LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

Prajurit Komando Mampu Dikalahkan oleh Atlet MMA?

Ada sebuah pertanyaan yang seringkali diajukan oleh para penggila dunia militer dan beladiri: apakah prajurit komando (seperti Kopassus atau Kopaska) dapat dikalahkan oleh seorang atlet MMA?

Pertanyaan semacam ini sebenarnya menjebak. Kami katakan menjebak karena bisa membuat orang terkotak-kotak, menciptakan fanatisme terhadap beladiri dan militer. Padahal, militer dan beladiri adalah satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan.

Pada konteks pertarungan kosong, setiap orang sebenarnya bisa menjadi lebih baik dari siapa pun, asalkan setiap orang benar-benar mau mengasah kemampuannya. Menjadi lebih hebat dan lebih baik tidak pernah terbatas pada kesatuan atau komunitas tempat seseorang berasal. Ada beberapa contohnya:

1. Di Amerika Serikat, seorang prajurit SEALs bahkan pernah kalah bertarung dengan seorang prajurit US Navy biasa. Padahal, Navy SEALs digadang-gadang sebagai salah satu unit paling mematikan di Amerika Serikat.

2. Tim Kennedy, veteran Green Berets (pasukan khusus angkatan darat Amerika) yang kini bertanding di UFC pernah beberapa kali merasakan kekalahan melawan petarung MMA yang bahkan tidak punya latarbelakang militer.

3. Seorang prajurit RPKAD mampu menumbangkan seorang master Karate yang didatangkan langsung dari Jepang.

Jadi, dalam konteks pertarungan tangan kosong, semua orang bisa menjadi lebih baik, tergantung kepada ketangkasan dan kecekatan individunya masing-masing.

Akan tetapi, jika kita berbicara pada konteks yang lebih luas, kita perlu memahami bahwa prajurit komando dan atlet MMA adalah dua profesi dengan spesialisasi yang sangat berbeda. Atlet MMA dilatih untuk bertarung secara kompetitif di dalam arena, ada aturan-aturan yang mengikat, sehingga apa yang bisa dilakukan oleh atlet MMA juga terbatas. Sementara itu, prajurit komando dilatih untuk sebuah tujuan yang sangat besar: mempertahankan kedaulatan negara. Prajurit komando dilatih tidak hanya untuk mempertahankan diri, tetapi juga untuk membunuh, jika diperlukan. Mereka akan melakukan apa pun untuk mengalahkan lawannya, bahkan dengan cara kotor sekali pun.

Dari perbedaan tersebut kita bisa melihat bahwa membandingkan prajurit komando dengan atlet MMA pada konteks yang lebih luas bukan merupakan sesuatu yang bijaksana. Perbandingannya tidak apple-to-apple. Prajurit komando diajarkan tentang cara menggunakan senjata api dan senjata tajam, atlet MMA tidak. Prajurit komando diajarkan tentang cara menggunakan bahan peledak, atlet MMA tidak. Prajurit komando diajarkan tentang cara membunuh musuh dengan tangan kosong, atlet MMA tidak. Perbedaannya sangat timpang. Ini sama seperti membandingkan peluru blank dengan peluru tajam, keduanya punya peruntukan yang berbeda, tidak bisa disamakan.

Jadi, apakah prajurit komando bisa dikalahkan oleh atlet MMA? Ya dan tidak. Tergantung kondisinya, tergantung konteksnya, tergantung individunya.

Jika pertarungan dilakukan di dalam ring dengan aturan MMA, ada kemungkinan prajurit komando sekelas Kopassus pun akan kalah (Tim Kennedy adalah contoh paling nyata bahwa prajurit komando bisa kalah melawan atlet MMA). Akan tetapi, jika pertarungan dilakukan di alam bebas tanpa aturan, prajurit komando sudah pasti akan mengikuti insting mereka untuk bertahan hidup; menggigit, mencolok, mencakar, menusuk, dan melakukan apa pun yang mereka bisa untuk keluar sebagai survivor, bukan sebagai winner. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_