang–”

Baru saja akan pergi, langkah Pavli tiba-tiba terhenti begitu mendengar suara jeritan massal dari lantai atas. Ia juga mendapati kegelapan tiba-tiba menyeruak di hadapannya. Sesaat itu ia sadar bahwa dirinya terlambat untuk bertindak.

“Brengseeek … ” Pavli menahan amarahnya. Ia pun kembali menghampiri Bomberman dan menghajar kriminal berkostum tersebut dengan beberapa pukulan. “BAJINGAN KAU! APA LAGI YANG KALIAN SEMBUNYIKAN, HAH!?”

“Hei, Pavli!” Kamen Rider berusaha untuk menenangkan rekan barunya. Ia menggenggam pundak Pavli begitu keras. “Kalau dia mati sebelum memuntahkan segalanya, kita tidak akan tahu potensi bahaya yang tersembunyi. Manfaatkan waktu untuk menggali informasi! Kita sudah terlambat satu langkah, jangan terlambat untuk langkah yang lain!”

Pavli pun berhenti memukuli musuhnya. Ia mengatur napasnya. Bersabar.

“Hei, Bomberman bulukan, lanjutkan ceritamu. Apa lagi setelah ini?” tanya Kamen Rider santai.

“Akan ada kekacauan di aula utama. Tim penculik yang menggunakan kostum Bomberman semuanya menggunakan kacamata khusus untuk bisa melihat di dalam gelap. Begitu lampu mati dan aula menjadi gelap, mereka akan mengacaukan formasi pengawalan Bondan dengan cara mengerumuni para pengawal seperti gerombolan orang panik. Di saat itulah para pengawal akan lengah dan … ” Bomberman menarik napas. “Bondan akan ditukar dengan salah satu orang dari kami. Pengawal takkan sadar jika Bondan telah ditukar, karena aula akan menjadi sangat gelap.”

“Dan Bondan yang asli?”

“Bondan yang asli akan kita bius, lalu kita bawa kabur dirinya lewat pintu belakang.”

“Bajingan … ” bisik Pavli. Ia tercengang. “Kita harus menyelamatkan Bondan sekarang! Jangan sampai ada Bomberman yang keluar dari aula utama!”

Pavli pun bertolak. Kali ini ia benar-benar berlari meninggalkan tempatnya. Meski demikian, Kamen Rider tetap berdiri di tempatnya. Ia tak ingin terburu-buru menyerap informasi. Masih ada banyak keuntungan yang bisa ia raih dari kriminal di hadapannya.

“Rencananya sesimpel itu, Bomberman?” tanya Kamen Rider lagi.

Bomberman terdiam. Ia hanya menanggapi pertanyaan Kamen Rider dengan napas yang terengah-engah.

Kamen Rider memutuskan untuk beraksi dan membuat lawan bicaranya memuntahkan informasi. Ia menghampiri Bomberman dan mencekik lehernya. Tubuh Bomberman pun terangkat, penjahat berkostum itu sampai kesulitan untuk bernapas. “Bicara atau aku akan meremukkan lehermu dengan sekali entakan dan kau akan mati dengan rasa sakit yang menjadi-jadi,” ancam Kamen Rider.

“Aaa … tidak cuma itu … tidak cuma itu … ” ujar Bomberman tersengal-sengal. “Setelah Bondan … targetnya adalah negara.”

Kamen Rider terdiam sejenak. Ia lantas melepaskan cekikannya dari leher Bomberman, membiarkan penjahat berkostum itu tersungkur dengan tubuh yang masih terikat. “Negara? Apa maksudnya?”

“Kalau kau dari intelijen, kau semestinya tahu bahwa tim asli kami hanya sekian orang–”

“Tim asli? Maksudmu tim perompak yang dibentuk oleh mantan anggota Angkatan Laut itu?”

“Iya … timnya Sertu Yahya … tim asli kami yang turun pada operasi ini hanya lima belas orang. Tetapi total yang ikut beraksi hari ini ada delapan belas orang.”

“Jadi? Tiga orang sisanya?”

“Orang bayaran. Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk anggota parlemen, namun bisa disewa sebagai freelancer untuk keperluan tertentu.”

“Kenapa mereka? Kenapa orang-orang bayaran itu?”

“Karena mereka terkoneksi pada anggota parlemen. Mereka akan kami singkirkan setelah kami berhasil menculik Bondan. Bayangkan apa yang terjadi jika identitas mereka dan nama-nama bos mereka tersebar ke publik lewat corong media … ”

“Akan terjadi skandal,” sambung Kamen Rider.

“Ti-tidak hanya skandal. Akan muncul spekulasi-spekulasi liar dari masyarakat. Akan terjadi benturan. Tujuan akhir Sertu Yahya … adalah … untuk menciptakan chaos.”

“Balas dendam karena dipecat dari Dinas Angkatan Laut secara tidak terhormat?”

Bomberman tak lekas menjawab. Ia mengambil napas. “Dia benci negara ini … ”

Kamen Rider terdiam sejenak, merenungkan kata-kata musuh yang telah bertekuk tak berdaya di hadapannya. “Pertanyaan berikutnya: kenapa orang-orang sewaan itu mau disewa oleh bosmu?”

“Karena bos mereka adalah orang yang anti terhadap Menteri Tuti,” jawab Bomberman spontan. “Ketika kabar tentang rencana penculikan terhadap Bondan sampai ke telinga anggota parlemen anti-Menteri Tuti, mereka berbondong-bondong mau memberikan bantuan, beberapa di antaranya lantas menyewakan pengawal untuk ikut operasi ini.”

“Tiga orang freelancer itu … ”

“Ya.”

“Politik terkutuk … ” cerca Kamen Rider. “Rencana setelahnya apa? Kalau pun kalian berhasil menyingkirkan tiga freelancer untuk dijadikan kambing hitam, polisi takkan mau mengambil risiko untuk menyebarkan identitas mereka dan identitas bos mereka ke awak media. Mereka takkan melakukannya. Tidak akan, karena berpotensi mengacaukan stabilitas negara.”

“Kami … kami sudah memperhitungkannya … ” jawab Bomberman. “Salah satu anggota kami ada yang standby di pusat kota untuk mengumpulkan jurnalis-jurnalis dari media besar. Dia mantan anggota intel, bisa memanfaatkan jabatan lamanya untuk meyakinkan media bahwa intelnya solid. Tugasnya adalah … ketika Bondan telah berhasil diculik dan tiga freelancer sudah berhasil dibunuh, dia akan langsung memberikan kabar kepada awak media bahwa penculikan terhadap Bondan diorkestrakan oleh anggota parlemen.”

Tak ada respon berarti dari Kamen Rider. Ia sekadar berdiri mematung di tempatnya berpijak. Hening. Tak ada suara, tak ada kata.

Perlahan-lahan, napas Kamen Rider menjadi berat. Ia lantas berjalan mendekati sang Bomberman dan kembali mencekik kriminal berkostum tersebut dengan sepenuh hati. Mengintimidasi. “Di mana temanmu? Di mana teman intelmu itu?”

“Aaa … aku tak tahu di mana. Dia merahasiakan lokasinya … untuk menjaga rencana dari hal-hal semacam ini. Kau … bisa membunuhku, mencincangku, tetapi aku takkan tahu … sumpah aku tidak tahu … ”

“JANGAN BOHONG!” seru Kamen Rider lantang. Ia lantas menanduk hidung Bomberman dengan keningnya.

“Sumpaaah … sumpaaah … aku tak tahu–”

“AH, SETAN!” Kamen Rider telah sampai pada puncak kemarahannya. Ia bahkan tak ingin mendengarkan penuturan musuhnya lebih jauh. Muak.

Sejurus kemudian, ia pun melayangkan tinjunya pada wajah Bomberman. Pukulan keras itu sontak membuat Bomberman tak sadarkan diri dan tersungkur luruh di atas ubin. Tugasnya sudah selesai. Informasi telah didapatkan walau masih ada fragmentasi yang hilang. Ia harus menemukan pecahan informasi itu, bagaimana pun caranya.

***

Aula utama
Beberapa menit sebelumnya …

Verani gelisah. Ia tak bisa menghubungi Adam. Di saat-saat genting seperti itu ponselnya malah kehilangan kemampuan untuk menghubungi sang pujaan hati. Sambil berjalan mengikuti rombongan Bondan dari kejauhan, ia tetap mencoba menelepon Adam. Sayang, upayanya tak membuahkan hasil yang baik.

“Ibu! Kenapa lama sekali sih!? Paman Adam tidak bisa dihubungi?” tanya Patih. Ia juga waswas.

“Iya nih. Duh! Kenapa sih!? Tidak ada suara ‘tuuut tuuut’ juga lho!” Verani mulai merasa tak nyaman. Ia pun melihat layar ponselnya lebih jelas, lantas mengerutkan kening. “Errr … ”

“Kenapa, Bu? Udah tahu kenapa Paman Adam tidak bisa dihubungi?”

“Pantas saja tidak bisa … ” ujar Verani lirih. “DI SINI TIDAK ADA SINYAL SAMA SEKALI!”

“Ihhh! Terus kita harus bagaimana, Bu!? Lagipula, kenapa sih kita malah ngikutin rombongan orang-orang seram itu dari kejauhan!?”

“I-itu … karena … ”

Belum sempat Verani menelurkan penjelasan, tiba-tiba saja seluruh sumber penerangan di dalam aula mati. Tak hanya di dalam aula, seluruh sumber penerangan di luar pun mati. Telah terjadi pemadaman listrik secara mendadak. Gedung megah itu sontak menjadi ruang kengerian. Kegelapan merajalela, menggetarkan hati setiap insan yang tengah bersenang-senang di dalam aula. Semua orang panik dan menjerit kaget.

Tiada sedikit pun cahaya menyeruak ke dalam ruangan, terang saja hal itu membuat sejumlah orang panik. Scotophobia, ketakutan berlebih akan kegelapan. Keriuhan itu justru dimanfaatkan oleh sejumlah pihak, yakni kriminal yang menyamar sebagai karakter Bomberman. Tak seperti orang lain, mereka menggunakan kacamata khusus untuk melihat di tengah kegelapan. Target mereka? Tentu saja Bondan, anak sulung Menteri Tuti yang kini sedang kebingungan bersama pengawalnya.

Melihat sang target berdiam di tempat yang sangat lengang, para Bomberman pun beraksi. Mereka tiba-tiba mengerubungi formasi pengawalan anak menteri dengan kasar. Bentrokan pun menjadi tak terhindarkan. Para pengawal yang panik tentu saja menjadi reaktif, apalagi mereka tak bisa melihat lingkungan sekitar dengan jelas. Terlalu gelap.

Baku hantam pun berlangsung meriah. Benturan demi benturan, teriakan demi teriakan, menghiasi kekacauan siang itu. Kerusuhan kecil antara para pengawal menteri dan para Bomberman membuat semua orang yang berada di sekitarnya bergerak semakin acak, seperti cecunguk panik. Tak ayal, para pengawal menjadi semakin kerepotan ketika ditabrak oleh orang-orang yang kehilangan navigasi dari segala arah.

Akan tetapi, justru itulah tujuan para Bomberman. Mereka memang ingin menciptakan kekacauan yang sulit untuk ditanggulangi oleh para pengawal.

Di tengah keriuhan tersebut, dua kru Bomberman masuk ke dalam lingkaran pengawalan secara diam-diam dan langsung membius Bondan dari belakang. Mereka menyekap hidung dan mulut Bondan menggunakan bahan kimia khusus yang dapat membuat penghirupnya langsung pingsan hanya dalam hitungan menit. Bondan pun kehilangan kesadaran dan segera diangkat ke sudut ruangan untuk didandani seperti cosplayer yang pingsan.

Para pengawal sama sekali tak sadar bahwa formasi penjagaan mereka telah buyar. Di saat itulah ‘pemain kunci’ masuk ke tengah-tengah formasi. Ia tak mengenakan kostum Bomberman, namun ia merupakan bagian dari para kriminal bertopeng tersebut. Dandanannya dibuat semirip mungkin dengan Bondan, bahkan ketika ia berteriak, “Pak, wes lah! Kabur aja, cepat!” suara dan logat Jawanya sangat mirip dengan Bondan.

Para pengawal pun terkecoh. Mendengar perintah yang begitu jelas dari ‘sang klien’, mereka langsung menarik diri dari perseteruan dan berusaha untuk menemukan jalan keluar dari aula utama. Formasi dirapatkan. Belasan pengawal yang sempat terpisah, kini kembali bersatu. Mereka lantas menjauh dan para Bomberman tidak mengejar.

Sementara itu …

Verani dan Patih hanya bisa meringkuk ketakutan di tempat mereka berpijak. Mereka terjebak di antara keriuhan dan tak punya navigasi untuk keluar dari kondisi terkutuk tersebut. Adam memang mengajarkan mereka untuk merunduk dan memojok apabila terjadi insiden yang tak mengenakkan di sekitar mereka. Itu akan menyelamatkan mereka mengingat bahwa mereka merupakan warga sipil.

Akan tetapi, ketakutan itu hanya bertahan selama beberapa saat. Tak lama kemudian, muncul beberapa orang satpam menyorotkan lampu senter ke arah Verani dan Patih. “Ibu tak apa-apa!?” para satpam bertanya-tanya, memastikan bahwa Verani dan Patih tak terluka.

Pasangan ibu dan anak itu tak terluka, memang. Keduanya justru merasa lega sesaat setelah mendapati pertolongan dari para petugas keamanan.

Akan tetapi, ada orang lain yang tergeletak beberapa kaki di samping Verani dan Patih meringkuk. Seseorang. Berkostum Bomberman. Terbujur kaku.

Sesaat itu para satpam dan dua orang yang baru saja mereka tolong tersadar bahwa sosok Bomberman yang tergeletak bukanlah korban luka-luka, tetapi korban jiwa. Tewas. Bomberman itu dibunuh, tetapi oleh siapa? Apakah pasukan pengawal yang membunuhnya? Tak ada yang tahu.

***

Pasukan pengawalan Menteri Tuti berbondong-bondong keluar dari aula utama untuk melarikan Bondan ke tempat yang aman. Mereka harus mengacungkan pistol beberapa kali ke arah atas agar para pengunjung membuka jalur pelarian.

Para pengunjung yang 95% merupakan warga sipil tentu saja bergidik ketakutan ketika melihat segerombolan orang berbadan kekar dan berpakaian batik mengacung-acungkan senjata api. Mereka langsung tersadar bahwa orang-orang berpenampilan gahar tersebut adalah pasukan pengamanan pejabat negara. Tentu saja mereka menyingkir. Bondan dan para pengawalnya pun selamat, hanya tinggal keluar dari gedung dan masuk ke dalam mobil.

Akan tetapi, masalah lain menanti Bondan dan para penjaganya. Jenderal Pavlichenko tiba-tiba datang dari kejauhan dan memanggil-manggil para pengawal dengan suara yang lantang. Seruan Pavli tak digubris, karena para pengawal tidak mengenalinya dan mereka punya prioritas untuk menyelamatkan Bondan.

Kesal, Pavli pun melesat cepat menghampiri gerombolan pengawal. Ia tak peduli pada keselamatannya. Yang ia inginkan hanyalah memperingatkan para pengawal akan adanya ancaman yang mengintai Bondan.

Pavli mendekat. Ia lantas menggenggam pundak salah satu pengawal Bondan. Genggamannya cukup keras, sehingga membuat sang pengawal reaktif. Pengawal yang berdiri di barisan paling belakang itu pun bertolak dan melepaskan sikutannya ke kepala Pavli. Sayangnya, serangan sang pengawal luput. Pavli berhasil menarik kepalanya sebelum sikut sang pengawal mendarat di rahangnya.

Serangan balik. Seraya agak merunduk, Pavli menumbuk tubuh sang pengawal dengan pundaknya. Sejurus kemudian, ia mengangkat tubuh sang pengawal di atas pundaknya dan melemparnya ke belakang. Sang pengawal tak punya pilihan lain selain mengikuti gaya bantingan Pavli, ia pun tersungkur di atas ubin hingga menimbulkan suara berdebum yang cukup keras.

“AKU HANYA INGIN MEMPERINGATKAN–”

Pavli masih bersikukuh untuk memperingatkan para pengawal akan bahaya yang mengintai Bondan, namun tetap tak dipedulikan.

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, salah seorang pengawal bergegas mengacungkan pistol ke kepalanya. Namun, insting Pavli untuk bertahan hidup sangat tajam. Ia langsung menghampiri sang pengawal dan melakukan teknik pelucutan senjata api. Slider, magasin, hingga peluru dalam tabung pistol sontak tercerabut dari tempatnya masing-masing. Pistol yang semua menakutkan kini berubah memalukan.

Melihat keahlian khusus tersebut, para pengawal Bondan yang lain bergegas membidikkan pistol ke arah Pavli. Mereka juga meneriakkan perintah agar Pavli mengangkat kedua belah tangannya. Situasi sontak memanas. Orang-orang yang berada di sekitar sana pun bergegas menyingkir, takut jadi korban salah sasaran. Beberapa di antaranya menjerit-jerit ketakutan. Tak ada pilihan lain sekarang. Pavli hanya bisa mengangkat tangannya dan menyerah. Ia juga tak ingin ada pertumpahan darah di acara seperti itu.

“Saya hanya ingin bicara!” seru Pavli seraya membuang bagian pistol yang masih ada dalam genggamannya. “Aku unit nomor lima. Saudara kalian juga. Biru-biru. Tangan kaki berselaput.”

Para pengawal pun saling tatap. Kening mereka menggulung-gulung. Bagaimana caranya Pavli bisa mengetahui nomor sandi unit? Hanya pasukan dari unit terkait yang bisa menyebutkan nomor unik tersebut. Akhirnya, pimpinan pengawalan pun menurunkan bidikan untuk menjaga kondusivitas. Para pengawal memberikan kesempatan bagi Pavli untuk berbicara.

“Bicara. Kamu mau apa? Saya dari unit nomor lima juga,” kata sang pimpinan pengawalan.

“Lihat baik-baik siapa yang kalian kawal. Masa kalian tidak mengenali wajah klien kalian sendiri!?” tanya Pavli.

Pertanyaan itu langsung membuat jantung para pengawal tertohok. Apa yang terjadi? Jangan-jangan mereka salah membawa orang? Peringatan dari Pavli juga membuat sang pimpinan pengawalan curiga. Mengapa Bondan tak mau menengadahkan wajahnya? Apa yang Bondan sembunyikan?

Para pengawal pun memberanikan diri untuk menarik kepala pria yang mereka kawal. Begitu wajah sang pria tersingkap, barulah para pengawal tersadar bahwa mereka telah dikelabui musuh. Pria itu bukan Bondan.

“Kau siapa!? Di mana Bondan!? Bagaimana kau bisa ada di tengah formasi!?” para pengawal marah, mereka langsung menggenggam kerah baju sang peniru dengan agresif.

Kesal, para pengawal pun melayangkan beberapa pukulan ke wajah Bondan palsu. Hanya dalam waktu singkat, sang peniru pun babak belur. Akan tetapi, peniru tersebut tak sedikit pun merasa terintimidasi, ia malah tertawa-tawa, seakan puas telah mengelabui pasukan pengamanan negara.

Pavli langsung mengintervensi jalannya pengeroyokan. Ia meneriaki para pengawal anak menteri untuk tenang. “Kalian bisa tenang sedikit atau tidak!? Kalau kalian memukulinya sampai mati, kalian takkan mendapatkan informasi! Cerdas sedikit, dong!” serunya.

Sesaat itu, para pengawal pun berhenti melayangkan pukulan. Mereka menatapi Pavli selama beberapa saat, kemudian kembali menatapi sang peniru seraya mendesis penuh kebencian. Kriminal peniru itu pun dilepaskan, dibiarkan tersungkur di atas ubin selagi banyak warga sipil menonton di sekitar lobi.

“Kau punya ide yang lebih baik, Saudara?” tanya sang pimpinan pengawalan kepada Pavli.

“Interogasi. Tapi bukan begini caranya, bukan dengan pengeroyokan. Kau dari unit nomor lima, pasti pernah belajar teknik interogasi yang efektif,” jawab Pavli.

“Heheheh … ” tiba-tiba saja sang peniru tertawa sinis. “Kalian semua bodoh. Kalian sudah terlambat. Selagi kalian ribut di sini, Bondan sudah berubah menjadi daging cincang–”

Tak sempat sang peniru menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba wajahnya ditendang oleh salah seorang pengawal. Peniru itu pun melenguh kesakitan, namun menyelingi rasa sakitnya dengan tawa.

Tak lama kemudian, muncul kejadian aneh lainnya. Seorang wanita dan putra semata wayangnya keluar dari aula utama dengan langkah yang tergesa-gesa. Mereka dikawal oleh dua orang satpam, namun tampak syok. Si wanita bahkan terlihat seperti orang yang sedang berusaha keras menahan tangis, sementara putranya terlihat gelisah. Beberapa orang yang ada di sekitar lobi jadi bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya terjadi?

Pavli mendapati dua orang itu keluar dari aula, sehingga ia pun penasaran. Tanpa keragu-raguan, ia langsung menghampiri pasangan ibu dan anak tersebut seraya agak berlari. Beberapa pengawal mengikuti langkah Pavli dengan kecepatan yang lebih lambat.

“Hei, hei … sebentar … ” Pavli mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat pada kedua satpam agar menghentikan langkah.

Dua satpam yang mengiringi langkah pasangan ibu dan anak itu pun berhenti. Pavli mendekat.

“Saya adalah aparat negara, tak perlu takut, sama seperti orang-orang Paspampres di belakang saya ini … ” ujar Pavli seraya menunjuk ke arah belakang. “Apa yang sesungguhnya terjadi? Kenapa ibu dan bocah ini terlihat syok?”

“Ada orang mati di dalam, Mas … ” ujar salah satu satpam seraya agak berbisik.

“HAH!?” Pengakuan si petugas keamanan sontak membuat Pavli dan anggota pengawalan menteri di belakangnya terperanjat. “Siapa!?”

“Tidak tahu. Ada tiga orang. Lehernya patah semua. Mereka sudah dievakuasi lewat pintu belakang. Beruntung sedang gelap, jadi kami berusaha memanfaatkan kegelapan ini agar kepanikan tidak semakin menjadi-jadi.”

“Ijinkan kami melihat tiga orang itu,” kata para pengawal menyela pembicaraan. “Kami mau mengidentifikasi mereka.”

“Ke sana, Mas. Mari saya antarkan. Ada polisi juga kok … ” sang satpam mengajak para pengawal untuk bergerak ke arah yang berlawanan. Mereka pun pergi dan menghilang sekelebat waktu.

Kini tinggal Pavli, pasangan ibu dan anak yang syok, dan sejumlah pengawal anak menteri yang masih kebingungan. Pavli ingin menggali informasi lebih dalam. Ia merasa tak puas, masih banyak misteri yang harus ia kuak.

“Ibu dan kamu, anak kecil, siapa nama kalian?” tanya Pavli.

“Ve-Verani … ” ujar wanita itu gelagapan. “Putra saya ini Patih, namanya.”

“Hmm, Ibu yakin ada yang mati di dalam?” tanya Pavli berbisik.

“I-iya, saya tahu bedanya orang mati dan orang pingsan … ”

Pavli memijit-mijit batang hidungnya seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Apakah semua orang yang ada di dalam aula tahu bahwa ada orang mati?”

“Ti-tidak. Saya rasa tidak. Satpam berusaha meyakinkan orang-orang di dalam bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi saya yakin yang saya lihat tadi adalah orang mati.”

“Baiklah, baiklah … Ibu dan putra Ibu sebaiknya istirahat terlebih dahulu di kafe sebelah. Saya akan antarkan Ibu. Kalian tampak syok, soalnya. Perlu minum yang manis-manis … ” ujar Pavli.

“I-itu sebenarnya belum seberapa dibandingkan pengalaman saya sebelumnya. Saya mulai terbiasa … ”

“Terbiasa, bagaimana?”

“Eh, unggg, tidak jadi deh … ”

***

Lantai dasar

“Seventeen, aku perlu bantuanmu,” ujar Subject 09 seraya menempelkan ponsel di telinganya. Ia berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, masih dengan topeng Kamen Rider-nya yang khas.

Hei, ada apa? Kau menemukan sesuatu?” Subject 17 penasaran.

“Ya. Para kriminal ini tak hanya ingin menculik Bondan, tetapi juga ingin memicu kekacauan dengan cara membuat skandal pemerintahan.”

Hah!? Bagaimana cara mereka melakukan itu!?

“Singkatnya, para Bomberman ini menyewa tiga orang freelancer yang masih berafiliasi pada anggota parlemen. Sayangnya, anggota parlemennya bukan anggota parlemen biasa, tetapi orang-orang yang sangat benci pada Menteri Tuti. Kau sudah bisa membayangkan lah siapa-siapa saja orangnya.”

Jangan bilang mereka mau menjadikan tiga freelancer itu sebagai kambing hitam …

“Sayangnya terkaanmu benar.”

Wah, aku tak tahu kalau mereka punya ide selicik itu. Kupikir mereka hanya perompak biasa.

“Kita pikirkan tentang perompak nanti. Yang kita perlukan sekarang adalah mencegah agar skandal ini tidak tersebar ke publik. Kalau sampai tersebar, bisa terjadi kekacauan, minimal di lapisan pengguna internet.”

Hmm … ” Subject 17 tercenung. “Bukankah itu bagus dan akan mengalihkan fokus pemerintah untuk menyelesaikan skandalnya sendiri? Mereka akan lupa pada status buronanmu, Nine.

Subject 09 terdiam. Ia berpikir sejenak. “Personal branding, kurasa. Benar kata Verani. Kalau aku bisa menyelamatkan Bondan dan menyelamatkan negara dari kekacauan, itu akan memberikan citra yang baik di mata Menteri Tuti kan?”

Heh,” Subject 17 tertawa sinis. “Mau bersekutu dengannya ya?

“Verani yang mengusulkan. Mungkin Menteri Tuti memang bisa berguna untuk pergerakan kita suatu hari nanti.”

Pacar yang menarik.

“Dia bukan pacar–”

Baiklah, baiklah. Terserah kau saja. Jadi, apa yang bisa kulakukan, Nine?

Subject 09 menghela napasnya. “Aku baru saja menginterogasi salah satu Bomberman. Katanya ada anggota mereka yang bertugas mengumpulkan jurnalis di suatu tempat. Tujuannya adalah untuk menyebarkan berita bahwa Bondan telah diculik oleh komplotan pejabat anti-Menteri Tuti. Permasalahannya adalah … ” Subject 09 menghela napasnya. “Tidak ada satu pun yang tahu di mana lokasi pertemuannya.”

Jadi?

“Retas semua ponsel jurnalis, acak-acak kotak pesan singkat mereka, cari polanya. Kalau si penjahat mengundang semua jurnalis besar ke satu tempat, semestinya ada satu keyword yang sama muncul dalam jumlah besar. Kita ambil keyword itu sebagai referensi, karena itu pasti alamat tempat mereka bertemu.”

Baiklah. Kurasa itu cukup mudah. Tunggu sebentar.

Subject 09 menanti jawaban saudarinya seraya berjalan menuju gerbang keluar. Tak disangka-sangka, ia malah bertemu dengan Pavli di sekitar lobi gedung. Ia pikir Pavli sudah menghilang entah ke mana.

“Hei! Kamen Rider berjaket!” seru Pavli seraya menghampiri lawan bicaranya.

“Oh, Pavli … ” Subject 09 menurunkan ponselnya seraya menatap ke arah Pavli. Ia juga menatapi dua sosok yang duduk di kafe; ia mengenali keduanya. Verani dan Patih.

“Apa yang kau lakukan dengan pasangan ibu dan anak di sana, heh?” lanjut Subject 09 bertanya, nadanya agak mengintimidasi.

“Oh, mereka … katanya baru saja melihat orang mati di dalam aula,” ujar Pavli berbisik.

“Oh, keparat! Para Bomberman itu sudah mulai berpesta, ya? Kenapa pula harus Verani dan Patih yang melihat korban jiwa!?” tukas Subject 09 seraya berjalan mendekati tempat Verani dan Patih terduduk.

“Kau kenal mereka?”

Pertanyaan Pavli sontak membuat langkah Subject 09 terhenti. Ia tersadar bahwa menghampiri Verani dan Patih bukanlah ide yang baik. Bagaimana jika seandainya Verani dan Patih memanggil namanya dengan lantang? Pavli akan berbalik merepotkannya. Nama Adam Sulaiman telah menjadi bahan perbincangan aparat, ia tak mau mengambil risiko. Ia pun terdiam mematung di tempatnya sejenak, kemudian berbalik arah.

“Tidak. Aku tak kenal mereka,” ujar Subject 09 spontan. “Ada yang lebih penting. Orang-orang ini tak hanya ingin menculik Bondan, tapi juga ingin mengacaukan stabilitas negara.”

“Astaga, benarkah?” Pavli termakan oleh pengalihan isu yang dilakukan oleh Subject 09. “Apa yang akan mereka lakukan? Bagaimana dengan Bondan? Kita harus menyelamatkan Bondan!”

“Bondan akan kita dapatkan setelah kita berhasil mendapatkan pemain yang akan menjadi kunci kekacauan beberapa jam mendatang,” Subject 09 menempelkan ponsel pada telinganya lagi. “Seventeen? Kau masih di sana?”

Nine? Kupikir kau sudah mematikan telepon,” ujar Subject 17. “Aku mendapatkan lokasinya. Restoran Italiano, Jakarta Selatan.”

“Diterima. Aku akan menghubungimu lagi. Terima kasih.”

“Jadi, kita ke mana?” Pavli penasaran. “Bondan harus kita selamatkan, Baja Hitam!”

“Perhatikan prioritasmu, Pavli … ” tukas Subject 09 seraya bergegas meninggalkan tempatnya. “Bondan bisa kita dapatkan nanti. Kuncinya ada di buruan kita yang satu ini.”

***

Restoran Italiano, Jakarta
11.32

“Jadi demikianlah, teman-teman wartawan. Saya mendapatkan kabar tidak mengenakkan ini dari jaringan di kementrian. Kita harus menguak kejahatan ini demi Indonesia yang lebih baik! Oleh karenanya, tulisan Anda semua akan sangat membantu untuk menyingkirkan tikus-tikus keparat dari kursi parlemen!”

Seorang pria yang disinyalir sebagai pejabat intelijen itu membuat para jurnalis yang duduk di hadapannya antusias menuliskan beberapa baris laporan yang siap mengguncangkan dunia perpolitikan Indonesia. Dengan gaya dan penampilannya, ia mampu meyakinkan para jurnalis bahwa ia benar-benar berasal dari lingkungan Pusat Intelijen Negara. Tak ada satu pun jurnalis yang curiga terhadapnya, mereka semua mendengarkan dengan seksama setiap penuturan yang terlontar dari mulut sang pejabat intelijen.

Akan tetapi, tidak semua orang termakan oleh kebohongan sang pejabat intelijen. Dua orang pria berpakaian aneh tiba-tiba datang dan menghampiri sang pejabat intelijen dari belakang. Yang satu mengenakan topeng Kamen Rider, yang satu lagi mengenakan kostum ala pelaut Rusia. Mereka adalah Subject 09 dan Jenderal Pavlichenko, datang jauh-jauh dari acara Popcon Asia untuk mengunjungi sang pejabat intelijen.

Para jurnalis seketika berhenti mencatat laporan, mereka terfokus pada dua orang aneh yang semakin lama semakin dekat dengan tempat sang pejabat intelijen duduk. Sang pejabat intelijen tentu saja menjadi penasaran, ia pun berusaha menoleh ke belakang dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Sayangnya, ia terlambat. Belum sempat ia menoleh secara penuh, tiba-tiba kepalanya didorong ke atas meja dengan kekuatan penuh.

BRAAAK!

Kepala sang pejabat intelijen pun membentur meja dengan sangat keras. Piring, gelas, sendok dan garpu, semuanya terpental hingga menghasilkan suara ribut yang terkira. Beberapa benda juga terjatuh dari atas meja dan berkelotak di atas lantai. Sementara itu, sang pelaku kekerasan, Subject 09, berdiri santai di samping meja seraya menatapi para jurnalis dengan tatapan dingin. Pavli juga bergegas mencabut pistolnya dan mengarahkan moncongnya ke pelipis sang pejabat intelijen.

“Apa yang pria ini katakan kepada kalian?” tanya Subject 09 bengis. Ia bertanya kepada wartawan.

“K-katanya ada penculikan … ” ujar salah seorang jurnalis gelagapan.

“Siapa yang diculik?”

“B-B-Bondan … putra sulungnya Menteri Tuti … ”

Subject 09 terdiam sejenak. “Apa lagi yang ia katakan kepada kalian?”

“K-katanya penculikan itu diorkestrakan oleh beberapa pejabat parlemen yang membenci Menteri Tuti … ”

“Intelnya tidak solid. Tidak ada penculikan. Kalian baru saja berbicara pada anggota intelijen YANG DIPECAT. Kalian semua ditipu,” ujar Subject 09 berdusta seraya menunjuk pria yang kini dalam penyanderaan Pavli. “Orang ini dikeluarkan dari dinas intelijen lima tahun yang lalu karena menyebarkan informasi hoax, sehingga menimbulkan keributan dan demonstrasi di ibukota. Kalian mau memercayainya?”

Para jurnalis menggeleng-geleng ketakutan. Hanya dengan melihat keberadaan dua orang aneh di hadapan mereka saja sudah bergidik setengah mati. Mereka tak ingin nyawa dan karir mereka ikut dipertaruhkan.

“Keluarlah dari restoran ini, kalau begitu. Buang semua catatan kalian … ” perintah Subject 09. Tak ada yang bergerak, sayangnya. “SEKARANG!”

Gertakan pria bertopeng Kamen Rider itu baru digubris setelah suaranya menggelegar hingga ke seluruh sudut ruangan. Para jurnalis pun lari terbirit-birit dari tempat mereka duduk dan berpijak. Beberapa orang bahkan meninggalkan alat perekam mereka begitu saja.

Setelah seluruh jurnalis meninggalkan restoran, Subject 09 pun mengambil kursi dan duduk di hadapan sang pejabat intelijen. Ia lantas mengambil garpu yang bertengger di atas meja dan memegangnya seperti orang yang bersiap melakukan penusukan. “Kita punya waktu sekitar lima menit sebelum polisi datang ke tempat ini. Itu cukup panjang untuk membuatmu memuntahkan informasi–”

“Kau pikir para wartawan itu akan pergi dan tidak akan menulis apa yang telah kukatakan kepada mereka? Aku tidak tahu siapa kalian, tetapi kalian sudah terlambat,” sang pejabat intelijen menyela ucapan Subject 09 seraya memegangi hidung dan mulutnya yang berdarah.

“Oh, aku memang tak berpikir bahwa kedatanganku akan memberikan perubahan … ” Subject 09 memajukan posisi duduknya. “Ceritamu itu menarik. Penculikan terhadap Bondan diorkestrakan oleh orang-orang parlemen. Itu akan viral dan menjadi big hits di internet. Aku yakin ada satu atau dua orang jurnalis yang akan nekat menyulap laporanmu menjadi berita, lalu membiarkan bola salju meluncur dengan sendirinya.”

Sang pejabat intelijen tertawa sinis. “Jadi kau sendiri sudah sadar bahwa kau tak punya peluang untuk menahan kekacauan yang akan datang. Negeri ini memang harus dihukum dengan cara membenturkan emosi para penghuninya! Sumbu pendek poros kiri dan sumbu pendek poros kanan sama saja, kami akan benturkan mereka dengan opini-opini. Pemerintah kacau, rakyat kacau, lengkap sudah.”

“Oh, begitukah?”

Tanpa menanti kesiapan musuhnya, Subject 09 tiba-tiba menghujamkan garpunya pada tangan sang pejabat intelijen, lantas mengambil vas bunga yang berdiri megah di atas meja. PRAAAK! Sejurus kemudian, ia menghantamkan vas bunga yang digenggamnya ke kepala sang pejabat intelijen. Serangannya tak sempat diantisipasi, langsung membuat sang pejabat palsu mengerang sejadi-jadinya menahan rasa sakit.

Jeritan demi jeritan pun menggemparkan seisi ruangan, namun tak membuat Subject 09 dan Pavli merasa iba. Kini justru giliran Pavli untuk bertindak. Ia mengarahkan moncong pistol pada kemaluan sang pejabat intelijen. “Bondan. Katakan di mana dirinya?” tukasnya dingin.

Sang pejabat intelijen terdiam, melenguh menahan sakit. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya luruh. Keangkuhannya runtuh seketika waktu.

“Katakan di mana Bondan dan kita akan lihat apakah rencanamu dan teman-teman Bomberman konyolmu akan berjalan dengan mulus … ” timpal Subject 09.

“Aku … tak tahu … ” ujar sang pejabat intelijen mengejan.

Subject 09 memutuskan untuk mengeksekusi tahapan interogasi lanjutan. Ia mulai memegangi garpu yang masih menancap pada tangan sang pejabat intelijen dan menggerak-gerakkannya dengan lembut. Meski demikian, satu gerakan kecil mampu membuat sang pejabat berteriak-teriak seperti kesetanan. “Kau mungkin tidak tahu di mana Bondan SEKARANG, karena dia mungkin masih di tengah perjalanan, tetapi pasti ada tujuan kan? Ke mana tujuannya?”

“Aaaa! Aaaa! Keparaaat! Hentikan, hentikan!”

“Jawab. Peraturannya simpel.”

Sang pejabat intelijen masih mengerang-erang menahan sakit, tetapi ia sudah bersiap memuntahkan jawaban kepada dua orang yang menginterogasinya. Ia mengentak-entakkan kakinya ke atas ubin sebelum mulai memberikan jawaban, mengalihkan kepiluannya. “Tanjung Priok … Tanjung Priok! Ia akan dibawa ke luar wilayah Indonesia! Lepaskan aku … kumohon … ”

“Kau adalah pembohong,” ujar Pavli. “Bagaimana cara kami tahu bahwa kau tidak berbohong?”

“Aaa! Bangsaaat! Ambil ponsel dalam sakuku! Aaa! Di situ ada catatan … ”

Subject 09 pun bangkit dari tempatnya duduk dan merogoh saku mantel sang pejabat intelijen. Ia mendapatkan sebuah ponsel lipat. Tanpa keraguan, ia segera membuka layar ponsel dan mengecek catatan yang mungkin akan berguna baginya.

Gulir, gulir, gulir. Setelah beberapa saat Subject 09 melakukan pengecekan, akhirnya ia mendapatkan informasi yang berharga. Sebuah ordinat. Ia pun menghapalkan ordinat tersebut dan membuang ponsel sang pejabat intelijen ke atas ubin, lalu menginjaknya sampai hancur berkeping-keping.

Tak lama kemudian, terdengar suara sirine polisi dari kejauhan. Subject 09 dan Pavli sadar bahwa sudah saatnya mereka pergi. Pavli segera mementung kepala sang pejabat intelijen dengan gagang pistolnya hingga tak sadarkan diri, barulah kemudian ia meninggalkan lokasi bersama dengan rekan barunya.

Lokasi telah didapatkan. Rencana penyelamatan terhadap Bondan menjadi selangkah lebih dekat.

***

Kafe Jakarta Convention Center
11.35

Verani dan Patih masih menunggu di kafe tempat mereka menenangkan diri. Gelisah. Tidak, bukan karena mereka mengingat sosok pria yang terbujur kaku tanpa makna di aula utama, namun karena mereka belum bisa menghubungi Adam sejak terakhir Adam meminta izin ke toilet. Verani sudah mencoba menelepon pujaan hatinya berulang kali, namun hasilnya nihil.

“Bu, coba cek pulsamu! Jangan-jangan pulsamu habis!” seru Patih. Ia juga tak bisa tenang, sebab Adam sudah pergi terlalu lama.

“Tidak lah! Ibu juga sudah mengecek kok, masih banyak. Lagipula, kalau kehabisan pulsa, operatornya pasti memberitahuku … ” tukas Verani dengan wajah yang amat kusut. “Entah di mana Adam. Sinyal penuh kok di luar sini, ia memang tidak mengangkat teleponku.”

“Hmm … ” Patih menggaruk-garuk kepalanya. “Apa jangan-jangan Paman Adam ada tugas dadakan, ya? Ia kan suka pergi secara tiba-tiba, Bu.”

“Mungkin,” cetus Verani singkat. “Tetapi, paling tidak, dia seharusnya memberitahu kita. Kalau begini kan aku juga tidak tahu harus bagaimana dan ke mana. Apalagi baru saja ada korban di dalam aula tadi.”

Patih pun terdiam, masih sambil menggoyang-goyangkan kaki dengan gelisah. “Bekerja seperti Paman Adam itu kelihatannya seru, tapi tak mengenal waktu, ya? Aku ingin sekali menjadi anggota intelijen seperti dirinya, tapi kalau memikirkan keadaannya seperti sekarang … rasanya repot deh.”

“Namanya juga pekerjaan menyelamatkan orang. Sama seperti dokter, sama seperti pemadam kebakaran. Pokoknya semua pekerjaan yang berhubungan dengan menyelamatkan orang pasti begitu.”

“Eh, tapi, memangnya Paman Adam menyelamatkan orang lain?”

Verani tercenung sejenak, mencoba mengingat-ingat semua yang telah ia lalui bersama Adam. “Ya iyalah! Waktu kita kemalingan itu apa namanya!? Kan dia yang menyelamatkan kita! Lantas, kita diberi tempat tinggal, diberi makanan, apa itu namanya bukan menyelamatkan orang?”

“I-iya juga sih … ” Patih mengusap-usap tengkuknya. “Tetapi, apakah ia menyelamatkan orang seperti polisi atau tentara?”

Verani membuang tatapannya. Sebenarnya ia tak ingin menjawab pertanyaan anaknya. Ia pun menghela napas panjang seraya bersandar luruh pada kursinya. “Ia benar-benar bekerja menyelamatkan orang, Patih … ” katanya. “Dengan cara yang sedikit berbeda dengan polisi dan tentara, karena ia lebih dari itu.”

Patih takjub. Ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya meski tak begitu memahami arah pembicaraan ibunya. Yang ia tahu, Adam lebih dari sekadar polisi dan tentara, itu sudah cukup baginya.

Belum lama berselang, tiba-tiba terdengar keributan dari aula utama. Verani dan Patih pun penasaran, mereka bergegas bangkit dan berlari ke tepian Kafe untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Rupanya ada seorang cosplayer berkostum Bomberman sedang berlari terbirit-birit menghindari kejaran gerombolan orang berpakaian batik. Tak hanya orang-orang berseragam batik, ia juga dikejar oleh beberapa orang petugas keamanan. Tanpa rasa bersalah ia menabrak beberapa pengunjung yang menghalangi rute pelariannya. Sejumlah petugas keamanan yang mencoba menjegalnya juga dihajar dengan mudah. Sepertinya ia merupakan petarung yang amat andal.

“Tangkap! Tangkap orang itu! Penjahat!” orang-orang yang mengejar sang Bomberman meneriaki semua orang agar ikut membantu melakukan penangkapan. Sayangnya, tak ada yang berani. Tak ada pula yang kuasa.

Melihat kejadian tersebut, insting Patih bergetar. Ia teringat kata-kata bibi angkatnya saat tengah berlatih beladiri, “Memenangkan pertarungan itu tidak selalu dengan otot. Kadang kau perlu menggunakan otakmu untuk keluar dari kondisi yang tak memungkinkan.” Patih memfokuskan seluruh indera dan keberaniannya, ia menatapi sumber keributan seraya menganalisis setiap kejadian dalam gerak lambat.

Bomberman tetap berlari, makin dekat dengan tempat Verani dan Patih memerhatikan keriuhan. Di saat itulah muncul niat dalam diri Patih untuk melakukan kenekatan. Bocah berusia 13 tahun itu tiba-tiba mengangkat kursi aluminium di sampingnya dan melemparnya tepat di depan rute pelarian Bomberman.

“PATIH! APA YANG KAMU–” Verani terperanjat. Ia tak menyangka putranya akan senekat itu. Ia ingin marah, namun sudah terlanjur. Aksi sudah dilakukan, kursi sudah melayang dan berkelotak keras di atas ubin.

Kriminal berkostum yang tengah melarikan diri itu tak sempat menghindar. Ia terenyak ketika tiba-tiba mendapati kursi aluminium melintang di hadapannya. Momentum tak bisa ia hentikan seketika waktu, tubuhnya tetap melesat dalam kecepatan tinggi, dan ia pun menabrak kursi. Tubuhnya terpelanting dalam kondisi yang tak stabil, lantas tersungkur, berguling-guling tak karuan di atas tanah.

Pelarian Bomberman telah mencapai titik akhir. Sebelum ia berusaha untuk bangkit dengan sempurna, seorang satpam tiba-tiba menerjangnya dan menimpa tubuhnya agar tak melarikan diri. Sejumlah orang kemudian ikut membantu pembekukan, termasuk pria-pria berbadan kekar yang berpakaian batik.

Salah satu dari pria berseragam batik itu berjalan ke arah Patih seraya mengacungkan jari telunjuknya, “Kamu, bocah, kalau sudah besar harus jadi Paspampres, ya. Kamu hebat!” ujarnya menyemangati Patih.

Mendengar pujian dari pria yang diduga berprofesi sebagai pengawal pejabat pemerintahan, Patih merasa tersanjung. Matanya berbinar-binar. Baru kali ini ia mendengar ada orang yang menyemangatinya begitu lantang dan jelas untuk menjadi seorang anggota Paspampres. Patih sangat bahagia, tentu saja. Menjadi aparat keamanan adalah cita-citanya sejak kecil.

Namun demikian, sang ibu langsung teringat sesuatu. Verani berpikir bahwa berdiam terlalu lama di tempat itu mungkin bukanlah ide yang baik. Pasalnya, ia takut pria-pria berperawakan tinggi dan besar itu akan mengenalinya sebagai kerabat seorang buronan. Ia tak ingin kejadian di kantor NetCaptain terulang. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung mengajak Patih untuk pergi meninggalkan kafe sebelum ada orang yang mengenali mereka.

Patih tak memprotes keputusan ibunya, ia memenuhi ajakan Verani untuk angkat kaki sebelum semuanya menjadi runyam. Ia mengerti keadaannya.

Di saat yang sama, semua orang yang berada di sekitar lobi bisa melihat si penjahat berkostum Bomberman disakiti berulang kali oleh pihak yang berwenang. Ia juga berteriak-teriak seraya mengejan menahan rasa sakit, “Di Tanjung Priok, Pak! Sumpah! Di Tanjung Priok! Aaaa … ”

Bomberman telah diinterogasi. Tanjung Priok adalah jawaban terbaik yang bisa ia suguhkan kepada aparat keamanan di sana. Para pengawal berbaju batik itu pun segera bangkit dan melakukan komunikasi lewat earphone yang menjuntai di telinga mereka. Semua pencapaian itu berkat seorang anak kecil. Andai Patih tak ada, gerombolan pengawal tersebut mungkin belum mendapatkan jawabannya.

Patih mewarisi keberanian bibi angkatnya, Felicia. Subject 17.

***

Jalan menuju Tanjung Priok
12.21

Mobil van berwarna putih itu menebah jalan pada kecepatan sedang. Di dalamnya, terdapat empat orang berpakaian lusuh tengah menikmati teriknya sinar mentari. Bau badan mereka amat amis, hampir seperti bau ikan. Faktanya, mereka memang kuli dari perusahaan ikan kalengan. Di ruang belakang mobil, mereka bahkan membawa dua hingga tiga dus besar yang berisi puluhan hingga ratusan kaleng sarden.

Perjalanan yang lancar dan tanpa hambatan itu seketika terhenti oleh perimeter aparat di tengah jalan. Entah apa yang terjadi, namun sejumlah personel aparat gabungan dari elemen TNI dan Polri bertengger di sekitar sana dengan kesiagaan penuh. Mereka semua bersenjata lengkap, beberapa di antaranya bahkan menenteng senapan mesin, seperti akan berperang.

Mendapati pemandangan mengerikan tersebut, para kuli ikan pun menghentikan laju kendaraan dan mematuhi perintah para anggota aparat untuk turun dari mobil. Mereka pasrah, tak memiliki daya dan upaya untuk melakukan perlawanan. Tak ada kata, tak ada tanya, mereka sekadar turun dari mobil dan memasrahkan diri untuk diperiksa.

“Periksa semua. Ketiak, selangkangan, semuanya … ” ujar seorang bintara TNI memerintahkan para bawahannya untuk menggeledah perlengkapan yang dibawa oleh para kuli ikan.

Para prajurit TNI yang berada di sana langsung melaksanakan perintah sang bintara tanpa banyak tanda tanya. Mereka memeriksa setiap lekuk tubuh yang bisa digunakan untuk menyembunyikan senjata. Akan tetapi, mereka tak menemukan apa-apa selain bau amis yang amat menyengat.

“Bersih, Ndan … ” ujar salah seorang prajurit TNI.

Sang bintara TNI segera menoleh ke arah bintara Polri yang berdiri tak jauh dari sana. “Mobil sisir juga lah. Barengan aja. Bawa detektor kan?”

“Bawa. Eksekusi saja … ” cetus sang bintara Polri.

Kali ini beberapa personel gabungan dari TNI dan Polri bergerak untuk memeriksa konten mobil. Sambil menenteng detektor bom, mereka bergerak mengerumuni mobil dengan kewaspadaan penuh. Dimulai dari pemeriksaan terhadap pintu-pintu mobil, tak ada jebakan. Bagasi, tak ada ancaman. Kardus sarden, bersih. Ruang kemudi dan penumpang, tak ada gangguan.

Pemeriksaan yang berjalan hampir sepuluh menit itu pun tak menghasilkan apa-apa selain kekecewaan. Dua bintara dari dua kesatuan yang ikut berjaga di sekitar sana merasa tak puas dengan hasil yang mereka dapatkan. Intelijen mereka mengatakan bahwa ada mobil van berwarna putih ke arah Tanjung Priok yang harus ditahan. Dugaan sementara jaringan intelijen TNI dan Polri: van tersebut merupakan mobil pelarian para penculik Bondan di acara Popcon Asia.

Karena tak ingin kehilangan kesempatan, bintara TNI dan bintara Polri di perimeter tersebut sepakat untuk menahan empat kuli terkait sementara waktu. Kali ini barulah muncul keluhan dari para kuli. Mereka merasa dikriminalisasi, padahal mereka hanyalah pedagang ikan.

“Kami ini cuma mau cari nafkah lho, Pak. Kok ditahan-tahan, toh? Piye, toh? Kami iki wong cilik! Kenapa sih harus ditahan begini!?” protes salah seorang kuli ikan.

“Ikut prosedur dulu saja ya, Pak … ” ujar sang bintara Polri seraya mengantarkan para kuli ke tepi jalan.

“Nggak bisa begitu lah, Pak! Kalau kami telat, kami nggak dapat uang! Kami harus tiba di pelabuhan secepatnya!”

“Pak, mohon mengerti … ini adalah kondisi darurat negara. Kalau negara terancam, Anda tidak bisa cari uang lagi. Mending yang mana?”

“Kondisi darurat opo toh, Pak!? Apa hubungannya dengan kami!? Memangnya kuli ikan ada hubungannya sama kondisi kenegaraan?”

“Sudahlah, Pak. Ikut saja dul–”

KA-BLAM!

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara tembakan dari kejauhan. Lebih buruk lagi, tembakan tersebut mengarah ke kerumunan aparat di perimeter dadakan. Peluru berdesing tepat di samping telinga salah seorang prajurit TNI, hanya selisih beberapa sentimeter, lalu mendarat di bebatuan.

SNIPER! BERLINDUNG!” Salah seorang prajurit TNI mengingatkan kepada semua orang yang ada di sekitar sana untuk melindungi diri dari pencitraan penembak runduk. Ia dan semua personel aparat yang berdiri di sekitar sana lantas bergerak menyebar ke segala arah untuk mencari dinding perlindungan. Ada yang bergerak ke arah bebatuan, ada yang bergerak ke arah mobil, ada pula yang bergerak ke arah pepohonan.

“Bro, dari mana arahnya!?” tanya prajurit yang bersembunyi di balik batu besar.

“Utara! Utara! Dari tempat yang agak tinggi!” jawab prajurit yang berlindung di balik pohon.

Prajurit yang tengah bersembunyi di balik batu besar itu pun melongok untuk memastikan posisi sang penembak runduk. Akan tetapi, belum sempat ia melihat semuanya dengan jelas, sebuah tembakan kembali melesat. Beruntung, timah panas yang dilepaskan musuh mendarat di bebatuan dan hanya menyemburkan serpihan bebatuan halus ke wajah sang prajurit.

Dua tembakan yang baru saja meluncur ternyata hanya merupakan pemanasan. Beberapa saat setelahnya, tembakan menjadi lebih ramai dan terstruktur. Situasi damai seketika berubah menjadi hujan peluru. Rupanya, ada sejumlah orang bersenjata yang telah merencanakan perburuan terhadap setiap anggota aparat di perimeter dadakan. Orang-orang misterius. Mereka tampaknya sudah mengamati gerak-gerik aparat sedari tadi.

Tak seperti kebanyakan teroris yang bergerak dan menembak seperti orang amatir, para penjahat yang menjadi lawan TNI dan Polri hari ini terlihat sangat profesional. Mereka mendekat perlahan-lahan, seraya mengubah-ubah formasi untuk mengecoh lawan. Mereka juga senantiasa membidik dengan benar, tak ada tembakan acak, sehingga hampir semua tembakan mengarah ke titik yang semestinya.

Para personel aparat merasa terpojok, mereka tak menyangka akan berhadapan dengan situasi dan lawan semacam itu. Beberapa personel akhirnya memberanikan diri untuk muncul dan menyemburkan beberapa peluru untuk meredam arus serangan musuh. Sementara peluru dihamburkan untuk meredam kekuatan lawan, para personel yang lain bisa berkoordinasi untuk merancang taktik serangan balik.

Pertukaran tembakan menjadi tak terelakkan. Suasana pun menjadi riuh tak terkira. Belum ada korban jiwa sampai saat ini, namun sudah ada korban luka-luka dari pihak aparat. Keberadaan penembak runduk di pihak lawan juga menjadi salah satu alasan mengapa aparat kerepotan. Pihak aparat akhirnya harus memutari musuh tanpa bisa dijangkau oleh penembak runduk. Satu-satunya jalan untuk merealisasikan rencana itu adalah dengan memasuki perkebunan yang membentang luas di sisi barat dan timur jalan.

Aparat menyebar ke perkebunan, masih sambil menahan empat kuli ikan yang tak berdosa. Mereka berusaha bermain pintar dengan lawan. Tersisalah pertanyaan krusial: mengapa para penjahat misterius itu memburu aparat? Apa yang mereka inginkan?

Tembak-menembak menjadi semakin intens, apalagi jarak antara kubu aparat dan kubu lawan semakin terpangkas. Di dalam kebun, korban-korban mulai berjatuhan. Akan tetapi, tak terlihat ada tanda-tanda akan menyerah dari kedua belah pihak. Menang atau habis sama sekali, hanya itulah pilihan mereka.

***

12.34

Sambil memacu kendaraan pada kecepatan tinggi, Subject 09 bergerak ke arah Tanjung Priok sesuai dengan hasil interogasinya. Ia ditemani oleh Jenderal Pavlichenko yang sibuk mengatur akurasi senapan runduknya di kursi penumpang. Mereka menduga akan terjadi pertempuran yang cukup sengit jika berhasil menemukan para penculik Bondan. Itulah kenapa Pavli bersiap-siap.

“Ingat … berdasarkan catatan pada ponsel si mantan pejabat intel tadi, korban kemungkinan disembunyikan di balik jok. Jadi, begitu tiba di lokasi, jangan menembak sembarangan. Kalau ada peluru yang nyasar ke mobil, nyawa Bondan bisa terancam,” ujar Subject 09.

“Aku takkan melepaskan peluruku ke mobil, Baja Hitam. Aku sudah tahu itu akan berbahaya … ” jawab Pavli seraya memasukkan peluru ke dalam magasin.

“Bukan pelurumu, tapi peluru mereka.”

“Hmm … ” Pavli masih terfokus pada senapannya. “Berarti kita perlu menyerang sekaligus bertah–”

PRAAAK!

Belum sempat Pavli menyelesaikan ucapannya, sebuah peluru tiba-tiba melesat dan melubangi kaca depan mobil. Subject 09 terenyak, ia langsung membanting setirnya ke kiri untuk menghindari tembakan yang lain. Beruntung, tembakan meleset, tak ada yang terluka oleh serangan dadakan tersebut.

“Brengseeek! Orang-orang itu benar-benar membuatku naik pitam!” seru Pavli seraya memasang kembali seluruh bagian senapannya dengan tergesa-gesa.

“Kau dengar itu … ?” Subject 09 berusaha untuk bersikap lebih tenang. Ia malah terfokus pada sayup-sayup suara tembakan di luar ruangan. “Ada baku tembak.”

Pavli terdiam sejenak, mencoba mendengarkan apa yang didengar oleh rekan barunya. “Keparat! Mereka bertempur dengan siapa? Jadi yang tadi itu hanya peluru nyasar!?”

“Sepertinya begitu … ” Subject 09 pun membuka pintu mobil dan mencabut pistolnya. “Ayo keluar, kita sudah dekat, Pavli. Suaranya lantang sekali. Mereka pasti sedang bertempur dengan aparat demi Bondan.”

Pavli pun keluar dari mobil. Ia mengokang senapan runduknya hingga terdengar bunyi derak peluru yang keras. Tanpa menunggu aba-aba dari rekannya, ia segera berlari kecil menghampiri pusat keributan. Subject 09 menyusul langkahnya seraya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada jebakan yang menanti.

Tak sampai lima menit, Subject 09 dan Pavli sudah tiba di lokasi terjadinya tembak-menembak. Beberapa peluru berdesing, semakin ramai, namun tak sanggup membuat Subject 09 maupun Pavli gentar, seakan sudah terbiasa mendengar peluru melesat dari jarak dekat. Mereka lantas bersembunyi di balik pohon besar, menjaga jarak dengan pasukan aparat untuk menghindari konfrontasi yang tak diperlukan.

Dari tempat persembunyiannya, Subject 09 melongokkan kepalanya untuk melihat situasi sekitar. Ia lantas mendapati van berwarna putih bertengger di tengah jalan seperti tak bertuan. Ia menduga pengemudi dan penumpangnya sedang dievakuasi oleh aparat akibat terjadi baku tembak.

“Sepertinya itu mobilnya. Van berwarna putih, persis seperti catatan yang ada di ponsel intel gadungan tadi,” ujar Subject 09.

“Sepertinya begitu. Kalau benar itu mobilnya, kita sangat beruntung,” cetus Pavli.

“Beruntung, bagaimana? Kita sedang berada dalam lingkaran baku tembak sekarang.”

“Setidaknya mobil itu diam dan tidak bertuan … ” ujar Pavli. “Itu sudah cukup memudahkan.”

Pavli pun keluar dari tempat persembunyiannya seraya membidikkan senapan runduknya ke segala arah. Subject 09 mengikuti dari belakang. Mereka bergerak dengan langkah yang senyap agar tak ketahuan oleh dua belah pihak yang sedang berseteru, paling tidak untuk sementara waktu. Tujuan mereka adalah van putih yang bertengger di tengah jalan dan mengekstraksi Bondan.

Dua pemain kostum itu pun tiba di tempat van putih berdiam, tak sampai dua menit. Pavli segera merunduk dan mengokohkan bidikannya ke arah utara, sementara Subject 09 membuka pintu depan mobil tanpa keraguan. Kini tampaklah dua jok mobil yang terlihat mencurigakan. Warnanya tidak menyatu dengan interior mobil dan bentuknya tidak natural.

Akan tetapi, sebelum Subject 09 dan Pavli sempat mengambil tindakan, seorang bintara TNI tiba-tiba meneriaki keduanya. Bintara tersebut bahkan membidikkan senapannya untuk memastikan bahwa dua orang berpakaian aneh di hadapannya bukanlah bagian dari komplotan para penjahat. “SIAPA KALIAN!? ANGKAT TANGAN!” Mendengar gelegar seruan sang atasan, sejumlah prajurit pun langsung mengalihkan bidikan ke arah yang sama.

Baku tembak tetap berlangsung, namun di saat yang sama juga terjadi drama di barisan belakang. Subject 09 dan Pavli membuat drama baru, lebih tepatnya.

“Elang Bondol! Elang Bondol!” Pavli bergegas mengangkat kedua belah tangannya sebelum para personel aparat menarik pelatuk. “Bondan. Anak menteri. Menteri Tuti. Saya kemari karena itu!”

“Apa-apaan, kok dia bisa tahu kata sandi kita … ” bisik sang bintara TNI. “Bagaimana kau tahu!? Kau dari unit mana!?”

Off the books!

“HAH!?”

“Tak tercatat, tak boleh dibicarakan! Terka sendiri!” ujar Subject 09 menimpali.

Sang bintara TNI pun terdiam. Ia sedikit terenyak dengan keberadaan personel rahasia di tempat seperti itu, namun ia juga merasa kasihan karena kedua personel berkostum aneh itu takkan menemukan apa-apa di dalam mobil. “Kalian takkan menemukan Bondan di mobil! Ia tak ada di sana!”

“Oh, ya? Mungkin kau kurang teliti, pak prajurit!” seru Subject 09. Ia lantas mengoyak jok mobil dengan sebilah pisau. Kulit jok pun tergeret dari atas hingga ke bawah, sehingga tersingkap seluruh rahasia di baliknya. Orang-orang yang berada di sekitar sana kini bisa melihat sosok Bondan didudukkan dalam kondisi tak sadarkan diri, pingsan, dengan mulut tersumpal kain.

Sang bintara TNI terbelalak menyaksikan pemandangan di depan matanya. Jantungnya berderap kencang. Ia bersiap untuk melantangkan sebuah perintah kepada seluruh bawahannya. Napas pun dikumpulkan, gigi-giginya mengerat kencang.

“TANGKAP PARA KULI IKAN TERSEBUT! MEREKA PENCULIK BONDAN!”

Seruan sang bintara TNI langsung membuat beberapa personel gabungan bereaksi. Anggota TNI dan Polri langsung bahu-membahu membekuk empat kuli ikan yang ternyata sama sekali bukan orang sipil tak berdosa. Mereka dibaringkan secara kasar oleh para aparat dan diborgol hingga tak mampu melakukan perlawanan.

Di saat yang bersamaan, Subject 09 lekas-lekas memikul tubuh Bondan di atas pundaknya dan bergegas menjauhi lokasi baku tembak. Ia dilindungi oleh Pavli yang sesekali membantu aparat membalas tembakan musuh. Pavli juga sedikit demi sedikit bergerak menjauhi lokasi pertempuran.

“Hei, hei! Bondan mau dibawa ke mana!?” tanya sang bintara TNI saat menyadari dua orang berpakaian aneh akan meninggalkan lokasi.

“Ke mana lagi!?” Pavli balik bertanya. “Kita akan kembalikan ke ibunya! Ia sangat dibutuhkan untuk press conference!

“Konferensi pers apa!? Apa hubungannya dengan penculikan terhadapnya!?”

“Itu … tidak bisa diceritakan secara detail! Intinya ia sangat dibutuhkan untuk menangkal opini yang akan bergulir di internet!”

Sang bintara terdiam, tak memahami arah pembicaraan lawan bicaranya. “Lantas bagaimana dengan bajingan-bajingan ini!? Kami harus apakan mereka!? Tugas awal kami di sini hanyalah untuk menggeledah mobil van mencurigakan, bukan untuk penggempuran! Kami pasti kekurangan logistik kalau mereka ternyata punya pasukan yang lebih besar!”

“Jangan khawatir, prajurit! Aku akan memanggil bant–”

PRAAAK!

Pavli tak sempat merampungkan kata-katanya, sebuah peluru tiba-tiba mendarat tepat sepersekian sentimeter di samping kakinya. Betisnya tergores, namun tak fatal, ia masih bisa berdiri dan mencari tempat berlindung. Ia hanya sedikit terkejut oleh entakan peluru yang begitu dekat. “Son of a b–” kutuknya seraya merunduk di balik bodi mobil.

Tak hanya Pavli, sang bintara TNI pun terenyak, ia langsung berteriak dan mengingatkan seluruh kerabatnya untuk berlindung. Penembak runduk dari kubu musuh kembali beraksi, ia tak ingin ambil risiko. TNI dan Polri sudah kehilangan beberapa orang siang itu.

Pavli kesal. Ia tak terima dipecundangi oleh penembak runduk di kubu lawan. Insting lamanya pun bergeming. Ia merasakan adrenalin yang serupa saat masih aktif di Pasukan Katak, sebuah perasaan yang sangat nostalgis. Sontak, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan membidikkan senapannya ke tempat yang diduga jadi lokasi bersarangnya penembak runduk.

Pavli menajamkan indera penglihatannya. Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup lebih lambat. Jari telunjuknya bersiap di atas pelatuk. Target telah masuk dalam bidikannya.

Tembak.

KA-BLAM!

Pelatuk telah ditarik. Logam panas melesat kencang menuju tempat sang penembak runduk bersarang, membelah apa pun yang menghalangi rute perjalanannya. Maut menyertainya. Tembok pun remuk dihantamnya. Musuh tak lagi bisa mengelak, sekadar sanggup terenyak menatapi kebengisannya. Itu pun hanya beberapa saat. Lantas, ia berhenti … dan menghancurkan tengkorak yang baru saja dilaluinya.

Pavli menang. Setidaknya ia puas bisa melampiaskan amarahnya dan membalaskan dendam para personel TNI dan Polri yang tewas di tangan sang penembak runduk. Tanpa salam perpisahan, ia pun berlari menyusul rekan barunya. Agak pincang, namun ia benar-benar masih bisa berlari.

Para personel TNI dan Polri ditinggalkan bertempur dengan para kriminal misterius. Mereka tak memperkarakan kepergian Subject 09 dan Pavli. Menghadapi kejahatan adalah tugas mereka, sudah makanan sehari-hari. Yang paling penting adalah Bondan telah terselamatkan. Paling tidak mereka bisa tersenyum lega sekarang.

Bantuan pasti akan datang. Pavli akan menepati janjinya.

Pertempuran siang itu akan segera berakhir.

Segera.

***

Lobi Jakarta Convetion Center
14.01

Bosan dan gelisah. Dua kata itulah yang paling tepat menggambarkan kondisi Verani dan Patih saat ini. Mereka tak punya aktivitas yang berarti selagi para panitia Popcon Asia membereskan kekacauan yang diorkestrakan oleh gerombolan kriminal berkostum Bomberman. Keduanya hanya duduk di sudut konvensi seraya menghabiskan cemilan yang mereka beli dari lapak dagang di sekitar sana.

Di samping itu, Verani dan Patih juga masih menanti kepulangan sosok pujaan. Adam sudah meninggalkan mereka selama berjam-jam, tak mungkin jika tersangkut di kamar mandi. Verani dan Patih yakin bahwa Adam tengah menyelesaikan tugas yang tak mereka ketahui. Kini mereka waswas setengah mati. Waswas akibat tak punya pengawal, waswas tak bisa pulang ke tempat asal, dan waswas memikirkan kemungkinan bahwa Adam telah meninggalkan mereka selama-lamanya.

Pasangan ibu dan anak itu benar-benar diselimuti oleh kekhawatiran. Mereka tak punya siapa-siapa di Jakarta jika Adam pergi. Tak hanya itu, kondisi keuangan mereka juga sangat terbatas. Bagaimana caranya mereka bisa bertahan hidup di kota yang sedemikian ganas? Membayangkan nama ‘ibukota’ saja sudah mengerikan bagi mereka, seakan semua orang siap menerkam dan menelan mereka bulat-bulat.

Akan tetapi, keajaiban datang.

Kekhawatiran pun sirna dalam sekejap mata. Verani tiba-tiba saja mendapati dua batang kaki berdiri di sampingnya. Objek pertama yang ia lihat adalah sepatu kets pria berwarna putih keabu-abuan. Ia langsung mengenali ciri-ciri tersebut, kepalanya langsung menengadah tanpa keragu-raguan.

Adam Sulaiman. Subject 09. Ia telah kembali kepada keluarga angkatnya.

“AD–” Verani bergegas bangkit dari tempatnya duduk dan hampir saja meneriakkan nama Adam sekencang yang ia bisa. Tetapi ia tak jadi melakukannya. Ia tahu apa risikonya untuk Adam sebagai buronan nomor satu republik.

“EMAN!” Verani malah menyeru Adam dengan nama lain.

“Nggak punya nama lain, ya?” ujar Adam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kamu tuh ke mana aja sih!? Kenapa teleponku nggak diangkat!? Kenapa pesan singkatku nggak dibalas!? Kalau mau bertuga–ketemuan sama temen kan bisa ngomong dulu sama aku dan Patih! Kenapa harus mendadak!? Kenapa harus bohong, bilang ke kamar mandi segala!?” Verani mengamuk dengan mata yang berkaca-kaca. Ia marah, namun rindu.

Adam menghela napas panjang. Ia tak punya jawaban yang lebih menarik untuk menghibur Verani. “Maaf … ”

“Maa–MAAF, KATAMU!? Cuma gitu doang!? Aku marah udah panjang-lebar kayak begini, kamu jawabnya cuma ‘maaf’! Kamu sebenernya peduli nggak sih sama aku dan Patih!?”

“Yaaa, habisnya aku harus jawab apa lagi? Memang sudah seharusnya aku minta maaf kan?” ujar Adam seperti tanpa dosa.

Heuheuheu, emang enak, kena omelan Ibu–”

“DIAM, PARIH! EH, PATIH!” Verani menyela ucapan putra semata wayangnya dengan nada tinggi. Ia benar-benar marah.

“Hei, hei, Ve. Ayolah, aku minta maaf. Tidak enak, dilihat orang. Jangan marah-marah begitu. Aku kan janji bahwa aku akan selalu kembali. Maaf, ya? Aku minta maaf … ” Adam akhirnya merangkai kata maaf yang lebih kuat. Ia bahkan mengatupkan kedua tangannya dan mengibas-ngibaskannya di depan Verani.

“Huh, sudahlah! Katanya mau membuatku senang!? Mana buktinya!? Acara ini kacau, hatiku kacau, tetapi kau malah pergi meninggalkanku!”

“Aku mendengarkan nasihatmu untuk … EHEM … mengambil tugas yang kita bicarakan dua hari yang lalu.”

Verani tak lekas menjawab. Wajahnya memerah dan keningnya menggulung-gulung. Kesal. Ia tak ingin diingatkan soal itu, sebenarnya. “S-sudahlah! Tak peka sekali sih!?”

Belum usai bertengkar, tiba-tiba muncul seorang wanita dengan beberapa asistennya datang menghampiri Adam dan Verani. Ia lantas memperkenalkan diri. Pertengkaran Adam dan Verani pun sontak terhenti, mereka langsung menyambut sang wanita dengan ramah.

“Halo, nama saya Grace Kusnadi. Saya yang mengadakan acara Popcon Asia ini,” ujar sang wanita.

“Oh, Ibu … ” Adam dan Verani memanggut-manggutkan kepala, sementara Patih tetap terdiam sebagaimana mestinya.

“Saya, atas nama panitia Popcon Asia, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kekacauan yang terjadi pada hari ini, dimulai dari padamnya listrik secara mendadak, pingsannya cosplayer di dalam aula, hingga munculnya kriminal yang menyamar sebagai Bomberman. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya,” Grace menundukkan kepalanya beberapa kali untuk meminta maaf kepada pengunjungnya. “Sebagai gantinya, saya ingin memberikan tiket gratis kepada kalian, agar kalian bisa menikmati acara Popcon Asia lagi esok hari.”

Dua orang asisten Grace pun menyerahkan tiga buah tiket kepada Adam dan rombongannya.

“Oh … terima kasih,” ujar Adam. Ia menatapi tiket premium di tangannya selama beberapa saat. “Tetapi, bagaimana kondisi Popcon Asia sekarang? Apakah acara tetap diteruskan?”

“Yaaa, keadaannya sudah mulai kondusif. Listrik sudah kembali menyala. Lapak-lapak berjualan juga sudah kembali beraktivitas. Beberapa pengunjung memang walk out akibat syok, tapi saya bersyukur masih banyak yang bertahan di sini. Jadi saya bisa meminta maaf dan mengganti rugi atas perasaan tidak nyaman mereka hari ini … ”

“Ah, begitu … ” ujar Adam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau begitu, sepertinya kami akan menghabiskan waktu di sini. Selain kami bisa melihat lapak-lapak pameran lebih leluasa, kami juga bisa membantu Ibu apabila ada kesulitan.”

“E-eh, tidak perlu repot-repot, Mas. Hehehe. Tetapi, kalau mau menetap di sini, kami persilakan,” ujar Grace. “Ah, baiklah, sepertinya saya harus berkeliling lagi. Terima kasih atas kedatangannya hari ini. Sekali lagi saya minta maaf atas rangkaian peristiwa yang terjadi pada hari ini,” ia kembali membungkukkan badannya.

Tak lama kemudian, wanita elegan itu pun pergi meninggalkan Adam dan rombongannya. Ia berkeliling dengan sejumlah asistennya demi menenangkan hati dan pikiran para pengunjung yang masih berada di sekitar sana.

Sementara itu, Adam masih bingung menatapi tiga tiket gratis di tangannya. Apakah ia akan memanfaatkannya? Ia tak berencana menginap di ibukota malam itu. Ia lantas menatapi Verani dan Patih. “Kalian mau datang lagi esok hari?” tanya Adam.

Verani dan Patih pun tercenung. Mereka memikirkan jawaban yang terbaik untuk merespon pertanyaan Adam. Berpikir dan berpikir. Tak sampai semenit berlalu, mereka pun akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan.

“Sepertinya kita pulang saja. Habiskan waktu yang tersisa di sini. Benar katamu: dengan kondisi saat ini, kita bisa melihat lapak-lapak pameran dan mencoba berbagai macam karya lebih leluasa,” papar Verani.

“Iya, Paman! Kita sampai malam saja di sini, setelah itu pulang! Paman kan mungkin lelah!” timpal Patih.

Adam tersenyum, namun tersekat oleh topengnya. Ia lantas mengusap-usap kepala Patih dan menatapi Verani dengan tatapan hangat. “Aku masih merasa iba dengan Ibu Grace. Sebaiknya kita bantu dirinya. Aku punya kenalan yang bisa membantu citra acaranya tetap baik dan memancing pengunjung dalam waktu yang cukup singkat,” ujar Adam seraya mengeluarkan ponselnya.

“Kau yakin temanmu mau membantu?” tanya Verani memastikan.

“Tenang saja. Ia adalah tipe orang yang rela membantu demi tiga buah tiket premium gratis.”

Verani tak merespon. Ia sekadar tersenyum.

“Kalau begitu, ayo kita bersenang-senang di sisa waktu ini! Yeaaah!” Patih langsung melesat dari tempatnya berpijak. Kegelisahannya sirna, kebahagiaannya datang kembali.

Verani pun merasakan hal yang serupa dengan putranya. Kesedihan dan kegelisahan yang sempat singgah dalam diri kini lenyap ditelan senyuman. Yang penting bagi mereka Verani dan Patih sebenarnya bukanlah acaranya …

… tetapi kebersamaannya.

***

Kantor Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
22.02

Pengawal kementrian mengetuk pintu ruang kerja Menteri Tuti. Ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, sang menteri masih juga disambangi oleh tamu.

Tak lama kemudian, terdengar suara Menteri Tuti mempersilakan tamunya masuk dari dalam ruangan kerjanya. Sang pengawal kementrian langsung membukakan pintu untuk tamu rahasia Menteri Tuti. Begitu pintu terbuka, Menteri Tuti langsung memfokuskan kedua sorot pandangnya keluar ruangan. Ia mengenali tamunya.

“Pavli … ” ujar Menteri Tuti seraya meremas kertas yang ada dalam genggamannya dan membuangnya ke tempat sampah. “Sudah dapat info?”

“Sudah, Bu. Ternyata cukup mudah untuk mendapatkan kesimpulan,” cetus Pavli seraya berjalan mendekat.

Pintu ruangan pun ditutup. Kini tinggal Pavli dan Menteri Tuti saling berhadapan. Menteri Tuti pun duduk di kursi kerjanya seraya mengentak-entakkan bungkus rokok pada mejanya.

Pavli berhenti di depan meja kerja Menteri Tuti, lalu memfokuskan pandangannya ke arah radio yang berdiri kokoh di atas meja. Ia menyimak berita yang sedang dibacakan oleh sang presenter.

Komplotan penjahat yang melakukan baku tembak dengan aparat di sekitar Tanjung Priok akhirnya dapat dilumpuhkan setelah pasukan gabungan dari TNI dan Polri melakukan penggempuran secara besar-besaran. Rupanya, penjahat-penjahat itu masih berafiliasi pada oknum bintara TNI-AL yang membelot dan menjadi perompak beberapa tahun silam. Belum jelas apa motifnya, namun pihak yang berwenang masih mencoba–

Menteri Tuti mematikan radionya. Ia tak ingin mendengarkan ocehan sang presenter radio lebih lanjut. “Masalah utamanya belum muncul. Facebook, Twitter, media … semuanya masih bungkam soal penculikan Bondan. Kekacauannya belum dimulai,” paparnya.

“Semoga saja tidak jadi … ” timpal Pavli. “Lagipula, Bondan sudah bersama dengan kita sekarang. Kalau provokasi sudah mulai, kita majukan dirinya lewat konferensi pers.”

Menteri Tuti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi … kembali ke persoalan kita berdua: siapa orang itu? Siapa yang menyelamatkan anak saya?” tanyanya antusias.

Pavli tak lekas menjawab. Ia malah berjalan ke belakang meja kerja Menteri Tuti, lalu meletakkan selembar foto di atas meja. “Dari gesturnya, pakaiannya, cara bicaranya, dan gaya bertarungnya … sudah jelas bahwa ia adalah orang yang selama ini diintai oleh teman-teman kita.”

Menteri Tuti mengangkat foto yang diserahkan di atas meja kerjanya dan memerhatikan sosok yang tertera pada foto tersebut. Ia mengenalinya. Semua orang tentu akan mengenalinya, paling tidak semua orang di lingkungan pemerintahan.

“Adam Sulaiman … ” gumam Menteri Tuti. “Buronan nomor satu republik. Apa alasannya ia menyelamatkan putraku? Bukankah ia buronan paling berbahaya seantero negeri?”

Pavli berdiri tegap di belakang sang menteri. Ia tersenyum kecut, lalu menyilangkan kedua tangannya ke belakang. “Di masa seperti ini kita memang tidak bisa memercayai siapa pun, ya?”

Menteri Tuti menyandarkan tubuhnya dengan luruh. Ia menghela napas panjang seraya melempar foto Adam ke atas meja. Kursinya ia putar 180 derajat, kini ia berhadapan langsung dengan anak buahnya yang berkostum eksentrik.

“Katakan kepada seluruh jaringanku … awasi Adam. Dunia kita ini penuh dengan orang-orang yang tak dapat kita percaya, terutama orang-orang di lingkungan istana dan parlemen. Aku tak ingin menelan bulat-bulat apa yang dikatakan Presiden Darsono dan awak media. Aku ingin tahu sendiri siapa Adam sebenarnya.”

“Diterima,” tegas Pavli tersenyum.

EPISODE 22.5 SELESAI


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!