LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

James Bond dan Salah Kaprah tentang Dunia Intelijen

Sumber: CDN CNN

Seluruh penggemar fiksi spionase pasti mengenal sosok James Bond. Mata-mata ganteng dari MI6 tersebut masih menjadi sosok fiktif yang fenomenal di seluruh dunia. Pasalnya, selain jago berkelahi dan menggunakan senjata api, James Bond juga selalu dikelilingi oleh mobil mewah, pacar cantik, seks, minuman keras berkelas, dan gadget-gadget keren. Tak ayal, sosok James Bond pun menjadi stereotype populer tentang petugas intelijen, tak terkecuali di Indonesia. Hollywood pun mengikuti stereotype ini, tak jarang mereka membuat karakter mata-mata yang karakteristiknya mirip seperti JB.

Pertanyaannya adalah apakah kehidupan seorang petugas intelijen memang “seindah” yang digambarkan oleh novel dan film 007?

Menjawab pertanyaan ini, seorang mantan mata-mata CIA, Brad Robinson, memberikan pernyataan, “Film 007 itu cuma menggambarkan sedikit tentang apa yang dilakukan oleh mata-mata (di dunia nyata).” Menurutnya, mata-mata di dunia nyata itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbaur dengan orang lain dan tidak mencuri perhatian lawan. Aktivitas ini dinamakan “staying small”.

Dari jawaban Brad, kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa kehidupan seorang petugas intelijen tidaklah “seindah” yang ditampakkan oleh film 007. Faktanya lebih terdengar seperti orang yang berusaha keras untuk terlihat baik di mata masyarakat alias pencitraan. Seorang petugas intelijen akan lebih banyak berkenalan dengan orang, lebih banyak menjalin hubungan baik dengan lingkungan sekitar, lebih banyak membangun kepercayaan, dan sebagainya. Dan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, seorang petugas intelijen membutuhkan rentang waktu yang pastinya tidak sebentar. James Bond? Ah, dia tidak begitu peduli dengan hal-hal membosankan semacam itu, kita semua tahulah.

Bagaimana dengan mata-mata yang sering digambarkan jago berkelahi dan bertempur, seperti James Bond?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu intelijen. Intelijen berasal dari kata intelligence yang berarti kecerdasan atau kemampuan berpikir/analisis. Secara istilah, intelijen bisa dimaknakan sebagai aktivitas untuk mengumpulkan informasi tentang seseorang/institusi dengan cara-cara yang cerdas. Jadi, pada dasarnya, tugas pokok intelijen itu adalah untuk mengumpulkan informasi, bukan untuk bertarung, membekuk, apalagi membunuh. Jadi, menganggap bahwa semua petugas intelijen memiliki “lisensi untuk membunuh” sebagaimana yang digambarkan pada film James Bond adalah salah kaprah. Tugas utama intelijen bukan itu.

Selain itu, kita juga perlu mengetahui bahwa intelijen memiliki kategori-kategorinya lagi. Ada yang disebut intelijen militer, ada yang disebut intelijen kepolisian, ada yang disebut intelijen kejaksaan, ada pula yang disebut intelijen sipil. James Bond diciptakan berdasarkan pengalaman sang penulis (Ian Fleming) sebagai anggota intelijen militer pada Perang Dunia II. Berbeda dengan intelijen sipil, intelijen militer biasanya memang dibekali dengan kemampuan/izin membunuh jika diperlukan, apalagi saat diturunkan di medan perang. Tak heran jika James Bond terlihat sangat efektif dalam membunuh lawan, karena ia didesain berdasarkan pengalaman Fleming di medan perang.

Profesi JB sendiri mengisyaratkan bahwa ia memang sudah memiliki kemampuan fisik dan tempur yang mumpuni. Sebelum direkrut oleh MI6, Bond sudah bekerja sebagai prajurit Royal Navy. Ia memang sudah memiliki pengalaman bertempur dan menggunakan berbagai macam senjata jauh sebelum direkrut oleh MI6.

Kesimpulannya, jika kita melihat karakter spionase yang jago berantem, jago bertempur, bahkan sangat efektif dalam membunuh lawan, itu tidak mewakili semua mata-mata di dunia. Yang biasa kita lihat di TV atau layar bioskop itu kebanyakan didesain berdasarkan intelijen militer dan itu pun seringkali terlalu berlebihan. Ian Fleming sendiri, walaupun ia merupakan petugas intelijen militer di dunia nyata, ternyata lebih banyak menghabiskan waktu berpikirnya di belakang meja daripada turun ke lapangan.

Intinya, tugas utama intelijen itu bukan untuk bertarung, bertempur, membekuk, atau bahkan membunuh. Tugas-tugas itu sebenarnya sudah dilakukan oleh institusi militer dan kepolisian. Intelijen hanya bertugas untuk mengumpulkan informasi dan mendeteksi bahaya sebelum terjadi, kemudian menyerahkan informasi tersebut kepada militer/kepolisian sebagai bahan acuan pengambilan keputusan. Dasarnya kira-kira begitulah.

Bagaimana dengan gadget-gadget keren?

Intelijen, sebagaimana institusi aparat lainnya, juga perlu memiliki wawasan teknologi yang luas. Jika mereka tidak memiliki wawasan semacam itu, bagaimana cara mereka mengalahkan para penjahat yang semakin hari semakin kreatif dalam melakukan kejahatan? ISIS, misalnya, terbukti banyak memengaruhi orang dan berkomunikasi dengan para selnya menggunakan media sosial. Bagaimana jika seandainya seorang petugas intelijen gaptek atau bahkan tidak tahu bagaimana caranya log-in Facebook? Kacau.

Sehingga, intelijen bisa dikatakan menjadi salah satu institusi yang sangat hi-tech dan seringkali “dipersenjatai” dengan gadget-gadget canggih untuk mendeteksi kejahatan. Salah satu contohnya adalah CIA pernah menciptakan drone berbentuk capung pada tahun 1980. Kurang canggih apa lagi itu? Dan itu diciptakan pada tahun 1980, jadi kita bisa membayangkan seperti apa canggihnya gadget-gadget intelijen saat ini. Akan tetapi, tentu saja, kalau menggunakan exploding pen (pulpen meledak) milik James Bond rasanya terlalu berlebihan bagi seorang petugas intelijen yang pekerjaannya lebih banyak mengandalkan kesabaran dan kecekatan berpikir.

Namun, apakah seorang petugas intelijen harus selalu menggunakan gadget-gadget keren tersebut? Tidak, tentu saja. Lindsay Moran, mantan operation officer CIA, menyatakan bahwa ada saat-saat di mana seorang petugas intelijen harus meninggalkan kecanggihan gadget-gadget yang diberikan oleh pemerintah dan lebih mengandalkan cara-cara klasik. Misalnya ketika seorang petugas intelijen harus berhadapan dengan musuh yang sangat hi-tech, tentu akan lebih aman berkomunikasi dengan surat daripada menggunakan komputer/ponsel.

Moran juga menyatakan bahwa sulitnya pemerintah AS menemukan Osama bin Laden adalah karena dedengkot Al-Qaeda itu selalu menggunakan cara-cara klasik untuk berinteraksi dengan sel-selnya. Jadi, badan intelijen secanggih CIA pun tidak melulu bergantung pada teknologi masa kini. Di saat itulah intelligence alias kecerdasan seorang petugas intelijen akan diuji. James Bond? Ah, dia hanya tinggal meminta bantuan pada M atau Tanner jika memiliki kesulitan.

Pada akhirnya, James Bond hanyalah karakter fiksi. Jangan terlalu dianggap serius. Begitu pula dengan Subject 09. Jangan terlalu dianggap serius. 😀

2 thoughts on “James Bond dan Salah Kaprah tentang Dunia Intelijen

    1. Nggak spesifik nanya ke sana. Itu juga dia jawabnya pas ada orang yang nanya, saya cuma ngutip jawaban. :’D

      Tetapi, kalo dari perspektif CIA secara umum, mereka masih melihat Indonesia sebagai partner yang positif. Orang2 BIN banyak yang belajar juga di sana kok. Ilmunya CIA banyak yang dipake di sini, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_