18 – Lockdown [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Laboratorium Rahasia PIN, Jakarta
02.22

“Jadi … segala kekacauan di sini telah terjadi sejak kemarin dan kau baru memberitahuku sekarang, Jonah?” Mayjen Riyadi terdengar gusar. Ia bercekak pinggang seraya menatapi keporak-porandaan di sekitarnya.

Laboratorium rahasia PIN memang baru saja dibobol oleh seseorang sehari yang lalu. Keadaannya sangat kacau. Berantakan. Objek-objek laboratorium berserakan di atas lantai, selongsong peluru bergeletakan, dan percikan darah menempel di beberapa permukaan. Riyadi bisa menerka bahwa telah terjadi pertempuran yang amat sengit antara penjaga laboratorium dan sang penyusup. Yang ia herankan adalah mengapa ia baru dikabari soal itu.

“B-benar, Pak. Maaf … ” pria gugup bernama Jonah itu pun merespon.

“Pantas saja kalian selalu tertinggal beberapa langkah di belakang Adam. Koordinasi kalian sangat kacau. Ini kasus besar, laboratorium rahasia dijebol orang, kok bisa-bisanya kalian baru melapor padaku?” tukas Riyadi.

“M-maaf, Pak. Para ilmuwan laboratorium juga terlambat memberitahu kami. Mereka panik, terlalu fokus pada Cecep yang sekarat.”

“Cecep? Penjaga laboratorium yang bermasalah itu, maksudmu?”

“B-betul, Jenderal.”

Cecep, ia adalah satu-satunya petugas keamanan di laboratorium rahasia tersebut. Sedikit gila, namun kemampuan tempurnya sangat mumpuni. Ia adalah prajurit Raider yang disangkal karena terlalu banyak melakukan aktivitas ilegal. Kini ia terbaring luruh di rumah sakit, sekarat akibat pertarungan di laboratorium sehari yang lalu.

“Huh, kacau … ” Riyadi mengusap-usap kepalanya. “Lain kali sewa orang yang lebih profesional saja, kalau perlu satu tim. Aku tidak peduli berapa harganya, yang penting bisa berkoordinasi dengan baik. Untuk apa kita menyewa profesional yang lebih murah jika koordinasinya kacau seperti ini?

“Lagipula, salah besar jika kau mengira bahwa para ilmuwan memahami rantai koordinasi kita. Mereka ditugaskan untuk meneliti dan mengembangkan teknologi-teknologi terbaru di PIN, bukan untuk lapor-melapor.”

“I-iya, Pak. Kami akan mengevaluasi masalah ini.”

“Harus … ” tegas Riyadi. “Apakah kau sudah menghubungi Hana untuk datang ke markas?”

“Sudah, Pak. Sebentar, akan kupanggilkan dirinya … ” Jonah bergegas pergi dari tempatnya berpijak.

Riyadi menoleh ke kanan dan ke kiri, terus-menerus memerhatikan keadaan laboratorium yang sangat berantakan. Ia tak berpikir dua kali untuk menuduh Adam sebagai penyebabnya. Kalau pun bukan Adam, semestinya sang penyusup adalah seseorang yang berkemampuan seperti Adam, apalagi ia tahu ada tiga anggota Project SAKTI yang masih bebas berkeliaran.

Riyadi mencoba membayangkan apa yang terjadi di dalam laboratorium. Ia menatapi lubang-lubang di tembok, selongsong-selongsong peluru di ubin, dan percikan-percikan darah di berbagai permukaan. Matanya sesekali menyipit, ia mampu mereka ulang kekacauan yang terjadi semalam lalu. Pertarungannya terlalu sengit, pikirnya.

“Jenderal … ” tak lama kemudian, Hana muncul. “Kau sudah lama di sini? Aku sedang melakukan pemeriksaan di lantai dua tadi.”

“Tidak, aku baru saja tiba. Tenang saja. Kau juga baru dikabari tentang kekacauan di sini?”

“Benar, Jenderal. Teman-teman kita terlambat melapor, sepertinya. Ada yang bisa kubantu?”

“Kau sudah menghubungi Polda Jatim sebagaimana yang kuperintahkan tadi di telepon?”

“Sudah, Jenderal … ”

“Bagus. Aku juga sudah memberitahu Kapolri dan Panglima TNI tentang ini, kuharap mereka tahu apa yang harus mereka kerjakan.”

“Jadi … apa yang sebenarnya terjadi pada Adam, Jenderal? Bagaimana kau tahu ia akan kabur dari Jombang?”

“Kau sudah kuberitahu secara singkat lewat telepon tadi. Adam sepertinya sadar bahwa ia sedang kita monitor, itulah sebabnya ia ke sini dan mencuri alat untuk mematikan sinyal micro-transmitter pada tubuh Verani.”

“Sinyalnya sudah mati, Jenderal?”

“Belum, tetapi terjadi gangguan yang cukup parah. Lihat ini … ” Riyadi mengeluarkan tabletnya, lalu menunjukkannya pada Hana. “Biasanya dot terus-menerus berkedip, tetapi sekarang … kadang menghilang, kadang muncul.”

“Itu sama sekali tidak bagus, Jenderal … ”

“Memang tidak. Itulah sebabnya untuk saat ini teman-teman Polri dan TNI bisa menahan Adam di Jombang sementara waktu,” Riyadi kembali mengantongi tabletnya. “Divisi Istimewa dan DSN sudah bergerak ke sana kan?”

“Sudah, Jenderal.”

“Bagus … tinggal Johan berarti. Ia harus dimainkan pada saat-saat seperti ini.”

“Aku yang menghubunginya?”

“Tidak, tidak. Biar aku saja. Ia mungkin masih tidak enak hati denganmu pasca perkelahian kalian beberapa waktu lalu, Hana.”

“O-oh … baiklah … ” Hana menggangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, Jenderal …

Riyadi menoleh.

“Aku baru ingat bahwa kita kedatangan orang baru, sesuai dengan permintaanmu beberapa waktu lalu. Aku sengaja membawanya ke sini karena aku tahu kau akan ke sini.”

“Oh, ya. Benar juga. Aku hampir lupa tentang itu. Di mana dia?”

“Sebentar, kupanggilkan … ” Hana bertolak dan beranjak dari tempatnya berdiri.

Riyadi kembali terdiam. Ia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa baris pesan untuk anak buah terbaiknya. Akan tetapi, ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya, Hana sudah lebih dulu datang dan membawa dua orang wanita di belakangnya.

Riyadi menengadahkan kepalanya, menatapi dua tamu barunya. “Oh, aku kira hanya satu orang … ”

“Jenderal! Sersan Kepala Citra Furia siap untuk melaksanakan tugas!” seorang wanita sontak berdiri tegap dan menghormat pada Riyadi.

Wanita yang bernama Citra itu tampak seperti tentara bayaran; rambutnya dikuncir dua di bawah tengkuk, mengenakan syal kotak-kotak bak tentara Inggris, dan mengenakan beberapa pelindung taktis pada tangan dan kakinya.

“Santai saja, Citra … ” Riyadi memberikan isyarat agar Citra menyudahi posisi hormatnya. “Ini bukan markas militer, kau tidak perlu bersikap terlalu formal.”

“Baik, Jenderal … ” Citra menurunkan tangannya. Berdiri seperti biasa.

“Kau sudah berkenalan dengannya, Hana?”

“Belum, secara resmi. Sudah, secara tidak resmi,” ujar Hana.

“Secara tidak resmi?” Citra terheran.

“Maksudnya sudah membaca semua latarbelakangmu, Sersan … ” sela Riyadi.

“Sersan Kepala Citra Furia … ” ujar Hana menatapi tablet di tangannya. “Berdinas lima tahun di TNI-AL. Karena kemampuannya yang mumpuni, ia pun direkrut oleh Kopaska pada tahun 2010 dan bergabung dengan Satgas Gagak Hitam pada tahun 2013, bersama dengan Kapten Johan yang waktu itu masih berpangkat letnan satu—”

“Cukup, Hana. Kuliahnya nanti saja. Wanita yang berada di sebelah Citra ini anggota Project SAKTI ya? Rasanya pernah melihat wajahnya.”

“Benar, Jenderal. Ilmuwan kita berhasil mengontrol penuh dirinya … ” ujar Hana. “Namanya Blade. Sesuai dengan kebiasaannya membawa golok khusus ke mana-mana.”

“Hmm, dia anggota The Creation yang paling banyak mencincang anggota Operasi Antisakti versi 1.0, bukan begitu?”

“Benar, Jenderal. Dia orangnya. Sekarang ia ada di pihak kita.”

“Bagus. Kalau begitu, dengarkan aku. Citra, Blade, kalian punya tugas mendukung TNI dan kepolisian di Jombang untuk membekuk Adam Sulaiman. Kuharap kalian sudah tahu siapa dia dan kuharap kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan. Masalah taktik, kalian nanti akan bertemu dengan Johan, ia akan memberikan sedikit kuliah tentang apa yang harus kalian lakukan malam ini.”

“Siap, Jenderal. Kami akan mendapatkan Adam hari ini!” seru Citra.

“Kalian akan ke sana hari ini, beberapa jam lagi kalian akan mendarat di sana, Hana atau asistennya akan mengurus perjalanan kalian.”

“Kalau begitu, aku harus menghubungi Ringga sekarang … ” ujar Hana.

“Ya, siapkan helikopter atau apa pun yang bisa mendaratkan Citra dan Blade dengan cepat di Jombang. Kalau ada kesulitan, hubungi aku.

“Untuk Citra serta Blade … semoga beruntung!”

Citra dan Blade menganggukkan kepala, merasa yakin akan mampu menyelesaikan tugas. Didampingi oleh Hana, mereka lantas bertolak dan meninggalkan Mayjen Riyadi sendirian. Riyadi hanya tinggal memanggil satu orang lagi untuk beraksi. Johan.

***

Apartemen Permata Dhika, Bekasi
02.15

Johan sama sekali tak memejamkan matanya semalam suntuk. Ia tak bisa tidur memikirkan bagaimana cara yang efektif untuk melumpuhkan Adam. Tanpa disadari, Adam telah menjadi rival terkuatnya sepanjang karirnya di militer.

Tenma, asisten pribadi Johan yang telah mengikuti jejak Johan selama beberapa waktu terakhir, tampak tak peduli dengan kegelisahan atasannya. Ia tertidur pulas dengan selimut membalut dari ujung kaki hingga ujung leher. Sejak ikut Johan, ia memang dibiarkan tinggal di apartemen mewah tersebut, alasannya agar mudah berkoordinasi jika sewaktu-waktu dipanggil bertugas.

Selagi Tenma tertidur pulas di atas karpet tebal dan mahal, Johan duduk bersandar di atas sofanya seraya menatapi layar ponsel cerdasnya. Ia mengorek-ngorek berita tentang Adam, sesekali keningnya mengernyit setelah membaca hipotesis-hipotesis konyol dari para “ahli” dadakan tentang Adam. Pernyataan-pernyataan sok tahu dari para ahli tersebut juga seringkali dimanfaatkan oleh pihak oposisi untuk membentuk opini negatif masyarakat terhadap pemerintah. Politik tahi kucing, pikirnya, segala kejadian bisa dimanfaatkan untuk kampanye.

Bosan melihat berita yang begitu-begitu saja, Johan akhirnya masuk ke dalam server PIN sebagai pengguna. Tidak semua orang diberikan akses tersebut, hanya orang-orang tertentu yang bisa. Karena Johan merupakan pemain kunci dari Operasi Antisakti 2.0, ia diberikan izin oleh Mayjen Riyadi untuk memiliki akses terhadap server PIN.

Johan lantas berselancar di dalam basis data PIN secara terbatas. Ia memang tak diberikan akses untuk mendapatkan informasi yang lebih sensitif, seperti catatan operasi hitam pemerintah, tetapi setidaknya ia bisa menemukan informasi dasar tentang semua orang yang hidup di Republik Indonesia. Ia pun membaca-baca lagi informasi tentang Verani dan Patih, barangkali ada yang belum ia ketahui.

Verani Anindita Mentari dan Patih Rimbawan adalah nama lengkap dua orang sipil yang kini tengah melekat dengan Adam. Keduanya tak pernah punya catatan kriminalitas. Bersih. Verani memang tercatat pernah hamil di luar nikah dan menjalani hari-harinya sebagai pekerja seks, namun pada dasarnya ia adalah wanita yang baik, tak pernah melakukan kejahatan yang merugikan orang lain. Begitu pula dengan Patih, ia sangat bersih, bahkan sudah ditandai oleh PIN karena kecerdasannya. PIN mengategorikannya sebagai prodigy—sosok yang mampu mempelajari segala hal lebih cepat, tak ayal jika ia dianggap “sangat potensial” untuk menjadi aset PIN di masa depan.

Johan merasa iba. Dua orang yang semestinya bisa hidup tenang sebagai warga sipil kini harus ikut menjadi tumbal atas kejahatan Adam. Ia pun berpikir untuk memisahkan kehidupan Verani dan Patih dari Adam, tetapi apakah itu merupakan keputusan yang bijak? Pasalnya, Verani dan Patih terlihat begitu nyaman berada di dekat Adam. Apa yang sesungguhnya telah Adam lakukan hingga keduanya bisa merasa nyaman? Johan tak mengerti, ia pun menyandarkan kepalanya dengan luruh.

BIIIP, BIIIP.

Ponsel Johan bergetar. Ada pesan singkat yang masuk. Ia segera membuka pesan tersebut tanpa keraguan. Sejenak ia terdiam, membaca isi pesan secara seksama. Dari Mayjen Riyadi, ternyata. Ia diperintahkan untuk pergi ke suatu lokasi. Jombang adalah tujuan akhirnya, tetapi pertama-tama ia harus pergi ke lokasi khusus yang telah ditentukan Riyadi.

Johan segera bergerak dari tempat duduknya. Ia pun membangunkan Tenma dengan cara mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tenma sontak terbangun dari tidurnya, lalu menatapi Johan dengan wajah kusutnya.

“Kita berangkat, Tenma. Mayjen Riyadi membutuhkan kita di Jombang. Adam disinyalir mau menghilangkan diri,” ujar Johan

“Oh, oke, Kapten … ” jawab Tenma malas. Ia menguap sesaat setelahnya, lalu bergegas membangkitkan dirinya.

“Cuci mukamu, kita berangkat lima menit lagi.”

“Baik, Kapten,” ujar Tenma seraya berjalan ke arah kamar mandi.

***

Kota Jombang
02.00
Beberapa menit sebelum investigasi di laboratorium rahasia PIN

“Jadi, ada berapa anggota Project SAKTI yang ditangkap oleh Operasi Antisakti, Nadia?” tanya Subject 09 seraya mengemudikan minibusnya.

“A-ada tujuh belas orang, Pak … ” ujar Nadia gugup. Ia duduk tepat di belakang Subject 09, di bangku tengah bersama dengan Verani dan Patih.

“Tujuh belas? Berarti aku, Felicia, dan Ara adalah tiga subjek terakhir yang lolos dari tangkapan pemerintah lima tahun lalu.”

“I-iya, Pak. T-tetapi aku baru tahu kalau kalian adalah tiga subjek Project SAKTI yang terakhir.”

“Bagaimana rasanya bertemu dengan tiga subjek terakhir sekaligus, Nadia?” Subject 17 ikut bertanya. Ia duduk di samping Subject 09.

“T-terkejut dan takut, tentu saja … ”

“Kenapa harus merasa takut?” Subject 03 menimpali. Ia duduk di bangku paling belakang, sendirian. “Apakah kau merasa berdosa telah menjadi bagian dari operasi terkutuk PIN?” tanyanya seraya menggenggam pundak Nadia.

“M-m-maaf! Maaaaf! A-aku sendiri dipaksa oleh PIN untuk berpartisipasi pada eksperimen Operasi Antisakti! S-sumpah, kalau kepalaku tidak ditodong pistol, aku tak mau melakukannya!”

“Hehehe, santailah sedikit … aku hanya menggodamu, Nadia. Lagipula, kau tidak tampak seperti orang yang tahan melihat penganiayaan.”

” … ”

“Kudengar dari Felicia bahwa kau ingin membelot dari PIN dan bergabung dengan kami … ” ujar Subject 09. “Sekarang, setelah kau mengetahui bahwa kau sebenarnya sedang berhadapan dengan Adam Sulaiman, apakah kau tetap ingin membelot dari PIN?”

Nadia tertunduk, tidak bergegas merespon. “Y-ya … aku tetap ingin keluar dari PIN. A-aku tak mau kembali ke laboratorium terkutuk tersebut.”

“Hooo, aku baru tahu ada orang PIN yang lebih membenci PIN daripada Adam,” ujar Subject 03.

“J-justru karena aku bekerja dengan PIN aku jadi tahu sisi-sisi terbusuk PIN. A-aku tidak mau melihat saudara-saudara kalian disiksa lagi, aku menandatangani kontrak dengan PIN bukan untuk itu,” papar Nadia.

“Jadi … apa yang sebenarnya kau kerjakan sebelum melihat saudara-saudara kami disiksa?” Subject 09 ingin memastikan.

“A-aku seharusnya hanya membantu PIN mengembangkan alat-alat pendukung, seperti mengembangkan kacamata sonar, karet antipeluru, dan lain-lain. P-pekerjaan asliku sama sekali tak ada hubungannya dengan kejiwaan atau nyawa orang lain,” jelas Nadia.

“Kakak mengembangkan alat-alat keren seperti di film bioskop?” Patih tiba-tiba ikut bertanya.

“E-eh … iya. A-aku mengembangkan alat-alat canggih untuk membantu agen PIN di lapangan.”

“Wah, keren! Jangan-jangan Kakak juga menciptakan pulpen meledak, ya?”

“E-eh? A-ahaha … kalau alat-alat seperti itu kurang terasa bermanfaat di lapangan, jadi aku dan teman-temanku tidak mengembangkan alat yang seperti itu,” ulas Nadia lagi. “Ngomong-ngomong … a-apakah kalian yang bernama Verani dan Patih?”

“Ya, benar. Bagaimana kau tahu?” Verani angkat bicara. Ia jadi penasaran dengan sosok ilmuwan yang berada di sampingnya.

“P-para petinggi PIN sering membicarakan kalian selama beberapa waktu terakhir. K-kata mereka, Adam menculik dua orang sipil yang bernama Verani dan Patih. M-maaf, a-aku tak bermaksud untuk bersikap tidak sopan.”

“Menculik? Adam tidak menculik siapa pun. Justru PIN yang berkali-kali mencoba menculikku dan menculik anakku. Aku yang memilih hidup bersama dengan Adam dan itu adalah hakku. PIN mencoba untuk merampas hak tersebut dariku,” jelas Verani.

“M-maaf jika aku menyinggungmu, Bu Verani. A-aku tak bermaksud demikian … ”

Hmph, tidak apa-apa … ” tukas Verani singkat. Ia tiba-tiba saja bersikap lebih sinis daripada biasanya.

“Kau tidak punya niat untuk kembali pada PIN setelah mengetahui bahwa kau satu tim dengan Adam Sulaiman, Nadia?” tanya Subject 09 seraya memutar roda kemudinya.

Nadia bingung. Benaknya meronta mencari jawaban. Ia pun menoleh ke arah Verani dan Patih, lalu menundukkan pandangannya. “A-apakah ikut denganmu merupakan hal yang buruk, Pak Adam? A-aku justru merasa bahwa mengikuti jejak PIN jauh lebih tidak manusiawi dibandingkan ikut denganmu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Verani dan Patih … ” jawaban Nadia sontak membuat Verani dan Patih menoleh. “Kau melindungi mereka dengan sangat baik, sehingga mereka merasa nyaman denganmu. A-aku tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh PIN, begitu pula ilmuwan-ilmuwan lain di laboratorium tempatku bekerja. Setiap hari kami hanya mendapatkan ancaman dan tekanan. A-aku tak mau kembali lagi ke neraka itu … apa pun alasannya.”

“Hmm … seberapa besar kau akan berguna untuk kami, Nadia? Kami bukan babysitter atau tempat pengungsian orang-orang bermasalah, kami di sini sedang menghadapi konspirasi besar pemerintah dan berusaha kembali ke kehidupan normal. Jadi, aku ingin tahu apa yang bisa kau lakukan sebagai mantan ilmuwan PIN?”

“Informasi dan pengetahuan. Aku bisa memberitahumu apa saja alat pendukung yang dimiliki oleh PIN dan mungkin menciptakan versi bootleg-nya untuk kalian.”

“Wohoho … itu sangat keren, Nine. Kurasa kita harus menyimpan anak jenius ini di sini!” tukas Ara ceria.

“Diam kau, bencong. Tidak ada yang meminta pendapatmu, kau sendiri belum dianggap sebagai bagian dari tim, tahu!” seru Subject 17 sinis.

“Ah, dasar Felicia jelek … weeek!

“Baiklah, Nadia sepertinya akan berguna untuk kita. Tetapi, sekali lagi kuingatkan: kami bukan babysitter. Kau bergabung dengan kami, berarti kau siap menanggung segala risikonya,” papar Subject 09.

“A-aku mengerti … ” ujar Nadia gugup.

“Bagus, sekarang mari kita berharap bisa keluar dari kota ini dan menghilang dari mata pemerintah.”

Sesaat setelah itu, suasana di dalam mobil pun diselimuti oleh kesunyian. Minibus lawas yang dulunya merupakan mobil dinas Project SAKTI itu pun melaju santai di atas jalan yang telah sepi. Para penumpangnya berharap agar mereka tak menemukan masalah besar di tengah perjalanan.

***

02.21

“Oh, sial … ” Subject 09 bergegas menepikan minibusnya, lalu mematikan lampu mobilnya. Ia tampak khawatir, kedua matanya menyorot tajam ke kaca depan.

“Ada apa, Nine?” Subject 17 pun terheran. Ia tak mengerti mengapa saudaranya tiba-tiba berhenti di pinggir jalan dan sengaja bersembunyi di balik kegelapan. Ia tak sempat melihat apa yang Subject 09 lihat.

“Sial, sial! Jalanan sudah ditutup, pemerintah jauh lebih peka daripada yang kukira!” Subject 09 tetap menyorotkan kedua matanya ke arah depan. Ia melihat sejumlah anggota aparat bersenjata dan berpakaian taktis tengah membuat pagar betis pada akses masuk/keluar Kota Jombang.

Tak hanya itu, bertengger pula dua mobil kekar khas aparat melintang di atas jalan.

“Wah, tidak bagus nih … ” Subject 03 ikut berkomentar dari kursi belakang.

Para penumpang di bangku tengah pun memajukan posisi duduk dan memancangkan pandangan beberapa ratus meter ke depan.

“Bukankah kau punya kumis dan jambang palsu, Adam?” tanya Verani. “Itu bisa membantu kita melewati kerumunan aparat kan?”

“Tidak, Ve. Aparat khusus seperti ini dilatih untuk mengenali penyamaran. Tidak akan efektif menggunakan metode tersebut,” jawab Subject 09.

“I-itu Shapeshifter! K-kalian takkan bisa menembusnya,” sontak Nadia berseru.

“Shapeshifter? Apa itu Shapeshifter?” tanya Subject 17.

“L-lihat dua mobil yang melintang itu? I-itu adalah mobil khusus hasil proyek gabungan antara Divisi Riset dan Pengembangan PIN dan PT. Pindad. Mobil itu memang tampak seperti mobil aparat biasa, tetapi sebenarnya menyembunyikan meriam plasma di bagian atapnya. U-uhhh … singkatnya mobil itu bisa menyembulkan senjata mematikan dari salah satu bagian bodinya,” jelas Nadia.

“Bajingan … ” Subject 09 menggeleng pelan. “Jadi, perkembangan PIN sudah sampai sejauh itu.”

“Aku bahkan tidak tahu ada teknologi semacam itu, padahal sudah sering membobol database PIN,” Subject 17 menambahkan.

“I-iya, mobil itu memang proyek rahasia, hanya beberapa orang yang tahu. L-lebih baik kita tak berhadapan langsung dengan Shapeshifter. Mobil itu punya daya rusak yang sangat serius. D-dulu sempat diajukan menjadi kendaraan standar untuk plat RF [1], tetapi tak disetujui oleh presiden karena terlalu berbahaya jika jatuh ke tangan pejabat.”

NB: [1] Plat khusus untuk kendaraan pejabat Republik Indonesia. Pola yang paling umum: B xxxx RFx.

“Oke, Nine … informasi tersebut cukup untuk membuatku merinding. Aku tak mau menjadi perkedel tanpa mendapatkan kebenaran apa pun tentang pemerintah dan Kampung Rimbun! Putar balik saat mereka sedang lengah. Tunggu sampai ada mobil yang lewat ke arah mereka,” ujar Subject 17.

Roger. Aku tahu, Seventeen. Kebetulan ada dua mobil di belakang kita yang akan melintas,” Subject 09 menatapi kaca spionnya.

“Ah … ”

Tak lama berselang, dua mobil sedan melintas dengan kecepatan 50-70 km/jam, melewati minibus yang dikemudikan oleh Subject 09. Akan tetapi, Subject 09 tak segera memindahkan kendaraannya, ia menunggu hingga dua mobil mendekati pagar betis. Lampu dari kedua mobil tersebut akan mengacaukan pandangan para anggota aparat, itulah yang dinantikan oleh Subject 09.

Sedikit lagi, beberapa meter lagi.

Sekarang!

Subject 09 bergegas menggerakkan tuas persneling mobilnya dan menancap gas untuk putar balik. Ia melakukannya saat para aparat tengah disibukkan oleh dua mobil yang hendak keluar dari Kota Jombang. Minibus yang dikemudikan oleh Subject 09 pun melesat kencang meninggalkan zona bahaya.

Akan tetapi, tidak semua aparat lengah. Salah satu dari mereka ada yang menyaksikan minibus melesat ke arah yang berlawanan. Ia sempat merasa ragu, namun pada akhirnya ia memberitahu teman-temannya. Tentu saja minibus tersebut mencurigakan, dari mana minibus tersebut berasal? Mengapa tiba-tiba minibus tersebut berjalan ke arah yang berlawanan tanpa sepengetahuan tim aparat?

Salah satu dari anggota aparat tersebut bergegas mencabut radionya dan melaporkan kecurigaannya terhadap mobil minibus yang tiba-tiba berjalan menjauh. Ia memanggil teman-temannya yang tersebar di seluruh sudut Kota Jombang. “Semua unit yang standby di dalam kota, kita punya target minibus berwarna gelap, tipe Zebra lawas, sedang mengarah ke jantung kota dari akses masuk dan keluar sebelah barat. Mohon semuanya berkoordinasi untuk menahan target!” serunya.

Para aparat yang membentuk pagar betis di sana sama sekali tak memindahkan pijakan, sekadar menjadi lebih waspada. Mereka memang sudah ditugaskan untuk mengunci akses keluar/masuk Jombang. Harapan mereka terletak pada aparat-aparat yang tersebar di dalam kota maupun kabupaten saat ini.

***

02.34

Kewaspadaan meningkat. Subject 09 dan kawanannya memerhatikan lingkungan secara seksama. Mobil pun melaju lebih pelan daripada sebelumnya, Subject 09 tak ingin ia dan kawanannya masuk ke dalam zona yang salah dan membuat semua orang terjebak.

Subject 17 ikut membantu memonitor rute perjalanan melalui CCTV yang ia retas di beberapa lokasi. Sayangnya, ia sendiri tak mendapati solusi untuk keluar dari Kota Jombang dengan aman. Setiap akses keluar/masuk Jombang dijaga ketat oleh aparat bersenjata dan dua mobil Shapeshifter. Dalam kata lain, Subject 09 dan kawanannya sudah terkunci. Mereka tidak bisa keluar dari Jombang, baik melalui kota maupun kabupaten.

“Nine, Nine … cari tempat yang gelap. Sembunyi. Kita harus mendiskusikan sesuatu,” tukas Subject 17 seraya menepuk-nepuk pundak saudaranya.

Subject 09 tak bergegas merespon. Ia langsung mencari tempat yang ideal untuk bersembunyi. Tak lama kemudian, ia pun menepikan mobilnya di bawah pepohonan rindang bersama dengan mobil-mobil lain yang memang sudah terparkir di sekitar sana. Mesin mobil ia matikan, lampu ia padamkan, kini keberadaannya tampak saru dengan kegelapan.

“Ada apa, Seventeen?” barulah Subject 09 mempertanyakan maksud saudarinya.

“Lihatlah ini … ” Subject 17 menyodorkan komputer tabletnya. “Ini adalah pencitraan kamera CCTV secara realtime. Kau bisa lihat bahwa seluruh akses untuk keluar/masuk Jombang telah ditutup, baik melalui kota maupun kabupaten,” lanjutnya seraya menunjuk beberapa kotak di atas layar tabletnya.

“Dalam kata lain, kita sudah dikunci … ”

“Benar. Dan masalah kita bukan hanya itu. Tim aparat yang standby di dalam kota sepertinya sedang mencari kita. Aku melihat beberapa aktivitas mencurigakan melalui kamera-kamera ini, aku mendapati beberapa mobil aparat sedang berpatroli secara serius.”

Subject 09 terdiam. Ia lantas menoleh ke belakang, memerhatikan wajah Verani yang mulai menegang dan Patih yang telah tertidur pulas. Benaknya tengah mencari solusi. Dua orang tak berdosa tersebut semestinya tak terlibat pada kekacauan ini.

Subject 09 mengembuskan napas berat dan mengembalikan fokusnya pada Subject 17. “Oke, kita breakdown masalahnya. Kita tidak punya banyak waktu untuk merenung seperti ini. Pertama: apa misi kita?”

“Keluar dari Jombang?” sambar Subject 03.

“Keluar dari Jombang. Benar. Tapi bukan aku. Yang harus keluar dari Jombang adalah Verani, Patih, dan Nadia. Mereka bertiga adalah prioritasnya,” jelas Subject 09. “Pertanyaan kedua: siapa yang pemerintah cari?”

“Kau,” Felicia menjawab singkat.

“Benar. Akulah yang dicari-cari oleh pemerintah. Bukan Three, bukan Seventeen, bukan Nadia, bukan siapa pun. Di dalam mobil ini, aku adalah satu-satunya orang yang diburu. Jadi … aku akan keluar dan menampakkan batang hidungku kepada aparat.”

“Kenapa harus begitu!?” Verani memajukan posisi duduknya. Waswas. “Kenapa kau tidak ikut kabur saja, Adam!?”

“Prioritas yang harus diselamatkan bukan aku. Prioritasnya adalah kamu. Dan untuk menyelamatkanmu, kita butuh mengalihkan fokus para aparat. Kalau aku menampakkan diri, seluruh kekuatan aparat akan terkonsentrasi padaku, tidak lagi padamu. Jadi kau bisa kabur sejauh mungkin dan menghilang.”

“Adam … ” Verani terguncang, ia mencoba menguatkan diri.

“Ve, kau bilang kau mau menerima semua keputusanku. Ini adalah keputusanku. Percayalah, ini adalah yang terbaik untukmu dan anakmu. Kau tidak mau jika mobil-mobil super itu mengarahkan moncong meriam mereka kemari kan?”

“I-iya … aku hanya sulit menerima keputusan semacam itu secara mendadak … ” ujar Verani luruh. “Tetapi aku mohon, kembalilah … ”

“Aku berjanji, Ve.”

“Nine … ” Subject 17 mencoba menginterupsi percakapan. “Idemu itu bagus, tetapi bagaimana caranya melewati gerombolan Shapeshifter? Mereka bertengger saja di depan akses keluar/masuk Jombang. Kalau Shapeshifter memang berbahaya seperti yang Nadia katakan, berarti kita butuh pendobrak perimeter [2] yang lebih kuat. Bukan minibus ini, pastinya.”

NB: [2] istilah untuk formasi pertahanan pada kepolisian dan militer

“Aparat mengincarku, Seventeen. Bukan kalian. Jadi, setelah aku menampakkan batang hidungku pada aparat, kalian tinggal mengganti mobil dengan mobil sipil dan keluarlah dari Jombang sebagaimana orang lain melakukannya. Ingatlah kenapa para aparat itu ada di depan akses keluar/masuk Jombang: mereka mencariku.”

“Benar, aku tahu itu … masalahnya bagaimana kalau mereka memeriksa Verani? Aparat mengenali muka Verani kan? Mereka mungkin tidak mengenali wajahku atau wajah Three, tetapi bagaimana dengan Verani? Ini lain soal. Verani sudah dua kali ditangkap oleh aparat lho, jangan remehkan fakta itu, Nine! Belum lagi jika kita harus menyebut Nadia, ia sudah bekerja bertahun-tahun dengan PIN.”

Subject 09 menoleh sejenak ke belakang. “Alihkan perhatian aparat sebisamu, Seventeen. Di sanalah satu-satunya rintangan yang akan kau hadapi. Kau bisa mendekati Shapeshifter sampai ke titik buta mereka, itu adalah keuntungan yang bisa kau dapatkan. Tapi, jika mereka sadar bahwa kau membawa Verani … kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

“Agh, sial … jadi tetap ada potensi berkonfrontasi ya.”

“Ya. Ini adalah risiko jika kau mau kabur dari pemerintah sebagai buronan.”

“Mengapa kau tidak ikut dengan cara mengganti mobil seperti yang kau bilang tadi, Adam?” tanya Verani lagi.

“Ve, mereka akan mengenaliku pada saat melakukan pemeriksaan. Cepat atau lambat mereka akan sadar. Akhirnya, kita akan dikejar sampai ke ujung dunia. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi, tidak dengan kau dan Patih.”

“Hmm, baiklah … ”

“Oke, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana denganmu, Nine?” tanya Subject 17.

“Jangan khawatirkan aku, Seventeen. Mereka ingin perang, aku akan tunjukkan apa itu perang. Aku akan menghancurkan mereka sampai mereka kapok mengejarku … ” cetus Subject 09. “Akan kuhancurkan moral mereka malam ini.”

“Jangan tahan dia, Seventeen. Biarkan Nine menghajar bocah-bocah amatiran tersebut,” ujar Subject 03.

“Tidak, mereka bukan amatiran, Three … ” sergah Subject 09. “Dan kau tidak bisa bersantai saja di bangku belakang. Kau ikut denganku.”

“Heee!? Kok aku harus ikut berperang denganmu!?”

“Kau sudah setuju mau menjadi sekutuku untuk sementara waktu kan? Ini adalah tugas pertamamu: bantu aku mengalihkan perhatian aparat dari Verani. Lagipula, Seventeen masih dalam tahap pemulihan, perutnya baru saja tertusuk gunting.”

“Ah, padahal lebih seru kalau nanti aku bisa melihat kau di televisi menghajar puluhan bocah sok jago dari berbagai satuan. Hihihi.”

“Dan untuk kau, Seventeen … ” Subject 09 kembali berujar kepada saudarinya. “Aku percayakan Verani dan Patih kepadamu. Nadia juga, dia akan menjadi aset berharga untuk operasi kita yang lain.”

“Heh … ” Subject 17 tertawa sinis. “Kupikir kau tidak percaya padaku.”

“Memang tidak, secara personal … ” Subject 09 mengangkat kedua bahunya. “Tetapi aku percaya kau bukan orang jahat yang akan membiarkan sipil tak berdosa terjebak dalam baku tembak.”

Salah satu sudut bibir Subject 17 tersungging. Tersenyum sinis. “Ini adalah pilihan Verani untuk hidup bersama dengan orang gila sepertimu kan?”

“Ya, tetapi ia tak punya keterkaitan apa pun dengan kegilaanku atau kejahatanku,” papar Subject 09 seraya menatap ke arah luar. “Ngomong-ngomong, teman-teman kita sudah berada di sekitar sini, sepertinya … ” lanjutnya menatapi beberapa mobil berwarna hitam yang berjalan amat pelan.

“Three, kau bawa senjata?” tanya Subject 09 memastikan.

“Ya, hanya yang ada di balik celanaku. Tidak ada magasin cadangan pula,” ujar Subject 03.

“Sama denganku. Kita ambil senjata musuh saja nanti. Kau siap?”

“Aku sudah siap sebelum kau menjadi anggota Project SAKTI, Nine.”

“Oke, kita keluar menurut aba-abaku. Tunggu sampai patroli melengos.”

“Aku juga menunggu aba-abamu, Nine? Atau keluar sekarang?” tanya Subject 17.

“Kau tunggu sampai aparat menyadari keberadaanku dan mulai memusatkan konsentrasi mereka padaku, Seventeen.”

“Oke.”

“Oke, Three. Dalam hitungan ketiga, siap-siap keluar dari mobil, ya … ” Subject 09 tengah menggenggam gagang pintu mobilnya. “Satu, dua … TIGA! Sekarang!”

***

02.40

Patroli gabungan yang terdiri dari unsur TNI dan Polri masih melakukan pencarian intensif terhadap Adam Sulaiman di sekitar Jombang. Apalagi, mereka baru saja mendapatkan kabar bahwa ada minibus mencurigakan tengah melaju ke arah kota, dugaan sementara mengatakan bahwa mobil tersebut dikendarai oleh Adam. Salah satu grup patroli akhinya menyisir bagian barat Kota Jombang, dekat dengan tim perimeter yang melaporkan kecurigaan terkait.

Grup aparat yang berada di wilayah barat tersebut menyusuri Kota Jombang secara perlahan. Beberapa orang bahkan berjalan kaki untuk memeriksa titik-titik yang sulit dijangkau oleh mobil. Seluruh aparat yang melakukan pencarian dibekali dengan senjata dan perlengkapan taktis, saking semua orang telah menganggap bahwa Adam adalah target yang melampaui tingkat “bahaya”.

Patroli berjalan dengan damai, tidak ada tanda-tanda pergerakan Adam sejauh itu. Akan tetapi, tiba-tiba grup patroli di wilayah barat tersebut dikejutkan oleh kemunculan dua sosok misterius dari tepi jalan. Yang lebih mengerikan? Salah satu dari mereka tiba-tiba mencabut pistol dan melepaskan tembakan ke arah salah satu patroli.

Timah panas melesat, meretakkan kaca depan mobil dan menumbangkan dua petugas patroli yang berjalan kaki. Tidak ada korban jiwa, hanya dua aparat terluka di bagian kaki dan kaca antipeluru yang retak.

Panik, salah satu petugas patroli akhirnya berteriak, “Adam Sulaiman! Balas tembakan!”

Seketika itu, suasana malam nan sunyi berubah menjadi keriuhan tiada tara. Seluruh anggota patroli yang berada di sana bergegas mencari tempat perlindungan dan membalas tembakan. Patroli yang damai berubah menjadi peperangan tingkat kota. Peluru-peluru dimuntahkan, berdesing ke segala arah.

Sayangnya, dari semua jerit kepanikan dan riuh tembakan, tidak ada satu pun yang berubah menjadi hasil positif. Timah panas melesat, namun tak ada satu pun yang berhasil mengenai Adam dan kerabatnya. Justru Adam dan kerabatnya yang membuat moral para petugas patroli goyah, satu-persatu anggota aparat tumbang meskipun tak ada yang sampai mengenai titik vital.

Setelah intensitas baku tembak berkurang, Adam pun kabur. Ia berlari ke sebuah gang untuk menghindari konfrontasi jarak jauh. Ia tahu bahwa ia tak mungkin bisa bertahan lama-lama untuk pertempuran jarak jauh.

Takut kehilangan jejak Adam, para aparat pun bergegas untuk mengikuti Adam. Sambil berteriak-teriak meminta bantuan kepada unit lain, mereka terus bergerak ke arah gang di mana Adam bersembunyi.

“Ini gang kecil! Dia menjebak dirinya sendiri! Kunci gangnya! Kunci gangnya!” sahut seorang bintara yang memimpin grup patroli.

Mendengar perintah dari atasannya, salah seorang petugas patroli segera melaporkan situasi. Ia meminta bantuan untuk mengunci gang tempat di mana Adam bersembunyi.

Meskipun posisi Adam tidak menguntungkan, namun para petugas patroli juga tidak terlalu percaya diri untuk menyisir setiap sudut gang. Mereka sangat berhati-hati dalam melangkah. Di gang sekecil itu, mereka justru akan menjadi sasaran empuk bagi petarung kelas kakap seperti Adam. Pilihan mereka cuma dua: melumpuhkan atau dilumpuhkan.

Beberapa warga yang mendengar keributan langsung keluar dari rumah. Kebanyakan merupakan pria paruh baya. Akan tetapi, bintara yang memimpin grup patroli menyuruh mereka masuk. “Masuk, Pak. Masuk. Jangan keluar-keluar, bahaya,” ujar sang bintara seraya menunjuk-nunjuk.

Penyisiran pun berlangsung alot dan menegangkan. Semakin lama, semakin banyak anggota aparat yang datang. Mereka adalah pasukan cadangan yang diminta beberapa waktu lalu. Namun, hingga sekian menit berlalu, pencarian tak juga membuahkan hasil. Adam benar-benar sangat ahli bersembunyi.

Hingga kemudian, para petugas patroli kembali dikejutkan oleh kemunculan sosok misterius dari arah yang tak diduga-duga. Seorang wanita tiba-tiba menerjang kawanan petugas patroli dari atas genteng, langsung membuat seorang petugas terkapar. Adrenalin pun memuncak, sesaat itu tak ada petugas yang memutuskan untuk menarik pelatuk, respon mereka sangat terlambat.

Wanita misterius yang melompat dari atas itu pun mulai menyerang secara membabi-buta. Ia melepaskan tinju dan tendangan secepat kilat ke arah petugas patroli yang tersisa. Serangannya sangat efektif, dua hingga tiga anggota aparat langsung tumbang dihajar olehnya. Kemampuan wanita misterius tersebut benar-benar setara dengan Adam. Beberapa tembakan sempat dimuntahkan, namun ia mampu menghindarinya seperti sudah tahu ke mana aparat akan menarik pelatuk.

“Adam! Tembak Adam!” Sejumlah petugas patroli mulai berhalusinasi dan mengira bahwa mereka sedang berhadapan dengan Adam. Tidak, itu bukan Adam. Dari penampilannya pun tidak terlihat seperti laki-laki tulen.

Setelah menumbangkan beberapa orang, wanita misterius tersebut segera meninju wajah aparat yang berdiri di hadapannya. Sang aparat terhuyung. Wanita tersebut lantas mencabut magasin dan menarik tuas kokang senapan sang aparat. Tak ada lagi pelor yang tersisa pada senapan sang aparat, lenyap seketika waktu. Si wanita kemudian menyodok leher sang aparat dengan popor senapan, kemudian mencabut pistol dari pinggul sang aparat.

BLAM! BLAM!

Wanita misterius tersebut bertolak dan melepaskan tembakan kepada dua orang aparat yang mencoba menyergapnya dari belakang. Dua petugas patroli berpakaian hitam-hitam tersebut langsung tewas diterjang timah panas di bagian wajah. Tergeletak luruh di atas tanah.

Serangan terus berlanjut, wanita misterius tersebut segera menggenggam tengkuk sang aparat yang masih berada dalam kuasanya, lalu membanting tubuh sang aparat ke hadapannya. Sang aparat tersungkur, sementara si wanita bergegas merunduk untuk menghindari rentetan tembakan yang meluncur ke arahnya beberapa saat kemudian.

BLAM! BLAM! BLAM!

Seraya merunduk rendah dan berlindung di balik tubuh aparat yang tersungkur, wanita misterius tersebut mengarahkan moncong pistolnya ke depan lalu mulai membalas tembakan. Satu, dua, tiga … tembak-menembak itu pun merubuhkan beberapa petugas patroli sekaligus.

Sesaat setelahnya, suasana pun menyepi.

Si wanita misterius lantas berbaring luruh di antara sejumlah petugas patroli yang tewas. Darah di mana-mana, di beberapa titik bahkan telah menjadi genangan. Sebenarnya, ia sendiri juga bersimbah darah akibat beberapa beberapa tembakan aparat, namun tidak fatal untuk sementara waktu.

Si wanita membangkitkan tubuhnya perlahan, lalu merampas beberapa peralatan yang mungkin akan berguna untuknya. Senapan, helm, rompi antipeluru, obat-obatan, granat non-lethal, hingga senjata-senjata kecil ia rampas untuk menghancurkan kekuatan aparat.

Ia lantas menghilang, kembali berselimut kegelapan.

***

Gang Bojongnangka, Jombang
03.07

Beberapa petugas patroli dari grup yang berbeda berjalan cepat menghampiri tempat di mana mereka mendengar baku tembak. Mereka berharap akan menemukan jasad buronan nomor satu Republik Indonesia. Tetapi tidak, mereka salah. Yang mereka dapatkan justru sebaliknya. Teman-teman mereka tewas bersimbah darah. Belasan aparat mati tergeletak di atas tanah, hanya beberapa di antaranya yang masih hidup, itu pun kritis.

“Bedebah … ” pimpinan grup patroli tersebut tak kuasa melihat teman-temannya meregang nyawa. Ia pun berjalan mondar-mandir seraya memegangi kepalanya, sulit untuk memercayai satu grup patroli yang terlatih hancur begitu saja.

KLANK!

Tak lama berselang, terdengar suara besi beradu tak jauh dari tempat grup patroli tersebut berdiri. Suaranya terdengar seperti pagar besi yang menumbuk dinding. Para petugas patroli segera bertolak dan membidikkan senapan mereka ke arah sumber suara. “Adam! Ia masuk ke dalam rumah!” seru sang pimpinan patroli seraya agak berbisik, ia begitu percaya diri.

Satu grup patroli itu pun bergerak, berjalan dengan formasi taktis mendekati sumber suara. Mereka berbaris, namun setiap orang memiliki tugas untuk mengawasi zona yang berbeda-beda. Perpindahan langkah mereka begitu cepat, namun senyap, menghasilkan kesan mengerikan bagi orang awam yang tidak sengaja menyaksikan kedatangan mereka.

Grup patroli tersebut akhirnya tiba tepat di depan sumber suara, bersamaan dengan grup lain yang datang dari arah berlawanan. Ada dua grup patroli sekarang. Suara besi beradu ternyata berasal dari pagar rumah yang membelalak. Dua grup patroli yang berada di sana segera menurunkan kacamata footprint tracker untuk mengecek apakah ada jejak kaki yang masih hangat di sekitar pagar tersebut.

Mereka menemukannya, rangkaian jejak kaki tersebut masih hangat dan mengarah masuk ke dalam rumah.

Dua pimpinan dari dua grup patroli yang berbeda itu pun segera berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Mereka ingin berkolaborasi menerobos masuk ke dalam rumah dan membekuk Adam. Jejak yang masih hangat tersebut kemungkinan adalah jejak Adam, mereka tak ingin melewatkan peluang ini begitu saja.

Dua grup patroli lantas berdiri menghimpit dinding pada sisi yang berbeda. Setelah kedua pimpinan grup mengangguk, kedua grup pun bergerak masuk ke halaman rumah, lalu membentuk formasi khusus untuk pertempuran di dalam ruangan tertutup. Tegang, setiap petugas patroli merasa tegang. Ini adalah kali pertama mereka harus berhadapan langsung dengan Adam jika dugaan mereka benar.

BRAAAK!

Salah satu anggota patroli lantas menendang pintu dengan keras, langsung membuatnya terbelalak. Sesaat setelahnya, semua petugas patroli yang terkait bergerak masuk ke dalam rumah seraya menyisir setiap sudut ruangan. Rumah tersebut tampak kosong, tak ada penghuninya. Lampu-lampunya juga tak ada yang menyala. Mungkin penghuninya sedang pergi keluar kota.

Akan tetapi, tampak kosong bukan berarti tak ada orang …

Adam tiba-tiba saja muncul dari balik buffet besar dan melempar botol kaca ke arah kerumunan aparat.

PRAAAK! Botol tersebut sukses menghantam kepala salah satu anggota aparat hingga pecah berkeping-keping. Sesaat kemudian, Adam berlari mendekati kerumunan dan mengangkat sisi meja kaca yang berada di hadapannya. Meja kaca pun terpelanting menyamping dari tempatnya bertengger, menghamburkan objek-objek kecil yang sanggup membuat para anggota aparat hilang fokus.

Di saat itulah Adam mengamuk. Ia merangsek maju dan mulai menghajar beberapa anggota aparat hanya dengan bogem dan kakinya. Para anggota aparat pun panik, beberapa dari mereka bahkan mulai menyemburkan peluru ke segala arah. Adam tahu mereka panik, namun ia seakan tak peduli, tetap maju dan menghajar para aparat. Gerakannya sangat lincah, pada jarak sedekat itu pun aparat masih kesulitan mengenainya.

Satu-persatu anggota patroli mulai tumbang. Pisau mereka diambil, lalu dilempar ke leher petugas patroli yang lain. Pistol mereka diambil, lalu digunakan untuk meledakkan kepala para pemiliknya. Senapan mereka diambil, lalu digunakan untuk memberondong kerumunan aparat yang mulai kacau. Ia sangat ahli dan sangat cepat melakukan hal semacam itu, bahkan mampu melakukannya sebelum musuh sempat bertindak.

Puluhan aparat yang sempat berkerumun di ruang tamu itu pun semakin menyusut jumlahnya.

Menyusut dan semakin menyusut. Satu-persatu tewas.

Sampai kemudian, pertempuran jarak dekat di dalam rumah kosong itu hanya menyisakan Adam dan seorang bintara pimpinan patroli.

BLAM! BLAM! BLAM!

Sang pimpinan aparat frustasi. Ia melepaskan tembakan beberapa kali, namun semuanya luput. Adam telah menyadarinya sebelum ia melepaskan tembakan. Buronan nomor satu itu berguling dan melompat untuk menghindari timah panas.

Adam sadar bahwa dirinya berada dalam bahaya, ia harus mengimbangi keadaan sebelum ada peluru yang menerjang badannya. Ide terbaiknya saat itu adalah melempar berbagai macam objek ke arah sang pimpinan. Dan ia merealisasikannya. Majalah, asbak, hingga kursi plastik ia empaskan. Serangannya sukses membuat konsentrasi sang pimpinan buyar.

Begitu si pimpinan lengah, Adam mendekat untuk menyerang. Namun, pimpinan patroli tersebut juga bukan sosok yang mudah untuk ditumbangkan. Sang pimpinan membuang pistolnya dan beralih kepada pisau pendek yang ia bawa di rompi antipelurunya. Ia langsung menghujamkannya ke arah Adam.

WUUUSH!

Pisau meluncur deras, namun Adam sempat menyilangkan kedua tangannya dan memblokir serangan yang datang. Ia memelintir tangan sang pimpinan, lalu menendang kemaluan sang pimpinan.

Pimpinan patroli itu pun lengah, Adam segera merenggut pisaunya. Sepersekian detik setelahnya, Adam segera mendekap leher sang pimpinan dari belakang. Sang pimpinan kehilangan keseimbangan, sehingga ia hanya sanggup mengikuti ke mana Adam menarik tubuhnya. Ia tercekik, sayangnya.

“B-Bangsat … !”

Aparat terakhir tersebut meronta-ronta, mencari cara agar bisa terlepas dari cekikan Adam. Akan tetapi, Adam takkan membiarkan hal tersebut terjadi. Adam langsung berusaha menghujamkan pisau ke dada sang pimpinan.

Sayangnya, serangan fatal tersebut berhasil ditahan oleh sang pimpinan patroli.

Bintara tangguh itu mengangkat kedua belah tangannya untuk memblokir laju pisau yang mengarah tepat ke jantungnya. Ketakutan, ia sangat ketakutan. Saat itu ia hanya berpikir bagaimana caranya agar pisau yang digenggam Adam menjauh darinya.

Belum sempat sang pimpinan merampungkan ide untuk melepaskan diri, Adam sontak mengentakkan ibu jarinya ke mata sang pimpinan. Seketika sang pimpinan menjerit, namun sesaat itu juga jeritannya menghilang.

Sang pimpinan tiba-tiba saja mengejan, lalu meringkuk lemas.

Adam ternyata berhasil membuat sang pimpinan hilang fokus, lalu menghujamkan pisaunya pada dada sang pimpinan. Pisau tersebut menembus sampai ke dalam jantung, membuat sang pimpinan tewas sekejap mata.

Lantas hening …

Malam kembali pada kesunyiannya.

Berakhir sudah pertarungan Adam pada gang kecil tersebut. Ia pun menyingkirkan jasad sang pimpinan dan bangkit dari posisinya. Sekujur tubuhnya terasa sakit, terutama di daerah dada, tangan, dan pinggang—tempat di mana ia tertembak. Ia bersandar sejenak di dinding, memastikan bahwa semuanya sudah benar-benar aman, lalu mulai mencari-cari bahan untuk menambal lukanya sementara waktu.

Adam berjongkok, melucuti apa yang bisa ia lucuti dari para petugas patroli yang tergeletak. Selain mengambil alat komunikasi, rompi antipeluru, dan senapan serbu milik aparat, ia juga beruntung karena menemukan obat-obatan dan kain kassa pada salah satu jasad aparat yang tewas. Setidaknya ia tak perlu khawatir tubuhnya akan menjadi semacam keran bocor yang mengucurkan darah tanpa henti.

Adam lantas bergegas pergi dari rumah kosong tersebut. Ia tak ingin bertemu dengan lebih banyak aparat di sana. Sudah terlalu banyak korban di rumah tersebut, akan sangat sulit bergerak jika ia kedatangan grup patroli yang lain.

***

Gerbang Keluar/Masuk Kota Jombang Bagian Utara
03.01

Para penjaga pintu masuk/keluar Kota Jombang kembali kedatangan tamu dari arah kota. Kali ini mereka mendapati mobil sedan berwarna hijau tengah berjalan mendekat ke arah gerbang keluar. Mereka yang sedang duduk-duduk segera bangkit dan membentuk pagar betis untuk menginvestigasi mobil tersebut. Itu memang tugas mereka di sana, mereka harus memastikan bahwa Adam tidak kabur dari Jombang.

Mobil sedan berwarna hijau itu pun berhenti tepat di depan kerumunan aparat berpakaian hitam-hitam. Pengemudinya langsung membuka jendela. Ternyata mobil tersebut dikemudikan oleh seorang wanita berjilbab dan berkacamata yang tampak gugup. “S-selamat malam, Pak … ”

“Selamat malam, Bu. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami mau melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, mohon keluarkan SIM dan STNK Anda,” ujar aparat yang berdiri menghadapi si pengemudi.

“O-oh … iya, Pak … ” wanita berjilbab tersebut berusaha mengeluarkan dompetnya. “A-ada apa ya, Pak? Tadi ada yang tembak-tembakan di kota, saya jadi takut.”

“Tidak usah khawatir, Bu. Itu adalah teman-teman kami, mereka sedang melakukan penangkapan terhadap buronan negara.”

“O-oh, begitu … tetapi teman-teman Anda ada yang mati tadi,” ujar si wanita seraya menyerahkan surat izin mengemudinya.

Aparat yang berdiri di samping mobil tersebut sontak terdiam. Ia agak syok mendengar kabar bahwa ada sejumlah aparat yang tewas. Ia lantas mengalihkan konsentrasinya pada surat izin mengemudi yang disodorkan kepadanya.

“Ibu Felicia … ” ujar sang aparat. “STNK-nya ada di mana, Bu?”

“N-nah … itu dia masalahnya. S-saya tidak membawanya, Pak. Ketinggalan di rumah. Bagaimana ya, Pak? Damai saja ya, Pak … ” ujar wanita yang bernama Felicia tersebut.

“Haduh … ” sang aparat menggelengkan kepalanya. “Memangnya rumah Ibu di mana?”

“S-saya tinggal di Lamongan. I-ini saya baru saja pulang dari rumah orangtua saya di Kediri.”

“Walah, Ibu kok pulang jam segini sih? Bahaya, sudah malam.”

“Yaa habisnya bagaimana lagi? Memang sudah kebiasaan juga saya melakukan hal seperti ini.”

“Ya sudahlah. Ibu beruntung karena kami bukan Polantas, kami tidak peduli dengan STNK Ibu. Tetapi, Ibu harus bersedia jika kami memeriksa isi mobil ini secara keseluruhan,” ujar sang aparat seraya mengembalikan SIM Felicia.

“I-iya, Pak. Silakan.”

Para aparat pun bergerak mengerumuni mobil. Mereka mulai menginvestigasi setiap ruang yang tersedia. Ada yang membuka pintu depan, ada yang membuka pintu belakang, ada pula yang membuka bagasi dan kap mobil. Meskipun mereka tidak begitu peduli pada kelengkapan surat sang pengemudi, namun mereka benar-benar serius memeriksa setiap isi mobil.

Tidak ada penemuan yang signifikan, sayangnya, kecuali di bangku belakang. Para aparat menemukan tiga orang penumpang yang tengah tertidur. Tiga penumpang tersebut terdiri dari dua wanita dewasa dan seorang anak kecil. Para aparat menyorotkan lampu senter kepada ketiga penumpang tersebut hingga dua diantaranya terbangun.

“U-uhhhh … ada apa ini?” tanya seorang wanita berambut pendek kepada aparat yang menyoroti wajahnya dengan senter.

“Tidak apa-apa, Bu. Kami hanya sedang melakukan pemeriksaan. Mohon maaf mengganggu sebentar,” ujar sang aparat.

Para aparat cukup lama memerhatikan wajah setiap individu yang duduk di bangku penumpan. Begitu lama dan teliti. Mereka seakan sedang mencurigai ketiga penumpang berwajah polos tersebut. Sementara itu, Felicia—sang pengemudi—sedari tadi terdiam seraya menyelipkan tangannya di belakang punggung, entah apa yang akan ia lakukan.

Tegang, sesaat itu suasana menjadi tegang. Aparat-aparat khusus itu terlihat curiga. Mereka menatapi para penumpang secara seksama, kadang sedikit mendekat untuk memastikan bahwa penumpang-penumpang tersebut bukanlah buronan pemerintah.

Tak lama kemudian, para aparat menyudahi investigasi yang mereka lakukan. Mereka menutup kembali setiap pintu mobil dan mengatakan bahwa mereka tak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam mobil. Felicia bisa bernapas lega, ia pun menyingkirkan tangan dari punggungnya, ia tampak sedang memegang sesuatu sepanjang para aparat memeriksa penumpang yang ia bawa.

“Ibu Felicia, terima kasih telah bekerjasama dengan kami. Maaf jika kami mengganggu perjalanan Anda,” ujar sang aparat yang sempat memeriksa SIM Felicia.

“T-tidak apa-apa, Pak … ”

“Lain kali, mohon bawa STNK-nya ya. Hari ini Anda beruntung tidak bertemu dengan Polantas. Kami tidak bisa menjamin Anda akan bernasib sama di hari yang lain.”

“I-iya, Pak. Terima kasih.”

“Selamat malam dan selamat jalan.”

Mobil sedan berwarna hijau itu pun akhirnya dapat kembali melaju setelah melewati beberapa tahap investigasi. Felicia dan ketiga penumpangnya kini dapat keluar dari Kota Jombang dengan aman dan tenteram. Para aparat yang berjaga tak lagi peduli padanya, mereka terfokus pada kendaraan yang lain.

Belum jauh berjalan, salah satu penumpang berkomentar tentang investigasi yang baru saja terjadi. “Waw, aktingmu menjadi penakut benar-benar menyelamatkan kami, Felicia … ” ujar penumpang wanita berambut ikal tersebut.

“Berkat akting kalian juga, pura-pura tidur, mereka jadi sedikit merasa bersalah. Tetapi aku hampir lepas kendali tadi, kupikir mereka sudah mencurigai kalian. Aku hampir saja meledakkan kepala mereka satu-persatu,” jawab Felicia.

“J-j-jantungku rasanya mau copot tadi. A-astaga, tangan dan kakiku sampai gemetar tak karuan … ” penumpang perempuan yang lain ikut berkomentar.

“Mereka tak mengenalimu, Nadia. Kau beruntung tak ada satu pun dari mereka yang mengenalimu atau Verani,” ujar Felicia. “Kurasa mereka sudah benar-benar terfokus pada Adam.”

Verani tak merespon pernyataan Felicia. Ia malah menatapi putra semata wayangnya tertidur pulas. “Sementara itu … Patih tetap tertidur seperti tak terjadi apa-apa. Dasar tukang tidur,” ujarnya seraya mengusap-usap kepala Patih.

“Kita harus bersyukur dengan keadaan ini. Kita tak perlu kejar-kejaran dengan aparat dan membuat nyawa kalian bertiga berada dalam bahaya,” tutur Felicia. Ia lantas menghela napas panjang. “Sekarang kita tinggal berharap agar kedua teman kita di Jombang bisa keluar dari kekacauan yang mereka buat.”

“Adam … ” Verani bergumam seraya tetap mengusap-usap kepala putranya. “Aku tak bisa kehilangan dia, sama seperti aku tak bisa kehilangan Patih. Sudah sulit rasanya membayangkan hidup tanpanya. Aku terlalu bergantung kepadanya, sepertinya.”

” … ”

“M-Mbak Felicia, k-katakan bahwa kau akan menolong kedua saudaramu jika mereka kesulitan,” seloroh Nadia.

“Apa pedulimu, Nadia? Lagipula itu adalah keputusan mereka untuk menyelamatkan kalian. Selain itu … ” Felicia menunda ucapannya. “Tidak ada satu pun dari mereka yang memercayaiku sebagai saudara.”

“K-kau tidak berpikir bahwa itu nyata kan, Mbak? M-maksudku, mereka bisa saja mengatakan bahwa mereka tak memercayaimu, tetapi kenyataannya belum tentu demikian. K-kalian sudah hidup bersama selama puluhan tahun.”

” … ”

“A-aku tahu bahwa ada istilah untuk tidak memercayai siapa pun dalam dunia intelijen. Akan tetapi … kalian adalah keluarga. Keluarga selalu saling melindungi. A-aku bisa melihat aura itu saat pertama kali melihat kalian, melihat Verani, melihat Patih.”

Kata-kata Nadia sontak membuat Felicia terbenam di dalam kesunyian. Ia tak memiliki argumentasi untuk keluar dari kenyataan tersebut. Jiwa dan raganya terkungkung di dalam fakta yang sulit untuk ia pungkiri.

“Untuk sekarang, diamlah. Aku tak mau membahas kepercayaanku kepada orang lain … ” ujar Felicia tenang. “Lain kali saja saat orang lain memang membutuhkan kepercayaan semacam itu dariku.”

Seketika itu, suasana di dalam mobil pun kembali dikuasai oleh keheningan. Sepi kembali bersemayam dalam ruang malam.

***

Markas Besar PIN, Jakarta
03.31

Mayjen Riyadi berjalan memasuki sebuah ruangan besar yang mayoritas diisi oleh para operator komputer. Mereka adalah pegawai PIN yang bekerja di belakang meja untuk membantu para petugas intelijen di lapangan. Bantuan yang mereka berikan biasanya membantu agen lapangan melacak target operasi dan menjembatani komunikasi antara agen lapangan dengan pejabat yang mengontrol operasi di kantor.

“Oke, teman-teman, berikan aku laporan tentang keadaan terkini!” seru Riyadi seraya berjalan ke tengah ruangan bersama dengan Hana. “Di mana lokasi terakhir Adam!? Bagaimana keadaannya!? Kudengar ia sudah mengacau di Jombang.”

“Ia terakhir terlihat di Gang Bojongnangka, Pak. Keadaannya tak diketahui, namun kami menduga ia terluka akibat tembakan aparat,” seorang pria dengan kemeja kasual berjalan menghampiri Riyadi, ia tampak seperti pejabat yang mengontrol operasi itu sementara waktu.

“Kerja bagus, Ringga … ” Hana menanggapi pria tersebut dengan ekspresi berseri-seri. “Setidaknya upaya kita tak sia-sia. Kita bisa melukai Adam, akhirnya.”

“Tidak juga, Bu … ” ujar Ringga seraya menggelengkan kepalanya. Ekspresinya tampak tertekan. “Saat ini, paling tidak sudah ada sekitar dua puluh lebih aparat yang tewas di tangan Adam. Ada yang dibunuh dari jarak dekat, ada yang dibunuh dari jarak jauh.”

“Oh … ” Hana ingin membatalkan pujiannya terhadap Ringga, tetapi tak bisa. “Itu buruk.”

“Bagaimana dengan Kapten Johan dan Serka Citra? Berapa lama lagi mereka akan tiba di Jombang?” Riyadi kembali bertanya.

“Kuperkirakan jam 4 kurang. Mereka sudah berangkat menggunakan helikopter,” jawab Ringga.

“Helikopter apa? Mi-35SS terbaru milik TNI? Aku butuh mereka tiba di sana lebih cepat. Mi-35SS tidak menyediakan kemampuan itu, jarak tempuhnya juga paling-paling hanya sampai di Nganjuk.”

“Tidak, Pak. Kami menggunakan Airbus Thundercopter X9 milik Kemenhan. Itu akan jauh lebih cepat daripada menggunakan Mi-35SS milik TNI.”

“Oh, helikopter termahal dan tercepat saat ini ya. Baiklah, kurasa itu cukup bagus. Ekspektasiku mereka bisa tiba lebih cepat daripada perkiraan kita,” Riyadi mengangguk-angguk. “Oke. Kalau begitu kita tetap harus menahan Adam sampai pemain besar kita tiba di lokasi—”

“Ada masalah lain, Pak.”

“Ada apa lagi, Ringga?”

“Adam tampaknya dibantu oleh seseorang yang berkemampuan mirip sepertinya. Ia juga menumbangkan tim aparat cukup banyak. Malam ini, Jombang tampak seperti arena persaingan antara Adam dan rekannya.”

Riyadi dan Hana saling tatap. Kedua mata mereka membelalak. Pikiran mereka langsung tersinkronisasi. “Salah satu anggota Project SAKTI yang selamat,” bisik Riyadi.

“Baiklah, baiklah. Ringga, tampaknya kamu bisa sedikit santai sekarang. Aku dan Hana yang akan mengambil alih operasi ini,” ujar Riyadi tenang. “Kawan-kawan, aku mohon bantuannya, mari kita desak Adam sampai ruang geraknya semakin kecil!”

Para pekerja yang berada di sana langsung bersemangat kedatangan sosok pejabat strategis nan mumpuni seperti Riyadi. Peluang mereka untuk memenangkan pertarungan akan lebih besar. Mereka pun menampilkan data-data terkini tentang keberadaan Adam pada layar besar yang membentang di depan ruangan.

“Jangan khawatir dengan korban jiwa, teman-teman. Menghadapi Project SAKTI memang tak pernah sekadar menjadi ‘operasi antiteror’ biasa, tetapi sudah masuk ke skala ‘perang gerilya’. Korban jiwa adalah risiko yang wajar … ”

***

Airbus Thundercopter X9
03.32

“Aku tidak tahu jika Riyadi juga memanggilmu untuk terjun ke operasi terkutuk ini, Citra,” ujar Johan melalui mikropon pada headset-nya. Ia berbicara dengan seorang wanita berkucir dua di hadapannya.

Suara mesin helikopter memang teramat riuh, sehingga seluruh penumpang maupun pengemudinya harus mengenakan headset khusus agar mereka bisa saling berkomunikasi tanpa harus berteriak-teriak.

Menanggapi kata-kata Johan, Citra pun tersenyum. Ia sendiri tak menyangka bisa bertemu kembali dengan seniornya. “Senang bisa bertemu kembali denganmu, Letnan!”

“Ia bukan letnan lagi, sobat. Pangkatnya sudah naik menjadi kapten, Riyadi yang mempromosikannya secara personal,” tukas Tenma mengoreksi ucapan Citra.

“Hei, Tenma!” Johan ingin menyela ucapan sinis asistennya, tetapi ia terlambat.

“Oh … maaf, Kapten. Aku tidak tahu kau sudah naik pangkat,” Citra jadi merasa bersalah.

“Hentikan … kalian tak perlu mengkhawatirkan apa pangkatku. Kita berada di luar lingkaran militer sekarang, jadi jangan berbicara soal pangkat. Jika kalian punya ide, segera sampaikan, kita berada di sini untuk bekerjasama, bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih senior,” papar Johan.

“Baik, Kapten … ” Tenma dan Citra merespon secara bersamaan.

“Oke, Citra … sebelumnya aku mau bertanya kepadamu: cewek pendiam yang sedang duduk di sampingmu adalah anggota Project SAKTI kan?”

“Benar, Kapten. Mayjen Riyadi yang memberitahukannya kepadaku, tetapi aku tak begitu yakin ia akan dapat membantuku di lapangan—”

“Tidak. Jangan remehkan ekspresi datarnya. Asistenmu itu adalah makhluk yang serupa dengan Adam. Kalau kau meremehkannya, bisa-bisa kau yang mati.”

” … ”

“Kau lihat dia?” tanya Johan seraya menunjuk Tenma. “Ia adalah asistenku, mantan anggota Project SAKTI, namanya Tenma. Kemampuannya setara dengan Adam dan sampai sekarang aku tak pernah bisa mengalahkannya dalam pertarungan jarak dekat.”

“S-sehebat itu, Kapten?”

“Kau akan memercayaiku saat kau melihat asistenmu beraksi kelak. Bekerjasamalah dengan asistenmu, kau akan sangat membutuhkannya, Citra.”

“Kau berlebihan, Kapten … ” sela Tenma. “Kau jauh lebih hebat soal taktik, Kapten. Dan aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan bahwa aku adalah mantan anggota Project SAKTI. Aku bukan anggota Project—”

“Aku tidak berharap kau mengerti, Tenma. Telan saja bulat-bulat informasi itu. Yang terpenting sekarang adalah kau bekerja denganku untuk menangkap Adam,” tegas Johan.

“Baik, Kapten. Dimengerti.”

“Kapten … ” panggil Citra. “Apakah kau punya ide bagaimana cara menangkap Adam? Aku tahu kita sudah dibantu oleh dua makhluk yang mirip dengan Adam, tetapi kurasa kita tak bisa menangkap Adam tanpa taktik yang jelas kan?”

“Yeah … ” Johan menanggapi pertanyaan Citra dengan antusias. “Adam adalah bedebah tangguh. Aku tahu itu. Tetapi, setelah aku mempelajari dokumen penangkapan 17 anggota Project SAKTI, aku sadar bahwa kelemahan mereka adalah pengeroyokan terorganisir. Mereka kuat secara individu, tetapi takkan sanggup bertahan jika terus-menerus didesak secara terorganisir.”

“Berarti kita hanya perlu terus ‘memukul’ mereka sampai mereka terpojok?”

“Ya. Itulah gunanya teman-teman kita yang saat ini sedang bertugas di Jombang. Mereka mungkin tidak bisa menumbangkan Adam, tetapi jumlah mereka yang banyak dan taktik mereka yang rapi bisa memaksa Adam untuk terus mundur sampai sudut yang paling kecil,” jelas Johan. Ia lantas terdiam sejenak.

“Nah, tugas kita di sana adalah untuk memastikan bahwa Adam tetap terperangkap di sudut kecil, lalu melumpuhkannya dengan bantuan kedua asisten kita. Kita yang akan memastikan bahwa perjuangan teman-teman kita di Polri, TNI, dan PIN tidak berakhir dengan sia-sia.”

***

Kota Jombang
03.51

Pertempuran semakin panas.

Kota Jombang bagian barat telah menjadi arena baku tembak yang sangat alot. Konflik antara aparat dan Adam tersebut sudah berlangsung selama kurang-lebih satu jam, membuat para warga yang tinggal di sekitar sana dirundung kepanikan. Tidak hanya itu, warga yang hidup cukup jauh dari pusat pertukaran timah panas pun bahkan panik mendengar rentetan tembakan yang sedari tadi menyeruak. Beberapa orang akhirnya mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.

Konflik yang seharusnya bersifat rahasia tersebut telah berubah menjadi perang kota. Satu orang Adam sanggup membuat sebagian warga Jombang merinding ketakutan. Operasi antiteror telah berubah menjadi problematika sosial. Warga sipil yang semestinya tidak menjadi tokoh berpengaruh pada konflik tersebut malah akan bertransformasi menjadi entitas terbentuknya opini publik di kemudian hari. Satu saja kesalahan dibuat oleh aparat, maka akan menimbulkan efek yang sangat fatal: warga mungkin akan membeberkan kesalahan itu pada media dan membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Dan di sinilah Adam beserta saudaranya, Ara. Mereka tengah berlindung di balik dinding dan membalas tembakan para anggota aparat yang memburu mereka. Dengan senjata yang mereka renggut dari para aparat yang tewas, mereka memastikan bahwa mereka tetap mendominasi keadaan. Keduanya memang telah bertemu kembali setelah sebelumnya terpisah di Gang Bojongnangka.

RATATATATA!

Tak lama kemudian, seorang aparat dari sisi seberang memuntahkan peluru dari senapan mesinnya dengan brutal. Peluru berkaliber .30 itu pun beterbangan; sebagian menumbuk dinding, sebagian lainnya meleset ke sembarang arah. Tembakan brutal tersebut sontak membuat Adam dan Ara berhenti menembak, keduanya segera berlindung di balik dinding untuk menyelamatkan diri.

Sayangnya, dinding bata tersebut tak cukup kuat menahan rentetan peluru berkaliber besar. Baru beberapa butir peluru melesat tiba-tiba saja dinding sudah rompal dan salah satu peluru berhasil mengoyak rompi antipeluru Adam di bagian pundak.

“Aaargh!” Adam menjerit dan tersungkur menerima daya dorong peluru berkaliber besar tersebut. Ia tak apa-apa, hanya sedikit tergores pada pundaknya. “Bangsat!”

“Nine, kita harus pindah tempat lagi. Aku curiga senapan mesin itu hanya untuk mengalihkan fokus kita berdua.” ujar Ara seraya merunduk di samping saudaranya.

“Bedebah … ” Adam membangkitkan tubuhnya. “Mereka sepertinya mau memutari kita. Lari, cepat lari!”

Adam dan Ara lantas kabur dari tempat mereka ditembaki dan mencari tempat berlindung yang lebih aman. Mereka berlari tertatih-tatih, namun aparat tampaknya tak peduli dengan kondisi mereka berdua. Sang pemegang senapan mesin tetap memuntahkan peluru secara membabi-buta ke arah di mana ia melihat Adam dan Ara bergerak.

Sayangnya, tidak ada satu pun dari tembakan tersebut yang menghasilkan efek positif. Adam dan Ara kembali menghilang di balik kegelapan.

“Ah, bajingaaan! Hilang lagi! Yang muter kelamaan sih! Keburu lari bocahnya!” seru salah seorang aparat yang sempat bertukar tembakan dengan Adam.

“Ah, setan! Bacot lu semua! Kejar ajalah, mumpung belum jauh!” seru aparat lain dari kejauhan. Suaranya terdengar sayup-sayup.

Para aparat akhirnya bangkit dan mencari jejak Adam dengan kacamata footprint tracker. Seraya bergerak perlahan, mereka juga membagi-bagi tugas agar lebih efektif untuk melumpuhkan Adam. Pasukan yang terdiri dari puluhan orang itu pun dipecah menjadi beberapa grup dan berpencar ke arah yang berbeda.

Sayangnya, tak ada satu pun dari kelompok aparat yang berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Adam. Mereka melihat jejak, namun terputus di tengah jalan. Tentu saja itu aneh. Apakah Adam terbang? Tidak mungkin. Mereka mulai menduga-duga bahwa Adam tengah bersembunyi di suatu titik dan bersiap melakukan serangan secara mendadak saat seluruh aparat sedang lengah.

KLOTAK!

Tiba-tiba saja salah satu grup aparat mendengar semacam objek polimer berkelotak di atas tanah. Para anggota aparat yang tergabung pada grup tersebut langsung bertolak dari tempat mereka berdiri dan membidik ke arah sumber suara. Mereka terkejut setengah mati, namun mereka tak menemukan apa-apa selain benda misterius tergeletak di atas jalan.

Tidak, tidak misterius. Benda tersebut adalah optik dari sebuah senapan yang dilindungi oleh frame berbahan dasar polimer. Salah satu anggota aparat mengonfirmasinya. Pertanyaannya adalah mengapa optik tersebut ada di sana?

Jawabannya muncul dari atas pohon. Seseorang tiba-tiba saja melompat dengan kaki telanjang dan menginjak salah satu kepala aparat hingga pingsan.

Adam, dialah yang melempar optik senapan untuk mengelabui para aparat.

Aksi Adam tak sempat direspon dengan baik oleh aparat. Sesaat setelah mendarat di atas tubuh salah seorang anggota grup pengintai, ia langsung memuntahkan tembakan beruntun kepada para aparat yang tersisa. Ia merunduk, berputar, dan menarik pelatuk hingga seluruh tembakannya mengenai aparat yang berdiri di sekelilingnya.

Semburan peluru tersebut langsung membuat satu grup aparat tumbang.

Mendengar suara tembakan, grup pengintai yang lain pun datang dan mencoba mengimbangi keadaan.

Akan tetapi, Adam tanggap dengan kedatangan grup tersebut. Ia langsung berlari menghampiri kerumunan aparat yang sedang mengambil posisi untuk menembak. Begitu jaraknya sudah terlampau dekat, ia segera melompat, menerjang seperti macan di saat para aparat sedang memuntahkan tembakan. Peluru berdesing ke segala arah, namun tak ada satu pun yang berhasil mengenai Adam.

Adam berguling, masuk ke dalam lingkaran grup aparat. Di saat itulah para aparat menyadari bahwa mereka sangat dekat dengan kematian. Sesaat itu, Adam langsung mengokohkan posisi runduknya dan mulai menembaki aparat yang ada di hadapannya—pada jarak yang sangat dekat. Kepala-kepala manusia pecah, darah pun berceceran, menghujani posisi Adam di tengah kerumunan aparat.

Grup pengintai itu pun hancur. Berantakan.

Adam lantas membangkitkan dirinya seraya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengecek ancaman. Tidak ada. Ia benar-benar aman untuk sementara waktu.

Dengan gerakan yang agak tergesa-gesa, ia merampas semua peralatan aparat yang bisa berguna untuknya, termasuk sepatu, persenjataan, dan amunisi. Ia tahu bahwa pertempuran itu tidak akan berakhir begitu saja. Pasti ada pasukan bantuan yang menunggu di suatu titik. Itulah kenapa ia harus mengisi kembali apa yang telah habis.

Tak lama kemudian, Adam mendengar suara helikopter meraung beberapa ribu meter di atas langit. Ia segera menghentikan aktivitasnya dan memerhatikan helikopter tersebut secara seksama. Ia mengenali suaranya, helikopter tersebut bukanlah helikopter biasa, melainkan helikopter khusus berkecepatan tinggi yang biasa dipakai oleh pemerintah untuk keluar kota.

Ara lantas muncul menghampiri Adam. Ia mendapati Adam tengah menengadah ke arah langit. Merasa aneh dengan tingkah saudaranya, ia pun menegur, “Hei, Nine … kau tidak apa-apa?”

“Ya, hanya terasa sedikit perih pada lubang-lubang akibat pertempuran di Gang Bojongnangka tadi,” jawab Subject 09 seraya tetap menengadah ke atas.

“Itu akan sembuh kalau kita bisa keluar dari neraka ini secepat mungkin,” ujar Ara. “Hei, kau melihat apa sih? Helikopter?”

“Ya, perasaanku tidak enak, Three. Pemerintah mengirimkan helikopter turbo ke sini pasti karena membawa beberapa orang berpengaruh untuk pertempuran.”

“Oookeee … jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Ambil semua yang bisa kau ambil, Three. Instingku mengatakan bahwa lawan kita akan semakin berat.”

“Aku sudah melakukannya. Sekarang ke mana—”

Ara memotong ucapannya sendiri. Ia tiba-tiba saja terdiam, lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Ia sedang berusaha mendengarkan suara-suara dari kejauhan. Tampaknya ada sekelompok orang yang bergerak ke arahnya.

Oh, shit … tampaknya lebih banyak bantuan yang datang,” ujar Ara tenang.

“Lari, lari!” seru Adam seraya berbisik.

Adam dan Ara pun berlari meninggalkan lokasi. Mereka berniat menghilang di balik kegelapan dan memulai semuanya kembali dari nol. Akan tetapi, keberuntungan tampaknya enggan berpihak pada mereka kali ini.

Salah seorang aparat mendapati dua orang berlari dari sebuah persimpangan. “Kontak!” Ia langsung bertiarap, membidikkan senapan mesinnya, dan menarik pelatuk.

Suasana yang sempat sepi itu pun kembali riuh oleh suara tembakan.

Peluru berkaliber besar melesat ke arah Adam dan Ara, membuat keduanya kewalahan untuk berlari lurus. Ara tertembak di bagian punggung, namun tak sampai membuatnya tewas, hanya membuat keseimbangannya goyah. Adam segera membantunya untuk bangkit. Meskipun dihujani tembakan, kedua buronan tersebut tetap bisa melarikan diri.

Sayangnya, Adam dan Ara harus bertemu dengan rintangan lain di persimpangan jalan. Mereka tidak bertemu dengan prajurit-prajurit gabungan TNI dan Polri lagi, memang, namun lawan mereka bukan sesuatu yang bisa mereka kalahkan begitu saja. Shapeshifter.

“Shapeshifteeer! Berlindung, Nine!” seru Ara seraya menarik tangan saudaranya.

Mobil yang sempat diceritakan oleh Nadia tersebut benar-benar menyembulkan semacam corong meriam yang sangat besar dari bagian atapnya. NGUUUNG! Corong meriam tersebut menyala-nyala, seakan tengah mengumpulkan kekuatan yang amat besar di dalamnya.

PSYUUU!

Tak lama kemudian, Shapeshifter memuntahkan semacam peluru plasma ke tempat di mana Adam dan Ara terakhir terlihat. Tembakan tersebut menghasilkan ledakan dan entakan yang sangat kuat, bahkan sanggup menjebol beberapa pintu kayu di sekitar sana. Sayang seribu sayang, tembakan tersebut tak mengenai target, hanya sanggup memamerkan betapa kuatnya meriam plasma buatan PIN dan PT. Pindad.

Adam dan Ara, mereka berhasil melompat masuk ke dalam toko baju di hadapan mereka sesaat sebelum meriam plasma menghantam tanah. Mereka melompat dan menabrak kaca depan toko tanpa berpikir dua kali. Sesaat setelahnya mereka berguling dan bertiarap untuk menghindari entakan plasma yang amat kuat.

“Tolol banget dah! Senjata seperti itu dibawa untuk operasi antiteror! Mereka mau bunuh orang sipil atau mau menangkap teroris!?” protes Ara.

“Terkutuk … ” Adam membangkitkan tubuhnya dengan susah payah. Ia terlihat sangat berantakan, wajahnya penuh memar dan luka. Tak lama kemudian, ia merunduk di balik tiang bangunan dan mulai membalas tembakan ke arah aparat yang terlihat olehnya. Satu peluru untuk satu orang, ia tak boleh membuang-buang peluru di saat seperti itu.

“Three! Kita harus berpencar! Carilah celah untuk memutari mereka dan menyerang mereka dari belakang! Aku akan menahan bangsat-bangsat ini untuk sementara waktu!” seru Nine seraya terus membalas tembakan, tak peduli betapa ramainya peluru yang berdesing ke arahnya. Ia memang manusia ‘berbola’ baja.

“Oke! Kita bertemu lagi nanti, Nine!” Ara pun berlari ke belakang toko, mencari jalan keluar alternatif.

Lima aparat tewas oleh tembakan yang dimuntahkan Adam dari dalam toko. Tidak semua tembakan mengenai target, memang, namun setidaknya Adam mampu membuat lima orang meregang nyawa. Hal itu membuat moral para aparat runtuh secepat kilat.

Akan tetapi, Shapeshifter takkan membiarkan Adam terus menumbangkan teman-temannya.

Mobil mengerikan itu pun bergerak menembus rintangan yang sempat menghalangi jalannya. Kini ia bertengger tepat di depan toko yang dijadikan tempat berlindung oleh Adam.

Fuck … ” Adam mengutuk singkat begitu ia melihat moncong Shapeshifter muncul di hadapannya. Ia pun bergegas angkat kaki dari tempatnya merunduk, berlari ke belakang toko, sama seperti Ara.

Shapeshifter sudah sempat mengumpulkan energi pada corong meriamnya. Akan tetapi, ia membatalkan niatnya untuk menembak karena Adam sudah menghilang dari tempat persembunyiannya. Mobil kekar itu pun sekadar sanggup bertengger di depan toko tanpa melakukan apa-apa.

Sementara itu, Adam dan Ara berpisah ke arah yang berbeda. Ara berlari ke arah barat, sedangkan Adam ke arah timur. Mereka berdua menyusuri gang demi gang untuk menyulitkan pencarian aparat. Akan tetapi, entah bagaimana caranya para aparat tetap mampu menemukan mereka berdua. Baku tembak jarak dekat pun menjadi tak terelakkan. Adam dan Ara harus bergerak superlincah demi menghindari tiap serangan yang datang.

 

Adam dan Ara terperangkap

***

Adam tak gentar, ia menolak menyerahkan dirinya kepada aparat. Ia akhirnya tiba di suatu gang yang telah dikelilingi oleh para anggota aparat dari berbagai satuan. Ia tetap menolak untuk menyerah. Tembakan demi tembakan pun ia lepaskan, sesekali ia menghajar wajah musuhnya dengan popor atau moncong senapan.

Sesekali Adam berjongkok, berguling, melompat, dan berakrobat lincah untuk menyulitkan para aparat melukainya. Ia berhasil, meskipun senapannya kehabisan peluru dan rompi antipelurunya menjadi rompal tak karuan.

Sesaat setelah ia merunduk dan menembak aparat terakhir di gang tersebut, tiba-tiba saja ia mendengar langkah kaki yang amat lembut dari belakang. Ia langsung mencabut pistolnya dan bertolak menghadapi musuhnya. Sayang, ia kalah cepat, sebutir peluru tiba-tiba saja menyambar pundak kanannya. Lengannya menjadi luruh, ia tak bisa mengangkat tangannya untuk sementara waktu.

Tembakan musuhnya sangat tepat. Tepat waktu dan tepat sasaran. Adam menatapi lawan barunya. Sesaat itu ia sadar bahwa ia tak sedang berhadapan dengan bocah ingusan. Musuhnya adalah Serka Citra Furia, anggota Kopaska yang dipinjam oleh Riyadi untuk melumpuhkan Adam. Wanita itu memang ahli dalam pertempuran jarak jauh, jadi tak heran jika ia mampu membuat lengan Adam lumpuh untuk sementara waktu.

Adam tahu bahwa bahaya tengah mengintainya. Ia langsung mengambil pistol dengan tangan kirinya dan melempar tubuhnya menyamping. Seraya melompat, ia membalas tembakan, sekadar untuk menggertak Citra. Begitu mendarat lagi di atas tanah, ia lekas-lekas merayap untuk berlindung di balik tempat sampah besi yang bertengger di sudut gang. Citra juga terus menembak, tetapi kali ini ia meleset karena harus menghindari tembakan dari Adam.

Citra, wanita pendek berkucir dua itu bukanlah tipe wanita penakut. Meskipun posisinya sedang digertak oleh Adam, namun ia justru lebih percaya diri jika berhadapan lebih dekat dengan penggertaknya. Adam sampai terkejut melihat Citra berlari mendekatinya, belum pernah ada wanita seberani itu sebelumnya kalau bukan anggota Project SAKTI.

Merasa ancaman besar mengintainya, Adam pun memuntahkan seluruh peluru yang tersisa pada senjatanya.

Mengejutkan, Citra sanggup menghindari semua tembakan Adam. Ia bergerak lincah, berlari zigzag, lalu memantul-mantulkan tubuhnya di tembok demi menghindari tembakan yang meluncur ke arahnya. Wanita itu mirip seperti anggota Project SAKTI. Adam tak bisa bertempur dengannya menggunakan senjata api. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menyerangnya sebagaimana ia menyerang anggota Project SAKTI.

Citra memantulkan dirinya dari tembok ke tembok, lalu melompat cukup tinggi hingga Adam terlihat tepat beberapa meter di bawah kakinya. Ia membidikkan senapannya di saat Adam tengah mencabut pisau dari rompi antipelurunya. Adam tahu Citra sudah berada di atasnya dan ia kehabisan peluru untuk membalas tembakan.

RATATATA!

Citra memuntahkan tembakan, tetapi tak ada satu pun yang bersarang di tubuh targetnya. Ia meremehkan kemampuan lawannya. Adam, ia bukan petarung atau prajurit biasa, ia lebih dari sekadar Citra atau Johan. Adam sudah berguling sesaat sebelum Citra menarik pelatuk, kini ia sudah merunduk, siap melontarkan pisau pada tangannya.

WUUUSH!

Adam membalas serangan. Ia melemparkan pisaunya ke kepala Citra. Serangan tersebut hampir saja berakibat fatal. Beruntung, Citra segera mengangkat senapannya setinggi kepala. Pisau tersebut gagal mengenai target yang semula dituju, malah menumbuk senapan Citra dan akhirnya melipir ke arah lain.

Konsentrasi Citra pun buyar. Di saat itulah Adam merangsek maju dan menghadapi Citra dengan tangan kosong.

Sesaat itu, terjadilah pertukaran serangan yang sangat alot antara Adam dan Citra. Keduanya saling bertukar serangan. Namun, sejauh itu, Adam yang terlihat paling mendominasi keadaan. Wajah Citra menjadi penuh lebam dan darah oleh serangan lawannya. Sisi positifnya, Citra benar-benar tangguh, ia tak tumbang setelah beberapa kali dihajar Adam.

Meskipun Citra mampu menahan serangan Adam, namun ia sadar bahwa berhadapan tangan kosong dengan Adam akan merugikannya. Ia pun menendang tubuh Adam, menciptakan jarak antara dirinya dan buronan nomor satu Republik Indonesia tersebut. Di saat itulah ia memutuskan untuk kembali kepada kodratnya sebagai jago tembak. Ia mencabut pistolnya.

Akan tetapi, Citra tak sempat membidikkan pistolnya dengan benar. Adam sudah lebih dulu bergerak mendekatinya dan mengentakkan kaki ke pergelangan tangannya. Tendangan Adam tersebut menghasilkan sensasi syok pada tangan Citra, langsung membuat pistol terlepas dari genggaman.

Citra tak kehabisan akal. Ia masih punya senjata cadangan di balik punggungnya, yakni sebuah pistol mini berkapasitas dua peluru. Ia segera mencabutnya dan memutuskan untuk melepaskan tembakan tanpa membidik. Pistol mini tersebut ia himpitkan ke pinggulnya dengan moncong yang mengarah ke tubuh Adam.

KA-BLAM!

Citra segera melepaskan tembakan. Pistol sekecil itu menghasilkan suara yang sangat lantang. Akan tetapi, senjata pamungkas tak ada gunanya kalau meleset. Tepat sebelum Citra menarik pelatuk, Adam sudah lebih dulu meliukkan tubuhnya, sehingga peluru pun meluncur ke sembarang arah.

Adam tak tinggal diam. Ia segera memelintir tangan Citra dan melucuti senjata yang ada pada tangan Citra. Sejurus kemudian, ia langsung membanting tubuh Citra sekeras yang ia bisa. Kepala Citra membentur tanah akibat bantingan tersebut, lalu pingsan. Citra tak sadarkan diri.

Namun, pertarungan belum usai!

Beberapa saat setelah Citra tak sadarkan diri, seseorang muncul dari arah atas. Adam sadar akan hal tersebut, ia bergegas menarik mundur tubuhnya sebelum musuh mendarat di atas kepalanya.

SRAAAK!

Hanya berjarak dua kaki dari tempat Adam berpijak, seorang wanita tiba-tiba mendarat seraya menghujamkan golok militernya ke atas tanah. Wanita itu tampak jauh lebih tangguh daripada Citra. Ekspresinya datar, namun sosoknya memancarkan aura yang sangat mengerikan.

Adam mengenalinya. Tanpa harus melihatnya secara seksama, Adam langsung mengenali lawannya dalam waktu yang sangat singkat. “Four!” bisiknya singkat sesaat setelah wanita tersebut mendarat di hadapannya. Benar, wanita tersebut adalah Subject 04 atau lebih akrab dipanggil Blade oleh PIN saat ini.

Adam segera bertindak. Ia segera berjongkok dan mengambil segenggam pasir. Ia tebarkan pasir tersebut ke wajah Blade.

Blade tanggap, ia segera menyilangkan kedua tangannya di depan wajah, menghalangi serpihan pasir masuk ke dalam mata. Akan tetapi, serangan itu hanyalah untuk pengalihan fokus. Adam tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya. BAM! Satu pukulan keras mendarat di wajahnya, langsung membuat hidung Blade mengucurkan darah.

Tak seperti menumbangkan Citra, menumbangkan Blade akan sama sulitnya seperti menumbangkan Subject 17. Ini akan memakan waktu yang sangat lama. Meskipun baru saja terkena pukulan Adam, namun Blade tetap berdiri kokoh seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Kedua subjek Project SAKTI itu pun saling mendekat. Hingga akhirnya, terjadilah pertempuran jarak dekat yang amat dahsyat. Keduanya saling bertukar serangan. Blade berulang kali menebaskan dan menghujamkan goloknya pada kecepatan tinggi, namun Adam sanggup menghindari semuanya. Begitu pula sebaliknya. Adam berulang kali melepaskan pukulan dan tendangan, namun Blade sanggup mengantisipasi semuanya.

Kedua petarung tersebut benar-benar imbang. Hingga beberapa menit berlalu, tak ada satu orang pun yang terlihat lebih unggul daripada yang lainnya.

 

Di tengah pertukaran serangan yang amat sengit antara Adam dan Blade, Citra terbangun. Ia masih sedikit pusing, namun sadar bahwa Blade tengah menggantikan tugasnya untuk sementara waktu. Ia menyaksikan perkelahian yang begitu dahsyat, benaknya sampai sulit mendeskripsikan apa yang terjadi. Gerakan Adam dan Blade begitu kompleks dan lincah, ia seperti sedang menonton pertunjukkan koreografi.

Seketika itu, ia teringat dengan kata-kata Johan di helikopter, Citra segera mencari senjatanya. “Bekerjasamalah dengan asistenmu … ” kata-kata itu terus terngiang di dalam kepalanya. Ia sadar bahwa inilah momen yang terbaik untuk membantu kerabat barunya melawan Adam. Sambil merayap, ia mengambil pistolnya, lalu mulai membidik ke arah target.

Citra masih ragu untuk menarik pelatuk karena posisi Adam terlalu dekat dengan Blade. Ia menunggu celah.

Masih menunggu.

Sekarang!

BLAM! BLAM!

Citra memuntahkan dua peluru. Adam menyadarinya, namun terlambat untuk bertindak. Dua timah panas sudah lebih dulu melesat dan melubangi pahanya. Adam kehilangan pijakan, kakinya lemas. Ia pun terjatuh melutut di hadapan Blade.

Kesempatan, Blade segera memanfaatkan momen tersebut untuk menyerang balik. Ia segera mendaratkan tendangan superkeras tepat di wajah Adam. Tendangan tersebut tak sempat diantisipasi oleh Adam, ia sudah terlalu lengah untuk menanggapi serangan secepat dan sedekat itu. Kepala Adam terentak cukup keras dan menumbuk dinding di belakangnya.

Sesaat setelahnya, situasi pun menyepi, tak ada satu pun dari para petarung di sana yang bergerak. Adam sendiri tiba-tiba terdiam, masih dalam posisi berlututnya. Blade mengambil kuda-kuda, Citra tetap membidikkan pistolnya.

Tak lama kemudian, Adam tersungkur dalam posisi terlungkup. Ia tak sadarkan diri. Tendangan Blade berhasil membuatnya tumbang.

Berhasilkah!?

Citra menatapi Adam dengan kedua mata membelalak, napasnya tersengal-sengal, ia merasa tak percaya bahwa Adam telah berhasil dilumpuhkan. Sementara itu, Blade tetap berdiri kokoh di samping saudaranya, ia menatapi Adam dengan ekspresi datarnya. Sepertinya Blade sedang menunggu instruksi lebih lanjut dari rekannya.

***

Di saat yang bersamaan dengan berlangsungnya perkelahian antara Adam, Blade, dan Citra, Johan dan Tenma tampaknya juga sedang kerepotan melawan rekan Adam yang malam itu ikut mengacau, yakni Ara.

Sama seperti Adam, pertempuran yang semula melibatkan senjata api kini sudah berubah menjadi pertarungan tangan kosong. Johan, Tenma, dan Ara tampak berantakan setelah melalui beberapa tahap baku hantam yang amat alot.

Setelah ditendang menjauh oleh Ara, Johan tiba-tiba melirik ke atas. Sejenak saja ia melirik, lantas kembali menatapi lawannya seraya tersenyum kecut.

Johan tersenyum.

“SEKARANG!” Johan tiba-tiba saja berseru. Entah siapa yang ia seru, tetapi tampaknya ia sedang mengirim sandi pada seseorang untuk melakukan aksi tertentu.

KA-BLAM!

Sepersekian detik kemudian, sebuah tembakan menyalak dari kejauhan, namun menghasilkan suara yang amat nyaring. Sepertinya tembakan tersebut berasal dari senapan runduk berkaliber cukup besar. Timah panas melesat, langsung melubangi pundak Ara sampai tembus ke belakang. Ara melenguh kesakitan, ia pun tersungkur luruh di atas tanah.

Melihat peluang tersebut, Tenma segera beraksi. Ia segera menghampiri Ara dan mendekap leher Ara dari belakang. Dekapannya begitu keras, Ara menjadi sulit untuk bernapas. Untuk meminimalisir perlawanan, Tenma bahkan menelungkupkan tubuh Ara agar semakin sulit untuk melawan. Ara meronta-ronta, tetapi ia tak memiliki daya lebih untuk melawan dekapan saudarinya sendiri, Tenma.

Ara akhirnya kehilangan seluruh kemampuannya untuk memberontak. Perlahan-lahan, pandangannya pun menjadi kabur. Seakan segalanya meredup.

Redup, redup, redup.

Ara pun bertemu dengan ruang hitam tanpa batas. Ia kehilangan kesadarannya.

Begitu mendapati bahwa lawannya telah pingsan, Tenma segera bangkit dari posisinya. Ia berdiri kokoh di belakang tubuh saudaranya yang tergeletak luruh di atas tanah, lalu menatapi atasannya berdiri santai di seberang pandang. “Kapten, kita mendapatkannya,” kometar Tenma.

“Aku tahu itu, Tenma. Terima kasih telah membantuku. Terima kasih pula kepada sniper yang membantu kita dari kejauhan. Jebakan kita berhasil,” ujar Johan tenang.

Johan lantas menekan semacam alat di belakang kupingnya. “Citra, bagaimana keadaanmu di sana?”

Citra merespon. Alat komunikasi di belakang telinga Johan itu berderak-derak. Sesaat kemudian, terdengarlah suara wanita tersengal-sengal, wanita itu tak langsung menjawab pertanyaan Johan. “K-Kapten … aku mendapatkannya. Target utama tumbang.

Johan pun tersenyum kecut. Ia merasa puas dengan jerih payah dan pengorbanan seluruh aparat malam ini. Setelah sekian lama, akhirnya pemerintah bisa mendapatkan Adam. Sebuah kemajuan yang sangat signifikan sejak PIN dipimpin oleh Mayjen Riyadi.

“Bagus. Kau akan mendapatkan kenaikan pangkat luarbiasa, Citra. Bungkus dia kalau begitu, kita akan pulang ke Jakarta sebentar lagi,” ujar Johan. “Pertempuran malam ini sudah berakhir. Mari kita beristirahat.”

B-baik, Kapten …

***

Markas Besar PIN, Jakarta
04.31

Seluruh pegawai yang bekerja di dalam ruangan besar itu pun terdiam. Hening, seketika itu suasana menjadi sangat hening. Semua orang menyorot ke layar besar di depan ruangan, mata mereka terpaku menatapi kumpulan gambar dan informasi yang tertera pada layar. Tak hanya para pegawai, Mayjen Riyadi, Hana, dan Ringga pun membisu seribu bahasa. Ekspresi mereka bercampur aduk; antara waswas dan merasa tidak percaya.

Markas, ini Kapten Johan. Paket telah kita dapatkan. Kita menang malam ini.

Laporan singkat dari Johan tersebut langsung disambut meriah oleh seluruh karyawan PIN yang bekerja di sana. Kertas-kertas pun berhamburan, para pegawai PIN benar-benar merayakan kemenangan seperti merayakan kelulusan sekolah. Beberapa orang saling berpelukan, melompat-lompat, bahkan ada yang bersalam-salaman secara kasual. Malam itu benar-benar menjadi momen paling membahagiakan bagi seluruh aparat yang bekerja keras untuk membekuk Adam.

Mayjen Riyadi sendiri langsung mengembuskan napas lega begitu mendengar kabar baik dari anak buah terbaiknya. Hana dan Ringga langsung menyalami Riyadi tanpa berpikir dua kali. “Jenderal, Anda benar-benar sosok perwira yang sangat cemerlang. Strategi Anda diaplikasikan oleh Johan dan mendulang keberhasilan,” ujar Hana seraya menyalami Riyadi.

“Jangan berlebihan, Hana. Ini karena aku dan Johan sudah saling mengenal,” ujar Riyadi merendah. “Lagipula, kita jangan terlalu senang dulu. Adam belum tiba di sini, masih ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi di tengah perjalanan pulang.”

Hana sekadar mengangguk, namun ekspresinya terlihat begitu puas. Ia dan Ringga lantas berjalan mengelilingi ruangan untuk menyalami para pegawai PIN yang sudah bekerja keras di belakang komputer selama beberapa jam terakhir.

Riyadi sendiri berjalan ke arah mikropon di tengah ruangan. Ia ingin berkomunikasi dengan anak emasnya. “Johan, ini Riyadi. Tolong pastikan bahwa kau akan membawa bocah itu sampai ke rumah. Aku ingin bertemu dengannya.”

Siap, Jenderal. Laksanakan.

Riyadi tersenyum kecut, lalu mematikan mikroponnya. Ia pun berjalan keluar ruangan seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Memang benar apa yang dikatakan orang lain tentangnya …

Mayjen Riyadi akan menghancurkan siapa pun jika ia mau.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!