18.5 – Lunch Brawl


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI HANYALAH FIKSI BELAKA. BACA KISAH SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI


Bekasi
13.23

Siang yang panas di Kota Bekasi, seperti biasanya. Akan tetapi, hawa panas itu tak membuat para penghuninya berhenti beraktivitas atau sekadar berdiam di dalam ruangan ber-AC. Kapten Johan Burhanuddin dan Tenma, misalnya, mereka justru pergi keluar dari apartemen mewah tempat keduanya tinggal sekadar untuk makan siang di sebuah warung makan sederhana. Warung makan tersebut berlokasi di dalam sebuah pasar tradisional nan kucal dan pengap, sehingga keadaannya sangat timpang dengan tempat tinggal Johan dan Tenma.

Johan tidak punya masalah dengan tempat makan kucal semacam itu, ia malah menyukainya. Selain murah, makan di tempat seperti itu juga bisa mendapatkan porsi makanan yang lebih banyak. Begitu pula dengan Tenma, asisten Johan tersebut terlihat sangat lahap menghajar gundukan nasi serta lauk-pauk pada piring makanannya. Kedua orang yang dibayar oleh pemerintah sebagai aset penting Pusat Intelijen Negara tersebut terlihat sangat membumi dengan masyarakat kelas bawah.

Di tengah aktivitas makan siang tersebut, tiba-tiba datanglah seorang pria berbadan besar menghampiri warung makan. Pria tersebut mengenakan kaos kutang, memiliki tato yang agak luntur di tangan kirinya, berkepala pelontos, berwajah sangat bengis, dan memiliki codet pada pipinya. Johan dan Tenma menatapi pria itu sejenak, lantas kembali makan. Mereka pikir pria tersebut ingin ikut makan, rupanya dugaan mereka luput. Pria berbadan besar tersebut malah tetap berdiri dan mengintimidasi wanita paruh baya pemilik warung makan.

“Heh, mana bayaranmu? Katanya hari ini mau bayar kan?” ujar pria botak tersebut seraya agak berbisik. Meski demikian, nadanya terdengar sangat mengintimidasi.

Sang ibu pemilik warung makan langsung gemetar ketakutan. Johan maupun Tenma bisa melihat ekspresi sang ibu dari balik rak makanan yang terbuat dari kaca. “I-iya, saya mau bayar kok, Pak. T-tapi kurang 250.000, nggak apa-apa kan? Kemarin baru saja beli obat buat suami saya,” ujar sang ibu gelagapan.

“Lha? Kamu udah janji mau bayar full hari ini kan? Kok masih beralasan saja? Saya tidak mau tahu, kamu harus bayar full sekarang juga.”

“T-tapi, uangnya memang kurang, Pak. Saya bisa bayar, tapi separuhnya dulu, gitu.”

“Nggak ada. Nggak ada alasan lagi, kamu udah ngutang berapa hari, saya udah kasih kamu waktu kok,” pria botak itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau kamu nggak bisa bayar, ya terpaksa kamu harus pergi dari sini.”

“J-jangan, Pak … cari lapak jualan susah.”

“Ya kalau mau tetap di sini, bayar! Sesimpel itu masalahnya! Masih untung saya nggak sampe berbuat kekerasan lho, Bu!”

“Hei!” keributan antara preman pasar dengan ibu pemilik warung makan tersebut ternyata mengganggu ketenangan Johan. “Kalau mau ribut-ribut nanti saja, saya lagi makan, tolong hargai saya sebagai pelanggan,” tukas Johan sinis.

“Eh!? Kamu siapa!? Kok ngatur-ngatur saya!?” si pria botak merasa terusik. Ia pun menghadapkan badannya ke arah Johan. Menantang. “Kamu cuma pelanggan makan di sini, saya bisa usir kamu kapan aja. Kamu kan nggak bayar ke saya!”

Johan terdiam sejenak, lalu melahap tempe goreng yang masih utuh. Ia tampak sangat santai. “Emangnya situ siapa sih kok hobi banget minta bayaran dari orang lain?”

“Saya yang jagain pasar ini biar tetep aman dan terhindar dari orang-orang norak seperti kamu!”

Keributan antara Johan dan si pria botak sontak menjadi pusat perhatian para pedagang dan pengunjung pasar yang lain. Mereka pun bergumul di beberapa titik, tetapi tidak ada satu pun yang berani mendekat. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah bergosip dan menginformasikan keributan itu kepada orang-orang yang baru saja ikut bergabung dengan kerumunan.

“Saya norak?” tanya Johan skeptis. “Saya ini pelanggan, cuma mau makan siang di sini. Jangan berlagak jagoan lah, kalau saya pergi dan nggak bayar, secara nggak langsung kamu juga nggak dapet duit kan? Layanilah pelanggan seperti raja kalau kamu mau duit.”

Sejauh itu, Tenma tak berkomentar apa-apa terhadap rangkaian perdebatan yang terjadi di sampingnya. Ia tetap melahap semua yang ada di atas piringnya. Tak merasa terganggu, tak merasa terancam.

Si pria botak seketika tersentak oleh kebisuan. Argumentasinya terkalahkan. “Saya bisa cari pelanggan di mana aja! Nggak cuma kamu!” serunya geram. Ia pun berjalan mendekati Johan dan mulai menggenggam kerah baju Johan.

Seketika itu, suasana pasar pun menjadi riuh. Para pedagang dan pengunjung yang menyaksikan pertikaian tersebut panik. Mereka yakin akan terjadi konfrontasi fisik antara Johan dan si preman berkepala pelontos. Beberapa langsung membubarkan diri karena takut, namun sebagian besar tetap bertahan karena penasaran.

“Oh, kamu mengancam saya?” tanya Johan. “Saya takkan melakukan itu jika jadi kamu.”

“Oh ya? Memangnya saya takut–”

Belum sempat si pria botak menyelesaikan kata-katanya, Tenma tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya dan memelintir tangan sang pria ke belakang. Sejurus kemudian, Tenma segera menendang bagian belakang lutut sang pria dan dan menarik kepala sang pria ke atas meja makan. BRAAAK! Benturan keras antara kepala sang pria dan meja makan menyeruakkan suara hingga radius beberapa belas meter dari lokasi kejadian.

 

punch-kapten-johan-burhanuddin-tenma

 

Para saksi mata yang menyaksikan aksi tersebut kembali bersorak. Beberapa tampak puas, bahkan tertawa-tawa dengan rekan sebelah mereka. Sebagian lainnya kabur karena khawatir perseteruan itu akan membesar.

SPONSOR
just-juice

Tenma menahan kepala si pria botak di atas meja seraya tetap mengunci lengan sang pria ke belakang. Pria berbadan besar tersebut sama sekali tak bisa bergerak. Ia sekadar sanggup melenguh, menahan rasa sakit dan malu.

Johan pun membalas perbuatan tidak menyenangkan sang pria dengan cara yang unik. Ia bangkit dari bangkunya seraya tetap menggenggam garpu yang ia gunakan untuk makan. Ia lantas menyejajarkan wajahnya di hadapan wajah si pria botak. “Sudah saya bilang kan? Kalau saya jadi kamu, saya nggak mau ngancem-ngancem kayak gitu, soalnya asisten saya udah biasa ngehajar babon kayak kamu. Jangankan babon, gajah aja dia pukul bisa babak belur,” jelas Johan seraya menghunuskan ujung garpunya ke mata sang pria.

Si pria botak ketakutan melihat garpu terhunus hanya beberapa sentimeter di depan matanya. Ia memberontak, tentu saja, namun Tenma tetap menahan tubuhnya agar tak bisa banyak bergerak. Tenma bahkan sempat membenturkan kembali kepala sang pria di atas meja sekadar untuk membuat sang pria pening.

Tak lama kemudian, datang dua orang pria berbadan sama besarnya dengan si pria botak. Tampaknya kedua pria tersebut adalah teman sesama preman. Mereka terenyak mendapati kerabat mereka telah tertunduk tak berdaya di hadapan dua orang yang sama sekali tak terlihat seperti orang tangguh.

“Hei! Apa-apaan nih!?” seru salah seorang diantara kedua rekan preman tersebut.

Johan membalikkan tubuhnya, lalu menatapi kedua preman yang menegurnya. Ia melihat dua orang pria berbadan kekar; yang satu berambut panjang, yang satu lagi berbadan gempal. “Nggak ada apa-apa. Saya dan teman saya hanya sedang melumpuhkan seorang preman yang mengganggu makan siang kami berdua,” ujar Johan santai.

“Bapak ini siapa toh!? Kok bikin ribut di daerah–” si preman berbadan gempal berjalan mendekat, namun ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Tangan Johan tiba-tiba saja sudah mencengkeram lehernya begitu kuat, ia langsung kehilangan daya dan upayanya untuk berbicara. Tercekik. Gerakan Johan sangat cepat, ia tak sempat melakukan apa pun untuk mengantisipasinya.

Melihat temannya terancam, si preman berambut panjang memutuskan untuk merangsek maju dan mengepalkan tangannya setinggi kepala. Ia hendak memukul Johan. Akan tetapi, Johan bergegas mengentakkan kakinya pada kemaluan sang preman. Begundal berambut panjang itu pun meringkuk luruh. Kesakitan. Mulas. Sejurus kemudian, Johan kembali mengentakkan kakinya pada wajah sang preman. Tendangan tersebut menghantam target dengan keras, langsung membuat sang preman tersungkur dan tak sadarkan diri.

Johan kembali terfokus pada preman berbadan gempal di hadapannya. “Yang bikin ribut itu kalian. Minta duit yang bukan hak kalian kepada pedagang-pedagang kecil. Apa alasan kalian? Jaga keamanan pasar? Kalau kedatangan penjahat seperti saya, kira-kira pasar kalian akan aman atau tidak?”

Si preman berbadan gempal dan si preman berkepala pelontos enggan menanggapi pertanyaan Johan, bahkan tak punya argumentasi apa pun untuk dijadikan bahan pembenaran. Mereka berdua ketakutan setengah mati. Baru kali ini mereka dipecundangi oleh dua orang tak dikenal yang berbadan lebih kecil dari preman-preman di pasar tersebut.

Johan lantas mengentakkan lututnya ke ulu hati si preman berbadan gempal. Tendangan pendeknya tersebut memiliki gaya impulsif yang sangat kuat, sehingga membuat pria dengan perut buncit seperti si preman pun meringkuk kesakitan. Ia lantas melepaskan cekikannya terhadap sang preman, membiarkan sang preman tergeletak di atas ubin.

“Tenma, sudahlah, lepaskan si botak jelek itu … ” ujar Johan seraya bertolak menghadap asistennya.

“Baik, Kapten,” jawab Tenma seraya melepaskan kunciannya terhadap si preman berkepala pelontos.

Johan dan Tenma kembali ke meja makan. Mereka sama sekali tak merasa terancam dengan eksistensi ketiga preman di dekat mereka, apalagi ketiganya sudah tergeletak tak berdaya. Keduanya malah melanjutkan makan yang sempat tertunda.

Para saksi mata terheran-heran melihat kejadian tersebut, ini adalah pertama kalinya mereka melihat peristiwa “ajaib” semacam itu dengan mata kepala mereka sendiri. Sedikit demi sedikit, para saksi itu pun membubarkan diri. Takut. Gosip menjadi semakin liar, mereka mulai menerka-nerka bahwa kedua sosok yang sedang makan tersebut adalah anggota militer. Mereka menyimpulkannya dari bagaimana Tenma memanggil Johan dengan julukan “Kapten”.

Meski demikian, Johan sadar bahwa berlama-lama di warung makan tersebut mungkin bukan merupakan keputusan yang bijaksana. Pasar sebesar itu premannya pasti banyak. Ia hanya khawatir perbuatannya akan mengacaukan seisi pasar jika preman yang datang berjumlah lebih besar. Ia berada di sana bukan untuk berlagak jagoan apalagi menjadi pengacau, tujuan awalnya hanyalah untuk membeli makan.

Akhirnya, Johan memutuskan untuk membungkus makanan yang tersisa. Ia meminta kepada ibu pemilik warung makanan untuk membungkuskan makanannya, begitu pula dengan Tenma. Sang ibu menuruti kata-kata Johan, tubuhnya masih gemetar akibat syok melihat perkelahian di depan matanya. Ia memindahkan seluruh makanan yang ada di piring ke bungkusan berwarna coklat secara tergesa-gesa, lalu mengemasnya untuk Johan dan Tenma. Ia menyerahkan pesanan Johan dengan tangan gemetar, lidahnya pun kelu.

Johan segera membayar pesanannya. Ia lantas berkata, “Sebaiknya Ibu pergi dari sini dan berjualan di tempat yang lebih ramah lingkungan. Saya punya tempat kosong yang bisa Ibu tempati.”

“T-tapi … pelanggan saya gimana kalau saya pindah?”

“Jangan khawatir, itu akan diurus juga. Lagipula, tempat yang baru nanti lebih rame kok,” ujar Johan. Ia pun mulai berjalan meninggalkan warung makan. “Pikirkan saja dulu, nanti malam kita akan bicara lagi soal itu.”

“N-nanti malam? T-terus saya harus ketemu Bapak di mana?”

“Kami yang akan menemui Ibu. Tenang saja.” Johan pun menghilang dari jangkauan pandang sang ibu pemilik warung makan.

Keberadaan Johan dan Tenma benar-benar menjadi fenomena langka bagi setiap penghuni maupun pengunjung pasar becek tersebut. Bagaimana tidak? Keduanya berhasil mencuri perhatian banyak orang. Ibu pemilik warung makan syok, tiga preman berbadan besar tumbang, para saksi mata kebingungan. Johan dan Tenma seketika menjadi legenda tak tertulis.

Mereka bukan hanya legenda, sebenarnya. Mereka memang monster jika dibandingkan dengan ketiga preman yang baru saja berseteru dengan mereka. Lawan mereka yang sesungguhnya adalah Subject 09 alias Adam Sulaiman, buronan nomor satu Republik Indonesia, bukan preman pasar.

END 18.5


BONUS! 

“Johan ganteng kan? Hehehe.”

SHARE EPISODE INI!