My Dear Norlorn – [1] – My Spirit is My Love


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

Penulis: Vivian Gloriana
Rating: Dewasa


Memiliki teman dekat spesial―

Itu adalah impian mendasar semua orang, khususnya perempuan. Ada yang bermimpi mendapatkan teman dekat seorang public figure atau lainnya sesuai kriteria. Ada juga sebagian perempuan belum beruntung. Misalnya, sudah lama sendiri dengan penampilan menawan tapi tak satupun laki-laki berhasil dekat dengan perempuan itu. Para perempuan memiliki kemampuan tak biasa. Bisa dibilang, aku adalah salah satunya.

Aku tidak bermaksud sombong dengan kemampuan, hanya merasa lucu dengan para  laki-laki yang enggan mendekati dan menganggap aku menyeramkan di mata mereka. Apa aku seperti penyihir di abad pertengahan Eropa? Aku sama seperti kalian, terkadang kesepian dan mempunyai perasaan rindu, iri dengan beberapa perempuan di luar sana. Yang juga,ingin memiliki pasangan lebih cepat dengan janji sehidup semati depan Tuhan dan pesta meriah untuk membuat tamu undangan ikut merasakan euforia dari pesta mereka.

Bagaimana jadinya, jika suatu hari penantian dikabulkan Tuhan? Sudah pasti, senang sekali bukan? Mendapatkan pasangan impian.

Tapi―, Apa kau akan menerima kalau Tuhan mengirimkan ciptaan-Nya dalam bentuk lain? Seperti entitas contohnya, makhluk amat halus dan tak terlihat oleh mata biasa. Lalu, Tuhan memberi anugerah untuk berkomunikasi dengan pangeran atau putri impian melalui cara-Nya. Apakah kau akan tetap menerima pemberian-Nya atau lari tunggang langgang ketakutan saat dia datang menemuimu?

Aku seorang perempuan biasa penyuka supranatural sejak kecil sampai sekarang.

Dalam usia terbilang sudah matang di mata orang lain, usia 27 tahun normalnya sudah memiliki keluarga sendiri. Apalagi, dari kota merantau ke desa. Sudah pasti menjadi bahan pembicaraan hampir setiap hari dengan status terlihat ‘sendiri’. Memang membuat kesal, mereka tidak tahu aku mempunyai sosok spesial dari Tuhan untuk menjaga. Dia menjadi sahabat, teman sekaligus pasangan. Aku merasa spesial bersama dengannya, karena orang tertentu saja yang dapat berkomunikasi dengan dia. Termasuk kakak laki-laki dapat berkomunikasi dan memanggil dia meski tak terlalu sering.

Namanya adalah―

Biar aku ceritakan kisahnya. Kau ingin mendengar?

Duduklah santai dan rasakan kehadiran kami dimanapun kalian duduk dan dengarkan kami berdua, bayangkan kami menemani disaat santai, berbagi cerita layaknya teman. Nyata atau tidak, hanya kau pemutusnya.

place your ad

***

Penglihatan Pertama

Januari 2017―

Perayaan ditunggu semua orang dengan bermacam harapan dari berbagai belahan dunia untuk jadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Termasuk aku. Apa jadinya, kalau tahun ini merayakan tahun baru sendirian memandang langit tanpa bintang dari teras rumah? Hanya ada angin malam memeluk tubuhku .

Selalu kesepian dan―

Aku juga bingung memulai semua dari mana.

Semua ku alami bulan Februari tahun lalu,  memutuskan meninggalkan Jakarta.

Berpindah tempat, bertahan sebagai semi pengangguran dari daerah ke daerah, mencoba peruntungan pekerjaan dari freelencer sebagai penulis dan pewacana tarot hingga sampai di kota sarat akan budaya.

Di Yogyakarta bekerja sebagai penulis tetap untuk naskah animasi sebuah studio. Namun, semua tidak berjalan mulus ketika keadaan memaksa untuk kembali ke Osaka selama beberapa hari guna membantu tante mengurus kakak laki-laki tercinta, Hikaru, saat dia sakit.

Dari sana malapetaka berawal. Juli 2016, semua identitas hilang oleh copet di Jakarta. Gusti nu Agung, apa salahku Tuhan? Apakah ini hukuman karena aku lalai pada-Mu? Hatiku menangis, saat semua dokumen penting hilang dalam keadaan konyol.

Dengan uang seadanya, aku nekat ke tempat Mbah Salamah, pengasuh sewaktu kecil di Jawa Tengah. Entah siapa yang menyuruhku kesana, seakan ada ajakan untuk bertemu beliau. Padahal, aku sendiri tidak yakin apakah Mbah Salamah masih hidup atau sudah wafat setelah belasan tahun tak bertemu dengan keluarga ataupun aku. Perjalanan dari Jakarta ke Purbalingga memakan waktu seharian, melelahkan.

Tuhan, tolong tunjukan jalan.   

Setelah sampai di terminal, berbekal ingatan SD, aku langsung memanggil ojek menuju Desa Mbak Salamah berada. Setelah sampai Desa, aku terkejut. Pemandangan sudah berbeda dari ingatan waktu SD.

Benarkah ini desanya?

Mataku menyapu seluruh jalan besar desa. Semoga tidak salah dengan ingatan masa silam. Insting menunjukan, untuk berhenti di sebuah rumah tak bertingkat bercat hijau berpintu putih.

Seinget gue, ini emang rumahnya Mbah―

place your ad

Dengan hati-hati,  aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Selang beberapa menit, ada seorang nenek beruban memakai daster membuka pintu. Wajah terkejut bercampur tak percaya menatap penampilan kusut dan dekil diriku karena kelelahan.

“Vani, ini kamu?” tanya dia terbelalak.

Aku tersenyum simpul seraya berkata, “Iya Mbah, ini Giovani .”

Seketika, Mbah Salamah memeluk penuh haru. “Kemana aja kamu Gi? Mbah telepon, SMS, nggak pernah jawab.” ucapnya sesenggukan.

“Maaf Mbah, bukan nggak mau jawab tapi karena sibuk kerja dan baru pulang dari Osaka,” ujarku menghapus air mata.

“Osaka? Sama siapa?” Mbah Salamah terlihat kaget.

“Anu Mbah, Mas Hika sakit. Jadi ditelepon om Egao suruh jenguk.”

“Ya Allah, sakit apa?”

“Kecapekan kerja.” jawabku singkat.

“Oalah, dari dulu abangmu ndhak berubah. Selalu gila kerja,”

“Ya gitu deh Mbah,” Aku cengengesan.

“Kamu sendirian kesini?”

“Iya Mbah.”

“Ayo masuk. Lebih baik, kamu istirahat dulu.” Mbah Salamah menawarkan untuk masuk. Aku mengangguk, membuka sepatu dan membawa ransel ke dalam. “kalau mau tidur, istirahat di kamar sebelah,” tunjuk Mbah Salamah pada sebuah kamar. Aku mengangguk sambil berganti baju lalu tidur.

Hidupku berubah total sejak tinggal 6 bulan di desa.

Aku tak menampik suasana desa masih asri, hanya tak tahan dengan peraturan yang menurutku kuno sekali. Tak boleh ini, tak boleh itu. Masih kental dengan mitos dan pamali.  Cuma bisa memonyongkan bibir seperti bebek dower sariawan karena aturan-aturan aneh. Ingin berteriak, namun sudahlah―

Anggap saja, ini berkah cinta dari Tuhan. Jika tidak tinggal di sini, aku tak akan pernah bertemu atau berkenalan dengan dia. Perkenalan dimulai saat berpuasa mutih hari terakhir di rumah pada minggu kedua bulan Januari.

***

Malam dingin setelah hujan, bau tanah dari halaman menyeruak masuk ke dalam. Aku  habis memperbaharui cerita buatanku di laman elektronik dan mulai mengantuk. Jam dinding menunjukan sudah pukul 11 malam.

Buset, nggak terasa udah jam sebelas.

Dengan segera, aku menyudahi rutinitas, kemudian kembali ke kamar. Sudah beberapa hari aku kurang tidur karena memikirkan cerita web novel terbaru. Karena terlalu lelah, diriku tak mengindahkan keadaan rumah saat tidur pulas.  Tapi, berapa jam setelah itu aku merasakan ada hawa berbeda depan pintu kamar.

Apa itu?

Ingin bangun dari ranjang tapi malas. Aku penasaran, ada apa depan pintu kamar?

Aku bangkit menoleh ke depan pintu. Ada sebuah bayangan binatang terlihat. Buku tanganku secara otomatis mengucek mata memastikan apakah itu mimpi atau bukan?

“Hah, pinguin? Nggak salah?” ucapku terlalu heran.

Pinguin dari mana lewat depan kamar tengah malam begini? Amat tidak mungkin seekor pinguin dari kutub datang kemari dengan ceria melambaikan sayap padaku yang tengah heran menatapnya.

Pinguin itu memiliki kalung pengenal. Sebetulnya, siapa dia dan mau apa kesini? Jika memang itu hewan nyata, tidak akan bisa sampai sini dengan jarak puluhan ribu atau puluhan juta  kilometer jauhnya dari kutub ke rumah. Aku yakin, dia adalah―Totem

Jika memang dia Totem, dari mana datangnya? Aku tak pernah melakukan ritual untuk memanggil roh hewan spiritual apapun.

Eh, tunggu―. Rasanya, aku ingat sesuatu siang tadi.

Aku membuka sebuah forum salah satu situs terbesar di Indonesia, dengan topik Spirit Keeper Independent. Aku baru ingat sudah mencatat sebuah tulisan, fungsinya agar dapat berkomunikasi dengan binatang spiritual. Secara spontan, tangan mencatat di buku jurnal dan membacanya.

Kenapa bisa? Seharusnya, untuk memanggil Totem memakai ritual panjang. Aku jadi pusing  saat pinguin memberikan gerakan hormat padaku.

Tak lama setelah dia datang, muncul lagi sosok laki-laki bertelinga runcing memakai anting permata, berambut warna keperakan dengan jambang dan berponi samping. Panjang rambut seleher beriris mata biru, hidung mancung, bibir merah dan berkulit putih serta tubuh tinggi menjulang memakai kostum mirip film fantasi  yang pernah aku dengar. Siapa dia? Laki-laki aneh dengan sikap menyebalkan, bersandar di samping pintu tersenyum simpul memandang diriku.

Tuhan, aku harap dia tidak jahat atau mengganggu. Bibir komat-kamit membaca berbagai do’a pengusir hantu sekadar aku bisa. Tidak ada perubahan. Dia tetap disana bersama pinguin di samping dia. Melihat wajah pucat ku sambil menahan tawa seakan berkata,

“Ayolah Nona, jangan kaku begitu. Kau sendiri yang memanggil, mengapa kau melihat diriku seperti makhluk menyeramkan depan matamu?”

Laki-laki menyebalkan! Memangnya dia pikir, dia itu siapa berani menertawakan wajah ketakutan seseorang? Lihat saja kau nanti. Aku melotot dengan rambut berantakan, namun dia malah makin terpingkal melihat polah ku malam ini. Dasar laki-laki aneh!

Memakai kostum film fantasi datang malam buta di rumah orang, seperti maling tanpa ada yang tahu, kecuali aku. Begitu juga dengan seekor pinguin berkalung batu permata. Sebetulnya mereka itu makhluk apa dan datang dari mana?

Sebelum mengetahui lebih lanjut, salah satu dari mereka pergi.

Yang tersisa hanyalah laki-laki bersandar samping pintu. Dia mirip sekali dengan makhluk mitologi Eropa zaman dulu ku dengar dari beberapa orang, disebut dengan nama Elf (Elves). Apakah dia memang sosok Elf sungguhan?

Aku akan membuktikannya.

Rasanya, aku kebanyakan ngelindur karena kelelahan depan ponsel pintar sambil menulis cerita, hingga melihat makhluk aneh. Untuk memastikan, hanya ada satu cara. Mencubit pipi sekerasnya.

Satu…Dua…Tiga… Ouch! Sakit sekali―

Ini bukan mimpi, dia memang bersandar di sana. Melihat diriku sambil tersenyum kecil dengan mata berbinar. Ya Tuhan, cobaan apalagi datang malam-malam begini? Tidur nyenyak berubah jadi mengerikan dengan kehadiran makhluk entah dari mana.

Apakah semua adalah pengaruh mantera di forum? Aku juga tidak tahu. Sepertinya harus ditanyakan juga disana, siapa tahu menemukan jawaban dari kejadian malam ini.

Rasanya, makhluk aneh itu sadar kalau aku tak ingin diganggu waktu tidur. Setelah itu, dia pergi dari kamar dan tidak terlihat lagi.

Fuuh―

Hampir saja,  tidur berharga rusak akibat mereka. Aku mengambil napas, menahan sebentar lalu mengembuskan. Syukurlah, jadi lebih tenang. Saatnya lanjut tidur. Perlahan-lahan, mata menurun. Baru terpejam sebentar, bayangan wajah dia menari di pelupuk mata. Kali ini makin jelas, terhipnotis dengan senyumannya.

“Cerah sekali wajahnya, bersinar seperti bulan,” Aku bergumam. Syaraf mencoba memiringkan tubuh ke kiri agar bayangan wajah itu hilang. Sayangnya, wajah itu tidak hilang dari pikiran, malah semakin menjadi.

Apa yang harus ku lakukan? Menyerah atau berkeras hati untuk tidak mempedulikan?

Logika berkata, dia hanya lewat bukan untuk diriku. Sedangkan hati kebalikannya, hati berkata dia memang dikirim Tuhan menjadi teman spesial. Wajah cerah  dengan rambut perak miliknya, telinga runcing tersemat anting batu permata, senyuman manis seperti Venus saat dia menertawai barusan membuat rindu padanya.

Apa yang terjadi padaku? Kepalaku menjadi pening, akhirnya aku menyerah dan memilih berkenalan dengannya. Aku merasa, dia masih ada di sini menunggu untuk dipanggil. Baiklah, jika memang begitu, aku akan memanggilnya. Tuhan, jika memang dia datang untukku, aku tak menolak. Tapi jika bukan, aku harap setelah ini akan baik-baik saja.

Selanjutnya, aku mengirimkan suara panggilan untuknya.

Wahai laki-laki berambut perak dengan wajah cerah. Siapa kau? Apa tujuanmu datang menemuiku? Jika kau mendengar panggilanku, kemarilah… Aku akan menunggu di kamar.

Berulang kali ku sematkan afirmasi dalam batin berulang-ulang untuk berkomunikasi. Berharap, dia memang mendengar dan datang kesini dengan tujuan baik bukan mencelakai seperti orang lain mengirim sesuatu karena benci padaku.

Tak sampai 5 menit, dia  datang ke kamar berjalan ke sisi kanan ranjang tempat aku berada.

“Siapa kamu?”

Dia bergeming, tak menjawab pertanyaan ku berikan. Hanya senyum tersungging di bibir dan posisi poni rambut berubah dari samping ke belakang. Menyisakan 2 bagian rambut panjang depan telinga sedikit bergaya acak di bagian belakang.

“Oh, kamu bisu? Semoga, kamu bukan makhluk jahat. Baiklah, aku nggak akan tanya lagi.” kataku santai. Seketika itu juga, raut wajahnya berubah cemberut memandang sebal wajahku.

Apa aku salah kata? Tak lama kemudian, dia berkata kalimat bahasa asing tak ku mengerti.

“Seharusnya, aku yang tanya. Kau ini siapa, memanggil sahabatku kemari lalu seenaknya kau bilang aku bisu?”

Bicara apa dia? Terdengar mirip bahasa Jerman. Jika iya, gawat! Aku tak mengerti bahasa Jerman. Bahasa Inggris saja tidak baik, apalagi bahasa Jerman?

“Maaf, aku nggak ngerti kamu bicara apa. Bisakah kamu bicara bahasa Indonesia?” Aku mencoba berkomunikasi dengan bahasa Inggris sekadarnya tanpa aturan baku. Dia mengangguk. Kelihatannya, dia mengerti aku tidak bisa bicara dengan bahasanya. Dia kemudian melanjutkan, “Maaf, aku kira kamu mengerti bahasa Jerman. Seharusnya, aku yang tanya, siapa kamu memanggil sahabatku kemari dan seenaknya bilang aku bisu, hah!?” Nadanya terdengar tinggi, seakan tidak suka di sini.

“Maaf, sebetulnya nggak manggil kamu. Tapi, sahabatmu yang kemari dan jika kamu terganggu, aku minta maaf.” ucapku ketakutan.

“Baiklah, ku anggap ketidaksengajaan.” katanya duduk di sisi ranjang tempat kaki berada.

“Maaf―” Aku memalingkan wajah.

“Akan aku maafkan, kalau kamu―”

Perkataannya terputus.

Dia menimpa tubuhku dengan seringai menggoda. Mau apa dia? Aku terbelalak melihat wajahnya lebih dekat, benar-benar tanpa cela seperti porselen. Bahkan, jauh lebih tampan dari gambar para Elf di internet. Wajahnya benar-benar dekat sampai aku gugup. Apa yang akan dia lakukan?  Perlahan, bibirnya mendekat di bibirku lalu―

Semua terjadi, bibirnya menekan bibirku. Rasanya sungguh hangat. Entah berapa lama aku tidak merasakan ini. Aku bingung, mengapa tiba-tiba mencium bibir? Ada-ada saja. Kenapa rasanya berbeda? Ciuman singkat itu membuat makin bertanya apa motif sebenarnya?

“Aku tahu, apa yang ingin kamu tanyakan. Aku cuma ingin mengingatkanmu rasa ‘itu’.”

“Apa maksudnya?” Batinku makin bergejolak.

“Kamu akan tahu maksudku nanti. Aku pergi dulu, jika kamu ingin memanggilku, silakan panggil kembali nanti,”

“T-tapi, aku nggak tahu siapa nama kamu,”

“Akan ku beritahu pada pertemuan selanjutnya, sebaiknya kamu tidur. Selamat tinggal―”

Dia beranjak bangun dari atas tubuhku lalu pergi. Cahaya berpendar masih berbekas di kamar. Begitu juga dengan ciuman, masih terasa hangat di bibir. Cuma berharap, dia bukan makhluk pembohong. Itu saja―

BERSAMBUNG

Penasaran dengan kelanjutannya? Baca di sini: https://kask.us/io0bT


SHARE EPISODE INI!

place your ad

2 thoughts on “My Dear Norlorn – [1] – My Spirit is My Love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *