19 – (Un)Rest [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Tuban, Jawa Timur
11.11

“Buronan nomor satu yang selama ini diburu oleh pemerintah akhirnya ditangkap oleh aparat gabungan yang terdiri dari unsur Polri, PIN, dan TNI. Adam Sulaiman berhasil ditekuk oleh aparat pada pukul setengah lima pagi tadi di Kota Jombang setelah beberapa jam sebelumnya posisinya dikunci di wilayah barat Kota Jombang. Terjadi perlawanan sengit dari Adam hingga mengakibatkan puluhan personel aparat gugur, namun situasi kini telah dikendalikan oleh aparat.”

Seorang reporter televisi swasta memberitakan tentang penangkapan Adam secara berapi-api. Ia berdiri di depan sebuah bangunan yang telah luluh lantak, disinyalir sebagai sisa-sisa pertempuran antara Adam dan para personel aparat. Berita itu seketika menjadi ramai, hampir seluruh televisi swasta di Indonesia menayangkan kisah tentang tertangkapnya Adam di Kota Jombang.

Jombang memang luluh lantak akibat perseteruan yang terjadi pagi tadi. Akan tetapi, masyarakat pada umumnya menyambut prestasi aparat dengan sikap yang positif. Hal itu bisa terlihat dari wawancara dadakan yang diadakan oleh beberapa reporter televisi. Warga Jombang maupun luar Jombang mengaku lega mendengar kabar bahwa buronan yang selama ini membuat mereka ketar-ketir akhirnya dibekuk oleh pemerintah.

Hari itu, Indonesia seakan merayakan kemerdekaan yang kedua. Pemerintah menang telak. Mereka tak hanya mampu menangkap Adam, namun mereka juga berhasil mengambil simpati rakyat. Pada umumnya, masyarakat sangat bahagia karena kerja pemerintah dianggap sangat efektif. Tak hanya itu, kepercayaan terhadap kesatuan-kesatuan tertentu pun meningkat, khususnya kepada Kopassus dan Densus AT-13.

Namun, tak semua orang senang dengan kabar penangkapan tersebut. Ada segelintir orang yang berkomentar miring, menganggap bahwa penangkapan tersebut hanyalah sandiwara. Ada pula yang panik, waswas, dan bersedih. Kelompok pertama datang dari para skeptis yang hobi mengonsumsi isu hoax, sedangkan kelompok kedua datang dari para kerabat dekat Adam. Benar … Subject 17, Verani, Nadia, dan Patih kini duduk di depan televisi dengan perasaan yang bercampur aduk. Mereka tak percaya bahwa orang yang selama ini sangat ‘licin’ akhirnya dibekuk oleh pemerintah.

Napas Verani menjadi sangat tak teratur. Matanya membelalak. Keningnya mengerut. Ia tak bisa menerima kenyataan, jiwanya memberontak hebat begitu mengetahui pujaan hatinya kini berada di tangan pemerintah. Ia pun berjalan mondar-mandir di ruang tengah, berusaha menenangkan pikirannya.

Verani dan seluruh kerabat Adam Sulaiman kini tengah berada di Kota Tuban, di rumah pribadi Subject 17, lebih tepatnya. Awalnya, mereka berharap akan berkumpul kembali dengan Subject 09 dan Subject 03 setelah kabur dari aparat semalam lalu. Sayangnya, harapan itu pupus begitu seluruh saluran televisi menyiarkan breaking news yang sama tentang tertangkapnya Adam.

“Ini tidak mungkin terjadi! Ini tidak mungkin terjadi!” Verani menjambak-jambak rambutnya sendiri. Ia mulai merasa tertekan.

“Tenanglah, Ve … ” Subject 17 berusaha menghibur Verani dengan suara nan lirih.

“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang!? Lihat itu, lihat! Adam sudah ditangkap oleh aparat. Tak lama lagi ia akan hilang ingatan seperti saudara-saudaranya yang lain! Ia … ia takkan lagi mengenaliku! Ia mungkin akan mencoba membunuhku!”

Subject 17 pun bangkit dari posisinya dan menghampiri Verani. “Aku tahu kau sulit untuk menerima kenyataan semacam ini. Tetapi, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini—”

“Tidak ada yang bisa kita lakukan!? Lalu, apa gunanya kau di sini!? Bukankah kau juga manusia super seperti Adam!? Bukankah kalian selalu bilang bahwa kalian berasal dari sebuah eksperimen pemerintah!?”

“Aku tidak pernah bilang bahwa aku adalah manusia super, Ve. Eksperimen pemerintah, ya. Tetapi aku bukan manusia super, aku tetap manusia biasa yang bisa mati sepertimu dan seperti Patih.”

Verani terdiam. Kedua matanya mulai sembab, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Ia lantas menelan ludahnya dalam-dalam. “Aku tak tahu apa yang kau pikirkan tentang Adam, tetapi ia … adalah seseorang yang sangat istimewa dalam hidupku. Ia sudah menyelamatkanku dari kehidupan pribadiku yang rusak. Ia menyelamatkanku dari candu sebagai pekerja seks. Ia menyelamatkan senyumanku, senyuman Patih! Ia menyelamatkan segala-galanya tentangku!”

Sesaat itu, semua orang yang berada di sana terdiam menatapi Verani.

“Kalau kau tidak bersedia dan tidak berniat untuk menyelamatkannya dari pemerintah, aku sendiri yang akan turun tangan!” Verani geram. Ia pun bertolak dari tempatnya berpijak.

Akan tetapi, Subject 17 menahan kepergian Verani. Ia menggenggam lengan Verani sesaat setelah Verani membuang muka darinya. “Jangan gegabah! Pemerintah bukanlah lawan yang sepadan untukmu! Kau mau bunuh diri!?”

“Apakah itu penting untukmu, Felicia!? Aku tidak peduli pada nyawaku! Yang penting adalah tekadku untuk menyelamatkan Adam!”

“Kalau kau mau bunuh diri seperti itu, paling tidak siapkan sesuatu yang sepadan untuk kematianmu!”

“Aku tidak peduli!” Verani menyentak lengannya, melepaskan genggaman tangan Felicia darinya. “Aku memang tidak punya kekuatan sepertimu! Aku juga tidak punya kecerdasan sepertimu! Tetapi aku tidak pernah menimbang-nimbang atau bahkan berpikir dua kali untuk menyelamatkan orang kusayang!”

PLAAAK!

Entah mengapa, Subject 17 sontak melayangkan tamparan keras ke wajah Verani. Tamparannya sampai membuat kepala Verani sedikit terplanting dan membuat sosok ibu muda itu menjerit singkat. Subject 17 tak berkata apa-apa setelahnya, ia hanya menatapi Verani dengan ekspresi yang bercampur aduk dan napas yang berat.

“Felicia … kupikir kau adalah keluarga, karena keluarga tak pernah meninggalkan anggota keluarga lain tertinggal di belakang. Ternyata aku salah … ” Verani pun bertolak dan berjalan masuk ke dalam kamar. Ia ingin mengurung diri.

Subject 17 sama sekali tak berkomentar apa-apa sejak ia melayangkan tamparannya ke wajah Verani. Ia pun memejamkan matanya dan memijit-mijit keningnya. Sesungguhnya ia merasa frustasi, sama seperti Verani, tetapi ia berpura-pura tenang atas tertangkapnya Adam dan Ara di Jombang.

Subject 17 lantas menoleh ke belakang, menatapi putra semata wayang Verani dengan seksama. “Patih, maafkan aku. Aku tak bermaksud—”

“Tak apa-apa,” ujar Patih tertunduk. “Ibu sudah biasa ditampar seperti itu oleh bapak-bapak yang sering main ke rumahku dulu.”

” … ”

“A-ahaha, sebaiknya kita main di halaman saja yuk, Patih. Aku akan menemanimu bermain bola atau bulutangkis!” Nadia merasa situasi tersebut sudah terlalu tak kondusif untuk anak seumuran Patih. Ia ingin menetralisir suasana dengan aktivitas yang lebih menyenangkan.

“Bulutangkis, boleh juga, Bibi Nadia … ” ujar Patih.

“U-uhhh, jangan panggil bibi donk. Panggil kakak saja ya … ” Nadia bergegas bangkit dari posisinya dan mengajak Patih bermain di luar rumah. Mereka pun menghilang seketika waktu, pergi meninggalkan Subject 17 sendirian di ruang tengah.

Sunyi. Sesaat itu kondisi menjadi teramat sunyi. Satu-satunya keributan yang tersisa adalah detak jarum jam di dinding ruang tengah. Subject 17 sendiri masih berdiri mematung, jiwa dan raganya masih terjerat dalam perasaan bersalah. Ia lantas melangkahkan kakinya perlahan-lahan, lalu duduk di sofa ruang tengah dan mengembuskan napas panjang.

Subject 17 tak tahu harus berbuat apa. Ia menyekat wajahnya dan berulang kali mengucapkan kalimat ampunan kepada Tuhan. Ia merasakan hal yang sama dengan Verani, tetapi ia berpura-pura tegar. Depresi. Ia tak percaya bahwa sosok sehebat Adam yang selama ini ia anggap tak terkalahkan pun berhasil ditekuk oleh aparat.

Televisi masih terus menyiarkan berita tentang tertangkapnya Adam. Sepertinya masyarakat sedang sangat bergembira, begitu pun para pemilik media. Tetapi, itu sama sekali tak membuat perasaan Subject 17 menjadi lebih baik. Ia malah makin depresi. Marah. Kedua matanya menyorot layar televisi begitu tajam dan memerhatikan beberapa anggota aparat di sekitar lokasi penangkapan.

“Bangsat … ” kutuk Felicia dalam bisikan.

***

Safehouse Rahasia PIN, Jakarta
06.01
Beberapa jam sebelum penangkapan Adam menjadi breaking news

Subject 09 membuka matanya perlahan-lahan. Yang pertama kali tersorot olehnya adalah dinding berwarna abstrak. Warna-warna yang tak beraturan itu merupakan sesuatu yang tercipta secara tidak sengaja; sebagian besarnya tercipta oleh lumut, lumpur, dan percikan darah.

Adam pun terdiam, benaknya berupaya memproses segala hal yang tampak di depan matanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, ke depan dan ke belakang, sekadar untuk mengenali ruangan redup tempat ia duduk saat ini. Ada dua orang berdiri mengerubunginya; yang satu adalah Kapten Johan, yang satu lagi ia tak mengenalinya.

Sesaat kemudian, buronan nomor satu republik itu pun tertunduk seraya melepaskan napas panjang. Adam sadar, ia sedang disandera di sebuah ruangan interogasi.

“Bagaimana tidurmu, Adam? Nyenyak?” Kapten Johan, ia ada di sana untuk memastikan rivalnya tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain.

“Bagaimana rasanya masih hidup, Kapten? Kau hampir mati setelah dua kali bertarung denganku,” Subject 09 menjawab pertanyaan sinis Johan dengan nada yang serupa.

Heh,” Johan tertawa sinis. “Menyindirlah sesuka hatimu, Adam. Kau memang harus lebih sering-sering melakukannya karena beberapa jam lagi kau mungkin akan dibawa ke laboratorium dan dicuci otak.”

“Aku memang berencana untuk mengobrol lebih banyak denganmu, Kapten … ” ujar Subject 09. “Kau pikir aku tak bisa meluluhlantakkan sesuatu dalam keadaan seperti ini?”

“Oh, ya?” Johan berjalan mendekati rivalnya. “Kalau begitu, coba hibur aku, Adam … ”

“Aku tak berniat mau menghibur kapten keparat sepertimu, aku hanya penasaran kenapa kau tak menghadapiku face-to-face seperti saat terakhir kali kita bertemu di kantor NetCaptain?”

“Hmm … ” Johan mengusap-usap dagunya. “Perlukah aku melakukannya? Sepadankah? Karena ternyata anak buahku bisa menumbangkanmu tanpa bantuanku.”

“Blade, maksudmu? Ia bukan anak buahmu, ia adalah produk cuci otak. Kau hanya memanfaatkannya. Kau sepertinya tidak punya ‘bola’ untuk menghadapiku secara langsung, Johan. Kau takut nyawamu terancam lagi, sehingga kau kumpulkan saudara-saudaraku untuk menangkapku. Payah sekali.”

“Bukan Blade. Tapi Citra. Tengoklah ke belakang … tidakkah kau mengingat wajahnya?”

Subject 09 terdiam. Ia menoleh ke belakang dan menatapi seorang wanita berkucir dua berdiri memerhatikannya. Wanita itu terus-menerus bersiaga dengan senapan serbunya. Subject 09 menatapi wanita tersebut secara seksama, begitu dalam, begitu tajam, sebelum akhirnya ia mengingat bahwa wanita itulah yang menembak kakinya dan membuatnya kalah bertarung dengan Blade. Setelah puas menatapi wanita tersebut, Subject 09 mengembalikan tatapannya ke depan. Tertunduk lagi.

“Namanya Citra Furia. Pangkat Sersan Kepala. Anggota Kopaska. Kau tahu apa yang aneh dari hal itu, Adam? Kau baru saja dikalahkan oleh seorang bintara. Jadi, buat apa aku turun tangan jika aku bisa membekukmu tanpa mengeluarkan terlalu banyak energi?” tanya Johan sinis. “Lagipula, ini pertempuran, bukan tarung kandang. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau untuk menang. Tidak ada aturan. Kau tahu itu, Adam.”

” … ”

“Sepertinya kau telah kehabisan bahan humor, Adam. Kau sudah kalah, akuilah. Tak lama lagi kau akan bernasib sama seperti Tenma dan Blade.”

“Oh ya?” Adam mendengus sinis, menyindir kepercayaan diri rivalnya. “Apa yang membuatmu merasa sangat yakin bahwa aku sudah kalah, Kapten?”

Johan terdiam. Ia menatapi Subject 09 dengan penuh tanda tanya. Citra pun demikian, hanya saja wanita itu lebih memilih untuk menatapi komandannya.

“Apa yang kau pikirkan, Adam?”

“Renungkanlah sedikit, Kapten … ” Subject 09 memperbaiki posisi duduknya. “Kenapa kau pikir aku dibawa ke sini, bukan ke laboratorium?”

Johan masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan Adam yang sebenarnya. “Apa maksudmu? Kau dibawa ke sini untuk diinterogasi, tentu saja.”

“Ya, tentu saja … lalu kenapa kalian hanya berdiri saja seperti orang bodoh?”

“Oh, jadi kau ingin segera merasakan rasa sakit, ya?” Johan berjalan mendekati Subject 09. Ia mengeluarkan pisau lipatnya dan menghunuskan mata pisau kepada rivalnya. “Aku akan melakukannya dengan senang hati, Adam … ”

“Kapten, kita tidak diberikan izin untuk melakukan hal ini!” Citra angkat suara, ia berusaha menahan atasannya seraya membentangkan tangannya ke depan.

Johan pun menghentikan langkahnya, ia menatapi Citra dengan tatapan bengis.

“Heheh, dengarkan apa kata bawahanmu, Kapten. Kau tidak diberi izin untuk melakukan interogasi … ” Adam tersenyum kecut. “Lagipula, kau tampaknya tidak tahu informasi apa yang perlu kau gali dariku.”

” … ”

“Kenapa? Kau kehabisan bahan humor, Kapten?” Adam tertawa sinis. Ia mengembalikan kata-kata rivalnya. “Lebih buruk lagi … sepertinya kau hanya dimanfaatkan oleh PIN untuk menangkapku tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Habis sudah kesabaran Johan. Ia pun melayangkan tinjunya ke wajah Adam.

Menerima pukulan di wajahnya, Adam tak berkutik. Kepalanya terpelanting, namun ia tak merasa kesakitan, tidak pula merasa terintimidasi. Ia malah menertawai serangan Johan, seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Kapten … kau benar-benar tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi kan?” ujar Subject 09 tenang. Hidung dan sudut bibirnya mengucurkan darah, tetapi ia tetap tenang.

“Aku mengerti, bajingan … ” Johan menggenggam kerah baju Subject 09. “Aku mengerti bahwa kau dibawa kemari untuk diinterogasi. Mungkin PIN masih perlu menemukan Verani atau saudari berjilbabmu yang brutal itu!”

“Kapten … ” Citra hendak mencegah atasannya agar tak melakukan hal-hal yang gegabah, namun ia sendiri bingung harus berbuat apa.

“Johan, pertanyaanku masih sama: kenapa kau tidak diberi clearance untuk menginterogasiku?” Adam kembali berseloroh.

Seketika itu, ruangan yang semula riuh oleh perdebatan sontak terjerat dalam kesunyian. Tak ada yang sanggup berkata, atau memang tak ada kata yang benar-benar pantas untuk menanggapi pertanyaan sang buronan. Johan kesal, ia sekadar sanggup mengerat gigi-giginya lebih keras.

“Jawabannya jelas, Kapten: ada seseorang yang ingin berbicara secara tertutup denganku. Sayangnya, kau tidak dipercaya untuk ikut dalam pembicaraan tersebut. Entahlah, kenapa menurutmu?” tanya Subject 09. “Mungkin karena PIN sebenarnya memang tidak memercayaimu. Mungkin setelah ini kau akan disingkirkan untuk menutupi jejak busuk bos-bosmu. Lebih buruk lagi, aku mungkin bisa meyakinkan atasanmu untuk menyingkirkanmu.”

“Diam kau, bajingan!” Lagi-lagi Johan melayangkan pukulannya. Kepala Adam pun terpelanting untuk yang kedua kalinya.

“Kapten! Hentikan! Kita tidak diberi izin untuk ini!” Citra memberanikan diri untuk maju dan menahan aksi Johan yang lain.

“Johan … heheheh … ” Subject 09 membuang ludahnya yang telah bercampur dengan darah. “Semua kekacauan yang kubuat berasal dari Kampung Rimbun dan kau sama sekali tidak diberitahu apa-apa tentang itu. Bosmu tahu, tetapi kau tak diberitahu. Kau bahkan bertanya tentang hal tersebut kepadaku sewaktu kita bertemu di Pasuruan. Kenapa? Kenapa hal semacam itu disembunyikan darimu?” lanjutnya meringis.

“Sadarilah, Johan … kau juga, sersan cantik … kalian tak lebih dari sekadar alat. Kelak kalian akan dibuang ketika saatnya tiba. Aku mungkin akan mencoba meyakinkan atasan kalian untuk melakukan hal tersebut. Itulah kenapa, harus kukatakan kepada kalian: jangan terlalu percaya diri bahwa kalian sudah menang.”

Belum lama berselang, tiba-tiba terdengar suara logam berderak di seberang ruangan. Tampaknya ada seseorang yang berusaha membuka pintu besi yang membatasi ruangan tersebut. Ketiga orang yang berada di dalam ruangan redup itu pun langsung mengalihkan pandang ke sumber suara.

Tak lama, pintu besi terbuka lebar, menimbulkan suara guratan yang memilukan. Muncullah seseorang yang selama ini dinantikan oleh Subject 09. Mayjen Riyadi Supratman, perwira tinggi Kopassus yang kini menjabat sebagai kepala PIN. Ia memasuki ruangan interogasi ditemani oleh beberapa pria berbadan tegap yang menenteng senjata laras panjang.

Riyadi tersenyum, lantas memerintahkan kedua bawahannya untuk keluar. “Kapten, Sersan … tugas kalian sudah selesai di sini. Kalian bisa bergabung kembali dengan Tenma dan Blade,” tegas Riyadi seraya tetap menyarangkan kedua tangan di dalam saku celananya.

Johan menarik napas panjang, mencoba meredam perasaan kesal yang masih merajang hatinya. Ia pun berjalan cepat menuju sang jenderal, lalu berdiri cukup dekat dengan pria berusia hampir 60 tahun tersebut.

“Jenderal, apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa bukan aku saja yang diperintahkan untuk menginterogasi Adam?” Johan mempertanyakan segalanya secara spontan.

Riyadi menatapi bawahan terloyalnya selama beberapa saat, lalu memindahkan tatapan itu kepada Adam. “Hmm, kalau kau ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi, kita bisa bicara tentang ini setelah aku mengobrol dengan Adam.”

“Kenapa harus kau yang menginterogasi Adam? Kenapa kau tidak memercayakan tugas itu kepadaku!? Kau menyembunyikan sesuatu dariku dan dari Citra, Jenderal!”

“Tidak ada alasan khusus. Biasanya memang begitu kan? Tim penyerang dan tim interogasi selalu terpisah, kau tahu tentang itu, Johan … ” Riyadi lantas menepuk pundak Johan dengan lembut. “Anggaplah ini sebagai prosedur standar untuk melakukan interogasi. Jika kau ingin tahu apa yang terjadi, ayo kita bicara setelah tugasku di sini selesai.”

Johan mengerat gigi-giginya. Ia tak mampu menumbangkan argumentasi atasannya. Para pengawal Riyadi juga sudah memelototinya. Ia tak punya pilihan lain selain mengikuti permainan Riyadi.

“Baiklah, Jenderal … kau berhutang penjelasan padaku dan pada Citra!” bisik Johan seraya bergegas meninggalkan ruangan. Ia berjalan dengan langkah yang tegas. Kesal.

Riyadi menatapi Johan dan Citra berjalan keluar ruangan. Sejenak ia terdiam. Ia lantas memberikan isyarat kepada para pengawalnya untuk mengawasi kedua prajurit tersebut. Tanpa sepatah kata, para pengawal berwajah sangar tersebut langsung berjalan menyusul Johan dan Citra.

Pintu besi kembali ditutup. Kini tinggal Riyadi dan Subject 09 di dalam ruangan redup dan berbau aneh tersebut.

“Sepertinya kau baru saja membuatnya sangat kesal, Adam … ” ujar Riyadi, ia menyindir Johan.

“Ia kesal karena kau tidak memberitahunya sesuatu yang seharusnya ia ketahui sejak pertama ia bergabung dengan operasi terkutuk ini,” jawab Subject 09 santai.

“Kompartementasi [1]. Itu sah-sah saja dilakukan dalam dunia intelijen kan?” Riyadi membentangkan kedua tangannya, lalu menghampiri Adam dengan wajah berseri-seri.

NB: [1] kompartementasi adalah sikap merahasiakan rencana atau tugas dari personel lain.

“Sah-sah saja … asalkan tidak sampai ketahuan bawahanmu. Kalau sampai ketahuan berarti kau tidak cukup pandai menjadi anggota intelijen.”

“Ya sudahlah … namanya juga sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi? Johan bisa kuurus nanti lah,” Riyadi menarik kursi besi yang bertengger di sudut ruangan dan meletakkannya di hadapan Subject 09. Ia lantas duduk seraya melipat kakinya. “Ngomong-ngomong, kau terlihat berantakan, Adam … ”

“Yeah. Ngomong-ngomong, kau terlihat seperti orang brengsek.”

Riyadi tergelak mendengar respon Subject 09. Ia sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang duduk bersama musuh negara. Memang begitulah sifatnya, ia lebih suka melakukan negosiasi dengan cara yang halus daripada melangsungkan kekerasan.

“Ayolah, Adam. Jangan sinis begitu. Aku ke sini hanya untuk berbicara baik-baik denganmu kok. Mungkin kita bisa bertukar pikiran tentang sesuatu.”

“Oh ya? Apa yang ingin kau tawarkan, Jenderal? Kau rela datang ke sini sendirian, mengusir dua bawahan terbaikmu, pasti karena ingin menyampaikan sesuatu yang sangat rahasia.”

“Tentu saja, Adam!” Riyadi menepuk pahanya seraya tersenyum. “Aku ingin melakukan tawar-menawar denganmu. Menarik, bukan?”

Subject 09 terdiam. Ia mendengarkan lawan bicaranya. Riyadi lantas bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan mengelilingi ruangan busuk tersebut.

“Kita bisa mulai dari akar perseteruan kita selama ini, yakni pembunuhan terhadap delapan pejabat pemerintah; yang tujuh di antaranya dilakukan olehmu dan satu orang lainnya dieksekusi oleh pasukan pemerintah.”

“Heh, baru kali ini ada orang yang dapat menyebutkan jumlah korban kebrutalanku secara tepat.”

“Oh, tentu saja, Adam. Telingaku ada di mana-mana. Aku mendengar dari agenku di Istana Negara bahwa Denis dibunuh oleh Detasemen Sandi Negara, bukan olehmu. Benar kan?”

“Kau mengerjakan PR-mu dengan baik, Jenderal.”

“Oke, kembali ke permasalahan utama, yakni pembunuhan terhadap delapan pejabat … ” Riyadi berpindah tempat. Ia berjalan mondar-mandir seraya menyelipkan kedua tangan di dalam saku celananya. “Aku dan beberapa orang yang kupercaya sudah mengetahui bahwa kedelapan orang itu mati akibat membawa dosa yang sama, yakni dosa yang membuatmu mengamuk dan muncul kembali ke permukaan bumi setelah lima tahun menghilang dari mata Operasi Antisakti … ”

Riyadi berhenti di suatu titik, lantas menoleh kepada Subject 09. “Pembantaian Kampung Rimbun. Kasus yang sangat membuatmu penasaran. Bukan begitu, Adam?”

” … ”

“Kau sudah tahu siapa pelakunya, sudah tahu berapa jumlah korbannya, sudah tahu dengan apa pembantaian itu dilaksanakan, akan tetapi … kau masih belum mengetahui satu misteri. Dan misteri itu adalah sebab kenapa temanku, Kolonel Hanif, mati di Maroko beberapa waktu lalu. Kau berusaha menggali jawaban darinya, tetapi sayang, sepertinya ia tidak tahu banyak soal misteri tersebut,” Riyadi terus berjalan mondar-mandir.

Subject 09 menatapi Riyadi dengan tajam. Ia merasa Riyadi menyembunyikan sesuatu yang amat besar darinya. “Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa aku belum menguak misteri tersebut?”

“Karena kalau kau sudah tahu jawabannya, kau tidak mungkin mencari-cariku, Adam … ” Riyadi tersenyum manis, namun ada kesan menyindir.

“Bagaimana kau tahu aku mencarimu?”

“Hmm … ” Riyadi mengusap-usap dagunya. “Ingatkah kau bahwa kau membunuh Hanif di ruangan interogasi milik CIA? Ruangan itu punya ‘telinga’ cadangan, kau tahu? CIA memiliki rekaman tentang interogasi yang kau lakukan di ruangan tersebut, lalu mereka membagikan rekaman itu kepada PIN karena ada hubungannya dengan jabatanku sebagai kepala PIN.”

Subject 09 terdiam. Ia ingat di mana ia menghajar Hanif dan mengakhiri hidup Hanif, hanya saja ia tak menyangka bahwa ruangan itu masih memiliki perekam suara rahasia. Tetapi, itu tak penting lagi untuknya. Yang penting sekarang adalah apa yang hendak ditawarkan Riyadi kepadanya.

“Adam … ” Riyadi kembali duduk di kursinya. “Aku tak tahu mengapa kau mengamuk atas pembantaian tersebut; mungkin ada orang yang kau cintai di sana, entahlah. Aku tak peduli. Tetapi, aku tahu kau membutuhkan informasi. Jadi, begini penawaranku … aku bisa membantumu jika kau juga mau membantuku. Aku bisa memberitahumu tentang motif pembantaian Kampung Rimbun jika kau mau memberitahuku sesuatu. Bagaimana? Cukup adil bukan?”

Subject 09 merenungi kata-kata Riyadi, mencoba menggali maksud terselubung dari penawaran lawan bicaranya. Ia tak bisa percaya begitu saja, apalagi dalam kondisi tersandera seperti demikian. “Apa gunanya informasimu jika aku tetap terkurung di sini, lalu dicuci otak seperti saudara-saudaraku yang lain?”

“Setidaknya kau jadi tahu motif di balik pembantaian Kampung Rimbun kan? Bukankah selama ini kau membantai ratusan aparat untuk menggali motif di balik pembantaian tersebut?”

“Kalau aku tidak bebas dari sini, sama saja bohong, keparat … ”

Riyadi menyeringai, lantas tertawa kecil mendengar respon Subject 09. “Baiklah, baiklah … mari kita berbisnis dengan benar,” Riyadi memajukan posisi duduknya.

“Aku akan memberikanmu kesempatan untuk bebas dari sini, Adam. Aku bersumpah akan melakukannya dan membiarkanmu mengerjakan apa yang kau anggap penting. Akan tetapi … ” Riyadi menunda ucapannya. “Aku perlu tahu di mana subjek terakhir Project SAKTI berada.”

Seketika itu, Subject 09 menatapi Riyadi dengan tajam. Keningnya menjadi penuh kerutan. Benaknya menimbang-nimbang permintaan Riyadi. Secara tidak langsung, ia diminta untuk mengkhianati saudarinya sendirim Subject 17. Akan tetapi, sepadankah untuk berkhianat? Adam bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

“Di mana saudara terakhirmu, Adam? Aku tahu ia yang membantumu beroperasi di Casablanca beberapa waktu lalu,” Riyadi mengemis jawaban. “Aku memerlukannya untuk melunasi utang Operasi Antisakti versi 1.0 yang dibawa oleh Hanif.”

Subject 09 tetap terdiam. Ia memalingkan pandangannya dari Riyadi. Lidahnya kelu, ia membisu seribu bahasa.

“Lantas … ” setelah beberapa saat menyepi, Subject 09 akhirnya angkat bicara. “Kalau kau sudah mendapatkannya, kau akan membiarkanku pergi? Itu namanya kau tidak melunasi utang Operasi Antisakti, karena membiarkanku bebas.”

“Anggaplah kau adalah pengecualian sebagai konsekuensi baik dari kesepakatan kita, Adam. Aku akan menghapuskan ‘dosa-dosamu’, lalu kubuat semua orang melupakanmu. Cukup simpel, bukan? Lagipula, ketika kau bebas nanti, aku ingin kau bekerja untukku … ”

Subject 09 melirikkan matanya. “Bekerja untukmu? Untuk membuat pembantaian yang serupa dengan Kampung Rimbun di tempat lain? Begitu, setan?”

“Tidak. Tentu saja tidak … ” Riyadi mengibas-ngibaskan tangannya. Ia lantas mendekati lawan bicaranya, sangat dekat. Ia bahkan menarik kursinya hingga tersisa beberapa sentimeter saja dari tempat Adam disandera.

Riyadi mendekatkan kepalanya, lalu menarik napas agak panjang. “Kita sebenarnya punya kepentingan yang sama, kau tahu itu?” bisiknya.

Subject 09 tak merespon. Ia sekadar menatapi Riyadi dengan heran. Agak terenyak. Semakin banyak tanda tanya yang berpuntir di dalam kepalanya. Kepentingan macam apa yang Riyadi maksud? Apakah Riyadi juga menginginkan para pemilik rencana pembantaian Kampung Rimbun meregang nyawa? “Kau … kau juga mengincar orang-orang yang mendanai pembantaian Kampung Rimbun?”

Riyadi tak melepaskan sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum kecut, lantas menyandarkan punggungnya pada kursi aluminium yang telah reyot. “Tafsirkanlah sesuka hatimu, Adam. Intinya, aku ingin kau bekerja denganku, dengan caraku, jika kau bersedia memberitahu di mana saudara terakhirmu berada.”

Tak ada kata, tak ada ucap. Subject 09 merenungkan penawaran Riyadi begitu serius. Ia memejamkan kedua matanya, lantas mulai mengingat-ingat momen berharga saat ia bersama dengan Subject 17. Ia mengenang betapa brutalnya Subject 17, namun di saat yang sama selalu menjadi teman baik bagi orang-orang yang menghargai keberadaannya. Tiada satu pun orang di Project SAKTI yang memercayai Subject 17 sebagai teman dekat, namun di saat yang sama mereka menganggap Subject 17 sebagai sosok yang setiakawan dan dapat diandalkan.

Hati Adam bergejolak. Ia merasa tak bisa menyerahkan saudari terakhirnya kepada PIN sebesar apa pun hadiah yang dijanjikan. Penawaran Riyadi terlalu menggiurkan baginya, tetapi di saat yang sama Subject 17 juga terlalu berarti baginya.

“Aku tak tahu di mana ia berada, Jenderal … ” Subject 09 membulatkan tekadnya. Ia merelakan satu-satunya cara termudah untuk menggali informasi tentang Kampung Rimbun demi saudarinya. “Sekalipun aku tahu, aku takkan menyerahkannya kepadamu.”

Riyadi terdiam sejenak. Ia lantas menganggukkan kepalanya secara perlahan-lahan. Tersenyum tipis. “Sayang sekali, Adam. Padahal ini adalah satu-satunya kesempatan bagimu untuk menguak apa yang sesungguhnya terjadi pada Kampung Rimbun.”

Subject 09 memalingkan pandangannya. Enggan menatapi musuhnya. “Aku masih punya banyak kesempatan, Jenderal. Dan aku akan berusaha untuk meraih kesempatan itu.”

Well … ” Riyadi bangkit dari tempat duduknya seraya tertawa kecil. “Sayang sekali kita tak bisa menjadi partner pada bisnis ini, padahal aku melihat potensi yang sangat besar dari kerjasama kita berdua. Kau lebih memilih untuk menggali jawaban dariku dengan cara yang sulit. Oleh karenanya, kukatakan kepadamu … semoga beruntung.”

Riyadi menutup pintu negosiasinya. Ia mengakhiri percakapannya dengan senyuman yang merekah, lalu berjalan menjauhi Subject 09.

“Jenderal … ” sesaat sebelum Riyadi membuka pintu, Subject 09 memanggilnya untuk yang terakhir kali. “Kau takkan bisa menemukannya. Dia yang akan menemukanmu.”

Riyadi berdiri mematung di depan pintu. Ia menatapi Subject 09 dalam diam. Sesaat itu, suasana pun menyepi, hanya tersisa pertukaran tatapan antara Subject 09 dan Riyadi.

“Itu akan sangat menarik, Adam. Aku akan menunggunya,” ujar Riyadi tersenyum. Ia lantas meraih gagang pintu di hadapannya.

“Oh, ngomong-ngomong … ” Riyadi baru saja akan berjalan keluar ruangan, tetapi membatalkan niatnya, malah kembali bertukar kata dengan sang buronan. “Hanya sebagai wawasan … bahwa orang-orang yang mendanai pembantaian Kampung Rimbun adalah orang-orang yang sama dengan para donatur Operasi Antisakti milik Hanif.”

“CIA?”

“Tidak. CIA itu hanya alat. Yang punya dana bukan mereka, tapi para pemilik kepentingan dan politisi dark state di Washington.”

Jawaban Riyadi menjadi akhir yang hakiki bagi percakapan dua insan tersebut. Riyadi berpamitan, ia melambaikan tangannya dengan elegan dan meninggalkan Subject 09 sendirian di dalam ruangan busuk tersebut. Pintu ditutup rapat-rapat, keheningan pun kembali berkuasa.

Subject 09 menghela napas panjang. Ia tidak kecewa atas kekalahannya di Jombang pagi tadi, tidak pula khawatir dikurung di ruangan berbau busuk tersebut. Ia malah sibuk memikirkan kata-kata Riyadi sebelum perwira jenius itu keluar dari ruangan. Washington, kata Riyadi. Keuntungan macam apa yang didapat oleh para politisi di Washington dari pendanaan terhadap pembantaian di Kampung Rimbun?

Subject 09 menengadahkan kepalanya. Ia mencoba menggali jawaban dari ketiadaan. Terlalu banyak hipotesis di dalam kepalanya. Ia perlu bukti lebih banyak untuk menganalisis motif di balik tragedi berdarah di Kampung Rimbun. Tiada jawaban yang benar-benar berarti untuknya.

***

Di ruangan interogasi yang lain

Kapten Johan dan Serka Citra mengunjungi tahanan lain yang mereka tekuk di Jombang pagi tadi, yakni Subject 03 alias Ara. Johan masih sangat penasaran dengan rahasia yang disembunyikan oleh atasannya. Ia kesal, kenapa Riyadi menutup kebenaran darinya? Apa yang membuat Riyadi memutuskan untuk merahasiakan permasalahan Adam darinya? Itulah sebabnya ia mendatangi Ara, barangkali rekan Adam itu mengetahui sesuatu.

Sama seperti Subject 09, Subject 03 pun disandera di sebuah ruangan kumuh dan berbau busuk. Tangannya diborgol di sebuah kursi yang didesain menyatu dengan lantai ruangan, sehingga ia takkan bisa berpindah-pindah sesuka hati dari posisinya. Ia dijaga ketat oleh kedua mantan saudarinya yang telah dicuci otak oleh PIN, yakni Subject 04 alias Blade dan Subject 10 alias Tenma.

Mendengar kedatangan orang baru ke dalam ruangannya, Ara pun menengadahkan kepalanya. Ia menatapi Kapten Johan dan Serka Citra secara seksama. “Oh, halo, Kapten … ” sapanya manis.

Johan berjalan mendekat. Ia menatapi Ara dengan tatapan jengkel. Agaknya ia masih risau dengan kenyataan bahwa ia tak diberitahu banyak hal tentang Kampung Rimbun.

“Ara … ” ujarnya. “Kudengar gosip dari orang-orang bahwa kau adalah lelaki. Apakah itu benar?” tanya Johan. Ia mengawali pertemuannya dengan pertanyaan yang aneh.

Ara sekadar tersenyum. “Bagaimana menurutmu, Kapten? Apakah kau tidak bisa mengenali jenis kelaminku?”

Johan terdiam. Ia menatapi Ara dalam diam. Kalau Ara merupakan seorang laki-laki, ia terlalu cantik, begitu pikir Johan.

“Kapten, kurasa ia perempuan. Suaranya, bentuk wajahnya … semuanya menunjukkan tanda-tanda bahwa ia adalah perempuan,” bisik Citra pada Johan.

“Tidak, Citra. Semua orang bilang bahwa ia adalah laki-laki. Ia punya ‘burung’, sama sepertiku. Pertanyaannya adalah kenapa ia bisa terlihat sangat mirip dengan kaum hawa … ” Johan menyanggah hipotesis Citra. “Ara, apakah kau melakukan operasi plastik?”

Ara tergelak mendengar pertanyaan sang kapten. Ia terlihat sangat manis dan feminin saat tertawa seperti demikian. “Apakah aku terlihat seperti manusia hasil operasi plastik? Aku dari lahir memang sudah begini, Kapten.”

” … ” Johan dan Citra membisu. Mereka kehabisan kata-kata, entah tanggapan seperti apa yang pantas untuk merespon fenomena ganjil di hadapan mereka.

“Uhhh, baiklah, baiklah! Terserah saja,” Johan tak mau ambil pusing. Ia ingin berbicara langsung ke intinya. “Ara, aku sedang sangat bad mood hari ini. Jadi, aku minta agar kau menjawab semua pertanyaanku dengan jujur atau kau akan kuperlakukan seperti Adam!”

Ara tersenyum cerah. “Tentu, Kapten. Aku akan menjawab semua yang kau butuhkan.”

Johan mulai merasa lega. Tampaknya Ara jauh lebih kooperatif daripada Adam. Ara juga tidak bersikap seagresif Adam. Ia lebih tenang dan periang.

“Aku ingin kau menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi pada Kampung Rimbun,” tukas Johan tanpa keraguan. “Maksudku … aku tahu semua kekacauan ini berasal dari pembantaian Kampung Rimbun. Tetapi, aku tak mengerti kenapa Mayjen Riyadi menyembunyikannya dariku? Apa sebenarnya motif dari pembantaian tersebut? Siapa pelakunya?”

“Hmm, Kampung Rimbun ya?” tanya Ara. “Aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya direncanakan di balik pembantaian tersebut. Aku sendiri awalnya heran mengapa Adam mengamuk dan menyebut-nyebut pembantaian tersebut sebagai alasannya. Lantas, setelah aku bertanya kepadanya … ”

Ara menunda ucapannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal itu membuat semua orang yang berada di sana mengernyit heran, terutama Johan. Mereka menanti jawaban apa yang disembunyikan oleh Ara.

” … aku pun masih tidak mengerti apa motifnya. Ahahaha,” lanjut Ara diakhiri dengan gelak tawa.

Johan mengerat gigi-giginya. Ia merasa dipermainkan oleh Ara. Tanpa berpikir dua kali, ia pun melayangkan tinjunya pada Ara. Dugaannya salah. Ara lebih buruk dari Adam. Wajah manisnya sangat menipu, padahal ia suka mempermainkan orang lain.

“SETAN! Jawab yang benar, Ara! Atau aku akan mendislokasikan rahangmu!” Johan geram. Jengkel. Ia pun ditahan oleh Citra agar tidak meluncurkan pukulan susulan.

Ara tertawa-tawa seraya mengaduh sesaat setelah menerima pukulan di wajahnya. Ia pun meludah, membuang air liur yang bercampur dengan darah segar. “Kapten … aku masih tak mengerti kenapa aku dibawa ke sini untuk diinterogasi. Bukankah seharusnya kau membawaku ke laboratorium untuk dicuci otak seperti Tenma dan Blade—”

“Jawab pertanyaanku, Ara! Apa yang sebenarnya terjadi di Kampung Rimbun!?”

“Uhm, pembantaian?”

“AKU SUDAH TAHU KALAU ITU! Yang aku ingin tanyakan adalah apa tujuan di balik pembantaian tersebut!?”

Ara tertawa kecil. Ia juga menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan. “Aku tidak tahu, Kapten. Itulah kenapa aku menemui Adam beberapa waktu lalu.”

“Dan!? Apa jawabannya!? Aku ingin tahu apa yang dikatakan Adam tentang pembantaian tersebut!”

Ara menengadahkan kepalanya, menatapi Johan dengan senyuman nan cerah, namun di saat yang sama ia juga terlihat seperti orang yang merasa iba dengan Johan. “Adam sendiri sedang mencari tahu, Kapten. Ia menduga bosmu yang tahu tentang itu. Mayjen Riyadi. Kenapa kau tidak tanyakan hal itu kepada atasanmu sendiri?”

Mendengar tanggapan Ara, Johan dan Citra pun saling melempar tatapan. Kata-kata itu serupa dengan pernyataan Adam beberapa saat lalu. Seketika, Johan kembali merasa sangat jengkel. Ia pun berjalan ke sudut ruangan dan meninju tembok beberapa kali hingga terdengar suara tumbukan ke seluruh sudut ruangan.

“Sepertinya hal itu dikompartementasi darimu ya, Kapten?” tanya Ara memastikan.

Johan tak bergegas menjawab. Ia menyandarkan tinjunya pada permukaan dinding seraya menundukkan kepalanya. “Hana Yuriska, rekan kerjaku, bahkan tahu tentang pembantaian itu. Kenapa aku tidak?”

“Heheheh … ” Ara tertawa kecil. Ia ingin menyindir Johan. “Mungkin sebenarnya kau tidak dipercayai oleh atasanmu sendiri, Kapten … ”

Semua orang yang menjaga Ara di dalam ruangan tersebut langsung menajamkan pandang ke arah sang buronan. Mereka ingin tahu apa yang sesungguhnya dipikirkan oleh Ara.

“Mungkin kita mirip, Kapten. Aku tidak tahu. Mungkin saja begitu. Dulu, jauh sebelum kau menjadi perwira, aku dan Adam juga merupakan orang yang sangat diandalkan pemerintah. Ada black ops CIA, libas. Ada black ops Mossad, sikat. Kami pikir kami telah dipercaya oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah-masalah seperti itu, tetapi lihatlah kami sekarang. Kami duduk di ruangan interogasi yang bau dan kusam, tangan kami diborgol, wajah kami dipukuli, kami dianggap sebagai buronan, dan kami menunggu untuk dicuci otak seperti Tenma dan Blade.

“Pada akhirnya, kami sadar bahwa tidak ada yang namanya kepercayaan absolut di dunia politik ini, Kapten. Kami kembali ke pemahaman dasar intelijen: trust no one. Bahkan kami tak memercayai anggota Project SAKTI satu sama lain. Mungkin, aku tak tahu, kau bernasib serupa dengan kami … ” jelas Ara panjang seraya tersenyum.

“Jangan samakan aku dengan bajingan sepertimu … ” Johan menggeram. Ia tak rela disetarakan dengan musuh negara.

“Kau hanya tidak berani mengakuinya, Kapten. Karena kau pikir kau berada di pihak yang benar. Kebenaran dalam dunia kita, dunia hankam dan politik, sifatnya relatif. Kebenaran adalah persoalan perspektif. Apakah kami yang benar? Belum tentu. Kami pun membunuh banyak orang untuk sampai ke tempat ini. Tangan kami berlumur dosa. Apakah kalian yang benar? Belum tentu juga. Kalian, orang-orang pemerintah, adalah pihak yang mengorkestrakan pembantaian di Kampung Rimbun. Tangan kalian juga penuh dosa. Jadi … siapa yang benar? Entahlah, hehehe.”

” … ”

“Ngomong-ngomong soal pembantaian Kampung Rimbun, katamu Mayjen Riyadi menyembunyikan rahasia di balik kejadian itu kan? Bagiku itu menarik, itu seperti sebuah sinyal yang mengatakan agar kau segera meninggalkan Riyadi dan para cecunguknya.”

“Apa maksudmu?” Johan terheran, Citra pun demikian.

“Berpikirlah sedikit lebih keras, Kapten. Kenapa Riyadi tidak mau memberitahukan segalanya kepadamu saat pertama kali kau bekerja untuknya? Kenapa rekan kerjamu tahu tentang pembantaian itu, sedangkan kau tidak?” Ara menunda hipotesisnya. Ia membiarkan semua orang terjerat dalam kebisuan. “Mungkin, aku tidak tahu, Riyadi takut. Takut jika kau mengetahuinya, kau takkan mau bekerja lagi untuknya.”

“A-apa yang kau katakan … ?”

“Mungkin sebenarnya dia punya rencana yang sangat-sangat busuk di balik pembantaian itu. Siapa yang tahu?” Ara tersenyum kecut, mengakhiri hipotesisnya dengan elegan.

Seketika itu, Johan dan Citra terenyak. Mereka tidak berpikir sampai sejauh Ara berpikir selama ini. Johan pun menggeram, ia lantas mengepalkan kedua tangannya begitu erat. Ia tak mau menelan bulat-bulat semua teori yang dimuntahkan oleh Ara, ia masih ingin memercayai atasan yang telah melatihnya selama bertahun-tahun. Hatinya menyangkal.

Sementara itu, Blade dan Tenma tetap berdiri di sudut ruangan. Mereka tak mengerti apa yang baru saja diperdebatkan oleh Johan dan Ara. Bingung. Setidaknya, mereka punya tugas, yakni menjaga Ara. Dan mereka tak ingin mempertanyakan kenapa mereka harus menjaganya.

Tak lama kemudian, perwira muda bernama Johan itu menghela napas panjang. Ia lantas mengajak Citra untuk keluar dari ruangan interogasi. Citra mematuhi perintah atasannya. Johan tampaknya lelah terbenam di dalam lautan teka-teki, ia ingin mengistirahatkan jiwa dan raganya.

Tanpa salam perpisahan, keduanya meninggalkan ruangan tempat Ara ditahan. Ara sempat mengucapkan ‘sampai jumpa’ kepada Johan, namun tak ada tanggapan apa-apa dari perwira baret merah tersebut.

***

Tuban, Jawa Timur
11.32

Subject 17 masuk ke dalam kamarnya. Ia mendapati Verani sedang terduduk luruh seraya memegangi pipinya. Verani duduk membelakangi pintu kamar, sehingga ia tak tahu jika Subject 17 sudah berdiri di belakangnya. Tanpa keragu-raguan, Subject 17 pun berjalan mendekati kerabatnya seraya menghela napas panjang. Ia tak berucap apa pun, sekadar mendekat dan duduk di samping Verani.

Kedua wanita cantik yang kini tinggal seatap itu pun terdiam. Mereka saling lirik, tak merangkai kata, lantas mengembalikan pandangan mereka ke arah yang berbeda. Begitu saja yang terjadi selama beberapa saat. Kesunyian itu sontak memberikan ruang bagi semaraknya suara canda dan tawa untuk merasuk ke dalam rumah, yang tidak lain berasal dari Nadia dan Patih di halaman.

“Verani … ” Subject 17 akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. “Aku minta maaf jika sudah menamparmu seperti tadi,” lanjutnya.

“Uhhh, ya … tidak apa-apa,” ujar Verani seraya tetap memegangi pipinya yang berdenyut-denyut. “Tamparanmu itu sakit sekali. Rasanya seperti dipukul menggunakan panci.”

“Maaf, Ve. Ini tangan yang terbiasa memukul batu … ” ujar Subject 17 tersenyum. Verani juga menanggapinya dengan senyuman. Keduanya lantas terdiam lagi selama beberapa saat.

“Ve … ” Subject 17 ingin mengutarakan maksud yang sebenarnya. “Aku tidak bermaksud mau memukulmu seperti tadi. Aku hanya … uhm … aku hanya tak tahu harus berbuat apa, namun di saat yang sama aku juga merasa tertekan, sama sepertimu.”

“Aku mengerti, Felicia. Maaf juga kalau aku memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin.”

“Bukan tidak mungkin … ” sanggah Felicia. “Aku hanya butuh waktu untuk berpikir lebih panjang. Lawanku jauh lebih berat. Aku tak hanya akan berhadapan dengan anak-anak terbaik Republik Indonesia, tetapi kemungkinan ada pula orang-orang terbaik dari Amerika Serikat. Kedua entitas itu kalau sudah bergabung sama sekali bukan bisnis yang bagus.”

“Adam dijaga seketat itu?”

“Dia dibawa oleh intelijen ke laboratorium khusus yang entah berada di mana. Menurut Nadia, tempat itu dijaga ketat oleh entitas dari dua negara sekaligus.”

“Oh … ” Verani berusaha merelakan kenyataan yang ada. Ia pun menyandarkan kepala di atas kedua tangannya. “Ini salahku juga. Tak seharusnya aku bersikap seperti ini dan membuatmu merasa tertekan.”

“Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri? Justru aku yang minta maaf karena telah bersikap impulsif.”

“Tentu saja aku salah. Aku sudah menyatakan siap untuk menerima segala hal tentang Adam, baik lahir maupun batin. Jadi, aku seharusnya juga siap menerima apa pun yang terjadi padanya … ”

“Tidak, tidak. Itu adalah pemikiran yang keliru … ” sergah Felicia. “Bertekad mempertahankan apa yang kau cintai adalah hal yang wajar. Itu adalah hakmu. Aku justru akan mempertanyakanmu jika kau sama sekali tidak bereaksi atas penangkapan Adam.”

“T-tetapi Adam mengatakan bahwa aku perlu menerima dia apa adanya—”

“Dengar, Verani … menerima seseorang lahir dan batin bukan berarti menyerah pada takdir, tetapi melakukan apa yang kita bisa untuk selalu mendukung orang yang kau sayangi secara lahir dan batin!” tukas Subject 17 berapi-api. Ia menggenggam kedua pundak Verani dengan tegas.

Sesaat itu, suasana kembali menyepi. Tersisa suara gemerisik dedaunan dan cericip burung di luar rumah. Nadia dan Patih tampaknya telah mengusaikan aktivitas mereka di halaman rumah, tiada lagi suara canda dan tawa dari keduanya.

Verani menatapi Subject 17 dengan kedua mata membelalak. Ia tak menyangka bahwa ia akan tertohok begitu dalam oleh ucapan wanita berjilbab di hadapannya. Ia jadi merasa seperti wanita labil yang tak memahami sama sekali tentang kehidupan dan proses pendewasaan. Perasaan ragu dan pesimisnya pun hilang seketika waktu, jiwanya berkobar-kobar meski masih bersimbah teka-teki.

“Ve, maafkan jika aku telah menamparmu tadi. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu pesimis seperti ini. Itu hanyalah refleks dari gejolak hati yang sedang kualami … ” Subject 17 masih memegangi pundak Verani, namun kali ini kepalanya tertunduk. “Aku ingin kau tetap yakin bahwa Adam adalah orang yang patut untuk diselamatkan.”

“Felicia … ” ujar Verani lirih. Ia jadi merasa bersalah pada Subject 17. “Terima kasih telah membuka mataku. Tetapi, aku sendiri tak tahu bagaimana caranya menyelamatkan Adam dari para intel berbahaya seperti yang kau katakan tadi.”

Subject 17 menengadahkan kepalanya, lantas menatapi Verani dengan penuh renungan. “Percayalah, pasti ada jalan untuk membebaskannya. Sebagaimana kataku tadi: semua ini bukan berarti tidak mungkin, kita hanya perlu persiapan yang jauh lebih matang.”

“Bukankah itu akan menjadikan kita sebagai kriminal, Felicia? Dalam perspektif aparat, kita pasti dianggap sebagai penculik tahanan, bukan dianggap sebagai pembebas tawanan.”

Subject 17 melepaskan genggamannya dari pundak Verani. Ia terduduk luruh seraya menundukkan kepalanya. Tercenung sesaat.

“Aku tahu itu, Ve. Aku tahu itu … ” kata Felicia. “Akan tetapi … siapa yang benar-benar bisa disebut sebagai orang baik pada permasalahan ini?”

” … ”

“Maksudku, kita—aku, Adam, dan Ara—telah membunuh, menculik, menyandera, serta menghajar banyak orang untuk sampai ke tahap ini. Aparat pun demikian. Mereka yang memulai semua ini dengan membunuh para pengasuhku, membantai warga Kampung Rimbun, membunuh kepala intelijen, dan berkonspirasi dengan negara lain untuk kepentingan pribadi,” jelas Subject 17. “Jadi, siapa yang benar-benar baik? Kami semua adalah kriminal. Oleh karenanya, aku takkan ragu melakukan ini karena aku tidak merampas apa pun dari orang baik!”

Verani terdiam sejenak. Benaknya tengah memproses setiap kata yang terlontar dari mulut Subject 17. “Lantas, kapan semua ini akan berakhir, Felicia? Kapan kita bisa hidup tenang seperti orang lain? Kapan gelar ‘kriminal’ itu akan hilang dari kehidupan kita? Tentu … sebagai manusia normal, aku atau bahkan kau tidak mau ini terjadi selamanya kan?”

Bombardir pertanyaan Verani tak lantas membuat keyakinan Subject 17 goyah. Akan tetapi, Subject 17 sempat terdiam, memikirkan jawaban yang lebih matang untuk memuaskan temannya. “Pertanyaannya bukan kapan, tetapi bagaimana. Ini jauh lebih sulit daripada sekadar menjawab ‘kapan’.”

“B-baiklah … jadi, bagaimana?”

“Aku pun tak yakin, Ve. Tak pernah tahu bagaimana caranya berhenti dari semua ini,” jawab Felicia spontan. “Mungkin … pertanyaan-pertanyaan semacam itu jadi sulit karena kau, Patih, dan Nadia tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan kami.”

Verani sontak terdiam. Keningnya mengernyit, mencoba memecahkan teka-teki yang menyelimuti ucapan kerabatnya.

“Bukan maksudku mencari kambing hitam. Tetapi … mari kita berbicara jujur. Aku dan Adam tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kekerasan. Kami dicekoki permasalahan politik sejak kecil. Kami diminta untuk menghajar, menculik, bahkan membunuh orang-orang korup sejak remaja. Kami lakukan itu agar orang-orang baik sepertimu tetap hidup. Semua ini menjadi lumrah untuk kami, bahkan menjadi rutinitas yang tak bisa kami tinggalkan.

“Kami tak pernah punya keluarga seperti yang terjadi saat ini, kami tak punya kewajiban untuk saling mengasihi dan menyayangi orang-orang di sekitar kami. Kami diprogram untuk bertempur, memata-matai orang, menginterogasi, mencuri informasi, dan sebagainya. Kau, Patih, dan Nadia adalah hal baru untuk kami. Andai waktu itu Adam tidak bertemu denganmu dan mengajakmu singgah di dalam kehidupannya, tentu takkan ada pertanyaan-pertanyaan ‘kapan berhenti’ sebagaimana yang kau ajukan tadi. Kami bisa bergerak leluasa, sebagaimana yang kami inginkan, sebagaimana yang kami jalankan selama ini,” jelas Subject 17 panjang.

Verani mengalihkan sorot pandangnya. Ia membuang muka ke arah yang berlawanan dengan Subject 17. Ia merasa tak berdaya untuk mengubah keadaan yang ada. Kehidupannya dan kehidupan subjek Project SAKTI terlalu kontras untuk disandingkan dan dijadikan perbandingan. Masa lalunya sebagai kupu-kupu malam pun bahkan tak sebanding dengan kenyataan pahit yang dihadapi oleh Adam, Felicia, maupun Ara.

“Aku bukan ingin membuatmu merasa tidak nyaman, Ve. Aku mengatakan hal ini agar kau bisa membayangkan kehidupan kami. Kami ini mesin, mesin penggiling orang-orang korup. Alam bawah sadar kami sudah terpatri ke arah sana.”

“Aku mengerti, Felicia … ” ujar Verani. Ia menarik napas panjang sesaat setelahnya. “Aku yang datang ke kehidupan kalian, jadi sebaiknya aku tidak terlalu banyak mengatur kalian dengan pertanyaan retorisku.”

Sesaat itu, suasana pun menyepi. Verani maupun Felicia terdiam membisu. Keduanya tenggelam dalam renungan. Benak mereka memberontak, bertikai dengan teka-teki. Tiada jawab atas tanya. Segalanya dibiarkan tetap sebagaimana mestinya.

“Meski begitu, pertanyaanmu itu bagus untuk membuat kami tetap menjadi manusia … ” bisik Felicia.

***

12.03

Subject 17 dan Verani menyudahi percakapan mereka tentang Adam. Tak ada kesimpulan memuaskan dari percakapan mereka berdua, tetapi setidaknya situasi hati tak lagi berkecamuk. Keduanya lantas keluar dari kamar dan berjalan ke arah yang berbeda. Subject 17 bergegas ke ruang tengah, sementara Verani bergerak ke arah dapur.

Tak lama kemudian, muncul pula Patih dan Nadia dari persimpangan antara ruang tengah dan ruang tamu. Mereka baru saja selesai bermain bulutangkis di halaman rumah. Tubuh mereka penuh dengan keringat, baju mereka pun lepek. Sambil menenteng raket dan kok, mereka berkelakar, tak memerhatikan jalan.

Karena berjalan seraya menoleh ke belakang, Patih hampir saja menabrak Subject 17 yang baru saja akan duduk di ruang tengah. Beruntung, ia ditahan oleh Subject 17. “Hei, Patih … lihat jalan donk,” sindir Felicia tersenyum.

Patih agak terenyak, awalnya. Akan tetapi, ia langsung tertawa malu begitu melihat wajah bibi angkatnya. “Ehehe, maaf, Bi … ” ujarnya seraya menggaruk-garuk tengkuknya.

“Bajumu basah sekali. Kau baru saja bermain bulutangkis atau berlari keliling komplek?”

Patih dan Nadia tertawa kecil menanggapi ucapan Subject 17. “Kami memang baru saja bermain bulutangkis kok, tidak bermain yang lain. Kak Nadia sih … dia mainnya serius banget!”

“Kok aku?” tanya Nadia seraya menahan tawa. “Kan kamu duluan yang mukulnya keras-keras. Kamu ternyata jago banget main bulutangkis, jadi ya harus aku layani donk.”

Subject 17 tersenyum. “Sudahlah, Patih. Ganti baju sana. Kalau tidak, nanti masuk angin lho.”

“Iya, Bi!” seru Patih riang. Ia pun berjalan melewati Subject 17. Akan tetapi, sebelum jauh, ia tiba-tiba saja berhenti. “Oh iya, Bi … ajari aku beladiri lagi donk, nanti sore!”

Subject 17 terdiam sejenak. Ia menoleh ke belakang. “Iya, tenang saja. Sudah, sana. Ganti baju dulu, kemudian beristirahatlah sejenak.”

“Okeee!”

“Patiiih!” tak lama, terdengar suara Verani agak berteriak dari arah dapur. “Mandi dulu, sana! Abis main bulutangkis, bau!”

“I-iya, Bu … ”

Subject 17 pun tertawa mendengar pertukaran kata antara Patih dan Verani. Sungguh hubungan ibu dan anak yang sangat harmonis, renungnya. Merupakan sesuatu yang tak pernah ia dapatkan sejak kecil. Ia sedikit iri, sejujurnya. Namun, ia tak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang penting. Ia lekas-lekas mengabaikannya.

“Nadia … ” Felicia beralih kepada wanita cantik berkacamata di hadapannya. “Aku perlu berbicara denganmu. Bisakah kita mengobrol di luar?”

“E-eh?” Nadia gelagapan mendengar ujaran tegas sosok panutannya. “T-tentu saja. Mau berbicara tentang apa?”

“Adam Sulaiman … ” ujar Subject 17 spontan. “Sebagai mantan peneliti PIN yang jenius, kurasa kau punya kunci untuk menyelesaikan masalah yang sedang kuhadapi.”

***

“Heh, ternyata kau punya peran yang cukup berguna di sini, yakni menjadi pengasuh Patih,” ujar Felicia tersenyum. Ia kini duduk di lantai teras rumahnya, bersama dengan Nadia, seraya menikmati indahnya awan yang berarak di atas langit.

“A-ah, biasa saja, Mbak Fel … ” jawab Nadia merendah. “Aku punya adik laki-laki, jadi lumayan berpengalaman menghadapi anak seumuran Patih.”

“Oh, ya?” Subject 17 ingin memastikan. “Apakah kau merindukan adikmu?”

“Uhm, kadang-kadang. Tetapi, keluargaku sudah punya kegiatan masing-masing. Hubungan kami tak selekat dulu. Ayah dan ibuku sibuk berbisnis, sementara adikku fokus berkuliah.”

“Keluarga yang ulet, ya … ” ujar Subject 17 tersenyum.

“Dulu tidak seulet itu sih. Tetapi, sejak aku kuliah dan bekerja di Jakarta, fokus mereka mulai berganti. Ayah dan ibuku fokus merintis bisnis kuliner yang mereka cita-citakan sejak lama, sementara adikku fokus belajar karena mau melanjutkan studi di Jepang sepertiku.”

“Tetapi, mereka tak melupakanmu kan?”

“Tidak sih, Mbak. Masih suka berkirim pesan kok. Hanya saja sudah jarang bertatap muka.”

“Itu jauh lebih baik daripada tidak punya keluarga sama sekali, Nadia … ” Subject 17 menutup percakapan basa-basinya. Ia pun menatap lurus ke arah depan, memandangi langit yang membiru dan awan yang menggulung-gulung. Pemandangan tepi laut yang indah, memang.

“Ngomong-ngomong … ” lanjut Subject 17. “Aku ingin bertukar pikiran denganmu tentang operasi penyelamatan Adam.”

“O-oh iya, kau berencana untuk menyelamatkannya, Mbak Fel?”

“Tentu saja, Nadia. Bagaimana pun, ia adalah saudaraku juga. Hanya saja … ” Subject 17 menyandarkan kepala di antara kedua pahanya. “Sampai saat ini aku belum tahu bagaimana cara untuk melakukannya.”

Nadia terdiam sejenak. Ia mengerti keinginan Subject 17. “Kalau kau berniat untuk menyelamatkannya, kau membutuhkan pasukan yang sangat besar. Adam pasti dibawa ke LARAS—”

“LARAS? Apa itu LARAS?” Felicia mengangkat kepalanya seketika waktu.

“I-itu adalah singkatan untuk Laboratorium Rahasia PIN, laboratorium yang digunakan untuk mencuci otak saudara-saudaramu.”

“Hmm, begitu. Baiklah. Apa yang perlu kuketahui tentang LARAS ini?”

“Unggg, sebaiknya mulai dari mana ya? Singkatnya begini: LARAS ini adalah salah satu tempat yang paling dijaga oleh dua pemerintah sekaligus, yakni pemerintah RI dan pemerintah Amerika Serikat. Orang-orang terbaik ditaruh di sana untuk mencegah terjadinya ‘invasi’ yang tak diinginkan. Kopassus, Kopaska, DSN, Delta Force, Navy SEALs, Rangers, semuanya ada di situ. Itu baru yang tampak di permukaan, ada beberapa pasukan rahasia juga, kalau tidak salah.”

“Termasuk peralatan tempur?”

“Ya, ya. Itu juga termasuk. Ada banyak kendaraan tempur dan sistem pertahanan yang amat canggih di sana. Intinya, tempat itu bukanlah sesuatu yang dapat kau rasuki dengan mudah, apalagi jika kau memutuskan untuk melakukannya secara frontal.”

“Untuk itulah aku butuh pasukan … ”

“Ya. Kau butuh pasukan. Tetapi, kau butuh pasukan yang besar untuk memporakporandakan tempat semacam itu. Kau perlu kekuatan yang setara dengan para prajurit yang diposting di sana dan itu sama saja seperti perang.”

“Hmm … ” Subject 17 merenung. “Apakah ada peluang agar aku bisa menginfiltrasi tempat itu tanpa harus terjadi pertempuran? Dengan penyamaran, misalnya?”

“Uhhh … ” Nadia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung. “Peluangnya sangat kecil. Yang bisa keluar-masuk tempat itu hanyalah orang-orang terpilih. Kecuali jika kau berniat untuk menculik salah satu pekerja di sana, melakukan operasi plastik agar wajahmu mirip si pekerja, mencongkel mata si pekerja, dan mencabut sidik jari si pekerja.”

“Ah, itu terlalu merepotkan. Terlalu memakan waktu dan biaya. Adam keburu kehilangan ingatannya … ” Subject 17 menolak ide Nadia. “Apakah ada peluang yang cukup besar jika aku menyertakanmu dalam operasi yang akan kujalankan?”

“E-EEEH!?” Nadia terenyak. Ia tak menyangka Subject 17 akan mengajaknya turun ke operasi. “K-kenapa harus aku!?”

“Karena kau bekerja di sana. Kau punya clearance untuk masuk ke dalam laboratorium terkutuk tersebut. Kau yang mencatat hasil pencucian otak saudara-saudaraku kan?”

“I-iya sih, tetapi … ” Nadia meragu. Ia sadar bahwa Felicia hendak memintanya untuk melakukan sabotase di dalam laboratorium, tetapi ia tak siap. Ia mudah gugup dan itu bisa membahayakan nyawanya dan nyawa orang-orang terdekatnya. “Aku khawatir mereka akan mencurigaiku. Alasannya ada dua: pertama, aku tidak masuk kerja kemarin. Kedua, ada ilmuwan yang melihatku bersamamu saat kita menginfiltrasi laboratorium PIN untuk mencari penetralisir micro-transmitter.”

Subject 17 mendesah panjang. Ia tahu bahwa Nadia bukanlah jalan keluar. “Berarti aku butuh sekutu yang lebih kuat … ”

“S-sebaiknya begitu. Pokoknya jangan aku lah. A-aku pasti mati kalau menginjakkan kaki di laboratorium terkutuk itu lagi,” ujar Nadia. Ia pun bisa bernapas lega. “Mereka pasti sudah berkali-kali menghubungiku karena aku tidak masuk kerja. Untungnya hapeku ketinggalan di kamar kost, jadi aku tak perlu melihat mereka meneleponku berulang kali dan membuat perasaanku tidak enak.”

Subject 17 tak menanggapi kata-kata Nadia. Ia tetap tercenung, memikirkan jalan keluar yang lebih baik untuk menyelamatkan Adam dan Ara dari cengkeraman pemerintah. Sejenak itu, ia membiarkan angin menepuk-nepuk pipinya dalam diam, membiarkan alam semesta bersabda untuk menghibur perasaan gundahnya.

Lantas, Felicia terpikir tentang sesuatu.

“Heh, aku baru ingat … ” kata Felicia. “Kapten Johan juga bekerja untuk menangkap Adam kan?”

“E-eh? Kapten Johan siapa ya?”

“Kau tidak tahu?” tanya Subject 17 seraya menatapi Nadia dengan heran. “Ia adalah perwira muda Kopassus yang dipinjamkan kepada PIN untuk menangkap Adam.”

“O-ohhh … rasanya aku pernah dengar tentang dia, tetapi belum pernah melihat wajahnya. Dia adalah orang yang sekarang bekerja dengan Tenma kan?”

“Benar. Dia adalah orangnya. Kurasa aku bisa memanfaatkan kemampuannya sebagaimana Adam memanfaatkannya untuk menyelamatkan Verani.”

“Uhhh, bagaimana cara kau melakukannya?”

“Ini yang agak sulit: aku perlu menemukan di mana orangtuanya. Ayah dan ibunya adalah kelemahan utama Johan. Jika aku bisa mendapatkan orangtuanya, aku akan dapat menguasai Johan dengan mudah.”

“K-kau berencana membunuh orangtuanya?”

“Tidak, Nadia. Itu terlalu ekstrem. Aku tidak sekejam itu. Kau tahulah … cekik sedikit saja, nanti juga Johan akan goyah dengan sendirinya.”

“O-oh, aku mengerti … ”

“Masalahnya adalah aku tidak tahu ke mana orangtua Johan dipindahkan. Sejak Adam menyewa freelancer untuk membidik kepala orangtua Johan, orangtuanya tak lagi berada di tempat yang sama. Aku tak tahu di mana PIN menyembunyikan mereka.”

“A-aku pernah dengar desas-desus tentang orangtua yang dipindahkan gitu sih … ” Nadia mencoba mengingat-ingat momen di tempatnya bekerja. “Tetapi aku tak yakin apakah orangtua yang dimaksud adalah orangtua Johan.”

Subject 17 menatapi Nadia dengan kedua mata membelalak. “Itu patut untuk dicari tahu, Nadia. Siapa yang menyebarkan desas-desus tersebut?”

“E-ehhh, aku tak tahu lho ya—”

“Katakan saja siapa yang menyebarkan desas-desus tersebut.”

“Anu … itu … salah satu anggota DSN yang diposting di LARAS. Aku tak tahu siapa namanya, semua anggota DSN sangat misterius. Wajah mereka selalu ditutup, identitas mereka selalu disembunyikan.”

“DSN ya … ” Felicia mengusap dagunya. “Kalau kau tidak tahu siapa nama anggota yang menyebarkan desas-desus tersebut, aku mungkin bisa mulai dari kepalanya. Brigjen Dharma Syafi’i.”

Nadia terdiam. Ia menelan ludah mendengar penuturan sosok panutannya. “S-sepengetahuanku, Pak Dharma ini bekingannya anggota-anggota DSN terbaik. Itu akan sangat merepotkanmu, apalagi kalau tujuannya hanya untuk mencari tahu lokasi orangtua Kapten Johan. Pertanyaanku sederhana: sepadankah?”

“Tidak, tidak. Kalau targetnya Brigjen Dharma rencananya akan berubah total … ” Subject 17 mengusap-usap dagunya. “Ada berapa anggota DSN yang diposting di LARAS?”

“U-uhhh … cukup banyak. Aku tak menghitung. Mungkin puluhan.”

“Kau yakin mereka semua adalah anggota DSN?”

“I-iya. Penampilan anggota DSN itu khas. Helm, rompi, pelindung siku, pelindung lutut, semuanya berasal dari perusahaan yang tak dikenal dan desainnya pun berbeda dengan peralatan yang dipakai oleh pasukan lain. Mereka juga selalu bergerak dua orang-dua orang. Pokoknya mereka berbeda dengan pasukan-pasukan lain,” jelas Nadia. “A-aku jadi penasaran, Mbak … apa yang kau rencanakan jika bukan untuk mencari orangtua Johan?”

“Aku tidak mau bersekutu dengan kapten bulukan itu kalau masih ada jalan yang lain,” tukas Subject 17 sinis.

“Kalau memang ada banyak personel DSN di dalam LARAS seperti yang kau katakan … ” Subject 17 tak lekas menyelesaikan ucapannya. Ia tercenung sebentar. Nadia sekadar menatapinya dengan heran.

“Kurasa Brigjen Dharma bisa menjadi kunci untuk memecahkan masalah ini.”

***

LARAS – Laboratorium Rahasia PIN
Lokasi: tak diketahui
15.12

Mayjen Riyadi, dikawal oleh sejumlah operator bersenjata, berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang berukuran sangat besar. Besarnya ruangan tersebut tak bisa digambarkan dengan jelas. Terlalu besar, terlalu luas, mirip seperti tempat penyimpanan peluru nuklir. Tembok-temboknya dilapisi oleh baja antikarat yang sanggup menahan gempuran proyektil berukuran masif.

Di dalam ruangan tersebut, terdapat beberapa tabung kaca berukuran cukup besar berdiri di sudut-sudut ruangan. Ukurannya hampir sama dengan lift bermuatan sepuluh orang. Mungkin lebih besar. Tabung-tabung itu tidak diciptakan tanpa tujuan, melainkan untuk membius dan mengurung beberapa sosok manusia misterius yang disebut sebagai ‘subjek’ oleh para ilmuwan di sana. Menurut kabar yang beredar, sosok-sosok misterius itulah para subjek Project SAKTI yang diburu pada tahun 2016 silam, lima tahun yang lalu.

Riyadi datang ke tempat itu untuk melakukan inspeksi terhadap proyek rahasia yang diprakarsai oleh pemerintah RI dan pemerintah AS tersebut. Para subjek yang dikurung di dalam tabung penuh selang dan kabel itu sedang dicuci otak agar bisa bekerja untuk kepentingan dua negara yang terlibat kerjasama. Kepentingan apa, itu masih tak diketahui, karena penelitian para subjek itu sendiri belum benar-benar sempurna. Baru dua subjek yang berhasil dikendalikan secara penuh oleh pemerintah, yakni Tenma dan Blade.

Riyadi ditemani oleh banyak orang saat masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia sangat dihormati oleh semua kalangan. Para bawahannya—seperti Johan, Citra, dan Hana—sekadar sanggup mengikuti langkahnya tanpa banyak tanda tanya. Ia pun mengobrol dengan banyak orang, semata-mata untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kurang penting.

Tak lama kemudian, Riyadi berjalan sendirian menghampiri salah satu tabung subjek. Tabung itu diisi oleh seorang pria berkepala pelontos dengan tubuh yang sangat atletis. Saat para pengawalnya hendak menemani, ia mengangkat tangannya tanpa menoleh, sebuah isyarat bahwa ia ingin sendiri. Ia menatapi subjek botak itu dengan seksama, sebelum akhirnya membisikkan nama sandi sang subjek yang juga sudah seringkali disebut-sebut oleh Adam Sulaiman.

“Jurig … ”

Riyadi lantas bertolak, ia menghadap ke arah kerumunan orang di sekitar sana, seperti hendak berpidato. “Ladies and gentlemen … ” ujarnya dalam Bahasa Inggris. “Sebagaimana yang kalian ketahui, kita akhirnya berhasil mendapatkan Adam Sulaiman.”

Puluhan orang yang berkumpul di ruangan itu pun bersorak-sorai. Mereka bersukacita atas pencapaian yang diraih oleh Mayjen Riyadi.

“Kita harus berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman aparat Indonesia yang telah berkorban banyak untuk melakukan penangkapan ini … ” Riyadi membentangkan kedua tangannya, masih berbicara dalam Bahasa Inggris. “Kalian, para ilmuwan, takkan bisa melakukan penelitian langka di laboratorium ini jika tak ada teman-teman aparat.”

Puluhan orang kembali merayakan pencapaian Riyadi dengan bertepuk tangan. Mereka tahu, Adam bisa tertangkap karena jasa dan pemikiran Riyadi. Rasa hormat para karyawan LARAS pun semakin bertambah, mereka sadar Riyadi bukan sekadar jenderal yang terbiasa duduk di belakang meja.

“Sebagai gantinya … aku membutuhkan bocah gundul ini untuk dibawa ke suatu tempat,” ujar Riyadi seraya menunjuk ke arah tabung di mana Jurig dikurung.

Mendengar pernyataan tersebut, sorak-sorai para karyawan LARAS berubah menjadi kesunyian. Sukacita bertransformasi menjadi kegundahan. Heran. Para penghuni laboratorium misterius tersebut saling tatap, tak mengerti arah pembicaraan Riyadi.

“Ah, baiklah, baiklah. Beberapa dari kalian mungkin ada yang belum tahu atau lupa. Biar kuingatkan kembali … ” Riyadi berupaya mengeliminasi kerancuan pada pernyataannya, agar tak menimbulkan kesalahpahaman. “Sebagaimana yang kalian ketahui … aku mempunyai izin istimewa terhadap Jurig karena aku sendiri yang membekuknya pada empat tahun yang lalu, padahal kita semua tahu bahwa ia adalah satu-satunya subjek Project SAKTI yang hampir membuat negara ini punah. Ia adalah subjek yang paling berbahaya dibandingkan subjek Project SAKTI yang lain. Presiden Darsono, CIA, dan pemerintah Amerika Serikat telah setuju memberikan izin istimewa tersebut kepadaku, jadi aku bisa melakukan apa pun yang kumau terhadap Jurig selama masih dalam kepentingan yang sama dengan kepentingan para empunya hajat,” jelasnya.

“Apa yang akan kau lakukan terhadapnya, Jenderal?” Kapten Johan mempertanyakan tujuan Riyadi membawa Jurig.

“Oh, tentu saja untuk penelitian. Aku punya tim sendiri untuk melakukan eksperimen independen. Kalau penelitianku bagus, aku mau menerapkannya juga di sini.”

“Kenapa tidak melakukannya di sini, Jenderal?”

“Di sini hanya untuk penelitian yang telah terjadwal. Kau tidak mau pemerintah menghabiskan uang untuk penelitian yang tak terencana kan?” tanya Riyadi tersenyum. “Nah, aku di sini bersedia mengucurkan dana pribadi untuk percepatan penelitian kita. Cukup mudah dipahami kan, Kapten?”

” … ”

Johan tampak skeptis dengan jawaban atasannya, namun pegawai LARAS yang lain mengangguk penuh kepuasan, termasuk orang-orang Amerika yang ditugaskan di sana.

“Tolong bantu aku mengangkat bocah gundul ini ke mobilku ya,” pinta Riyadi. Ia lantas berjalan menghampiri kerumunan.

Sejumlah orang dari kerumunan pun berjalan ke tempat di mana Jurig ditahan. Mereka terdiri dari beberapa ilmuwan dan petugas keamanan. Pada saat yang bersamaan, sejumlah bawahan Riyadi berjalan menghampiri bos mereka.

Hana berjalan paling depan, ia yang paling dulu tiba di hadapan Riyadi. Kerut-kerut pada keningnya menandakan bahwa ia masih terjerat dalam tanda tanya. “Jenderal … ” panggilnya. “Mengapa tiba-tiba kau mau mengambil Jurig?” tanyanya agak berbisik.

“Aku sudah menjelaskannya tadi, Hana. Apakah kau tidak mendengarkanku?”

“Aku dengar, Jenderal. Masalahnya adalah … kenapa sekarang?”

Riyadi tak lekas merespon. Ia malah tersenyum. Salah satu sudut bibirnya tersungging begitu tajam, seakan tak memedulikan pertanyaan bawahannya. Ia tetap berjalan sampai agak jauh dari kerumunan pegawai LARAS.

“Jenderal, jawab pertanyaan—”

“Tidakkah ada di antara kalian yang bisa melihat alasannya?” Riyadi menyela seruan Hana. Ia menghentikan langkah dan menatapi seluruh bawahannya.

Sesaat itu, tiada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan Riyadi. Hana, Johan, dan Citra terjerat dalam kebisuan. Mereka hanya sanggup saling tatap satu sama lain. Hening.

“Heh … ” Riyadi terkekeh menyindir. Ia pun kembali berjalan menuju pintu keluar. “Kalau instingku benar, semestinya akan ada sesuatu yang menarik di sini.”

Bawahan Riyadi tetap terdiam, mereka sekadar berjalan mengikuti ke mana Riyadi melangkah.

“Sangat menarik … ”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!