10.5 – Bad People for Good Cause


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. PENULIS TIDAK MENDUKUNG KEKERASAN DALAM BENTUK APA PUN, KHUSUSNYA TERHADAP ANAK-ANAK! BACA PENGUMUMAN INI!

SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI


Markas Rahasia Project SAKTI
Jakarta, 2011

Seorang pria bertubuh kekar dan mantap tampak sedang menikmati tiupan angin yang melambai dari jendela tanpa kaca di hadapannya. Ia duduk santai, bersandar di dinding semen nan kasar, seraya menghisap batang tembakau kretek di mulutnya. Pria tersebut mengenakan kaos oblong lengan panjang berwarna biru bertuliskan ‘Paskhas’ di bagian punggungnya, dengan celana panjang loreng dan sepatu bot khas TNI. Wajahnya sedikit berkeringat mengingat panasnya mentari siang itu.

Entah sedang di mana dirinya berada, tetapi tampaknya ia sedang bersantai di sebuah bangunan tak bertuan—tak berpenghuni—tak dipedulikan oleh developer-nya. Bisa terlihat dari bagaimana tak terawatnya bangunan tersebut—tak ada hiasan, tak ada cat, tak ada apa pun yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut masih beroperasi sebagaimana mestinya. Semuanya berwarna abu-abu, sekadar berlapis semen dan batu bata. Di beberapa sudut ruangan bahkan tampak sangat kucal, banyak sarang laba-laba dan genangan kencing tikus.

Batang rokok itu pun akhirnya tinggal setengah dari ukuran aslinya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak berusia sekitar 13 tahun dari persimpangan koridor yang tak berhias tersebut. Anak lelaki dengan rambut acak-acakan dan fisik penuh lumpur tersebut menghampiri sang pria bertubuh kekar. Tanpa berucap apa-apa, ia langsung duduk di samping sang pria dengan kedua kaki tertekuk setinggi dada.

“Oh, halo, Nine. Bagaimana rasanya latihan dopper hari ini?” tanya sang pria santai.

“Merunduk berkelok-kelok di atas lumpur sembari ditembaki dengan peluru tajam? Tidak terlalu buruk,” ujar anak lelaki yang bernama Nine tersebut. Benar, ejaannya seperti terjemahan nomor sembilan dalam Bahasa Inggris.

subject 09 project sakti light novel

“Mantap. Itulah mengapa kau menjadi salah satu favoritku, Nine. Kau bahkan tak terlihat trauma pasca latihan brutal hari ini,” jawab sang pria seraya mengusap-usap kepala Nine.

“ … ” Nine tak merespon, ia sekadar membenamkan setengah wajahnya diantara kedua kakinya.

Sang pria menghisap rokoknya begitu dalam. Sesaat kemudian, ia menyentil batang tembakaunya tersebut keluar jendela seraya menghembuskan asap tebal dari rongga mulut dan hidungnya. Ia lantas menyandarkan kepalanya di dinding. Tercenung.

“Semua latihan brutal ini, terasa begitu fucked up, bukan begitu, Nine?” tanya sang pria melanjutkan obrolannya.

Fucked up, Kapten?” Nine menegakkan kepalanya kembali. Ia menoleh kepada pria yang disinyalir sebagai perwira muda tersebut.

“Ya, fucked up. Kacau. Amburadul. Tidak karuan.”

“Aku tidak tahu … “ Nine melengos. “Hidupku sudah berurusan dengan peluru dan darah sejak aku lahir. Aku tidak bisa membedakan lagi mana yang kacau dan mana yang tidak.”

Sang kapten mendengus sinis. “Anak seumuranmu, Nine, semestinya sedang menggunakan seragam putih-biru, bermain dengan teman-teman sebaya, menikmati jajanan-jajanan yang bisa membuatmu sakit perut, dan merasakan cinta monyet seperti anak-anak SMP pada umumnya. Tetapi kau malah di sini, menyaksikan teman-temanmu mati, memukuli orang sampai kritis, dan menjadi salah satu anak paling brutal sedunia,” jelas sang kapten. “Lihat apa yang telah kulakukan pada kalian semua … ” gumamnya berbisik penuh sesal.

Nine tak bergegas menjawab. Ia kembali membenamkan setengah wajahnya, menatapi awan-awan yang berarak dari balik jendela tanpa kaca di hadapannya. “Lantas mengapa kau berpartisipasi pada program eksperimen ini, Kapten Sukardi?”

Pria bernama Sukardi tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah mengapa, ia juga terheran. “Entahlah. Kurasa karena kudengar eksperimen ini adalah eksperimen super-soldier pertama di Indonesia yang sama menakutkannya dengan pemusnah massal milik negara-negara barat. Sebagai orang militer dan pasukan khusus, aku tentu punya ambisi untuk menjadikan Indonesia disegani lagi seperti era 60-an dulu, tanpa harus punya senjata nuklir. Mungkin … mungkin karena itu aku bergabung, entahlah.”

“ … ”

Sukardi menengadah ke langit-langit, merenungi degup dan napas nerakanya. Ia terdiam seperti anak didiknya, membayangkan betapa kacau hidup yang dijalaninya.

“Aku, Bripda Dwi, Kapten Silvia, Letnan Samudera, Sersan Damar, dan segenap pelatih yang tergabung pada proyek ini sama sekali bukan orang baik. Segenap perwira tinggi, pemilik ide, juga bukan orang baik. Kami semua bajingan, Nine. Kami mengisi kehidupan anak-anak kecil seperti kalian dengan kenangan-kenangan pahit—bahkan lebih pahit daripada kenangan orang dewasa secara umum yang sudah hidup selama 40 tahun. Fuck, Nine. Aku pun bahkan tak rela membayangkan jika anak-anakku berada di posisi kalian,” papar Sukardi.

Nine tetap tak menanggapi. Matanya tetap terpaku keluar jendela. Sesekali ia mengusap wajah penuh lumpurnya dengan lengan baju, lalu kembali ke posisinya semula. “Kurasa tak ada gunanya kau menyesal, Kapten … ” tuturnya.

“Aku tidak menyesali hasilnya, aku menyesali prosesnya. Lagipula kalian memang berhasil membuat para provokator asing ketakutan setengah mati. Indonesia seharusnya berterimakasih kepada kalian atas kedamaian yang tercipta selama satu dekade lebih. Pasca turunnya Soeharto, belum pernah ada lagi konflik besar seperti yang terjadi di Timor Timur, misalnya. Tak ada konflik-konflik yang berarti. Kalian menyelesaikan PR TNI dan Polri secara efektif dan efisien—tanpa mengharapkan imbalan apa-apa, sekadar diberi Playstation bahkan sudah girang. Bagaimana aku bisa menyesali hasil positif tersebut? Ini semua adalah ‘jalan pintas’ yang efektif, namun melanggar HAM dan sangat kontroversial.”

“Kejahatan tetap ada, Kapten. Tidak akan pernah bisa hilang. Masih banyak pencurian dan korupsi. Kami tidak membuat perubahan yang signifikan.”

“Betul, tetapi gangguan yang berasal dari luar Indonesia benar-benar kalian tekan sampai di bawah angka minimal, itu pencapaian yang luar biasa. Dengan begitu kami bisa fokus mengurusi masalah internal negara. Kalian ‘kan memang diciptakan untuk menangkal pengaruh agensi asing. Lihat, negara lain sibuk mengurusi Al-Qaidah, sementara kita tetap tenang. Kenapa? Karena kalian memampuskan agen-agen provokator yang ditugaskan untuk mengubah negara ini menjadi Timur Tengah jilid dua, demi kepentingan politik barat.”

“Hmm. Jadi, apa yang kau sesali, Kapten?”

Sukardi menghela napas panjang. “Seperti kataku tadi: prosesnya. Dan juga eksistensiku, Nine. Mengapa orang-orang sepertiku harus ada? Mengapa orang-orang yang tega menghajar anak kecil sepertiku harus hidup? Mengapa aku tak lari atau bunuh diri saja agar kalian bisa hidup normal selayaknya anak-anak yang lain? Entahlah, selalu ada perhelatan di dalam batinku, tetapi aku tetap memilih untuk menjadi bajingan yang tega menghajar kalian demi sebuah negara. Kulupakan Tuhan, kulupakan Nabi, kulupakan nasihat orangtua. Demi apa? Demi damai, demi manusia, demi senyuman. Apakah aku salah? Apakah aku berdosa?  Entahlah.”

“ … ” Nine membisu sesaat. “Kata-katamu sulit untuk dicerna, Kapten. Aku bingung.”

“Haha. Sialan, Nine. Maksudku … aku tidak menyesal dengan situasi damai seperti saat ini. Tetapi aku menyesali prosesnya dan menyesali keberadaanku. Seharusnya orang-orang sadis sepertiku tak perlu lahir ke muka bumi.”

“Begitu pun dengan aku dan subjek-subjek yang lain. Untuk apa kami lahir kalau orangtua kami lantas membuang kami dan membuat kami terjebak di tempat sadis seperti ini? Pada akhirnya kami pun menjadi bajingan.”

Kedua lelaki yang memiliki rentang usia cukup jauh itu pun terdiam—memandangi langit dan segenap awan yang tak tampak peduli pada keberadaan mereka berdua. Alam tak punya sabda, seakan membiarkan dua insan di bawah naungannya tetap hidup dengan nyawa-nyawa yang meregang. Ia mungkin menatap, mengawasi, tetapi tak ada yang bisa ia katakan selain mendesis penuh benci melalui hembusan angin.

Sukardi lantas tertunduk, pasrah pada keputusan Tuhan kelak. Sementara Nine menatap kosong ke arah depan, kosong pula perasaannya. Kedua mesin pembunuh itu tak miliki jawab, hingga warna jingga hampir menyambut sang siang.

“Maaf telah membawamu menjadi bajingan, Nine … ” ujar Sukardi luruh.

“Kita semua bajingan, Kapten. Apa lagi yang mau kau harapkan dari kenyataan itu? Kau tidak bisa mundur dan mengulang semuanya.”

“Harapanku … ?” Sukardi menggelengkan kepalanya, lagi. “Kuharap kejahatanku ini setimpal dengan harga kedamaian yang harus kubayar.”

Nine tak bergeming. Ekspresinya tetap datar seperti sedia kala. Setuju tidak, tidak setuju pun tidak.

Tak lama kemudian, muncul seorang wanita muda dari persimpangan koridor tempat Nine muncul. Ia juga acak-acakan dan penuh lumpur, sama seperti Nine. Rambutnya bergaya bob pendek, wajahnya anggun, tubuhnya atletis namun seksi, dan pundak kanannya sedikit berdarah. Tak ada tangis, tak ada keluh, wanita yang kemungkinan berusia tujuh belas tahun itu tampak sangat tegar mendapati luka di tubuhnya.

“Hoi, Seventeen! Pundakmu tertembak, apa yang kau lakukan di sini!? Cepat ke ruang medis atau kau bisa mati pendarahan!” seru Sukardi berseru kepada wanita muda tersebut.

“Ini tidak seberapa sakit, tidak kena titik vital. Nanti juga kering. Yang lebih penting adalah apa yang baru saja kau bicarakan dengan Subject Nine?” ujar wanita bernama Seventeen tersebut.

“Tidak ada. Kita hanya bersantai di sini,” Sukardi bangkit dari tempatnya. “Sialan, cepat ke ruang medis atau kutendang pantatmu, Seventeen!”

“Ya, ya, ya … coba saja tendang aku kalau berani, Kapten. Tendanganmu rasanya sama seperti patuk ayam, tak ada rasanya, cuma geli,” ucap Seventeen berbalik arah dan setengah berlari.

“Haha, brengsek! Sini kamu!”

Nine pun tersenyum, tetapi ia tetap duduk meringkuk di tempatnya. Kedua matanya lantas mendelik lagi kepada langit, terjerat akan keindahannya.

Pertanyaannya adalah mengapa Project SAKTI memilih anak kecil sebagai subjek eksperimennya? Entah, hanya Tuhan dan pendirinya yang tahu.

EPISODE 10.5 END

<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!