1 – Sex and Hope


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

CERITA INI ADALAH SEBUAH FIKSI BERSAMBUNG! SIMAK EPISODE SUBJECT 09 LAINNYA DI SINI

MOHON BACA JUGA PENGUMUMAN INI!


Setelah beberapa waktu lalu kita sempat dikejutkan oleh kematian enam pejabat pemerintah Republik Indonesia, hari ini kita kembali digegerkan oleh tewasnya seseorang yang sudah amat kita kenal, yakni Kapolnas Jenderal Yusuf Tarigan. Informasi ini baru saja kami terima sekitar dua jam yang lalu ketika Divisi Humas Mabes Polri mengumumkan kematian tragis sang jenderal di jejaring sosial. Masih belum diketahui penyebab kematiannya, namun Polri menyatakan ada plot terorisme dibalik tewasnya Jenderal Yusuf dan enam pejabat pemerintah–

Seseorang tampaknya merasa terganggu dengan suara si pembawa berita. Seraya terpejam dan terkulai luruh di atas kasur, ia mematikan radio yang berada di samping kepalanya. Suasana ruangan pun menjadi sunyi, sang pria lantas berbaring menyamping dan melanjutkan tidurnya.

Tetapi, hanya sekelebat lelap melekat. Sang pria sadar bahwa hari telah menjelang siang, lantangnya suara burung bersiul dan hangatnya udara di dalam ruangan menjadi bukti bahwa posisi mentari telah meninggi di atas langit. Kedua mata nan malas itu pun terbuka perlahan. Sang pria lantas mendudukkan tubuhnya seraya menghela napas panjang. Ia terlihat berantakan; rambutnya acak-acakan, bajunya kusut, dan wajahnya penuh dengan lebam.

Lebam? Tentu saja. Ia baru saja dipukuli oleh unit kepolisian antiteror semalam tadi. Tadinya ia hendak diinterogasi habis-habisan oleh seorang pejabat Polri, tetapi ia berhasil kabur dan menyebabkan seluruh media nasional membicarakan tentang kematian enam pejabat pemerintah. Tidak, bukan enam lagi, kini sudah bertambah menjadi tujuh. Dalam kata lain, pria dengan wajah penuh lebam inilah yang membantai tujuh pejabat tersebut. Subject 09.

Pria tanpa nama yang membunuh Kapolnas tersebut bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan gontai menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya. Ia kemudian berdiri sejenak di depan cermin, memperhatikan setiap lebam yang mewarnai kening dan pipinya. Tetapi ia tak begitu peduli dengan wajah berpola bak anjing dalmation tersebut. Nanti juga kembali seperti semula, renungnya singkat. Ia pun menyeka wajahnya dengan handuk kecil yang menggantung di pintu kamar mandi, lalu berjalan keluar, ke arah ruang tengah.

Subject 09 ke ruang tengah bukan untuk bersantai, menonton televisi, lalu tertidur lagi seperti yang dilakukan oleh banyak orang. Ia hanya ingin mengambil sebungkus rokok dan korek api yang ia tinggalkan di atas nakas. Sesaat setelahnya, ia bertolak dan berjalan santai keluar flat, seakan-akan tak peduli dengan wajah bonyoknya.

Seraya mengambil beberapa langkah kecil ke tepian balkon, Subject 09 menarik sebatang rokok dengan menjepitnya diantara dua bibir. Ia lantas mengantongi bungkus rokoknya ke dalam saku celana dan mulai membakar batang tembakau yang bertengger di antara kedua bibirnya secara perlahan. Ia hisap hingga api membakar ujung rokoknya dengan sempurna. Begitu nikmat menyapa tenggorokan, segera ia hembuskan asap rokoknya begitu kencang. Jelang siang nan tenteram, pikirnya.

Tak lama kemudian, mungkin setelah Subject 09 menghisap rokoknya lima hingga tujuh kali, terdengar suara pintu terbuka secara perlahan. Sang pembunuh pun menoleh, menatap ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari sebelah flat-nya. Ia mendapati dua orang keluar dari flat bernomor 67, yakni seorang wanita muda dan seorang bocah laki-laki berseragam putih biru. Subject 09 segera menyadari bahwa ia kini hidup berdampingan dengan sebuah keluarga kecil.

Hubungan kedua penghuni flat nomor 67 tersebut tampak begitu intim. Mereka saling bertukar canda dan tawa, bahkan sang ibu masih sempat-sempatnya menggelitiki putranya yang sudah akan berangkat sekolah, suasana pun menjadi tampak lebih ramai di sekitar balkon tersebut. Tak lama kemudian, si bocah SMP yang berpostur pendek itu pun mencium tangan sang wanita. “Aku berangkat, Bu!” ujarnya.

Benar dugaan Subject 09, mereka adalah pasangan ibu dan anak.

Bocah berseragam SMP itu pun berjalan cepat melalui pria perokok yang sedang bersandar di pembatas balkon. “Paman. Jangan kebanyakan merokok! Tak bagus buat kesehatan!” ujar si bocah bersemangat. Ia kemudian berlalu tanpa sempat direspon oleh sang pria berwajah lebam tersebut.

Subject 09 hanya tersenyum tipis melihat tingkah sang bocah. Ia bahkan berhenti menghisap rokoknya selama beberapa saat. Tetapi ia tetap melanjutkan polusi kecilnya beberapa saat yang lain. Ia kemudian memfokuskan pandangannya ke lantai dasar, menatapi sang bocah berjalan setengah berlari meninggalkan lingkungan flat.

“Namanya Patih Rimbawan. Usianya 13 tahun. Walaupun demikian, ia memiliki semangat yang besar untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik. Anak kecil selalu punya mimpi yang besar, ya?” Tiba-tiba saja sang ibu berdiri tepat di samping Subject 09 dan memancing percakapan.

“Itu karena semua anak-anak punya impian untuk hidup menyenangkan, sehingga mereka lebih bersemangat untuk memperbaiki kehidupan daripada orang dewasa. Kadang-kadang,” jawab Subject 09 dengan ekspresi datar. “Ngomong-ngomong kenapa dia baru berangkat ke sekolah sesiang ini? Ini sudah menjelang jam sepuluh.”

“Ah, itu karena sudah tak ada aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Ini ‘kan momen pasca ujian akhir sekolah, sehingga para murid pun bebas menentukan jam masuk dan pulang sesuka hati mereka.”

“Jangan berkata seakan-akan aku tahu tentang itu. Aku tak punya anak,” tukas Subject 09 seraya tersenyum kecut.

“Haha. Maafkan aku. Kenalkan, aku Verani. Kau bisa memanggilku Ve. Aku tinggal di flat nomor 67.”

Subject 09 lantas menatapi si ibu muda yang ikut bersandar di pembatas balkon seraya menyodorkan tangan. Ia sontak terdiam mematung, terhenyak bisa melihat tetangga barunya dari jarak yang sangat dekat. Mau tak mau, ia jadi memperhatikan ciri-ciri fisik sang wanita yang bernama Verani tersebut; matanya besar seperti artis Korea, kulitnya putih mulus, postur tubuhnya ideal, dan yang paling menarik perhatian adalah wajahnya yang sangat cantik. Terlalu cantik. Subject 09 pun menyambut jabatan tangan si ibu muda dengan lembut.

“Adam. Panggil saja Adam,” ujar Subject 09 mengarang.

“Senang berkenalan denganmu,” jawab Verani tersenyum. “Jadi … kau adalah tetangga baruku?”

Subject kembali menatap lurus ke depan. “Tidak juga. Sebenarnya kaulah tetangga baruku. Aku penghuni lama di sini. Tetapi kemarin-kemarin aku ada dinas di luar kota dan kegiatan itu berlangsung hampir setahun lamanya. Flat-ku hampir saja jadi museum.”

“Oh! Hahaha. Pantas saja kami tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kami baru enam bulan tinggal di sini. Kalau boleh kutahu, apa pekerjaanmu? Apakah itu berhubungan dengan lebam di sekujur wajahmu?”

“Oh, rupanya kau memerhatikan,” Subject 09 tersenyum lebar. “Aku bekerja sebagai kontraktor properti. Dan lebam ini … sama sekali bukan bagian dari pekerjaan. Ini adalah hasil perkelahian dengan warga sekitar. Biasalah, miskomunikasi.”

“Wah, wah, wah. Laki-laki senang sekali menyelesaikan masalah dengan baku hantam, ya?” papar Verani sembari mengusap-usap dagunya. Ia lantas terdiam. Sesekali mencuri pandangan ke wajah Subject 09, lalu tertunduk malu. Begitu saja yang ia lakukan selama beberapa saat. Tampaknya ia hendak menyampaikan sesuatu.

“Ngomong-ngomong … ” ucap Verani malu-malu. “Kau punya rokok lagi?”

Subject 09 tak segera merespon. Ia malah melirik ke wajah manis Verani selama beberapa detik. Bidadari merokok? Bukan hal yang aneh memang, tetapi Subject 09 merasa ia sudah lama tak melihat fenomena tersebut. “Ada. Masih banyak. Kau merokok?”

“Ya … begitulah. Kau tak keberatan jika aku meminta rokokmu?”

“Tentu,” Subject 09 mengeluarkan bungkus rokok beserta dengan koreknya. Ia menyodorkannya kepada Verani. “Ambil saja beberapa batang jika kau mau.”

“Terima kasih, Adam,” tanpa pikir panjang, Verani segera menyambar bungkus rokok yang disodorkan kepadanya. Ia mengambil satu batang lalu membakarnya, ia benar-benar merokok. Tampaknya ia sudah menjadi perokok sejak lama. “Ini, Adam. Aku hanya ambil satu batang.”

Subject 09 segera mengambil bungkus rokok dan koreknya kembali, kemudian mengantonginya di saku celana. Ia tak berkomentar apa-apa setelahnya, malah tampak tak peduli dengan perkembangan situasi tersebut. Bagus juga punya teman bersantai setelah semalam membantai puluhan aparat keamanan, renungnya.

Fuaaaah, rasanya seperti sudah lama tak merokok seperti ini. Padahal, baru saja semalam aku merokok di sini,” ujar Ve spontan.

Subject 09 menghisap rokoknya hingga keningnya mengernyit. “Putramu tahu kau merokok?” tanyanya sesaat kemudian.

“Tentu saja. Tetapi ia selalu memarahiku jika aku ketahuan merokok, hahaha. Itulah mengapa aku tidak bisa merokok setiap waktu, hanya di saat-saat ia tak berada di dekatku.”

Subject 09 termenung sejenak. “Kupikir itu bagus. Kau mau mengubah kebiasaan tak lazimmu demi si buah hati. Tak banyak ibu muda yang mampu melakukan hal tersebut di zaman serba modern seperti ini.”

Verani terdiam. Ia lantas menghembuskan asap dari rongga hidungnya seraya tersenyum. “Ya. Itu karena aku begitu menyayanginya. Hanya dia satu-satunya anggota keluarga yang kupunya dan mengerti keadaanku. Aku tak mau membuatnya pergi sebagaimana kerabat-kerabatku pergi meninggalkanku.”

Tiada respon dari pihak pendengar. Ia asik menikmati batang tembakaunya seakan tak peduli dengan sosok wanita cantik di sampingnya. Tetapi tidak. Ia tak sedang bercinta dengan kesendirian, sesungguhnya ia menunggu Verani bercerita lebih jauh tentang kehidupannya.

“Kau disangkal oleh keluargamu?” Subject 09 memancing Verani agar berbicara.

Verani mengangguk pelan. “Seperti itulah kira-kira. Aku memang wanita nakal sejak masih duduk di bangku SMP. Merokok, mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba, hingga seks bebas telah kulakukan sejak masih menjadi pelajar putih-biru. Tak heran jika aku kemudian disangkal oleh keluargaku sendiri.”

“Tak ada kebakaran jika tak ada api. Kau pun takkan menjadi wanita nakal jika tak ada penyebabnya. Bukan demikian?”

Uhum,” Verani mengangguk sepakat. “Awalnya karena perceraian ayah dan ibuku sih. Aku terpukul sekali oleh peristiwa tersebut, benar-benar serangan batin yang dahsyat, apalagi Ayah dan Ibu tak peduli pada keadaanku pasca perceraian mereka berdua. Oleh karenanya, untuk keluar dari kondisi depresi yang semakin hari semakin menjadi-jadi, aku pun melampiaskannya dengan melakukan aktivitas-aktivitas nakal.”

“Jika mereka tak peduli kepadamu, mengapa mereka masih repot-repot ‘membuangmu’ di kemudian hari?”

“Karena hamil. Sewaktu SMA kelas tiga, aku melakukan seks dengan pacarku dan aku hamil. Di rumah, tiba-tiba aku sering mual, sehingga bibiku–orang yang menjadi pengasuhku setelah ortuku bercerai–mencurigaiku. Ia lantas memberikanku segelas teh hangat yang telah dicampur obat-obatan tertentu sehingga warna air kencingku menjadi aneh, menjadi agak kemerah-merah–”

“Urinaxepram,” sela Subject 09 menerka nama obat yang dimaksud Verani. “Itu obat untuk mengetes kehamilan dengan cara mengubah warna air kencing yang mengandung sperma menjadi kemerah-merahan. Obat itu diproduksi secara ilegal oleh perusahaan farmasi bawah tanah agar pelaku hamil di luar nikah tidak meninggalkan jejak seperti menggunakan test pack, kau takkan bisa menemukannya di apotek legal.”

“Wow! Kau tahu obat itu?” Verani menatapi Subject 09 dengan kedua mata terbelalak. Ia terhenyak. “Kau benar-benar sesuatu, Adam. Itu memang obat yang kumaksud.”

“Teruskan ceritamu.”

“Umm, ya setelah melihat warna kencingku seperti sirup stroberi, aku pun melaporkan keganjilan tersebut kepada bibiku. Mendengar pernyataan mencengangkan tersebut, Bibi akhirnya mengakui bahwa ia telah mencampurkan obat yang kau sebutkan tadi ke dalam tehku. Ia terpukul mengetahui warna kencingku menjadi kemerahan, itu artinya aku memang hamil. Sejak saat itulah aku disangkal. Tak hanya itu, pacarku pun menghilang begitu mengetahui aku hamil, ia enggan bertanggungjawab atas perbuatannya.”

Suasana pun menyepi. Tak ada tindak, tak ada kata. Angin siang lantas menggantikan suara dua insan perokok yang tengah bertengger di tepian balkon tersebut. Hembusannya menggelorakan ranting-ranting pepohonan, menciptakan suara gemersik yang begitu damai.

“Dan kau memilih untuk merawat kandunganmu … ” imbuh Subject 09 seraya menghembuskan napas rokoknya.

“Ya. Sejak awal aku mengandung, aku memang tidak memiliki niatan untuk menggugurkan kandunganku. Aku butuh teman. Semua orang berusaha meninggalkanku secara perlahan-lahan, aku tak ingin darah dagingku juga melakukan hal yang serupa dengan mereka.”

“Hmm … ” Subject 09 hanya mendehem sembari melakukan hisapan terakhir pada rokoknya. Ia kemudian mematikan api rokoknya pada besi pembatas balkon, lalu membuangnya ke tempat sampah kecil di depan flat-nya. “Yang aku heran bagaimana caranya kau melahirkan, padahal sudah tak ada kerabat yang peduli pada dirimu?”

Verani melirikkan matanya kepada Subject 09 dan tertawa kecil. “Sebenarnya waktu itu belum seburuk itu, Adam. Aku masih punya nenek yang sangat penyayang. Beliau yang membantu mengurusi segala hal mengenai kelahiran Patih. Tetapi itu hanya berlangsung tiga tahun, itu pun tidak intens. Setelah itu beliau meninggal. Sejak saat itu baru aku hidup sendirian sampai saat ini.”

Subject 09 hanya menyisakan bisu pada percakapan tersebut. Ia tak punya kata untuk merespon cerita Verani lagi. Kedua tangannya lantas bersedekap di atas besi pembatas balkon dan ia pun bersantai menatapi pertandingan layang-layang di kejauhan.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki di sekitar tangga menuju lantai dua. Langkahnya terdengar agak berat, tampaknya ada seorang pria bertubuh gempal sedang berjalan menaiki tangga. Subject 09 pun menoleh ke arah sumber suara.

Benar saja. Beberapa saat kemudian, tamu yang dimaksud pun muncul. Seorang pria. Ia benar-benar bertubuh gempal, persis seperti apa yang dipikirkan oleh Subject 09. Penampilan pria tersebut sangat rapi, ia mengenakan baju batik, celana kain berwarna hitam, dan songkok yang juga berwarna hitam. Seperti hendak bertemu dengan pejabat.

Tetapi ia memang pejabat. Pejabat tingkat RT. Ia adalah ketua RT di lingkungan flat kucal tersebut. Pantas jika ia berpakaian layaknya hendak bertemu pejabat, itu memang sudah dandanan standarnya.

Pak RT berjalan santai mendekati Subject 09 dan Verani. Ia tersenyum. Tetapi senyumannya hanya tertuju kepada Verani, bisa terlihat dari kedua sorot matanya. Ketika ia memfokuskan pandangannya kepada pria di samping Verani, ia tampak bingung, senyumannya luntur oleh kerut-kerut penuh tanya.

“Kata orang, kita bebas memilih menjadi apapun yang kita mau. Tetapi, tidak bagiku. Aku tidak bisa memilih untuk keluar dari lingkaran setan ini. Takdir itu kejam. Dan jika Tuhan itu ada, Tuhan itu kejam,” tiba-tiba saja Verani memuntahkan rangkaian kalimat nan ganjil tersebut kepada Subject 09.

Tentu saja Subject 09 menoleh, ia mencoba memecahkan misteri yang mengawang-awang pada percakapan tersebut.

“Halo, Bu Verani. Sedang sibuk?” Pak RT mendekat, ia segera mengajukan pertanyaan kepada Verani dan mengacuhkan keberadaan lelaki di sampingnya. Ia tampak curiga, namun mengemasnya dalam bahasa yang lebih halus.

“Tidak juga,” jawab Verani dengan ekspresi nan cerah. “Aku hanya sedang mengobrol santai dengan Pak Adam. Kau tidak kenal dengannya?”

“Hoo, penghuni baru?” Pak RT melirik kepada Subject 09.

“Aku penghuni lama. Baru pulang dari dinas luar kota selama setahun,” jawab Subject 09 singkat.

“Oh! Bapak Adam! Saya baru ingat. Adam Sulaiman, ya? Saya sering melihat nama Bapak di daftar penghuni, tetapi tak pernah melihat wujud Bapak. Saya pikir Bapak memang sudah pindah.”

“Sekarang kau bisa melihatku, Pak RT,” ujar Subject 09 tersenyum.

“Haha, ya ya ya. Senang bisa melihatmu, Pak Adam,” imbuh Pak RT seraya menepuk pundak Subject 09. “Ngomong-ngomong … uhm … saya ada keperluan dengan Bu Verani. Saya … mohon permisi sejenak, Pak Adam,” lanjutnya gugup.

Subject 09 tak merespon. Ia hanya menatapi Pak RT bergegas mengajak Verani masuk ke dalam flat. Heran, tentu saja. Mengapa pembicaraan penting seperti demikian harus dilakukan di dalam flat milik Verani? Dan mengapa pria bertubuh gempal tersebut terlihat lebih bersemangat mengajak Verani masuk ke dalam flat daripada Verani sendiri?

Tak sempat tanya demi tanya terjawab, pintu flat nomor 67 pun tertutup rapat. Pak RT dan Verani lenyap dari pandangan sang pembunuh. Keadaan kembali menyepi. Subject 09 lantas menengadah ke atas. Tanpa harus melakukan investigasi layaknya detektif andal, ia pun tahu apa yang terjadi. Ia tak bisa menghalangi dirinya untuk tersenyum. Tersenyum kecut.

***

Langit pun menghitam, tanda malam telah menyeruak. Selama hampir seharian, Subject 09 hanya mengurung diri di dalam flat-nya, mencoba memecahkan teka-teki yang masih mengganggu benaknya. Subject 01.

Ia tidak begitu peduli pada keributan di flat sebelah. Bukan, bukan pertengkaran. Melainkan perzinaan.

Sejak siang tadi, Verani disambangi oleh belasan tamu laki-laki hidung belang dari berbagai profesi, mulai dari ketua RT, tukang sayur, tukang ledeng, karyawan, mahasiswa, hingga seorang penulis muda; mulai dari yang berparas setan hingga yang berparas bidadara; mulai dari yang beraroma comberan hingga yang beraroma taman bunga. Verani tidak menolak kehadiran mereka, justru dengan senang hati melayani para bajingan haus kelamin tersebut.

Desah demi desah terdengar hingga ke kamar Subject 09, menggelorakan udara dengan napas sang neraka. Terang saja. Siapa lelaki hidung belang yang tak bernafsu melihat seorang wanita muda, supercantik, dan berpostur molek seperti Verani?

Namun demikian, Subject 09 tak melakukan apa-apa dengan keributan yang dihasilkan oleh tetangganya. Ia malah asik dengan laptop-nya, mencoba menguak keberadaan saudaranya. Ia lebih peduli pada rencana memporakporandakan sebuah negara.

Sebagaimana informasi yang ia korek dari almarhum Jenderal Yusuf Tarigan, dapat diambil kesimpulan bahwa kakak seperjuangannya memiliki andil penting dalam pembantaian di Kampung Rimbun. Pertanyaan berikutnya adalah di mana ia bisa menemukan Subject 01? Dan apakah saudara-saudara pembunuhnya yang lain dari Project SAKTI juga punya andil yang sama?

Subject 09 mencoba menelusuri jejak Subject 01 dengan melacak transmitter yang tertanam pada beberapa anggota tubuh tiap anggota Project SAKTI. Subject 09 pun awalnya memiliki transmitter yang tertanam pada pinggul, paha, dan lehernya. Tetapi kini sudah dimatikan olehnya. Ia membedah tiga anggota tubuhnya tersebut, mencabut transmitter yang hanya sebesar tablet influenza, lalu menginjaknya hingga hancur tak tersisa. Takkan ada orang yang dapat melacaknya lagi lewat sinyal-sinyal transmitter.

Namun, sebagaimana pemerintah tak bisa menemukan jejak Subject 09, Subject 09 pun tak mampu menemukan jejak Subject 01. Transmitter sudah dimatikan, tampaknya. Tak hanya Subject 01, subjek-subjek Project SAKTI yang lain pun telah “menghilang,” entah karena sudah mati atau karena pemerintah memanfaatkan keberadaan mereka untuk kepentingan yang lain.

Tak masalah, pikir Subject 09. Ia lantas berupaya mencari jejak Subject 01 melalui ponsel almarhum Jenderal Yusuf Tarigan yang ia renggut semalam lalu. Ia mengoneksikan ponsel cerdas sang jenderal ke laptop-nya dengan sebuah kabel data, kemudian ia buka aplikasi khusus untuk mencari kata kunci “Jurig” yang merupakan nama alias Subject 01.

Subject 09 memilih beberapa opsi pada aplikasinya, lalu menekan tombol eksekusi tanpa keragu-raguan. Pencarian kata kunci pun dimulai, diawali dari ponsel Jenderal Yusuf sendiri. Jika kata kunci tak ditemukan pada ponsel Jenderal Yusuf, maka program secara otomatis akan meretas ponsel setiap orang yang tercatat di phonebook Jenderal Yusuf demi menemukan kata kunci yang dimaksud.

Metode pencarian brutal ini disebut dengan Ancpry, singkatan dari Ancestor Prying. Dipopulerkan oleh United States Security Agency–versi upgrade dari National Security Agency, kini metode pencarian Ancpry digunakan pula oleh badan intelijen selain di Amerika Serikat. Terang saja Subject 09 mempunyai mesin pencarian dengan metode Ancpry ini, bagaimana pun ia adalah bekas agen rahasia pemerintah.

NB: 

[1] PIN adalah badan intelijen resmi Indonesia pada cerita ini, alternate version dari BIN.

[2] Project SAKTI adalah program black ops pemerintah yang bertujuan untuk menumbangkan kekuatan agen asing. Akan diceritakan lebih detil pada episode selanjutnya.

Subject 09 menunggu hasil pencarian selama beberapa jam, ia bahkan telah menghabiskan lima batang rokok plus segelas kopi hitam, hasilnya tetap nihil. PIN semakin cerdas, renungnya. Demi menghindari kemungkinan terlacak oleh mesin Ancpry, mereka sama sekali tidak menyebutkan kata kunci apapun yang berkaitan dengan Jurig.

Pantang menyerah, Subject 09 kemudian memikirkan satu hal yang berkaitan erat dengan Project SAKTI. Lebih tepatnya antitesis dari Project SAKTI. Operasi Antisakti.

Operasi Antisakti adalah sebuah operasi rahasia intelijen untuk mengeliminasi segala elemen yang berafiliasi pada Project SAKTI; semacam operasi untuk “menghapus dosa” pemerintah karena telah menciptakan kelompok pembunuh yang sangat berbahaya.

Subject 09 langsung mencari siapa orang yang memimpin Operasi Antisakti. Jika si pimpinan diamanahkan untuk men-shutdown Project SAKTI, kemungkinan besar ia mengetahui posisi para subjek Project SAKTI. Ia pun meretas database PIN dengan panel khusus milik anggota black ops PIN yang ia bunuh, sama seperti malam dimana ia diringkus oleh orang-orang Yusuf Tarigan. Akan tetapi kali ini hanya untuk mencari informasi.

Apa yang Subject 09 dapatkan dari upaya penggaliannya? Nihil. Tidak ada informasi apapun di database PIN tentang Operasi Antisakti. Tidak secuil pun.

Dengan demikian, kemungkinannya hanya tinggal satu: segala rekaman mengenai aktivitas Operasi Antisakti sudah pasti diarsipkan secara tertulis dan terkunci di sebuah brangkas yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu. Subject 09 lantas bersandar di kursi kerjanya. Ia tahu siapa orang pertama yang harus ia sambangi demi mendapatkan informasi mengenai Operasi Antisakti. Denis Sumargana, kepala PIN periode 2016-sekarang.

Subject 09 mengistirahatkan kepala di atas sandaran kursinya. Ia menghela napas panjang, lalu terpejam sesaat. Benaknya mencoba memikirkan kapan waktu terbaik untuk mendatangi Denis. Ia juga harus memperhitungkan keberadaan eksekutor-eksekutor di sisi Denis; walaupun tidak setangguh dua puluh pembunuh rahasia Project SAKTI, tetapi mereka dapat membuatnya kerepotan.

Belum rampung ia memikirkan rencana penangkapan Denis, tiba-tiba Subject 09 diintervensi oleh suara kasak-kusuk di luar flat. Duduknya menjadi tegak, ia mencoba mendengarkan percakapan yang terjadi di luar, karena terdengar mencurigakan. Namun suaranya tak begitu jelas. Sontak ia pun mengambil mikropon parabolik mini yang tersimpan di laci meja komputernya. Mikropon tersebut dapat memperkuat suara yang terjadi dari jarak jauh, sekitar 300-500 meter.

Sang pembunuh segera berjalan mendekati pintu keluar dan mengarahkan ujung mikropon ke arah datangnya suara. Kini ia bisa mendengar suara kasak-kusuk dengan jelas. Ada sekitar tiga orang sedang bergumul di jalanan depan flat.

Kau yakin kamarnya nomor 67?” tanya salah seorang dari ketiganya.

Tentu! Aku yakin sekali. Aku sudah berkali-kali keluar-masuk flat ini, masak aku salah?” jawab salah seorang lainnya percaya diri.

Oke, Bos. Mari kita pulang kalau begitu, aku sudah tak tahan untuk menanti hari esok.

Sabarlah. Bagaimana pun juga kita harus berkunjung dengan pakaian rapi dan persiapan yang matang. Tamu jangan kurang ajar.

Haha, kau benar, Bos. Mari kita pulang,” timpal si pria ketiga.

Percakapan pun usai. Ketiga pria misterius tersebut kemudian melenggang pergi dari tempat mereka berdiri.

Subject 09 mematikan mikoropon paraboliknya, ia lantas memalingkan pandangannya ke dinding pembatas antara flat-nya dengan flat Verani. Ia termenung. Awalnya ia berpikir bahwa black ops pemerintah berhasil mendeteksi tempat persembunyiannya, rupanya tidak. Justru tetangganya yang berada dalam masalah, sepertinya.

***

Pagi berikutnya, Subject 09 kembali bertengger di tepian balkon seraya menikmati batang tembakaunya. Setelah sekitar tujuh menit ia berdiri menikmati awan yang berarak, tetangga cantiknya pun keluar membawa ember yang penuh dengan pakaian. Kali ini Verani keluar tanpa ditemani putranya.

Verani menoleh ke tempat Subject 09 berdiri, ia menghentikan langkahnya sejenak. “Pagi, Adam. Tidurmu nyenyak?” tanyanya dengan mimik nan cerah.

Subject 09 menyambutnya dengan senyuman. “Ya, beruntung kau tidak ‘berisik’ pada saat aku sedang menikmati lelapku,” sindirnya seraya memperagakan isyarat tanda kutip dengan kedua tangannya.

“Oh! A-astaga … a-aku … ” Verani terhenyak, ia merasa malu perbuatan kotornya terdengar sampai ke flat sebelah. Ia pun tertunduk, salah tingkah.

“Ah, tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Aku tidak terganggu oleh suaramu, hanya sedikit terkejut kau mampu melayani belasan orang dalam satu hari yang sama,” ucap Subject 09 tertawa kecil. “Patih tidak pergi ke sekolah?” lanjutnya mengalihkan pembicaraan.

“Patih … ia libur hari ini. Jadi ia masih tidur di kamarnya.” Ekspresi Verani tak secerah sebelumnya, ia menjadi sangat gugup berada di dekat Subject 09.

“Jadi takkan ada ‘servis khusus’ untuk para klienmu hari ini?”

“E-eh … a-aku … tetap ada ‘servis’ seperti biasanya. Biasanya, jika sedang libur, Patih kusuruh bermain dengan teman-temannya atau kuberikan uang untuk bermain permainan arcade.”

Subject 09 hanya merespon tanggapan Verani dengan senyuman. Ia kemudian kembali menikmati batang tembakaunya tanpa sepatah kata pun.

“Aku … aku permisi dulu, Adam. Ada banyak baju yang harus kujemur,” lanjut Verani gelagapan. Ia pun bergegas meninggalkan tempatnya berpijak. Sampai detik itu, si tetangga perokok tak jua memuntahkan sepercik komentar kepadanya, malah membiarkan Verani pergi.

Detik demi detik pun berlalu, tugas menjemur akhirnya usai. Verani berjalan kembali ke arah flat-nya dan ia masih mendapati Subject 09 berdiri di teras balkon. Kali ini, pria berwajah lebam tersebut tak sedang bernapas asap, ia sedang melamun menatapi langit luas. Awalnya Verani berharap agar Subject 09 tak melakukan kontak apapun dengannya, akan tetapi ia merasa tak enak jika bersikap ganjil pada tetangga barunya.

Verani pun memberanikan diri menghampiri tetangga yang mengaku bernama Adam tersebut. “Hei, Adam. Kau sedang memperhatikan apa?”

“Ah, Ve … ” Subject 09 lolos dari lamunannya, ia sedikit terkejut mendengar Verani telah berada di sampingnya. “Tak sedang memperhatikan apa-apa. Aku hanya senang melihat langit dan awan-awan.”

“Hoo, aneh sekali kebiasaanmu. Apa yang kau dapat dari melihat langit dan awan?”

Subject 09 tak bersegera menjawab, ia kembali terbenam dalam imajinasinya. “Ketenangan,” ujarnya singkat.

Verani terdiam mendengar jawaban tetangganya. Terdengar seperti jawaban filosofis baginya. Tetapi tidak, ia memang bisa melihat jawaban tersebut memancar dari ekspresi datar Subject 09. Sebuah ketenangan.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“Hanya dengan melihat langit, kau bisa menjadi tenang, mengapa aku tidak?” Verani bersandar pada besi pembatas balkon dengan malas. “Yang membuatku tenang selama ini adalah uang. Aku tenang kalau aku bisa membayar listrik, aku tenang kalau aku bisa menyekolahkan Patih, aku tenang kalau aku bisa membeli makan dan minum yang bergizi. Apakah itu berarti setiap orang memiliki parameter ketenangan yang berbeda-beda?” tanya Verani seraya meletakkan embernya.

“Ya. Itu karena manusia melihatnya dari perspektif yang berbeda-beda pula,” jawab Subject 09 spontan. “Ketenanganmu berasal dari upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupmu, kau gelisah jika membayangkan kematian, sehingga kau menganggap uang dan materi adalah sesuatu yang akan membuatmu tenang, karena uang akan membuatmu tetap hidup.

“Sedangkan aku menyandingkannya dengan eksistensiku, pikiranku tidak dipagari oleh rasa takut akan datangnya maut. Ketika aku melihat langit yang sedemikian luas, aku jadi berpikir bahwa aku adalah makhluk yang sangat kecil. Itulah yang membuatku tenang, karena bumi ini ternyata sangat besar,” lanjutnya tersenyum.

Verani mengerutkan dahinya. Ia memahami bahasa yang diucapkan oleh tetangganya, hanya saja ia tak bisa menemukan korelasi antara luasnya bumi dengan sebuah ketenangan. “Mmm, apa yang membuatmu tenang dari bumi yang sedemikian besar?”

“Kesempatan, Ve. Ketika kau berdiri di tengah ruangan yang sangat besar, kau tentu punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi setiap sudut ruangan, bukan demikian? Itu berarti kau punya peluang yang sangat besar untuk menemukan tempat terbaikmu,” jawab Subject 09 spontan. Ia menoleh pada Verani dengan senyuman nan cerah.

Verani terdiam mematung, matanya terbelalak menatapi karisma yang terpancar dari pria yang tinggal di flat nomor 66 tersebut. Ia kini memahami benar apa yang Subject 09 katakan, itu adalah sebuah nasihat untuk hidup yang selama ini ia keluhkan sekaligus nikmati secara bersamaan. Perasaannya semakin tak menentu, ia masih tak siap menatap dunia dari kacamata Subject 09, ia takut. Ia tetap bersikukuh berpijak pada dunia yang sama.

“Hai, Ve. Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya menjelaskannya dari perspektif pribadiku, tidak perlu direnungkan terlalu dalam,” ujar Subject 09 mencairkan suasana, ia menepuk-nepuk pundak Verani. “Ngomong-ngomong, apakah kau menunggu tamu belakangan ini?” Tanyanya mengalihkan topik.

Verani kembali mengernyitkan keningnya. “Tamu? Uhm, paling hanya para ‘klienku’ saja. Tetapi ini masih pagi, biasanya mereka datang ketika hari sudah menjelang siang. Ada apa?”

“Oh, tidak apa-apa. Kemarin aku bertemu dengan tiga orang yang tampaknya hendak bertamu ke flat-mu. Mereka bertanya-tanya tentang alamatmu.”

“Eh, begitukah? Tampaknya ‘klien’ baru, biasanya ‘sih demikian.”

“Hmm, aku tidak begitu yakin. Aku merasa mereka hendak berbuat hal di luar dugaan. Bagaimana jika malam ini kau dan Patih bermalam di flat-ku?”

Verani mematung selama beberapa saat, menatapi Subject 09 dengan kedua mata membesar. Tiba-tiba ia pun tertawa. “Haha, kau ingin merayuku, tuan muda? Sedari tadi kau hanya ingin agar aku melayanimu secara pribadi di flat-mu sendiri,” canda Verani seraya meninju pundak Subject 09.

Ekspresi Subject 09 tidak berubah, tetap datar seperti sebelumnya. “Aku tak berpikir seperti itu, Ve.”

“Ayolah, Adam. Sudah enam bulan aku tinggal di sini dan tidak pernah kudengar ada kejahatan setingkat perampokan di sekitar sini. Walaupun kau penghuni lama, tetapi kau tidak tahu lingkunganmu sendiri selama setahun terakhir, bukan begitu? Di sini aman, setiap malam brigadir RW berpatroli, sehingga tak pernah ada kejahatan tingkat tinggi.”

Subject 09 tak merespon, ia memalingkan pandangannya dari Verani. Lidahnya tak mau memuntahkan satu atau dua komentar. Tak ada gunanya juga beradu argumen dengan seseorang yang memang lebih mengetahui situasi sekitar selama enam bulan terakhir, sementara ia sendiri sudah lama tak kembali ke flat tersebut.

Sampai menjelang datangnya “tamu pertama”, Subject 09 enggan untuk angkat bicara. Ia pendam rasanya untuk diri sendiri, berharap memang situasinya akan seindah apa yang dikatakan oleh Verani. Tetangga cantik laksana artis Korea itu pun terdiam, agaknya ia memang tak suka dengan segala pemikiran yang berkaitan tentang kejahatan.

Selama semua belum terjadi, hiduplah sebagaimana biasanya. Begitulah manusia.

***

Letih. Itulah satu kata yang tergambar jelas dari raut wajah Verani. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.15 dan ia masih sibuk menghitung beberapa lembar uang lima puluh ribuan hasil “pelayanannya” hari ini. Cukup banyak yang ia dapatkan pada hari itu, hampir dua juta rupiah. Semua berkat teman Pak RT yang bekerja di kelurahan, ia membayar lebih untuk “servis” yang diberikan oleh Verani.

Usai menghitung penghasilannya, Verani lantas mengistirahatkan punggungnya di sandaran sofa. Ia menghela napas panjang, melepaskan segala penat yang merajang benak. Matanya pun terpejam sesaat, lalu terjaga menatap langit-langit. Tiba-tiba ia terpikir makna percakapannya dengan Subject 09.

Verani gundah. Ia sudah beberapa kali diceramahi oleh alim-alim di sekitar lingkungan flat, tetapi tiada satu pun nasihat yang berhasil menyentuh hatinya. Biasanya, para alim tersebut mengeluarkan ayat-ayat tentang larangan berzina dan apa hukumannya, Verani bahkan seringkali dikutuk, dicerca, disudutkan, bahkan dikafirkan. Hal tersebut justru membuat Verani mempertanyakan eksistensi Tuhan yang katanya Maha Penyayang. Jika Dia Maha Penyayang, mengapa ajaranNya terasa begitu keras? Mengapa para alim yang bertemu dengannya tak ada yang merefleksikan kasih sayang Tuhan? Mengapa semua mengutuknya? Sejak saat itu Verani tak lagi percaya pada agama, meragukan eksistensi Tuhan.

Sampai tiba saat dimana Verani bercakap-cakap dengan tetangga sebelahnya, Subject 09. Pria yang ia duga sebagai berandalan dan sama sekali tak berpenampilan layaknya cendekia tersebut justru membuatnya berpikir dua kali tentang kenihilan Tuhan.

Benar apa yang dikatakan oleh Adam, pikirnya. Bumi ini begitu luas, masih banyak tanah yang belum terpijak, itu berarti masih banyak kesempatan baik yang belum ia lihat. Selama ini ia hanya berpikir bahwa dunia hanya seluas provinsi Jawa Barat, begitu sempit, begitu kecil. Filosofi Subject 09 tentang langit membuat hatinya memberontak; antara ingin berubah dan ingin tetap pada prinsip hidupnya.

“Lebih baik begini saja. Lebih menjanjikan, lebih pasti.” Verani menyangkal pemikiran tetangganya, ia bersikukuh bahwa prinsip hidupnya benar. Dunia memang kejam dan Verani hanya orang yang mencoba bertahan hidup dari kekejaman tersebut, tukasnya dalam hati.

.

.

DUKKK!

Fokus Verani tiba-tiba teralihkan oleh suara keributan di luar flat, tepatnya di teras balkon. Tampaknya ada seseorang yang menyenggol tempat sampah di luar flat hingga terguling. Verani pun bangkit dari sofanya, dengan ekspresi waswas ia memaku pandangannya ke arah pintu. Ia bisa melihat bayang-bayang manusia bergerak dari celah bawah pintu masuk.

CKLEK! Belum sempat Verani melarikan diri, tiba-tiba pintu depan flat-nya terbuka lebar. Kuncinya dirusak dan tiga orang bermasker pun nyelonong masuk secara tergesa-gesa. Mereka segera menangkap Verani yang baru saja akan kabur, lalu menodong kepalanya dengan pistol.

“Kalau kamu teriak, saya tembak kepalamu. Saya gak peduli kamu mati atau hidup, yang penting kami bisa menyetubuhimu!” seru pria yang mendekap leher Verani begitu erat.

Uuugh … uhuk! K-kamu bisa meminta saya baik-baik. S-saya tidak akan melawan. Uhuk! S-saya memang bekerja sebagai pelacur … ” jawab Verani tersengal-sengal.

“Justru karena itu! Bajingan sepertimu bukannya membayar uang keamanan kepada kami, malah menjalankan bisnis sendiri!” sang penyandera lantas menghantam kepala Verani dengan pistolnya. Verani pun tersungkur dengan pelipis berdarah. “Sobek bajunya!” lanjutnya kepada kedua teman bermaskernya.

“Siap, bos!” Dua pria yang berdiri di hadapan Verani pun segera menjalankan perintah sang pimpinan. Mereka menyobek baju Verani dengan brutal hingga tak ada sehelai benang pun yang tersisa untuk menyekat tubuh molek Verani.

Ketiga begundal itu pun tersenyum kecut. Mereka semakin bergairah. Tanpa keraguan, si pimpinan begundal kembali melepaskan pukulan ke wajah Verani. Kali ini tak terlalu parah, hanya sebuah tamparan. Namun, tamparan tersebut sukses membuat Verani jatuh terlungkup di atas ubin.

Dua begundal pembantu yang puas melihat Verani lengah segera mengangkat tubuh wanita supercantik tersebut dan mengikatnya di sebuah tiang dengan tali tambang. Tak hanya itu, kedua pria tersebut juga menyumpal mulut Verani dengan sebuah kain.

Verani terlihat gemetar. Airmata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Sesaat itu ia sadar bahwa ajakan Subject 09 untuk bermalam di flat sebelah bukan sebuah rayuan. Kini ia harus menerima akibat dari keangkuhannya. Ia menyesal.

Dan ia takut.

“Bos, saya duluan!” Salah seorang begundal pembantu tampaknya sudah tak sabar hendak menistakan wanita secantik dan seseksi Verani di hadapannya. Ia langsung membuka resleting dan menurunkan celananya tanpa sedikit pun keraguan.

.

.

JGLEG!

Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja terjadi pemadaman listrik. Ketiga begundal yang sudah bersiap menyetubuhi Verani itu pun tersentak. Mereka langsung berdiri menegak, terdiam mematung. Derap jantung nan menggila adalah satu-satunya organ tubuh yang tak ikut terdiam.

Suasana menjadi tegang, karena pemadaman tersebut sama sekali tidak direncanakan. Tidak. Lebih dari itu, ketiganya bisa mendengar ada seseorang yang sedang bergerak menuju flat yang sama.

Benar apa yang dipikirkan oleh ketiga begundal tersebut. Sesaat kemudian, seseorang merangsek masuk ke dalam flat milik Verani dengan tergesa-gesa. Lebih dari itu, sosok misterius tersebut juga mengganggu pandangan para begundal dengan strobe light. 

NB:  [3] Strobe light adalah lampu kedip yang biasa digunakan oleh pihak militer untuk menyerang musuh di tempat gelap sebagai pengganti flashbang

Para begundal itu pun terkejut. Mereka lantas memalingkan pandangan dari sumber cahaya yang menyakitkan mata.

Terang saja momen tersebut dimanfaatkan oleh sosok misterius yang tak lain adalah seorang pria yang tinggal di flat sebelah: Adam alias Subject 09. Ia segera membuang lampu kedipnya, lalu merangsek maju ke arah sang pimpinan begundal. Digenggamnya tangan sang pimpinan, kemudian ia hantam kemaluan sang pimpinan dengan lututnya. Begitu pria bermasker tersebut meringkuk lengah, ia segera melucuti pistol sang pimpinan dan menyodok tenggorokan sang pimpinan dengan gagang pistol yang berada dalam kuasanya.

Kini sang pimpinan takkan bisa lagi menjerit atau mengeluarkan suara yang dapat membangunkan tetangga. Tenggorokannya hancur.

Subject 09 melanjutkan aksinya. Ia memisahkan slide pistol dari badannya, lalu menjadikannya sebagai pengganti pisau komando. Badan pistolnya sendiri ia buang.

Muncul serangan dari arah kanan, namun Subject 09 tanggap. Ia memblokir pukulan lawan, lalu menghantam rahang lawannya begitu keras. Begitu kerasnya sampai terdengar bunyi retakan yang amat jelas. Musuhnya pun tersungkur dramatis di atas ubin.

Begundal kedua tersebut kehilangan kesadaran secara berturut-turut, agaknya terjadi pendarahan parah di kepalanya.  Ia pun tersungkur, agak mengejan, lalu tergeletak luruh. Entah pingsan, entah tewas.

Datang lagi serangan dari arah kiri dan lagi-lagi mampu diantisipasi oleh Subject 09. Ia menangkis pukulan yang melesat ke wajahnya, lalu menyodok tenggorokan lawan dengan slide pistolnya. Serangan balasan tersebut terjadi secepat kilat, bahkan sang begundal tak sempat melakukan antisipasi apapun.

Subject 09 belum juga puas. Hampir tanpa jeda, ia mengambil botol kecap yang bertengger di atas meja dan ia ayunkan ke kepala sang begundal. PRAAAK! Botol besar yang terbuat dari kaca itu pun pecah begitu bertumbukan dengan tengkorak sang begundal.

Darah mengalir perlahan dari kening dan pelipis sang begundal, meninggalkan rasa sakit yang begitu dahsyat. Begundal ketiga pun tersungkur dramatis di atas ubin, ia kehilangan kesadaran. Tak ada yang tahu apakah ia bisa bertahan hidup dengan darah yang terus-menerus mengalir dari kepalanya.


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


Tak terima kedua temannya rubuh, sang pimpinan pun merangsek maju ke arah Subject 09 meski dengan langkah gontai. Ia mengayunkan tinjunya dari arah samping. Namun, pukulan amatir tersebut tentu saja dapat diblokir dengan mudah oleh Subject 09. Tangannya dipelintir, lantas lehernya dicekik dari belakang.

Subject 09 benar-benar mendekap leher sang pimpinan tanpa sedikit pun mengurangi tenaganya.

Sang pimpinan begundal hanya dapat meronta-ronta seperti cacing kepanasan, ia sama sekali tak bisa melawan. Sampai kemudian, pandangannya semakin lama semakin kabur, ia lebih banyak melihat hitam. Ada cahaya dari strobe light, tetapi kedua matanya tak mampu menginderakan cahaya tersebut dengan baik. Tubuhnya pun melemas, melemas, dan semakin lemas. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa dirinya kehabisan napas.

Gelap pun menyambar.

Sang pimpinan akhirnya tumbang, tak sadarkan diri. Subject 09 segera melepaskan cekikannya dan menggeser tubuh sang pimpinan menjauhi tubuhnya. Pertarungan pun usai. Subject 09 benar-benar menghancurkan ketiga begundal pemerkosa tersebut tanpa ampun.

Suasana menjadi hening, satu-satunya yang tersisa adalah sebuah tatapan penuh rasa heran dari seorang wanita cantik yang terikat di sebuah tiang dalam kondisi telanjang bulat, Verani. Matanya terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Ia yakin bahwa perkelahian yang baru saja terjadi bukan sekedar perkelahian laksana bocah SMA yang memperebutkan seorang gadis, lebih tepat jika disebut dengan upaya pembunuhan.

Subject 09 tahu bahwa ia sedang diperhatikan. Ia pun bangkit dari posisi berjongkoknya dan mengganti modus strobe light-nya menjadi lampu senter biasa. Akan tetapi, ada sesuatu yang tak normal. Sesaat setelahnya, ia langsung mengambil pecahan botol kecap yang ia gunakan untuk memukul kepala salah satu begundal tadi. Kedua kakinya lantas melangkah tegas ke arah Verani, ia bergerak tanpa keraguan.

Panik. Verani tak menyangka bahwa situasi malah semakin runyam. Setelah disambangi tiga orang berandalan bersenjata, kini ia dihampiri oleh seorang psikopat profesional. Ia pun meronta-ronta, berupaya melepaskan ikatan yang melilit kedua pergelangan tangannya.

“MMMM! MMMM!” Semakin Subject 09 mendekat, semakin Verani menjerit. Ia ketakutan. Apalagi melihat Subject 09 menjinjing pecahan botol nan runcing, sukmanya gemetar. Benaknya mulai berpikir bahwa malam itu akan menjadi momen seks paling buruk dan paling memilukan dalam sejarah hidupnya. Dinistakan dengan beling, siapa yang tak menggila?


Suka beli barang-barang kreatif, tapi nggak punya waktu buat keluar rumah?
Daripada susah-susah nyari dan beli, mending pakai jasa NitipMerch!
Kontak NitipMerch di sini: https://www.facebook.com/nitipmerch/


“MMMMMM!”

Namun jeritan Verani tak lantas membuat Subject 09 menjauh, tetangga yang ia panggil Adam tersebut malah berdiri tepat di samping raganya. Subject 09 segera memegangi kedua tangan Verani dan ia pun memotong tali tambang yang melilit kedua tangan Verani dengan pecahan botol yang berada dalam genggamannya.

Verani salah sangka, ia pikir Subject 09 hendak menistakannya dengan pecahan botol. Ia pun terduduk luruh di atas ubin; lidahnya kelu dan pita suaranya sama sekali tak hendak bergetar. Malu. Sembari melepaskan kain yang menyumpal mulutnya, ia tak henti-hentinya melirik Subject 09.

Subject 09 seakan tak peduli, ia malah mendekati salah satu begundal yang berbaring luruh di atas lantai. Ia renggut jaket sang begundal, lantas melemparkannya kepada Verani. “Tutupi badanmu,” ujarnya sesaat setelah jaket sang begundal berpindah tangan.

Verani segera mengenakan jaket yang diberikan oleh Subject 09. Ia mencari cara agar seluruh tubuhnya tersekat sempurna.

Sementara Verani sibuk mengatur posisi, Subject 09 malah berjalan ke arah dapur yang tak jauh dari tempat kejadian perkara. Subject 09 membuka kulkas milik Verani, berdiri sejenak, lalu mengambil salah satu botol minuman dari rak bawah. Sebuah botol kola.

Tak lama kemudian, Subject 09 kembali mendekati Verani. Ia menyodorkan botol kola tersebut kepada tetangga cantiknya. “Minumlah agar kau tidak syok berkepanjangan. Relaksasikan tubuh dan perasaanmu,” ucap Subject 09.

Verani segera menyambar botol kola yang ditawarkan oleh Subject 09, lantas menenggak isinya seperti kesetanan. Bukan minuman bersoda, memang. Lebih mirip seperti sirup. Terang saja ia dapat menenggaknya tanpa harus menunggu tenggorokannya terlepas dari “duri-duri” hasil reaksi karbondioksida.

Disaat yang sama Verani menikmati minumannya, Subject 09 tiba-tiba duduk santai di samping Verani. Ia lantas menekuk kedua kakinya setinggi dada demi mendapatkan posisi duduk yang lebih nyaman. Tak lama, ia pun tersenyum menatapi Verani. “Aku tak boleh merokok di sini, ya?” tanyanya.

Verani segera menurunkan botol kola dari mulutnya. Ia menatapi Subject 09 sejenak dan ikut tersenyum. “Jangan. Kalau kau mau merokok, merokoklah di luar. Patih tidak akan terbangun karena suara ribut, tetapi ia akan terbangun jika mencium asap rokok. Anak yang aneh.”

“Bukankah ibunya juga aneh?”

“Aku? Apa yang aneh dariku?” Verani basa-basi, ia mencoba berbaur dengan orang yang baru saja ia anggap psikopat. Ia masih sedikit syok.

“Ya, kau terbiasa melayani para lelaki hidung belang, tetapi menjerit-jerit kesetanan ketika kuhampiri tadi. Padahal aku hanya ingin menolongmu,” goda Subject 09 seraya tertawa kecil.

Verani mematung sejenak, ia tak segera merespon. Perlahan-lahan, kedua sudut bibirnya meruncing, gigi-gigi depannya mulai sedikit tampak. Tak lama, ia pun ikut tertawa. “Adam, lain kali bicaralah satu atau dua kata terlebih dahulu. Kau tidak berucap apa-apa, tiba-tiba saja menghampiriku dengan pecahan botol. Siapa yang tidak panik?” ujarnya menahan gelak.

Subject 09 hanya merespon jawaban Verani dengan senyuman. Ia sudah kehabisan kata.

Situasi lantas menjadi hening selama beberapa saat, tak ada pertukaran kata, hanya tersisa tawa-tawa kecil yang tak berarti.

Sampai kemudian Subject 09 menghela napas panjang. “Ve … ”

Verani menoleh. Ia tahu bahwa Subject 09 hendak menyampaikan sesuatu secara serius, ia bisa menerka hanya dari mimik tetangga misteriusnya tersebut.

“Kau berkata kepadaku bahwa manusia tak memiliki kebebasan untuk memilih. Mengapa kau berkata demikian?” tanya Subject 09.

“E-eh? Uhm … aku … sulit untuk menjelaskannya. Mengapa kau bertanya?”

“Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu berpikir bahwa manusia tak bisa memilih.”

Verani terdiam sejenak, benaknya sedang menguntai kata-kata terbaik untuk mendeskripsikan keyakinannya kepada Subject 09.

“Kau tahu, sejak lahir, manusia tak diberikan kebebasan untuk memilih. Tak bebas memilih jenis kelamin; tak bebas memilih agama; tak bebas memilih jadi kaya atau miskin; tak bebas memilih hidup bahagia atau sedih.

“Kalau memang semua itu kehendak Tuhan, kurasa Tuhan adalah Dzat paling kejam yang pernah kukenal karena memaksa hambaNya untuk menjalani hidup yang sudah digariskan meskipun hambaNya membenci jalan tersebut. Kebebasan yang disebut-sebut oleh banyak orang hanyalah semu belaka,” jelas Verani.

“Oh begitu,” Subject 09 merespon singkat. “Berarti perbuatanku hari ini bukan hasil dari kebebasan memilih, ya?” lanjutnya.

Pertanyaan Subject 09 menyisakan tanda tanya besar pada benak Verani. Ia terperangkap dalam teka-teki. “Hmm, aku tak mengerti, Adam … ” ucap Verani gugup.

“Aku sebenarnya sudah mengetahui rencana jahat ketiga berandalan ini sedari kemarin. Sejak saat itu, aku dihadapkan oleh dua pilihan: menyelamatkan dirimu atau membiarkan dirimu diperkosa secara brutal. Dan aku memilih untuk menyelamatkanmu, mengubah takdir burukmu, padahal bisa saja aku memilih untuk membiarkanmu teraniaya. Apakah itu tidak termasuk dari kebebasan memilih?”

“Eh … uhm … maksudku lebih kepada takdir yang bersifat baku, seperti jenis kelamin dan agama,” Verani mulai mencoba membela diri, ia masih tak hendak melangkah dari keyakinannya.

“Bukankah ada orang yang mengganti kelaminnya? Aku melihat banyak masyarakat Thailand yang rela mengubah jati dirinya secara total. Bukankah ada pula orang yang mengganti agamanya? Fenomena tersebut bahkan sudah populer bahkan sebelum Nabi-Nabi wafat.”

“Maksudku … ketika lahir … ”

“Bukankah hanya orang-orang berpikir yang terlibat dalam persoalan tentang pilihan? Pernahkah kau melihat bayi yang baru lahir kebingungan memilih puting kiri atau puting kanan?” Subject 09 melanjutkan pertanyaan seraya tertawa mendengus.

Verani terdiam membisu. Ia masih menggali argumen yang lebih kuat, tetapi tak lantas ia dapatkan. Kepalanya hampa akan jawaban.

“Ve, aku tak bermaksud menggoyah keyakinanmu. Jika kau mau terus meyakini apa yang kau yakini, yakinilah! Mati dengan sebuah prinsip itu lebih bernilai daripada hidup tanpa sebuah kepercayaan.

“Akan tetapi, kau mungkin perlu menyadari bahwa setiap manusia itu pasti punya pilihan dan punya kebebasan untuk memilih. Pasti. Setiap laki-laki bisa memilih untuk menjadi perempuan, setiap cendekia bisa memilih menjadi begundal, setiap fakir bisa memilih menjadi konglomerat, setiap pelacur pun bisa memilih untuk berhenti melacur. Take your pick, pilih saja yang kau suka.

“Yang seringkali tak dimiliki oleh manusia itu hanya satu: keberanian. Kita tak punya keberanian untuk mengubah keadaan, tak punya keberanian untuk memilih, dan tak punya keberanian untuk menyambut kebebasan berdasarkan rasa takut akan sesuatu. Para penjahat takut jika memilih menjadi baik takkan mendapatkan kenikmatan yang sama seperti saat mereka melakukan kejahatan, begitu pun orang-orang baik, mereka takut jika memilih menjadi jahat mereka akan dibenci oleh orang lain.

“Dalam kata lain, sesungguhnya manusia sendiri yang membuat dirinya seakan-akan tak punya pilihan. Takut akan resiko yang dihadapi. Dan dalam kasusmu, kau malah menyalahkan subjek lain atas apa yang kau pilih,” papar Subject 09 panjang.

Verani terhenyak hebat mendengar pidato singkat tetangganya, keyakinannya pun terguncang. Ia hanya mampu menundukkan kepala seraya mendekap kedua kakinya lebih erat. Kedua mata cantiknya sama sekali tak hendak mendelik pada Subject 09, ia malu. Belum pernah ada seseorang dalam hidupnya yang mampu memuntahkan kata-kata setajam Subject 09; menghujam tepat ke jantung, namun tak sisakan pilu, tak seperti saat ia berhadapan dengan para cendekia berpakaian ala Timur Tengah.

Verani perlahan tersenyum. Ia ingin meruntuhkan keyakinannya secara total lalu membangunnya kembali dari awal. “Jadi, orang baik pun punya pilihan untuk menjadi jahat, ya?” tanyanya.

“Ya, semua orang punya pilihan, Ve. Terserah apa pilihanmu, terserah apa keyakinanmu, tetapi satu yang pasti … jangan salahkan orang lain atas apa yang kau pilih,” sambung Subject 09.

Hati Verani pun luluh lantak. Ia tersenyum untuk kedua kalinya, hanya saja lebih lebar. Kedua matanya menjadi berkaca-kaca, ada keharuan yang tak dapat ia tahan lebih lama. Ia merasa bebas. Bebas, laksana burung yang tiba-tiba hidup tanpa sangkar.

“Mengapa kau begitu peduli padaku, Adam? Mengapa kau tidak meninggalkanku pergi seperti cendekia-cendekia yang lain?” tanya Verani sembari mengusap-usap kedua matanya yang sembab oleh airmata.

“Hmm. Pertama, aku bukan cendekia. Kedua, kau adalah tetanggaku. Menurut apa yang kuyakini, tetangga adalah bagian dari keluarga yang harus kujaga,” jelas Subject 09. “Kecuali tetanggaku teroris, itu lain soal. Hehe,” lanjutnya berkelakar.

Verani pun tertawa kecil ditengah kesibukannya menghapus airmata. “Kau benar-benar sesuatu, Adam. Aku tak tahu siapa dirimu dan apa yang sesungguhnya kau kerjakan untuk hidup, tetapi kehadiranmu adalah keajaiban bagiku. Kau datang disaat aku berada pada puncak kejumudan, kau melepas segala penat dan menjawab setiap teka-teki. Terlepas dari betapa sadisnya kau membungkam para begundal yang hendak menistakanku hari ini, kau punya hati yang lembut. Dan itu … itu … harus memunculkan pilihan baru dalam hidupku.”

Lagi-lagi Subject 09 tak merespon, ia hanya menatapi wanita cantik di sampingnya dengan heran. Sepertinya ada untaian kalimat yang belum usai, pikirnya.

Please, Adam. Jika kau punya jalan keluar untukku, tunjukkan ke mana aku harus berjalan, dan … aku mohon … bawalah aku denganmu. Aku merasa tersesat hidup sendirian. Orang mengira aku adalah sosok supermom yang mampu merawat Patih sendirian, padahal tidak. Itu hanya tampak luar, di dalam aku justru merasa rapuh. Sangat rapuh.”

Subject 09 memalingkan pandangannya dari Verani. Ia kemudian tertunduk menatapi celah di antara kedua kakinya. Permohonan Verani berhasil membuat benaknya meronta, ia berusaha menerima sebuah pilihan yang berpotensi menimbulkan masalah baru bagi Verani. Terjadilah huru-hara di dalam hatinya.

Sampai pada akhirnya, Subject 09 bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia tak meninggalkan secercah harapan untuk Verani, lidahnya kelu. Ia hanya tak menyangka pidatonya mampu menimbulkan hasil yang tak terduga seperti malam itu.

Melihat Subject 09 berjalan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun, Verani segera bangkit dari duduknya dan berlari menyusul tetangganya. Ia tak peduli tubuh moleknya tersingkap, yang ia pedulikan hanyalah jawaban dari sosok yang ia harapkan menjadi pelindungnya di kemudian hari. Bukan pendamping hidup, namun sekedar pelindung. Verani pun berdiri di hadapan Subject 09 seraya membentangkan kedua tangannya, ia menahan Subject 09 untuk keluar dari flat-nya.

“Aku sudah memberanikan diri untuk memilih sebuah pilihan yang bahkan aku sendiri tak tahu apa resikonya, aku mohon jangan tinggalkan aku di sini dengan sebuah harapan palsu untuk berubah!” seru Verani terguncang. Kali ini ia benar-benar menangis, takut satu-satunya harapan yang berada di depan matanya sirna.

Subject 09 tetap merespon Verani dengan keheningan, ia juga memalingkan pandangannya dari tubuh seksi Verani. Begitu saja yang terjadi selama beberapa saat, tangis dan diam. Sampai pada akhirnya, Subject 09 tiba-tiba merunduk dan mengambil jaket milik salah satu begundal yang masih tak sadarkan diri. Ia kemudian menutupi tubuh Verani dengan jaket tersebut.

“Kenakanlah pakaian yang sopan, kita akan pergi sebelum para begundal ini sadar. Aku akan mengikat mereka, setelah itu kita tinggalkan tempat ini sesegera mungkin. Itu adalah jawabanku. Aku ke flat sebelah dulu,” ujar Subject 09 santai.

Tentu saja, jawaban lugas dari Subject 09 membuat Verani lega. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia terus memohon agar Subject 09 tidak meninggalkannya di flat kumal tersebut dengan sebuah harapan palsu. Ia sudah tak tahu hendak melangkah ke mana dan hidup bagaimana, ia butuh sebuah penopang yang bisa terus membimbingnya melihat kehidupan lebih luas.

Subject 09 tersenyum. Ia pun menepati janjinya untuk memboyong Verani pergi sesaat setelah ia mengikat para begundal di tiang pondasi.

Malam itu juga, penghuni flat nomor 66 dan nomor 67 menghilang, meninggalkan sebagian besar perabotan rumah tangga senilai jutaan rupiah. Hilangnya penghuni flat nomor 66 mungkin takkan menjadi masalah besar bagi masyarakat sekitar, tetapi hilangnya penghuni flat nomor 67 tentu akan menjadi sebuah pukulan telak bagi para lelaki hidung belang yang dimabuk oleh kenikmatan jahannam. Takkan ada lagi perzinaan dengan wanita supercantik dan superseksi seperti Verani, para penggila seks itu akan panik bak diterjang angin topan.

Verani tak peduli pada huru-hara yang akan terjadi di flat-nya. Ia sudah jauh berjalan meninggalkan rumah lamanya bersama dengan Subject 09. Kedua sudut bibirnya tak bisa berhenti tersungging; malu, bahagia, dan tak percaya begitu bercampur aduk di dalam hatinya. Semoga, pikirnya, ini akan menjadi titik nol yang terbaik dalam hidupnya.

Di saat yang sama, Subject 09 juga memiliki harapan yang sama besarnya dengan Verani …

Ia berharap agar pemerintah takkan menemukan dirinya disaat ia sedang berupaya memberikan Verani harapan hidup yang baru. Harapan menanti, neraka mengintai.

TO BE CONTINUED


<<< Episode sebelumnya

Episode berikutnya >>>


SHARE EPISODE INI!

2 thoughts on “1 – Sex and Hope

  1. Mantap euy…..tapi kalau bisa tolong dibuat seperti umumnya light novel….adalah sedikit unsur fantasynya……minimum kalau merunut pada budaya indonesia yang kental unsur mistis mungkin bisa dimasukkan unsur penampakan atau fenomena dua dunianya 8)-terutama karena tokoh utama adalah seorang intel / eks intel, maka punya koneksi dengan pihak dari dunia lain…..supaya selevel dengan light novel keluaran luar negeri 8)-just my 2cent 8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *