18.6 – Broken Bones


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Jakarta
01.42

Jakarta. Ibukota Republik Indonesia ini memang tak pernah tertidur. Siang maupun malamnya menjadi payung teduh bagi setiap orang yang mencari peluang untuk meraup keuntungan. Setiap orang berlomba-lomba mencari uang, mengadu nasib, bahkan seringkali tak peduli dengan halal atau haramnya pekerjaan. Jakarta sudah terlalu sumpek untuk dijadikan tempat menggali kekayaan, tetapi masih terus menebar pesona pada orang-orang di luar ibukota.

Persaingan yang begitu keras antara sesama pencari kerja kadang membuat para penghuni ibukota harus mencari cara alternatif untuk bertahan hidup. Malam ini, misalnya, puluhan orang berkumpul di sebuah pemukiman kumuh demi amplop yang berisi jutaan rupiah. Apa yang orang-orang itu lakukan? Berkelahi. Mereka hanya harus berkelahi untuk mendapatkan uang.

Peraturan dari perkelahian terorganisir itu sangat sederhana: sesiapa yang sanggup memenangkan pertarungan sebanyak lima kali berturut-turut, akan diberikan uang oleh pihak panitia. Jika setelah lima kali sang petarung masih mau melanjutkan untuk mendapatkan keuntungan lebih, maka harus memenangkan lima kali pertarungan lagi. Begitu seterusnya.

Entah siapa yang mengadakan turnamen bawah tanah itu pertama kali, namun acara semacam ini benar-benar diminati oleh berbagai kalangan, bahkan banyak partisipan yang berasal dari kalangan bapak-bapak berkeluarga.

Meskipun uang yang dijanjikan cukup menggiurkan, namun risiko berpartisipasi pada program ini juga sangat besar. Para pesertanya bisa saja mengalami gegar otak, patah tulang, atau bahkan kematian. Panitia tidak bertanggung jawab atas risiko-risiko tersebut, tim medis yang berada di sana juga tidak bisa menjamin keselamatan semua orang karena pertarungan dilakukan hampir tanpa aturan. Brutal.

Kapten Johan Burhanuddin, anggota Grup 3/Sandi Yudha Kopassus yang kini bekerja untuk Pusat Intelijen Negara (PIN), menghadiri acara ilegal tersebut. Ia ditemani oleh asistennya, Tenma, wanita yang dulunya merupakan subjek Project SAKTI dan telah dicuci otak oleh PIN. Keduanya berjongkok di tepi arena perkelahian seraya menikmati sebungkus gorengan yang Johan beli di pinggir jalan. Penampilan dan gestur mereka sama sekali tidak tampak seperti aparat, justru terlihat seperti anak alay. Terutama Johan, ia hanya mengenakan kaos oblong, celana training, dan sendal jepit.

Sorak-sorai penonton menanggapi perkelahian yang sedang berlangsung benar-benar amat riuh. Suara mereka mungkin terdengar hingga radius beberapa puluh blok dari pusat perkelahian. Banyak yang menduga bahwa acara ilegal semacam itu dibeking oleh pejabat, karena telah berlangsung selama bertahun-tahun dan tak ada satu pun aparat yang berani untuk membubarkannya.

SPONSOR
just-juice

Johan mengonfirmasi dugaan tersebut. Ia sudah tahu bahwa acara itu disponsori oleh seorang seorang pejabat, itulah kenapa tidak ada aparat yang berani membubarkannya sembarangan. “Kau tahu, Tenma?” ujar Johan seraya mengunyah ubi di tangannya. “Klub ini disposnsori oleh pejabat Eselon II. Kalau kau mengacak-acak acara ini, bersiaplah berhadapan dengan orang-orang bayaran yang rela melakukan apa saja demi bosnya,” lanjutnya memaparkan.

“Eselon II? Menarik. Siapa pejabat yang kau maksud?” tanya Tenma.

“Ah, nanti sajalah di apartemen kujelaskan padamu. Di sini, walaupun berisik, banyak orang yang suka menguping. Aku tak bisa membocorkan namanya kepadamu sekarang.”

“Baik, Kapten … ” ujar Tenma seraya melahap pisang goreng di tangannya. “Ngomong-ngomong, jagoan kita tampaknya sudah menang tiga kali berturut-turut, Kapten.”

“Ya, dua lagi ia akan mendapatkan amplop. Kita lihat saja sejauh mana ia akan mampu bertahan.”

“Tampaknya ia cukup tangguh, gerakannya rapi dan profesional, tidak seperti kebanyakan sukarelawan yang maju ke depan.”

“Ya, dia memang petarung kandang kelas amatir kan? Tak heran jika ia bisa berkelahi dengan benar.”

“Tak heran juga jika ia sudah ditandai sebagai petarung favorit di sini, Kapten.”

Johan dan Tenma sedang membicarakan seorang pria yang baru saja menumbangkan lawannya di tengah arena. Pria tersebut adalah petarung langganan pada klub ilegal tersebut. Ia memiliki rambut bergaya mohawk, penuh tato di sekujur tubuhnya, dan cukup kekar untuk petarung kelas bulu. Ia terlihat sangat percaya diri setelah berhasil mengalahkan tiga orang berturut-turut, termasuk lawan yang baru saja ia buat babak belur. “Doni! Doni! Doni!” Sorak-sorai pun terdengar di beberapa titik, memberikan dukungan bagi pria yang kini sedang menunggu penantang baru tersebut.

Johan menoleh ke segala arah, ia tak melihat tanda-tanda ada sukarelawan yang mau maju menantang Doni. Semua orang tampak ragu-ragu setelah menyaksikan kemampuan Doni menumbangkan tiga orang yang berbadan lebih besar darinya. Johan pun menyerahkan bungkus gorengannya kepada Tenma. “Tenma, pegang nih … ”

“Oh, kau mau maju, Kapten?”

“Ya, daripada menunggu sukarelawan baru, lebih baik aku saja yang maju secara sukarela,” jawab Johan seraya bangkit dari posisinya.

“Baik, Kapten. Aku minta bakwannya, ya.”

“Makan saja semua yang ada di situ, aku sudah kenyang … ”

Johan lantas maju ke tengah arena. Melihat hal tersebut, seluruh penonton yang mulai kehilangan semangat langsung bersorak. Akhirnya, ada sesuatu yang bisa mereka nikmati setelah beberapa saat tertunda. Beberapa orang diantaranya bahkan merasa senang melihat Doni bisa kembali mendapatkan samsak untuk dihajar bertubi-tubi.

Wasit pertandingan langsung meminta kedua petarung untuk mendekat ke tengah. Ia tidak menjelaskan peraturan apa-apa. Setiap orang boleh melakukan apa pun sampai wasit memutuskan bahwa pertarungan harus dihentikan. Ia hanya ingin menyampaikan kondisi tersebut.

Johan dan Doni pun berhadapan. Johan menatapi Doni dengan tatapan santai, sementara Doni menatapi Johan dengan tatapan menyindir. “Gue bakalan bikin lo mampus malem ini,” ujar Doni percaya diri.

Johan tersenyum tipis.

“Kenapa senyum-senyum? Elo takut? Kalo takut mendingan mundur dari sekarang, biar gue lebih cepet dapet amplop.”

Sekali lagi Johan tersenyum, tetapi lebih lebar daripada sebelumnya. Ia lantas berdiri di sudut arena, menunggu aba-aba dari sang wasit. Doni pun melakukan hal yang sama, ia juga berdiri di sudut arena seraya melemaskan kedua tangannya sebelum pertarungan yang sebenarnya dimulai.

Wasit membentangkan tangannya, tanda bahwa pertarungan akan segera berlangsung. “SIAP!?” tanya wasit kepada Johan. “SIAP!?” tanya wasit kepada Doni. Kedua petarung tampaknya sudah tak memiliki alasan apa pun untuk menunda perkelahian, mereka hanya tinggal menunggu wasit mengangkat tangan dan membiarkan keduanya saling baku hantam.

FIGHT!

Perkelahian pun dimulai. Johan dan Doni saling mendekat. Para penonton langsung bersorak. Begitu meriah, begitu ramai. Andai ada penduduk yang tinggal di sekitar sana, mereka pasti akan langsung terjaga oleh riuhnya teriakan penonton.

Doni bergerak mendekat penuh percaya diri. Ia tak langsung menyerang, tetapi mengukur-ukur kemampuan lawannya terlebih dahulu. Akan tetapi, kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit tergerus ketika melihat Johan memasang kuda-kuda yang solid, ia mulai menduga-duga bahwa Johan adalah petarung profesional. Johan tak seperti beberapa orang yang telah ia tumbangkan sebelumnya.

Johan berdiri begitu santai, ia bahkan terlihat seperti menantang Doni untuk melepaskan pukulan. “Kenapa? Katanya mau bikin saya mampus?” tanya Johan menyindir.

Sindiran Johan tentu saja membuat Doni naik pitam. Ia merasa diremehkan, padahal Johan tahu bahwa dirinya adalah seorang petarung yang sudah cukup berpengalaman. Ia tak rela hasil latihannnya bertahun-tahun diremehkan oleh anak ingusan yang baru saja datang ke pertandingan hari itu. Doni tak lagi berpikir dua kali untuk menyerang, ia segera mengibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengecoh Johan, lantas meluncurkan pukulannya ke wajah Johan.

Sayang, trik Doni terbaca oleh Johan, gerakan tipuannya bahkan sama sekali tidak membuat Johan tertipu. Secepat kilat menyambar, Johan segera menundukkan tubuhnya, membiarkan pukulan Doni meluncur di atas pundaknya. Pada saat itu, Johan bisa melihat semua titik vital Doni, ia bisa menghancurkan Doni di titik mana pun yang ia mau. Dalam kata lain, pertahanan Doni sudah benar-benar terekspos.

Johan segera melepaskan pukulan kait ke rahang Doni sekeras yang ia sanggup. Pukulan mendarat, langsung menghasilkan suara gemeretak lembut di sekitar rahang Doni, membuat rahang Doni remuk dan kemungkinan besar mengalami dislokasi.

Belum sempat Doni bereaksi, Johan kembali meluncurkan serangan. Perwira baret merah itu meluncurkan tinju pendek ke ulu hati Doni, membuat Doni merasakan sesak napas yang dahsyat seketika waktu. Tak ada respon apa pun dari Doni sesaat setelahnya, ia sekadar sanggup mengikuti momentum pukulan dan kesadarannya berangsur-angsur memudar.

Dua serangan tersebut langsung membuat Doni tersungkur. Tak sadarkan diri.

BRUGH! Begitu tubuh Doni terjatuh, seluruh penonton terdiam. Mereka menatapi Johan dengan mata terbelalak. Tak percaya. Selama ini, Doni telah menjadi salah satu petarung favorit pada klub tersebut dan ia kalah oleh seorang pendatang baru. Tak hanya kalah, tetapi renyuk. Seluruh rangkaian serangan benar-benar terjadi begitu cepat, para penonton bahkan tak benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi pada Doni.

Sorak-sorai bermetamorfosis menjadi desas-desus.  Tidak ada satu pun orang yang punya petunjuk tetang siapa sebenarnya petarung yang baru saja meruntuhkan Doni sekejap waktu.

Selagi para penonton ramai bergosip, Johan berjalan mendekati wasit. Ia membentangkan selembar kertas A4 yang dilipat beberapa kali dari dalam saku celananya, lalu menunjukkannya kepada sang wasit. Ia menyampaikan informasi yang sangat serius, informasi yang hanya bisa didengar oleh dirinya dan sang wasit. Sang wasit bahkan sampai mengangguk-angguk mendengar penjelasan Johan.

Sesaat setelahnya, Johan kembali memasukkan kertas misteriusnya ke dalam saku celana dan berjalan menuju ke tempat berjongkoknya di tepi arena dan mengajak Tenma pulang. “Ayo, Tenma. Urusan kita sudah selesai,” ujarnya.

“Oh, baik, Kapten … ” Tenma membangkitkan tubuhnya seraya menghabiskan tahu goreng dari bungkus gorengannya. “Pertarungan yang bagus, Kapten. Semestinya kau gunakan sedikit tendangan agar terlihat bahwa sendal jepit itu juga bisa keren jika dibawa ke pertandingan beladiri.”

“Elo pikir gue ke sini buat promosi sendal?”

Tenma sekadar tertawa mendengus mendengar respon atasannya.

Beberapa orang yang berada di sekitar sana langsung memberikan jalan bagi Johan dan Tenma untuk berlalu. Ketakutan. Mereka belum pernah sekali pun melihat petarung seperti Johan sebelumnya. Kuda-kudanya berbeda, gerakannya berbeda, footwork-nya berbeda, bahkan rangkaian serangannya pun berbeda dari mayoritas petarung yang berpartisipasi di sana selama ini.

Setelah Johan menghilang dari pandangan para penonton, wasit yang baru saja bertukar kata dengan Johan langsung meminta tim medis untuk mengangkut Doni. Doni belum mati, tentu saja, namun sudah kehilangan tigaperempat kemampuannya untuk bangkit dalam keadaan normal. Setelah Doni diletakkan di tepi arena, sang wasit lantas bergosip dengan orang-orang di sekitarnya.

Menurut desas-desus yang diembuskan oleh sang wasit, Doni adalah pelaku pemerkosaan sekaligus pembunuhan yang telah cukup lama diintai polisi. Polisi belum berani bertindak karena status Doni saat ini masih menjadi salah satu “anak emas” pejabat Eselon II yang mendanai klub ilegal tersebut. Doni diistimewakan. Jika polisi menangkapnya dengan serta-merta, maka sang pejabat akan bereaksi dan kemungkinan besar akan menimbulkan kekacauan yang tidak perlu.

Tetapi, kekalahan Doni hari ini lambat-laun akan memaksa sang pejabat korup untuk menyingkirkan dirinya dari daftar “anak emas”, apalagi kondisi fisiknya tidak akan seratus persen pulih pasca dihajar habis-habisan oleh Johan. Doni akan kembali menjadi warga biasa, di saat itulah polisi bisa bertindak. Takkan lama untuk sampai ke tahap itu, beberapa hari lagi semuanya akan menjadi kenyataan.

Sang wasit seakan telah mengetahui segalanya tentang kejahatan Doni. Tetapi tidak. Ia hanya mendengar informasi tersebut dari seseorang yang tak pernah ia lihat dan ia kenal sebelumnya.

END 18.6


SHARE EPISODE INI!