12.5 – Emergence of Prince


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Nishinari-ku, Osaka, Jepang
2026, 16.32

Di sebuah apartemen kecil yang sama sekali tak tampak mewah, terdapat dua orang lelaki saling meluapkan gagasan di ruang tengah. Keduanya tampak begitu serius, dari gestur mereka yang tegas pun terlihat jelas bahwa pembicaraan mereka bukan sekadar pembicaraan basa-basi dua orang sahabat. Faktanya, mereka memang tidak terlihat seperti sahabat.

Kedua pria tersebut tampak memiliki rentang usia yang cukup jauh. Pria yang satu tampak seperti pria penuh pengalaman yang berusia hampir empat puluh tahun, sementara pria yang lainnya justru tampak seperti pemuda yang baru saja lulus SMA–masih muda dan polos. Mereka bukan orang Jepang, dari bahasa yang digunakan oleh keduanya, jelas bahwa mereka merupakan warga negara Indonesia.

Keduanya memang tak pantas disebut sebagai sahabat, namun disaat yang sama, mereka juga tak pantas disebut sebagai ayah dan anak. Dari cara mereka berbicara, mereka sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka memiliki hubungan kekeluargaan. Akan lebih tepat jika mereka dipandang sebagai instruktur dan siswa. Keduanya memang sedang membicarakan tentang misi latihan yang amat berbahaya. Entah siapa mereka.

“Jadi, Prince, misi ini hanyalah misi sampingan. Jika kau mau mengambilnya, itu baik, bayarannya pun akan lumayan. Tetapi jika tidak, tak masalah,” ujar pria paruh baya yang berdiri di hadapan sang pelajar.

“Kita TIDAK DISEWA untuk menyelamatkan gadis kecil itu, Wahyu. Kita akan melakukannya atas inisiatif sendiri, lalu mengembalikan si gadis kepada ayahnya, seperti sedekah. Sekadar itu. Meskipun ayahnya konglomerat, tetapi tidak berarti kita akan mendapatkan uang dari aktivitas penyelamatan yang kita lakukan secara independen,” jawab pemuda yang dipanggil Prince tersebut.

“Ah, tampaknya kau perlu mengetahui ayahnya, Prince … ” pria paruh baya bernama Wahyu tersebut mengangguk-angguk seraya tersenyum kecut. “Takeshi Hanazawa, ia menjabat sebagai chief director di sebuah perusahaan multinasional dan memiliki beberapa kebun sayuran di Jepang yang hasilnya ia ekspor ke beberapa negara. Ia termasuk pengusaha sukses di Jepang. Dia juga orang yang ringan tangan, tak ragu mengeluarkan jutaan yen demi sesuatu yang selaras dengan kepentingannya. Ia bahkan sudah beberapa kali membayar polisi untuk mendapatkan kembali anaknya, sayangnya gagal.”

“Itu tak bisa menjadi bukti bahwa kita akan mendapatkan imbalan dari apa yang akan kita lakukan.”

“Sekalipun kau benar, ini akan menjadi momen latihan yang sangat baik, bukan begitu? Aku di sini bukan sekadar untuk mencegah Jepang diporak-porandakan oleh orang-orang suruhan Washington, tetapi juga untuk memastikan bahwa latihanmu dengan Komandan Kedua membuahkan hasil yang maksimal. Ingat itu.”

” … ” Prince terdiam, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat.

“Namanya juga misi sampingan. Jangan terlalu berharap imbalan. Kita boleh jadi tak mendapatkan uang dari tugas ini, tetapi ada dua hal yang amat berharga yang bisa kita dapatkan: pengalaman dan koneksi. Well, kalau pun kita tak bisa mendapatkan uang ayahnya, kita bisa menyambung relasi dengan ayahnya. Itu akan mempermudah pekerjaan kita di Jepang, bukan begitu? Takeshi punya pengaruh, lho.” Wahyu berupaya untuk meyakinkan rekannya.

“Baiklah, baiklah. Lantas apa rencana kita? Takeshi membayar polisi dan ia tetap tidak mendapatkan putrinya kembali, apakah itu terdengar seperti berita baik untuk kita? Penculik-penculik tersebut tampaknya terlalu ‘licin’ untuk ditangkap.”

“Tidak. Polisi bukan berarti tidak bisa menemukan kriminal-kriminal tersebut, mereka hanya gagal mendapatkan kembali putri Takeshi. Mengapa gagal? Kau perlu tahu informasi yang satu ini: bahwa sebenarnya para penculik tersebut adalah sekelompok mantan polisi yang tangguh. Mereka dulu sempat dipromosikan menjadi kandidat SAT [1], tetapi dibatalkan dan dipecat secara tidak hormat karena terlibat perdagangan narkoba dengan Dojin-kai, salah satu klan Yakuza paling militan di Jepang.”

NB: [1] Special Assault Team. Pasukan antiteror kepolisian Jepang.

“Terkutuk ” kutuk Prince berbisik. “SAT itu pasukan antiteror Jepang kan? Mereka digadang-gadang sebagai pasukan paling berpengalaman di Jepang pasca Perang Dunia Kedua, bukan begitu?”

“Benar. Tetapi kau tidak perlu khawatir lah. Mereka bukan tandingan jaringan militer yang didirikan oleh Komandan Pertama. Tentu bukan tandinganmu pula,” tutur Wahyu tersenyum.

Prince terdiam, sedang menimbang-nimbang resiko yang akan ia dapatkan jika mengambil misi berbahaya tersebut. “Mengapa polisi tidak pernah menemukan putrinya Takeshi?”

“Tentu ada hubungannya dengan skill yang dimiliki oleh para penculik. Mereka kan pernah dipromosikan menjadi anggota SAT, sudah tentu mereka memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan fisik yang berbeda dengan polisi-polisi NPA [2] biasa. Mereka tahu caranya menghadapi aparat dan lari dari aparat. Kabarnya bahkan sudah banyak korban yang berjatuhan dari misi penyelamatan ini.

“Sayangnya, perjuangan NPA yang penuh darah tersebut seakan tak terbayar, terbuang sia-sia begitu saja. Kau tahu kenapa? Sebab, NPA diminta oleh PPIA [3] dan pemerintah Jepang untuk fokus menghadapi ancaman yang jauh lebih besar: ancaman dari Washington. Well, tebak apa yang terjadi selanjutnya? NPA pun menunda pencarian terhadap anaknya Takeshi dan beralih fokus. Mereka tak punya pilihan. Itulah kenapa aku berpikir agar kita sebaiknya membantu NPA untuk melenyapkan penculik-penculik tersebut agar hutang mereka terbayar.”

NB: [2] National Police Agency. Badan kepolisian nasional Jepang.
[3] Public Protection Intelligence Agency. Badan intelijen Jepang pada cerita ini. Badan intelijen Jepang yang asli bernama Public Security Intelligence Agency.

“Lalu? Bagaimana cara kita menemukan mereka jika mereka begitu ahli melarikan diri?”

“Kau tidak mendengarkan, Prince. Para penculik tersebut hanya ahli melarikan diri dari aparat. Sedangkan kita BUKAN aparat, kita adalah tentara bayaran yang belum diketahui secara luas oleh aparat Jepang. Kau mengerti?” tanya Wahyu seraya tertawa kecil.

” … ”

“Selama ini, para penculik hanya mengerahkan kemampuan intelijen mereka untuk mendeteksi serangan dari aparat resmi, mereka tidak punya waktu untuk mendeteksi keberadaan musuh selain aparat,” Wahyu berjalan menuju loker besi bertingkat di sudut ruangan, lalu mengambil sebuah peta dari salah satu loker. Peta Osaka, rupanya. Ia kemudian kembali ke ruang tengah, membentangkan peta tersebut di atas lantai, dan menunjuk sebuah titik di atas peta. “Ini tempat persembunyian mereka sekarang: sebuah rumah besar di tepian kota yang jauh dari jangkauan publik.”

Prince mengangguk. Ia memperhatikan peta tersebut secara seksama. “Tidak jauh, lokasinya hanya berjarak sepuluh menit dari sini. Masalahnya adalah apa yang harus kulakukan kepada mereka?”

“Simpel, Prince. Kau ditugaskan kemari untuk berlatih, sesuai dengan permintaanmu kepada Komandan Kedua. Itu artinya kau hanya perlu menghajar mereka sebagaimana Komandan Kedua mengajarkanmu menghajar para begundal.”

” … ” Prince enggan menjawab. Ia sekadar menatapi wajah Wahyu dengan ekspresi yang sama sekali tak gemilang.

“Hei, jangan gundah. Kau dilatih oleh dua subjek Project SAKTI sejak berusia 13 tahun. Komandan Pertama dan Kedua, mereka melatihmu dengan baik. Jadi, jangan meragukan kemampuan yang mereka turunkan kepadamu. Lagipula, kau yang meminta agar bisa ikut beraksi mencegah kejahatan para elit barat ‘kan?”

“Baiklah, baiklah, aku siap. Jadi, kapan kita berangkat?”

Wahyu tersenyum kecut. Ia menaikkan salah satu sudut bibirnya hingga tampak beberapa kerutan di pipinya. Ia begitu senang mendengar jawaban penuh keyakinan dari seorang petarung yang berusia jauh lebih muda darinya. Samar-samar tercium aroma masa lalu di dalam kepalanya, ia terkenang saat-saat dimana ia masih aktif menjadi seorang operator Densus AT-13.

***

23.45

Ada sebelas orang pria dewasa bernaung di dalam rumah yang berdiri menyepi di pinggiran Kota Osaka. Mereka adalah desertir-desertir kepolisian Jepang yang kabarnya telah berpindah profesi menjadi penjahat profesional. Selain menjadi koordinator keamanan transaksi narkoba yang dilakukan oleh sebuah klan Yakuza, mereka juga meraup keuntungan dengan melakukan penculikan terhadap anggota keluarga pengusaha di Jepang. Dari penculikan tersebut, mereka biasanya meminta tebusan antara 500 ribu yen hingga 5 juta yen, jumlah yang sama sekali tidak sedikit.

Aktivitas penculikan terakhir yang mereka lakukan adalah menculik putri seorang pengusaha sayuran di Jepang, yakni Hazuki. Hazuki kini masih berada di tangan para desetir, ia sudah hampir tiga bulan tidak pulang ke rumah. Ayahnya, Takeshi, sudah beberapa kali mencoba melakukan negosiasi dengan para desertir namun tak pernah sampai kepada kesepakatan yang positif. Malah, karena Takeshi melibatkan NPA untuk mencari putrinya, para desertir pun menjadi lebih sulit untuk diajak bernegosiasi. Harga tebusan dinaikkan beberapa ratus kali lipat dan Takeshi diminta untuk “menjual” nyawanya serta nyawa istrinya kepada para desertir.

Takeshi Hanazawa adalah seorang penganut liberalisme. Ia tidak serta-merta menuruti permintaan para desertir yang tak masuk akal dan membunuh dirinya sendiri demi menyelamatkan putri semata wayangnya. Tidak ada jaminan bahwa putrinya akan selamat jika ia menuruti perintah para desertir. Ia masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa menyelamatkan putrinya tanpa harus kehilangan nyawanya dan nyawa istrinya.

Hingga malam itu, para desertir belum pernah lagi mendengar kabar dari Takeshi. Mereka pun mulai mempertimbangkan sistem deadline untuk mendesak Takeshi membayar tebusan. Sebagian dari mereka sibuk mendiskusikan rencana tersebut di ruang tertutup, sementara yang lainnya tetap menganggur dan menikmati kesunyian malam.

Namun demikian, malam yang senyap tersebut agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dua desertir yang sedang bermain catur di ruang tamu tiba-tiba mendengar suara decitan yang berulang-ulang dari arah pintu masuk rumah. Tidak keras, namun sanggup untuk mengalihkan perhatian siapa pun yang berada di dekatnya. Kedua desertir lantas bangkit dari tempat mereka duduk, berniat hendak memberikan peringatan kepada teman-teman mereka di dalam rumah.

Sayangnya, mereka terlambat.

KA-BLAAAM!

Sebuah ledakan besar sontak menyambar dari arah pintu, langsung menghancurkan segala yang membatasinya. Kedua desertir yang berada di ruang tamu pun terpental dari tempat mereka berpijak, lalu tergeletak dengan luka yang amat parah. Meja catur yang semula berdiri kokoh di ruang tamu juga terempas dari tempatnya bertengger, bidak-bidaknya terjatuh secara acak ke atas karpet.

Beberapa saat setelah ledakan, seorang pria dengan topeng manekin berwarna putih lantas masuk ke dalam rumah. Yang pertama kali dilihatnya adalah dua orang pria yang tergeletak luruh di atas ubin, yakni para desertir yang terluka. Bukannya merasa iba, ia justru menembak kepala kedua desertir dengan pistol yang berada dalam genggamannya. Kedua desertir langsung tewas seketika. Isi kepala mereka mencurat membasahi karpet.

Pria bertopeng melanjutkan langkahnya ke ruang tengah. Ia mendapati tiga desertir yang masih pusing akibat mendengar suara ledakan yang cukup keras. Tanpa keragu-raguan, ia langsung menghampiri ketiga desertir dan menghujani mereka dengan beberapa serangan jarak dekat. Ia juga sesekali melepaskan tembakan. Ketiga desertir dibuat tersiksa sebelum akhirnya meregang nyawa. Kaki, lengan, pinggang, dan rusuk mereka ditembaki. Mereka tumbang, mereka nestapa.

Tersisa enam desertir di dalam rumah.

Para desertir sadar bahwa mereka diserang. Tanpa menunggu komando dari atasan tertinggi, mereka bergegas mengambil senjata dari masing-masing rak penyimpanan senjata dan memilih posisi yang menguntungkan untuk menembak.

Akan tetapi, sebelum persiapan para desertir matang, si pria bertopeng sudah lebih dulu datang dan menyerang. Seraya merunduk dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, si pria bertopeng melepaskan beberapa tembakan ke arah musuh. Gerakannya begitu lincah dan gesit, sehingga pertukaran tembakan tersebut sama sekali tak menguntungkan posisi para desertir.

Satu persatu para desertir pun tumbang, tewas diterjang peluru. Dalam posisi dikeroyok seperti itu pun gerombolan mantan polisi elit tersebut masih juga kalah.

Tersisa dua desertir.

Si pria bertopeng langsung menandai para desertir yang tersisa. Ia mendapati dua desertir berdiri berdekatan beberapa meter di hadapannya. Tanpa keraguan, ia pun merangsek maju dan mendekati kedua lawannya.

Si pria bertopeng merunduk dan berkelok-kelok untuk menghindari tembakan musuhnya. Peluru berdesing di samping tubuh dan telinganya seperti enggan mendekat. Ia lantas menggenggam lengan sang desertir dan mendistribusikan seluruh bobot tubuh sang desertir di bagian punggungnya. Sepersekian detik kemudian, tubuh sang desertir pun dibanting hingga kepala sang desertir terantuk ubin, lehernya patah.

Desertir pertama tewas. Si pria bertopeng bergegas mengalihkan fokusnya pada desertir kedua yang berdiri tak jauh dari sana. Ia lekas-lekas merunduk dan mengarahkan moncong pistolnya ke kepala desertir kedua. KA-BLAM! Pemuda misterius tersebut sama sekali tak berpikir dua kali untuk menarik pelatuk. Peluru pun melesat, langsung melubangi kepala desertir kedua. Tewas seketika.

Seharusnya sudah selesai.

Tetapi tidak … ini belum berakhir.

Jumlah para desertir tidak tepat sebelas orang.

Situasi kembali menyepi. Sangat sepi. Akan tetapi, kesepian tersebut amat mencurigakan. Si pria bertopeng bisa merasakan keberadaan seseorang, mungkin sedang menyusun siasat untuk melumatkannya. Ia bisa mendengar suara-suara yang sangat lembut dari seberang ruangan, seperti suara orang yang mengendap-endap. Kepalanya lantas menoleh ke arah sumber suara, memastikan bahwa lawan berikutnya akan datang dari titik tersebut.

RATATATATA!

Tak disangka-sangka, tembakan justru muncul dari arah depan. Si pria bertopeng segera menoleh ke arah datangnya tembakan dan berlari mengindari peluru-peluru yang berdesing ke arahnya. Seraya mencari tempat berlindung, ia juga sesekali membalas tembakan tanpa melihat target. Seketika itu, suasana pun kembali riuh oleh suara-suara tembakan.

Cklik!

Begitu si pria bertopeng tiba pada tempat persembunyiannya, pelurunya habis. Ia tak memiliki magasin cadangan lagi untuk melawan musuhnya. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah tetap merunduk dan tak menampakkan diri di hadapan musuhnya. Ia harus jeli pada suara-suara di sekitarnya, karena ia sama sekali tak bisa melihat situasi, ia berada pada titik buta.

Ada suara kokangan senjata dari arah yang tak diketahui.

Si pria bertopeng sadar ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Suaranya begitu pelan, orang awam tentu takkan mampu menginderakan suara tersebut sebagai suara langkah kaki. Instingnya bergetar, ia merasakan bahaya yang amat besar. Tanpa menanti-nanti, ia pun mengangkat seluruh tubuhnya dan berlari menjauhi tempat persembunyiannya.

BLAAAR!

Belum lama si pria bertopeng melarikan diri, sebuah granat lontar tiba-tiba meluncur dan meledak tepat di tempat persembunyian si pria bertopeng. Ledakan yang cukup besar itu sontak merontokkan dinding dan beberapa objek di sekitarnya. Porak-poranda. Tersisa asap dan debu mengepul di sekitar lokasi kejadian.

Seorang pria yang berusia sekitar 40-50 tahun perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia adalah bos para desertir. Dari wajahnya yang penuh codet dan kerutan, tampak bahwa ia merupakan anggota desertir yang paling berpengalaman. Ia menenteng senapan otomatis yang dilengkapi dengan pelontar granat, menimbulkan ancaman yang jauh lebih besar bagi si pria bertopeng.

Si bos desertir berjalan perlahan menghampiri titik ledakan. Ia mewaspadai tiap sudut ruangan, mengawasi pergerakan-pergerakan yang mencurigakan. Akan tetapi, hingga saat ia berdiri di depan puing-puing ledakan, ia tak menemukan satu ancaman yang berarti. Ia pikir ia telah membunuh si pria bertopeng.

Salah besar.

Si pria bertopeng tiba-tiba muncul dari arah samping, menerjang sang pimpinan desertir dengan lututnya. Tendangan lompatnya sukses menghantam rahang sang pimpinan dan membuat sang pimpinan terhempas ke dinding. Satu-kosong untuk si pria bertopeng.

Sang pimpinan tak berniat untuk mengalah, tentu saja. Ia bergegas mengayunkan laras senapannya ke kepala si pria bertopeng, namun berhasil digagalkan tanpa kesulitan.

Si pria bertopeng memblokir laju tangan sang pimpinan. Ia lantas mengaplikasikan beberapa pukulan keras pada titik-titik yang membuat tangan sang pimpinan kehilangan genggaman. Senapan pun terlepas dari tangan sang pimpinan, berkelotak di atas lantai. Beberapa saat kemudian, si pria bertopeng mengentakkan kakinya pada tubuh sang pimpinan, menciptakan jarak yang cukup besar.

Pertarungan mulai dari nol lagi.

Sang pimpinan geram. Ia pun mencabut sangkur dari arah pinggulnya, lalu merangsek maju menghadapi si pria bertopeng. Ia mengayunkan tangannya dengan penuh percaya diri. Beberapa kali ia mencoba menusuk lawannya, namun gagal. Serangannya terakhirnya bahkan diblokir oleh si pria bertopeng tanpa kepayahan.

Si pria bertopeng membalas serangan dengan cekatan. Ia menanduk hidung sang pimpinan hingga remuk, menghantam kemaluan sang pimpinan dengan lututnya, lalu meninju pergelangan tangan sang pimpinan hingga pisau yang berada pada genggaman sang pimpinan tergeletak tanpa makna di atas permukaan ubin.

Upaya untuk mengimbangi si pria bertopeng pun ditingkatkan. Sang pimpinan desertir meluncurkan tinjunya dua sampai tiga kali ke kepala si pria bertopeng, namun tak ada yang kena. Si pria bertopeng justru meraih pergelangan tangan sang pimpinan desertir. Sesaat kemudian, ia langsung mengentakkan hastanya pada sendi siku sang pimpinan.

KREK!

Tulang siku sang pimpinan sontak terlihat menyembul di bawah kulit, mengalami dislokasi parah. Tentu saja, sang pimpinan pun mengerang sekeras yang ia bisa.

Sudah separah itu, si pria bertopeng belum juga usai menghajar sang pimpinan. Beberapa saat setelahnya, ia meninju telinga sang pimpinan dengan keras, menendang kemaluan sang pimpinan, kemudian melempar seluruh tubuh sang pimpinan ke arah buffet yang telah reyot akibat ledakan granat.

BRUAAAK!

Suara tumbukan yang begitu keras menggema hingga ke seluruh sudut ruangan. Buffet yang semula masih berbentuk layaknya lemari kecil langsung hancur berantakan menjadi kepingan kayu. Sang pimpinan lantas tergeletak luruh tak berdaya, dengan tubuh penuh luka.

Pertarungan resmi berakhir.

Si pria bertopeng menghampiri musuh terakhirnya dengan tenang, lalu menginjak tempurung lutut sang pimpinan dengan sepenuh hati. “Hazuki wa doko?” tanyanya dingin, ia ingin tahu di mana lokasi Hazuki disandera.

Bos besar desertir tersebut menjerit, menggelinjang, dan meronta-ronta seperti kesetanan.

Hazuki. Doko ni?” si pria bertopeng mengulangi pertanyaannya. Ia masih membutuhkan informasi tentang lokasi tempat Hazuki disandera.

Aaaa, dare!? Dare desu ka!? Keisatsu!? Jieitai!?” sang pimpinan mempertanyakan identitas si pria bertopeng. Ia ingin tahu siapa orang yang sedang dihadapinya, apakah berasal dari NPA atau dari JSDF?

Si pria bertopeng menginjak lutut sang pimpinan semakin keras, terlihat dari bagaimana sang pimpinan menggelinjang dan menjerit-jerit tak karuan. “Aku di sini untuk bertanya, bukan untuk menjawab,” ujarnya dalam Bahasa Jepang.

Sang pimpinan lantas menunjuk luruh ke arah samping, ke sebuah lorong kecil. “Ia di sana. Kamar paling pertama … ” jawabnya dengan susah payah. Ia berusaha menahan rasa sakit yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.

“Dikunci?”

“Hanya digerendel. Kau bisa membukanya dengan mudah … aaa … bajingan, lepaskan kakiku!”

Si pria bertopeng pun mengangkat kakinya, berhenti melakukan penyiksaan. Ia lantas menjauhi sang pimpinan sekitar dua langkah ke belakang, mengambil pistol yang tergeletak di sekitar sana, lalu berdiri mematung. Setelah itu situasi kembali menyepi. Tak ada kata, tak ada tindak. Kedua petarung yang tersisa hanya bisa saling bertukar tatapan.

Tak lama setelahnya, sang pria membuka topengnya. Tersingkaplah jati diri yang sebenarnya. Ia merupakan seorang pemuda yang rupawan dan terlihat puluhan tahun lebih muda daripada si kepala desertir. Wajahnya tak oriental seperti penduduk asli Jepang, ia lebih mirip seperti warga dari rumpun Melayu. Kulitnya sawo matang dan matanya besar.

eye-1359234_1920

“Aku tahu ini tak penting, tetapi mereka memanggilku Prince,” ujar sang pemuda. Ia lantas membidikkan pistolnya ke kepala sang pimpinan. BLAM! BLAM! BLAM! Tanpa keragu-raguan, ia pun memuntahkan tiga butir timah panas ke arah target, langsung membuat tengkorak sang pimpinan pecah.

Desertir terakhir akhirnya tewas.

Sang pemuda masih berdiri di tempatnya mengakhiri pertarungan. Menarik satu napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat. Ia kemudian melanjutkan jawabannya kepada sang pimpinan desertir yang sudah meregang nyawa. “Atau … kau bisa memanggil nama asliku, nama asli saat aku masih menjadi anak yang polos dan periang … ” ujarnya seraya mendongakkan kepalanya ke atas, menarik napas panjang.

“Patih.”

EPISODE 12.5 END

***

SAMBUTAN PENULIS:

WADAW! Ternyata, eh, ternyata. Prince adalah nama julukan yang disematkan kepada Patih beberapa tahun setelah cerita utama Subject 09 selesai. Hahaha. Betul, cerita utama Subject 09 berjalan pada tahun 2021, sedangkan episode ini berjalan pada tahun 2026, itu artinya lima tahun setelah huru-hara tentang pembantaian Kampung Rimbun usai, Patih turun tangan!

Ya! Kami memang berencana merilis cerita Patih sebagai bagian dari keluarga Subject 09. Patih akan punya ceritanya sendiri. Bisa jadi kami rilis setelah season 1 selesai atau setelah season 2 selesai. Kita lihat saja. Yang pasti, kami memang berencana menjadikan Patih sebagai karakter yang keren seperti paman angkatnya, Subject 09.

Tunggu saja kisah si Patih ini di Negeri Sakura!


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!