17 – Dark Alliance [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Rest Area JP17, Jakarta Pusat
04.31

Suara azan Subuh sayup-sayup terdengar di segala penjuru, mencoba menyapa pagi yang masih temaram. Akan tetapi, kemerduan itu tak selaras dengan keindahan, justru bersanding dengan kengerian.

Di dalam sebuah mobil mini dua pintu, tampak Subject 17 sedang terduduk luruh seraya membalut perutnya dengan sebuah kain tipis. Lambung kirinya terluka cukup parah akibat ditikam oleh petugas keamanan paling berbahaya di laboratorium rahasia PIN. Kini ia harus menambal lukanya dengan kain yang lebih tebal dan steril, serta menghentikan pendarahan yang belum berhenti sejak keluar dari laboratorium beberapa jam lalu.

Nadia Fandriani, ilmuwan PIN yang membantu pelarian Subject 17 dan kini duduk di ruang kemudi, gemetar hebat menatapi cairan kental berwarna merah terus-menerus mengalir dari perut Subject 17. Lidahnya kelu, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di saat seperti itu. Jangankan untuk berbicara, untuk bernapas pun seakan sulit. Syok.

“Nadia, hei, Nadia!” panggil Subject 17 seraya agak meninggikan suara.

Nadia terenyak. Ia pun menggeleng-gelengkan kepala seraya mengembalikan konsentrasi yang sempat buyar. “Y-ya!?”

“Kau dengar perkataanku tadi, tidak? Cepat belikan aku lap, lakban, dan air putih.”

“O-oh … iya … ”

Rupanya, Nadia sudah diberi tugas baru, tetapi ia terlalu syok untuk bergerak dan memenuhi permintaan Subject 17.

“Cepatlah. Kau pikir apa tujuanku memintamu berhenti di rest area seperti ini?” tukas Subject 17.

“I-iya, iya. M-mampir ke mini market 24 jam untuk membeli lap, lakban, dan air putih,” jawab Nadia gelagapan.

“Nah, kalau sudah tahu, cepatlah keluar dan belikan aku benda-benda tersebut. Kalau tidak, aku akan mati dan kau akan dituduh sebagai pembunuh.”

“Haaa! I-iya, iya! A-akan kukerjakan … sekarang!”

Tak lama kemudian, Nadia pun bergegas keluar dari mobilnya. Ia menarik napas panjang sebelum mulai bergerak ke arah mini market. Ia mencoba untuk tidak terlihat syok atau tegang, karena sikapnya bisa membuat orang lain curiga.

Nadia menjalankan tugasnya tanpa keraguan. Ia masuk ke dalam mini market dan memasukkan semua benda yang diminta oleh Subject 17 ke dalam keranjang belanja. Sejauh itu, ia tak menemukan masalah yang berarti. Akan tetapi, persoalan justru muncul tiba di meja kasir. Para petugas agak mencurigai gerak-geriknya. Nadia menjadi terlalu gugup

“Mbak? Kau tidak apa-apa?” tanya salah satu petugas kasir menatapi tubuh Nadia yang gemetar.

“O-oh? B-begitukah?” Nadia berusaha agar tidak terlihat gugup, tetapi ia tetap saja terlihat mencurigakan. “A-aku ingin buang air kecil, tetapi tak tahu di mana lokasi toiletnya. Sudah kebelet sedari tadi,” lanjutnya mengarang.

“Oh, maaf, maaf. Saya pikir kenapa. Kalau mencari toilet ada di luar. Nanti keluar dari pintu mini market langsung belok kanan.”

“O-oh, iya, iya. Terima kasih banyak!”

Nadia berhasil mengelabui para pegawai mini market. Ia pun membayar seluruh belanjaannya dan berjalan keluar secara tergesa-gesa ke arah toilet hanya untuk meyakinkan para pegawai tentang niatnya buang air kecil. Akan tetapi, setibanya di toilet, ia sekadar mengatur napas yang mulai terdengar tak beraturan, ia berusaha meredakan adrenalin yang mengguncang seluruh persendian tubuhnya.

Beberapa saat setelahnya, Nadia bergegas kembali ke mobilnya. Namun, bukan kedamaian yang menanti, justru masalah yang ia dapatkan. Begitu masuk ke dalam ruang kemudi, ia terenyak mendapati Subject 17 telah terduduk luruh dengan kedua mata terpejam. “Oh, sial!” kutuknya spontan. Adrenalinnya kembali bergejolak.

“Mbak! Mbak! Bangunlah! Bangunlah! Kau tidak apa-apa!?” Nadia mengguncang-guncangkan tubuh Subject 17 sekuat tenaga. Panik.

Awalnya Subject 17 tak merespon. Hal itu membuat teriakan Nadia semakin menjadi-jadi, ia bahkan mengguncang tubuh Subject 17 lebih hebat. Akan tetapi, Subject 17 belum mati. Ia membuka matanya perlahan dan menatapi Nadia dengan sinis.

“Apa yang kau lakukan? Aku sangat mengantuk,” ujar Subject 17 santai.

“Huaaa! Jangan menakut-nakutiku donk! Aku kira kau sudah mati, tahu!? Aku hampir terserang penyakit jantung karenamu!” protes Nadia.

“Apa yang terjadi padamu? Aku tidak selemah itu. Kau meneliti saudara-saudaraku kan? Semestinya kau tahu bahwa kami tak mudah dilukai.”

“U-uhhh, iya sih. Tapi tetap saja … ”

“Ah, kau ini. Membangunkan orang tidur dengan cara yang sama sekali tak bagus. Masih untung kau tidak kucekik … ” Subject 17 memperbaiki posisi duduknya. “Sini, kemarikan belanjaanmu.”

Subject 17 mengeluarkan semua hasil belanjaan Nadia, lalu meletakkannya di atas dasbor. Beberapa saat setelahnya, ia pun membuka jaket dan kaosnya tanpa rasa malu, mengekspos setengah badannya di hadapan Nadia. Ia tak merasa malu, tapi hal itu berhasil membuat Nadia terenyak.

” … ” Nadia seakan ingin mengucap kata, namun terlalu syok melihat otot-otot pada tubuh Subject 17.

“Kenapa kau? Baru pernah melihat wanita buka baju?” tanya Subject 17 seraya mendelikkan matanya pada Nadia.

“B-b-bukan. B-badanmu. S-seperti bukan badan wanita … ” ujar Nadia gelagapan.

Tubuh Subject 17 memang tak tampak feminin. Perutnya sixpack, otot tangannya besar, punggungnya kekar, dan banyak bekas luka pada permukaan badannya. Hanya payudara dan ukuran pinggulnya saja yang membedakan ia dengan kaum laki-laki.

Menanggapi hal tersebut, Subject 17 sekadar tertawa mendengus, lalu menyiramkan beberapa sauk air pada lambungnya yang terluka, membersihkan lukanya. Ia sempat melenguh lembut, tetapi hanya sesaat. “Bukankah kau sudah melihat saudariku yang lain? Tubuh mereka juga sama sepertiku. Tenma, misalnya.”

“Iya sih. T-tapi ini pertama kalinya aku melihat dari jarak yang sangat dekat. A-aku kan hanya pengamat di laboratorium, tak pernah punya kesempatan untuk menemui saudara-saudaramu sedekat ini.”

Subject 17 terdiam. Ia membalut lukanya dengan kain baru dan membelit kain tersebut dengan lakban agar tetap berada di tempatnya. “Kalau kau dilatih militer sedari kecil, ya beginilah badanmu.”

“T-tubuhmu banyak bekas luka. Apakah itu juga hasil dari latihan ala militer?”

“Sebagian kecil. Tapi kebanyakan karena berkelahi dengan musuh di medan operasi. Karena ditembak, ditusuk, dicambuk, disayat, macam-macam lah … ”

Nadia mendengarkan Subject 17 dengan seksama. Ia merasa heran. “K-kau … bagaimana caranya bisa selamat dari semua itu? A-aku sama sekali tak bisa membayangkan diriku ada di posisimu.”

“Jangan dibayangkan, kalau begitu,” Subject 17 menyudahi tindakan medisnya. “Aku dilatih untuk menahan rasa sakit. Sama seperti teman-teman kita di Kopassus, Denjaka, Paskhas, Densus AT-13, dan lain-lain. Bedanya, aku dilatih sejak belia. Jadi … kau bisa bayangkan mengapa aku bisa selamat dan tampak terbiasa dengan semua kegilaan ini.”

“Tapi, luka tembak dan luka tusuk sebanyak itu … kau seharusnya sudah mati.”

“Manusia selalu menyimpan misteri, bukan begitu, Nadia?” ujar Subject 17 seraya mengenakan pakaiannya kembali. “Dan sejarah membuktikan bahwa manusia selalu bisa melampaui ekspektasinya sendiri.”

Nadia terdiam, menatapi Subject 17 dengan seksama. Loyalitasnya terhadap PIN mulai goyah. Ia merasa ada harapan untuk keluar dari neraka bertopeng institusi rahasia negara tersebut.

“Mbak … ” ujar Nadia. “A-apakah kau pikir kau bisa melindungiku?” tanyanya.

Subject 17 menatapi Nadia seraya meneguk air minumnya beberapa kali. Ia lantas menurunkan botol minumnya. “Mengapa kau bertanya?”

“A-aku … aku sudah muak dengan PIN. M-mereka memaksaku untuk mengamati orang lain disiksa. Jika aku menolak, aku dibunuh, keluargaku dibunuh, dan semua orang yang kucintai dibunuh. Mereka telah berubah menjadi agensi gila yang terlalu terobsesi menjadikan Indonesia sebagai the next superpower. Mereka bukan PIN yang dulu … ”

Subject 17 terdiam sejenak, memerhatikan wajah Nadia yang tertunduk. “Kurasa itu disebabkan oleh adanya agen asing yang sekarang sekantor dengan teman-temanmu. Mereka yang punya ide untuk melakukan penelitian terhadap saudara-saudaraku, mereka yang punya kepentingan, PIN hanya mengikuti.”

“PIN menuruti kemauan orang-orang asing itu juga karena mereka merasa akan mendapatkan keuntungan pribadi untuk mereka maupun pemerintah! Mirip seperti kasus Freeport, kurasa … ” keluh Nadia. “A-aku … aku hanya ingin keluar dari neraka itu.”

“Jika itu kemauanmu, ya keluarlah.”

“Mereka akan membunuhku, itu masalahnya! A-aku … aku butuh teman yang kuat sepertimu untuk kabur dari PIN.”

Subject 17 tak bergegas merespon. Ia menyandarkan kepalanya perlahan. “Dalam kata lain, kau meminta perlindunganku.”

Nadia mengangguk. Tak sepatah kata pun terucap.

“Aku butuh tahu apakah aku bisa memercayaimu?”

“Bisa! Kau bisa memercayaiku!”

“Apa buktinya?”

“Uhhh … soal itu … ” Nadia kebingungan.

“Kau tidak bisa membuktikan apa pun. Aku masih melihatmu sebagai bagian dari PIN. Kau bisa saja menusukku dari belakang ketika aku lengah, berkirim sandi dengan PIN ketika aku tak melihat, berkhianat saat aku tak ada.”

“Aku takkan melakukan itu! Untuk apa aku melakukan—”

“Kecuali kau bersedia dipenggal jika ketahuan berkhianat. Bagaimana?”

Nadia menelan ludah, seketika terjerat oleh kebisuan. Ia menatapi Subject 17 dengan waswas, jantungnya berdebar seperti kesetanan. “A-aku … ”

“Sederhana kan? Kalau kau takkan berkhianat, mengapa harus takut aku akan memenggal lehermu? Kau ingin ikut denganku, itu syaratnya.”

“A-aku bersedia! A-aku bersedia. A-aku takkan mengkhianatimu, Mbak! Aku akan membantumu melakukan penelitian ilmiah, menangkal kecanggihan teknologi PIN, atau apa pun. Pokoknya aku akan melakukan apa saja untuk keluar dari neraka itu.”

“Hmm, baiklah … ” Subject 17 mengenakan jaketnya kembali. “Tapi jangan anggap aku sudah memercayaimu. Aku hanya akan menganggapmu sebagai orang yang harus kulindungi, untuk sementara waktu.”

Nadia tersenyum lebar. Ia merasa lega Subject 17 mau menerima eksistensinya. “T-terima kasih, Mbak!’

“Panggil aku Felicia, aku bukan mbak-mbak. Sekarang … cepat pergi dari sini dan cari masjid atau mushola yang kosong. Aku mau bersembahyang terlebih dahulu.”

“O-oke, Mbak. Eh, Mbak Felicia.”

Nadia menyalakan mesin mobilnya, lantas melesat pergi dari tempat peristirahatan tersebut.

***

Pegunungan Kendeng, Kabupaten Jombang
08.32

Pagi nan cerah di wilayah pegunungan Kabupaten Jombang. Cericip burung menjadi nyanyian di tengah kesunyian yang menyeruak, menciptakan keramaian yang mendamaikan bagi para penduduk yang tinggal di sekitar sana.

Suara-suara alam juga turut menghidupkan suasana di sebuah rumah yang berdiri tunggal di suatu titik; jauh dari jalan raya, jauh dari jangkauan rumah penduduk lain. Rumah tersebut dulunya merupakan rumah dinas Project SAKTI, tetapi kini telah ditinggalkan oleh pemiliknya dan ditempati sementara oleh Subject 09 dan kawanannya. Kini menjadi tempat bersembunyinya sang buronan.

Seraya menanti kepulangan saudarinya—Subject 17, Subject 09 banyak mengisi waktu luang dengan melakukan aktivitas-aktivitas kekeluargaan bersama Verani dan Patih. Pagi itu, misalnya, ia dan kedua mantan tetangganya berencana akan membuat masakan khas Eropa. Ia sudah berada di dapur, sedang menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak, sementara Verani dan Patih mendapatkan tugas untuk mengecek ketersediaan peralatan memasak.

Bahan-bahan yang dikumpulkan untuk memasak kebanyakan merupakan bahan sintetis yang bisa bertahan belasan hingga puluhan tahun. Subject 09 tak bisa menemukan bahan makanan alami yang masih segar, karena rata-rata telah membusuk akibat terlalu lama ditinggalkan oleh pemiliknya.

“Adam, memangnya tidak apa-apa memakan makanan sintetis seperti itu?” Verani sempat bertanya.

“Tidak apa-apa. Ini mirip seperti ration militer. Memang diciptakan untuk jaminan hari-hari sulit seperti hari-hari pascaperang dan sebagainya,” jawab Subject 09 seraya tersenyum.

“Tidak ada efek jangka panjang jika kita memakannya terus-menerus?”

“Ada, tentu saja. Yang namanya bahan kimia pasti ada efek jangka panjang. Tetapi … daripada tidak ada yang bisa kita makan, lebih baik memakan makanan sintetis ini kan? Lagipula, sesekali kau perlu bersenang-senang di saat sulit seperti ini; mengolah makanan sintetis menjadi sesuatu yang istimewa adalah salah satunya.”

“Hoo, begitu. Apakah aku akan menjadi superkuat seperti dirimu dan Felicia?” tanya Verani menyeringai.

“Tentu … ” ujar Subject 09 spontan. Ia menunda ucapannya seraya membuka bungkusan makanan sintetis di tangannya. “Kau akan lebih kuat mengejan saat buang air besar, misalnya,” lanjutnya bercanda.

“Hahaha, Adam! Jorok ih! Itu berarti aku bakal kena diare!” Verani menepuk pundak Subject 09 begitu keras.

Subject 09 tak merespon lagi. Ia sekadar menyeringai, lalu meminta Verani dan Patih untuk membantunya.

Kegiatan masak-memasak tersebut berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Verani dan Patih tampak begitu bahagia menjalani detik-detik bersama Adam. Momen seperti itu bahkan sering dimanfaatkan oleh Patih untuk bertanya mengenai dunia militer dan spionase.

“Paman … ” seru Patih memanggil. “Apakah semua anggota intelijen itu seperti yang digambarkan oleh film-film Hollywood? Jago berantem dan sebagainya?”

“Tidak,” ujar Subject 09 seraya memotong-motong bahan makanan di hadapannya. “Intelijen itu berbeda dengan polisi atau tentara yang dilatih beladiri. Tugas utama intelijen bukan untuk bertarung melawan orang jahat, tetapi mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang jahat.”

“Wow! Seperti peramal, maksudmu?”

Subject 09 tersenyum lebar. “Semacam itu. Tetapi mereka tidak meramal seperti paranormal. Mereka tidak melakukan hal gaib.”

“Uhhh, jadi bagaimana caranya mereka bisa tahu apa yang dipikirkan oleh orang jahat?”

“Ah, kamu ini, Patih. Begini lho … ” Verani tiba-tiba ikut berkomentar. “Contohnya seperti kamu, kebelet pipis tapi tak menemukan toilet, mukamu pasti jadi panik kan? Nah, intelijen itu bisa tahu kamu kebelet pipis hanya dari melihat muka panikmu itu. Kira-kira begitulah,” jelasnya.

Subject 09 tertawa. “Ibumu benar. Itu adalah salah satu contoh yang mudah untuk dipahami. Intelijen bisa ‘meramal’ kejadian dengan mengumpulkan dan melihat bukti-bukti.”

“Oh, begitu!” seru Patih seraya menepuk telapak tangan kiri dengan sisi tinju kanannya. “Jadi … orang-orang seperti James Bond dan Solid Snake itu tak ada di dunia nyata ya?”

“Ada. Aku tak bilang bahwa orang-orang seperti James Bond itu tak ada. Aku hanya bilang bahwa TIDAK SEMUA anggota intel itu jago berkelahi,” ujar Subject 09. “Yang jago berkelahi itu ada tetapi jumlahnya hanya sedikit jika dibandingkan dengan pegawai intelijen lain yang lebih mengandalkan kepintaran.”

“Oh, jadi di badan intelijen itu ada profesi-profesi yang lain juga ya?” Verani ikut bertanya. Penasaran.

“Tentu saja, Ve. Ada analis, ada humas, ada security, ada ahli medis, ada staf IT, ada petugas kebersihan, dan lain-lain. Badan intelijen itu sama seperti institusi lain, mereka tidak terdiri dari agen-agen seperti James Bond atau Kapten Johan saja.”

“Wah, aku baru tahu lho. Pikiranku selama ini sama seperti Patih, kupikir intelijen itu isinya cuma orang-orang seperti Johan. Hahaha.”

Subject 09 sekadar tersenyum seraya mengumpulkan semua bahan makanan ke dalam sebuah wadah untuk diaduk. Akan tetapi, ada sesuatu yang mengganggunya. Ia menghentikan aktivitasnya selama beberapa saat seraya agak menolehkan kepalanya ke belakang. Keningnya mengernyit, ekspresinya menegang.

Ada sesuatu yang ganjil. Tiba-tiba saja seluruh nyanyian alam terdekat hilang bak ditelan bumi. Tak ada cericip burung, tak ada seruan tonggeret, yang tersisa hanyalah suara gemerisik dedaunan yang intens, seperti baru saja ada sekelompok hewan kabur dari atas pohon.

Di saat yang sama, Verani dan Patih tak memerhatikan diamnya Adam. Mereka juga tak memerhatikan bahwa suasana di sekitar tempat mereka menjadi teramat sepi. Mereka malah asik bercanda dan bertukar kata.

Subject 09 berusaha untuk tak mengindahkan perubahan yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Pagi itu ia sedang tak ingin berkonflik dengan orang lain, ia sedang ingin menikmati detik-detiknya menjadi orang biasa. Ia pun memalingkan pandangannya, berupaya memfokuskan diri ke kegiatan yang sedang ia jalankan.

Hingga menjelang siang hari, tiada bahaya yang menyambangi rumah dinas Project SAKTI tersebut. Semuanya aman. Aktivitas masak-memasak pun berakhir dengan gemilang. Namun, Subject 09 masih merasakan sesuatu yang ganjil di sekitar tempat tinggalnya; seakan ada sesuatu yang menunggunya, menatapinya dari kejauhan.

Subject 09 tak sedikit pun menurunkan kewaspadaannya meskipun bisa tetap terlihat riang dan luwes di hadapan Verani dan Patih. Ia tahu bahaya sedang mengintainya.

***

23.51

Malam telah menampakkan jati dirinya. Verani dan Patih pun tertidur pulas setelah hampir seharian bercengkrama dengan sang mantan tetangga. Mereka banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memasak, bermain, bertukar kata, dan berkelakar. Kini mereka harus melepas lelah.

Di saat yang sama, Subject 09 masih duduk manis di sofa ruang tengah. Ia duduk berselimut kegelapan, enggan untuk menyalakan lampu atau sekadar lilin sebagai penerang. Ekspresinya tampak dingin, sangat berbeda ketika ia bercengkrama dengan Verani dan Patih. Sesuatu tengah mengusik hatinya dan ia tak ingin ada seberkas pun cahaya yang mengetahuinya.

Tak lama kemudian, ia pun bangkit dari sofanya, lantas berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya begitu senyap, ia hampir saja tak mengeluarkan suara sedikit pun. Setibanya di depan pintu ia terdiam. Tangannya berhenti di gagang pintu; tak memutarnya, tak menggenggamnya. Kepalanya lantas menoleh ke belakang, mencoba memerhatikan situasi lebih seksama.

Subject 09 baru saja mendengar suara langkah yang teramat lembut, selembut langkahnya. Tetapi ia tahu itu bukan langkahnya atau langkah kedua mantan tetangganya. Ada seseorang di dalam rumah dan seseorang itu ada di ruangan sebelah.

Subject 09 bergegas mencabut pistol dari balik celananya, lalu berjalan perlahan menuju ruangan sebelah. Ia membidikkan senjatanya, bersiaga jika seketika muncul bahaya. Langkah demi langkah ia ambil, hingga akhirnya ia tiba tepat di mulut pintu ruangan sebelah. Ia buka pintu di hadapannya perlahan-lahan, kemudian mulai mengecek setiap sudut ruangan dengan hati-hati. Ia takkan masuk ke ruangan sebelum bisa memproyeksikan situasi di dalam ruangan.

Tak ada siapa-siapa di dalam ruangan, tampaknya. Subject 09 pun masuk, masih dengan langkahnya yang senyap. Ia memang tak mendapati siapa-siapa, tetapi ia mendapati kaca jendela tidak tertutup rapat. Angin malam merangsek masuk dan meniup gorden cukup kuat. Subject 09 tahu ada yang salah dengan hal tersebut, karena jendela tersebut selalu tertutup rapat dan tak pernah ia buka sebelumnya.

Langkah pun terhenti. Subject 09 menghimpitkan bidikan pistol ke tubuhnya, mengantisipasi kedatangan musuh yang bisa muncul dari mana saja. Ia mengandalkan insting dan indera pendengarannya untuk mendeteksi penyusup. Suasana sontak menegang.

Subject 09 mendelikkan matanya ke belakang. Seseorang sudah berdiri beberapa meter di belakangnya!

Tanpa keragu-raguan, Subject 09 segera menarik vas bunga yang bertengger di atas nakas ke belakang tubuhnya. Vas itu pun meluncur, mengarah ke sosok misterius yang telah berdiri beberapa meter di belakang Subject 09.

PRAAAK!

Sosok misterius tersebut tanggap akan serangan Subject 09, ia segera mengangkat kedua belah tangannya dan memblokir laju vas hingga pecah berkeping-keping.

Subject 09 memang tak berniat melukai lawannya dengan vas beling. Ia sekadar ingin mendistorsikan fokus lawannya untuk sementara waktu. Ia pun bertolak dan mulai membidikkan pistolnya ke arah target.

Tetapi musuh Subject 09 malam itu bukanlah penjahat kelas teri. Sosok misterius berambut seleher tersebut tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Subject 09, lalu menangkap pistol yang berada pada genggaman Subject 09. Ia juga berhasil mencopot slider dan mencabut magasin pistol Subject 09 tanpa kesulitan, sehingga pistol tersebut kehilangan fungsinya sebagai senjata api. Bagian-bagian penting pistol pun terjatuh, berkelotak di atas lantai, lantas si sosok misterius menumbuk tubuh Subject 09 dengan sisi tubuhya.

Subject 09 terentak beberapa langkah ke belakang. Pistolnya jatuh dalam keadaan nista.

Si sosok misterius merangsek menghampiri musuhnya. Ia mendekat dan membombardir serangan ke arah Subject 09. Tinju dan kakinya bermain dengan lincah, beberapa bahkan berhasil masuk ke titik vital. Subject 09 tak punya pilihan lain selain bertahan, paling tidak untuk sementara waktu.

Serangan demi serangan melesat, sampai kemudian Subject 09 mendapatkan celah untuk melawan balik. Ia merunduk, menghindari tinju si penyusup, lalu mendaratkan tinjunya pada rahang si penyusup. Sesaat setelahnya, ia mengayunkan tinju uppercut-nya ke dagu si penyusup. Serangan balik terjadi begitu cepat, sehingga tak sanggup diantisipasi oleh si penyusup

Subject 09 lantas mengayunkan tendangannya ke perut si penyusup. Sayangnya, serangannya kali ini dapat digagalkan. Diblokir. Ia pun bergegas mengganti serangannya dengan sebuah tinju acak. Seribu sial, serangan berikutnya pun dapat digagalkan, ditepis dengan baik.

Si penyusup membalas serangan. Ia menyodokkan pangkal telapak tangannya ke wajah Subject 09, lalu mengentak perut Subject 09 dengan kakinya. Serangannya kena, Subject 09 pun tersentak beberapa langkah ke belakang. Si penyusup lantas mengeluarkan serangan besarnya; ia memutar tubuhnya secepat yang ia bisa dan mengayunkan kakinya ke kepala Subject 09.

Tendangan berputar tersebut berhasil mengenai Subject 09, tapi gagal mengenai target yang dituju. Subject 09 sudah lebih dulu mengangkat kedua belah tangannya untuk memblokir serangan. Serangan si penyusup berhasil digagalkan meskipun Subject 09 juga harus terdorong oleh gaya impulsif yang dihasilkan oleh tendangan lawannya.

Subject 09 tersudut di dekat buffet. Sialnya, ia melihat si penyusup kembali menghampirinya untuk menyerang. Ia lekas-lekas mengambil kursi rotan yang berdiri di sebelahnya. Tanpa keragu-raguan, ia ayunkan kursi kecil tersebut ke arah si penyusup.

KRAAAK!

Kursi rotan itu pun pecah menjadi kepingan sesaat setelah menghantam tubuh si penyusup yang mengeras, seperti latihan prajurit Spetsnaz. Si penyusup agak lengah menerima serangan Subject 09, namun ia sama sekali tak mengalami luka serius.

Subject 09 tak ingin menunggu musuhnya pulih. Ia pun merangsek maju dan mulai membombardir si penyusup dengan berbagai serangan.

Tak gentar, si penyusup pun mencoba mengimbangi keadaan. Seraya bertahan, ia juga beberapa kali meluncurkan serangan kepada Subject 09. Kadang Subject 09 yang mengenainya, kadang si penyusup yang mengenai Subject 09. Wajah kedua petarung itu pun menjadi berhias darah.

Pertukaran serangan yang amat alot tersebut tak membuahkan hasil yang memuaskan. Kedua petarung harus memikirkan serangan yang lebih mematikan.

Subject 09 pun mencoba untuk melumpuhkan lawannya dengan serangan yang lebih kompleks. Ia memblokir tinju si penyusup, lalu memelintir tangan si penyusup secepat yang ia bisa. Hampir tanpa jeda, Subject 09 melanjutkan serangannya dengan menendang paha si penyusup sehingga si penyusup kehilangan pijakannya. Begitu si penyusup lengah dan tak bisa menyerang balik, Subject 09 bergegas menghantam wajah si penyusup dengan lututnya seraya agak melompat.

Serangan masuk dengan gemilang. Si penyusup tersungkur, sementara Subject 09 bersiap melepaskan serangan susulan. Subject 09 mengangkat kakinya untuk menginjak leher si penyusup yang hanya berjarak setengah langkah darinya.

BUM!

Sayangnya, serangan Subject 09 tak berhasil mengenai target. Suara berdebum yang keras itu tak berarti apa-apa, sekadar mengentak bumi. Si penyusup telah berguling menjauh.

Serangan balasan lagi. Si penyusup buru-buru bangkit dari posisinya dan mengambil apa pun yang berada di dekatnya. Ia lantas melemparkan semua objek yang berhasil ia genggam ke arah Subject 09. Buku, hiasan kayu, asbak, hingga alat tulis ia lempar untuk mengacaukan konsentrasi lawannya.

Reaksi terbaik Subject 09 saat itu hanya mengangkat kedua belah tangannya atau sesekali menghindari lontaran dari si penyusup. Fokusnya memang sedikit terganggu. Di saat itulah si penyusup kembali merangsek ke arahnya, dengan posisi tubuh yang lebih rendah.

Subject 09 tak ingin membiarkan si penyusup melumpuhkannya. Ia pun memuntahkan dua tinju cepat ke wajah si penyusup. Sialnya, ia kalah cepat. Si penyusup mampu menepis dan menghindari serangan dengan lincah.

Lalu terjadilah sesuatu yang tak menguntungkan bagi Subject 09. Si penyusup mengunci lengan Subject 09, lalu menggelantungkan tubuhnya pada lengan Subject 09. Beban tubuh si penyusup tentu saja membuat tubuh Subject 09 tersentak ke permukaan bumi, seakan gravitasi menjadi lebih kuat.

Subject 09 tersungkur. Lengannya terkunci, lehernya terkunci, tak banyak yang bisa ia lakukan untuk melepaskan diri. Si penyusup sendiri kini berbaring melintang di atas tubuh Subject 09 seraya menghimpitkan tangan Subject 09 di antara kedua kakinya; ia sudah hampir mengaplikasikan satu sentakan yang dapat membuat lengan Subject 09 mengalami dislokasi atau bahkan patah tulang [1].

NB: [1] Teknik ini biasa disebut “armbar” dalam beladiri yang banyak mengandalkan ilmu grappling (bergulat).

Namun, setelah beberapa detik melakukan kuncian, si penyusup tak juga dapat menyentak lengan Subject 09. Perlawanan Subject 09 terlalu kuat.

Di saat yang sama, Subject 09 bersikeras untuk mencari jalan keluar. Matanya melirik ke sana-kemari untuk mencari objek yang bisa ia gunakan untuk keluar dari kuncian si penyusup. Ia mendapatkannya, ada botol kaca tepat beberapa sentimeter di sampingnya. Tetapi ia tak bisa meraihnya karena tubuhnya pun terkunci.

Subject 09 segera mendekap paha yang melintang di atas lehernya, kemudian menggigit paha si penyusup keras-keras laksana hewan kelaparan. Gigitan tersebut sontak membuat si penyusup menjerit singkat dan merenggangkan kunciannya. Subject 09 akhirnya dapat bergerak lebih bebas, ia langsung mengambil botol kaca di sampingnya.

PRAAAK!

Sepersekian detik kemudian, Subject 09 menghantamkan botol yang ia genggam ke kepala si penyusup hingga pecah berkeping-keping. Si penyusup kehilangan ketangkasannya, Subject 09 pun segera memanfaatkan situasi dengan meninju wajah si penyusup berulang kali.

Si penyusup tak ingin menjadi bulan-bulanan Subject 09. Ia pun mengentakkan kakinya ke wajah Subject 09, lalu menendang tubuh Subject 09 agar menjauh dari jangkauannya. Ia perlu memulihkan keadaannya terlebih dahulu sebelum kembali melakukan baku hantam.

Subject 09 berguling menjauh, begitu pun si penyusup. Pertarungan kembali dari nol, kembali pada posisi netral.

Atau mungkin tidak.

Subject 09 tak ingin menunggu lawannya pulih. Ia merangsek maju, menghampiri si penyusup secepat yang ia bisa. Jarak pun terpangkas, ia lantas mengentakkan kakinya sekuat mungkin ke tubuh si penyusup. Tendangannya masuk dengan gemilang, tak sempat diantisipasi, tubuh si penyusup pun terpelanting dari tempatnya berpijak.

BRAAAK!

Si penyusup terpental hingga menumbuk buffet di sudut ruangan. Tumbukan tersebut sontak menyeruakkan keriuhan. Objek-objek yang bertengger di atas buffet pun terjatuh berserakan di atas lantai, sementara buffet-nya remuk dihantam tubuh seberat puluhan kilogram. Si penyusup kehilangan daya dan upayanya, ia tersungkur melutut di hadapan lawannya, sekadar sanggup merangkak untuk berpindah tempat.

Tak lama berselang, Subject 09 tiba-tiba saja sudah berada di hadapan si penyusup. Ia menghimpit si penyusup seraya memasang kuda-kuda untuk meluncurkan pukulan penutupan. Namun, ia tiba-tiba saja terhenti.

“Aku menyerah! Aku menyerah!” seru si penyusup bersamaan dengan mendekatnya Subject 09. “Aku hanya rindu rasanya bertukar pukulan dengan saudaraku, Nine. Hehehe,” ujar si penyusup dengan suara femininnya. Ia mengenal Subject 09.

“Oh ya? Ujar seseorang yang sedang mengarahkan pisau tembak tepat ke jantungku,” ujar Subject 09.

“Oh, ini?” si penyusup menampakkan pisau tembak yang bersembunyi di balik tangannya. “Ahaha, ini hanya alat untuk membela diri. Hanya berjaga-jaga jika kau benar-benar berniat membunuhku.

“Ah, tetapi, tetapi … aku tidak berniat untuk menggunakannya, Nine. Aku benar-benar hanya ingin mengukur kemampuanku. Aku tak pernah lebih baik dalam pertarungan jarak dekat, ternyata. Hehehe,” lanjut si penyusup seraya menjatuhkan pisau tembaknya.

BRAK!

Belum usai Subject 09 menginterogasi si penyusup, seseorang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam ruangan dengan panik. Verani. Ia terbangun karena mendengar keributan dari kamar tidurnya.

“Adam! Apa yang terjadi!? Kenapa ribut sekali!?” seru Verani terheran. Ia lantas menatapi seorang wanita melutut di hadapan pujaan hatinya dengan wajah penuh lebam dan darah. “Astaga! Kau berkelahi dengan perempuan lagi! Kenapa kau selalu berkelahi dengan perempuan berwajah cantik!?”

“Ia bukan perempuan, Ve … ” jawab Adam santai. “Ia adalah laki-laki berperawakan perempuan. Subject 03, Shemale.”

“HEEE!?”

“Halooo … ” si penyusup yang ternyata merupakan saudara Subject 09 itu pun melambaikan tangannya dengan wajah yang berseri-seri.

***

00.23

Perkelahian sengit telah berlalu, luka telah diobati, damai telah diraih. Kini Subject 09, Subject 03, dan Verani duduk di belakang satu meja yang sama untuk sekadar bertukar kata.

Subject 09 sempat menjelaskan secara singkat mengapa ia begitu keras menyerang Subject 03; ia sempat berpikir bahwa Subject 03 adalah hasil eksperimen sukses PIN lainnya, seperti Tenma atau Jurig. Tetapi ia segera menahan diri sesaat setelah Subject 03 tak menunjukkan tanda-tanda lupa ingatan.

Subject 03 agak syok mendengar penjelasan saudaranya tentang tujuan penangkapan yang dilakukan oleh Operasi Antisakti lima tahun silam, namun kini ia sudah lebih tenang. Malah Verani yang agak penasaran dengannya.

“Jadi, kau benar-benar BUKAN wanita!? Seriusan!?” Verani terheran-heran menatapi sesosok Subject 03 di hadapannya. Pria itu terlalu cantik jika dikatakan sebagai laki-laki, kecantikannya bahkan sanggup membuat Verani syok.

“Oh, ya, tentu saja. Hehehe,” jawab Subject 03 santai.

“Tetapi wajahmu, suaramu … kau pasti melakukan operasi plastik kan!?”

“Aku sudah bilang … ini semua natural. Aku memang terlahir begini.”

“Aaah! Aku tak percaya! Payudaramu itu apa!? Masa laki-laki punya payudara!?”

“Ini hanya bra yang kuselipkan di dadaku. Hehehe. Aku tidak punya payudara.”

“Ve, dia memang begitu sejak kecil,” Subject 09 menimpali pernyataan saudaranya. “Ia memang sudah ‘cantik’ dari lahir. Suaranya pun sudah feminin dari lahir. Tetapi aku bisa memastikan bahwa alat kelaminnya tidak sama denganmu. Ia laki-laki tulen,” lanjutnya.

Verani terdiam sejenak menatapi pujaan hatinya. “A-aku masih sulit untuk memercayai fenomena semacam ini di depan mataku … ”

“Kau akan terbiasa, Nyonya Verani. Hehehe,” ujar Subject 03.

“Sekadar informasi: sewaktu di Project SAKTI, ia adalah anggota yang paling ahli menggali informasi secara tatap muka, karena ia selalu berhasil menggunakan ‘kecantikannya’ untuk merayu lawan bicara,” pungkas Subject 09 menambahkan.

” … ” Verani kehilangan daya dan upayanya untuk merespon percakapan. Ia masih syok, merasa tersaingi oleh kecantikan Subject 03.

“Ngomong-ngomong, Three … ” Subject 09 menepuk lengan saudaranya. “Aku senang bisa bertemu kembali denganmu. Ternyata kau adalah anggota Project SAKTI ketiga yang lolos dari tangkapan pemerintah. Bukan maksudku memercayaimu, tetapi aku senang bisa melihat saudara seperjuanganku yang lain.”

“Benarkah kau senang melihatku? Beberapa saat lalu kau tampak begitu bersemangat akan membunuhku, hihihi,” ujar Subject 03. “By the way, aku punya nama tetap sekarang, Nine. Panggil aku Ara.”

Ara. Rupanya Subject 03 adalah sosok yang sama dengan sosok yang menghajar Letnan Arifin—mantan ajudan mendiang Menhan—hingga masuk rumah sakit. Ia mendatangi Subject 09 bukan untuk tujuan yang buruk, hanya penasaran.

“Ara, Shemale, Three … kurasa itu akan sama saja,” ujar Subject 09.

“Hahaha. Sulit mengubah kebiasaan ya?”

“Begitulah,” Subject 09 merespon singkat seraya menyeruput tehnya. “Jadi … apa tujuan sebenarnya kau bertamu kemari, Three?”

“Bertamu?” Verani mengenyitkan kening. “Jadi begitu ya cara kalian bertamu terhadap satu sama lain? Saling tinju sampai babak belur?”

Subject 09 melirik ke arah Verani, lalu tersenyum begitu lebar hingga tampak gigi-giginya. “Tidak selalu, tetapi itu pernah beberapa kali dilakukan jika salah satu dari kami bertamu dengan cara yang kurang ramah.”

“W-wow … benar-benar hubungan persaudaraan yang sulit dipahami.”

Subject 09 dan Subject 03 pun tertawa. Mereka lantas menyeruput teh sebelum kembali ke pembicaraan utama.

“Tujuanku kemari sebenarnya sederhana, Nine … ” Subject 03 mulai menjawab pertanyaan saudaranya. “Aku penasaran dengan Kampung Rimbun. Kau membunuh delapan pejabat pemerintah karena Kampung Rimbun kan? Apa yang membuat Kampung Rimbun begitu spesial sehingga kau rela membuat dirimu dicari-cari oleh pemerintah seperti saat ini?”

Subject 09 menghela napas panjang sebelum mulai menjawab pertanyaan Subject 03.

“Seventeen mempertanyakan hal yang sama saat ia bertemu kembali denganku,” ujar Subject 09. “Sebenarnya Kampung Rimbun itu masalah personal, Three. Aku punya keterikatan dengan tempat itu. Aku juga sempat punya keluarga angkat di sana. Ketika aku telah menemukan makna hidup yang sebenarnya, tiba-tiba saja semuanya pupus oleh pembantaian yang dilakukan oleh pemerintah.”

“Oh … ” Subject 03 menyekat mulut dengan tangannya. “Aku turut menyesal, Nine. Jadi kau membunuh delapan pejabat karena dendam. Adakah sesuatu yang kau temukan dari pembantaian tersebut? Motifnya, misalnya?”

“Sebenarnya aku hanya membunuh tujuh. Satu lagi dibunuh oleh pemerintah agar aku tak bisa mengorek rahasia darinya. Dan soal pertanyaanmu … aku belum mendapatkan jawaban yang pasti. Tetapi, berdasarkan hasil interogasiku terhadap Kolonel Hanif, ada sesuatu yang besar bermain di balik pembantaian Kampung Rimbun.”

“Hanif, Hanif … ” Ara mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuknya. “Ia adalah kepala Operasi Antisakti kan?”

“Ya. Aku menemuinya beberapa waktu lalu di Maroko.”

“Kau membunuhnya?”

“Seventeen yang membunuhnya.”

“Oh … berarti Operasi Antisakti sudah resmi mati bersamanya ya.”

“Tidak juga. Salah seorang agen PIN yang kuinterogasi mengatakan bahwa ada Operasi Antisakti versi terbaru yang ditugaskan untuk menangkapku dan sisa-sisa Project SAKTI.”

“Wow, keras kepala sekali ya mereka,” tukas Subject 03. “Oke, oke. Aku sudah mulai memahami situasinya sekarang. Lantas, kembali ke motif pembantaian Kampung Rimbun, kau belum tahu pasti mengapa pemerintah melakukannya?”

“Seperti kataku tadi, Three: Hanif memberikan isyarat bahwa ada pemain besar di balik pembantaian dan mereka bukanlah pemerintah RI. Pembantaian itu, asumsiku, hanyalah pintu untuk rencana yang lebih busuk lagi.”

“Jadi, siapa yang tahu soal itu?”

“Mayjen Riyadi. Tetapi takkan mudah untuk mendekatinya. Ia adalah salah satu orang yang paling dilindungi saat ini. Kantornya juga.”

“Oh iya ya. Riyadi baru saja diangkat menjadi kepala PIN yang baru ya?”

“Yep.”

“Hmm, kau akan membutuhkan bantuan yang lebih serius, Nine. Riyadi bukanlah lawan yang enteng, apalagi dengan posisinya yang sekarang. Ia punya pasukan sedangkan kau hanya berdua dengan Seventeen. Aku tidak melihat kau akan mampu mendekatinya, tidak dengan kondisi seperti saat ini.”

“Aku sadar akan hal itu, Three … ” Subject 09 menganggukkan kepalanya seraya tertunduk. “Karena itulah aku dan Seventeen sedang memikirkan siapa yang bisa menjadi sekutu kami berikutnya.”

“Hmm … ”

“Kau berencana akan menyerang kepala PIN yang baru, Adam?” Verani ikut bertanya.

“Begitulah, Ve. Kalau ia tidak diserang, kita yang diserang. Dan itu tidak membuatku merasa lebih baik. Lagipula, dia yang tahu kenapa penduduk Kampung Rimbun dibantai.”

“Tidak ada orang lain yang tahu tentang pembantaian itu selain kepala PIN?”

“Mungkin ada. Tetapi untuk saat ini, Mayjen Riyadi adalah satu-satunya kunci yang kuketahui punya wawasan tentang pembantaian Kampung Rimbun.”

“Mengapa kau tak lari saja, Nine? Keluar negeri misalnya?” sela Subject 03. “Maksudku … kau sudah membalas dendam atas kematian keluargamu di Kampung Rimbun. Seharusnya tidak ada alasan lagi bagimu untuk menggali sampai sedalam itu,” Subject 03 mengangkat bahunya.

“Tidak. Sedari awal tujuanku memang dua: pertama, membalas dendam. Kedua, mengetahui motif pembantaian. Aku takkan mati dengan tenang jika aku tak tahu mengapa mereka menyapu bersih Kampung Rimbun. Bagaimana jika ternyata pembantaian itu adalah awal dari bencana yang lebih besar? Orang yang mati bisa lebih banyak. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi.”

Subject 03 tersenyum. “Sulit meninggalkan doktrin lama ya? Menyelamatkan nyawa manusia dan sebagainya,” ujarnya. “Mungkin karena itu juga Nyonya Verani tampak begitu terkagum padamu.”

“E-eh!? Eh!? K-kok aku jadi dibawa-bawa?” Verani salah tingkah. “A-aku … aku tidak begitu kok. M-maksudku, ya … ah! Tak tahulah, aku jadi bingung!”

Subject 09 menatapi Verani sejenak, lalu mengembalikan fokusnya pada Subject 03. “Three, lari tidak akan menyelesaikan masalah. Pemerintah tetap akan mengejarku sampai ke ujung dunia. Aku sudah terlanjur ‘basah’, jadi kenapa aku harus menahan diri untuk menginvestigasi kasus ini?”

“Hehehe, aku tahu, Nine … ” Subject 03 menepuk pundak saudaranya. “Aku hanya mengetes pendirianmu. Kalau aku ada di posisimu, aku mungkin akan melakukan hal yang sama denganmu.”

Subject 09 tersenyum tipis. “Three, bagaimana jika kau bergabung pada operasi independen ini?”

“Hmm … ” Subject 03 mengusap-usap dagunya. Ia juga menggembungkan kedua pipinya. “Sebenarnya kematian Kolonel Hanif sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk pensiun dari dunia hankam. Tetapi … aku mungkin akan mati kebosanan. Jadi, kurasa ajakanmu itu cukup menarik. Hanya saja … ”

“Hanya saja?”

“Hanya saja … apa yang membuatmu memercayaiku? Ingatlah pesan penting saat kita mengikuti pendidikan dasar: trust no one.

“Aku sudah bilang tadi: aku tidak bermaksud memercayaimu. Aku memilihmu karena kau punya kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan pernah seperjuangan denganku.”

“Hubungan sebatas pengalaman ya? Hihihi.”

“Ya. Seperti hubunganku dengan Seventeen saat ini.”

“Tawaran yang menarik, Nine. Sangat menarik. Tetapi aku saja takkan cukup untuk mengalahkan Riyadi dan kekuatan yang ia pegang saat ini, belum termasuk dengan loyalis-loyalisnya.”

“Aku tahu itu, Three. Tetapi keberadaanmu akan mempermudah pekerjaanku untuk melindungi Verani dan putra semata wayangnya. Aku punya tanggungjawab khusus terhadap mereka berdua.”

“Ohohoho … kalian sudah bertunangan ya?” goda Subject 03 seraya menunjuk Verani dan Subject 09.

“A-AAAK! B-BELUUUM!” Verani merespon spontan. Sangat salah tingkah.

“Tetapi AKAN bertunangan kan? Hihihi.”

“T-t-tidak begitu juga!”

Selagi Verani dan Subject 03 bertukar kata dan canda, Subject 09 malah mengambil ponsel dari saku celananya, seakan tak peduli pada hipotesis bernada gosip yang dilontarkan oleh saudara cantiknya. Ia membuka pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Subject 17.

Subject 09 menatapi layar ponselnya sejenak, kemudian kembali memasukkan ponselnya ke dalam celana. “Felicia sudah tiba di Jombang. Kita harus segera bergerak sekarang, Verani.”

Verani menoleh ke arah Subject 09, menghentikan percakapannya dengan Ara. “O-oh … baiklah. Ia baik-baik saja kan?”

“Felicia? Siapa pula itu?” bisik Subject 03.

“Kalau ia sudah mengirim pesan berarti ia baik-baik saja,” Subject 09 hanya menjawab pertanyaan Verani.

“Kalian mau ke mana? Bagaimana denganku?” sela Subject 03 melantangkan suaranya.

“Kita akan pindah tempat untuk sementara waktu. Seventeen membawa ilmuwan PIN untuk mendeteksi apakah Verani dan Patih dipasang nanochip.”

“Hooo … kau tidak bisa memercayai ilmuwan itu ya? Takut ia membocorkan tempat persembunyian ini kepada pemerintah?”

“Rumah dinas ini adalah jaminan jika kita kehabisan safehouse. Aku tak bisa membiarkan rumah supertersembunyi ini diacak-acak oleh pemerintah,” Subject 09 bangkit seraya mengenakan jaketnya.

“Tetapi kalau Verani dan anaknya sudah dipasang nanochip, semestinya tanpa harus ada si ilmuwan pun rumah ini sudah ditandai, bukan begitu?”

“Sejauh pengamatanku, tidak ada tim surveillance atau drone atau semacamnya yang sedang mengawasi rumah ini. Lagipula, aku bukan mengkhawatirkan lokasi ini ditandai pemerintah, tetapi aku khawatir si ilmuwan bisa menghapal setiap detil menuju ke rumah ini. Kau tahu kenapa rumah ini dibangun di sini kan?”

“Hmm, begitu. Aku mengerti sekarang. Kau tak ingin nilai-nilai strategis rumah ini dibeberkan kepada pemerintah.”

“Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Kau ikut dengan kami. Kita bergerak sekarang.”

“Siap, bos! Hehehe,” Subject 03 bangkit dari tempat duduknya seraya menghormat. “Ngomong-ngomong, Felicia siapa sih? Aku kok penasaran sekali ya?”

***

Hotel Gelatik, Kota Jombang
01.21

Pertemuan dilakukan di sebuah hotel kecil di tepian kota, tepatnya di perbatasan antara kota dan kabupaten Jombang. Subject 09, Subject 03, Verani, dan Patih telah menunggu di sebuah kamar di lantai dua. Mereka menunggu kedatangan Subject 17 yang kabarnya telah berada beberapa blok dari hotel.

Untuk menghindari kecurigaan dari petugas hotel, Subject 09 mendandani dirinya dengan kumis dan jambang palsu, serta dengan mengenakan kacamata berukuran besar. Sejauh itu, tak ada orang asing yang berhasil mengenalinya, ia memang tampak berbeda, tak seperti yang diiilustrasikan di beberapa media besar. Lagipula, hotel murah seperti itu memang tak terlalu memedulikan ciri-ciri fisik para pengunjungnya.

Di halaman parkir, muncul dua orang wanita muda sedang berjalan ke arah pintu masuk hotel. Mereka adalah tamu yang dinantikan oleh Subject 09, yakni Subject 17 dan Nadia Fandriani. Keduanya masuk tanpa gangguan, tak dicurigai atau dianggap aneh, malah dapat langsung melenggang ke kamar di mana Subject 09 dan kawanannya berada setelah bertanya sedikit ke petugas resepsionis yang tampak malas.

Subject 17 dan Nadia naik ke lantai dua dengan langkah yang agak tergesa, hingga akhirnya tiba di depan kamar yang dihuni oleh Subject 09. Tanpa keragu-raguan, Subject 17 segera mengetuk pintu dua kali, menjedanya sebentar, lalu mengetuk sekali lagi.

Pintu kamar pun terbuka. Subject 17 dan Nadia masuk ke dalam kamar tanpa mengucap sepatah kata. Akan tetapi, Subject 17 terperanjat melihat sosok baru di hadapannya. Sosok baru itu tengah melambai manis ke arahnya seraya tersenyum. Subject 03.

Subject 17 bergegas mencabut pistol dari balik celananya dan membidikkannya ke arah Subject 03.

Melihat keagresifan saudarinya, Subject 09 pun bertindak sebelum terjadi kekacauan yang tak diperlukan; ia menangkap tangan dan laras pistol Subject 17, lantas mencabut slider dan magasin pistol Subject 17 dengan cepat. Subject 09 juga mengentak tubuh Subject 17 dengan sisi badannya, pistol yang berada pada genggaman Subject 17 pun terlepas. Sebuah aksi pelucutan yang sama persis terjadi di rumah dinas Project SAKTI beberapa jam sebelumnya.

“Bajingan … ” kutuk Subject 17 geram. “Mengapa Shemale ada di sini!? Mengapa kau melindunginya, Nine!?”

“Seventeen, kendalikan dirimu. Ia bukan musuh—” Subject 09 tak sempat mengusaikan ucapannya.

“Bukan musuh!? Kau sudah lupa dengan hasil interogasi kita di Maroko!?”

“Dia bukan bagian dari eksperimen itu, Seventeen. Tenanglah.”

“Bagaimana kau tahu!? Bagaimana kau tahu, Nine!?” Subject 17 menghampiri saudaranya dan menggenggam kerah baju Subject 09.

Subject 09 terdiam sejenak. “Dia mengingat kita, mengingat nama kita, mengingat semua rahasia kecil tentang Project SAKTI. Dia tidak dicuci otak, Seventeen. Dia melarikan diri … seperti kita.”

Subject 17 terdiam, menahan ekspresi gusarnya selama beberapa saat. Ia lantas menatapi Subject 03 yang sedang tersenyum menggoda.

“Hai, Ninja … ” Subject 03 melambaikan tangannya. “Nama julukanmu norak sekali sih? Hihihi.”

“Lihat dirimu sendiri! Namamu juga norak, bencong!” Subject 17 melampiaskan kekesalannya pada Subject 03.

“Hei, hei. Akan kubiarkan kalian reuni, tetapi aku membutuhkan berita baik terlebih dahulu darimu, Seventeen,” sela Subject 09.

Subject 17 menghela napas panjang, kemudian menatapi Nadia di belakangnya. “Baiklah. Ini orang PIN yang kubawa. Nadia Fandriani, namanya.”

“Oke, Nadia. Apa yang kau punya? Kau bisa mendeteksi nanochip di dalam tubuh seseorang?” Subject 09 mencanangkan tatapannya ke arah Nadia.

“E-eh … a-aku … ” Nadia terlalu gugup. Lidahnya kelu, otaknya seakan membeku.

“Ia tidak memiliki detektornya, Nine. PIN tidak menciptakan alat seperti itu, lebih tepatnya,” Subject 17 mewakili Nadia untuk menjawab pertanyaan Subject 09.

“Hmm, lantas bagaimana kau tahu Verani atau Patih telah dipasang nanochip?”

“Kau tidak bisa, sayangnya … ” Subject 17 melirik ke arah Verani dan Patih. “Tetapi Nadia membawa penetralisirnya. Nanochip bisa dimatikan dengan semacam obat khusus.”

“Menetralisirnya? Bahkan ketika kita tak tahu ada atau tidaknya nanochip di dalam tubuh Verani dan Patih?”

“Ini adalah peluang terbaik kita, Nine. Ambil atau tinggalkan.”

Subject 09 bercekak pinggang, berpikir sejenak, lantas mendongakkan kepalanya kepada Nadia. “Oke, Nadia. Kemarilah.”

“E-eh … i-iya … ” Nadia berjalan menghampiri Subject 09. Langkahnya meragu, lututnya gemetar. Sesaat itu ia tersadar bahwa ia sedang berhadapan dengan buronan nomor satu negara. “K-k-kau adalah Adam, b-buronan pemerintah kan?”

“Felicia tidak memberitahukan situasinya kepadamu? Tidak memberitahumu tentang siapa yang akan kau temui?”

“M-Mbak Felicia tidak—”

“Aku tidak memberitahunya, Nine. Kau tidak menyuruhku mengatakan tentang dirimu kepadanya,” Subject 17 mengangkat kedua bahunya.

“Hmm. Kita akan membicarakan itu nanti. Yang terpenting sekarang adalah aku membutuhkan bantuanmu, Nadia, untuk menetralisir nanochip yang KEMUNGKINAN ada di dalam tubuh kedua kerabatku di sini,” Subject 09 menunjuk Verani dan Patih.

“O-oh, s-soal itu … ” Nadia merogoh sakunya. “K-kau bisa menggunakan obat ini,” ia menunjukkan botol penetralisirnya pada Subject 09.

Subject 09 mengambil botol yang ditunjukkan kepadanya, menatapinya sejenak, lalu mengembalikannya kepada Nadia. “Ini seperti obat batuk. Apakah kau hanya perlu meminumnya seperti minum obat pada umumnya?”

“I-iya … dosisnya satu sendok makan.”

“Baiklah, Nadia. Aku ingin kau memberikannya kepada wanita dan anak kecil di sana. Aku akan mengawasimu.”

“I-iya, Pak … ” Nadia melangkahkan kakinya ke arah Verani dan Patih.

Begitu tiba di hadapan Verani dan Patih, Nadia segera memberikan instruksi pengobatan kepada kedua mantan tetangga Subject 09 tersebut. Tidak terlalu sulit, memang. Verani bisa meminum obat penetralisir micro-transmitter tersebut tanpa bantuan Nadia, lalu menyuapi putra semata wayangnya. Nadia sekadar menatapi dua orang di hadapannya dengan gugup.

Sementara itu, Subject 17 dan Subject 03 tampak sedang bercengkrama di sudut ruangan. Subject 17 tak terlihat begitu senang dengan kehadiran saudara berparas cantiknya, ia terus-menerus mengomel. “Menjauhlah dariku, bencong alami! Mengapa harus kau yang lolos dari tangkapan pemerintah!?” tukas Subject 17.

“Jangan jutek begitu donk. Aku sudah punya nama lho, Seventeen. Namaku sekarang adalah Ara,” goda Subject 03.

“Aku tidak peduli!”

“Hei, Three. Jangan ganggu Seventeen terus-menerus. Ia baru saja pulang, berikan ia kesempatan untuk beristirahat,” Subject 09 menengahi perkelahian kedua saudaranya.

“Adam, apakah keduanya akan baik-baik saja?” Verani merasa agak waswas dengan hubungan Subject 03 dan Subject 17 yang tak akur.

Subject 09 menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa kecil. “Sewaktu kecil, Ara memang sering menjahili Felicia. Mereka memang terlihat tak akur, tetapi sebenarnya mereka sangat dekat. Kadang Ara melindungi Felicia, kadang sebaliknya. Mereka seperti kucing dan anjing di luar konteks operasi, tetapi jika beroperasi bersama mereka sangat cocok dan berbahaya.”

“Oh … rasanya aku bisa memahami hubungan seperti itu.”

“Bibi Felicia pasti keren sekali ya kalo sedang beroperasi dengan Bibi Ara!” seru Patih menimpali.

“He! Ara itu paman, bukan bibi!”

“Heeee!? Dia bencong!? Kok cantik sekali!?”

Verani tak menjawab rentetan pertanyaan putra semata wayangnya. Ia sekadar menepuk kening seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sendiri masih tak percaya bahwa Subject 03 adalah laki-laki.

“Ngomong-ngomong, Nadia, butuh berapa lama obat itu bekerja? Apakah nanochip yang berada di dalam tubuh Verani dan Patih akan langsung mati?” Subject 09 menoleh menatapi Nadia yang terduduk di samping Verani.

“U-uh … s-soal itu … o-obatnya butuh waktu dua belas jam untuk mematikan micro-transmitter secara total,” ujar Nadia gugup.

“Dua belas jam!?” Subject 09 mengernyit heran. Ia pun bercekak pinggang seraya menghela napas panjang. “Apa yang terjadi sebelum dua belas jam?”

“S-sinyal dari micro-transmitter akan terganggu, akan terjadi semacam lag atau keterlambatan pada alat penangkap sinyal. A-aku sudah menjelaskan tentang itu ke Mbak Felicia tadi.”

“Sialan … kupikir akan langsung mati … ” Subject 09 menegadahkan kepalanya. “Berarti ada kemungkinan orang-orang PIN sedang panik dan mencoba menerka-nerka apa yang terjadi pada alat penangkap sinyal mereka saat ini.”

“Nine, kurasa kita harus pergi dari sini sebelum Riyadi atau siapa pun di PIN menyadari bahwa kita baru saja mencoba mematikan sinyal dari micro-transmitter. Mereka akan mengunci kota ini jika mereka benar-benar sedang memonitor kita melalui pemancar-pemancar terkutuk tersebut,” ujar Subject 17 masuk ke dalam percakapan

“Selain itu … ” Subject 17 melanjutkan ucapannya. “Aku juga baru saja mengacau di laboratorium rahasia PIN. Aku cukup yakin mereka akan datang kemari dan mencarimu, Nine.”

“Kedengarannya tidak baik,” ujar Subject 03 berseloroh. “Kau mengacaukan sinyal nanochip yang kemungkinan sedang diamati oleh orang-orang PIN, memporak-porandakan laboratorium PIN, dan … menculik salah satu ilmuwan PIN. Fantastis. Aku takkan terkejut jika tiba-tiba muncul tank dari seberang jalan dan meledakkan tembok ini sebentar lagi,” Subject 03 tersenyum sinis.

“Diamlah, bencong!”

“Kurasa kita memang harus pergi dari sini secepat yang kita bisa,” ujar Subject 09.

“Aku punya pertanyaan, Nine … ” Subject 03 mengangkat tangannya. “Kau berencana membawa cewek PIN itu ikut dengan kita? Tugasnya sudah selesai kan?” ia menunjuk Nadia.

“E-eh … a-aku … ” Nadia gelagapan. Waswas. Takut dibuang begitu saja.

“Dia adalah tanggung jawabku, Shemale. Dia tak punya pilihan lain selain ikut dengan kita saat ini. Kalau ia kembali ke PIN … setelah apa yang terjadi di laboratorium malam ini … matilah dia,” papar Subject 17.

Subject 09 menoleh ke belakang, menatapi Nadia, Verani, dan Patih. “Baiklah, kita pergi dari sini sekarang. Nadia ikut dengan kita. Kurasa kita bisa sedikit memanfaatkan pengetahuannya tentang PIN.”

Nadia menatapi Subject 09 begitu dalam. Waswas. Ia tak tahu bahwa ia harus bekerjasama dengan buronan nomor satu Republik Indonesia, Felicia tak memberitahunya. Akan tetapi, ia tak punya pilihan lain. Saat ini, berlindung di bawah ketiak seorang buronan terasa lebih baik daripada pulang ke pangkuan PIN.

***

Perumahan Grand Anggrek, Jakarta
01.54

Malam itu, Mayjen Riyadi memutuskan untuk pulang dan bercengkrama dengan keluarganya. Ia memang sudah beberapa hari tak pulang ke rumah akibat banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan di markas besar PIN. Kini, ia tengah tertidur di kamarnya, ditemani oleh sang istri. Meski demikian, sebagai jebolan jenderal baret merah, ia siap jika harus dipanggil bertugas kapan pun negara membutuhkannya.

Dan negara benar-benar membutuhkannya, bahkan ketika malam telah menyibakkan sisi tergelapnya. Ponselnya tiba-tiba saja berdering. Sang jenderal pun seketika terjaga, meninggalkan glamor alam mimpi, dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas.

“Halo?” Riyadi menjawab panggilan seraya memijit kedua matanya.

Mayjen Riyadi?” ujar seseorang di balik telepon.

“Ya. Siapa ini?”

Ini Jonah, Pak. Saya yang bekerja di markas besar PIN. Kita ada situasi yang kurang menyenangkan!

“Oh, Jonah. Tenanglah sedikit. Kau terdengar panik. Apa yang terjadi?”

Anu, Pak … laboratorium rahasia PIN baru saja diporak-porandakan seseorang. Kacau sekali keadaannya.

Belum sempat Riyadi merespon, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar Riyadi. Istri Riyadi sampai terbangun akibat suara ketukan tersebut. “Jenderal, ini saya, Darius. Kita ada situasi, tampaknya,” rupanya ajudan Riyadi.

“Hmm, Jonah. Tunggu sebentar. Ajudanku memanggil,” Riyadi bangkit dari tempat tidurnya.

Baik, Pak.

Riyadi berjalan menuju pintu kamarnya, lantas membukakan pintu untuk ajudannya. “Letnan, apa yang kau dapatkan?”

“Maaf mengganggu tidur Anda, Jenderal. Tadi saya dengar Anda mengangkat telepon, jadi—”

“Langsung saja ke intinya, Letnan.”

“Uhm, begini, Jenderal … sinyal yang biasa berkedip pada tablet Anda menunjukkan keanehan,” Darius menunjukkan tablet di tangannya. “Bukankah dot berkedip ini adalah posisi Adam?”

“Posisi Bu Verani, lebih tepatnya. Tetapi semestinya Adam takkan jauh dari sana. Jadi, apa yang aneh, Letnan?”

“Anu, Pak … dotnya kadang muncul, kadang tidak. Aku khawatir Adam telah melakukan sesuatu pada alat pemancarnya.”

Riyadi menyipitkan kedua matanya. Curiga. “Oke. Tunggu sebentar, Letnan.”

“Jonah, kau masih di sana?” tanya Riyadi berbicara melalui telepon genggamnya.

Ya, Pak.

“Kau sudah memeriksa apa saja yang diambil dari laboratorium rahasia?”

Kami masih membutuhkan waktu untuk menginvestigasi, Pak. Tetapi, sejauh ini kami tak menemukan apa pun yang hilang. Terlalu kacau keadaannya.

“Hmm, kau tahu apa saja yang diciptakan di laboratorium tersebut?”

Alat-alat penunjang, Pak. Seperti alat untuk memperlambat pendarahan, obat-obatan, kacamata multifungsi—

“Penetralisir micro-transmitter?

Iya, Pak. Itu juga termasuk.

“Berarti itu yang diambil. Aku cukup yakin itu yang diambil karena sinyal dari micro-transmitter Verani tiba-tiba mengalami gangguan.”

O-oh … apa yang harus kita lakukan, Pak?

“Aku akan ke kantor sebentar lagi. Kita akan bertemu di sana.”

Baik, Pak.

Riyadi memutus sambungannya dengan Jonah. Ia pun mengalihkan fokusnya pada Darius, ajudannya.

“Siapkan mobil, Jenderal?” tanya Darius.

“Ya, siapkan mobil sekarang. Kita akan berangkat ke kantor sebentar lagi.”

“Baik, Jenderal,” Darius segera melangkahkah kakinya ke arah garasi untuk memanaskan mobil.

“Sayang, semuanya baik-baik saja?” Istri Riyadi tiba-tiba saja muncul dan bertanya.

“Adam mencoba untuk menghilang lagi, sepertinya. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi.”

“Oh … jadi kau akan berangkat ke kantor sekarang?”

“Ya. Tak apa-apa kan? Situasinya genting, PIN membutuhkan bantuanku.”

“Iya, tak apa-apa. Pergilah bertugas, kalau begitu.”

“Baik, sayang … ” Riyadi mengecup kening istrinya. “Kalau semua ini sudah selesai, kita akan makan malam lagi, oke?”

“Jangan terburu-buru. Masih banyak waktu untuk itu. Tugasmu jauh lebih penting saat ini,” istri Riyadi tersenyum.

Riyadi pun tersenyum. Ia lantas bergegas kembali ke kamarnya untuk berganti baju.

Masalah besar baru saja akan muncul, baik untuk PIN maupun kawanan Subject 09. Kota Jombang kemungkinan akan menjadi arena pertempuran yang amat panas. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Entah.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!