LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

Seri Salah Kaprah Hollywood: Intelijen dan Penguntitan

Sumber: Pinterest

Bagi kamu yang menyukai film-film bertema spionase, kamu pasti tidak asing dengan adegan penguntitan. Dan kamu juga pasti sudah tidak asing bahwa setiap adegan penguntitan tersebut biasanya berakhir dengan kejar-kejaran, tembak-tembakan, atau bahkan perkelahian. Adegan semacam itu sontak menjadi tren bagi film-film dengan tema serupa, bahkan di Indonesia sendiri tidak sedikit orang yang menganggap bahwa “dibuntuti orang” akan selalu berakhir dengan keributan.

Pertanyaannya adalah apakah demikian? Apakah penguntitan di dalam dunia intelijen selalu berakhir dengan perseteruan?

Sebelumnya, kita perlu tahu bahwa penguntitan di dalam dunia intelijen adalah hal yang cukup umum, khususnya bagi agen lapangan yang diposting di luar negeri. Aktivitas ini dinamakan dengan surveillance. Kegiatan surveillance ini tidak hanya membuntuti  orang secara fisik saja, tetapi juga melakukan penyadapan terhadap alat komunikasi target.

Mengenai penguntitan atau surveillance, Brad Robinson–mantan petugas lapangan CIA–membeberkan pengalamannya saat ia menyamar di negara orang lain menjadi seorang diplomat. Saat itu, ia banyak dibuntuti oleh agen-agen dari berbagai negara. Ia merasa terganggu, tentu saja. Apalagi agen-agen tersebut juga ternyata berusaha keras melakukan penyadapan terhadap seluruh alat komunikasinya, bahkan mencoba membaca seluruh isi e-mailnya.

Meskipun demikian, Brad tidak melakukan konfrontasi. Yang ia lakukan justru berbeda dengan yang selama ini digambarkan Hollywood, yakni BERSIKAP NORMAL. Ia beraktivitas sebagaimana orang lain beraktivitas, seperti makan malam di restoran, bermain tenis, minum bersama teman-teman diplomat, pergi ke pesta, dan sebagainya. Ia seakan tidak memedulikan orang-orang yang membuntutinya. Ajaibnya, cara ini justru ampuh “mengusir” para penguntit! Mengapa? Karena para penguntit itu kebosanan, mereka tidak melihat Brad sebagai ancaman, akhirnya mereka terfokus kepada tugas yang lain.

Metode counter-surveillance ini juga digunakan oleh mantan petugas lapangan CIA yang bernama Lindsay Moran. Ia mengaku bahwa ia pernah diikuti oleh beberapa agen asing saat diposting di luar negeri. Akan tetapi, daripada bersikap panik, ia justru lebih memilih bersikap normal. Ia berbelanja dan melakukan segala hal yang membuat para penguntitnya akhirnya kebosanan.

Jadi, apa yang digambarkan oleh Hollywood tentang penguntitan tidaklah selalu benar. Penguntitan yang berakhir perseteruan hanya dapat kita temui pada kasus-kasus tertentu, seperti ketika seorang agen mencoba mencuri informasi dari salah satu institusi negara. Ini jelas kegiatan ilegal yang akan mendatangkan masalah besar bagi pelakunya. Ia tidak akan lagi dikuntit untuk sekadar diamati, tetapi untuk ditangkap atau bahkan dibunuh.

Namun demikian, hal ilegal dan berbahaya semacam itu pun jarang terjadi. Brad sendiri mengatakan bahwa pekerjaan berbahaya dan ilegal semacam itu jarang dilakukan oleh agen lapangan sepertinya. Ia mengatakan bahwa 95% waktunya justru lebih banyak ia gunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain (pejabat, diplomat, pengusaha, dll).

So, jika kamu melihat adegan di mana seorang agen CIA dibuntuti oleh seorang pria, kemudian agen CIA tersebut menghajar sang pria di sebuah gang gelap dan bertanya, “Who sent you!?” Percayalah, itu adalah tren keliru tentang surveillance dan counter-surveillance. Ingatlah selalu bahwa prinsip dasar dari adanya badan intelijen bukanlah untuk menangkap apalagi menghajar orang lain, tetapi untuk menggali informasi.

One thought on “Seri Salah Kaprah Hollywood: Intelijen dan Penguntitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_