LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

Jenderal Soedirman: Jenderal Sekaligus Kiai Legendaris di Indonesia

 

Jika kamu merupakan orang Indonesia tulen, sepertinya mustahil jika kamu belum pernah mendengar nama Jenderal Soedirman. Benar, beliau adalah panglima legendaris yang menjadi panutan para perwira tinggi di Indonesia hingga saat ini. Saking legendarisnya, nama beliau sampai diabadikan sebagai nama jalan hampir di semua kota di Indonesia. Beliau adalah panglima TNI pertama di Indonesia, yang waktu itu masih bernama TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Sebelum beliau menjadi panglima TKR, jabatan tertinggi di TKR hanyalah Kepala Staf yang dipegang oleh Letjen Urip Sumohardjo.

Jenderal Soedirman memiliki nama lengkap Raden Soedirman. Beliau lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916 sebagai seorang rakyat biasa. Beliau kemudian diadopsi oleh pamannya yang merupakan seorang bangsawan. Pada waktu itu, bangsawan atau lebih dikenal dengan nama priyayi adalah lapisan tertinggi pada tataran masyarakat Indonesia, bisa dikatakan setara dengan orang-orang Belanda. Nah, setelah diadopsi, Soedirman muda menjadi sangat rajin belajar dan rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Ia juga aktif pada berbagai macam program yang diadakan oleh Muhammadiyyah.

Di Muhammadiyyah, Jenderal Soedirman berkembang menjadi sosok yang sholeh, cemerlang, dan berani. Beliau bahkan pernah menjadi seorang kepala sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyyah. Beliau menjadi sangat dihormati di kalangan masyarakat karena kecerdasan dan ketaatannya terhadap Islam. Tak heran, banyak orang yang pada waktu itu memanggil Jenderal Soedirman sebagai Kiai Soedirman.

Pada tahun 1944, beliau meninggalkan pekerjaan mengajarnya dan beralih menjadi tentara PETA yang disponsori oleh Jepang. Jenderal Soedirman waktu itu langsung menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Karir beliau di dunia militer terbilang sangat cemerlang, terutama pada saat Pertempuran Ambarawa. Waktu itu, Inggris (sekutu) membebaskan tentara-tentara Belanda yang ditawan pada masa penjajahan Jepang. Masyarakat berpikir bahwa Inggris hanya mau melakukan satu hal tersebut tanpa tambahan apa-apa, tetapi ternyata Inggris malah mempersenjatai para tawanan. Hal ini tentu saja memicu kemarahan warga.

Singkatnya, kemarahan rakyat Indonesia bertranformasi menjadi peperangan. Meskipun teknologi pasukan sekutu dianggap lebih superior, namun hal tersebut tak membuat semangat para prajurit TKR padam. Jenderal Soedirman, yang pada waktu itu masih berpangkat Kolonel, memikirkan siasat yang cerdik. Beliau menerapkan strategi supit urang, yakni strategi untuk mengepung posisi musuh dari dua sisi. Musuh pun terjepit, suplai dan komunikasi mereka diputus sama sekali dari pasukan induk. Indonesia pun akhirnya keluar sebagai pemenang berkat strategi Soedirman.

Sejak saat itu, sosok Soedirman semakin dihormati oleh berbagai macam lapisan masyarakat. Beliau pun diangkat menjadi panglima besar TKR pada 18 Desember 1945.

Jenderal Soedirman Dianggap ‘Sakti’?

Ada satu fakta menarik dari Jenderal Soedirman. Fakta ini diceritakan oleh Panglima TNI era pemerintahan Presiden Jokowi, Gatot Nurmantyo. Salah seorang pengikut beliau pernah merasa heran mengapa Jenderal Soedirman bisa begitu ‘sakti’? Tak pernah tertembak, tak pernah terluka, bahkan selalu lolos dari Belanda. Pengikut beliau ini kemudian memberanikan diri untuk bertanya, “Pak Kiai itu pakai jimat apa kok selalu lolos dari sergapan Belanda. Ketika diberondong peluru Pak Kiai juga selamat. Apa jimatnya, Pak Kiai?

Mendengar pertanyaan ini, Jenderal Soedirman pun menjawab, “Jimat pertamaku, aku selalu dalam keadaan suci. 24 jam setiap hari aku menjaga wudhu. Kalau batal, aku langsung wudhu lagi. Jimat keduaku, aku menjaga sholatku. Jimat ketigaku, aku berjuang hanya untuk negara dan bangsa ini tanpa pernah secuil pun memikirkan diriku pribadi.

Kisah Jenderal Soedirman membuktikan kepada kita bahwa seorang pimpinan tertinggi dapat menjadi sosok yang sholeh, disegani, sekaligus disukai dalam satu waktu yang sama. Ia tidak hanya disukai oleh kalangannya saja, tetapi juga oleh kalangan-kalangan yang bahkan tidak berasal dari lingkungan keislaman. Ia begitu disegani oleh semua orang. Sebagai bukti, Jenderal Soedirman bahkan ‘diabadikan’ menjadi patung di halaman Kementrian Pertahanan Tokyo, Jepang. Beliau jadi satu-satunya pahlawan asing yang  dipajang di Jepang sebagai bentuk penghormatan.

Berbanggalah kita sebagai masyarakat Indonesia karena memiliki jenderal sekaligus kiai selegendaris Jenderal Soedirman. Salute, General!


Belum tahu apa dan siapa Subject 09? GAWAT, baca di sini: bit.ly/s09-00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_