LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

Memangnya Kita Sudah Merdeka?

2
Ilustrasi oleh: Ekkigo

Mari bertanya kepada diri masing-masing: apakah kita sudah merdeka? Apakah sesungguhnya Indonesia sudah merdeka?

Apa yang diproklamasikan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945 adalah simbol bebasnya kita dari cengkeraman penjajah, tetapi mari kita merenung sekali lagi: apakah proklamasi tersebut benar-benar sudah menjadi sebuah spirit untuk membangun negeri atau justru sekadar menjadi simbol belaka?

Kita semua tahu bahwa status Indonesia telah merdeka dan menjadi bangsa yang mandiri, tetapi apalah arti status jika kita tidak berubah ke arah yang lebih baik? Arti merdeka adalah bebas, tetapi bebas yang seperti apa? Apakah itu berarti kita bebas mengejek orang lain? Apakah itu berarti kita bebas mengambil hak orang lain? Apakah itu berarti kita bebas memukul orang lain? Apakah itu berarti kita bebas mengganggu proses hukum yang sedang berlangsung?

Ada begitu banyak pertanyaan yang akan membuat kita tenggelam dalam renungan. Kita tidak benar-benar paham apa arti dari sebuah kata merdeka. Jangan-jangan … apa yang kita teriakkan selama ini hanyalah semangat kosong yang tak lebih dari sekadar ritual setiap hari kemerdekaan.

Lihat saja, sejak 132 juta penduduk Indonesia mulai menjadi pengguna aktif internet, kita hampir tak pernah beristirahat untuk berselisih. Pilpres, pilkada, pilgub, demonstrasi, hoax vaksinasi, hingga hal-hal aneh seperti penggunaan istilah loli yang baru-baru saja ramai dibicarakan. Perselisihan-perselisihan ini diawali dari rasa insecure kita terhadap perubahan dan keterlambatan kita untuk mencerna informasi. Kondisi ini juga diperparah dengan fakta bahwa masyarakat Indonesia tidak doyan membaca; kita lebih suka mengambil kesimpulan sepihak, terburu-buru mengambil keputusan, dan ogah bermusyawarah.

Inilah kenyataan yang harus kita telan bulat-bulat. Merdeka? Heh, apanya yang sudah merdeka? Kita terlalu naif mendefinisikan bahwa kemerdekaan adalah kebebasan tanpa batas. Bebas memaksa, bebas mengejek, bebas mengambil kesimpulan, bebas berisik … hal-hal seperti ini yang kita pikirkan. Padahal, tidak ada yang namanya kebebasan absolut di dunia ini. Setiap kebebasan pasti punya konsekuensi. Setiap kebebasan memiliki batasan. Jika kita selalu bersikap terburu-buru pada semua hal atas nama kebebasan, kita akan secara otomatis mengacaukan cita-cita para pejuang untuk menjadikan negeri ini negeri yang besar, cepat atau lambat.

Merdeka seharusnya tidak diartikan sebagai kebebasan secara literal, tetapi bebas dari penjajahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Analoginya, kita bebas dari satu kotak untuk masuk ke dalam kotak yang lain, bukan untuk berkeliaran di luar kotak dan berbuat seenaknya. 

Jadi, apakah kita sudah merdeka? Sudah, secara simbolis. Belum, secara identitas. Selamat merenung dan selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_