10.6 – Operation: Antisakti [Full Version]


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Istana Negara, 2016
21.43
Lima tahun sebelum pembantaian Kampung Rimbun.

“Perlu kami jelaskan kembali situasinya, Pak Presiden,” seorang pria berambut pirang dengan setelan rapi ala eksekutif kantoran duduk di ruangan paling sakral dan paling aman di Republik Indonesia, yakni ruang kerja Presiden Darsono. Entah siapa dirinya, tetapi ia sama sekali tak tampak tegang walaupun dikelilingi oleh para anggota Paspampres. Ia duduk manis seraya melipat kaki, lalu berbicara dengan nada yang persuasif, agaknya ia hendak melakukan negosiasi dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

“Kau sadar bahwa pulau misterius bernama Pulau X di Laut Cina Selatan berhasil diduduki oleh Rusia dengan alasan untuk menjadi penengah atas sengketa yang terjadi, bukan demikian?” lanjut sang bule tersenyum tipis. Bahasa Indonesianya terdengar sangat lancar, ia kemungkinan sudah lama tinggal di Indonesia.

“Hmm … ” Darsono hanya mengangguk pelan.

“Kau juga tahu bahwa Cina menandatangani kesepakatan militer dengan Rusia untuk bersama-sama melindungi pulau tersebut, bukan begitu?”

“Ya, benar. Aku bisa memaklumi keputusan Beijing. Mereka adalah anggota BRICS [1] yang amat intim. Tidak ada alasan bagi mereka untuk saling baku hantam hanya karena masalah pulau kecil. Tuan Vladimir Ivanov [2] tampaknya sangat cerdas mengambil hati orang-orang Tiongkok agar tak terjadi permusuhan diantara mereka,”

NB:

[1] Brazil, Russia, India, China, and South Africa. Aliansi ekonomi yang digagasi oleh Jim O’Neill, mantan chairman dari bank Goldman Sachs.

[2] Presiden Rusia pada cerita ini.

“Tetapi keputusan Ivanov telah merugikan Indonesia dan akan terus merugikan Indonesia. Biar kujelaskan mengapa. Pertama, Rusia sudah lancang mencaplok pulau di wilayah yang sangat dekat dengan Indonesia, dekat dengan perairan Natuna, sama seperti mereka mencaplok Krimea beberapa waktu lalu. Tidak ada diplomasi, tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba pasukan mereka sudah berada di tempat.

“Kedua, dengan melihat lancangnya pergerakan Rusia selama beberapa tahun terakhir, itu artinya negara kalian berpotensi untuk dicaplok dalam skala yang lebih besar. Kepulauan Riau bisa saja jadi korban berikutnya. Tidak hanya itu, negara kalian mungkin akan dengan mudah dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan Ivanov yang tentu merugikan Indonesia.

“Kalau Rusia sudah berani melakukan hal seperti demikian, kalian mau apa? Melawan mereka? Menjadi babu seperti Novorussia?” jelas sang pria bule berapi-api.

Darsono tak merespon, ia hanya menghela napas panjang seraya memantul-mantulkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia tahu bahwa pria bule di hadapannya mencoba membela Indonesia dari kejadian yang tidak mengenakkan pada tahun 2015 lalu.

Sebuah pulau misterius ditemukan di wilayah Laut Cina Selatan, dekat dengan Kepulauan Riau, pada tahun 2015, kemudian diperebutkan oleh beberapa kekuatan besar, yakni Cina, Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Akan tetapi, konflik yang sudah hampir bertransformasi menjadi peperangan laut tersebut akhirnya ditengahi oleh Rusia selaku negara adidaya poros timur dan selaku sahabat baik Cina.

Singkatnya, keberadaan Rusia di pulau tersebut mirip seperti PBB, hanya sebagai penengah dan sosok yang dituakan. Masalahnya, entah mengapa Rusia terlihat begitu tertarik untuk menduduki pulau tersebut. Ivanov beralasan bahwa keputusannya adalah untuk menahan negara-negara yang bersengketa agar tak melakukan tindakan gegabah.

Melihat situasi tak terduga ini, orang-orang di Washington naik pitam. PBB pun merasa dilangkai. Mereka mengecam keputusan Rusia karena dinilai akan menggoyahkan stabilitas di daerah Asia Tenggara. Mereka bahkan mengancam akan menggelar operasi militer jika Rusia tak mau angkat kaki dari Pulau X—ultimatum ini keluar karena sanksi-sanksi internasional sudah tak lagi mempan untuk membuat Rusia jera.

“Lalu, apa yang ingin kau tawarkan, Nak? Semua negara yang bersengketa dengan Cina sudah mundur dan berpura-pura tak pernah terlibat dalam konflik ini. Malah mendukung keputusan Rusia, belakangan,” lanjut Darsono bertanya. “Lagipula, tak ada hal buruk yang keluar dari keputusan Rusia, kok.”

“Tidak! Kau salah!” seru sang bule menyergah. Ia lantas mengeluarkan beberapa lembaran penting dari tas jinjingnya dan meletakkannya di atas meja kerja Presiden Darsono. Dokumen CIA. “Bacalah, kau akan tahu mengapa Rusia ada di sana. Ivanov gila itu punya kepentingan khusus di Asia Tenggara setelah berhasil menyebarkan pengaruhnya ke wilayah Timur Tengah. Tak hanya ekonomi, mereka juga mau memperluas pengaruh ideologi. Kita kembali pada perang dingin. Kau tak ingin sejarah kelam negaramu kembali terulang, kan?”

Darsono membuka-buka dokumen yang disodorkan kepadanya, namun hanya untuk dibaca sepintas. “Hmm, jadi kami punya peluang untuk mengusir mereka dari Pulau X?”

“Tentu. Kau belum kalah. Tidak ada yang kalah. Kau masih bisa merebut harga diri bangsa yang ternodai oleh para sosialis bajingan tersebut,” papar sang bule. “Kami juga terus mencoba membuka dialog dengan negara-negara tetanggamu agar mereka memahami bahwa keberadaan mereka terancam.”

“Apa yang ingin kau tawarkan?”

“Bekerjasamalah dengan kami,” ujar sang bule tersenyum kecut. Wajahnya tampak seperti lelaki picik yang pintar memutarbalikkan fakta. “Kami butuh teman sekuat Indonesia untuk bisa menumbangkan kekuatan Rusia di Pulau X.

Sesaat itu situasi pun menyepi. Para anggota Paspampres hanya bisa saling tatap. Mereka bingung. Di satu sisi mereka senang mendengar kabar bahwa Indonesia memiliki peluang untuk mengusir Rusia dari Laut Cina Selatan yang notabene masih merupakan wilayah sengketa—kenyataannya memang belum ada kesepakatan apapun dari negara-negara yang bersengketa tentang siapa yang berhak atas Laut Cina Selatan.

Akan tetapi, di sisi lain mereka juga mencurigai gerak-gerik si bule. Pasalnya, Pulau X adalah masalah pribadi Indonesia dengan Rusia dan Cina, tetapi mengapa si bule—yang entah dari mana datangnya—tampak begitu bersemangat mengusir kedua negara besar tersebut?

“Mengapa kau tak meminta bantuan pada Australia? Mereka adalah sekutu NATO yang loyal dan kuat, bukan begitu?”

“Australia saja takkan cukup menumbangkan Rusia dan Cina. Dan soal kekuatan Aussie, aku tak begitu sepakat denganmu, selama ini mereka terlihat kuat karena kami backup. Itu hanya pencitraan. Lagipula, Pulau X berada lebih dekat dengan Indonesia daripada dengan Australia.”

“Bagaimana dengan NATO sendiri?”

“Ayolah, Pak Presiden. NATO tak semesra itu dengan kami. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan NATO bermain dengan kami. Ini bukan wilayah mereka.”

“Hmm … ” Darsono berpikir matang-matang. “Pertanyaanku cukup simpel: mengapa kau bersikukuh untuk mengusir Rusia dan kawan-kawannya dari Pulau X? Pulau tersebut tak ada hubungannya dengan negaramu, ini bukan Hawaii.”

Sang bule tertawa. Ia lantas merogoh-rogoh tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa tumpuk dokumen, lagi, untuk ditunjukkan kepada Presiden Darsono. “Ini adalah alasan mengapa mereka harus pergi dari Pulau X. Perusahaan-perusahaan milik AS maupun yang bekerjasama dengan AS di Asia Tenggara mulai diacak-acak oleh agen SVR [3] dan MSS [4]. Bayangkan apa yang terjadi jika ini terus berlanjut: pengangguran, demonstrasi, bahkan perang sipil pun bisa terjadi. Sebagai rekan yang baik, kami tak ingin hal itu terjadi.”

NB:

[3] Foreign Intelligence Service of Russian Federation—badan intelijen Rusia yang bertanggungjawab atas aktivitas spionase di luar negeri.

[4] Ministry of State Security—badan intelijen Cina.

“Hmm … ” Darsono mengambil tumpukan dokumen yang disodorkan oleh sang bule. Pada sampul dokumen, terdapat tulisan “Central Intelligence Agency—Confidential—Top Secret”. Jelas bahwa tumpukan dokumen tersebut adalah milik CIA. “Sebagai gantinya, apa yang kau inginkan? Kerjasama ini tak mungkin hanya memuaskan salah satu pihak ‘kan?” ujarnya sambil terus mempelajari dokumen yang disodorkan kepadanya.

Sang bule kembali tertawa. “Kau cerdas, Pak Presiden. Sederhana saja, aku ingin kau men-shutdown operasi hitammu yang bernama Project SAKTI.”

“Project SAKTI?” Darsono mengernyit, ia lantas menunda percakapannya agak lama. “Aku tak pernah dengar. Intelijenku tidak pernah membicarakan apa-apa soal proyek tersebut.”

“Sudah kuduga kau belum pernah mendengarnya. Itu adalah salah satu the blackest of black ops yang pernah ada di muka bumi. Levelnya di atas ultra top-secret, hanya para penggagasnya yang mengetahui apa itu Project SAKTI. Dan itu merupakan proyek peninggalan presidenmu dulu, Soeharto, sebelum ia digulingkan dari kekuasannya.”

Sekali lagi ruangan menjadi hening. Kali ini semua pendengar terbelalak, seakan tak percaya dengan ucapan sang bule. Operasi rahasia peninggalan almarhum Soeharto masih berjalan? Yang benar saja!

“Proyek ini terlalu berbahaya, kami bahkan baru bisa mengungkapnya setelah ratusan agen NATOkhususnya dari Amerika dan Inggrismati secara misterius di negara ini. Itu pun hanya sedikit informasi yang bisa kita gali. Kita tidak bisa melacak siapa saja agen yang terlibat; tidak ada foto, tidak ada identitas, tidak ada apapun yang bisa mengantarkan kami kepada eksistensi operasi gila tersebut. Dan mereka tampaknya amat bernafsu untuk memburu setiap agen asing, entah kenapa.

“Oleh karenanya, aku ingin kau men-shutdown mereka. Karena keberadaan mereka dapat mengganggu kelancaran kerjasama kita berdua dan mempermudah masuknya pengaruh politik busuk Rusia kemari,” tukas sang bule panjang.

“Hmm, tetapi bagaimana caranya? Kau saja tidak bisa menemukan mereka, apalagi aku.”

“Kuralat pernyataanku. Sebenarnya keadaannya tidak seburuk itu. Kami punya informasi menarik soal proyek tersebut,” kilah sang bule. “Kapten Sukardi Rimbawan, mantan anggota Paskhas. Aku tak tahu ia berperan sebagai apa pada Project SAKTI, namun kami menemukan sebuah telegram yang hampir terbakar di tempat persembunyian rahasia Soeharto. Telegram itu berisi: Kapten Sukardi Rimbawan. Tunjuk? –P. SAKTI.

“Kami sempat mencoba melacaknya, tetapi tak ada seorang pun dari kami maupun teman-teman kami yang mampu mencium keberadaan sang kapten. Akan tetapi … aku yakin kau bisa menemukannya. Biasanya saudara setanah air memiliki penciuman yang lebih kuat, bukan begitu?” lanjutnya seraya tertawa kecil.

Darsono mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. Ia menimbang-nimbang saran dari pria bule yang duduk di hadapannya. Ada satu hal yang sangat ia pikirkan jika operasi pembubaran Project SAKTI dieksekusi dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan maupun dikeluarkan. Apalagi proyek tersebut terdengar sangat berbahaya.

“Tenang saja, Pak Presiden. Dananya akan digelontorkan dari kami. Dan tentu saja … ” si bule mencoba membaca pikiran Darsono. “Ada ‘uang jajan’ untukmu dan teman-temanmu yang mau ikut menggulungkan tikar Project SAKTI,” imbuhnya berbisik.

Mendengar pernyataan tersebut, Darsono segera mengangkat kepalanya. Wajahnya menjadi berseri-seri. Murung pun mati suri, hilang dalam hitungan detik. Ia lantas menyodorkan tangannya kepada sang bule sebagai tanda untuk menyepakati kerjasama.

Tentu saja, pria bule tersebut segera menyambar tangan sang presiden. Kedua sudut bibirnya tersungging tajam, senyumannya tampak begitu picik. Tak lama, ia pun bangkit dari kursinya seraya menjinjing tas kerja berwarna hitam yang sedari tadi bersandar di kaki-kaki kursi. “Keputusanmu sangat bijaksana, Pak Presiden. Besok aku akan kembali membawakan surat perjanjian kerjasama kita berdua. Untuk malam ini, aku mohon pamit,” ujarnya santai.

Si bule langsung melenggang keluar ditemani oleh salah seorang Paspampres. Sementara itu, Darsono bersandar di kursi kerjanya. Ia merasa puas mendengar pernyataan si bule. Tentu saja bukan karena permintaan mematikannya, tetapi karena ada “uang saku” yang dijanjikan kepadanya. Darsono tahu, nominal yang ditawarkan tentu akan sangat menggiurkan. Ia pikir itu akan setimpal dengan operasi berbahaya yang akan ia jalankan.

“Pak, maaf jika aku lancang, tetapi siapa bule tadi?” Salah seorang Paspampres tampaknya sama sekali tidak mengerti siapa sosok yang berhadapan dengan presiden. Ia bertanya dengan waswas, menyuarakan kekhawatiran teman-temannya yang lain.

“Dia itu agen CIA, tetapi bekerja pula sebagai negosiator NATO. Orang itu sudah malang melintang ke berbagai negara hanya untuk melakukan negosiasi dengan kepala-kepala negara demi kepentingan Amerika Serikat dan NATO. Jika para kepala negara itu menolak … lihatlah apa yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Darsono santai.

“Apakah menurutmu bekerjasama dengannya akan mendatangkan hal baik untuk Indonesia? Kita seakan-akan telah menjadi babu Amerika dan NATO-nya itu. Ya, Amerika memang bukan satu-satunya penggagas NATO, tetapi sekarang segala sesuatunya tampak didominasi oleh Amerika,” tukas si anggota Paspampres. “Dan aku tidak suka dengan fakta bahwa NATO harus bermain di daerah Asia Tenggara. Ini bukan wilayah mereka. Tetapi, berdasarkan pernyataan dari agen tadi, ada banyak anggota NATO yang mati di sini. Itu artinya NATO jadi semacam imperium yang bisa bergerak sesuka hati.”

“Jangan berkata seakan-akan kau tak butuh Amerika dan NATO-nya itu, Haris. Kau tahu dari mana gajimu itu berasal? Dari Amerika. Kau tahu siapa yang mendanai Densus AT-13? Amerika. Kau tahu siapa yang membantu kita meredam para ekstremis agama di sini? Amerika. So … saranku, kau jangan terlalu idealis berbicara soal patriotisme. Ideologi itu sudah hilang semenjak Soeharto naik menjadi presiden. Patriotisme itu hanya utopia masa lalu, mengerti Sersan?”

“Mengerti, Pak!” Pengawal kepresidenan bernama Haris itu pun berdiri tegap sebagai tanda bahwa ia takkan melawan argumentasi atasannya. Ia adalah prajurit. Baginya, loyalitas terhadap tugas adalah hal yang absolut. Tak perlu ada yang dipertanyakan.

“Bagus. Kalau begitu kita tinggal bicara dengan Denis si ketua PIN. Tolong atur jadwal dengannya,” Darsono tampak lebih santai. “Mari kita buat operasi penangkal dari Project SAKTI. Operasi … Antisakti mungkin namanya?” tutupnya seraya tertawa.

END


SHARE EPISODE INI!