10 – Gatekeepers


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Kantor Pusat Han’s Security, Papua
16.32

Felicia akhirnya tiba di kantor perusahaan keamanan swasta paling terpercaya di wilayah Papua, Han’s Security. Ia duduk di lobi kantor bersama dengan seorang pria berbadan tegap dan berwajah tegas yang disinyalir sebagai kepala humas di perusahaan tersebut, Chairuddin Rachmat. Felicia telah melalui sesi wawancara selama beberapa belas menit, ia masih mencari celah untuk bisa masuk ke ‘pertanyaan utama’. Tujuannya hari itu adalah untuk melacak lokasi Hanif Wahyudin, selebihnya hanyalah topeng untuk memuluskan rencananya.

“Ah ya, jadi pada intinya, Han’s Security ini dibangun untuk membantu perusahaan lokal maupun internasional dalam menjalankan bisnis di Papua. Perusahaan-perusahaan ini menilai jasa Polri dan TNI tidak efisien, birokrasinya berbelit-belit dan jatuhnya jadi lebih mahal dibandingkan dengan menyewa—maaf—pembunuh bayaran. Akhirnya, banyak bisnis yang mandek, pembangunan Papua pun menjadi tertunda,” jelas Chairuddin menjawab pertanyaan dari Felicia.

“Oh, menarik sekali. Jadi Han’s Security juga dibentuk atas dasar pembangunan di Papua juga ya.”

“Tentu saja. Selama ini Papua dianggap sebagai anak tiri oleh pemerintah. Mereka berkata bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia, tetapi pada kenyataannya mereka tak ikut membantu mengembangkan wilayah Papua. Mereka seperti anak kecil yang ingin pamer kepada dunia bahwa mereka bisa memiliki ‘mainan’ yang mahal seperti Papua. Itulah mengapa kami di sini, kami akan menjadi asisten perusahaan-perusahaan yang memang serius mau mengembangkan Papua.”

“Baik, baik. Tetapi setelah mendengar pernyataan Anda, saya melihat bahwa banyak perusahaan yang merasa urgent untuk memiliki pengawal. Ancaman macam apa yang ada di Papua sehingga perusahaan-perusahaan ini merasa takut untuk berbisnis tanpa pengawal?”

“Tentu saja ancaman separatis seperti OPM, mereka bisa datang kapan saja dan di mana saja, itu sangat mengkhawatirkan bagi para pemilik bisnis. Selain itu, Papua sekarang juga memiliki semacam geng atau kelompok-kelompok terpelajar yang ingin me-restart Papua dengan ideologi-ideologi tertentu. Mereka ini bersenjata, kadang merampok demi mencapai tujuan. Kami menjaga para pemilik bisnis dari orang-orang semacam ini.”

Keberadaan Han’s Security di Papua memang sangat kompleks. Selain mereka yang sebenarnya memberikan pelatihan kepada kelompok separatis seperti OPM, mereka juga yang menetralisir serangan OPM di saat OPM sedang tak terkendali. Singkatnya, mereka adalah garda terdepan yang bertindak sebagai pengasuh kelompok separatis di Papua. Tetapi, Chairuddin takkan memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun untuk menjaga nama baik perusahaan bosnya.

“Mengerikan sekali. Jadi, apakah kalian juga menerima pelatihan-pelatihan setingkat pasukan khusus? Musuh kalian ini orang-orang yang sangat berbahaya lho. Tentu tidak mungkin jika hanya menerima pelatihan-pelatihan seperti satpam komplek.”

“Uhhh … ” Chairuddin tak bergegas menjawab. Ia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk Felicia. “Semacam itulah, tetapi tak bisa dikatakan latihan militer juga. Kami hanya dilatih untuk menangkal kelompok-kelompok seperti OPM dan sejenisnya.”

“Berarti kalian juga berlatih menggunakan senjata api, ya?”

“Uhhh, ya, tentu saja. Senjata berkaliber kecil, seperti sub-machine gun.

“Menarik, menarik. Berarti kalian telah mengantongi izin dari Kepolisian Republik Indonesia untuk berlatih dengan senjata api, ya? Oh ya, aku hampir lupa soal perizinannya, seberapa sulit mengurus perizinan Han’s Security hingga Polri dan TNI ikhlas dengan keberadaan kalian?”

Chairuddin lagi-lagi tak bergegas menjawab, ia menatapi Felicia dengan penuh kecurigaan. Ia merasakan keganjilan pada pertanyaan sang wartawan berjilbab, tetapi masih belum bisa menerka apa yang sebenarnya diinginkan oleh Felicia. “Pemilik perusahaan ini adalah orang yang punya kedudukan penting di mata militer, jadi semestinya tidak terlalu sulit untuk mengurus perizinan seperti demikian. Kami tidak tahu teknisnya, karena kami direkrut ketika perusahaan ini sudah ada.”

“Ah, begitu … ” gumam Felicia puas. Ia mengangguk-angguk kecil, lalu kembali memfokuskan pandangan pada notes yang ia pegang. “Tetapi, pemilik mungkin tidak berada di tempat ya? Biasanya owner itu sibuk membangun bisnis juga di tempat lain,” lanjutnya dengan nada bercanda.

“Ya, beliau sedang berada di luar negeri saat ini.”

Jawaban Chairuddin membuat Felicia termenung selama beberapa saat, ia tahu Chairuddin tidak sedang berbohong. Meskipun masih bias, namun informasi yang keluar dari mulut Chairuddin merupakan perkembangan yang sangat menarik.

Hanif tidak sedang berada di Indonesia, ia mungkin kabur setelah melihat huru-hara yang disebabkan oleh Subject 09 di ibukota. Pertanyaan berikutnya adalah ke mana ia pergi? Felicia harus mendapatkan jawabannya sebelum angkat kaki dari Papua.

“Benar, benar. Namanya juga owner, tentu punya kesibukan juga di luar negeri ya,” ujar Felicia seraya tertawa kecil. “Ngomong-ngomong, bolehkah saya melihat-lihat kantor Han’s Security? Saya penasaran seperti apa kantor yang disebut-sebut sebagai perusahaan keamanan swasta terbaik di Papua ini,” lanjutnya mengalihkan pembicaraan. Ia sengaja tak melanjutkan ‘investigasinya’ tentang Hanif, jika dilanjutkan Chairuddin mungkin akan mencurigainya.

“Silakan, mau lihat-lihat sekarang?”

“Tentu.”

Chairuddin lantas mengajak Felicia untuk berjalan berdampingan dengannya. Mereka berdua lantas masuk ke dalam kantor Han’s Security yang sesungguhnya. Felicia kini bisa melihat ruangan demi ruangan yang didesain untuk menjaga performa para pekerjanya.Banyak wallpaper bertuliskan kata-kata motivasi ala militer dan seni beladiri kuno. Selain itu, banyak pula objek abstrak berbentuk mirip manusia berdiri di tempat-tempat yang tak terduga. Menurut Chairuddin, objek-objek tersebut sengaja diletakkan di sudut-sudut yang sulit diinderakan mata untuk melatih naluri pertarungan jarak dekat (CQB) para pekerja Han’s Security.

Tak lama kemudian, Chairuddin dan Felicia pun akhirnya masuk ke ruangan paling sakral di perusahaan keamanan tersebut, yakni training room atau ruangan berlatih para karyawan. Ruangan tersebut sangat besar dan terdiri dari beberapa lantai. Akan tetapi, Felicia tak diizinkan untuk melihat ruangan latihan selain ruangan di lantai dasar—ruangan untuk berlatih pertarungan jarak dekat baik dengan tangan kosong, senjata tajam, maupun senjata api.

Felicia lantas berjalan mengelilingi ruangan latihan dengan ekspresi penuh kekaguman. Ia menengadah ke atas, menatapi ruangan-ruangan latihan yang menjulang tinggi ke atas gedung. Ia benar-benar tampak seperti wanita innocent yang awam mengenai persoalan-persoalan militer. Para karyawan yang tengah berlatih pun menilainya seperti wanita amatir nan bodoh.

Akan tetapi, seorang pria dengan kaus oblong secara tiba-tiba mendekati Felicia. Ia berjalan dengan langkah cepat seraya menjinjing sebuah pistol berwarna hitam. Pria tersebut lantas menodongkan pistolnya ke kepala Felicia, benar-benar tanpa keraguan. Pistol yang digenggamnya sama sekali tak terlihat seperti pistol mainan, bisa terlihat dari desain dan bobotnya yang lebih kompleks. Seketika itu semua orang menghentikan aktivitasnya, lalu memfokuskan pandangan ke arah sang pria dan Felicia.

Menerima todongan yang tak terduga seperti demikian, Felicia pun terperanjat. Iasegera mengangkat kedua tangannya dan menatapi sang pria dengan ekspresi ketakutan. Perhatiannya teralihkan dan ia tak sempat merasakan kedatangan sang pria yang kini berada di sampingnya. Tak ada pilihan lain, ia hanya bisa menelan ludah dan menunggu keputusan sang pria. “A-ada apa ini?” tanyanya gelagapan. Tak ada jawab, tersisa sunyi.

“Syarif, cukup,” sela Chairuddin tak lama setelahnya.Ia lantas berjalan menghampiri tempat di mana Felicia berdiri. Pria bernama Syarif itu pun menurunkan bidikannya.

“Tak usah khawatir, Bu Felicia. Pistolnya kosong. Kami memang berencana untuk mendemonstrasikan betapa tanggapnya tim kami terhadap kejahatan—senyap dan cepat. Tetapi kami malah menakuti Anda, mohon maaf yang sebesar-besarnya,” lanjut Chairuddin menghibur Felicia.

Fuuuh, ya ampun … ” Felicia bisa bernapas lega sekarang, ia pun menurunkan kedua belah tangannya. “Saya pikir ada apa, jantung saya serasa mau copot.”

“Maafkan kami, Bu Felicia. Kami tak bermaksud untuk bersikap tidak sopan kepada Anda. Yang tadi hanyalah demonstrasi saja.”

“Ya, ya, tidak apa-apa. Saya hanya sedikit syok.”

“Tetapi, kami sejujurnya punya pertanyaan kepada Anda. Bolehkah kami bertanya sebelum kita kembali melanjutkan wawancara?”

“O-oh, tentu … ” Felicia menjadi ragu-ragu. Waswas.

“Boleh kami tahu, bagaimana cara Anda menemukan perusahaan kami? Kami tak pernah membuat situs resmi, tidak pula membuat akun media sosial seperti perusahaan-perusahaan keamanan di ibukota. Kami memang perusahaan publik, punya izin resmi, tetapi kami bekerja secara diam-diam, tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan kami kecuali jika sudah lama berjibaku dengan dunia hankam. Jadi, bagaimana majalah baru seperti Indonesia Defense bisa mengetahui keberadaan kami?”

Pertanyaan Chairuddin adalah pertanyaan biasa, tetapi terdengar begitu mengintimidasi. Semua karyawan yang berada di ruangan latihan sontak menatapi Felicia dengan penuh kecurigaan. Beberapa diantaranya bahkan sudah menghadapkan tubuhnya ke arah Felicia—mungkin bersiap untuk menyerang Felicia secara tiba-tiba. Situasi pun menjadi hening. Tegang, lebih tepatnya.

“U-uhh, maafkan jika kedatangan saya kemari membuat kalian tak nyaman, tetapi saya mendapatkan informasi dari iklan di internet. A-ada yang memasang iklan di media online tentang jasa kalian,” ujar Felicia gemetar.

“Begitu. Lantas mengapa Anda datang sendirian kemari? Sebagai media baru, bukankah biasanya para wartawan akan mengajak teman untuk mewawancarai narasumber?”

“K-kami media baru, p-pegawainya hanya tiga orang, a-apakah salah jika saya datang ke sini sendirian?”

“Oh tidak, tentu saja tidak. Kami hanya bertanya, Bu Felicia. Boleh kami tahu media apa yang mempublikasikan keberadaan kami?”

“W-waktu dot com. K-kalian bisa melihat iklan tentang perusahaan kalian di sana.”

“Oh, baiklah. Kami hanya ingin tahu sejauh itu, Bu Felicia. Kita lanjutkan lagi wawancaranya di lobi?” tanya Chairuddin seraya mempersilahkan Felicia dengan gestur tangannya. Ia mengajak Felicia untuk pergi dari ruangan latihan.

Tanpa menuturkan sedikit maupun banyak jawaban, Felicia segera mengikuti langkah Chairuddin untuk pergi dari tempat yang sudah penuh dengan hawa tak bersahabat tersebut. Para pegawai yang berada di sana sekadar mampu memandangi Felicia dengan tatapan penuh kebencian, mereka sudah terlanjur mencurigai Felicia sebagai kriminal. Seandainya tak ditahan atau dikawal oleh Chairuddin, mereka mungkin sudah melakukan hal yang tidak-tidak terhadap wartawan berjilbab tersebut.

Sementara itu, Felicia tetap merasa tak nyaman. Begitu tiba di lobi, Felicia segera berpamitan, ia tak jadi melanjutkan wawancaranya dengan Chairuddin. Mimiknya menunjukkan rasa takut yang menjadi-jadi. Berkali-kali ia hanturkan permintaan maaf, lalu meminta izin untuk pergi dari halaman Han’s Security.

Chairuddin tak mau menahan Felicia. Ia justru tampak puas, entah mengapa. Ia menerima permintaan maaf sang wartawan dan membiarkan Felicia angkat kaki dari kantornya. Hingga Felicia menghilang dari pandangannya, Chairuddin tetap berdiri di tempatnya. Ia menatapi Felicia dari balik jendela dengan ekspresi penuh kemenangan.

Tak lama kemudian, kerabat Chairuddin datang menghampiri. Alex. Pria kelahiran Papua tersebut mendekati tempat di mana Chairuddin berdiri, ia ikut menatap keluar jendela. “Bagaimana? Sudah puas? Sudah kubilang wanita itu bersih, data intelijen tak berbohong,” ujarnya.

“Aku masih belum yakin,” tukas Chairuddin.

“Belum yakin bagaimana? Kau sudah lihat ekspresinya tadi pada saat skenario penodongan dijalankan oleh Syarif. Ia ketakutan, sobat! Kalau ia benar-benar agen pemerintah, ia pasti akan merenggut pistol Syarif secara otomatis. Ia sama sekali tak tampak seperti agen yang mampu melakukan disarming [1] dan sebagainya.”

NB: [1] teknikpelucutan senjata lawan dengan tangan kosong

“Tak semua agen pemerintah mendapatkan latihan khusus semacam itu, Alex. Kau tahu itu. Aku masih mencurigainya, ia bisa saja agen lapangan yang memang tidak punya pengalaman tempur,” kilah Chairuddin.

“Kau gila, Chairuddin. Kau terobsesi pada wanita tersebut. Bagaimana jika ternyata ia bukan agen pemerintah? Kita akan punya masalah, apalagi wanita ini berprofesi sebagai wartawan.”

“Lakukan operasi tutup mulut kalau begitu. Bunuh semua yang terkait dengan Indonesia Defense, termasuk wanita itu. Tak sulit ‘kan?”

Alex menatapi kerabatnya dengan dingin.Ia terheran dengan obsesi kerabatnya yang terkesan paranoid dengan kehadiran seorang wanita berjilbab. “Kau akan dapat masalah jika kau terlalu keras, sobat. Aku hanya berusaha memperingatkanmu.”

“Sebelum ada bukti kongkrit bahwa ia adalah orang baik-baik, aku akan tetap pada pendirianku. Aku punya feeling tidak enak terhadap wartawan berjilbab bajingan tersebut. Sekarang, daripada kita berdua berdebat tentang dirinya, lebih baik kau carikan dua orang yang mau membuntuti Felicia.”

“Hhh, terserahmu lah. Aku takkan ikut campur jika ada masalah,” ujar Alex seraya membalikkan tubuh.Ia lantas berjalan meninggalkan Chairuddin.

Chairuddin tetap berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Ia benar-benar telah menaruh curiga pada Felicia. Ada rasa ingin membungkam wanita tersebut selama-lamanya, ada sensasi ingin membunuh, akan tetapi belum cukup bukti yang ia kumpulkan. Ia perlu menggalinya lebih dalam, lebih cekatan.

***

Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang

Subject 09 berdiri menatapi layar televisi di ruang tengah. Ia sedang serius menonton breaking news yang belakangan meramaikan seluruh saluran berita nasional. Kekacauan di kantor NetCaptain, meskipun telah berlalu selama empat hari, namun semua orang masih membicarakan peristiwa tersebut.

Analisis sok tahu dari pakar-pakar kelas teri pun bermunculan, yang pada intinya membicarakan tentang eksistensi Adam. Ada yang mengatakan bahwa kekacauan tersebut merupakan konspirasi pemerintah, ada yang mengatakan bahwa Adam membawa pasukan, ada yang mengatakan bahwa Adam adalah orang gila seperti Joker pada komik Batman, dan berbagai teori ngawur lainnya. Cerita-cerita hiperbolik tersebut membuat Adam sekadar sanggup menyeringai sinis.

Akan tetapi, Subject 09 tidak mengincar pernyataan-pernyataan konyol seperti demikian. Ia hanya ingin mengetahui sejauh mana perkembangan kantor NetCaptain pasca peristiwa penyelamatan Verani dan Patih. Pihak NetCaptain sendiri tampaknya sudah tak punya masalah dengan kerugian yang mereka alami—pemerintah mungkin sudah mengganti rugi semuanya. Akan tetapi, yang belakangan muncul dan tampak jengkel di depan layar televisi justru pemerintah.Terang saja, safehouse rahasia mereka hancur, siapa yang tidak kesal?

Namun demikian, fakta tersebut membuktikan bahwa pemerintah masih belum bisa menemukan jejak Subject 09 dan kawanannya. Subject 09 tentu senang melihat perkembangan ini. Itu artinya Verani dan Patih masih tetap aman, paling tidak untuk sementara waktu.

Tak lama kemudian, Patih muncul menghampiri tempat di mana Subject 09 berdiril. Ia tampak segar, rambutnya yang agak basah tersebut juga ditata sedemikian rupa hingga menyerupai siswa teladan, tercium pula bau sabun mandi dari tubuh pendeknya tersebut. “Uy, paman!” serunya. Ia memang selalu demikian, sapaannya selalu penuh semangat.

“Oh, halo, Patih.” Subject 09 menyapa balik. Ia lantas mematikan televisinya. “Kau rapi sekali, mau ke mana?” lanjutnya basa-basi.

“Tidak mau ke mana-mana, aku baru saja mandi. Apa yang sedang paman tonton tadi?”

“Berita, tentu saja. Acara apa lagi yang bisa kunikmati selain berita?” ujar Subject 09 seraya berjalan ke arah sofa. “Duduklah, Patih.”

Patih menuruti perkataan Subject 09, ia pun duduk di atas sofa. “Lalu kenapa televisinya paman matikan?”

“Ah, aku sudah mendapatkan informasinya. Jadi tak perlu kuteruskan menonton,” ujar Subject 09 seraya menyandarkan punggungnya.“Ngomong-ngomong, ke mana ibumu?”

“Ia sedang mandi.”

“Oh, sudah mulai terbiasa dengan air dingin, ya?”

“Sepertinya bukan karena itu, tetapi karena ibu sudah beberapa hari tidak mandi.”

Subject 09 tergelak, ia tak menyangka Verani masih “alergi” terhadap air dingin, padahal sudah tinggal di daerah pegunungan cukup lama. “Kalian bisa memasak air panas jika kalian mau. Mengapa kalian tidak melakukannya?”

“Tak tahu tuh! Aku sudah menyarankan hal yang sama, tetapi ibu tampaknya tak berminat.”

“Hehe, aku akan coba bicara dengan ibumu kalau begitu.”

Patih sekadar mengangguk kecil.Ia menggoyang-goyangkan kakinya yang tak sanggup menapak ubin—tubuhnya benar-benar pendek. “Paman … ” ujarnya lagi.

“Ya, Patih?”

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Um, tentu. Pertanyaan macam apa?”

“Orang-orang yang membawa kami ke kantor beberapa waktu lalu, siapa mereka sebenarnya? Ibu mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang pemerintah, tetapi aku tak mengerti, apakah semua orang pemerintah memiliki senjata dan berwajah seram seperti itu? Berarti presiden juga punya senjata donk!”

“Oh… ” Subject 09 tak bergegas menjawab, ia meresponnya dengan sebuah anggukan kecil. “Ibumu tak salah, ia hanya tak mampu menjelaskan kondisinya kepada anak-anak seumuranmu. Orang-orang itu sebenarnya sangat mirip dengan polisi dan tentara, hanya saja mereka beraksi tanpa seragam. Tujuannya adalah agar mereka bisa berbaur dengan masyarakat sekitar.”

“Oh, menyamar maksudmu?”

“Benar, mereka itulah yang sering dipanggil dengan sebutan intel. Anggota intelijen.”

“Oh, jadi seperti itu yang disebut dengan anggota intelijen, aku baru tahu,” gumam Patih seraya meletakkan ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu. Mimiknya tampak serius.”Bukankah itu berarti mereka adalah orang-orang baik, paman?”

“Ya …” jeda Subject 09. “Semestinya.”

“Lantas mengapa paman berusaha keras menyelamatkan kami dari mereka?”

Subject 09 terdiam, ia menatapi wajah Patih selama beberapa saat—merenungi pertanyaan yang disodorkan kepadanya. Sesaat kemudian ia menundukkan pandangannya. “Aku dulu bekerja dengan orang-orang seperti mereka. Walaupun mereka tampak seperti orang baik-baik, tetapi sebenarnya mereka dilatih untuk melakukan hal yang sangat buruk. Mereka tidak mengenal kata kasihan, mereka rela melakukan apa saja demi mendapatkan informasi.”

“Sangat buruk, paman? Seperti apa contohnya?”

“Aku tak bisa mendeskripsikannya kepadamu, Patih.Yang pasti mereka takkan ragu meninju wajahmu demi mendapatkan informasi tentang keberadaanku. Itu baru satu, mereka sebenarnya masih punya ratusan trik sadis untuk membuat korban mereka berbicara.”

Ew, apakah semua anggota intelijen seperti demikian?”

“Tidak,” Subject 09 menggelengkan kepalanya.”Hanya sebagian anggota saja yang dilatih untuk melakukan aksi-aksi jahat seperti itu. Dan orang-orang yang membawamu ke kantor NetCaptain adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tersebut. Itulah sebabnya aku datang dan menyelamatkan kalian, aku … sejujurnya khawatirmereka akan melakukan hal-hal sadis kepada kalian.”

Situasi pun menyepi. Tak ada kata terucap dari bibir Patih maupun Subject 09. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara percikan air di kamar mandi.

“Paman … ” Patih kembali memutuskan untuk membuka percakapan. “Ibu mengatakan bahwa orang-orang tersebut sebenarnya sedang mencarimu. Kau juga tadi mengatakan bahwa mereka rela melakukan apa saja demi menemukanmu. Mengapa demikian? Apakah kau telah melakukan kejahatan?”

Pertanyaan yang sangat menohok. Sekali lagi Subject 09 menatapi kedua bola mata Patih begitu dalam, seakan tak rela jika fakta tentang kehidupannya bocor ke telinga anak mantan tetangganya tersebut. Subject 09 lantas memalingkan pandangannya, lalu menunduk dengan penuh renungan. “Ya. Aku melakukan banyak hal buruk, Patih. Banyak sekali.”

Patih tak menyegerakan responnya, ia malah memandangi wajah paman tak sedarahnya tersebut.”Apa yang telah kau lakukan, paman? Mengapa mereka mencarimu?”

“Bagaimana aku menjelaskannya kepadamu? Aku pun bingung … ” ujar Subject 09. Benaknya mengais-ngais jawaban.”Mungkin begini … bayangkan jika ada orang memukul wajah ibumu begitu keras, apa yang akan kau rasakan?”

“Unggg, marah, tentu saja.”

“Lantas apa yang akan kau lakukan sebagai laki-laki dan sebagai penggemar Metal Gear Solid?”

“Mungkin aku akan memukul balik.”

“Ya, kira-kira seperti itulah kejadiannya,” lanjut Subject 09 selepas menghela napas panjang.”Aku punya keluarga sebelum bertemu dengan kau dan ibumu. Mereka dibunuh. Dibunuh oleh sekelompok orang yang sangat jahat. Kau bisa membayangkan betapa hancurnya perasaanku, bukan begitu?”

Kedua mata Patih terbelalak. Ia lantas mengangguk pelan—seakan ragu.

“Aku lebih dari marah, lebih dari kecewa, lebih dari sekadar sakit hati. Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku lebih jelas. Pokoknya aku sangat marah. Setelah kejadian tersebut, aku mencari orang-orang jahat yang membunuh keluargaku. Aku menemukan mereka. Tentu saja … aku pun memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukan keluargaku. Itulah kenapa aku dikejar-kejar oleh polisi dan sebagainya.”

“Kau … ” Patih hendak mengonfirmasi makna pernyataan Subject 09, tetapi ia ragu-ragu. “Kau membunuh mereka?” tanyanya sesaat kemudian.

Subject 09 menatapi Patih. “Benar.”

“Tetapi … bukankah itu berarti kau membela kebenaran seperti pahlawan-pahlawan super di film bioskop? Kau mengalahkan orang-orang jahat, bukan begitu?”

“Sayangnya orang-orang jahat itu menggunakan seragam dan penampilan yang sama dengan orang-orang baik. Paham maksudku?”

Patih mengangguk, tetapi kurang yakin. Gamang.

“Hidup ini tak pernah semudah film superhero, Patih. Tidak semudah membedakan warna hitam dan putih. Hidup ini penuh tipuan, kau akan memahaminya ketika kau telah dewasa kelak. Tidak sekarang.”

Lagi, situasi pun menyepi.Tak ada pertukaran kata dari kedua lelaki yang sedang duduk di sofa ruang tengah tersebut. Subject 09 termenung menatapi langit-langit, sementara Patih mencoba memahami segalanya seraya mencanangkan pandangannya ke atas ubin.

“Patih … ” kali ini Subject 09 yang memulai percakapan. “Ketahuilah bahwasanya tak semua hal buruk dapat dicegah dengan hal-hal baik. Kadang, dalam situasi tertentu, kau hanya bisa mencegah hal-hal buruk dengan hal-hal buruk pula. Sama halnya seperti menembak penjahat yang akan melakukan pengeboman. Menembak orang bukan hal yang baik, begitu pula dengan melakukan pengeboman. Tetapi hal itu harus dilakukan agar tak banyak orang yang mati karena terkena bom.”

Patih menoleh perlahan. Ia tak sesemangat sebelumnya. “Sulit untuk dipahami ya, paman?”

Subject 09 tersenyum seraya mengusap-usapkan telapak tangannya ke kepala Patih. “Kau akan mengerti pada saat waktunya tiba,” ujarnya.

“Tak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini, Patih. Aku pun bukan orang baik seperti yang kalian pikirkan selama ini. Aku telah melakukan banyak hal buruk sejak aku masih kecil. Aku melakukan hal-hal yang bahkan anak paling nakal sekalipun akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Aku melindungi kalian karena … karena kalian keluargaku juga, bukan karena aku baik atau jahat,” lanjut Subject 09.

“Hmm,” angguk Patih. “Kurasa menjadi orang baik itu memang tak bisa dilihat dari luarnya saja, tetapi juga harus melihatnya dari dalam—dari hati. Contohnya seperti ibuku, aku tahu ia suka merokok dan membahayakan kesehatannya sendiri, tetapi hal tersebut tak menjadikan ia sebagai orang jahat. Ibu telah mengurusku dengan baik; memberiku makan, membiayaiku sekolah, dan lain-lain. Ia tidak lantas menjadi orang jahat hanya karena ia melakukan hal yang buruk seperti merokok!”

“Kata-kata yang bagus. Kau membacanya di internet?” ujar Subject 09 menyeringai.

“Haha, kok paman tahu ‘sih?” jawab Patih seraya menggaruk-garuk kepalanya.”Pada intinya, aku tidak melihat paman sebagai orang jahat. Kau telah melindungi kami, memberikan kami tempat tinggal, dan yang terpenting adalah kau telah membuat ibu bahagia. Kau tahu? Sebelum ada paman, ibu sering terlihat murung. Sekarang sudah tidak pernah murung, semuanya berubah sejak kau datang.”

Subject 09 terdiam. Ia sedikit terhenyak oleh pengakuan anak mantan tetangganya.

“Aku tak peduli apa kata orang, tetapi hidup dengan paman terasa sangat seru. Kau bahkan bisa bertarung seperti Solid Snake [2]. Mengapa paman tak menikah saja dengan ibu?”

NB: [2] Karakter utama pada game Metal Gear Solid

“E-EH!?” Subject 09 mengekspresikan keterkejutannya. Kali ini ia benar-benar terhenyak, tak tanggung seperti sebelumnya. Entah jawaban apa yang harus ia ucapkan kepada Patih, tetapi ia sama sekali tak pernah menyangka kata-kata semacam itu terlontar dari putra semata wayang Verani tersebut. Ia pun menjadi salah tingkah. “Uhm, aku … aku tak tahu, Patih. Masih banyak hal yang harus kupikirkan selain menikahi … uhm … ibumu.”

“Paman terlihat menyukai ibu, ibu pun demikian. Mengapa harus malu-malu? Kalian ‘kan sudah sama-sama dewasa.”

Skakmat.Subject 09 tak bisa lari dari ujaran anak mantan tetangganya lagi. Ia pun menoleh ke sana-kemari, mencari topik yang bisa mengubah fokus Patih. Sambil tertawa kecil, ia lantas berkata, “Hei, Patih. Kau tahu? Ada hal yang belum diajarkan Bibi Felicia kepadamu. Ilmu ini lebih keren daripada sekadar bertarung seperti Solid Snake. Kau tak mau mempelajarinya?”

“Eh?” Fokus Patih mulai teralihkan. Ia memang tertarik dengan hal-hal yang berbau militer dan intelijen. “Apa itu, paman?”

“Nama tekniknya adalah counter-surveillance. Ini adalah teknik untuk mendeteksi orang-orang yang membuntutimu. Artinya, kau akan mampu mengetahui jika ada orang yang sedang mengikutimu.”

“Oh, seperti di film-film!”

“Benar. Mau kuajarkan kepadamu caranya? Teknik ini berguna agar kau dan ibumu bisa lari dan bersembunyi sebelum ditangkap oleh orang-orang tak dikenal.”

“Mau! Mau! Ajarkan kepadaku, sekarang!”

“Ayo kita ke halaman, jika demikian.”

Subject 09 dan Patih bergegas bangkit dari sofa dan berjalan ke halaman depan rumah. Tak diduga-duga, Subject 09 berhasil mengalihkan perhatian Patih dari topik pernikahan yang sempat dilontarkan kepadanya. Ia agak ketakutan menjawab persoalan-persoalan “serius” seperti demikian. Politik dan hankam adalah lingkup pembicaraanya, ia merasa seperti di neraka jika harus membicarakan kisah asmara. Atau mungkin sebenarnya ia tidak sedang ketakutan—ia hanya sedang salah tingkah.

***

Papua, 17.42

Chairuddin akhirnya mengirim dua orang terbaiknya untuk mengikuti jejak Felicia. Kedua sosok tersebut adalah Syarif—pria yang sempat menodong Felicia—dan Lukas. Keduanya membuntuti Felicia dari jarak yang cukup jauh, apalagi Papua masih merupakan wilayah yang sepi kemacetan. Mereka tak ingin membuat Felicia mencurigai eksistensi keduanya dari dalam taksi yang Felicia tumpangi.

Meski harus melaju pada kecepatan yang sangat pelan, operasi pembuntutan itu berhasil dengan gemilang. Syarif dan Lukas akhirnya tibadi tempat Felicia menghentikan taksinya—tepat di depan hotel bintang empat yang berdiri kokoh di tengah keramaian Kota Jayapura. Felicia kemudian turun dari taksi tanpa merasa curiga dengan keberadaan Syarif dan Lukas yang sedang mengamatinya dari kejauhan.

Tak ingin berbuah kegagalan, Syarif memutuskan untuk berhenti dan mengamati pergerakan Felicia melalui teropong militernya. Ia pun mendapati wanita berjilbab tersebut mendatangi meja resepsionis dan berbicara empat mata dengan pegawai yang berdiri di sana. Dugaannya positif, Felicia memang hendak menginap di sana. Melihathal tersebut, Syarif segera menghubungi atasannya—Chairuddin—melalui earphone yang menempel di belakang telinga.“Pak, subjek memasuki Hotel Pearl. Ia hendak menginap, tampaknya. Apa perintahmu?”

Panggilan bagus.Tetap ikuti dia. Cari cara untuk masuk ke dalam kamarnya jika ia menginap di sana. Kalian membawa peralatan untuk melakukan pembobolan kan?” ujar Chairuddin.

“Diterima. Bawa, Pak.”

Bagus. Gunakan Google Glass jika sudah tiba di lokasi, aku ingin melihat semuanya secara langsung.

“Diterima, Pak.”

Syarif lantas mengajak rekannya untuk turun dari mobil. Keduanya pun turun dan bergegas menuju lobi hotel—mereka segerakan langkah untuk tetap dekat dengan Felicia. Mereka tak ingin kehilangan jejak wanita misterius tersebut.

Di depan pintu masuk hotel mereka sempat dihadang oleh beberapa tim keamanan, tetapi tak ada tanda-tanda jika mereka membawa barang-barang berbahaya. Keduanya pun dipersilahkan masuk secara ramah.

Setibanya di lobi hotel, Syarif dan Lukas tak segera pergi ke meja resepsionis. Tak perlu, lebih tepatnya. Mereka lekas membuntuti Felicia hingga masuk ke dalam lift yang sama. Agar tak membuat Felicia curiga, keduanya masuk secara bergantian. Mereka juga berdiri diantara kerumunan orang yang ikut masuk ke dalam lift. Hingga saat itu, Felicia masih tetap merasa tak sedang dibuntuti—wajahnya tampak santai dan sikapnya biasa-biasa saja.

Setelah beberapa kali berhenti pada lantai-lantai yang lebih rendah, lift akhirnya tiba di lantai enam. Felicia akhirnya keluar dari ruangan berukuran 2 x 2 meter tersebut dan berjalan menuju kamar inapnya. Kedua pria yang mengikutinya pun ikut keluar, mereka menerobos kerumunan yang bergumul di dalam lift.

Syarif dan Lukas mengikuti Felicia dengan langkah yang lambat. Mereka juga berjalan pada jarak yang berbeda agar tak membuat Felicia curiga apabila menoleh ke belakang. Akan tetapi, sampai Felicia tiba di kamarnya, keduanya tak menjumpai masalah yang sedari tadi dikhawatirkan. Mereka mulai berpikir bahwa Felicia bukan operator seperti yang dikatakan oleh Chairuddin.

Namun demikian, tugas tetaplah tugas. Syarif dan Lukas lantas berdiri di depan kamar bernomor 629 selama beberapa saat. Mereka menoleh ke sana-kemari—memperhatikan aktivitas di sekitar koridor hotel. Hanya sedikit orang yang berlalu, tetapi mereka mempunyai masalah yang lain: kamera CCTV. Mereka mendapati dua kamera menempel di langit-langit koridor; satu berada di ujung kanan dan satu lagi berada di ujung kiri. Kalau mereka sampai kelihatan melakukan aktivitas yang mencurigakan di koridor tersebut, nama Han’s Security bisa dipertaruhkan.

Lukas akhirnya memberi isyarat kepada Syarif untuk menghubungi markas. Syarif setuju, ia lantas menekan earphone di belakang telinganya. “Pak, kami sudah berada di depan kamar subjek. Tetapi kami punya sedikit masalah. Pintu kamar subjek menggunakan sistem gesek kartu dan posisi kamarnya berada di antara dua kamera CCTV. Kami tidak bisa melakukan peretasan sampai CCTV dimatikan,” ujar Syarif agak berbisik.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Syarif, pintu kamar hotel tersebut telah menggunakan sistem gesek kartu. Artinya, kunci pada pintu tersebut telah memanfaatkan teknologi keamanan yang cukup canggih. Apabila ada yang berusaha menggesek kartu yang salah atau mencoba membobolnya secara paksa, maka program pada sistem tersebut akan memberikan peringatan kepada tim keamanan hotel. Itulah kenapa Syarif perlu meretas kodenya. Tidak bisa “dibuka” hanya dengan menggunakan pick lock [3] atau metode brutal.

NB: [3] Alat untuk membuka gembok dan jenis pengaman fisik lainnya tanpa harus memiliki kunci yang cocok. Hanya sebagian orang yang dilatih untuk menggunakan alat dan teknik pick lock.

Laporanmu diterima. Alex sedang mengerjakan permintaanmu. Tunggu sekitar tiga menit. Ia butuh masuk ke server hotel,” ujar Chairuddin.

“Baik, Pak.”

Tak sampai tiga menit menanti, Syarif kembali mendapatkan respon dari atasannya. “Syarif, Alex sudah menembus server hotel. Kamera CCTV di depan kamar subjek sudah dibekukan, gambar CCTV pada server ia buat statis, kau tak perlu khawatir. Eksekusi.

“Diterima,” jawab Syarif tegas. Ia kemudian memberikan isyarat kepada Lukas untuk mengenakan kacamata khusus yang berfungsi sebagaialat perekam dan “mata” bagi markas pusat. Alat tersebut merupakan pengembangan dari Google Glass yang diperkenalkan pada tahun 2013 silam.

Kacamata perekam telah dikenakan, Lukas pun bergegas melakukan peretasan pada kunci pintu. Ia menempelkan semacam chip pada gagang pintu, lalu mengakses aplikasi khusus pada ponselnya. Ratusan—atau bahkan ribuan—baris kode muncul di atas layar ponselnya, namun ia sama sekali tak merasa asing pada bahasa yang sulit dipahami oleh manusia awam tersebut. Ia menambahkan beberapa kode baru pada baris-baris tertentu, lalu menjalankan ulang program yang mengandung kode-kode tersebut.

Lampu indikator pada gagang pintu tersebut sontak berubah menjadi warna hijau. Kunci pintu telah berhasil dibobol tanpa harus membangunkan tim keamanan hotel. Kini saatnya Syarif dan Lukas memasuki momen-momen yang paling dinanti: masuk ke dalam kamar Felicia dan melakukan penangkapan.

Tak ada orang yang berlalu hingga detik itu, mereka beruntung. Segera saja Syarif membuka pintu kamar, sementara Lukas masuk seraya membidikkan pistolnya yang sedari tadi ia sarungkan dibalik celananya. Rupanya pistol yang ia bawa dimodifikasi dengan bahan khusus sehingga luput dari pemeriksaan tim keamanan di lobi.

Begitu menginjak ubin pertama kamar Felicia, Lukas segera mengecek dua sudut di samping pintu—tak ada tanda-tanda bahaya. Lukas bergerak begitu lambat, sementara Syarif mengikuti langkahnya dari belakang. Sama seperti rekannya, Syarif juga membidikkan pistolnya sejajar dengan arah pandangnya.

Kedua personel Han’s Security tersebut akhirnya masuk ke dalam kamar Felicia. Syarif lantas menutup pintu secara perlahan.

“Kita sudah masuk, Pak,” bisik Syarif memberikan laporan.

Bagus. Kami sudah mendapatkan visual dari sini. Teruskan,” jawab Chairuddin.

“Perasaanku tidak enak. Tidak ada orang di sini,” timpal Lukas seraya menatap ke seluruh sudut ruangan.

Tidak ada Felicia? Kata kalian ia ada di sana?

“Ya, Pak. Kami yakin seratus persen ia masuk ke dalam kamar ini. Tetapi kamar ini tak tampak sedang dihuni manusia. Terlalu rapi dan … gelap,” bisik Syarif mendeskripsikan situasi.

Kalau begitu ia pasti ada di sana! Coba cek kamar mandi. Mungkin ia sedang buang air besar atau apalah.

“Diterima,” jawab Syarif dilanjutkan dengan menepuk pundak kerabatnya.

Lukas mengangguk, ia juga telah mendengar perintah Chairuddin melalui earphone­­-nya. Kedua pria tersebut lantas bergerak ke arah kamar mandi.

Dengan langkah nan senyap, Syarif dan Lukas mendekati pintu kamar mandi. Mereka bisa mendengar suara percikan air yang sangat lembut dari kamar mandi. Mungkin benar apa kata Chairuddin, Felicia sedang berada di kamar mandi untuk buang hajat.

Kedua personel Han’s Security tersebut lantas berdiri menghimpit dinding pada dua sisi yang berlawanan. Keduanya bersiaga dengan pistol yang berada pada masing-masing genggaman. Syarif kemudian menatapi rekannya, ia memberikan beberapa isyarat untuk membuka pintu kamar mandi dengan teknik pick lock dan melakukan prosedur standar pertarungan jarak dekat. Lukas mengangguk.

Lukas mengeluarkan sebatang logam kecil dari saku celananya dan bergegas mencolokkannya ke lubang kunci pintu kamar mandi. Ia meraba-raba beberapa biji logam yang tersembunyi di dalam kunci pintu kamar mandi dengan alat mungilnya tersebut, namun tampaknya pintu kamar mandi sudah terbebas dari kuncian. Ia menoleh kepada Syarif, memberikan isyarat bahwa pintu tak terkunci. Dobrak dan lakukan prosedur standar pertarungan jarak dekat, ujarnya berisyarat.

Syarif mengangguk, Lukas pun kembali ke posisi awalnya. Mereka pun mengambil kuda-kuda untuk melakukan pertarungan jarak dekat. Syarif memberikan hitungan hanya dengan isyarat jari-jemarinya. Satu, dua, tiga …

BRAAAK! Lukas mendobrak pintu kamar mandi. Ia langsung bergerak ke sudut kiri kamar mandi, sementara Syarif bergerak ke sudut kanan kamar mandi. Mereka bergerak menyilang seraya membidikkan pistol pada masing-masing genggaman. Akan tetapi, sudah seheboh itu, mereka tak menemukan apa-apa selain diri mereka sendiri pada cermin kamar mandi. Kamar mandi benar-benar kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan selain Syarif dan Lukas. Suara percikan air yang begitu lembut juga ternyata berasal dari keran wastafel yang tak begitu rapat.

“Terkutuklah. Kamar mandi kosong, Pak!” seru Syarif.

“Bajingan, ke mana wanita itu? Apakah kita tadi berhalusinasi?” timpal Lukas agak berbisik.

Hah!? Bagaimana ceritanya ia tidak ada di dalam!? Kalian masuk ke kamar yang benar atau tidak!?

“Sumpah, Pak. Ini kamarnya. Aku dan Lukas menyaksikannya langsung—”

“Hei, kau dengar suara itu?” Belum usai rekannya berbicara, Lukas menyela karena mendengar sesuatu yang sama lembutnya dengan suara percikan air di wastafel.

“Ada apa?” Syarif jadi penasaran. Fokusnya buyar.

Ada apa!? Lukas, Syarif! Lapor padaku. Aku tak melihat apa-apa pada Google Glass kalian!” seru Chairuddin. Ia juga penasaran.

“Aku mendengar suara cit, cit, cit tetapi sangat pelan. Suaranya takkan tertangkap di earphone, Pak,” ujar Lukas.

Sialan, ada tikus maksudmu!?

“Tidak, tak seperti suara tikus. Lebih mirip seperti suara mesin atau apalah.”

“Lukas, bukankah suaranya berasal dari sana? Aku juga mendengarnya,” sela Syarif. Ia menunjuk ke arah kakus.

Kedua personel Han’s Security itu pun terdiam. Gecar berkuasa, imaji menggila. Mereka lantas mendekati kakus secara perlahan dan mencoba membuka tangki air yang bertengger di belakang kakus tersebut—suaranya berasal dari sana. Lukas membuka penutup tangki, sementara Syarif membidikkan pistolnya ke titik munculnya suara. Kepalanya sesekali menoleh ke arah pintu, mewaspadai jika mereka sedang dijebak atau semacamnya.

“Oh … ” itu adalah satu-satunya respon terbaik Syarif saat melihat benda sebesar dompet laki-laki bersarang di dalam tangki. Warnanya hitam pekat dengan lampu flip-flop berwarna merah pada salah satu sisinya.

BLAAAAAAAAAR!

Tak ada satu orang pun dari pihak Han’s Security yang menduga peristiwa semacam itu akan terjadi. Felicia memasang perangkap untuk dua orang yang sedari tadi mengikutinya. Ia memasang bom kendali jarak jauh untuk membuat kejutan yang meriah bagi orang-orang yang sudah mencurigainya sejak ia menyambangi kantor Han’s Security.

Chairuddin terkejut setengah mati begitu mendengar suara ledakan dan kehilangan visual dari kedua anak buah terbaiknya. Begitu pun Alex, pria yang sedari tadi duduk santai di depan komputernya itu pun hanya bisa menjauh dari tempat duduknya dan menggenggam kepala dengan kedua tangannya—ia tampak kecewa dan tidak percaya.

Para pegawai Han’s Security yang berada di sana pun geger, mereka kehilangan dua rekan kerja yang selama ini selalu mendapatkan pujian dari Chairuddin. Kantor keamanan swasta yang disebut-sebut sebagai perusahaan keamanan terbaik di Papua itu pun geger.

Chairuddin begitu marah mendapati kedua anak buahnya tewas hanya dalam waktu singkat. Ia pun melampiaskan amarah kepada sahabatnya; ia genggam kerah baju Alex begitu erat dan memuntahkan segala unek-uneknya. “Kau lihat itu, Alex!? Kau lihat itu!? Wanita berjilbab itu bukan orang biasa! Seharusnya kita kirim satu peleton untuk memusnahkannya! Dia sudah tahu kita mencurigainya! Anjing, ANJING! Sekarang lihat! Sekarang lihat kesudahannya! Ia membunuh dua anak buah terbaikku! Sekarang kau sudah percaya, heh!? KAU SUDAH PERCAYA!?”

Alex hanya bisa pasrah menerima kemarahan sahabatnya. Tetapi pada akhirnya ia percaya dengan semua kekhawatiran Chairuddin. Ia tak bisa menganggap remeh keberadaan Felicia. Semestinya wanita itu dikeroyok saja saat berada di ruang latihan Han’s Security, renungnya. “Aku percaya, aku sudah percaya. Maaf aku telah menyangsikan pendapatmu sekian lama. Sekarang apa yang akan kita lakukan? Aku sarankan kirim orang dengan perlengkapan taktis. Felicia ini bukan orang biasa.”

“Lacak dia. LACAK DIA! Dia pasti masih ada di sekitar hotel. Manfaatkan CCTV untuk melacaknya!”

Alex segera menyanggupi permintaan Chairuddin, sementara pegawai-pegawai Han’s Security yang lain masih tak percaya kedua rekan mereka telah tiada. Ruangan yang semula ramai dengan suara ketikan keyboard dan koordinasi antar anggota tersebut seketika menjadi penuh dengan suara kasak-kusuk. Tetapi Chairuddin tak peduli, ia hanya peduli pada Felicia.

Akan tetapi, belum sempat Alex menemukan Felicia melalui kamera pengaman di hotel tempat Felicia menginap, tiba-tiba seluruh video CCTV mati. Tak ada satu pun gambar yang muncul dari CCTV di hotel terkait, hitam saja, tersisa garis-garis penyekat antara satu video dengan video yang lain.

“Anjing! Apa-apaan ini!?” ucap Chairuddin kesal. Baru saja ia hendak memulai pencarian, tiba-tiba seluruh kamera hotel mati. Apa maksudnya?

Tak lama kemudian, layar komputer Alex berubah menjadi warna hitam pekat tanpa sekat-sekat pembatas seperti pada layar CCTV pada umumnya. Lantas muncullah sebuah pernyataan yang membuat Chairuddin dan Alex merinding.

Berusaha menangkapku? Berusahalah lebih keras! Hehehe.

Chairuddin, Alex, dan segenap pegawai Han’s Security yang berada di ruangan tersebut menyisakan kesunyian yang tak terkira. Semuanya terdiam mematung begitu membaca seuntai kalimat yang muncul di layar komputer Alex. Bulu roma pun bergidik, tiada seorang pun dari mereka yang menyangka bahwa seorang wanita berjilbab nan lemah dapat membuat perusahaan keamanan sebesar Han’s Security harus menelan ludah dalam-dalam. Mereka mulai menduga bahwa Felicia bukan orang PIN, paling tidak bukan agen yang biasa mereka hadapi.

“Siapa orang ini, Chair? Kau punya ide? Ia menantang kita tanpa keraguan,” tanya Alex heran.

“Aku tak tahu. Kita harus membereskan ini sebelum sampai ke telinga owner dan direktur. Habislah kita kalau mereka tahu kita tak bisa membersihkan hama semacam ini,” ujar Chairuddin.“Anjing … ” lanjutnya jengkel.

“Kau benar-benar harus mengirim satu peleton dengan perlengkapan taktis jika mau menghabisi orang semacam ini. Dia bukan ancaman yang biasa kita hadapi sehari-hari, aku tak pernah melihat ada agen PIN yang berani melakukan hal ini.”

“Apa yang bisa kau lakukan untuk menemukannya hari ini?”

“Aku akan coba meretas semua kamera yang terpasang sampai dengan radius sepuluh meter dari Hotel Pearl. Kuharap kita bisa menemukannya. Kalau benar ia pergi dari hotel, ia pasti belum jauh.”

“Lakukan, Alex. Lakukan saja.”

***

Hotel Pearl, Jayapura
Sepuluh menit sebelum terjadi ledakan

Felicia masuk ke dalam kamar nomor 629. Setelah menutup pintu rapat-rapat, ia bergegas menuju kamar mandi dan membuka tangki air yang bertengger di belakang kakus. Ia lantas membuka ranselnya dan mengeluarkan semacam kantong yang terbuat dari bahan khusus untuk menghindari pemeriksaan tim keamanan hotel. Dari dalam kantong tersebut, ia mengambil sebuah objek berwarna hitam pekat dengan lampu flip-flop berwarna merah pada salah satu sisinya. Benda tersebut merupakan bom kendali jarak jauh yang bisa diledakkan sesuai perintah pemiliknya.


Harga telur tidak akan naik jika tidak ada telur.

--Quote Yaiyalah, Papa Husky


Felicia menempelkan benda yang bobotnya hampir sama dengan dua buah batu bata tersebut ke dalam tangki kakus. Ia tutup kembali tangkinya, lalu ia buka sedikit keran wastafel untuk membuat suara percikan air yang lembut. Aktivitasnya di kamar mandi sudah selesai, Felicia lantas keluar dari kamar mandidan bergegas menuju jendela besar yang mengarah langsung keluar gedung.

Sesaat sebelum membuka jendela, Felicia sempat menatap ke celah bawah pintu, tampak dua bayangan berdiri di depannya. Ia tahu bahwa ia sedang diintai oleh dua orang tak dikenal. Tetapi ia tak waswas, ia bahkan bisa tersenyum kecut.

Felicia akhirnya membuka jendela kamarnya. Ia kemudian turun ke atas atap kecil yang berada tepat di bawah jendelanya. Desain hotel tersebut memang berbeda dari hotel-hotel besar di Indonesia pada umumnya—selain dapat dibuka-tutup, tiap-tiap jendela pada hotel tersebutjuga dinaungi oleh sebuah atap kecil yang terbuat dari semen. Atap kecil tersebut sesungguhnya berfungsi sebagai tempat untuk memasang lampu, namun cukup kuat untuk menahan bobot manusia. Felicia memang sengaja memilih hotel semacam itu agar ia dapat mempermainkan orang-orang yang sedari tadi membuntutinya.

Begitu berhasil keluar, Felicia pun menutup jendela perlahan-lahan agar tak menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang yang sebentar lagi akan menerobos masuk ke dalam kamarnya. Ia lantas menghadap ke arah samping, matanya terfokus kepada atap semen yang juga menyembul di bawah jendela kamar sebelah. Hatinya berniat untuk melompat, menantang maut yang siap merenggut. Satu kesalahan kecil akan berakibat fatal baginya—ia bisa saja terpeselet dan jatuh dari ketinggian sekitar dua puluh meter. Mungkin lebih. Tubuhnya akan langsung hancur begitu menghantam tanah, organ-organ tubuhnya akan berhamburan dan menodai dinding-dinding hotel di lantai dasar.

Akan tetapi, hal tragis tersebut tak harus terjadi. Felicia tak merasakan kekhawatiran yang tentunya akan dirasakan oleh manusia normal. Ia pun menarik napas singkat dan mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tiga, dua, satu …

HUP!

Tanpa keragu-raguan, Felicia akhirnya melompat dan meraih tepian atap yang ia tuju. Ia sama sekali tak tampak gentar apalagi gemetar melakukan atraksi sinting seperti demikian—seakan sudah terbiasa melakukannya. Tubuhnya menggelantung di tepian atap, tertiup angin malam yang berhembus lebih kencang daripada di lantai dasar. Perlahan-lahan ia angkat tubuhnya, lalu naik ke atas atap semen yang menopang bobot tubuhnya. Tangannya benar-benar kuat sebagai seorang wanita, padahal ia tengah membawa ransel pada saat itu.

Sesaat ia menghembuskan napas berat dan menatap ke bawah. Cukup tinggi, pikirnya. Tetapi ia tak hendak mengagumi ketinggian yang bisa membunuhnya tersebut. Ia lantas mengetuk jendela yang terpasang beberapa meter di samping jendela kamarnya.

Tak lama kemudian, Felicia mendengar seseorang membuka grendel jendela. Ia pun agak menyingkir dari tempat di mana jendela dapat terbuka, lalu mendapati seorang pria bertopi membukakan jendela untuknya beberapa saat setelahnya. Tanpa mengucapkan permisi atau semacamnya, Felicia langsung masuk ke dalam kamar sang pria. Tak ada pertukaran kata hingga detik itu, seakan sang pria sudah mengetahui kedatangan Felicia, begitu pun sebaliknya.

Jendela kamar ditutup rapat oleh sang pria, sementara Felicia merogoh sesuatu dari ranselnya. Felicia mengambil sebuah amplop coklat yang cukup besar, lantas menyodorkannya kepada sang pria. “Tugasmu di sini sudah selesai. Kau bisa pergi sekarang,” ujar Felicia dingin. Rupanya amplop tersebut berisi uang senilai jutaan rupiah.

“Kau yakin hanya ini tugasku? Tak perlu ada ‘pembersihan’ terhadap targetmu? Dengan tarif yang sama, kurasa akan sia-sia jika kau tidak menggunakan jasaku yang sebenarnya,” jawab sang pria bertopi.

“Aku lebih paham soal ‘pembersihan’, amatir. Masih bagus kau tidak kubunuh untuk menghilangkan jejak. Sekarang, pergilah. Kau hanya pembunuh bayaran, seharusnya tidak mempertanyakan tugasmu. Yang semestinya kau pertanyakan adalah uang.”

Cih, sombong sekali,” tukas sang pria ketus. Ia pun mengambil amplop dari tangan Felicia dan beranjak pergi dari kamar tersebut—meninggalkan Felicia sendirian.

Rupanya Felicia sengaja meminta orang bayaran untuk memesan kamar tepat di samping kamar yang ia pesan. Dengan begitu, ia dapat pindah ke kamar sebelah dan mengelabui dua orang misterius yang membuntutinya sejak meninggalkan kantor Han’s Security. Felicia mempermainkan kedua penguntit tersebut.

Tak lama setelah sang pembunuh bayaran meninggalkan kamarnya, Felicia segera mengeluarkan komputer jinjing dan sebuah headset dari ranselnya. Ia pun berjibaku dengan kedua peralatannya tersebut; headset berfungsi untuk mendengarkan aktivitas di kamar sebelah, sementara laptop berfungsi untuk melakukan peretasan dan mengaktifkan bom yang ia pasang di dalam tangki kakus.

Setelah memasukkan beberapa baris kode yang tampak rumit di layar komputernya, Felicia lantas berucap, “Au revoir.” Tak lama setelahnya, ia menekan tombol ENTER dan suara ledakan menyeruak dari kamar sebelah. Ledakannya tak sampai membuat kamar-kamar lain hancur, namun bom tersebut setidaknya mampu membuat siapa saja yang berada di dekatnya mampus.

Felicia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum lebar. Beberapa saat setelahnya, ia kembali memasukkan beberapa baris kode di layar laptop-nya. Butuh sekitar dua menit untuk menyelesaikan kodenya, lalu ia kembali menekan tombol ENTER. Kini yang dikejutkan oleh perbuatannya adalah tim keamanan hotel. Tiba-tiba saja seluruh CCTV dan jaringan di dalam hotel mati.

Terakhir,sebelum ia keluar dari kamar dan berpura-pura panik, ia menuliskan sebaris kalimat—entah untuk siapa. “Berusaha menangkapku? Berusahalah lebih keras! Hehehe.” Ia tekan tombol ENTER kembali, lalu menutup layar laptop-nya. Dengan gerakan agak tergesa-gesa, ia pun memasukkan laptop dan headset ke dalam ranselnya. Felicia lantas melangkah cepat meninggalkan kamarnya.

Di luar kamar, Felicia mendapati kerumunan orang berlarian di sekitar koridor hotel. Tak hanya penghuni hotel, beberapa tim keamanan juga ikut berlari menyelamatkan para penghuni yang panik. Beberapa orang bahkan tampak sangat ketakutan dan menangis histeris di sudut koridor. Mendapati situasi tersebut, Felicia pun berpura-pura panik dan setengah berlari menuju ke lantai dasar. Ia mengikuti arus kerumunan.

Harapan Felicia hanya satu saat itu: semoga tak ada warga sipil tak berdosa yang menjadi korban ledakannya.

***

Ruang Kontrol Kantor Han’s Security
20.13

Upaya Chairuddin dan Alex belum membuahkan hasil yang signifikan—bahkan belum ada hasil sama sekali. Ratusan kamera di sekitar Kota Jayapura sudah mereka retas, namun mereka tak kunjung menemukan Felicia. Beberapa pegawai Han’s Security yang berada di ruang kontrol pun satu persatu berkurang, menyisakan para loyalis yang bersedia meluangkan waktunya demi Chairuddin dan Alex—padahal mereka pun sebenarnya telah diizinkan untuk pulang.

Chairuddin sangat tertekan, ia takut kejadian hari ini sampai terdengar ke telinga direktur dan pemilik perusahaan. Padahal, selain ditunjuk menjadi kepala humas, selama ini ia telah dipercaya untuk menjadi ‘penjaga gerbang’ Han’s Security dari orang-orang yang mencurigakan. Jika direktur dan pemilik perusahaan sampai mengetahui kesalahan yang diperbuatnya, ia mungkin akan langsung dipecat dari Han’s Security—paling tidak begitulah yang ia takutkan.

Penampilan Chairuddin pun mulai terlihat berantakan; tiga kancing teratas kemejanya sudah terbuka, wajahnya lusuh, dan matanya memerah akibat terlalu lama melihat layar komputer. Tak hanya Chairuddin, Alex pun demikian. Bedanya, penampilan Alex tak seburuk penampilan kerabatnya. Pria berwajah legam itu masih tampak lebih normal dan emosinya masih sangat terkendali.

Chairuddin mondar-mandir di belakang kursi Alex. Perasaannya sangat tak tenang, jantungnya berdegup seperti kesetanan. Tekadnya adalah menemukan Felicia kurang dari 24 jam, ia tak boleh gagal. Seraya menggigit-gigit kuku ibu jarinya, ia berkata kepada Alex, “Bagaimana ini, Alex? Kita belum juga dapat menemukan Felicia. Hancurlah karirku jika para atasan tahu bahwa aku tidak becus mengurusi masalah keamanan perusahaan.”

“He, tenanglah. Kau ini terlalu tegang. Kalau pun gagal, kurasa takkan seburuk itu kejadiannya. Para atasan juga pasti penasaran dengan orang ini—bagaimana caranya satu orang wanita berjilbab mampu membuat perusahaan sebesar Han’s Security panik?” ujar Alex berusaha menghibur kerabatnya.

“Kau sudah salah terka sebelumnya! Aku tak mau tenggelam dalam bujukanmu lagi!”

“Ya, ya, ya. Aku memang salah menilai Felicia, tetapi kau tidak mendengarkan bujukanku, sobat. Kau bermain dengan peraturanmu sendiri.”

“Bah! Kau hanya berupaya membela dirimu sendiri, Alex! Sudahlah, kita harus fokus! Kita harus bisa menemukan Felicia sebelum—”

“Hei, sebentar. Kurasa aku baru saja melihat sesuatu,” Alex menyela pembicaraan kerabatnya. Keningnya pun berkerut, meninggalkan kesan heran di wajahnya.

“Hah!? Apa!? Ada apa!?”

Alex memfokuskan pandangannya kepada salah satu tampilan CCTV yang muncul di layar komputernya. Ia perbesar tampilan CCTV tersebut, lalu ia putar balik rekamannya selama beberapa menit terakhir. “Kau lihat itu!?” tanya Alex heboh.

“Anjing … bukankah itu—”

“Itu Felicia. Ke mana ia pergi?”

“Temukan dia! Temukan dia!”

Akan tetapi, belum sempat Alex mengerjakan apa yang diperintahkan oleh kerabatnya, ponsel Chairuddin tiba-tiba berbunyi. Chairuddin kehilangan fokusnya, ia bergegas mengambil ponsel dari saku celananya dan membiarkan Alex mengerjakan tugasnya. Pandangan Chairuddin pun terpaku pada layar ponsel yang ia genggam, benaknya berusaha memproses apa yang sedang terjadi.

Beberapa saat kemudian, kedua alis Chairuddin menyeringai tajam, gigi-giginya saling mengerat, dan kedua tangannya gemetar. Darahnya mendidih, degupan jantungnya pun menjadi tak karuan. Ia terlampau geram. Ia menyadari sesuatu hanya dari kedipan lampu LED pada layar ponselnya—sesuatu, atau bahkan peristiwa yang sangat berpengaruh baginya.

“BANGSAAAT! AKU BUTUH SEMUA TIM YANG TERSISA! AKU BUTUH SEMUA TIM HAN’S SECURITY YANG TERSISA, SEKARANG!” jerit Chairuddin.

***

Perumahan Grand Crystal, Papua
20.15

Felicia mendatangi salah satu perumahan paling elit di Kota Jayapura. Perumahan tersebut merupakan tempat peristirahatan para konglomerat dari luar kota maupun luar pulau. Memang ada pula beberapa penduduk lokal yang menempati perumahan tersebut, namun persentasenya hanya sedikit—itu pun hanya orang-orang yang sangat terpelajar dan sangat kaya.

Felicia mengakhiri langkahnya di depan rumah bernomor 28A. Ia menekan bel yang bertengger di samping pintu teras. Rumah-rumah di kawasan tersebut memang tak dilengkapi dengan pagar, sehingga setiap orang bisa langsung mengetuk atau membunyikan bel di teras rumah.

Cklek. 

Tak butuh waktu lama bagi penghuni rumah untuk menjawab panggilan Felicia. Seseorang akhrinya membukakan pintu. Tidak, lebih tepatnya dua orang—dua pria dengan setelan serba hitam. Kedua pria tersebut menatapi Felicia dengan sinis, mereka tampak posesif dengan keamanan rumah tersebut. Keduanya berdiri menutupi pandangan Felicia dari interior rumah yang berwarna dominan putih dilengkapi dengan pencahayaan berwarna kekuningan.

Felicia tak mempermasalahkan posisi kedua pria berbadan tegap tersebut, ia tampak santai. Ia pun tersenyum dan memperkenalkan dirinya. “Selamat malam, bapak-bapak. Perkenalkan, namaku Felicia. Aku ke sini sebagai rekan bisnis Bapak Chairuddin di Jakarta. Bolehkah saya bertemu dengan Pak Chairuddin atau barangkali istrinya?” tanya Felicia ramah.

“Bisnis?” tanya salah seorang pria yang berdiri di hadapan Felicia—skeptis. “Kami tak pernah mendengar Pak Chairuddin menjalankan bisnis di luar Papua. Kalau pun ada aktivitas semacam itu, kami pasti diberitahu oleh beliau sebelum Anda menginjakkan kaki di rumah ini. Jadi, kedatangan Anda kemari patut dipertanyakan.”

“Oh, mungkin beliau belum memberikan informasi mengenai kerjasamanya dengan kantorku. Tak apa, kebetulan saya bawa kartu nama dan surat kerjasamanya,” ujar Felicia seraya merogoh-rogoh saku jaketnya.

Kedua pria berbadan tegap itu pun saling memandang selama beberapa saat, namun tak berbuat apa-apa selagi Felicia berusaha meyakinkan keduanya. Mereka mulai memasang badan, mewaspadai gerak-gerik Felicia yang mungkin akan merugikan penghuni rumah.

Akan tetapi, Felicia telah menyiapkan kejutan yang tak mampu diantisipasi oleh kedua pria. Ia melempar sebuah kartu plastik—mirip kartu ATM—dari dalam saku jaketnya ke wajah pria yang berdiri di sebelah kanan depan, lalu menendang paha pria yang berdiri di sebelah kiri depan. Aksi mendadak tersebut terjadi begitu cepat, kedua pria bahkan tak tahu apa yang baru saja menimpa mereka sesaat itu.

Felicia akhirnya mampu menginjakkan kedua kakinya di dalam rumah. Ia lantas menghajar kedua penjaga rumah yang masih lengah akibat serangan kejut darinya. Pukulan dan tendangan ia lepaskan ke titik-titik vital, keseimbangan kedua pria pun goyah. Satu orang bahkan langsung tumbang. Pingsan.

 

Namun, pria yang sedang berhadapan dengan Felicia ini merupakan orang yang keras kepala. Dengan kedua tangan cedera, ia tetap mencari cara untuk menumbangkan Felicia. Ia pun menyeruduk Felicia dan menyudutkan wanita berjilbab tersebut ke dinding. Begitu lawannya tersudut, ia segera menanduk kepala Felicia dan menendang rusuk Felicia dengan lututnya. Kedua serangan merangsek masuk tanpa sempat diantisipasi.

Felicia tak gentar. Tendangan lutut yang berikutnya segera ia gagalkan. Ia menyergap kaki sang pria dan menyodok tenggorokan sang pria dengan telapak tangannya. Sang pria lengah, Felicia segera membalikkan keadaan—ia mendorong sang pria ke arah dinding hingga kepala sang pria membentur bingkai foto yang menggantung di permukaan dinding. Sepersekian detik kemudian, ia menanduk hidung sang pria hingga remuk, lalu menendang kemaluan sang pria dengan lututnya.

Sang pria pun tergeletak luruh. Namun, pertarungan belum usai. Felicia bergegas mengambil bingkai foto yang tergeletak di atas ubin. Ia tampar wajah sang pria dengan sisi bingkai, kemudian diakhiri dengan menyodokkan sisi bingkai yang sama ke leher sang pria. Pria tersebut langsung tak sadarkan diri.

Hingar-bingar di ruang tamu itu pun berakhir hanya dalam hitungan detik—tak sampai semenit. Felicia lantas berdiri santai menatapi kedua pria penjaga yang terkulai lemah di atas ubin. Selepas menenangkan raga dan napasnya, ia pun membuang ludah yang telah bercampur dengan sedikit darah ke teras rumah dan menutup pintu teras yang sedari tadi masih terbelalak.

Tak lama kemudian, muncul seorang wanita dari ruangan sebelah. Langkahnya amat tergesa, namun langsung syok begitu mendapati dua orang pengawalnya telah terbujur luruh tanpa daya. Kedua matanya terbelalak dan kedua tangannya secara spontan menyekat mulut yang menganga—ekspresinya tampak diliputi kengerian. Sukmanya semakin goyah saat melihat seorang wanita berjilbab berdiri tegap di antara kedua pengawalnya.

Bagaimana mungkin seorang wanita berwajah manis sepertinya mampu membuat dua orang jebolan militer babak belur? Siapa wanita berjilbab tersebut? Rentetan pertanyaan terus menghantui benak sang penghuni rumah, mempertanyakan eksistensi Felicia yang begitu misterius baginya.

“Kamu siapa? Apa maumu? Apakah kamu yang membuat kedua pengawalku babak belur?” tanya sang penghuni rumah ketakutan.

“Tenang, Bu Chairuddin. Tenang. Aku datang kemari hanya untuk berbicara denganmu. Aku tidak ada niatan berdebat atau melakukan hal-hal nista kepadamu. Sama sekali tidak,” ujar Felicia.

“Lalu apa yang kau lakukan di rumahku!? Kau … kau bahkan berkelahi dengan dua orang pengawalku tanpa sebab, apakah itu yang kau sebut dengan bertamu!?” istri Chairuddin tersebut mendadak panik, ia tak tahu hendak mengancam atau mempertanyakan motif kedatangan Felicia.

“Tenanglah, Bu Chairuddin—” Felicia berjalan santai menghampiri istri Chairuddin, namun tak sempat menyelesaikan kata-katanya.

“Tidak, aku tidak bisa tenang! Aku akan memanggil polisi dan petugas keamanan atas perbuatan tidak menyenangkan olehmu!” seru istri Chairuddin seraya mengeluarkan ponselnya.

“Benarkah?” Felicia berdiri di hadapan istri Chairuddin—hanya beberapa sentimeter darinya. “Dua pengawalmu adalah jebolan militer yang kemudian bekerja di Han’s Security. Mereka dipilih menjadi pengawal Chairuddin karena kemampuan mereka yang mumpuni—mungkin setara dengan pasukan khusus. Akan tetapi, aku mengalahkan mereka, membuat keduanya hampir meregang nyawa. Lantas, apakah kau pikir cukup hanya dengan memanggil polisi dan petugas keamanan? Atau kau ingin lebih banyak darah yang tertumpah di rumahmu?” papar Felicia seraya menyeringai.

“ … ” istri Chairuddin mematung selama beberapa saat. Ia ketakutan setengah mati, ubun-ubunnya sampai terasa dingin. “K-kau … mau apa?”

“Sudah kubilang, aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu. Tidak ada sama sekali niatan untuk menyakitimu atau anakmu.”

“U-untuk keperluan apa?”

Felicia menghela napas panjang. “Lima tahun yang lalu, terjadi pembantaian terhadap sesama agen aparat. Orang-orang yang selamat dari kejadian tersebut kini mencari pimpinan yang bertanggungjawab atas pembantaian terkait. Aku adalah salah satu orang yang selamat dari tragedi berdarah tersebut. Nah, suamimu—Chairuddin—disinyalir melindungi orang yang memimpin pembantaian tersebut. Jadi, kurasa keperluanku ke sini sudah jelas, nyonya muda.”

Istri Chairuddin lagi-lagi terdiam, ia mencoba menemukan tanggapan yang tepat untuk pernyataan Felicia. “M-mengapa kau mendatangi kami? Mengapa tidak mendatangi suamiku saja secara langsung?”

Felicia mendenguskan napasnya. Ia tertawa sinis. “Jika hal itu mudah dilakukan, aku tentu takkan repot-repot datang kemari. Chairuddin adalah orang yang terlatih, ia dilatih langsung oleh kolonel marinir yang sudah bertahun-tahun menjadi tukang pukul. Ia takkan bicara jika kurusak secara fisik, tetapi ia pasti bicara jika kurusak secara psikologis. Kau paham maksudku, kan?”

Istri Chairuddin menelan ludah dalam-dalam. Ia tak tahu jawaban apa lagi yang hendak ia hanturkan kepada lawan bicaranya. “K-k-kau berjanji tidak akan menyakiti kami?”

“Tentu. Aku bersumpah takkan menyakiti kalian. Aku hanya butuh kau dan anakmu melakukan sedikit sandiwara agar suamimu mau bicara. Aku bukan pembunuh kejam seperti pria bajingan yang dilindungi oleh suamimu, aku hanya membunuh orang yang pantas untuk dibunuh. So, sedikit sandiwara takkan terlalu merepotkan, bukan?” ujar Felicia seraya menengadahkan tangannya—sebuah isyarat agar istri Chairuddin menyerahkan ponselnya.

“U-um, baiklah. A-akan kami coba,” balas istri Chairuddin seraya memberikan ponselnya kepada Felicia. Ia mulai sedikit tenang.

“Bagus.” Felicia menatapi layar ponsel istri Chairuddin. Ia mendapati sesuatu yang mencurigakan, tetapi tanggapan terbaiknya hanyalah tersenyum sinis. “Kau memanggil suamimu dengan kode khusus? Ide yang bagus, nyonya,”

Sesaat itu, istri Chairuddin kembali menatapi Felicia dengan tatapan penuh keterkejutan. Ia pikir Felicia sekadar tukang pukul biasa yang tidak mengenal teknologi. Dugaannya salah, rupanya Felicia merupakan wanita yang memiliki kehidupan mirip seperti suaminya—atau bahkan lebih. Entah jawaban apa yang bisa ia berikan kepada Felicia, sesaat itu ia hanya bisa berdoa agar Felicia tak membahayakan nyawanya maupun nyawa buah hatinya.

***

Perumahan Grand Crystal, Kota Jayapura
Dua puluh menit setelah perkelahian di rumah Chairuddin

Delapan orang berpakaian taktis dan bersenjata lengkap turun di depan rumah bernomor 28A. Mereka tampak seperti detasemen khusus kepolisian, namun atribut yang mereka kenakan tak seragam. Delapan pria tangguh tersebut turun dari sebuah mobil van berwarna hitam, lalu berlari menuju pintu teras rumah. BRAK! Tak lama kemudian, mereka mendobrak pintu dan mulai menyisir rumah yang tampak mewah tersebut.

Akan tetapi, penyisiran tak membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka tak menemukan ancaman apa-apa di dalam rumah. Malah, rumah yang mereka sambangi benar-benar kosong—tak ada penghuni. Ada beberapa bercak darah menempel di permukaan lantai dan dinding, namun mereka tak menemukan apa-apa selain ketiadaan. Kedelapan penyerang taktis itu pun keluar dengan perasaan yang cukup jengkel. Terlambat, pikir mereka. Lantas mereka pun melapor kepada sang pimpinan, Chairuddin.

Mendengar kabar tak mengenakkan dari kedelapan anak buah terbaiknya, Chairuddin menggila. Perasaannya semakin tak menentu. Istri dan anak semata wayangnya hilang, entah ke mana lagi ia harus mencari. Kemarahan Chairuddin telah mencapai ubun-ubun. Ia pun menendang-nendang bodi mobil yang baru saja ia tumpangi. Jengkel, takut, gusar, dan segala perasaan negatif sukses menghantui hati dan pikirannya malam itu.

Seluruh pegawai Han’s Security yang berada di sana sekadar bisa menyaksikan Chairuddin melampiaskan kekesalannya. Mereka terlibat saling tatap, namun tak saling bicara. Begitu saja yang mereka lakukan hingga Chairuddin menyangga kepalanya dengan luruh di permukaan bodi mobil.

Belum lama merenung, ponsel Chairuddin kembali berbunyi. Namun, kali ini bukan panggilan khusus seperti sebelumnya, namun sebuah telepon. Chairuddin bergegas mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menatapi layar ponselnya selama beberapa saat, mencoba meyakinkan dirinya bahwa panggilan tersebut adalah dari keluarga tercintanya. Dugaannya benar. Istrinya menelepon. Chairuddin segera mengangkat panggilan tersebut tanpa keragu-raguan.

“Laura! Laura! Kamu di mana!?” seru Chairuddin panik.

Hai, sayang. Aku baik-baik saja kok. Aku sedang berada di sebuah tempat,” ujar Laura—istri Chairuddin. Suaranya gemetar, seakan baru saja menangis.

“Baik-baik saja!? Tidak mungkin, kau terdengar seperti baru saja menangis! Kau di mana!? Bagaimana dengan anak kita, Cynthia!?”

Tidak kok, tidak apa-apa. Cynthia juga baik-baik saja.

“Kau sedang di mana!? Cepat katakan kepadaku! Aku akan menjemputmu!”

Entahlah, aku sedang berada di ruangan yang redup. Seperti gudang, tampaknya.

“Itu tidak membantuku, sayang. Kau harus mengatakan kepadaku di mana letak gudang tersebut.”

Aku tak tahu, sayang. Yang kutahu aku sedang terikat di sebuah kursi, tetapi aku baik-baik saja.

Mendengar jawaban istrinya, dada Chairuddin sontak seperti tertohok oleh benda berat. Ia sadar bahwa istrinya sedang disandera. Benaknya mulai ditutupi oleh pikiran yang menggulung-gulung—takutini dan takut itu. “K-kau di mana … ?” tiada pertanyaan yang lebih berarti daripada terus-menerus mempertanyakan lokasi di mana Laura disandera.

Apakah kau ingat lagu yang mengiringi pernikahan kita berdua?” Laura tak menjawab pertanyaan Chairuddin.

Chairuddin mengerat gigi-giginya. Wajahnya tampak kesal. Ia tak bergegas menjawab pertanyaan istrinya, seakan telah pasrah oleh keadaan. “Jose Mari Chan, Beautiful Girl … ” jawabnya lirih.

Benar. Bagaimana jika kita menyanyikannya sekarang?” Laura menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Beautiful girl, wherever you are, I know when I saw you, you have opened the door … ” Laura mulai menyanyikan lagu favoritnya. Ia terdengar sesunggukan.

“Brengsek … kau akan menyesali perbuatanmu, Felicia. Aku takkan memaafkanmu, Felicia,” ujar Chairuddin berbisik. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertunduk luruh.

Tak lama kemudian, Alex datang menghampiri kerabatnya. Ia menepuk pundak Chairuddin cukup keras hingga Chairuddin mengalihkan fokus kepadanya. “Aku sudah melacak lokasi istrimu. Mari kita susul dia,” ujarnya berbisik.

Mendengar informasi tersebut, Chairuddin pun menatapi Alex dengan kedua mata terbelalak. Ia lantas memberikan isyarat kepada seluruh pegawai Han’s Security yang berada di sana untuk masuk ke dalam mobil. Para personel Han’s Security yang bersiaga di sekitar sana segera menuruti perintah sang atasan, mereka masuk ke dalam van dengan langkah yang tergesa-gesa.

Sembari tetap berbicara dengan istrinya, Chairuddin masuk ke dalam mobil dan memberikan isyarat kepada Alex untuk menancap gas ke lokasi di mana istrinya disandera. Iring-iringan mobil personel Han’s Security pun kembali melesat. Semoga belum terlambat.

***

Kota Jayapura, 20.56

Chairuddin dan kawanannya akhirnya tiba di lokasi yang telah dipaparkan Alex sebelumnya. Mereka berhenti tepat di depan sebuah gedung kucal yang telah diabaikan oleh pemiliknya. Untuk masuk ke dalam gedung tersebut, para personel Han’s Security yang dipimpin oleh Chairuddin harus menembus rerumputan liar yang telah meninggi. Tetapi hal tersebut tak menjadi masalah bagi Chairuddin, lagipula ia sudah tak peduli pada apapun selain keselamatan istrinya.

Chairuddin, Alex, dan kedelapan personel penyerang Han’s Security lantas berjalan menyusuri rerumputan liar menuju gedung tempat di mana Laura disandera. Mereka berjalan agak lambat untuk mengantisipasi bahaya yang mungkin mengintai dari balik kegelapan. Namun demikian, hingga mereka tiba di depan pintu masuk gedung, mereka sama sekali tak mendapati ancaman yang berarti.

Delapan personel penyerang Han’s Security mulai membentuk formasi CQB standar untuk melakukan penyerbuan ke dalam gedung. Dengan cepat, mereka pun masuk dan menyisir setiap sudut yang dianggap membahayakan, sementara Chairuddin dan Alex mengikuti dari belakang dengan pistol di masing-masing genggaman. Akan tetapi, hingga detik dimana mereka menemukan seorang wanita terikat di sebuah kursi, mereka tak juga menemukan ancaman.

Chairuddin merasa lega bisa melihat istrinya kembali, tetapi agak takut. Istrinya tertunduk luruh di sebuah kursi kayu dengan tangan terikat di belakangsandaran kursi. Sembari para personel Han’s Security membentuk lingkaran untuk melindungi sandera, Chairuddin bergegas menghampiri istrinya. Jantungnya berdegup seperti kesetanan, ia khawatir istrinya sudah meregang nyawa. “Sayang! Sayang! Ini aku, Chairuddin!” serunya seraya mendekati istrinya.

“Sayang … ”

Kekhawatiran Chairuddin mereda, istrinya dapat berbicara walaupun sangat lirih. Laura belum mati. Chairuddin pun berjongkok di hadapan kekasihnya. Namun, ia belum sempat melihat wajah istrinya lebih jelas. Wajah istrinya tersekat oleh rambut yang terurai ke arah depan.

“Sayang, sayang! Kepalamu peyang!” wanita yang terikat di kursi itu pun tiba-tiba menengadahkan kepalanya dan menanggapi Chairuddin dengan sinis. Rupanya ia bukan Laura dan tidak benar-benar terikat. Ia adalah Felicia dengan penampilan mirip Laura—jilbabnya dilepas dan ia mengenakan pakaian Laura.

Sepersekian detik kemudian, Felicia mengayunkan sikutnya begitu keras ke telinga Chairuddin. Serangannya mendarat dengan gemilang, langsung membuat Chairuddin tersungkur dan hilang sadar.

Para pengawal Chairuddin tak sempat merespon serangan Felicia. Felicia sudah lebih dulu bangkit dari kursinya, menghampiri Alex, dan meninju wajah Alex hingga terhuyung. Beberapa saat kemudian, Felicia mencekik Alex dari belakang, lalu merenggut pistol Alex. BLAM! BLAM! BLAM! Beberapa tembakan dilepaskan oleh Felicia sembari tetap menjadikan Alex sebagai tameng hidup.

Seluruh personel bersenjata yang dikirim oleh Chairuddin langsung meregang nyawa.

Lantas, Felicia beralih kepada Alex. Ia menggenggam kepala Alex, lalu menariknya sepenuh tenaga. KREK! Terdengar bunyi gemertak keras dari leher Alex, sebuah isyarat bahwa leher pria berkulit legam itu patah. Tak hanya patah, urat-urat di lehernya pun kemungkinan langsung putus. Sahabat Chairuddin itu pun meninggal dunia, langsung tersungkur dengan kedua mata membelalak.

Dengan tumbangnya seluruh personel Han’s Security di gudang tua tersebut menjadi tanda bahwa pertarungan telah berakhir. Felicia menang, ia sama sekali tak terluka sedikit pun. Felicia menghela napas panjang dan memijit-mijit batang hidungnya. Kepalanya tertunduk luruh, merenungkan nyawa-nyawa yang ia hilangkan. Tiada suara ia buat, kesunyian menguasai jiwa dan raganya.

Tak pernah berhenti menjadi pendosa demi mengubur lebih banyak pendosa,” bisik Felicia kepada dirinya sendiri. Ia lantas menoleh ke belakang dan berseru, “Keluarlah, Laura, Cynthia! Kita harus melanjutkan penyiksaan ini ke tahap berikutnya!”

***

21.35

BYURRRR!

Chairuddin terkejut setengah mati, tiba-tiba saja wajahnya dihantam oleh beberapa liter air. Ia pun terjaga dari “tidurnya” dan menatapi lingkungan di sekitarnya dengan panik. Kepalanya menoleh ke sana-kemari, berusaha menemukan jawaban sedang di mana ia berada. Namun, ia tak mampu menerkanya—apalagi ruangannya terlampau redup, sekadar diterangi oleh lampu lima watt yang tampaknya sudah lama tak digunakan.

Tak hanya itu, Chairuddin juga terhenyak begitu mengetahui bahwa dirinya sedang terikat di sebuah tiang besi. Ikatannya begitu kuat, ia bahkan tak bisa menggerakkan pergelangan tangannya. Tentu saja, tangannya diikat dengan zip-tie—sebuah tali kabel yang berbahan dasar plastik, namun memiliki daya ikat yang sangat kuat. Chairuddin kalang kabut, ia mulai menjerit-jerit memanggil nama kawannya, Alex. Namun sayang, ia tak tahu bahwa kerabat dekatnya telah meregang nyawa.

Beberapa saat kemudian, Felicia muncul di hadapan Chairuddin. Kegelapan menyamarkan keberadaannya, pantas jika Chairuddin tak melihatnya saat pertama kali membuka mata. Felicia telah mengenakan pakaian normalnya kembali, ia tak lagi terlihat mirip dengan Laura—istri Chairuddin. “Halo, kepala humas Han’s Security. Bertemu kembali dengan saya dalam acara wawancara palsu,” goda Felicia.

“Felicia … ” Chairuddin menatapi Felicia dengan perasaan yang berkobar-kobar. Benaknya meronta, ia membayangkan leher Felicia berada dalam genggamannya—lalu dicekiknya keras-keras. “KAU BAJINGAN!” serunya seraya meludahi wajah Felicia.

Akan tetapi, Felicia tanggap akan perbuatan Chairuddin. Ia segera mengangkat telapak tangannya setinggi kepala dan memblokir laju air liur Chairuddin. Beberapa saat setelahnya, Felicia melepaskan pukulan uppercut tepat ke ulu hati Chairuddin hingga Chairuddin membungkuk luruh tak berdaya. Begitu sang sandera lengah, Felicia segera menggosok-gosokkan tangannya yang penuh dengan air liur ke wajah Chairuddin. Senjata makan tuan.

Chairuddin terbatuk-batuk menerima serangan memalukan dari seorang wanita yang sempat ia anggap lemah. Harga dirinya runtuh seketika sebagai ‘pintu gerbang’ menuju rahasia Han’s Security.

“Bagaimana rasanya diludahi oleh ludahmu sendiri, Chairuddin? Tak terlalu buruk, bukan?” tanya Felicia seraya berjalan menjauh dari tempat Chairuddin diikat.

“ … ” Chairuddin tak hendak menjawab pertanyaan konyol Felicia. Ia membiarkan sunyi menjawab segalanya. Napasnya begitu berat, seakan tak sanggup lagi menahan amarah yang telah meluap-luap di dalam hati.

“Tujuanku menyanderamu sebenarnya sederhana. Aku hanya ingin tahu keberadaan owner Han’s Security. Tetapi, aku tahu kau takkan berbicara semudah itu. Oleh karenanya, izinkan aku menunjukkan dua orang paling berharga dalam hidupmu,” lanjut Felicia seraya menekan saklar di sudut ruangan.

Sesaat setelah Felicia menekan saklar, tampak dua orang wanita tengah duduk di kursi aluminium dengan tangan terikat ke belakang. Mereka adalah Laura dan Cynthia—dua orang yang telah mengisi kehidupan Chairuddin selama belasan—bahkan puluhan—tahun terakhir. Kedua wanita tersebut duduk di bawah lampu nan redup dengan raut wajah penuh rasa takut. Mereka diletakkan beberapa meter tepat di hadapan Chairuddin, sehingga Chairuddin dapat melihat mereka dengan jelas.

Lagi, kedua mata Chairuddin terbelalak begitu mendapati dua sosok kesayangannya disandera tepat di depan batang hidungnya. “ANJING! ANJING! ANJIIING! LEPASKAN MEREKA, FELICIA! AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA SAMPAI TERJADI SESUATU KEPADA MEREKA BERDUA!” seru Chairuddin kesetanan. Ia tak bisa menahan murkanya lebih lama, tubuhnya meronta-ronta seperti orang gila, kedua pergelangannya bahkan sampai berdarah menerima entakan dari tali kabel yang mengikat tangannya.

“Kalau begitu kau hanya perlu menjawab di mana Kolonel Hanif Wahyudin. Simpel,” ujar Felicia santai.

“URRRRRGH! ANJING!”

“Sayang, aku mohon, turuti saja permintaannya. Aku sudah tak sanggup lagi,” Laura membujuk suaminya dengan lirih. Tangis pun pecah, airmata membasahi kedua pipi putihnya.

“Istrimu sudah memohon. Kau tidak kasihan kepadanya?” tanya Felicia.

Chairuddin menenangkan jiwa dan raganya. Ia bernapas sangat berat, namun mulai menanggalkan kemarahannya sejenak waktu. Tak lama, ia pun tertunduk. “Aku … aku tidak tahu … ”

“TETOOOT!” pekik Felicia menirukan suara wrong buzzer—bel yang biasa digunakan untuk menandakan keputusan yang salah.“Jawaban yang sangat salah, Chairuddin. Tadi sore kau mengatakan bahwa pemilik Han’s Security sedang berada di luar negeri. Itu tandanya kau mengetahui di mana Hanif berada,” tukas Felicia.

Chairuddin mengerat gigi-giginya. Kesal tak terkira.

“Sebagai hukumannya, aku punya permainan menarik. Aku akan meletakkan dua botol di atas kepala Laura dan Cynthia, kemudian aku akan menembak dari jarak yang sama di mana kau berdiri. Kau sudah tahu kemampuanku, jadi tak perlu khawatir tembakanku akan meleset,” ujar Felicia seraya mengambil dua botol plastik dan sebuah kain berwarna hitam pekatdari sudut ruangan. Ia lantas berjalan mendekati dua orang kesayangan Chairuddin dan meletakkan botol plastik di masing-masing kepala. Laura dan Cynthia hanya bisa menangis sesunggukan menerima semua perlakuan Felicia.

“HENTIKAN, FELICIA! HENTIKAN!” Chairuddin menjerit-jerit, namun tak diindahkan oleh lawan bicaranya.

Felicia berjalan mendekati Chairuddin, ia lantas berdiri di samping kepala humas Han’s Security tersebut. “Tetapi, menembak tanpa tantangan seperti ini akan sangat membosankan. Prajurit-prajurit ingusan yang baru masuk akademi pun bisa melakukannya dengan mudah. Jadi, aku punya metode yang lebih menarik: kututup mataku dengan sebuah kain hitam, kemudian kulepaskan timah panas ke kepala … eh … maksudku ke botol yang berdiri di atas kepala Laura dan Cynthia. Bagaimana?”

“BANGSAT KAU, FELICIA! RRRGH! RRRRGH!” Chairuddin memberontak, ia menyentak-nyentakkan tubuhnya sekuat tenaga agar bisa lepas dari ikatan yang membelenggu gerakannya. Sial, usahanya hanya membuat kedua pergelangannya terluka semakin parah.

“Baiklah, mengatakan bangsat berarti setuju. Aku akan mengenakan kain hitam ini sekarang, lalu memulai atraksi yang telah ditunggu-tunggu oleh semua orang.” Felicia menggulung kain hitam yang berada di dalam genggamannya, lalu mulai mengikatkan kain tersebut di sekitar matanya. Ia tak bisa melihat dengan jelas sekarang, sedikit kesalahan tentu akan berakibat fatal bagi Laura dan Cynthia.

Felicia mencabut pistol dari balik celananya—pistol yang ia ambil dari salah satu jenazah penyerang Han’s Security. Ia mulai membidik, menarik napas, dan membuat semua orang yang berada di sana ketar-ketir.

“ANJING! ANJIING! FELICIA! JANGAN KAU LAKUKAN!” Chairuddin tentu saja ketakutan setengah mati. Bagaimana tidak? Tanpa pandangan yang jelas, Felicia bisa membunuh istri dan putrinya kapan saja.

“SAYAAANG! JAWAB SAJA APA YANG IA MAU! KAU MAU ANAK KITA MATI, HAH!?” Laura ikut panik, ia memarahi suaminya agar memuntahkan jawaban yang diinginkan oleh Felicia.

“ANJIIING!”

“CHAIRUDDIN! BAJINGAN! KAU LEBIH PEDULI PADA PEKERJAANMU!”

BLAM! BLAM! Felicia melepaskan dua tembakan disaat kedua sejoli tersebut tengah berseteru. Seperti dugaan semua orang yang disandera di sana, tembakan Felicia meleset. Chairuddin menjerit, Laura menjerit, Cynthia histeris, semua orang mengira tembakan meleset ke arah kepala salah seorang diantara mereka. Nyatanya tidak, tembakan Felicia luput beberapa sentimeter dari telinga Laura maupun Cynthia, tidak ada satu pun nyawa yang dirugikan dalam atraksi tersebut.

Felicia membuka penutup matanya. Dikala semua sandera sedang mengalami syok berat, ia malah nyengir dan menertawai hasil tembakannya. “Wah, sayang sekali. Tembakanku meleset. Botolnya jatuh karena kepala Laura dan Cynthia bergerak, bukan karena tembakanku. Pertunjukan yang sangat menarik, bukan begitu, Chairuddin?” ulasnya seraya menepuk pundak Chairuddin yang membungkuk luruh.

“Baiklah, kali ini aku takkan meleset. Aku akan melakukannya sekali lagi—”

“TIDAK! TIDAK! HENTIKAN! Hentikan … ” seru Chairuddin berusaha menahan kegilaan Felicia. “Aku tahu di mana Kolonel Hanif. Ia ada di Maroko, bersama dengan teman-temannya dari CIA. Ia tampaknya tahu orang sepertimu akan datang menghampirinya, itulah sebabnya ia kabur sejauh mungkin,” paparnya lirih.

Felicia berdiri mematung selama beberapa saat, menatapi wajah Chairuddin dari samping. Akan tetapi, ia ingin memastikan bahwa Chairuddin tidak sedang berdusta akan ucapannya. “Ah, kau bisa saja mengarang cerita. Bagaimana jika botolnya kali ini kuletakkan di depan kemaluan Laura dan Cynthia? Tampaknya akan lebih menarik.”

“TIDAK! TIDAAAK! AKU MENGATAKAN YANG SEJUJURNYA, FELICIA! Interogasi tim direktur Han’s Security jika kau tidak percaya, interogasi mereka semua! Mereka akan mengatakan hal yang sama denganku.”

“Benarkah? Siapa saja tim direktur Han’s Security? Sebutkan satu persatu. Well, untuk berjaga-jaga apabila kau berbohong.”

“Ada lima orang. Randi Budiman, Bobby Franseskus Leonardo, Anita Lisniawati, Roger Pamungkas, dan Fery Manungsa Sirait. Randi dan Fery adalah mantan anggota Densus AT-13, kau perlu berhati-hati.”

Felicia menatapi Chairuddin dengan sinis. “Apakah aku terlihat seperti orang yang perlu berhati-hati?”

” … ”

“Tetapi aku berterimakasih karena kau mau membantuku hingga sejauh ini. Aku butuh kau menjawab beberapa pertanyaanku lagi: di mana tepatnya Hanif bersembunyi? Kota apa? Di sebelah mana?”

“Tak tahu persis, tetapi kudengar di Grand Casablanca.”

Felicia menatapi Chairuddin dalam diam, berusaha mencari celah kedustaan di balik raut wajahnya. Akan tetapi, Felicia terlatih untuk membaca kebohongan melalui ekspresi dan Chairuddin tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut. Ia pun menghela napas panjang dan kembali menyarungkan pistolnya di balik celana.

“Kau tahu? Kain hitam yang kugunakan untuk menembak ini sebenarnya tembus pandang. Aku bisa melihat target dengan jelas, jadi yang tadi itu hanya pura-pura meleset. Istri dan anakmu juga sebenarnya hanya bersandiwara, mereka kuculik sebentar untuk membuatmu panik. Well … betapa menyedihkan, rupanya orang yang ditunjuk menjadi perisai kepercayaan Hanif tak seberapa hebat,” ungkap Felicia tersenyum.

“Bangsat kau, Felicia. Aku akan membunuh—”

“Apa? Kau akan membunuhku setelah keluar dari tempat ini? Coba saja kalau berani. Tetapi ingat kata-kataku: di pertemuan berikutnya, aku takkan ragu memecahkan kepala Laura dan Cynthia. Aku takkan meleset lagi, Chairuddin. Dan aku bisa menemukanmu dan keluargamu kapan saja aku mau.”

Chairuddin menatapi Felicia hanya dengan sedikit menoleh. Ada perasaan gentar yang tak terkira saat Felicia agak berbisik di depan telinganya. Ia pun mulai mempertanyakan jati diri wanita berjilbab yang berdiri beberapa sentimeter di sampingnya tersebut. “S-siapa kau sebenarnya?”

“Tebaklah. Kira-kira dengan kemampuan sepertiku, siapa aku?” ujar Felicia seraya berjongkok di belakang tubuh Chairuddin.

“K-Kopassus? Kopaska? Paskhas? Detasemen Sandi Negara?”

Felicia bangkit dari posisinya dan berdiri di hadapan Chairuddin. “Lebih tepatnya sesuatu yang tak pernah dipublikasikan oleh rezim tahun 1998. Sesuatu yang bahkan membuat aliansi politik sebesar NATO harus berpikir seratus kali untuk menginjakkan kaki di tanah Nusantara. Ya itulah aku, silakan tebak,” ujarnya.

Chairuddin sekadar mampu menatapi lawan bicaranya dengan perasaan yang bercampur-aduk. Ia tak memiliki jawaban atas misteri yang diungkapkan oleh Felicia. Sekalipun benaknya berupaya menggali ingatan-ingatan tentang militer dan intelijen Republik Indonesia, ia tak kunjung mendapatkan jawabannya. Tiada lagi keberanian untuk menantang Felicia di dalam dirinya, nyalinya menciut.

Felicia akhirnya bertolak dan mulai berjalan menjauhi tempat penyanderaan—mungkin memutuskan untuk pergi. Ia lantas melambaikan tangannya dengan malas. “Aku sudah meninggalkan petunjuk agar kalian bisa melepaskan diri, cobalah berpikir kreatif. Sampai jumpa.”

Felicia benar-benar pergi, ia meninggalkan Chairuddin dan keluarganya tetap terikat di tempatnya masing-masing. Entah petunjuk apa yang ia tinggalkan untuk keluarga kecil tersebut, ia memaksa Chairuddin untuk menemukannya. Jika tidak, Chairuddin dan keluarganya takkan pernah bisa keluar dari situasi tersebut dan mati membusuk di dalam ruangan redup tak bertuan. Felicia sudah tak peduli, masih untung ia tak meledakkan kepala Chairuddin atau Laura atau Cynthia—ia sedang jinak hari itu.

***

Grand Casablanca, Maroko
11.21

Maroko. Orang mengenalnya sebagai salah satu negara berbahasa Arab yang wajib dikunjungi oleh wisatawan. Selain memiliki banyak peninggalan bersejarah, secara mengejutkan, Maroko juga merupakan negara yang indah dan damai. Tak pelak, banyak turis yang berani mengangkat dua jempol untuk negara yang berada di daerah utara Afrika ini.

Tak hanya wisatawan, beberapa agen asing juga tampaknya merasa nyaman berada di Maroko. Di sebuah pondok bertingkat, tampak beberapa orang asing saling bertukar kata dalam Bahasa Inggris. Ada diantara mereka yang bekerja serius di depan komputer, ada pula yang mengadakan rapat kecil dengan beberapa tumpuk dokumen. Dilihat dari aktivitas dan tumpukan dokumen yang tersebar di atas meja kerja mereka, mereka tampaknya merupakan agen CIA yang ditempatkan di Maroko untuk membantu pemerintah lokal maupun menemukan ancaman-ancaman serius yang bisa berakibat fatal untuk kepentingan Amerika Serikat.

Tak heran, Maroko memang merupakan salah satu negara non-NATO yang telah menjadi aliansi Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir.

Diantara para agen pekerja tersebut, tampak seorang pria berusia sekitar 50 hingga 55 tahun berdiri merenung di depan jendela. Sebagian besar rambutnya telah tampak memutih, namun wajahnya tetap terlihat garang. Dari kompleksitas wajahnya, ia tampak seperti orang Indonesia. Agaknya ia adalah pensiunan militer yang kini bekerja independen untuk agensi asing.

“Kolonel Hanif,” seorang pria berambut pirang dan berbadan tegap berjalan menghampiri pria tua tersebut. “Kau tampak tak nyaman. Perlukah kubuatkan sesuatu agar kau bisa merasa sedikit tenang?” tanyanya dalam Bahasa Inggris.

No,” jawab sang pria tua yang ternyata merupakan Kolonel Hanif Wahyudin. “Tidak, tidak ada yang bisa menenangkanku saat ini. Aku bisa merasakan kedatangan orang-orang yang dulu gagal kutangkap saat Operasi Antisakti berada di bawah pimpinanku,” jawabnya dalam bahasa yang sama dengan si bule.

“Kau tak perlu khawatir akan hal itu, Kolonel. Kami sudah menyiapkan segalanya untuk melindungimu dan membekuk orang yang mengintaimu. Kau adalah rekan berharga bagi kami, sehingga melindungimu sama pentingnya dengan melindungi aliansi Amerika Serikat.”

kolonel hanif

Thanks, tetapi aku tetap khawatir. Operasi Antisakti dulu dibantu oleh beberapa negara adidaya dan korban yang berjatuhan tetap banyak. Untuk membekuk satu orang anggota The Creation of Project SAKTI, Amerika Serikat bahkan butuh satu grup task force yang terdiri dari Navy SEAL dan Delta—itu pun tak cukup. Sebagian besar dari anggota grup mampus. Bayangkan betapa banyaknya biaya yang terbuang hanya untuk menangkap satu orang anggota The Creation. Kalian punya catatannya, Kent.” Hanif menggeleng-gelengkan kepalanya.

That’s right, tapi hal seperti itu tak perlu dirisaukan, apalagi jika kita berbicara soal biaya. Demi lancarnya kerjasama Indonesia dan Amerika Serikat, pengorbanan seperti itu memang diperlukan.”

Hanif menghembuskan napas panjang. Ia tak tahu jawaban apa yang bisa ia berikan kepada kerabat CIA-nya tersebut. Matanya menatap kosong ke arah jalan, merenungkan nasib yang mungkin akan menimpanya beberapa waktu mendatang. “Kuharap pengorbanan seperti itu akan tetap ada hingga mereka mendatangi kita. Kuharap demikian, Kent.”

TO BE CONTINUED


 

<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!