16 – Instinct [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


03.01

Pagi masih membuta. Mentari belum lagi menyapa. Felicia menepati janjinya untuk terbang ke Jakarta. Ia bertekad untuk menemui salah seorang ilmuwan Divisi Riset dan Pengembangan PIN demi menghapus program monitor pemerintah terhadap Verani dan Patih.

Sebelumnya, Subject 09 sempat mencurigai adanya nanochip di dalam tubuh Verani dan Patih. Nanochip tersebut kemungkinan dapat memancarkan sinyal ke pemerintah, yang berarti posisi Verani dan seluruh kerabatnya telah dikunci sejak Kapten Johan mengembalikan Verani kepada Subject 09. Itulah sebabnya Subject 17 langsung melesat ke Jakarta untuk memvalidasi hipotesis saudaranya.

Namun demikian, Subject 17 sendiri belum memutuskan siapa yang akan menjadi targetnya di Jakarta nanti. Ia masih mencari-cari orang yang tepat. Ia tak ingin berlama-lama di Jakarta, sehingga ia agak selektif memilih target. Ada rasa tak ingin banyak membuang-buang tenaga demi bertemu dengan seorang ilmuwan.

Keputusannya bertolak belakang dengan Subject 09 yang menginginkan kepala Divisi Riset dan Pengembangan. Felicia tahu bahwa sosok dengan jabatan seperti itu pasti akan dijaga superketat dan belum tentu mengerti persoalan di lapangan. Ia sedang tak ingin berkonfrontasi.

Subject 17 tampak sibuk berjibaku dengan komputer tabletnya. Ia sedang bersusah payah menerobos firewall database PIN yang paling baru menggunakan wifi yang tersedia di dalam pesawat. Teknologi saat ini memang memungkinkan siapa pun untuk lebih leluasa menggunakan internet, telepon, maupun pesan singkat di pesawat terbang menggunakan perangkat komunikasi pribadi pada ketinggian berapa pun, tak perlu khawatir lagi akan terjadi gangguan pada keseluruhan sistem pesawat akibat intervensi sinyal.

Database PIN semakin sulit untuk ditembus. Namun, setelah sekitar 20-25 menit percobaan, Subject 17 akhirnya berhasil menembus firewall. Ia harus mengelabui sistem PIN terlebih dahulu agar lokasinya tak terlacak; aktivitas pelacakan malah dialihkan ke komputer lain. Tetapi ia tak sembarang mengalihkan pelacakan, ia mengalihkannya kepada seorang kriminal cyber yang kebetulan juga sedang online.

Subject 17 tersenyum kecut. Ia merasa menang. “Hanya lebih susah sedikit, ya?” bisiknya bangga.

Database PIN telah ditembus. Kini saatnya bagi Subject 17 untuk mencari orang-orang lapangan Divisi Riset dan Pengembangan PIN. Ia tak punya banyak waktu, ia harus menentukan target sebelum PIN sadar bahwa database mereka telah ditembus. PIN akan segera men-shutdown sistemnya.

Gulir, gulir, gulir.

Target telah ditentukan. Keputusan Subject 17 sudah bulat. Ia mendapatkan seorang ilmuwan wanita yang tampak muda, bergairah, namun ceroboh dan penakut. Sosok seperti itu akan dengan sangat mudah diintimidasi dan dimintai keterangan. Nadia Fandriani, namanya. Lulusan S2 Fisika Universitas Tokyo dengan prestasi cumlaude. Orang ini cocok dijadikan target; pintar tapi penakut.

Subject 17 segera mengambil screenshot. Merekam semua data yang tercatat di database.

Tak lama kemudian, sambungan pun terputus. Database PIN tiba-tiba mati, menghasilkan pesan “404 Not Found” pada aplikasi perambah. Bukan Felicia yang melakukannya, tetapi seseorang yang mungkin sedang duduk di belakang komputer server PIN.

Subject 17 tersenyum lebar hingga tampak gigi-gigi depannya. Ia sudah menang, tak perlu protes ataupun mengeluh atas aktivitas preventif PIN yang terlambat. Ia lantas mengirim pesan dengan kode enkripsi khusus kepada saudaranya, Subject 09. “Nine, target diubah. Bukan lagi kepala ular yang kuincar, terlalu berisiko. Kalau ada yang bisa buka mulut lebih lebar, kenapa harus kepalanya?” katanya dalam teks.

Subject 17 pun mematikan komputer tabletnya. Ia kemudian menyandarkan punggungnya dengan santai, memanfaatkan momen-momen yang tersisa sebelum pramugari mengumumkan pesawat tiba di Jakarta.

***

Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang
11.32

Hanya beberapa puluh meter dari rumah yang diduga pernah menjadi sarang persembunyian Adam Sulaiman, tampak dua orang laki-laki berwajah gahar tengah menikmati kopi dan rokok di teras sebuah warkop. Dua pria yang mengenakan jaket kulit tersebut, mereka bukan warga sekitar, mereka adalah anggota aparat yang diperintahkan untuk menginvestigasi rumah “angker” milik Adam Sulaiman. Warga di sekitar sana sudah maklum dengan kehadiran anggota intel seperti demikian, karena kini mereka tahu bahwa mereka sempat bertetangga dengan buronan nomor satu sejagat Nusantara.

Dua anggota intel yang berada di warkop tersebut tampak begitu menikmati suasana. Mereka berujar, berkelakar, dan bertukar tawa. Tak seberapa mengerikan jika melihat betapa cerianya mereka.

Akan tetapi, canda-tawa itu tak berlangsung lama. Bahaya mengintai? Tidak. Hanya seorang wanita misterius berambut pendek yang tiba-tiba datang dan duduk di samping mereka. Wanita itu berwajah oriental dan tampak manis. Kedatangannya tentu saja mencuri perhatian dua agen aparat di warkop tersebut.

Salah seorang agen sontak terdorong untuk menggoda si wanita, darah mudanya bergejolak. Ia pun bersiul, lalu mulai merayu si wanita yang penampilannya sama sekali tak menunjukkan seperti warga sekitar. “Hei, manis. Mau ke mana?” tanyanya.

Si wanita tersebut tersenyum, lalu mengeluarkan semacam dompet dari sakunya. Ia tak lekas menanggapi. “Begitukah cara kalian menyapa sesama anggota aparat?” ujarnya seraya menyodorkan identitasnya.

Hening. Seketika hening.

“O-oh … ” si agen penggoda langsung merasa tersudut. Ia merasa telah dibodohi oleh indera penglihatannya sendiri. “Baintelkam,” lanjutnya menyebut badan intelijen milik kepolisian Indonesia.

“Hahaha!” pria yang satu lagi malah tergelak melihat temannya salah tingkah. “Kamu berharap apa toh, le? Lihat saja pakaiannya, kelihatannya dari kota kok. Bawa ransel pula.”

“Hihihi. Masih lajang ya? Percaya diri sekali,” timpal si wanita.

“Haha, maafkan temanku ya, Mbak. Dia memang genit.”

“Hehe. Tak apa-apa. Sudah biasa kok,” jawab si wanita dengan ekspresi nan lucu. “Ngomong-ngomong, karena jati diri kalian sudah terkuak, aku jadi penasaran dari kesatuan mana kalian berasal?”

“Haha, mudah sekali ya mengidentifikasi kami,” ujar si agen periang. “Aku berasal dari Detasemen 901/Paskhas. Namaku Tono,” prajurit intelijen bernama Tono itu pun menyodorkan jabatan tangan.

“Oh, halo Tono. Aku Ara,” kata si wanita seraya menyambut jabatan tangan kerabat barunya. “Asumsiku kalian sedang dalam operasi untuk menginvestigasi rumah sebelah?”

“Oh ya, tentu saja. Memangnya kau pikir kami sedang apa di sini?”

“Ya … bisa saja kalian hanya aparat yang kebetulan ingin minum kopi di sini kan, hihihi.”

“Haha. Tidak begitulah. Terkaanmu benar kok, kami memang ditugaskan untuk menginvestigasi rumah sebelah. Kau juga kemari dalam rangka investigasi kan? Atau ada urusan lain?”

“Iya, tetapi aku hanya diminta untuk melakukan kriptografi. Stereogram dan semacamnya.”

“Ah, begitu. Kudengar memang ada anggota Baintelkam yang mau datang, tetapi kami tak menyangka kalau yang datang wanita. Hehe.”

“Anggota Baintelkam bukan cuma aku lho, hihihi … ” ujar Ara seraya menyekat mulutnya. Ia tampak sangat memikat. “Kalau kamu dari satuan mana?” tanya Ara kepada si penggoda.

“E-eh, aku dari Yon Intel Kostrad. Namaku Hanif. S-salam kenal,” ujar si penggoda gugup.

“Haha, kamu kok gugup gitu sih? Santai saja. Aku takkan menggigit.”

“E-ehehe. Malu, Mbak. Sudah kepedean, ternyata Baintelkam.”

“Lha, memangnya kenapa kalo aku anggota Baintelkam? Genit kan bisa ke siapa saja,” ujar Ara. Ia lantas berdiri dan memesan kopi menggunakan bahasa isyarat kepada pemilik warkop di dalam rumah.

Seketika itu semuanya terdiam, sampai kemudian Ara kembali duduk di kursinya.

“Hmm … ” Tono ingin membuka percakapan lagi. “Mbak Ara, kau pikir rahasia macam apa yang disembunyikan oleh Adam sampai perlu melakukan kriptografi?” tanyanya.

“Aku juga tak yakin,” Ara spontan menanggapi. “Tetapi atasanku yakin ada informasi berharga tentangnya. Misalnya tentang kenapa dia tak terkalahkan dan mampu memporakporandakan ratusan anggota aparat hanya dengan bermodal bogem mentah.”

“Oh … jadi dia mungkin menyembunyikan semacam buku harian atau laporan saintis, begitukah?”

“Mungkin. Tapi dalam bentuk yang tak bisa dibaca oleh orang awam,” ujar Ara seraya merenggangkan tubuhnya. “Atau mungkin sebenarnya Adam menyembunyikan lokasi di mana ia bersembunyi? Tak tahu juga, hehe.”

“Hmm, bisa jadi. Karena sampai detik ini tak ada orang yang bisa menemukan lokasi tepatnya.”

“Lokasi tepatnya?” tanya Ara terheran. “Jadi kalian sudah tahu lokasi perkiraannya?”

“Kabarnya di Jombang, tetapi tak tahulah. Teman-temanku tak ada yang berhasil menemukan jejaknya,” ujar Tono agak berbisik.

“Jombang … hmm … ” Ara mengusap dagunya. “Kota atau kabupaten?”

“Kabupaten menurut isu yang beredar, tetapi tak tahu di mana. Kau tahu sesuatu?”

Ara terdiam, tetap mengusap dagunya berulang-ulang. “Kabupaten Jombang ya? Aku tak tahu apa-apa soal tempat itu, haha.”

“Yaaah, kupikir kau tahu. Wajahmu sudah terlihat sangat serius.”

“Hihihi. Maaf, maaf. Kalian kok bisa tahu? Tahu dari mana?”

“Isu saja dari orang-orang internal PIN. Mereka juga dapat isu dari teman-teman sesama PIN.”

“Isu dalam isu. Tak bisa dipercaya,” Hanif yang sedari tadi membisu tiba-tiba angkat bicara. “Jangan percaya dengan hal-hal seperti itu, nanti malah jadi intel sesat.”

“Hmm, hmm … ” Ara mengangguk setuju. Wajahnya tampak begitu ceria.

Hanif tersanjung. Ia pikir ucapannya sangat keren dan berhasil membuat Ara terpesona. Ekpresinya berubah menjadi tampak seperti pria penuh wawasan.

Tak lama kemudian, si pemilik warkop datang dan meletakkan segelas kopi hangat di hadapan Ara. Ara pun menepukkan kedua tangannya dengan cepat, bahagia menyambut pesanannya. Akan tetapi, ia tak ingin menikmatinya di sana. Sesaat setelah si pemilik warkop pergi, ia langsung berdiri dan mengangkat gelasnya.

“Lho, mau ke mana, Mbak Ara?” tanya Tono.

“Iya, Mbak. Di sini saja sama kami,” timpal Hanif.

“Aku mau sambil bekerja ah. Deadline nih, aku tak bisa berlama-lama di sini. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku di dalam ya.”

“Oh … workaholic ya. Oke deh. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya, Mbak,” ujar Tono.

“Tentu,” Ara melepas senyuman yang merekah. Ia lantas berjalan ke arah lokasi investigasi seraya melambaikan tangan. “Kalau ada waktu kita bisa mengobrol lagi kok.”

Ara berjalan meninggalkan dua kerabat barunya begitu cepat. Kata-kata dan gestur terakhirnya menandakan bahwa ia tak ingin bertemu lagi dengan dua agen intel bernama Tono dan Hanif tersebut. Seraya melenggang Ara tersenyum, bersenandung seperti anak kecil.

“Kabupaten Jombang ya? Kurasa aku tahu kau di mana, Nine. Hihihi.”

***

Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
00.03

Jakarta. Kota besar yang tak pernah tidur. Para penghuninya tak pernah berhenti bekerja demi sesuap nasi. Pagi, siang, malam, ibukota Republik Indonesia ini tetap menggeliat, tak kenal lelah. Bahkan, jelang tengah malam seperti itu pun masih banyak orang yang baru saja pulang bekerja.

Salah satu orang yang baru saja pulang dari hiruk-pikuk kegiatan ibukota adalah Nadia Fandriani. Ia merupakan salah satu orang yang direkrut oleh Pusat Intelijen Negara sebagai ilmuwan. PIN memang memiliki Divisi Riset dan Pengembangan sendiri, itulah mengapa mereka butuh sosok ilmuwan muda brilian dan antusias seperti Nadia.

Nadia memarkirkan mobil mini dua pintunya di halaman tempat ia menyewa kamar kos. Tanpa pikir panjang, ia lantas keluar dari mobilnya dan berjalan lunglai menuju kamar kosnya. Lingkungan kosnya sudah sepi, ia adalah orang yang terakhir tiba di sana.

Wanita berambut pendek dan berkacamata itu sudah tak ingin banyak berpikir, apalagi beraktivitas. Yang ia inginkan hanyalah menhganti pakaian, merebahkan diri di atas kasur, lalu tertidur. Begitu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, ia langsung menjatuhkan tas dan jasnya sembarangan. Seakan tak peduli lagi pada dunia.

Akan tetapi, sesuatu menantinya. Lebih tepatnya seseorang.

Sesaat setelah Nadia menyalakan lampu kamarnya, ia mendapati seorang wanita berjilbab yang tak ia kenal sedang duduk manis di belakang meja makan. Nadia terperanjat, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa selain menahan napasnya. Mau berteriak pun enggan. Wanita berjilbab itu sudah lebih dulu mengacungkan pistolnya ke arah Nadia.

“S-s-siapa kau?” tanya Nadia gelagapan.

Wanita berjilbab itu adalah Subject 17, tentu saja.

“Duduklah denganku. Aku hanya ingin mengobrol denganmu tentang pekerjaanmu,” ujar Subject 17 tenang.

” … ” Nadia menelan ludah. Bukannya berjalan mendekati tamu misteriusnya, ia malah mengangkat kedua tangannya.

“Duduk. Atau aku perlu memaksamu duduk untuk selamanya?” Subject 17 mengarahkan moncong pistolnya ke paha Nadia.

“O-o-oke! Oke. A-aku mohon. J-jangan sakiti aku,” tukas Nadia. Sesaat kemudian ia pun berjalan menuju meja makan.

“Aku takkan menyakitimu. Tetapi jika kau menyebalkan dan melawan … kau perlu tahu aku sedang bad mood.”

Nadia menelan ludah, lalu duduk perlahan-lahan di hadapan Subject 17. Ekspresinya menegang.

“Oke. Nadia Fandriani. Aku ingin mengonfirmasi terlebih dahulu: sudah berapa lama kau bekerja untuk PIN?”

“U-uhhh … sudah masuk lima tahun. M-maaf sebelumnya, k-kau siapa dan bagaimana kau tahu namaku?”

“Tidak penting siapa diriku, yang penting adalah siapa dirimu,” Subject 17 mengunci pistolnya dan menurunkan bidikannya. “Kau sudah bekerja selama lima tahun sebagai anggota Divisi Riset dan Pengembangan PIN, itu artinya kau punya banyak wawasan tentang teknologi mutakhir PIN. Benar?”

Nadia mengangguk. Kepalanya gemetar. “T-tidak semua sih. T-tetapi secara garis besar aku tahu semua operasi pengembangan PIN.”

“Bagus,” Subject 17 tersenyum puas. “Jadi … apa yang kau ketahui tentang teknologi nanochip?”

N-nanochip?”

“Ya. Aku mendengar isu bahwa kalian punya semacam pelacak yang tak bisa dilacak oleh detektor biasa.”

“O-oh. Itu. Micro-transmitter, kami menyebutnya. T-teknologi itu memungkinkan PIN untuk memasang pelacak pada siapa pun dan membuat mereka tetap berada dalam pengawasan kami hingga akhir hayat. Transmitter semacam itu tak bisa dinonaktifkan maupun dicabut secara paksa, tak seperti transmitter klasik yang berbentuk kapsul.”

“Hmm,” Subject 17 mengusap dagunya. “Teknologi yang posesif. Tetapi bagaimana caranya kau tahu bahwa seseorang sudah ditanamkan micro-transmitter?”

“S-sebenarnya teknologi ini masih dalam tahap pengembangan alpha. Belum sempurna. Kami belum membuat detektornya. S-satu-satunya cara agar kau tahu seseorang telah ditanam micro-transmitter adalah dengan melacaknya menggunakan aplikasi khusus.”

“Di mana aplikasi itu?”

“Uhhh, ummm, maaf. S-sebenarnya aku ada aplikasinya, tetapi aku takkan bisa mendeteksi micro-transmitter yang kau inginkan jika aku tak tahu nomor seri transmitter tersebut.”

“Nomor seri!?” Subject 17 tampak tak senang. “Kalau aku tidak tahu nomor serinya bagaimana?”

“Uhhh, t-tidak akan bisa terlacak, pastinya … ” jawab Nadia gelagapan. “Maafkan aku! Maafkan aku! Aku tak tahu bagaimana caranya!” sesaat kemudian Nadia menundukkan kepalanya begitu rendah di hadapan Subject 17.

“Cih! Kalau untuk mematikannya bagaimana? Apa kau tahu caranya?”

“Unggg, k-kalau itu sangat mungkin dilakukan, karena kami memang sedang mengembangkan penetralisirnya. Masalahnya … ” Nadia mengusap-usap tengkuknya. Gugup.

“Masalahnya?”

“Masalahnya semua hasil penelitian tentang penetralisir itu ada di sebuah rumah aman yang dijaga ketat oleh seorang agen black ops veteran.”

“Seorang? Lantas kenapa dia terkesan seperti masalah besar?”

“S-sangat bermasalah, Mbak. Mantan pasukan Raider, sudah keluar-masuk negara orang untuk baku hantam, pernah mencuri informasi di daerah konflik seperti Afghanistan dan Irak, pernah ikut perang di Timur Tengah, dan lain-lain. O-orang ini sama sekali tak bisa diremehkan.

“Ia kemudian ditarik oleh PIN untuk bertanggungjawab terhadap semua detil keamanan di safehouse tersebut. Tak ada orang yang benar-benar mau bekerja dengannya, karena ia hanya ingin bekerja sendirian. Kalau ada personel keamanan tambahan, pasti dilibas olehnya, dibuat babak belur sampai masuk rumah sakit.”

“Heh, kenapa pula PIN memelihara orang sinting seperti itu untuk jadi satpam!? Memangnya tidak ada personel lain yang lebih waras dan setara kemampuannya?”

“A-alasannya dua: pertama, biaya deployment orang ini jauh lebih murah daripada personel lain yang punya kemampuan setara. Kedua, ia sangat efektif menangkal ancaman dan gangguan. Beberapa profesional bersenjata pernah mencoba mencuri data penelitian dari safehouse tersebut untuk dijual di pasar gelap, semuanya dilibas.”

“Hmm … ” Subject 17 mulai menimbang-nimbang. “Jadi, intinya, safehouse itu dijaga oleh seorang pensiunan pasukan khusus yang gila darah. Tak terdengar terlalu buruk untukku.”

“E-eeeh!?” Nadia terperanjat, lalu terdiam sejenak. “J-jangan bilang kau mau mendatangi tempat itu!?”

“Antarkan aku ke sana. Kalau anjing gila ini tak bisa dihadapi secara frontal, kita masuk diam-diam.”

“K-KITA!?”

“Ya, kau ikut denganku. Karena kau yang tahu seperti apa dan di mana penetralisirnya.”

“U-uh, b-baiklah. A-aku tak punya pilihan lain ya?”

“Tidak. Ini penting. Aku harus tahu di mana dan seperti apa penetralisirnya. Setelah itu kau harus menjelaskan tata cara penggunaannya pada subjek yang telah dipasangi micro-transmitter.”

” … ” Nadia membisu. Lidahnya kelu, jantungnya berpacu. Ia tak pernah menyangka akan datang hari-hari seperti itu. “K-kalau boleh aku tahu, siapa yang dipasangi micro-transmitter? Kau?”

“Bukan. Salah satu anggota keluargaku. Tetapi ia sedang bersembunyi jauh dari sini.”

“O-oh … ”

Sesaat itu situasi pun menyepi. Subject 17 lantas menyelipkan pistol di balik celananya. Setidaknya hal tersebut akan membuat suasana menjadi lebih santai.

“Aku punya pertanyaan lain, Nadia … ” ujar Subject 17 seraya menatapi foto-foto yang bertengger di permukaan dinding. Foto-foto saat Nadia menjadi ilmuwan. “Apa yang kau ketahui tentang subjek-subjek Project SAKTI?”

“O-oh … Project SAKTI … aku tahu,” jawab Nadia gugup. “Aku termasuk yang mengamati mereka di laboratorium.”

Subject 17 menyipitkan kedua matanya. Ia menatapi si penghuni kamar lebih serius. Tulang punggungnya pun menegak, posisi duduknya berubah. “Kau yang menyiksa mereka!?”

“A-ah! B-bukan, bukan aku! Aku hanya bertanggungjawab untuk mencatat hasil penelitan.”

“Tetapi kau menyaksikan mereka disiksa! Terkutuk!”

“I-iya sih … ” Nadia menggaruk-garuk kepalanya. Jadi merasa serba salah. “T-tapi aku tidak setuju dengan metode-metode itu! Penyiksaan, penganiayaan … PIN telah berubah menjadi monster. M-maksudku, para subjek itu adalah manusia juga kan?”

“Lalu mengapa kau berpartisipasi pada program itu jika kau membencinya!?” Subject 17 menggebrak meja.

“S-soal itu … karena PIN mengancam akan membunuhku jika aku tak berpartisipasi. A-aku dianggap sudah terlalu tahu banyak.” ujar Nadia menahan tangis. “S-sejujurnya aku sudah muak dengan semua penelitian sadis itu. Tetapi aku harus ke mana?”

Subject 17 terdiam sejenak. Ia menatapi Nadia mengusap kedua matanya yang mulai sembab, jadi merasa iba. Ia pun memalingkan pandangannya. “Aku tak marah karena mereka disiksa, Nadia. Mereka sudah terbiasa menerima siksaan sejak mereka masih memakai popok. Yang membuatku gerah adalah fakta bahwa kalian, PIN, berusaha menghapus ingatan mereka.”

Nadia menghela napas panjang, berupaya lebih tegar. “B-bagaimana kau tahu kami berusaha menghapus ingatan para subjek Project SAKTI?”

“Seseorang memberitahuku dan aku sudah melihat hasilnya di lapangan.”

“O-oh … melihat hasilnya? Maksudmu Tenma?”

Subject 17 menganggukkan kepalanya.

“T-tetapi bagaimana kau tahu bahwa ia sudah hilang ingatan tentang masa lalunya?”

“Karena ia adalah saudariku!” bentak Subject 17. “Aku tahu siapa dia dan apa yang semestinya ia ingat. Tetapi ia bahkan tak bisa mengingat siapa diriku, malah jadi babu kapten Kopassus bulukan itu! Kalian memang bajingan!”

Nadia terhenyak. Kedua matanya membelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak. “K-k-kau … jangan-jangan kau adalah salah satu subjek Project SAKTI yang lolos dari tangkapan pemerintah lima tahun lalu!?”

Subject 17 menatap dingin. Tak menjawab pertanyaan Nadia.

“M-maafkan aku! Maafkan aku! Tolong jangan bunuh aku! Ini bukan salahku! Aku mohon! Aku hanya dipaksa menjalankan tugas!” Nadia lagi-lagi menundukkan kepalanya begitu rendah.

“Takkan … ” kata Subject 17 spontan. “Aku membutuhkanmu sekarang.”

Nadia mengangkat kepalanya. Kedua matanya telah sembab. Sesekali ia sesunggukan. Ketakutan.

“Untuk saat ini prioritasnya adalah menemukan penetralisir micro-transmitter. Project SAKTI bisa kuurus nanti.”

“K-kau juga berencana menolong teman-teman Project SAKTI?”

“Jika bisa … ”

“K-kau membutuhkan kekuatan yang besar jika kau mau menerobos laboratorium utama PIN!”

“Aku tahu itu! Aku tidak bodoh, Nadia. Asumsiku kantor PIN sekarang termasuk salah satu yang dijaga ketat oleh militer.”

“Y-ya. S-sebaiknya memang pikirkan matang-matang. Ada pasukan khusus Amerika juga.”

“Hmm?” Subject 17 terheran. “Karena ada ilmuwan Amerika di sana?”

“B-benar. P-pada dasarnya program penghapusan ingatan ini memang inisiasi orang Amerika. CIA mau membuat program MKULTRA baru. Versi MKULTRA yang lebih berbahaya.”

“Bajingan … ” kutuk Subject 17. Sesaat kemudian ia pun membisu. Merenung.

Tetapi tak lama, Subject 17 lantas bangkit dari tempat duduknya. “Baiklah, sekarang yang penting kau antarkan aku mengambil penetralisir micro-transmitter. Aku tak punya banyak waktu.”

“O-oke … ”

***

Pegunungan Kendeng, Kabupaten Jombang
01.20

Malam telah menyibakkan kesunyian utamanya. Hening. Tak bersuara. Namun tak buruk, sunyi adalah tempat ideal bagi beberapa orang untuk menggali wawasan. Subject 09 adalah salah satunya. Ia sudah berjam-jam duduk di belakang komputer jinjingnya, mengamati dan membaca seluruh informasi yang melintas di media berita maupun media sosial.

Kisah tentang pembantaian Kampung Rimbun masih santer dibicarakan, bahkan banyak netizen yang mulai mengaitkannya dengan pembunuhan delapan pejabat nasional. Pasalnya pembunuhan delapan pejabat tersebut waktunya sangat berdekatan dengan pembantaian Kampung Rimbun. Beberapa orang mulai asik merangkai kisah konspirasi, bahkan ada yang mulai menerka-nerka bahwa Adam Sulaiman bukanlah teroris yang muncul tanpa alasan, tetapi karena mengetahui bahwa pembantaian Kampung Rimbun diinisiasi oleh pemerintah.

Subject 09 terus menggulir informasi. Kadang ia tersenyum, kadang ia tertawa, kadang ia tertegun. Ia tersenyum dan tertawa karena banyak hipotesis netizen yang terlalu berlebihan dan tak masuk akal, walaupun mengandung beberapa kebenaran yang tak bisa dipungkiri. Sedangkan ia tertegun karena merasa aksinya selama ini berhasil membuat beberapa orang ketakutan, khususnya dari kalangan keluarga aparat.

Subject 09 menghela napas. Ia tahu aksi brutalnya selama ini menggegerkan seisi republik. Tetapi ia tahu batasan. Ia tahu siapa yang harus dibunuh dan siapa yang harus dilindungi. Ia bukan orang gila yang membunuh tanpa alasan. Walau judulnya tetap pembunuh, tetapi ia ratusan kali lebih cerdas dari drone, ia tahu target, ia tahu siapa yang harus dieliminasi tanpa harus ada collateral damage.

“Ya Tuhanku … tetapkanlah aku dalam kebenaran. Jangan tuntun tanganku untuk menyakiti orang yang tak menyakiti,” bisiknya memanjatkan doa seraya tetap menggulir tampilan komputernya.

Tak lama, Subject 09 terhenti pada sebuah berita yang tak kalah menarik. Berita itu tak seramai kisah-kisah ngawur tentang pembantaian Kampung Rimbun, tentu saja, tetapi berita itu cukup penting bagi Subject 09. “Mantan Ajudan Mendiang Menhan Dipukuli Perempuan Tak Dikenal,” itulah judul berita yang membuat Subject 09 mengernyitkan kening.

Letnan Satu Arifin, sebagaimana yang disebut di dalam berita, kini harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang dan mengalami memar di beberapa bagian tubuh akibat perkelahiannya dengan seorang wanita tak dikenal. Subject 09 tahu siapa itu Arifin, ia juga pernah menghajar mantan ajudan Menhan itu sampai pingsan, tetapi tak sampai masuk rumah sakit. Pertanyaannya adalah siapa yang menghajar Arifin sekarang dan apa yang membuat sang penyerang tertarik untuk mengirim Arifin ke rumah sakit? Dan … bagaimana mungkin Arifin dibuat babak belur oleh perempuan? Yang benar saja!

Subject 09 mulai merangkai spekulasi di dalam kepalanya. Arifin adalah mantan ajudan mendiang Menhan, itu artinya secara tidak langsung ia masih berkaitan dengan pembantaian Kampung Rimbun yang diinisiasi oleh Menhan. Teori demi teori pun bermunculan, tetapi teori yang paling kuat di kepalanya saat ini adalah ada kemungkinan si penyerang hendak menggali informasi tentang Kampung Rimbun dari Arifin. Jangan-jangan …

Sayangnya, aktivitas pencarian Subject 09 seketika harus terhenti. Verani tiba-tiba keluar dari kamarnya dengan selimut membalut tubuhnya. Ia kedinginan. Dengan mata yang masih sulit untuk terjaga, dengan rambut yang kusut dan bergelombang, ia melenggang menuju tempat di mana Subject 09 duduk. Tanpa keragu-raguan, ia pun duduk di samping Subject 09 dan menyandarkan kepalanya pada pundak Subject 09. Verani tak lagi berpikir dua kali untuk melakukannya, seakan telah terbiasa.

Subject 09 terenyak. Kedua matanya membelalak menatapi kepala Verani yang telah bersandar di pundaknya. Aroma segar dari kepala Verani bahkan sampai membuatnya menelan ludah. Ia pun memalingkan pandangan.

“V-Ve … tidakkah jarak ini terlalu dekat?” ujar Subject 09 gelagapan.

“Mmmh … ” Verani tak merespon, ia malah meregangkan otot-ototnya.

Subject 09 terdiam. “A-aku tahu belakangan ini kita banyak melanggar kesepakatan. Mencium pipi, memeluk, mengusap kepala, dan sebagainya. Tetapi–”

“Aku tahu, Adam … ” sela Verani. “Aku tahu kau ingin mengingatkan kembali tentang kesepakatan ‘tidak boleh berbuat selayaknya suami-istri’. Aku tahu itu.”

“Ya … kau benar. Oleh karenanya–”

“Aku hanya tidak peduli,” potong Verani lagi.

Subject 09 terkejut mendengar jawaban Verani yang begitu spontan dan penuh keyakinan. Sayangnya ia tak memiliki tanggapan yang dapat mengimbangi pernyataan Verani.

“Aku takut terlambat. Takut takkan pernah punya waktu untuk menikmati waktu bersama denganmu. Takut kehilangan kesempatan untuk bersandar seperti ini.”

Subject 09 masih terdiam. Tetapi ia mulai membiarkan tubuhnya menopang setengah beban tubuh Verani. “Asumsiku kau baru saja mengalami mimpi buruk.”

Giliran Verani yang terdiam. Hening sejenak. Lalu ia pun tertawa kecil. “Kamu kok peka sekali sih?”

“Insting … ” ujar Subject 09 seraya menggulirkan roda tetikusnya.

Verani tersenyum, lalu mendekap lengan pujaan hatinya. “Aku bermimpi kau ditembak orang. Bersimbah darah. Lalu … meninggal di pangkuanku. Perasaanku seketika memburuk, efeknya sampai sekarang.”

” … ”

“Aku sudah pernah kehilangan orang-orang terdekatku, Adam. Orangtuaku, pacar yang menghamiliku, nenekku, mereka semua sudah hilang. Aku … aku tak bisa membayangkan kalau aku harus kehilangan lagi. Keluarga kecil tanpa hubungan darah ini yang membuatku merasa lebih hidup beberapa waktu belakangan.”

Subject 09 mengembuskan napas panjang. “Itu hanya mimpi, Ve. Jangan dibawa perasaan.”

“Hehe, aku tahu … ” kata Verani. “Aku hanya ingin menenangkan perasaanku di sini. Mimpiku tadi terasa begitu nyata.”

” … ”

“Ngomong-ngomong, apa yang kau kerjakan sampai selarut ini? Mencari berita-berita tentang kita di media?”

“Hmm, ya, begitulah.”

“Jadi … apakah mereka akan datang lagi, Adam? Masih menganggap kita kriminal?”

“Kabar buruknya: ya. Mereka masih menganggap kita berbahaya dan harus ditangkap. Itulah kenapa aku harus tetap waspada,” Subject 09 lantas mengembuskan napas kepasrahan. “Maafkan aku, Ve. Aku membuat hidupmu rumit.”

“Hei, kita sudah membahas itu. Jangan terlalu dipikirkan. Ini adalah konsekuensi dari pilihanku juga. Aku mau menjalaninya,” ujar Verani. “Lagipula, lama-lama jadi terasa seperti berpetualang, dunia mata-mata ini membuatku penasaran.”

Subject 09 tersenyum kecut. “Boleh saja penasaran, tetapi jangan ikuti gaya hidupku, Ve. Tanganku penuh darah dan dosa.”

“Aku tahu itu, Adam … ” ucap Verani seraya merangkul lengan Subject 09 lebih erat. “Aku hanya ingin mengikuti gaya hidupmu yang lain.”

“Hmm? Seperti apa contohnya?”

“Rahasia. Hihihi,” Verani bersandar manja, enggan menjawab pertanyaan Subject 09, lalu menoleh ke layar komputer. Memerhatikan sejenak. Ia melihat berita tentang seseorang yang masuk rumah sakit, tetapi ia tak kenal. “Letnan … Arifin? Siapa itu, Adam? Kolegamu?”

“Bukan. Mantan pengawal Rahmat Sukoco.”

“Heee!? Rahmat Sukoco itu … menteri yang kau bunuh kan?” tanya Verani berbisik.

“Iya.”

“Terus apa yang terjadi dengan mantan ajudannya itu? Dia masuk rumah sakit karena apa? Jangan bilang itu ulahmu juga.”

“Aku pernah berkelahi dengannya, tetapi tak sampai membuatnya babak belur seperti ini. Ada orang lain yang menghajarnya, kejadiannya juga baru kemarin kok.”

“Oh … ” Verani mengangguk perlahan. Terheran. “Apakah … kita perlu mengkhawatirkannya?”

“Mungkin … ” ujar Subject 09 santai. “Aku melihat polanya sama dengan saat Felicia datang menemuiku.”

“Eh!? Maksudmu … ?”

“Kemungkinan besar salah satu saudaraku yang lain.”

***

Laboratorium Rahasia PIN, Jakarta
02.12

Rumah mewah yang bertengger di tepian kota tersebut bukan merupakan rumah biasa. Sekilas memang tampak seperti rumah pribadi milik seorang konglomerat, namun faktanya rumah itu telah beralih fungsi menjadi laboratorium rahasia milik PIN. Setidaknya itulah yang dikatakan Nadia kepada Subject 17.

Subject 17 dan Nadia berjongkok di balik sesemakan yang meninggi beberapa puluh meter dari tempat di mana laboratorium berdiri. Sementara Nadia memerhatikan keadaan sekitar, Subject 17 sibuk berjibaku dengan tabletnya untuk menembus firewall sistem keamanan laboratorium. Tak mudah untuk menembus sistem keamanan PIN, Subject 17 lagi-lagi membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melakukan peretasan.

“M-Mbak … masih lama?” Nadia bertanya seraya berbisik-bisik. Takut ketahuan.

“Sebentar lagi … ” ujar Subject 17 santai. “Tetap amati situasi sekitar.”

“K-kenapa pula aku harus ikut ke sini? Ugh … ”

“Karena kau yang tahu di mana dan seperti apa penetralisirnya. Kita sudah membicarakan hal itu berkali-kali di kamarmu dan di mobilmu. Stop mengeluh.”

“A-aku takut si petugas keamanan menyeramkan itu akan menyakitiku juga.”

“Aku akan melindungimu. Kau adalah tanggung jawabku sekarang. Jadi diamlah, Nadia. Ini resikomu bekerja dengan orang-orang berotak korup itu,” Subject 17 menekan tombol-tombol abstraknya dengan penuh keyakinan. “Oke, kita sudah masuk sistem. Kita hanya punya 30 detik untuk mematikan segalanya.”

“W-w-waaa … terus aku harus ngapain nih!?”

“Tugasmu hanya satu untuk saat ini: jangan berisik.”

***

Ruang Kontrol Laboratorium Rahasia PIN
02.15

Seorang pria berbadan kekar dan berambut gondrong tengah duduk di belakang meja kerja yang penuh dengan papan ketik. Matanya terpaku menatapi belasan layar komputer yang bertengger megah di hadapannya. Ia terduduk santai di kursinya, menganggap semuanya akan baik-baik saja. Sesekali ia mengisap rokoknya begitu dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan.

Namun, rasa aman itu seketika sirna.

Seluruh layar komputer sang pria tiba-tiba berkedip, menyampaikan pesan bahwa ada seseorang yang berhasil merangsek masuk ke dalam sistem. Pria gondrong tersebut bergegas menegakkan posisi duduknya, lalu berupaya memasukkan beberapa baris kode untuk menggagalkan upaya peretasan. Wajahnya tetap terlihat santai, namun sikapnya menunjukkan kewaspadaan lebih.

Si pria gondrong lantas memasukkan beberapa kode pamungkas dan menekan tombol ENTER. Namun sial, bukannya menghentikan aksi peretasan, ia malah membuat seluruh sistem laboratorium lumpuh. Seluruh alat listrik padam, laboratorium pun menjadi gelap gulita. Sang peretas tampaknya baru saja memasang virus yang dapat mematikan kode-kode tertentu. Si pria gondrong dijebak.

Si pria gondrong pun terdiam, duduk merenung di atas kursinya, lalu menoleh ke belakang. “Profesional ya? Sudah lama sekali,” ujarnya seraya tersenyum lebar. Tak lama, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil senjata pada meja kerjanya yang lain. Ia mengambil sebuah pistol mitraliur, beberapa amunisi, dan sebuah golok militer.

Persiapan telah usai. Hanya butuh waktu sebentar bagi sang pria untuk mempersiapkan segalanya.

CKLAK! Senjata dikokang, sang pria lantas berjalan santai menuju pintu keluar. Ia berdendang dengan siulan, seakan menyambut kedatangan ancaman dengan senang hati.

***

02.20

Subject 17 dan Nadia telah memasuki halaman laboratorium. Mereka bersembunyi di balik bebatuan dan sesemakan hias, memerhatikan beberapa ilmuwan yang berhamburan keluar rumah dengan waswas. Rumah itu memang sudah tak lagi terang-benderang seperti sebelumnya, tampak terlalu kelam jika tanpa cahaya.

“Nadia, pintu masuk lain yang lebih sepi lewat mana?” tanya Subject 17 berbisik.

“U-uhm … paling lewat basement.”

“Oke, kita bergerak perlahan-lahan menuju basement. Kau pimpin jalan.”

“E-eeeh!? A-aku yang pimpin jalan!?”

“Aku menempel di belakangmu, Nadia. Jangan jadi penakut. Kau yang paling tahu setiap jengkal rumah ini.”

“U-uhhh, baiklah … ”

Subject 17 dan Nadia berjalan perlahan-lahan mengelilingi halaman rumah untuk mencapai ruang bawah tanah. Suasana memang teramat gelap, akan sulit menemukan kedua penyusup tersebut berjalan di tempat yang sama sekali tak tersorot cahaya. Para ilmuwan yang berkumpul di teras rumah terlalu fokus mengkhawatirkan diri mereka masing-masing.

Setelah beberapa saat mengendap-endap, Subject 17 dan Nadia akhirnya tiba di depan jalan menuju ruang bawah tanah. Mereka pun berlari kecil menuju pintu masuk. Akan tetapi … pintu yang menghubungkan ruang bawah tanah tersebut terbuka. Kedua penyusup terkejut setengah mati, namun Subject 17 secara refleks langsung menarik tubuhnya dan tubuh Nadia untuk bersembunyi di bawah pohon, satu-satunya titik tergelap di sekitar sana. Mereka juga berbaring terlungkup untuk mempersulit siapa pun menginderakan keberadaan mereka berdua.

Benar, ada beberapa orang yang baru saja keluar dari ruang bawah tanah. Ilmuwan, lebih tepatnya. Ada sekitar 5-7 orang, tetapi Subject 17 tak terlalu memerhatikan. Gerombolan ilmuwan itu terdengar sangat khawatir terhadap keselamatan mereka dan keselamatan data-data penelitian mereka. Mereka terlalu serius berbincang, sampai tak sadar bahwa mereka baru saja berjalan melewati dua orang penyusup.

Upaya bersembunyi berhasil dengan gemilang. Subject 17 pun bangkit dari posisinya, sementara Nadia masih berbaring terlungkup seraya bergumam, “Ya Tuhan, Ya Tuhan, aku belum menikah, aku belum mau mati.” Nadia mengucapkannya secara berulang-ulang dengan suara yang amat rendah, tetapi Subject 17 bisa mendengarnya.

“Kalau kau belum mau mati, bangunlah sekarang. Kita sudah aman,” ucap Subject 17 tenang.

Nadia menengadahkan kepalanya, lalu memandangi lingkungan sekitar. Benar, keberadaannya sudah tak lagi terancam. Ia pun menatapi Subject 17 dengan napas tersengal-sengal. “K-kita sudah aman … ”

“Aku sudah bilang itu. Bangun. Kita harus cepat masuk ke ruangan bawah tanah sebelum ada orang lain lagi.”

Nadia menganggukkan kepalanya, lalu mulai membangunkan tubuhnya sendiri. Ia dan Subject 17 lantas bergegas menuju pintu masuk ruang bawah tanah. Kali ini tak ada gangguan lagi. Mereka bisa masuk tanpa harus berpapasan dengan pegawai laboratorium.

Masuk ke dalam rumah bukan berarti mereka masuk ke dalam zona aman. Ancaman yang sebenarnya justru mengintai di dalam ruangan. Lebih gelap, lebih tak terduga, lebih mematikan.

***

02.32

Nadia memimpin jalan. Pasalnya dialah orang yang hapal di mana penetralisir micro-transmitter berada. Subject 17 mengikuti langkahnya di belakang, bersiap dengan pistol di tangannya. Mereka berjalan mengendap-endap, sama seperti saat mereka berada di halaman rumah.

Tiba-tiba muncul kejutan dari persimpangan lorong.

Seorang ilmuwan pria muncul begitu saja dan hampir menabrak Nadia. Ia terperanjat, lalu membekukan langkahnya. Begitu pula dengan Nadia. Keduanya terdiam mematung selama beberapa saat, sebelum akhirnya Subject 17 menarik tubuh Nadia ke belakang.

Subject 17 segera bertindak sebelum sang ilmuwan menyadari segalanya. Ia memutar tubuh sang ilmuwan dan mendekap leher sang ilmuwan dari belakang. Sang ilmuwan merasa tercekik, ia pun meronta-ronta. Subject 17 lantas menendang bagian belakang lutut sang ilmuwan, membuat sang ilmuwan kehilangan daya dan keseimbangan. Subject 17 terus mencekik ilmuwan tersebut. Lebih keras, lebih ketat. Tak lama kemudian, sang ilmuwan pun tak sadarkan diri. Pingsan.

“K-kau membunuh orang yang tak bersalah!” protes Nadia dalam bisiknya.

“Tidak. Ia hanya tidur. Mencekik orang tak harus membuatnya mati,” ujar Subject 17 santai.

“T-t-tetapi ia kehabisan napas kan!?”

“Tidak. Aku hanya memblokir suplai oksigennya ke otak selama beberapa saat.”

“U-ugh. J-jadi ia tak mati?”

“Cek saja kalau kau tak percaya.”

Nadia ingin mengecek, tetapi ia terlalu takut untuk sekadar berjongkok. Ia menggigit jari-jemari tangannya. “N-nanti saja deh. K-kita ke ruangan penelitian dulu,” ujarnya melengos.

“Hmm, begitu lebih bagus.”

Penyusupan pun dilanjutkan. Sejauh Subject 17 dan Nadia berjalan, semuanya tampak baik-baik saja. Para ilmuwan umumnya telah keluar dari laboratorium dan berkumpul di halaman rumah, sehingga penjagaan di dalam memang terkesan lebih lengang.

Minimnya penjagaan membuat rencana kedua penyusup berjalan dengan lancar. Nadia pun akhirnya menemukan penetralisir yang ia maksud di dalam sebuah ruangan. Penetralisir tersebut ternyata berwujud cairan yang ditampung di dalam sebuah botol kaca, seperti obat batuk. “N-nah, kau minum ini, maka micro-transmitter yang mengalir di dalam darahmu akan mati dalam waktu dua belas jam,” jelasnya berbisik.

“Dua belas jam? Lama sekali.”

“I-iya. L-lebih tepatnya bertahap sih. Karena obat ini harus dicerna secara sempurna terlebih dahulu oleh tubuhmu, seperti obat flu, tidak langsung memberikan efek.”

“Apa yang terjadi sebelum dua belas jam?”

“U-unggg, sinyal yang dikirimkan oleh micro-transmitter akan terganggu. J-jadi tidak langsung mati.”

“Oke. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Masukkan botol itu ke dalam kantongmu. Kita keluar dari sini.”

Penetralisir telah didapatkan, kedua penyusup pun bergegas keluar dari ruangan. Akan tetapi, ada sesuatu yang ganjil begitu mereka tiba di ruang tengah laboratorium. Subject 17 segera menghentikan langkahnya dan meminta Nadia untuk melakukan hal yang sama. Keduanya lantas merunduk di balik meja-meja keramik laboratorium.

“A-ada apa!?” Nadia panik, ekspresinya tampak ketakutan.

“Ada sesuatu …” ujar Subject 17 berbisik. “Ngomong-ngomong, kau benar. Aku baru sadar bahwa kita sama sekali tak berhadapan dengan petugas keamanan sampai sejauh ini.”

“I-iya! T-tapi ada si mantan tentara berambut gondrong tersebut! Aku kan sudah bilang, tapi kau malah nekat!” protes Nadia. “Aku tak tahu bagaimana caranya, tetapi sepengalamanku bekerja di sini, ia selalu bisa menemukan dan melibas lawan-lawannya tanpa ketergantungan pada CCTV.”

“Itulah poinku. Itu namanya insting pembunuh.”

“I-insting pembunuh!?”

“Ya, aku juga punya insting semacam itu. Dan sesama pemilik insting pembunuh biasanya bisa saling merasakan hawa keberadaan satu sama lain.”

“A … ” Nadia kehabisan kata-kata. Ia seperti baru saja mendengar kisah gaib, tetapi ia tahu Subject 17 tak berdusta.

Suasana masih terlalu hening. Subject 17 menjadi curiga. Jangan-jangan musuh sedang mengendap-endap mendekati posisinya. Ia pun menyembulkan kepalanya dari balik meja, mencoba memerhatikan setiap sudut ruangan.

Akan tetapi, ia tak sempat mengecek secara detil …

DRRRT!

Beberapa saat kemudian, muncul tembakan dari seberang ruangan, mengarah ke titik persembunyian Subject 17 dan Nadia. Beruntung Subject 17 sempat menarik kepalanya kembali. Peluru-peluru kecil melesat, memecahkan keramik yang melapisi meja-meja di sekitar sana. Seketika itu suasana menjadi sangat ribut. Nadia panik, ia menutup kedua telinganya seraya menjerit-jerit.

Subject 17 membalas tembakan. Ia memunculkan tangan dari balik meja dan menarik pelatuk pistolnya beberapa kali tanpa melihat target. Ia sekadar mengira-ngira lokasi terakhir si penembak misterius.

Pertukaran tembakan tersebut lantas berhenti. Situasi kembali menyepi. Nadia masih meringkuk di tempatnya seraya menjerit-jerit kecil. Ketakutan. Apakah serangan Subject 17 berhasil mengenai lawannya? Subject 17 sendiri tak tahu, ia hanya bisa berharap demikian.

Kesunyian itu hanya bertahan selama beberapa saat. Tak lama kemudian, Subject 17 mendengar langkah kaki yang amat tergesa. Seseorang berlari ke arahnya. Bahaya.

Subject 17 tak sempat mengarahkan moncong pistolnya ke arah yang benar. Seorang pria gondrong tiba-tiba muncul beberapa meter tepat di hadapannya dan Nadia. Pria tersebut tengah melayang di udara, melompati satu meja keramik ke meja keramik yang lain, seraya memegang pistol mitraliur yang sudah siap memuntahkan peluru.

Tanggap, Subject 17 bergegas menarik tubuh Nadia ke samping kiri, lalu ia lempar tubuhnya sendiri ke samping kanan. Keduanya masuk ke dalam kolong meja tepat sebelum si pria gondrong melepaskan tembakan. Serangan sang pria tentu saja luput, hanya berhasil melubangi lantai tempat Subject 17 dan Nadia terakhir berjongkok.

Subject 17 tak tinggal diam. Sambil berbaring di kolong meja, ia melepaskan tembakan ke tempat sang pria semestinya mendarat. BLAM! BLAM! BLAM! Tembakannya berhasil membuat sang pria panik, tetapi tak berhasil mengenai titik vital. Si pria gondrong pun berlari ke tempat persembunyian yang lain.

“Brengsek … ” kutuk Subject 17. “Nadia, hei, kau tidak apa-apa!?” lanjutnya bertanya kepada Nadia.

“T-tidak, tentu saja! Rasanya jantungku mau copot!” seru Nadia. Tubuhnya gemetar.

“Bagus. Itu berarti kau baik-baik saja. Hanya adrenalin.”

“B-baik-baik bagaimana!? Uaaah! A-aku sudah tak tahan di sini!”

“Diam di tempatmu, kau akan baik-baik saja. Kalau kau bergerak, kau mati. Oke?”

“A … ” Nadia lagi-lagi kehilangan kata. Lidahnya kelu. “B-bagaimana ia bisa tenang-tenang saja dalam situasi antara hidup dan mati seperti ini!?” bisiknya.

Subject 17 keluar dari tempat persembunyiannya. Ia membidikkan pistolnya ke tempat terakhir sang pria berlari. Ia melangkah sesaat, lantas berhenti, mendengarkan lingkungan di sekitarnya dengan seksama. Kepalanya menoleh ke sana-kemari, mencoba memperkuat indera pendengarannya ke segala arah.

Hening.

Atau tidak.

Tidak sehening itu. Subject 17 mendengar suara, tetapi sangat lembut. Di mana?

“!!!”

DRRRT!

BLAM! BLAM! BLAM!

Keributan kembali menyeruak. Si pria gondrong dan Subject 17 kembali bertukar serangan. Kaca-kaca penyekat ruangan pun pecah berkeping-keping. Kedua penyerang tetap memuntahkan tembakan seraya terus bergerak dari satu tempat berlindung ke tempat berlindung yang lain. Sesaat itu laboratorium berubah menjadi arena pertempuran yang sangat kacau.

Hingga akhirnya, kedua penyerang itu pun kehabisan peluru. Keriuhan kembali bersembunyi di balik kesunyian.

Subject 17 bergegas mengganti magasinnya seraya berlindung di balik meja keramik. Seusainya, ia langsung bangkit dan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tak mendapati adanya tanda-tanda kehadiran sang pria. Benarkah pria tersebut sudah mati? Ia juga tak tahu pasti.

Subject 17 bergerak ke arah selasar tempat di mana sang pria tampak sebelum kehabisan peluru. Sialnya, terlalu gelap. Berjalan ke sana merupakan ide yang buruk. Sang pria bisa saja menjebak Subject 17 di tempat gelap seperti itu.

Kekhawatiran Subject 17 menjadi kenyataan. Si pria berambut gondrong tiba-tiba saja muncul dan menerjang dari arah samping. Subject 17 tak sempat memperbaiki arah bidikannya, kaki sang pria sudah lebih dulu mengentak tangannya. Pistol pada genggaman Subject 17 pun terlepas, berkelotak di atas ubin.

ZYAAASH!

Lebih mengerikan lagi, pria berambut gondrong itu kini mempersenjatai dirinya dengan sebuah golok militer. Ia menghujamkannya ke kepala Subject 17. Sayangnya, luput. Serangannya hanya berhasil menggores wajah Subject 17 sedikit.

Mendapati bahaya di hadapannya, Subject 17 bergegas mundur dan mencoba menciptakan jarak aman antara dirinya dan si pria gondrong. Akan tetapi, upayanya tak membuahkan hasil yang optimal. Sang pria dengan cepat memangkas jaraknya, bergerak gesit seraya menebas-nebaskan goloknya tanpa ampun.

Subject 17 beberapa kali harus tersayat oleh serangan sang pria. Pipinya, pundaknya, pahanya, pinggulnya, semuanya menjadi korban keganasan sang pria. Sebagian besar serangan memang berhasil ia hindari, tetapi ia sadar bahwa menghindar saja takkan cukup. Ia harus melawan. Pria berambut gondrong ini sangat ahli menggunakan golok, gerakannya seperti sudah terbiasa bermain pedang, bisa menjadi masalah jika Subject 17 tidak melakukan tindakan penyeimbang.

Akhirnya, Subject 17 mengambil tindakan. Ia melempar beberapa botol dan objek keras lainnya di sekitar sana. Lemparannya membuat sang pria hilang fokus, terutama saat ia melempar botol yang berisi cairan kimia. Begitu saja yang ia lakukan selama beberapa saat seraya terus menghindari serangan sang pria. Begitu pandangan sang pria terganggu, Subject 17 pun menjatuhkan kulkas yang bertengger di sebelahnya.

BRAAAK! Kulkas terjatuh beberapa sentimeter di hadapan sang pria. Pria berambut gondrong yang tengah mengusap-usap kedua matanya itu pun tersandung, lalu tersungkur konyol di atas lantai. Memalukan.

Ini adalah momen yang tepat untuk memulai pertarungan dari nol. Subject 17 bergegas mengambil sebuah nampan besi dari atas meja keramik, lalu berlari menghampiri sang pria.

Akan tetapi, pria berambut gondrong tersebut juga tak mau mengalah dan menjadi bulan-bulanan lawannya. Ia bergegas bangkit dari posisinya dan menghampiri Subject 17 meski pandangannya belum seratus persen pulih.

TRAAANG!

Tumbukan pun terjadi. Golok sang pria menghantam nampan besi Subject 17. Kedua penyerang saling berhadapan dengan bengis. Kini tak ada yang lebih unggul, keduanya sama-sama mematikan.

Pertukaran serangan pun terjadi. Lebih alot, lebih gesit, dan lebih mengerikan. Sang pria memang tampak seperti orang yang mendominasi serangan, tetapi nyatanya ia tak bisa lagi mengenai Subject 17 dengan mudah. Di sisi lain, Subject 17 sudah beberapa kali menghantam wajah sang pria dengan sisi nampannya. Nampan besi tersebut, selain berfungsi sebagai tameng, ternyata berfungsi pula untuk memukul.

Pertarungan mencapai klimaks pertamanya. Sang pria menebaskan goloknya dari arah atas, namun ditangkis oleh Subject 17 menggunakan nampannya. Seraya bergerak menyamping, Subject 17 juga mengayunkan tendangannya tepat ke kemaluan sang pria. Begitu sang pria meringkuk lengah, Subject 17 segera menyodok telinga sang pria dengan sisi nampannya. Serangan Subject 17 sangat keras hingga membuat sisi nampan penyok dan kepala sang pria terpelating.

Pria berambut gondrong itu hampir tersungkur, tetapi ia bersikukuh untuk tetap berdiri dengan pijakan nan gontai. Kepalanya berkunang-kunang, pukulan keras yang mendarat di saluran pendengarannya berhasil mengacaukan keseimbangannya. Tak lama kemudian, ia diserang lagi. Kali ini pergelangan tangannya yang ditendang. Goloknya pun terlepas dari genggaman, jatuh entah ke mana.

Sang pria tak bisa tinggal diam, ia harus menciptakan jarak. Akhirnya, ia melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ia menyodok perut Subject 17 dengan tendangan menyamping, membuat wanita bengis itu mundur beberapa langkah darinya.

Jarak telah tercipta, kini saatnya si pria gondrong menggunakan senjata pamungkas terakhirnya. Ia mengenakan brass knuckle pada tinjunya. Besi bergerigi pada tangannya itu akan mampu mengoyak kulit dan daging siapa pun yang terkena pukulannya. Ia lantas memasang kuda-kuda.

Subject 17 tak gentar, ia membuang nampan besinya dan mengambil kursi aluminium di sebelahnya.

Si pria gondrong menyerang. Ia merangsek maju, menghampiri Subject 17 dengan lincah. Tetapi, ia tahu bahwa serangan frontal takkan berhasil, oleh karenanya ia pun melompat ke atas meja keramik dan mencoba menerjang Subject 17 dari atas.

Subject 17 bersiap-siap dengan kejutan yang akan ia terima. Ia bergegas mengangkat kursi aluminiumnya setinggi kepala.

BRAAAK!

Sepersekian detik kemudian, sang pria mengentakkan kakinya ke atas dudukan kursi, langsung membuat kursi tersebut jatuh menghantam ubin. Remuk. Akan tetapi, Subject 17 sudah tak berada di bawahnya. Wanita bengis itu sudah bergerak mundur dan berusaha mengambil kursi aluminium yang lain.

Sang pria tak ingin membiarkan Subject 17 menyempurnakan pertahanan. Sesaat setelah mendarat, ia segera merangsek menuju Subject 17. Ia berhasil. Ia memangkas jaraknya dengan Subject 17 dan mulai mengayunkan tinjunya dengan brutal.

Subject 17 agak kewalahan menghindari dan menangkis serangan lawannya. Jaraknya terlalu dekat. Bisep kanan dan rusuk kirinya pun tergores oleh tinju bergerigi sang pria. Sakit luarbiasa. Tetapi ia tak bisa mengalah. Tak boleh kalah.

Subject 17 akhirnya mendapatkan celah untuk menyerang balik. Ia mengunci lengan sang pria di antara kaki-kaki kursinya, lalu menarik seluruh tubuh sang pria ke atas meja keramik. BRAK! Sang pria lengah, hanya bisa mengikuti arah ke mana lengannya dipelintir.

KRAAAK!

Tak ada ampun, Subject 17 segera mengentak kursinya kuat-kuat saat lengan sang pria masih terjebak di antara kaki-kaki kursi. Tangan sang pria patah, tentu saja. Bukan hanya dislokasi, tetapi patah. Sang pria pun menjerit sejadi-jadinya. Ngilu luarbiasa. Ia takkan bisa lagi menggunakan tinju bergeriginya.

Tak gentar, si pria gondrong segera menendang tubuh Subject 17 kuat-kuat. Subject 17 terentak, jarak pun tercipta. Sang pria bergegas menjatuhkan kursi aluminium dari lengannya yang patah dan mengambil gunting yang tergeletak di atas meja dengan tangannya yang lain.

Kemarahan sang pria telah mencapai puncaknya. Dengan sebelah tangan menggelantung, ia berlari menghampiri Subject 17 dan menebas-nebaskan guntingnya secara acak. Subject 17 sendiri belum sepenuhnya siap menerima serangan. Beberapa serangan memang luput, tetapi pada akhirnya sang pria berhasil menghujamkan guntingnya pada perut Subject 17.

Subject 17 melenguh. Lengah. Ia lantas diseruduk oleh sang pria hingga menabrak lemari kaca di sudut ruangan. BRAAAK! Setengah pembatas kaca pecah berkeping-keping, serpihannya menghujani tubuh kedua petarung.

Menolak berlutut pada keadaan, Subject 17 pun mengerahkan seluruh upaya yang ia punya untuk melawan. Ia entakkan lututnya ke kemaluan sang pria, lalu ia menanduk wajah sang pria dengan keningnya. Begitu sang pria terhuyung, ia segera meluncurkan tinjunya ke rahang sang pria dan menarik tengkuk sang pria ke pembatas kaca di sampingnya.

PRAAAK!

Kepala sang pria pun menghantam pembatas kaca hingga pecah menjadi kepingan. Ia kehilangan ketangkasannya. Kepalanya terluka cukup parah. Sementara itu, Subject 17 berdiri agak menjauh dan mencabut gunting yang masih bersarang di perutnya. “Ungggh … ” petarung berjilbab itu melenguh menahan sakit.

Perkelahian kembali terjadi. Sang pria mengayunkan tinjunya menyamping, berusaha melukai Subject 17 walau ia tahu posisinya tak menguntungkan. Sayang, usahanya hanya berakhir sia-sia. Serangannya berhasil diblokir oleh Subject 17.

Tindakan balas. Subject 17 mengerahkan sisa tenaganya untuk menghantam rusuk dan rahang sang pria. Kedua pukulannya masuk tanpa sempat diantisipasi oleh sang pria. Dua tinju tersebut bahkan berhasil meremukkan beberapa tulang rusuk sang pria. Pukulan yang mematikan.

Subject 17 melanjutkan serangan. Ia mengambil botol kaca dari dalam lemari dan menghantamkannya tepat ke wajah sang pria. Kena. Ia lantas menendang bagian belakang lutut sang pria dan menarik pundak sang pria hingga tersungkur ke atas ubin. Serangan penutup, Subject 17 bergegas menggenggam beberapa lapis pecahan kaca dan JRAAAK! Ia hujamkan kumpulan pecahan kaca tersebut pada paha sang pria.

Jeritan pun menyeruak. Subject 17 berhasil membuat sang pria lumpuh, menetralkannya hingga tak bisa melakukan perlawanan. Subject 17 lantas berjalan mendekati sang pria, mengelilinginya. Tak lama kemudian, ia melanjutkan aksinya dengan menginjak sendi siku sang pria yang masih sehat, menginjaknya hingga patah seperti tangan sang pria yang lain.

Pertarungan resmi berakhir. Pria berambut gondrong itu sudah tak mampu lagi bertindak selain menggelinjang dan mengutuk-ngutuk keadaan. Kesakitan. Kepayahan. Bahkan sekadar untuk memiringkan tubuh saja tak sanggup.

Subject 17 menatapi sang pria seraya terus memegangi perutnya yang banjir darah. Ia menatapinya begitu dalam. Dingin. Menakutkan.

Pria gondrong itu pun berhenti menjerit. Napasnya tersengal-sengal. Ia membalas tatapan musuhnya. Selama beberapa saat itu hanya terjadi pertukaran tatapan, tak ada kata, tak ada ucap.

Lantas sang pria tersenyum hingga tampak gigi-giginya yang berlumur darah. “Tunggu apa lagi? Ayo bunuh aku. BUNUH AKU! Aku akan menunggumu di neraka!” tantangnya.

“Kau ketakutan … ” ujar Subject 17 spontan. “Kau hanya berpura-pura berani menghadapi kematian. Aku bisa melihatnya di matamu. Kau ketakutan, mungkin karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhmu. Atau mungkin karena kau selama ini tidak tahu seperti apa rasanya mau mati.”

” … ”

“Masalahnya aku sedang tidak mood untuk membunuh orang hari ini,” ujar Subject 17 seraya mengambil pecahan kaca di atas salah satu rak lemari. “Bagaimana jika takdir saja yang menentukan apakah kau boleh mati sekarang atau tidak?”

Subject 17 tersenyum sejenak, lantas menghujamkan pecahan kacanya pada dada kiri sang pria. Sama sekali tanpa keraguan. “Kau adalah pembunuh! Harusnya lebih berani menghadapi kematian, bajingan tengik!” tukas Subject 17.

Sang pria mengejan kesakitan, namun ia sudah terlalu luruh untuk kembali menjerit. Ia pun meletakkan kepalanya dengan lemah di atas ubin, menatapi ketiadaan. Dada kirinya bersimbah darah, mewarnai bajunya dengan warna merah segar. Daya dan upayanya hilang seketika waktu.

Subject 17 bangkit perlahan seraya memegangi perutnya yang terus mengucurkan darah. Ia lantas menoleh ke samping, mendapati seseorang tengah berdiri menatapinya. Nadia. Wanita polos berkacamata itu tampak syok, ia tak pernah melihat seseorang sekarat karena ditusuk sebelumnya.

Subject 17 tak ingin Nadia menatapi pemandangan mengerikan tersebut. Ia tahu bahwa melihat orang bersimbah darah bukanlah pengalaman yang baik bagi psikologis seseorang. Ia pun bergegas menghampiri Nadia, lalu menghalangi pandangan sang ilmuwan muda. “Aku sudah bilang tetap di tempatmu. Mengapa kau keluar?”

“A … aku pikir semuanya sudah berakhir. A-aku pikir kau mati. A-aku pikir aku akan bekerja di neraka ini lagi,” Nadia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis, tetapi tak sanggup. Tangisnya pecah sesaat kemudian. Ia menyekat mulutnya seraya bersandar pada pundak Subject 17.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya … terluka sedikit. Lagipula dia yang menjerit-jerit, kok aku yang disangka mati?” ujar Subject 17 seraya tersenyum. “Ayo kita pergi dari sini sebelum orang-orang di luar berinisiatif untuk memanggil bantuan.”

Nadia tetap menangis. Untuk memindahkan pijakan saja rasanya sangat berat. Adrenalin benar-benar telah menguasai tubuhnya. Syok telah mengunci seluruh persendiannya. Tetapi ia harus bergerak. Ia pun memaksa dirinya untuk bergerak, ia tak mau mati di sana.

Nadia Fandriani. Ia akhirnya menjadi bagian dari perseteruan berdarah antara pemerintah dan Adam Sulaiman. Ia benar-benar telah meletakkan lehernya pada konflik yang tak seharusnya ia rasuki.

Tetapi, pilihan apa yang ia punya?

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!