18.7 – Folk Strike


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

Kafe Kultur, Jakarta
14.01

Tahun 2021, hampir tak ada orang yang tak tahu tentang Kafe Kultur di ibukota. Kafe ini sukses mencuri perhatian banyak orang dan menjadi ikon budaya di Kota Jakarta selama lima tahun terakhir.

Kafe Kultur adalah sebuah kafe yang dibiayai oleh pemerintah untuk melestarikan budaya-budaya asli Indonesia dengan gaya modern. Tempatnya sangat luas dan nyaman untuk disinggahi selama berjam-jam, bahkan oleh pengunjung yang sama sekali awam tentang budaya asli Nusantara. Tak heran, Kafe Kultur kini menjadi salah satu target wisatawan dari luar negeri yang sedang berkunjung ke Jakarta. Entah mengapa, kebanyakan turis memang suka nongkrong, menyeruput kopi, seraya menikmati hiburan tradisional.

Akan tetapi, siang itu agak berbeda dengan siang-siang sebelumnya. Salah seorang penari wanita tampaknya sukses menawan hati para audiens yang duduk manis di depan panggung. Ia melenggak-lenggok dengan anggun, jarinya yang lentik pun ikut menari, memancarkan keindahan bagi siapa pun yang menatapnya. Ia menari dengan beberapa wanita lain, namun entah mengapa pesonanya yang paling memancar di antara penari-penari lain.

Anchi … saya tidak tahu kamu memang pandai menari,” seseorang berkomentar melalui earpiece tranparan yang menempel di belakang telinga sang penari.

“Jangan berlebihan, Pak. Saya di sini hanya menjalankan tugas untuk mencuri perhatian target,” ujar penari yang dipanggil Anchi tersebut. Seraya tetap melenggak-lenggok, ia berbicara dengan mulut yang hampir tertutup.

bripka anchi bareskrim tari gambyong

Anchi memang bukan penari biasa. Nama lengkapnya adalah Dinia Riyanti, pangkat Brigadir Kepala (Bripka). Ia merupakan anggota Bareskrim Polri yang kini sedang bertugas untuk mencuri perhatian seorang kriminal di kafe budaya tersebut. Targetnya adalah sosok pria yang sangat menyukai seni tradisional, tak heran jika ia dipilih oleh atasannya untuk mempersembahkan tari Gambyong di hadapan sang buronan.

Saya tahu kamu suka menari, tetapi saya nggak tahu kalau kemampuanmu ternyata sehebat itu. Seharusnya kamu ikut eksibisi menari di luar negeri,” goda sang atasan melalui earpiece-nya.

“Terima kasih, Pak. Belum rezeki saja pergi keluar negeri,” ujar Anchi tersenyum.

Saya akan urus itu, tenang saja. Saya akan perkenalkan kamu dengan orang-orang yang bisa menerbangkan kamu keluar negeri, pokoknya.

Kapten, saya nggak dibayarin juga keluar negeri? Mau liburan juga lah ke Singapur,” timpal polisi lain yang entah di mana keberadaannya.

SPONSOR
just-juice

Boleh. Saya bakal bayarin kamu, Dod … ke Suriah aja, mau?

Seketika itu, percakapan serius para anggota kepolisian melalui earpiece berubah menjadi panggung senda gurau. Anchi tak merespon. Ia sekadar tersenyum lebar, namun tak memberikan tanggapan yang berarti terhadap percakapan teman-temannya. Ia melanjutkan tariannya dengan anggun, mempersembahkan momen-momen klimaks dengan upaya terbaiknya.

Gemulai tubuh Anchi tampak begitu sempurna bagi para penikmat tariannya. Kakinya, tanganya, jari-jemarinya, seakan setiap ruas tubuhnya saling bekerjasama, beresonansi. Ia sanggup menyatu dengan nada-nada yang melantun dari sudut ruangan. Seakan ia adalah personifikasi dari irama-irama itu sendiri. Manis dipandang mata, harum dirasa sukma.

Tari tradisional yang sederhana itu seketika menjadi terasa megah. Anchi berhasil menyuguhkan klimaks yang terbaik untuk para penontonnya. Targetnya bahkan tergila-gila oleh tariannya; yang semula duduk bersandar, kini harus menyondongkan tubuhnya ke depan. Wajah sang buronan menjadi penuh dengan kerut-kerut rasa heran, ia menanti puncak kenikmatan dari tarian yang disuguhkan oleh para penari di atas panggung, khususnya Anchi.

Sayang, cita-cita sang buronan pupus oleh keributan yang terjadi beberapa meter di belakang tempat duduknya.

Salah seorang pengawal sang buronan menyadari bahwa atasannya telah dikunci oleh tim kepolisian di dalam kafe tersebut. Ia langsung mencabut pistol dan melepaskan tembakan kepada dua orang polisi berpakaian sipil yang berjaga di dekat pintu masuk kafe. Timah panas melesat, dua polisi yang sedang lengah di dekat pintu itu pun tumbang tanpa sempat melakukan antisipasi.

Panik, seketika itu suasana di dalam ruangan menjadi teramat riuh. Seluruh pengunjung kafe langsung berlarian menjauhi lokasi meletusnya tembakan. Sesaat setelah dua polisi rubuh, terjadilah pertempuran kecil antara para anggota Bareskrim dengan para pengawal sang buronan. Keributan semakin menjadi-jadi, tentu saja. Jerit-jerit ketakutan menyeruak, memecah kesunyian yang sempat berkuasa.

Di saat yang bersamaan, sang buronan justru kabur meninggalkan para penempurnya. Ia bergegas bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju pintu darurat yang berada di belakang kafe. Ia dijaga ketat oleh kedua pengawalnya yang rela menjadi tameng hidup untuknya.

Tak hanya orang-orang yang berada di bawah panggung, para penghibur yang berada di atas panggung pun lari terbirit-birit begitu mendengar letusan tembakan yang berjarak hanya beberapa belas meter dari tempat mereka bekerja. Anchi adalah salah satunya. Akan tetapi, Anchi tidak panik, ia malah melinting roknya dan mengambil sebuah pemukul gong yang ditinggalkan oleh pemiliknya.

Anchi turun dari atas panggung seraya agak berlari. Ia adalah satu-satunya penghibur kafe yang masih ada di sekitar lingkungan panggung, sementara teman-temannya sudah menghilang entah ke mana.

Belum jauh Anchi melangkah, tiba-tiba saja ia bertemu dengan rombongan sang buronan tepat di persimpangan lorong. Kedua belah pihak terperanjat.

Tanpa berpikir dua kali, Anchi langsung merangsek maju dan menghantamkan pemukul gongnya ke pelipis salah seorang pengawal sang buronan. Pukulan keras tersebut langsung membuat isi kepala sang pengawal berguncang dan akhirnya mengalami blackout. Sang pengawal langsung merubuhkan dirinya di atas ubin. Tak sadarkan diri.

Anchi tak lantas berhenti. Ia menghantamkan pemukul gongnya sekali lagi, kali ini ke arah tenggorokan sang buronan. Pukulan Anchi merangsek masuk tanpa sempat diantisipasi. Sang buronan sempat mengejan sejenak, lantas tersungkur di atas ubin.

Sang pengawal terakhir panik. Ia berusaha mengarahkan pistolnya ke arah Anchi. Sayang, Anchi tanggap dengan upaya tersebut. Anchi menahan laju tangan sang pengawal, lalu mementung kepala sang pengawal dua kali dengan pemukul gongnya. Pistol sempat memuntahkan tembakan, namun tak mengenai apa pun selain ketiadaan.

Sang pengawal terakhir terhuyung hebat menerima hantaman dua kali pada kepalanya. Anchi segera memelintir tangan sang pengawal dan memukul pergelangan tangan sang pengawal hingga pistol yang berada pada genggaman sang pengawal terjatuh, berkelotak di atas ubin. Sesaat kemudian, Anchi bergegas menutup perkelahian dengan memukul kemaluan sang pengawal, lalu menghajar tengkuk sang pengawal dengan pemukul gongnya. Pengawal terakhir itu pun tak sadarkan diri, langsung tersungkur luruh di atas ubin tanpa sempat melakukan antisipasi apa pun.

Anchi berpikir bahwa ia telah melumpuhkan sang buronan dan kedua pengawalnya. Ia salah perhitungan.

Sang buronan masih menyimpan energi untuk melawan balik, rupanya. Pria berbadan gempal itu menyeruduk Anchi hingga menabrak dinding beberapa kaki di hadapannya. Anchi melenguh lembut menerima benturan keras pada punggungnya. Akan tetapi, ia sama sekali tak gentar. Anchi menoleh ke kanan, ia melihat semacam gong kecil bertengger di atas nakas. Ia segera merenggut alat musik tradisional tersebut dan mengayunkannya setinggi kepala. Ia mengambil ancang-ancang.

BOOONG!

Tanpa keragu-raguan, Anchi menghantamkan gong kecil tersebut ke kepala sang buronan, langsung menimbulkan suara menggema yang sangat khas. Menerima serangan tersebut, sang buronan langsung tersungkur dan kali ini benar-benar tak sadarkan diri. Tidak mati, tentu saja, namun kesadarannya lenyap.

Perkelahian kecil itu pun usai.

Anchi melepaskan genggamannya dari gong kecil yang baru saja ia gunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri. Napasnya terengah-tengah, ia lantas menatapi ketiga orang yang “tertidur” lelap di sekitarnya. Ia berjongkok, mencoba memastikan bahwa ketiga orang tersebut masih bisa diselamatkan. Dan ketiganya memang bisa diselamatkan, mereka hanya pingsan.

Tak lama kemudian, beberapa anggota kepolisian berpakaian sipil mendatangi lokasi pertarungan antara Anchi dan rombongan sang buronan, termasuk pimpinan operasi tersebut, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Fahmi. “Anchi … apakah … mereka baik-baik saja?” ujar sang kapten seraya memerhatikan tiga penjahat tersungkur di hadapannya.

“Mereka baik-baik saja, Pak. Kenapa Bapak tidak bertanya tentang keadaan saya?” tanya Anchi menyeringai.

“Ah, kalo kamu sih saya tidak khawatir, saya khawatir dengan orang yang kamu hajar.”

Anchi tertawa lepas. Ia bisa bernapas lega sekarang, teman-teman kepolisiannya telah berhasil mengendalikan situasi. “Bagaimana dengan dua polisi yang ditembak di depan, Pak?”

“Nggak apa-apa. Mereka selamat kok. Tenang saja.”

“Syukurlah … ”

Sebelum kembali bertukar kata dengan anak emasnya, Fahmi memerintahkan beberapa anak buahnya untuk meringkus sang buronan dan kedua pengawalnya. Ia kemudian mengajak Anchi keluar dari lorong redup dan pengap tersebut. Biarkan anggota lain yang mengurus sang buronan, katanya. Ia lantas merangkul Anchi dan menepuk pundak Anchi beberapa kali sebagai pujian tersirat untuk hasil kerja Anchi yang amat memuaskan.

“Seperti biasa, hasil kerjamu bagus sekali. Bahkan babon berbadan besar seperti itu pun babak belur dihajar olehmu,” ujar Fahmi.

“Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan.”

“Sebagai bintara, kamu memberikan contoh yang sangat baik untuk teman-temanmu. Antusias terhadap tugas, cerdas, dan tak kenal takut.”

“Terima kasih, Pak … ”

“Saya rasa, teman-teman kita di Pusat Intelijen Negara [1] memang membutuhkan bantuanmu. Saya sudah diberikan bocoran oleh beberapa orang di sana.”

NB: [1] Badan intelijen resmi Republik Indonesia pada cerita ini.

“PIN, pak? Mengapa saya harus bekerja dengan mereka? Untuk saat ini, saya belum berminat. Masih ingin bertugas di Polri.”

“Berminat atau tidak, Mayjen Riyadi tetap akan menemuimu. Tunggu saja beberapa hari lagi.”

“Aduh, saya belum siap. Beliau kok sampai mau menemui saya secara personal seperti itu? Apalah saya ini, hanya seorang bintara kok harus bertemu dengan kepala PIN?”

“Mereka butuh intel yang bisa mukul seperti kamu … ”

Anchi terdiam sejenak, ia menatapi atasannya seraya mengerutkan kening. Jantungnya berdegup seperti kesetanan, antara waswas dan heran. “Oh, tidak … jangan-jangan ini soal ‘dia’ … ”

“Yep, terkaanmu benar. Ini soal ‘dia’, si monster yang sudah menghabisi ratusan orang dari kepolisian dan TNI,” ujar Fahmi seraya menyedekapkan tangannya. “Ini adalah soal Adam Sulaiman, buronan nomor satu republik saat ini.”

Anchi membelalakkan matanya, lalu menarik napas begitu dalam. Tak pernah sekali pun dalam karirnya ia membayangkan akan bekerja di bawah yurisdiksi PIN untuk menangkap kriminal paling berbahaya sejagat Nusantara: Adam Sulaiman. Sudah beberapa bulan terakhir nama itu santer di kalangan aparat. Santer karena banyak orang yang mati di tangannya. Adam telah menjadi momok yang amat menakutkan, bahkan untuk bintara tangguh seperti Anchi.

Entah mengapa, PIN tampaknya tertarik dengan kemampuan Anchi sebagai anggota Bareskrim yang cerdas dan cekatan. Anchi merasa tak siap jika ia harus dipanggil PIN untuk melawan Adam. Itu artinya dia harus melawan pria yang pernah diberi sandi Subject 09 oleh rezim 1998. Bukan “bisnis” yang bagus.

EPS 18.7 END


SIAPA SIH ADAM SULAIMAN / SUBJECT 09? SIMAK DARI SINI: bit.ly/s09-00


 

Ilustrasi by: Tati N. Damantie

 


SHARE EPISODE INI!