LIKE FANPAGE SUBJECT 09!

Jangan Ngebayangin Call of Duty kalo Pengen Ngerasain Perang! Coba yang Ini!

seperti apa rasanya perang arma vbs berdarah

Menjadi seorang operator lapangan atau personel bersenjata mungkin merupakan cita-cita bagi sebagian orang. Bisa jadi karena kamu merasa bahwa personel bersenjata itu keren; baik dari segi perlengkapan maupun kedispilinannya. Apalagi, semakin hari penampilan tentara semakin keren; coba lihat bagaimana operator-operator TNI atau US Army beroperasi di lapangan, baik dari rompinya, senjatanya, helmnya, aduhai sekali deh pokoknya.

Meskipun demikian, menjadi seorang personel angkatan bersenjata mungkin tak seideal yang orang bayangkan. Ketika seorang personel angkatan bersenjata berada di tengah peperangan, kita akan menemukan fakta bahwa tidak ada personel yang bergerak seenak jidat seperti yang bisa kita lakukan pada permainan-permainan seperti Call of Duty atau Battlefield. Setiap personel, setiap tim, setiap grup tentu membutuhkan taktik dan perencanaan yang matang untuk bisa masuk ke zona lawan dan menghancurkan kekuatan musuh. Apalagi, tidak ada yang namanya health-regeneration alias luka yang bisa sembuh sendiri dalam waktu singkat di kehidupan nyata. Kalau sampai ketembak? Siap-siap, malaikat maut mungkin sudah menungguimu.

Melihat kenyataan tersebut, sebuah perusahaan game developer dari Republik Ceko yang bernama Bohemia Interactive Simulations atau disingkat BISim lantas membuat beberapa simulasi militer yang dibuat agar pemain dapat merasakan konflik bersenjata mendekati realitas yang sebenarnya, yakni ArmA (Armed Assault) dan VBS (Virtual Battlespace). Menurut situs resminya, kedua judul tersebut memang digunakan oleh beberapa pasukan di dunia, seperti US Army, US Marines, Swedish Forces, UK Ministry of Defense, dan lain-lain. Wow sekali bukan?

Berbeda dengan permainan-permainan seperti Call of Duty, Battlefield, atau Counter Strike, ArmA dan VBS dibuat sedemikian rupa agar pemain dapat merasakan seperti apa peperangan di dunia nyata. Memang, tidak seluruh elemen pada ArmA dan VBS tampak seperti dunia nyata, namun untuk beberapa hal memang dibuat mendekati realitas dan hal tersebut tidak bisa kita temukan di permainan-permainan militer yang memang murni untuk entertainment. Kita akan merasakan sulitnya menembak dari jarak jauh, sulitnya mendeteksi musuh dari kejauhan, sulitnya mengendalikan recoil, sulitnya masuk ke daerah musuh, sulitnya membuat taktik yang tepat untuk menyerang lawan, dan sulitnya mengatur tim agar tetap hidup. Tidak adanya “mode Rambo” pada kedua simulasi ini juga menambah poin realisme yang tentu bertolak belakang dengan permainan seperti CoD. Sendirian menyerang markas musuh? Jangan harap bisa selamat, apalagi kalau lawannya pasukan khusus. Diberondong peluru kaliber 50? Siap-siap menghadap maut, tidak ada health-regeneration di sini.

Memang, perlu diingatkan kembali bahwa pengaturan default pada ArmA dan VBS tidak semuanya realistis, namun kedua simulasi ini juga menyediakan editor untuk memodifikasi permainan agar benar-benar mendekati realistis, menyesuaikan dengan keinginan pemain. Salah satu contohnya adalah Shack Tactical, komunitas ini terdiri dari orang-orang yang ingin memainkan ArmA serealistis mungkin (banyak anggotanya yang pernah bertugas di Iraq dan Afghanistan). Akhirnya mereka pun memodifikasi permainan ArmA dan menjadikannya “lebih serius”. Dan tentu saja, untuk bergabung dengan komunitas ini juga tidak sembarangan, dibutuhkan orang-orang yang memang punya disiplin tinggi. Sampai segitunya ya.

Opini ini bukan merupakan opini pribadi penulis, tetapi merupakan kesimpulan dari beberapa anggota militer yang menggunakan ArmA dan VBS untuk melatih kecekatan dan ketepatan berpikir mereka di lapangan. Beberapa opininya bisa dilihat di situs ini. Mungkin TNI, Polri, dan BIN perlu mempertimbangkan kedua simulasi ini untuk latihan. 😀

Penulis sendiri mencoba memainkan ArmA 3 dan menurut penulis, produk ini memang bukan ditujukan untuk pemain yang menginginkan hiburan total. Penulis membuat skenario di mana musuh tersebar di pegunungan (mirip seperti Taliban atau Al-Qaeda atau ISIS) dan pasukan utama berusaha menyerang dari kaki gunung. Hasilnya? Penulis harus berkali-kali mengubah taktik untuk bisa sukses melewati pertempuran gunung yang sangat sengit. Untuk bisa sukses pun membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Dari skenario yang penulis buat, penulis sekarang bisa membayangkan kenapa aparat keamanan sangat sulit untuk membekuk kelompok Santoso di daerah pegunungan Poso. Ternyata memang susah! Apalagi di Poso kabarnya bukan hanya pegunungan, tetapi juga hutan. Aduh, lebih susah lagi. Itu salah satu hikmah yang bisa diambilnya sih.

Nah, jadi kalau mau membayangkan seperti apa konflik bersenjata yang mirip seperti nyata, cobalah ArmA atau VBS. Jangan membayangkan Call of Duty, karena CoD dibuat seperti film Hollywood, bukan untuk simulasi. Well, kalau sudah mencoba, penulis rasa teman-teman akan mengerti betapa “ngerinya” menjadi tentara. 😀

Produk-produk BISim seperti ArmA 3 bisa dibeli di Steam. Untuk VBS terbaru, bisa dibeli di sini. 

*Penulis tidak merekomendasikan membeli ArmA atau VBS bajakan jika pembaca ingin serius menggunakan kedua produk tersebut, tapi itu pilihan dan resiko pembaca pribadi sih, penulis tidak bisa melarang–hanya menyarankan. Hehehe. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Eits, jangan membiasakan diri untuk membajak ya, sayang. _AdminNadia_