21 – Provocateurs [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Berita tentang tertangkapnya Adam Sulaiman—buronan paling berbahaya di Indonesia—telah menyebar hingga ke seluruh pelosok Nusantara. Reaksi masyarakat terhadap kabar ini begitu variatif. Ada yang peduli, ada yang acuh. Ada yang bersorak, ada yang bersikap biasa. Meski demikian, kabar tentang tertangkapnya Adam memang menjadi angin segar bagi sejumlah orang, khususnya para anggota aparat dan keluarga mereka. Pasalnya, sepanjang Adam beraksi, korbannya selalu berasal dari pihak aparat. Warga sipil hampir tak pernah dirugikan dari aksi-aksi brutal Adam.

Apakah itu berarti bahwa Indonesia telah aman dari ancaman teror?

Tidak juga. Napas lega para aparat tampaknya hanya bertahan selama beberapa saat. Malam ini, seorang perwira pasukan paling elit se-Nusantara dikabarkan hilang. Diculik. Selain itu, sejumlah personel pengawal sang jenderal yang berasal dari Detasemen Sandi Negara (DSN) juga dikabarkan tewas. Tak hanya tewas, tetapi hancur berantakan.

Seluruh kegilaan itu terjadi begitu cepat dan mendadak. Personel intelijen gabungan yang berasal dari TNI, Polri, dan PIN melakukan investigasi dadakan untuk mencari jejak pelaku. Akan tetapi, upaya mereka hanya berakhir sia-sia. Tidak ada yang tahu siapa dan ke mana perginya pelaku. Yang mereka tahu hanyalah hilangnya sosok Brigjen Dharma dan tewasnya belasan personel terbaik DSN.

Akan tetapi, seseorang sudah tahu siapa pelaku di balik kegilaan malam itu.

Sang korban.

Brigjen Dharma, Kepala Detasemen Sandi Negara yang amat disegani di kalangan aparat, kini berhadapan dengan seorang wanita berjilbab yang disinyalir sebagai dalang di balik penculikan terhadap dirinya. Kedua tangan Dharma diikat dengan sebuah rantai berkarat yang menggelantung di bawah langit-langit. Tubuhnya pun terhuyung-huyung tanpa daya, sebab kedua kakinya tak mampu menapaki tanah.

“Kau … subjek terakhir Project SAKTI, kan?” tanya Dharma tersendat-sendat. Perasaannya begitu bercampur aduk. Ada rasa takut, ada rasa waswas, ada rasa gelisah. Ia tak pernah menyangka akan disandera seperti itu sebelumnya.

“Secara teknis, bukan … ” jawab wanita berjilbab yang berdiri beberapa meter di hadapan Dharma. “Subjek terakhir adalah nomor 20, sedangkan aku adalah nomor 17. Jadi, aku bukan sosok yang terakhir. Terkaanmu luput, orang tua.”

Subject 17, ia adalah dalang di balik semua kekacauan yang terjadi pada malam itu. Ia pun menampakkan dirinya di bawah sorotan cahaya lampu nan redup.

“Akan tetapi … ” timpal Subject 17. “Jika yang kau maksud adalah subjek terakhir yang belum tertangkap, maka terkaanmu benar. Akulah orangnya. Dan aku akan membuat semua upayamu sia-sia. Sembilan belas subjek lain yang kau tangkap akan kembali bebas, berkat keberadaanmu di sini.”

“Heh … ” Dharma tertawa remeh. “Jadi benar kata Riyadi. Kau ingin membuat kekacauan di LARAS dengan cara membenturkan DSN dan unit lain di sana. Kau membutuhkanku untuk mengendalikan DSN, itulah sebabnya kau menculikku. Mengapa kau pikir rencana ini akan berhasil, tuan putri?”

“Hmm … ” Subject 17 berpindah tempat. Tercenung. “Jadi menurutmu rencanaku tidak akan berhasil?”

“Bodoh. Tentu saja tidak. Kau pikir pemerintah akan tinggal diam atas hilangnya diriku malam ini? Mereka akan menunjuk pengganti sementara untuk mengukuhkan keberadaan DSN di dalam LARAS sebagai pelindung proyek. Komando dariku takkan berlaku untuk sementara waktu. Jadi, apa pun yang kau lakukan terhadap diriku, semuanya akan berakhir sia-sia, kau takkan bisa mengendalikan DSN lewat diriku! Aku adalah kepala pasukan elit, mengganti posisiku pada saat darurat akan sangat diprioritaskan oleh negara!”

“Begitukah?” tanya Subject 17 santai.

Wanita bengis itu lantas mencabut pistol dari balik celananya dan melepaskan tembakan ke paha Dharma. Benar-benar menembak tanpa keraguan.

Suara letusan tembakan seketika menggetarkan dinding-dinding ruangan, disusul oleh suara jeritan Dharma yang amat dahsyat. Jenderal terpilih itu kehilangan kewibawaannya sebagai pimpinan pasukan paling elit se-Indonesia Raya. Ia meraung-raung seperti kesetanan, lalu mulai menangis akibat menahan rasa sakit yang menjalar hingga ke seluruh ruas anggota tubuhnya.

“Kalau kau tidak berguna, aku sudah menembak kepalamu di jalan dan membiarkanmu membusuk dimakan lalat … ” ujar Subject 17. “Tetapi tidak. Aku masih menganggapmu berguna. Aku akan mengeksploitasi kelemahan pasukan DSN yang kau posting di dalam LARAS. Apakah kau tahu kelemahan mereka, Dharma?”

” … ”

“Loyalitas. Itu adalah kelemahan terbesar mereka, Dharma,” ujar Subject 17 tegas. “Intelku berkata bahwa orang-orang yang kau posting di dalam LARAS adalah anak-anak terbaik yang sudah lama mengekor padamu. Apakah kau pikir mereka akan mendengarkan komando dari orang lain begitu saja?”

“Mereka adalah orang yang taat pada perintah. Kau salah jika menganggap mereka hanya mengandalkan loyalitas kepadaku.”

“Yeah, mungkin saja. Tapi coba bayangkan jika selama berhari-hari mereka mendengar suaramu, mendengar rintihanmu, dan mendengar permintaan tolongmu. Secara psikologis, mereka akan ‘tergoda’ untuk menolongmu dan mendengarkan permintaanmu. Pada puncaknya, mereka mungkin akan nekat untuk melakukan apa pun yang kau minta, karena bagi mereka engkau adalah satu-satunya pimpinan DSN yang sangat bisa diandalkan.”

Dharma terdiam sejenak. Napasnya terengah-engah. Ia sebenarnya masih belum menangkap apa yang akan dilakukan Subject 17 kepadanya. “Tak usah mengarang-ngarang! Itu takkan pernah terjadi!”

“Oh, itu harus terjadi … ” Subject 17 mengambil alat perekam dari meja kayu yang bertengger tak jauh dari sana. “Aku akan mengambil suaramu, kemudian meminta salah satu anak buahmu untuk menyebarkannya di dalam LARAS.”

” … ”

“Skenarionya bisa kita atur. Intinya adalah aku ingin kau meyakinkan anak-anakmu bahwa penculikan ini adalah sebuah konspirasi beberapa pihak, bukan olehku. Itu akan menimbulkan perasaan waswas di dalam hati para personel DSN yang berada di dalam LARAS. Mereka akan mulai menimbang-nimbang antara perintah dan loyalitas. Di sinilah semuanya akan menjadi sangat menarik.”

“Kau tidak berpikir bahwa semua itu akan berhasil kan?” ujar Dharma menggeram. Ia hendak mengintimidasi lawannya, tetapi hanya itu upaya terbaiknya.

“Mengapa tidak? Kita bisa mulai dari hal sederhana seperti ini, misalnya … ”

Subject 17 sontak mendaratkan tinju superkerasnya ke rusuk Dharma. Suara gemertak lembut langsung mengiringi pukulan tersebut, menandakan bahwa Subject 17 berhasil membuat tulang Dharma remuk hanya dengan satu pukulan.

Lagi-lagi Dharma menjerit seperti kesetanan. Ia berupaya meredakan rasa sakitnya dengan berteriak-teriak, seperti menerima tindakan medis di abad pertengahan. Tiada satu pun aksi yang bisa ia lakukan untuk mengantisipasi serangan lawannya. Tubuhnya sekadar menggelantung luruh, mengikuti ke mana momentum membawanya berayun.

Dharma kehilangan daya dan upayanya sebagai salah satu perwira terkuat di Indonesia.

Dan ia direkam.

***

Safehouse rahasia Riyadi
00.42

Riyadi masih terduduk di kursi rotannya seraya melahap beberapa keping biskuit dan menyeruput secangkir kopi hangat. Sudah hampir jam satu malam, namun belum ada tanda-tanda bahwa ia akan meninggalkan realitas demi mimpi indah. Ia ditemani oleh seonggok komputer tablet yang berfungsi untuk memonitor segala aktivitas negara. Matanya terfokus ke arah sana, sedang memerhatikan berita-berita tentang tewasnya sekelompok orang bersenjata beberapa jam lalu. Dan orang-orang itu tergeletak, dibiarkan membusuk begitu saja, tak jauh dari kediaman Brigjen Dharma.

Senyum simpul tak bisa terhapus dari wajah Riyadi. Bukannya terenyak atau merasa sedih, ia malah terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan pencapaian besar. Riyadi tahu bahwa orang-orang yang tewas tersebut adalah anak buah Dharma, sebab polisi terkesan menutup-nutupi indentitas para jenazah. Wajar, itu adalah prosedur standar kepolisian apabila menemukan personel rahasia negara yang meninggal secara tak wajar.

Tak lama kemudian, dua mobil bertubuh kekar tiba di depan halaman rumah rahasia Riyadi. Mendengar raungan mesin yang begitu gahar, Riyadi pun beralih fokus. Ia meninggalkan biskuitnya, meninggalkan kopinya, lantas kepalanya menoleh ke arah halaman. Wajahnya tak waswas, tetap tersenyum sebagaimana biasanya. Ia pun bangkit dari tempat duduknya, hendak mendatangi tamu-tamu yang datang ke rumahnya.

Riyadi membuka pintu rumahnya, menyambut para tamu yang bahkan belum menginjakkan kaki di teras rumah. Ada sekitar sepuluh orang berpakaian preman menyambangi rumah rahasia Riyadi. Badan mereka terlihat kekar dan penampilan mereka terlihat seperti tentara. Rata-rata berambut cepak.

Salah satu dari gerombolan pria berpakaian preman tersebut berjalan mendekati Riyadi, lantas menghormat selama beberapa saat sebelum Riyadi memerintahkannya untuk berhenti bersikap formal. “Lapor, Pak. Kami utusan Presiden Darsono. Keberadaan kami di sini adalah untuk melindungi Anda dan membawa Anda ke Istana Negara,” ujar pria tersebut tegas.

“Paspampres, ya?” tanya Riyadi santai.

“Siap. Benar, Pak.”

“Kamu perwiranya?”

“Siap, Pak. Benar.”

“Pangkat?”

“Letnan, Pak.”

Riyadi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masuklah dulu, Letnan. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada kalian secara tertutup,” ujar Riyadi seraya membalikkan badan. Ia mengajak pasukan elit kepresidenan itu untuk masuk. “Di luar tidak aman. Kalian bisa jadi bulan-bulanan. Semua orang sudah tahu kenapa kalian ke sini.”

Sang perwira muda menolehkan kepalanya ke belakang, menatapi teman-teman Paspampresnya selama beberapa saat. Mereka terheran, namun di saat yang sama mereka juga merasa penasaran. Mayjen Riyadi adalah salah satu dari sekian jenderal yang tak bisa dianggap remeh, baik perbuatan maupun ucapannya. Mendengar bahwa keadaan di luar rumah tidak aman, belasan anggota Paspampres itu pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Mereka tak ingin menyia-nyiakan nyawa sebelum berhasil membawa Riyadi ke Istana Negara.

Pintu ditutup rapat, Riyadi lantas menatapi belasan anggota Paspampres di hadapannya. “Saya tahu kenapa kalian kemari. Ini terkait dengan kasus diculiknya Brigjen Dharma beberapa jam lalu, bukan begitu?”

“Benar, Pak … ” sang perwira Paspampres menjawab. “Presiden membutuhkan Anda untuk menunjuk orang yang bisa menggantikan Brigjen Dharma sementara waktu. Hilangnya Brigjen Dharma akan membahayakan proyek di dalam Laboratorium Rahasia PIN, karena orang-orang DSN diposting di sana.”

“Kenapa tidak wakil kepalanya saja yang diangkat?”

“Sedang dipertimbangkan seperti itu, Pak. Tetapi presiden tidak bisa menghubungi Brigjen Maryoto. Itulah kenapa sekarang kami ditugaskan untuk menemui jenderal-jenderal penting, termasuk Anda.”

“Waduh, Maryoto ke mana ya? Saya jadi khawatir. Di saat-saat seperti ini seharusnya dia yang jadi pengganti Dharma, karena dia wakilnya … ” Riyadi mondar-mandir di ruang tengah seraya mengusap-usap bibir. “Jangan-jangan dia hilang juga. Ada laporan, tidak?”

“Presiden juga khawatir, Pak. Tetapi, sepengetahuan kami, tidak ada laporan tentang hilangnya Brigjen Maryoto.”

“Hmm, siapa saja jenderal-jenderal penting yang kalian temui selain saya?”

“Panglima TNI, Kapolri, KASAD, pokoknya jenderal-jenderal penting yang menduduki posisi strategis. Mereka dan Anda punya kualifikasi untuk menentukan siapa orang yang cocok untuk menggantikan Dharma dan mengontrol DSN sementara waktu.”

“Seandainya tidak ditemukan penggantinya?”

Letnan Paspampres yang berdiri di hadapan Riyadi tak lekas merespon. Ia malah menatapi teman-temannya dengan ekspresi memelas, lalu kembali menatapi Riyadi dengan penuh keraguan. “Akan ada potensi DSN dikendalikan secara sembarangan, lantas mengacaukan proyek pemerintah di dalam LARAS. Para subjek rahasia yang dijadikan bahan eksperimen di sana adalah jaminan bagi Indonesia dan Amerika untuk menangkal maupun menghancurkan pengaruh aliansi Rusia-Tiongkok di Laut Cina Selatan. Jika itu hancur, apalagi karena ‘orang dalam’ … Anda pasti sudah tahu apa konsekuensinya, Pak.”

” … hubungan Amerika-Indonesia akan memburuk.”

“Itulah yang ditakutkan Presiden Darsono saat ini. Dan itulah sebabnya Anda harus menghadap presiden sekarang. Beliau butuh bantuan Anda.”

“Baiklah, kalai begitu, ayo—”

KRAAAK!

Belum sempat Riyadi menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja dinding kayu rumahnya ditembus oleh sebuah timah panas berkaliber besar. Lempengan timah langsung menerjang kepala salah satu anggota Paspampres yang berdiri di sekitar sana, menewaskan sang prajurit seketika waktu.

Panik, para anggota Paspampres segera bertindak. Tiga orang prajurit, termasuk sang letnan, segera melindungi Riyadi dari serangan susulan. Mereka membawa Riyadi ke ruangan yang lebih aman.

“Brengsek! Mereka pasti mengincar Riyadi! Tahan mereka!” seru sang letnan kepada seluruh bawahannya seraya mendesak Riyadi untuk bergerak menjauhi titik bahaya.

Enam anggota Paspampres yang tak ditugaskan untuk mengawal Riyadi segera mengeluarkan senapan portabel dari tas pinggang dan mulai memasang posisi di sudut-sudut ruangan. Modus defensif. Mereka tak bisa menyerang sebelum mereka tahu di mana musuh berada.

Setelah tembakan pertama, situasi pun menyepi.

Para anggota Paspampres yang berjaga di ruang tengah dan ruang tamu pun saling pandang selama beberapa saat, mereka berkomunikasi menggunakan isyarat-isyarat militer. Dalam keadaan terpojok seperti itu, mereka harus merancang taktik bertahan yang solid. Mereka tahu bahwa situasi yang terlalu sepi seperti itu bukanlah persoalan remeh. Mereka menduga, paling tidak, ada sekitar satu peleton kriminal bersenjata telah mengelilingi rumah Riyadi.

Dugaan para anggota Paspampres tepat.

Tiba-tiba saja pintu depan rumah Riyadi hancur oleh sebuah ledakan. Kepingannya beterbangan ke dalam rumah. Sesaat setelahnya, orang-orang yang masih berada di luar rumah melemparkan granat flashbang dan granat asap secara bersamaan. Dua granat yang berbentuk bak kaleng minuman itu pun menggelinding di ruang tamu.

Lagi-lagi terjadi ledakan, namun kali ini dibarengi oleh semburan asap yang begitu tebal. Para anggota Paspampres segera menyembunyikan diri di spot yang tepat, sementara lawan mereka mulai menyisir setiap sudut ruangan rumah Riyadi secara terstruktur. Belum diketahui secara jelas siapa lawan Paspampres malam itu, yang jelas mereka menggunakan kostum taktis serba hitam dan topeng yang aneh.

Dua orang anggota Paspampres terdekat langsung berkomunikasi tanpa suara. Mereka tahu ada ancaman beberapa meter di balik dinding tempat mereka bersembunyi. Mereka pun berniat untuk melancarkan serangan kejut kepada gerombolan prajurit misterius yang kini memenuhi ruang tamu rumah Riyadi. Salah seorang di antara mereka lantas mengambil sesuatu dari tas pinggangnya dan melemparkannya secara acak ke tempat yang cukup jauh.

Objek itu pun menggelinding, lantas meletus keras. Tidak membahayakan lawan, hanya saja sangat nyaring.

Di saat itulah dua orang anggota Paspampres terdekat beraksi. Mereka menyembul dari tempat persembunyian dan memuntahkan tembakan tanpa sedikit pun keraguan. Seketika kesunyian tergantikan oleh keriuhan.

Mendapatkan elemen kejut dari anggota Paspampres, para anggota pasukan misterius langsung berlari menyebar ke segala arah. Lengah sejenak waktu.

Perseteruan pun memanas. Masing-masing pihak sudah mendapatkan korban, keduanya menjadi semakin bersemangat untuk saling bunuh. Peluru berdesing ke segala arah, benar-benar seperti peperangan. Satu-persatu petarung berjatuhan, gugur diterjang metal tajam.

Darah pun mencurat ke segala tempat.

Mencekam.

 

 

Sayang, pertahanan Paspampres tak bisa bertahan lebih lama. Runtuh. Individu-individu terbaik dari pasukan misterius pun dimajukan untuk menyelesaikan pertarungan. Sementara itu, sisanya diperintahkan untuk mundur beberapa langkah ke belakang untuk meminimalisir jatuhnya korban. Mereka, yang menunggu di belakang, juga berperan sebagai pengamat dan bala bantuan bagi individu-individu unggulan apabila dibutuhkan.

Terjadilah baku tembak yang amat sengit antara para personel terakhir Paspampres dan enam individu terbaik pasukan misterius. Mereka bertarung seperti koboi, bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan lincah. Meskipun Paspampres terpojok, tetapi mereka sama sekali tak gentar. Sesekali mereka berguling, sesekali mereka meluncur untuk menghindari terjangan peluru. Dinding, ubin, dan objek-objek keras di sekitar sana menjadi tumbal peluru-peluru nyasar.

Tidak begitu lama, sayangnya.

Paspampres harus mengalah. Para personel terbaik kepresidenan yang kurang persiapan itu akhirnya gugur, dilibas total.

 

Pertempuran usai. Tak ada lagi yang dapat membatasi pasukan elit misterius tersebut dengan Mayjen Riyadi. Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya. Namun, dari cara mereka beraksi, terlihat jelas bahwa mereka amat profesional. Bukan kriminal kelas teri. Bahkan teroris pun tak pernah bergerak serapi dan secepat itu.

***

Di ruangan yang penuh dengan kertas dan dokumen tersebut, Riyadi dan ketiga utusan presiden bersembunyi. Hanya tinggal menghitung waktu hingga pasukan misterius mendobrak pintu dan menemukan mereka. Tiga utusan presiden, termasuk sang letnan, khawatir setengah mati. Mereka berdiri menghadap pintu seraya membidikkan senapan tanpa henti. Keganjilan sekecil apa pun akan langsung mereka tanggapi dengan kekerasan. Mereka bukannya takut akan kematian, mereka hanya takut takkan bisa membawa Riyadi keluar dari tempat tersebut. Mereka takut gagal mengemban tugas.

Di saat yang sama, Riyadi tampak santai. Ia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kecemasan. Padahal, ia sendiri tahu bahwa posisinya telah terpojok. Tak bisa maju, tak bisa mundur. Ia seakan telah siap menyambut maut.

“Kita seharusnya tak mendekam di ruangan ini, Jenderal. Sialan!” ujar sang letnan geram. “Mengapa Anda merekomendasikan kami bergerak kemari? Ini aneh sekali.”

“Ruangan ini sangat tersembunyi, teman-teman. Kalian telah melihat pintu masuknya kan? Warna dan teksturnya kusamarkan dengan tembok. Takkan ada orang yang menyadarinya,” papar Riyadi. “Lagipula, jalur masuk dan keluar dari rumah ini hanya satu: lewat depan. Itu tandanya kalian harus menembus pertahanan musuh dan itu tidak mudah.”

“Ugh, iya sih … ” sang letnan tak puas dengan jawaban Riyadi. “Tetapi kita tetap terpojok seperti tikus curut, Pak!”

“Santailah,” ujar Riyadi seraya agak tersenyum. Ia lantas berjalan menghampiri salah seorang anggota Paspampres di sana. “Bagaimana jika sebenarnya aku memang sengaja membuat kalian terpojok?”

Seketika itu semua terdiam. Tak ada kata, tak ada ucap. Hening. Kening para anggota Paspampres mengernyit. Mereka bingung, namun di saat yang sama mereka juga mencium bahaya, beraroma pengkhianatan.

Dugaan para anggota Paspampres benar.

Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Riyadi mencabut pistol dari balik celananya dan melepaskan tembakan ke arah sang letnan. Timah panas melesat, tak mampu diantisipasi. Sang letnan tertembak di bagian dada kirinya, langsung rubuh dari tempatnya berpijak. Belum mati, hanya lengah.

Serangan berlanjut. Riyadi melepaskan tembakan ke kepala anggota Paspampres yang berdiri di samping kanannya. Anggota Paspampres itu langsung tewas, kepalanya pecah tak berbentuk.

“BANGSAAAAT!”

Melihat kedua rekannya tumbang, anggota Paspampres terakhir langsung berusaha membidikkan senapannya.

Sayangnya, Riyadi tanggap. Ia sudah lebih dulu muncul di hadapan si anggota Paspampres terakhir dan meninju tenggorokan si anggota Paspampres dengan moncong pistolnya. Ia lantas menendang kemaluan si anggota Paspampres dengan kekuatan penuh.

Tak ada yang menyangka bahwa pria yang sudah berusia hampir enam puluh tahun itu masih sanggup bergerak begitu gesit. Tanpa keraguan, Riyadi lantas mengakhiri serangan jarak dekatnya dengan tembakan ke arah kepala. Si anggota Paspampres terakhir pun tumbang.

Kini tinggal Riyadi dan sang letnan Paspampres yang tersungkur menderita. Riyadi berjalan perlahan mendekati perwira muda nan malang tersebut. Ia tersenyum, seakan menebar harapan terakhir pada sosok yang tengah memburu napas.

“Je-Jenderal … mengapa?” tanya sang letnan terengah-engah.

Riyadi tak lekas menjawab. Ia tetap tersenyum, berupaya mencerahkan hati sang letnan. Tetapi tidak, ia tidak sedang menghibur siapa pun. “Mengapa kau pikir?”

Sang letnan tak sanggup merespon. Ia terbatuk-batuk, memuntahkan beberapa percik darah yang menggenang di rongga mulutnya.

“Kalian tahu apa kesalahan terbesar kalian?” tanya Riyadi lagi. Ia lantas terdiam selama beberapa saat, memberikan kesempatan bagi sang letnan untuk menjawab. Tapi tak ada tanggapan apa-apa dari perwira muda tersebut. “Kesalahan terbesar kalian adalah membiarkan Presiden Darsono bekerjasama dengan Amerika Serikat dan membiarkan Amerika bertindak sesukanya di sini. Aku sama sekali tak habis pikir, kalian benar-benar memberikan negara ini untuk orang asing.”

” … ” sang letnan masih membisu, menahan pilu yang merajang dadanya.

Riyadi pun terdiam, tak berucap selama beberapa saat, sekadar membayang-bayangi si letnan malang dengan tatapan sinis. Ia lantas tersenyum begitu lebar hingga tampak gigi-gigi depannya. Seketika ekspresinya berubah, berbinar-binar. “Ah, aku hanya bercanda, Letnan. Bagaimana dengan aktingku tadi? Sudah cukup meyakinkan, belum?”

“Je-Jenderal … bajingan kau. Mengapa kau melakukan ini?”

Riyadi tertawa lirih. Ia tertawa dan tertawa, sampai tak sanggup untuk berbicara. Kedua matanya bahkan mengucurkan airmata akibat tawa yang begitu deras, namun tetap terdengar lirih. Riyadi benar-benar misteri bagi siapa pun yang memandangnya.

“Sebenarnya tak ada alasan khusus kok,” kata Riyadi singkat. Ia lantas menghela napas panjang sebelum kembali berujar. “Aku hanya bosan, butuh hiburan. Itu saja.”

Tak lama kemudian, Riyadi mengarahkan moncong pistolnya ke kepala sang letnan.

BLAM! BLAM!

Tanpa menimbang-nimbang, Riyadi menarik pelatuknya sebanyak dua kali, langsung membuat sang letnan meregang nyawa. Dengan demikian, berakhirlah perjuangan Paspampres di rumah rahasia tersebut. Mereka gagal total, dikhianati oleh sosok yang semestinya mereka bawa.

Riyadi menarik napas panjang seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Ia merasa bebas, merasa bahagia. Udara malam seakan memeriahkan kemenangannya. Paling tidak, perasaan-perasaan itu akan menemani jiwanya untuk sementara waktu, memabukkannya dalam rentang waktu yang singkat.

Tak lama setelah Riyadi menumbangkan anggota Paspampres terakhir, pintu ruangannya didobrak oleh belasan anggota pasukan misterius. Mereka, para personel misterius, langsung merangsek masuk, mengecek sudut, dan berteriak-teriak agar semua orang yang ada di dalam ruangan segera menyerahkan diri.

Namun, teriakan-teriakan itu seketika pudar begitu para personel misterius mendapati tiga anggota Paspampres terakhir telah tergeletak tanpa nyawa. Satu-satunya yang masih berdiri dalam keadaan bugar adalah Riyadi.

“Jenderal … kau yang melakukan ini semua? Sendirian?” tanya salah seorang personel misterius. Merasa tak percaya dengan pemandangan di hadapannya.

“Mungkin ya, mungkin tidak,” ujar Riyadi. Ia enggan mengakui perbuatannya.

“Sekarang aku tahu kenapa kau dipanggil Insania di kalangan perwira militer. Kau benar-benar gila, Jenderal.”

Riyadi tertawa picik, lalu menyarungkan pistolnya kembali. “Apakah ini adalah pertama kalinya kalian melihat aku membunuh orang? Sudahlah, lebih baik bersihkan sisa-sisa pertempuran kalian. Tugas kalian di sini sudah usai. Kita tunggu hasil dari sisi lain.”

Misteri pada malam itu akhirnya terkuak. Pasukan misterius yang baru saja mengacaukan suasana ternyata merupakan jaringan militer bentukan Riyadi.

Gagak Hitam, namanya.

Pasukan rahasia itu terdiri dari anak-anak terbaik TNI, dipilih langsung oleh Riyadi. Mereka pernah digunakan oleh pemerintah untuk membantu aparat resmi, seperti pada saat operasi perburuan teroris di Poso. Singkatnya, mereka diakui pemerintah, namun kendali teknisnya hanya Riyadi yang tahu.

Meskipun pernah dianggap heroik, namun tugas Gagak Hitam malam itu justru menunjukkan sebaliknya. Malam itu, mereka disebar untuk menculik para jenderal yang menempati posisi strategis, termasuk Riyadi. Meski demikian, Riyadi tak benar-benar diculik, hanya dicitrakan seakan-akan diambil paksa dari Paspampres.

Dalam kata lain, Riyadi sudah merencanakannya. Mendalanginya. Ia tak ingin memberikan akses bagi Darsono untuk mengganti posisi Brigjen Dharma sebagai kepala DSN.

Kepala jenderal gila itu terlalu kotor. Dialah yang akan membuka potensi kekacauan di dalam LARAS.

***

Rencana Mayjen Riyadi berjalan mulus. Satu-persatu, para jenderal yang menduduki posisi strategis negara diculik. Tak cukup sampai di sana, jenderal-jenderal purnawirawan yang masih berpengaruh pada iklim politik di Indonesia pun diculik. Riyadi benar-benar ingin menutup akses presiden dari para perwira berpengaruh. Tentu saja, penculikan yang didalangi olehnya tidak sama dengan penculikan G30S/PKI, melainkan hanya menyembunyikan keberadaan para jenderal di suatu tempat agar Presiden Darsono tak mampu menghubungi mereka.

Satgas Gagak Hitam sendiri mampu menyapu lawan-lawannya dengan mudah dan cepat. Pengawal para jenderal yang terdiri dari orang-orang pilihan Polri dan TNI bahkan tak sanggup menahan derasnya arus serangan Gagak Hitam. Formasi yang rapi dan taktik yang mumpuni bahkan sanggup menggoyahkan pertahanan orang-orang yang berasal dari unit antiteror legendaris, seperti Sat-81 Gultor. Selain itu, para individu Gagak Hitam juga dibekali kemampuan tempur yang eksepsional. Mereka mampu mengantisipasi serangan lawan bahkan ketika mereka harus bergerak superlincah, kemampuan yang hampir serupa dengan subjek-subjek Project SAKTI.

Mungkin kemampuan itulah yang membuat Kapten Johan dan Serka Citra kemudian ditarik dari Gagak Hitam untuk membekuk Adam.

Salah satu perwira yang malam itu disambangi oleh pasukan bengis Riyadi adalah Panglima TNI. Namun, berbeda dengan jenderal-jenderal yang lain, Panglima TNI hanya didatangi oleh satu orang. Meski begitu, satu orang tersebut berhasil menumbangkan sekitar dua puluh orang pengawal. Sendirian. Dengan tangan kosong. Lebih mengerikan lagi, seluruh rangkaian serangan dilakukan dalam gelap akibat padamnya listrik di rumah panglima.

Kemampuan di atas normal satu orang ini bahkan sampai membuat panglima dan keluarganya ketakutan. Bagaimana tidak? Pengawal panglima yang tadinya ada banyak kini tinggal tiga orang. Belum pernah ada orang yang bisa melakukan itu sepanjang hidup panglima, seakan-akan orang tersebut telah kehilangan batasannya sebagai manusia.

Terang saja, musuh Panglima TNI malam itu bukan orang biasa, melainkan mantan subjek rahasia pemerintah. Subjek paling berbahaya sejagat Nusantara, bahkan jauh lebih berbahaya daripada Adam Sulaiman. Jurig, nama panggilannya. Subject 01, nama resminya. Ia merupakan subjek Project SAKTI yang paling pertama. Malam itu, ia sengaja menyamarkan identitasnya dengan mengenakan wig keriting.

Meski begitu, panglima tidak tahu siapa dirinya, tidak pula bisa menginderakan dengan jelas wujud aslinya. Panglima hanya bisa mengira-ngira wujud Jurig di dalam gelap. Tinggi, besar, dan berambut keriting, hanya itu yang panglima tahu. Setiap upaya pengadaan cahaya selalu diintervensi oleh Jurig, tak pernah ada yang berhasil menyalakan lilin atau senter untuk sekadar menerangi ruangan. Sepertinya Jurig sendiri tak ingin wujud aslinya terlihat jelas, biarkan tetap saru walau telah menyamar.

Lawan Jurig tinggal tiga orang. Dan ketiganya baru saja kehilangan senjata untuk melawan balik. Jurig sengaja melucuti ketiganya untuk memberikan kesempatan. Ia tak ingin ada nyawa yang melayang secara sia-sia.

“Minggir … ” ujar Jurig dingin. “Aku tak ada urusan dengan kalian. Aku datang kemari hanya untuk menjemput Jenderal Fadly.”

Ketiga pengawal Jenderal Fadly terdiam selama beberapa saat. Bingung. Mereka tahu bahwa perlawanan mereka akan sia-sia, tetapi mereka tak ingin mengkhianati ekspektasi sang atasan. Mereka ditugaskan di sana untuk melindungi Panglima TNI dari segala macam gangguan, sekalipun nyawa yang menjadi taruhannya.

Tanpa berpikir panjang, ketiga pengawal segera mengambil kuda-kuda bertarung. Mau tak mau. Jika tak ada senjata yang bisa mereka gunakan untuk melawan Jurig, mereka harus menggunakan kemampuan beladiri untuk menangkal ancaman. Mereka menantang Jurig, berupaya menyelamatkan harga diri mereka sebagai pengawal panglima.

Jurig mendesah jengkel. “Baiklah, jika itu yang kalian mau. Maju sini,” tantangnya.

Ketiga pengawal langsung menimbang-nimbang dan memperhitungkan celah yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk menyerang Jurig. Mereka maju perlahan-lahan sambil menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Sayangnya, tak ada satu pun gertakan yang membuat Jurig merasa terintimidasi, bahkan tidak untuk sekadar membuat pria monster itu bergerak.

Akhirnya, ketiga pengawal memutuskan untuk menyerang Jurig secara bersamaan. Mereka merangsek maju begitu merasa yakin bahwa mereka akan dapat menumbangkan Jurig. Pukulan dan tendangan keras dari ketiga orang yang berbeda pun dilepaskan pada satu waktu yang sama. Mereka berharap pengeroyokan itu akan memberikan dampak yang signifikan.

Tetapi tidak. Tidak semudah itu.

Ketiga pengawal mungkin saja merupakan ahli beladiri, tetapi lawan mereka kali ini bukanlah orang yang mudah untuk ditaklukkan. Serangan cepat dan keras yang mereka luncurkan berkali-kali tak jua membuat Jurig lengah. Semuanya ditangkis. Ditepis. Diblokir. Jurig mengantisipasi semua serangan yang datang kepadanya, ia bahkan tak sedikit pun mundur dari posisinya berpijak.

Ketiga pengawal pun kehabisan akal. Serangan mereka menjadi amat monoton. Di saat itulah Jurig menyerang balik, ia sudah jemu berhadapan dengan para amatir.

Setelah berhasil menciptakan jarak dengan ketiga lawannya, Jurig melepaskan tinju kerasnya kepada pengawal pertama. KRAAAK! Pukulannya langsung membuat rahang dan sebagian tengkorak sang pengawal remuk. Jurig lantas melanjutkan serangannya, ia menendang tubuh sang pengawal dengan kekuatan penuh. Sang pengawal langsung terpelanting dari tempatnya berdiri, tendangan Jurig bahkan terasa hingga ke tulang punggung. Beberapa tulang torsonya juga mungkin remuk.

Pengawal pertama pun rubuh. Jurig bergegas mengalihkan fokusnya pada pengawal kedua.

Jurig mendaratkan beberapa pukulan dan tendangan cepat pada tubuh pengawal kedua. Sang pengawal sampai lemas, ia hampir gagal jantung akibat menerima pukulan superkeras di mana-mana. Jurig tak peduli, ia langsung menendang sisi lutut sang pengawal dan membanting sang pengawal ke atas ubin hanya dengan satu cekikan. BRAAAK! Sang pengawal tersungkur dan lehernya terentak keras oleh cekikan Jurig. Mati.

Nasib pengawal ketiga juga tak berbeda jauh dengan kedua temannya. Baru saja ia akan menyerang, tiba-tiba Jurig memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya setinggi kepala. Tendangan berputar tersebut terjadi begitu cepat. Terlalu cepat. Sang pengawal bahkan tak sempat menilai apa yang telah terjadi kepadanya. Tengkoraknya remuk dan otaknya berguncang hebat begitu dihantam oleh tumit Jurig. Ia pun terjatuh dan tak sadarkan diri. Mati.

Jurig mendulang kemenangan seorang diri, namun tak terlihat bahagia. Wig-nya terjatuh. Kepala pelontosnya terekspos. Apakah jati dirinya ketahuan? Jika ya, maka nama baik Mayjen Riyadi akan dipertaruhkan. Riyadi akan dituduh sebagai pelaku makar karena beberapa orang di pemerintahan tahu bahwa ia ‘memelihara’ subjek berkepala pelontos dari Project SAKTI.

Jurig terdiam sejenak, ia tetap berdiri sebagaimana mestinya. Di belakangnya telah berjejer puluhan tubuh pengawal yang mati. Pertanyaannya adalah apakah Fadly bisa melihat segalanya? Fadly hanya berjarak antara 10-20 meter di hadapannya. Ada potensi Fadly bisa melihatnya sebagaimana ia bisa melihat Fadly. “Kau bisa melihatku, Jenderal?” tanyanya memastikan.

Fadly terenyak. Ia terkejut mendengar suara Jurig yang berat. “Di mana kau!? Ja-jangan sakiti aku! Ku-kumohon! Kita bisa berbicara secara baik-baik dan menyelesaikan semuanya.”

“Istri dan anak Anda, tidak bisa melihatku?”

Jurig menyaksikan kebingungan di hadapannya. Istri dan putra tunggal Jenderal Fadly menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengecek keberadaan Jurig. Mereka lantas mengatakan ‘tidak’ dengan suara yang amat lirih. Jurig bisa mendengarnya.

Aman. Jurig tak terinderakan oleh Fadly dan keluarganya. Ia pun merunduk dan mengambil wig-nya kembali. Rambut palsu keriting itu ia kenakan lagi untuk menyamarkan identitasnya.

“Hei! Kau masih di situ kan!? Ja-jangan main-main!” seru Jenderal Fadly gelagapan. Ia merasa kehilangan kontak dengan musuhnya.

“Saya di sini,” jawab Jurig singkat. Ia lantas berjalan mendekat agar bisa sedikit terinderakan oleh Fadly dan keluarganya.

Jenderal Fadly terdiam sejenak. Kini ia bisa melihat musuhnya sedikit lebih jelas. Paling tidak ia bisa melihat wujud manusia berdiri di depannya. “Ka-kalau kamu mau uang, ambil saja di brankas. Jangan lukai keluarga saya.”

“Saya tidak tertarik dengan uang Anda, Jenderal. Tidak pula tertarik dengan keluarga Anda. Saya ke sini hanya untuk menjemput Anda.”

“Hah!? Menjemput saya!? Untuk dibawa ke mana!? Kamu siapa sebenarnya!?”

“Tidak penting.”

“Siapa pun yang menyuruh kamu, saya akan balas perbuatannya! Kamu sudah melakukan kejahatan besar terhadap pejabat negara! Puluhan pengawal saya mati, kamu bakal dibalas dengan hukuman yang seberat-beratnya.”

Jurig tak merespon. Ia malah mencabut pistol dari balik mantelnya, pistol yang sama sekali belum ia gunakan sejak pertama kali menyambangi rumah panglima dengan kasar. “Ikut saja, Jenderal. Gertakan Anda tidak membuat saya takut. Lagipula, saya tidak tertarik untuk merenggut nyawa Anda, nyawa keluarga Anda, atau harta Anda. Saya cuma mau Anda ikut. Kalau Anda patuh, saya akan menjamin keselamatan Anda. Anda hanya akan diputus koneksinya dari presiden selama beberapa saat.”

“K-kau … ” Fadly terdiam sejenak. Ia terheran mengapa pria keriting di hadapannya mau memutus jalur komunikasinya dengan presiden. “Kalau hanya untuk memutus komunikasi dengan presiden kan tidak harus menahan saya di suatu tempat.”

“Harus.”

Fadly tak lagi memiliki argumentasi yang kuat untuk berkilah, apalagi setelah mendengar bunyi ‘klik’ yang cukup jelas. Ia tahu Jurig sedang mencoba mengancam nyawanya atau nyawa keluarganya dengan senjata api. Tanpa berpikir dua kali, ia pun meminta kepada seluruh anggota keluarganya untuk merelakan kepergiannya. Ia tak ingin ambil resiko, apalagi setelah menyaksikan puluhan pengawalnya tergeletak tak bernyawa. Istrinya, anak-anaknya, seketika menangis tersedu-sedu. Mereka takut sosok yang selama ini dianggap sebagai ujung tombak keluarga akan hilang begitu saja.

Akan tetapi, Jurig meyakinkan istri dan putra Fadly bahwa ia menjamin keselamatan Fadly. Dan ia berjanji akan memulangkan Fadly dalam kondisi yang sama pada saat Fadly dibawa. Meskipun Jurig sangat mengerikan, bahkan mampu menewaskan puluhan pengawal profesional dengan tangan kosong, namun ia tak sampai hati membiarkan orang-orang lemah ikut menanggung beban. Ia ingin memastikan bahwa Fadly dibawa hanya untuk disembunyikan.

Setelah proses negosiasi yang cukup alot, keluarga akhirnya merelakan Fadly pergi. Jenderal bintang empat tersebut lantas mengikuti ke mana Jurig berjalan. Ia melangkahi jasad para pengawalnya, sesekali menatapi mereka dengan iba. Sementara itu, istri Fadly bergegas mengambil telepon dan berusaha menghubungi seseorang, entah siapa.

Panglima dibawa tanpa sedikit pun goresan. Jurig menepati janjinya.

***

Istana Negara, Jakarta
01.21

Seseorang masuk ke dalam ruangan kerja presiden secara tergesa-gesa. Ia adalah anggota intelijen yang ditugaskan di istana. Tindak-tanduknya membuat siapa pun yang berada di dalam ruang kerja presiden terperanjat, panik. Darsono sampai mengernyitkan kening, lantas menghentikan percakapannya dengan beberapa staf kepresidenan di sana.

“Hei, Nak. Ada apa? Kok tergesa-gesa seperti itu?” tanya Darsono dengan perasaan yang agak jengkel.

“Gawat, Pak! Gawat … ” tukas si anggota intelijen terengah-engah.

Para staf kepresidenan dan sejumlah anggota Paspampres menegang. Mereka jadi penasaran.

“Ada apa? Ayo, tenangkan dirimu. Ceritakan dengan jelas apa yang terjadi,” Darsono tak ingin mengintimidasi sang pria. Ia pun bertanya dengan nada yang lebih lembut.

“Saya dapat kabar dari teman-teman intelijen di seluruh Jakarta … ” si anggota intelijen menelan ludahnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. “Semua jenderal strategis yang Anda minta datang ke istana hilang. Diculik. Pengawal mereka disapu bersih. Tak tahu oleh siapa.”

“HAH!?”

Darsono dan sejumlah staf kepresidenan terperanjat untuk yang kedua kalinya. Mereka tak memiliki baris terbaik untuk merespon kabar pahit tentang hilangnya seluruh jenderal. Para anggota Paspampres di sana pun merasa tak nyaman, mereka langsung mondar-mandir seraya bertukar spekulasi dengan sesamanya.

“Sama sekali tak ada yang tersisa? Jenderal yang saya minta datang kan ada banyak. Masa tidak ada satu pun yang tersisa!?” protes Darsono, mencoba berkelit dari fakta.

“Tidak ada, Pak! Semuanya hilang, termasuk Mayjen Riyadi!”

Darsono mengerat gigi-giginya. Ia tak menyangka akan terjadi penculikan terhadap para perwira penting yang bisa menjadi kunci digantinya Brigjen Dharma sebagai kepala DSN. Ia sama sekali tak menyangka bahwa lawannya begitu serius mempersiapkan segalanya untuk memicu kekacauan di dalam LARAS.

“Satu subjek Project SAKTI mampu melakukan itu semua? Gila!” bisik Darsono jengkel. Ia menduga bahwa rangkaian serangan yang terjadi pada malam itu diorkestrakan oleh subjek terakhir Project SAKTI.

“Tidak, tidak, tidak. Ini tidak benar. Aku tak bisa membiarkan si bangsat itu mengacak-acak proyek kita di dalam LARAS!” tukas Darsono seraya berjalan mondar-mandir. Ia lantas terdiam, menatapi seluruh stafnya di sana. “Aku butuh berkomunikasi dengan orang-orang di dalam LARAS! Sekarang!”

Para staf kepresidenan langsung bergerak mendengar perintah sang atasan, termasuk para anggota Paspampres dan si pengirim pesan. Malam itu, presiden takkan memejamkan matanya, ia akan melindungi LARAS berapa pun harga yang harus ia bayar. Proyek itu terlalu berharga untuk kelangsungan hubungan baik antara Indonesia dan Amerika Serikat. Statusnya sangat sensitif. Nilainya terlalu besar.

Darsono hanya tak menyadari bahwa seluruh kegilaan yang terjadi di malam itu justru didalangi oleh tangan kanannya sendiri.

***

01.01
Beberapa menit sebelum kepanikan di Istana Negara

Subject 17 mematikan alat perekamnya. Ia berhasil mengabadikan suara Dharma untuk dijadikan instrumen provokasi. Naskah-naskah yang baru saja dibaca oleh Dharma langsung dibuang ke atas lantai, dibiarkan terserak begitu saja. Entah ada berapa banyak naskah yang Subject 17 buat, namun kelihatannya ada puluhan naskah. Ia sengaja menulisnya untuk memprovokasi DSN di dalam LARAS.

Dharma mendesah panjang. Napasnya terdengar tak beraturan. Wajah dan tubuhnya penuh dengan lebam dan luka. Hebatnya, ia belum mati. Subject 17 sengaja membuatnya tetap hidup, karena ia membutuhkan Dharma sebagai subjek provokasi. Dharma tampak sudah pasrah diperlakukan tidak baik oleh musuhnya, tetapi kini ia sadar mengapa dirinya bisa terjebak dalam kegilaan tersebut.

“Kau sudah membaca semua naskahku, Jenderal … ” ujar Subject 17. “Sekarang kau paham akan dosamu kan?”

Dharma tak lekas menjawab, ia sedang berusaha mengatur napas. “Karena Indonesia bekerjasama dengan Amerika Serikat … ”

“Tidak. Tidak seumum itu. Aku tidak ada masalah dengan kerjasama Indonesia-Amerika secara umum. Yang kupermasalahkan adalah kerjasama kalian untuk mengendalikan subjek Project SAKTI. Kau tidak berpikir bahwa Indonesia akan mendapatkan bagian untuk mengendalikan saudara-saudaraku secara penuh kan?”

“Tidak … kita pasti dapat bagian. Lihatlah Johan, dia ‘memelihara’ Tenma sekarang … ” ujar Dharma luruh.

“Ya, sampai berapa lama!? Kau pikir Johan akan selamanya bersama dengan Tenma!? Tenma ‘dipinjamkan’ kepada Johan untuk menangkap Adam! Tidak ada jaminan bahwa Johan akan menjadi rekan Tenma seumur hidupnya!” tukas Subject 17. “Lihat saja, Jenderal … kalau proyek modifikasi ingatan di dalam LARAS sudah selesai dan seluruh saudaraku sudah bisa beroperasi secara penuh, mereka akan digunakan untuk kepentingan Amerika Serikat!”

” … ”

“Ingatlah, Jenderal! Coba diingat-ingat! Siapa yang punya ide untuk memulai proyek di dalam LARAS!? SIAPA!?” Subject 17 berteriak tepat di depan wajah Dharma.

“Amerika … CIA … ”

Subject 17 mundur beberapa langkah dari tempatnya seraya mengangguk-angguk penuh rasa jengkel. “Sekarang kau sudah sadar kan? Semua pekerjaan yang berkaitan dengan LARAS adalah kemauan Amerika. Dananya dari Amerika. Idenya dari Amerika. Amerika pula yang ingin mengaplikasikan MKULTRA model baru dan berkeinginan keras untuk ‘mencuri’ super-soldier Project SAKTI. Kalian semua hanya dimanfaatkan oleh Amerika untuk membantu mereka. Kelak, ketika saatnya tiba, kalian semua akan disikat seperti cecunguk!” serunya.

“Kau … bagaimana kau tahu sampai sejauh itu?”

“Kolonel Hanif, salah satunya. Temanmu yang kuhajar di Maroko. Ia sudah mati sekarang.”

“Ugh … ”

Sesaat kemudian, suasana pun menyepi. Tak ada kata, tak ada ucap. Semilir angin yang menembus ventilasi sebesar penggaris di ruangan tersebut adalah satu-satunya bahasa yang menyatukan kesunyian. Subject 17 masih meredakan amarahnya, Dharma masih meredakan rasa sakitnya.

“Aku tak punya banyak waktu, Jenderal … ” ujar Subject 17 sesaat setelahnya. Ia lantas mengambil ponsel dari dalam sakunya. Bukan ponselnya, tetapi ponsel Dharma. “Aku ingin kau segera menghubungi anak buahmu di dalam LARAS sebagaimana yang telah kita sepakati bersama. Siapa namanya di phonebook?”

“Kapten Rahman … mantan Kopassus … dia yang bertanggung jawab di dalam LARAS … ”

“Mana Kapten Rahman? Tidak ada yang namanya Kapten Rahman di phonebook ponselmu! Semuanya pakai sandi! Apa nama sandinya!? Aku tak punya banyak waktu untuk bermain-main, Jenderal!”

“A41 … A41 … ”

Cih, bukannya dari tadi … ” Subject 17 menemukan kontak yang Dharma maksud. Ia langsung menekan tombol call, menghubungi sang kapten tanpa keraguan. “Nih, bicaralah dengannya. Katakan apa yang telah kita sepakati bersama.”

Subject 17 menempelkan ponsel yang ia pegang pada telinga Dharma. Terjadilah kontak antara Dharma dan anak buahnya tak lama setelahnya.

“Ketua … ada apa menelepon?” tanya seseorang di seberang telepon.

“Kapten, aku mohon bantuanmu. Aku tak punya banyak waktu.”

“Ketua … kau kenapa? Aku bisa mendengar tekanan pada suaramu. Kau terdengar stress dan lemah. Apakah perlu kulacak posisimu sekarang?”

“Tidak, tidak! Jangan lakukan itu! Itu akan membahayakanku!”

“Ke-Ketua … ada apa?”

“Dengarkan aku, Kapten! Aku perlu kau mengambil dead-drop [1] di ordinat 265.0, 201.7. Aku ingin kau mengambilnya dan mendistribusikan kontennya kepada seluruh anggota DSN di dalam LARAS. Secara rahasia.”

NB: [1] objek kiriman yang diletakkan di suatu tempat untuk diambil oleh pihak-pihak tertentu.

“Ketua, apakah kau baik-baik sa—”

“KAPTEN! INI PERINTAH!” Dharma meninggikan suaranya, memuntahkan segala energi yang tersisa untuk meneriaki anak buahnya. “Aku tidak mau kau berpikir macam-macam! Kau tidak perlu tahu di mana dan bagaimana keadaanku. Tugasmu hanya dua: ambil dead-drop dan distribusikan isinya kepada seluruh anggota DSN di LARAS atau kita semua akan mati!”

“Ba-baik, Ketua. Maafkan aku.”

“Semua harus kau lakukan secara rahasia. Pastikan … pastikan tak ada orang yang membuntutimu, terutama orang-orang Amerika … ”

“Ba-baik, Ketua. Laksanakan.”

Komunikasi pun diputus. Subject 17 segera melempar ponsel Dharma ke atas lantai dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Tak boleh ada yang melacak keberadaan ponsel tersebut. Dan hancurnya ponsel tersebut akan menghentikan proses triangulasi [2] di suatu tempat.

NB: [2] salah satu teknik pelacakan sinyal komunikasi

Subject 17 dan Dharma lantas saling melemparkan tatapan. Dharma sudah pasrah. Mau apa lagi? Ia tak punya daya maupun upaya untuk melawan. Ia sudah menunaikan ‘kewajibannya’, sekarang hanya tinggal menunggu maut.

“Kalau kau mau membunuhku, lakukan dengan cara yang paling tak menyakitkan. Aku mohon,” rengek Dharma.

“Oh, aku akan melakukannya … ” Subject 17 bergegas mengambil jaketnya. “Tapi aku ingin memastikan bahwa rencanaku benar-benar berhasil. Jadi, kau tetap akan menjadi ‘hewan peliharaanku’ sampai aku mendapatkan apa yang kumau.”

Subject 17 melambaikan jari-jari lentiknya seraya berjalan menjauhi Dharma. Ia mengucapkan selamat tinggal, lalu meninggalkan ruangan ruangan lembab tersebut tanpa sedikit pun rasa iba. Pintu ruangan lantas ditutup rapat-rapat, kemudian dikunci hingga terdengar entakan-entakan logam yang khas. Dharma ditinggalkan begitu saja, pria tangguh itu dibiarkan bercumbu dengan kesepian malam.

***

Ini adalah Brigjen Dharma Syafi’i, berbicara langsung kepada Anda, teman-teman DSN yang saya tugaskan di dalam Laboratorium Rahasia PIN …

Rekaman telah tersebar kepada seluruh anggota DSN yang ditugaskan di dalam LARAS. Hanya dalam beberapa jam, pesan telah diterima oleh seluruh personel DSN secara rahasia. Pesan itu disebarkan melalui instrumen komunikasi yang terenkripsi secara ketat. Hanya anggota DSN yang menerima rekaman tersebut, tak ada yang lain.

Kalau Anda mendengar pesan ini, saya mungkin sudah hilang atau bahkan sudah mati. Oleh karenanya, sebelum saya kehilangan kesempatan, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa fakta yang mungkin akan mengejutkan Anda sekalian …

Baris tersebut sontak membuat bulu kuduk para pendengarnya merinding. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Brigjen Dharma? Mengapa Brigjen Dharma mengatakan seakan-akan dirinya sedang berada dalam bahaya? Para personel DSN menyiapkan mental untuk mendengarkan rangkaian pesan yang mungkin lebih menakutkan.

Pertama-tama, ketahuilah bahwa ada yang merencanakan penculikan terhadap saya. Profesional. Saya tidak bisa menjamin saya akan selamat karena para pengawal DSN baru saja dilibas tanpa kesulitan. Saya sedang melarikan diri, saya satu-satunya yang selamat. Itulah kenapa saya mengatakan bahwa saya mungkin sudah mati ketika Anda mendengar rekaman ini.

Kedua, saya dan jaringan intel kepercayaan baru saja menemukan fakta yang amat pahit terkait rencana penculikan terhadap saya. Dan sayangnya, ini juga terkait dengan keberadaan Anda di dalam LARAS …

Kening para personel DSN mengenyit. Jiwa-jiwa yang tenang sontak menegang. Ekspresi tak nyaman mulai tampak di wajah sebagian personel. Pertanyaan demi pertanyaan pun menyeruak dalam benak.

Jaringan intel saya menemukan fakta bahwa rencana penculikan ini adalah untuk upaya melemahkan posisi DSN di dalam LARAS. Kita adalah salah satu unit terkuat di sana, dan seseorang tampaknya tidak menyukai hal tersebut. Ada pihak-pihak yang serakah ingin menguasai subjek-subjek Project SAKTI sendirian. Anda sepertinya sudah bisa membayangkan siapa aktornya …

Kecurigaan meningkat tajam. Para personel DSN mulai mencuri-curi pandang kepada beberapa unit penjaga yang ada di dalam LARAS. Tatapan seringkali tertuju kepada unit-unit khusus Amerika Serikat, khususnya unit khusus kiriman CIA. Sebab, siapa lagi yang punya rekam jejak menusuk kawan dari belakang? Begitu pikir mereka.

Amerika. Mereka tampak manis di depan, tetapi ketika saatnya tiba, Anda akan dilibas seperti kecoak. Mereka akan melakukan apa pun untuk mencuri subjek-subjek Project SAKTI dari tangan kita dan tak menyisakan apa-apa untuk negara kita. Mereka sangat berambisi untuk memiliki tentara super seperti subjek Project SAKTI dan mereka takkan ragu menggunakan cara kotor untuk mendapatkannya. Hari ini boleh saja mereka berteman dengan Anda, tapi esok mereka akan berkhianat …

Angin dingin seakan berembus, menegakkan bulu roma yang terlelap. Para personel DSN langsung meningkatkan kewaspadaan. Mereka sadar bahwa mereka bisa disingkirkan kapan saja dan mereka takkan membiarkan hal itu terjadi. Sementara untuk proyek yang sedang berjalan di dalam LARAS … mereka tak rela jika proyek itu jatuh ke tangan Amerika secara penuh. Mereka akan melindungi aset-aset proyek tanpa keraguan dan menyingkirkan pengkhianat, jika mereka punya kesempatan.

Rencana penculikan terhadap saya bertujuan agar saya diganti dengan komandan yang lebih lembek dan Anda akan dipulangkan, kemudian diganti dengan pasukan yang lebih muda dan lebih lemah. Dengan begitu, salah satu penghalang Amerika untuk menguasai proyek secara penuh akan hilang. DSN mau dihilangkan dari LARAS …

Jantung berdegup kencang. Situasi menegang. Masing-masing personel DSN lantas membuka kunci senjata agar mudah untuk memulai penyerangan. Pertanyaannya adalah kapan? Tak ada yang tahu. Yang pasti, tak butuh waktu lama hingga komandan DSN di dalam LARAS memerintahkan teman-temannya untuk melepaskan tembakan. Ia sedang menimbang-nimbang.

Perintah saya sederhana … hajar pasukan Amerika di sana. Manfaatkan elemen kejut dan jebakan. Dan saya mohon, bebaskan semua aset proyek di dalam LARAS, termasuk Adam Sulaiman. Jika Anda sudah selesai, akan ada orang yang membawa aset-aset tersebut ke suatu tempat, saya telah menghubungi beberapa orang terpercaya untuk melakukannya.

Saya mohon … ini untuk kebaikan negara kita. Jika saya punya kesalahan, mohon dimaafkan. Ini mungkin menjadi perintah terakhir saya sebagai kepala DSN. Salam.

Para personel DSN mencari tempat yang tepat untuk berduka. Mereka tak kuasa mendengar suara terakhir sang atasan. Hati mereka bergejolak. Amarah berkobar-kobar. Akan tetapi, mereka juga bertanya-tanya, haruskah mereka menyerang? Apakah perintah dari ‘orang mati’ masih berlaku? Mereka terjerat dilema. Akan tetapi, loyalitas mereka kepada Brigjen Dharma sebenarnya telah membuat mereka yakin akan satu hal …

Hajar.

***

Hotel Sangkuriang, Jakarta
02.11

Beberapa kilometer dari tempat berdirinya Laboratorium Rahasia PIN, terdapat sebuah hotel bintang lima yang tinggi menjulang hingga hampir mencakar langit. Di sanalah Subject 17 menginap. Ia kini berdiri di balkon kamarnya seraya mengamati LARAS menggunakan teropong militer. Ia tak bisa melihat apa yang terjadi di dalam LARAS, tentu saja. Ia sedang menantikan kekacauan, lebih tepatnya.

Beberapa jam sebelumnya, Subject 17 meletakkan alat perekam digital di sebuah gang, membiarkan alat itu tergeletak lusuh di antara tumpukan kotoran, sebelum kemudian diambil oleh empat orang personel DSN berpakaian preman. Alat perekam itu berisi ‘kata-kata terakhir’ Brigjen Dharma. Kemungkinan besar, rekaman itu sudah atau sedang didengarkan oleh seluruh personel DSN di dalam LARAS. Tujuannya adalah untuk provokasi, memengaruhi setiap personel untuk melakukan tindakan bodoh.

Subject 17 tak begitu yakin rencananya akan berjalan mulus, tetapi setidaknya ia masih memegang kendali atas Brigjen Dharma. Ia masih bisa menciptakan belasan atau bahkan puluhan jenis provokasi yang berbeda untuk mengacaukan LARAS dari dalam. Tujuan hakiki ia melakukan hal tersebut hanyalah untuk membebaskan Adam—Subject 09—dan Ara—Subject 03. Sisanya ia tak peduli. Ia hanya ingin menyelamatkan ‘keluarganya’.

Meski demikian, Subject 17 merasa tak nyaman. Ia merasa terlalu mudah untuk sampai ke tahap di mana DSN akan mengambil alat perekamnya. Awalnya ia sempat ragu bahwa DSN akan mengambil alat perekamnya, namun ternyata DSN benar-benar datang dan mengambil dead-drop yang telah ia letakkan di antara tumpukan kotoran. Hal itu menandakan bahwa DSN di dalam LARAS sama sekali belum mendapatkan kabar tentang diculiknya Brigjen Dharma dan belum mendapatkan perintah baru untuk mempertahankan LARAS.

Subject 17 merasa aneh. Ia pun menurunkan teropong militernya, tercenung bersama malam. Ada yang membantunya?

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!