Fight Club – #1 – Subject 09 x Subject 17


LIKE FANPAGE SUBJECT 09!


SHARE EPISODE INI!

SUBJECT 09: FIGHT CLUB ADALAH SESI PERKELAHIAN ANTARKARAKTER SUBJECT 09. TIDAK ADA KONTEKS, TIDAK ADA TUJUAN. POKOKNYA, GEBUK!

BELUM PERNAH BACA SUBJECT 09 SAMA SEKALI? CARI TAHU DI SINI!


Hanggar 13
Banten
21.45

Dahulu perkasa, kini merana.

Bangunan besar yang dulu sempat direncanakan menjadi tempat bernaungnya pesawat-pesawat tempur khusus itu kini berakhir menjadi gudang tanpa makna yang penuh debu. Di dalamnya penuh dengan peti kayu yang bertumpuk-tumpuk, entah apa isinya. Seseorang tampaknya membeli hanggar tersebut untuk kepentingan pribadinya.

Di bawah guyuran sinar rembulan yang redup, seorang pria masuk ke dalam hanggar. Sosoknya kemudian tersorot cahaya ruangan yang berwarna kekuningan. Rupanya, ia adalah mantan buronan terbesar Republik Indonesia, Adam Sulaiman. Beberapa orang lebih mengenalnya dengan nama Subject 09. Ia berjalan masuk seraya mengentakkan lehernya ke kanan dan ke kiri.

Tepat beberapa puluh meter di hadapan Subject 09, seorang wanita berjilbab dan berkacamata muncul dari balik bayang-bayang. Ia adalah saudari seperjuangan Subject 09 yang legendaris; ahli dalam persoalan teknologi dan komputer. Segelintir orang memanggilnya Felicia, tetapi di kalangannya sendiri ia dipanggil Subject 17.

“Seventeen … ” ujar Subject 09 menyapa. Ia menggertak-gertakkan jari-jemari tangannya. “Kau tahu? Aku pernah mendengar seseorang berkata, hidup ini hanya sekali. Oleh karenanya, hiduplah sebagaimana kau ingin hidup.”

“Apa poinnya, Nine?” tanya Subject 17 seraya melakukan pemanasan.

“Poinnya adalah soal kebebasan. Manusia bebas menjadi apa pun yang mereka mau,” jawab Subject 09. “Akan tetapi, kita seringkali tidak sadar bahwa ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kebebasan. Keadilan. Kalau kau bebas melakukan segala sesuatu, orang lain juga bebas melakukan apa yang mereka mau. Adil. Kalau kau bebas jadi penjahat, berarti ada orang yang juga bebas jadi polisi.”

“Singkatnya, kau menempatkanku sebagai penjahat dan kau adalah polisinya?”

“Kau tidak akan berada di sini jika kau tidak punya rencana yang aneh, Seventeen,” ujar Subject 09 mengambil kuda-kuda bertarung. “Aku akan menjadi orang yang menghentikan rencana itu.”

“Heh,” Subject 17 tertawa kecil. Ia pun mengambil kuda-kuda bertarung. “Hanya untuk berhadapan denganku, kau sampai mengeluarkan omong kosong seperti tadi. Kau perlu sesekali pergi ke psikiater untuk berkonsultasi. Kepalamu korslet, Nine. Jangan banyak bacotlah. Kalau mau berkelahi, maju saja sini!”

“Kau mungkin ahli di belakang komputer, tetapi seberapa ahli dirimu di belakang tinjumu?”

Subject 17 tersenyum kecut. “Kau ahli dalam berbicara, Nine. Kita lihat seberapa ahli dirimu berbicara kalau kau sudah mati.”

Percakapan sontak berakhir, beralih ketegangan. Subject 09 dan Subject 17 merangsek maju pada kecepatan yang tak terkira. Mereka mendekat dengan tangan yang telah terkepal, bersiap untuk saling menghantam. Tak ada ekspresi keraguan, maju dengan penuh keyakinan.

Jarak semakin terpangkas.

Semakin dekat.

Kontak!

BUUUUG!

Subject 09 dan Subject 17 saling melepaskan pukulan. Kena. Tak ada antisipasi apa pun dari kedua belah pihak. Tinju Subject 09 mendarat di pelipis Subject 17, sedangkan tinju Subject 17 mendarat di rahang Subject 09. Kepala mereka pun terpelanting keras akibat momentum yang dahsyat, membuat mereka harus terseret mundur beberapa langkah ke belakang.

Lengah. Sedikit saja.

Namun, kedua petarung menolak untuk bertekuk lutut pada keadaan. Seolah tak terjadi apa-apa, Subject 09 dan Subject 17 kembali berhadapan. Mereka mendekat dan saling meluncurkan serangan yang sulit untuk terinderakan oleh mata dan rasa. Terlalu gesit. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, bahkan tangkisan demi tangkisan melesat bagai perpindahan cahaya.

Pertukaran serangan itu tidak berlangsung selamanya. Subject 17 mendapatkan celah untuk membuat saudaranya bertekuk. Ia melihat pertahanan torso Subject 09 terbuka lebar. Segera ia melompat seraya berputar, lalu mengetakkan kakinya dengan keras ke perut Subject 09. Tendangannya masuk, bahkan berhasil membuat Subject 09 terempas cukup kuat dari tempatnya berdiri.

Subject 09 lengah. Pertahanannya tercerai-berai.

Subject 17 segera memanfaatkan keadaan. Satu-satunya subjek berjilbab di Project SAKTI itu pun memuntahkan serangannya secara bertubi-tubi, seperti tanpa ampun. Tinju, sikutan, bahkan tendangan lutut ia luncurkan untuk menghancurkan raga saudara seperjuangannya. Begitu cepat, begitu kuat.

Akan tetapi, Subject 09 menolak untuk menyerah. Lekas-lekas ia entakkan kakinya ke tubuh Subject 17. Pada jarak sedekat itu, tak mungkin serangannya mampu dihindari. Tendangannya berhasil masuk, saudarinya pun terempas. Subject 17 terseret beberapa meter dari tempatnya semula berpijak.

Jarak tarung kembali melebar. Di saat itulah Subject 09 kembali mengokohkan pertahanannya.

Subject 17 tak sabar. Ia ingin lekas-lekas mengakhiri pertarungan. Sesaat setelah ia ditendang oleh saudaranya, ia kembali mendekat. Tanpa pikir panjang, ia pun melompat dan berusaha menyodokkan kakinya tepat ke kepala Subject 09.

Sayangnya, Subject 09 tanggap. Ia segera membelokkan tubuhnya seraya menangkap pergelangan kaki Subject 17. Memanfaatkan momentum, Subject 09 pun menarik kaki Subject 17 dan melempar seluruh beban tubuh saudarinya ke arah yang salah. Ia benar-benar melempar badan Subject 17 sekuat tenaga, seperti melempar karung beras.

Subject 17 terlempar begitu kuat. Tubuhnya mengawang-awang, membelah angin malam. Ia tak bisa menghentikan laju tubuhnya.

Pasrah.

BRAAAAK!

Lemparan Subject 09 berhasil membuat saudarinya menabrak salah satu peti kayu yang bertengger di sekitar sana. Tumbukan yang teramat keras itu sampai membuat peti kayu remuk tak karuan. Serpihannya terserak ke segala arah, beberapa bahkan menghujani tubuh Subject 17 yang tersungkur di atas ubin.

Hening setelahnya.

Subject 09 pun berjalan mendekati posisi saudarinya. Ia hendak memastikan kemenangannya. Sambil mengusap hidung dan bibirnya yang berdarah, ia memerhatikan tempat di mana Subject 17 tersungkur. “Hei, Seventeen. Kau tak mungkin kalah begitu saja, kan?”

Dugaan Subject 09 tepat. Kemenangannya belum final.

Subject 17 tiba-tiba bangkit dari posisinya dan membiarkan serpihan kayu menggelongsor di atas permukaan tubuhnya. Begitu bangkit sempurna, Subject 17 segera mengentakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Ia juga membersihkan bubuk kayu yang menempel di pakaiannya. “Serangan yang bagus belum tentu mematikan,” katanya.

“Dan serangan yang eksotis seperti tendangan melompat yang baru saja kau lakukan belum tentu efektif,” tukas Subject 09.

“Heh,” Subject 17 tertawa kecil. Ia pun kembali mengambil kuda-kuda bertarung. “Mungkin saja kau salah, Nine.”

“Begitukah?” Mengimbangi saudarinya, Subject 09 pun mengambil kuda-kuda. “Buktikan, Seventeen.”

Situasi kembali memanas. Subject 09 dan Subject 17 kembali bertukar serangan. Begitu keras, begitu sengit. Subject 09 meninju, Subject 17 menangkis. Subject 17 menendang, Subject 09 merunduk. Pertukaran terus terjadi hingga beberapa menit setelahnya.

Subject 17 lebih banyak mendominasi baku hantam. Gerakannya sedikit lebih gesit daripada Subject 09. Akan tetapi, Subject 09 punya daya tahan yang lebih baik. Mantan buronan itu bahkan mampu “menelan” beberapa serangan keras saudarinya.

Tak ingin terus-menerus menjadi bulan-bulanan, Subject 09 membalas serangan. Ia memblokir pukulan Subject 17 yang mengarah ke rusuknya dan menyikut wajah Subject 17 secepat yang ia bisa. Begitu saudarinya lengah, ia lekas-lekas memelintir pergelangan tangan Subject 17.

Sayang seribu sayang, serangan Subject 09 segera diintervensi. Dalam kondisi tangan terpelintir, Subject 17 menendang tubuh Subject 09 menjauh. Kuncian Subject 09 berhasil digagalkan. Sejurus kemudian, Subject 17 segera menjatuhkan dirinya seraya mengayunkan kakinya ke wajah Subject 09. Hampir persis seperti bersalto.

Tendangan Subject 17 berhasil diblokir, tetapi sukses membuat Subject 09 terseret beberapa langkah ke belakang.

Subject 17 hanya punya sedikit waktu untuk menyerang saudaranya. Ia langsung melantingkan tubuhnya di atas ubin, bangkit secepat kilat. Tanpa berpikir dua kali, ia bergegas menghampiri Subject 09. Namun, dua buah bogem mentah sontak mengarah kepadanya. Beruntung, luput. Ia berhasil menghindari serangan hanya dengan dua kali membelokkan kepalanya.

Celah terbuka lebar, Subject 17 pun bergegas mengambil keputusan. Sambil agak meliukkan badan, ia mengayunkan sebuah pukulan superkeras ke arah dagu Subject 09. Seluruh energi dipusatkan ke ujung pukulan, pijakan pun menguat. Terasa embusan angin yang cukup kuat di sekitarnya, menjadi saksi betapa kerasnya tenaga yang dikerahkan oleh Subject 17.

Tinju mendekat.

Kontak.

BUGGGGG!

Tepat sebelum Subject 17 mendaratkan pukulannya di titik yang ia tuju, Subject 09 tiba-tiba menghalangi dagunya dengan telapak tangan. Pukulan superkeras Subject 17 pun merangsek masuk di tempat yang tak seharusnya. Upayanya dinetralkan. Gaya impulsif yang dihasilkan oleh pukulannya berhasil diminimalisir.

Meski demikian, Subject 09 tetap harus menelan daya ledak pukulan Subject 17 yang tak terkira. Ia pun mengikuti momentum pukulan, terpental dari tempatnya berdiri. Kedua kakinya meninggalkan tanah dan terpelanting mundur ke belakang.

KRAAAAK!

Subject 09 berhenti melesat. Ia menabrak dinding di belakangnya. Tumbukan keras itu bahkan sanggup membuat dindingnya retak. Serpihan dan tubuh Subject 09 pun jatuh bersamaan di atas tanah.

Kalah?

Sekali-kali tidak. Subject 09 tak kalah, juga tak lengah. Ia malah mendarat pada posisi melutut yang kokoh. Pijakannya tegas. Tak langsung bangkit, ia membuang napas panjangnya terlebih dahulu, menetralkan rasa sakit dan syok akibat tumbukan.

Suasana menyepi setelahnya. Subject 09 pun berdiri dan menghadapi saudarinya kembali.

“Pukulan SEPAMILICA [1], Seventeen?” tanya Subject 09, memertanyakan program tenaga dalam milik Project SAKTI.

NB: [1] Baca episode 30

“Hampir,” kata Subject 17 seraya mengusap darah di pelipisnya. “Aku tak berniat menggunakan seluruh tenaga dalamku.”

“Beruntung aku menahan pukulanmu,” ujar Subject 09. “Jika tidak, tentu akan berakhir buruk untuk rahang dan tulang daguku.”

“Tak perlu menggodaku, Nine!” Subject 17 kembali bersiap-siap. “YANG BERIKUTNYA TAK MUNGKIN LUPUT!”

Subject 17 berlari menghampiri saudaranya. Ia marah. Sudah mengeluarkan energi banyak, ternyata tidak mempan.

Baku hantam kembali terjadi. Lebih alot daripada sebelumnya. Subject 17 masih terlihat lebih banyak mendominasi pertarungan, tetapi masih juga tak sanggup menumbangkan saudaranya.

Sebuah pertukaran sengit pun terjadi. Subject 17 menendang sisi lutut saudaranya, membuat keseimbangan Subject 09 goyah. Menolak didominasi, Subject 09 menyodokkan ujung-ujung jarinya ke wajah Subject 17 hingga berhasil membuat pipi Subject 17 tergores cukup dalam.

Subject 17 tak gentar. Setelah sukses menghindari tombak jari yang mengarah kepadanya, ia lekas-lekas menggenggam pergelangan tangan Subject 09 dan menguncinya.

Subject 09 benar-benar kehilangan daya dan upayanya. Tangannya ditahan di belakang dan salah satu kakinya masih dalam posisi melutut. Hal yang bisa ia lakukan adalah melenguh dan berpikir untuk memberikan perlawanan.

Akan tetapi, Subject 17 tak memberikan kesempatan bagi saudaranya untuk berpikir. Ia bergegas mengentakkan sikutnya di atas pundak Subject 09, kemudian mendorong kepala Subject 09 ke peti kayu di sampingnya. Rangkaian serangan terjadi hampir secara bersamaan.

BRAAAK!

Serangan Subject 17 tak bisa diantisipasi. Kepala Subject 09 pun membentur dinding kayu hingga patah tak berbentuk. Subject 09 pun terhuyung.

Melihat saudaranya lengah, Subject 17 bergegas mengambil botol anggur tua yang ditinggalkan di sekitar sana. Ia berniat menghantamkan botol tersebut ke kepala saudaranya.

Akan tetapi, Subject 09 tanggap. Ia langsung bertolak, menghadap saudarinya, dan sengaja menjatuhkan dirinya di atas ubin. Ia lantas menyilangkan kedua tangannya di depan kepala, membentuk semacam perisai yang akan melindungi wajahnya dari serangan.

Subject 17 sudah terlanjur mengayunkan botolnya. PRAAAAK! Serangannya hanya berhasil melukai kedua tangan Subject 09, itu pun tidak fatal, hanya sanggup membuat pakaian Subject 09 basah. Lagi-lagi ia gagal menumbangkan saudaranya.

Melihat pertahanan saudari berjilbabnya terbuka lebar, Subject 09 segera menyodokkan telapak kakinya tepat di wajah Subject 17. Keputusannya yang begitu cepat tak sempat diantisipasi oleh Subject 17. Tendangannya merangsek keras, bahkan sanggup membuat kepala dan tubuh Subject 17 terempas.

Subject 17 segera mengambil jarak aman seraya melenguh dan memegangi hidungnya yang berdarah.

Di saat itulah Subject 09 bangkit dan bergegas menghampiri saudarinya. Ia menyimpan kepalan tangan di samping pinggangnya seraya tetap berlari mendekati lawannya. Sebuah serangan keras telah ia persiapkan, menyambut pertahanan Subject 17 yang terkuak.

Subject 17 bersiap menyambut saudaranya. Hidungnya masih berdarah-darah, tetapi mau tidak mau ia harus menghadapi kedatangan Subject 09. Kuda-kudannya dikokohkan, kedua tangannya dibentangkan. Napas pun ia ambil dalam-dalam.

Ancaman mendekat.

Begitu dekat.

Hajar.

WUUUKKKK!

Subject 17 memutar tubuhnya. Di saat yang bersamaan, ia juga mengayunkan kakinya, mengikuti ke mana tubuhnya bergerak. Tendangan yang sangat cepat dan sangat keras itu melesat deras, bahkan sanggup memecah angin yang mengawang-awang di sekitarnya. Sayangnya, tendangan sebesar itu harus luput.

Subject 09 begitu tanggap. Ia berlari seraya merunduk. Posisi tubuhnya sangat rendah, tubuhnya seperti terlipat. Tak pelak, tendangan Subject 17 meleset begitu jauh, berayun beberapa puluh sentimeter di atas kepalanya.

SHIT!” Subject 17 pasrah. Upaya terakhirnya gagal.

Subject 09 tetap merangsek maju. Begitu dekat, begitu tak terduga. Percaya diri, ia segera memuntahkan pukulan yang sedari tadi ia simpan di samping pinggangnya.

Pukulan terkoneksi.

BUGGGGGGGGH!

Tinju superkeras Subject 09 tak bisa diantisipasi, benar-benar menyodok masuk ke ulu hati Subject 17. Posisi Subject 17 sendiri sama sekali tak memungkinkan untuk memblokir atau menepis serangan. Subject 17 hanya bisa mengeraskan otot-otot perutnya dengan napas yang masih tersisa, berusaha meminimalisir efek pukulan.

Tubuh subjek berjilbab itu pun terangkat dari tempatnya berpijak. Ia memasrahkan seluruh jiwa dan raganya terlempar ke awang-awang. Kesadarannya sempat goyah, namun tak sampai hilang sadar. Matanya menatap kosong ke arah bumi, pasrah pada kenyataan.

Subject 09 pun menyambut tubuh Subject 17 yang terpental. Ia segera mencekik batang leher Subject 17 yang masih mengawang-awang di udara, lalu membanting sekujur tubuh saudarinya ke atas meja kayu. Sepenuh hati, sekuat tenaga.

BRAAAAAAK!

Tubuh Subject 17 membentur meja kayu hingga pecah berkeping-keping, tembus sampai ke permukaan ubin hingga menimbulkan suara berdebum yang cukup keras. Bantingan yang dilakukan Subject 09 bahkan sanggup membuat lantai ikut retak dan pecah.

Subject 17 kehilangan dayanya. Ia batuk darah begitu punggungnya menghantam permukaan lantai. Percikan berwarna merah pekat pun mencurat ke segala arah, termasuk ke wajah dan pakaian Subject 09.

Subject 09 tetap menahan cekikannya. Ia menatapi saudarinya dengan bengis. Ini adalah momen kemenangannya, ia ingin merayakannya dengan elegan.

“Seventeen, kau seharusnya sadar bahwa sedari dulu aku lebih kuat darimu,” ujar Subject 09 terengah-engah. “Kau tidak punya peluang untuk menang melawanku.”

Subject 17 tertawa kecil hingga tampak gigi-gigi depannya yang ternoda oleh darah. “Kau lebih kuat dariku? Ya, mungkin saja. Sedikit lebih kuat. Tetapi, kau lupa sesuatu, Nine … ”

Subject 09 menyipitkan kedua matanya, mengenyitkan kening. Ia menanti jawaban.

“Kau tahu kenapa aku mengajakmu berkelahi di sini?” tanya Subject 17. “Itu karena kau lupa bahwa aku lebih banyak akal darimu!”

Tiba-tiba, Subject 17 mencabut sesuatu dari saku celananya dan menempelkannya tepat di rusuk Subject 09. Ia lantas menekan tombol pada alat yang baru saja dikeluarkannya.

“AAARRRGHHH!” Subject 09 lengah. Tubuhnya berguncang hebat. Rupanya ia disetrum oleh saudarinya menggunakan taser [2]. Kepalanya pun menengadah, mengikuti momentum sengatan listrik yang bisa terasa sampai ke ujung kepalanya.

NB: [2] alat setrum jarak pendek. Biasa digunakan oleh polisi untuk melumpuhkan penjahat.

Akan tetapi, Subject 09 masih menolak untuk kalah. Ia pun menarik kepala saudarinya dan membenturkannya keras-keras ke atas ubin. KRAK! Serangannya sama sekali tak diantisipasi oleh Subject 17, langsung membuat subjek berjilbab itu hilang sadar.

Genggaman Subject 17 terhadap alat penyetrumnya pun hilang. Tangan Subject 17 terkulai luruh di atas lantai, begitu pula alat penyetrumnya.

Akhirnya, Subject 09 dapat kembali bernapas dengan normal. Ia merangkak menjauhi tubuh saudarinya dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang masih syok akibat sengatan listrik. Meskipun terengah-engah, paling tidak ia lolos dari maut. Lantas, ia membangkitkan tubuhnya dengan susah-payah.

Dengan demikian, pertarungan resmi dimenangkan oleh Subject 09.

Subject 17 resmi tumbang.

Atau tidak.

Subject 09 terheran. Ia melihat tanda X besar di bawah kakinya. Tandanya tampak samar, tetapi ia tahu bahwa tanda tersebut dibuat oleh tangan manusia. Ia juga melihat cahaya laser berwarna kemerahan menandai sekujur tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk merenung, ia pun mengembuskan napas panjang. Ekspresinya terlihat pasrah. Tampaknya ia baru saja menyadari sesuatu.

Ia memang sadar bahwa dirinya dipermainkan.

Kemenangan palsu.

“Seventeen, kau memang bajing–”

BRAAAAAK!

Tak sempat Subject 09 menyelesaikan ucapannya, sebuah peti kayu berukuran besar tiba-tiba menyambar tubuhnya, membuat tubuhnya terpental keras. Peti tersebut menggelantung di atas sebuah jaring yang sangat besar. Tampaknya peti kayu tersebut memang disembunyikan di langit-langit hanggar, menunggu kode dari Subject 17 sebagai solusi terakhir.

Tidak ada yang benar-benar menang pada pertarungan tersebut. Subject 09 pun terpental keras hingga menabrak dinding hanggar dan tersungkur dalam keadaan tak sadarkan diri.

Perseteruan berakhir hambar.

END – FIGHT CLUB #1


SHARE EPISODE INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *