15 – Restart The Fight [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Markas Besar PIN, Jakarta
15.34

Mayjen Riyadi melampiaskan amarahnya. Ia mengentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja, menciptakan perasaan getir pada siapa pun yang mendengarnya. Di sore yang cerah itu, hatinya kelabu.

Riyadi sedang tak ingin beramah-tamah, tak seperti biasanya. Ia kecewa pada kedua bawahan terbaiknya saat itu, yakni Kapten Johan dan Hana Yuriska. Kedua sosok tersebut telah dipercaya oleh Riyadi untuk membekuk Adam secara rapi dan terstruktur, namun yang terjadi justru timbul konflik horizontal antara Johan dan Hana. Detasemen Sandi Negara bahkan menjadi tumbal atas konflik kedua petinggi Operasi Antisakti 2.0 tersebut, puluhan personel DSN kabarnya kini harus mendekam di rumah sakit karena mengalami luka dalam.

Presiden Darsono mendengar kabar tak mengenakkan tersebut, tentu saja. Ia pun menegur Mayjen Riyadi untuk bertanggungjawab atas kekacauan yang ditimbulkan oleh Johan dan Hana. Beruntung ia tidak mencopot Riyadi sebagai kepala PIN, ia masih menaruh kepercayaan yang besar pada Riyadi untuk melancarkan rencananya.

“Kalian mempertaruhkan jabatanku di depan presiden, kalian dengar itu?” tukas Riyadi. Suaranya terdengar sangat tenang, tetapi gesturnya tampak sangat mengintimidasi. “Kalian juga hampir saja memutus hubungan persahabatanku dengan Brigjen Dharma, kepala Detasemen Sandi Negara. Puluhan anak buahnya kini masuk rumah sakit, tahu?” ujarnya.

“Jenderal, mohon dipahami bahwa aku hanya berusaha mempertahankan Bu Verani dan putranya. Mereka adalah tokoh kunci yang akan mengantarkan kita lebih dekat kepada Adam—” sergah Hana, namun terpotong.

“Dan kau sama sekali tidak mempertimbangkan keselamatan orangtuaku, Hana. Kau menculik mereka di saat Adam tengah membidik kepala orangtuaku! Beruntung Adam masih punya kesabaran untuk menunggu, kalau tidak, orangtuaku pasti sudah tiada!” tukas Johan.

“Kapten, aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak perlu khawatir—”

“Tidak perlu khawatir!? Kau bahkan tidak bisa menemukan lokasi si pembidik sampai detik di mana Adam membatalkan niat gilanya! Masih mau berkilah!? Tahi kucing!”

“CUKUP!” Riyadi menggebrak mejanya sekali lagi. Ia melantangkan suaranya, seakan mengaum. “Jika perkelahian kalian tak bisa berhenti, aku akan menyingkirkan kalian dan mencari orang baru yang benar-benar mau berkolaborasi dengan baik untuk meringkus Adam! Kalian mengerti!? Kusingkirkan!”

Hana dan Johan pun terdiam, berhenti melayangkan argumen-argumen yang terus berulang sejak dua hari belakangan. Mereka lantas menatapi sang jenderal yang mulai menampakkan kerut-kerut kemarahan. Riyadi tak senang dengan sifat kekanak-kanakan kedua anak buahya.

Namun, Johan juga tak senang. Ia merasa dipojokkan, padahal dialah yang hampir menjadi korban keganasan Adam. Ia pun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu mengembuskan napas panjang. “Dengar, Jenderal. Aku sebenarnya tak peduli dengan keputusanmu. Operasi ini sudah merugikan orangtuaku. Mereka berdua menghadapi penjahat segila Adam dan kau hanya mengirim bocah-bocah ingusan dari Divisi Istimewa untuk menjaga keduanya. Jika kau mau menyingkirkanku, silakan, aku akan dengan senang hati meninggalkan operasi terkutuk ini. Tetapi … aku ingin kau tahu sebelum kau memecatku, memanggangku, atau apalah … ”

Johan mengeluarkan sebuah tablet dari dalam saku jaketnya. Ia lantas meletakkan tablet itu di atas meja Riyadi. “Aku ingin kau tahu bahwa aku tak pernah meninggalkan tugas demi persoalan pribadi.”

“Apa ini, Johan?” Riyadi mencoba meredam amarahnya, lalu menatapi layar tablet yang bertengger di atas mejanya. Ia melihat sebuah dot berkedip di atas sebuah peta digital.

“Sebelum aku dibekuk oleh DSN dan berpisah dengan Verani, aku menyuruh Verani dan Patih untuk memakan permen dari laboratorium PIN yang ternyata mengandung nanochip. Seseorang di laboratorium sengaja memberikannya kepadaku untuk mengetes sejauh mana kemampuan permen nanochip tersebut,” kata Johan. “Ini masih versi alpha, kata si ilmuwan. Tetapi kurasa nanochip-nya sudah mampu memancarkan sinyal dengan baik. Kau tak perlu takut kehilangan jejak Adam lagi. Dapatkan Verani, maka kau akan mendapatkan Adam. Bukan begitu?”

Seketika itu, ruangan kerja Riyadi menjadi teramat sunyi. Taktik rahasia Johan sanggup membungkam segala argumentasi yang sempat memanas. Hana pun terbelalak menatapi hasil kerja Johan, ia bahkan tak pernah berpikir sampai sejauh itu untuk mendapatkan Adam.

“Jadi, pikir lagi, Jenderal. Siapa yang kau percaya di antara kami? Hana kehilangan Verani dan hampir saja membuat orangtuaku terbunuh. Sedangkan aku mampu mendapatkan Verani tanpa harus susah-susah menculiknya dan tanpa harus meminta DSN melakukan aksi konyol, kau bahkan bisa memonitor lokasi Verani dan Patih selama 24 jam penuh!” tukas Johan berapi-api. Ia lantas terdiam sejenak, lalu bertolak dari tempatnya berdiri. “Cukup sekian. Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Silakan kau gunakan hasil jerih payahku sesuka hatimu, Jenderal.”

Johan beranjak dari tempatnya. Ia keluar dari ruangan kerja Riyadi dengan amarah yang masih berkobar-kobar. Ia sudah tak peduli lagi pada jabatannya, pasrah, seakan tinggal menunggu Riyadi menyuruhnya angkat kaki dari PIN.

Pintu ditutup secara kasar. Kini tinggal Riyadi dan Hana yang tersisa di dalam ruangan. Keduanya saling tatap dengan ekspresi yang berbeda. Riyadi menatapi Hana dengan sorotan gusarnya, sedangkan Hana menatapi Riyadi dengan sorotan penuh rasa waswas.

“Kita tak bisa kehilangan Johan. Tak bisa. Ia terlalu berharga untuk kita lepaskan begitu saja,” ungkap Riyadi agak berbisik. “Kau, Hana, jangan menggila lagi seperti kemarin. Aku tahu kau banyak memanfaatkan jabatanmu untuk memanipulasi banyak orang, termasuk meyakinkan seorang analis untuk menutup jalur komunikasi Johan terhadap diriku,” lanjutnya. Ia sudah lebih tenang.

Hana menelan ludah. Ia khawatir akan kehilangan jabatan berharganya begitu saja. Riyadi memang sudah terdengar lebih tenang, tetapi ucapannya masih mengandung unsur intimidasi bagi Hana.

“M-maaf, Jenderal. Aku hanya ingin tugas ini bisa selesai sesegera mungkin. Verani terlalu berharga untuk kulepaskan, itu yang kupikirkan kemarin.”

“Johan adalah rekanmu, semestinya kau juga mempertimbangkan keputusannya. Ingat, Hana … dia bukan bocah ingusan, Johan adalah agen yang sangat berpengalaman. Meremehkan keputusannya akan berakibat fatal untukmu dan untuk kita.”

” … ”

“Mendapatkan Verani tak harus dengan cara menculiknya, Johan benar. Lihat hasil kerjanya ini … kau bahkan tak pernah berpikir untuk melakukan hal serupa kan? Lagipula … ” Riyadi mengembuskan napasnya. “Verani memang bukan target kita. Jangan lupakan itu, Hana. Ia hanyalah orang sipil yang kebetulan tinggal satu atap dengan Adam. Kita tak boleh memperlakukannya seperti kriminal sampai ada bukti bahwa ia membantu Adam melakukan kriminalitas. Bisa dipahami?”

“B-baik, Pak. Maafkan aku. Apa yang bisa kulakukan, Pak?”

“Untuk sementara, kita monitor dulu pergerakan Verani. Jangan terburu-buru. Aku ingin melihat polanya terlebih dahulu.”

“Bagaimana dengan Johan, Pak? Apakah aku harus menemuinya empat mata?”

“Ya, sebaiknya kau minta maaf padanya. Kau harus merestorasi hubungan baik dengannya, ajaklah ia makan malam atau semacamnya. Aku juga akan berbicara dengannya, nanti. Tetapi, prioritasku saat ini adalah tidak menampakkan kekacauan di depan presiden; aku perlu menetralkan suasana dan tetap meraih kepercayaannya.”

Hana menegang. Ia menahan napasnya selama beberapa saat. “Operasi ‘itu’ … sudah akan masuk tahap kedua ya?”

“Benar, Hana. Oleh karenanya aku minta kita tidak ‘berisik’ dan membuat presiden kesal.”

“Hmm. Kau masih tidak mau memberitahukan tujuan utama Operasi Antisakti 2.0 ini kepada Johan, Jenderal? Ia adalah bagian dari tim dan salah satu tugas utama kita adalah untuk memastikan bahwa ‘rencana’ presiden bisa berjalan dengan mulus.”

Riyadi menatapi Hana selama beberapa saat. Terdiam. Benaknya meronta. “Johan memang loyal, tetapi tak seloyal itu. Aku pernah menjadi atasan langsungnya selama beberapa tahun. Ia bukan tipe orang yang bisa kita ajak bermain kotor, ia prajurit jujur. Dan operasi kotor seperti ‘itu’ … kurasa ia akan lebih memilih menembak kepalaku jika ia sampai mengetahuinya.”

Hana menelan ludah. “Lantas mengapa kita mempertahankannya?”

Riyadi lagi-lagi mengembuskan napas panjang. Seakan enggan memberikan pemaparan. “Karena ia efektif, Hana. Efektif. Kita hanya memanfaatkan efektivitasnya dalam beroperasi.”

***

Pegunungan Kendeng, Kabupaten Jombang
15.43

Pasca berakhirnya konflik panas antara Kapten Johan, PIN, dan Adam, Verani dan Patih terpaksa berpindah lagi ke tempat yang jauh dari jangkauan pemerintah. Kali ini, mereka pindah ke tempat tinggal yang dulu pernah digunakan oleh seluruh penggagas Project SAKTI untuk melakukan pertemuan rahasia. Tetapi, safehouse tersebut kini tak punya fungsi apa-apa selain menjadi sarang serangga. Safehouse tersebut terbengkalai sejak meletus perang rahasia antara Operasi Antisakti dan Project SAKTI.

Rumah kecil yang berdiri di daerah pegunungan dan jauh dari jangkauan orang sipil tersebut berlokasi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Meskipun terletak di daerah timur, namun karena posisinya ada di pegunungan, udaranya masih terhitung sangat segar dan dingin. Verani dan Patih sekali lagi harus merasakan hidup di daerah dataran tinggi.

Hari itu, tepat sehari setelah Verani diselamatkan oleh Kapten Johan, Subject 09 dan Verani kembali bertukar kata di ruang tamu. Hanya saja, kali ini bukan untuk sekadar mengobrol. Subject 09 sedang berusaha mengungkapkan bagaimana perasaannya setelah tega meninggalkan Verani sendirian di rumah Subject 17.

“Verani … ” ujar Subject 09. “Aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu sendirian. Semestinya aku tak pergi. Semestinya aku menjagamu di rumah.”

“Hei, Adam. Tak apa-apa,” Verani tersenyum. “Jangan terlalu dipikirkan. Menuntaskan persoalan masa lalu yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun jauh lebih penting daripada mengkhawatirkanku. Lagipula aku tak apa-apa kan?”

“Ya, kau memang tidak apa-apa, pada akhirnya. Tetapi … aku tak bisa memungkiri fakta bahwa kau sempat ketakutan saat PIN datang ke rumah. Fakta itu sudah cukup untuk menumbuhkan perasaan bersalah pada diriku. Aku benar-benar tak menyangka PIN akan datang.”

“Jangan merasa begitu. Ini semua adalah bagian dari risiko pilihan yang kubuat. Aku memilih untuk tinggal bersamamu, itu tandanya aku harus siap menerima kenyataan-kenyataan yang tak pernah kuterima sebelum kita hidup bersama.”

Subject 09 terdiam sejenak, menatapi Verani begitu dalam. “Mengapa kau berubah pikiran, Ve? Sebelum aku pergi ke Maroko, kau bahkan memohon-mohon agar aku tak pergi. Sekarang kau terlihat begitu ikhlas menerima segalanya.”

Verani membuang muka, matanya menyorot ubin. Ia tak bisa menyembunyikan pikiran yang sebenarnya. “Entahlah … ”

“Karena Johan?” raut wajah Subject 09 sedikit berubah.

Verani bergegas menatapi Subject 09 dengan waswas. Ia tak mau pujaan hatinya salah paham. “Tidak, tidak. Bukan dia. Aku hanya tidak mau … tidak mau menjadi egois.”

“Egois? Egois kenapa?”

“Maksudku … aku sering memprotes dan mempertanyakan keputusanmu, padahal akulah yang meminta agar kau membawaku dan Patih ke dalam kehidupanmu. Bukankah itu egois? Aku tak mau seperti itu, aku ingin bisa menerima siapa dirimu seutuhnya dan apa yang kau lakukan untuk hidup.”

” … ”

“Lagipula, kau pergi ke Maroko memang untuk membereskan masa lalumu kan? Aku tak bisa menahanmu. Kalau aku ada di posisimu, aku mungkin akan melakukan hal yang sama.”

Subject 09 mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. “Maafkan aku, Ve.”

“Kau tak perlu—”

“Aku perlu. Aku perlu meminta maaf. Karena pada akhirnya aku tetap orang jahat yang membiarkan orang tak berdosa seperti kau dan Patih hidup bersanding dengan marabahaya.”

Verani membisu sejenak waktu. Ia masih tetap tak ingin membuat Adam merasa bersalah. “Adam, itu adalah pilihanku. Aku yang meminta, aku yang memohon. Kita sudah pernah membicarakan tentang ‘pilihan dan risiko’ ini sebelumnya. Tolong jangan merasa bersalah atas keputusan yang kubuat.”

“Aku tak merasa bersalah atas pilihan yang kau buat … ” jawab Subject 09 spontan. “Aku hanya merasa bersalah atas pilihanku sendiri.”

“Kok begitu? Pilihan … apa?”

“Pilihan untuk tetap membunuh pejabat-pejabat korup dan membuatmu berada dalam bahaya,” Subject 09 kembali menatap kedua mata Verani.

Verani tercenung. Lidahnya kelu. Benaknya tak mampu merangkai tanggapan yang lebih pantas. Yang terpikir olehnya hanyalah sebuah pertanyaan.

“Apakah kau akan berhenti memilih menjadi sosok seperti itu?” Verani ingin memastikan.

Subject 09 tak lekas menjawab. Ia sendiri terperangkap di dalam hasrat yang begitu kuat untuk kembali menebah sisi gelap politik negaranya. “Aku tak pernah tahu. Tak pernah punya jawaban yang pasti untuk pertanyaan semacam itu sejak terjadi insiden pembantaian Kampung Rimbun. Mungkin ya, mungkin tidak—”

“Sudahlah. Aku tak peduli pada pilihanmu, Adam,” sergah Verani. “Aku hanya mau hidup denganmu, aku mau serumah denganmu, aku mau jadi istrimu!”

Subject 09 terhenyak. Benar-benar terhenyak. Kedua matanya membelalak dan dada bidangnya seketika mengembang. Napasnya tertahan selama beberapa saat. Tak pernah sedikit pun ia membayangkan Verani akan mengungkapkan perasaannya begitu gamblang. Syok.

“UWAAA! Uhm … maksudku … maksudku … maksudku menerimamu apa adanya, begitu! Aku salah bicaraaa! Aduuuuh! Aduh! ADUH! Adaaam! Kamu tak dengar kan!? Jangan diingat-ingat ya, aku salah berbicara!”

Sesaat kemudian, otot-otot Subject 09 yang sempat menegang kembali meregang. Ia sedikit gemetar, namun pada akhirnya ia pun tersenyum. Senyumannya begitu merekah, ia tak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya. Ia tak menjawab, malah bangkit dari tempat duduknya.

Verani terheran dengan diamnya sang pujaan hati. Ia pikir Adam kecewa dengan kata-katanya. Tetapi, tiba-tiba saja Adam mengusap kepalanya dengan lembut. Kali ini Verani yang dibuat syok.

“Maaf jika aku belum cukup kuat untuk keluar dari lingkaran setan ini. Aku tak bisa meninggalkan misteri Kampung Rimbun ini begitu saja. Aku sadar, investigasi yang kulakukan bersama dengan Felicia akan mendatangkan banyak masalah, tetapi aku akan melakukan yang terbaik untuk menjagamu dan menjaga Patih.”

“A-aku bisa mengerti itu, Adam.”

Subject 09 pun mengangkat tangannya dari kepala Verani. “Oleh karenanya … maukah kau menunggu sampai semua permasalahanku selesai?”

Verani terbelalak. Ia menatapi kedua mata Subject 09 begitu dalam. Hendak tersenyum begitu lebar, tetapi ia tak mau terlalu percaya diri. “Maksudmu … menunggu untuk apa?”

Subject 09 tersenyum. “Untuk sesuatu yang kau minta aku untuk melupakannya.”

“A … a … ” Verani tak bisa melepaskan sepatah kata pun untuk jawaban Adam. Jantungnya berderap seperti kesetanan, bulu romanya bergidik tak karuan. Jawaban dan tatapan Adam seketika membuatnya terbius oleh kebisuan.

***

15.44

Di ruangan sebelah, Subject 17 tampak sedang memindai Patih dengan semacam detektor logam. Ia memindai bocah pendek tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Patih sama sekali tak berkomentar selama terjadi aktivitas pemindaian, ia hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan bibi angkatnya.

Tak lama, Felicia pun menyudahi pemindaiannya terhadap Patih. Ia meletakkan detektor di atas kasur seraya menghela napas panjang. Tak puas. Hasilnya tak sesuai dengan ekspektasinya.

“Jadi … apakah kau menemukan transmitter pada tubuhku, Bibi Felicia?” tanya Patih.

“Tidak,” Subject 17 menundukkan wajahnya dengan luruh. “Sama sekali tidak.”

“Bukankah … itu bagus?”

“Tidak, Patih. Justru itulah yang membuatku khawatir. Johan mungkin bodoh dalam urusan analisis, tetapi ia sama sekali bukan orang bodoh dalam persoalan teknis.”

“He? Bagaimana itu maksudnya?”

“Maksudku ia tak mungkin melepaskanmu begitu saja, karena ia bukan prajurit bodoh. Ia pasti meninggalkan sesuatu agar bisa melacak keberadaanmu. Tetapi apa?”

“Hmm, begitu … ” Patih duduk di samping bibi angkatnya. “Aku sama sekali tidak ingat dan tidak merasa ia menempelkan transmitter pada tubuhku.”

Subject 17 mengembuskan napas panjang. Antara pasrah dan tak rela. “Kapten sialan itu … ” bisiknya seraya memijit kening.

Patih menatapi Subject 17 sejenak. Terheran. “Bibi … aku ingin bertanya kepadamu,” ujarnya, lalu menunda ucapan. “Apakah kau masih melihat Kapten Johan sebagai orang jahat?”

Subject 17 seketika menoleh ke arah Patih. Membisu. Benaknya tengah merangkai jawaban yang tepat. “Tidak,” jawabnya yakin. “Aku tak pernah berkata bahwa ia adalah orang jahat.”

“Tetapi kau tampak memusuhinya.”

“Karena ia salah; salah menaruh dukungan, salah melihat kenyataan. Tetapi … orang yang berbuat salah tak otomatis menjadi orang jahat. Salah dan jahat itu dua hal yang berbeda.”

“Hmm … ” Patih tercenung. “Kau tahu? Kupikir akan sangat keren jika Bibi Felicia dan Paman Adam bersekutu dengannya. Ia juga sangat ahli dalam bertarung, aku ingat sewaktu ia mengalahkan sepuluh orang sekaligus. Keren sekali.”

Subject 17 segera menepuk pundak Patih dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ia boleh saja ahli dalam pertarungan jarak dekat, tetapi persekutuan antara kami takkan terjadi. Saat kau dewasa nanti, kau akan mengerti bahwa orang dewasa punya versi kebenaran yang berbeda-beda. Itulah yang terjadi padaku dan Kapten Johan, kami punya penafsiran yang berbeda-beda tentang kebenaran.”

“Penafsiran tentang … kebenaran. Jadi kalian tak sepakat tentang mana yang benar dan mana yang salah ya?”

“Tepat. Itulah mengapa kerjasama dengan Kapten Johan takkan pernah terjadi.”

Patih menghela napasnya. Ia pun tertunduk penuh renungan. “Aku jadi takut … ”

Subject 17 terdiam sejenak. “Takut? Takut kenapa?”

“Aku takut aku akan memiliki versi kebenaran yang berbeda dari Bibi Felicia suatu saat kelak. Bermusuhan karena berbeda pendapat seperti itu pasti tak enak rasanya.”

Felicia mengernyitkan kening. Ia tak menyangka pemikiran seperti itu akan terlintas di dalam benak bocah polos seperti Patih. “Tidak, tidak. Jangan berkata seperti itu. Aku takkan membiarkan hal itu terjadi, Patih. Aku sudah kehilangan Tenma dan rasanya menyakitkan. Aku takkan membiarkan hal itu juga terjadi padamu.”

“Tenma? Bibi Tenma asisten Kapten Johan?”

“Benar … ” ujar Subject 17 luruh. “Ia adalah saudariku. Bukan saudari sedarah, memang. Tetapi kami sudah saling mengenal sejak kami masih menggunakan popok. Sekarang … ia bahkan tak bisa mengingat siapa diriku. Sialan, itu membuatku marah,” lanjutnya seraya menopang wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Oh … ”

“Kita berdua mungkin baru saja saling mengenal, Patih. Tetapi kau adalah murid pertamaku. Aku takkan membiarkan kau berteman dengan orang-orang gila yang jauh lebih gila daripada aku dan Paman Adam.”

“Hmm,” angguk Patih. “Jadi aku ini terjebak di antara orang-orang gila.”

Subject 17 menoleh, lantas tertawa singkat. Ia pun menepuk punggung anak didiknya. “Kami mungkin gila, tetapi tak cukup gila untuk membuatmu hidup seperti kami, Patih. Kau pantas mendapatkan hal yang lebih baik daripada ikut berlari menghindari kejaran pemerintah, seperti bersekolah, misalnya.”

“Wah, benar juga. Aku sampai lupa tentang sekolah. Tapi bagaimana caranya aku bersekolah kalau begini keadaannya?”

“Aku akan memikirkan jalannya. Bersabarlah. Ini semua adalah konsekuensi dari pilihan ibumu dan Paman Adam. Sementara kau tak bisa bersekolah, aku yang akan menjadi gurumu. Aku akan mengajarkanmu banyak hal, tak hanya soal baku hantam.”

Patih menatapi Subject 17 dengan berbinar-binar. Ia tampak bahagia mendengar pernyataan bibi angkatnya. Tak lama setelahnya, ia pun memeluk Subject 17. “Terima kasih, Bibi Felicia. Kau adalah bibi galak terbaik sedunia.”

Subject 17 tersenyum simpul. Tersipu, namun di saat yang sama ia juga merasa lucu dengan ucapan Patih. “Bibi galak terbaik … apalah,” renungnya membatin.

***

Masih di hari yang sama dan di tempat yang sama, Subject 09 dan Subject 17 bertemu selagi Verani dan Patih bercengkrama di ruang tengah. Mereka merenungi langit malam di teras rumah. Sepi, rumah dinas Project SAKTI itu benar-benar jauh dari jangkauan manusia. Satu-satunya yang meramaikan suasana adalah nyanyian para serangga malam.

Subject 09 menyalakan rokoknya, lalu mengembuskan asapnya perlahan. Ia lantas menengadah ke arah langit. “Jadi, apakah kau berhasil menemukan transmitter pada tubuh Patih?”

“Tidak, Nine. Verani juga tidak. Mereka bersih,” Subject 17 menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sialan. Padahal aku yakin sekali si kapten sialan itu menaruh transmitter pada Verani dan Patih. Ia tak mungkin melepaskan Verani dan Patih begitu saja kan?”

“Hmm,” Adam tak bergegas merespon, benaknya tengah menggali hipotesis. “Kurasa PIN punya teknologi transmitter baru yang tak bisa terdeteksi oleh detektor biasa. Kau ingat sewaktu aku menangkap Denis Sumargana?”

“Ya. Kau menceritakan itu kepadaku. Ada apa dengannya?”

“Aku membawanya ke tempat yang jauh dari jangkauan pemerintah. Ponselnya juga sudah kubuang jauh-jauh. Aku juga sudah menggeledahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki; tak ada transmitter. Akan tetapi, aparat bisa mengetahui lokasi di mana aku menginterogasi Denis secara akurat. Kurasa ada teknologi baru yang tak kita ketahui, Seventeen. Teknologi pelacak yang tak bisa dilacak.”

“Sialan … semacam nanochip?”

“Mungkin. Aku tak tahu.”

“Brengsek! Aku tak pernah terpikir tentang hal semacam itu sebelumnya. Itu berarti pelarian kita hanya akan berakhir sia-sia. Mereka akan datang kemari cepat atau lambat.”

“Dengan kekuatan yang jauh lebih besar, bisa jadi.”

Subject 17 menggeleng-gelengkan kepala seraya mengerat giginya. Ia merasa tersudut. “Kita harus menahan mereka sebelum mereka datang kemari. Menyerang adalah satu-satunya jalan, kita tak bisa diam dan bertahan. Kasihan Verani dan Patih, mereka bisa-bisa menjadi tumbal atas segala kekacauan ini.”

“Aku juga benci keadaan seperti ini. Tetapi ini adalah pilihan Verani dan ia bersikukuh takkan mengubah pendiriannya.”

“Terserahlah kalau soal itu, aku tak punya urusan dengan kesepakatan yang kalian buat. Yang kupikirkan adalah bagaimana cara kita melindungi dua orang sipil di rumah ini. Kita harus memikirkan operasi ofensif yang berikutnya!”

“Begini, begini … kita belum tahu apakah Johan benar-benar menanamkan nanochip pada Verani dan Patih. Itu cuma hipotesis. Kita tak bisa menyerang begitu saja tanpa bukti yang valid. Jadi, untuk memastikan apakah Verani dan Patih benar-benar dipasang nanochip, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menginterogasi orang yang kira-kira punya pengetahuan tentang teknologi semacam itu.”

Subject 17 menatapi saudaranya sejenak. “Hmm, satu-satunya yang terbesit di kepalaku adalah Divisi Riset dan Pengembangan PIN.”

“Aku juga berpikir demikian. Kalau bisa tangkap ilmuwan yang punya jabatan paling tinggi di Divisi Riset dan Pengembangan PIN.”

Subject 17 mengusap-usap dagunya. Agak gelisah. “Bagaimana jika seandainya Johan datang kemari sebelum kita berhasil menangkap ilmuwan PIN? Aku khawatir ia akan membawa pasukan yang lebih besar dan mematikan. Kita takkan bisa melawannya jika ia membawa pasukan kavaleri, misalnya.”

Subject 09 tercenung. Ia tertunduk seraya mengembuskan asap dari mulut dan kedua rongga hidungnya. “Kita butuh sekutu, Seventeen. Sekutu yang kuat. Sekutu yang paling tidak bisa menyeimbangkan keadaan.”

“Sekutu … macam apa? Kita berbicara tentang kekuatan tempur lho. Asumsikan bahwa teknologi nanochip itu benar dan pemerintah telah mengunci posisi kita sejak kemarin. Mereka takkan mungkin mengerahkan kroco dengan perlengkapan butut kan? Rencana mereka pasti lebih matang dan kekuatannya bisa jadi lebih mematikan. Skenario terburuknya: mereka bawa pasukan kavaleri, seperti kataku tadi.”

“Entahlah … ” Subject 09 merasa tersesat dalam tanda tanya. Ia sendiri tak tahu sekutu macam apa yang bisa ia ajak untuk ikut bertarung melawan keculasan pemerintah. “Untuk sekarang, yang paling penting adalah memastikan bahwa Verani dan Patih tidak dimonitor oleh pemerintah. Karena jika mereka benar-benar sudah dimonitor, itu akan merepotkan operasi kita dalam mengetahui kebenaran Kampung Rimbun.”

Subject 17 menghela napas panjang. Ia sendiri tak memiliki jawab atas pertanyaannya. “Baiklah. Fokus ke Verani dan Patih. Operasi penculikan ilmuwan PIN ini berarti harus dieksekusi secepatnya sebelum PIN datang kemari. Aku saja yang pergi. Kau tinggal di sini, hibur Verani dan Patih. Aku yakin mereka masih syok.”

Tak ada respon apa-apa dari Subject 09, ia sekadar membisu dan menikmati batang polusinya tanpa henti. Tampaknya, ia benar-benar tersesat dalam misteri. Terpojok oleh realitas.

***

Dropbass Pub, Jakarta
22.03

Bukan sebuah klub malam yang besar, memang. Namun karisma Dropbass Pub sudah tersohor hingga ke seluruh sudut kota Jakarta. Tempat itu termasuk salah satu klub paling elit seibukota, yang datang berkunjung pun biasanya dari kalangan pejabat dan konglomerat. Tak seberapa besar, memang, namun klub tersebut memiliki daya tarik yang tak bisa direngkuh oleh sembarang orang.

Malam itu, tampak seorang pria terduduk luruh di belakang meja bar. Ia tak pernah mau menengadahkan kepalanya, kecuali untuk menyeruput bir yang dihidangkan di atas mejanya. Ia terlihat stres, seakan sedang memikirkan masa lalu yang pahit. Atau sedang berupaya mengusir malu akibat kesalahannya.

Tak ada yang tahu siapa dirinya, kecuali beberapa pejabat yang kebetulan juga sedang bertandang ke klub tersebut. Berdasarkan desas-desus yang beredar selama beberapa detik di dalam klub, pria kesepian tersebut diduga merupakan mantan ajudan Rahmat Sukoco, Menteri Pertahanan yang tewas di tangan Adam Sulaiman. Jika desas-desus itu benar, maka sang pria kemungkinan besar memang sedang mencoba mengusir perasaan bersalah akibat gagal melindungi bos besarnya.

Tak lama kemudian, datang seorang perempuan berambut pendek dan berwajah manis duduk di samping tempat sang pria duduk. Wanita itu bermata sipit, namun begitu menarik dipandang mata. Ia memang tak seksi seperti wanita-wanita penggoda di dalam klub tersebut, namun ia benar-benar menarik. Cantik sekali.

Dengan wajah yang berseri-seri, ia mengangkat tangannya dan langsung mencuri perhatian sang bartender. “Aku minta susu murni ya,” ujarnya memesan hidangan yang tak terduga.

Sang bartender sempat menyeringai singkat, tetapi ia segera mengiyakan permintaan pelanggan cantiknya tanpa banyak tanda tanya.

“Heh, masih ada ya orang yang meminum susu di jaman edan seperti ini?” sang pria yang diduga sebagai mantan pengawal Menhan itu pun berkomentar.

“Oh … ” si wanita berwajah oriental menoleh. Ia lantas tertawa malu. “Tentu saja. Susu itu baik untuk tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah yang tepat,” jelasnya.

“Aku tahu itu. Tetapi aneh rasanya melihat orang berkunjung ke klub malam hanya untuk memesan segelas susu. Di minimarket kan banyak,” goda sang mantan pengawal.

“Mengapa tidak?” si wanita menjawab dengan penuh percaya diri. “Aku punya hak untuk meminum susu di mana saja. Tidak ada yang melarang. Lagipula aktivitasku tidak merugikan orang lain kok, hihihi,” lanjutnya. Ia melawan argumentasi lawan bicaranya dengan santai.

Sang pria menggelengkan kepala seraya menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Opininya terkalahkan. Skakmat. “Tak bisa dipercaya … ” gumamnya.

Seketika itu suasana pun menyepi. Sang bartender kemudian datang dan meletakkan segelas susu sapi di hadapan si wanita berwajah oriental. Benar-benar susu sapi murni yang ditambahkan dengan beberapa bongkah es batu.

“Hei … ” sang pria hendak kembali membuka percakapan. “Apakah kau sering datang kemari?”

“Hmm?” si wanita sedang menikmati susu sapinya, tak bisa segera merespon. Ia lantas meletakkan gelasnya di atas meja. “Kadang-kadang saja, tidak terlalu sering. Ada apa?”

“Unggg … ” sang mantan pengawal terkesima menatapi wajah si wanita yang begitu cantik. “Tidak apa-apa. Kupikir itu akan merepotkan bagimu.”

“Hmm? Mengapa aku harus kerepotan?”

“Yaa … bayangkan saja. Seorang wanita cantik sepertimu datang sendirian ke klub malam seperti ini, kau tentu akan menjadi target pria-pria nakal di sini. Kau akan mencuri perhatian mereka dan akhirnya mereka akan menggodamu.”

“Oh, hahaha … ” si wanita tergelak seraya menepuk tangan sang mantan pengawal. Ia tersipu. “Menggoda seperti apa contohnya? Seperti dirimu saat ini? Hehe.”

Sang pria mengubah posisi duduknya, ia hendak merayu si wanita lebih jauh. “Mungkin. Mungkin tidak. Aku menghargaimu.” Sang pria lantas menyodorkan jabatan tangan.

“Hmm? Apa maksudnya ini?” tanya si wanita memastikan. Wajahnya tetap manis.

“Arifin. Perkenalkan, namaku Arifin.”

“Oh … ” si wanita menyambut jabatan tangan sang mantan pengawal. “Ara.”

“Ara? Itu namamu?”

“Yep.”

“Nama yang bagus, cocok dengan penampilanmu. Dan … namamu agak mirip dengan namaku. Mungkin kita memang berjodoh?”

“Ahahaha. Mirip bagaimana? Tidak juga ah.”

“Mirip. Nama kita berdua sama-sama diawali dengan ‘Ar … ‘, bisa jadi kita berdua memang berjodoh,” goda Arifin.

“Hahaha. Astaga, tuan muda … apakah kau selalu merayu wanita dengan cara-cara picik seperti ini? Kau pasti sudah berhasil mengajak puluhan wanita tidur denganmu dengan rayuan murahan semacam itu ya, hihihi.”

“Tidak juga,” Arifin berusaha meyakinkan Ara. “Aku hanya akan tidur dengan wanita yang memang benar-benar tepat dan ditakdirkan untukku.”

“Ah, gombal!” Ara menepuk pundak Arifin seraya tersenyum lebar. Ia kemudian menyeruput susu sapinya kembali.

Sang pria terdiam, masih terpesona menatapi keindahan di hadapannya. “Ara, apakah kau benar-benar sendirian? Tak punya keluarga atau pacar atau kerabat-kerabat terdekat?”

Ara meletakkan gelasnya lagi. “Tidak ada. Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil. Pacar? Haha, aku tak pernah punya pacar sejak dulu. Kerabat? Tidak ada yang benar-benar dekat denganku. Jadi, singkatnya, aku adalah serigala penyendiri, hehe.”

“Hmm … ” Arifin mengangguk-angguk. Kesempatan, pikirnya. “Kau pasti kesepian ya.”

“Ah, sudah biasa. Hehehe. Bukan perkara besar. Bagaimana denganmu, Arifin?”

“Aku?” Arifin mengusap-usap tengkuknya. Ia merasa Ara telah tertarik padanya. “Aku ini anak rantau, jauh dari orangtua. Aku juga tak pernah lagi punya pacar sejak aku masuk militer–”

“Wow! Tunggu sebentar. Kau adalah tentara?” Ara menyela lawan bicaranya.

“Ya … dulunya. Apakah itu aneh?”

“Haha, tentu saja tidak. Kurasa justru keren,” puji Ara. “Jangan-jangan kau ini benar-benar pengawal Pak Rahmat ya?”

Ekspresi Arifin sontak berubah. Wajah yang semula berseri-seri itu kini berubah menjadi penuh kerut-kerut tanda tanya. Ia terheran dengan pernyataan Ara, rasanya ia tak pernah mengatakan apa-apa tentang sejarahnya menjadi mantan ajudan Menhan.

“Jangan salah sangka, aku mendengar orang-orang di meja depan membicarakanmu. Maaf jika aku membuatmu tak nyaman, Arifin,” ujar Ara tersenyum.

Arifin mengembuskan napas panjang. Lega. “Oh, kupikir kau adalah mata-mata atau semacamnya,” katanya nyengir.

“Haha, tidak mungkin. Maaf ya sudah membuatmu khawatir.”

“Tak apa-apa, Ara. Aku hanya agak trauma mengingat masa laluku dengan Menhan.”

“Hoo, jadi itulah kenapa kau datang kemari dan minum-minum. Kau ingin meredam perasaan bersalahmu atas … insiden yang tak mengenakkan beberapa waktu lalu.”

“Begitulah … ” Arifin menundukkan kepalanya. “Sebaiknya kita tak membicarakan soal masa laluku sebagai ajudan Menhan.”

“Oh, mengapa? Aku justru sangat tertarik, Arifin,” tutur Ara. “Aku sangat menyukai dunia politik, kau tahu?” lanjutnya berbisik.

Arifin menyipitkan kedua matanya. Jantungnya kembali berderap. Ia merasa ada yang salah dengan cara berbicara Ara. Ara tak lagi terdengar seperti wanita lajang metropolitan, ia lebih terdengar seperti investigator yang memaksa orang untuk berbicara.

“Ara, maaf sebelumnya … apa pekerjaanmu?” tanya Arifin penuh curiga.

“Aku? Aku bekerja sebagai analis,” Ara kembali berseri-seri, kembali menjadi gadis lajang yang terlihat elegan.

“Analis!?”

“Iya. Analis finansial. Aku bekerja di bank bersama dengan para akuntan. Ada apa, Arifin?”

“Analis … jadi kau sudah terbiasa menganalisis sesuatu. Paling tidak memiliki dasar-dasar intelijen yang mumpuni.”

Ara terdiam sejenak. Ia tetap tersenyum, tetapi mulai memperhatikan segenap kerutan kecurigaan pada wajah Arifin. Ia merasa telah mendesak lawan bicaranya hingga mendekati titik kepercayaan terendah.

“Oh, tentu … ” aku Ara. Ia sama sekali tak merasa waswas. “Namanya juga analis. Wajar kan jika aku terbiasa menginvestigasi berbagai macam persoalan hingga detil?”

“Tetapi … kau tampak seperti ingin menginvestigasi persoalan di luar pengetahuanmu, Ara.”

“Tidak juga, hehe. Menjadi analis finansial bukan berarti aku tak punya wawasan tentang persoalan selain keuangan kan?”

” … ” Arifin menurunkan tangannya dari atas meja, berpindah ke arah pinggul.

“Kau tahu, Arifin?” tanya Ara santai. “Tak hanya analis finansial, kadang-kadang aku juga bekerja sebagai analis yang lain.”

Arifin merogoh gagang besi di balik celananya. Waspada. Curiga.

“Analis intelijen, misalnya. Seperti orang suruhan PIN.”

Situasi sontak menegang. Arifin tiba-tiba saja mencabut pistol dari balik celananya. Ia berusaha menodongkan senjatanya ke tubuh Ara. Sayangnya, gagal.

BLAM! Peluru melesat, tetapi tak mengenai apa-apa selain ketiadaan. Ara menepis tangan Arifin dengan cekatan, seakan-akan tahu bahwa Arifin akan menyerangnya. Beberapa saat kemudian, Ara bergegas menggenggam leher botol minuman yang sedari tadi bertengger di atas meja.

PRAAAK!

Tanpa sedikit pun keragu-raguan, Ara menghantam botol yang tengah ia genggam ke kepala Arifin. Botol tersebut langsung pecah berkeping-keping, sementara kepala Arifin terluka akibat terkoyak beling.

Arifin lengah, tentu saja. Ara segera meraih kepala Arifin dan membenturkannya ke atas meja. BRAAAK! Tumbukan keras tersebut sukses membuat Arifin terhuyung dan tersungkur luruh di atas ubin.

Pada kondisi yang serba tak menguntungkan tersebut, Arifin masih sempat melakukan perlawanan. Ia mengentakkan kakinya ke tubuh Ara. Akan tetapi, serangannya tak berarti apa-apa. Ara berhasil memblokir tendangan Arifin dengan kedua hasta yang ia angkat setinggi dada.

Arifin tampaknya memang tak berniat melukai Ara dengan tendangannya, hanya berniat mendorong Ara menjauhi dirinya. Ia lantas bangkit dari posisinya, dengan kepala berlumuran darah, seraya mencabut pisau kecil dari balik saku celananya.

Situasi semakin memanas. Arifin menyerang Ara secara membabi-buta. Ia menebas-nebaskan pisaunya tanpa henti. Hingga detik itu, tak ada orang yang berani menghentikan perkelahian sengit tersebut. Beberapa pengunjung klub pun langsung berhamburan keluar. Takut.

Perkelahian berlangsung alot selama beberapa saat sebelum akhirnya Ara menangkap pergelangan tangan Arifin dan memelintirnya dengan keras. Ara juga menyepak kaki Arifin hingga seluruh tubuh Arifin akhirnya terjatuh ke atas lantai. Arifin lagi-lagi dibuat lengah.

Namun demikian, Arifin menolak tunduk di hadapan lawannya. Masih dalam posisi yang tak menguntungkan, ia melepaskan pukulan ke wajah Ara. Serangan keputusasaan. Sayangnya, serangannya lagi-lagi digagalkan oleh Ara.

Dengan cekatan, Ara segera memblokir tinju Arifin, lalu kembali menggenggam pergelangan tangan Arifin. Ia lantas memutar tubuhnya, berbaring melintang di samping tubuh Arifin, lalu mengunci seluruh lengan Arifin di antara kedua kakinya. Armbar. Arifin tak bisa bergerak, ia terkunci. Kepalanya tertahan oleh kaki Ara yang melintang di atas lehernya, sedangkan tangannya berada dalam genggaman Ara.

KREK!

Tak lama kemudian, Ara menyentak sekaligus memelintir lengan Arifin dengan keras. Persendian Arifin sampai berbunyi karenanya. Dislokasi. Arifin pun menjerit hebat begitu merasakan kepiluan yang amat dahsyat di lengan kirinya. Tulangnya telah dipaksa bergerak ke arah yang salah dan takkan bisa kembali dengan sendirinya. Ia benar-benar dipecundangi oleh seorang wanita yang bahkan tak tampak seperti anggota militer.

Pertarungan Ara dengan Arifin telah usai, namun belum dengan para petugas keamanan Dropbass Pub. Tiga pria berbadan kekar tiba-tiba muncul dan menghampiri lokasi perkelahian secara tergesa-gesa, mereka lantas menodongkan revolver ke arah Ara yang saat itu terlihat paling bugar. “Angkat tangan! Angkat tanganmu!” seru ketiga anggota security tersebut.

Ara mematuhi perintah ketiga satpam, ia berdiri kokoh seraya mengangkat kedua belah tangannya.

Melihat Ara kooperatif dan tak bertindak agresif, salah satu petugas lantas menghampiri Ara. Ia berjalan mendekat seraya tetap membidikkan revolver-nya ke tubuh Ara. Ia pun mempercepat langkahnya, merasa yakin dapat membekuk Ara tanpa kepayahan.

Tetapi ia salah.

Begitu si petugas mendekat, Ara tiba-tiba bertolak dan menepis tangan si petugas. Bidikan si petugas pun jadi meleset jauh. Ara lantas menyikut wajah si petugas dengan keras, lalu mendorong tubuh si petugas ke arah petugas keamanan kedua yang berdiri tak jauh dari sana. Ara juga berhasil merenggut revolver si petugas sebelum si petugas terdorong dan menumbuk temannya sendiri.

Ara melanjutkan serangannya. Ia melempar revolver yang ada pada genggamannya ke arah petugas keamanan ketiga yang berdiri paling jauh di antara kedua satpam lainnya. Revolver berpuntir di udara, lalu menghantam batang hidung si petugas ketiga dengan keras. Pria berbadan besar itu seketika lengah, tak kuasa menahan pilu yang merajang di sekitar hidungnya.

Ara memanfaatkan keadaan, ia segera menghampiri si petugas ketiga dan membanting tubuhnya ke atas ubin. BUM! Serangan terjadi begitu cepat, si petugas bahkan tak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Revolver-nya pun sudah berpindah tangan, kini berada pada genggaman Ara.

Ketiga petugas keamanan segera mengurungkan niat untuk membekuk Ara. Belum sempat melawan balik, mereka sudah dihadapkan dengan adegan tak terduga lainnya: Ara telah membidikkan revolver-nya ke kepala si petugas ketiga yang tersungkur di atas ubin. Ara kemudian berujar, “Jika kalian tak tahu apa masalahku dengan mantan ajudan Menhan yang baru saja kuhajar, sebaiknya kalian berhenti dan pergi dari sini.”

Para petugas keamanan terdiam menatapi Ara.

“Aku takkan mengatakannya lagi. Ini bukan peringatan, ini adalah ancaman. Seperti ini contohnya jika kalian bersikukuh melawan … ” Ara menarik pelatuknya. Ia sama sekali tak merasa ragu-ragu, seperti sudah terbiasa menembak orang.

Para petugas keamanan terkesiap. Mereka tak menyangka Ara akan melepaskan tembakan. Sedangkan petugas ketiga, petugas yang masih berbaring di samping Ara, hanya bisa melenguh seraya menutupi telinga kanannya. Ternyata tembakan Ara tak melukainya, hanya membuat telinganya pengang. Timah panas yang dimuntahkan Ara bersarang beberapa senti tepat di samping telinga si petugas.

“Aku tak sedang bercanda. Maju selangkah, peluru berikutnya akan bersarang di antara kedua matanya,” ujar Ara tersenyum. Senyuman jahat.

Dua petugas keamanan yang berdiri di seberang Ara pun berjalan keluar dari klub. Takut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka bergegas angkat kaki dari tempat mereka berpijak. Begitu pula dengan si petugas ketiga. Sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya, ia berlari ketakutan keluar dari klub elit tersebut.

Kini tersisa Ara dan Arifin. Arifin yang sudah babak belur itu berusaha mengambil pistolnya yang tergeletak tak jauh dari sana. Akan tetapi, Ara tahu Arifin akan melakukan tindakan bodoh seperti itu. Ara lantas menghampiri tempat di mana pistol tersebut tergeletak dan menyepak pistol tersebut agar jauh dari jangkauan Arifin. Sesaat kemudian, Ara berjongkok dan mencekik leher Arifin, lalu menyeretnya hingga tersudut ke dinding meja bar.

“Aku bertanya secara baik-baik, tetapi kau justru bersikap agresif. Aku tak punya pilihan selain membela diri,” ujar Ara seraya tetap tersenyum.

“Anj … jing. Kau mata-mata. Aku … ugh … takkan memuntahkan apa-apa tentang bosku kepadamu, meskipun ia telah mati!”

“Hmm, tampaknya kau masih belum bisa move on dari pekerjaanmu sebagai ajudan Mayjen Rahmat. Dan melihat sikapmu yang begitu agresif, kurasa bosmu memang punya rahasia yang menarik. Aku sangat tertarik dengan rahasia itu.”

“Ugh! Mati saja kau! Kau … takkan mendapatkan apa-apa dariku!”

Ara tertawa kecil, menggoda Arifin, lalu menyikut wajah Arifin begitu keras. Arifin sekali lagi tersungkur, tetapi tak sampai pingsan. Ara pun bangkit dari posisinya dan  mengambil revolver milik salah satu petugas keamanan. Ia lantas membuang lima peluru dan menyisakan satu peluru di dalam silinder revolver.

“Klise, Letnan,” ucap Ara. “Kau tahu sudah berapa orang yang berlagak kuat sepertimu? Tak terhitung jumlahnya. Ujung-ujungnya mereka tetap memuntahkan informasi yang kubutuhkan. Itulah seni interogasi.”

Ara kembali berjongkok di hadapan Arifin. Ia mendudukkan tubuh Arifin yang semula tersungkur dan mencekiknya. Begitu posisi duduk Arifin telah kokoh, Ara segera menempelkan moncong revolver-nya pada kemaluan Arifin. “Mari kita bermain Russian Roulette … ”

CKLIK! CKLIK!

Tanpa secuil pun peringatan, Ara tiba-tiba menarik pelatuk revolver-nya sebanyak dua kali. Aksi itu sontak membuat Arifin terkesiap dan sempat menjerit singkat. Arifin tak mampu menyembunyikan ketakutannya lagi, kedua lututnya bahkan lemas akibat aksi tak terduga Ara.

“Waaah, kau beruntung sekali, Arifin! Dua tembakan awal sama sekali hampa. Malaikat pelindungmu bekerja keras ya, hihihi,” Ara tertawa seperti anak kecil. Wajahnya benar-benar imut saat itu. “Bagaimana dengan tembakan berikutnya? Kau masih punya tiga peluang lagi untuk selamat lho. Tetapi … apakah malaikat pelindungmu akan memberikanmu tiga peluang itu sekaligus?”

CKLIK!

Ara menarik pelatuknya sekali lagi, tetapi tetap tak ada timah panas yang melesat. Keberuntungan masih berpihak pada Arifin, tetapi keberuntungan itu semakin menipis, tinggal dua peluang lagi untuk selamat. Arifin harus merespon permintaan Ara jika tak ingin kemaluannya meledak secara tiba-tiba.

“O-oke! Oke!” Arifin menyerah. Ia menggenggam lengan Ara cukup keras. Takut. “Hentikan. Aku akan bicara.”

“Yeeey! Benar kan? Sudah kubilang tak ada orang yang benar-benar bisa lolos dari seni interogasi,” ujar Ara riang. “Setiap orang itu punya batasan, Letnan. Dan aku tahu batasan orang-orang sepertimu. Sedikit saja didesak, kau akan berkicau”

“B-baiklah, baiklah … a-apa yang sebenarnya ingin kau ketahui?”

“Almarhum bosmu, tentu saja,” Ara melonggarkan cekikannya. “Aku hanya ingin tahu apakah ia pernah membeberkan sesuatu kepadamu sebelum ia mati; sesuatu yang mengantarkannya pada kematian?”

“I-itu … tentu saja … ”

“Apa yang ia katakan?”

“K-Kampung Rimbun. Insiden pembantaian Kampung Rimbun.”

“Kampung Rimbun? Hmm. Mengapa?”

“Ia terlibat. A-aku tak paham detilnya, tetapi sebulan sebelum kematiannya, ia terus-menerus mengatakan bahwa ia menyesal bergabung dengan para pemilik ide pembantaian Kampung Rimbun.”

“Kampung Rimbun ya? Hmm, aneh sekali. Jadi karena insiden itulah ia dibunuh, begitu?”

“Ya … ”

“Kau yakin, prajurit tampan?” Ara mengelus dagu Arifin dengan telunjuknya.

Arifin sekadar mengangguk, enggan berkata.

“Dan ada di mana kau saat itu? Mengapa kau membiarkan bosmu tewas sendirian? Seharusnya kau juga ikut tewas, tahu! Hehehe.”

“A-aku ada di lokasi kejadian. Dari dua puluh pengawal, hanya lima yang selamat, aku adalah salah satunya.”

“Dalam keadaan kritis, pastinya.”

Arifin mengangguk lagi. Terlalu pahit baginya untuk mengenang masa-masa itu. Terlalu kelam, terlalu menyakitkan. “K-kau … Ara … siapa kau? Suruhan siapa? Kau tak terdengar seperti orang PIN. Mengapa kematian bosku penting untukmu?”

Ara tersenyum lebar, tak bergegas menjawab pertanyaan Arifin. Ia malah berdiri dan meregangkan seluruh persendian tubuhnya. “Mengapa penting? Um, tak tahu juga ya. Menurutmu kenapa?”

” … ”

Hening.

Tak lama, Ara pun mengungkapkan sebuah kebenaran dengan wajah yang berseri-seri. Pernyataan itu sontak membuat kedua mata Arifin terbelalak, menggelegarkan jantungnya. Bukan sebuah kabar yang bahagia, pastinya, tak sebahagia ekspresi Ara saat itu.

Ara lantas menutup sesi interogasinya. Ia menghajar kepala Arifin menggunakan gagang revolver-nya. Arifin langsung pingsan. Tergeletak tak berdaya.

***

Kampung Rimbun, Jakarta
23.37

Usai membuat kekacauan di Dropbass Pub, klub malam langganan para pejabat, Ara kini berdiri di pinggiran sebuah perkampungan yang telah kosong. Kampung Rimbun. Perkampungan tersebut merupakan salah satu perkampungan paling legendaris di Jakarta. Bukan hanya karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan laut, tetapi Kampung Rimbun juga telah dikenal sebagai surganya para begundal sejak beberapa puluh tahun terakhir.

Kini, Kampung Rimbun telah berubah menjadi perkampungan paling angker di Jakarta. Hampa dan luluh lantak. Para penghuninya tidak pergi secara natural, tetapi dengan sengaja dibunuh. Menurut media, pembunuhan skala besar yang terjadi di Kampung Rimbun adalah perbuatan Laskar Pembebasan, sebuah ormas radikal yang telah berubah menjadi kelompok teror. Tetapi, menurut penuturan segelintir orang yang bekerja di bidang hankam, pembantaian tersebut justru dieksekusi oleh agen-agen pemerintah, sedangkan Laskar Pembebasan hanyalah kambing hitam. Pembantaian yang terjadi beberapa bulan lalu itu masih menyisakan horor bagi segenap rakyat Indonesia, karena terjadi di jantung negara secara tiba-tiba.

Dan di sinilah Ara, berdiri menatapi perkampungan yang telah berubah menjadi sumber fantasi para perangkai kisah horor. Kampung Rimbun benar-benar luluh lantak, di beberapa tempat bahkan masih terdapat bercak darah yang telah mengering. Hingga detik itu, belum ada satu pun orang yang berani untuk membereskan tempat itu secara sungguh-sungguh. Belum ada. Membayangkan apa yang terjadi pada penduduk Kampung Rimbun saja sanggup membuat bulu roma berdiri.

Tetapi Ara tak takut dengan pemandangan kelam di hadapannya. Tak hanya terbiasa menghajar orang, wanita cantik itu juga tanpaknya sudah terbiasa melihat kematian atau sisa-sisa kematian yang tak wajar. Siapa dirinya tak ada yang tahu.

Ara menghela napas panjang, ia lantas mengangguk-angguk seraya tersenyum. “Aku tak mengerti mengapa kau mengamuk hanya karena perkampungan ini. Aku tahu pembantaian ini sangat sadis, tetapi bukankah ini tak ada hubungannya dengan permasalahan kita? Tampaknya aku perlu berbicara langsung denganmu untuk mengetahui apa yang mendasari kemarahanmu … ” ia bergumam sendiri.

Ara tertawa kecil, ia menyekat mulut kecilnya dengan ujung-ujung jari tangannya. Pada momen seperti itu pun ia masih bisa bersikap lucu.

“Saatnya reuni, Nine.”

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!