LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

Hoax: Senjata Mematikan Cyber Criminals dan Cara Mendeteksinya

Sumber: Adweek

Belakangan, Indonesia sedang banyak dibombardir oleh hoax. Kabar-kabar tidak benar ini menyebar melalui corong-corong media sosial, baik melalui Facebook, Twitter, WhatsApp, BlackBerry Messenger, dan lain-lain. Anehnya, banyak orang yang tertipu meskipun seringkali sudah jelas bahwa beritanya ngawur. Fakta memilukan inilah yang mendorong faktor rasisme dan intoleransi selama beberapa waktu ke belakang.

Sebagai penulis serial intelijen-militer, kru kreator Subject 09 merasa berkewajiban untuk memberikan wawasan dasar tentang bagaimana cara mendeteksi sebuah kabar hoax. Kami tidak bisa tinggal diam melihat kejahatan semacam ini merongrong masyarakat, meskipun sebenarnya masyarakat juga bersalah karena tidak membentengi diri dengan banyak membaca. Menurut Central Connecticut State University di Amerika Serikat, Indonesia bahkan menempati peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Memprihatinkan, bukan? Itulah kenapa banyak orang jahat yang memanfaatkan kelemahan ini untuk mengadu domba.

Mengenal Hoax

Sebelum kita berbicara mengenai dasar-dasar mendeteksi hoax, kita perlu tahu apa yang disebut dengan hoax. Menurut dictionary.com, hoax dapat dimaknakan sebagai “sesuatu yang diniatkan untuk menipu orang”. Melihat dari definisi ini, apa yang disebut hoax belum tentu mengandung kepalsuan. Untuk menipu orang, kita tidak harus selalu berbohong, tetapi bisa dengan melebih-lebihkan fakta atau bahkan bermain bahasa agar terjadi misinterpretasi (salah tafsir). Cukup mudah dipahami, bukan?

Siapa yang Menyebar Hoax?

Mengungkap siapa yang menyebar hoax secara spesifik bukanlah wewenang kami, tetapi tugas aparat keamanan selaku ujung tombak keamanan dan ketentraman bermasyarakat. Akan tetapi, kami cukup yakin bahwa isu-isu hoax yang dengan liar menyebar di media sosial merupakan prakarsa dari orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu (maksud kami bukan Freemason, Illuminati, Rothschild, dll, tapi pihak-pihak yang tidak suka dengan entitas tertentu. Hehehe).

Lihat polanya: hampir setiap berita hoax yang tersebar di halaman medsos memiliki target tertentu dan targetnya tidak pernah “kecil”. Serangannya selalu mengarah ke tokoh atau institusi-institusi besar. Uniknya, yang diserang pun itu-itu lagi dan dia-dia lagi, terus saja begitu hingga tokoh atau institusi terkait mengalami kerugian yang nyata. Ini menandakan bahwa penyebaran berita hoax merupakan sebuah aktivitas yang terorganisir, tidak bisa dilakukan jika tidak ada “kepala” yang menggerakkan atau merencanakan semuanya.

Dasar-Dasar Deteksi Hoax

Kita telah sedikit belajar tentang hoax dan siapa yang menyebarkannya. Kini kita akan belajar dasar-dasar cara mendeteksi berita hoax. Berita hoax memiliki beberapa pola yang serupa. Jika kamu rajin meneliti antara satu berita dengan berita yang lain, kamu tentu akan menemukan polanya. Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mendeteksi berita hoax:

1.) Berita hoax ditulis dengan judul, subjudul, maupun isi yang tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Contoh: “Menegangkan!!! Cina Ingin menyerang indonesia ,,, sebarkan agar Yang Lain tau!” Judul lebay dan penuh kesalahan tata tulis seperti ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa berita tersebut adalah hoax. Sumber berita yang penuh dengan kesalahan tata tulis seperti ini tidak akan pernah kredibel.

2.) Isi berita terlalu bombastis atau berlebihan. Poin ini juga penting untuk diingat; berita yang terlalu antusias, berlebihan, dan terkesan terlalu menyudutkan salah satu pihak biasanya karena ada satu atau beberapa poin yang ingin dijadikan fokus/target oleh si penulis. Ini merupakan indikasi bahwa berita tersebut adalah berita hoax (ingat, hoax tidak melulu berbicara kepalsuan), karena berita tersebut sudah mengarah ke arah propaganda. Tinggalkan!

3.) Berita hoax tidak memiliki sumber referensi yang jelas. Ini adalah salah satu karakteristik hoax paling umum yang bisa kita temukan di berbagai media chatting, seperti WhastApp dan BBM. Tidak ada narasumber, tidak ada link dari mana berita itu dikutip, bahkan tidak jelas siapa pengirim pertamanya … yang seperti ini tak perlu diragukan lagi, sudah pasti karangan para cyber-army yang terlalu antusias ingin menggiring opini publik. Kepada pemakai WhatsApp, BBM, dan media komunikasi lainnya, mohon perhatikan betul-betul poin ini!

4.) Jika ada foto, periksa fotonya! Poin ini adalah poin yang paling sering dilewatkan oleh para korban hoax. Foto memang berbicara banyak tentang sebuah kejadian, tetapi belum tentu foto itu berkaitan dengan berita yang dibicarakan. Bisa jadi foto yang dicantumkan adalah foto dari tahun jebot atau malah foto dari kejadian yang lain. Untuk mendeteksinya, kamu bisa melakukan langkah berikut:

a. download fotonya

b. masuk ke images.google.com

c. klik search by image (yang ada gambar icon kamera)

d. pilih upload an image

e. klik browse, kemudian pilih foto yang telah kamu download

f. biarkan loading selama beberapa saat

g. scroll ke bawah hingga bagian “Pages that include matching images”

h. jika hasil pencarian yang muncul sangat banyak, selamat, kamu kemungkinan sudah dibohongi oleh si pemilik berita

5.) Berita hoax hanya akan muncul di situs-situs skala kecil, tidak sampai ke situs-situs besar. Poin ini tidak selalu berlaku, memang, tetapi poin ini tetap patut diwaspadai, terutama jika bahasannya menyerempet ke arah politik. Tetap waspada, jangan diremehkan.

Agar Tidak Menjadi Korban Hoax

Kita telah sedikit mempelajari tentang dasar-dasar mendeteksi hoax, pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus kita lakukan agar tak lagi terjebak dalam pusaran hoax? Untuk menjawab pertanyaan ini, jawaban ultimate yang bisa kami berikan adalah CEK ‘N RICEK. Kalau dalam bahasa relijiusnya: TABAYYUN! Jangan pernah bosan untuk selalu mengecek kebenaran sebuah berita dan membandingkannya dengan berita-berita lain yang membahas topik serupa.

Demikian sedikit wawasan dari kru Subject 09. Kami mungkin bukan yang terbaik di bidang ini, tetapi kami punya cita-cita untuk menjadikan negeri ini sebagai tempat yang lebih baik. Bagi kami, hoax adalah kejahatan besar, tidak boleh dicuekin. Kejahatan seperti itu bisa merajalela juga karena kita terlalu banyak berpangku tangan. Say no to hoax!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_