20 – General’s Nightmare [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Tuban, Jawa Timur
07.04

“Verani, Patih, Nadia … aku pergi dulu ya. Misi ini terlalu penting untuk aku lewatkan. Kita tahu Adam tidak seratus persen baik dan sempurna, tetapi ia adalah keluarga kita, paling tidak begitulah anggapan kita selama ini … ” Subject 17 berdiri di hadapan ketiga kerabatnya, menyampaikan sedikit wejangan sebelum ia benar-benar pergi menyelamatkan saudaranya. Ia menenteng ranselnya yang gemuk, pertanda bahwa ia sungguh-sungguh mempersiapkan segalanya. Banyak peralatan yang ia bawa untuk mendukung operasinya.

“Ia meyakini sesuatu yang benar, ia mau melindungi kita semua dari suatu bencana. Aku takkan membiarkan keyakinan itu pupus begitu saja. Aku ingin tahu kebenaran apa yang sebenarnya disembunyikan oleh pemerintah dan aku membutuhkan bantuan Adam untuk mengetahuinya,” jelas Felicia.

Ketiga kerabat Subject 17 saling pandang. Ekspresi mereka tampak waswas, namun mereka juga tak ingin menghentikan niat Subject 17 untuk menerjang bahaya. Verani, misalnya, ia sangat mendukung rencana Subject 17. Hanya saja, sesekali muncul perasaan khawatir di dalam dadanya.

“Hei, Felicia … ” ujar Verani. “Aku mohon, pulanglah. Kau, Adam, dan Ara … pulanglah,” lanjutnya memohon. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak kuasa menatap mata kerabatnya.

Sesaat itu, semua pihak terdiam. Kata-kata Verani terdengar sangat emosional. Subject 17 pun terenyuh, ia jadi merasa berharga.

“Aku memang tak mengerti politik dan membenci sejarah kalian yang penuh darah. Akan tetapi … entah kenapa aku yakin kalian bisa menjadi keluarga yang baik,” jelas Verani.

Insya Allah, Ve. Aku akan membawa mereka pulang. Tunggulah selama beberapa hari,” jawab Subject 17. “Oh iya, aku perlu memberitahu bahwa misi ini kemungkinan akan memakan waktu satu atau dua minggu, tergantung dari seberapa cepat aku menyelesaikan masalah ini.”

“Seminggu? Apakah itu tidak terlalu lama, Mbak?” Nadia ikut bertanya.

“Itu hanya estimasi jika masalah yang kuhadapi ternyata sangat berat. Ingat, Nadia … aku akan berhadapan dengan kepala Detasemen Sandi Negara, pasukan elit yang paling dirahasiakan negara saat ini. Penjagaan terhadap Brigjen Dharma akan jauh lebih ketat daripada dugaanmu. Ia juga bukan orang bodoh, bukan lawan yang enteng.”

“A-aku mengerti, Mbak … ”

“Aku titipkan rumah ini kepada kalian. Seharusnya sih tempat ini sangat aman dan belum ditandai oleh pemerintah, jadi ekspektasiku kalian tak perlu khawatir akan didatangi aparat lagi,” jelas Subject 17. “Meski begitu, langkah preventif tetap diperlukan jika ada hal-hal yang tak diinginkan. Aku telah mengajari Nadia untuk mendeteksi bahaya dan apa yang harus kalian lakukan jika ada sesuatu yang tak diinginkan.”

“Oh, apa yang kau ajarkan kepada Nadia? Kok aku tidak tahu?” Verani merasa heran mengapa Nadia begitu diistimewakan untuk mendeteksi bahaya.

“Aku hanya mengajarinya cara mendeteksi tanda-tanda bahaya lewat CCTV. Kemarin malam kejadiannya, saat kau dan Patih sudah tidur. Mengapa kupilih Nadia? Karena ia pernah bekerja untuk PIN, paling tidak ia sudah mengerti dasar-dasar intelijen,” papar Subject 17. “Kalian tenang saja. Di Tuban ini ada semacam ‘satpam swasta’ yang bisa kita sewa untuk keperluan tertentu. Nadia sudah kuberikan nomornya jika ada apa-apa.”

Tiada tanggap terucap dari ketiga kerabat Felicia. Semuanya terdiam. Nadia yang terlihat paling memahami situasi, ia mengangguk-angguk dalam kebisuan. Ia sedang berusaha merajut mental, karena ia adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkan di rumah itu saat seluruh mantan subjek Project SAKTI pergi.

Tak lama kemudian, Patih merangsek dari tempatnya berdiri. Ia berlari, lantas memeluk bibi angkatnya begitu erat. Ia tak peduli jika pemandangan itu dianggap memalukan, ia hanya ingin mengekspresikan perasaan cintanya terhadap Subject 17.

“Bibi Felicia! Pokoknya Bibi harus pulang! Bibi harus mengajari aku beladiri lagi sampai aku jadi sejago Bibi atau Paman Adam!” seru Patih seraya membenamkan wajah pada perut Subject 17.

Awalnya Subject 17 terdiam, tetapi lama-kelamaan ia pun tersenyum dan melepaskan genggaman Patih yang begitu erat. Ia lantas berjongkok di hadapan anak didiknya, mengusap-usap kepala anak SMP bertubuh pendek tersebut. “Hei, Patih … aku tidak akan pergi sebelum kau bisa melindungi ibumu dengan benar. Kalau kau sudah jago, barulah kita boleh berpisah.”

“Ja-jadi … kau akan kembali ke sini kan?”

“Aku akan meminta kepada Tuhan agar aku bisa kembali ke sini. Kau tahu kenapa? Karena kau masih punya utang padaku, Patih: kau belum mengalahkanku. Kalahkan aku dulu, setelah itu barulah kita berbicara soal perpisahan,” tutur Felicia. “Apa pun itu, pokoknya lindungilah ibumu sampai aku kembali lagi ke sini.”

“Siap, Bi!” tukas Patih seraya menghormat di hadapan Felicia.

Beberapa saat kemudian, giliran Verani yang berpindah tempat. Wanita berambut ikal tersebut berjalan perlahan menghampiri tempat di mana Subject 17 berdiri. Ia sempat mematung selama beberapa saat, membiarkan Subject 17 memandanginya dengan heran. Namun, pertukaran tatap itu pun berubah menjadi sebuah adegan yang emosional. Verani akhirnya memutuskan untuk memeluk Subject 17.

“Aku merindukan keluargaku, tetapi keluargaku tidak merindukanku. Aku sudah pernah melewati masa-masa itu; masa-masa kesepian; masa-masa tanpa secercah harapan. Aku tak ingin melewati masa-masa itu lagi. Aku memang ingin kau menyelamatkan Adam, namun di saat yang sama aku juga tak ingin kau bernasib sama dengannya … ” Verani gemetar. Ia menahan tangis. “Jangan tertangkap. Aku mohon. Pulanglah. Semuanya harus pulang.”

Subject 17 pun tersenyum tipis. Ia sempat menepuk punggung Verani dua kali, lalu mendorong tubuh Verani perlahan menjauhi dirinya. “Kau sudah memintaku untuk pulang tadi. Aku mendengarnya, Ve. Kau tak perlu mengulangi permintaanmu. Lagipula, masih ada Nadia kok.”

“Ja-jangan ngomong gitu donk! Seakan-akan kau takkan pulang! Pokoknya harus pulang!” Verani mengusap kedua matanya, menghapus airmata yang tak mampu lagi terbendung.

“Iya, iya … ” ujar Subject 17 seraya tersenyum hingga tampak gigi-gigi depannya. Ia lantas menepuk pundak Verani. “Tenang saja, Ve. Jangan cengeng lah.”

“Kalau sudah tak ada lagi pesan yang ingin kalian sampaikan, aku pergi ya. Aku tak punya banyak waktu nih,” ujar Subject 17 lagi.

Ketiga kerabat Subject 17 pun terdiam, enggan merespon dengan ucapan. Patih dan Nadia mengangguk penuh keyakinan, mereka sudah ikhlas. Hanya Verani yang tampak terguncang, namun sesungguhnya ia pun telah meridoi rencana Subject 17.

“Hati-hati di jalan, Mbak. Semoga berhasil,” Nadia mengirim doa.

“Terima kasih, Nadia. Sudah, ya. Aku pergi dulu. Jaga diri kalian!”

Ketiga kerabat Subject 17 pun mengucapkan salam perpisahan. Mereka melambaikan tangan dan menitipkan harapan. Mereka tidak berpisah untuk selamanya, tentu aja, tetapi hanya untuk sementara waktu. Semoga saja demikian.

***

Komplek Grand Permata Cempaka
Jakarta
Kediaman Brigjen Dharma Syafi’i
19.02

Brigjen Dharma Syafi’i. Ia adalah salah satu sosok yang paling dihormati di kalangan personel intelijen. Jabatannya saat ini adalah sebagai kepala Detasemen Sandi Negara (DSN) yang belakangan sibuk membantu Polri dan TNI meringkus Adam Sulaiman dan menjaga beberapa instalasi rahasia negara. Jenderal bintang satu kepolisian tersebut dipilih menjadi kepala DSN karena kemampuan strategisnya yang mumpuni. Ia pernah menjadi perwira lapangan Densus AT-13 dan sering melakukan studi banding dengan perwira-perwira TNI, sehingga tak heran jika ia juga memiliki kemampuan militer yang tangguh.

Malam itu, ia sedikit lebih santai daripada biasanya. Terang saja, buronan nomor satu republik telah ditekuk oleh aparat, berkat bantuan DSN juga. Adam Sulaiman kini telah diamankan di LARAS, laboratorium rahasia PIN yang berlokasi di suatu tempat di Jakarta. Mengetahui kabar tersebut, Dharma bisa sedikit bernapas lega. Paling tidak, satu masalah besar telah tersingkirkan dari hidupnya.

Meski demikian, sebagaimana malam-malam yang lain, penjagaan terhadap dirinya tetaplah ketat. Para personel DSN pilihan disebar di seluruh sudut komplek untuk memonitor situasi sekitar. Mereka adalah semacam ‘paspampres’ yang ditugaskan untuk melindungi Dharma. Para personel ini dulunya aktif di pasukan khusus TNI, meskipun ada juga yang berasal dari lingkungan Polri dan Divisi Istimewa PIN.

Di DSN memang demikian, pangkat dan kesatuan asal sudah tak lagi jadi persoalan. Bayarannya juga tidak main-main. Itulah kenapa DSN bisa memersatukan TNI dan Polri di bawah satu payung yang sama dengan doktrin yang sama pula.

Namun, ketenangan itu seketika buyar ketika Dharma mendapati kerabatnya menghubungi. Kerabat sekaligus orang yang jabatannya jauh lebih tinggi darinya. Tidak, ini adalah atasannya sendiri, Mayjen Riyadi Supratman. Dharma tak berpikir dua kali untuk mengangkat teleponnya. Kalau Riyadi menelepon pasti ada situasi yang harus ia perhatikan.

“Riyadi … ada apa?”

“Halo, Dharma. Sedang bersantai?”

“Begitulah. Sesekali lah beristirahat, Adam kan sudah tertangkap. Ada apa menelepon malam-malam begini?”

“Ah, maaf mengganggu waktu rehatmu, sobat … ”

“Hei, jangan terlalu dipikirkan. Ini memang risikoku sebagai kepala DSN kan? Bekerja dan bekerja demi republik.”

Riyadi tertawa kecil. “Benar, benar. Aku sebenarnya hanya ingin menyampaikan satu atau dua pesan terkait situasi kita saat ini … ”

“Hmm, masih terkait dengan Adam?”

“Ya, masih terkait dengan anak itu,” Riyadi menjeda ucapannya. “Begini, kau sadar bahwa belum semua subjek Project SAKTI ada di tangan kita kan?”

Dharma terdiam sejenak. Merenung. “Ya, tetapi itu bukan masalah besar kan? Kita telah menangkap Adam di Jombang sepaket dengan saudarinya—”

“Itu bukan saudarinya, Dharma. Itu saudaranya.”

Kening Dharma berkerut. Ia mempertanyakan pernyataan sahabatnya. “Saudaranya? Apa maksudmu?”

“Yang kita tangkap di Jombang bersama dengan Adam itu bukan subjek perempuan berjilbab yang selama ini dibicarakan oleh Johan dan Hana. Yang kita tangkap itu laki-laki … ”

“Laki-lagi bagaimana? Jelas-jelas perempuan kok! Aku kan dengar suaranya juga … ”

“Haduh, kamu tidak memerhatikan lebih jelas ya? Itu androgyny, Dharma. Bukan perempuan. Bentuknya memang seperti perempuan, tetapi itu laki-laki,” jelas Riyadi. “Apa pun itu … kita jelas-jelas belum menangkap saudari Adam yang katanya sangat dekat dengan Adam.”

E, bangsat … ” kutuk Dharma dalam bisikan. “Jadi … kau meneleponku untuk apa? Apakah aku harus mengerahkan orang lagi untuk mengendus di mana subjek terakhir tersebut berada?”

“Jika kau bisa melakukannya, itu akan sangat bagus. Akan tetapi … ” tunda Riyadi. “Kau juga perlu mempertimbangkan langkah preventif.”

“Langkah preventif? Untuk apa?”

“Kau sadar bahwa kau memposting puluhan anak buahmu di LARAS kan? Kenapa kau pikir aku meneleponmu?”

Sekali lagi kening Dharma mengerut. Degup jantungnya membuncah seperti kesetanan. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres dari percakapan tersebut. “Apa sih yang sebenarnya ingin kau katakan? Ya, puluhan anak buahku memang kupasang di dalam LARAS, tetapi apa masalahnya?”

“Aduh, aku harus banget menjelaskan semuanya, ya?” tanya Riyadi seraya menghela napas panjang. “Subjek terakhir Project SAKTI yang belum kita tangkap itu semestinya tahu bahwa ia takkan bisa menembus sistem pertahanan LARAS. Beberapa subjek lain juga pernah mencobanya dan semuanya gagal. Jadi … ”

“Jadi?”

“Jadi, kemungkinan besar ia akan memilih cara lain untuk memporakporandakan LARAS dan menyelamatkan Adam dari sana. Salah satu caranya adalah dengan menanam mata-mata di dalam LARAS,” jelas Riyadi. “Tetapi, menanam mata-mata seperti itu butuh ketelitian tingkat tinggi dan waktu yang tidak sebentar. Jadi, mungkin ia akan memilih cara yang lebih ekstrem, tetapi lebih cepat: kendalikan salah satu pasukan yang diposting di LARAS.”

Seketika itu, kedua mata Dharma membelalak. Ia kini mengerti arah percakapan Riyadi. “DSN … ” bisiknya waswas.

“Ya. DSN adalah salah satu pasukan paling berpengalaman di dalam LARAS. Kalau si subjek terakhir berhasil menemukanmu … aku tidak bisa menjamin kau akan tahan dari permainannya. Cepat atau lambat ia, melalui perantaraan dirimu, akan mengendalikan DSN. Dan … rencana pemerintah untuk mengendalikan semua subjek Project SAKTI akan buyar begitu saja.”

“Keparat! Aku harus bertindak, kalau begitu!”

“Mudah-mudahan saja aku tak terlambat memberikan peringatan kepadamu, sobat. Aku juga telah memperingatkan komandan dari unit lain agar berhati-hati.”

“Bagaimana denganmu? Kau butuh anak-anak DSN, tidak? Kau juga pasti diburu lho!”

“Ah, tenang saja. Aku sudah punya langkah preventif sendiri. Ia takkan sanggup menembus pertahananku atau bahkan menemukanku.”

“Bagaimana kau bisa begitu percaya diri, Riyadi?”

“Kau tidak ingat ada dua subjek Project SAKTI yang siap mendukungku, Dharma? Tenang saja. Justru kau dan teman-teman yang harus khawatir.”

Dharma terdiam. Wajahnya menjadi penuh dengan kerut-kerut kekhawatiran. Para pengawalnya sontak menjadi ikut tegang. Mereka merasakan kegelisahan sang atasan.

“Dharma, aku akan coba mengirim salah satu subjek ke tempatmu untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu. Tetapi, kau juga harus punya rencana sendiri untuk bertahan atau melarikan diri.”

“Baik, baik … aku mengerti,” Dharma memijit-mijit keningnya. “Terima kasih telah memperingatkanku, Riyadi.”

Tak lama kemudian, Dharma pun mengakhiri percakapannya. Tangannya memegangi ponsel dengan gontai, lantas menatapi para pengawalnya satu-persatu. “Kita punya masalah, teman-teman … ”

“Ada apa, Ketua?” salah satu pengawal Dharma bertanya.

“Subjek terakhir Project SAKTI masih aktif dan ia merupakan teman dekat Adam. Jika kita tak segera membereskannya, LARAS akan berada dalam bahaya.”

“Oh, Tuhan … ” ujar pengawal Dharma. “Kita harus mengecek perimeter, kalau begitu!”

“Benar. Cek situasi sekitar! Gunakan radar khusus, thermal vision, sonar, atau apa pun untuk menemukan anomali di sekitar kita!” perintah Dharma kepada para bawahannya.

Para pengawal pun bergerak ke arah yang berbeda-beda. Ada yang menyiapkan rencana pelarian, ada yang menyiapkan peralatan untuk bertempur, ada yang melakukan deteksi bahaya, dan sebagainya. Namun demikian, ada satu orang pengawal yang justru menghampiri Dharma seraya agak berlari.

“Jenderal … maaf mengganggu,” ujar pengawal yang menenteng komputer tablet tersebut.

“Ada apa, Heri?”

“Maaf, Ketua. Sebenarnya aku sudah diperintahkan Kapten Rasyid untuk menemukan anomali sejak kau menelepon tadi … ”

“Lantas? Apa hasilnya?”

“Aku mendeteksi insect-cam di sekitar sini, berputar-putar di atas rumah kita. Sepertinya kita sudah dimata-matai sedari tadi, Ketua.”

Dharma membelalakkan kedua matanya. Jantungnya kembali berderap. Tegang. “Keparat … ” kutuknya. “Retas insect-cam itu, sekarang! Cari sumbernya!”

***

Riyadi meletakkan ponselnya di atas nakas. Wajahnya berseri-seri, ia tak tampak risau meskipun mengetahui kemungkinan bahaya yang akan datang kepadanya. Orang tua itu tampak santai. Ia lantas melipat kakinya dan mengangkat secangkir teh hangat yang telah terhidang di sampingnya. Ia pun meminum teh tersebut, menikmatinya laksana mengarungi senja di tengah kesunyian.

Tak lama, seseorang datang menghadap Riyadi. Laki-laki. Bertubuh tegap dan mengenakan mantel panjang sepaha. “Kau mau aku datang ke tempat Brigjen Dharma, Jenderal?” tanya lelaki tersebut.

“Kau?” Riyadi bertanya balik seraya mengangkat alis kirinya. Ia lantas tertawa kecil. “Kalau kau tidak berkeberatan silakan saja, tetapi tidak usah buru-buru. Kau baru saja bangun dari ‘mati surimu’ kan?”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Jenderal. Aku sudah sehat dan bugar, ingatanku juga sudah kembali seperti sedia kala. Kalau kau menginginkanku datang ke sana dan menangkap saudariku sendiri, aku akan melakukannya,” ujar sang pria misterius ketus. “Aku tidak peduli pada apa-apa lagi selain rencanamu terhadap ketegangan politik internasional belakangan ini.”

“Tak usah buru-buru lah, santai saja. Aku bisa memerintahkan Johan atau Citra untuk ke tempat Dharma kok. Mereka kan juga dikawal oleh dua mantan saudarimu … ” Riyadi menyandarkan punggungnya. “Lagipula, Dharma bisa menjaga dirinya sendiri. Dia dijaga oleh anak-anak terbaiknya. Tenang saja. Mati sebelas atau dua belas takkan jadi persoalan. Risiko jadi anggota DSN,” lanjutnya terkekeh.

Sang pria misterius yang berdiri di antara kegelapan itu terdiam. Ia menatapi Riyadi selama beberapa saat. Ekpresinya tak berubah, tetap dingin seperti sedia kala. “Kau memang sengaja ingin membiarkan temanmu menjadi bulan-bulanan, bukan begitu, Jenderal?”

Riyadi menatapi rekan misteriusnya. Tersenyum kecut. “Apakah itu jadi masalah bagimu?”

“Tidak sama sekali … ” ujar sang pria misterius spontan. “Aku justru senang jika teman-temanmu mampus.”

Riyadi tertawa kecil, lantas menyeruput tehnya kembali. Ia menunda ucapannya. “Aku sedang butuh hiburan dan dugaanku akan terjadi sesuatu yang sangat seru. Aku ingin menontonnya.”

Sang pria misterius mengembuskan napas panjang. Ia lantas berjalan ke titik yang lain, masih mengelilingi kegelapan. “Aku tidak peduli pada kegilaanmu, Jenderal. Aku hanya ingin tahu kapan momen besar yang kau janji-janjikan itu datang? Apakah ini adalah permulaannya, sehingga kau membangunkanku dari ‘mati suri’?”

“Sabarlah … ” ujar Riyadi santai. “Momen-momen besar itu akan datang, cepat atau lambat. Kau kubangunkan sekarang untuk ikut menilai kondisi yang sedang terjadi, karena situasinya mulai terasa intens. Saudara-saudaramu atau mungkin anak buahku sendiri akan mendatangiku untuk mencari jawaban; tentang Kampung Rimbun, tentang Operasi Antisakti, tentang segalanya. Mereka tahu aku yang punya jawabannya dan mereka mungkin akan berusaha membunuhku tentang apa yang kuketahui. Jadi … kau harus melindungiku untuk menyelamatkan apa yang telah kurencanakan selama bertahun-tahun.”

“Heh … melindungimu, ya?” sang pria misterius mencuat dari balik kegelapan, ia berjalan perlahan mendekati Riyadi. Kini wujud aslinya terlihat jelas, ia adalah seorang pria berkepala pelontos dan berwajah dingin. Ia melenggang, mendekati nakas, dan merenggut cangkir teh Riyadi tanpa izin. Yang lebih mengejutkan, ia menumpahkan sisa minuman yang ada di dalam cangkir di hadapan Riyadi. Sebuah tindakan yang sangat tidak hormat di hadapan seorang perwira tinggi.

“Aku di sini bukan untuk melindungimu. Aku bergabung dengan kawanan sirkusmu bukan untuk menyelamatkan siapa-siapa … ” ujar pria gundul tersebut. “Aku di sini untuk menyelamatkan kepentinganku, Jenderal.”

Riyadi terdiam, ia mengusap-usap bibirnya seraya menatapi si gundul berwajah bengis. Ia sama sekali tak tampak terintimidasi, malah terlihat seperti orang yang menunggu jawaban. Penasaran.

“Ingatlah selalu, Jenderal … ” si gundul tiba-tiba saja menggenggam cangkirnya begitu keras. Beberapa saat kemudian, PRAK! Cangkir yang berada di dalam genggamannya pun pecah berkeping-keping. “Kau bisa bernasib sama seperti cangkir ini suatu hari nanti.”

Riyadi tertawa seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, sama sekali tak tampak kengerian di wajahnya. Ia tak secuil pun terintimidasi oleh ancaman si pria gundul.

“Aku suka gayamu. Aku suka sekali gayamu … ” ujar Riyadi seraya menepuk kedua pahanya. “Baiklah, kalau begitu, aku akan meralat kata-kataku: kau boleh saja menganggapku tidak penting. Silakan kerahkan segala daya dan upayamu untuk menyelamatkan rencana kita. Namun kau juga perlu ingat … bahwa untuk melestarikan kepentingan tersebut, kita berdua harus tetap hidup.”

Si pria gundul terdiam. Ia sekadar menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Tersenyum kecut. Tanpa perlu menjawab pernyataan Riyadi, jiwa dan raganya telah siap menjadi garda terdepan untuk kepentingan politik yang sangat besar. Entah kepentingan apa.

“Selamat datang di duniaku … ” ucap Riyadi seraya membentangkan kedua tangannya. “Jurig.”

***

Kediaman Brigjen Dharma Syafi’i
19.19

Beberapa pengawal Dharma tampak sibuk berjibaku di belakang layar komputer. Mereka sedang mencoba menemukan pemilik insect-cam yang terdeteksi oleh radar khusus DSN. Insect-cam atau kamera berbentuk mirip serangga tersebut berputar-putar di atas rumah Dharma, kini sedang berupaya diretas oleh para ahli IT DSN. Jika mereka bisa meretasnya, mereka akan menemukan siapa pemiliknya.

Lima menit, tujuh menit, hingga sepuluh menit pun berlalu. Para pengawal Dharma akhirnya berhasil menyuntikkan virus ke dalam insect-cam yang masih melayang-layang di atas rumah. Dengan virus tersebut, seluruh kru peretas kini dapat menelanjangi isi program dari insect-cam terkait. Kini tugas mereka hanya perlu menemukan sumber lokasi di mana insect-cam tersebut dikendalikan.

Para peretas merasa puas bisa ‘mendobrak’ masuk ke dalam program orang lain. Mereka pun beraksi lebih intens daripada sebelumnya. Ketik, ketik, ketik. Para pengawal ahli komputer tersebut segera menyisipkan beberapa baris kode yang sulit untuk dimengerti.

Kode berhasil disuntikkan. Para peretas bergegas menekan tombol ENTER. Tak lama kemudian, ribuan baris informasi abstrak muncul dan bergulir secara otomatis di layar komputer. Para peretas pun meninggalkan papan ketik, mereka menunggu hingga kode-kode tersebut berhenti menari. Lantas, beberapa informasi penting pun menyembul dari balik kode-kode membingungkan tadi. Informasinya tak lagi abstrak, namun dapat dibaca oleh semua kalangan.

Para peretas DSN berhasil mendapatkan informasi keberadaan si pemilik insect-cam. Lokasinya tak jauh, hanya sekitar beberapa puluh meter dari komplek tempat Dharma tinggal.

Tanpa berpikir dua kali, para peretas tersebut segera memberikan informasi kepada Brigjen Dharma dan beberapa kolega DSN yang telah mengenakan perlengkapan taktis. “Sumber telah kami temukan. Pelakunya ada di luar komplek, sekitar 80-100 meter di sebelah timur. Posisinya statis di pinggir jalan. Kemungkinan besar bersembunyi di dalam mobil, kemungkinan tipe van,” ujar salah satu dari kawanan peretas.

“Bajingan … dekat sekali,” keluh Dharma. “Kalau gitu kita harus kerahkan kekuatan ke sana! Matikan insect-cam miliknya, lalu bekuk sebelum ia sempat bertindak!”

“Tapi, Ketua … kalau kita tiba-tiba mematikan insect-cam-nya, itu akan membuat pelaku curiga dan ia akan melarikan diri sebelum kita berhasil menangkapnya. Lebih baik kita datangi dia secara diam-diam, barulah kita matikan insect-cam-nya bersamaan dengan momen merangseknya pasukan kita ke mobil pelaku. Bagaimana?”

“Hmm,” Dharma mengusap-usap dagunya. “Itu ide yang bagus. Kau menyarankan hal tersebut karena kita sedang dimata-matai kan? Kau ingin membuat keputusanku tak terprediksi.”

“Benar, Ketua.”

“Baiklah. Kalau begitu kita harus mengerahkan orang yang posisinya ada di luar jangkauan visual insect-cam. Siapa saja yang berjaga di depan komplek?”

***

19.28

Empat orang personel DSN berpakaian sipil melangkah secara diam-diam menyusuri tempat di mana pemilik insect-cam bersembunyi. Mereka mengendap-endap di balik sesemakan dan pepohonan yang tak tersorot oleh cahaya. Meskipun perlengkapan mereka tak selengkap para personel DSN yang berada di rumah Dharma, namun mereka memiliki persenjataan yang mumpuni. Mereka menggunakan senapan serbu terbaru milik PT. Pindad yang kabarnya sangat akurat dan telah memenangkan berbagai kompetisi tembak di seluruh dunia. Benda tersebut akan menjadi ancaman yang berarti bagi si pemilik insect-cam.

Setelah beberapa menit bergerak secara senyap menjauhi komplek, para personel DSN pun akhirnya tiba di lokasi yang cukup dekat dengan sumber sinyal pemilik insect-cam. Mereka merunduk di balik sesemakan seraya menatapi mobil van berwarna putih sedang berdiam diri di pinggir jalan. Pimpinan tim segera memijit radio kecil pada telinganya. “Kami sudah mendapatkan visual. Sepertinya target kita ada di dalam mobil van berwarna putih. Instruksi?”

Rhino One, dekati mobil secara diam-diam. Jika sudah tiba di lokasi, jangan terburu-buru membuka pintu. Tunggu komando dari kami, karena kalian harus melakukannya bersamaan dengan saat kami mematikan insect-cam. Itu akan mengejutkan target, ia tidak akan sempat melakukan antisipasi,” ujar seseorang di balik radio. Sepertinya Dharma sendiri yang memberikan instruksi.

“Diterima, Ketua. Kami akan maju ke zona serang.”

Tanpa berpikir dua kali, empat personel DSN suruhan Dharma itu pun langsung bergerak menuju tempat di mana mobil van misterius terparkir. Formasi keempat personel terlihat sangat rapi, terstruktur, dan solid. Setiap orang ditugaskan mengawasi zona pandangnya masing-masing, sehingga mereka memiliki pengawasan 360 derajat. Di tempat terbuka seperti itu mereka tidak bisa memastikan dari mana ancaman akan datang.

Langkah pun dipercepat. Tak lama, keempat personel pun tiba di titik penyerbuan. Mereka langsung mengambil posisi di depan pintu belakang mobil; dua di sebelah kiri, dua di sebelah kanan. Mereka juga memindai seluruh permukaan pintu dengan sebuah detektor peledak untuk memastikan bahwa mobil tersebut tidak dipasangi jebakan.

Hanya butuh waktu sesaat untuk melakukan pemindaian, mereka kemudian memastikan bahwa mobil tersebut aman.

“Kami sudah berada di posisi. Instruksi?” ujar pimpinan tim penyerang seraya tetap membidikkan senapan ke pintu mobil.

Tunggu komandoku, Rhino One … ” jawab sang instruktur. “Kami sedang melakukan mekanisme untuk mematikan insect-cam secara paksa.

“Diterima. Kami menunggu.”

Para peretas andal yang berada di rumah Dharma pun beraksi. Mereka memasukkan beberapa baris kode untuk mematikan insect-cam secara paksa. Ketik, ketik, ketik. Tak sampai lima menit, prosedur penyuntikkan kode pun usai. Kini mereka hanya perlu menekan tombol ENTER untuk mengakhiri pengintaian musuh.

Para peretas lantas menoleh ke belakang, menatapi Dharma secara seksama. Mereka menunggu instruksi sang ketua. Mereka hanya tinggal menerima satu perintah dari sang atasan dan nyawa insect-cam pun akan segera berakhir.

Dharma pun bergeming. Ia kembali terfokus pada radio dengan loudspeaker di hadapannya.

Rhino One, ini Ketua. Bersiaplah membuka pintu mobil. Aku akan menghitung mundur. Pada hitungan terakhir, kalian langsung buka pintunya,” ujar Dharma kepada tim penyerang yang bersiaga di belakang mobil target.

“Diterima.”

Baiklah … ” Dharma menghela napas. Ia menunda ujarannya selama beberapa saat. “Tiga, dua … SEKARANG!

Salah seorang tim penyerang segera membuka pintu belakang mobil begitu mendengar instruksi dari atasannya. Sementara itu, tiga penyerang lainnya segera membidikkan senapan ke dalam mobil. “Jangan bergerak! Jangan bergerak!” sempat terdengar keriuhan selama beberapa saat, namun benar-benar hanya sesaat.

Sayang seribu sayang, teriakan-teriakan intimidasi tersebut tak berarti apa-apa.

“Bangsat … ” kutuk si pimpinan penyerbuan. Ia pun menurunkan bidikan senapannya, begitu pula dengan ketiga temannya.

Tidak ada siapa-siapa di dalam van tersebut. Kosong melompong. Hanya ada satu objek bertengger di dalam mobil, yakni sebuah komputer tablet. Sang pimpinan lantas merangsek masuk dan mengecek komputer misterius tersebut. Ia menatapinya dengan seksama, mencoba menganalisis apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali ia bisa mendapatkan jawaban dari komputer tablet tersebut.

Akan tetapi, jawab tak sempat tergapai, rasa tak sempat terpuaskan. Komputer tablet yang berada di tangan sang pimpinan penyerbuan sudah lebih dulu mati. Baterainya tiba-tiba mengalami overload dan akhirnya meletup. Sang pimpinan terperanjat oleh ledakan kecil tersebut. Beruntung ia sempat melemparkan tablet tersebut sebelum ledakan melukainya.

Keempat penyerang DSN pun terdiam. Mereka menatapi komputer tablet yang telah rusak dengan tatapan menjijikkan. Setidaknya kini mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Decoy [1], bangsaaat!”

NB: [1] Tipuan

Mereka semua dikecoh oleh si pemilik insect-cam. Komputer tablet yang baru saja meletup tadi memang merupakan komputer utama pengontrol insect-cam. Sayangnya, komputer tersebut tidak dikendalikan di tempat yang sama, melainkan dikendalikan dari jarak jauh. Di-remote dari suatu tempat. Belum ada yang tahu di mana sesungguhnya si pemilik insect-cam bersembunyi.

“Bajingan! Cari titik panas! Gunakan thermal-vision pada senapan kalian! Target pasti tak jauh dari sini!” seru sang pimpinan seraya bergegas keluar dari mobil.

Pasukan paling rahasia dan paling elit sejagat Nusantara itu ditipu mentah-mentah oleh seseorang tak dikenal.

***

Beberapa menit sebelum insect-cam mati

Subject 17, satu-satunya subjek Project SAKTI yang bebas dari tali kekang pemerintah saat ini, tengah bersantai di sebuah kafe dekat komplek perumahan real-estate yang kabarnya dihuni oleh para pejabat dan konglomerat. Ia duduk manis seraya menikmati kopi latte dinginnya, seraya sesekali menatapi orang-orang di sekitarnya. Di hadapannya, terdapat sebuah komputer tablet yang sedang menampilkan gambar secara real-time. Lebih tepatnya, gambar wilayah rumah pribadi seseorang.

Tak salah lagi, rumah mewah yang sedang diawasi oleh Subject 17 melalui tabletnya merupakan kediaman salah satu pejabat negara. Lebih tepatnya, pejabat pasukan rahasia negara, yakni Detasemen Sandi Negara. Dan ia memilih untuk berdiam diri di kafe mewah tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan karena lokasinya relatif lebih dekat dengan komplek cluster tempat Brigjen Dharma tinggal.

Subject 17 benar-benar mencari perkara. Ia memata-matai Brigjen Dharma menggunakan kamera berwujud serangga yang lebih populer dengan nama insect-cam. Tujuannya malam itu adalah untuk merancang rencana penculikan terhadap Dharma. Namun, hingga detik itu, ia belum menemukan taktik yang bagus untuk beraksi akibat ketatnya penjagaan pada komplek tersebut.

Subject 17 sebenarnya sadar bahwa Dharma dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki perlengkapan paling canggih se-Indonesia, namun ia mengambil risiko untuk mempelajari peta komplek dan celah-celah yang mungkin bisa ia manfaatkan untuk menyerang. Ia sadar bahwa jati dirinya berpotensi terkuak dan kamera insect-cam-nya bisa dimatikan kapan saja mengingat betapa canggihnya perlengkapan dan keahlian DSN.

Dan apa yang dikhawatirkan oleh Subject 17 pun akhirnya menjadi kenyataan.

Layar komputer tabletnya tiba-tiba sekadar menampilkan warna hitam tanpa batas. Pencitraan terhadap rumah Dharma seketika lenyap. Muncul tulisan no signal berulang kali pada layarnya, menandakan bahwa insect-cam miliknya telah ‘dibunuh’ oleh DSN. Subject 17 pun bergeming. Ia sadar bahwa ini adalah saatnya untuk bergerak. Ia tak bisa berbaur dengan kerumunan lebih lama lagi, harus mulai beraksi.

Akhirnya, Subject 17 pun melakukan prosedur cadangan. Ia menutup aplikasi pengendali jarak jauhnya dan memasukkan beberapa kode khusus pada aplikasinya yang lain. Tak lama kemudian, ia pun mengakhiri prosedurnya, memasukkan komputer tablet ke dalam ranselnya, dan meninggalkan kafe tersebut. Entah apa yang baru saja ia lakukan, namun ia tampak tak terhibur dengan apa yang baru saja DSN lakukan pada ‘bayinya’.

Subject 17 pun berjalan cepat menjauhi kafe tempat ia bersantai. Ia bergerak ke tepi jalan, menuju bukit kecil yang penuh dengan sesemakan dan pepohonan. Tempat tersebut ideal baginya karena minim pencahayaan dan posisinya lebih tinggi dari permukaan di sekitarnya. Bukit kecil itu dibuat sebagai bendungan alami untuk menangkal banjir dari sungai yang mengalir di sampingnya.

Posisi dimantapkan. Subject 17 merunduk di antara sesemakan seraya mengambil teropong dari dalam ranselnya. Ia hampir tak tampak di balik kegelapan malam. Samar oleh bayang-bayang. Apalagi karena pakaiannya berwarna gelap. Di sana, ia mengamati situasi di sekitar komplek tempat Brigjen Dharma tinggal. Melalui teropong malamnya, ia bisa melihat ada beberapa pria bersenjata bergerak menyebar ke segala arah. Beberapa diantaranya bahkan ada yang baru saja meninggalkan mobil van berwarna putih yang bertengger beberapa ratus meter dari tempat merunduknya Subject 17.

Beberapa saat kemudian, Subject 17 memperbesar pencitraan teropongnya. Ia mengamati komputer tablet yang ditinggalkan di dalam mobil van berwarna putih. Tablet tersebut telah rusak, retak, dan mengeluarkan seberkas asap; agaknya baru saja mengalami ledakan.

Subject 17 lantas menurunkan teropongnya dan tersenyum kecut. Ia tahu bahwa komputer tablet yang meledak di dalam mobil tersebut adalah perbuatannya. Prosedur tambahan yang sempat ia lakukan di dalam kafe mengantarkan kematian pada komputer tablet tersebut untuk menghapus jejaknya. Dengan begitu, takkan ada orang yang bisa mendeteksi keberadaannya, bahkan takkan ada orang yang tahu bahwa tablet rusak itu sebenarnya di-remote dari jarak jauh sedari tadi.

Puas membuat kergaduhan di sekitar komplek tempat Dharma tinggal, Subject 17 pun memikirkan langkah berikutnya yang jauh lebih sulit. Tujuannya ada di sana malam itu adalah untuk menculik Brigjen Dharma. Jika ia gagal melakukannya, maka ia akan kehilangan kesempatan besar untuk menyelamatkan saudaranya, Adam Sulaiman. Ia pun mengusap-usap dagunya, berpikir keras bagaimana cara untuk menembus pertahanan DSN.

Subject 17 sadar bahwa Dharma akan berusaha untuk melarikan diri dari rumahnya. Pertanyaan berikutnya adalah apakah ia perlu mengintervensi rute pelarian Dharma? Ataukah ia perlu memaksakan diri untuk menembus pertahanan DSN yang teramat solid? DSN benar-benar menyulitkannya bertindak.

***

19.41

“Baiklah, anak-anak. Bajingan itu sudah menipu kita dengan muslihat murahan. Kita tidak bisa lebih lama berdiam diri di sini atau kita akan menjadi bulan-bulanan!” ujar Dharma memberikan pidato singkat dengan berapi-api. “Kalian sudah melihat kemampuan Adam dan saudara-saudaranya. Mereka bukan buruan kita sehari-hari. Begitu pula dengan subjek yang sedang mempermainkan kita saat ini. Jangan anggap remeh,” lanjutnya.

“Kalau begitu, kita harus pergi dari rumah ini dengan cara mengecohnya pula, Ketua. Kita harus membuat decoy agar si bajingan itu terjebak, sehingga kita bisa membekuknya,” tukas salah satu bawahan Dharma memberi saran.

“Hmm … kurasa aku sudah punya satu ide yang bagus,” ujar Dharma spontan. “Bagaimana jika kita membuat konvoi palsu untuk mengecoh lawan?”

“Maksudmu membuat iring-iringan mobil seakan-akan kau berada di dalam konvoi tersebut?”

“Benar. Kurang lebih seperti itu. Kita akan membuat konvoi seperti biasa, dengan formasi yang biasa pula. Mobil utama akan ditempatkan di tengah-tengah formasi, sementara mobil dan motor pengawal akan ditempatkan di sekelilingnya sebagai perisai. Hanya saja, kali ini pergerakannya perlu dibuat lebih tergesa-gesa, seakan-akan kalian sedang berusaha menghindari kejaran penjahat.”

“Tetapi … kau tidak ada di dalam konvoi tersebut kan?”

“Ya. Konvoi itu akan diisi oleh beberapa orang dari kalian. Si bajingan itu pasti akan membuntuti konvoi dan mengira bahwa aku ada di dalamnya. Ketika momennya sudah tepat, kalian lakukan apa yang harus kalian lakukan. Jika kalian bisa menangkapnya hidup-hidup, aku akan sangat menghargainya.”

“Bagaimana dengan kau sendiri, Ketua?”

“Aku akan kabur ketika aku sudah mengetahui bahwa kalian benar-benar dibuntuti. Aku akan meminjam mobil sipil, jadi tidak akan dicurigai bahwa aku berada di dalamnya,” jelas Dharma. “Beruntung aku sudah bercerai, jadi tidak perlu ada yang kukhawatirkan selain nyawaku sendiri.”

“Hmm, itu merupakan ide yang berisiko sekaligus brilian pada saat yang bersamaan, Ketua.”

“Hanya itu ide yang kupunya untuk kabur dari sini. Bagaimana? Kalian ikut denganku?”

Para pengawal Dharma pun saling pandang selama beberapa saat. Mereka tak begitu yakin pada rencana sang atasan. Akan tetapi, pilihan apa yang mereka punya? Hanya adu kecerdikan yang mampu melepaskan mereka dari cengkeraman subjek Project SAKTI. Menghadapi subjek Project SAKTI secara frontal dan tanpa rencana bukanlah pilihan yang tepat, kecuali DSN siap berkorban banyak nyawa.

“Baik, Ketua. Mari kita lakukan!”

Mau tak mau, para pengawal pun mengikuti rencana Dharma. Mereka tak punya ide yang lebih baik.

Dharma pun tersenyum. “Kalau begitu, aku butuh beberapa orang untuk membuat perimeter di depan komplek! Aku juga butuh beberapa orang untuk memindai seluruh sudut komplek! Gunakan apa pun untuk mendukung misi ini; thermal vision, sonar goggles, night goggles, granat asap, bazooka, pokoknya apa pun yang bisa mendukung misi berbahaya ini!”

Para pengawal pun menghormat seraya melantangkan kesiapan mereka di hadapan sang atasan. Tak lama kemudian, mereka berlari menyebar ke segala arah. Ada yang berlari ke gudang senjata, ada yang berlari ke gudang logistik, ada yang berlari ke ruang IT, dan sebagainya. Intinya, mereka berupaya menyiapkan apa yang bisa mereka siapkan untuk menyelamatkan Dharma dari tempat terkutuk tersebut.

Kini Dharma tinggal berharap. Harapan penuh kecemasan.

***

Keadaan semakin mencekam. Para personel DSN yang tersebar di sekitar komplek tempat Dharma tinggal mulai mempersenjatai diri dengan perlengkapan yang lebih mematikan. Beberapa dari mereka bahkan mulai mengenakan kostum tempur yang biasa mereka kenakan saat bertugas. Mereka sama sekali tidak ingin menganggap remeh ancaman yang masih belum diketahui keberadaannya tersebut.

Sejumlah personel juga berjaga di depan komplek dengan persenjataan yang lebih berat. Tujuannya adalah untuk merintangi siapa pun yang hendak masuk/keluar komplek. Salah satu dari mereka bahkan membawa senapan mesin berkaliber besar, menandakan bahwa mereka tak main-main untuk menjaga komplek tempat bos mereka tinggal. Jika ada yang memaksa masuk/keluar tanpa izin, mereka tidak akan ragu melakukan tindakan tegas.

Selain menyiapkan kekuatan tempur, mereka juga mengevakuasi warga sipil yang terlihat pada radius 100-200 meter. DSN memindahkan orang-orang sipil tersebut ke zona yang lebih aman. Apalagi, lawan DSN kali ini adalah mantan subjek eksperimen pemerintah paling kuat dan paling tak terduga sejagat Nusantara. DSN tidak mau ambil risiko, mereka tak ingin ada warga sipil yang terluka.

Pencarian terus berlangsung. Para personel DSN berupaya menemukan ancaman di luar dan di dalam komplek. Meski demikian, para personel yang menyebar di luar komplek memang terlihat lebih intens saat melakukan pemindaian. Sejumlah lokasi mereka periksa lebih serius, seperti pepohonan dan bebatuan besar, karena bisa jadi ancaman sedang bersembunyi dan menghindari pencitraan kacamata dan teropong khusus.

Umumnya, para personel DSN berasumsi bahwa ancaman masih berkeliaran di luar komplek. Jika ada di dalam komplek, situasinya pasti sudah kacau sedari tadi, paling tidak akan ada satu atau dua orang yang mati.

Dugaan itu mengantarkan kepada kebenaran. Setelah beberapa belas menit melakukan pencarian, salah satu tim pemburu yang ada di luar komplek menemukan keganjilan. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba mereka melihat kebakaran kecil di sebuah taman yang berjarak puluhan meter dari tempat mereka berpijak. Tentu saja hal itu sangat mencurigakan, mereka pun memberikan kabar kepada personel DSN yang lan, bahkan meminta bantuan untuk melakukan pemindaian massal ke titik kebakaran.

Dua tim pemburu terdekat bergegas menghampiri panggilan. Kini ada tiga tim DSN yang berniat untuk mendekati lokasi kebakaran. Satu tim diisi oleh empat personel, berarti ada dua belas personel yang siap mengecek titik anomali. Ketiga tim lantas bergerak secara teratur. Masing-masing tim saling mengawasi pergerakan tim lainnya, karena bisa saja ada serangan kejut yang muncul dari arah-arah tak terduga.

Tak butuh waktu lama untuk mendekati sumber keganjilan. Ketiga tim akhirnya tiba di lokasi. Mereka menganalisis penyebab kebakaran, mengamatinya dari jarak dekat. Rupanya api tengah melalap beberapa helai kain bekas. Persoalannya adalah mengapa baju tersebut tiba-tiba terbakar? Dari mana sumber apinya? Apakah ada warga yang baru saja membuat api unggun?

Salah seorang personel segera melaporkan apa yang ia lihat kepada teman-temannya melalui radio yang melekat di belakang telinganya. Akan tetapi, ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Keganjilan lain datang dan lebih dulu mengintervensi niatnya. Ia pun panik, langsung bersiaga dengan senapan serbu yang berada dalam genggamannya.

BWOOOSH!

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul asap tebal yang menyekat pandang para personel DSN di sekitar taman. Ketiga tim pemburu panik, tentu saja. Mereka sama sekali tak punya ekspektasi tentang kedatangan ancaman di sana.

Dua belas personel dari tiga tim yang berbeda itu pun bergerak menyebar untuk menemukan gangguan. Sayang, mereka tak sempat menyelesaikannya. Tiba-tiba, salah seorang personel DSN merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Rasanya seperti bola, tetapi keras. Mungkin batu? Sang personel lantas menoleh ke arah kakinya untuk memastikan.

Sedetik, dua detik. Tak butuh waktu lama untuk melakukan verifikasi.

Personel tersebut telah selesai melakukan pengecekan. Ia kini tahu apa yang bertengger di dekat kakinya. Dan ia sama sekali tak terhibur dengan apa yang baru saja dilihatnya. Matanya membelalak dan napasnya tertahan.

“GRANAAA—”

Tak sempat sang personel menyelesaikan teriakannya, sebuah ledakan besar tiba-tiba memecah kesunyian. Sebuah granat baru saja meledak dan langsung menewaskan sejumlah personel DSN yang melakukan penyisiran. Dua belas personel langsung berkurang menjadi tiga personel. Sisanya mampus, terpelanting oleh ledakan granat yang dahsyat.

Tiga personel yang selamat bergegas untuk bangkit dan meminta bantuan. Mereka berteriak-teriak agar ada pasukan bantuan yang bersedia menolong mereka di sana. Kostum mereka terkoyak dan kepala mereka berdarah akibat terantuk benda keras. Mereka tak punya peluang untuk melawan, apalagi asap tebal masih menyelimuti pandang.

Namun, tak lama setelah ledakan terjadi, salah seorang personel yang selamat mendapati sesuatu pada teropong pencari titik panasnya. Ia melihat siluet mirip manusia yang bergerak begitu cepat, berkelok-kelok seperti hewan buas. Manusiakah? Tanpa keraguan, sang personel segera menarik napas dan melepaskan seluruh energi yang tersimpan di dalam dadanya.

“KONTAAAK!”

Seruan tersebut langsung disusul oleh tembakan beruntun dari senapan sang personel. Timah panas pun melesat ke segala arah, kembali memecah kesunyian malam. Namun sayang, dari seluruh tembakan yang dimuntahkan, tiada satu pun yang berhasil mengenai target. Sosok misterius itu bergerak terlalu gesit, seakan tahu ke mana peluru akan menerjang sebelum sang personel menarik pelatuk.

Belasan peluru terbuang sia-sia. Sosok misterius yang semula berjarak cukup jauh dari sang personel tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan sang personel. Kini wujud aslinya tampak. Ia adalah subjek Project SAKTI terakhir yang dikhawatirkan oleh Mayjen Riyadi dan Brigjen Dharma.

Subject 17.

Dengan gerakan yang amat lincah, Subject 17 meliukkan badannya seraya menepis laras senapan personel DSN yang berada di hadapannya. Bidikan sang personel menjadi kacau. Sesaat setelahnya, Subject 17 meninju wajah sang personel dengan keras dan menyodok leher sang personel dengan popor senapan. Serangan mendadak itu tak sempat diantisipasi oleh sang personel, ia pun rubuh tak berdaya.

Subject 17 berhasil melucuti senapan lawannya. Akan tetapi, masih ada dua orang berdiri beberapa kaki di hadapannya. Ia tak bisa membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan.

Hampir tanpa jeda, Subject 17 langsung berlari menuju personel kedua yang berada di arah jam satu dari tempatnya berpijak. Personel tersebut sudah akan melepaskan tembakan, sayangnya. Subject 17 takkan membiarkan hal itu terjadi, meskipun ia sendiri tak sempat untuk membidikkan senapannya. Akhirnya, Subject 17 melakukan hal yang tak terduga: ia melempar senapannya ke wajah si personel kedua.

Terkejut, si personel kedua hilang fokus. Ia tak jadi menarik pelatuk, malah mengangkat kedua belah tangannya untuk melindungi diri dari senapan yang berpuntir ke arahnya. KRAK! Ia berhasil memblokir serangan Subject 17, tentu saja, namun ia harus menerima rasa nyeri yang luarbiasa di sekitar hastanya. Selain itu, ia jadi kehilangan momentum untuk menyerang balik.

Hampir tepat setelah si personel menepis senapan yang melayang ke arahnya, Subject 17 mendekat. Sang personel tak siap, kakinya lantas disepak oleh Subject 17. Ia pun tersungkur menyamping, lambung kirinya langsung menghantam tanah. Mulas dan terkejut.

Subject 17 segera mengalihkan fokusnya pada personel ketiga yang berdiri beberapa meter di sebelah kirinya. Ia merangsek maju, lantas menepis bidikan si personel. Peluru sempat menyembur, namun tak sampai melukai Subject 17 dengan fatal. Subject 17 hanya tergores di bagian bahu dan lengannya.

Sesaat setelah Subject 17 memblokir bidikan lawannya, ia langsung membumbui sang personel dengan beberapa serangan cepat, lalu menutupnya dengan menendang kemaluan sang personel. Personel tangguh itu pun luruh, meringkuk menahan pilu. Subject 17 bergegas meraih kepala sang personel dan menariknya kuat-kuat hingga membentur lututnya.

KREK! Terdengar suara gemertak tulang di sekitar kepala sang personel sesaat setelah membentur lutut Subject 17. Sang personel sontak kehilangan daya dan upayanya. Tewas akibat patah tulang leher.

Usai menghabisi personel ketiga, Subject 17 menoleh ke belakang. Ia merasakan pergerakan dari personel kedua. Segera ia dekati personel tersebut, lantas melepaskan tinjunya ke rahang sang personel. Pukulan kerasnya tak sempat diantisipasi, langsung membuat rahang dan gigi geraham sang personel copot. Betapa kerasnya pukulan tersebut.

Subject 17 belum usai mengamuk. Ia segera mencabut pistol milik si personel kedua dari sarungnya, lalu melepaskan tembakan kepada para personel yang masih bernyawa, termasuk si personel kedua sendiri.

Perseteruan pun usai. Subject 17 bergegas melucuti apa yang bisa ia lucuti dari jasad para personel DSN, termasuk perlengkapan komunikasi. Ia mencabut radio mini dari salah satu jasad dan memasangnya di telinganya sendiri. Kini ia bisa mendengar ‘bocoran’ percakapan seluruh kru DSN yang tersambung ke radio.

Namun …

Belum lama Subject 17 menguasai sepi, tiba-tiba muncul lagi tembakan dari balik tabir asap. Kali ini peluru menyembur ke arahnya. Subject 17 pun tertembak di bagian bahu dan lambungnya. Tidak seberapa fatal, memang, rompi antipeluru berhasil menggagalkan laju timah panas ke tubuh Subject 17. Namun, gaya impulsif dari tembakan tersebut berhasil membuat Subject 17 terenyak dan tersungkur.

Subject 17 sadar bahwa lawannya menggunakan semacam detektor khusus. Mungkin sonar, mungkin thermal detector. Tak heran jika lawannya mampu menembak akurat bahkan di tengah pekatnya tabir asap.

Tak ingin menjadi bulan-bulanan, Subject 17 pun membidikkan pistol ke arah datangnya tembakan. Ia melepaskan beberapa butir timah panas seraya tetap berbaring di tempatnya. Tak ada respon berarti dari lawannya, ia segera mengambil senapan milik salah satu jasad personel DSN. Ia memanfaatkan teropong senapan yang didesain untuk menemukan titik panas manusia.

Teropong bekerja sebagaimana peruntukkannya, Subject 17 pun mendapati belasan orang bergerak ke arahnya. Beruntung ia sempat memuntahkan beberapa tembakan acak sebelumnya, karena kini para personel tambahan tersebut sedang ketakutan dan berlindung di balik benda-benda keras; mereka sedang menghitung-hitung kapan sebaiknya mereka meneruskan pergerakan.

Subject 17 tak berniat untuk membiarkan mereka maju dan membalas serangan. Ia pun kembali memuntahkan tembakan, kali ini dengan senapan yang ada pada genggamannya. Satu peluru untuk satu orang. Meskipun sebagian besar tembakannya tertahan oleh objek solid, namun setidaknya ia berhasil menumbangkan dua hingga tiga personel yang menyembul dari tempat persembunyian.

Kepanikan pun melanda. Belasan personel tangguh DSN berteriak-teriak meminta pertolongan, seakan jumlah yang mereka kerahkan masih belum cukup untuk mengalahkan seorang Subject 17.

Putus asa, segelintir personel pun mencoba membalas tembakan. Sayangnya, semua tembakan tersebut luput akibat tidak diarahkan dengan benar. Spray and pray [2]. Meski demikian, tembakan acak tersebut membuat Subject 17 menjadi lebih awas. Ia sadar bahwa ia tak boleh berlama-lama di tempat itu atau ia akan menjadi korban peluru nyasar. Akhirnya, ia pun mengeluarkan granat terakhirnya dari dalam ransel, mencabut pinnya, dan melemparkannya ke arah kerumunan personel yang berusaha mengepung dirinya.

NB: [2] Teknik menembak secara acak tanpa membidik dengan benar

“BANGSAT! GRANAAAT!”

Terdengar sayup-sayup teriakan dari kejauhan. Belasan personel yang sudah cukup dekat dengan posisi Subject 17 itu pun kembali menjauh. Mereka tak ingin menjadi korban ledakan granat seperti teman-teman mereka sebelumnya. Akan tetapi, mereka pun terlambat. Sekitar lima orang langsung tewas terkena ledakan. Tubuh mereka terpental dan hancur akibat berada cukup dekat dengan titik ledakan.

Subject 17 memanfaatkan momen kepanikan itu untuk kabur. Ia kembali menghilang di balik kegelapan malam. Masalahnya, ia masih belum tahu bagaimana caranya menangkap Dharma. Taktik ‘hajar dan kabur’ seperti itu sama sekali tak membuatnya puas. Matinya para personel DSN tak berarti apa-apa jika ia sama sekali tak bisa mendekati Dharma. Dharma bisa kabur sebelum Subject 17 sempat mendekatinya.

Dan kekhawatirannya menjadi kenyataan …

Tak lama setelah Subject 17 melarikan diri, tiba-tiba saja terdengar suara konvoi mobil dari kejauhan. Begitu ribut, begitu ramai. Subject 17 pun menghentikan langkahnya, ia berjongkok di balik batang pohon seraya memfokuskan pandangannya ke sumber suara. Beberapa mobil SUV berwarna hitam meninggalkan komplek secara tergesa-gesa, terlihat pula sejumlah sepeda motor mengelilingi mobil-mobil berbadan kekar tersebut. Subject 17 terlambat. Dharma telah menyadari keberadaannya dan memanfaatkan situasi untuk menyelamatkan diri.

Subject 17 menepuk batang pohon dengan keras. Kesal. Meskipun ia berhasil melumpuhkan beberapa anak buah Dharma malam itu, namun ia tak mendapatkan apa-apa selain perlengkapan canggih DSN.

Tetapi Subject 17 tak ingin menyerah. Ia mencoba mendengarkan percakapan lewat radio kecil yang kini berada di telinganya. Radio berderak, ia bisa mendengar beberapa orang berbicara pada saat yang bersamaan, panik. Matanya menyipit, seakan baru saja mendapatkan informasi yang sangat berharga. Ia pun berpikir lebih keras untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Subject 17 kesal, tetapi bukan kesal karena konvoi Dharma telah meninggalkan komplek. Ada hal lain yang membuatnya kesal. Ia pun bangkit dan meninggalkan tempat persembunyiannya.

***

20.20

Iring-iringan mobil berwarna hitam menebah jalan raya pada kecepatan tinggi. Mereka tampak panik. Konvoi tersebut diperkirakan merupakan pengawalan terhadap Brigjen Dharma, seorang pimpinan pasukan elit negara. Para pengawal Dharma tak ingin mengambil risiko, mereka memang memutuskan untuk melaju seperti kesetanan namun disiplin untuk meminimalisir bahaya yang mengintai sang atasan.

Namun, taktik dan penjagaan seketat itu sama sekali tak menihilkan ancaman. Masih saja ada gangguan yang mengikuti jejak Dharma. Sebuah mobil SUV berwarna putih tampak membuntuti Dharma sejauh beberapa puluh meter dari belakang. Seseorang tampaknya sedang mencari masalah dengan kepala pasukan elit negara.

Gangguan itu tentu saja diketahui oleh para rombongan konvoi. Para pengawal sadar bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka. Secara rahasia, mereka pun melakukan komunikasi untuk membekuk sang penguntit. Mereka sedang menunggu momen yang tepat untuk menerapkan jebakan, karena bisa jadi penguntitnya tidak hanya satu orang.

Konvoi pun berputar-putar di sekitar kota, sekadar untuk mengecek apakah ada ancaman lain selain SUV putih di belakang mereka. Namun, setelah beberapa belas menit berkeliling kota, mereka tak menemukan ancaman lain. SUV putih yang membuntuti konvoi adalah satu-satunya gangguan yang harus disingkirkan.

Pimpinan pengawalan segera memberikan instruksi untuk mengambil tindakan. “Hajar,” katanya singkat.

Tak lama kemudian, iring-iringan mobil itu pun berhenti secara mendadak. Suara decitan ban menggelegar hingga beberapa puluh meter jauhnya. Beberapa mobil dan motor yang mengawal lantas berbalik arah, kemudian menghampiri SUV mencurigakan yang sedari tadi membuntuti konvoi. Mendekat dan mendekat. SUV putih misterius tersebut kemudian ditabrak dan dikepung. Berakhir sudah riwayat si penguntit.

Para pengawal konvoi bergegas turun dari kendaraan mereka masing-masing. Ada yang membawa senapan, ada pula yang membawa pistol mitraliur. Mereka langsung mengunci semua akses keluar dan masuk SUV putih yang kini bertengger tak berdaya di tepi jalan. Salah seorang di antaranya bahkan langsung memukul jendela mobil dengan popor senapan hingga pecah. Serangan brutal tersebut tak ditanggapi serius oleh si penguntit, ia tetap duduk terdiam di ruang kemudinya sendiri. Wajahnya kini bisa terlihat oleh semua orang yang berada di sana. Seorang laki-laki.

Para personel DSN yang geram itu pun langsung menarik tubuh si penguntit lewat jendela mobil secara kasar. Beberapa orang dari mereka bahkan sempat melayangkan pukulan dan tendangan kepada si penguntit. Benar-benar pengeroyokan secara terstruktur. Namun, Dharma telah berpesan agar menangkap si penguntit hidup-hidup, para personel DSN pun menelungkupkan tubuh si penguntit dan memborgol tangannya ke belakang.

Tak lama, pimpinan konvoi keluar dari mobil utama. Ia juga membawa senapan, sama seperti yang lainnya. Ia agak bingung sebenarnya; bukankah Dharma mengatakan bahwa targetnya adalah wanita? Mengapa yang ia dapatkan justru laki-laki berkumis?

Namun, ia tak ingin kehilangan kewibawaannya. Ia pun menghampiri si penguntit dengan angkuh. “Mau mencoba menangkap Ketua kami, bajingan? Dia tak ada di sini. Kau dijebak. Kejutaaan … ” ujarnya.

Benar, Dharma memang tidak berada di dalam konvoi tersebut. Ia berada di tempat lain. Konvoi itu hanyalah jebakan.

“Heheh … ” si penguntit tertawa mendengar pernyataan sang pimpinan konvoi. Ia seakan tak peduli pada situasi yang tengah menimpanya. “Siapa yang bilang aku ke sini untuk menangkap bos kalian?”

Seketika itu, para personel DSN terdiam, kening mereka mengerut, kepala mereka menjadi penuh dengan tanda tanya. Si pimpinan konvoi segera menghampiri si penguntit, lalu meninju wajah si penguntit beberapa kali. “APA YANG KAU SEMBUNYIKAN!?” tanya sang pimpinan geram.

“Pak, dengan segala hormat, aku ke sini hanya untuk membuntutimu. Begitu saja perintahnya, tidak ada yang lain. Aku pun bingung; mengapa aku harus membuntutimu dan mengapa klienku tidak mau memanfaatkan pengalaman militerku?” si penguntit mengakhiri penjelasannya dengan tawa. “Tapi aku tak mau ambil pusing. Aku dibayar mahal kok. Hehe.”

Si pimpinan konvoi melayangkan tinjunya sekali lagi ke wajah si penguntit. Ia begitu marah, begitu gelisah. Ia pikir ia telah berhasil menjebak lawannya, tetapi rupanya DSN yang dijebak. “Tentara bayaran bajingan! Bangsat!” kutuknya geram. Ia lantas memerintahkan anak buahnya untuk membawa si penguntit ke kantor DSN untuk diamankan dan diinterogasi.

Selagi anak buahnya menyeret si penguntit, sang pimpinan konvoi bergegas memijit radio di belakang telinganya. Ia mondar-mandir. Gelisah. “Ketua, panggilan kepada Ketua. Mohon merespon. Kita semua dijebak. Ancaman masih ada. Target kita tahu bahwa konvoi ini hanya sandiwara, kemungkinan besar sedang mengejar Ketua saat ini.”

Tak ada jawaban, sang pimpinan hanya mendengar derak statis pada radionya.

“Ketua, mohon jawab! Ketua! Keparat … jawablah siapa pun yang ada di sana!”

***

20.23
Di saat yang bersamaan dengan insiden penguntitan konvoi DSN

Malam nan damai. Dua mobil sedan tampak santai membelah gelapnya. Mereka berjalan beriring-iringan, pada jarak yang hampir konsisten. Sekilas keduanya tampak seperti mobil sipil biasa, namun sesungguhnya salah satu mobil tersebut ditumpangi oleh salah seorang pejabat paling penting sejagat Nusantara: Brigjen Dharma. Ia adalah Kepala Detasemen Sandi Negara milik PIN.

Malam itu, Dharma mengambil keputusan yang amat riskan. Ia kabur dari rumahnya menggunakan mobil tetangga. Ia tahu bahwa ia sedang diincar oleh seseorang malam itu, namun ia justru memilih untuk pergi menggunakan mobil yang sama sekali tak memiliki proteksi khusus terhadap dirinya. Selain itu, ia hanya dijaga oleh satu mobil pengawal yang kini membuntuti mobilnya.

Dharma mengambil keputusan ceroboh tersebut karena ia berpikir ia dapat mengecoh lawannya, Subject 17. Ia memerintahkan konvoi yang asli untuk pergi tanpanya, karena ia yakin targetnya—Subject 17—akan membuntuti konvoi tersebut. Keyakinan itulah yang mendasari dirinya untuk pergi menggunakan mobil sipil. Tidak mencolok, memang, tapi risikonya menjadi lebih besar.

Dan risiko tersebut benar-benar datang menghampiri Dharma tanpa keraguan. Malam itu menjadi petaka terburuk bagi Dharma. Mimpi buruk terburuk.

Sebuah mobil van berwarna putih tiba-tiba saja muncul dari persimpangan jalan pada kecepatan yang sangat tinggi. Mobil Dharma tak sempat menyadari kedatangan van putih tersebut, apalagi mengantisipasi apa yang akan terjadi. Tabrakan pun tak terhindarkan. Mobil Dharma dihantam dari arah samping dan langsung terpental beberapa meter dari tempatnya semula melaju. Mesinnya ringsek, tak bisa lagi meraung, apalagi melesat. Para penumpangnya melenguh kesakitan. Belum mati, namun cedera cukup berat, terutama sang supir.

Para pengawal yang mengiringi mobil Dharma pun terkejut. Mereka sendiri tak menyangka akan datang serangan seperti demikian. Mereka langsung menghentikan laju mobil dan mengambil perlengkapan untuk melakukan serangan balasan. Panik.

Akan tetapi, Subject 17 sudah lebih dulu muncul. Ia tampak berbeda. Kali ini ia mengenakan topeng iblis untuk menyekat wajahnya; mungkin untuk menyembunyikan jati dirinya, apalagi ia berada di lingkungan yang lebih terbuka. Ia juga menenteng sesuatu yang membuat semua orang kalap: senapan mesin berkaliber besar. Ia lantas memposisikan senapan kekar tersebut di atas kap mobilnya dan membidikkannya ke arah mobil para pengawal. Jarak sedekat itu tentu akan sulit dihindari jika ia memutuskan untuk menarik pelatuk.

Para pengawal terbelalak. Kejutan lagi!? Keluh mereka. Di titik itu mereka pun menyadari bahwa sesungguhnya mereka berada dalam kerugian yang nyata. Tak ada tempat untuk berlindung, tak ada aksi untuk membalas. Mereka hanya bisa pasrah pada keadaan.

Subject 17 menepati ekspektasi lawannya. Ia menarik pelatuk dan membiarkan belasan peluru melesat ke arah mobil para pengawal. BAM, BAM, BAM! Suara tembakan menggelegar. Subject 17 tampaknya sangat marah, apalagi mengetahui saudara terdekatnya dibekuk oleh pemerintah. Ia gusar. Ia kembali pada jiwa lamanya sebagai pembunuh brutal. Dan ia benar-benar membantai orang-orang yang berada dalam bidikannya tanpa ampun. Ini adalah perang! Aku yang membunuh atau mereka yang membunuh! Subject 17 berseru dalam kalbunya.

Para pengawal telah dilumpuhkan. Tak lama kemudian, para pengawal terakhir yang berada di mobil Dharma keluar dengan langkah sempoyongan. Mereka hanya mempersenjatai diri dengan pistol dan senjata tangan lainnya.

Subject 17 langsung bertindak, ia memindahkan fokusnya. Ia tinggalkan senapan mesinnya dan berlari menuju empat orang pengawal yang keluar mobil dengan langkah gontai. Tangannya segera menyambar pistol yang bersarang di balik celananya, tanda bahwa ia siap melakukan pertempuran jarak dekat dengan senjata tangan.

Kegilaan pun terjadi. Pengawal pertama yang melihat Subject 17 segera membidikkan pistolnya. Sayangnya, ia kalah cepat. Subject 17 sudah lebih dulu melompati kap mobil Dharma dan membelokkan bidikan si pengawal pertama. Di saat yang hampir bersamaan, Subject 17 juga melepaskan tembakan ke kepala pengawal kedua yang berdiri tak jauh dari sana. Satu orang tumbang.

Subject 17 melanjutkan serangannya. Ia menembak kaki si pengawal pertama, lalu melepaskan tembakan ke pengawal ketiga yang berdiri beberapa kaki di hadapannya. Tembakannya berhasil mengenai masing-masing target, pengawal ketiga pun langsung tumbang diterjang timah panas. Masalahnya, ketika ia mengarahkan bidikannya kepada pengawal keempat, pistolnya macet. Bahaya.

Tanpa berpikir panjang, Subject 17 segera melempar pistolnya ke wajah si pengawal keempat. Serangannya sukses. Si pengawal melenguh kesakitan akibat tertimpuk pistol yang berbobot sekitar tiga kilogram tersebut, hidungnya remuk. Di saat itulah Subject 17 maju dan melucuti senjata sang pengawal. Subject 17 mendislokasikan beberapa bagian penting pistol sang pengawal pada kecepatan tinggi; magasin dan slider-nya bahkan dicabut hampir pada waktu yang bersamaan. Ia sangat piawai.

Sesaat setelah pelucutan terjadi, sang pengawal masih berupaya untuk menarik pelatuknya beberapa kali, namun hanya sia-sia belaka. Pistolnya sudah menjadi artefak yang tak berarti sekarang. Subject 17 pun menanggapi kesia-siaan tersebut dengan memberikan beberapa pukulan dan tendangan cepat. Si pengawal terhuyung luruh, lantas dibanting hingga tubuhnya terbalik dan membentur di sisi mobil.

Pengawal pertama masih bergerak! Subject 17 segera mengalihkan fokusnya. Ia merenggut pistol yang tergeletak di atas tanah, lalu melepaskan tembakan beberapa kali ke arah sang pengawal. Pengawal yang paling pertama dihajar oleh Subject 17 itu pun tersungkur, jatuh seperti bunga yang layu. Tewas.

Sisa satu orang lagi. Pengawal keempat. Ia baru saja dibanting oleh Subject 17 dan masih bernapas sebagaimana mestinya. Ia bahkan masih berniat melawan dengan mencabut pisau kecil dari balik kaus kakinya. Dengan susah payah ia meraih pisaunya.

Akan tetapi, Subject 17 tanggap. Ia pun mengentakkan kakinya pada kepala sang pengawal. BRAAAK! Terdengar suara benturan yang amat keras begitu kepala sang pengawal menghantam bodi mobil. Sang pengawal tersungkur, namun belum mati. Subject 17 bergegas mengakhiri kepiluan sang pengawal dengan melubangi tengkorak sang pengawal dua kali.

Pengawal terakhir pun tumbang. Kini takkan ada lagi yang bisa membatasi Subject 17 dengan incaran utamanya, Brigjen Dharma.

Tanpa keragu-raguan, Subject 17 segera membuka pintu belakang mobil. Ia menemukan Dharma. Namun, ia tak disambut ramah oleh sang penumpang. Dharma malah mengacungkan pistolnya ke kepala Subject 17. Pelatuk pun ditarik. BLAM! Tembakan dilepaskan oleh sang perwira, namun meleset.

Subject 17 memblokir tangan Dharma dengan cekatan. Ia berhasil membelokkan bidikan Dharma pada waktu yang sangat singkat. Sambutan kasar itu segera dibalas hampir tanpa jeda. Tak seperti Dharma, Subject 17 membidikkan pistolnya lebih rendah. BLAM! Subject 17 pun menarik pelatuknya, langsung melubangi tempurung lutut sang jenderal.

Dharma menjerit seperti kesetanan, namun hanya bertahan selama beberapa saat. Tubuh Dharma ditarik secara paksa oleh Subject 17 keluar dari ruang penumpang. Dharma pun tersungkur mencium aspal. Kakinya berdarah-darah akibat tembakan, wajahnya memar akibat tabrakan, dan tubuhnya gemetar akibat syok. Ia tampak berantakan. Belum pernah ia mengalami kejadian semacam itu sepanjang karirnya sebagai aparat keamanan dan hal itu membuatnya takut.

Tetapi, ia tak ingin kehilangan kewibawaannya sebagai pimpinan pasukan paling elit se-Indonesia. Ia malah menantang Subject 17. “Keparat kamu! Babi! Saya takkan mengatakan apa pun kepadamu!” serunya menjerit-jerit.

Subject 17 bermain cantik. Ia langsung mencekik leher Dharma, memaksa Dharma berdiri, dan menatapi kedua mata Dharma dengan keji. Dharma kesulitan bernapas, bergerak pun sulit. “Memangnya siapa yang meminta Anda untuk mengatakan sesuatu kepada saya, Jenderal?” tanya Subject 17 mengintimidasi.

“Ughhh … ”

“Kalau cuma perlu informasi, saya tidak perlu datang ke Anda. Saya bisa cekik orang lain, masalah akan selesai tanpa perlu bertemu dengan pasukan yang Anda didik. Tetapi saya datang untuk sesuatu yang lebih besar … ” bisik Subject 17 bengis. “Saya datang untuk Detasemen Sandi Negara.”

Sesaat itu, Dharma sempat terdiam. Kedua matanya membelalak. Ia sadar bahwa ucapan Riyadi tak main-main. Subject 17 ingin mengendalikan salah satu pasukan paling berbahaya di Indonesia. “B-babi … monyet kau! Wanita jahannam—”

Tak sempat Dharma menyelesaikan cercaannya, Subject 17 sudah lebih dulu menanduk kepala Dharma dengan keras. Jenderal bintang satu itu pun langsung tak sadarkan diri begitu kepalanya terguncang hebat akibat tumbukan yang baru saja terjadi. Pingsan.

Subject 17 lantas memanggul tubuh Dharma di atas kedua pundaknya dan memasukkannya ke dalam van putih yang ia kemudikan beberapa saat lalu. Ia juga membereskan segala perlengkapan yang sempat ia keluarkan, termasuk senapan mesinnya, dan menyingkirkan kekacauan yang mungkin akan mengganggu perjalanan publik.

Subject 17 sempat terdiam mematung saat memerhatikan beberapa orang berdiri di sekitar sana. Bukan DSN, tetapi orang sipil. Beberapa dari mereka bahkan melakukan perekaman. Beruntung ia menyekat wajahnya dengan topeng iblis, jadi tak perlu khawatir dengan berbagai macam spekulasi yang akan muncul. Paling-paling hanya akan menjadi sesosok legenda. Ia tak mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Yang ia khawatirkan justru efek psikologis orang-orang yang baru saja melihat pembantaian di hadapan mereka.

“Maafkan aku. Maaf. Maaf. Maaf … ” sambil berjalan ke arah ruang kemudi mobilnya, Subject 17 terus-menerus mengucapkan kata maaf. Ia baru merasa bersalah ketika telah melihat orang-orang tak berdosa di sekitarnya. Tiada satu pun dari mereka yang terbunuh, memang, tetapi perbuatannya sangat mengerikan.

Tak ingin hadir lebih lama di hadapan warga, Subject 17 pun menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas meninggalkan lokasi. Tugasnya telah selesai. Misinya telah tercapai. Ia berhasil meringkus Brigjen Dharma, orang yang disebut-sebut punya pengawalan serupa dengan presiden. Kini Subject 17 punya kuasa terhadap salah satu orang yang paling berkuasa di lingkungan intelijen. Kekuasaan yang mengerikan.

***

LARAS – Laboratorium Rahasia PIN
Lokasi: tak diketahui
21.34

Di tengah ruangan yang minim pencahayaan tersebut, terdapat dua buah bidang datar yang bertengger pada kemiringan 45 derajat. Kedua bidang datar tersebut disorot oleh lampu melingkar yang biasa digunakan oleh ahli bedah untuk melakukan operasi. Dua bidang datar itu kini tengah menopang dua sosok manusia yang sudah sangat dikenal di kalangan aparat. Salah satunya adalah Subject 09 alias Adam Sulaiman. Sosok yang lainnya adalah Subject 03 alias Ara.

Subject 09 dan Subject 03 tidak berbaring secara sukarela di sana. Mereka dipaksa. Sebagian anggota tubuh mereka dikekang oleh semacam cincin besi yang amat perkasa. Jangankan untuk sekadar bergerak, untuk menoleh pun bahkan tak sanggup. Mereka diperlakukan demikian untuk dipukuli, disetrum, disodok, dan dibekap. Semua itu adalah prosedur awal untuk menghancurkan kondisi psikologis para subjek eksperimen. Tak heran kini wajah Subject 09 dan Subject 03 menjadi penuh luka dan lebam.

Saat ini, keduanya tengah ditinggalkan oleh para pelaku eksperimen. Mereka dapat sedikit bernapas lega. Bersantai sejenak sebelum lanjut ke prosedur penyiksaan berikutnya.

“Hei, Nine … ” Subject 03 memanggil. Ia ingin memanfaatkan momen-momen tersebut untuk tetap menyegarkan pikiran. “Kau masih sadar?”

“Hmm … ” Subject 09 sekadar mendehem.

“Kau tahu, penyiksaan ini sudah berjalan selama 24 jam lebih. Mungkin mereka gagal?” tanya Ara menyeringai.

“Tidak. Memang begini prosedurnya kalau mau menghapus ingatan manusia. Tidak bisa dengan serta-merta.”

“Heh, begitu … ” ucap Ara. “Jadi kita masih harus melewati banyak metode penyiksaan ya? Pemukulan lagi, penyetruman lagi, waterboarding lagi, dan sebagainya.”

“Ya. Mungkin butuh waktu berminggu-minggu untuk melakukan prosedur ini. Aku yakin subjek yang lain juga mengalami hal yang sama … ” jelas Adam singkat. “Kenapa? Kau takut?”

“Takut? Hehehe, tentu saja tidak. Ini mirip latihan interogasi pada saat pendidikan dulu,” kilah Ara. “Aku hanya berpikir … bahkan dengan teknologi secanggih sekarang, para ilmuwan masih sulit untuk memanipulasi ingatan manusia.”

“Otak manusia itu adalah benda paling misterius sejagat raya, Ara. Potensinya melebihi yang kau bayangkan. Tak heran jika teknologi pun butuh waktu yang tidak sebentar untuk menundukkan otak manusia.”

“Heh … ” Ara tertawa kecil. “Memakan waktu sampai berminggu-minggu, ya? Itu artinya kita akan tetap berbaring di kotak sabun ini selama berminggu-minggu, menjadi kodok percobaan para kutu buku yang sok asik. Ini akan menjadi momen yang sangat membosankan dalam hidupku.”

“Ya … sangat membosankan.”

Situasi kembali menyepi. Subject 09 dan Subject 03 terdiam memikirkan nasib mereka di waktu yang akan datang. Mereka sebenarnya tengah memikirkan rute pelarian diri, tetapi untuk bergerak pun bahkan tak sanggup. Cincin besi yang menahan mereka terlalu kuat untuk dilawan.

“Nine … kau pikir Seventeen akan kemari dan menyelamatkan kita?” Ara kembali membuka percakapan.

Subject 09 terdiam sejenak. Ia tak lekas menjawab pertanyaan saudaranya. “Entahlah. Mungkin iya, mungkin tidak. Ia tak memercayaiku dan aku tak memercayainya. Lantas apa alasannya datang kemari?”

“Hmm, aku tak tahu. Entah kenapa aku punya feeling bahwa ia akan datang kemari,” ujar Ara santai. “Tetapi ini hanya feeling sih, tak perlu dianggap serius juga, hehehe.”

” … ”

Subject 03 terdiam sejenak, ia pun melirik ke arah saudaranya yang sama sekali tak bergeming pada keadaan. “Kau tampak mengkhawatirkan sesuatu, Nine. Aku bisa melihatnya dari sini. Katakanlah, ada apa?”

“Tak apa-apa … ” ujar Subject 09 spontan. “Aku hanya khawatir tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan Verani dan Patih. Sepertinya aku sudah begitu terikat dengan mereka berdua.”

“Oh … kau sudah lebih membumi dengan kehidupan di sekitarmu, ya? Kau memang terlihat penyayang sih kalau berada di dekat keduanya. Kau punya naluri keayahan yang baik, hehehe … ” hibur Ara. “Tenang saja, Nine. Kau pasti punya kesempatan untuk bertemu dengan mereka lagi. Aku tak tahu bagaimana jalannya, tetapi kurasa kau akan bertemu lagi dengan mereka.”

“Ya … ” Subject 09 merespon singkat. Ia lantas mengembuskan napas panjang. “Aku hanya berharap aku bisa bertemu mereka sebelum seluruh memoriku hilang.”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!