2 – Clue in the Shadow


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Lembang, 01.47

Verani kedinginan. Ia belum pernah merasakan hawa dingin nan menusuk seperti itu sebelumnya. Lembang memang terkenal sebagai salah satu daerah semi-perkotaan paling dingin di daerah Jawa Barat dan Verani belum bisa beradaptasi sepenuhnya dengan kota kecil tersebut. Ia pun terbangun dari tidurnya, lantas duduk di atas kasur seraya merapatkan balutan selimut pada tubuhnya. Selimut setebal itu bahkan tak mampu mengusir kedinginan, pikirnya.

Meskipun kedinginan, namun Verani bahagia. Kini ia tinggal serumah dengan mantan tetangga yang berhasil membuka mata hatinya di malam ia hampir dinistakan secara brutal oleh sekelompok begundal, yakni Subject 09 atau yang ia kenal dengan nama Adam.

Tidak, mereka tidak tidur pada ranjang yang sama, bahkan sekamar pun tidak. Ketika pindah ke rumah barunya, Verani menyetujui kesepakatan yang dibuat oleh Subject 09 untuk tidak melakukan hal-hal layaknya pasangan suami-istri. Subject 09 sudah bertekad bahwa ia tak akan menyentuh Verani secara intim jika tak ada ikatan suci bernama pernikahan.

Mengingat betapa uniknya pemikiran seorang Adam, Verani pun menggaruk-garuk kepalanya seraya tertawa kecil. Ia masih tak percaya bahwa ia bisa hidup normal seperti orang lain; ia bisa menyekolahkan Patih secara normal dan mengisi perut secara normal tanpa harus mengais rezeki dari selangkangan. Sungguh perubahan yang tak pernah ia duga-duga sebelumnya. Dahulu pesimis, kini optimis.

Tak sempat merenung lebih lama, tubuh Verani tiba-tiba menggigil. Ia sadar bahwa kandung kemihnya telah penuh oleh air seni. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya, lalu melangkah gontai menuju toilet lengkap dengan balutan selimut di tubuhnya. “Brrr! Lantainya dingin sekaliii!” komentarnya sambil menapaki ubin sepetak demi sepetak.

Akan tetapi, di tengah perjalanannya menuju toilet, perhatian Verani teralihkan oleh keberadaan seorang pria yang sedang asik berjibaku dengan laptop-nya di balik meja kerja. Subject 09, tentu saja. Verani terheran mengapa tetangganya tersebut sama sekali belum menyambut malam dengan lelap. Ia pun berencana untuk “mewawancarai” Subject 09 selepas buang air kecil.

***

subject 09 verani

“Hei, Adam. Mengapa kau masih terjaga?” tanya Verani dengan suara parau khas bangun tidur. Ia mendatangi Subject 09 dari belakang.

“Ah, Ve. Biasa, banyak pekerjaan kantor yang harus kuselesaikan,” ujar Subject 09 seraya menekan tombol ALT + TAB [1] pada keyboard laptop-nya. Tampilan pada layar pun seketika berubah. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”

NB:

[1] Kombinasi tombol untuk mengalihkan jendela aplikasi secara cepat. Umumnya digunakan pada sistem operasi Windows.

“Heh, boro-boro nyenyak. Aku kedinginan,” jawab Verani seraya mengambil kursi dan duduk di samping Subject 09.

“Hehe, kau akan terbiasa, Ve. Maklum, kau baru tiga hari di sini dan sebelumnya belum pernah tinggal di daerah pegunungan. Tubuhmu sedang mencoba beradaptasi.”

“Ya, tempat terdingin yang pernah kukunjungi adalah Bandung. Itu pun di daerah Kabupaten, tak seberapa dingin. Kau lihat sendiri bagaimana aku bisa melayani para lelaki hidung belang hingga malam hari dan aku tidak merasa kedinginan,” pungkas Verani. “Di sini … jangankan malam hari. Menjelang maghrib pun aku sudah kedinginan.”

“Tetapi udara di sini segar, Ve. Karena daerah kita masih cukup menyatu dengan alam.”

“Ya, kau benar, Adam … ” lanjut Verani tersenyum tipis. “Ngomong-ngomong, pekerjaan macam apa yang membuatmu tetap terjaga seperti ini?”

“Bosku meminta laporan keuangan. Kau bisa lihat di sini betapa banyaknya angka yang harus kuperiksa kebenarannya dan deadline pekerjaanku hanya satu hari,” tunjuk Subject 09 pada layar laptop-nya.

Brrr! Aku menyerah, deh! Baru melihat barisan pertama saja aku sudah pusing, hahaha! Angka-angka tersebut malah membuatku semakin kedinginan.”

“Begitulah, Ve. Tetapi ini hanya sesekali kok. Karena sudah akan memasuki semester baru, jadi pekerjaanku menumpuk,” ujar Subject 09 tersenyum tipis.

“Wah, betapa rajinnya dirimu, Adam. Tampaknya keberadaanku di sini malah menjadi penghambat pekerjaanmu, sebaiknya aku kembali tidur saja.”

“Ah, tidak mengapa, Ve. Kalau dirimu memang ingin mengobrol, aku dengan senang hati akan menemanimu.”

Mimik cerah Subject 09 seketika menyentak perasaan Verani. Entah mengapa respon tersebut membuat jantungnya berdebar-debar. Seakan pelangi sesaat melintang di dalam dadanya, ia tak mampu berpaling dari keindahan tersebut. Ia terpaku.

“E-eh, t-tidak. Aku memang ingin kembali tidur, Adam … ” kilahnya gelagapan.

“Oh baiklah. Kalau demikian, kuucapkan: selamat tidur kembali, Ve.”

Verani segera bangkit dari tempat duduknya. Ia terdiam sejenak menatapi wajah mantan tetangganya tersebut. “Semangat, Adam! Semoga pekerjaanmu cepat selesai!” serunya riang. Ia pun dengan cepat meninggalkan Subject 09 dan kembali ke kamarnya.

Verani segera menutup pintu, ia lantas memuntahkan segala perasaan malunya di dalam ruangan nan gelap tersebut. Ia sandarkan punggungnya seraya menyekat wajahnya dengan kedua belah tangan. Detak jantungnya menggila dan tubuhnya gemetar hebat. “Aduuuuh! Aku ini kenapa!?” keluhnya berbisik. Ia benar-benar hampir tak bisa mengendalikan dirinya oleh senyuman sederhana sang mantan tetangga.

Sementara Verani dirundung oleh perasaan ganjil yang berhasil membuatnya salah tingkah, Subject 09 kembali kepada pekerjaannya. Tidak, bukan pekerjaan seperti yang ia jelaskan kepada Verani tadi; bukan soal finansial, bukan soal audit, bukan soal akutansi. Itu hanyalah topeng untuk menutupi pekerjaan yang sebenarnya.

Subject 09 kembali menekan tombol ALT + TAB pada keyboard laptop-nya dan tampilan layar pun berubah menjadi sesuatu yang sangat mencengangkan: data kependudukan tentang Denis Sumargana, ketua Pusat Intelijen Negara. Entah apa yang akan ia lakukan, namun tampaknya akan terjadi kekacauan di sebuah tempat.

***

Jakarta, 00.13
Di hari yang berbeda

Denis Sumargana, ketua PIN yang terpilih pada tahun 2016, menebah jalan raya nan lengang dengan mobil sedan hitamnya tanpa sepercik perasaan waswas. Padahal ia pulang ketika malam telah menjadi rumah bagi kesunyian, namun ia tak khawatir dengan para begal yang sempat menghebohkan ibukota. Mungkin karena ia disupiri oleh seorang pengawal pribadi yang merupakan seorang agen rahasia PIN, Andreas.

“Pak, bagaimana menurut Anda jika seandainya si pembunuh gila yang membantai tujuh pejabat pemerintah tersebut juga mengincar Anda?” Andreas membuka percakapan dengan atasannya. Ia mencoba mengusir kantuk yang merajang mata.

“Hmm. Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal tersebut?” tanya Denis curiga.

“Tidak apa-apa. Kau tahu, aku di sini bekerja sebagai pengawalmu, sehingga aku harus memiliki antisipasi terhadap skenario-skenario terburuk.”

“Ah, kau berkhayal terlalu jauh, Andreas. Katakan saja jika kau hanya berusaha membuka percakapan denganku,” ujar Denis tertawa.

Andreas hanya menyeringai.

“Tetapi … seandainya itu terjadi, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau sudah kuberikan izin untuk mengurus segala hal mengenai keamanan harta, nyawa, dan tahtaku,” lanjut sang ketua PIN.

“Tentu, pak,” kata Andreas santai. “Tetapi, kalau aku boleh jujur, aku sangat khawatir dengan keberadaan orang tersebut. Aku sudah berkoordinasi dengan Detasemen Sandi Negara untuk mengantisipasi seandainya sosok sadis tersebut mendatangimu.”

“Apa yang mendasari ketakutanmu, Andreas? Aku sama sekali tidak terlibat pada persoalan ketujuh sahabat tersebut, jadi aku merasa tak perlu dilindungi oleh detasemen rahasia terbaik PIN seperti yang kau katakan tadi. Kau tahulah persoalan apa yang kumaksud … ” Denis menahan ucapannya sejenak. “Pembantaian Kampung Rimbun, itu sama sekali bukan urusanku,” lanjutnya mendesah.

“Ya, aku tahu itu. Tetapi posisimu adalah sebagai ketua PIN. Dan pembantaian Kampung Rimbun berada di bawah persetujuan PIN. Walaupun kau tidak tahu secara detil rencana dari tujuh penggagas pembantaian dan siapa saja eksekutor yang terlibat, namun kau secara tidak langsung memayungi operasi mereka.”

Denis lantas terdiam. Matanya menatap lurus ke arah depan. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya lebih lama lagi. “Sialan, Andreas. Aku sedang berusaha untuk tetap bersikap normal dan seakan tak terjadi apa-apa, tetapi kau mengacaukan perasaanku seperti ini.”

“Maafkan aku, pak. Tetapi kau bersikap terlalu normal. Malam ini contohnya, kau pulang terlalu larut padahal kau tahu risikonya. Pertahananmu terbuka lebar, kau bisa diserang dari mana saja di tengah kota yang sudah sepi dan gelap seperti ini. Ini adalah waktu-waktu yang ideal bagi para penjahat untuk melakukan aksi yang tak terduga. Aku bukan Superman yang bisa menyelamatkanmu dari segala macam serangan, pak.”

Denis terdiam sejenak. Ia merenung. “Hmm, terima kasih telah mengkhawatirkanku, Andreas. Mungkin kau benar, aku harus lebih berhati-hati … ” ujarnya seraya mendengus penuh kepasrahan.

Sesaat itu situasi kembali menyepi. Denis dan Andreas terdiam menatapi badan jalan yang mereka lintasi. Sunyi sekali Jakarta malam itu. Benar kata Andreas, renung Denis, ia bisa diserang kapan saja dan di mana saja bahkan sebelum Andreas mampu mendeteksi bahaya. Denis sadar bahwa ia telah bermain api.

“Kalau bukan karena presiden yang menginginkanku menandatangani pembantaian tersebut, aku takkan melakukannya. Terlalu beresiko,” lanjut Denis mengeluh.

Andreas berpikir sejenak. “Mengapa menurutmu itu buruk, pak?”

“Sebenarnya, aku setuju-setuju saja dengan pembantaian Kampung Rimbun, daerah itu melahirkan kriminal-kriminal kelas menengah dalam jumlah yang sangat signifikan. Dalam beberapa tahun ke depan, mereka mungkin akan berevolusi menjadi mafia sekaliber Yakuza jika tak segera kita bereskan.

“Masalah utamanya adalah presiden menghendaki pembantaian tersebut karena Amerika menginginkan daerah tersebut untuk menjadi komplek pusat strategis mereka. Aku tak suka dengan hal tersebut. Kita menjadi babu Amerika. Tetapi mau bagaimana lagi? Jika aku menolak menandatangani persetujuan pembantaian tersebut, aku lenyap, keluargaku lenyap, kerabat-kerabatku lenyap,” jelas Denis mengenang momen penandatanganan operasi berdarah tersebut. Ia bisa mengingat saat kepalanya ditodong senjata ketika presiden memaksanya untuk mendatangani kerjasama terkutuk tersebut.

“Amerika … Amerika … mengapa harus di Indonesia?” tanya Andreas terheran-heran. Benaknya meronta, berupaya memecahkan misteri yang menyelimuti isi kepalanya.

“Ah, kau tahulah alasannya, Andreas. Tak perlu kujelaskan lagi. Pada intinya, pembantaian tersebut sangat berisiko karena digagasi oleh orang luar negeri dan kita tahu bahwa tak semua agen pemerintah pro terhadap keputusan tersebut,” jelas Denis. Ia enggan memberikan kuliah mengenai alasan dibalik genosida di Kampung Rimbun. “Mungkin termasuk si mesin pembunuh misterius yang membantai tujuh teman kita beberapa waktu terakhir.”

” … ” Andreas tak merespon. Ia fokus menatapi jalan yang semakin lama semakin mengecil. Mobil yang dikemudikannya mulai memasuki jalan lokal setelah sekitar setengah jam melintasi jalan arteri. “Kau tenang saja, pak. Aku sudah menyiapkan antisipasi untuk kemungkinan terburuk jika si hantu tersebut datang. Contohnya seperti meminta beberapa agen Detasemen Sandi Negara mengikuti kita malam ini,” papar Andreas berusaha menenangkan hati atasannya.

“Oh ya?” Denis segera melongok ke arah spion. Ia pun mendapati mobil sedan hitam berjalan mengiringi mobilnya beberapa meter di belakang. Denis tersenyum tipis. “Good job, Andreas. Kuharap inisiatifmu mendatangkan efek positif untuk kita semua.”

“Sudah semestinya–”

BRAAAAK!

Tak sempat Andreas menyelesaikan untaian kalimatnya, tiba-tiba muncul mobil jip dari arah samping dan menyeruduk mobil Denis pada kecepatan tinggi. Mobil yang semula tampak elegan itu pun seketika ringsek, pintu penumpang depan remuk tak karuan, menghantam pinggang sang pemilik mobil. Situasi menjadi tak terkendali, Denis cedera dan Andreas terluka akibat benturan dengan jendela pintu kemudi.

Gila, pikir Andreas sesaat setelah tumbukan terjadi. Ia dan bosnya malah mendapat masalah saat sudah sangat dekat dengan titik aman, yakni rumah Denis.

Sementara itu, para pengawal rahasia dari DSN [2] yang sedari tadi membuntuti Denis dari kejauhan, panik. Bagaimana tidak? Klien mereka diserang secara tiba-tiba oleh orang tak dikenal dan mereka tak sempat melakukan antisipasi apapun.

NB: [2] Detasemen Sandi Negara. Detasemen khusus PIN pada cerita ini.

Kapten DSN yang merupakan pengemudi dari mobil pengawal tersebut tak lantas kehabisan akal, ia segera menancap gas dan berupaya melepaskan mobil Denis dari cengkeraman sang penyerang misterius.

Akan tetapi, sebelum ia berhasil mendekati jip yang dikemudikan oleh si penyerang misterius, sang pengemudi jip tiba-tiba saja membuka jendela dan mengarahkan moncong shotgun lawas model 1887 ke kaca depan mobil para pengawal.

KA-BLAM! Jarak yang begitu dekat menghasilkan tembakan yang sangat akurat. Si pengemudi jip berhasil melubangi kaca depan mobil para pengawal dan menghancurkan kepala sang kapten DSN dengan muntahan peluru shotgun ala militer yang didesain untuk menembus kaca antipeluru.

Kematian mendadak sang kapten lantas membuat mobil sedan berwarna hitam itu pun melipir ke arah yang tak seharusnya. Para pengawal yang tersisa di dalam mobil tak sempat berbuat banyak. Mereka berupaya mengarahkan kemudi ke arah yang benar, namun nahas …

BRAAAK!

Mobil para pengawal rahasia itu pun menabrak tiang listrik di pinggir jalan.

Mobil para anggota DSN berhasil dilumpuhkan, si pengemudi jip lantas kembali memacu kendaraannya. Ia menyudutkan mobil yang ditumpangi oleh sang kepala intelijen ke pembatas jalan. Posisi Denis pun terkunci. Skakmat.

Situasi menjadi hening dalam sekejap mata. Si pengemudi jip misterius lantas keluar dari kemudinya. Kini wujud aslinya tampak, walaupun wajahnya tersekat oleh topeng hitam bermotif tengkorak. Ia mengenakan kaus hitam dilapisi dengan rompi antipeluru yang juga berwarna hitam, serta mengenakan celana panjang hitam lengkap dengan sepatu bot yang juga dilapisi dengan warna hitam.

Si penjahat serba hitam itu pun mengangkat shotgun lawasnya dan membidikkannya ke arah mobil para personel DSN yang bertengger beberapa meter dari tempat di mana ia menabrak mobil Denis. Denis bisa diurus nanti, pikirnya singkat.

KA-BLAM! KA-BLAM!

Rangkaian serangan kembali terjadi. Timah panas melesat dan melubangi kaca depan mobil para anggota DSN. Serangan kembali memakan korban. Kali ini personel yang duduk di samping jasad kapten DSN yang menjadi korban keganasan sosok bertopeng tengkorak tersebut. Kepalanya pecah.

Dua personel DSN yang duduk di jok belakang segera merunduk. Panik. Tembakan terus dimuntahkan ke arah mobil mereka, sehingga membuat keduanya tak mampu berbuat banyak, apalagi tembakan sosok bertopeng tengkorak tersebut sangat akurat. Keduanya menunggu saat yang tepat untuk keluar.

“Oke! Sudah delapan peluru!” salah satu dari kedua personel DSN tersebut merasa percaya diri sesaat setelah mendengar si topeng tengkorak melepaskan peluru terakhir dari shotgun-nya. Keduanya pun memutuskan untuk keluar dari mobil seraya bersiaga dengan pistol yang terjuntai di pinggul mereka.

Namun, mereka tak memperhitungkan seberapa tanggapnya sosok bertopeng tengkorak tersebut. Saat keduanya telah berhasil keluar dari mobil dan hampir membidikkan pistol ke posisi terakhir lawan, tiba-tiba si topeng tengkorak muncul dari atap mobil. Rupanya rentetan tembakan shotgun tadi hanya untuk mengalihkan perhatian kedua personel DSN tersebut.

Si topeng tengkorak pun melompat, lalu menghajar kedua personel DSN dengan serangan-serangan yang keras dan cepat.

Setelah dirasa cukup melengahkan lawannya, si topeng tengkorak segera mendorong kepala personel pertama ke atap mobil. BANG! Terdengar suara benturan yang sangat keras sehingga membuat sang personel rubuh tak berdaya. Belum mati, hanya pingsan.

Melihat temannya rubuh, si personel kedua mencoba melakukan perlawanan dengan menyeruduk si topeng tengkorak ke sisi mobil. Si topeng tengkorak berhasil disudutkan, sang personel lantas melepaskan tinjunya beberapa kali ke wajah si pembunuh sadis tersebut.

Namun, tak lama kemudian, si topeng tengkorak mengangkat tangannya setinggi kepala. Ia memblokir pukulan lawannya. Sesaat setelahnya, ia segera mengayunkan keningnya ke batang hidung sang personel yang berdiri di hadapannya dan menarik kepala sang personel ke jendela mobil. PRAAAK! Jendela yang didesain untuk menahan hantaman timah panas itu pun retak.

Personel pertama pun limbung, lantas tumbang sebagaimana personel kedua.

Kini tersisa target utama perburuan si topeng tengkorak malam itu: Denis dan pengawal pribadinya, Andreas.

Kedua target terlihat sedang berusaha melarikan diri dengan mencabut jendela depan mobil dari porosnya. Jendela tersebut terbuat dari bahan antipeluru, sehingga mustahil untuk dipecahkan dengan tangan kosong, itulah mengapa keduanya memutuskan untuk mencopotnya. Usaha mereka berhasil, paling tidak Denis dapat keluar tanpa mendapatkan tembakan dari sosok berkostum serba hitam tersebut.

Akan tetapi, si topeng tengkorak punya ide yang lebih cemerlang. Ia tak segera melepaskan tembakan kepada dua “tikus” yang mencoba kabur darinya. Ia mengambil semacam peledak yang terjuntai di ikat pinggangnya, membuka pin pengamannya, lalu melemparnya ke arah di mana Denis dan pengawalnya mencoba melarikan diri.

BANG! Ledakan yang begitu dekat tak sempat diantisipasi oleh kedua pejabat intelijen tersebut. Menariknya, ledakan dari benda yang menyerupai kaleng minuman soda tersebut tak membunuh kedua korbannya, hanya sanggup memekakkan telinga, juga sanggup menghilangkan keseimbangan tubuh kedua korbannya. Flashbang, begitu orang menyebut peledak unik tersebut.

Mengetahui kedua targetnya lengah, si topeng tengkorak segera melesat menuju ke tempat di mana Denis dan Andreas berpijak. Ia berlari menapaki mobil sedan yang tersudut di dinding pembatas jalan, lalu melihat kedua targetnya tengah sibuk mengusap-usap mata dan telinga. Ia tak peduli, dihampirinya Andreas terlebih dahulu.

Andreas menyadari datangnya ancaman, tangannya segera merogoh pistol yang diselipkan di balik celanananya. Ia tarik pistolnya keluar dan ia arahkan moncongnya kepada si topeng tengkorak. Seribu sial, upayanya terbaca. Si topeng tengkorak bergegas menangkap pergelangan tangan Andreas dan mengarahkan bidikan pistol ke kepala pemiliknya sendiri.

BLAM!

Tanpa keraguan, si topeng tengkorak pun menarik pelatuk dan membuat kepala Andreas pecah diterjang peluru.

Pengawal terbaik yang dipilih untuk menjaga ketua PIN itu pun tewas mengenaskan. Mati dalam keadaan yang tak terduga, bahkan teman-teman dari DSN yang ia bawa pun lumpuh tak berdaya.

Tinggal satu orang dari pihak intelijen yang masih hidup di sana, yakni ketua PIN, Denis Sumargana. Ia tampak lengah setelah menerima ledakan yang begitu dekat dengan dirinya. Tubuhnya luruh, ia hanya mampu duduk bersimpuh di atas aspal seraya mengucek-ucek kedua matanya. “Jangan bunuh aku, kumohon. Jangan bunuh aku, kumohon,” hanya itu kalimat terbaik yang bisa ia ucapkan berkali-kali dalam keputusasaan.

Pria dengan topeng bermotif tengkorak itu pun segera menghampiri Denis. Tanpa sedikit pun keraguan, ia segera menghantam sisi leher pria yang hampir berkepala enam tersebut dengan gagang pistolnya. Denis langsung rubuh tak berdaya. Pingsan.

Sekali lagi suasana menjadi amat sunyi, tersisa lolongan-lolongan anjing dari kejauhan. Si topeng tengkorak tak bisa berlama-lama berdiri menatapi korban bergelimpangan, ia sadar bahwa banyak saksi yang melihat kekacauan tersebut dari kejauhan, apalagi perkara itu terjadi di sekitar komplek perumahan. Polisi pasti datang sebentar lagi. Ia pun memikul tubuh Denis dan memasukkannya ke dalam bagasi jipnya. Tak lupa, ia juga mengambil shotgun jadulnya yang sempat ia tinggalkan karena kehabisan peluru.

Sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan, masih sangat jauh. Sang pembunuh brutal segera masuk ke dalam kemudi mobilnya dan menancap gas meninggalkan tempat kejadian perkara. Tak seperti dua mobil sedan yang ia lumpuhkan, mobil jipnya masih dalam keadaan bugar walaupun hidungnya sedikit remuk.

Tersisalah sebuah pertanyaan penting bagi semua orang yang menyaksikan huru-hara tersebut: siapakah sosok petarung mengerikan yang bersembunyi di balik kostum serba hitam tersebut?

***

BYUUUR!

Denis Sumargana, ketua PIN yang malang itu akhirnya terjaga. Ia membuka kedua matanya dengan terkejut. Bagaimana tidak? Seseorang baru saja menyiramkan segelas air tepat ke wajahnya. Ia bahkan tak sengaja meneguk beberapa percikan air dengan kedua lubang hidungnya hingga saluran eustachius-nya terasa sakit.

Denis mencoba untuk tenang. Ia mengingat pelajaran pertama ketika personel intelijen terbangun dalam kondisi yang tak normal: jangan panik. Ia pun terdiam, mencoba memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Denis lantas menyadari bahwa ia sedang berada di sebuah ruangan berukuran 3 x 3 yang diterangi oleh lampu bohlam berkekuatan lima watt. Ia juga sadar bahwa dirinya tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang. Situasi yang gila, pikirnya. Denis tahu ia sedang disandera.

“Mari bicara,” seseorang berkostum serba hitam tiba-tiba muncul dan mengambil kursi reyot untuk diletakkan tepat di hadapan Denis. Ia pun duduk di atas kursi tersebut. “Aku tidak ingin berlama-lama, jadi sebaiknya kau jawab pertanyaanku dengan jujur.”


Harga telur tidak akan naik jika tidak ada telur.

--Quote Yaiyalah, Papa Husky


Denis mengenali pria berkostum gelap tersebut, ia adalah sosok yang sama dengan sosok pembunuh Andreas malam itu. Hanya saja, kali ini sang pria tak mengenakan topeng bermotif tengkoraknya. Denis menundukkan kepalanya dengan luruh, ia tahu siapa pria yang dihadapinya: sang pembunuh yang membantai tujuh pejabat pemerintahan beberapa waktu ke belakang. Subject 09.

“Pembunuh tujuh pejabat, bukan begitu?” tanya Denis luruh.

“Yep.”

“Aku mohon, buat kematianku cepat dan tak menyakitkan.”

“Hmm,” Subject 09 menghembuskan napas panjang seraya mengecek peluru pada magasin pistolnya. “Aku tidak akan repot-repot membawamu ke sini kalau hanya untuk membunuhmu. Mari kita bicarakan itu belakangan. Aku butuh kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Aku takkan menyakitimu jika kau berbicara jujur.”

” … ” Denis tak merespon, ia hanya melirik Subject 09.

“Oke, jadi langsung saja aku bicara ke intinya. Aku membutuhkan informasi mengenai Operasi Antisakti, itu adalah operasi besar yang kau payungi saat baru saja menjadi ketua PIN. Persoalannya, sejauh pencarianku pada database PIN, aku tak bisa menemukan apa pun yang berkaitan dengan Operasi Antisakti. Aku sadar bahwa operasi ini berada pada tingkatan di atas top secret, itu artinya PIN menyimpan seluruh arsip mengenai Operasi Antisakti secara offline. Kalian pasti menyimpannya di sebuah brankas atau di lemari atau di bawah tempat tidur, pokoknya di mana pun agar arsip-arsip tersebut tak bisa disentuh oleh sembarang orang. Pertanyaanku cukup sederhana: di mana dan bagaimana aku bisa menemukan seluruh dokumentasi mengenai Operasi Antisakti tersebut?” tanya Subject 09 seraya menutupnya dengan sebuah todongan pistol ke arah kemaluan Denis.

Denis menatapi moncong pistol yang mengarah tepat ke titik vitalnya. Ia menelan ludah. Matanya lantas kembali terfokus kepada sosok berkostum serba hitam di hadapannya. “S-secara teknis, kau membutuhkan bantuan orang-orang yang memiliki akses terhadap operasi tersebut. W-walaupun posisiku sebagai ketua PIN, tetapi aku tak memiliki akses terhadap operasi tersebut secara detail. Aku hanya bertugas sebagai pemberi lampu hijau, namun aku tak bisa mengamati keseluruhan operasi.”

“Hmm, tak ada sedikit pun bocoran yang kau ketahui? Jangan berdusta, Denis.”

“S-sumpah. A-aku dan operasi terkutuk tersebut sama halnya dengan orangtua dan anak yang hendak bermain di luar rumah. Orangtua hanya bertindak sebagai pihak yang memberi persetujuan, tetapi apa yang dilakukan oleh anak di lapangan bermain, itu adalah rahasia anak.”

So … ?”

So, j-jika kau tanya padaku, aku tak tahu-menahu mengenai detail operasi tersebut. B-berita baiknya aku tahu siapa pemain kunci yang terlibat pada operasi tersebut.”

Subject 09 tersenyum. Ia mendapatkan titik terang. “Bagus. Katakan siapa dan di mana aku bisa menemukannya?”

“Hanif Wahyudin. Ia adalah pimpinan Operasi Antisakti. A-aku tak tahu di mana lokasinya, tetapi kau bisa memulai pencarian dari Han’s Security, perusahaan keamanan swasta yang ia dirikan di Papua.”

“Papua?”

“Y-ya. T-tujuan awalnya adalah untuk mendukung operasi-operasi luar negeri di Papua, termasuk memberi pelatihan kepada OPM secara diam-diam dan membuat konspirasi. O-orang ini jahat, lebih loyal kepada sekutu daripada kepada Indonesia.”

“Menarik. Kau tidak sedang mengarang cerita ‘kan, Denis?” Tanya Subject 09 seraya menekan moncong pistolnya tepat di batang “pistol” Denis.

“Bajingan! T-tidak! Tentu saja tidak! Apa untungnya bagiku!? Hanif memang begitu, ia adalah salah satu agen pemerintah yang menghendaki perubahan total pada Republik Indonesia dengan cara mengekor dan mengemis bantuan kepada negara-negara barat. H-hanya dengan itu Indonesia bisa maju, menurutnya.”

“Baiklah,” Subject 09 bangkit dari tempat duduknya. “Kau memberikan informasi yang berharga untukku. Sementara ini, aku tidak mood untuk membunuhmu. Tetapi, kalau kau ketahuan berbohong, aku takkan ragu memburumu lagi seperti malam ini, Denis.”

Denis terdiam, ia hanya mampu mengangguk pelan dan menelan ludah. Ia pun tertunduk.

Akan tetapi, ada yang aneh. Denis sedikit terkejut bahwa interogasi tersebut sama sekali berbeda dengan dugaannya. Awalnya ia menduga bahwa Subject 09 hendak mencari tahu motif utama pembantaian Kampung Rimbun atau mencari setiap agen yang terlibat, namun rupanya sang pembunuh tersebut malah bertanya mengenai Operasi Antisakti. Ia menjadi bingung, apakah Operasi Antisakti memiliki koneksi dengan pembantaian Kampung Rimbun? Karena sejauh yang ia tahu, pembantaian Kampung Rimbun tidak ada hubungannya dengan Hanif Wahyudin yang merupakan kepala Operasi Antisakti.

“M-mengapa kau membutuhkan informasi mengenai Operasi Antisakti? A-apa untungnya bagimu?” tanya Denis gelagapan.

“Seriusan, Denis. Apakah semua ketua PIN bodoh sepertimu?” Subject 09 menatapi Denis dengan tawa mengejek. “Salah seorang eksekutor pembantaian Kampung Rimbun adalah agen pemerintah yang dulu sempat dicari-cari oleh Operasi Antisakti, namanya Jurig. Setelah pembantaian, Jurig kembali hilang, keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun. Oleh karenanya, karena Operasi Antisakti didesain untuk menemukan Jurig, kurasa mereka yang paling tahu keberadaan Jurig saat ini. Sudah paham?”

Denis mengangguk pelan. Tak puas. Ia paham, tetapi tak puas. “A-aku bisa memahami itu, t-tetapi apakah kau berniat untuk melumatkan semua petugas lapangan pembantaian Kampung Rimbun, namun mengabaikan biang kerok pembantaian tersebut?”

“Aku sudah mengurus biang keroknya. Tujuh sahabatmu itu biang keroknya, termasuk Menteri Pertahanan dan Kapolnas.”

Denis terhenyak mendengar jawaban Subject 09. Ia pikir pria pembunuh yang berada di hadapannya tersebut mengetahui segala-galanya mengenai pembantaian Kampung Rimbun, rupanya tidak. Jawaban Subject 09 sama sekali berbeda dengan informasi yang ia terima selama ini. Atau jangan-jangan ia salah? Tidak, tidak mungkin, batinnya meronta. Ia tidak mungkin salah, presiden sendiri yang menodongnya dengan senjata ketika akan mengesahkan surat persetujuan pembantaian.

“K-kau tidak membantai biang keroknya. Tujuh temanku itu sama sekali bukan biangnya … ” Denis mencoba meluruskan persoalan. Ia malah berniat memuntahkan segala informasi tentang pembantaian tersebut.

Subject 09 terdiam, ia menatapi Denis dengan mimik tegang. Sesaat itu ia merasa ada sesuatu yang tak ia ketahui mengenai pembantaian tersebut. “Apa yang sedang kau katakan, Denis?”

“K-katakanlah kau memiliki perusahaan. Pada sebuah perusahaan, ada yang namanya owner sebagai penggagas utama, lalu direktur sebagai perancang strategi, kemudian karyawan sebagai pelaku. Jika kau sekedar melumatkan tujuh pejabat dan eksekutor-eksekutor lapangan yang terkait pada pembantaian tersebut, kau baru membantai direktur dan karyawan perusahaan, kau belum memusnahkan otaknya–”

Owner. Aku melewatkan owner-nya, bukan demikian, Denis?” sela Subject 09 seraya menodongkan senjata di kepala Denis.

“Y-ya. K-kau sama sekali tak diberitahu oleh tujuh temanku yang kau bunuh?”

“Tidak. Mereka tidak mengatakan apapun. Kau berbohong, Denis!” Subject 09 mengancam. Ia mulai menarik hammer pistolnya.

“B-bajiiing! Maafkan aku! T-tidak! Tidak! Aku tidak berbohong! Aku bersumpah! Tolong jangan bunuh aku!” Denis menjadi sangat panik, jantungnya berdegup seperti menggila sesaat setelah ia mendengar bunyi klik dari pistol Subject 09.

“Lalu, mengapa teman-temanmu tidak memberitahukan apa pun kepadaku? Aku menginterogasi enam diantaranya sampai hampir tewas, kutanyakan apa motif pembantaian tersebut dan siapa dalang di baliknya, namun jawaban mereka sama: ‘Kampung Rimbun adalah wilayah yang akan melahirkan mafia-mafia raksasa. Kami harus libas mereka sebelum menjadi penyakit.’ Begitu jawaban mereka. Mengapa aku tidak diberitahu bahwa ada biang kerok yang lebih tinggi daripada mereka!?”

“A-aku tidak tahu! Sumpah, aku tidak tahu! Tetapi bukan itu alasan utamanya! Aku bersumpah demi Tuhan, bukan itu alasan dibalik pembantaian tersebut!”

Kedua pria tersebut lantas membisu selama beberapa saat. Kehabisan kata-kata, khususnya Denis. Selama ini Denis mengira bahwa ketujuh almarhum sahabatnya membawa misi yang sama dengan pemilik rencana pembantaian Kampung Rimbun, rupanya tidak. Ketujuh almarhum tersebut tampaknya dikelabui oleh para pemilik makar, mereka tidak tahu bahwa ada motif yang besar dibalik “pembersihan” penduduk Kampung Rimbun. Pantas saja ketujuh pejabat itu dengan senang hati melaksanakan pembantaian, pikirnya.

“Jadi, siapa–”

Subject 09 tak sempat menyelesaikan pertanyaannya. Ia mendengar suara raungan mesin dari kejauhan. Kepalanya lantas menoleh ke arah sumber suara. Sial, lokasinya ketahuan. Ruangan tempat ia menginterogasi Denis tersebut merupakan bagian dari rumah kucal yang berada di tengah perkebunan nan lebat, jika ada truk masuk ke daerah tersebut, dapat dipastikan truk tersebut adalah milik agen pemerintah. Densus AT-13 atau Densus Sandi Negara, mungkin.

“Sialan. Kau memasang transmitter, Denis?” Subject 09 mengganti pertanyaannya, kini ia mencurigai Denis.

“T-tidak. S-sumpah! A-aku tak membawa transmitter atau radio atau apapun yang dapat memancarkan sinyal ke markas pusat.”

“Ya, katakan itu pada dirimu sendiri. Lokasi kita ketahuan pasti karena ada pemancar sinyal pada tubuhmu. Tetapi aneh … aku sudah memeriksa seluruh tubuhmu dengan detektor, tetapi tak menemukan apa-apa,” ujar Subject 09 seraya berjalan ke belakang tubuh Denis.

” … ” Denis hanya terdiam. Ia mendengus-dengus seperti kesetanan. Takut disangka berbohong, lalu ditembak di kepala oleh Subject 09.

“Itu kita diskusikan nanti sajalah,” tukas Subject 09 sembari membuka tali pengikat pada kedua tangan Denis. “Sekarang kau ikut aku terlebih dahulu. Kau tidak boleh mati sebelum kau menjelaskan semuanya kepadaku. Kau berhutang informasi kepadaku, Pak Tua.”

Denis dipaksa bangkit dari kursinya. Kedua tangannya dikunci oleh Subject 09 di belakang punggung agar tak bisa melakukan perlawanan. Subject 09 lantas meletakkan moncong pistolnya tepat di atas pundak Denis. Formasi itu berguna jika tiba-tiba Subject 09 kedatangan tamu tak diundang, ia tetap bisa melakukan tindakan ofensif maupun defensif dalam waktu yang bersamaan.

Akan tetapi …

BLAAAR!

Tak disangka-sangka, ledakan muncul dari arah samping, menghancurkan dinding rumah yang rapuh. Subject 09 dan Denis terhempas akibat ledakan tersebut, keduanya lantas menumbuk dinding di seberang ledakan. Tersungkur.

Subject 09 mengalami luka kecil di bagian kakinya, rompi antipelurunya pun sedikit rompal akibat ledakan, tetapi ia tak gentar. Ia segera bangkit dan merangsek ke arah datangnya ledakan. Ia tahu ada pasukan rahasia pemerintah menerobos masuk dari arah sana.

Benar saja, dibalik kepulan asap yang meluas ke dalam rumah, Subject 09 bisa melihat beberapa orang berkostum gelap muncul; mereka bersenjatakan pistol mitraliur, dilengkapi dengan pelindung tubuh seperti helm, elbow protector, dan knee protector. Mereka adalah detasemen khusus milik pemerintah, tak salah lagi. Entah Densus AT-13, entah DSN, entah Sat-81 Gultor, sama saja bagi Subject 09.

Subject 09 menuruti nalurinya. Ia mendekati salah satu personel detasemen dan menjegal tangannya dengan cepat. Bidikan sang personel pun berbelok ke arah yang salah.

Melihat lawannya gugup, Subject 09 segera meraih kepala sang personel dan membenturkannya ke dinding. BRAK! Terdengar suara tumbukan yang cukup keras sesaat setelah kepala sang personel menghantam dinding. Bebatuan kecil hasil retakan dinding pun bertaburan. Ia juga menarik pin granat yang terjuntai di pinggang sang personel, lalu menendang tubuh sang personel hingga menjauh dari tempatnya berdiri.

Subject 09 langsung melompat menyamping, bertiarap.

KA-BLAAAAAM!

Ledakan keras terjadi sesaat setelahnya. Rupanya Subject 09 baru saja mencabut pin granat high-explosive yang punya daya ledak lebih besar daripada granat biasa. Ia benar-benar membuat para personel elit tersebut hancur berantakan; mampus di tempat tanpa sempat banyak berbuat.

Pertarungan memanas. Beberapa personel detasemen bantuan tampaknya berusaha mengepung Subject 09 dari arah lain, mereka sudah berada di dalam rumah.

Subject 09 menoleh ke arah sumber suara, lalu menghampiri para personel detasemen yang belum siap memukul balik. Seluruh personel terkaget-kaget mendapati Subject 09 sudah muncul tepat di depan moncong mereka. Tak gentar, Subject 09 justru semakin ganas menghadapi gerombolan personel elit tersebut.

subject 09 detasemen sandi negara

Satu lawan banyak. Subject 09 benar-benar menghadapi orang-orang terpilih tersebut sendirian. Hanya dengan berbekal gerakan lincah bak pemain sirkus, ia mampu menumbangkan belasan hingga puluhan orang tanpa kepayahan. Meski sempat beberapa kali tertembak, tetapi luka-lukanya tak sanggup membuatnya limbung.

Pertarungan brutal dari jarak dekat tersebut akhirnya menyisakan lima personel densus yang sudah kehabisan akal.

Subject 09 tetap dalam modus ofensif. Ia merenggut pistol dan pisau komando yang tergeletak di atas lantai, lalu bergerak lincah untuk memburu lima personel elit yang tersisa. Tak ada yang bisa menghentikannya, apalagi dengan kondisi para personel yang sudah terengah-engah.

Seluruh personel detasemen itu tewas.

Personel pertama mati dengan tebasan pisau di lehernya. Personel kedua mati dengan lubang hasil tembakan pada tenggorokannya. Personel ketiga mati dengan hujaman pisau pada jantungnya. Personel keempat mati dengan luka tusuk di paha dan luka tembak di kepalanya. Personel kelima mati dengan tiga peluru menembus kepalanya.

Hening.

Situasi akhirnya menyepi. Tersisa kepulan asap akibat ledakan dan tembakan. Dengan demikian, pertarungan antara detasemen khusus pemerintah dan sosok pembunuh tak dikenal secara resmi berakhir.

Subject 09 bangkit dari posisinya, masih sambil membidik ke berbagai arah, ia mencoba memastikan bahwa situasi telah benar-benar aman. Napasnya tersengal-sengal, tetapi tetap teratur. Staminanya benar-benar luar biasa, ia sanggup menghancurkan kekuatan negara yang katanya tak-bisa-ditembus tersebut dan membuat para personelnya bermandikan darah segar.

Setelah dirasa aman, Subject 09 menurunkan bidikannya. Ia bisa bernapas lebih tenang sekarang.

Subject 09 lantas menoleh ke arah pria tua yang ia sandera malam ini, Denis. Pria yang berusia hampir enam puluh tahun itu tersungkur luruh di tempatnya tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Subject 09 memastikan keadaan Denis, ia menekan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas urat nadi Denis. Sialan, bisiknya geram. Ia kehilangan nyawa seseorang yang menyimpan misteri besar mengenai pembantaian Kampung Rimbun.

Selain mengecek denyut nadi Denis, Subject 09 juga mengamati kondisi fisik Denis untuk menemukan apa yang menjadi penyebab dari kematian Denis. Matanya lantas terpaku kepada beberapa lubang di dada dan perut Denis. Ia sadar bahwa Denis memang sengaja dibunuh. Setiap detasemen khusus dilatih untuk membedakan kawan dan lawan dalam situasi penyanderaan, jika pejabat negara sepenting Denis tertembak, itu berarti para anggota detasemen tersebut memang sengaja mengincar Denis. Apalagi Denis tampak seperti diberondong secara brutal, bukan sekedar tertembak.

Subject 09 kesal. Ia meninju dinding di sampingnya. Ia tak bisa menyelamatkan Denis dan tak bisa menyelamatkan informasi penting mengenai pembantaian terkutuk tersebut. Walaupun ia menang bertarung malam itu, namun ia masih kalah oleh pergerakan orang-orang yang punya kepentingan pada pembantaian Kampung Rimbun.

Subject 09 tak ingin berlama-lama merenungi nasibnya. Ia belum dihadapkan pada jalan buntu. Ia masih punya waktu untuk menemukan pimpinan Operasi Antisakti, Hanif Wahyudin. Mungkin pria tersebut dapat mengantarkannya menuju kebenaran sejati mengenai Kampung Rimbun.

Seraya menahan perih yang merajang beberapa anggota tubuhnya, Subject 09 berjalan pelan menuju lorong rahasia bawah tanah yang menyambungkan rumah amburadul tersebut dengan sebuah goa kecil yang tak terpetakan oleh peta resmi pemerintah. Ia sadar, jika ia pergi melalui pintu depan atau pintu belakang atau pintu samping, bisa jadi ada penembak jitu pemerintah yang sedang menunggu di balik semak-semak. Dengan melewati lorong bawah tanah tersebut, jejaknya takkan terdeteksi oleh siapapun. Paling tidak, untuk malam itu.

***

Tok … tok … tok.

Seorang pria berpakaian batik mengetuk pintu kayu berwarna putih tersebut. Ia tak berani memutar gagang pintu sebelum ada izin masuk dari seseorang yang berada di dalam ruangan. Berdiri saja dirinya selama beberapa saat seperti orang yang sedang mengantri buang air kecil.

“Masuk,” tak lama kemudian, seorang pria bersuara agak berat menyahut ketukan pintu dengan mempersilahkan sang pengetuk masuk ke dalam ruangan. Suaranya terdengar seperti seorang pria berusia 50-60 tahun, bahkan mungkin seusia dengan almarhum Denis Sumargana.

“Pak Presiden,” si pria berbaju batik tersebut masuk perlahan seraya menyapa pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Rupanya ia sedang menyambangi sosok nomor satu di Indonesia saat ini, Presiden Darsono. “Kami sudah mendapatkan laporan lengkap mengenai operasi penyerbuan ke tempat Denis disandera,” lanjutnya seraya berjalan ke meja presiden.

“Oh, ya? Bagaimana laporannya?”

“Uhm … baik dan buruk, Pak.”

“Hmm. Kedengarannya tidak enak,” ujar Darsono seraya menyandarkan kepala di atas kedua tangannya. “Baiklah, dimulai dari yang baik saja dulu.”

“Oke. Berita baiknya, sesaat setelah kami mendapatkan kode merah dari Andreas–pengawal Denis, kami akhirnya dapat melacak keberadaan Denis dari sinyal nanochip yang tertanam di aliran darahnya. Terimakasih kepada Anderas yang pernah melarutkan bubuk nanochip pada minuman Denis.

“Denis terlacak dan dapat kami bunuh sebelum ia sempat melarikan diri. Sekarang tidak akan ada lagi yang dapat mengorek kebenaran dibalik pembantaian Kampung Rimbun–”

presiden darsono

“Ah, jangan terlalu yakin,” sela sang presiden seraya menyandarkan kepala di kursinya. “Siapa yang bisa jamin bahwa si penyandera belum sempat mengorek informasi mengenai motif dibalik pembantaian Kampung Rimbun? Tidak ada yang bisa jamin, karena kita mendatangi Denis sekitar satu jam setelah ia diculik, artinya ada kemungkinan si penyandera sudah membuat Denis buka mulut.”

Sang informan berdiri mematung. Ia sedang mencari respon yang tepat untuk menanggapi penyataan presiden. “Lalu, kita harus bagaimana, Pak?”

“Lanjutkan ke berita buruknya dulu.”

“Uhm, baiklah. Berita buruknya, kita tidak dapat membekuk si penyandera. Parahnya lagi, tiga peleton Detasemen Sandi Negara yang Anda kirimkan malah dibantai tanpa sisa. Entah bagaimana caranya si penyandera melakukan hal tersebut, tetapi, melihat dari tubuh para jenazah personel detasemen yang hancur berantakan, kurasa ia mendapatkan bantuan dari pihak luar.”

Darsono terenyak. Ia menatap sang pengawal dengan tajam. Mimiknya berubah; semula tenang kini menegang. Ini bukan soal lolos dan tidaknya si penyandera, tetapi soal tiga peleton pasukan terbaik negara yang musnah hanya dalam waktu beberapa jam. Itu bukanlah sesuatu yang normal.

“Tidak, aku yakin tiga peleton kita memang hancur oleh satu orang,” tukas Darsono menegang. “Kalian mungkin sulit untuk mempercayainya. Tetapi, ia melakukan hal yang serupa ketika diinterogasi oleh Jenderal Yusuf Tarigan. Densus AT-13 dipecundangi seperti kawanan cecunguk. Kupikir tiga peleton sudah cukup, rupanya belum. Lalu, harus berapa orang untuk menghadapinya!? Satu resimen [3]!?”

NB: satu resimen sama dengan 3000-5000 personel

Seluruh pengawal yang berada di dalam ruangan kerja presiden pun terdiam. Mereka hanya saling tatap dengan kerut-kerut penuh rasa waswas. Para pengawal ini adalah orang-orang terbaik pilihan Tentara Nasional Indonesia, mereka tak bisa membayangkan ada orang yang jauh lebih superior di atas kemampuan mereka dan orang tersebut tidak berada di pihak mereka. Mendengarnya saja sudah ngeri.

“Ada petunjuk ke mana orang itu pergi?” Darsono lanjut bertanya, ia merasa khawatir.

“Sejauh ini tidak, Pak. Tetapi kami berhasil mengabadikan wajah si penyandera dari teknologi terbaru Pindad, yakni micro-helmet cam yang dikenakan oleh salah seorang personel detasemen di sana. Kamera ini tampaknya lolos dari perhatian si penyandera. Meskipun teknologi ini masih prototipe, namun hasilnya cukup jernih,” ujar sang informan seraya menyerahkan sebuah foto berukuran setengah kertas A5 kepada presiden.

Darsono menatapi foto yang diberikan oleh pengawalnya secara seksama. Ia kini bisa melihat wajah sang pembunuh dengan mata kepalanya sendiri. Selama ini, tak ada satu pun orang yang bisa menangkap gambar sang pembunuh sekalipun telah dikirim orang-orang terbaik negara. Namun, terobosan baru PT. Pindad mampu membuat perubahan yang signifikan, kamera superkecil yang mereka ciptakan ternyata memiliki manfaat yang tak terduga.

“Ini sudah cukup,” kata presiden. “Kirim gambar ini ke PIN. Broadcast gambar ini kepada seluruh agen PIN di Indonesia, aku mau si penyandera ditemukan secepat mungkin.”

“Media juga, Pak?”

“Ya, termasuk media. Pokoknya broadcast gambar ini secara nasional sampai si penyandera tak memiliki ruang untuk bergerak. Kita akan memenangkan perang kecil ini.”

Seluruh personel Paspampres yang berada di dalam ruang kerja presiden pun dapat bernapas lega. Paling tidak mereka telah mendengar solusi yang cukup memuaskan dari atasan mereka sendiri. Rasa khawatir pun berkurang, mereka awalnya sangat waswas jika si pembunuh misterius sampai mendekati Presiden Darsono, negara bisa porakporanda apabila Paspampres gagal menahan si pembunuh sebagaimana halnya DSN dan Densus AT-13.

“Harus menang … ”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

7 thoughts on “2 – Clue in the Shadow

  1. Cukup kreatif. Tapi kalo boleh mengkritik, Terlalu lama perkelahiannya. Disamping Seorang profesional shrsnya sdh menghitung targetnya dgn matang, shrsnya jg memakai prinsip beladiri krav maga yg mengutamakan penyelesaian dgn cepat, tepat, mematikan. Mohon maaf, anda tdk sedang menulis naskah sinetron tutur tinular, atau film kung fu, bukan. Tentu seorang profesional hrs cakap dlm ilmu beladiri, namun poin utamanya bkn itu.

    Kadang saya membacanya sampai hrs saya lompati langsung setelah pertarungan fisik selesai, tdk lain krn saya merasa jenuh dan bosan.

    Saya tahu ini cerita bertema agen rahasia dan intrik politik. Justru disitulah shrsnya yg jd poin utama utk dieksploitasi. Itulah yg membuat cerita2 semacam itu menjadi menarik dan istimewa.

    Lanjutkan berkreatifitas!

    1. Terima kasih banyak atas masukannya, Bung Daniel! 😀

      Di episode2 awal memang harus banyak diubah untuk adegan perkelahiannya, karena terlalu panjang, itu benar sekali. Belakangan ini, kami juga sudah tidak terlalu mendetailkan adegan perkelahian, seperti di episode 23.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *